Anda di halaman 1dari 61

“Putusnya Harapan Keluarga”

Nota Pembelaan

1
KATA PENGANTAR

Majelis Hakim yang Mulia,


Saudara Penuntut Umum yang Terhormat,
Hadirin Sidang yang Kami Hormati.

Pertama-tama, perkenankan kami Tim Penasihat Hukum Terdakwa yang


berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 7 April 2017, pada kesempatan ini untuk
memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmat-Nya, persidangan ini dapat berjalan dengan aman dan tertib.

Sebelum memasuki uraian inti dari Pembelaan ini, perkenankanlah kami


untuk mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Majelis Hakim yang
Mulia atas kesempatan yang telah diberikan kepada kami untuk mengajukan
Pembelaan dalam perkara a quo. Adanya kesempatan bagi Terdakwa atau Penasihat
Hukumnya untuk mengajukan Pembelaan menjadi bukti nyata bahwa Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidana benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran
dan keadilan, dengan cara memberikan kesempatan baik bagi Penuntut Umum
maupun bagi Terdakwa atau Penasihat Hukumnya untuk mengemukakan dalil-dalil
atau pandangan-pandangannya masing-masing.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, melalui Surat Tuntutan Penuntut


Umum yang telah dibacakan di persidangan pada 30 Juli 2017, dalam perkara ini
Penuntut Umum dalam Surat Pelimpahan Perkara Acara Pemeriksaan Biasa Nomor
.4.15/Euh.2/05/2017 tanggal 9 Mei 2017 (selanjutnya disebut Surat Pelimpahan
Perkara atau Acte van Overwijzing), dengan lampiran Berkas Perkara Nomor Register
Perkara BP/86/IV/2017/RESKRIM tanggal 28 April 2017 (selanjutnya disebut
Berkas Perkara), dan Surat Dakwaan Penuntut Umum Nomor Register Perkara :
PDM- 35/SLMN/Epp.2/05/2017 tanggal 14 Mei 2017 (selanjutnya disebut Surat
Dakwaan), telah diajukan Terdakwa dengan keterangan sebagai berikut:

Nama : NURLELA
Tempat lahir : Sleman
Umur/tanggal lahir : 44 (empat puluh empat tahun) / 2 Februari 1973

Jenis Kelamin : Perempuan


Kebangsaan : Indonesia
Tempat tinggal : Jalan Kaliurang Km. 5 Gang Jeruk No. 10, Sleman, Daerah
Istimewa Yogyakarta

2
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA)
Status Terdakwa : Ditahan

Bahwa untuk menguak kebenaran yang hakiki dan sesungguhnya dari perkara
ini, setelah mempelajari Surat Dakwaan dan Tuntutan Penuntut Umum baik terhadap
dasar hukum yang digunakan maupun peristiwa yang diuraikan, kami selaku Tim
Penasihat Hukum Terdakwa akan mengajukan Pembelaan kami.

Pembelaan yang kami susun dan ajukan dengan sistematika yang ilmiah agar
mudah dimengerti dan pada gilirannya dapat mencerahkan para catur wangsa di
persidangan ini, oleh karenanya, kami memutuskan untuk menyampaikan Pembelaan
dengan sistematika:

I. Pendahuluan 3
II. Tentang Surat Dakwaan dan Surat Tuntutan 6
III. Fakta Persidangan 10
1. Keterangan Saksi A Charge 10
2. Keterangan Ahli A Charge 16
3. Keterangan Saksi A De Charge 18
4. Keterangan Ahli A De Charge 22
5. Keterangan Terdakwa 24
6. Alat Bukti dan Barang Bukti Lainnya 26
IV. Analisis Fakta 28
1. Surat Dakwaan 28
2. Surat Tuntutan 34
3. Alat Bukti 37
V. Analisis Yuridis 43
VI. Analisis Sosiologis 56
VII. Kesimpulan dan Permohonan 60

3
PEMBELAAN
I. PENDAHULUAN

Majelis Hakim yang Mulia,


Saudara Penuntut Umum yang Terhormat,
Hadirin Sidang yang Kami Hormati.

Sebelum membacakan Pembelaan ini, terlebih dahulu perkenankanlah kami


selaku Tim Penasihat Hukum Terdakwa NURLELA untuk memanjatkan puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang atas bimbingan dan rahmat-Nya kita semua
dapat menghadiri persidangan ini untuk memperjuangkan dan mengurai kebenaran
yang sebenar-benarnya.
Kami Tim Penasihat Hukum Terdakwa NURLELA yang tediri dari Joshua
Oloan Simanjuntak, S.H., LL.M. dan Haninda Sarah, S.H. yang telah diberi kuasa
berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor : No. 45/SP/SKK tertanggal 7 April 2017
telah memilih tempat kediaman hukum tetap (domisili) di KANTOR ADVOKAT
“SIMANJUNTAK AND PARTNERS” di Jalan Adi Pradana No. 17 Yogyakarta
Dari lubuk hati yang terdalam, kami merasa berkewajiban untuk
menyampaikan penghargaan dan rasa hormat kami yang setulus-tulusnya kepada
Majelis Hakim, terutama kepada Bapak Hakim Ketua, yang telah memimpin dan
menata jalannya sidang pemeriksaan perkara ini sedemikian rupa sehingga
pemeriksaan perkara ini dapat terselenggara secara teliti, dalam suasana sabar, arif
dan bijaksana. Dalam kesempatan ini tidak lupa kami untuk menyampaikan terima
kasih kepada saudara Penuntut Umum atas kerjasama yang baik dengan kami Tim
Penasihat Hukum Terdakwa dalam setiap acara pemeriksaan perkara ini. Semoga
kebenaran dapat menerangi jalannya proses pemeriksaan perkara yang sedang
berlangsung ini.
Bahwasannya perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa pada
hakikatnya bukan merupakan perbuatan pidana, tetapi oleh Penuntut Umum dibawa
ke muka Pengadilan Negeri Sleman yang Mulia ini. Sehingga demi tercapainya
keadilan bagi terdakwa, maka sudah merupakan kewajiban kami selaku Tim
Penasihat Hukum Terdakwa sebagai officium nobile untuk mengurai kebenaran yang
hakiki dari perkara ini.
Untuk itulah, Tim Penasihat Hukum Terdakwa memberi judul “PUTUSNYA
HARAPAN KELUARGA” pada pembelaan ini, karena kami meyakini bahwa sekali
lagi telah terjadi ketidakadilan dalam penegakan hukum bagi Terdakwa. Terdakwa
yang selama bertahun-tahun pernikahannya bersabar dan berusaha menjadi istri yang

4
sholehah, baik, serta mengabdi kepada suaminya. Terlebih lagi, Terdakwa
NURLELA merupakan korban dari perselingkuhan suaminya yaitu saksi korban Jojo
Sukarjo sendiri. Akibat perselingkuhan yang telah dilakukan oleh suami sekaligus
saksi korban tersebut Terdakwa mengalami gangguan jiwa ditambah lagi
penelantaran yang dilakukan oleh sang suami terhadap kebutuhan rohani Terdakwa
sebagai seorang istri yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang seorang Suami,
tetapi apa yang dilakukan oleh Saksi Korban malahan membiarkan Terdakwa larut
dalam kecemburuan akibat hubungan kerja Saksi Korban dengan wanita lain yaitu
Saksi Ayu Vallen yang merupakan bawahan dari Saksi Korban, apakah hubungan
kerja tersebut menjadi hubungan intim? Hanya Saksi Korbanlah yang tahu
kebenarannya, seorang suami yang beritikad baik menjaga rumah tangga seharusnya
meluruskan kesalahpahaman dalam hubungan mereka.
Bagaimana mungkin keadilan dapat ditegakkan dan dicapai apabila sampai
dengan saat ini Penuntut Umum masih tidak memiliki hatu nurani dan seperti
membabi buta dengan egoisnya memidanakan orang? Masih adakah keadilan di
Negeri ini? Oleh karenanya, tidak henti-hentinya Kami berharap agar Majelis Hakim
yang Mulia dapat kembali membawa perkara a quo ke jalan penegakan hukum yang
benar dan seharusnya sehingga pada gilirannya dapat memutus perkara a quo dengan
seadil-adilnya. Ingatlah bahwa:
Kami meletakkan harapan yang sangat besar kepada Majelis Hakim Yang
Terhormat untuk mempertimbangkan berbagai aspek yang saling berkaitan dalam
menjatuhkan Putusan perkara ini sehingga tidak hanya menjunjung kepastian hukum,
namun juga keadilan dan kemanfaatan baik bagi NURLELA dan seluruh pihak yang
tak mungkin Kami sebutkan satu per satu. Yang terpenting Putusan perkara ini nanti
haruslah benar berasaskan:
“DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”

5
II. TENTANG SURAT DAKWAAN DAN SURAT
TUNTUTAN

Majelis Hakim yang Mulia,


Saudara Penuntut Umum yang Terhormat,
Hadirin Sidang yang Kami Hormati.

Surat Dakwaan
Penuntut Umum dalam Surat Dakwaannya, telah mencoba menggambarkan
suatu peristiwa pidana yang dilakukan oleh Terdakwa Nurlela. Jalinan peristiwa
pidana tersebut, sebagaimana yang telah diuraikan dalam Surat Dakwaan oleh
Saudara Jaksa Penuntut Umum. Dalam persidangan perkara a quo, NURLELA
didudukan sebagai Terdakwa dengan dakwaan tunggal sebagai berikut:

A. DAKWAAN
Bahwa ia TERDAKWA NURLELA, pada waktu antara tanggal 14 Februari
2017, atau setidak-tidaknya pada bulan Februari 2017, atau setidak-tidaknya
pada waktu tertentu dalam tahun 2017; bertempat di rumah Terdakwa yang
beralamat di Jalan Kaliurang Km 5 Gang Jeruk Nomor 10, Sleman, Daerah
Istimewa Yogyakarta, atau setidak-tidaknya di tempat-tempat yang masih
termasuk dalam daerah hukum pada Pengadilan Negeri Sleman; melakukan
kekerasan fisik dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah
tangganya yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat;
yakni secara melawan hukum melakukan pemotongan terhadap alat kelamin
KORBAN JOJO SUKARJO yang merupakan suami Terdakwa yang dilakukan
TERDAKWA dengan cara-cara sebagai berikut:

- Bahwa TERDAKWA merupakan istri dari KORBAN JOJO SUKARJO dan


telah menikah sejak 6 Juli 1994 yang ditunjukkan dengan Kutipan Akta
Nikah atas nama JOJO SUKARJO dan NURLELA dengan Nomor
129/06/VII/1994 serta memiliki dua orang anak yang bernama SAKSI
JAMIL PUTRA dan SRI PERSIK yang ditunjukkan dengan Kartu Keluarga
atas nama Kepala Keluarga JOJO SUKARJO dengan Nomor Kartu Keluarga
1371101004120005;
- Bahwa keluarga TERDAKWA dikenal sebagai keluarga yang harmonis oleh
kalangan sosial dan tetangga;

6
- Bahwa setelah KORBAN JOJO SUKARJO menjadi anggota dewan direksi
PT. Abebochi Sukses Makmur, KORBAN JOJO SUKARJO jarang kembali
ke rumah dan jarang pula berkomunikasi dengan TERDAKWA serta anak-
anaknya. Sebagai gantinya, KORBAN JOJO SUKARJO memberikan uang
bulanan yang banyak kepada TERDAKWA dan anak-anaknya agar mereka
tetap merasa tercukupi. Tetapi, menurut TERDAKWA apa yang dilakukan
oleh KORBAN JOJO SUKARJO justru tidak membawa kebahagiaan dan
ketentraman dalam rumah tangga mereka;
- Bahwa pada tanggal 12 Februari 2017, TERDAKWA menemukan pesan
singkat Whatsapp yang berisikan kalimat mesra antara KORBAN JOJO
SUKARJO seorang perempuan yang bernama SAKSI AYU VALLEN yang
belakangan diketahui bekerja sebagai Manajer Bagian Kerjasama di kantor
yang sama dengan KORBAN JOJO SUKARJO. Awalnya, TERDAKWA
menanyakan perihal percakapan tersebut kepada KORBAN JOJO
SUKARJO, tetapi KORBAN JOJO SUKARJO mengaku bahwa hubungan
dirinya dan SAKSI AYU VALLEN hanyalah teman kantor biasa;
- Bahwa TERDAKWA marah besar setelah pada tanggal 14 Februari 2017
TERDAKWA menerima sebuah foto dari teman baiknya yang bernama
SAKSI TEJO BASUKI, foto tersebut menunjukkan bahwa KORBAN JOJO
SUKARJO terlihat di lobby Hotel Tentrem pada pukul 15.00 dengan seorang
wanita;
- Bahwa setelah dikirimi foto tersebut oleh SAKSI TEJO BASUKI,
TERDAKWA mengenali bahwa wanita yang ada dalam foto tersebut adalah
SAKSI AYU VALLEN yang pernah didapati terlibat percakapan mesra
melalui Whatsapp dengan KORBAN JOJO SUKARO pada tanggal 12
Februari 2017;
- Bahwa pada malam harinya pada pukul 19.00 WIB tanggal 14 Februari
2017, TERDAKWA menunggu kepulangan KORBAN JOJO SUKARJO di
ruang tamu rumah mereka. Pada pukul 19.15 WIB,KORBAN JOJO
SUKARJO memasuki rumah dan TERDAKWA menyambut KORBAN
JOJO SUKARJO lalu mengajaknya untuk makan malam bersama. Setelah
makan malam, sekitar pukul 21.00 WIB kedua pasang suami istri tersebut
mandi dan bersiap untuk tidur. Sebelum tidur, mereka bercakap-cakap dan
bersenda gurau sambil makan buah di kamar.
- Bahwa setelah beberapa saat sekitar pukul 22.00 WIB, KORBAN JOJO
SUKARJO pun terpancing untuk melakukan hubungan seksual suami-istri.
KORBAN JOJO SUKARJO mengajak TERDAKWA untuk beranjak ke
ranjang di kamar tidur mereka. Ketika berhubungan seksual tersebut,

7
KORBAN JOJO SUKARJO dalam keadaan ditutup matanya menggunakan
dasi yang diikatkan oleh TERDAKWA.
- Bahwa ditengah hubungan seksual, KORBAN JOJO SUKARJO
menyebutkan kata “Ayu”, mendengar kata “Ayu” tersebut TERDAKWA
pun terkejut serta mengira KORBAN JOJO SUKARJO pernah terlibat
hubungan seksual dengan SAKSI AYU VALLEN dan karena terbakar
cemburu lalu TERDAKWA mendorong KORBAN JOJO SUKARJO dan
sontak meraih pisau yang sebelumnya digunakan untuk memotong buah lalu
menebas alat kelamin KORBAN JOJO SUKARJO.
- Bahwa kemudian sekitar pukul 22.30 KORBAN JOJO SUKARJO pun
berteriak – teriak minta tolong dan SAKSI JAMIL PUTRA pun terbangun
dari tidur. Saat pintu kamar tidur KORBAN JOJO SUKARJO dibuka,
SAKSI JAMIL PUTRA melihat KORBAN JOJO SUKARJO bersimbah
darah. SAKSI JAMIL PUTRA dengan segera mencoba menghentikan
pendarahan yang dialami ayahnya dengan mengikatkan kain dari baju yang
berserakan dibawah kasur. Dalam keadaan yang sangat panik, TERDAKWA
melarikan diri;
- SAKSI JAMIL PUTRA lalu membawa KORBAN JOJO SUKARJO ke
Rumah Sakit Umum Pusat dr. Sardjito untuk mendapatkan pertolongan
pertama.

Perbuatan TERDAKWA tersebut di atas sebagaimana diatur dan diancam


Pidana dalam Pasal 44 ayat (2) jo. Pasal 44 ayat (1) jo. Pasal 5 huruf (a)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Surat Tuntutan
Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya, berusaha untuk menjatuhkan
sanksi pidana terhadap Terdakwa Nurlela. Dalam persidangan perkara a quo, dengan
tuntutan sebagai berikut:

MENUNTUT:

Supaya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sleman yang memeriksa dan


mengadili perkara ini memutus sebagai berikut:

8
1. Menyatakan Terdakwa NURLELA terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah melakukan tindak pidana “Melakukan kekerasan fisik yang
mengakibatkan luka berat pada alat kelamin korban” sebagaimana dimaksud
dalam Dakwaan: Pasal 44 ayat (2)jo. Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
dalam Rumah Tangga.

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa berupa pidana penjara selama 3 (tiga)


tahun dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan, dengan perintah
Terdakwa tetap ditahan.

3. Menyatakan barang bukti berupa : 1 (Satu) buah Pisau dapur merek SHUN
CLASSIC 8” dengan bercak darah, 1 (Satu) buah kain pengikat gaun tidur
milik Nurlela dengan bercak darah, 1 (Satu) buah selimut dengan bercak
darah, 1 (Satu) buah bantal dengan bercak darah, 1 (Satu) buah guling dengan
bercak darah, 1 (Satu) buah sarung bantal dengan bercak darah, 1 (Satu) buah
sarung guling dengan bercak darah dikembalikan kepada Korban Jojo
Sukarjo.

4. Menetapkan agar Terdakwa,membayar biaya perkara sebesar Rp 5.000(Lima


ribu rupiah)

Demikian Surat Tuntutan ini Kami bacakan dan serahkan dalam persidangan
pada hari Senin tanggal 6 Agustus 2017.

9
III. FAKTA PERSIDANGAN

Dalam Surat Tuntutannya, Penuntut Umum tidak menyajikan keterangan


saksi-saksi secara lengkap, utuh dan apa adanya, melainkan dengan secara sewenang-
wenang menambah, mengutip sepotong-sepotong dan bahkan memanipulasi
keterangan saksi-saksi dan terdakwa dengan maksud agar dakwaannya terhadap
terdakwa terbukti. Tidak adanya niat Penuntut Umum secara sengaja untuk
memanipulasi keterangan-keterangan tersebut harus dianggap sebagai ketidak-
profesionaan Penuntut Umum atas keterangan saksi-saksi dan Terdakwa oleh
karenanya resume tersebut harus dianggap tidak akurat.
Oleh karenanya, demi memberikan bahan pertimbangan bagi Majelis Hakim
yang Mulia agar tidak hanya mempertimbangkan perkara semata dari resume
Penuntut Umum yang tidak akurat, Kami selaku Tim Penasihat Hukum Terdakwa
memberikan resume Fakta Persidangan yang terungkap selama proses pemeriksaan
pada Pengadilan yang Mulia ini.

1. Keterangan Saksi A Charge


Bahwa dalam Persidangan Penuntut Umum telah mengajukan alat bukti
Keterangan Saksi a charge berupa:
I. Keterangan Saksi-saksi:
a. JOJO SUKARJO, Tempat Tanggal Lahir Kulonprogo, 1 Januari 1968, Umur
50 Tahun, Jenis Kelamin Laki-Laki, Pekerjaan Swasta, Kewarganegaraan
Indonesia, Alamat Jalan Kaliurang KM 5, Gang Jeruk Nomor 10, Depok,
Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Memberikan
keterangan di bawah sumpah di persidangan pada pokoknya sebagai berikut:
 Bahwa benar KORBAN JOJO SUKARJO membenarkan keterangan yang
telah diberikan di dalam BAP di hadapan Penyidik Polres Sleman.
 Bahwa benar KORBAN JOJO SUKARJO ada hubungan keluarga dengan
TERDAKWA, yaitu sebagai suami TERDAKWA.
 Bahwa benar pada saat dilakukan pemeriksaan KORBAN JOJO SUKARJO
mengerti dirinya diperiksa sehubungan dengan perkara kekerasan dalam
rumah tangga yang dilakukan oleh TERDAKWA terhadap KORBAN JOJO
SUKARJO yang terjadi pada hari Rabu tanggal 14 Februari 2017 sekira pukul
22.30 WIB sampai 23.30 WIB di Rumah KORBAN JOJO SUKARJO
tepatnya di Jalan Kaliurang KM 5, Gg Jeruk No.10, Sleman, DIY.

