Anda di halaman 1dari 30

SMF Bagian Ilmu Penyakit Mata REFERAT

RSUD Prof.DR. W. Z. Johannes Kupang OKTOBER 2018


Fakultas Kedokteran
Universitas Nusa Cendana

ABLASIO RETINA

Disusun Oleh

Jean Riani Pandie, S.Ked (1408010066)

Pembimbing :

dr.Eunike Cahyaningsih, Sp.M

dr. Indriani K. Dewi, SpM

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK

SMF/ BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES

KUPANG

2018

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Lapisan retina merupakan lapisan membran neurosensoris dan merupakan
lapisan ketiga bola mata setelah sklera yang merupakan jaringan ikat dan jaringan
uvea yang merupakan jaringan vaskuler yang terdiri dari iris, badan siliar, dan koroid.
Retina berbatas dengan koroid dengan sel pigmen epitel retina. Antara retina dan
koroid terdapat rongga yang potensial yang bisa mengakibatkan retina terlepas dari
koroid. Hal ini yang disebut sebagai ablasio retina.(1)
Retina manusia merupakan suatu struktur yang sangat terorganisir, yang
terdiri dari lapisan-lapisan badan sel dan prosesus sinaptik. Walaupun ukurannya
kompak dan tampak sederhana apabila dibandingkan dengan struktur saraf misalnya
korteks serebrum, retina memiliki daya pengolahan yang sangat canggih. Pengolahan
visual retina diuraikan oleh otak, dan persepsi warna, kontras, kedalaman, dan bentuk
berlangsung di korteks. Pengolahan informasi di retina berlangsung dari lapisan
fotoreseptor melalui akson sel ganglion menuju ke saraf optikus dan otak.(2)
Istilah “ablasio retina” (retinal detachment) menandakan pemisahan retina
yaitu fotoreseptor dan lapisan bagian dalam, dari epitel pigmen retina dibawahnya.
Terdapat tiga jenis utama : ablasio regmatogenosa, ablasio traksi dan ablasio serosa
(1)
atau eksudatif. Bentuk tersering dari ketiga jenis ablasio retina adalah ablasio
retina regmatogenosa. Menurut penelitian, di Amerika Serikat insiden ablasio retina
1 dalam 15.000 populasi dengan prevalensi 0,3%. Sedangkan insiden per tahun kira-
kira 1 diantara 10.000 orang dan lebih sering terjadi pada usia lanjut kira-kira umur
40-70 tahun. Pasien dengan miopia yang tinggi (>6D) memiliki 5% kemungkinan
resiko terjadinya ablasio retina, afakia sekitar 2%, komplikasi ekstraksi katarak

2
dengan hilangnya vitreus dapat meningkatkan angka kejadian ablasio hingga 10%.(3)
Prevalensi kelainan pada retina di Indonesia mencapai angka 0,13% dan merupakan
penyebab kebutaan ke empat setelah katarak (0,78%), glaukoma (0,20%) , kelainan
refraksi (0,14%), dan penyebab lainnya (0,10%).(4)

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Retina

Secara umum, bola mata terdiri dari tiga lapisan jaringan utama. Lapisan
terluar disebut dengan sclera dan pada bagian depan bola mata menjadi kornea
dengan sudut kelengkungan yang lebih besar. Lapisan kedua disebut uvea yang terdiri
dari iris, badan siliar, dan koroid. Lapisan terdalam setelah koroid disebut dengan
retina dengan susunan lapis sebanyak 10 lapisan.(5)
Retina adalah lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan semitransparan
yang melapisi bagian dalam 2/3 posterior bola mata. Retina membentang ke anterior
hampir sejauh badan atau korpus siliaris dan berakhir pada ora serrata dengan tepi
yang tidak rata. Ketebalan retina kira-kira 0,1 mm pada ora serata dan 0,56 mm pada
kutub posterior. Di tengah-tengah retina posterior terdapat makula lutea yang
berdiameter 5,5 sampai 6 mm, yang secara klinis dinyatakan sebagai daerah yang
dibatasi oleh cabang-cabang pembuluh darah retina temporal.(1,5)

