Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MATA KULIAH

BIOKIMIA DAN FISIOLOGI NUTRISI


(TNK 42216)
Doesn pengampu : Prof. Dr. Ir. Gusti Ayu Mayani Kristina Dewi, MS.

MODEL PENGELOLAAN PADANG PENGGEMBALAAN TERNAK SAPI


DI BPTU-HPT DENPASAR BALI

AMBIUS ANTON
NIM. 1790511001

PROGRAM STUDI DOKTOR ILMU PETERNAKAN


PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dewasa ini permasalahan pembangunan pertanian yang dihadapi oleh

negara Indonesia semakin kompleks. Salah satu masalah tersebut adalah

ketergantungan terhadap impor pangan, khususnya daging sapi. Pemerintah terus

melakukan impor daging sapi maupun sapi bakalan dengan volume yang semakin

tahun semakin meningkat. Berdasarkan data dari Buletin Statistik Perdagangan

Luar Negeri lima tahun terakhir (2013-2017), tercatat bahwa pertumbuhan volume

pemasukan daging beku ke Indonesia melalui beberapa mitra dagang (Australia,

Amerika Serikat, Selandia Baru, India dan Jepang) sebesar 5,35% per tahun.

Disisi lain, impor sapi bakalan pada kurun waktu yang sama dari Australia

dilaporkan mencapai 3,41% per tahun.

Konsumsi daging sapi secara nasional perode 2013-2017 mengalami

peningkatan sebesar 16,35% dari 0,261 kg/tahun menjadi 0,445 kg/tahun. Namun

disisi lain, peningkatan konsumsi tersebut belum diimbangi oleh suplay produksi

dalam negeri yang hanya tumbuh sebesar 3,39% dari 424 ribu ton menjadi 477

ribu ton/tahun. Untuk mengatasi masalah ini, maka pemerintah menetapkan

sasaran pembangunan pertanian sub-sektor peternakan difokuskan pada

pemenuhan pangan asal ternak melalui salah satu program upaya khusus sapi

indukan wajib bunting dilakukan secara terintgrasi dan berkelanjutan (Upsus

Siwab). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam program ini salah satunya

adalah pemenuhan pakan hijauan dan konsentrat yang berkualitas untuk

mengoptimalkan potensi sapi indukan dalam menghasilkan pedet dan

1
meningkatkan populasi. Target pencapaian peningkatan populasi dan

produktivitas ternak tidak terlepas dari pengelolaan padang penggembalaan yang

baik. Tujuan dari pengelolaan padang penggembalaan tersebut adalah untuk

memenuhi kebutuhan akan pakan dan juga ketersediaan pakan untuk ternak dalam

jangka waktu yang lama. Ketersediaan pakan sangat dibutuhkan untuk memenuhi

kebutuhan hidup pokok dan untuk bereproduksi. Selain itu, pakan juga memegang

peranan penting sebanyak 60-80% dari biaya produksi, terutama pada usaha

penggemukan sapi. Oleh karena itu pengelolaan padang pengembalaan yang baik

akan sangat membantu peternak untuk menjaga ketersediaan pakan dan tingkat

produksi ternaknya.

Pengelolaan padang pengembalaan sudah dikenal oleh peternak di

Indonesia sejak lama, akan tetapi pengelolaanya belum dilakukan secara baik. Hal

ini dikarenakan ketersediaan lahan di beberapa daerah seperti Pulau Jawa sangat

terbatas, sedangkan pembangunan padang pengembalaan memerlukan lahan yang

luas. Daerah–daerah lain di luar Pulau Jawa dirasa masih memungkinkan untuk

dilaksanakan pengembangan peternakan secara ekstensif atau pengembalaan pada

lahan kosong yang masih luas. Pulau-pulau di bagian Tenggara dan bagian Timur

Indonesia masih terdapat lahan-lahan kosong yang sangat luas yang belum diolah

dan juga memiliki iklim dengan variasi curah hujan yang tinggi dalam satu

musim. Dengan kondisi iklim seperti ini memungkinkan untuk pembangunan

padang pengembalaan, akan tetapi masalah yang muncul di daerah-daerah ini

adalah pengelolaan dan produktivitas padang pengembalaan yang kurang

2
mendapat perhatian dari pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian dan

Peternakan.

