Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manfaat bakteri terhadap keselamatan lingkungan, merupakan salah satu bagian dalam
mempelajari mikrobiologi lingkungan (enviromental mikrobiology), yakni ilmu yang mempelajari
komposisi dan fisiologi dari komunitas mikroba di dalam lingkungan. Lingkungan yang
dimaksudkan disini adalah tanah, air dan udara serta sedimen yang menutupi planet juga termasuk
binatang dan tumbuhan yang mendiami area ini. Mikrobiologi lingkungan juga termasuk
mempelajari mikroorganisme yang berada di dalam lingkungan buatan seperti bioreaktor
(Anonimus, 2008a).

Adanya keprihatinan yang besar di antara masyarakat akan kualitas lingkungan telah
membantu dicurahkannya minat yang kian besar untuk mempelajari ekologi mikroba. Sebagai
contoh mikroorganisme memegang peranan yang menentukan dalam menguraikan sampah yang
berasal dari manusia dan industri yang dibuang ke dalam air dan tanah. Mereka mampu
melaksanakan daur ulang terhadap banyak macam bahan. Kualitas dan produktivitas perairan
alamiah saling berkaitan, terutama dengan populasi mikrobanya. Udara bersih serta bebas debu
mengandung sedikit mikroorganisme. Dengan demikian nyatalah bahwa penilaian terhadap kualitas
lingkungan mempunyai kaitan yang rumit dengan flora mikroba yang ada (Pelezar dan Chan,
2005).

Beberapa mikroorganisme khususnya bakteri sangat berperan dalam pengelolaan


lingkungan, sering hubungan simbiotik (baik positif maupun negatif) dengan organisme yang lain,
dan hubungan ini mempengaruhi ekosistem. Salah satu contoh adalah simbiose mendasar adalah
kloroplast, yang memungkinkan eukaryot mengadakan fotosintesis. Contoh kloroplast
cyanobacteria endosimbiotik, sebuah kelompok bakteri yang berasal dari fotosintesis aerobik.
Beberapa bagian teori merupakan penemuan bersamaan dengan suatu yang utama bergeser ke dekat
atmosfer bumi, dari yang kurang atmosfer ke atmosfer yang kaya oksigen. Beberapa teori meluas
bahwa pergerakan ke arah keseimbangan gas dapat mengakibatkan umur es global yang dikenal
dengan Snowball bumi (Anonimus, 2008b). Mereka adalah tulang punggung dari semua ekosistem,
tetapi

terjadi banyak pada zone dimana cahaya tidak dapat mencapainya jadi fotosintesis tidak
mungkin dalam memperoleh energi. Pada sctiap zone mikroba chemosynthetic menyediakan energi
dan karbon untuk organisme lain. Mikroba lain adalah sebagai pengurai, dengan kemampuannya
mendaur ulang nunisi dari sisa produk dari organisme lain. Mikroba ini memainkan peranani
penting dalam siklus biogeochemical. Siklus nitrogen, siklus fosfor dan sikius karbon semuanya
tergantung pada satu jalan atau yang lain. Contoh nitrogen menyusun 78% atmosfer planet adalah
tidak dapit dicerna untuk banyak organisme, dan alur nitrogen ke dalam biosfer tergantung atas
proses mikroba yang dikenai dengan fiksasi.

Menurut Budiyanto (2004), bakteri Pseudomonas putida dapat dikembangkan menjadi


mikroorganisme yang mampu mencerna minyak bumi pada kasus pencemaran air laut oleh
1
pengeboran minyak pantai atau kecelakaan kapal pengangkut minyak. Bacillus subtilis dapat
dikembangkan menjadi mikroorganisme yang mempunyai kemampuan mengimobilisasi logam
berat pada limbah industri yang banyak mengandung logam berat. Biofilm (lapisan kumpulan
mikroorganisme) juga berperan dalam pengelolaan air limbah atau limbah cair baik pada lagoon
sistem (sistem kolam), activated sludge system (sistem lumpur aktit), down flow sand filter system
(sistem filter pasir aliran ke bawah) dan up flow sand filter system (sistem aliran pasir ke atas).
Salah satu fungsi biofilm tersebut adalah mendekomposisi protein menjadi amonia, nitrit dan nitrat.

Melalui perkembangan bioteknologi dan rekayasa genetik di masa yang akan datang,
memungkinkan bakteri akan membawa beberapa sifat genetik dengan mentransfer gen yang
dikehendaki untuk membuat sifat tumbuhan, manusia maupun hewan yang diinginkan dengan sifat
dan karakteristik sesuai harapan manusia. Untuk hal ini diperlukan kajian lebih mendalam beberapa
hasil penelitian dan informasi yang terkini. Keterbatasau informasi akan menyebabkan
ketertinggalan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Berdasarkan uraian diatas disimpulkan sebagai
berikut :

a. Bakteri merupakan salah satu mikroorganisme sangat memegang peranan penting dan
telah banyak dimanfaatkan untuk keselamatan lingkungan dari pencemaran
lingkungan, serta berguna untuk menguraikan polutan, melalui proses biodegradasi
dan bioremediasi.
b. Perkembangan bioteknologi memungkinkan bakteri melalui rekayasa genelik
dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia sehingga bakteri dapat digunakan
untuk mengatasi limbah minyak bumi, berguna dalam proses biogas, mengatasi logam
berat, pengolahan limbah kaya protein, memproduksi hidrogen, mengatasi zat kimia
pestisida dan menghasilkan produk yang bernilai lebih tinggi

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan limbah minyak?


2. Bagaimana bakteri memecah limbah minyak di lingkungan?
3. Bagaimana metode dan teknik mikroba untuk mengatasi pencemaran lingkungan?

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Bakteri sebagai Agen Penyelamat Lingkungan

Seberapa jauh bakteri telah dimanfaatkan sebagai agens penyelamat lingkungan yang
bermanfaat untuk kelangsungan hidup umat manusia. Dipilihnya bakteri sebagai penekanan
dalam tulisan ini, karena bakteri telah banyak digunakan dan telah banyak diteliti yang sangat
bermanfaat bagi keselamatan lingkungan. Juga penulis ingin mengetahui temuan terbaru
dibidang bakteriologi lingkungan. Seperti manfaat bakteri terhadap mengurangi polutan, bakteri
sebagai biocleaner (biogas, mengatasi limbah minyak bumi, limbah logam berat, pengelolaan
limbah kaya protein, megurangi parachlorophenoi, memproduksi hidrogen) dan manfaat dalam
memproses limbah.

2.2. Kelompok Organisme

Mikroorganisme yang terdiri dari organisme hidup yang berukuran sangat mikroskopis.
Dunia mikroorgnaisme terdiri dari lima kelompok organisms yakni : bakteri, protozoa, virus,
algae dan jamur mikroskopis (Pelczar dan Chan, 2007). Salah satu mikroorgansime ini adalah
bakteri yang banyak dikenal baik karena berakibat negatif pada manusia, hewan dan tumbuh-
tumbuhan juga berpengaruh positil; yakni dapat digunakan untuk kesejahteraan umat manusia,
khususnya dalam pembahasan ini adalah bermanfaat untuk keselamatan lingkungan. Lingkungan
yang dimaksudkan disini adalah tanah, air dan udara (Pelezar dan Chan, 2005). Pengetahuan
tentang mikrobiologi lingkungan sangat membantu dalam memecahkan masalah. Mikrobiologi
lingkungan adalah studi tentang fungsi dan keragaman mikroba pada lingkungan aliminya.
Termasuk studi tentang ekologi mikroba, siklus nutrisi mediasi-mikrobialnya, geomikrobiologi,
keragaman mikroba dan bioremediasi (Anonimus, 2008f). Adapun alur kerangka pemikiran
dapat dilihat pada Gambar 1.
Perkembangan teknologi khususnya bioteknologi melalui rekayasa genetik dapat
memanfaatkan mikroorganisme khususnya bakteri dari yang tidak berguna, menjadi berguna
dalam menyelamatkan lingkungan. Bakteri dapat digunakan sebagai agens biodegradasi
(menguraikan senyawa yang berbahaya menjadi tidak berbahaya bagi lingkungan) (Anonimus,
2008c), bioremediasi (proses menggunakan mikroorganisme, bakteri, jamur, tanaman hijau atau
enzimnya untuk mengembalikan kondisi lingkungan alami yang dirubah oleh kontaminan ke
kondisi aslinya) (Anonimus, 2008a). Bioremediasi dan biotransfonnasi adalah metode yang
sangat mengejutkan secara alami terjadi, keragaman katabolik mikroba untuk mendegradasi,
agens pembawa (transform) atau akumulasi kisaran senyawa yang sangat besar termasuk
hidrokarbon (contoh minyak), polychlorinated biphenyls (PCBs), polyaromatic hydrocarbons
(PAHs), substansi pharmaceutical, radionuclides dan metal. Mengurangi polusi secara luas dan
limbah lingkungan adalah mutlak dibutuhkan untuk mendukung perkembangan yang
berkelanjutan komunitas sosial kita dengan dampak lingkungan yang rendah. Proses biologi
memainkan peranan dalam merombak kontaminan dan mengambil keuntungan darinya dengan
3
memanfaatkan mikroba untuk menguraikan dan merubah setiap komponen yang berbahaya
(Diaz, 2008).

