Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS RASIO: PENDAHULUAN

4.1. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis laporan keuangan, yakni:
1. Dalam laporan keuangan tentunya diperlukan adanya analisis untuk mengidentifikasi
trend-trend tertentu, yang biasanya bisa terlihat dalam jangka waktu enam atau lima
tahun.
2. Angka-angka yang tercantum dalam laporan keuangan tidak bisa dikatakan baik atau
buruk untuk itu, diperlukan adanya pembanding untuk melihat baik atau tidaknya angka
tersebut. Yang dapat dipakai sebagai pembanding biasanya adalah rata-rata industri
ataupun perusahaan lain yang sejenis.
3. Membaca dan menganalisis laporan keuangan harus dilakukan dengan hati-hati.
4. Terkadang kita membutuhkan informasi lain dalam melakukan analisis. Informasi
tambahan tersebut bisa kita peroleh dengan melakukan analisis mendalam terhadap
laporan keuangan.

4.2. ANALISIS COMMON SIZE


Analisis common size dapat disusun dengan menghitung setiap rekening dalam laporan
keuangan laba-rugi dan neraca menjadi proporsi dari total penjualan (untuk laporan laba-rugi)
atau dari total aktiva (untuk laporan posisi keuangan).
Contoh: Laporan Laba-Rugi PT “ABC”
Tahun 3 Tahun 2 Tahun 1
Penjualan 16,405 15,296 15,747
Harga Pokok Penjualan 10,492 9,717 10,152
5,913 5,579 5,595
Biaya Penjualan, Umum, dan
Administrasi 4,129 3,815 3,743
Laba Operasional 1,784 1,764 1,852
Penyesuaian: Pendapatan
dari anak perusahaan dan
pendapatan luar biasa 311 265 573
Laba sebelum pajak dan bunga 1,473 1,499 1,279
Bunga 303 307 300
Laba sebelum pajak 1,170 1,192 979
Pajak Pendapatan 368 385 371
Laba bersih 802 807 608
Analisis Common size Laporan Laba-Rugi PT ABC
Tahun 3 Tahun 2 Tahun 1
Penjualan 100.0 100 100
Harga Pokok Penjualan 64.0 63.5 64.5
Marjin Kotor 36.0 36.5 35.5
Biaya Penjualan, Umum, dan
Administrasi 25.2 24.9 23.8
Laba Operasional 10.9 11.5 11.8
Penyesuaian: Pendapatan
dari anak perusahaan dan
pendapatan luar biasa 1.9 1.7 3.6
Laba sebelum pajak dan bunga 9.0 9.8 8.1
Bunga 1.8 2.0 1.9
Laba sebelum pajak 7.1 7.8 6.2
Pajak Pendapatan 2.2 2.5 2.4
Laba bersih 4.9 5.3 3.9

Analisis Common size Laporan Laba-Rugi Industri


Tahun 3 Tahun 2 Tahun 1
Penjualan 100.0 100.0 100.0
Harga Pokok Penjualan 71.1 72.0 72.1
Marjin Kotor 28.9 28.0 27.9
Biaya Penjualan, Umum, dan
Administrasi 22.1 20.8 20.9
Laba sebelum pajak dan bunga 6.8 7.2 7.0
Bunga 1.9 1.6 1.2
Laba sebelum pajak 4.9 5.6 5.8
Pajak Pendapatan 1.8 2.0 2.4
Laba bersih 3.1 3.6 3.4

Berdasarkan perbandingan common size antara perusahaan dengan industri maka jelas
nampak perusahaan mendapatkan laba yang lebih dibandingkan dengan industri karena
perusahaan memiliki HPP yang lebih rendah meskipun biaya yang ditimbulkan lebih tinggi
dibandingkan dengan industri.
Berikut adalah contoh analisis common size untuk laporan posisi keuangan PT ABC:
Laporan Posisi Keuangan PT ABC
Tahun 3 Tahun 2 Tahun 1
Aktiva
Aktiva Lancar

Kas dan Surat Berharga 408 670 112

Piutang Dagang 4,353 4,233 4,536

Persediaan 2,623 2,201 2,350

Biaya dibayar di muka 155 142 132

Total Aktiva Lancar 7,539 7,246 7,130


Aktiva Jangka Panjang (Tetap)

