Anda di halaman 1dari 4

E.

TATANAMA HEWAN

Dengan adanya kesepakatan mengenai aturan tertentu, kesalahpahaman komunikasi


dalam penyebutan nama hewan dapat diminimalkan. Untuk itulah maka dibuatlah aturan
yang disebut tatanama hewan (zoological nomenclature). Nomenclature diambil dari
istilah nomen yang artinya nama dan calare yang artinya memanggil. Artinya, nomenclature
atau tatanama adalah suatu tatacara untuk memanggil atau memberi nama suatu kelompok
takson.

Carolus Linnaeus merupakan salah satu tokoh yang meletakkan dasar-dasar


pemberian nama ilmiah yang modern. Dasar-dasar tatanama tersebut tertuang dalam bukunya
yang berjudul Critica Botanica (1737) danPhilosophica Botanica (1751). Kemudian, secara
bertahap banyak ahli lain yang ikut melengkapi sistem tatanama yang ada, misalnya Fabricius
melalui bukunyaPhilosophica Entomologica (1778).

Dalam kurun waktu yang lama, banyak sekali aturan-aturan yang muncul sebagai
hasil kesepakatan oleh para ahli di seluruh dunia. Kesepakatan yang pada saat ini telah
disetujui oleh kalangan ilmiah internasional, dituangkan dalam sebuah aturan yang diberi
nama International Code of Zoological Nomenclature (ICZN). ICZN inilah yang saat ini
banyak digunakan sebagai acuan untuk pemberian nama hewan.

ICZN dikeluarkan oleh suatu institusi yang diberi nama International Comission on
Zoological Nomenclature. Untuk menyempurnakan tatanama, komisi tersebut beberapa kali
melakukan konggres untuk merevisi ICZN yang ada. Pada revisi ICZN yang terakhir,
akhirnya dikeluarkan aturan tatanama hewan yang tertuang dalam ICZN edisi ke-empat pada
tahun 2000. ICZN edisi tahun 2000 inilah yang saat ini disepakati sebagai dasar pemberian
nama hewan yang berlaku.

A. Dasar-Dasar Penamaan Ilmiah

Nama-nama takson hasil tatanama untuk selanjutnya disebut sebagai nama


ilmiah. Ada 3 landasan penting yang harus dipenuhi untuk sebuah nama ilmiah.

1. Nama harus unik - Artinya, setiap nama hanya mengacu pada satu macam kelompok
organisme saja. Dengan kata lain, satu nama hanya untuk satu takson. Jadi, tidak
ada dua atau lebih takson yang memiliki nama yang sama.
2. Nama harus bersifat universal - Artinya, nama tersebut dapat dipakai, dapat dipahami
secara luas, dan diinterpretasikan terhadap objek yang sama di mana saja berada.
3. Nama harus stabil - Artinya, nama-nama ilmiah tidak dengan mudah berubah-ubah
sehingga tidak menimbulkan kesulitan dalam pemakaian pada waktu yang berbeda.

Bahasa yang digunakan untuk nama ilmiah adalah harus menggunakan bahasa dan
huruf latin. Oleh karena itu, nama ilmiah juga populer dengan sebutan dan nama yang
digunakan tersebut harus sudah dilatinkan atau dianggap sebagai bahasa latin.

B. Penamaan Takson

Aturan dasar penamaan takson antara lain sebagai berikut.

1. Untuk nama takson yang formal harus ditulis dalam bahasa asli seperti apa adanya,
tidak dapat diadaptasi atau ditulis dengan bahasa serapan setempat.
Misalnya, Cyprinus carpio, amphibia, reptilia, dan lepidoptera, harus selalu ditulis
sesuai aslinya. Jadi, Cyprinus carpio tidak boleh ditulis dengan bahasa Indonesia
menjadi siprinus karpio.

2. Nama ilmiah ditulis dalam bahasa latin. Nama ilmiah tidak perlu diakhiri dengan titik,
kecuali titik sebagai penutup kalimat.

