Anda di halaman 1dari 11

Fungsi, Prinsip, dan Asas

Bimbingan dan Konseling


Posted on 14 Maret 2008 by AKHMAD SUDRAJAT — 82 Komentar

Pelayanan bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi, prinsip dan


asas yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling.
A. Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah:
 Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu
konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan
lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan
pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya
secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis
dan konstruktif.
 Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor
untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan
berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi
ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan
diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
 Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi,
informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu
diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah
laku yang tidak diharapkan, diantaranya: bahayanya minuman keras, merokok,
penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex)
 Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang
sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya
untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi
perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara
sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan
melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan
dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik
bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial,
diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),home room, dan
karyawisata.
 Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang
bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan
kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi,
sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling,
dan remedial teaching.
 Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam
membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi,
dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat,
bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini,
konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar
lembaga pendidikan.
 Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan,
kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan
program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan
kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai
konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan
konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi
Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun
menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
 Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam
membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya
secara dinamis dan konstruktif.
 Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk
membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir,
berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi
(memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang
sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan
mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
 Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam
mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan
seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
 Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk
membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi
kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar
terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas
diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik,
rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli
B. Prinsip Bimbingan dan Konseling adalah:

Beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi
pelayanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang
kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau
bimbingan, baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-
prinsip itu adalah:

1. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli.


Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli,
baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita;
baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang
digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari
pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada
perseorangan (individual).
2. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli
bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu
untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga
berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun
pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
3. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada
konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena
bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda
dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan
yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara
untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan
dorongan, dan peluang untuk berkembang.
4. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan
bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru
dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing.
Mereka bekerja sebagai teamwork.
5. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam
Bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar
dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai
peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu
semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli
diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-
timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui
pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara
tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan.
Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk
memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.
6. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting
(Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya
berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga,
perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada
umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi
aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
C. Asas Bimbingan dan Konseling adalah:

Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat


ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut.

1. Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut


dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli yang menjadi
sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak
diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh
memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga
kerahasiaanya benar-benar terjamin.
2. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli mengikuti/menjalani
pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing
berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
3. Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat
terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang
dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar
yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing
berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli. Keterbukaan ini amat terkait
pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri
konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka,
guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
4. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki
agar konseli yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam
penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing
perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan
dan konseling yang diperuntukan baginya.
5. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk
pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli sebagai sasaran
pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang
mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya,
mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru
pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan
dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian
konseli.
6. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki
agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan
konseli dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa
depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan
kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
7. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan yang sama
kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta
berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu
ke waktu.
8. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling,
baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang,
harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-
pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan
konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan
bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
9. Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling
didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada,
yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu
pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan
bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan
pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih
jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat
meningkatkan kemampuan konseli memahami, menghayati, dan mengamalkan
nilai dan norma tersebut.
10. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki
agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas
dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan
kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli
dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus
terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan
konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
11. Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan
bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan
konseli mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru
pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain,
atau ahli lain; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan
kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.
Fungsi, Prinsip, dan Orientasi Bimbingan dan Konseling
BAB II
PEMBAHASAN
A. Fungsi Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling berfungsi sebagai pemberi layanan kepada peserta didik agar masing-masing peserta didik
dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi pribadi yang utuh dan mandiri. Oleh karena itu pelayanan
bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui kegiatan bimbingan dan
konseling. Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi pemahaman, fungsi pencegahan, fungsi pengentasan, fungsi
pemeliharaan dan fungsi advokasi. Uraian berikut ini adalah menjelaskan makna masing-masing fungsi bimbingan
dan konseling:
1. Fungsi Pemahaman
yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak
tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peseta didik pemahaman meliputi :
a) Pemahaman tentang Klien
Pemahaman tentang klien merupakan titik tolak upaya pemberian bantuan terhadap klien. Sebelum seorang
konselor atau pihak-pihak lain dapat memberikan layanan tertentu kepada klien, maka mereka perlu terlebih dahulu
memahami klien yang akan dibantu itu. Pemahaman tersebut tidak hanya sekedar mengenal diri klien, melainkan
lebih jauh lagi, yaitu pemahaman yang menyangkut latar belakang pribadi klien, kekuatan dan kelemahannya, serta
kondisi lingkungannya. Materi pemahaman ini dapat dikelompokan dalam berbagai data tentang : 1). Keluarga, 2).
Kesehatan Jasmani, 3). Riwayat pendidikan sekolah, 4) Pengalaman belajar disekolah dan dirumah, 5). Pergaulan
social, 6). Rencana pendidikan lanjut, 7). Kegiatan diluar sekolah, 8). Hobyy dan kesukaran yang mungkin dihadapi.
Pemahaman tentang diri klien, pertama kali perlu dipahami oleh klien sendiri yang menyangkut kelemahan dan
kekuatan yang dimilikinya. Adapun pihak lain yang juga perlu memahami diri klien adalah pihak-pihak yang
berkepentingan (guru, orang tua). Pemahaman pihak lain terhadap klien dipergunakan oleh konselor secara langsung
untuk memberi pelayanan bimbingan dan konseling, maupun sebagai bahan acuan utama dalam rangka kerjasama
dengan pihak-pihak lain dalam membantu klien.
b) Pemahaman tentang Masalah Klien
Pemahaman terhadap masalah klien membantu konselor dalam memberikan penanganan masalah, oleh karena itu
maka pemahaman ini wajib dilaksanakan. Pemahaman terhadap masalah klien terutama menyangkut jenis
masalahnya, intensitasnya, sangkut pautnya, sebab-sebabnya dan kemungkinan berkembangnya masalah ini jika
tidak segera ditangani. Pihak-pihak yang perlu untuk memahami masalah klien adalah klien itu sendiri, orang tua dan
guru, serta konselor. Apabila pemahaman tentang masalah klien oleh klien sendiri telah tercapai, agaknya pelayanan
bimbingan dan konseling telah berhasil menjalankan fungsi pemahaman dengan baik. Dalam kaitan ini tidak jarang
terjadi klien merasa telah terbantu dan merasa sanggup memecahkan masalahnya sendiri, setelah masalahnya itu
terungkap melalui konseling dan dipahami dengan sebaik-baiknya oleh klien. Klien merasa konseling telah selesai dan
telah berhasil membantunya. Usaha pemecahan masalah selanjutnya akan ditangani oleh klien sendiri.

c) Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas


Untuk dapat memahami individu secara mendalam, maka pemahaman terhadap individu tidak hanya mencakup
pemahaman terhadap lingkungan dalam arti sempit (seperti keadaan rumah tempat tinggal, keadaan sosio ekonomi,
dan sosio emosional keluarga, keadaan hubungan antar tetangga dan teman sebaya), tetapi termasuk pemahaman
terhadap lingkungan yang lebih luas itu yaitu diperolehnya berbagai informasi yang diperlukan oleh individu seperti
informasi pendidikan dan jabatan, informasi promosi dan pendidikan lebih lanjut, bagi para karyawan, dan lain
sebagainya.
Para siswa perlu memahami dengan baik lingkungan sekolah meliputi hak dan tanggung jawab siswa terhadap
sekolah, lingkungan fisik, tata tertib yang harus dipatuhi oleh siswa, aturan-aturan yang menyangkut kurikulum,
pengajaran, penilaian, criteria kenaikan kelas, hubungan dengan guru dan sesame siswa, dan lain sebagainya.
Pemahaman terhadap hal-hal tersebut akan memungkinkan siswa menjalani kehidupan sekolah sebagaimana
dikehendaki.
Disamping pemahaman terhadap informasi tersebut, para siswa juga perlu untuk memahami berbagai informasi lain
yang berkenaan dengan pendidikan yang sedang dijalaninya sekarang, kaitannya dengan pendidikan lanjutan dan
kemungkinan pekerjaan yang dapat dikembangkannya kelak. Bahan-bahan tersebut sering disebut informasi
pendidikan dan informasi jabatan/pekerjaan. Dengan berbagai informasi itu para siswa dimungkinkan menjangkau
pemahaman tentang perkembangan situasi di luar sekolah dan kemungkinan masa depan mereka.

