Anda di halaman 1dari 36

EVALUASI KEGIATAN STIMULASI MATRIX ACIDIZING

DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PADA SUMUR


X LAPANGAN Y

TUGAS AKHIR

MUHAMMAD ERU ANANGDA


NIM 124.14.021

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNIK DAN DESAIN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG
KOTA DELTAMAS
2018
EVALUASI KEGIATAN STIMULASI MATRIX ACIDIZING
DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PADA SUMUR
X LAPANGAN Y

TUGAS AKHIR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik dari
Program Studi Teknik Perminyakan

MUHAMMAD ERU ANANGDA


NIM 124.14.021

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNIK DAN DESAIN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG
KOTA DELTAMAS
2018
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS

Tugas Akhir ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik

yang dikutip maupun dirujuk, telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : MUHAMMAD ERU ANANGDA

NIM : 124.14.021

TandaTangan :

Tanggal : 9 September 2018

iii
LEMBAR PENGESAHAAN

EVALUASI KEGIATAN STIMULASI MATRIX ACIDIZING


DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PADA SUMUR
X LAPANGAN Y

TUGAS AKHIR

MUHAMMAD ERU ANANGDA


124.14.021

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik dari
Program Studi Teknik Perminyakan

Kota Deltamas, 09 September 2018


Menyetujui

Dosen Pembimbing

Aries Prasetyo, S.T., M.T.

iv
HALAMAN PERSEMBAHAN

Kupersembahkan Skripsi ini Teruntuk:

Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasulullah Muhammad Shallallahu


‘Alaihi Wasallam
Ya Allah Engkaulah Dzat yang telah menciptakanku, memberikanku karunia
nikmat yang tak terhinggan, melindungiku, membimbingku dan mengajariku
dalam kehidupan, serta wahai Rasulullah Muhammad yang telah memberikanku
pengetahuan akan ajaran Tuhanku dan membawaku dari jurang kejahilan menuju
kehidupan yang terang benderang

Ayah dan Ibu Tercinta


Yang telah berjuang dengan penuh keihklasan, yang telah menorehkan segala
kasih dan sayangnya dengan penuh rasa ketulusan yang tak kenal lelah dan batas
waktu.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Maka Apabila engkau


telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang
lain”
(Q.S. 94: 6-7)

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’Ala, karena atas
berkat dan rahmat- Nya, saya dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini. Penulisan
Tugas Akhir ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai gelar Sarjana Program Studi Teknik Perminyakan, Institut Teknologi
dan Sains Bandung. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan Tugas Akhir ini,
sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. Oleh karena itu,
saya mengucapkan terima kasih kepada:
1) Orang tua saya yang sangat saya sayangi Bapak Fajar Agus dan Ibu Evi
Nauli yang selalu memberikan dukungan kepada saya dalam bentuk moril,
materil, maupun do’a. Adek-adek saya Muhammad Alfahri dan Muhammad
Faizul Haq yang sangat saya cintai yang tidak pernah bosan untuk selalu
menyemangati dan membantu saya.
2) Prof. Ir. Pudji Permadi, M.Sc., P.hD. selaku Ketua Program Studi Teknik
Perminyakan ITSB.
3) Ir. Aries Prasetyo, M.T. selaku Sekretaris Program Studi Teknik
Perminyakan ITSB dan juga dosen pembimbing dalam tugas akhir ini.
4) Saudara seperjuangan Tugas Akhir dibawah bimbingan pak Aries, bang
Mahyar Kurnianto dan bang Baskoroyang selalu bersama pada saat
bimbingan hingga sidang sarjana.
5) Sahabat karib saya Muhammad Anhar yang sering memberikan bantuan,
dukungan, dan motivasi dalam pengerjaan tugas akhir ini.
6) Keluarga TM’14 dengan segala kekompakan serta keseruan yang kalian
berikan selama perkuliahan.
7) Rekan-rekan Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan - Petrolea ITSB.

vi
Akhir kata, saya berharap Allah Subhanahu Wa Ta’Ala berkenan membalas
segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Tugas Akhir ini
membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.

Kota Deltamas, 09 September 2018

Penulis

vii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Institut Teknologi dan Sains Bandung, saya yang
bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Muhammad Eru Anangda


NIM : 124.14.021
Program Studi : Teknik Perminyakan
Fakultas : Teknik dan Desain
Jenis Karya : Tugas Akhir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Institut Teknologi dan Sains Bandung Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-
Exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

” EVALUASI KEGIATAN STIMULASI MATRIX ACIDIZING DALAM


UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PADA SUMUR X LAPANGAN Y”

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan hak bebas royalti
noneksklusif ini, Institut Teknologi dan Sains Bandung berhak menyimpan,
mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data, merawat, dan
memublikasikan tugas akhir saya selama tetap tercantum nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Kota Deltamas, 09 September 2018