Gambar 2.1. Struktur Bola Mata(6)

4
Lapisan-lapisan retina, merupakan lapisan membran neurosensoris yang akan
merubah sinar yang masuk menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke
otak. Terdapat rongga yang potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat
terlepas dari koroid dan disebut ablasio retina. Lapisan-lapisan retina mulai dari sisi
dalamnya adalah sebagai berikut(5,7) :
1. Membrana limitans interna. Ini adalah lapisan paling dalam dan memisahkan
retina dari vitreus. Itu terbentuk oleh persatuan ekspansi terminal dari serat yang
Muller, dan pada dasarnya adalah dasar membran.
2. Lapisan serat saraf. Lapisan ini merupakan lapisan yang menngandung akson sel
ganglion menuju ke arah saraf opticus. Di dalam lapisan-lapisan ini terletak
sebagian besar pembuluh darah retina.
3. Lapisan sel ganglion, merupakan lapisan yang mengandung sel badan sel
ganglion.
4. Lapisan pleksiformis dalam, merupakan lapisan yang mengandung sambungan –
sambungan sel ganglion dengan sel amakrin dan sel bipolar.
5. Lapisan inti dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal, dan sel Muller.
Lapis ini mendapat metabolisme dari arteri retina sentral.
6. Lapisan pleksiformis luar, merupakan lapisan aseluler dan tempat sinaps sel
fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.
7. Lapisan inti luar sel fotoreseptor, merupakan lapisan yang mengandung
sambungan – sambungan sel bipolar dan sel horizontal dengan fotoreseptor.
8. Membran limitans eksterna, merupakan membran ilusi.
9. Lapisan sel kerucut dan sel batang (fotoreseptor), merupakan lapisan terluar
retina, terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping, dan sel kerucut.
Sel-sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor mengubah rangsangan cahaya
menjadi suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh jaras-jaras penglihatan ke
korteks penglihatan ocipital. Pigmen fotosensitif di dalam sel batang disebut

5
rodopsin. Sel kerucut mengandung tiga pigmen yang belum dikenali sepenuhnya
yang disebut iodopsin yang kemungkinan menjadi dasar kimiawi bagi tiga warna
(merah, hijau, biru) untuk penglihatan warna. Sel kerucut berfungsi untuk
penglihatan siang hari (fotopik). Subgrup sel kerucut responsif terhadap panjang
gelombang pendek, menengah, dan panjang (biru, hijau, merah). Sel batang
berfungsi untuk penglihatan malam (skotopik). Dengan bentuk penglihatan
adaptasi gelap ini terlihat beragam corak abu-abu, tetapi warnanya tidak dapat
dibedakan. Waktu senja (mesopik) diperantarai oleh kombinasi sel kerucut dan
batang.
10. Epitelium pigmen retina, merupakan lapisan terluar dari retina. Epitel pigmen
retina terdiri dari satu lapisan sel mengandung pigmen dan terdiri atas sel-sel
silindris dengan inti di basal. Lapisan ini berbatasan dengan koroid.

Gambar 2.2. Lapisan-lapisan retina(8)

6
Secara vaskularisasi retina mendapatkan sumber dari arteri sentralis retina dan
arteri koriokapilaris. Arteri sentralis retina memperdarahi 2/3 daerah retina bagian
dalam sementara 1/3 daerah retina bagian luar diperdarahi oleh arteri koriokapilaris.
Fovea sentralis diperdarahi hanya oleh arrteri koriokapilaris dan rentan untuk
mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki jika terjadi ablasi. Pembuluh darah
retina memiliki lapisan endotel yang tidak berlubang, sehingga membentuk sawar-
darah retina.(5)

2.2. Fisiologi Retina(2,9)


Lapisan bola mata yang paling dalam yaitu retina, melapisi 3/4 posterior bola
mata dan merupakan awal jalur penglihatan. Dengan oftalmoskop, melalui pupil
dapat terlihat bayangan retina yang diperbesar serta pembuluh darah yang berjalan
pada permukaan anteriornya. Retina merupakan satu-satunya tempat di dalam tubuh
dimana pembuluh darah dapat diamati secara langsung dan dievaluasi kelainan
patologiknya, antara lain pada hipertensi dan diabetes mellitus. Selain pembuluh
darah, terdapat beberapa struktur lain yang dapat diamati; diskus optikus (blind spot,
bintik buta), tempat keluarnya nervus optikus dari bola mata, serta arteri dan vena
sentralis retina yang berjalan bersama nervus optikus.

