Anda di halaman 1dari 30

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 SIKNAS
A. Pengertian
Sistem Informasi Kesehatan Nasional ( SIKNAS ) adalah sistem informasi
yang berhubungan dengan sistem-sistem informasi lain baik secara nasional
maupun internasional dalam rangka kerjasama yang saling mneguntungkan.
SIKNAS bukanlah suatu sistem yang berdiri sendiri, melainkan merupakan
bagian dari sistem kesehatan. Oleh karena itu, SIK di tingkat pusat
merupakan bagian dari sistem kesehatan nasional, di tingkat provinsi
merupakan bagian dari sistem kesehatan provinsi, dan di tingkat kabupaten
atau kota merupakan bagian dari sistem kesehatan kabupaten atau kota.
SIKNAS di bagun dari himpunan atau jaringan sistem-sistem informasi
kesehtan provinsi dan sistem informasi kesehatan provinsi di bangun dari
himpunan atau jarngan sistem-sistem informasi kesehatan kabupaten atau
kota.
Menurut WHO, sistem informasi kesehatan merupakan salah satu dari 6
“building block” atau komponen utama dalam sistem kesehatan di suatu
negara. Keenam komponen ( building block ) sistem kesehatan tersebut
adalah:
1. Service delivery ( pelaksanaan pelayanan kesehatan )
2. Medical product, vaccine, and technologies ( produk medis, vaksin,dan
teknologi kesehatan ).
3. Health worksforce ( tenaga medis ).
4. Health system finsncing ( sistem pembiayaan kesehatan ).
5. Health information system ( sistem informasi kesehatan ).
6. Leadership and governance ( kepemimpinan dan pemerintah ).
Adapun Peraturan perundang-undangan yang menyebutkan sistem
informasi kesehatan adalah:
1. Kepmenkes Nomor 004/Menkes/SK/I/2003 tentang kebijakan dan strategi
desentralisasi bidang kesehatan. Desentralisasi pelayanan publik
merupakan salah satu langkah strategis yang cukup populer dianut oleh
negara-negara di Eropa Timur dalam rangka mendukung terciptanya good
governance. Salah satu motivasi utama diterapkan kebijaksanaan ini
adalah bahwa pemerintahan dengan sistem perencanaan yang sentralistik
seperti yang telah dianut sebelumnya terbukti tidak mampu mendorong
terciptanya suasana yang kondusif bagi partisipasi aktif masyarakat dalam
melakukan pembangunan. Tumbuhnya kesadaran akan berbagai
kelemahan dan hambatan yang dihadapi dalam kaitannya dengan struktur
pemerintahan yang sentralistik telah mendorong dipromosikannya
pelaksanaan strategi desentralisasi.
2. Kepmenkes Nomor 932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang petunjuk
pelaksanaan pengembangan sistem laporan informasi kesehatan
kabupaten/kota. Salah satu yang menyebabkan kurang berhasilnya Sistem
Informasi Kesehatan dalam mendukung upaya-upaya kesehatan adalah
karena SIK tersebut dibangun secara terlepas dari sistem kesehatan.SIK
dikembangkan terutama untuk mendukung manajemen kesehatan.
Pendekatan sentralistis di waktu lampau juga menyebabkan tidak
berkembangnya manajemen kesehatan di unit-unit kesehatan di daerah

B. Konsep – konsep Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan


Sistem informasi kesehatan harus dibangun untuk mengatasi kekurangan
maupun ketidakkompakan antar badan kesehatan.Dalam melakukan
pengembangan sistem informasi secara umum, ada beberapa konsep dasar
yang harus dipahami oleh para pengembang atau pembuat rancang bangun
sistem informasi (designer). Konsep-konsep tersebut antara lain:
1. Sistem informasi tidak identik dengan sistem komputerisasi.
Pada dasarnya sistem informasi tidak bergantung kepada penggunaan
teknologi komputer. Sistem informasi yang memanfaatkan teknologi
komputer dalam implementasinya disebut sebagai Sistem Informasi
Berbasis Komputer ( Computer Based Information System ). Pada
pembahasan selanjutnya, yang dimaksudkan dengan sistem informasi
adalah sistem informasi yang berbasis komputer. Isu penting yang
mendorong pemanfaatan teknologi komputer atau teknologi informasi
dalam sistem informasi suatu organisasi adalah :
a. Pengambilan keputusan yang tidak dilandasi dengan informasi.
b. Informasi yang tersedia, tidak relevan.
c. Informasi yang ada, tidak dimanfaatkan oleh manajemen.
d. Informasi yang ada, tidak tepat waktu.
e. Terlalu banyak informasi.
f. Informasi yang tersedia, tidak akurat.
g. Adanya duplikasi data (data redundancy).
h. Adanya data yang cara pemanfaatannya tidak fleksibel.
2. Sistem informasi organisasi adalah suatu sistem yang dinamis.
Dinamika sistem informasi dalam suatu organisasi sangat ditentukan oleh
dinamika perkembangan organisasi tersebut.Oleh karena itu perludisadari
bahwa pengembangan sistem informasi tidak pernah berhenti.

C. Alur Sistem Informasi Kesehatan Nasional ( SIKNAS )

Gambar 1. Model Sistem Informasi Kesehatan Nasional


Terdapat 7 komponen yang saling terhubung dan saling terkait dengan
adanya jaringan SIKNAS, yaitu
1. Sumber data manual
2. Sumber data komputerisasi
3. Sistem informasi dinas kesehatan
4. Sistem informasi pemangku kepentingan
5. Bank data kesehatan nasional
6. Pengguna data oleh Kemetrian Kesehatan
7. Pengguna data

D. Jaringan Sistem Informasi Kesehatan Nasional ( SIKNAS )


Jaringan SIKNAS adalah sebuah koneksi/jaringan virtual sistem informasi
kesehatan elektronik yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan hanya
bisa diakses bila telah dihubungkan. Jaringan SIKNAS merupakan
infrastruktur jaringan komunikasi data terintegrasi dengan menggunakan Wide
Area Network (WAN), jaringan telekomunikasi mencakup area yang luas serta
digunakan untuk mengirim data jarak jauh antara Local Area Network (LAN)
yang berbeda, dan arsitektur jaringan lokal komputer lainnya. Pengembangan
jaringan komputer (SIKNAS) online ditetapkan melalui Keputusan Mentri
Kesehatan (KEPMENKES) No. 837 Tahun 2007.

E. Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional ( SIKNAS )


Pengembangan sistem informasi kesehatan nasional (SIKNAS) merupakan
pengembangan sistem informasi kesehatan yang menyeluruh dan terintegrasi
di setiap tingkat administrasi kesehatan, yang akan menghasilkan
data/informasi yang akurat yang dapat menunjang Indonesia Sehat.
Pengembangan sistem informasi kesehatan tersebut harus sejalan dengan
kebijakan desentralisasi sebagaimana diatur dalam UU nomor 22 tahun 1999,
yang antara lain kewenangannya dalam sistem informasi kesehatan adalah
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan penyelenggaraan sistem informasi
kesehatan kabupaten/kota
2. Pemerintah Propinsi melakukan bimbingan dan pengendalian, dan
penyelenggaraan sistem informasi kesehatan propinsi
3. Pemerintah Pusat membuat kebijakan nasional, bimbingan pengendalian,
dan penyelenggraan sistem informasi kesehatan nasional.
SIKNAS bukanlah suatu sistem yang berdiri sendiri, melainkan
merupakan bagian dari Sistem Kesehatan. Oleh karena itu, Sistem Informasi
Kesehatan di tingkat Pusat merupakan bagian dari Sistem Kesehatan Nasional,
di tingkat Provinsi merupakan bagian dari Sistem Kesehatan Provinsi, dan di
tingkat Kabupaten/Kota merupakan bagian dari Sistem Kesehatan
Kabupaten/Kota. SIKNAS dibangun dari himpunan atau jaringan Sistem-
sistem Informasi Kesehatan Provinsi dan Sistem Informasi Kesehatan Provinsi
dibangun dari himpunan atau jaringan Sistem-sistem Informasi Kesehatan
Kabupaten/Kota. Di setiap tingkat, Sistem Informasi Kesehatan juga
merupakan jaringan yang memiliki Pusat Jaringan dan Anggota-anggota
Jaringan.
Untuk mewujudkan Sistem Informasi Kesehatan yang diharapkan, sampai
saat ini masih dijumpai sejumlah permasalahan yang bersifat klasik antara
lain:
1. Sistem Informasi Kesehatan masih terfragmentasi.
2. Sebagian besar daerah belum memiliki kemampuan memadai
3. Pemanfaatan data dan informasi oleh manajemen belum optimal
4. Pemanfaatan data dan informasi kesehatan oleh masyarakat kurang
berkembang.
5. Pemanfaatan teknologi telematika belum optimal
6. Dana untuk pengembangan Sistem Informasi Kesehatan terbatas
7. Kurangnya tenaga purna waktu untuk Sistem Informasi Kesehatan.
Indonesia Sehat akan tercapai dengan baik apabila didukung oleh
tersedianya data dan informasi yang akurat dan disajikan secara cepat dan
tepat waktu. Atau dengan kata lain, pencapaian Indonesia Sehat memerlukan
dukungan informasi yang dapat diandalkan (reliable). Atas dasar
pertimbangan tersebut, maka Visi Sistem Informasi Kesehatan Nasional
(SIKNAS) adalah INFORMASI KESEHATAN ANDAL 2010 (Reliable
Health Information 2010).
Untuk dapat mewujudkan Visi tersebut, maka Misi dari pengembangan
Sistem Informasi Kesehatan Nasional adalah:
1. Mengembangkan pengelolaan data yang meliputi pengumpulan,
penyimpanan, pengolahan, dan analisis data.
2. Mengembangkan pengemasan data dan informasi dalam bentuk
BANKDATA, Profil Kesehatan, dan kemasan-kemasan informasi khusus.
3. Mengembangkan jaringan kerjasama pengelolaan data dan informasi
kesehatan.
4. Mengembangkan pendayagunaan data dan informasi kesehatan.
Di jajaran kesehatan terdapat berbagai macam sub sistem informasi yang
selama ini belum terintegrasi dengan baik dalam suatu SIKNAS. Oleh karena
itu, maka strategi pertama yang perlu dilakukan dalam rangka pengembangan
SIKNAS adalah pengintegrasian sistem-sistem informasi tersebut. Pengertian
integrasi hendaknya dicermati oleh sebab di dalamnya tidak terkandung
maksud mematikan/menyatukan semua sistem informasi yang ada. Yang
disatukan hanyalah sistem-sistem informasi yang lebih efisien bila digabung.
Terhadap sistem-sistem informasi lainnya, pengintegrasian lebih berupa
pengembangan (1) pembagian tugas, tanggung jawab dan otoritas-otoritas
serta (2) mekanisme saling-hubung. Dengan integrasi ini diharapkan semua
sistem informasi yang ada akan bekerja secara terpadu dan sinergis
membentuk suatu SIKNAS. Pembagian tugas dan tanggung jawab akan
memungkinkan data yang dikumpulkan memiliki kualitas dan validitas yang
baik. Otoritas akan menyebabkan tidak adanya duplikasi dalam pengumpulan
data, sehingga tidak akan terdapat informasi yang berbeda-beda mengenai
suatu hal. (Sumber: SIKNAS dan BANK DATA disajikan SEKJEN di
Bidakara)
F. Tantangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional ( SIKNAS )
Pelaksanaan SIKNAS di era desentralisasi bukan menjadi lebih baik tetapi
malah berantakan. Hal ini dikarenakan belum adanya infrastruktur yang
memadai di daerah dan juga pencatatan dan pelaporan yang ada ( produk
sentralisasi ) banyak overlaps sehingga dirasaka sebagai beban oleh daerah.

