Anda di halaman 1dari 22

PAPPER

Gangguan Somatoform Tak Terinci


Disusun Sebagai Tugas Mengikuti Kepanitraan Klinik Senior (KKS)

Disusun Oleh :
Rohmad Ikhsanudin, S.Ked
18360141

Pembimbing
DR.dr. Elmeida Effendy, M.Ked. K.J.,Sp.K.J

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR (KKS) SMF ILMU

KEDOKTERAN PSIKIATRI RUMAH SAKIT UMUM HAJI

MEDAN SUMATERA UTARA

2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr wb

Puji syukur hanya kepada Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang yang senantiasa melimpahkan rahmat dan berkah-Nya, sehingga saya

dapat menyelesaikan Papper saya dengan judul “Gangguan Somatoform Tak

Terinci” Yang bertujuan untuk memenuhi tugas dan persyaratan dalam mengikuti

Kepanitraan Klinik Senior (KKS) stase psikiatri. Shalawat serta salam kepada

Nabi Muhammad SAW serta keluarga yang telah menjadi suri tauladan sampai

akhir jaman.

Dalam proses paper ini tidak terlepas dari dukungan banyak pihak. Pada

kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih kepada :

1. DR.dr. Elmeida Effendy, M.Ked. K.J.,Sp.K.J selaku pembimbing

Dalam Melaksanakan Kepanitraan Klinik Senior (KKS) SMF Ilmu

Kedokteran Psikiatri Rumah Sakit Umum Haji Medan Sumatera Utara.

2. dr. Ariwan selaku dokter PPDS (Program pendidikan Dokter Spesialis)

di stase Psikiatri Rumah Sakit Umum Haji Medan Sumatera Utara.

3. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan papper ini baik

secara langsung maupun tidak langsung yang tidak bisa saya sebutkan

satu persatu.

Akhir kata, penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam

penyusunan papper ini, baik dari segi isi maupun penyajiannya. Untuk itu saya

mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka

menyempurnakan papper ini. Penyusun berharap semoga papper ini dapat

i
digunakan sebagai referensi yang bermanfaat bagi mahasiswa, seluruh civitas

akademika dan masyarakat yang membaca. Amin.

Medan, 25 September 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... iii
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Tujuan .................................................................................................. 2
1.3 Metode penyusunan ............................................................................. 2

BAB II PPEMBAHASAN
2.1 Definisi Somatoform ....................................................................... 3
2.2 Sejarah Somatoform ........................................................................ 3
2.3 Teori-teori Tentang Somatoform .............................................................. 4
2.4 Etiologi ............................................................................................ 5
2.5 Manifestasi Klinis ............................................................................ 5
2.6 Klasifikasi ........................................................................................ 7
2.7 Pedoman Diagnostik Gangguan Somatoform ................................. 8
2.8 TataLaksana ..................................................................................... 11
2.9 Obat Anti-Anxiety ........................................................................... 12
2.10 Obat Anti-Depresi ........................................................................... 12
2.11 Prognosis ......................................................................................... 13
2.12 Somatoform Tak Terinci ................................................................. 13

BAB III KESIMPULAN ................................................................................ 17


DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 18

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki
gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) dimana tidak dapat
ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik ini cukup
serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien
atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial
atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian
klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset,
keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform tidak disebabkan oleh pura-
pura yang disadari atau gangguan buatan.1,2
Gambaran yang penting dari gangguan somatoform adalah adanya gejala
fisik, dimana tidak ada kelainan organik atau mekanisme fisiologik. Dan untuk hal
tersebut terdapat bukti positif atau perkiraan yang kuat bahwa gejala tersebut
terkait dengan adanya faktor psikologis atau konflik. Karena gejala tak spesifik
dari beberapa sistem organ dapat terjadi pada penderita anxietas maupun penderita
somatoform disorder, diagnosis anxietas sering disalah diagnosiskan menjadi
somatoform disorder, begitu pula sebaliknya. Adanya somatoform disorder, tidak
menyebabkan diagnosis anxietas menjadi hilang.
Dalam buku diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ-III dan
DSM-5 disebutkan bahwa gangguan somatoform diklasifikasikan menjadi 7
bagian. Salah satunya adalah gangguan somatoform tak terinci. Gangguan
somatoform tak terinci adalah gangguan yang memiliki keluhan-keluhan fisik
bersifat multiple, bervariasi dan menetap, akan tetapi gambaran klinis yang khas
dan lengkap dari gangguan somatisai tidak terpenuhi.
Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian
(histrionik), terutama pada pasien yang kesal karena tidak berhasil membujuk
dokternya untuk menerima bahwa keluhannya memang penyakit fisik dan bahwa
perlu adanya pemeriksaan fisik yang lebih lanjut.