Bangunan dan Peralatan 4,791 4,463 4,256

Kurangi: Akumulasi Depresiasi (1,154) (1,429) (1,346)

Bangunan dan peralatan (bersih) 3,637 3,034 2,910

Aktiva Lainnya 1,922 1,974 1,694

Total Aktiva Jangka Panjang (Tetap) 5,559 5,008 4,604

Total Aktiva 13,098 12,254 11,734

Utang dan Modal Saham


Utang Lancar

Utang Dagang 708 646 525

Utang Jangka Pendek 1,452 1,000 955

Rekening akrual dan lainnya 1,240 1,139 1,206

Total Utang Lancar 3,400 2,785 2,686


Utang Jangka Panjang

Utang Jangka Panjang 2,566 2,861 2,395

Utang Sewa 189 201 213

Utang Pajak 1,124 1,346 1,375

Utang Lainnya 1,066 1,102 898

Total Utang Jangka Panjang 4,945 5,510 4,881


Modal Saham

Modal Preferen, 1 Juta Lembar 704 38 -


Saham biasa, nilai per Rp 1.500 juta

lembar diotorisasi 60 61 69

Agio Saham 805 801 891

Laba yang ditahan 2,784 3,057 3,207

Total Modal Saham 4,353 3,957 4,167

Total Utang dan Modal Saham 12,698 12,252 11,734

Analisis Common Size Laporan Keuangan PT ABC


Tahun 3 Tahun 2 Tahun 1
Aktiva Lancar
Kas dan Surat Berharga 3.2 5.5 1.0
Piutang Dagang 34.3 34.5 38.7
Persediaan 20.6 18.0 20.0
Aktiva Lainnya 1.3 1.1 1.1
Total Aktiva Lancar 59.4 59.1 60.8
Aktiva Jangka Panjang (Tetap)
Bangunan, Pabrik, dan Peralatan (bersih) 25.5 24.8 24.8
Aktiva non-lancar lainnya 15.1 16.1 14.4
Total Aktiva 100.0 100.0 100.0
Utang Lancar
Utang Dagang 5.6 5.3 4.5
Utang Jangka Pendek 11.4 8.2 8.1
Utang Lainnya 9.8 9.2 10.3
Total Utang Lancar 26.8 22.7 22.9
Utang Jangka Panjang
Utang Jangka Panjang dan sewa 21.7 25.0 22.2
Pajak ditunda dan hutang lainnya 17.2 20.0 19.4
Modal Saham 34.3 32.3 35.5
Total Passiva 100.0 100.0 100.0
Analisis Common Size Laporan Posisi Keuangan Industri
Tahun 3 Tahun 2 Tahun 1
Aktiva
Aktiva Lancar
Kas dan Surat Berharga 1.9 4.7 3.4
Piutang Dagang 17.2 16.2 15.1
Persediaan 35.9 32.0 37.1
Aktiva Lainnya 1.3 1.5 0.5
Total Aktiva Lancar 56.3 54.4 56.1
Aktiva Jangka Panjang (Tetap)
Bangunan, Pabrik, dan Peralatan (bersih) 31.8 32.5 38.1
Aktiva non-lancar lainnya 11.9 13.1 5.8
Total Aktiva 100.0 100.0 100.0
Passiva
Utang Lancar
Utang Dagang 14.8 14.7 22.0
Utang Jangka Pendek 2.9 0.2 0.4
Utang Lainnya 11.4 10.7 5.4
Total Utang Lancar 29.1 25.6 27.8
Utang Jangka Panjang
Utang Jangka Panjang dan sewa 30.8 27.9 23.7
Pajak ditunda dan hutang lainnya 6.3 5.9 6.6
Modal Saham 33.8 40.6 41.9
Total Passiva 100.0 100.0 100.0