Gambar 1. Alur kerangka berpikir pemanfaatan bakteri


2.3. Bakteri yang digunakan untuk Mengurangi Polutan

Mikroorganisrne yang telah direkayasa dapat digunakan untuk menggantikan suatu


proses produksi sehingga hanya menghasilkan polutan sedikit mungkin. Beberapa contoh
adalah produksi enzim, vitamin, karbohidrat dan lipida yang menggunakan mikroorganisme
akan menghasilkan limbah produksi lebih sedikit jika dibandingkan dengan produksi enzim,
vitamin, karbohidrat dan lipida yang menggunakan tumbuhan. Penggunaan Bacillus
thuringiensis sebagai bioinsektisida dan penggunaan Bacillus subtilis sebagai bio-fosfor
(Budiyanto, 2004).

Penggunaan bakteri sebagai pengganti insektisida sintetis dapat membantu mengurangi


pencemaran lingkungan sekaligus keracunan bagi serangga berguna (non target) (Soesanto,
2006). Telah diteliti dampak residu herbisida yang tertahan di dalam tanah dapat diuraikan
dengan bantuan mikrobiologi dalam tanah khususnya bakteri. Penggunaan herbisida 2,4-D
dengan konsentrasi nisbi 100% selama 10 hari menjadi kira-kira 10% (Pelczar dm Chan, 2005).
Isolat Acinotobacter yang diambil dari lingkungan mampu mendegradasi dengan kisaran yang
luas senyawa aromatik. Rute utama untuk stadium akhir asimilasi metabolit adalah lewat
catechol atau protocatechuate (3,4- dihydroxybenzoate) dan lintas beta-ketoadipate (Anonimus,
2008a).

Bakteri juga bermanfaat sebagai bioremediasi. Bioremediasi adalah proses yang


menggunakan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, tanaman hijau atau enzimnya untuk
4
mengembalikan lingkungm alami yang berubah akibat kontaminan ke kondisi asalnya.
Bioremediasi dikerjakan untuk kontaminan tanah yang spesifik, yakni degradasi hidrokarbon
diklorinasi oleh bakteri. Contoh banyak pendekatan umum dalam hal membersihkan tumpahan
minyak dengan penambahan pupuk nitrat atau sulfat ke fasilitas dekomposisi dari minyak
mentah dengan bakteri indo/eksogenous (Anonimus, 2008d).

Secara alami kejadian bioremediasi dan fitoremediasi telah digunakan berabad-abad lamanya.
Contoh desalinasi lahan pertanian dengan fitoekstraksi merupakan tradisi yang lama. Teknologi
bioremediasi menggunakan mikroba dilaporkan oleh George M. Robinson. Mereka bekerja di
daerah petrolium untuk Santa Maria, California selama 1960. Teknologi bioremediasi secara
umum dapat diklasifikasikan menjadi in situ atau ex situ. Bioremediasi in situ termasuk
perlakuan material kontaminan di tempat. Sebaliknya ex situ termasuk berpindah material
kontaminan ke tempat yang lain yang diperlakukan. Contoh bioremidiasi adalah bioventing,
biofarming, bioreactorf composting bioaugmentalion, dan rhizofiltralion.

Menurut Burhan (2005) ada dua metode dalam bioremediasi yakni :

a. Penggunaan nutrisi untuk mendorong pertumbuhan dan meningkatkan aktifitas bakteri


yang ada didalam tanah atau air. Penguraian secara alami hidrokarbon adalah dipercepat
oleh penambahan pupuk (kadang-kadang pelacakan metal dan mikronutrisi lain seperti
mikroorgansime). Jadi menyediakan sumber nitrogen dan fosfor yang mungkin
pembatasan dalam lingkungan alami.
b. Penambahan bakteri baru ke lokasi polusi. Utamanya aplikasi bioremediasi menggunakan
mikroorgansime secara alami untuk membersihkan limbah, walaupun secara rekayasa
genetik mikroorganisme diuji. Kadang-kadang melalui produk yang dihasilkan dari
mikroba yang menguraikan limbah dapat menggunakan untuk aplikasi. Contoh methana
dihasilkan oleh beberapa mikroorganisme selama sulfur, limbah yang dihasilkan selama
produksi kenas. Methana dapat ditangkap dan digunakan sebagai sumber energi.
Meagher (2000), menyatakan tidak semua kontaminan mudah diperlakukan dengan
bioremediasi menggunakan mikroba. Contoh logam berat yakni cadmium dan timah tidak siap
diserap dan ditangkap oleh organisme. Asimilasi metal yakni merkuri ke dalam rantai makanan
dapat bertambah buruk, Fitoremidiasi berguna dalam keadaan ini, karena tanaman alami atau
tanaman transgenik mampu bioakumulasi toksin ini pada bagian di atas tanah, yang kemudian
dapat dipanen untuk dipindahkan. Logam berat pada biomass yang dipanen selanjutnya dapat
dikonsentrasikan melalui pengabuan atau didaur kembali untuk manfaat industri.

Pengurangan polutan dan limbah dari lingkungan adalah mutlak membutuhkan


pengertian kita yang relatif penting menggunakan langkah berbeda dan mengatur jaringan kerja
untuk perubahan karbon secara terus menerus khususnya pada lingkungan dan terlebih lagi
bahan serta cepat mengembangkan teknologi bioremediasi dan proses biotransformasi (Diaz,
2008).

Pendekatan rekayasa genetik dalam merancang organisme spesifik untuk bioremediasi


sangat potensial (Lovley, 2003). Bakteri Deinococcus radiodurans (diketahui organisme sangat

5
radioresistent) telah dimodifikasi untuk dipakai dan mencerna toluen dan ion merkuri dari
limbah radioaktif (Brim, et al., 2000).

6
Proses bioremediasi dapat domonitor secara langsung melalui pengukuran
Oxidation Reduction Potential atau redoks pada tanah atau air tanah, bersama dengan pH,
suhu, kandungan oksigen, konsentrasi aseptor/donor elektron dan konsentrasi produk yang
terurai (contoh karbon dioksida). Tabel 1 menunjukkan penurunan laju penguraian secara
biologi seperti fungsi potensial redoks (Anonimus 2008d).

Beberapa proses, reaksi dan potensial redoks dalam memonitoring bioremediasi


(Anonimus, 2008d)

Dibutuhkan sampel cukup pada lokasi sekitar kontaminasi agar mampu


menentukan contour sama dengan potensial redoks. Contouring biasanya dilakukan
menggunakan software khusus, contoh menggunakan interpolasi Kriging. Kalau semua
pengukuran potensial redoks menunjukkan aseptor elektron telah digunakan, pengaruhnya
sebagai indikator untuk aktivitas total mikroba. Analisis penguraian juga diperlukan untuk
menentukan kapan level kontaminan dan produk penguraiannya telah direduksi ke bawah
batas pengaturan

2.4. Bakteri sebagai Organ Pembersih (Biocliner)

Bakteri yang direkayasa dapat digunakan sebagai organisme pembersih (biocliner) jenis
polutan (limbah) yang dimungkinkan menghasilkan bahan yang lebih bernilai ekonomi.
Penguraian limbah dilakukan secara bersama-sama oleh bakteri aerob dan anaerob. Bakteri
penguari (dekomposer) memerlukan oksigen, nitrogen dan fosfor untuk melakukan kegiatannya.
Bahan ini diambil dari lingkungan dan bahan mentah yang mengandung unsur tersebut dalam
berbagai bentuk persenyawaan seperti amonium, nitrat, dan pospat (Bidiyanto. 2004).