Yang menyatakan

Muhammad Eru Anangda

viii
ABSTRAK

Stimulasi merupakan suatu kegiatan untuk mengembalikan laju produksi sumur


yang sempat mengalami penurunan yang dikarenakan formation damage, Salah
satu jenis formation damage adalah terbentuknya endapan scale. Untuk
melarutkan scale yang terjadi di zona A pada sumur ME lapangan X dilakukan
metode stimulasi matrix acidizing yang dilakukan dengan cara menginjeksikan
asam dibawah tekanan formasi sehingga asam yang diinjeksikan menyebar secara
radial. Maka dari itu dibutuhkan perencanaan yang tepat agar stimulasi matrix
acidizing berhasil dilakukan. Pada penelitian tugas akhir ini, evaluasi keberhasilan
matrix acidizing ditinjau dari beberapa parameter yaitu analisa laju produksi
sumur sebelum dan sesudah matrix acidizing, perubahan nilai productivity index,
kurva Inflow Performance Relationship (IPR.

Kata Kunci: Scale, Matrix Acidizing, Productivity Index,Inflow Performance


Relationship (IPR).

ix
ABSTRACT

Stimulation is an activity to restore the rate of production of wells that had


decreased due to formation damage, One type of formation damage is the
formation of sediment scale. To dissolve the scale occurring in zone A at the well
of ME field X, matrix acidizing method is performed by injecting the acid under
the formation pressure so that the injected acid spreads radially. Therefore it is
required proper planning for matrix acidizing stimulation successfully done. In
this final project, evaluation of success of matrix acidizing is evaluated from
several parameters, namely well production rate analysis before and after matrix
acidizing, change of productivity index value, Inflow Performance Relationship
(IPR) curve.

Keywords: Scale, Matrix Acidizing, Productivity Index, Inflow Performance


Relationship (IPR).

x
DAFTAR TABEL

Tabel 4. 1 Data Teknik Sumur ME ....................................................................... 16


Tabel 4. 2 Data Sumur ME ................................................................................... 16
Tabel 4. 3 Batasan Nilai Skin untuk kegiatan AcidizingError! Bookmark not
defined.1
Tabel 4. 4 Perbandingan Data Sebelum dan Sesudah AcidizingError! Bookmark
not defined.3
Tabel 4. 5Data Perhitungan POT pada sumur MEError! Bookmark not
defined.4

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Peta Lokasi Lapangan PT. Pertamina Asset 5 Tanjung Field ............ 7
Gambar 3. 1 Alur Proses Pengerjaan Tugas Akhir14Error! Bookmark not
defined.
Gambar 4. 1Data Produksi Sumur ME ................................................................. 15
Gambar 4. 2Well Sketch Sumur ME ..................................................................... 17
Gambar 4. 3 Data Produksi Setelah Acidizing ...................................................... 22
Gambar 4. 4Kurva IPR & TPR ............................ Error! Bookmark not defined.3

xii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Suatu sumur pada awalnya dapat memproduksikan hydrocarbon secara
natural (naturally flow). Akan tetapi seiring berjalannya waktu, tekanan
reservoir akan mengalami penurunan dan mengakibatkan hydrocarbon tidak
dapat mengalir secara alami lagi sehingga diperlukan metode pengangkatan
hydrocarbon seperti artificial lift menggunakan bantuan pompa, secondary
recovery apabila penggunaan pompa tidak dapat mengangkat hydrocarbon, dan
tertiary recovery untuk kondisi tekanan sumur sudah sangat rendah.
Penurunan produksi pada suatu sumur, dapat juga diakibatkan oleh
kerusakan formasi yang dapat dilihat dari penurunan laju produksi yang tidak
wajar.Kemudian adanya nilai skin positif, dan nilai permeabilitas yang rendah.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, dapat menggunakan metode treatment
yaitu well stimulation atau stimulasi sumur.
Well stimulation atau stimulasi merupakan suatu proses perbaikan terhadap
sumur untuk memperbaiki permeabilitas formasi yang rusak agar dapat
meningkatkan laju produksi dan mengembalikan kondisi sumur. Well
stimulation terbagi menjadi dua jenis yaitu acidizing dan hydraulic fracturing.
Untuk memilih metode yang sesuai dapat dikondisikan sesuai dengan keperluan
sumur yang akan di stimulasi.
Pada penulisan penelitian kali ini, jenis stimulasi yang akan digunakan
adalah acidizing dan metode acidizing yang dipakai adalah matrix acidizing.
Matrix acidizing adalah metode menginjeksikan asam secara radial kedalam
formasi dengan tekanan injeksi dibawah tekanan formasi agar reaksi menyebar
ke formasi secara radial.
Merencanakan stimulasi matrix acidizing perlu memperhatikan pemilihan
asam yang tepat serta urutan fluida yang tepat berdasarkan jenis formasi yang
sesuai supaya proses stimulasi dapat berjalan dengan baik. Keberhasilan matrix
acidizing dapat dilihat dari beberapa parameter yaitu laju produksi yang
meningkat dan nilai skin yang berkurang.