2. Fungsi Pencegahan
Yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya dan terhindarnya peserta didik dari
berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan
kesulitan dan kerugian tertentu dalam proses perkembangannya. Dalam fungsi pencegahan ini layanan yang
diberikan berupa bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat
perkembangannya. Kegiatan yang berfungsi pencegahan dapat berupa progam orientasi, program bimbingan karier,
inventarisasi data, dan sebagainya.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh konselor adalah :
a) Mendorong perbaikan lingkungan yang kalau diberikan akan berampak negative terhadap individu yang
bersangkutan.
b) Mendorong perbaikan kondisi pribadi diri pribadi klien.
c) Meningkatkan kemampuan individu untuk hal-hal yang diperlukan dan mempengaruhi perkembangan dan
kehidupannya.
d) Mendorong individu untuk tidak melakukan sesuatu yang akan memberikan resiko yang besar, dan melakukan
sesuatu yang akan memberi manfaat.
e) Menggalang dukungan kelompok terhadap individu yang bersangkutan.
Secara operasional konselor perlu menampilkan kegiatan dalam rangka pelaksanaan fungsi pencegahan. Kegiatannya
antara lain dapat berupa program-progam nyata. Secara garis besar, program-program tersebut dikembangkan,
disusun dan diselenggarakan melalui tahap-tahap :
a) Identifikasi permasalahan yang mungkin timbul.
Misalnya disekolah, kemungkinan masalah yang timbul adalah para siswa kurang disiplin, gagal menjawab soal-soal
ulangan, pertentangan antar teman, antar kelas antar sekolah, kurang menghargai guru, tidak suka pada salah satu
mata pelajaran.
b) Mengidentifikasi dan menganalisis sumber-sumber penyebab timbulnya masalah-masalah tersebut. Dalam hal ini
kajian teoritik dan studi lapangan perlu dipadukan.
c) Mengidentifikasi pihak-pihak yang dapat membantu pencegahan masalah tersebut.
Misalnya untuk permasalahan siswa disekolah, pihak-pihak yang terkait adalah kepala sekolah, guru, wali kelas,
orangtua, badan atau lembaga tertentu sesuai dengan permasalahan, teman dekat atau sahabat. Keterkaitan pihak-
pihak tersebut dengan permasalahan yang dimaksudkan perlu dikaji secara obyektif.
d) Menyusun rencana program pencegahan. Rencana ini disusun berdasarkan (a) spesifikasi permasalahan yang
hendak dicegah timbulnya, (b) hasil kajian teoritik dan study lapangan,(c) peranan pihak-pihak terkait, (d) faktor-
faktor operasional dan pendukung, seperti tempat, waktu dan biaya, dan perlengkapan kerja.
e) Pelaksanaan dan monitoring
Pelaksanaan program sesuai dengan rencana dengan kemungkinan modifikasi yang tidak mengganggu pencapaian
tujuandengan persetujuan pihak-pihakyang terkait.
f) Evaluasi
Evaluasi dilakukan secara cermat dan obyektif. Laporannya diberikan kepada pihak-pihak terkait untuk dipergunakan
sebagai masukan bagi program sejenis lebih lanjut.
Program-program ini disusun dan diselenggarakan melalui tahap-tahap tersebut biasanya merupakan program-
program “resmi” yang diselenggarakan untuk
Sekelompok individu dilembaga tempat konselor bekerja. Kegiatan pencegahan yang lebih sederhana dan bersifat
“tidak resmi” dapat direncanakan langsung dengan klien yang bersangkutan dan langsung pula diselenggarakan
dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling terhadap siswa tersebut. Dalam hal ini, pemahaman terhadap
siswa dan permasalahan siswa, serta unsure-unsur pemahaman terhadap biimbingan yang “lebih luas” menjadi
dasar bagi kegiatan pencegahan yang dimaksudkan.