G. Masalah Sistem Informasi Kesehatan Nasional ( SIKNAS )


Melihat Sistem Informasi Kesehatan yang ada di Indonesia, maka kita bisa
menilai bahwa penerapannya masih cukup kurang. Khususnya untuk
Surveilans yang berfungsi untuk menggambarkan segala situasi yang ada
khususnya perkembangan penyakit sehingga berpengaruh terhadap derajat
kesehatan setiap individu di dalam populasi yang ada. Perkembangan dan
masalah sistem informasi kesehatan antara lain :
1. Upaya kesehatan
Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan.
Namun pada daerah terpencil, tertinggal, perbatasan, serta pulau – pulau
kecil terdepan dan terluar masih rendah.
2. Pembiayaan Kesehatan
Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun,
namun psersentase terhadap seluruh APBN belum meningkat.
3. Sumber Daya Manusia Kesehatan
Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia ( SDM ) Kesehatan
belum memadai. Baik jumlah, jenis, maupun kualitas tenaga kesehatan
yang dibutuhkan. Selain itu, distribusi tenaga kesehatan masih belum
merata. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah.
4. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Makanan
Pasar sediaan farmasi masih di dominasi oleh produksi domestik,
sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. Di
Indonesia terdapat 9.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek
pengobatan, dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai
bahan baku. Penggunaan obat nasional belum dilaksanakan di seluruh
fasilitas pelayanan kesehatan, masih banyak pengobatan yang dilakukan
tidak sesuai dengan formularium.
5. Manajemen dan Informasi Kesehatan
Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum
sinkron. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan
kebijakan desentralisasi. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan
tidak tersedia tepat waktu. Sistem Informasi Kesehatan Nasional
(SIKNAS) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/ kota
namun belum dimanfaatkan. Hasil penelitian kesehatan belum banyak
dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan
program. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh.

H. Kendala Sistem Informasi Kesehatan Nasional


Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di Indonesia belum berjalan secara
optimal. SIK sebagai bagian fungsional dari Sistem kesehatan yang
komprehensif belum mampu berperan dalam memberikan informasi yang
diperlukan dalam proses pengambilan keputusan di berbagai tingkat Sistem
Kesehatan, mulai dari Puskesmas di Tingkat Kecamatan sampai dengan
Kementrian Kesehatan di Tingkat Pusat. Hal tersebut disebabkan karena
Informasi kesehatan saat ini masih terfragmentasi, belum dapat diakses
dengan cepat, tepat, setiap saat dan belum teruji keakuratan dan validitasnya.
Padahal informasi tersebut sangat penting dan diperlukan keberadaannya
dalam menentukan arah kebijakan dan strategi perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan kesehatan nasional.
Pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan masih belum didukung
oleh data yang kuat, Pengelolaan sistem informasi yang baik dapat
mendukung tersedianya data dan informasi kesehatan yang valid yang dapat
mendukung dalam penentuan kebijakan pembangunan kesehatan di berbagai
bidang seperti yang tercantum dibawah ini :
1. Peningkatan jumlah, jaringan dan kualitas sarana dan prasarana pelayanan
kesehatan dasar dan rujukan, terutama pada daerah dengan aksesibilitas
relatif rendah.
2. Perbaikan dan penanggulangan gizi masyarakat dengan fokus utama pada
ibu hamil dan anak hingga usia 2 tahun.
3. Pengendalian penyakit menular, terutama TB, malaria, HIV/AIDS, DBD
dan diare serta penyakit zoonotik, seperti kusta, frambusia, filariasis,
schistosomiasis.
4. Pembiayaan dan efisiensi penggunaan anggaran kesehatan, serta
pengembangan jaminan pelayanan kesehatan.
5. Peningkatan jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan untuk
pemenuhan kebutuhan nasional serta antisipasi persaingan global yang
didukung oleh sistem perencanaan dan pengembangan SDM kesehatan
secara sistematis dan didukung oleh peraturan perundangan.
6. Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, mutu, dan penggunaan obat.
7. Manajemen kesehatan dan pengembangan di bidang hukum dan
administrasi kesehatan, penelitian dan pengembangan kesehatan,
penapisan teknologi kesehatan dan pengembangan sistem informasi
kesehatan.
Peningkatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Pengembangan sistem informasi kesehatan daerah merupakan tanggung jawab
pemerintah daerah. Namun dikarenakan kebijakan dan standar pelayanan
bidang kesehatan masing-masing pemerintah daerah berbeda-beda, maka
sistem informasi kesehatan yang dibangun pun berbeda pula. Perbedaan
tersebut menimbulkan berbagai permasalahan dalam pengelolaan Sistem
Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) secara umum, diantaranya :
1. Akurasi data tidak terjamin
2. Kontrol dan verifikasi data tidak terlaksana dengan baik.
3. Ketidakseragaman data dan informasi yang diperoleh.
4. Adanya keterlambatan dalam proses pengiriman laporan kegiatan
puskesmas/rumah sakit/pelaksana kesehatan lainnya, baik itu ke Dinas
Kesehatan maupun ke Kementrian Kesehatan sehingga informasi yang
diterima sudah tidak up to date lagi.
5. Proses integrasi data dari berbagai puskesmas/rumah sakit/pelaksana
kesehatan lainnya sulit dilakukan karena perbedaaan tipe data dan format
pelaporan.
6. Informasi yang diperoleh tidak lengkap dan tidak sesuai dengan kebutuhan
manajemen di tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi maupun di tingkat
Kementrian Kesehatan.
7. file data tersimpan secara terpisah,
8. proses data dilakukan secara manual dan komputer sehingga menyebabkan
tidak mudah dalam akses, informasi yang dihasilkan lambat dan tidak
lengkap.
Selain itu Puskesmas sebagai pelaksana kesehatan terendah, mengalami
kesulitan dalam melakukan pelaporan, dengan banyaknya laporan yang harus
dibuat berdasarkan permintaan dari berbagai program di Kementrian
Kesehatan, dimana data antara satu laporan dari satu program dengan laporan
lain dari program lainnya memiliki dataset yang hampir sama, sedangkan
aplikasi untuk membuat berbagai laporan tersebut berbeda-beda. Sehingga
menimbulkan tumpang tindih dalam pengerjaannya, yang menghabiskan
banyak sumberdaya dan waktu dari petugas puskesmas.
Melihat berbagai kondisi diatas maka dibutuhkan suatu Sistem Informasi
Kesehatan untuk digunakan di daerah (Puskesmas dan Dinas Kesehatan) yang
sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan berbagai pihak, mulai dari tingkat
Puskesmas hingga ke Kementrian Kesehatan dengan standar minimum atau
disebut Sistem Informasi Kesehatan Daerah Generik (SIKDA Generik).
Sistem informasi kesehatan yang mampu menampilkan informasi secara
cepat, akurat dan terkini sesuai dengan kebutuhan berbagai pihak dalam
pengambilan keputusan manajemen.