Menurut McLeod dan Eltis (2008), menjelaskan tentang biodegradasi aerobik dari
polutan. Mcreka menyatakan sejunilah perkembangan data genomik bacteri yang menyediakan
peluang tidak ada bandingannya unmk pengertian genetilc dan dasar molekuler bagi degradasi
polutan organik. Diantaranya adalah senyawa aromatik dipelajari dari studi genomik Burkholderia
xenovorans LB400 dan Rhodococcus sp. strain RHAI. Studi ini telah membantu pengertian

4
tentang katabolisme bakteri, adaptasi fisiologi non-katabolik terhadap senyawa organik, dan
evolusi dari genome bakteri yang besar. Pertama lintas metabolik dari phylogenetik dari isolat
berbeda sangat mirip dengan semua organisasi. Jadi awalnya tercatat pada Pseudomonas, sejumlah
besar lintas “aromatik peripheral” berkisar alami dan senyawa xenobiotik ke dalam jumlah terbatas
dari lintas aromatik sentral. Haider dan Rabus (2008) juga menjelaskan biodegradasi anaerobik
dari polutan dengan mempelajari urutan genome secara lengkap menentukan lamanya bakteri
mampu mendegradasi polutan secara anaerobik. Contoh genome ~4.7 Mb dari Aromatoleum
aromaticum strain EbN1 pertama ditentukan untuk pendegradasi hidrokarbon secara anaerobik
(menggunakan tuluen atau ethylbenzena sebagai substrat). Urutan genome yang diungkapkan kira-
kira 2 lusin gen cluster (termasuk beberapa paralog) coding untuk jaringan katabolik komplek
untuk degradasi anaerobik dan aerobik dari senyawa aromatik. Bentuk urutan genome dasar untuk
studi secara detail pada regulasi lintas dan struktur enzim. Selanjutnya dari bakteri pendegradasi
hidrokarbon secara anaerobik baru-baru ini dilengkapi untuk reduksi besi spesies Geobacler
metallireducens dan reduksi perchlorat Dechloromonas aromatica. Tetapi hal ini belum dipublikasi
secara formal. Genome lengkap juga ditentukan untuk bakteri yang mampu mendegradasi
hidrokarbon halogenasi secara anaerobik melalui halorespirasi : genome ~l.4 Mb dari
Dehalococcoides ethenogenes strain 195 dan Dehalococcides sp. Strain CBDBI dan genome ~5,7
Mb dari Desufitobacterium hafniense strain Y51. Karakteristik semua bakteri ini adalah
keberadaan gen multiple paralogous untuk reduksi dehalogenasis, mengimplikasikan spektrum
dehalogenasis lebih luas organisme ini dari yang diketahui sebelumnya.

2.5. Pengertian dan Karakteristik Minyak Bumi

Minyak Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan
dan temperatur atmosfer berupa fasa cair atau padat, termasuk aspal, lilin mineral, atau
ozokerit, dan bitumin yang diperoleh dari proses penambangan, tetapi tidak termasuk batu bara
atau endapan hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang diperoleh dari kegiatan yang tidak
berkaitan dengan kegiatan usaha dan minyak bumi (Kep MenLH Nomor 128 Tahun 2003).

Minyak bumi merupakan campuran kompleks senyawa organik yang terdiri atas senyawa
hidrokarbon dan nonhidrokarbon yang berasal dari sisa-sisa mikroorganisme, tumbuhan, dan
binatang yang tertimbun selama berjuta-juta tahun. Kandungan senyawa hidrokarbon dalam
minyak bumi lebih dari 90% dan sisanya merupakan senyawa nonhidrokarbon seperti sulfur,
nitrogen, oksigen dalam kadar yang bervariasi, volatilitas, specific gravity, dan viskositas yang
beragam (Speight, 1991).

Crude oil dan produk petroleum merupakan campuran yang sangat kompleks dan
bervariasi dari ribuan komponen individual yang memiliki beragam sifat fisik. Memahami
komposisi ini penting untuk dapat mengetahui kelakuan tumpahan minyak dan pilihan respon
yang sesuai (Zhu et al., 2001).

Senyawa hidrokarbon merupakan senyawa organik yang terdiri atas karbon dan
hidrogen. Hidrokarbon merupakan salah satu kontaminan yang dapat berdampak buruk baik
bagi manusia maupun lingkungan. Minyak bumi dan turunannya merupakan salah satu contoh
5
dari hirdokarbon yang banyak digunakan oleh manusia dan berpotensi mencemari lingkungan
(Notodarmojo, 2005).

Speight (1991) menyebutkan bahwa komposisi dari minyak bumi adalah sebagai berikut:

Carbon, 83 – 87%

Hydrogen, 10 – 14%

Nitrogen, 0,1 – 2%

Oxygen, 0,05 – 1,5%

Sulfur, 0,005 – 6%

Speight (1991) juga membagi komponen hidrokarbon dalam minyak bumi menjadi tiga
kelas, yaitu:

1. Parrafins : saturated hydrocarbons dengan rantai lurus atau bercabang, namun tanpa
struktur cincin.
2. Naphthenes : saturated hydrocarbons yang memiliki satu atau lebih cincin, dimana
masing-masing cincin memiliki satu atau lebih gugus rantai paraffinic (lebih dikenal
sebagai alicyclic hydrocarbons).

3. Aromatics : hidrokarbon yang mengandung satu atau lebih inti aromatic, seperti sistem
cincin benzene, naphthalene, dan phenantherene yang dihubungkan dengan disubstitusi
cincin naphthalene dan/atau gugus rantai paraffinic.

6
2.6. Limbah Minyak Bumi sebagai Limbah B3

PP No. 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah B3 mendefinisikan limbah B3


adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau
beracun, yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk
hidup lain.
Limbah dikategorikan sebagai limbah berbahaya jika menunjukkan salah satu atau
lebih dari empat karakteristik berikut (Dutta, 2002):
a. Mudah terbakar
Untuk memperjelasnya dengan mudah, limbah dianggap ignitable (dapat
menyala) jika sampel yang representatif mampu – pada temperatur dan tekanan
standar – terbakar akibat gesekan, penyerapan kelembaban atau perubahan
bahan kimia secara mendadak dan pada saat terbakar, pembakaran sangat besar
dan terus menerus sehingga menyebabkan bahaya.
b. Korosif
Limbah dikatakan dapat menunjukkan sifat korosif jika sampel yang
representatif berbentuk cair di alam dan memiliki pH kurang dari atau sama
dengan 2 atau lebih besar dari atau sama dengan 12,5 atau jika dapat merusak
baja dengan kecepatan melebihi 6,35 mm (0,25 inch) per tahun pada temperatur
uji 55°C (130°F) yang ditentukan dengan metode pengujian standar.
c. Reaktif
Karakteristk limbah reaktif dapat diperlihatkan jika sampel representatif dari
limbah umumnya tidak stabil dan siap mengalami perubahan besar seperti
bereaksi dengan kasar membentuk campuran yang dapat meledak jika dicampur
dengan air atau sianida atau sulfida yang mendorong limbah terarah ke pH yang
sangat rendah (2,0) atau tinggi (12,5) sehingga menimbulkan gas-gas
beracun/asap dalam jumlah cukup untuk membahayakan kesehatan manusia
atau lingkungan. Limbah juga dapat dikatagorikan reaktif jika sampel yang
representatif mampu meledak atau mampu mendekomposisi bahan peledak atau
mampu bereaksi pada temperatur dan tekanan standar.
d. Beracun
Limbah memperlihatkan karakteristik beracun jika sampel yang representatif
dari limbah mengandung kontaminan beracun pada konsentrasi yang cukup
untuk mengancam kesehatan manusia atau lingkungan.