3. Fungsi Pengentasan
Walaupun fungsi pencegahan dan pemahaman telah dilakukan, namun mungkin saja klien yang ada disekolah masih
menghadapi masalah-masalah tertentu. Individu yang mengalami masalah akan merasa ada sesuatu yang tidak
nyaman pada dirinya. Kien yang mengalami masalah akan datang pada konselor dengan tujuan dientaskannya
masalah yang tidak mengenakan pada dirinya. Di sinilah fungsi pengentasan (perbaikan) itu berperan, yaitu fungsi
bimbingsn dan konseling yang akan menghasilkan terpecahnya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami
klien.
4. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan
Fungsi ini berarti bahwa layanan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat membantu para klien dalam
memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan. Dalam fungsi
ini hal-hal yang dipandang positif dijaga agar tetap baik dan mantap. Dengan demikian klien dapat memelihara dan
mengembangkan berbagai potensi dan kindisi yang positif dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan
berkelanjutan.

5.Fungsi advokasi
Fungsi advokasi yaitu bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teradvokasi atau pembelaan terhadap
peserta didik dalam rangka upaya pengembangan seluruh potensi secara optimal. Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan
melalui diselenggarakannya berbagai jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling untuk mencapai hsil
sebagaimana yang terkandung di dalam masing-masing fungsi tersebut. Setiap pelayanan kegiatan bimbingan dan
konseling yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasil-hasil
yang hendak dicapainya jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi.
Secara keseluruhan, jika semua fungsi-fungsi itu telah terlaksnaa dengan baik, dapatlah bahwa peserta didik akan
mampu berkembangan secara wajar dan mantap menuju aktualitasi diri secara optimal pula. Keterpaduan semua
fungsi tersebut akan sangat membantu perkembangan peserta didik secara terpadu pula

B. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling


Prinsip merupakan paduan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan
sesuatu yang dimaksudkan . pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar ini sangat penting dan perlu terutama
kaitannya dengan kepentingan penerapan dilapangan. Koonseler yang telah memahami secara benar dan mendasar
prinsip-prinsip dasar bimbingan dan konseling ini akan dapat menghindarkan diri dari kesalahan dan penyimpangan-
penyimpangan dalam praktik pemberian layanan bimbingan dan konseling.
Prinsip-prinsip umum dalam bimbingan dan konseling :
1. Prinsip-prinsip Umum
a) Karena bimbingan ituberhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlulah diingat bahwa sikap dan
tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet.
b) Perlu dikenal dan dipahami perbedaan individual daripada individu-individu yang dibimbing, ialah untuk
memberikan bimbingan yang tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh individu yang bersangkutan.
c) Bimbingan harus berpusat pada individu yang dibimbing.
d) Masalah yang tidak dapat diselesaikan disekolah harus diserahkan kepada individu atau lembaga yang mampu dan
berwenang melakukannya.
e) Bimbingan harus dimulai dengan identifikasi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang dibimbing.
f) Bimbingan harus fleksibel sesuai dengan program pendididkan disekolah yang bersangkutan.
g) Pelaksanaan program bimbingan harus dipimpipn oleh seorang petugas yang memiliki keahlian dalam bimbingan
dan sanggup bekerjasama dengan para pembantunya serta dapat dan bersedia mempergunakan sumber-sumber
yang berguna di luar sekolah.
h) Terhadap program bimingan harus senantiasa diadakan penilaian yang teratur untuk mengetahui sampai dimana
hasil dan manfaat yang diperoleh serta penyesuaian antara pelaksanaan dan rencana yanggg dirumuskan terdahulu.