1
1.2. Tujuan
Papper ini ditulis sebagai salah satu prasyarat untuk mengikuti aktivitas
koasisten di Departemen Psikiatri Rumah Sakit Umum Haji Medan. Papper ini
diharapkan dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai somatoform
sehingga pembaca dapat lebih mengenal tentang gangguan ini dan lebih akurat
dalam mendiagnosanya.

Pemahaman tentang diagnosis somatoform yang baik diharapkan dapat


memberikan potensi untuk prognosis yang lebih baik dengan diagnosis dini,
mencegah terjadinya kesalahan diagnosis, mencegah terjadinya kesalahan
pengobatan, dan memungkinkan untuk mencegah penyakit berlarut-larut.

1.3. Metode penyusunan


Papper ini disusun berdasarkan studi kepustakaan dengan merujuk ke
berbagai literatur.

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Gangguan Somatoform


Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki
gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) dimana tidak dapat
ditemukan penjelasan medis yang adekuat.1
Pada gangguan somatoform, orang memiliki simptom fisik yang
mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang
dapat ditemukan sebagai penyebabnya. Gejala dan keluhan somatik menyebabkan
penderitaan emosional/gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di
dalam peranan sosial atau pekerjaan. Gangguan somatoform tidak disebabkan
oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.

2.2 Sejarah
Gangguan ini memiliki sejarah yang panjang dan gangguan ini biasanya
dihubungkan dengan wanita. Pada awal tahun 1500 S.M. dalam buku karangan
Hippokrates itu adalah penyakit fisik yang terbatas pada wanita. Karena itu,
gangguan-gangguan tersebut dinamakan histeria, dan kata histeria itu berasal dari
kata hystero yang berarti rahim, Hippokrates dan orang-orang yunani pada
umumnya beranggapan bahwa penyakit itu disebabkan oleh rahim tidak dipuaskan
secara seksual, karenanya ia berkelana ke bagian-bagian tubuh lainnya (wandering
uterus) untuk mencari kepuasan. Dan dalam perjalanan itu, ia meletakan dirinya
sedemikian rupa sehingga menyebabkan gangguan. Misalnya, bila seorang wanita
mengalami kelumpuhan lengan, maka diandalkan bahwa rahim itu tertahan
dipundak atau sikunya, meskipun Hippokrates tidak berbicara secara khusus
tentang penyebab seksual pada gangguan somatoform. Galenus tidak menerima
pandangan bahwa gangguan-gangguan somatoform disebabkan oleh gangguan
pada rahim, tetapi mengemukakan bahwa gangguan-gangguan tersebut ada
hubungannya dengan organ tersebut. Selama abad pertengahan, orang-orang yang
menderita gangguangangguan somatoform diperlakukan sebagai penganut bidaah

