Anda di halaman 1dari 6

Tugas Kelompok

MANAJEMEN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


DENGAN METODE HAZARD IDENTIFICATION RISK ASSESSMENT
AND RISK CONTROL (HIRARC) DI BENGKEL “BOY”

Disusun oleh:

Pembimbing:
Dr. Anita Masidin, Sp.OK

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS (IKM - IKK)
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018

I. Nama Perusahaan
Bengkel “BOY”
II. Gambaran Lokasi
a. Alamat : Pasar 7 Ulu Rt. 51, 50 Meter dari Puskesmas 7 Ulu
b. Luas : Bangunan sederhana berukuran 6 x 5 meter
c. Sanitasi : 1 kamar mandi, 1 keran air, 1 plastik sampah
d. Pencahayaan : Kurang (ruangan semi outdoor)
e. Ventilasi : Kurang (ruangan semi outdoor)

Gambar 1. Kondisi lingkungan kerja Bengkel “BOY”

III. Jumlah Tenaga Kerja


4 Orang :
 Boy (38 tahun) : Mekanik
 Apriyanto (29 tahun) : Mekanik
 Fikri (23 tahun) : Mekanik
 Evi (24 tahun) : Pramuniaga

IV. Sarana/APD
Tidak ada. Pemilik bengkel tidak mewajibkan kepada pekerja untuk memakai alat-alat
pelindung diri seperti sepatu, masker, kacamata, dan lainnya. Pemilik mengatakan hal
tersebut kembali kepada para pekerjanya yang mau menggunakan atau tidak.

V. Tunjangan kesehatan
Tidak ada
VI. Proses kerja

2
Dalam perbengkelan ini pekerja hanya melakukan service motor seperti menganti oli,
tambal ban, mengisi angin, memperbaiki atau mengganti suku cadang motor dan
penjualan suku cadang motor.

VII. Hazard Identification dan Risk Assessment


Hazard Identification
1. Potensi Hazard Fisik
 Terpapar kebisingan intensitas tinggi dari mesin motor di bengkel ataupun
suara kendaraan yang melintas di sekitar bengkel. Akibat bising mesin motor,
pembicaraan atau instruksi dalam pekerjaan tidak dapat didengar secara jelas
sehingga dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pembicara terpaksa berteriak-
teriak, selain memerlukan tenaga ekstra juga menimbulkan kebisingan. Hal
ini dapat menyebabkan gangguan indera pendengaran.
 Terpapar suhu ekstrim (panas) dari mesin motor, ataupun suhu panas
lingkungan karena terpapar sinar matahari lamgsung karena tempat kerja
bersifat semi outdoor dapat menyebabkan beban fisiologis misalnya beban
kerja jantung bertambah.
 Intensitas penerangan kurang memadai, pekerja tidak memiliki pencahayaan
yang adekuat saat bekerja memperbaiki bagian mesin motor yang lebih detail,
sehingga mata terus-menerus berakomodasi maksimal akibatnya pekerja
berisiko mengalami gangguan penglihatan.
 Terpapar getaran dari mesin motor.
2. Potensi Hazard Kimia
 Terpapar gas sisa pembakaran yang keluar dari knalpot mengandung karbon
monoksida, yang berisiko mengenai mata atau terhirup melalui saluran
pernafasan.
 Terpapar partikel debu dari lingkungan sekitar bengkel.
 Potensi bahaya yang timbul akibat kontak pekerja dengan bahan kimia seperti
bahan bakar, minyak pelumas atau bahan toksik lainnya dapat mempengaruhi
tubuh tenga kerja melalui inhalation (melalui pernafasan), ingestion (melalui
mulut ke saluran pencernaan), atau skin contact (melalui kulit).
 Bahan kimia yang tercecer di lantai harus segera dibersihkan agar tidak
menimbulkan kebakaran.

3
3. Potensi Hazard Biologi
 Genangan air yang menyebabkan nyamuk dapat berkembang biak.
 Lokasi kerja yang lembab dan penyimpanan kayu yang menyatu dalam lokasi
kerja memungkinkan pertumbuhan jamur yang dapat membahayakan
kesehatan pekerja.
4. Potensi Hazard Ergonomi
 Sikap dan cara kerja yang tidak sesuai pada saat melakukan service motor.
Pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut berada pada posisi jongkok yang
dapat menyebabkan penyakit muskuloskeletal.
 Lantai yang licin karena ketumpahan oli dapat menyebabkan pekerja berisiko
terjatuh.
5. Potensi Hazard Psikososial
 Gangguan fisiologis lama-lama bisa menimbulkan gangguan psikologis.
Suara bising yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan stress, gangguan
jiwa, sulit konsentrasi dan berfikir, dan lain-lain.
 Hubungan antara pekerja yang kurang baik akibat kompetisi kerja juga dapat
menimbulkan stress.