Pengelolaan padang pengembalaan yang baik dirasakan sangat penting

untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas usaha peternakan sapi. Paparan diatas

menjadi faktor pendorong bagi unit pelaksana teknis (UPT) di bawah Kementrian

Pertanian yang ditugaskan untuk meningkatkan populasi ternak sapi di Indonesia

seperti Balai Pembibitan Ternak Unggul-Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT)

Denpasar, Bali. Peranan utama dari UPT tersebut adalah peningkatan produksi,

pemuliaan, pelestarian, pengembangan, penyebaran dan distribusi produksi bibit

ternak sapi bali unggul. Selain itu, UPT tersebut juga ikut dan berperan aktif

dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan dan produksi bibit HPT. Penulisan ini

diangkat dari rencana penulis akan melakukan penelelitian di Padang

Pengembalaan milik BPTU-HPT Denpasar Bali. Diharapkan tulisan ini dapat

menjadi bahan kajian dalam upaya pengembangan peternakan di Indonesia.

Tujuan penulisan

Tujuan dalam penulisan untuk mengetahui sistem pengembalaan ternak

pada padang pengembalaan milik BPTU-HPT Denpasar Bali yang kemudian

diharapkan dapat diperkenalkan atau menjadi BPTU model di Indonesia.

Manfaat penulisan

Manfaat penulisan makalah ini antara lain sebagai bahan informasi dalam

upaya pengembangan padang pengembalaan ternak sapi bali di Bali, khususnya

bagi BPTU-HPT Denpasar Bali dan Indonesia umumnya.

3
METODE PENULISAN

Penulisan didasarkan pada pengamatan langsung di lokasi padang

penggembalaan BPTU-HPT Denpasar Bali serta wawancara dengan petugas

melalui daftar pertanyaan yang telah disediakan. Pengamatan dan pengambilan

data berlangsung bersamaan dengan rencana penelitian yang akan direncanakan

selama 5 bulan dari bulan Juli - November 2018.

Hal yang diamati mencakup jumlah ternak di peternakan tersebut, model

pengelolaan padang pengembalaan, serta sistem pengembalaan ternak yang

diterapkan pada lokasi padang penggembalaan BPTU-HPT, Denpasar Bali.

PEMBAHASAN

2.1 Keadaan Topografi

BPTU-HPT Denpasar Bali terletak di diantara 80,25”37’ Lintang Utara

dan 1140514”47’ Lintang Selatan di Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutaan,

Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Topografi padang penggembalaan BPTU-

HPT termasuk wilayah landai sampai berbukit, hal ini dilihat dari keadaan lahan

yang ada di sekitarnya digunakan untuk menggembalakan ternak. Jenis tanah pada

lokasi ini adalah jenis tanah latosol coklat dan litosol terbentuk dari bahan

indukan abu vulkanik intermadiet dengan kandungan bahan organik yang rendah

sampai sedang dan pH tanah berkisar 4,5-5,5. Untuk mempertahankan kelestarian

dan kesuburan tanah memerlukan upaya khusus dalam hal ini adalah pengolahan

4
yang baik. Kesuburan tanah sangat penting bagi produksi hijauan makanan ternak

(rerumputan).

Keadaan topografi perlu diperhatikan dalam pengelolaan padang

penggembalaan ternak sapi karena apabila kemiringan tanah lebih dari 18 derajat,

maka penggunaan alat-alat mekanisasi tidak efektif dan sangat membahayakan.

Demikian juga dengan penggunaan pupuk untuk hijauan, Semakin tinggi derajat

kemiringan tanah penggunaan pupuk semakin tidak efisien.