10
 Bahwa benar KORBAN JOJO SUKARJO saat itu baru saja pulang dari
kantor karena urusan pekerjaan pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB,
kemudian ketika masuk ke Rumah, TERDAKWA sudah menunggu kehadiran
KORBAN JOJO SUKARJO di ruang tamu rumah mereka dan mengajak
KORBAN JOJO SUKARJO untuk makan malam bersama.
 Bahwa benar setelah makan malam, KORBAN JOJO SUKARJO dan
TERDAKWA beranjak ke dalam kamar tidur dan bercakap-cakap di kamar
tidur. Pada saat bercakap-cakap TERDAKWA menyiapkan buah untuk
disantap KORBAN JOJO SUKARJO.
 Bahwa benar KORBAN JOJO SUKARJO lalu mengajak TERDAKWA untuk
melakukan hubungan seksual yang disetujui oleh TERDAKWA. Ditengah-
tengah hubungan seksual KORBAN JOJO SUKARJO menyebutkan kata
“Ayu” yang menyinggung TERDAKWA. TERDAKWA yang marah besar
karena cemburu, kemudian mendorong KORBAN JOJO SUKARJO dan
mengambil pisau dapur diatas nakas dan memotong alat kelamin KORBAN
JOJO SUKARJO.
 Bahwa benar KORBAN JOJO SUKARJO merasa kesakitan dan beteriak
meminta pertolongan yang menyebabkan anaknya SAKSI JAMIL PUTRA
masuk ke dalam kamar dan berusaha menghentikan pendarahan yang dialami
KORBAN JOJO SUKARJO dan membawa KORBAN JOJO SUKARJO ke
Rumah Sakit Umum Pusat Dr.Sardjito untuk ditangani lebih lanjut. Bahwa
KORBAN JOJO SUKARJO menyatakan saat SAKSI JAMIL PUTRA
melakukan pertolongan terhadapnya, TERDAKWA berhasil melarikan diri.
 Bahwa benar pada sekitar tahun 2014 SAKSI KORBAN pernah melakukan
perselingkuhan dengan wanita lain, tetapi sepengetahuan SAKSI KORBAN
kejadian tersebut telah diselesaikan dan TERDAKWA telah memaafkan
SAKSI KORBAN.
 Bahwa SAKSI KORBAN tidak tahu jika TERDAKWA mendapati gangguan
jiwa akibat kejadian perselingkuhan pada tahun 2014 silam akibat kurangnya
waktu SAKSI KORBAN untuk keluarga dikarenakan sibuknya pekerjaan
SAKSI KORBAN
 Bahwa SAKSI KORBAN jika ditanya apakah memaafkan perbuatan
TERDAKWA maka SAKSI KORBAN bersedia memaafkan apabila
TERDAKWA berusaha untuk berubah dan memperbaiki hubungan rumah
tangga TERDAKWA dan SAKSI KORBAN kembali.

Tanggapan Terdakwa:

11
Terhadap keterangan Saksi tersebut, TERDAKWA menyanggah bahwa SAKSI
KORBAN mengatakan “ayu” sebagai ucapan “ayo lagi” dan pada waktu kejadian
pendengaran TERDAKWA tidak rusak dan mendengar dengan jelas SAKSI
KORBAN mengatakan “ayu”

b. JAMIL PUTRA, Tempat Tanggal Lahir Sleman, 3 Maret 1998, Umur 19


Tahun, Jenis KELAMIN Laki-Laki, Pekerjaan Mahasiswa, Kewarganegaraan
Indonesia, Alamat Jalan Kaliurang KM 5, Gang Jeruk Nomor 10, Depok,
Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Memberikan
keterangan tidak di bawah sumpah di persidangan pada pokoknya sebagai
berikut:
 Bahwa benar SAKSI JAMIL PUTRA membenarkan keterangan yang telah
diberikan di dalam BAP di Penyidik Polres Sleman.
 Bahwa benar saat diperiksa, SAKSI JAMIL PUTRA dalam keadaan sehat
jasmani dan rohani serta bersedia untuk dimintai keterangan dan akan
memberikan keterangan dengan sebenar-benarnya.
 Bahwa benar SAKSI JAMIL PUTRA faham dan dapat berbahasa Indonesia
yang baik dan benar.
 Bahwa benar SAKSI JAMIL PUTRA mengerti dan bersedia memberikan
keterangan sesuai dengan apa yang dilihat, didengar, dan dialami oleh Saksi.
 Bahwa benar SAKSI JAMIL PUTRA adalah anak kandung dari KORBAN
JOJO SUKARJO dan TERDAKWA
 Bahwa benar SAKSI JAMIL PUTRA lahir di Sleman pada tanggal 3 Maret
1998 dan tinggal bersama ayah kandung KORBAN JOJO SUKARJO dan ibu
kandung TERDAKWA dalam satu rumah hingga sekarang yaitu sekitar 19
tahun.
 Bahwa benar pekerjaan SAKSI JAMIL PUTRA sebagai Mahasiswa di
Universitas Gadjah Mada, Pendidikan terakhir saya SMA (tamat), asal
Sleman, dan bisa berbahasa Indonesia.
 Bahwa benar pada saat dilakukan pemeriksaan SAKSI JAMIL PUTRA
mengerti yaitu sehubungan dengan perkara kekerasan dalam rumah tangga
yang dilakukan oleh TERDAKWA terhadap suaminya, KORBAN JOJO
SUKARJO, yang terjadi pada hari Rabu tanggal 14 Februari 2017 sekira
pukul 21.00 WIB di Rumah KORBAN JOJO SUKARJO di Jalan Kaliurang
Km.5 Gang Jeruk No.10, Sleman, DIY.
 Bahwa benar hubungan antara TERDAKWA dan KORBAN JOJO
SUKARJO belakangan ini kurang harmonis.
 Bahwa SAKSI mengetahui kejadian perselingkuhan yang dilakukan SAKSI
KORBAN dengan wanita lain, SAKSI mengetahui kejadian ini karena SAKSI

12
melihat pertengkaran hebat antara TERDAKWA dan SAKSI KORBAN pada
tahun 2014 silam. Sejak kejadian perselingkuhan tersebut TERDAKWA
menjadi pendiam dan bahkan jarang bergaul dengan teman-temannya.
 Bahwa SAKSI sering mendapati TERDAKWA keluar rumah untuk pergi ke
rumah nenek SAKSI yaitu SAKSI TUKIYEM. Sepengetahuan SAKSI,
TERDAKWA pergi ke rumah nenek untuk melepas stress akibat hubungan
rumah tangga yang mulai merenggang.
 Bahwa benar KORBAN JOJO SUKARJO belakangan ini sibuk bekerja
sehingga jarang pulang ke rumah.
 Bahwa benar saat kejadian, SAKSI JAMIL PUTRA tengah tertidur dalam
kamarnya.
 Bahwa benar SAKSI JAMIL PUTRA kemudian terbangun mendengar
keributan yang berasal dari dalam kamar TERDAKWA, awalnya SAKSI
JAMIL PUTRA mengira orang tua SAKSI JAMIL PUTRA sedang bersenda
gurau atau sedang melakukan hubungan seksual, namun setelah didengar
dengan seksama SAKSI JAMIL PUTRA berfikir ada hal yang aneh,
kemudian SAKSI JAMIL PUTRA berlari ke kamar TERDAKWA dan
melihat KORBAN JOJO SUKARJO terbaring diatas ranjang dan merintih
kesakitan dengan alat kelamin yang sudah terpotong dan bersimbah darah.
 Bahwa benar SAKSI JAMIL PUTRA dalam keadaan panik mengambil baju
yang berserakan diatas lantai, lalu dengan sigap mengikatkan baju tersebut ke
alat kelamin KORBAN JOJO SUKARJO untuk menghambat pendarahan
yang terjadi.
 Bahwa benar SAKSI JAMIL PUTRA menoleh kearah TERDAKWA berniat
untuk menanyakan kejadian tersebut akan tetapi TERDAKWA melarikan diri
keluar rumah.
 Bahwa SAKSI JAMIL PUTRA menuntun KORBAN JOJO SUKARJO ke
dalam mobil dan segera membawanya ke Rumah Sakit Umum Pusat
dr.Sardjito.
 Bahwa SAKSI lupa kapan persisnya SAKSI berlari menuju kamar
TERDAKWA dan SAKSI KORBAN, tetapi seingat SAKSI sekitar jam 22.00
WIB
 Bahwa SAKSI tidak melihat Pisau dapur merk SHUN CLASSIC 8” di tempat
kejadian pada saat SAKSI mencoba menyelamatkan SAKSI KORBAN karena
SAKSI panik dan buru-buru memberikan pertolongan pertama pada SAKSI
KORBAN.
 Bahwa SAKSI tidak terpikir untuk menyimpan potongan penis SAKSI
KORBAN dikarenakan saksi tidak melihat potongan penis tersebut ditambah
lagi SAKSI tidak dapat berpikir jernih dikarenakan kepanikan SAKSI.

13
 Bahwa ketika SAKSI sedang di Rumah Sakit Sardjito, handphone SAKSI
KORBAN berdering dan SAKSI segera mengangkatnya karena SAKSI ingin
meminta pertolongan kepada kenalan ayah SAKSI yaitu SAKSI KORBAN
sendiri.
 Bahwa ketika SAKSI mengangkat panggilan, SAKSI AYU VALLEN
langsung menanyakan apakah bapak JOJO SUKARJO ada? SAKSI langsung
mengabari bahwa SAKSI KORBAN berada di Rumah Sakit Sardjito, SAKSI
AYU VALLEN menanyakan identitas pengangkat handphone dan
menanyakan kondisi SAKSI KORBAN, SAKSI AYU VALLEN mengatakan
bahw ia akan kerumah sakit.
 Bahwa sesampainya di rumah sakit, SAKSI AYU VALLEN lansung
menemui SAKSI dan membantu SAKSI mengurus administrasi rumah sakit.

Tanggapan Terdakwa:

Terdakwa membenarkan keterangan Saksi

c. AYU VALLEN, Tempat tanggal lahir Sleman 4 Mei 1990, Umur 28 tahun,
Jenis kelamin Perempuan, Kebangsaan Indonesia, Alamat Jalan Ringin Harjo
No. 23, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Agama Katholik, Pekerjaan
Karyawan Swasta Memberikan keterangan di bawah sumpah di persidangan
pada pokoknya sebagai berikut:
 Bahwa benar SAKSI AYU VALLEN membenarkan keterangan yang telah
diberikan di dalam BAP di Penyidik Polres Sleman.
 Bahwa benar saat diperiksa, SAKSI AYU VALLEN dalam keadaan sehat
jasmani dan rohani serta bersedia untuk dimintai keterangan dan akan
memberikan keterangan dengan sebenar-benarnya.
 Bahwa benar SAKSI AYU VALLEN faham dan dapat berbahasa Indonesia
yang baik dan benar.
 Bahwa benar SAKSI AYU VALLEN mengerti dan bersedia memberikan
keterangan sesuai dengan apa yang dilihat, didengar, dan dialami oleh Saksi.
 Bahwa benar SAKSI AYU VALLEN bekerja sebagai Manajer Bagian
Kerjasama di PT. Abebochi Sukses Makmur.
 Bahwa benar SAKSI AYU VALLEN mengenal KORBAN JOJO SUKARJO
yang merupakan direktur eksekutif di PT. Abebochi Sukses Makmur yang
juga merupakan tempat SAKSI AYU VALLEN bekerja.
 Bahwa benar SAKSI AYU VALLEN tidak memiliki hubungan darah,
semenda, dengan TERDAKWA dan juga Korban.
 Bahwa SAKSI AYU VALLEN tidak mengenal TERDAKWA.

14
 Bahwa SAKSI AYU VALLEN belum pernah bertemu dengan TERDAKWA.
 Bahwa SAKSI AYU VALLEN dan KORBAN JOJO SUKARJO hanyalah
teman kantor biasa yang tidak memiliki hubungan khusus.
 Bahwa benar pada tanggal 14 Februari 2017, SAKSI AYU VALLEN bersama
KORBAN JOJO SUKARJO masuk kedalam Hotel Tentrem sekitar pukul
12.30 WIB untuk makan siang bersama di restoran Hotel Tentrem.
 Bahwa benar SAKSI AYU VALLEN dan KORBAN JOJO SUKARJO
kemudian keluar dari hotel sekitar pukul 15.00 WIB.
 Bahwa SAKSI AYU VALLEN dan KORBAN JOJO SUKARJO pada saat itu
hanya melakukan perbincangan ringan seputar pekerjaan di kantor.
 Bahwa benar SAKSI AYU VALLEN dan KORBAN JOJO SUKARJO tidak
menyewa kamar ketika memasuki Hotel Tentrem.
 Bahwa SAKSI AYU VALLEN dan KORBAN JOJO SUKARJO sedang
terlibat sebuah proyek dari tempat mereka bekerja, sehingga SAKSI AYU
VALLEN dan KORBAN JOJO SUKARJO sering bertemu untuk membahas
proyek mereka.
 Bahwa SAKSI AYU VALLEN tidak pernah bermaksud untuk mengganggu
rumah tangga korban.
 Bahwa SAKSI AYU VALLEN dan KORBAN JOJO SUKARJO tidak
melakukan perselingkuhan.
 Bahwa SAKSI AYU VALLEN sama sekali tidak mengetahui pertengkaran
rumah tangga yang terjadi antara TERDAKWA dan KORBAN JOJO
SUKARJO.
 Bahwa benar SAKSI AYU VALLEN mengetahui kejadian pada tanggal 14
Februari 2017 setelah dihubungi oleh aparat hukum untuk dimintai
keterangan.
 Bahwa SAKSI AYU VALLEN pada tanggal 14 Februari 2018 sedang
mengerjakan tugas yang harus diselesaikan berdasarkan perintah SAKSI
KORBAN bersama-sama rekan kerja korban di gerai makanan cepat saji
McDonald di Jalan Kaliurang, KM 5,5, Caturtunggal, Depok, Sleman, karena
kesulitan SAKSI AYU VALLEN mencoba menelpon SAKSI KORBAN
tetapi yang mengangkat ternyata SAKSI JAMIL PUTRA
 Bahwa SAKSI JAMIL PUTRA yang mengangkat telpon genggam SAKSI
KORBAN memberitahu kemaluan SAKSI KORBAN baru dipotong oleh
istrinya sehingga SAKSI bermaksud menolong dan membuat janji dengan
SAKSI JAMIL PUTRA untuk bertemu di RS Sardjito
 Bahwa SAKSI mengurus administrasi perawatan SAKSI KORBAN pada
waktu SAKSI berada di Rumah Sakit dan SAKSI sempat mendampingi
korban di ICU

15
 Bahwa SAKSI melihat langsung kemaluan SAKSI KORBAN yang telah
dipotong.

Tanggapan Terdakwa:

Terhadap keterangan Saksi tersebut, TERDAKWA menyangkal pada bagian


tidak pernah melakukan perselingkuhan antara SAKSI AYU VALEN dengan
KORBAN dan tidak bermaksud untuk mengganggu rumah tangga KORBAN dan
TERDAKWA. TERDAKWA mengatakan bahwa keterangan SAKSI AYU VALEN
tersebut tidak benar, karena TERDAKWA melihat pesan pada whatsapp KORBAN,
di mana terdapat kata-kata mesra antara keduanya. TERDAKWA juga mengatakan
bahwa temannya, yaitu SAKSI TEDJO BASUKI mengirimkan foto yang
menggambarkan bahwa KORBAN dan SAKSI AYU VALLEN keluar dari Hotel
Tentrem berdua.

2. Keterangan Ahli A Charge


Bahwa dalam Persidangan Penuntut Umum telah mengajukan alat bukti
Keterangan Ahli a charge berupa:

a. Prof. Dr. Med. dr. DOLILA HARTINI, Sp.F.,Tempat Tanggal Lahir


Sleman, 25 Desember 1958, Jenis Kelamin Laki Laki, Kewarganegaraan
Indonesia, Alamat Jalan Gitogati No. 69. Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta Agama Buddha, Pekerjaan Dokter, Pendidikan Terakhir Strata 3,
Memberikan keterangan di bawah sumpah di persidangan pada pokoknya
sebagai berikut:

 Bahwa saat diperiksa, ahli dalam keadaan sehat jasmani dan rohani serta
bersedia untuk dimintai keterangan dan akan memberikan keterangan dengan
sebenar-benarnya.
 Bahwa ahli faham dan bisa berbahasa Indonesia.
 Bahwa ahli mengerti dan bersedia memberikan keterangan sesuai dengan
keahliannya, sesuai dengan hasil visum yang telah saksi lakukan dengan benar
dan sejujur-jujurnya.
 Bahwa riwayat pendidikan ahli dijabarkan sebagai berikut:
a. SD Gunung 05 Mexico Pagi Jakarta, 1981 – 1987
b. SMP Negeri 11 Jakarta, 1987 – 1990
c. SMA Negeri 70 Jakarta, 1990 – 1993
d. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1993 – 1997 (S-1)
e. Pendidikan Spesialis Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada 1997 – 1999

16
f. Master’s Programme of Heidelberg University Faculty of Medicinal
Science 2001 – 2003 (S-2)
g. Doctoral Programme of Heidelberg University Faculty of Medicinal
Science 2003 – 2006
 Bahwa Jabatan ahli sebagai kepala bagian I.K. Forensik Rumah Sakit
Sardjito.
 Bahwa dari hasil pemeriksaan ahli terhadap KORBAN JOJO SUKARJO yang
tertuang dalam Visum et Repertum, ditemukan bahwa alat kelamin Sdr. Jojo
Sukarjo (penis) putus total hingga pangkalnya (tidak ada sisa), serta luka iris
pada kulit bagian depan testikel/kantung pelirnya.
 Bahwa benar ahli merupakan orang yang melakukan visum terhadap
KORBAN JOJO SUKARJO dengan dibantu dengan beberapa rekan-rekan
dokter lainnya.
 Bahwa benar ahli dan rekan-rekannya melakukan visum terhadap KORBAN
JOJO SUKARJO pada tanggal 14 Februari 2017 pukul 23.58 WIB dan
dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat dr.Sardjito.
 Bahwa luka potong (velnus amputatum) biasanya terjadi karena adanya
gesekan antara permukaan kulit dan otot organ dengan suatu benda tajam
yang menyebabkan permukaan kulit serta otot terpotong dan menyebabkan
pendarahan yang berat karena terjadi kontak antara benda tajam tersebut
dengan pembuluh darah.
 Bahwa luka yang dialami oleh KORBAN JOJO SUKARJO merupakan velnus
amputatum. Sdr. Jojo Sukarjo mengalami luka potong pada batang penisnya
(penis shaft) hingga pangkalnya, sehingga tidak menyisakan batang penisnya
(putus total).
 Bahwa karena tidak berada di TKP, ahli merasa tidak berhak untuk
mengatakan apakah luka potong terjadi secara sengaja atau alpa, tetapi untuk
dapat menimbulkan luka potong pada sebuah organ yang cukup sulit untuk
diputuskan seperti penis manusia membutuhkan presisi dan juga tenaga yang
cukup besar.
 Bahwa menurut ahli, memotong bagian tubuh sebuah organisme vertebrata
besar cukup sulit apabila dilakukan dengan sebuah benda yang memiliki
tingkat ketajaman yang rendah dibandingkan apabila memotong organ tubuh
sebuah binatang vertebrata kecil seperti katak atau invertebrata, maka untuk
melaksanakan hal tersebut dengan mudah dibutuhkan sebuah benda yang
tingkat ketajamannya sangat tinggi, seperti pisau bedah atau pisau dapur
kualitas tinggi.
 Bahwa menurut pengalamannya sebagai seorang ahli forensik, terdapat
beberapa kasus dimana seorang korban dipotong dengan benda tajam seperti