Risk Assessment
Proses Risiko Insiden Risiko Masalah
Memindahkan motor Tegelicir, kejatuhan motor, Cedera karena tergelincir,
dari dan ke bengkel peralatan mekanik yang kejatuhan motor
berantakan
Memeriksa kondisi Menghirup gas sisa pembuangan Gangguan pernapasan, iritasi
motor kendaraan, mendengar suara dan infeksi mata, gangguan
bising kendaraan pendengaran, gangguan
psikologis
Penggantian oli dan Kontak dengan bahan kimia Iritasi dan infeksi kulit, luka
pelumas rantai bakar
Proses service Postur tubuh yang tidak tepat saat Sakit pada tulang/sendi, luka
melakukan service, bagian tubuh pada tangan, kepala yang
mengenai bagian motor yang terluka karena terbentur, luka
tajam, bersentuhan dengan bagian bakar
motor yang panas
Penambahan air aki Terciprat air aki Gangguan mata, iritasi kulit
Proses charging aki Ledakan Luka bakar
VIII. Pengolahan Sampah – Limbah Industri

4
Sampah dari sisa limbah bengkel tidak dipisahkan dengan sampah rumah tangga dan
berisiko mencemari lingkungan. Selain itu, meningkatkan risiko kebakaran karena
tercampurnya bahan-bahan sisa yang mudah terbakar. Sedangkan, limbah cair dari
bengkel dibuang langsung ke saluran parit.

IX. Shift Kerja


Bengkel beroperasi hari Senin-Sabtu pukul 08.00-17.00 WIB, tanpa ada pergantian
shift. Lama kerja per hari adalah 8 jam dan waktu istirahat diberikan kepada pekerja
selama 1 jam.

X. Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan terhadap penerapan prinsip manajamen risiko keselamatan
dan kesehatan kerja di Bengkel ”BOY”, maka dapat dikatakan bahwa manajemen K3
di bengkel ini belum diterapkan oleh pemilik maupun pekerja. Hal ini dapat dilihat
dari belum digunakannya APD yang sesuai oleh para pekerja, rendahnya pengawasan
dari pemilik usaha, dan belum terciptanya lingkungan kerja yang nyaman serta
kondusif bekerja. Hambatan-hambatan penerapan prinsip K3 di bengkel ini dapat
terjadi karena pemilik usaha dan pekerja menganggap sepele terhadap bahaya yang
mungkin terjadi dan juga faktor pemberi kerja atau pemilik bengkel yang tidak
memberikan pelatihan dan menyediakan alat pelindungan yang memadai. Tingkat
pendidikan pekerja pun bisa mempengaruhi perilaku pekerja, karena dengan tingkat
pendidikan atau pengetahuan yang rendah, pekerja pada umumnya tidak begitu
memahami mengenai prinsip K3 dan kurang mawas diri dalam melakukan
pencegahan untuk dirinya sendiri dari setiap bahaya yang mungkin terjadi. Dalam
usaha penerapan manajemen risiko di bengkel motor tersebut perlu adanya kerjasama
antara kedua belah pihak yaitu pekerja dan pemilik usaha.

XI. Saran
Berikut ini hal-hal yang dapat dilakukan untuk upaya perbaikan diantaranya:
A. Bagi Pengusaha
1. Melakukan identifikasi dan penilaian risiko bahaya di tempat kerja.
2. Memberikan promosi dan edukasi tentang prinsip-prinsip K3 di tempat kerja.

5
3. Menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan kebutuhan
pekerja, seperti kaca mata, sarung tangan, masker, baju lengan panjang, dan
sepatu boot.
4. Meningkatkan pengawasan dan ketanggapan terhadap manajemen kesehatan
dan keselamatan kerja untuk seluruh pekerja.
5. Menyediakan lingkungan kerja yang ergonomis untuk seluruh pekerja.
B. Bagi Pekerja
1. Menggunakan APD yang sudah disediakan oleh pengusaha pada setiap
kegiatan operasional.
2. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya upaya pencegahan risiko bahaya.
3. Menaati sistem manajamen K3 yang dibentuk oleh pemilik usaha.