1
2

1.2 Batasan Masalah


Dalam penulisan tugas akhir ini, Penulis akan fokus pada permasalahan-
permasalahan yang melingkupi :
1. Sumur aktif yang akan dilakukan stimulasi matrix acidizing
2. Ruang lingkup dalam perencanaan stimulasi matrix acidizing adalah
tekanan dimana formasi bisa rekah, tekanan maksimum di permukaan
dimana asam dapat diinjeksikan, serta penentuan volume asam.
3. Parameter keberhasilan ditinjau dari laju produksi, nilai Productivity
Index (PI), nilai skin, kurva Inflow Performance Relationship (IPR),
dan analisa keekonomian

1.3 TujuanPenelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan laju produksi sumur yang mengalami penurunan.
2. Memperbaiki sumur yang rusak dengan melakukan stimulasi matrix
acidizing.
3. Mengevaluasi hasil stimulasi matrix acidizing dengan beberapa
parameter

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat dalam penelitian tugas akhir ini adalah :
1. Dapat meningkatkan laju produksi sumur yang mengalami penurunan
2. Dapat memperbaiki sumur yang rusak setelah dilakukan stimulasi
matrix acidizing.
3. Dapat mengevaluasi hasil stimulasi matrix acidizing dengan beberapa
parameter.
3

1.5 Metode Penelitian


Metode penelitian dilakukan dengan mengambil data lapangan dalam upaya
mengevaluasi kegiatan dari stimulasi matrix acidizing yang bertujuan
meningkatkan laju produksi dari sumur X. Kemudian data tersebut diolah
berdasarkan rumusan – rumusan yang telah baku digunakan dalam mengevaluasi
kegiatan stimulasi matrix acidizing dan hasilnya dibandingkan dengan kondisi
sumur sebelum dilakukan kegiatan stimulasi.
Metodologi penelitian yang digunakan oleh penulis dalam menyusun tugas akhir
ini adalah sebagai berikut :
1. Studi Literatur
Studi literatur dilakukan untuk mengumpulkan materi dari berbagai
literatur ilmiah yang berhubungan dengan tugas akhir ini.
2. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan untuk mengumpulkan data – data sumur
dari lapangan berupa data reservoir sampai data permukaan sumur
untuk kebutuhan perhitungan kegiatan stimulasi matrix acidizing.
3. Perhitungan dan Analisis
Perhitungan dan analisis dilakukan saat kegiatan stimulasi matrix
acidizing untuk memastikan keberhasilan kegiatan dan mendapatkan
nilai kenaikan laju produksi setelah kegiatan stimulasi.

1.6 Sistematika Penelitian


Tugas akhir ini disusun dalam beberapa Bab dengan tujuan mempermudah
pemahaman dan penyusunan itu sendiri, adapun pembagian Bab tersebut adalah
sebagai berikut :
 BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang, batasan masalah, tujuan
penelitian, dan sistematika penulisan laporan.
 BAB II DASAR TEORI
Bab ini berisi tentang penjelasan teori dasar atau studi literatur
mengenai jenis – jenis stimulasi acidizing, dasar dilakukannya matrix
acidizing, karakteristik asam dan additive, factor yang mempengaruhi
4

pengasaman, operasi stimulasi matrix acidizing, serta parameter


keberhasilan stimulasi matrix acidizing.
 BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini membahas tentang alur kerja metode penelitian Tugas
Akhir secara umum.
 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas tentang perhitungan stimulasi matrix acidizing
berdasarkan data yang didapat, serta analisis mengenai keberhasilan
stimulasi berdasarkan parameter yang telah ditentukan.
 BAB V KESIMPULAN
Bab ini memuat tentang kesimpulan yang diperoleh setelah
dilakukan penelitian.
BAB II
PROFIL PERUSAHAAN DAN DASAR TEORI
2.1 Pertamina EP
PT Pertamina EP adalah perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan usaha
di sektor hulu bidang minyak dan gas bumi, meliputi eksplorasi dan eksploitasi.
Di samping itu, Pertamina EP juga melaksanakan kegiatan usaha penunjang lain
yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung bidang kegiatan usaha
utama.
Saat ini tingkat produksi Pertamina EP adalah sekitar 100.000 barrel oil per
day (BOPD) untuk minyak dan sekitar 1.016 million standard cubic feet per day
(MMSCFD) untuk gas.
Wilayah Kerja (WK) Pertamina EP seluas 113,613.90 kilometer persegi
merupakan limpahan dari sebagian besar Wilayah Kuasa Pertambangan Migas
PT PERTAMINA (PERSERO). Pola pengelolaan usaha WK seluas itu
dilakukan dengan cara dioperasikan sendiri (own operation) dan kerja sama
dalam bentuk kemitraan, yakni 4 proyek pengembangan migas, 7 area unitisasi
dan 39 area kontrak kerjasama kemitraan terdiri dari 24 kontrak Technical
Assistent Contract (TAC), 15 kontrak Kerja Sama Operasi (KSO). Jika dilihat
dari rentang geografinya, Pertamina EP beroperasi hampir di seluruh Indonesia,
dari Sabang sampai Merauke.
WK Pertamina EP terbagi ke dalam lima asset. Operasi kelima asset terbagi ke
dalam 19 Field, yakni Rantau, Pangkalan Susu, Lirik, Jambi, dan Ramba di
Asset 1, Prabumulih, Pendopo, Limau dan Adera di Asset 2, Subang, Jatibarang
dan Tambun di Asset 3, Cepu, Poleng dan Matindok di Asset 4 serta Sangatta,
Bunyu, Tanjung, Sangasanga, Tarakan dan Papua di Asset 5.
Di samping pengelolaan WK tersebut di atas, pola pengusahaan usaha yang
lain adalah dengan model pengelolaan melalui proyek-proyek, antara lain
Pondok Makmur Development Project di Jawa Barat, Paku Gajah Development
Project di Sumatera Selatan, Jawa Gas Development Project di Jawa Tengah,
dan Matindok Gas Development Project di Sulawesi Tengah.