17
pisau tetapi bagian tubuh yang dipotong tidak putus secara total, karena benda
tajam yang digunakan memiliki kualitas yang rendah atau tumpul.
 Bahwa selain velnus amputatum pada batang penis, terdapat pula luka irisan
pada kulit depan testikel (kantung pelir) kiri KORBAN JOJO SUKARJO.
Luka iris tersebut terjadi karena terjadinya gesekan antara benda tajam dengan
permukaan kulit tersebut.
 Bahwa menurut pengetahuannya, luka iris yang terjadi pada testikel
KORBAN JOJO SUKARJO kemungkinan besar tidak akan menyebabkan
disfungsi pada kemampuan reproduksi KORBAN JOJO SUKARJO. Namun
karena testikel memiliki saraf reseptor yang sangat sensitif, maka dapat
dipastikan bahwa KORBAN JOJO SUKARJO mengalami sakit yang luar
biasa pada bagian tersebut.
 Bahwa selain di penis dan testikel KORBAN JOJO SUKARJO, ahli tidak
menemukan adanya kejanggalan atau luka pada bagian tubuh lain KORBAN
JOJO SUKARJO.
 Bahwa tidak ada kerusakan pada otot, saraf, atau bagian tubuh lain KORBAN
JOJO SUKARJO selain yang disebutkan sebelumnya.
 Bahwa tidak ada keterangan lain yang ahli ingin berikan dan sudah cukup.
 Bahwa ahli sudah melihat dan meneliti KORBAN JOJO SUKARJO sesuai
dengan bidang keahliannya.
 Bahwa terhadap pertanyaan penasihat hukum mengenai apakah terdapat
dampak jangka panjang tentang luka potong pada penis korban, ahli
berpendapat bahwa karena velnus amputatum di lakukan pada batang penis
dan bukan pada kantung zakar, maka kemungkinan berubahnya kepribadian
sangat kecil atau bahkan tidak ada perubahan terhadap kepribadian dapat
terjadi apabila terdapat kerusakan pada bagian testikel, karena organ tersebut
berfungsi sebagai tempat produksi hormon testosteron untuk menimbulkan
karakteristik seorang pria.
 Bahwa ahli menerangkan bahwa velnus amputatum yang terjadi pada sebuah
organ yang cukup sulit untuk dijangkau membutuhkan presisi dan juga tenaga
yang cukup besar, namun ia tidak berani menyatakan apakah perbuatan
tersebut dilakukan secara sengaja atau tidak karena ia tidak berada pada TKP.

Tanggapan Terdakwa:

Terdakwa membenarkan keterangan Saksi

3. Keterangan Saksi A de Charge

18
Bahwa dalam Persidangan Penasihat Hukum telah mengajukan alat bukti
Keterangan Saksi a de charge berupa:

1. Saksi TUKIYEM lahir di Surakarta, 11 Desember 1955, umur 62 (enam puluh


dua) tahun, Perempuan, Warga Negara Indonesia, alamat di Jalan Dr. Soetomo
Nomor 47, Kecamatan Mangkubumen, Kelurahan Banjarsari, Kota Surakarta,
Jawa Tengah 57125, agama Islam, pekerjaan Ibu Rumah Tangga, Sekolah
Menengah Atas. Memberikan keterangan tidak di bawah sumpah di persidangan
pada pokoknya sebagai berikut:
 Bahwa SAKSI dalam keadaan tidak sehat tetapi siap untuk memberikan
keterangan sebenar-benarnya di depan persidangan.
 Bahwa SAKSI belum pernah diperiksa oleh penyidik sebelumnya.
 Bahwa SAKSI mengetahui alasan diminta untuk memberikan keterangan di
depan persidangan sehubungan dengan kejadian Kekerasan Dalam Rumah
Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh anak dari Saksi sekaligus Terdakwa
Nurlela.
 Bahwa SAKSI mengetahui lokasi kejadian yang berada di Rumah Terdakwa
dan SAKSI KORBAN di Jalan Kaliurang Km 5 Gang Jeruk Nomor 10,
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
 Bahwa JOJO SUKARJO merupakan istri dari NURLELA sekaligus Menantu
dari SAKSI
 Bahwa sudah kurang lebih 25 tahun lamanya pernikahan yang dijalani
TERDAKWA dan SAKSI KORBAN.
 Bahwa SAKSI menyaksikan sendiri pengucapan akad nikah TERDAKWA
dan SAKSI KORBAN
 Bahwa SAKSI KORBAN dan TERDAKWA tidak mengalami pertengkaran
dalam rumah tangga yang besar dalam 3 tahun terakhir dan tidak terdengar
kabar pertengkaran antara mereka.
 Bahwa SAKSI mengetahui pada sekitar tahun 2014 terjadi pertengkaran hebat
akibat terciduknya SAKSI KORBAN JOJO SUKARJO sedang berduaan di
dalam kamar hotel oleh Terdakwa.
 Bahwa SAKSI sempat menengahi konflik antara Terdakwa dan Saksi Korban
pada kejadian tahun 2014 dan berhasil merujuk mereka kembali.
 Bahwa TERDAKWA sering bercerita kepada SAKSI kalau TERDAKWA
sudah tidak mempunyai kepercayaan kepada SAKSI KORBAN layaknya
sebelum kejadian perselingkuhan SAKSI KORBAN dengan wanita lain dan
TERDAKWA mempertahankan pernikahan mengingat usia anak-anak yang
masih kecil dan belum siap dengan perceraian.

19
 Bahwa semenjak pertengkaran hebat akibat perselingkuhan SAKSI KORBAN
dengan wanita lain TERDAKWA sering merasa depresi dan stress, ditambah
dengan jarangnya waktu SAKSI KORBAN untuk keluarga dikarenakan
kesibukan kerja SAKSI KORBAN
 Bahwa Saksi mendapati perubahan perilaku TERDAKWA yang ganjil seperti
merusak-rusak dan memberantakan majalah pada rumah TERDAKWA,
menyentikan kuku tangan TERDAKWA pada saat TERDAKWA sedang
berdiam diri.
 Bahwa seiring waktu perubahan perilaku TERDAKWA semakin terlihat,
TERDAKWA yang biasanya sering bergaul dengan teman-temanya seiring
waktu menjadi menutup diri dan jarang bergaul dengan orang lain,
TERDAKWA sempat bercerita kepada SAKSI bahwa berat badannya turun
drastis dari yang semulan 56 Kilogram menjadi 48 Kilogram.
 Bahwa SAKSI pernah mendapati TERDAKWA melakukan perbuatan ekstrim
seperti mencekik kucing milik tetangga ketika SAKSI sedang berkunjung
kerumah TERDAKWA, padahal sepengetahuan SAKSI, TERDAKWA
merupakan orang yang menyukai binatang peliharaan dan suka mengelus
kucing.
 Bahwa pada Rabu, 15 Februari 2017 TERDAKWA datang ke rumah SAKSI
sekitar pukul 12.30 WIB menggunakan mobil sedan merk Toyota Camry
dengan nomor plat AB 1234 JK
 Bahwa SAKSI langsung menanyakan kenapa TERDAKWA datang secara
mendadak pada waktu tengah malam tanpa pemberitahuan sebelumnya,
SAKSI mencurigai ada suatu kejadian yang aneh, TERDAKWA mengatakan
dia sedang stress dengan hubungan rumah tangganya dan ingin menjauhi
suaminya yaitu SAKSI KORBAN untuk sementara.
 Bahwa SAKSI sama sekali tidak mencurigai adanya penganiayaan ataupun
tindakan pidana yang dilakukan oleh anaknya karena sebelumnya
TERDAKWA sering mengunjungi rumah SAKSI walaupun biasanya
dilakukan pada sore hari.
 Bahwa sekitar kurang lebih dua bulan ketika SAKSI sedang menyiapkan
sarapan pagi, pihak kepolisian datan pada sekitar pukul jam 08.00 WIB dan
menangkap TERDAKWA.

Tanggapan Terdakwa

Terdakwa membenarkan keterangan Saksi

20
2. Saksi TEJO BASUKI, S.E., Tempat Tanggal Lahir di Banjarnegara pada
tanggal 6 Juli 1972, Umur 45 tahun, Jenis kelamin laki-laki, Agama Kristen,
Pekerjaan karyawan swasta, Kewarganegaraan Indonesia, alamat Jl. Gejayan
Gang Kamboja No. 15, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pendidikan
terakhir Strata satu (S-1) Jurusan Manajemen. Memberikan keterangan di
bawah sumpah di persidangan pada pokoknya sebagai berikut::

 Bahwa benar SAKSI TEJO BASUKI membenarkan keterangan yang telah


diberikan di dalam BAP di Penyidik Polsek Bulaksumur.
 Bahwa benar saat diperiksa, SAKSI TEJO BASUKI dalam keadaan sehat
jasmani dan rohani serta bersedia untuk dimintai keterangan dan akan
memberikan keterangan dengan sebenar-benarnya.
 Bahwa benar SAKSI TEJO BASUKI paham dan dapat berbahasa Indonesia
yang baik dan benar.
 Bahwa benar SAKSI TEJO BASUKI mengerti dan bersedia memberikan
keterangan sesuai dengan apa yang dilihat, didengar, dan dialami oleh Saksi.
 Bahwa benar SAKSI TEJO BASUKI tidak ada hubungan keluarga dengan
TERDAKWA. SAKSI TEJO BASUKI adalah teman baik TERDAKWA.
 Bahwa benar pada saat dilakukan pemeriksaan, SAKSI TEJO BASUKI
mengerti bahwa dirinya diperiksa sehubungan dengan perkara kekerasan
dalam rumah tangga yang dilakukan oleh TERDAKWA terhadap KORBAN
JOJO SUKARJO.
 Bahwa benar sebelum terjadinya perkara kekerasan dalam rumah tangga
tersebut, awalnya pada tanggal 14 Februari 2017 tepatnya pukul 15.00,
SAKSI TEJO BASUKI melihat KORBAN JOJO SUKARJO keluar dari
Hotel Tentrem yang berlokasi di Jl. AM Sangaji No. 72 A, Cokrodiningratan,
Jetis, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta
dengan seorang wanita yang diduga keras bernama SAKSI AYU VALLEN.
 Bahwa SAKSI TEJO BASUKI saat itu tengah menghadiri rapat yang
diadakan di Hotel Tentrem, yang mana setelah selesai rapat sekiranya pukul
14.50, SAKSI TEJO BASUKI sembari berjalan menuju lobby hotel yang akan
hendak pulang, SAKSI TEJO BASUKI melihat suami teman baiknya yakni
TERDAKWA yang bernama KORBAN JOJO SUKARJO berjalan berduaan
keluar dari lobby hotel tersebut.
 Bahwa SAKSI juga mengikuti rapat di Hotel Tentrem sebagai Vice Director
of Human Resource Management Department ( Wakil Direktur Departemen
Sumber Daya Manusia).
 Bahwa setelah melihat hal tersebut, SAKSI TEJO BASUKI kemudian
langsung mengirimkan pesan singkat berupa foto melalui Whatsapp pada

21
TERDAKWA tentang kejadian tersebut dan memberikan pernyataan
KORBAN JOJO SUKARJO dengan seorang wanita yang diduga bernama
SAKSI AYU VALLEN tersebut, telah menginap di hotel tersebut atau dengan
kata lain telah melakukan perselingkuhan.
 Bahwa Foto-Foto tersebut terdiri dari empat foto yang masing-masing
menunjukan kedekatan SAKSI KORBAN dengan AYU VALLEN yang
menunjukkan ketidak-normalan hubungan kerja mereka, SAKSI AYU
VALLEN sangat sering mendekatkan dirinya (fisiknya) dengan SAKSI
KORBAN dan SAKSI KORBAN tidak menunjukkan keberatan atau tindakan
penolakan akibat pendekatan itu.
 Bahwa SAKSI membenarkan foto yang ditunjukan oleh Penasihat Hukum
Terdakwa sebagai foto yang diambil oleh SAKSI TEJO BASUKI.

Tanggapan Terdakwa

Terdakwa membenarkan keterangan Saksi

4. Keterangan Ahli A de Charge


Bahwa dalam Persidangan Penasihat Hukum telah mengajukan alat bukti
Keterangan Ahli a de charge berupa:

1. Saksi Ahli dr. SAE MA WON, Sp.KJ, lahir di Wonogiri, 15 September 1970,
umur 47 (empat puluh tujuh) tahun, laki-laki, Warga Negara Indonesia, alamat
di Jalan Godean KM. 5 No. 119, Yogyakarta, agama Buddha, pekerjaan Dokter
Psikiater, pendidikan terakhir Pendidikan Profesi Kedokteran. Memberikan
keterangan di bawah sumpah di persidangan pada pokoknya sebagai berikut:
 Bahwa saksi bersedia untuk diperiksa dan memberikan penjelasan mengenai
perkara Terdakwa sesuai dengan keahlian yang dimiliki.
 Bahwa hakim meminta saksi untuk memperlihatkan CV dan kartu assosiasi di
persidangan.
 Bahwa riwayat pendidikan ahli dijabarkan sebagai berikut:
a. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1988 – 1992 (S-1)
b. Pendidikan Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada 1994 – 1996
 Bahwa saksi sudah sepuluh kali dipanggil sebagai ahli dalam persidangan.
 Bahwa perkara yang pernah diberikan keterangan sebagai ahli yaitu dalam
perkara psikologi, khususnya masalah anak dan wanita.
 Bahwa saksi sudah cukup berpengalaman dalam memberikan keterangan
dalam persidangan sebagai saksi ahli.

22
 Bahwa adanya indikasi Terdakwa pernah mengalami trauma psikis terlihat
dari hasil kesimpulan berdasarkan pengamatan, pemeriksaan serta wawancara,
baik dengan Terdakwa maupun dengan keluarganya, kemungkinan sangat
besar bahwa terdakwa mengalami trauma psikis dalam kehidupan rumah
tangganya, walaupun dengan pemeriksaan awal tidak diketemukan tanda-
tanda bekas penganiayaan, namun dari hasil kesimpulan tim medis
menyatakan bahwa terdakwa mengalami trauma psikosis atau depresi berat di
dalam hubungan keluarganya.
 Bahwa Terdakwa telah mengalami gangguan jiwa ringan yang kondisinya
seringkali disebut Anxiety Disorder yang mana kondisi ini disebabkan akibat
suatu kejadian traumatik yang dialami oleh penderita berupa perselingkuhan
yang dilakukan oleh suaminya pada tahun 2014, yang mana hal tersebut
menyebabkan terjadinya perubahan perilaku dari si penderitanya berupa rasa
takut dan kecemasan yang berlebihan, yang mana hal tersebut terlihat dari
hasil aloanamnesis dan hasil observasi yang dilakukan.
 Bahwa Penasihat Hukum meminta izin untuk memperlihatkan alat bukti dan
hakim menyetujui Visum Et Repertum Psikiatrium Nomor: 003/RSS/IV/2017,
disana dapat disimpulkan bahwa Terdakwa mengalami depresi mayor.
 Bahwa trauma yang terjadi terhadap Terdakwa yang tidak ditangani dalam
waktu yang lama dan terjadi berulang kali dapat menyebabkan kondisi
Anxiety Disorder karena Anxiety Disorder ini paling sering terjadi terhadap
orang-orang yang mengalami kejadian buruk atau melihat kejadian buruk
yang terjadi pada dirinya ataupun orang lain yang memiliki hubungan
afeksional dengan dirinya secara terus-menerus.
 Bahwa Anxiety Disorder yang dialami oleh Terdakwa disebabkan oleh stres
jangka panjang yang dialaminya.
 Bahwa kondisi ini dapat menyebabkan perubahan perilaku yang sampai
menyebabkan Penderita melakukan kekerasan terhadap orang lain jika
saudara Penderita dihadapkan pada kondisi traumatic yang sering dialaminya,
dia dapat saja melakukan kekerasan karena goncangan jiwa yang dimilikinya
akibat stres terus menerus yang diterimanya. Hal tersebut sangat wajar bagi
orang-orang yang menderita Anxiety Disorder tersebut melakukan kekerasan
ataupun pemberontakan, terlebih lagi ketika diingatkan mengenai peristiwa-
peristiwa yang menyakitinya.
 Bahwa sangat besar kemungkinan penderita Anxiety Disorder melakukan
pemberontakan terhadap hal yang menjadi akibat dari trauma yang ia alami,
namun dalam beberapa kasus hal ini bisa terjadi secara perlahan-lahan,
tergantung faktor lain yang mempengaruhinya.

23
 Bahwa pemberontakan yang eksplosif tersebut belum dimungkinkan, perlu
pemeriksaan secara lebih menyeluruh dan mendalam terhadap kasus
Terdakwa.
 Bahwa Anxiety Disorder bersifat kasuistis. Terkadang seseorang yang
mengalami mereka sadar dan dapat mengendalikan perbuatannya. Oleh karena
itu diperlukan pemeriksaan yang lebih Anxiety Disorder dapat melakukan hal
yang di luar kendalinya namun terkadang lanjut lagi terhadap diri orang
tersebut.
 Bahwa Anxiety Disorder tidak menghilangkan kesadaran sama sekali namun
hanya merubah pola perilaku cenderung murung dan menutup diri
 Bahwa penderita Anxiety Disorder tetap bebas bertindak karena control
dirinya masih utuh.

Tanggapan Terdakwa

Bahwa Terdakwa tidak menanggapi pendapat tersebut.

5. Keterangan Terdakwa
1. Terdakwa NURLELA, lahir di Sleman, 2 Februari 1973, umur 44 (empat puluh
empat) tahun, Perempuan, Warga Negara Indonesia, alamat di Jalan Kaliurang
Km. 5 Gang Jeruk No. 10, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, agama Islam,
pekerjaan Ibu Rumah Tangga, pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas
(SMA). Memberikan keterangan tidak di bawah sumpah di persidangan pada
pokoknya sebagai berikut:

 Bahwa benar TERDAKWA pada saat dimintai keterangan dalam keadaan


sehat jasmani dan rohani, serta bersedia untuk dimintai keterangan dan akan
memberikan keterangan dengan sebenar-benarnya.
 Bahwa benar TERDAKWA faham dan bisa berbahasa Indonesia serta
mengerti dimintai keterangan sehubungan dengan peristiwa kekerasan fisik
yang terjadi di rumah KORBAN JOJO SUKARJO.
 Bahwa benar TERDAKWA belum pernah terlibat dalam perkara pidana
sebelumnya.
 Bahwa benar TERDAKWA didampingi oleh penasihat hukumnya dari
SIMANJUNTAK & PARTNERS.
 Bahwa benar TERDAKWA lahir di Sleman, Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, Indonesia pada 2 Februari 1973, pekerjaan ibu rumah tangga,
beragama Islam, dan berkewarganegaraan Indonesia.