KEPMENLH No. 128 Tahun 2003 tentang Tatacara dan Persyaratan Teknis
Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan Tanah Terkontaminasi oleh Minyak Bumi Secara
Biologis mendefinisikan limbah minyak bumi sebagai sisa atau residu minyak yang terbentuk
dari proses pengumpulan dan pengendapan kontaminan minyak yang terdiri atas kontaminan

7
yang sudah ada di dalam minyak, maupun kontaminan yang terkumpul dan terbentuk dalam
penanganan suatu proses dan tidak dapat digunakan kembali dalam proses produksi. Dalam
lampiran 1 PP 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun,
limbah minyak bumi tergolong kedalam limbah yang berpotensi sebagai limbah B3 dengan
katagori bahaya 1 yang berdampak akut dan langsung terhadap manusia dan dapat dipastikan
akan berdampak penting terhadap lingkungan hidup, baik limbah minyak yang berasal dari
industri eksplorasi minyak, gas, dan panas bumi; industri kilang minyak dan gas bumi; maupun
kegiatan industri petrokimia yang menghasilkan produk organik dari proses pemecahan fraksi
minyak bumi termasuk produk turunan yang dihasilkan langsung dari produk dasarnya.
Limbah minyak bumi yang dihasilkan usaha atau kegiatan minyak, gas dan panas
bumi atau kegiatan lain yang menghasilkan limbah minyak bumi merupakan limbah bahan
berbahaya dan beracun yang memiliki potensi menimbulkan pencemaran dan atau kerusakan
lingkungan. Limbah minyak terdiri atas bermacam-macam senyawa, di antaranya berupa
hidrokarbon ringan, hidrokarbon berat, pelumas, dan bahan ikutan dalam hidrokarbon
(Shaheen, 1992).
Pada umumnya, limbah minyak bumi pada kegiatan usaha minyak dan gas bumi atau
kegiatan lain bersumber dari (PP No 101 Tahun 2014):
1. Proses pemurnian dan pengilangan minyak bumi menghasilkan gas atau LPG,
naptha, avigas, avtur, gasoline, minyak tanah atau kerosin, minyak solar,
minyak diesel, minyak bakar atau bensin, residu, pelarut (solvent), wax,
lubricant dan aspal.
2. Proses pembuatan minyak pelumas, oli dan gemuk yang berbahan dasar
minyak.
3. Proses pengolahan minyak bumi.
4. Pembersihan heat exchanger.
5. Tanki penyimpanan minyak dan gas bumi
Jenis limbah minyak bumi berdasarkan sumber limbahnya terurai menjadi (PP No 101
Tahun 2014):
1. Sludge dari proses produksi fasilitas penyimpanan minyak bumi, yang meliputi:
a. Sludge kilang minyak primer dari hasil pemisahan gravitasi minyak, air
dan padatan selama penyimpanan dan/atau pengolahan. Sludge tersebut
termasuk yang dihasilkan dalam pemisahan minyak, air, dan padatan
pada tangki dan impoundments, saluran air dan alat angkut lainnya,
genangan air, dan unit stormwater menerima aliran air hujan atau air
hasil proses pengolahan, pemeliharaan dan/atau produksi.
b. Sludge kilang minyak sekunder (emulsi) hasil pemisahan fisik dan/atau
kimia minyak, air dan padatan.
2. Residu dasar tanki.
3. Slop padatan emulsi minyak dari industri penyulingan minyak bumi.
4. Katalis bekas.
5. Filter bekas termasuk lempung (clays) spent filter.
8
Menurut Dutta (2002), minyak bumi merupakan salah satu sumber pencemar lahan
yang sangat sering terjadi. Lahan yang terkontaminasi minyak bumi umumnya seperti lapangan
pesawat terbang, ruang pembakaran, tempat pembuangan bahan kimia, sedimen laut yang
tercemar, sumur pembuangan, tempat lindi, area pelatihan pemadam kebakaran, hangar/area
perawatan pesawat terbang, lubang landfill dan pembuangan, tangki penyimpanan, tempat
pelarutan pelumas, surface impoundments, dan tempat perawatan mesin.
Limbah minyak yang berasal dari minyak mentah (crude oil) terdiri dari ribuan
konstituen pembentuk yang secara struktur kimia dapat dibagi menjadi lima golongan, yaitu
(Dhamar, 2005):
a. Hidrokarbon jenuh (saturated hydrocarbons), merupakan kelompok minyak
yang dicirikan dengan adanya rantai atom karbon (bercabang atau tidak
bercabang atau membentuk siklik) berikatan dengan atom hidrogen, dan
merupakan rantai atom jenuh (tidak memiliki ikatan ganda).
b. Aromatik (Aromatics). Famili minyak ini adalah kelas hidrokarbon dengan
karakteritik cincin yang tersusun dari enam atom karbon. Jumlah relative
hidrokarbon aromatik didalam mnyak mentah bervariasi dari 10-30 %.
c. Asphalten dan resin. Selain empat komponen utama penyusun minyak tersebut
di atas, minyak juga dikarakterisasikan oleh adanya komponen- komponen lain
seperti aspal (asphalt) dan resin (5-20 %) yang merupakan komponen berat
dengan struktur kimia yang kompleks berupa siklik aromatik terkondensasi
dengan lebih dari lima ring aromatic dan napthenoaromatik dengan gugus-
gugus fungsional sehingga senyawa-senyawa tersebut memiliki polaritas yang
tinggi.
d. Komponen non-hidrokarbon. Kelompok senyawa non-hidrokarbon terdapat
dalam jumlah yang relatif kecil, kecuali untuk jenis petrol berat (heavy crude).
e. Porphyrine. Senyawa ini berasal dari degradasi klorofil yang berbentuk
komplek Vanadium (V) dan Nikel (Ni).
Crude oil juga mengandung sejumlah senyawa non hidrokarbon, terutama senyawa
sulfur, senyawa organik metalik dalam jumlah kecil/trace sebagai larutan dan garam-garam
anorganik sebagai suspensi koloidal, yaitu antara lain (Dhamar, 2005):
a. Senyawa sulfur
Crude oil yang densitasnya lebih tinggi mempunyai kandungan sulfur yang
lebih tinggi pula. Keberadaan sulfur dalam minyak bumi sering banyak
menimbulkan akibat, misalnya dalam gasoline dapat menyebabkan korosi
(khususnya dalam keadaan dingin atau berair), karena terbentuknya asam yang
dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran gasoline) dan air.
b. Senyawa oksigen
Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2% dan
menaik apabila produk itu lama berhubungan dengan udara. Oksigen dalam
minyak bumi berada dalam bentuk ikatan sebagai asam karboksilat, keton,

9
ester, eter, anhidria, senyawa monosiklo dan disiklo dan phenol. Sebagai asam
karboksilat berupa asam Naphthenat (asam alisiklik) dan asm alifatik.
c. Senyawa nitrogen
Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah, yaitu 0,1-
0,9%. Kandungan tertinggi terdapat pada tipe asphalitik. Nitrogen mempunyai
sifat racun terhadap katalis dan dapat membentuk gum/getah pada fuel oil.
Kandungan nitrogen terbanyak terdapat pada fraksi titik didih tinggi. Nitrogen
kelas dasar yang mempunyai berat molekul yang relatif rendah dapat diekstrak
dengan asam mineral encer, sedangkan yang mempunyai berat molekul yang
tinggi dapat diekstrak dengan asam mineral encer.
d. Konstituen metalik
Minyak mentah juga mengandung konstituen metalik seperti besi, tembaga,
terutama nikel dan vanadium.