3
karena tingkah laku mereka dianggap sebagai akibat langsung dari dosa-dosa
mereka. Individu-individu yang menderita gangguan-gangguan somatoform
diduga kerasukan setan (roh-roh jahat), dan exorcisme sering kali dipakai sebagai
usaha untuk mengusir roh-roh jahat itu dari dalam tubuh mereka. Pada akhir abad
ke-19 diadakan pendekatan-pendekatan baru terhadap gangguan somatoform.
Pertama oleh charcot (seorang dokter prancis), dan kemudian oleh Janet dan
freud. Charcot berpendapat bahwa dengan menggunakan sugesti ia dapat
menimbulkan dan menghilangkan semua simtom pada pasienpasien wanita yang
menderita apa yang dinamakan histeria. Akan tetapi, beberapa puluh tahun
kemudian ada kemajuan yang pesat. Karena Horney menekankan faktor
kebudayaan dalam perkembangan histeria dan neurosis-neurosis yang lain. Ia
menekankan bahwa kecemasan dan permusuhan yang timbul dari konflikkonflik
kebudayaan merupakan penyebab yang penting dari tingkah laku neurotik. Pada
tahun 1980, Diagnostik and statistical Manual of Mental Disorders. Edisi III, yang
revisi (DSM- III R), sebutan diagnostik histeria dihilangkan, ini dilakukan untuk
menghilangkan semua konotasi yang dihubungkan dengan histeria, seperti ide
bahwa histeria disebabkan oleh konflik seksual. Pada tahun 1987, semua ulasan
yang mengemukakan bahwa gangguan-gangguan somatoform yang pada
umumnya terdapat pada para wanita dihilangkan. (Semiun, 2006:374-377)

2.3 Teori-teori Tentang Somatoform


Ciri utama dari gangguan somatoform adalah adanya keluhan gejala fisik
yang berulang yang disertai dengan permintaan pemeriksaan medis, meskipun
sudah berkali-kali terbukti hasilnya negative dan juga sudah dijelaskan oleh
dokter bahwa tidak ditemukan kelainan fisik yang menjadi dasar keluhannya.
Seandainya ada gangguan fisik, maka gangguan tersebut tidak menjelaskan gejala
atau distress dan preokupasi yang dikemukakan pasien. Meskipun onset dan
kelanjutan dari gejala-gejala tadi mempunyai hubungan yang erat dengan
peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan ataupun konflik-konflik, pasien
biasanya menolak upaya-upaya untuk membahas kemungkinan adanya penyebab

4
psikologis, bahkan meskipun ditemukan gejala-gejala anxietas dan depresi yang
nyata. (Departemen Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik,1993:209)

2.4 Etiologi
Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikologis di bawah sadar yang
mempunyai tujuan tertentu. Pada beberapa kasus ditemukan faktor genetik dalam
transmisi gangguan ini. Selain itu, dihubungkan pula dengan adanya penurunan
metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer
non dominan.1
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab dikelompokkan sebagai
berikut:1
a. Faktor-faktor Biologis
Faktor ini berhubungan dengan kemungkinan pengaruh genetis (biasanya pada
gangguan somatisasi).

b. Faktor Psikososial
Penyebab gangguan melibatkan interpretasi gejala sebagai suatu tipe
komunikasi sosial, hasilnya adalah menghindari kewajiban, mengekspresikan
emosi atau untuk mensimbolisasikan suatu perasaan atau keyakinan (contoh:
nyeri pada usus seseorang).

2.5 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala
fisik yang berulang disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah
berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan dokternya bahwa
tidak ada kelainan yang mendasari keluhannya.1,2
Beberapa orang biasanya mengeluhkan masalah dalam bernafas atau
menelan, atau ada yang “menekan di dalam tenggorokan”. Masalah-masalah
seperti ini dapat merefleksikan aktivitas yang berlebihan dari cabang simpatis
sistem saraf otonomik, yang dapat dihubungkan dengan kecemasan. Kadang kala,
sejumlah simptom muncul dalam bentuk yang lebih tidak biasa, seperti
“kelumpuhan” pada tangan atau kaki yang tidak konsisten dengan kerja sistem