I. Hambatan – hambatan dalam Penerapan Sistem Informasi Kesehatan


Nasional ( SIKNAS )
Melihat Sistem Informasi Kesehatan yang ada di Indonesia, maka kita bisa
menilai bahwa penerapannya masih cukup kurang. Khususnya untuk
Surveilans yang berfungsi untuk menggambarkan segala situasi yang ada
khususnya perkembangan penyakit sehingga berpengaruh terhadap derajat
kesehatan setiap individu di dalam populasi yang ada.
Sebagai contoh misal gambaran Sistem Informasi Pada Dinas Kesehatan
Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan. Timbul berbagai permasalahan
tetrkait penerapan Sistem Informasi kesehatan, disana digambarkan bahwa
masih ditemukannya beberapa puskesmas yang tidak sesuai dalam proses
pencatatan dan pendataan. Terbukti dengan masih adanya 5 Puskesmas yang
tidak menggunakan komputer dari 19 Puskesmas yang ada.
Tidak hanya masalah tersebut saja, yang menjadi penghambat atas
penerapan SIK (Sistem Informasi Kesehatan) di Dinas Kesehatan Kabupaten
Kutai Timur, Propinsi Kalimantan. Melainkan masih banyak sekali masalah
yang timbul, yaitu :
1. Untuk mengakses data sulit karena terpisah antara program.
2. Adanya perbedaan data antar bagian dengan data yang sama, misalnya
jumlah bayi.
3. Sulitnya menyatukan data karena format laporan yang berbeda-beda.
4. Adanya pengambilan data yang sama berulang-ulang dengan format yang
berbeda-beda dari masing-masing bagian.
5. Waktu untuk mengumpulkan data lebih lama, sehingga pengolahan dan
analisis data sering terlambat.
6. Pimpinan sulit mengambil keputusan dengan cepat dan akurat karena data
berbeda dan keterlambatan laporan.
Jadi, apabila melihat dari penjabaran di atas maka bisa disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang sering menghambat SIK (Sistem Informasi Kesehatan)
yang bersifat daerah (SIKDA) maupun nasional (SIKNAS) berdasarkan
gambaran di Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan
adalah faktor geografis (tempat dan lokasi), human resources medical atau
tenaga kesehatan, infrastruktur pendukung (komputer, software, dan lain-lain),
dan kebijakan mengenai SIKDA (Sistem Informasi Kesehatan Daerah)
maupun SIKNAS (Sistem Informasi Kesehatan Nasional).
2.2 SIKDA
A. Pengertian

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) adalah mencakup subsistem


informasi yang dikembangkan di unit pelayanan kesehatan (Puskesmas, RS,
Poliklinik, Praktek Swasta, Apotek, Laboratorium), sistem informasi untuk
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan sistem informasi untuk Dinas
Kesehatan Propinsi.

Aplikasi SIKDA Generik adalah aplikasi sistem informasi kesehatan daerah


yang berlaku secara nasional yang menghubungkan secara online dan
terintegrasi seluruh puskesmas, rumah sakit, dan sarana kesehatan lainnya,
baik itu milik pemerintah maupun swasta, dinas kesehatan kabupaten/kota,
dinas kesehatan provinsi, dan Kementerian Kesehatan.

Aplikasi SIKDA Generik dikembangkan dalam rangka meningkatkan


pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan serta meningkatkan
ketersediaan dan kualitas data dan informasi manajemen kesehatan melalui
pemanfaatan teknologi informasi komunikasi. Pemanfaatan teknologi
informasi komunikasi di lingkungan Kementerian Kesehatan sudah dimulai
sejak dekade delapan puluhan.

Pada masa itu Departemen Kesehatan RI melalui Pusat Data Kesehatan


(PUSDAKES) memanfaatkan teknologi informasi dengan system Electronic
Data Processing (EDP) namun hal ini baru diterapkan di tingkat pusat.
Komitmen bersama antar pemimpin birokrasi bidang kesehatan untuk
mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam pengambilan
keputusan dan kebijakan, baik di kabupaten/kota, provinsi, dan pusat
menemui berbagai kendala dan hambatan termasuk kurangnya dana dan tidak
adanya payung hukum (PP) membuat SIK kurang optimal dan belum berdaya
guna.
Aplikasi “SIKDA Generik” merupakan penerapan standarisasi Sistem
Informasi Kesehatan, sehingga diharapkan dapat tersedia data dan informasi
kesehatan yang cepat, tepat dan akurat dengan mendayagunakan teknologi
informasi dan komunikasi dalam pengambilan keputusan/kebijakan dalam
bidang kesehatan. Sistem kesehatan di Indonesia dapat dikelompokkan dalam
beberapa tingkat sebagai berikut:

1. Tingkat Kabupaten/Kota Terdapat puskesmas dan pelayanan kesehatan


dasar lainnya, dinas kesehatan kabupaten/kota, instalasi farmasi
kabupaten/ kota, rumah sakit kabupaten/kota, serta pelayanan kesehatan
rujukan primer lainnya.
2. Tingkat Provinsi Terdapat dinas kesehatan provinsi, rumah sakit provinsi,
dan pelayanan kesehatan rujukan sekunder lainnya.
3. Tingkat Pusat Terdapat Departemen Kesehatan, Rumah Sakit Pusat, dan
Pelayanan kesehatan rujukan tersier lainnya.

B. Konsep SIKDA
Generik Ketersediaan informasi kesehatan sangat diperlukan dalam
penyelenggaraan upaya kesehatan yang efektif dan efisien.Berdasarkan UU
No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dijelaskan mengenai tanggung jawab
pemerintah dalam ketersediaan akses terhadap informasi, edukasi & fasilitas
pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya.

Informasi kesehatan ini dapat diperoleh melalui Sistem Informasi


Kesehatan atau SIK. Dengan berlakunya sistem otonomi daerah, maka
pengelolaan SIK merupakan tanggung jawab dan wewenang masing-masing
pemerintah daerah:
1. Pemerintah pusat/Kementerian Kesehatan, bertanggung jawab dalam
pengembangan system informasi kesehatan skala nasional dan fasilitasi
pengembangan sistem informasi kesehatan daerah.
2. Pemerintah daerah provinsi/dinas kesehatan provinsi, bertanggung
jawab dalam pengelolaan sistem informasi kesehatan skala provinsi.
3. Pemerintah daerah kabupaten/kota / dinas kesehatan kab/kota,
bertanggung jawab dalam pengelolaan sistem informasi kesehatan skala
kabupaten/kota.