5
6

2.2 Sejarah Lapangan Tanjung Raya


Lapangan Tanjung Raya adalah salah satu lapangan milik Daerah Operasi PT
Pertamina (Persero) Unit Bisnis Pertamina EP (Tanjung). Sejarah penemuan
lapangan ini diawali oleh penemuan minyak pada tahun 1898 oleh Mijn Bouw
Maatschappij Martapoera dan dilakukan pemboran empat sumur.
Pada tahun 1912 lapangan ini diambil alih oleh perusahaan Belanda lainnya
Dutsche Petroleum Maatschappij (DPM). Kemudian pada tahun 1930 DPM
bergabung dengan sesama perusahaan Belanda yang bernama N.V. Bataache
Petroleum Maatscheppij atau yang lebih dikenal dengan BPM.
Sejalan dengan perkembangan teknologi serta usaha BPM yang lebih giat
melakukan eksplorasi maka pada akhimya ditemukan berturut-turut struktur A
(1934), B (1937), serta struktur C (1939). Pada pemboran sumur A-l tahun 1938
telah ditemukan minyak dengan kedalaman akhir 1920 meter. Sampai pada
pertengahan tahun 1940 telah selesai dibor tujuh buah sumur pada struktur A
tetapi tidak dieksploitasikan karena adanya Perang Dunia II. Sekitar tahun 1942
sampai tahun 1945 sumur minyak di lapangan ini dikuasai oleh pemerintah
pendudukan Jepang.
Pada tahun 1957 BPM kembali memulai usaha perminyakan di lapangan ini.
Kemudian pada tahun 1961 terjadi pengambilalihan pengelolaan lapangan dari
perusahaan BPM kepada perusahaan PT. Shell Indonesia, sejak saat itu kegiatan
lebih digalakan lagi karena kesulitan transportasi telah dapat teratasi dengan
selesainya pembangunan pipa penyalur 20 inch ke Balikpapan.
Lalu pada tahun 1965 lapangan tersebut diambil alih oleh Permina yang
kemudian berubah nama menjadi Pertamina. Selama dikelola oleh Pertamina
kembali dilakukan usaha-usaha pencarian lapangan minyak yang barn dan
berhasil menemukan struktur D pada tahun 1967 dan mulai diproduksikan pada
tahun 1977 setelah melakukan pemboran di lima buah sumur.
Lapangan Tanjung Raya hingga saat ini mempunyai 150 sumur produksi, 43
sumur injeksi dan 86 sumur tak berproduksi, berdasarkan perhitungan dari data
geologi dan geofisika (metode volumetrik) dengan luas area produktif sekitar
1203,43 Ha.
7

2.3 Letak Geografis


Secara geografis Daerah Operasi PT. Pertamina (Persero) Unit Bisnis
Pertamina EP (Tanjung) terletak di Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan
Selatan, tepatnya sekitar 230 km Timur Laut kota Banjarmasin atau berjarak
kurang lebih 240 km dari kota Balikpapan - Kalimanatan Timur.
Figure 1

Gambar 2.1 Peta Lokasi Lapangan PT. Pertamina EPAsset 5 TanjungField


(Diambil dari : “Slide Presentasi PT. Pertamina EP”)
8

2.4 Workover
Workover adalah pekerjaan untuk mempertahankan, memperbaiki atau
menambah produksi dengan cara - cara mengubah atau mengolah zona produksi
atau menganti zona produksi. Work services adalah pekerjaan sumur yang
dilakukan rutin untuk mempertahankan produksi atau memperbaiki tanpa harus
mengubah zona produksinya.

Sebab - sebab dilakukannya workover :


1. Permeabilitas reservoir yang rendah
Penurunan produksi dengan cepat dengan tes produksi dan
pressure build up test dapat dibedakan dengan formation damage.
2. Tekanan reservoir yang rendah
Drive reservoir adalah faktor yang penting dalam decline tekanan
dan pengontrolan sumur semburan dari suatu sumur.
3. Formation damage
Untuk memperbaiki damage dilakukan perforasi ulang.