Keadaan Iklim

Secara umum kondisi di Kabupaten Jemberana beriklim tropis. Terdapat

curah hujan yang signifikan sepanjang tahun. Bahkan bulan kering masih

memiliki banyak curah hujan. Lokasi ini diklasifikasikan sebagai Af berdasarkan

kŐppen dan Geiger dengan rata-rata suhu tahunan antara 26,0-28,00C dan

kelembaban udara berkisar 82-84%. Sedangkan rata-rata curah hujan adalah 2.498

mm per tahun. Namun bila bila terjadi musim panas di BPTU-HPT Denpasar Bali

udaranya panas dan kering menyebabkan rerumputan sebagai sumber makanan

ternak menjadi kering, hal ini akan mempengaruhi ternak sapi karena kebutuhan

makanan menjadi berkurang dalam hal ini tidak mencukupi kebutuhan pakan bagi

ternak sehingga dibutuhkan makanan tambahan. Sebaliknya pada musim

penghujan pakan tersedia.

Luas Lahan Padang Penggembalaan

Dalam upaya meningkatkan populasi dan produktivitas ternak, pakan

merupakan kebutuhan biaya tertinggi yaitu hingga 80% dari seluruh biaya

produksi. Mengingat tingginya komponen biaya tersebut maka perlu adanya

5
perhatian dalam penyediaan pakan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Tidak

terkecuali bagi ternak ruminansia dimana pakan yang diperlukan berupa hijauan.

Kebutuhan pokok konsumsi rumput untuk setiap harinya ±10 % dari berat badan

ternak. Dalam ransum ternak ruminansia, rumput lebih banyak digunakan karena

selain lebih murah juga lebih mudah diperoleh. Di samping itu rumput

mempunyai produksi yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap tekanan defoliasi

(pemotongan dan renggutan).

Pemberian pakan untuk ternak harus diperhatikan dengan baik, kerena

ketersediaan pakan untuk ternak akan membantu dalam proses produksi ternak.

Apabila pemberian pakan kurang diperhatikan maka ternak akan mudah sakit, dan

tidak dapat berproduksi dengan baik. Sebagai upaya penyediaan pakan ternak

serta untuk menjamin kontuinitas penyediaannya perlu diwujudkan adanya lahan

yang digunakan sebagai kebun hijauan makanan ternak dan atau sebagai padang

penggembalaan. Berikut ini merupakan luas lahan, jumlah ternak sapi yang

dikembangkan:

Biasanya luas lahan padang penggembalaan (Pasture) sesuai dengan

jumlah ternak sapi yang dikembangkan. Padang penggembalaan ternak sapi di

BPTU-HPT Denpasar Bali memiliki luasan lahan sebesar 87 ha yang terdiri dari

60 hektar sebagai lokasi penggembalaan ternak sapi induk dan anak, 22 hektar

digunakan sebagai lahan introduksi hijauan legum jenis Indigofera. Sedangkan

sisanya 5 hektar dipergunakan untuk bangunan rumah tinggal, gudang dan

kandang ternak sapi. Lahan atau lokasi penggembalaan seluas 60 hektar dibuat

petak-petak (paddock) dengan pagar, sebanyak 15 peddock. Pagar pembatas petak

6
terbuat dari kawat dan dialiri dengan listrik sehingga ternak sapi tidak saling

melewati satu paddock ke paddock yang lain. Luas rata-rata masing paddock

berukuran 4,5 ha.

Paddock lahan ukuran kecil dan sedang untuk tempat penggembalaan

ternak sapi yang berumur kurang dari dua tahun. Sedangkan pada paddock yang

ukuran luasnya diatas 4,5 ha, digembalakan ternak sapi umur di atas dua tahun

atau induk ternak sapi.

Jumlah Ternak Sapi

Salah satu UPT di bawah Kementrian Pertanian yang ditugaskan untuk

meningkatkan populasi ternak sapi di Indonesia adalah Balai Pembibitan Ternak

Unggul-Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Denpasar, Bali. Peranan utama dari

UPT tersebut adalah peningkatan produksi, pemuliaan, pelestarian,

pengembangan, penyebaran dan distribusi produksi bibit ternak sapi bali unggul.