Dampak dari otonomi daerah tersebut, setiap pemerintah daerah


melakukan pengelolaan dan pengembangan SIK berbasis teknologi informasi
yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sehingga
saat ini terdapat berbagai jenis SIK yang berbeda-beda di tiap daerah, baik
itu berbeda dari sisi sistem operasi, bahasa pemrograman maupun data
basenya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa:

1. SIK di Indonesia belum terintegrasi satu dengan lainnya. Informasi


kesehatan masih terfragmentasi dan belum mampu mendukung
penetapan kebijakan serta kebutuhan pemangku kebijakan.
2. Menindaklanjuti permasalahan tersebut maka Pemerintah wajib
mengembangkan sistem informasi kesehatan yang dapat
mengintegrasikan dan memfasilitasi proses pengumpulan dan pengolahan
data, serta komunikasi data antar pelaksana pelayanan kesehatan mulai
dari fasilitas pelayanan kesehatan sampai dengan tingkat pusat, sehingga
dapat meningkatkan kualitas informasi yang diperoleh. Pada saat
bersamaan juga memperbaiki proses pengolahan informasi yang terjadi
di daerah, yang pada akhirnya dapat mendukung pemerintah dalam
penguatan sistem kesehatan di Indonesia.

SIKDA Generik merupakan Sistem Informasi Kesehatan Daerah yang


dirancang untuk dapat memenuhi berbagai persyaratan minimum yang
dibutuhkan dalam pengelolaan informasi kesehatan daerah, dari proses
pengumpulan, pencatatan, pengolahan, sampai dengan diseminasi
informasi kesehatan. SIKDA Generik dirancang untuk menjadi
standar bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan informasi kesehatan di
wilayahnya.
SIKDA Generik hadir melalui proses inventarisasi berbagai SIKDA
elektronik yang saat ini berjalan dan digunakan di daerah, memilih
yang terbaik, kemudian dianalisis sehingga dihasilkan satu set deskripsi
kebutuhan SIKDA Generik, yang mewakili kebutuhan seluruh komponen
dalam sistem kesehatan Indonesia dan disesuaikan dengan standar yang
diatur dalam Pedoman Nasional SIK.

Langkah selanjutnya dari pengembangan SIKDA Generik ini adalah


mendistribusikan aplikasi SIKDA Generik kepada pemerintah daerah yang
belum memiliki/menggunakan.Untuk pemerintah daerah yang telah
memiliki/menggunakan SIKDA elektronik dapat tetap menggunakannya
dengan beberapa penyesuaian terhadap Pedoman Nasional SIK atau
beralih ke SIKDA Generik.

C. Ruang Lingkup Ruang lingkup dan interaksi dari berbagai komponen dalam
SIKDA Generik dapat dilihat dalam bagan berikut:

Gambar 9.1: Ruang Lingkup SIKDA Generik


Gambar 9.2: Model SIKDA Generik

Keterangan:
1. Fasilitas/institusi kesehatan yang masih manual/paper based, data
dientri di computer entry station Generik yang ada di kantor dinas
kesehatan kab/kota. Data yang dientri bisa berbentuk data individual
maupun agregat. Khusus untuk data puskesmas, data dientri melalui
Sub Sistem SIM Puskesmas pada SIKDA Generik sehingga data yang
diinput adalah data pasien secara individual.
2. Puskesmas yang telah memiliki perangkat komputer tetapi belum
menggunakan aplikasi SIMPUS dapat menggunakan aplikasi SIKDA
Generik, yang terhubung ke database lokal di puskesmas tersebut atau
langsung terhubung ke database SIKDA Generik di Server SIKDA
Generik yang ditempatkan di Kantor Dinkes kab/Kota melalui jaringan
internet online.
3. Puskesmas, rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya yang sudah menggunakan komputer ataupun aplikasi sistem
informasi manajemen lainnya, dapat melakukan
eksport/sinkronisasi/migrasi file data base secara online melalui internet
melalui Sub Sistem Komunikasi Data pada SIKDA Generik. Setiap
pemangku kepentingan dapat mengakses informasi kesehatan pada
SIKDA Generik melalui Sub Sistem Executive Information
Dashboard, yang berisi indikator-indikator kesehatan kab/kota yang
merupakan rangkuman dari data-data puskesmas, rumah sakit, dan
instalasi farmasi kab/kota. Laporan/informasi disajikan secara ringkas
dalam bentuk grafik, tabel, maupun statistik, dengan berbagai kriteria
yang dapat ditentukan sesuai keinginan pengguna.

Komunikasi data
Sesuai dengan tujuan dikembangkannya SIKDA Generik, yaitu untuk
membangun suatu database kesehatan Indonesia yang komprehensif,
SIKDA Generik harus mampu menghimpun, mengolah dan
mendistribusikan semua data kesehatan dari berbagai pelaksana kesehatan
di Indonesia, baik pelaksana kesehatan yang telah memiliki sistem
informasi elektronik maupun masih paper based. Dengan berbagai sistem
pengelolaan informasi yang berbeda-beda, maka SIKDA Generik dituntut
untuk dapat berkomunikasi secara interaktif, memiliki kemampuan
interoperabilitas yang tinggi, sehingga dapat berkomunikasi dan
melakukan pertukaran data kesehatan dengan sistem lainnya yang sudah
berjalan.

Kemampuan interoperabilitas adalah kemampuan sistem untuk saling


tukar menukar data atau informasi dan saling dapat mempergunakan data
atau informasi tersebut. Interoperabilitas bukan berarti penentuan atau
penyamaan penggunaan platform perangkat keras, atau perangkat lunak
semisal operating system tertentu, bukan pula berarti penentuan atau
penyeragaman database. Namun berupa penyamaan format pertukaran
data yang digunakan, misalnya dengan menggunakan format data dalam
bentuk data base SQL, Access, Excell, maupun dalam format XML.

Format Data
Ada beberapa bentuk format standar yang dapat digunakan untuk
melakukan pertukaran data, yang umum digunakan adalah XML. XML
atau eXtensible Markup Language merupakan format data yang sering
digunakan dalam dunia world wide web. XML terdiri atas sekumpulan tag
yang terdiri dari data. Satu set data dalam XML dimulai dengan tag
pembuka dan diakhiri dengan tag penutup.