24
 Bahwa benar TERDAKWA ditangkap penyidik di rumah orang tuanya di
Jalan Dr. Soetomo Nomor 47, Kecamatan Mangkubumen, Kelurahan
Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57125
 Bahwa benar TERDAKWA menerangkan KORBAN JOJO SUKARJO tidak
pernah berada di rumah selayaknya suami dalam rumah tangga.
 Bahwa benar TERDAKWA menemukan pesan singkat di whatsapp milik
KORBAN JOJO SUKARJO yang bernada mesra dari nama kontak SAKSI
AYU VALLEN dan TERDAKWA mengetahui bahwa SAKSI AYU
VALLEN adalah Manajer Bagian Kerjasama di kantor yang sama dengan
Korban.
 Bahwa benar TERDAKWA tidak mengenal SAKSI AYU VALLEN.
 Bahwa benar TERDAKWA pernah menanyakan percakapan yang ditemukan
pada Whatsapp milik KORBAN JOJO SUKARJO kepada KORBAN JOJO
SUKARJO sendiri dan mendapat jawaban bahwa SAKSI AYU VALLEN
adalah teman kantor Korban dan membantah bahwa ada hubungan mesra
antara SAKSI AYU VALLEN dan JOJO SUKARJO
 Bahwa benar TERDAKWA menerangkan ia mengetahui dari temannya Tejo
Basuki, bahwa KORBAN JOJO SUKARJO jalan keluar bersama dengan
SAKSI AYU VALLEN keluar dari Hotel Tentrem pada 14 Februari 2017 jam
15.00 WIB.
 Bahwa benar TERDAKWA menduga KORBAN JOJO SUKARJO bersama
dengan SAKSI AYU VALLEN melakukan zina, karena sebelumnya
KORBAN JOJO SUKARJO melakukan perselingkuhan dengan wanita lain
dan ketika SAKSI KORBAN ditanyai hubungannya dengan SAKSI AYU
VALLEN, SAKSI KORBAN selalu menghindar dan mengalihkan
pembicaraan.
 Bahwa benar TERDAKWA selanjutnya menunggu kepulangan KORBAN
JOJO SUKARJO pada sore harinya tanggal 14 Februari 2017 jam 19.00 WIB
di ruang tamu rumah mereka dengan maksud membicarakan baik-baik saat
makan malam bersama. Namun TERDAKWA tidak beritikad membahas
hubungan KORBAN JOJO SUKARJOdengan SAKSI AYU VALLEN dan
terkesan menghindar dari topik inidan KORBAN JOJO SUKARJO terlihat
berperilaku seakan tidak ada apa-apa sehingga TERDAKWA mengurungkan
niat untuk membicarakan pada saat makan malam.
 Bahwa benar selanjutnya setelah makan TERDAKWA pergi ke kamar mandi
untuk mandi sebelum tidur, namun KORBAN JOJO SUKARJO membawa
pisau dapur dan buah nanas ke kamar tidur mereka untuk makan dulu sebelum
tidurnya.

25
 Bahwa benar selanjutnya KORBAN JOJO SUKARJO meminta
TERDAKWA untuk melakukan Fellatio kepada KORBAN JOJO SUKARJO
dan TERDAKWA selanjutnya melakukannya dengan persetujuannya. Bahwa
TERDAKWA melakukan Fellatio tersebut menutupi mata KORBAN JOJO
SUKARJO dengan dasi berwarna biru garis-garis sehingga KORBAN JOJO
SUKARJO tidak dapat melihat TERDAKWA dengan jelas.
 Bahwa TERDAKWA dan KORBAN JOJO SUKARJO sering melakukan
hubungan seksual dengan cara menutupi mata dan dengan permainan-
permainan seksual lainnya.
 Bahwa benar selanjutnya sebelum TERDAKWA dan KORBAN JOJO
SUKARJO mencapai klimaks,KORBAN JOJO SUKARJO meneriakan kata
“ayu” sehingga TERDAKWA menjadi yakin bahwa telah ada
perselingkungan antara KORBAN JOJO SUKARJO dan SAKSI AYU
VALLEN. Setelah itu, TERDAKWA kehilangan kendali atas perilakunya.
 Bahwa benar selanjutnya TERDAKWA mengambil pisau yang terdapat di
atas nakas sebelah tempat tidur dan menarik alat kelamin KORBAN JOJO
SUKARJO lalu mencoba untuk memotongnya dengan menebas pangkal alat
kelamin KORBAN JOJO SUKARJO dengan pisau dapur, tetapi potongan
TERDAKWA yang pertama tidak dapat memotong alat kelamin KORBAN
JOJO SUKARJO sehingga TERDAKWA mencoba untuk memotongnya lagi
dengan satu kali tebas hingga alat kelamin KORBAN JOJO SUKARJO putus.
 Bahwa benar selanjutnya TERDAKWA menjadi panik dan sadar karena
teriakan KORBAN JOJO SUKARJO sehingga TERDAKWA menjadi
kerguncang suasana hatinya dan terdiam untuk beberapa saat.
 Bahwa benar selanjutnya TERDAKWA karena ketakutan TERDAKWA ingin
pulang ke kampung halamannya di Surakarta sehingga TERDAKWA
mengambil kunci mobil Toyota Camry yang memiliki plat kendaraan AB
1234 JK dan pergi ke solo melalui jalur Jalan Raya Solo untuk meminta
pertolongan ayahnya.
 Bahwa TERDAKWA ingin meminta maaf kepada SAKSI KORBAN karena
telah melakukan perbuatan pidana yang didakwakan dan mengakui
kesalahannya.
 Bahwa benar TERDAKWA tidak lagi hendak memberikan keterangannya.
 Bahwa benar TERDAKWA menyatakan apa yang disampaikannya dalam
pemeriksaan ini adalah benar.
 Bahwa benar TERDAKWA tidak merasa ada pemaksaan selama pemeriksaan.

6. Alat Bukti dan Barang Bukti Lainnya

26
Alat Bukti dan Barang Bukti Penuntut Umum

Alat Bukti Surat

Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 184 ayat (1) huruf c jo. Pasal 187
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana, alat bukti surat yang diajukan terkait
perkara a quo adalah sebagai berikut:
- 1 (Satu) lembar KTP atas nama Nurlela
- 1 (Satu) lembar Kartu Keluarga A.n. Kepala Keluarga Jojo Sukarjo S.E. yang
telah di legalisasi dengan No. 1371101004120005
- 1 (Satu) bundel Kutipan Akta Nikah Nurlela dan Jojo Sukarjo yang telah
dilegalisasi dengan No. 129/10/III/1994 tertanggal 6 Juli 1994
- 1 (Satu) lembar KTP atas nama Jojo Sukarjo.
- 1 (Satu) bundel Visum et Repertum Luka Jojo Sukarjo yang telah dilegalisasi
dengan No.370/2322/437.76/2017 tanggal 17 Februari 2017 yang dibuat dan
ditanda tangani oleh Prof. Dr. Med. dr. DOLILA HARTINI, Sp.F. dokter
pada Rumah Sakit Sardjito.
Alat Bukti Tim Penasihat Hukum Terdakwa
Bahwa dalam persidangan, sesuai dengan Surat Pengantar Alat Bukti
tertanggal 6 Juni 2017, Tim Penasihat Hukum Terdakwa mengajukan alat bukti surat
dan elektronik berupa:

Alat Bukti Surat


1. Hasil Visum Et Repertum Psikiatrium dengan Nomor 003/RSS/III/ 2017
atas nama NURLELA tertanggal 17 Maret 2017 oleh Rumah Sakit Sardjito.

Alat Bukti Elektronik


1. Screenshot percakapan Whatsapp antara Saksi Korban Jojo Sukarjo dan
Saksi Ayu Vallen tertanggal 13 Februari 2017

27
IV. ANALISIS FAKTA

1. Surat Dakwaan
Bahwa pada awal persidangan ini setelah pembacaan Surat Dakwaan oleh
Penuntut Umum, Tim Penasihat Hukum Terdakwa telah membacakan Keberatan,
yang berbicara mengenai Surat Dakwaan Penuntut Umum Tidak Dapat Diterima
(Niet Onvankelijk Verklaard) dan Surat Dakwaan Penuntut Umum Batal Demi
Hukum (Null and Void). Namun, Majelis Hakim melalui Putusan Sela Nomor Nomor
143/Pid.Sus/2017/PN SMN, yang pada pokoknya memutuskan untuk menolak
Keberatan Tim Penasihat Hukum Terdakwa untuk seluruhnya karena telah
menyentuh pokok perkara dan bukan merupakan ruang lingkup dari materi Eksepsi
atau Keberatan.
Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini pemeriksaan pokok perkara telah
selesai dan sudah memasuki tahap pembelaan. Maka sudah sewajarnya kami selaku
Tim Penasihat Hukum Terdakwa memohon kembali kepada Majelis Hakim untuk
mempertimbangkan kembali hal-hal yang menjadi keberatan Tim Penasihat Hukum
Terdakwa dalam Keberatan sebelumnya.
Kami selaku Tim Penasihat Hukum Terdakwa kembali mempersoalkan
beberapa hal yang menjadi keberatan Tim Penasihat Hukum Terdakwa dalam
Keberatan sebelumnya, antara lain:

I. SURAT DAKWAAN PENUNTUT UMUM TIDAK DAPAT DITERIMA


(NIET ONVANKELIJK VERKLAARD)

M. Yahya Harahap menjelaskan bahwa pada dasarnya masalah sengketa


kewenangan mengadili yang diatur pada Bagian Kedua, Bab X adalah kewenangan
mengadili secara relatif. Kompetensi relatif memiliki makna pembagian kewenangan
atau kekuasaan mengadili antar Pengadilan Negeri atau dengan kata lain Pengadilan
Negeri mana yang berwenang memeriksa dan memutus perkara.

Bahwa dalam dakwaan tersebut Jaksa Penuntut Umum menguraikan antara


lain sebagai berikut:

“Bahwa kemudian sekitar pukul 22.30 KORBAN JOJO SUKARJO pun


berteriak-teriak minta tolong dan SAKSI JAMIL PUTRA pun terbangun dari tidur.
Saat pintu kamar tidur KORBAN dibuka, saksi jamil putra dengan segera mencoba
menghentikan pendarahan yang dialami ayahnya dengan mengikatkan kain dari baju
yang berserakan dibawah kasur. Dalam keadaan yang sangat panik, TERDAKWA
melarikan diri.”

28
Bahwa setelah melakukan perbuatan tersebut Terdakwa Nurlela kemudian
mencari perlindungan di kediaman orang tua di Jalan Dr. Soetomo Nomor 47,
Kecamatan Banjarsari, Kelurahan Mangkubumen, Kota Surakarta, Jawa Tengah,
hingga akhirnya Terdakwa Nurlela ditangkap pada tanggal 2 April 2017.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa Jaksa Penuntut Umum telah salah dalam
mengajukan tuntutan ke Pengadilan Negeri Sleman. Sesuai dengan Pasal 84 ayat (2)
KUHAP bahwa Pengadilan Negeri yang di dalam daerah hukumnya terdakwa
diketemukan berwenang untuk mengadili perkara tersebut. Sehingga dalam perkara
ini Pengadilan Negeri Sleman tidak berwenang untuk mengadili perkara, seharusnya
perkara ini merupakan kompetensi relatif dari Pengadilan Negeri Surakarta. Oleh
karena itu, PENGADILAN TIDAK BERWENANG MENGADILI.

II. SURAT DAKWAAN PENUNTUT UMUM BATAL DEMI HUKUM (NULL


AND VOID)

Mengacu pada Pasal 143 ayat (2) KUHAP yang menentukan bahwa dakwaan
harus memuat uraian secara cermat, jelas dan lengkap, mengenai tindak pidana yang
didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana dilakukan. Kami
selaku Tim Penasihat Hukum Terdakwa, menemukan hal-hal yang telah tidak cermat,
tidak jelas, dan tidak lengkap diuraikan di dalam Surat Dakwaan oleh Penuntut
Umum.
Yang dimaksud dengan uraian atau rumusan Surat Dakwaan yang cermat,
jelas, dan lengkap merupakan persyaratan materiil Surat Dakwaan memang tidak
ditemukan dalam penjelasan Pasal 143 ayat (2) KUHP, akan tetapi dari beberapa
literatur atau dari beberapa pendapat ahli, yang telah diakui dan diikuti dalam praktik
peradilan serta yurisprudensi tetap Mahkamah Agung dapat diperoleh pengertian
sebagai berikut1:
- Pengertian “cermat” adalah ketelitian dalam merumuskan surat
dakwaan, sehingga tidak terdapat adanya kekurangan atau kekeliruan
yang dapat mengakibatkan tidak dapat dibuktikannya dakwaan itu
sendiri.
- Pengertian “jelas” adalah kejelasan mengenai rumusan unsur-unsur
dari delik yang didakwakan, sekaligus dipadukan dengan uraian
perbuatan materiil atau fakta perubahan yang dilakukan oleh Terdakwa
dalam Surat Dakwaan.
- Pengertian “lengkap” adalah uraian dari Surat Dakwaan yang
mencakup semua unsur-unsur delik yang dimaksud yang dipadukan
dengan uraian mengenai keadaan, serta peristiwa dalam hubungannya
dengan perbuatan materiil yang didakwa sebagai telah dilakukan oleh
Terdakwa.

1
Pedoman Pembuatan Surat Dakwaan terbitan Kejaksaan Agung RI tahun 1985

29
Berikut kami akan menguraikan ketidakcermatan, ketidakjelasan, dan
ketidaklengkapan Penuntut Umum dalam membuat Surat Dakwaan:
1. Surat Dakwaan Penuntut Umum Batal Demi Hukum Karena Tidak Dapat
Menentukan Tempus dan Locus Secara Pasti
Bahwa dalam Surat Dakwaan yang dibuat oleh Jaksa Penuntut Umum
adalah tidak jelas dan kabur. Hal ini terlihat dengan dipergunakan kata setidak-
tidaknya dalam menentukan locus dan tempus delicti.
Bahwa hal tersebut dalam dakwaan diuraikan oleh Jaksa Penuntut Umum
sebagai berikut:
“Bahwa ia TERDAKWA NURLELA, pada waktu antara tanggal 14
Februari 2017, atau setidak-tidaknya pada bulan Februari 2017, atau setidak-
tidaknya pada waktu tertentu dalam tahun 2017; bertempat di rumah Terdakwa
yang beralamat di Jalan Kaliurang Km 5 Gang Jeruk Nomor 10, Sleman, Daerah
Istimewa Yogyakarta, atau setidak-tidaknya di tempat-tempat yang masih
termauk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Sleman; melakukan kekerasan
fisik dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya yang
mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat...............”
Berdasarkan hal tersebut, maka nyatalah bahwa Jaksa Penuntut Umum
telah:
a. Ragu-ragu terhadap locus dan tempus delicti tindak pidana yang dilakukan
oleh terdakwa;
b. Tidak menguraikan secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak pidana
yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu
dilakukan.

Oleh karena itu, perlu ditegaskan bahwa SURAT DAKWAAN PENUNTUT


UMUM DINYATAKAN BATAL DEMI HUKUM.

2. Surat Dakwaan Penuntut Umum Batal Demi Hukum Karena Tidak


Lengkap Menyebutkan Unsur Tindak Pidana

Menganalisis Surat Dakwaan Penuntut Umum dalam menguraikan unsur delik


yang didakwakan oleh Penuntut Umum, terdakwa didakwa dengan Pasal 44 ayat (2)
jo. Pasal 44 ayat (1) jo. Pasal 5 huruf a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Berikut ini kami kutip Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2004 sebagai berikut:

“Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup


rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana

30
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak
Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).”

Berikut ini kami kutip Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2004 sebagai berikut:

“Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan


korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp
30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).”
Dalam dakwaan tersebut terdapat unsur-unsur pokok antara lain:
a. Setiap orang
b. Melakukan kekerasan fisik
c. Dalam lingkup keluarga
d. Mengakibatkan jatuh sakit atau luka berat

Dalam uraian kejadian dalam surat dakwaan, penuntut umum hanya


menguraikan:

- Bahwa TERDAKWA merupakan istri dari KORBAN JOJO SUKARJO dan telah
menikah sejak 6 Juli 1994 yang ditunjukkan dengan Kutipan Akta Nikah atas
nama JOJO SUKARJO dan NURLELA dengan Nomor 129/06/VII/1994 serta
memiliki dua orang anak yang bernama SAKSI JAMIL PUTRA dan SRI
PERSIK yang ditunjukkan dengan Kartu Keluarga atas nama Kepala Keluarga
JOJO SUKARJO dengan Nomor Kartu Keluarga 1371101004120005;
- Bahwa keluarga TERDAKWA dikenal sebagai keluarga yang harmonis oleh
kalangan sosial dan tetangga;
- Bahwa setelah KORBAN JOJO SUKARJO menjadi anggota dewan direksi PT.
Abebochi Sukses Makmur, KORBAN JOJO SUKARJO jarang kembali ke rumah
dan jarang pula berkomunikasi dengan TERDAKWA serta anak-anaknya.
Sebagai gantinya, ia memberikan uang bulanan yang banyak kepada
TERDAKWA dan anak-anaknya agar mereka tetap merasa tercukupi. Tetapi,
menurut TERDAKWA apa yang dilakukan oleh KORBAN JOJO SUKARJO
justru tidak membawa kebahagiaan dan ketentraman dalam rumah tangga mereka;
- Bahwa pada tanggal 12 Februari 2017, TERDAKWA menemukan pesan singkat
Whatsapp yang berisikan kalimat mesra antara KORBAN JOJO SUKARJO
seorang perempuan yang bernama SAKSI AYU VALLEN yang belakangan
diketahui bekerja sebagai Manajer Bagian Kerjasama di kantor yang sama dengan
KORBAN JOJO SUKARJO. Awalnya, TERDAKWA menanyakan perihal
percakapan tersebut kepada KORBAN JOJO SUKARJO, tetapi KORBAN JOJO
SUKARJO mengaku bahwa hubungan dirinya dan SAKSI AYU VALLEN
hanyalah teman kantor biasa;

31
- Bahwa TERDAKWA marah besar setelah pada tanggal 14 Februari 2017
TERDAKWA menerima sebuah foto dari teman baiknya yang bernama SAKSI
TEJO BASUKI, foto tersebut menunjukkan bahwa KORBAN JOJO SUKARJO
terlihat di lobby Hotel Tentrem pada pukul 15.00 dengan seorang wanita;
- Bahwa setelah dikirimi foto tersebut oleh SAKSI TEJO BASUKI, TERDAKWA
mengenali bahwa wanita yang ada dalam foto tersebut adalah SAKSI AYU
VALLEN yang pernah didapati terlibat percakapan mesra melalui Whatsapp
dengan KORBAN JOJO SUKARO pada tanggal 12 Februari 2017;
- Bahwa pada malam harinya pada pukul 19.00 WIB tanggal 14 Februari 2017,
TERDAKWA menunggu kepulangan KORBAN JOJO SUKARJO di ruang tamu
rumah mereka. Pada pukul 19.15 WIB, KORBAN JOJO SUKARJO memasuki
rumah dan TERDAKWA menyambut KORBAN JOJO SUKARJO lalu
mengajaknya untuk makan malam bersama. Setelah makan malam, sekitar pukul
21.00 WIB kedua pasang suami istri tersebut mandi dan bersiap untuk tidur.
Sebelum tidur, mereka bercakap-cakap dan bersenda gurau sambil makan buah di
kamar.
- Bahwa setelah beberapa saat sekitar pukul 22.00 WIB, KORBAN JOJO
SUKARJO pun terpancing untuk melakukan hubungan seksual suami-istri.
KORBAN JOJO SUKARJO mengajak TERDAKWA untuk beranjak ke ranjang
di kamar tidur mereka. Ketika berhubungan seksual tersebut, KORBAN JOJO
SUKARJO dalam keadaan ditutup matanya menggunakan dasi yang diikatkan
oleh TERDAKWA.;
- Bahwa ditengah hubungan seksual, KORBAN JOJO SUKARJO menyebutkan
kata “Ayu”, mendengar kata “Ayu” tersebut TERDAKWA pun terkejut serta
mengira KORBAN JOJO SUKARJO pernah terlibat hubungan seksual dengan
SAKSI AYU VALLEN dan karena terbakar cemburu lalu TERDAKWA
mendorong KORBAN JOJO SUKARJO dan sontak meraih pisau yang
sebelumnya digunakan untuk memotong buah lalu menebas alat kelamin
KORBAN JOJO SUKARJO.
- Bahwa kemudian sekitar pukul 22.30 KORBAN JOJO SUKARJO pun berteriak –
teriak minta tolong dan SAKSI JAMIL PUTRA pun terbangun dari tidur. Saat
pintu kamar tidur KORBAN dibuka, SAKSI JAMIL PUTRA melihat KORBAN
bersimbah darah. SAKSI JAMIL PUTRA dengan segera mencoba menghentikan
pendarahan yang dialami ayahnya dengan mengikatkan kain dari baju yang
berserakan dibawah kasur. Dalam keadaan yang sangat panik, TERDAKWA
melarikan diri;
- SAKSI JAMIL PUTRA lalu membawa KORBAN JOJO SUKARJO ke Rumah
Sakit Umum Pusat dr. Sardjito untuk mendapatkan pertolongan pertama.