2.7. Bioremediasi

Dalam lampiran KEPMENLH No. 128 Tahun 2003 disebutkan bahwa pengolahan
dengan metode biologis merupakan salah satu alternatif teknologi pengelolaan minyak bumi
dengan memanfaatkan makhluk hidup khususnya mikroorganisme untuk menurunkan
konsentrasi atau daya racun bahan pencemar.
Bioremediasi merupakan alternatif pengolahan limbah minyak bumi dengan cara
degradasi oleh mikroorganisme yang menghasilkan senyawa akhir yang stabil dan tidak
beracun. Proses degradasi relatif murah, efektif, dan ramah lingkungan. Namun metode ini
membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan cara fisika atau kimia (Eweis et al.,
1998).
Kebutuhan remediasi lahan tercemar membangkitkan pengembangan teknologi baru
yang ditekankan pada detoksifikasi dan penghancuran kontaminan. Bioremediasi
memanfaatkan proses mikroorganisme untuk mendetoks atau mendegradasi kontaminan di
lingkungan. Walaupun bioremediasi dipandang sebagai teknologi yang baru, namun
mikroorganisme telah digunakan secara rutin untuk pengolahan dan transformasi limbah paling
tidak selama 100 tahun (Baker dan Herson, 1994).
Lampiran KEPMENLH No. 128 Tahun 2003 menyebutkan bahwa bioremediasi adalah
proses pengolahan limbah minyak bumi yang sudah lama atau tumpahan/ceceran minyak pada
lahan terkontaminasi dengan memanfaatkan makhluk hidup termasuk mikroorganisme,
tumbuhan atau organisme lain untuk mengurangi konsentrasi atau menghilangkan daya racun
bahan pencemar.
Menurut Dutta (2002), bioremediasi adalah teknologi pengolahan yang menggunakan
biodegradasi kontaminan organik melalui simulasi populasi mikroba asli dengan menyediakan
beberapa faktor pendukung, seperti menambahkan oksigen, membatasi nutrisi, atau
menambahkan spesies mikroba asing. Teknologi secara spesifik telah terbagi menjadi dua
katagori besar, yaitu:
(1) teknologi ex situ (misalnya slurry phase, land treatment, solid phase, dan
10
composting), dan (2) teknologi in situ.
Dutta (2002) menjabarkan beberapa kunci utama dalam bioremediasi, yaitu:
1. Kebanyakan teknologi pengolahan bioremediasi menghancurkan kontaminan
dan struktur tanah.
2. Teknologi pengolahan ini umumnya dirancang untuk mengurangi toksisitas
baik dengan menghancurkan maupun mengubah kandungan zat beracun
menjadi komponen dengan racun yang lebih rendah.
3. Mikroorganisme asli, termasuk bakteri dan fungi, merupakan mikroorganisme
yang paling banyak digunakan. Pada beberapa kasus, limbah dapat diinokulasi
dengan bakteri khusus atau jamur yang diketahui dapat mendegradasi
kontaminan yang dipermasalahkan. Tanaman juga dapat digunakan untuk
meningkatkan biodegradasi dan stabilitas tanah.
4. Penambahan nutrisi atau reseptor elektron (seperti hidrogen peroksida atau
ozon) untuk meningkatkan pertumbuhan dan reproduksi organisme asli yang
dibutuhkan.
5. Aplikasi bioremediasi di lapangan diantaranya adalah penggalian, penanganan
tanah, penyimpanan lapisan tanah tercemar, pencampuran tanah tercemar,
aerasi tanah tercemar, injeksi fluida, ekstraksi fluida, dan pengenalan terhadap
nutrisi dan substrat.

Cookson (1995) menjelaskan beberapa faktor yang diperlukan proses biologi dalam
mendegradasi kontaminan, yaitu antara lain:
1. Keberadaan mikroorganisme pendegradasi kontaminan
2. Keberadaan substrat yang menjadi sumber karbon
3. Keberadaan inducer yang dapat mendorong pembentukan enzim spesifik
4. Keberadaan sistem akseptor-donor elektron
5. Kondisi lingkungan yang mendukung reaksi katalisis enzim
6. Nutrien yang menunjang pertumbuhan bakteri dan produksi enzim
7. Kisaran temperatur yang mendukung aktivitas mikrobadan reaksi katalisis
8. Tidak adanya material/substansi yang bersifat toksik terhadap
mikroorganisme pendegradasi
9. Keberadaan organisme yang dapat mendegradasi produk metabolit
10. Keberadaan organisme yang dapat mencegah terbentuknya senyawa toksik
11. Kondisi lingkungan yang dapat meminimasi organisme kompetitif yang
berkaitan dengan keberlangsungan reaksi.

Cookson (1995) juga menjelaskan keunggulan dan kelemahan teknologi bioremediasi


dalam pengolahan kontaminan, yaitu:

11
Tabel 2.1. Keunggulan dan Kelemahan Teknologi Bioremediasi

Kelebihan Kelemahan
 Dapat dilakukan on site (di
 Tidak semua senyawa kimia
lokasi
dapat dibioremediasi
tercemar)
 Memerlukan monitoring yang ketat
 Permanen menghilangkan limbah
 Memerlukan karakteristik site
 Lebih murah
yang spesifik
 Ramah lingkungan
 Memerlukan penelitian intensif
 Tidak ada resiko jangka panjang
 Potensial menghasilkan produk
 Perusakan lokasi rendah
sampingan yang belum diketahui
 Tanpa biaya transport
 Ada persepsi teknologi yang
 Dapat digabungkan dengan
belum terbukti
teknologi lainnya.
Sumber: Cookson, 1995

Sasaran setiap upaya bioremediasi adalah untuk mengurangi potensi toksisitas


kontaminan di lingkungan dengan memanfaatkan mikroba untuk mentransformasikan,
mendegradasi, maupun imobilisasi toksikan. Dengan mengintegrasikan kemampuan degradasi
mikroba dengan desain perekayasaan yang menciptakan lingkungan yang optimal untuk
pertumbuhan, bioremediasi diharapkan akan dapat berhasil di lapangan (Sunarko, 2001).

2.8. Mikroorganisme Pendegradasi Hidrokarbon

Proses degradasi hidrokarbon oleh mikroorganisme bergantung pada aktivitas


mikroorganisme pendegradasi. Degradasi material organik di lingkungan alami umumnya
dilakukan oleh dua kelompok mikroorganisme, yaitu bakteri dan jamur. Bakteri mewakili
beragam jenis organisme prokariotik yang banyak tersebar di biosfer. Bakteri dapat ditemukan
di semua lingkungan dimana terdapat organisme yang hidup, namun hal ini tidak berarti bahwa
semua strain bakteri ada di seluruh alam (Baker dan Herson, 1994).
Baker dan herson (1994) juga menyatakan bahwa bakteri berukuran kecil (umumnya
antara 1 dan 10 um) dan memiliki morfologi yang sederhana, tidak memiliki organ membran
dalam tertutup yang biasanya dimiliki oleh organisme eukariotik seperti jamur, protozoa, alga,
tumbuhan, dan hewan. Akan tetapi, secara biokimia bakteri menunjukkan metabolisme yang
baik sehingga bakteri dapat dimanfaatkan untuk keperluan tertentu. Pertumbuhan dan
metabolisme yang cepat, plastisitas genetik, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan
cepat di lingkungan yang berbeda-beda juga merupakan faktor-faktor yang mendukung proses
bioremediasi.
Pada lingkungan yang telah lama tercemar serta kolam pengolahan limbah
dimungkinkan terdapat bakteri pendegradasi minyak/lemak tersebut secara alamiah, bersaing
maupun berkonsorsia dengan mikroorganisme lainnya (Suyasa, 2007).
12
Keberhasilan biodegradasi minyak bumi tergantung pada keefektifan dan kualitas
mikroba serta kondisi lingkungannya. Mikroba yang sesuai adalah mikroba yang memiliki
kemampuan fisiologi dan metabolik untuk mendegradasi pencemar. Dalam beberapa hal, pada
lingkungan yang akan dilakukan bioproses sudah terdapat mikroba. Namun untuk mendapatkan
bioproses yang lebih baik perlu ditambahkan mikroba dari luar yang lebih sesuai sehingga yang
aktif dalam bioproses adalah kultur campuran (Noegroho, 1999).
Suyasa (2007) menyatakan bahwa pengendalian pencemaran dengan mikroba tengah
berkembang dan memiliki potensi di masa mendatang karena teknologinya yang ramah
lingkungan, antara lain melalui pengurangan penggunaan bahan kimia yang berpotensi
menimbulkan pencemaran bau.
Mikroorganisme yang memiliki kemampuan untuk mendegradasi petroleum
hydrocarbon dan komponen serupa lainnya banyak terdapat di habitat laut, air tawar, dan tanah.
Lebih dari 200 spesies bakteri, ragi, dan jamur terbukti dapat mendegradasi hidrokarbon mulai
dari metana sampai komponen dengan lebih dari 40 atom karbon (Zhu et al., 2001).
Lasari (2010) menyatakan bahwa bakteri yang mampu mendegradasi senyawa yang
terdapat di dalam hidrokarbon minyak bumi disebut bakteri hidrokarbonoklastik. Bakteri ini
mampu mendegradasi senyawa hidrokarbon dengan memanfaatkan senyawa tersebut sebagai
sumber karbon dan energi yang diperlukan bagi pertumbuhannya. Bakteri yang tergolong ke
dalam bakteri hidrokarbonoklastik diantaranya adalah Pseudomonas, Arthrobacter,
Alcaligenes, Brevibacterium, Brevibacillus, dan Bacillus. Bakteri-bakteri tersebut banyak
tersebar di alam, termasuk dalam perairan atau sedimen yang tercemar oleh minyak bumi atau
hidrokarbon. Kita dapat mengisolasi bakteri hidrokarbonoklastik tersebut dari alam dan
mengkulturnya, selanjutnya kita bisa menggunakannya sebagai pengurai limbah minyak bumi
yang efektif dan efisien, serta ramah lingkungan.
Banyak penelitian saat ini diarahkan untuk mencari mikroba dari alam yang
mempunyai kemampuan menarik dalam kaitannya dengan kinetika degradasi polutan,
jangkauan senyawa-senyawa polutan yang dapat didegradasi, dan lingkungan yang tepat untuk
aktivitas degradasi mikroba (Sunarko, 2001).