XML adalah sebuah format dokumen yang mampu menjelaskan


struktur dan semantik (makna) dari data yang dikandung oleh dokumen
tersebut. Berbeda dengan HTML yang lebih berorientasi pada tampilan
(appearance), XML lebih fokus pada substansi data, sehingga lebih cocok
digunakan sebagai media pertukaran data. Kelebihan XML dibandingkan
format teks biasa adalah struktur data yang ditransfer tidak “hilang”,
demikian juga deskripsi tentang semantik datanya. Dengan karakteristik
demikian XML telah menjadi standar de-facto bagi pertukaran data antar
aplikasi komputer. Spesifikasi format telah distandarkan untuk menjadi
referensi yang sama bagi tiap aplikasi komputer yang memerlukan.

Konten Data
Selain format data, konten data yang dipertukarkan juga harus seragam,
misalnya dalam penulisan kode dan penamaan variabel data dan definisi
operasionalnya, sehingga pada saat proses import dan eksport data, semua
data dapat tersinkronisasi dengan baik dan lengkap serta sesuai dengan
yang diinginkan. Misalnya dalam proses sinkronisasi data individu pasien
puskesmas, mulai dari penomoran rekam medik pasien, kode jenis
kunjungan, nama poliklinik, kode dan penamaan penyakit, kode obat
dan atributnya, sampai dengan jenis tenaga kesehatan yang menangani
pasien tersebut, harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Contoh
variable data dan aturan penomoran/penulisan seperti yang ditunjukan
pada tabel 9.1.
Tabel 9.1: Contoh variable data dan aturan penomoran/penulisan

Desain Sistem
Berdasarkan ruang lingkup Sistem Kesehatan Daerah, maka SIKDA
Generik dirancang mengikuti komponen pelaksana kesehatan yang ada
didalamnya yaitu Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Provinsi.
Sehingga SIKDA Generik terbagi menjadi beberapa subsistem sebagai
berikut:
 Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIM Puskesmas)
 Sistem Informasi Manajemen Dinas Kesehatan (SIM Dinkes)
 Sistem Informasi Eksekutif
 Sistem Komunikasi Data
D. Tanggung jawab Sub Sistem Informasi di Puskesmas
1. mencatat dan mengumpulkan data baik kegiatan dalam gedung maupun
luar gedung
2. mengolah data
3. membuat laporan berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
4. memelihara BANKDATA
5. mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen pasien
dan manajemen unit Puskesmas, serta
6. memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan pihak-
pihak berkepentingan lainnya (stakeholders) di wilayah kerjanya.

E. Manfaat SIKDA elektronik dalam hal adminisntrasi


Manfaat tersebut dapat dirasakan baik oleh masyarakat secara langsung
maupun oleh petugas sebagai penyelenggara kesehatan, karena waktu tunggu
pasien berkurang, alur lebih jelas, dan mengurangi beban administrasi
petugas kesehatan sehingga pelayanan menjadi lebih efektif dan efisien.

Menurut hasil dari jurnal internasional yang dilakukan oleh Maenpaa, dkk
tentang “The outcomes of regional healthcare information systems in health
care: A review of the research literature” menyatakan bahwa RHIS berfokus
pada lima bidang utama: aliran informasi, kolaborasi, perancangan ulang
proses, kegunaan sistem dan budaya organisasi. RHIS (Regional Health
Information System) meningkatkan akses data klinis, informasi tepat waktu,
dan pertukaran data klinis dan peningkatan komunikasi dan koordinasi dalam
suatu wilayah antara profesional tetapi juga ada akses yang tidak memadai
untuk data klinis pasien yang relevan. Ada perbedaan dalam budaya
organisasi, visi dan harapan kepemimpinan dan konsistensi rencana strategis.
Namun demikian, agar SIKDA dapat berfungsi optimal maka harus ada
partisipasi yang luas dari penyedia layanan kesehatan dan pasien.

F. Tim Sikda
1. Penanggung jawab: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
2. Koordinator: Pejabat Eselon III yang bertanggung jawab terhadap data
dan informasi
3. Sekretaris: Pejabat Eselon IV yang bertanggung jawab terhadap data dan
informasi
4. Anggota: Semua pemangku kepentingan di tingkat kabupaten/kota.

G. Bentuk-bentuk kegiatan sistem informasi kesehatan daerah (SIKDA)


1. Kegiatan Sistem Informasi Kesehatan di Tingkat Puskesmas Di unit
pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas, tenaga kesehatan bertugas
melaksanakan manajemen pasien/klien agar dapat dicapai pelayanan
kesehatan kuratif dan preventif yang efektif. Oleh karena itu tugas-tugas
administratif, termasuk pencatatan data, haruslah sedemikian rupa
sehingga tidak sampai mengganggu tugas melayani pasien/klien.
Mengumpulkan data yang dapat dan harus digunakan setempat untuk
menjaga dan meningkatkan pelayanan kesehatan adalah tugas utama dari
pengelola Sistem Informasi Kesehatan di unit itu. Sistem Informasi
Kesehatan (SIK) di Puskesmas mempunyai tanggung jawab untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berupa:
a. Mencatat dan mengumpulkan data baik kegiatan dalam gedung maupun
luar gedung
b. Mengolah data
c. Membuat laporan berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
d. Memelihara arsip/file/ bank data Puskesmas
e. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen
pasien dan manajemen unit Puskesmas
f. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan
pihak-pihak berkepentingan lainnya (stakeholders) di wilayah kerjanya.

2. Kegiatan Sistem Informasi Kesehatan di Tingkat Rumah Sakit


Rumah Sakit memerlukan Sistem Informasi Kesehatan yang tugas
utamanya melayani fungsi-fungsi klinik dan administratif yang secara
langsung dapat meningkatkan mutu pelayanan.Fungsi klinik mencakup
rekam medik, hasil diagnosis, akses kepada kode diagnosis (misalnya
ICD10) dan prosedur standar, catatan untuk informasi esensial tentang
pasien, atau peringatan bila terjadi ketidaksesuaian obat dan
kontraindikasi.