2. Prinsip-prinsip Khusus
a) Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan
1) Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, agama, dan
status social ekonomi.
2) Bimbingan dan konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan dinamis.
3) Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembangan individu.
4) Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual yang menjadi orientasi
pokok pelayanan.
b) Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individu
1) Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut kondisi mental atau fisik individu terhadap
penyesuaian dirinya di rumah, di sekolah serta dalam kaitannya dengan kontak social dan pekerjaan, dan sebaliknya
pengaruh lingkkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
2) Kesenjangan social, ekonomi, dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada individu dan
kesemuanya menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan.
c) Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program layanan
1) Bimmbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan dan pengembangan individu, karena itu
program bimbingan harus disesuaikan dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta
didik.
2) Program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat, dan kondisi
lembaga.
3) Program bimbingan dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan yang terendah sampai
yang tinggi.
4) Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling perlu adanya penilaian yang teratur dan terarah.

d) Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan


1) Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri
sendiri dalam menghadapi prmasalahan.
2) Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan hendak dilakukan oleh individu hendaknya
atas kemauan individu itu sendiri, bukan karena kemauan aas desakan dari pembimbing aau pihak lain.
3) Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahlli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang
dihadapi.
4) Kerjasama antara pembimbing , guru, dan orang tua amat menentukan hasil pelayanan bimbingan.
5) Pengembangan program pelayanan bimbingan dan konseling ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari
hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang terlibat dalam proses pelayanan dan program bimbingan dan
konseling itu sendiri.

C. Orientasi Bimbingan dan Konseling


Orientasi yang dimaksudkan disini ialah “pusat perhatian” atau “titik berat pandangan” . titik berat pandangan atau
pusat perhaian konselor terhadap kliennya itulah orientasi bimbingan dan konseling yang akan diuraikan berikut ini.
1. Orientasi Perorangan
Orientasi perseorangan bimbingan dan konseling menghendaki agar konselor menitikberatkan pandangan pada siswa
secara individual. Satu per satu siswa perlu mendapat perhatian. Pemahaman konselor yang baik terhadap
keseluruhan siswa sebagai kelommpok dalaml kelas itu penting juga, tetapi arah pelayanan dan kegiatan bimbingan
ditujukan kepada masing-masing siswa. Kondisi keselluruhan (kelompok) siswa merupakan konfigurasi (bentuk
keseluruhan) yang dampak positif dan negatifnya terhadap siswa secara individual harus diperhitungkan.
Berkenaan dengan isu kelompok atau individu, konselor memilih individu sebagai titik beratny berat pandangannya.
Dalam hal ini individu diutamakan dan kelompok dianggap sebagai lapangan yang dapat memberikan pengaruh
tertentu terhadap individu. Dengan kata lain, kelompok dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan dan
kebahagiaan individu, dan bukan sebaliknya. Pemusatan perhatian terhadap individu itu sama sekali tidak berarti
mengabaikan kepentingan kelompok; dalam hal ini kepentingan kelompok diletakkan dalam kaitannya dengan
hubungan timbal balik yang wajar antar individu dan kelompoknya. Kepentingan kelomppok dalam arti misalnya
keharuman nama dan citra kelompok, kesetiaan kepada kelompok, kesejahteraan kelompok, dan sebagainya, tidak
akan terganggu olehj pemusatan pada kepentingan dan kebahagiaan individu yang menjadi anggota kelompok itu.
Kepentingan kelompok justru dikembangkan dan ditingkatkan melalui terpenuhinya kepentingan dan tercapainya
kebahagiaan individu. Apabila secara individu para anggota kelompok itu dapat terpenuhi kepentingannya dan
merasa bahagia dapat diharapkan kepentingan kelompok pun terpenuhi pula. Lebih-lebih lagi, pelayanan bimbingan
dan konseling yang berorientasikan individu itu sama sekali tidak boleh menyimpang ataupun bertentangan dengan
nilai-nilai yang berkembang didalam kelompok sepanjang nilai-nilai itu sesuai dengan norma-norma umum yang
berlaku.
Sejumlah kaidah yang berkaitan dengan orientasi perorangan dalam bimbingan dan konseling, yaitu :
a. Semua kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling diaarahkan bagi
peningkatan perwujudan diri sendiri setiap individu yang menjadi sasaran layanan.
b. Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi kegiatan berkenaan dengan individu untuk memahami kebutuhan-
kebutuhannya, mootivasi-motivasinya, dan kemampuan-kemampuan potensialnya yang semuanya unik, serta untuk
membantu individu agar dapat menghargai kebutuhan, motivasi dan potensialnya itu kearah pemgembangan yang
optimal, dan pemanfaatan yang sebesar-besarnaya bagi diri dan lingkungannya.
c. Setiap klien harus diterima sebagai individu dan harus ditangani secara individual (Ronger, dalam McDaniel,1956).
d. Adalah menjadi tanggung jawab konselor untuk memahami minat, kemampuan dan perasaan klien serta untuk
menyesuaikan program-program pelayanan dengan kebutuhan klien setepat mungkin. Dalam hal itu
penyelenggaraan program yang sistematis untuk mempelajari individu merupakan dasar yang tidak terelakan bagi
berfungsinya program bimbingan(McDaniel, dalam Prayitno, 1999:236).
Soetjipto dan Kosasi (2007: 80) menambahkan bahwa pada hakikatnya setiap individu itu mempunyai perbedaan
satu sama lain. Perbedaan itu bersumber pada latar belakang pengalamannya, pendidikan, dan sifat-sifat kepribadian
yang dimiliki dan sebagainya. Menurut Willerman(1979) anak kembar satu telur pun juga mempunyai perbedaan,
apalagi kalau dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda. Ini membuktikan bahwa kondisi lingkungan dapat
memberika andil terjadinya perbedaan individu. Tylor(1956) juga menyatakan bahwa kelas social keluarga dapat
menimbulkan terjadinya perbedaan individu.
Perbedaan latar belakang kehidupan individu ini dapat mempengaruhinya dalam cara berpikir, cara berperasaan, dan
cara menganalisis data. Dalam layanan dan bimbingan konseling ini harus menjadi perharian besar. Inilah yang
dimaksud dg orientasi individual.