5
saraf. Dalam kasus-kasus lain, juga dapat ditemukan manifestasi dimana
seseorang berfokus pada keyakinan bahwa mereka menderita penyakit yang
serius, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat ditemukan.1,4
Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian
(histrionik), terutama pada pasien yang kesal karena tidak berhasil membujuk
dokternya untuk menerima bahwa keluhannya memang penyakit fisik dan bahwa
perlu adanya pemeriksaan fisik yang lebih lanjut.3
Dalam kasus-kasus lain, orang berfokus pada keyakinan bahwa mereka
menderita penyakit serius, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat
ditemukan.1

Gambaran keluhan gejala somatoform:


Neuropsikiatri:
- “Kedua bagian dari otak saya tidak dapat berfungsi dengan baik”;

- “Saya tidak dapat menyebutkan benda di sekitar rumah ketika ditanya”

Kardiopulmonal:
- “Jantung saya terasa berdebar debar…. Saya kira saya akan mati”

Gastrointestinal:
- “Saya pernah dirawat karena sakit maag dan kandung empedu dan belum ada
dokter yang dapat menyembuhkannya”

Genitourinaria:
- “Saya mengalami kesulitan dalam mengontrol BAK, sudah dilakukan
pemeriksaan namun tidak di temukan apa-apa”

Musculoskeletal:
- “Saya telah belajar untuk hidup dalam kelemahan dan kelelahan sepanjang
waktu”

Sensoris:
- “Pandangan saya kabur seperti berkabut, tetapi dokter mengatakan kacamata
tidak akan membantu”

6
Beberapa tipe utama dari gangguan somatoform adalah gangguan
konversi, hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh, dan gangguan somatisasi.

2.6 Klasifikasi
F45 Gangguan Somatoform

Gangguan Somatoform berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi3:

F.45.0 gangguan somatisasi

F.45.1 gangguan somatoform tak terperinci

F.45.2 gangguan hipokondriasis

F.45.3 disfungsi otonomik somatoform

F.45.4 gangguan nyeri somatoform menetap

F.45.5 gangguan somatoform lainnya

F.45.6 gangguan somatoform YTT

DSM-IV, ada tujuh kelompok, lima sama dengan klasifikasi awal dari
PPDGJ ditambah dengan gangguan konversi, dan gangguan dismorfik tubuh. Pada
bagian psikiatri, gangguan yang sering ditemukan di klinik adalah gangguan
somatisasi dan hipokondriasis.

Contoh Penyusunan Diagnosis multiaksial:


Aksis I : Gangguan somatoform, somatisasi
Aksis II : Tidak ada diagnosis aksis II
Aksis III : Tidak ada diagnosis aksis III
Aksis IV : Masalah dengan keluarga
Aksis V : GAF Scale 51-60: gejala sedang, disabilitas sedang

7
2.7 Pedoman Diagnostik Gangguan Somatoform3
Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang
berulang disertai dengan permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-
kali terbukti hasilnya negative dan kelainan yang menjadi dasar keluhan.

F45.0 Gangguan Somatisasi


Pedoman Diagnostik
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut:
a) Ada banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak
dapat dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik, yang sudah berlangsung
sedikitnya 2 tahun.
b) Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari bebarapa dokter bahwa
tidak ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhannya.
c) Terdapat disabilitas dalam fungsinya dimasyarakat dan keluarga, yang
berkaitan dengan sifat keluha-keluhannya dan dampak dari prilakunya

F45.1 Gangguan Somatoform Tak Terinci


Pedoman Diagnostik
Untuk pedoman diagnostik somatoform tak terinci dalam PPDGJ-III sebagai
berikut:
1. Keluhan-keluhan fisik bersifat multiple, bervariasi dan menetap akan
tetapi gambaran klinis yang khas dan lengkap dari gangguan somatisasi
tidak terpenuhi.
2. Kemungkinan ada ataupun tidak factor penyebab psikologis belum jelas,
akan tetapi tidak boleh ada penyebab fisik dari keluhan-keluhanya.
Atau:
 Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu
makan, keluhan gastrointestinal atau saluran kemih)
 Salah satu (1)atau (2)
A. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau

8
oleh efek langsung dari suatu zat (misalnya efek cedera,
medikasi, obat, atau alkohol)
B. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan
fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang
ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan
menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan
laboratonium.
 Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi
penting lainnya. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
 Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain
(misalnya gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood,
gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau gangguan psikotik).
 Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
Diagnosis multiaksial
Axis I : Gangguan somatoform, somatisasi
Axis II : tidak ada diagnosisi aksis II
Axis III : tidak ada diagnosis aksis III
Axis IV : tidak ada stressor
Axis V : 61-70

F45.2 Gangguan Hipokondrik


Untuk diagnosis pasti, kedua hal ini harus ada:
a) Keyakinan yg menetap adanya sekurang-kurangnya satu penyakit fisik yg
serius yg melandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemerikasaan yg
berulang-ulang tidak menunjang adanya alasan fisik yg memadai, ataupun
adanya peokupasi yg menetap kemungkinan deformitas atau perubahan
bentuk penampakan fisiknya ( tidak sampai waham);

9
b) Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari bebearap
dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yg
melandasi keluhan.

F45.3 Disfungsi Otonomik Somatoform


Pedoman diagnostik
Diagnosis pasti, memerlukan semua hal berikut:
a) Adanya gejala-gejala bangkitan otonomik, seperti palpitasi, berkeringat,
tremor, muka panas/”flushing”, yg menetap dan mengganggu;
b) Gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau orgab tertentu (gejala
tidak khas);
c) Preokupasi dengan dan penderitaan (disterss) mengenai kemungkinan
adanya gangguan yang serius (sering tidak begitu khas) dari sistem atau
organ tertentu, yg tidak terpengaruh oleh hasil pemeriksaan berulang,
maupun penjelasan dari para dokter;
d) Tidak terbukti adanya gangguan yg cukup berarti para struktur/fungsi dari
sistem atau organ yg dimaksud.

F45.4 Gangguan Nyeri Somatoform Menetap


Pedoman diagnostik
a) Keluhan utama adalah nyeri berat, menyiksa dan menetap, yang tidak
dapat dijelaskan sepenuhnya atas dasar proses fisiologik maupun adanya
gangguan fisik.
b) Nyeri timbul dalam hbungan dengan adanya konflik emosional atau
problem psikososial yg cukup jelas untuk dapat dijadikan alasan dalam
mempengaruhi terjadinya gangguan tersebut.
e) Dampaknya adalah meningkatnya perhatian dan dukungan, baik personal
maupun medis, untuk yang bersangkutan.

10
F45.8 Gangguan Somatoform lainnya
Pedoman diagnostik
• Pada gangguan ini keluhan-keluhannya tidak melalui sistem saraf otonom,
dan terbatas secara spesifik pada bagian tubuh atau sistem tertentu. Ini
sangat berbeda dengan gangguan Somatisasi (F45.0) dan Gangguan
Somatoform Tak Terinci (F45.1) yg menunjukkan keluhan yg banyak dan
berganti-ganti
• Tidak ada kaitan dengan adanya kerusakan jaringan.
• Gangguan berikut juga dimasukkan dalam kelompok ini:
a) “globus hystericus” (perasaan ada benjolan di kerongkongan yg
menyebabkan disfagia) dan bentuk disfagia lainnya.
b) Tortikolis psikogenik, dan gangguan gerakan spasmodik lainnya
(kecuali sindrom Tourette);
c) Pruritus psikogenik;
d) Dismenore psikogenik;
e) “teet grinding”

F45.8 Gangguan Somatoform YTT

2.8 Tatalaksana
Tujuan pengobatan
1. Mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak membenarkan
pemikiran/meyakinkan bahwa gejala hanya ada dalam pikiran tidak
untuk kehidupan nyata).
2. Meminimalisir biaya dan komplikasi dengan menghindari tes-tes
diagnosis, treatment, dan obat-obatan yang tidak perlu.
3. Melakukan kontrol farmakologis terhadap sindrom komorbid
(memperparah kondisi).