4.3. ANALISIS RASIO


Penyusunan rasio keuangan dilakukan dengan menghitung perbandingan antara angka-
angka yang terdapat dalam suatu laporan keuangan perusahaan yang akan di analisis, biasanya
dari angka-angka yang terdapat dalam laporan laba/rugi perusahaan, atau laporan posisi
keuangan perusahaan. Perbandingan angka tersebut dilakukan dengan hitungan matematika
biasa seperti pembagian, perkalian, penambahan, pengurangan, serta mencari persentase dari
angka yang dihitung. Hasil dari perhitungan tersebut biasanya dibandingkan dengan analisis
laporan keuangan perusahaan lain yang masih dalam satu industri yang sama untuk menilai
kinerja perusahaan, atau dengan tujuan penilaian lainnya. Rasio-rasio ini nantinya akan
menghilangkan pengaruh ukuran dan membuat ukuran bukan dalam angka absolut, melainkan
dalam angka relatif. Terdapat lima jenis analisis rasio keuangan yang biasa dipergunakan,
sebagai berikut:
1. Rasio likuiditas berguna untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan memenuhi
kewajiban jangka pendeknya dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap
utang lancarnya. Rasio likuiditas yang biasa digunakan adalah rasio lancar dan quick
ratio dengan perhitungan sebagai berikut:
𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
- Rasio Lancar (Current Ratio) =
𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟−𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛
- Quick Ratio =
𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟

Untuk memahami lebih jauh mengenai analisis rasio likuiditas, berikut ini akan
disampaikan contoh perhitungan analisis rasio dari perusahaan sub sektor telekomunikasi
yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai dengan Desember 2017:
1) Bakrie Telecom Tbk (BTEL):
Rasio lancar: 0,06%
2) XL Axiata Tbk (EXCL):
Rasio lancar: 38,61%
3) Smartfren Telecom Tbk (FREN):
Rasio lancar: 29,33%
4) Indosat Tbk (ISAT):
Rasio lancar: 47,64%
5) Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)
Rasio lancar: 86,44%
Berdasarkan data diatas, dapat diketahui bahwa rata-rata rasio lancar perusahaan dalam
sub sektor telekomunikasi adalah 40,42%. Jika tujuan analisis untuk mengetahui perbandingan
likuiditas dari current ratio antarperusahaan ini maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan
Telekomunikasi Indonesia Tbk dan perusahaan Indosat Tbk adalah perusahaan yang likuid
karena persentase masing-masing perusahaan tersebut berada diatas rata-rata persentase rasio
likuiditas current ratio. Sedangkan perusahaan BTEL adalah perusahaan yang memiliki tingkat
persentase likuiditas paling rendah dari perusahaan lainnya dalam industri yang sama.

2. Rasio Aktivitas. Rasio aktivitas merupakan ukuran yang menunjukkan kemampuan


perusahaan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti penjualan, penagihan
piutang, pengelolaan persediaan, pengelolaan modal kerja, dan pengelolaan dari
seluruh aktiva. Rasio ini mengukur sejauh mana efektivitas penggunaan asset dengan
melihat tingkat aktivitas asset. Ada empat fokus utama yang akan dibahas dalam rasio
aktivitas, yakni; Rata-rata umur piutang, Perputaran persediaan, Perputaran aktiva
tetap, Perputaran total aktiva, dengan perhitungan sebagai berikut:
𝑃𝑖𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔
- Rata-Rata Umur Piutang =
𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛/365
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑜𝑘𝑜𝑘 𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
- Perputaran Persediaan =
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛
𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
- Perputaran Aktiva Tetap =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝
𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
- Perputaran Total Aktiva =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎

3. Rasio Solvabilitas. Rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur sejauh mana


perusahaan dapat memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Ada tiga macam rasio yang
bisa dihitung melalui rasio solvabilitas, yakni:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔
- Rasio Total Utang terhadap Total Aset (Debt Ratio)=
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘 (𝐸𝐵𝐼𝑇)
- Time Interest Earned =
𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎
𝐸𝐵𝐼𝑇+𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑆𝑒𝑤𝑎
- Fixed Charge Coverage =
𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎+𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑆𝑒𝑤𝑎