2. Orientasi Perkembangan
Salah satu fungsi bimbingan dan konseling adalah fungsi tersebut adalah pemeliharaan dan pengembangan.
Orientasi perkembangan dalam bimbingan dan konseling lebih menekankan lagi pentingnya peranan perkembangan
yang terjadi dan yang hendaknya diterjadikan pada diri individu. Bimbingan dan konseling memusatkan perhatiannya
pada keseluruhan proses perkembangan itu. Perkembangan sendiri dapat diartika sebagai “perubahan yang progresif
dan kontinyu(berkesinambungan) dalam diri individu mulai lahir sampai mati”. Pengertian lain dari perkembangan
adalah “perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju ke tingkat kedewasaannya atau
kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik menyangkut
fisik(jasmaniah) maupun psikis(rohaniah). (Yusuf, 2009: 15)
Menurut Myrick (dalam mayers, 1992) perkembangan individu secara tradisional dari dulu sampai sekarang menjadi
inti dari pelayanan bimbingan. Sejak tahun 1950-an penekanan pada perkembangan dalam bimbingan dan konseling
sejalan dengan konsepsi tugas-tugas perkembangan yang dicetuskan oleh Havighurst. Dalam hal itu peranan
bimbingan dan konseling adalah memberikan kemudahan-kemudahan bagi gerak individu menjadi alur
perkembangannya. Pelayanan bimbingan dan konseling berlangsung dan dipusatkan untuk menunjang kemampuan
inheren individu bergerak menuju kematangan dalam perkembangannya.
Ivey dan Rigazio (dalam Mayers, 1992) menekankan bahwa orientasi perkembangan justru merupakan cirri khas yang
menjadi inti gerakan bimbingan. Perkembangn merupakan konsep inti dan terpadukan, serta menjadi tujuan dari
segenap layanan bimbingan dan konseling. Selanjutnya ditegaskan bahwa praktek bimbingan dan konseling tidak lain
adalah memberikan kemudahan yang berlangsung perkembangan yang berkelanjutan. Permasalahan yang dihadapi
oleh individu harus diartikan sebagai terhalangnya perkembangan, dan hal itu semua mendorong konselor dank lien
bekerjasama untuk menghhilangkan penghalang itu serta mempengaruhi lajunya perkembangan klien.
Secara khusus Thompson & Rudolph (1983) melihat perkembangan individu dari sudut perkembangan kognisi. Dalam
perkembangannya, anak-anak berkemungkinan mengalami hambatan perkembangan kognisi dalam empat bentuk :
a. Hambatan egosentrisme, yaitu ketidakmampuan melihat kemungkinan lain diluar apa yang dipahaminya.
b. Hambatan konsentrasi, yaitu keidakmampuan untuk memusatkan perhatian pada lebih dari satu aspek tentang
semua hal.
c. Hambatan reversibilitas, yaitu ketidakmampuan menelusuri alur yang terbalik dari alur yang dipahami sebelumnya.
d. Hambatan transformasi, ketidakmampuan meletakan sesuatu pada susunan urutan yang ditetapkan.
Thompson & Rudolph menekankan bahwa tugas bimbingan dan konseling adalah menangani hambatan-hambatan
perkembangan itu. Masing-masing individu berada pada usia perkembangan. Dalam setiap tahap usia
perkembangan, individu hendaknya mampu mewujudkan tugas perkembangan tersebut. Setiap tahap atau periode
perkembangan mempunyai tugas-tugas perkembangan sendiri-sendiri yang sudah harus dicapai pada akhir tahap
perkembanganya itu. Pencapaian tugas perkembangan di suatu tahap perkembangan akan mempengaruhi
perkembangan berikutnya(Ratna Asmara Pane, 1988). Tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul
pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan
membawa keberhasilan; sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang
bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas
berikutnya(Yusuf, 2009:65).