Jumlah ternak sapi bali yang dibudidayakan seluruhnya adalah 787 ekor yang

terdiri dari induk betina dewasa sebanyak 387 ekor, jantan dewasa sebanyak 215

ekor, muda betina sebnayak 98 ekor, muda jantan sebanyak 30 ekor. Berikut

populasi sapi ditampilkan dalam bentuk tabel 1.

Tabel 1. Populasi Ternak Sapi Bali di BPTU-HPT Denpasar Bali

Uraian ternak sapi bali Jumlah populasi ternak sapi bali


(ekor) Unit Ternak (UT)
Induk dewasa 387 387
Jantan dewasa 215 215
Dara 98 49
Anak 87 21,75
Jumlah 787 -
Sumber: BPTU-HPT 2016

7
Sistem Pengelolaan Padang penggembalaan

Sistem pengelolaan padang penggembalaan di BPTU-HPT Denpasar Bali

dapat dibagi atas:

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah, dilaksanakan dengan tujuan untuk mempersiapkan

media tumbuh yang optimal bagi hijauan makanan ternak. Tahap-tahap

pengelolaan tanah dilakukan pada peternakan ini meliputi;

1. Pembersihan (Land Clearing), yaitu membersihkan rerumputan liar atau

semak–semak dan tumbuh–tumbuhan lainnya, dimana proses pembersihan

lahan di peternakan ini menggunakan mesin pemotong rumput.

2. Pembajakan (Ploughing), dilaksanakan dengan maksud memecahkan lapisan

tanah menjadi bongkahan–bongkahan sehingga tanah menjadi gembur.

3. Penggaruan (Harrowing), dimana bongkahan tanah yang besar dihancurkan

dengan menggunakan traktor. Hal ini dimaksudkan untuk membebaskan tanah

dari sisa-sisa perakaran tumbuhan liar.

Penananam

Penanaman, dalam kegiatan ini hal-hal yang penting dilaksanakan adalah

pemilihan jenis rumput dimana jenis-jenis rumput yang dijadikan jenis hijauan di

BPTU-HPT Denpasar Bali adalah :

1. Jenis rumput Brachiaria decumbens (BD), merupakan slah satu jenis rumput

gembala yang memiliki produksi lebih baik jika dibandingkan dengan rumput

lapangan, memiliki nilai nutrisi yang tinggi, lebih tahan pada musim kemarau

dan cocok untuk daerah tropis. Rumput ini juga tumbuh baik pada, daerah

8
humid–sub humids tropis dan dapat tumbuh pada musim kering kurang dari 6

bulan. Rumput ini berasal dari daerah Afrika (Uganda, Kenya, Tanzania)

menyebar ke berbagai daerah termasuk ke daerah Asia dan pasifik. Jenis

rumput ini mulai di introduksikan ke Indonesia tahun 1958 seiring dengan

penelitian breeding dan penemuan ciltivar-cultivar baru rumput Brachiaria.

Perbanyakan rumput ini biasanya menggunakan biji, biji yang dibutuhkan per

hektar adalah 1,5 –12 Kg/Ha tergantung pada kaulitas biji. Biji biasanya di

sebarkan kemudian ditanam pada kedalaman kurang lebih 2-4 cm pada tanah.

Selain menggunakan biji, rumput Brachiaria brizantha dapat diperbanyak

dengan menggunakan sobekan atau stek batang. Produksi BD mampu

mencapai 14750 BK/kg/ha apabila dilalkukan pemupukan dengan konsentrasi

N sebanyak 0,74-1,32%. Tanaman ini juga memiliki keunggulan yakni tahan

terhadap injakan, dan renggutan.

2. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), merupakan rumput yang telah lama

dikembangkan sebagai hijauan unggulan yang berkualitas dan disukai ternak.