2.9. Faktor Pembatas Bioremediasi

Sunarko (2001) menyatakan bawa berbagai isolat dan konsorsium mikroba mampu
mentransformasikan atau mendegradasi berbagai macam polutan lingkungan. Namun seringkali
proses tersebut berlangsung terlalu lama untuk menurunkan konsentrasi kontaminan secara
signifikan, akibat adanya batasan biologis, kimiawi, maupun fisik. Tanpa memperhatikan
karakter teknologi pengolahan secara terperinci, seluruh teknik bioremediasi memerlukan
mikroorganisme yang tepat di lokasi yang tepat dengan kondisi lingkungan yang tepat agar
bioremediasi dapat terjadi dengan baik (Baker dan Herson, 1994).

13
Proses penguraian senyawa-senyawa pencemar oleh bakteri (mikroba) dipengaruhi
oleh faktor-faktor seperti jumlah nutrient, kecukupan oksigen, serta faktor-faktor lain seperti
suhu, pH, dan lingkungan matrik tumbuh) (Suyasa, 2007).
a. Nutrisi
Saat tumpahan minyak yang cukup besar terjadi di lingkungan, suplai karbon
meningkat secara dramastis dan keberadaan nitrogen dan fosfor berada pada
batas minimum untuk degradasi minyak (Atlas, 2009). Olivieri et al. (1976
dalam Zhu et al., 2001) menemukan bahwa biodegradasi crude oil meningkat
tajam dengan penambahan paraffin yang dilapisi MgNH4PO4.
b. Oksigen
Proses biodegradasi yang terjadi pada senyawa hidrokarbon membutuhkan
akseptor elektron seperti oksigen, nitrat, dan sulfat. Oksigen merupakan unsur
yang sangat penting (Cooney, 1984). Kekurangan oksigen menyebabkan
degradasi menurun tajam. Degradasi akan terjadi pada laju tertinggi jika aerasi
dimaksimalkan (Santosa, 1999).
c. pH
pH tanah umumnya stabil bersifat alkali. Kebanyakan bakteri dan jamur
heterotrof menyukai pH netral, dengan jamur lebih toleran terhadap kondisi
asam. Biodegradasi minyak dapat terhambat akibat penurunan pH secara drastis
(Zhu et al., 2001). Menurut Department of Energy and the Petroleum
Environmental U.S (2002) range pH yang baik untuk bakteri adalah 6,5-8,5 dan
pH optimal untuk biodegradasi berkisar antara 6 – 8,5.
d. Temperatur
Proses biologis umumnya meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur
sampai temperatur maksimal dimana terjadi denaturasi enzim yang akan
menghambat dan mematikan sel. Biasanya, reaksi terhadap suhu oleh
mikroorganisme ditunjukkan dengan pola asimetris yang jelas, dengan aktivitas
maksimal pada suhu tepat di bawah suhu letal. Mikroorganisme diklasifikasikan
ke dalam golongan psychrophiles (suhu optimal antara 5 dan 15°C), mesophiles
(suhu optimal antara 25 dan 40°C), atau thermophiles (suhu optimal antara 40
dan 60°C) (Baker dan Herson, 1994).
Walaupun sebagian besar proyek bioremediasi dilaksanakan pada kondisi
mesofil, kemampuan untuk mendegradasi kontaminan juga ditemukan pada
mikroorganisme psychrophiles dan thermophiles (Altlas, 1988). Contohnya
strain Corynebacterium yang diisolasi dari tanah terkontaminasi minyak di
Antartika menunjukkan kemampuan untuk mendegradasi hidrokarbon pada
suhu 1°C (Kerry, 1993). Di sisi lain, William et al. (1988) pernah
mendemonstrasikan mikroorganisme thermophiles dapat mendegradasi bahan
peledak pada sistem operasi tanah kompos pada suhu 55°C (Baker dan Herson,
1994).

14
Laju degradasi tertinggi biasanya terjadi pada suhu antara 30 – 40°C pada
lingkungan tanah, 20 sampai 30°C pada beberapa lingkungan perairan, dan 15
sampai 20°C pada lingkungan pantai (Bossert dan Bartha, 1984).
e. Kadar air
Baker dan Herson (1994) menyatakan bahwa bakteri seperti sel yang
bergantung pada suplai air yang cukup untuk dapat tumbuh dan bereproduksi.
Menurut Departement of Energy and the Petroleum Environmental U.S (2002),
kadar air yang baik untuk pertumbuhan bakteri adalah antara 50 – 80% dari
water holding capacity.

2.10. Bioremediasi dengan Penambahan Kompos

Banyak penelitian lapangan mengenai bioremediasi dengan penambahan nutrien


organik, khususnya yang bersumber dari kompos menunjukkan hasil yang lebih efektif
dalam menangani pencemaran dari minyak bumi. Hanya saja dalam prosesnya, kondisi
dan komposisi penambahan nutrient yang paling optimal masih belum ditemukan.
Kebanyakan mereka menyatakan bahwa jenis dan kosentrasi nutrient yang optimal sangat
bervariasi tergantung properti minyak dan kondisi lingkungan (Venosa dan Zhu, 2003).

Atagana, (2008) yang melakukan penelitian bioremediasi hidrokarbon terhadap


pencemaran tanah dengan pupuk organik, menunjukan bahwa pupuk organik (pupuk
kandang) yang dilengkapi dengan inokulasi secara efektif dapat menurunkan kandungan
hidrokarbon yang tercemar di tanah dalam waktu empat bulan dengan penurunan yang
fluktuatif setiap bulannya. Hal ini terjadi karena aktivitas pemotongan rantai hidrokarbon
yang dilakukan oleh mikroba tidak merata, hanya mikroorganisme heterotropik yang
mampu beradaptasi dan

15
berkembang. Mikroorganisme mampu berkembang pada kondisi bertemperatur
tinggi yang dihasilkan oleh pupuk organik (pupuk kandang).

Sutherland et al. (1995) dalam Atagana, (2008) melakukan penelitian studi


efek pemberian nutrient organik pada biodegredasi tanah yang terkontaminasi
minyak mentah selama tujuh bulan. Hasil studi menunjukkan bahwa penambahan
nutrient organik (terutama pupuk kandang ayam 90 g) akan lebih meningkatkan
pemanfaatan hidrokarbon dimana nutrient organik berfungsi sebagai suplemen
tambahan.

Setyowati (2008) melakukan studi penurunan Total Petroleum Hydrocarbon


(TPH) pada oil sludge dengan composting bioremediation menunjukkan besarnya
penurunan konsentrasi TPH pada oil sludge setelah dilakukan bioremediasi dengan
menggunakan kompos daun angsana dan glodogan selama 8 minggu adalah 95,76%.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Munawar (2007) yang meneliti pengaruh


penambahan nutrien organik pada bioremediasi tumpahan minyak mentah (crude oil)
dengan metode biostimulasi di lingkungan Pantai Surabaya Timur. Dalam waktu 30
hari, bioremediasi dengan metode ini menurunkan konsentrasi hidrokarbon sampai
dengan 88,25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan organik memberikan
indikasi yang baik untuk digunakan sebagai sumber nutrient.

Berikut ini adalah beberapa penelitian lainnya mengenai bioremediasi


dengan menggunakan kompos.

Tabel 2.2. Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Pendahulu


mengenai Penurunan TPH pada Proses Bioremediasi
Nama Judul Hasil
Peneliti Penelitian Penelitian
Ester Pengaruh Setelah
(2003) pH Awal Tanah 120 hari,
pada Proses efisiensi
Pemulihan penurunan TPH
Tanah dalam kisaran
Terkontaminasi 75-85% dengan
Minyak pH tanah 6 serta
Bumi penambah
dengan Teknik an chicken

16
Nama Judul Hasil
Peneliti Penelitian Penelitian
Bioreme manure
diasi dan kompos
Menggunakan sebanyak 1%.
Konsorsium
Bakteri dan
Jamur
Sporotrichum
pulverulentum
dengan
Chicken Manure
sebagai
Sumber
Nutrien.
Setyowati Studi Besarnya
(2008) Penurunan Total penurunan
Petroleum konsentrasi TPH
Hydrocarbon pada oil
(TPH) Pada Oil sludge
Sludge dengan setelah dilakukan
Composting bioremediasi
Bioremediation. dengan
menggunakan
kompos daun
angsana dan
glodogan
selama 8
minggu
adalah 95,76%
Mujab Pengguna Proses
(2011) an Biokompos degradasi

dalam senyawa
Bioremediasi hidrokarbon

Lahan hidrokarb
Tercemar Limbah on yang paling

Lumpur optimum
Minyak Bumi. ditunjukkan
oleh reaktor
17
C2 dengan

perlakuan
100 gram

berat
kering lumpur

minyak
bumi, 100 gram

berat kering
biokompos,

9 gram
urea, dan rasio
C/N = 5
dengan tingkat

degradasi
TPH sebesar

91,15%.