32
Memperhatikan uraian kejadian dalam surat dakwaan tersebut dapatlah
dipahami bahwa penuntut umum tidak menguraikan unsur adanya jatuh sakit atau
luka berat yang dialami korban.
Pengertian luka berat pun sudah seharusnya mengikuti pengaturan dalam
Pasal 90 KUHP, yaitu:
a. Penyakit atau luka yang tak dapat diharap akan sembuh lagi dengan sempurna
atau yang dapat mendatangkan bahaya maut;
b. Senantiasa tidak cakap mengerjakan pekerjaan jabatan atau pekerjaan
pencaharian;
c. Tidak dapat lagi memakai salah satu pancaindera;
d. Mendapat cacat besar;
e. Lumpuh (kelumpuhan);
f. Akal (tenaga paham) tidak sempurna lebih lama dari empat minggu;
g. Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan.

Bahwa berdasarkan Surat Visum et repertum luka atas Korban JOJO


SUKARJO No. 370/2322/437.76/2017 tertanggal 17 Februari 2017 yang dibuat dan
ditanda tangani oleh Prof. Dr. Med. Dr. Dolila Hartini, Sp. F disimpulkan hal-hal
sebagai berikut:

- Bahwa luka yang dialami oleh Korban JOJO SUKARJO merupakan velnus
amputatum. Korban JOJO SUKARJO mengalami luka potong pada batang
penisnya (penis shaft) hingga pangkalnya, sehingga tidak menyisakan batang
penisnya (putus total).
- Bahwa selain velnus amputatum pada batang penis, terdapat pula luka irisan pada
kulit depan testikel (kantung pelir) kiri Korban JOJO SUKARJO. Luka iris
tersebut terjadi karena terjadinya gesekan antara benda tajam dengan permukaan
kulit tersebut.
- Bahwa tidak ada kerusakan pada otot, saraf, atau bagian tubuh lain Korban JOJO
SUKARJO selain yang disebutkan sebelumnya.
Kesimpulan:
Luka iris yang terjadi pada testikel Korban JOJO SUKARJO kemungkinan besar
tidak akan menyebabkan disfungsi pada kemampuan reproduksi.

Melihat pada unsur-unsur yang diuraikan dalam Pasal 44 ayat (2) Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2004, maka tindak pidana yang terjadi dalam Pasal 44 ayat
(2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 ini secara doktrin adalah ‘tindak pidana
materiil’, dimana tindak pidana hanya akan terjadi dengan adanya akibat dari
perbuatan itu, yaitu ‘korban mendapat jatuh sakit atau luka berat’. Apabila keterangan
dalam Visum et repertum itu disebut sebagai uraian dakwaan untuk menguraikan
unsur mengakibatkan jatuh sakit atau luka berat dari Pasal 44 ayat (2) Undang-

33
Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Pelarangan Kekerasan Dalam Rumah Tangga,
Penuntut Umum tidak menunjukkan adanya indikasi luka berat sebagaimana yang
disebutkan dalam Pasal 90 KUHP. Sebab dari kesimpulan visum tersebut tidak
terdapat akibat sebagaimana diterangkan dalam Pasal 90 KUHP yang diakibatkan
luka yang dialami korban. Sehingga, dalam hal ini penuntut umum telah menyusun
surat dakwaannya dengan tidak lengkap dalam menguraikan unsur. Oleh karena itu,
sudah seharusnya SURAT DAKWAAN PENUNTUT UMUM BATAL DEMI
HUKUM KARENA TIDAK LENGKAP MENGURAIKAN UNSUR.

2. Surat Tuntutan
Konstruksi Surat Tuntutan

Pada persidangan hari Senin tanggal 27 Juni 2017 yang lalu, kita telah
mendengarkan pembacaan Surat Tuntutan oleh Penuntut Umum yang kemudian
ditutup dengan “Menyatakan Terdakwa NURLELA terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Melakukan kekerasan fisik yang
mengakibatkan luka berat pada alat kelamin korban” sebagaimana dimaksud dalam
Dakwaan: Pasal 44 ayat (2)jo. Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah
Tangga”.
Surat Tuntutan yang cukup tebal dan terkesan “serius” tersebut tidak diimbangi
dengan argumentasi, pertimbangan, dan analisa yang memadai. Hal ini terlihat jelas
ketika Penuntut Umum dengan cerobohnya tanpa mempelajari perkara a quo secara
mendalam dan menyeluruh langsung menuntut Terdakwa dengan pidana yang sangat
berat sebagaimana dalam surat tuntutan yang berbunyi “Menjatuhkan pidana
terhadap Terdakwa berupa pidana penjara selama 5 (lima) tahun dikurangi selama
Terdakwa berada dalam tahanan, dengan perintah Terdakwa tetap ditahan”.

Penuntut Umum Tidak Memahami Perkara A Quo


Bahwa Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya, menuntut Terdakwa dengan
pidana sebagai berikut: “Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa berupa pidana
penjara selama 5 (lima) tahun dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan,
dengan perintah Terdakwa tetap ditahan”.
Dalam hal ini, Penuntut Umum selain tidak memahami perkara a quo. Penuntut
Umum dengan ambisinya yang menggebu-gebu yang mana dapat ditunjukkan dari
frasa “Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa berupa pidana penjara selama 5
(lima) tahun” sedang berusaha untuk menjerat Terdakwa dengan pidana yang sangat
berat dengan dalil bahwa Terdakwa telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga
yang menyebabkan luka berat yang dilakukan dengan terpotongnya penis Saksi
Korban sehingga tidak bisa menjalankan aktivitasnya sebagaimana mestinya.

34
Hal ini dikarenakan, berdasarkan Visum et Repertum Psychiatricum yang telah
dibuat oleh dr. Sae Ma Won, Sp.KJ berdasarkan permintaan kami selaku penasihan
hukum, Terdakwa mengalami gangguan kejiwaan ringan berupa Anxiety Disorder
dikarenakan perbuatan Saksi Korban itu sendiri yaitu perselingkuhan dan pada saat
melakukan hubungan suami istri dengan Terdakwapun masih memikirkan
selingkuhannya.
Meskipun pada akhirnya terjadi percecokan dan berujung pada ditebasnya penis
Saksi Korban oleh Terdakwa, akan tetapi hal ini juga tidak terlepas dari peranan
Saksi Korban itu sendiri yang melakukan perselingkuhan sehingga menyebabkan
Terdakwa mengalami trauma yang berujung pada diidapnya gangguan jiwa ringan.
Semangat filosofis dari Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah memelihara keutuhan
rumah tangga yang harmonis dan sejahtera, sehingga Penuntut Umum sudah
sepatutnya menghindari pidana yang terlalu berat mengingat TERDAKWA dan
SAKSI KORBAN telah saling memaafkan dalam memberikan keterangannya di
persidangan berdasarkan kutipan ini:

 Bahwa SAKSI KORBAN jika ditanya apakah memaafkan perbuatan


TERDAKWA maka SAKSI KORBAN bersedia memaafkan apabila
TERDAKWA berusaha untuk berubah dan memperbaiki hubungan rumah
tangga TERDAKWA dan SAKSI KORBAN kembali.
 Bahwa TERDAKWA ingin meminta maaf kepada SAKSI KORBAN karena
telah melakukan perbuatan pidana yang didakwakan dan mengakui
kesalahannya.

Apa yang Penuntut Umum lakukan malah mengubrak-abrik hubungan


Rumah Tangga dengan menuntut pidana selama 5 (lima) tahun penjara, dapat
dibayangkan betapa sulitnya para pihak membangun keutuhan rumah tangganya lagi
apabila saudari Nurlela selaku TERDAKWA ditahan dalam waktu sekian, tentunya
sangat memberatkan bagi kedua belah pihak. Tim Penasihat Hukum menyimpulkan
pidana penjara selama 5 (lima) tahun tidaklah pantas karena dari berbagai literatur
dan Undang-Undang masa pidana penjara 5 (lima) tahun merupakan alasan untuk
pemberhentian orang dari jabatannya secara paksa, jika dianalogikan maka Penuntut
Umum telah merusak martabat TERDAKWA dengan memberhentikannya secara
paksa dari pekerjaan yang paling mulia bagi seorang wanita yaitu menjadi seorang
Istri.
Sebagaimana dikutip dari buku Prinsip-Prinsip Hukum Pidana karya Edward
O.S. Hiariej,

“Restorative Justice dapat diperoleh dengan salah satu pendekatan berupa


victim-offender mediation programmes yang bertujuan untuk mendukung

35
proses pemulihan dengan cara memberikan korban kesempatan untuk
bertemu dengan pelaku dan membicarakan pelanggaran dan cara mengatasi
pelanggaran yang dilakukan oleh Pelaku, proses ini mefasilitasi
pemberdayaan secara emosional dan memuaskan kedua belah pihak
sekaligus mengimbangi antara kepentingan publik yang dibela oleh
Penuntut Umum dengan kepentingan pribadi dari mereka yang paling
berdampak oleh pelanggaran yang dilakukan”

Apabila berdasarkan teori restorative justice yang telah dikutip sebelumnya


maka telah tampak ketidak-mengertian Penuntut Umum dalam menjalankan tugasnya
sebagai pejabat yang membela kepentingan publik padahal sudah jelas bahwa perkara
Kekerasan Rumah Tangga merupakan lex specialis dari domain publik tersebut dan
becampur dengan domain privat para pihak, sehingga sudah sepatutnya Majelis
Hakim atas kepentingan para pihak meminimalisir pidana sekecil mungkin demi
kepentingan para pihak yang dalam hal ini yaitu TERDAKWA dan SAKSI
KORBAN.

Bahwa dalam surat tuntutan NO. REG. PERK. : PDM-


35/SLMN/Epp.2/05/2017 bagian analisis fakta disebutkan, “bahwa keterangan
terdakwa tidak diperkuat dan tidak didukung alat bukti sah yang lain dan oleh
karenanya tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah sebagaimana ditentukan
Pasal 184 ayat (1) huruf e KUHAP”. Tim Penasihat Hukum menyangkal seluruhnya
pendapat Penuntut Umum a quo dikarenakan pemahaman Penuntut Umum yang
keliru terhadap Pasal 184 ayat (1) huruf e KUHAP, sejak awal keterangan
TERDAKWA hanya dapat digunakan untuk meringankan dirinya sendiri
sebagaimana Pasal 189 ayat (3) KUHAP sehingga Keterangan Terdakwa tidak perlu
memenuhi Pasal 185 ayat (3) KUHAP dikarenakan keterangan TERDAKWA yang
meringankan dirinya tidak perlu memenuhi Pasal 185 ayat (2) KUHAP dan bahkan
Penasihat hukum telah menghadirkan alat bukti Visum Et Repertum Psikiatrium
Nomor: 003/RSS/IV/2017 sebagai alat bukti surat dan KETERANGAN AHLI SAE
MA WON sebagai alat bukti pelengkap keterangan TERDAKWA NURLELA.
Bahwa analisis fakta Penuntut Umum yang mengatakan terdapat perbedaan
yang “jauh berbeda “ antara keterangan TERDAKWA dalam persidangan dengan
berita acara pemeriksaan. Hal tersebut Penasihat Hukum bantah seluruhnya
dikarenakan sepengelihatan Penasihat Hukum TERDAKWA hanya terdapat
perbedaan-perbedaan minor dalam keterangan TERDAKWA dalam persidangan
dengan berita acara pemeriksaan yang sangat wajar mengingat kondisi kejiwaan
TERDAKWA yang terguncang pada saat pemeriksaan. Kami atas nama Penasihat
Hukum memohon kepada Majelis Hakim untuk melihat betapa besarnya penyesalan
NURLELA atas perbuatan yang telah dilakukan sebagaimana permintaan maaf yang
telah diucapkannya dalam persidangan akibat permasalahan rumah tangga

36
TERDAKWA yang pelik dan rumit. Hal ini menunjukan ambisi Penuntut Umum
untuk menghukum TERDAKWA dan ketidakmengertian Penuntut Umum akan
semangat UU PKDRT yang memberikan keadilan sebesar mungkin bagi pihak
keluarga yang dalam hal ini TERDAKWA yang telah dimaafkan KORBAN.
Sehingga, hal ini patut menjadi pertimbangan dan renungan masing-masing
dari kita semua yang hadir dalam persidangan yang mulia ini, terutama Majelis
Hakim yang Mulia. Penuntut Umum yang tidak memahami perkara a quo secara jelas
dan juga tidak konsisten dengan dalil yang dibuatnya, layak dan pantaskah hal
tersebut? Lalu, bagaimana mungkin tuntutan Penuntut Umum patut dipertimbangkan
dalam persidangan ini apabila Surat Tuntutannya tidak dibangun dengan baik?
Berdasarkan dalil-dalil yang Kami kemukakan di atas, Majelis Hakim harus
dengan kesungguhan, kejernihan hati dan pikirannya mencermati apakah pantas
apabila Terdakwa dipidana dengan pidana penjara selama 5 (Lima) tahun dimana
perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa yang menebas penis Saksi Korban tersebut
terdapat peranan dari perbuatan yang dilakukan oleh Saksi Korban itu sendiri.

3. Alat Bukti
1. KETERANGAN SAKSI AYU VALLEN, KETERANGAN SAKSI JAMIL
PUTRA TIDAK SAH MENURUT HUKUM.

Nafsu kuat Penuntut Umum untuk menjerat Terdakwa dengan sanksi


pidana semakin terlihat ketika dalam Tuntutannya, Penuntut Umum
mengajukan saksi-saksi yang bahkan tidak memiliki keabsahan untuk dijadikan
sebagai alat bukti untuk membuktikan unsur-unsur pasal yang didakwakan
kepada Terdakwa. Menurut Ian Dennis sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr.
Edward Omar Sharief Hiariej, S.H., M.Hum, sedikitnya terdapat lima hal
terkait sahnya suatu keterangan saksi sebagai alat bukti, yaitu:2
a) Kualitas pribadi saksi. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kualitas saksi
dalam hubungannya dengan Terdakwa atau salah satu pihak yang
berperkara. Pada intinya, terdapat larangan seseorang menjadi saksi dan
dapat mengundurkan diri menjadi saksi karena berbagai bentuk hubungan
keluarga, baik hubungan darah maupun hubungan karena perkawinan.
Selain itu, terdapat pula profesi-profesi tertentu yang dapat meminta untuk
dibebaskan sebagai saksi di pengadilan. Pasal 170 ayat (1) Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidana menjelaskan bahwa “Mereka yang karena
pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan
rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi

2
Prof. Dr. Edward Omar Sharief Hiariej, S.H., M.Hum., 2012, Teori dan Hukum Pembuktian, Penerbit
Erlangga, Yogyakarta, hlm. 57-61.

37
keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada
mereka”.
b) Terkait dengan hal yang diterangkan saksi. Mengenai hal yang
diterangkan saksi, yang menjadi perhatian adalah substansi keterangan
tersebut dan sumber pengetahuan saksi. Substansi keterangan saksi
berhubungan dengan fakta yang relevan dengan pembuktian tentang suatu
peristiwa hukum yang disidangkan, sedangkan terkait sumber pengetahuan
saksi berkaitan dengan sumber pengetahuannya yang diperoleh karena
keterangan yang ia melihat atau mendengar langsung ataukah mengalami
sendiri. Hal ini menjadi penting karena berkaitan dengan istilah
testimonium de auditu atau hearsay (keterangan-keterangan tentang
kenyataan-kenyataan dan hal-hal yang didengar, dilihat, atau dialami bukan
oleh saksi sendiri, tetapi keterangan yang disampaikan oleh orang lain
kepadanya mengenai kenyataan-kenyataan dan hal-hal yang didengar,
dilihat, dan dialami sendiri oleh orang lain tersebut).
Dalam perkara a quo, Penuntut Umum menghadirkan dan mendasarkan
keyakinannya pada keterangan-keterangan dari SAKSI JAMIL PUTRA
dan AYU VALLEN yang bahkan memberikan keterangannya hanya
mendasarkan pada hal-hal yang diberikan pada saat pemeriksaannya
sebagai saksi dan tidak berdasarkan pada hal-hal yang mereka dengar
sendiri, mereka lihat sendiri, dan mereka alami sendiri mengenai suatu
peristiwa pidana yang berupa kekerasan fisik yang dilakukan oleh
TERDAKWA terhadap SAKSI KORBAN, bahkan keterangan SAKSI
AYU VALLEN sama sekali tidak berhubungan dengan unsur pemenuhan
delik Pasal 44 ayat (2) UU PKDRT sekaligus menunjukan tidak
mengertinya Penuntut Umum dalam menguraikan unsur delik.
c) Mengenai penyebab saksi dapat mengetahui kesaksiannya. Artinya,
segala sesuatu yang menjadi sebab seorang saksi melihat, mendengar, atau
mengalami tentang peristiwa yang diterangkan saksi.
Dalam perkara a quo, seluruh keterangan dari SAKSI JAMIL PUTRA dan
AYU VALLEN tidak berdasarkan pada hal-hal yang mereka dengar
sendiri, mereka lihat sendiri, dan mereka alami sendiri mengenai peristiwa
pidana yang berupa kekerasan fisik yang dilakukan oleh TERDAKWA
yang dilakukan terhadap SAKSI KORBAN
Padahal berdasarkan Pasal 1 angka 26 Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP) menjelaskan bahwa “Saksi adalah orang yang
dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan
dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia
lihat sendiri dan ia alami sendiri”. Kemudian di dalam Pasal 1 angka 27
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menjelaskan

38
bahwa “Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara
pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa
pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan
menyebut alasan dan pengetahuannya itu”.
Sehingga, pada akhirnya, keterangan para saksi yang diajukan oleh
Penuntut Umum yang tidak mendasar pada hal-hal yang mereka dengar
sendiri, mereka lihat sendiri, dan mereka alami sendiri mengenai peristiwa
pidana yang berupa kekerasan fisik yang dilakukan oleh TERDAKWA
terhadap SAKSI KORBAN JOJO SUKARJO tersebut tidak objektif dan
diragukan sebagai alat bukti yang memiliki kekuatan pembuktian.
d) Kewajiban saksi untuk mengucapkan sumpah atau janji sebelum
memberikan keterangan di depan sidang pengadilan. Hal ini
dimaksudkan untuk dapat mencari kebenaran hakiki dalam suatu peristiwa
hukum. Dalam persidangan telah didapati bahwa SAKSI JAMIL PUTRA
tidak dapat diambil sumpahnya dikarenakan keberatan Penasihat Hukum
akan objektifitas keterangan Saksi dikarenakan hubungan keluarga berupa
anak dari SAKSI KORBAN dan TERDAKWA, ditambah lagi berdasarkan
keterangan yang diberikan SAKSI JAMIL PUTRA di berita acara
pemeriksaan di tahap penyidikan, Tim Penasihat Hukum berpendapat
bahwa SAKSI JAMIL PUTRA tidak mengetahui ataupun melihat langsung
kejadian tindak pidana yang dilakukan sehingga sudah sepatutnya
keterangan SAKSI JAMIL PUTRA ditolak dan tidak mengikat Majelis
Hakim.
e) Mengenai adanya hubungan antara isi keterangan saksi dengan isi
keterangan saksi lain atau alat bukti lain. Hal ini berkaitan dengan unus
testis nullus testis yang berarti satu saksi bukanlah saksi. Dengan ini, nilai
pembuktian keterangan saksi tidak terletak pada banyaknya, tetapi
kualitasnya.
Dapat disimpulkan bahwa SAKSI JAMIL PUTRA memang merupakan
orang yang berada pada saat kejadian kekerasan fisik yang dilakukan oleh
TERDAKWA terhadap SAKSI KORBAN sebagaimana yang didakwakan
Penuntut Umum terjadi. Akan tetapi keterangan yang diberikan oleh SAKSI
JAMIL PUTRA terkesan samar-samar dan tidak jelas karena Saksi tidak
melihat dengan mata kepala sendiri atau mengetahui secara jelas apakah
memang yang melakukan kekerasan fisik berupa penusukan terhadap SAKSI
KORBAN JOJO SUKARJO adalah TERDAKWA NURLELA
Dari keterangan yang diberikan oleh saksi a charge yang dihadirkan
Penuntut Umum tidak ada satupun keterangan saksi yang memenuhi Pasal 185
ayat (2) KUHAP, “ Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk
membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatana yang

39
didakwakan kepadanya “ sebagaimana terlihat dari keterangan SAKSI JAMIL
PUTRA yang berbunyi:

 …kemudian SAKSI JAMIL PUTRA berlari ke kamar TERDAKWA


dan melihat KORBAN JOJO SUKARJO terbaring diatas ranjang dan
merintih kesakitan dengan alat kelamin yang sudah terpotong dan
bersimbah darah.
 Bahwa SAKSI lupa kapan persisnya SAKSI berlari menuju kamar
TERDAKWA dan SAKSI KORBAN, tetapi seingat SAKSI sekitar jam
22.00 WIB
 Bahwa SAKSI tidak melihat Pisau dapur merk SHUN CLASSIC 8” di
tempat kejadian pada saat SAKSI mencoba menyelamatkan SAKSI
KORBAN karena SAKSI panik dan buru-buru memberikan
pertolongan pertama pada SAKSI KORBAN.