Sedangkan fungsi administratif mencakup arus pasien antara registrasi dan


instalasi-instalasi, akuntansi dan penagihan, serta inventarisasi perbekalan
farmasi.Sistem Informasi Kesehatan di Rumah Sakit memantau kondisi
keuangan Rumah Sakit, mutu pelayanan, jenis dan volume pelayanan,
lama perawatan, angka kematian, dan angka kesakitan. Sistem Informasi
Kesehatan (SIK) di Rumah Sakit mempunyai tanggung jawab untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berupa:
a. Memantau indikator kegiatan-kegiatan penting rumah sakit
(penerimaan pasien, lama rawat, pemakaian tempat tidur, mortalitas,
waktu tunggu, dan lain-lain)
b. Memantau kondisi finansial rumah sakit (cost recovery)
c. Memantau pelaksanaan sistem rujukan
d. Mengolah data
e. Mengirim laporan berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota/
Provinsi/ Pusat
f. Memelihara bank data
g. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen
pasien dan manajemen unit rumah sakit
h. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan
pihak-pihak berkepentingan lainnya (stakeholders) di wilayah
kerjanya.

3. Kegiatan Sistem Informasi Kesehatan di Tingkat Dinas Kesehatan


Kabupaten/ Kota. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota merupakan Pusat
Jaringan dari Sistem Informasi Kesehatan Kabupaten/Kota. Anggota-
anggota jaringannya adalah:
a. Puskesmas,
b. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten/Kota,
c. Institusi-institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan,
d. Gudang Perbekalan Farmasi,
e. Unit-unit Lintas Sektor terkait (BKKBN Kabupaten/Kota, Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten/Kota, Kantor Departemen
Agama Kabupaten/ Kota, Dinas Sosial, dan lain-lain),
f. Rumah Sakit Swasta,
g. Sarana Kesehatan Swasta lain,
h. Organisasi Profesi Kesehatan,
i. Lembaga Swadaya Masyarakat, dan
j. Lain-lain.

Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota


mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
berupa:
a. Ada Mengolah data dari unit-unit pelayanan kesehatan dan
sumbersumber lain Menyelenggarakan survei/penelitian bilamana
diperlukan
b. Membuat Profil Kesehatan Kabupaten/Kota untuk memantau dan
mengevaluasi pencapaian Kabupaten/Kota Sehat
c. Mengirim laporan berkala/Profil Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas
Kesehatan Provinsi setempat dan Pemerintah Pusat.
d. Memelihara bank data
e. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen
klien, manajemen unit, dan manajemen Sistem Kesehatan
Kabupaten/Kota
f. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan
pihak-pihak berkepentingan lainnya (stakeholders) di wilayah
kerjanya
g. Melakukan bimbingan dan supervisi kegiatan informasi kesehatan di
unit-unit kesehatan.
4. Kegiatan Sistem Informasi Kesehatan di Tingkat Dinas Kesehatan
Propinsi. Dinas Kesehatan Provinsi bertugas mengkoordinasikan,
mengawasi dan membimbing Dinas-dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Demikian juga dalam hal pengembangan Sistem Informasi Kesehatan.
Informasi yang dihasilkan juga harus dapat memenuhi kebutuhan untuk
penyelenggaraan manajemen Sistem Kesehatan Provinsi, yaitu kebutuhan
dari Kepala Dinas Kesehatan, para Kepala Subdinas Kesehatan, dan
Forum Kerjasama Lintas Sektor.

Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di Dinas Kesehatan Propinsi


mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
berupa:
a. Mengolah data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, unit-unit
pelayanan kesehatan milik Daerah Provinsi, dan sumber-sumber lain
b. Menyelenggarakan survei/penelitian bilamana diperlukan
c. Membuat Profil Kesehatan Provinsi untuk memantau dan mengevaluasi
pencapaian Provinsi Sehat
d. Mengirim laporan berkala/Profil Kesehatan Provinsi ke Pemerintah
Pusat
e. Memelihara bank data
f. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen unit
dan manajemen Sistem Kesehatan Provinsi
g. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan
pihak-pihak berkepentingan lainnya (stakeholders) di wilayah kerjanya.
h. Melakukan bimbingan dan supervisi kegiatan informasi kesehatan di
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan unit-unit pelayanan kesehatan
milik Daerah Provinsi.

H. Tantangan dalam penerapan SIKDA Generik


Di Indonesia terdapat 138 kabupaten/kota (kondisi tahun 2009/2010) yang
termasuk daerah bermasalah kesehatan (DBK) dan/atau daerah terpencil,
perbatasan dan kepulauan (DTPK) yang pada umumnya merupakan daerah
yang masih kurang dalam ketersediaan infrastrukur dan SDM. Hal ini
menjadi suatu tantangan dan perlu persiapan dan perencanaan khusus dalam
penerapan SIKDA Generik di daerah-daerah tersebut.

SIKDA seharusnya bertujuan untuk mendukung SIKNAS, namun dengan


terjadinya desentralisasi sektor kesehatan ternyata mempunyai dampak
negatif. Terjadi kemunduran dalam pelaksanaan sistem informasi kesehatan
secara nasional, seperti menurunnya kelengkapan dan ketepatan waktu
penyampaian data SP2TP/SIMPUS, SP2RS dan profil kesehatan.Dengan
desentralisasi, pengembangan sistem informasi kesehatan daerah merupakan
tanggung jawab pemerintah daerah.

Namun belum adanya kebijakan tentang standar pelayanan bidang


kesehatan (termasuk mengenai data dan informasi) mengakibatkan persepsi
masing-masing pemerintah daerah berbeda-beda. Hal ini menyebabkan sistem
informasi kesehatan yang dibangun tidak standar juga. Variabel maupun
format input/output yang berbeda, sistem dan aplikasi yang dibangun tidak
dapat saling berkomunikasi.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Isnawati, dkk tahun 2016 tentang
“Implementasi Aplikasi Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA)
Generik Di UPT. Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar” didapatkan hasil
bahwa bahwa kompetensi dan jumlah SDM masih kurang sehingga
kompetensi SDM perlu ditingkatkan dan jumlah SDM perlu di tambah,
software aplikasi sering mengalami gangguan dan perlu perbaikan atau
update software SIKDA Generik, implementasi aplikasi SIKDA Generik di
Puskesmas Gambut belum memiliki SK penugasan, tidak ada koordinasi
sosialisasi sebelum pengimplementasian aplikasi dan tidak ada pelatihan atau
bimbingan terkait aplikasi menyebabkan pengetahuan SDM terhadap aplikasi
SIKDA Generik kurang.
Kualitas data yang di hasilkan aplikasi SIKDA Generik belum lengkap
namun data yang di hasilkan sudah akurat dan tepat waktu., input dan proses
implementasi aplikasi di Puskesmas Gambut masih kurang menyebabkan
output yang dihasilkan aplikasi juga kurang

Selain di daerah, di lingkungan Kementerian Kesehatan pun belum


tersusun satu sistem informasi yang standar sehingga masing-masing program
membangun sistem informasinya masing-masing dengan sumber data dari
kabupaten/kota/provinsi. Akibat keadaan di atas, data yang dihasilkan dari
masingmasing daerah tidak seragam, ada yang tidak lengkap dan ada data
variabel yang sama dalam sistem informasi satu program kesehatan berbeda
dengan di sistem informasi program kesehatan lainnya. Maka validitas dan
akurasi data diragukan, apalagi jika verifikasi data tidak terlaksana.