18
2.11. Total Petroleum Hydrocarbon (TPH)

Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
ratusan bahan kimia yang secara alami muncul dari crude oil. Crude oil digunakan untuk membuat
produk petroleum, yang dapat mengontaminasi lingkungan. Dikarenakan begitu banyaknya bahan
kimia yang berbeda-beda di dalam crude oil dan produk petroleum lainnya, tidak dilakukan
pengukuran masing-masing kandungan secara terpisah. Oleh karena itu pengukuran yang dilakukan
di lapangan adalah jumlah Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) (Agency for Toxic Substance and
Disease Registry, 1999).

Agency for Toxic Substance and Disease Registry (1999) juga menyatakan bahwa TPH
adalah campuran bahan kimia, namun sebagian besarnya berasal dari hidrogen dan karbon,
sehingga disebut hidrokarbon. Para ilmuwan membagi TPH ke dalam kelompok petroleum
hydrocarbon yang serupa pada tanah atau air. Kelompok ini dinamakan petroleum hydrocarbon
fractions. Setiap fraksi mengandung banyak bahan kimia. Beberapa kandungan bahan kimia yang
terdapat di TPH adalah hexane, jet fuel, mineral oils, benzene, toluene, xylenes, naphtalane, dan
florene, seperti halnya kandungan produk petroleum dan bensin lainnya.
2.12. Penggunaan Bakteri untuk Mendegradasi Zat Kimia

Pada pertengahan tahun l960an beberapa mikroorganisme telah diselidiki


memeiliki kemampuan untuk mendegradasi pestisida, herbisida dan beberapa zat kimia
organik. Sekarang banyak spesies bakteri diketahui mengoksidasi senyawa dengan kisaran luas. Strain
Pseudomonas, paling banyak adalah bakteri tanah, mendegradasi lebih dari 100 senyawa organik.
Bakteri menggunakan senyawa kimia sebagai sumber karbon dan memetabolisme senyawa
menggunakan enzim dari lintas biodegradatif Gen mengedocoding enzim dari lintas metabolik dapat
muncul kembali pada kromosom atau plasmid atau keduanya. Plasmid mengcoding enzim ini biasanya
besar dari 50 sampai 200 kb, dan dapat diisolasi dan dipelajari di laboratorium (Barnum, 2005).
Komponen yang paling banyak dari pestisida adalah DDT adalah zat kimia yang arimafik
halogenasi. Zat kimia yang berisi elemen halogen astatin, bromin, chlorin, fluorin atau iodin adalah
polutan yang penuh resiko terlihat pada lokasi limbah beracun. Banyak halogen adalah zat kimia
industri yang penting, contoh pelarut pembersih kering karbon tetraklorida dan Insulasi PCB
(Polychlorinated biphenyi) (Anonimus, 2008g) pada peralatan elektrik, adalah carcinogenic dan
beracun terhadap ikan dan rumput liar. Senyawa halogen juga terjadi secara alami pada lingkungan,
banyak mengandung chlorin. Lebih banyak 200 senyawa halogen dihasilkan oleh algae, bakteri dan
bunga karang (Barnun, 2005).
Dehalogenasi adalah proses perombakan halogen, mengkonversi banyak zat kimia aromatik
halogen menjadi zat kimia yang tidak beracun. Dehalogenasi terjadi melalui reaksi enzimatik,
menggunakan dioksigenase, yang memperbanyak halogen pada cincin henlena dengan grup hidroksil.
Enzim yang sama dapat menstranformasi senyawa aromatik halogen juga mengkorversi hidrokarbon
aromatik polisiklik (Anonimus, 2008h) menjadi zat kimia yang lain yang tidak beracun sepeni
catechol atau protocatechuat (Barnum, 2005).
Lintas degradasi sering plasmid disandi; contoh satu plasmid dapat menyandi enzim memecah
tuluena dan xylena, sebaliknya kedua plasmid menyandi sebuah gen yang mendegradasi herbisida 2,4-
D (2,4-dichlorophenoxyacetic acid). Melalui transfer plasmid menyandi enzim untuk lintas degradasi
spesitik ke dalam mikroorganismé penerima, berbagai zat kimia dapat didegradasi.

19
Rekayasa mikroorganisme yang pertama dengan kemajuan degradatif yang diturunkan oleh
Ananda Chakrabarty dan temannya tahun 1970an. Mereka menstranfer plasmid ke dalam strain
bakteri yang dapat mendegradasi beberapa senyawa dalam petrolium (Gambar 2). Chakrabarty
mendapatkan patent di AS untuk rekayasa genetik mikroorganisme. Walaupun strain bakteri tidak
pernah dikomersialisasi atau digunakan membersihkan tumpahan minyak. Perkembangan mikroba
pengurai minyak secara nyata dicapai (Barnum, 2005).

Gambar 2. Produksi degradasi-camphor, naphthalena, xylena, dan octana strain bakteri


(berturut-turut CAM, NAH, XYL dan OCT) melalui rekombinasi plasmid selama penyatuan dari
beberapa strain bakteri (Bamiun, 2005).

Bakteri dari genus Pseudomonas dan Bacillus mempunyai kemampuan untuk mengubah fosfat
yang tidak tersedia bagi tanaman (tidak larut) menjadi bentuk fosfat yang larut sehingga dapat
digunakan oleh tanaman. Hal ini karena bakteri mensekresikan asam organik misalnya asam format,
asam asetat, asam propionat, asam laktat, asam glikolat, asam fumarat dan asam suksinat. Senyawa ini
dapat menurunkan pH tanah sehingga melarutkan fosfat yang terikat. Beberapasan hidroksi
mengkelasi (cheloate) kalsium dan besi sehingga menyebabkan pelarutan dan penggunaan fosfat
semakin efektif (Yowono, 2006).

2.13. Bakteri untuk Memproses Limbah Tertentu

Limbah organik potensial untuk menimbulkan permasalahan lingkungan dan kesehatan


masyarakat. Dekomposisi limbah organik akan menghasilkan beberapa gas yang dapat mencemari
udara, tanah dan air. Gas tersebut antara lain sebagai berikut :
a. Kelompok senyawa sulfur