Jenis-jenis pekerjaan workoveradalah :


1. Add perforation (penambahan lubang perforasi).
2. Pembersihan lubang-lubang perforasi.
3. Isolasi zona

Operasi workover dapat dengan baik didefinisikan berdasarkan pelaksanaan


jenis pekerjaaan yang dilakukan.Workover akan melibatkan satu atau lebih
kriteria sebagai berikut :
1. Pekerjaan yang dilakukan pada awal penyelesaian sumur.
2. Pekerjaan yang dilakukan untuk memodifikasi formasi atau treating
formasi.
3. Pekerjaan pemasangan pipa menjadi permanen (pemasangan casing
atau liner , juga pemasangan permanent packer, bridge plug) yang
dimodifikasi atau diperbaiki.
4. Pekerjaan dimana sumur dilakukan rekomplesi memindahkan atau
9

menambah zona yang akan diproduksi.


5. Pekerjaan yang dilakukan pembukaan tubing produksi sehingga
memerlukan fluida pembunuh (kill fluid) atau mengontrol tekanan.

Sehingga jelas operasi workover dapat mempengaruhi sifat fisik formasi


disekitar sumur terutama permeabilitas formasi atau berubahnya konfigurasi
peralatan menjadi permanen.Dengan demikian pengoperasian workover harus
berhati-hati termasuk perencanaannya dan supervisinya, pada dasarnya
memerlukan pengetahuan keteknikan untuk mengemukakan penyebab-
penyebab dilakukannya workover, dan indentifikasinya berdasarkan metoda
analitis.

2.5 Stimulation
Stimulasi adalah merangsang sumur yang merupakan suatu proses
perbaikanterhadapsumur untuk
meningkatkanhargapermeabilitasformasiyang
mengalamikerusakansehinggadapatmemberikanlaju produksiyang
besar,yang akhirnyaproduktifitassumurakanmenjadilebihbesar
jikadibandingkansebelum diadakannya stimulasi sumur. Stimulasi dilakukan
pada sumur-sumur produksi
yangmengalamipenurunanproduksiyangdisebabkanoleh adanyakerusakan
formasi(formationdamage)disekitarlubangsumurdengancara memperbaiki
permeabilitas batuan reservoir. Metode stimulasi dapat dibedakan
menjadi AcidizingdanHydraulicFracturing. Pada laporan ini, hanya dibahas
mengenai Acidizing.

2.5.1 Acidizing
Acidizingadalahsalahsatu prosesperbaikanterhadapsumuruntuk
menanggulangiatau
mengurangikerusakanformasidalamupayapeningkatanlaju produksi
dengan melarutkan sebagian batuan, dengan demikian akan
memperbesar saluran yang tersedia atau barangkali lebih dari itu
10

membuka saluran baru sebagai akibat adanya pelarutan atau reaksi antara
aciddengan batuan.Stimulasidenganacidizingdapatdilakukan
denganmenggunakan tiga metodeyaitu:
1. AcidWashing

2. Acidfracturing

3. Matrixacidizing

Acidwashingadalahoperasiyang direncanakanuntukmenghilangkan
endapanscaleyang dapatlarutdalamlarutanasamyang terdapatdalamlubang
sumuruntukmembukaperforasiyang tersumbat.Acid fracturingadalah
penginjeksianasamke dalamformasipadatekananyangcukuptinggiuntuk
merekahkan formasi atau membuka rekahan yang sudah ada. Aplikasi
acid fracturingini
hanyaterbatasuntukformasikarbonat,karenajikadilakukanpada
formasibatupasirdapat menyebabkankeruntuhanformasinyadan
mengakibatkan problemkepasiran. Matrix acidizingdilakukan dengan
cara menginjeksikan larutan asam dan additif tertentu secara langsung ke
dalam pori-pori batuan
formasidisekitarlubangsumurdengantekananpenginjeksiandi
bawahtekanan rekahformasi,dengantujuanagarreaksimenyebarkeformasi
secararadial.
Pada intinya, Acidizingini digunakan untuk menghilangkan pengaruh
kerusakan formasi disekitarlubangsumuryaituskin
dengancaramemperbesarpori-poribatuandan melarutkanpartikel-
partikelpenyumbatpori-poribatuan.