Rumput ini berasal dari Afrika, perennial, dan hidup diberbagai tempat antara

0-3000 dpl. Agar dapat tumbuh setinggi 3-4,5 meter dan produksi maksimal,

tanaman ini butuh tanah yang subur dan curah hujan 1000 mm/tahun. Rumput

gajah mudah ditanam dengan stek batang dari stolon dan penanaman dapat

dilakukan secara monokultur ataupun interkultur dengan tanaman tahunan

sehingga dapat diperoleh manfaat ganda. Jarak tanam dengan ukuran panjang

stek 20-25 cm (2-3 ruas atau minimal 2 buku atau mata) dapat dilakukan

bervariasi yaitu: 60 x 75 cm, 60 x 100 cm, 50 x 100 cm, 75 x 100 cm.

9
3. Jenis legum Indigofera zollingeriana merupakan satu diantara beberapa jenis

hijauan tanaman pakan yang dianggap toleran dan mampu beradaptasi pada

kondisi lahan kering, genangan, tanah asam, dan salin, disamping memiliki

produksi biomas dan kandungan protein yang cukup tinggi. Indigofera,

memiliki sekitar 700 spesies lebih, berasal dari daerah tropis Afrika, Asia,

Australia, Amerika Utara dan Selatan. Penyebaran Indigofera ke Indonesia

sekitar tahun 1900-an oleh kolonial Eropa. Secara alami Indigofera menyebar

ke berbagai agroekosistem, dari daerah kering sampai lembab serta dapat

tumbuh dengan baik pada ketinggian tempat antara 0-2200 m dpl.

Budidaya I. zollingeriana sangat mudah karena dapat dilakukan secara

generatif dengan biji dan vegetatif melalui stek batang. Tanaman dapat

menghasilkan biji setiap saat, tidak seperti halnya pada jenis leguminosa pohon

lain yang umumnya hanya berbunga dan berbuah satu musim sekali yaitu pada

musim kemarau. Penanaman dengan biji dilakukan melalui beberapa tahap,

antara lain perendaman biji dengan air dingin selama satu malam,

pengecambahan selama satu bulan, pemindahan ke polybag dan penanaman.

Penanaman dapat dilakukan secara monokultur, tanaman sela (intercroping),

tanaman campuran dengan tanaman pangan (alley croping) dan tanaman pagar

(hedgrow). Jarak tanam yang direkomendasikan untuk produksi hijauan pakan

dengan pola tanam monokultur yaitu 3x3 m dan dipanen setiap 90 hari,

sehingga tinggi tanaman dipertahankan 1,5 m dari tanah. Pada pola tanam

intercroping dan alley croping, jarak tanam yang direkomendasikan untuk

leguminosa pohon adalah 4-5 m dengan tinggi tanaman dipertahankan 1,5 m,

10
guna menghindari terjadinya penaungan (shading) terhadap tanaman utama.

Untuk penggunaan tanaman sebagai pagar (hedgrow) dilakukan dengan jarak

tanam 2-3 m baris dan tinggi antara 3-5 m, dimanfaatkan sebagai penambat

pagar kawat berduri dan untuk menghasilkan benih (biji).

4. Selain itu, terdapat juga rumput padang (rumput alam) yang tumbuh secara

alami dalam arti belum ada input yang berarti dimasukkan untuk dapat

meningkatkan produktivitasnya dan kapasitas tampung ternak yang merumput

didalamnya. Lebih dari 90% luas padang rumput yang diusahakan untuk

menghasilkan ternak di Indonesia seperti, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa

Tenggara Timur dan Bali terdiri dari rumput alam. Upaya perbaikan rumput

alam ini dapat dilakukan dengan introduksi leguminosa dan beberapa cara

pengolahan tanah.

Irigasi

Sistem irigasi sangat penting dalam pengelolaan padang pengembalaan,

terutama pada musim kemarau karena berkaitan langsung dengan kebutuhan

minum ternak dan kebutuhan lahan hijauan. Kondisi sistem irigasi yang ada di

BPTU-HPT Denpasar Bali belum memadai dan seringkali mengalami hambatan

dimana air yang tersedia terbatas. Hilangnya air dalam tanah menyebabkan

terjadinyaa perubahan dalam laju metabolisme dalam tubuh hijauan pada

pembentukan gula, pati dan lemak. Sealin itu, pertumbuhan vegetatif dan

generatif hijauan terganggu sehingga hijauan yang tersedia berkurang dan

kualitasnya rendah. Untuk mengatasi hal ini dibangun embung yang dilengkapi

pompanisasi yang hanya digunakan untuk mendistribusi air ke tempat air minum

11
ternak yang ada di paddock-paddock padang penggembalaan. Namun untuk

mengairi hijauan rumput yang tumbuh di padang penggembalaan belum tersedia,

sehingga diperlukan solusi agar produktivitas rumput dan ternak dapat optimal.