Ditambah dengan lambatnya pengiriman data, baik ke Dinas Kesehatan


maupun ke Kementerian Kesehatan, mengakibatkan informasi yang diterima
sudah tidak up to date lagi dan proses pengolahan dan analisis data terhambat.
Pada akhirnya para pengambil keputusan/ pemangku kepentingan mengambil
keputusan dan kebijakan kesehatan tidak berdasarkan data yang akurat.

I. Cara menghadapi hambatan dan tantangan SIKDA


Penerapan SIKDA Generik dan pengembangan SIK secara umum, telah
diupayakan penyediaan sebagian kebutuhan dana dari Global Fund. Persiapan
dan perencanaan tersebut digunakan untuk:
1. Pengadaan hardware, pengiriman dan instalasi (USD 952,531 – 1.10 dana
GF)
2. Sub-contract penerapan di lapangan (USD 2,331,000 –1.09 dana GF)
a. 1 vendor 1 wilayah atau 1 vendor untuk semua
b. Vendor harus mempunyai:
1) 1 tim di setiap kabupaten
2) Training classroom (ruang pelatihan)
3) Rotasi Pendampingan rutin (1 hari kunjungan ke puskesmas setiap
minggu)
3. Manajemen proyek SIKDA (oleh Pusdatin)
a. Vendor Performance
b. Contract Manajemen Perlu dipikirkan pula adanya kabupaten/kota
atau puskesmas yang sudah menerapkan SIK komputerisasi online dan
telah memiliki bank data yang telah terisi data.

Untuk daerah tersebut harus terus diberikan dorongan dan monitoring, serta
disediakan koneksi agar data yang ada dapat masuk ke bank data
nasional.Untuk program kesehatan yang selama ini telah memiliki sistem
informasi yang terpisah-pisah, perlu dilakukan advokasi agar sejalan dengan
penerapan SIKDA Generik, sistem informasi program-program yang terpisah
mulai diakhiri. Dengan demikian akan mengurangi fragmentasi.

Dalam pengembangan aplikasi biasanya menggunakan jasa pihak ketiga


(vendor), Mengingat SIK dikembangkan menuju ke sistem komputerisasi
online, perlu adanya jaminan interoperabilitas dan konektivitas dari aplikasi
yang dikembangkan.

Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan semacam connectathon.


Connectathon adalah kegiatan untuk menguji interoperabilitas dan
konektivitas dari suatu sistem teknologi informasi, mengikuti spesifikasi yang
telah ditentukan oleh IHE (Integrating the Healthcare Enterprise, inisiatif
bersama dari profesional kesehatan dan industry untuk meningkatkan
metode sistem komputer dalam berbagi informasi kesehatan) a joint
initiative of healthcare professionals and industry to improve the way
computer systems in healthcare share information.
DAFTAR PUSTAKA

Barsasella, D. (2012). Sistem Informasi Kesehatan. Jakarta. Mitra Wacana Medika


Departemen Kesehatan RI. (2007). Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem
Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS). Jakarta. Depkes RI.
Departemen Kesehatan RI. (2006). Standar Tenaga Sistem Informasi Kesehatan.
Jakarta. Pusat Data dan Informasi Depkes RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2011). Peta Jalan Standarisasi Data dan Informasi
Kesehatan. Jakarta. Pusat Data dan Informasi Depkes RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2011). Kebijakan Sistem Informasi Kesehatan
Nasional. Jakarta. Pusat Data dan Informasi Depkes RI.
Barsasella, D.2012. Sistem Informasi Kesehatan. Jakarta:Mitra Wacana Medika.

Carroll, P. W. O. 2002. Informatics Competencies for Public Health


Professionals.Public Health. Seattle, Washington.

Departemen Kesehatan RI.2006. Standar Tenaga Sistem Informasi Kesehatan.


Jakarta: Pusat Data dan Informasi Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI.2007. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem


Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS).Jakarta:Depkes RI.

Hebda, T., & Czar, P. 2009. Handbook of Informatics for Nurses & Health Care
Professionals (4th ed., p. 576 pp). Upper Saddle River, N.J: Upper Saddle
River, N.J.

Isnawati, dkk.2016.Implementasi Aplikasi Sistem Informasi Kesehatan Daerah


(SIKDA) Generik Di UPT. Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar. Journal
of Information Systems for Public Health, Vol. 1, No. 1, April 2016
(Online).file:///C:/Users/User-PC/Downloads/jurnal%20SIKDA.pdf diakses
pada 11 Mei 2018.

Kementerian Kesehatan RI.2011. Kebijakan Sistem Informasi Kesehatan


Nasional. Jakarta:Pusat Data dan Informasi Depkes RI.
Kementerian Kesehatan RI.2011. Peta Jalan Standarisasi Data dan Informasi
Kesehatan. Jakarta:Pusat Data dan Informasi Depkes RI.

Kementerian Kesehatan RI.2011.SIKDA Generik.Jakarta:Pusat Data dan


Informasi.

Maenpa,dkk.2009.The outcomes of regional healthcare information systems in


health care: A review of the research literature.International Journal of
Medical InformaticsVolume 78, Issue 11, November 2009, Pages 757-771
(Online). Diakses pada 11 Mei 2018.
Staggers, N., Gassert, C. A., & Skiba, D. J.2000.Health Professionals’ Views of
Informatics Education. Journal of the American Medical Informatics
Association, 7(6), 550-558. doi:10.1136/jamia.2000.0070550