3. Penulisan nama ilmiah dapat menggunakan prinsip uninominalisme, binominalisme,


atau trinominalisme.

Kategori-kategori dalam taksonomi hewan cukup banyak. Ada beberapa kategori yang
penamaan takson-nya memiliki aturan dalam secara khusus. Aturan formal penamaan takson
sesuai ICZN adalah sebagai berikut.

1. Penulisan untuk Kategori Genus sampai Kingdom


a. menggunakan aturan uninominal atau satu kata.
b. Dari kategori kingdom sampai di atas genus, nama dapat ditulis dengan huruf
italics atau tegak. Sementara itu, untuk menuliskan nama genus harus dicetak
dengan huruf italics atau ditulis miring. Contohnya, Hystrix, Pelecanus,
Rana, dan Halcyon.

2. Penulisan untuk Kategori Sub-genus


a. menggunakan aturan trinominal atau terdiri atas tiga kata.
b. Ketiga kata tersebut harus dicetak italics, nama penunjuk sub-genus harus
diberi tanda kurung.
c. Nama sub genus semuanya ditulis dengan huruf kecil, kecuali huruf pertama
untuk nama genus dan penunjuk sub-genus ditulis dengan huruf kapital.
d. Contoh : Aedes (Stegomya) aegypti. Dalam rangkaian nama tersebut, kata
yang dikurung atau Stegomya adalah nama penunjuk sub-genus. Sementara
itu, untuk Aedes adalah nama genus dan aegypti adalah nama spesifik.

3. Penulisan Nama Untuk Kategori Spesies


a. Menggunakan aturan binominal atau terdiri atas dua kata.
b. Kedua kata pada nama spesies harus dicetak dengan huruf italics atau dicetak
miring.
c. Nama spesies ditulis dengan huruf kecil, kecuali huruf pertama dari kata
pertama (nama genus) ditulis dengan huruf kapital.
d. Contohnya adalah nama spesies untuk gajah afrika, yaitu Loxodontia
africana. Nama pertama adalah nama genus, nama kedua adalah nama
spesifik, dan gabungan keduanya sebagai satu kesatuan adalah nama spesies.

4. Penulisan untuk Kategori Sub-spesies


a. nama ditulis dengan aturan trinominal atau terdiri atas tiga kata. Namun, sama
sama mengunakan aturan trinominal, penulisannya berbeda dengan nama sub-
genus.
b. Penulisan pada nama sub-spesies adalah huruf kapital hanya pada huruf
pertama pada nama genus serta tidak ada tanda kurung.
c. kata pertama merupakan nama penunjuk genus, kata kedua merupakan nama
penunjuk spesies, dan kata ketiga adalah nama penunjuk sub-spesies.
d. Contohnya: Microtus montanus nanus (Microtus adalah nama
genus, montanus adalah nama spesifik, dan nanus adalah nama penunjuk
subspesies.

C. Penulisan Author

Author adalah orang yang pertama kali menerbitkan/mempublikasikan nama suatu


spesies. Biasanya author hanya digunakan untuk penulisan pada kategori spesies dan
subspesies. Selain author, kadang-kadang juga dituliskan tahun menerbitkan nama
tersebut. Nama author dapat juga disingkat atau ditulis utuh. Pencantuman nama author ini
tidak harus selalu dilakukan, namun sangat disarankan apabila digunakan untuk bidang-
bidang taksonomi atau untuk menghindari kesalahan. Contohnya Apis mellifera Linn atau
Apis mellifera L. ( dipublikasikan oleh Linneus).

Author dan tahun ditulis dengan huruf tegak, bukan ditulis dengan
huruf italics. Apabila nama author yang disingkat harus diakhiri dengan tanda titik.

http://diansagitafitri.blogspot.com/2015/01/biosistematika-part-1.html?m=1

http://nomenklatur-binomial.pahlawan.web.id/id3/255-1311/Nomenklatur-
Binomial_26365_nomenklatur-binomial-fj.html