Strategi dan teknik psikoterapi dan psikososial


1. Pengobatan yang konsisten, ditangani oleh dokter yang sama
2. Buat jadwal regular dengan interval waktu kedatangan yang memadai

11
3. Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke personal dan ke
masalah sosial.

Strategi dan teknik farmakologikal dan fisik


1. Diberikan hanya bila indikasinya jelas
2. Hindari obat-obatan yang bersifat adiksi
3. Anti anxietas dan antidepressant.

2.9 OBAT ANTI – ANXIETAS


1. Golongan Benzodiazepin
 Diazepam (Lovium, Mentalium, Valium dll.)
 Chlordiazepoxide ( Cetabrium, Tensinyl, dll.)
 Bromazepam (Lexotan)
 Lorazepam (Ativan, Renaquil, Merlopan)
 Alprazolam (Xanax, Alganax, Calmlet, dll.)
 Clobazam (Frisium)
2. Golongan Non- Benzodiazepin
 Buspirone (Buspar, Tran-Q, Xiety)
 Sulpiride (Dogmatil-50)
 Hydroxyzine (Iterax)

2.10 OBAT ANTI – DEPRESI


1. Golongan Tricyclic Compound
 Amitriptyline (Amitriptyline)
 Imipramine (Tofrani)
 Clomipramine (Anafranil)
 Tianeptine (stablon)
2. Golongan Tetracyclic Compound
 Maprotiline (Ludiomil)
 Mianserin (Tolvon)
 Amoxapine (asendin)

12
3. Golongan Mono-Amine-Oxydase Inhibitor (MAOI)- Reversible
 Moclobemide (Aurorix)
4. Golongan Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitor (SSRI)
 Sertraline (Zoloft)
 Paroxetine (Seroxat)
 Fluvoxamine (Luvox)
 Fluoxetine (Prozac, Nopres)
 Citalopram (Cipram)
5. Golongan atypical Antidepresants
 Trazodone (Trazone)
 Mirtazapine (Remeron)

2.11 Prognosis
Dubia et malam. Pasien susah sembuh walau sudah mengikuti pedoman
pengobatan. Sering kali pada pasien wanita berakhir pada percobaan bunuh diri.

2.12 Somatoform Tak Terinci


A. Definisi
Gangguan somatoform tak terinci adalah gangguan yang memiliki
keluhan-keluhan fisik bersifat multiple, bervariasi dan menetap, akan
tetapi gambaran klinis yang khas dan lengkap dari gangguan somatisai
tidak terpenuhi.

B. Penyebab Dan Gejala


Gejala-gejala gangguan somatoform tak terinci sangat bervariasi
dari orang ke orang. Beberapa keluhan fisik yang paling umum adalah
rasa sakit, kelelahan , kehilangan nafsu makan, dan berbagai masalah
pencernaan. Keluhan fisik umumnya berlangsung lama. Pasien dengan

13
gangguan somatoform tak terinci cenderung mengeluh banyak masalah
fisik yang berbeda dari waktu ke waktu.
Tidak peduli apa gejala yang dikeluhkan seseorang, karakteristik
keluhan yang menyeluruh adalah bahwa tidak ada alasan fisik yang dapat
ditemukan untuk mereka. Tes laboratorium dan pemeriksaan menyeluruh
oleh dokter tidak akan menunjukkan alasan medis atas rasa sakit atau
masalah yang dialami orang tersebut. Namun, masalah fisik tetap ada
setelah orang tersebut diberi tahu bahwa tidak ada penjelasan yang dapat
ditemukan.
Penyebab gangguan somatoform somatoform tak terinci tidak jelas.
Beberapa ahli percaya bahwa masalah dalam keluarga ketika orang yang
terkena adalah seorang anak mungkin terkait dengan perkembangan
gangguan ini. Depresi dan stres dianggap sebagai penyebab lain yang
mungkin. Penyebab lain yang mungkin, terutama pada orang yang
bereaksi berlebihan bahkan pada kondisi medis ringan, termasuk
membayar perhatian obsesif terhadap perubahan kecil atau sensasi apa
pun yang dialami tubuh mereka. Mereka memberikan perasaan berat
yang tidak perlu dan khawatir tidak perlu tentang mereka.