Dari keterangan SAKSI JAMIL PUTRA tersebut dapat disimpulkan SAKSI


tidak melihat langsung tindak pidana yang dilakukan oleh TERDAKWA ditambah
lagi keterangan saksi tidak diperkuat maupun bersesuaian dengan keterangan saksi
dan alat bukti lainnya yang disimpulkan dari ketidaktahuan SAKSI akan tempus
delicti kejadian dan instrumentum sceleris (Pisau merk SHUN CLASSIC 8”)
sehingga sudah sepatutnya berdasarkan Pasal 185 KUHAP keterangan SAKSI
JAMIL PUTRA tidak mempunyai kekuatan pembuktian.
Kami memohon kepada Majelis Hakim untuk mengindahkan keterangan
SAKSI AYU VALLEN yang sama sekali tidak berhubungan dengan pokok perkara
dikarenakan SAKSI AYU VALLEN bukanlah saksi yang melihat, mendengar,
ataupun mengalami sendiri tindak pidana yang didakwakan penuntut umum sesuai
Pasal 1 angka (27) KUHAP, malahan keterangan SAKSI AYU VALLEN terhadap
adanya percakapan SAKSI dengan SAKSI KORBAN yang bernada mesra semakin
memperkuat fakta bahwa SAKSI KORBAN mempunyai kedekatan dengan SAKSI
AYU VALLEN. Ditambah lagi keterangan SAKSI AYU VALLEN terkait adanya
tindak pidana tidak berhubungan sama sekali dengan alat bukti maupun barang bukti
yang dihadirkan oleh Penuntut Umum sehingga sudah sepatutnya keterangan SAKSI
AYU VALLEN tidak mempunyai kekuatan pembuktian di persidangan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka sudah jelas bahwa
KETERANGAN SAKSI JAMIL PUTRA dan AYU VALLEN TIDAK SAH
MENURUT HUKUM.

2. TERBUKTINYA HAL IKHWAL TINDAK PIDANA BERDASARKAN


KETERANGAN PARA SAKSI.

Semua tindak pidana pasti mempunyai hal ikhwal yang melatarbelakanginya,


termasuk dalam perkara yang disidangkan ini adalah kesalahan SAKSI KORBAN
karena meneriakan kata-kata “ayu” pada saat sedang melakukan hubungan seksual

40
dengan istrinya sekaligus TERDAKWA. Sudah sepatutnya seorang suami yang
kepergok melakukan perselingkuhan menjaga baik-baik kepercayaan yang telah
diberikan dengan susah payah oleh TERDAKWA, namun dalam kasus ini yang
terjadi malah SAKSI KORBAN membakar habis kecemburuan TERDAKWA dengan
cara berdekatan dengan SAKSI AYU VALLEN dan tidak menjaga jarak dengannya
sebagaimana keterangan yang telah diberikan oleh SAKSI TEJO BASUKI.
Majelis Hakim yang kami muliakan, TERDAKWA melakukan perbuatan
pidana ini bukanlah suatu kesengajaan ataupun disertai niat yang bulat, siapakah istri
yang menginginkan kepala rumah tangganya cacat? Apa yang telah dilakukan
TERDAKWA bukan murni karena kesalahan TERDAKWA tetapi juga disertai oleh
gangguan jiwa ringan yang diderita oleh TERDAKWA. Berdasarkan keterangan
SAKSI TUKIYEM dan SAKSI JAMIL PUTRA yang diperkuat oleh AHLI SAE MA
WON, TERDAKWA mengalami depresi dan stress terus menerus sejak
perselingkuhan yang dilakukan SAKSI KORBAN pada tahun 2014 silam dimana
sejak perselingkuhan tersebut keadaan mental TERDAKWA mengalami degenerasi
secara gradual sampai pada titik dimana TERDAKWA tidak tahan dengan perbuatan
TERDAKWA yang dekat dengan wanita lain yaitu AYU VALLEN. TERDAKWA
merupakan seorang ibu rumah tangga yang kuat menahan depresi dan melawan
trauma yang dimilikinya semata-mata untuk keutuhan rumah tangga dan keadaan
anak-anak TERDAKWA dan SAKSI KORBAN.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa TERDAKWA tidak dalam keadaan sadar
sempurna dalam melakukan tindak pidana yang didakwakan dan perbuatan tersebut
terjadi karena berbagai faktor yang mempengaruhi TERDAKWA, salah satunya yang
paling berpengaruh yaitu perselingkuhan SAKSI KORBAN dan kedekatan SAKSI
KORBAN dengan SAKSI AYU VALLEN yang menyebabkan kecemburuan yang
luar biasa.

Majelis Hakim yang Mulia,

Adapun uraian Analisis Fakta ini semata-mata bertujuan untuk menunjukan


kepada Majelis Hakim bagaimana Penuntut Umum telah ceroboh, tidak teliti, dan
keliru dalam menangani perkara a quo dilihat dari segi surat dakwaan dan surat
tuntutan yang dibuat oleh Penuntut Umum. Sehingga hal tersebut akan
mempengaruhi seluruh substansi dari dakwaan dan tuntutan Penuntut Umum.
Sehingga berdasarkan Analisis Fakta ini, kami berharap bahwa Majelis Hakim
dalam memutus perkara a quo benar-benar mendasarkan dirinya tidak pada
pandangan dan cara pikir yang satu sisi dan sepihak demi terciptanya suatu kepastian
hukum, keadilan, dan kemanfaatan hukum. Dan ketika Majelis Hakim melalui
putusannya nanti akan menjatuhkan sanksi pidana pada Terdakwa, seyogyanya
Majelis Hakim yang Mulia benar-benar mempertimbangkan mengenai gangguan jiwa

41
ringan berupa Anxiety Disorder yang dialami Terdakwa yang disebabkan oleh
perbuatan Saksi Korban itu sendiri. Namun apabila Majelis Hakim ragu dalam
memutus apakah Terdakwa bersalah atau tidak, maka seyogyanya pula Majelis
Hakim mendasarkan dirinya pada sebuah adagium yang berbunyi:

“IN DUBIO PRO REO”

Adagium tersebut terdiri dari kata IN DUBIO yang berarti dalam keraguan (in
doubt) dan PRO REO yang berarti memihak Terdakwa. Bila disatukan secara utuh,
adagium tersebut menyaratkan bila Hakim ragu-ragu akan suatu kesalahan yang
dituduhkan kepada Terdakwa, maka segala keputusannya harus memihak atau
condong kepada Terdakwa. Adagium yang bersifat universal tersebut kemudian
menjadi asas dalam hukum acara pidana Indonesia ketika diakomodir dalam Pasal
183 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang berbunyi “Hakim
tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali dengan sekurang-
kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak
pidana benar-benar terjadi dan bahwa Terdakwalah yang bersalah melakukannya”.

42
V. ANALISIS YURIDIS

Majelis Hakim yang Mulia,


Saudara Penuntut Umum yang Terhormat,
Hadirin Sidang yang Kami Hormati

Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya meyakini bahwa seluruh unsur-


unsur dalam Dakwaan telah terbukti. Namun berdasarkan fakta-fakta hukum yang
terungkap selama persidangan, seluruh unsur-unsur dalam Dakwaan ternyata tidak
terbukti.
Oleh karenanya, melalui Analisis Yuridis ini kami selaku Tim Penasihat
Hukum Terdakwa akan menganalisis fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan
yang mulia ini, untuk kemudian dihubungkan dengan peraturan perundang-undangan
yang terkait guna mengurai unsur-unsur yang tidak terbukti tersebut.
Adapun unsur-unsur dari pasal-pasal yang dituntut oleh Penuntut Umum
terhadap Terdakwa antara lain:
DAKWAAN

Bahwa Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang


Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga mengandung unsur-unsur sebagai
berikut:
1. Setiap orang;
2. Melakukan Perbuatan Kekerasan Fisik sebagaimana yang tercantum dalam
Pasal 5 huruf a;
3. Dalam Lingkup Rumah Tangga;
4. Mengakibatkan Korban Mendapat Jatuh Sakit atau Luka Berat.

Kami Tim Penasihat Hukum Terdakwa NURLELA akan memberikan analisis


yuridis terhadap Surat Tuntutan dengan pembahasan sebagai berikut:
1. Unsur “Setiap Orang”
Berdasarkan keterangan saksi ahli dr. Sae Ma Won, Sp.KJ. dalam persidangan
sesuai dengan hasil pemeriksaan kejiwaan terhadap Terdakwa ditemukan bahwa
Terdakwa mengalami gangguan jiwa ringan. Keterangan saksi ahli dr. Sae Ma Won,
Sp.KJ. meliputi:

- Bahwa Terdakwa telah mengalami gangguan jiwa ringan yang kondisinya


seringkali disebut Anxiety Disorder yang mana kondisi ini disebabkan akibat
suatu kejadian traumatik yang dialami oleh penderita berupa perselingkuhan

43
yang dilakukan oleh suaminya pada tahun 2014, yang mana hal tersebut
menyebabkan terjadinya perubahan perilaku dari si penderitanya berupa rasa
takut dan kecemasan yang berlebihan, yang mana hal tersebut terlihat dari
hasil aloanamnesis dan hasil observasi yang dilakukan.
- Bahwa trauma yang terjadi terhadap Terdakwa yang tidak ditangani dalam
waktu yang lama dan terjadi berulang kali dapat menyebabkan kondisi
Anxiety Disorder karena Anxiety Disorder ini paling sering terjadi terhadap
orang-orang yang mengalami kejadian buruk atau melihat kejadian buruk
yang terjadi pada dirinya ataupun orang lain yang memiliki hubungan
afeksional dengan dirinya secara terus-menerus.

Dari hasil pemeriksaan kejiwaan terhadap Terdakwa dan berdasarkan


keterangan saksi ahli dr. Sae Ma Won, Sp.KJ. serta Visum Et Repertum Psikiatrium
Nomor: 003/RSS/III/2017, dapat disimpulkan bahwa Terdakwa mengalami depresi
dan gangguan jiwa ringan sehingga didapati indikator-indikator sebagai berikut:

- Hubungan Saksi Korban dan Terdakwa tidak mengalami pertengkaran


dalam rumah tangga yang besar dalam 3 tahun terakhir dan tidak
terdengar kabar pertengkaran antara mereka sehingga dapat disimpulkan
hubungan rumah tangga berlangsung dengan harmonis.
- Pada tahun ke 20 pernikahan mereka sekitar tahun 2014 terjadi
pertengkaran hebat akibat tertangkap basahnya Saksi Korban Jojo
Sukarjo sedang berzina di dalam kamar hotel oleh Terdakwa.
- Terdakwa sering bercerita kepada Ibu Terdakwa yaitu Tukiyem bahwa
Terdakwa sudah tidak mempunyai kepercayaan kepada Saksi Korban
layaknya sebelum kejadian perselingkuhan Saksi Korban dengan wanita
lain dan Terdakwa mempertahankan pernikahan mengingat usia anak-
anak yang masih kecil dan belum siap dengan perceraian.
- Semenjak pertengkaran hebat akibat perselingkuhan Saksi Korban
dengan wanita lain Terdakwa sering merasa depresi dan stress, ditambah
dengan jarangnya waktu Saksi Korban untuk keluarga dikarenakan
kesibukan kerja Saksi Korban
- Seiring waktu perubahan perilaku TERDAKWA semakin terlihat,
TERDAKWA yang biasanya sering bergaul dengan teman-temanya
seiring waktu menjadi menutup diri dan jarang bergaul dengan orang
lain, TERDAKWA sempat bercerita kepada SAKSI bahwa berat badannya
turun drastis dari yang semula 56 Kilogram menjadi 48 Kilogram.
- Bahwa SAKSI pernah mendapati TERDAKWA melakukan perbuatan
ekstrim seperti mencekik kucing milik tetangga ketika SAKSI sedang

44
berkunjung kerumah TERDAKWA, padahal sepengetahuan SAKSI,
TERDAKWA merupakan orang yang menyukai binatang peliharaan dan
suka mengelus kucing.

Berdasar pengamatan, pemeriksaan, dan wawancara dengan Terdakwa


maupun keluarganya kemungkinan sangat besar bahwa Terdakwa mengalami
penelantaran psikologis dalam kehidupan rumah tangga. Pada pemeriksaan awal tidak
diketemukan tanda-tanda bekas penganiayaan, namun dari hasil kesimpulan penilaian
ahli menyatakan bahwa pasien mengalami trauma psikosis atau depresi di dalam
hubungan keluarga.
Menurut American Psychological Association, anxiety disorder merupakan
gangguan kecemasan yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman
yang menakutkan atau mengerikan, sulit, dan tidak menyenangkan dimana trauma
mendalam dan ketakutan yang berlebihan, Diketemukan 3 (tiga) kelompok tanda dan
gejala anxiety disorder, yang mana simptom-simptom spesifik dari anxiety disorder
adalah:
a) Kekhawatiran berlebihan yang kronis (chronic excessive worry);
b) Tidak bisa istirahat (restlessness);
c) Kesulitan konsentrasi dan iritabilitas yang berlebihan (concentration
problems and iritability);

Bahwa Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya menjelaskan bahwa


Terdakwa melakukan pemotongan alat kelamin Jojo Sukarjo dikarenakan korban Jojo
Sukarjo menyebutkan nama “Ayu” yang dianggap Terdakwa sebagai Ayu Vallen
yang dicurigai Terdakwa sedang berselingkuh dengan Korban sekaligus suami
Terdakwa, berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan Terdakwa sedang berada
dalam gangguan kejiwaan dengan ciri-ciri kesulitan berkonsentrasi dan iritabilitas
yang berkelebihan.
Menurut Nieboer harus ada pengintegrasian kedua bidang ilmu yakni psikiatri
dan hukum pidana yang menyatakan kausalitas penyimpangan psikis harus turut
dipertimbangkan dalam suatu delik. Demikian pula menurut Durham yang
berpendapat semakin besar peran deviasi psikis, semakin kecil tingkat kesalahannya3
Bahwa ketika Terdakwa melakukan perbuatan Pemotongan Penis Saksi
Korban Riski sebagaimana dijelaskan oleh Penuntut Umum dalam Surat
Tuntutannya, Terdakwa sedang mengalami gangguan jiwa yang tergolong sebagai
depresi mayor sehingga Terdakwa tidak dapat menahan emosinya serta kesulitan
untuk merasakan dan melakukan perbuatan-perbuatan yang positif. Oleh karena itu

3
Jan Remmelink, Hukum Pidana: Komentar Atas Pasal-Pasal Terpenting Dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang-Undang Hukum
Pidana Indonesia, hlm 218, sebagaimana dikutip dalam Eddy O.S. Hiariej, Prinsip-Prinsip Hukum
Pidana, cetakan pertama, 2014, Cahaya Atma Pustaka:Yogyakarta, hlm. 216

45
terdapat alasan yang dapat menghapus kesalahan dari Terdakwa atas suatu tindak
pidana yang dilakukannya. Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 44 ayat (1) Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai kemampuan bertanggungjawab.
Van Hamel tidak memberikan definisi pertanggungjawaban pidana,
melainkan memberik pengertian mengenai pertanggungjawaban. Secara lengkap Van
Hamel menyatakan:

“toerekeningsvatbaarheid is een staat van psychische normaliteit en


rijpheid, welke drieërlei geschiktheid meebrengt: 1) die om de feitelijke
strekking van der eigen handelingen te begrijpen; 2) die om het
maatschappelijk ongeoorloofde van die handelingen te beseffen; 3) die om
ten aanzien van die handeling de wil te bepalen.”

(Pertanggung-jawaban adalah suatu keadaan normal psikis dan kemahiran


yang membawa tiga macam kemampuan, yaitu: 1) mempu untuk dapat
mengerti makna serta akibat sungguh-sungguh dari perbuatan-perbuatan
sendiri; 2) mampu untuk menginsyafi bahwa perbuatan-perbuatan itu
bertentangan dengan ketertiban masyarakat; 3) mampu untuk menentukan
kehendak berbuat)

Kemampuan bertanggung jawab dalam KUHP tidak dirumuskan secara


positif, melainkan dirumuskan secara negatif. Pasal 44 KUHP (Pasal 37 Wetboek van
Strafrecht yang disinggung dalam pendapat Pompe) menyatakan:

Tidak mampu bertanggung jawab:


(1) Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat
dalam tumbuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau terganggu karena
penyakit (ziekelijke storing), tidak dipidana.
(2) Jika ternyata bahwa perbuatan tidak dapat dipertanggungjawabkan
padanya disebabkan Karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau
terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya
orang itu dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, paling lam asatu
tahun sebagai waktu percobaan.
(3) Ketentuan tersebut dalam ayat (2) hanya berlaku bagi Mahkamah
Agung, Pengadilan Tinggi dan Pengadilan negeri.