2.5.2 Jenis Acid


Pertimbangan utama dalam pemilihan jenis asam adalah kesesuaiannya
denganbatuandan fluidaformasi.Bilaasamtidaksesuaidenganformasimaka
treatmentakangagalataubahkanmengakibatkankerusakanformasilebih
lanjut.
11

Terdapatbeberapakriteriayangharusdipenuhidalampemilihanjenisasamini,
yaitu:
 KonsepDasar
Konsepdasarinipadadasarnya membahas mengenai jenisdanlokasi
kerusakan. Jenis material penyebab kerusakan mambutuhkan jenis
asam tertentuuntuk
melarutkannya,sedangkanlokasikerusakanberpengaruhdalam penentuan
kekuatan asam, karena asam harus mencapai lokasi keruskan
dengankondisiyang diinginkanwalaupunkualitasasam
telahberubahakibat pengaruhmineral-mineralbatuanyang
dilewatinyadari lubangsumurhingga lokasikerusakan.
 KriteriaMineralogi
Formasiyang sensitifakanmengalamikerusakanakibatreaksi-reaksi
kimiayang terjadiantaraasaminjeksidenganmineral-
mineralbatuanformasi maupununsur-unsurdalamair
formasi.Sensitivitassuatuformasisangat dipengaruhi olehkereaktifan
seluruhmineral-mineral batuanterhadap asam
yangdiinjeksikan.Sedangkankereaktifanmineraltergantungpadakomposi
si kimiadanluaspermukaan.
 KriteriaLain
Terdapat kriteria-kriteria lain dalam pemilihan fluida treatment yang
perlu dipertimbangkan, antara lain:permeabilitas, fluida produksi,
kondisi fisiksumurdanmekanismedamage-removal.
Permeabilitas formasimempengaruhi jenisdantingkatkerusakanyang
dialami formasi. Formasi yang sangat permeabledapat dengan mudah
ditembusolehpartikel-partikelpadat asing atau fluida.Sebaliknyaformasi
batupasirberpermeabilitasrendahmungkinhanyaakan mengalamikerusakan
akibatinvasipartikel-partikelasing.Tetapiformasiini lebihsensitifterhadap
invasifluidaasing,karenadalampori-poriyang kecilseringmengandungclay
dalamjumlahbesaryangsangatreaktifterhadapfluida.
12

Jenis fluida produksi juga berpengaruh dalam pemilihan fluida


treatment.Sumurgas yang mempunyaimasalahwaterblockingmemerlukan
fluidatreatmentyangmengandungalkohol.Fluidaini mempunyaikelarutan
yang tinggidalamgas sehinggamempermudahremovalair.Jenisasamyang
seringdigunakanpada industriperminyakandapatberupainorganik(mineral)
yaituasamChloridedan
asamFluoride,atauorganikyaituasamaceticdanasamformic.
Jenis asam yang sering digunakan dalam acidizing antara lain:
1. Organic acid dan HCO2H
2. Hydrochloric acid, HCL
3. Hydrofluoric acid, HF

2.5.3 Syarat utama Acidizing


Adapun syarat-syarat utama agar asam dapat digunakan dalam operasi
acidizing (pengasaman) ini adalah:
1. Tidak terlampau reaktif terhadap peralatan logam.
2. Segi keselamatan penanganannya harus dapat menunjukkan indikasi atau
jaminan keberhasilan proyek acidizing ini.
3. Harus dapat bereaksi/melarutkan karbonat atau mineral endapan lainnya
sehingga membentuk soluble product atau hasil-hasil yang dapat larut.

2.5.4 Prinsip Acidizing


Pada prinsipnya stimulasi dengan pengasaman dapat dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu;
1. Pengasaman pada peralatan produksi yaitu; tubing dan flowline.
2. Pengasaman pada formasi produktif yaitu; perforasi dan lapisan.

Prinsip penerapan metoda ini adalah dengan memperbesar harga ko atau


dengan menurunkan harga μo, sehingga harga PI-nya meningkat dibanding
sebelum metoda ini diterapkan.
Batuan karbonat adalah semua batuan yang terdiri dari garam karbonat.
Batuan karbonat mempunyai keistimewaan dalam cara pembentukannya yaitu
hanya dari larutan, praktis tidak ada sebagai detritus daratan. Organisme
13

sangat berperan dalam pembentukan batuan karbonat, yaitu sebagai penghasil


unsur CaCo3. Organisme pembentuk batuan karbonat dapat terdiri dari Koral,
Ganggang, Molluska, Bryozoa, Echinodermata, Brachiopoda, Ostracoda,
Poriferadan beberapa jenis organisme lainnya.Batuan karbonat merupakan
batuan reservoir yang sangat penting di dalam industri perminyakan. Dari
75% daratan yang dibawahi oleh batuan sedimen, seperlimanya merupakan
batuan karbonat. Batuan karbonat dapat dikelompokkan menjadi empatjenis,
yaitu terumbu, dolomit, gamping klastik dangan pingafanitik.
Sifat-sifat fisik pada batuan karbonat ini berbeda dengan batuan reservoir
lainnya. Untuk mengetahui sifat-sifat fisik batuan karbonat dapat dilakukan
dengan metode testasam, metode nodakimia, metode residu tak terlarut,
metode etsadan metode analisis sayatan tipis. Dengan metode analisis etsa,
analisa yang dilakukan meliputi konstitusi utama, jenis kerangka/butir,
konstitusi detritus, masa dasar, hubungan butir dengan masa dasar, besar butir,
pemilahan, keadaan butir, susunan butir, indeks energi dan nama batuan. Hal
ini akan mempengaruhi porositas, permeabilitas, tekanan kapiler, wetabilitas,
saturasi dan kompresibilitas batuan.
14

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alur Kerja Tugas Akhir
15

Gambar 3. 1Alur Proses Pengerjaan Tugas Akhir


BAB IV
PEMBAHASAN
Sumur yang akan dilakukan stimulasi adalah sumur yang telah mengalami
penurunan laju produksi yang disebabkan oleh adanya formation damage. Adapun
penyebab formation damage yang terjadi pada sumur ME yaitu adanya endapan scale
(CaCo3). Untuk mengetahuinya, dapat dilihat dari penurunan laju produksi yang tak
wajar (diatas 50%).