Untuk memahami lebih jauh mengenai rasio solvabilitas, berikut adalah contoh
perhitungan berserta interpretasi dari rasio solvabilitas dengan debt ratio (rasio total
utang terhadap total aset) pada perusahaan subsektor telekomunikasi yang tercatat
dalam BEI Desember 2017:
1) Bakrie Telecom Tbk (BTEL):
Total aset: 717.75B
Total utang: 15.41 T
Debt ratio: 21,47
2) XL Axiata Tbk (EXCL):
Total aset: 56.38T
Total utang: 34.83T
Debt ratio: 0,61
3) Smartfren Telecom Tbk (FREN):
Total aset: 24.20T
Total utang: 15.64T
Debt ratio: 0,65
4) Indosat Tbk (ISAT):
Total aset: 49.86T
Total utang: 36.26T
Debt ratio: 0,73
5) Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)
Total aset: 201.96T
Total utang: 103.64 T
Debt ratio: 0,51
Berdasarkan data tersebut, jika tujuan analisis untuk mengetahui perbandingan rasio
utang antarperusahaan dalam subsektor telekomunikasi, maka dapat disimpulkan
bahwa perusahaan Bakrie Telecom Tbk memiliki rasio hutang yang jauh lebih tinggi
daripada perusahaan lain pada sektor yang sama. Menurut Hanafi & Halim pada
bukunya (2018, p.79) rasio hutang yang tinggi berarti perusahaan menggunakan
financial leverage yang tinggi pula. Seperti yang diketahui, financial leverage adalah
penggunaan seumber dana yang memiliki beban tetap dengan harapan bahwa akan
memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar dari beban tetapnya sehingga akan
meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham. Dengan demikian
alasan yang kuat menggunakan dana dengan beban tetap adalah untuk meningkatkan
pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham (Agus Sartono, 2001 dalam blogspot
Revolusi Aditya Ibrahim, 2011). Perusahaan dengan financial leverage yang tinggi
berarti memiliki risiko yang tinggi pula. Ini berarti perusahaan BTEL merupakan
perusahaan dengan financial leverage yang tinggi karena nilai rasionya >1 yaitu 21,47
yang berarti bahwa BTEL menggunakan dana dari kreditur sebanyak 214,7% atau
setiap Rp 21,47 utang perusahaan dijamin oleh Rp 1 aset perusahaan.

4. Rasio Profitabilitas. Rasio ini digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan
perusahaan dapat menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan,
aset, dan modal saham yang tertentu. Terdapat tiga macam rasio profitabilitas yang
dibicarakan, sebagai berikut:
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
- Profit Margin =
𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
- Return on Asset (ROA) =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
- Return on Equity (ROE) =
𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚
Untuk memahami lebih jauh mengenai rasio profitabilitas, berikut ini adalah data ROA
dan ROE dari perusahaan sub sektor telekomunikasi yang telah tercatat pada BEI
Desember 2017:
1) Bakrie Telecom Tbk (BTEL):
ROA: -150,50%
ROE: 7,35%
2) XL Axiata Tbk (EXCL):
ROA: -0,28%
ROE: -0,75%
3) Smartfren Telecom Tbk (FREN):
ROA: -11,32%
ROE: -32,00%
4) Indosat Tbk (ISAT):
ROA: -2,78%
ROE: -10,20%
5) Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)
ROA: 8,61%
ROE: 17,69%
Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa perusahaan Telekomunikasi Indonesia
Tbk adalah perusahaan yang paling banyak memberikan profit atas modal saham yang
diinvestasikan oleh para pemegang saham perusahaan tersebut, ini juga berarti bahwa
perusahaan Telekomunikasi Indonesia Tbk memiliki efisiensi manajemen aset yang
baik.