Berdasarkan ketentuan Pasal 44 KUHP tersebut dapat ditarik kesimpulan,


bahwa: kemampuan bertanggung jawab dilihat dari sisi pelaku berupa keadaan akal
sehat atau jiwa yang cacat pertumbuhan atau terganggu karena penyakit dan terdapat

46
hubungan kausal antara keadaan jiwa dan perbuatan yang dilakukannya. Menurut
uraian di atas, keadaan jiwa Terdakwa dalam melakukan tindak pidana yang
didakwakan oleh Penuntut Umum tidak memenuhi kualifikasi dapat
dipertanggungjawabkannya dia.
Kemudian dalam membahas sebuah perbuatan pidana (strafbaar feit) tidak
dapat memisahkan secara terpisah unsur-unsur perbuatan pidana tersebut, yakni unsur
“pertanggungjawaban pidana kepada pelakunya” dan unsur “perbuatan atau tindakan
yang dapat dipidanakan”. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak akan ada
hukuman pidana terhadap seseorang tanpa adanya hal-hal yang secara jelas
dapat dianggap memenuhi syarat atas kedua unsur itu.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa unsur “setiap orang” adalah
orang yang apabila ia terbukti memenuhi unsur perbuatan pidana yang dituduhkan
terhadap Terdakwa. Unsur “setiap orang” tidak dapat langsung ditujukan kepada diri
Terdakwa, karena menentukan unsur ini tidak cukup dengan menghubungkan
Terdakwa sebagai perseorangan sebagaimana manusia pribadi atau subjek hukum
(subject van een recht) yang diajukan sebagai Terdakwa dalam perkara ini, akan
tetapi yang dimaksud setiap orang dalam undang-undang adalah orang yang
perbuatannya secara sah dan meyakinkan terbukti memenuhi semua unsur dari
perbuatan pidana sebagaimana dimaksud dalam undang-undang tersebut.
Maka dari itu, untuk membuktikan unsur “setiap orang”, maka seluruh unsur
dari perbuatan yang menurut Penuntut Umum terbukti, haruslah dibuktikan terlebih
dahulu dan apabila seluruh unsur-unsur terbukti, barulah dapat dibuktikan unsur
“setiap orang” yang ditujukan kepada Terdakwa sebagai subyek hukum yang
didakwa melakukan tindak pidana. Akan tetapi, apabila unsur-unsur dalam pasal yang
merupakan delik inti atau bestanddeel delict dari tindak pidana yang didakwakan oleh
Penuntut Umum tidak terbukti dilakukan oleh Terdakwa, maka Terdakwa tidak dapat
dimintai pertanggung-jawaban sebagai subyek hukum yang memenuhi unsur “setiap
orang”.
Oleh karenanya, dalam unsur selanjutnya dimana Penuntut Umum
mendakwakan Terdakwa dengan tindak pidana kekerasan, unsur “setiap orang”
sangat berkesinambungan dengan pembuktian unsur tersebut. Walaupun Terdakwa
melakukan perbuatan yang didakwakan Penuntut Umum, kondisi Terdakwa pada saat
itu sedang dalam keadaan tidak stabil dan mengalami gangguan jiwa yang patut
dimasukan ke dalam kualifikasi Pasal 44 ayat 1 KUHP, “ Barangsiapa melakukan
perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat
dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana.”
Berdasarkan uraian dan fakta-fakta yang terungkap di atas, Kami selaku Tim
Penasihat Hukum Terdakwa dengan yakin menyatakan bahwa UNSUR “SETIAP
ORANG” TIDAK TERBUKTI SECARA SAH DAN MEYAKINKAN.

47
2. Unsur “Melakukan Perbuatan Kekerasan Fisik sebagaimana yang tercantum
dalam Pasal 5 huruf a”
Pada unsur “Melakukan Perbuatan Kekerasan Fisik sebagaimana yang
tercantum dalam Pasal 5 huruf a”, Kami selaku Tim Penasihat Hukum terdakwa
menemukan Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya tidak mencantumkan
kesaksian lain yang membuktikan adanya pemotongan alat kelamin Korban.
Pembuktian Penuntut Umum hanya berdasarkan pada keterangan Saksi Korban Jojo
Sukarjo yaitu:

- Bahwa benar KORBAN JOJO SUKARJO lalu mengajak TERDAKWA


untuk melakukan hubungan seksual yang disetujui oleh TERDAKWA.
Ditengah-tengah hubungan seksual KORBAN JOJO SUKARJO
menyebutkan kata “Ayu” yang menyinggung TERDAKWA. TERDAKWA
yang marah besar karena cemburu, kemudian mendorong KORBAN JOJO
SUKARJO dan mengambil pisau dapur diatas nakas dan memotong alat
kelamin KORBAN JOJO SUKARJO.

Pembuktian yang hanya berdasarkan keterangan seorang saksi tidaklah


berdasar dan tidak kuat, terlebih lagi saksi tersebut merupakan saksi a charge yang
memberatkan Terdakwa, sebagaimana telah diuraikan oleh Penasihat Hukum pada
bagian Analisis Fakta: KETERANGAN SAKSI AYU VALLEN,
KETERANGAN SAKSI JAMIL PUTRA TIDAK SAH MENURUT HUKUM
sebelumnya bahwa Kesaksian Saksi Jamil Putra dan Ayu Vallen bukanlah merupakan
kesaksian yang sah karena merupakan testimonium de auditu dan saling tidak
bersesuaian dengan saksi dan alat bukti lainnya, terlebih lagi kesaksian Saksi Jamil
Putra tidak mengikat Majelis Hakim karena tidak disumpahnya Saksi tersebut
sehingga tidak ada lagi keterangan Saksi yang melihat langsung proses pemotongan
yang didakwakan oleh Penasihat Hukum.
Kami memohon kebijaksanaan Majelis Hakim yang Mulia untuk tidak secara
mentah-mentah menerima apa yang dituduhkan oleh Penuntut Umum dalam Surat
Tuntutannya yang hanya berdasarkan keterangan Saksi Korban Jojo Sukarjo seorang,
dikarenakan cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya
dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya berdasarkan pasal 185
ayat (6) huruf d KUHAP dapat disimpulkan bahwa Saksi Korban Jojo Sukarjo pernah
berzina dengan wanita lain yang merusak hubungan rumah tangganya dan oleh
karenanya terdapat tendensi Saksi Korban untuk memperberat hukuman Terdakwa
dengan cara memberikan kesaksian yang bias.

48
UNSUR “MELAKUKAN PERBUATAN KEKERASAN FISIK
SEBAGAIMANA YANG TERCANTUM DALAM PASAL 5 HURUF A”
TIDAK TERBUKTI SECARA SAH DAN MEYAKINKAN.

3. Unsur “Dalam Lingkup Rumah Tangga”

Bahwa yang dimaksud dengan "Dalam Lingkup Rumah Tangga" berdasarkan


Pasal 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga meliputi: suami, isteri, dan anak; orang-orang yang
mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, persusuan,
pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau orang yang
bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut. Bahwa
menurut Duvall dan Logan ( 1986 ):

Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran,


dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya,
dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari
tiap anggota keluarga.

Hal yang disampaikan oleh Duval dan Logan mendefinisikan apa yang
seharusnya dan seperti apa keluarga itu seharusnya. Karena setiap anggota keluarga
harus menjaga keutuhan keluarga dan menjaga kebersamaan satu dan yang lainnya,
tidak saling menyakiti, harus saling menyayangi dan saling melindungi. Dalam Surat
Tuntutan yang disampaikan oleh Penuntut Umum, Kami sebagai Tim Penasihat
Hukum Terdakwa menilai kerenggangan rumah tangga yang terjadi antara Saksi
Korban Jojo Sukarjo dan Terdakwa karena perilaku Jojo Sukarjo yang menyakiti
perasaan dan kondisi psikologis Terdakwa. Perbuatan itu bukan mencerminkan apa
yang seharusnya keluarga itu lakukan untuk menjaga kerukunan dan menjaga
keharmonisan satu dengan lainnya. Terlebih lagi diatur dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyatakan
beberapa peran suami dalam kegiatan rumah tangga yaitu:

Pasal 33
Suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat-menghormati setia dan
memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain.
Pasal 34
(1)Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu
keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
(2)Isteri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.

49
(3)Jika suami atau isteri melalaikan kewajibannya masing-masi dapat
mengajukan gugatan kepada Pengadilan

Sedangkan apa yang dilakukan oleh Saksi Korban Jojo Sukarjo selaku suami
Terdakwa dalam Surat Tuntutan:

- “Bahwa benar pada sekitar tahun 2014 SAKSI KORBAN pernah


melakukan perselingkuhan dengan wanita lain, tetapi sepengetahuan
SAKSI KORBAN kejadian tersebut telah diselesaikan dan TERDAKWA
telah memaafkan SAKSI KORBAN.

- Bahwa SAKSI KORBAN tidak tahu jika TERDAKWA mendapati gangguan


jiwa akibat kejadian perselingkuhan pada tahun 2014 silam akibat
kurangnya waktu SAKSI KORBAN untuk keluarga dikarenakan sibuknya
pekerjaan SAKSI KORBAN

Berdasarkan keterangan SAKSI KORBAN, TERDAKWA, SAKSI


TUKIYEM, dan SAKSI JAMIL PUTRA dapat disimpulkan bahwa perselingkuhan
SAKSI KORBAN dengan wanita lain pada tahun 2014 merupakan penyebab
TERDAKWA mengalami gangguan kejiwaan ditambah lagi dengan kurangnya waktu
yang dihabiskan oleh SAKSI KORBAN untuk keluarga dan sikap SAKSI KORBAN
yang selalu menghindar dari pembicaraan TERDAKWA yang menanyakan hubungan
SAKSI KORBAN dengan SAKSI AYU VALLEN, hal ini diperkuat oleh keterangan
SAKSI TUKIYEM yang intinya:

- Bahwa TERDAKWA sering bercerita kepada SAKSI kalau TERDAKWA


sudah tidak mempunyai kepercayaan kepada SAKSI KORBAN layaknya
sebelum kejadian perselingkuhan SAKSI KORBAN dengan wanita lain dan
TERDAKWA mempertahankan pernikahan mengingat usia anak-anak yang
masih kecil dan belum siap dengan perceraian.
- Bahwa semenjak pertengkaran hebat akibat perselingkuhan SAKSI
KORBAN dengan wanita lain TERDAKWA sering merasa depresi dan
stress, ditambah dengan jarangnya waktu SAKSI KORBAN untuk keluarga
dikarenakan kesibukan kerja SAKSI KORBAN

Hal tersebut juga diperkuat oleh keterangan Jamil Putra yang merupakan anak
Terdakwa dan Saksi Korban yang sedikit banyak mengetahui kehidupan rumah
tangga antara Saksi dan Terdakwa, yang menyatakan di persidangan bahwa:

50
- Bahwa SAKSI mengetahui kejadian perselingkuhan yang dilakukan
SAKSI KORBAN dengan wanita lain, SAKSI mengetahui kejadian ini
karena SAKSI melihat pertengkaran hebat antara TERDAKWA dan SAKSI
KORBAN pada tahun 2014 silam. Sejak kejadian perselingkuhan tersebut
TERDAKWA menjadi pendiam dan bahkan jarang bergaul dengan teman-
temannya
- Bahwa SAKSI sering mendapati TERDAKWA keluar rumah untuk pergi
ke rumah nenek SAKSI yaitu SAKSI TUKIYEM. Sepengetahuan SAKSI,
TERDAKWA pergi ke rumah nenek untuk melepas stress akibat hubungan
rumah tangga yang mulai merenggang.

Majelis Hakim yang Kami Hormati,

Kami memohon kepada Majelis Hakim yang Mulia, agar kiranya hal-hal yang
telah Kami uraikan di atas menjadi bahan pertimbangan Majelis untuk memutus
perkara ini. Kami rasa, Majelis Hakim masih memiliki hati nurani dan keadilan yang
benar-benar berdasarkan rasa kemanusiaan dalam menjatuhkan pidana kepada
Terdakwa yang menjadi korban perselingkuhan Saksi Korban Jojo Sukarjo,
Terdakwa selalu sabar selama 3 (tiga) tahun pernikahannya dengan Jojo Sukarjo,
bahkan Terdakwa berusaha meluruskan kesalahpahaman antara Terdakwa dengan
Saksi Korban terkait hubungan Saksi Korban dengan Saksi Ayu Vallen, tetapi apa
yang dilakukan oleh Saksi Korban? Saksi Korban malah menghindar dari pertanyaan
Terdakwa. Dari uraian Tim Penasihat Hukum di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
tidak pantas apabila seorang suami memperlakukan istrinya seperti yang telah
dilakukan oleh Saudara Jojo Sukarjo mengingat perselingkuhannya dengan wanita
lain 3 tahun silam, tetapi apa yang dilakukan oleh Saksi Korban? Beliau malah
mencari permasalahan dengan cara tidak menjaga jarak dengan Saksi Ayu Vallen
sehingga menimbulkan kecemburuan Terdakwa, dari fakta tersebut dapat
disimpulkan bahwa Saksi Korban
Berdasarkan uraian dan fakta-fakta yang terungkap di atas, Kami selaku Tim
Penasihat Hukum Terdakwa dengan yakin menyatakan bahwa UNSUR “DALAM
LINGKUP RUMAH TANGGA” TIDAK TERBUKTI SECARA SAH DAN
MEYAKINKAN.

4. Unsur “Mengakibatkan Korban Mendapat Jatuh Sakit atau Luka Berat”


Bahwa untuk menentukan suatu perbuatan yang dikehendaki oleh Terdakwa,
harus dibuktikan terlebih dahulu bahwa perbuatan tersebut sesuai dengan motifnya
untuk berbuat dan tujuannya yang hendak dicapai. Selain itu antara motif, perbuatan,

51
dan tujuan harus ada hubungan kausal dalam batin Terdakwa.4 Dapat disimpulkan
bahwa adanya kesengajaan atau dolus dalam perbuatan Terdakwa yang
mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat terhadap Saksi Korban Jojo
Sukarjo, S.E harus terlebih dahulu dibuktikan berdasarkan fakta-fakta yang terungkap
di persidangan.
Luka merupakan kerusakan atau hilangnya hubungan antar jaringan
(discontinuous tissue) seperti jaringan kulit, jaringan lunak, jaringan otot, jaringan
pembuluh darah, jaringan saraf dan tulang. Trauma tajam adalah suatu ruda paksa
yang mengakibatkan luka pada permukaan tubuh oleh benda-benda tajam. Trauma
tajam dikenal dalam 3 (tiga) bentuk yaitu luka iris atau luka sayat (vulnus scissum),
luka tusuk (vulnus punctum), luka bacok (vulnus caesum), dan Luka potong(vulnus
amputatum).5
Derajat perlukaan yang dialami oleh seseorang dapat dibagi menjadi 3 (tiga)
bentuk yaitu luka ringan, luka sedang, dan luka berat. Pembagian jenis luka menurut
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terdiri atas: a) luka derajat pertama
(luka golongan C) yaitu luka yang tidak berakibat penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian; b) luka derajat kedua (luka
golongan B) yaitu luka yang berakibat penyakit atau halangan untuk sementara
waktu; dan c) luka derajat ketiga (luka golongan A) yaitu luka yang menyebabkan
rintangan atau halangan menjalankan jabatan, pekerjaan atau pencaharian.
Mengenai luka derajat ketiga yang berupa luka berat diatur lebih lanjut dalam
Pasal 90 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menjelaskan bahwa yang
termasuk luka berat adalah:
1) jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh
sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut;
2) tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencarian;
3) kehilangan salah satu pancaindera;
4) mendapat cacat berat;
5) menderita sakit lumpuh;
6) terganggunya daya pikir selama 4 (empat) minggu lebih;
7) gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.

Bahwa Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya berdasarkan keterangan


saksi ahli Prof. Dr. Med. dr. DOLILA HARTINI, Sp.F. sesuai dengan Visum et
Repertum Luka Jojo Sukarjo yang telah dilegalisasi dengan
No.370/2322/437.76/2017 tanggal 17 Februari 2017 yang dibuat dan ditanda tangani

4
Prof. Moeljatno, S.H., 2008, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, hlm. 187.
5
Alfred C. Satyo, Aspek Medikolegal Luka pada Forensik Klinik, Majalah Kedokteran Nusantara
Volume 39, Nomor 4, Desember 2006, hlm. 431.

52
oleh Prof. Dr. Med. dr. DOLILA HARTINI, Sp.F. dokter pada Rumah Sakit Sardjito,
dari hasil pemeriksaan ahli terhadap KORBAN JOJO SUKARJO yang tertuang
dalam Visum et Repertum, ditemukan bahwa alat kelamin Sdr. Jojo Sukarjo (penis)
putus hingga pangkalnya (tidak ada sisa), serta luka iris pada kulit bagian depan
testikel/kantung pelirnya.
Terhadap pertanyaan penasihat hukum mengenai apakah terdapat dampak
jangka panjang tentang luka potong pada penis korban, ahli berpendapat bahwa
karena velnus amputatum di lakukan pada batang penis dan bukan pada kantung
zakar, maka kemungkinan berubahnya kepribadian sangat kecil atau bahkan tidak ada
perubahan terhadap kepribadian dapat terjadi apabila terdapat kerusakan pada bagian
testikel, karena organ tersebut berfungsi sebagai tempat produksi hormon testosteron
untuk menimbulkan karakteristik seorang pria. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
tidak akan ada perubahan kepribadian Korban Jojo Sukarjo dan disfungsi kemampuan
reproduksi, selain itu tidak dijabarkan secara jelas oleh Penuntut umum apakah luka
potong korban menyebabkan ataupun memenuhi Pasal 90 KUHP.
Oleh karena itu luka potong pada penis Saksi Korban Jojo Sukarjo tidak
memenuhi rumusan Pasal 90 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
yang menjelaskan bahwa luka berat salah satunya termasuk tidak mampu
terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian.
Bahwa luka potong pada penis Jojo Sukarjo seharusnya dapat diobati secara
penuh melalui operasi penyambungan penis, Menurut dr Gideon Tampubolon,Sp U
(dokter RS Premier Bintar) jika sudah lewat dari 8 jam, jaringan dalam organ yang
terpotong sudah mati. Syarat untuk operasi penyambungan adalah organ harus dalam
kondisi bersih dan langsung disimpan dalam cairan es atau larutan garam fisiologis
yang dingin supaya steril. Karena itu, pasien harus secepatnya dibawa ke rumah sakit,
berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh tim penasehat hukum tetapi karena
penanganan tidak seharusnya yaitu penyelamatan potongan penis yang tidak disimpan
dalam waktu kurang dari 8 (delapan) jam, maka kemungkinan penis korban untuk
disambungkan kembali menjadi tidak ada sama sekali dan apabila terdapat luka berat
pada Saksi Korban maka hal tersebut bukan karena kesalahan Terdakwa melainkan
karena penanganan yang tidak profesional dari aparat kepolisian.
Apabila penanganan terhadap potongan penis Jojo Sukarjo dilakukan dalam
waktu cepat dan benar, Korban tidak akan mendapati masalah seperti yang telah
diberikan dalam keterangan Saksi Korban, dalam dunia medis penyambungan
kembali penis telah berhasil dilakukan sebagaimana menurut jurnal kesehatan “Penile
amputation and successful reattachment and the role of winter shunt in postoperative

53
viability: A case report and literature review” oleh Michael Fuoco, MD,* Leonard
Cox, MD,† and Thomas Kinahan, MD§6 dengan terjemahan sebagai berikut:
“…Pada Januari 2011 seorang penderita penyakit jiwa
schizophrenic dengan luka potong pada penis yang disebabkan oleh
dirinya sendiri ditangani di UGD Kelowna, British Columbia.
Pasien ditanyai mengenai kronologis kejadian dan didapati bahwa
korban menelan potongan penisnya sendiri, dalam jangka waktu 1
jam setelah penelanan, bidang penyakit sistem pencernaan
melakukan operasi endoscopic untuk mengambil penis dari perut
pasien, eksaminasi menunjukan adanya luka asam perut minimal
dan potongan bersih pada bagian tengah batang penis, dengan
pendapat bagian operasi plastik kami memutuskan untuk
melanjutkan penyambungan penis dengan metode Winter’s Shunt.