C. Edidemiologi dan Faktor Resiko


Gangguan somatoform somatoform tak terinci relatif umum.
Diperkirakan bahwa antara 4% dan 11% dari populasi mengalami
gangguan pada suatu saat dalam hidup mereka. Perempuan lebih
mungkin daripada laki-laki untuk memiliki gangguan somatoform yang
tidak dibedakan, seperti orang tua dan orang dengan latar belakang
sosial ekonomi rendah. Perempuan muda yang memiliki status sosial
ekonomi rendah adalah kelompok yang paling mungkin memiliki
gangguan somatoform tak terinci. Lima puluh persen dari orang-orang
dengan gangguan ini memiliki gangguan psikologis atau kejiwaan lain
juga, seperti kecemasan atau depresi.

14
D. Diagnostik dan Diagnostik Multiaksial

Pedoman Diagnostik
Untuk pedoman diagnostik somatoform tak terinci dalam PPDGJ-III sebagai
berikut:
3. Keluhan-keluhan fisik bersifat multiple, bervariasi dan menetap akan
tetapi gambaran klinis yang khas dan lengkap dari gangguan somatisasi
tidak terpenuhi.
4. Kemungkinan ada ataupun tidak factor penyebab psikologis belum jelas,
akan tetapi tidak boleh ada penyebab fisik dari keluhan-keluhanya.
Atau:
 Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu
makan, keluhan gastrointestinal atau saluran kemih)
 Salah satu (1)atau (2)
A. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau
oleh efek langsung dari suatu zat (misalnya efek cedera,
medikasi, obat, atau alkohol)
B. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan
fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang
ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan
menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan
laboratonium.
 Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi
penting lainnya. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
 Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain
(misalnya gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood,
gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau gangguan psikotik).
 Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).

15
Diagnosis multiaksial
Axis I : Gangguan somatoform, somatisasi
Axis II : tidak ada diagnosisi aksis II
Axis III : tidak ada diagnosis aksis III
Axis IV : tidak ada stressor
Axis V : 61-70

E. Terapi
Tujuan pengobatan
1. Mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak membenarkan
pemikiran/meyakinkan bahwa gejala hanya ada dalam pikiran tidak
untuk kehidupan nyata).
2. Meminimalisir biaya dan komplikasi dengan menghindari tes-tes
diagnosis, treatment, dan obat-obatan yang tidak perlu.
3. Melakukan kontrol farmakologis terhadap sindrom komorbid
(memperparah kondisi).
Strategi dan teknik psikoterapi dan psikososial
1. Pengobatan yang konsisten, ditangani oleh dokter yang sama
2. Buat jadwal regular dengan interval waktu kedatangan yang memadai
3. Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke personal dan ke
masalah sosial.
Strategi dan teknik farmakologikal dan fisik
1. Diberikan hanya bila indikasinya jelas
2. Hindari obat-obatan yang bersifat adiksi
3. Anti anxietas dan antidepressant.

F. Prognosis
Bervariasi, sulit diprediksi karena prognosisnya bergantung pada gejala yang
lebih dominan.

16
BAB 3
BAB III

KESIMPULAN

1. Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala


fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat
ditemukan penjelasan medis yang adekuat.

2. Sebagai Dokter wajib mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak
membenarkan pemikiran/meyakinkan bahwa gejala hanya ada dalam pikiran
tidak untuk kehidupan nyata).

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, H.I., Saddock, B.J., dan Grebb J.A., 2010. Kaplan-Sadock Sinopsis
Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Jilid 2. Jakarta: Binanupa
Aksara
2. Mansjoer, A., dkk (editor), 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1.
Penerbit Media Aesculapicus : Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura
3. Departemen Kesehatan R.I., 1995. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III Cetakan Pertama. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI
4. Elvira, S. D., dkk (editor), 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
5. Setio, M. (editor), 1994. Buku Saku Psikiatri. Jakarta: EGC

18