4.1 Persiapan Data Penelitian


Parameter persiapan data yang dibutuhkan untuk melakukan proses stimulasi dan
evaluasi hasil adalah meliputi data produksi, data sumur, dan data teknik sumur
yang tercantum dibawah ini.

Gambar 4.1 Data Produksi Sumur ME

15
16

Tabel 4.1 Data Teknik Sumur ME


Total Depth 4232.49 Ft
PBTD 4166.87 Ft
Stove Pipe 98.43 Ft
13 3/8”, K-55, 54.5 ppf, BTC
Stove Pipe 675.88 Ft
13 3/8”, K-55, 54.5 ppf, BTC
Stove Pipe 4225.93 Ft
13 3/8”, K-55, 54.5 ppf, BTC
Zona A 3897.83 - 3927.36 Ft
Zona B 3796.12 - 3815.80 Ft
Zona C 3500.83 - 3505.75 Ft
3510.67 - 3512.31 Ft
Zona D 3389.27 - 3402.39 Ft

Tabel 4.2 Data Sumur ME


P1 1288 Psi
P2 500 Psi
Frac. Gradient 0.65 psi/ft
Gradient Static Acid 0.43 psi/ft
Overburden Gradient 1 psi/ft
Perforated interval 25 Ft
K 100 mD
Ks 20 mD
Re 100 Ft
Rw 2 Ft
ID Tubing 2.441 Inch
ID Casing 6.366 Inch
End Of Tubing (EOT) 4024.56 Ft
Top perforation to EOT 98.4 Ft
OD Tubing 2.875 Inch
OD Casing 7 Inch
17

Gambar 4.2Well Sketch sumur ME


18

4.2 Perhitungan skin


𝒌 𝒓𝒆
𝑺 = (𝒌𝒔 − 𝟏) 𝒍𝒏 (𝒓𝒘)

𝟏𝟎𝟎 𝟐.𝟓
𝑺 = ( 𝟏𝟎 − 𝟏) 𝒍𝒏 ( 𝟏 )

S = 8.25
Dengan,
k = 100 md re = 2.5 ft
ks = 10 md rw = 1 ft
Nilai skin = 8.25 > 0, hal tersebut menandakan bahwa sumur ini
teridentifikasi memiliki masalah scale.

4.3 Perhitungan pre – acid job


1. Menghitung kapasitas Tubing (bbl/ft)
(𝐼𝐷 𝑇𝑢𝑏𝑖𝑛𝑔)^2
Kapasitas Tubing : 1029.4

Kapasitas Tubing : 0.005788 bbl/ft

2. Menghitung Kapasitas Casing (bbl/ft)


(𝐼𝐷 𝐶𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔)^2
Kapasitas Casing : 1029.4

Kapasitas Casing : 0.039369 bbl/ft

3. Menghitung Kapasitas Anulus (bbl/ft)


(𝐼𝐷 𝐶𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔)2 −(𝐼𝐷 𝑇𝑢𝑏𝑖𝑛𝑔)^2
Kapasitas Anulus : 1029.4

Kapasitas Anulus : 0.033588 bbl/ft

4. Menghitung Volume Tubing (bbl)


Volume Tubing : (EOT * Kapasitas Tubing)
Volume Tubing :23.3 bbl
19

5. Menghitung Volume Anulus(bbl)


Volume Anulus : (Top Perforation to EOT * Kapasitas Casing)
Volume Anulus : 3.9 bbl

6. Menghitung VolumeDisplacement (bbl)


Vol. Displacement : Volume Tubing + Volume Anulus
Vol. Displacement : 27.2 bbl

7. Menentukan tekanan injeksi maksimal dasar sumur (BHP) yang tidak akan
menyebabkan fracture (Zona A dan B)
A) BHPrekah : (Frac.grad * Depth) - 25
A) BHPrekah : (0.65 * 3897) - 25
A) BHPrekah : 2508 psia

B) BHPrekah : (Frac.grad * Depth) - 25


B) BHPrekah : (0.65 * 3795) - 25
B) BHPrekah : 2441.75 psia

8. Menentukan tekanan maksimum (Pmaks) di permukaan untuk dapat injeksi


dibawah fracture pressure (Zona A dan B)
A)Pmaks : ((frac.grad – fluid grad) * Depth) – 25
A)Pmaks : ((0.65 – 043) * 3897) – 25
A)Pmaks : 832 psia