3. Orientasi Permasalahan
Hambatan dan rintangan seringkali dialami oleh individu dalam menjalani kehidupan dan proses perkembangannya.
Hambatan dan rintangan dalam perjalanan hidup dan proses perkembangan individu tentunya akan mengganggu
tercapainya kebahagiaan. Padahal tujuan umum bimbingsn dan konseling , sejalan dengan tujuan hidup dan
perkembangan itu sendiri, ialah kebahagiaan. Oleh karena itu maka perlu diwaspadai kemungkinan timbulnya
hambatan dan rintangan yang mungkin menimpa kehidupan dan perkembangan. Kewaspadaan terhadap timbulnya
hambatan dan rintangan itulah yang melahirkan konsep orientasi masalah dalam pelayanan bimbingan dan
konseling.
Dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi bimbingan dan konseling yang telah dibicarakan, orientasi masalah secara
langsung bersangkut paut dengan fungsi pencegahan dan fungsi pengentasan. Fungsi pencegahan menghendaki agar
individu dapat terhindar dari masalah-masalah yang mungkin membebani dirinya, sedangkan fungsi pengentasan
menginginkan agar individu yang sudah terlanjur mengalami masalah dapat terentaskan masalahnya. Fungsi-fungsi
lain, yaitu fungsi pemahaman dan fungsi pemeliharaan/pengembangan pada dasarnya juga bersangkut paut dengan
permasalahan pada diri klien. Fungsi pemahaman memungkinkan individu memahami berbagai informasi dan aspek
lingkungan yang dapat berguna untuk mencegah timbulnya masalah pada diri klien, dan dapat pula bermanfaat
didalam upaya pengentasan masalah yang telah terjadi . demikian pula fungsi pemeliharan dapat mengarah pada
tercegahnya ataupun terentaskannya masalah-masalah tertentu. Dengan demikian konsep orientasi masalah
terentang seluas daerah beroperasinya fungsi-fungsi bimbingan, dan dengan demikian pula menyusupi segenap jenis
layanan kegiatan bimbingan dan konseling.