5. Rasio Pasar. Rasio pasar ini digunakan untuk mengukur harga pasar relatif terhadap
nilai buku. Ada beberapa macam rasio pasar yang bisa dihitung, yakni:
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑎𝑠𝑎𝑟 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟
- Price Earning Ratio (PER) =
𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟
𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟
- Dividend Yield =
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟
𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟
- Pembayaran Dividen (Dividend Payout) =
𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟
Untuk memahami lebih jauh mengenai rasio pasar, berikut ini adalah data PER,
dividend yield, dan divident payout dari perusahaan sub sektor telekomunikasi yang
telah tercatat pada BEI Desember 2017:
1) Bakrie Telecom Tbk (BTEL):
PER: -1,72x
Dividend yield: -
2) XL Axiata Tbk (EXCL):
PER: -202,00x
Dividend yield: -
3) Smartfren Telecom Tbk (FREN):
PER: -4,38x
Dividend yield: -
4) Indosat Tbk (ISAT):
PER: -11,84x
Dividend yield: 2,42%
5) Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)
PER: 20,40x
Dividend yield: 4,67%
PER (Price to Earning Ratio) merupakan alat utama penghitungan harga saham suatu
perusahaan dibandingkan dengan pendapatan perusahaan. Hasil ini mengindikasikan berapa
besar investor bersedia membayar setiap rupiah atas pendapatan perusahaan tersebut.
Berdasarkan data tersebut perusahaan dengan PER tertinggi adalah TLKM dengan PER sebesar
20,40x, hal ini berarti bahwa perusahaan tersebut diharapkan memiliki prospek yang baik,
namun dari segi investor yang memiliki tujuan investasi jangka pendek (mengambil
keuntungan dari capital gain) perusahaan TLKM dianggap terlalu mahal dan harga pasar
sahamnya susah untuk naik lagi. Dividend yield merupakan dividen per saham dibagi harga
pasar saham. Secara sederhana, dividend yield adalah tingkat keuntungan yang diberikan oleh
perusahaan tersebut. Dari analisis dividend yield, TLKM juga terbukti memiliki prospek
pertumbuhan yang baik karena perusahaan dengan PER tinggi dikatakan akan memiliki
dividend yield yang rendah. Hal tersebut disebabkan oleh sebagian besar dividen yang
dibagikan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan tersebut. sementa

4.4. ANALISIS DUPONT


Analisis Dupont dirancang untuk menunjukkan hubungan antara pengembalian atas aktiva,
perputaran aktiva marjin laba, dan leverage (Dewi Astuti, 2004).
Menurut Brigham dan Houston (2001:94) yang mengembangkan pendekatan umum yang
menunjukkan bagaimana pengembalian atas ekuitas dipengaruhi oleh perputaran aktiva, marjin
laba, dan leverage. Dimana bagian kiri dari bagan tersebut mengembangkan marjin laba atas
penjualan. Dan bagian kanan ditunjukkan berbagai kategori aktiva, totalnya, dan kemudian
membagi penjualan dengan total aktiva untuk mendapatkan perputaran total aktiva. Untuk
lebih jelasnya, bisa diperhatikan bagan berikut:

Dari bagan tersebut dapat kita lihat bahwa marjin laba yang dikalikan dengan perputaran total
aktiva akan memberikan tingkat pengembalian atas aktiva (ROA) yang dapat kita sebut dengan
persamaan Du Pont dengan perhitungan sebagai berikut:
ROA = profit margin x perputaran total aktiva
Laba bersih Penjualan
= x
Penjualan Total Aktiva
Pengembalian atas ekuitas (ROE) perusahaan tergantung pada ROA dan penggunaan
kewajiban (leverage).
ROE = ROA x Multiplier Ekuitas
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎
= x
Total Aktiva Ekuitas Saham Biasa
Dengan adanya kedua persamaan diatas maka kita bisa membuat persamaan Du Pont yang
diperluas, yang menunjukkan bagaimana marjin laba, perputaran aktiva, dan multiplier ekuitas
dikombinasikan untuk menentuan ROE, seperti persamaan berikut:
ROE = marjin laba x perputaran total aktiva x multiplier ekuitas
Laba bersih Penjualan 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎
= x x
Penjualan Total Aktiva Ekuitas Saham Biasa

Dari bagan atau skema diatas dapat terlihat bahwa untuk menaikkan ROE, perusahaan
mempunyai beberapa alternatif seperti:
1. Menaikkan ROA, yang bisa dilakukan dengan cara menaikkan profit margin atau
menaikkan perputaran aktiva, atau keduanya sambil mempertahankan tingkat utang.
2. Menaikkan financial leverage, yang berarti menaikkan utang. Dengan naiknya utang,
pembagi dalam persamaan di atas (denominator) akan menjadi lebih kecil, dan dengan
demikian ROE akan lebih besar sambil mempertahankan tingkat ROA.
3. Menaikkan ROA dan utang secara bersamaan.