B) Pmaks : ((frac.grad – fluid grad) * Depth) – 25


B)Pmaks : ((0.65 – 043) * 3795) – 25
B)Pmaks : 810 psia
20

4.4 PerhitunganProductivity Index dan Qmaks


Persamaan Vogel, untuk menentukan Productivity Index (PI) dan Qmaks :
𝑘ℎ
PI = 𝑟𝑒 3
141.2 µ 𝐵 [𝑙𝑛( )− +𝑆]
𝑟𝑤 4

100 𝑥 25
PI = 2.5 3
141.2 𝑥 1.8 𝑥 1.1 [𝑙𝑛( )− +8.25]
1 4

PI = 1.062 bbl/d/psi (Sebelum acidizing)

Setelah acidizing, nilai skin turun menjadi 2.3, dan Productivity Index (PI):
𝑘ℎ
PI = 𝑟𝑒 3
141.2 µ 𝐵 [𝑙𝑛( )− +𝑆]
𝑟𝑤 4

100 𝑥 25
PI = 2.5 3
141.2 𝑥 1.8 𝑥 1.1 [𝑙𝑛( )− +2.3]
1 4

PI =3.625 bbl/day/psi

Kemudian menghitung Qmaks :


𝑃𝐼 𝑥 𝑃𝑟𝑒𝑠𝑒𝑟𝑣𝑜𝑖𝑟
Qmaks = 𝜇𝑜
1.062 𝑥 1288
Qmaks = 1.8

Qmaks = 760.261 bbl/d

Setelah acidizing, nilai Qmaks :


𝑃𝐼 𝑥 𝑃𝑟𝑒𝑠𝑒𝑟𝑣𝑜𝑖𝑟
Qmaks = 𝜇𝑜
3.625 𝑥 1288
Qmaks = 1.8

Qmaks = 2594.413 bbl/d


21

4.5 Analisis Penurunan Produksi


Diawali dengan analisa penurunan produksi.Apabila penurunan produksi cenderung
stabil atau normal decline, maka bisa dikatakan sumur tersebut tidak memiliki
masalah, namun jika penurunannya ekstrem, dapat dikatakan penurunan
produksinya memiliki masalah.Sumur ME lapangan Tanjung PT. Pertamina EP
Asset 5 ini memiliki masalah penurunan produksi yang cukup ekstrim.Dalam kasus
sumur ME, sumur ini memiliki masalah skindengan nilai skin 8.25. Untuk batasan
nilai skinmaksimum, tidak ada nilai pastinya, hanya perkiraan saja, sehingga
berdasarkan analisa saya, nilai skin maksimum untuk dilakukannya acidizing yang
cukup efektif yaitu 17. Sehingga apabila nilai skin > 17 perlu dilakukan
stimulasihydraulic fracturing.

Tabel 4-3 Batasan nilai skin untuk kegiatan acidizing

Nilai Skin Tindakan yang harus dilakukan


<1 Tidak perlu acidizing
>1 Perlu acizing, analisa reservoir, ukuran tubing, dll sebelum pengasaman
1 s/d 7 Belum tentu acidizing, analisa perhitungan produktivitasnya
8 s/d 17 Pasti perlu acidzing
>17 Stimulasi Fracturing

4.6 Analisis Well History


Pada tahap ini, dianalisa penyebab utama formation damage pada sumur ME
berdasarkan well history.scale problem merupakan penyebab utama, dan untuk
memastikan problem kali ini merupakan scale, dilakukan analisa fluid sample
dengan melihat indikator scale index dan kandungan base sediment & water.
Apabila nilainya positif maka, problem kali ini positif scale.
22

4.7 Perbandingan grafik sumur ME sebelum dan setelah dilakukan Acidizing

Gambar 4-3 Grafik sumur ME

Terjadi peningkatan gross production menjadi sekitar 400 bfpd dan oil
production menjadi produksi normal yaitu sekitar 22 bopd. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa wax – scale removal dengan menggunakan metode matrix
acidizing berhasil meningkatkan produksi. Nilai water cut juga mengalami
peningkatan produksi sebesar 378 bwpd.
23

4.8 AnalisaIPR & TPR

Gambar 4-4 Kurva IPR & TPR

Tabel 4-4 Perbandingan data sebelum dan sesudah acidizing


Sebelum acidizing Setelah acidizing
Productivity Index (PI) (bbl/day/psi) 0.784 1.198
Maximum Rate (STB/D) 391.785 599.175
Nilai skin 8.25 4.3

Dari kurva dan tabel diatas, disimpulkan bahwa kegiatan acidizing sumur ME
berhasil mengurangi nilai skin, dikarenakan terdapat peningkatan nilai pada kurva
IPR. Akan tetapi, dilihat dari kurva TPR, produksi sumur ME bias dibilang hampir
tidak ekonomis lagi, dikarenakanperpotongan antara IPR & TPR terlalu naik atau
dengan kata lainrate optimum sudah sangat jauh dari rate maximum.