Pemupukan

Untuk menghasilkan lebih banyak produksi hijauan dengan mutu yang

lebih baik pula, maka BPTU-HPT Denpasar Bali melakukan pemupukan pada

tanaman legum yang sedang tumbuh sesuai dengan kebutuhan. Pada umumnya

pupuk digunakan adalah pupuk kompos (pupuk kandang) dengan cara menyebar

pupuk disekitar tanaman. Namun pada rumput alami yang tumbuh di areal padang

pengembalaan pemupukan tidak dilakukan.

Pemanenan Hijauan

Pemanenan rumput gajah dilakukan pada saat hijauan mencapai umur

panen yakni sekitar 50-60 hari dengan tujuan agar hijauan telah memiliki

kandungn gizi yang maksimal. Untuk jenis rumput BD, pemanenan tidak

dilakukan secara cut and carry namun ternak digembala pada waktu tinggi

hijauan mencapai 30-45 cm, demikian juga pada rumput lapangan. Sedangkan

untuk hijauan jenis legum pohon Indigofera zollingeriana pemamenan dilakukan

dengan interval setiap 90 hari dengan harapan produksi biomasa tinggi. Proses

pemanenan menggunakan secara manual. Hasil biomasa dari leguminosa

Indigofera zollingeriana digunakan untuk anak sapi (pedet) yang umurnya kurang

dari satu tahun.

12
Sistem Pengembalaan Ternak

Pada BPTU-HPT Denpasar Bali ada dua cara yang digunakan untuk

pengembalaan ternak sapi, antara lain :

1. Pengembalaan kontinyu, sistem pengembalaan ekstensif ini, anak sapi (pedet)

tetap tinggal dilokasi padang pengembalaan yang sama untuk waktu tertentu

yakni sampai mencapai umur 1 tahun. Pada waktu musim hujan, hijauan pada

padang pengembalaan dapat tumbuh dengan baik sehingga cukup tersedia

pakan ternak. Sebaliknya waktu musim kemarau rumput mati dan kering

sehingga makanan ternak tidak mencukupi kebutuhannya. Usaha untuk

mengatasi persoalan tersebut adalah dengan memberikan pakan hijauan jenis

legum Indigofera zollingeriana secara cut and carry sebagai pakan tambahan.

2. Pengembalaan bergilir (rotation grassing), merupakan tata laksana padang

rumput yang intensif yang dilakukan pada padang pengembalaan permanen.

Padang pengembalaan dibagi menjadi 11 paddock dengan luas bervariasi

antara 4,5 sampai dengan 5 ha. Ternak dimasukan secara sistematis dari

paddock yang satu ke paddock yang lain secara bergiliran. Setiap paddock

digunakan untuk pengembalaan selama 7-14 hari, kemudian dipindahkan ke

paddock selanjutnya. Penempatan ternak sapi ke dalam padang pengembalaan

telah disesuaikan dengan daya tampung lahan sesuai ukuran dan secara

bertahap. Sistem pengembalaan ini dilakukan pada sapi dara dan induk sampai

dengan diperoleh kelahiran anak. Untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak

diperi pakan hijauan rumput gajah dan pakan tambahan konsentrat. Rumpur

gajah diberikan sekitar 5-6% dan konsentrat sebanyak 1-2% dari bobot badan.

13
PENUTUP

Kesimpulan

Sesuai hasil pada pembahasan, maka dapat disimpulkan beberapa hal

sebagai berikut :

1. Sistem pengelolaan padang pengembalaan sapi potong di BPTU-HPT

Denpasar Bali relatif baik walapun belum menggunakan mekanisasi moderen.