Saluran Urin artifisial pasien dilepas setelah 4 minggu operasi dan


pasien dapat buang air kecil dengan baik, pasien memiliki masalah
kecil berupa penyembuhan luka yang tertunda tetapi luka akan
sembuh dalam waktu sebentar. Pasien dilaporkan dapat mengalami
ereksi setelah operasi walaupun pasien memiliki masalah terhadap
rendahnya nafsu seksual tetapi diperkirakan gejala tersebut
disebabkan oleh obat anti-psychotic(obat bius untuk menangani
pasien bipolar dan schizophrenia). Pasien pada awalnya memiliki
mati rasa pada bagian kepala penis tetapi keadaan tersebut
membaik seiring waktu”

Dari uraian dalam jurnal tersebut dapat disimpulkan masih ada harapan untuk
penyambungan kembali penis apabila penanganan luka korba dilakukan secepatnya
dan ditangani oleh pihak yang profesional terhadap hal tersebut.
Oleh karena itu luka potong pada penis yang dialami oleh Saksi Korban Jojo
Sukarjo tidak dapat dikategorikan sebagai luka berat karena masih terdapat
harapan yang besar untuk sembuh seperti sediakala apabila penanganan
potongan penis dilakukan secara profesional.
Delik materiil adalah delik yang perumusannya lebih menekankan pada akibat
yang dilarang, dengan kata lain pembentuk undang-undang melarang terjadinya
akibat tertentu. Dalam delik materiil, akibat adalah hal yang harus ada sehingga

6
Can Urol Assoc J. 2015 May-Jun; 9(5-6): E297–E299., Diterbitkan secara daring pada 2015 Mei,
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4439228/ diakses pada 5 Agustus 2017 pukul 18.44

54
bersifat esensial atau konstitutif. Selesainya suatu delik materiil adalah apabila akibat
yang dilarang dalam rumusan delik sudah benar-benar terjadi.7
Perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang mengakibatkan
korban mendapat jatuh sakit atau luka berat sebagaimana diatur dalam Pasal 44 ayat
(1) dan Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga merupakan delik materiil. Terhadap
perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga harus terdapat akibat korban
mendapat jatuh sakit atau luka berat, karena adanya akibat merupakan hal yang
penting dalam delik materiil. Terhadap perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup
rumah tangga akibat yang ditimbulkan yang berupa korban mendapat jatuh
sakit atau luka berat harus benar-benar terjadi sehingga delik materiil tersebut
menjadi selesai.
Bahwa perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang dilakukan
oleh Terdakwa terhadap Saksi Korban Jojo Sukarjo tidak menimbulkan akibat berupa
luka berat sebagaimana diatur dalam Pasal 90 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP). Hal ini dikarenakan pekerjaan Saksi Korban sebagai Direktur PT. Abebochi
Sukses Makmur oleh Saksi Korban Jojo Sukarjo tidak terlalu banyak menggunakan
tenaga dan gerak tubuh tetapi hanya sebatas pada mewakili PT. Abebochi Sukses
Makmur sesuai Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Perseroan Terbatas a quo
sehingga luka potong pada penis yang dialami oleh Saksi Korban Jojo Sukarjo tidak
menghambat Saksi Korban untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan menjalankan
pekerjaan mata pencahariannya sebagai Direktur PT. Abebochi Sukses Makmur.
Berdasarkan uraian dan fakta-fakta yang terungkap di atas, Kami selaku Tim
Penasihat Hukum Terdakwa dengan yakin menyatakan bahwa UNSUR
“MENGAKIBATKAN KORBAN MENDAPAT JATUH SAKIT ATAU LUKA
BERAT” TIDAK TERBUKTI SECARA SAH DAN MEYAKINKAN.

7
RB Budi Prastowo, Delik Formil atau Materiil, Sifat Melawan Hukum Formil atau Materiil, dan
Pertanggungjawaban Pidana Dalam Tindak Pidana Korupsi Kajian Teori Hukum Pidana Terhadap
Putusan Mahkamah Konstitusi RI Perkara Nomor 003/PUU-IV/200, dalam Jurnal Hukum Pro Justitia,
Juli 2006, Volume 24 No. 3.

55
VI. ANALISIS SOSIOLOGIS

Majelis Hakim yang Mulia,


Saudara Penuntut Umum yang Terhormat,
Hadirin Sidang yang Kami Hormati.

Pada hakikatnya, suatu sistem hukum merupakan bagian dari suatu sistem
yang lebih besar lagi, yaitu sistem sosial masyarakat. Oleh karenanya, sangat penting
bagi kita untuk melihat hukum tersebut tidak terbatas hanya pada apa yang tertulis
dan apa yang terlihat secara kasat mata, namun kita perlu melihat hukum dari
perspektif yang lebih luas lagi, yakni dari perpektif masyarakat. Bahwa hukum dan
keadilan tidak dapat ditegakkan dengan kacamata kuda, dimana penegakan
hukum dan keadilan dilakukan tanpa memandang “efek samping” yang timbul
daripadanya dan hanya melihat suatu masalah hukum dalam satu perspektif
pandangan yang sempit.
Oleh karenanya, Tim Penasihat Hukum Terdakwa merasa memiliki kewajiban
untuk mennyampaikan suatu Analisis Sosiologis, suatu analisis yang memandang
masalah hukum ini dari perspektif masyarakat. Analisis ini dibuat bukan semata-mata
sebagai suatu pemaparan biasa yang tidak penting dan hanya merupakan omong
kosong belaka, melainkan analisis sosiologis ini dibuat agar sekiranya mampu
menghadirkan pentingnya aspek sosiologis dari suatu permasalahan hukum sehingga
para caturwangsa dan masyarakat tidak melupakan esensi dari suatu penegakan
hukum yang mampu mencerminkan keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan
hukum.
Hal ini sejalan dengan pendapat Prof. Oemar Seno Adji, S.H. yang
mengatakan bahwa Hakim Pidana bebas dalam mencari hukuman yang dijatuhkan
terhadap Terdakwa secara tepat. Ia harus memperhitungkan sifat dan seriusnya delik
yang dilakukan, keadaan yang meliputi perbuatan-perbuatan yang dihadapkan
kepadanya. Ia harus melihat kepribadian dari pelaku perbuatan, dengan umurnya,
tingkatan pendidikan, apakah ia pria ataupun wanita, lingkungannya, sifatnya sebagai
bangsa dan hal-hal lain.8
Melalui analisis sosiologis ini, Tim Penasihat Hukum Terdakwa ingin
mengajak para caturwangsa serta masyarakat untuk memahami permasalahan hukum
yang dihadapi oleh Terdakwa secara jelas dan luas.

Ulasan Singkat tentang Nurlela

8
Prof. Oemar Seno Adji, S.H., 1980, Hukum Hakim Pidana, penerbit Erlangga, Jakarta, hal 8

56
Nurlela, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari seorang
pengusaha bernama Sutedjo Sukarman, karena putus kuliah sejak usia 19 (sembilan
belas) tahun, Nurlela tidak pernah patah semangat untuk mengubah nasib dirinya dan
keluarganya. Ayahnya meninggalkan hutang sebesar Rp.1.000.000,00 (satu juta
rupiah) dari kegiatan usahanya bukanlah nominal yang sedikit pada tahun itu.
Pada usianya yang masih 19 (dua puluh tiga) tahun itu Nurlela sudah harus
mengurus adik- adiknya yang masih berusia 6 (enam) dan 4 (empat) tahun
dikarenakan Ibu dan Ayahnya harus sibuk dengan mata pencaharian keluarga mereka.
Nurlela dikenal sebagi anak yang gigih dan periang dalam menjalankan kegiatan
sehari-harinya. Semua masyarakat di lingkungan tempat tinggal Nurlela pasti
mengenal sosok gadis periang dengan senyum indah diwajahnya. Nurlela merupakan
anak yang berprestasi, sejak pendidikan sekolah dasar sudah meraih beasiswa hingga
menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas. Oleh karena kegigihan dan
keuletannya dalam bekerja, usaha yang dijalankan oleh Nurlela berkembang dengan
pesat dan pada akhirnya menjadi perusahaan yang berbadan hukum. Penghargaan-
penghargaan dan kinerjanya yang dinilai sangat baik dan menjadi teladan bagi
seluruh jajaran pegawai di perusahaannya.
Semenjak itu, Nurlela merupakan direktur yang disegani dan dikagumi oleh
teman sebayanya dan pegawinya. Banyak pegawinya yang sangat senang ketika
Nurlela mejadi direktur mereka karena sosok Nurlela merupakan sesorang yang
pantas menyandang panggilan ibu karena sifatnya yang lembut dan jarang sekali
marah kepada pegawinya.
Kemudian pada tahun 1994, tepatnya tanggal 6 Juli 1994, Nurlela menikah
dengan Jojo Sukarjo. Setelah dua tahun membina rumah tangganya bersama Jojo
Sukarjo, Nurlela mengandung dan melahirkan seorang anak bernama Jamil Putra.
Oleh karena kasih sayangnya sebagai seorang ibu yang sangat besar, Nurlela
mengundurkan diri sebagai direktur dan digantikan oleh suaminya agar bisa
mengurus anaknya.
Kini, Nurlela meskipun sudah sukses mengukur prestasi, ia tidak melupakan
kewajibannya sebagai seorang anak dan sebagai ibu. Selain memiliki tanggungan
seorang anak dan seorang suami, ia juga memiliki tanggung jawab atas ibunya yang
sudah tua. Meskipun ia bukan anak satu-satunya, tetapi ia adalah anak yang paling
sukses diantara mereka tiga bersaudara, sehingga ia memiliki kewajiban lebih untuk
mengurus ibunya.

Nurlela dan Kegiatan Bakti Sosial Kasih Ibu


Berawal dari seorang direktur di PT Akebochi, Nurlela berhasil mendirikan
kegiatan rutin sosial dan sekaligus sebagai ketua pada kegiatan Bakti Sosial Permata
Kasih yang sudah ia dirikan bersama teman-temannya sejak tahun 2013.

57
Kegiatan Bakti Sosial Permata Kasih merupakan kegiatan bertujuan untuk
membantu panti asuhan yang memutuhkan dana untuk menyekolahkan anak-anak.
Sudah banyak panti asuhan yang dibantu dari dana yang diberikan kegiatan bakti
sosial ini. Dana yang diberikan berasal dari sumbangan para pengusaha yang berasal
dari seluruh daerah Yogyakarta yang telah membentuk suatu himpunan besar
Pengusaha Regional Yogyakarta.
Selain itu, banyak penghargaan yang sudah ditorehkan oleh kegiatan bakti
sosial Permata Kasih ini adalah The Gift Of Charity Salah satu penghargaannya
antara lain penghargaan melalui pemberian dana bagi panti asuhan yang
membutuhkan dana, membantu renovasi sekolah didaerah yang tidak dijamah oleh
pemerintah dan kegiatan belajar mengajar bagi siswa yang sudah putus sekolah pada
tahun 2007.
Tidak hanya sampai disitu saja, Kegiatan bakti sosial Permata Indah juga terus
mengukir prestasi-prestasi luar biasa, antara lain penghargaan Social Education.
Pada tahun 2014, Kegiatan Permata Indah resmi menjadi sebuah yayasan yang
bergerak di kegiatan social terus berkembang dan telah menjadi yayasan yang sudah
membantu Pendidikan bagi ribuan pelajar di seluruh wilayah Yogyakarta.

Nurlela, Yayasan Kasih Ibu, dan Masyarakat


Selain terampil dalam membagi waktu, Nurlela yang notabene berasal dari
keluarga yang kurang dalam hal ekonomi, tidak serta merta membuatnya lupa diri dan
terbuai akan kesuksesannya. Justru, pengalaman hidupnya dalam mengembangkan
karir dari nol membuatnya semakin terpacu untuk membantu orang-orang yang
membutuhkan. Karena dia memiliki motto hidup yang sampai sekarang masih dia
pegang teguh yaitu “selama kamu baik dengan orang lain, pasti jalan kebaikan selalu
terbuka untukmu”
Sebagai wujud nyatanya, Nurlela setiap bulan selalu menyempatkan diri
mengunjungi panti asuhan yang sudah dibuat olehnya dan teman-teman gurunya pada
tahun 2013. Seakan tidak ingin anak-anak yatim piatu ini merasakan pahitnya hidup,
mengingat semasa kecil ia ditinggal pergi ayahnya, yang membuatnya harus mencari
nafkah untuk membantu ibunya menghidupi kedua saudaranya itu. Oleh karena itu,
dalam setiap kunjungannya, Nurlela selalu membawa sumbangan-sumbangan seperti
sandang, mainan, dan sebagainya. Tak lupa, ia membawa serta anak-anaknya untuk
turut berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim piatu.
Selain itu, untuk memperingati hari ulang tahun yayasan yang ke-2 (kedua),
tepatnya pada tahun 2014, Yayasan Permata Indah atas inisiatif dari Nurlela selaku
Penanggung jawab mengadakan program pengembangan solidaritas bersama. Dalam
program ini, Yayasan Permata Indah memberikan beasiswa bagi anak-anak dan juga
masyarakat sekitar, yang tidak mampu melanjutkan sekolah karena adanya
keterbatasan biaya dan juga memberikan donasi berupa pembangungan fasilitas

58
perpustakaan di beberapa sekolah secara cuma-cuma. Kegiatan ini akhirnya menjadi
sebuah kebiasaan bagi yayasan Permata Indah untuk memberikan beasiswa kepada
100 (seratus) mahasiswa dan 1000 (seribu) pelajar yang tidak mampu melanjutkan
biaya pendidikan.
Berdasarkan uraian singkat tentang Terdakwa, kita dapat melihat betapa
sentralnya peran Terdakwa Nurlela bagi Yayasan Permata Indah. Tidak hanya
Yayasan Permata Indah yang akan merasa kehilangan apabila Sang Penanggung
jawab sekaligus perintis pergi menjalani hukuman dalam jangka waktu lima tahun
yang tidak sepatutnya diberikan kepadanya, tetapi juga para keluarganya terutama
ibu bagi 2 (dua) anak-anaknya yang masih kecil, dan masyarakat sekitar. Mereka
akan kehilangan seorang keluarga, seorang teman, seorang sahabat, seorang
dermawan.
Yang menjadi pertanyaan bagi kita semua adalah masalah hukum tidak logis
yang dihadapi oleh Terdakwa. Terdakwa yang bisa memperoleh apapun yang
diinginkan dan bahkan tidak ragu untuk membaginya dengan orang lain yang
membutuhkan, malah dituntut “pidana penjara selama 5 (Lima) tahun”, Terdakwa
yang sudah merintis karir dari nol dengan keringatnya sendiri, merubah nasib
keluarganya dengan susah payah.
Oleh karenanya, melalui Analisis Sosiologis ini, kami selaku Tim Penasihat
Hukum Terdakwa berharap bahwa Majelis Hakim mampu melihat dan meresapi hal-
hal yang telah kami urai agar sekiranya menjadi bahan pertimbangan Majelis Hakim
dalam memutus perkata a quo dengan seadil-adilnya dengan memperhatikan prinsip
kepastian dan kemanfaatan berdasarkan hati nurani. Menutup Analisis Sosiologis ini,
kami Tim Penasihat Hukum Terdakwa ingin mengutip pernyataan yang pernah
dikatakan oleh Jaksa Agung Basrief Arief:

“Rasa keadilan itu akan lebih terasa apabila kita bekerja dengan hati nurani tanpa
intervensi dimanapun dan oleh siapapun.”

59
VII. KESIMPULAN DAN PERMOHONAN

Majelis Hakim yang Mulia,


Saudara Penuntut Umum yang Terhormat,
Hadirin Sidang yang Kami Hormati.

Pada Bab akhir nota pembelaan ini, perkenankanlah Kami mengutip sesuatu,
bukan mengutip tulisan dari seorang ahli hukum, bukan mengutip sesuatu dari sebuah
literatur hukum, melainkan mengutip tulisan seorang budayawan bernama
Goenawan Mohamad berjudul Hakim9 sebagai berikut:

“Dan ketika Hakim itu tampak tergerak emosinya sewaktu


membacakan kesalahan-kesalahan si tertuduh, akhirnya kita sadar ia
seorang manusia juga. Tapi ”manusia” disini bukan dalih. Sebab
pada dasarnya manusia itu lemah dan gampangan. Hakim sebagai
manusia adalah justru Hakim sebagai seorang yang berwajah, yang
berperasaan, yang berhati nurani, yang berkemerdekaan. Ia bukan
sekedar nomor dalam daftar anggota suatu korps. Ia bukan seorang
birokrat. Ia bukan seorang boneka.”

Hakim yang berani akan menggunakan asas in dubio pro reo, seraya
membebaskan Terdakwa dari Dakwaan yang dituduhkan kepadanya, karena fakta
yuridis yang ada sudah jelas tidak mendukung Surat Dakwaan dari Penuntut Umum
apalagi bila fakta yuridis itu hanya didasarkan kepada bukti-bukti petunjuk saja.
Berdasarkan uraian-uraian sebagaimana telah disampaikan sebelumnya pada
Nota Pembelaan ini, maka Kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa NURLELA
memohon kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sleman agar memutuskan:

PRIMAIR

1. Menyatakan bahwa Terdakwa NURLELA tidak terbukti secara sah dan


meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(KDRT) sebagaimana yang didakwakan oleh Penuntut Umum dalam Surat
Dakwaannya.

9
Goenawan Mohamad.1989.Catatan Pinggir (1).Jakarta:PT PUSTAKA UTAMA GRAFITI

60
2. Membebaskan Terdakwa NURLELA dari semua Dakwaan (Vrijspraak) atau
setidak-tidaknya melepaskannya dari semua Tuntutan Hukum (Onstlag van Alle
Rechtsvolvoging).
3. Membebaskan Terdakwa dari tahanan sesegera mungkin;
4. Mengembalikan nama baik, harkat dan martabat Terdakwa NURLELA.
5. Membebankan biaya perkara sebesar Rp5.000,00 kepada Negara.

SUBSIDAIR

Atau apabila Majelis Hakim Yang Mulia atas dasar pertimbangannya


berpendapat lain, Kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa memohon Putusan yang
seadil–adilnya (ex aequeo et bono).
Pada akhir Nota Pembelaan ini, Kami yang bertindak sebagai Penasihat
Hukum Terdakwa mengucapkan terimakasih kepada serta mendoakan Majelis Hakim
yang memimpin persidangan ini sehingga asas praduga tak bersalah selalu hadir pada
persidangan ini hingga Putusan nanti
Demikian Nota Pembelaan ini Kami sampaikan, sebagai Komitmen dan
Keyakinan Kami demi tegaknya kebenaran dan keadilan. Fiat Justicia Et Pereat
Mundus !

Sleman, 6 Agustus 2017


Hormat Kami,
Tim Penasihat Hukum Terdakwa

SIMANJUNTAK AND PARTNERS


JALAN ADI PRADANA NO. 17 YOGYAKARTA
INDONESIA.

Joshua Oloan Simanjuntak, S.H., LL.M. Haninda Sarah, S.H.

61