20
Dekomposisi air kelapa oleh mikroorganisme akan menghasilkan H2S yang cepat
berubah menjadi SO2 dengan reaksi sebagai berikut
H2S + 3/2 O2 SO2 + H20
Disamping gas H2S bersifat iritan bagi paru-paru, gas ini juga mempunyai efek
melumpuhkan pusat pernafasan, sehingga kematian disebabkan oleh terhentinya
pernafasan. Hidrogen disulfida juga bersifat korosif terhadap metal dan dapat
menghitamkan berbagai material. SO2 dikenal sebagai gas yang tidak berwarna. Pada
konsentrasi 6-12 ppm akan bersifat iritan kuat bagi kulit dan selaput lendir. SO2
dalam keadaan rendah menyebabkan spasme temporer otot polos pada brorikhioli.
Spasme ini akan menjadi lebih hebat dalam keadaan dingin. Pada konsentrasi lebih
besar akan menyebabkan terjadinya produksi lendir di saluran pernafasan bagian atas.
Jika kadar semakin tinggi, maka akan menyebabkan terjadinya peradangan yang hebat
pada selaput lendir yang disertai paralisis silia dan kerusakan (desquamasi) lapisan
epithelium. SO2 dengan konsentrasi lebih rendah (6-12 ppm) dengan pemaparan
berulang kali akan menyebabkan hiperplasia dan metaplasia sel ephithel. Metaplasia
ini dapat berkembang menjadi kanker. Pengaruh SO2 pada hewan menyerupai
pengaruh SO2 pada manusia. Pengaruh SO2 pada tumbuhan tampak terutama pada
daun menjadi putih atau terjadi nekrosis, daun yang hijau dapat berubah menjadi
kuning atau berbecak putih. Sulfur dioksida akan dioksidasi menjadi sulfur trioksida
melalui proses fotokimia dan katalis. Cairan yang ada akan membah sulfur trioksida
menjadi asam sulfat. Dampak sulfur dioksida akan semakin tinggi dalam bentuk asam
sulfat (Budiyanto, 2004).
b. Kelompok senyawa nitrogen
Dekomposisi limbah organik oleh mikroorganisme akan menghasilkan NO (nitrogen
oksida), nitrit dan nitrat. Nitrogen oksida merupakan gas yang toksik bagi manusia.
Efek yang terjadi tergantung pada dosis serta lamanya pemaparan yang diterima
seseorang. Konsentrasi nitrogen oksida yang berkisar antara 50-100 ppm dapat
menyebabkan radang paru-paru bila terkena beberapa menit saja. Pada fase ini
seseorang akan dapat sembuh kembali dalam waktu 6-8 minggu. Pada konsentrasi
150-200 ppm dapat menyebabkan pemaparan brokhioli yang disebut dengan
bronchiolitis fibrosis obliterans yang dapat mengakibatkan meninggal dunia dalam
waktu 3-5 minggu setelah pemaparan. Konsentrasi lebih dari 500 ppm dapat
mematikan dalam waktu 2-10 hari. Hal ini sering dialami petani memasuki gudang
makanan ternak (silo) dimana terjadi akumulasi gas nitrogen oksida. Oleh karenanya
penyakit paru-paru ini dikenal dengan silo filter disease. Nitrat dan nitrit dalam
jumlah besar dapat menyebabkan diare campur darah, konvulsi, koma dan bila tidak
tertolong akm menyebabkan kematian. Keracunan kronis akan menyebabkan depresi
umum, sakit kepala dan gangguan mental. Nitrit terutama akan beraksi dengan
hemoglobin membentuk methemoglobin (metHB). Dalam jumlah yang melebihi
nonnal metHB akan menimbulkan methemoglobinaemia. Pada bayi bila ini terjadi
akan kekurangan oksigen, mukanya tampak membiru. Residu nitrit dalam limbah jika
bereaksi dengan senyawa amin akan menjadi nitrosamin suatu bahan karsinogenik
(Budiyanto, 2064).

c. Kelompok senyawa karbon

21
Dekomposisi limbah organik oleh mikrorganisme akan menghasilkan gas
hidrokarbon. Kebanyakan hidrokarbon yang didapat melalui dekomposisi salah
satunya adalah metan. Meskipun hidrokarbon merupakan gas yang toksik bagi
manusia, tetapi dalam situasi udara bebas tidak menimbulkan masalah serius. Limbah
pananian dengan bantuan bakteri dapat dibuat produk bahan pangan yang bernilai
lebih baik. Air kelapa dengan bantuan

Acetobacter xylinum dapat digunakan sebagai bahan pembuatan nata de coco.


Limbah cair pabrik tahu dengan bantuan bacteri Acetobacter xylinum dapat
digunakan sebagai bahan pembuat nata de soya dan kulit nenas dengan bantuan
bakteri yang sama juga dapat digunakan sebagai bahan membuat nata de pina.
Dengan bantuan bakteri Laciobacillus casei air kelapa dapat dibuat minuman anti
diare. Gula (molase) dengan bantuan bakteri Corynebacterium glutamicum dapat
digunkan, sebagai bahan pembuatan asam giutamat, suatu banan dasar pembuatan
vetsin dan citarasa yang lainnya (Budiyanto, 2004).
Bakteri Acetobacter xylinum termasuk kelompok bakteri asam asetat, yang melalui
proses oksidasi metil alkohol dapat menghasilkan asam asetat. Asam asetat inilah
yang bertimgsi sebagai penekan pertumbuhan mikroorgansime lainnya, terutama
mikroorganisme yang bukan asidofilik. Acetobacter xylinum tidak dapat
menghasilkan amilase, tetapi dapat menghasilkan disakaridase spesifik seperti
sukrase. Bakteri ini tidak patogen pada manusia dan hewan, tetapi dapat
menyebabkan penyakit pada nenas. Acetobacter sp. Merupakan salah satu bakteri
yang mampu mensekresi selulose dalam medium pertumbuhannya. Kode genetika
yang menyandi pembentukan cellulose syntase, enzim yang dibutuhkan dalam
sintesis selulose adalah gen acsAB, di samping gen acsC dan a.csD. Enzim tersebut
akan mengkatalisis pembuatan selulosa dari glukose 6-fosfat dengan ikatan 1,4 b
glikosidik sehingga sulit dihidrolisis kecuali dengan enzim selulase (Budiyanto,
2004).

22
BAB III

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh berdasarkan makalah ini adalah sebagai berikut:

a. Mikroorganisme, terutama bakteri yang mampu mendegradasi senyawa yang terdapat di dalam hidrokarbon
minyak bumi disebut bakteri hidrokarbonoklastik. Bakteri ini mampu mendegradasi senyawa hidrokarbon
dengan memanfaatkan senyawa tersebut sebagai sumber karbon dan energi yang diperlukan bagi
pertumbuhannya. Mikroorga-nisme ini mampu menguraikan komponen minyak bumi karena
kemampuannya mengoksidasi hidrokarbon dan menjadikan hidrokarbon sebagai donor elektronnya.
Mikroorganisme ini berpartisipasi dalam pembersihan tumpahan minyak dengan mengoksidasi minyak bumi
menjadi gas karbon dioksida (CO2), bakteri pendegradasi minyak bumi akan menghasilkan bioproduk
seperti asam lemak, gas, surfaktan, dan biopolimer yang dapat meningkatkan porositas dan permeabilitas
batuan reservoir formasi klastik dan karbonat apabila bakteri ini menguraikan minyak bumi.
b. Berikut adalah reaksi degradasi senyawa hidrokarbon fraksi aromatik oleh bakteri yang diawali dengan
pembentukan Pro-to-ca-techua-te atau catechol atau senyawa yang secara struktur berhubung-an dengan
senyawa ini. Kedua senyawa ini selanjutnya didegradasi menjadi senyawa yang dapat masuk ke dalam siklus
Krebs (siklus asam sitrat), yaitu suksinat, asetil KoA, dan piruvat.
c. Bakteri hidrokarbonoklastik diantaranya adalah Pseudomonas, Arthrobacter, Alcaligenes, Brevibacterium,
Brevibacillus, dan Bacillus. Bakteri-bakteri tersebut banyak tersebar di alam, termasuk dalam perairan atau
sedimen yang tercemar oleh minyak bumi atau hidrokarbon. Kita hanya perlu mengisolasi bakteri
hidrokarbonoklastik tersebut dari alam dan mengkulturnya, selanjutnya kita bisa menggunakannya sebagai
pengolah limbah minyak bumi yang efektif dan efisien, serta ramah lingkungan.
d. Bioremediasi dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu bioaugmentasi dan biostimulasi. Bioaugmentasi
adalah teknik menebarkan mikroba ketika terjadi pencemaran minyak. Sedangkan teknik biostimulasi
menggunakan “pupuk” mineral untuk menumbuhkan mikroba di lingkungan yang tercemar. Sehingga
mikroba yang tumbuh itu siap menguraikan minyak menjadi senyawa yang lebih ramah lingkungan. Dan itu
yang paling banyak direkomendasikan, meskipun tidak tertutup kemungkinan menggunakan teknik
bioaugmentasi.

23
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2008e. Oil Biodegradation-Bacterial Alteration of Petroleum. OilTracer : Servis:Exploration: Oil


Biodegradation Bacterial Alteration of Petroleum. http://www.oiltracers.com/oilhiodegradation.html.
Diakses tanggal 14 Maret 2018.

Bamum, S. R.t2005. Biotechnology An Introcuction. Edition 2. Miami University. ISBN 0-534- 49296-7. USA. p. :
323.

Bence, K.A. Kvenvolden and M.C. Kennicutt, 1996. Organic Geochemestry Applied to Environmental after the
Axxon Valder Oil Spill - areview : Organic Geochemistry, 24: 7- 42.

Brim, H., Mc Farlan SC, Fredrickson JK, Minton KW, Zhai M, Wackeit LP and Daly MJ. 2000.

Engineering Deinococcus Radiodurans for Metal Remediation in Radioactive Mixed Waste Environments, Nature
Biotechnology. I8 (l): 85-90.

24