2. Pengelolaan lahan yang tersedia bagi pengembalaan diatur dalam bentuk petak-

petak (paddock) yang bervariasi ukurannya untuk mempermudah

pengembalaan dengan cara memindahkan sapi dari paddock yang satu ke

paddock lain secara bergilir .

3. Penyediaan hijauan selain rumput alam, rumput gajah dan rumput Becaria

Decumben (BD) dilakukan juga penanaman legum jenis indigofera.

Saran

1. Model penyediaan lahan hijauan seperti di BPTU-HPT Denpasar Bali dapat

diterapkan pada model peternakan sapi di Indonesia dengan menyesuaikan

pada kondisi iklim yang ada dan jenis rumput yang akan dikembangkan.

2. Sistem pengembalaan seperti ini dapat dilakukan di Indonesia dengan

mengadopsi model agroforestri yaitu usaha pengembalaan di bawah tanaman

perkebunan seperti pada areal perkebunan kelapa sawit belum menghasilkan

maupun tanaman kelapa.

14
DAFTAR PUSTAKA

AKK. 1983 . Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Penerbit
Kanisius, Yogyakarta.
Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak. 2016. Laporan
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Lakip) Tahun 2014.
Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kementerian
Pertanian 2014.
BPS. 2017. Impor Komoditi Tertentu Menurut Negara Asal. Badan Pusat
Statistik, Jakarta.
BPS. 2017. Provinsi Bali Dalam Angka 2017. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali.
BPS. 2017. Kabupaten Jembrana Dalam Angka 2017. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Jembrana.
BPS. 2017. Kecamatan Pakutan Dalam Angka 2017. Badan Pusat Statistik
Kabupaten Jembrana.
Dirjen PSP. 2014. Pedoman Teknis Pembukaan lahan Hijauan Makanan Ternak,
Direktorat Perluasan Areal. Dirjen Perluasan dan Pengelolaan Lahan,
Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementrian Pertanian. 2014.
Fanindi, A. dan Prawiradiputra, B. R. Karakterisasi dan Pemanfaatan Rumput
Brachiaria Sp. Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak. Balai
Penelitian Ternak,Bogor.
Hassen A, Rethman NFG, Van Niekerk WA, Tjelele TJ. 2007. Influence of
season/year and species on chemical composition and in vitro
digestibility of five Indigofera accessions. J Anim Feed Sci Technol.
136:312-322.
Herdiawan, I. 2013. Pertumbuhan Tanaman Pakan Ternak Legum Pohon
Indigofera zollingeriana pada Berbagai Taraf Perlakuan Cekaman
Kekeringan. JITV Vol. 18 No. 4 Th. 2013: 258-264.
Herdiawan, I. dan Krisnan, R. 2014. Produktivitas dan Pemanfaatan Tanaman
Leguminosa Pohon Indigofera zollingeriana pada Lahan Kering.
WARTAZOA Vol. 24 No. 2 Th. 2014 Hlm. 75-82 DOI:
http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v24i2.1051
Jayadi, S. 1991. Tanaman Makanan Ternak Tropika. Fakultas Peternakan. Institut
Pertanian Bogor.
Kementan. 2016. Peraturan Mentri Pertanian Republik Indonesia Nomor
48/Permentan/PK.210/10/2016 Tentang Upaya Khusus Percepatan
Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting. Kementrian Pertanian,
Jakarta.

15
Krisrianto L dan Wafatiningsih, 2003, Pengembangan Ternak sapi Potong melalui
Pengembalaan Kolektif di Lahan kering.
NG, T. T. 1972. Comparative Responses of Some Tropical Grasses to Fertilizer
Nitrogen in Sarawak, E. Malaysia. Tropical Grasslands, G. 229-230.
Reksohadiprodjo, S. 1981. Produksi Tanaman Hijauan makanan Ternak Tropika.
Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Unifersitas Gadjahmada,
Yogyakara.

16