7
Gambar 2.3. Lapisan Retina dalam proses penglihatan(2)

Retina terdiri dari epitel pigmen (bagian non-visual) dan bagian neural
(bagian visual). Epitel pigmen merupakan selapis sel epitel yang mengandung
pigmen melanin, terletak di antara koroid dan bagian neural retina. Melanin pada
koroid dan epitel pigmen menyerap cahaya sehingga dapat mencegah pantulan dan
penyebaran cahaya di dalam bola mata. Dengan demikian, bayangan yang terlihat
jelas. Pada individu albino, kekurangan pigmen melanin terdapat di seluruh bagian
tubuh, termasuk mata.
Bagian neural retina merupakan bagian yang terhubung ke otak. Bagian ini
memroses data sebelum dihantarkan oleh impuls saraf ke hipotalamus, kemudian ke
korteks visual primer. Terdapat tiga lapisan utama neuron retina yang dipisahkan oleh
dua zona dimana terjadi sinaps, yaitu lapisan sinaps luar dan dalam. Ketiga lapisan ini
(searah dengan input visualnya) ialah: lapisan-lapisan sel fotoreseptor, sel bipolar,
dan sel ganglion. Juga terdapat sel horisontal dan sel amakrin yang membentuk jalur
lateral untuk mengatur sinyal yang dihantarkan sepanjang jalur sel fotoreseptor ke sel
bipolar dan ke sel ganglion.

8
Fotoreseptor dikhususkan untuk transduksi gelombang cahaya menjadi
potensial reseptor. Terdapat dua jenis fotoreseptor yaitu sel batang (rod, bacili) dan
kerucut (cone, coni). Pemberian nama berdasarkan bentuk segmen luar sel
fotoreseptor yang terletak di antara tonjolan-tonjolan sel epitel pigmen yang
berbentuk jari. Masing-masing retina mempunyai 6 juta sel kerucut dan 120 juta sel
batang. Sel batang berfungsi untuk penglihatan hitam putih pada cahaya remang-
remang; juga untuk membedakan bayangan gelap atau terang dan melihat bentuk dan
pergerakan. Sel kerucut berfungsi untuk penglihatan warna dan ketepatan penglihatan
pada cahaya terang. Sel kerucut umumnya terpusat pada fovea sentralis yaitu lekukan
kecil di tengah makula lutea yang terletak tepat pada sumbu penglihatan. Fovea
sentralis merupakan daerah dengan ketajaman penglihatan tertinggi karena padatnya
sel kerucut pada daerah tersebut. Sel batang tidak ditemukan pada fovea dan makula
dan jumlahnya meningkat kearah tepi retina. Oleh karena itu kita bisa melihat cukup
baik pada malam hari kecuali bila melihat langsung ke obyek tertentu.
Dari sel-sel fotoreseptor informasi diteruskan ke sel bipolar melalui lapisan
sinapsis luar (lapisan pleksiform luar) dan kemudian ke sel ganglion melalui lapisan
sinapsis dalam (lapisan pleksiform dalam). Akson sel ganglion meluas ke posterior,
ke diskus optikus, dan keluar dari bola mata sebagai nervus optikus. Pada daerah ini
tidak terdapat sel kerucut maupun batang; kita tidak dapat melihat bayangan pada
bintik buta..
Sel fotoreseptor dibedakan berdasarkkan bentuk segmen luar, yaitu ujung
distalnya yang berdekatan dengan epitel pigmen. Transduksi cahaya menjadi sinyal
listrik terjadi pada segmen luar. Segmen dalam mengandung inti sel, kompleks Golgi,
dan banyak mitokondria. Ujung proksimal sel fotoreseptor meluas membentuk
terminal sinaptik.
Tahap pertama transduksi visual ialah absorpsi cahaya oleh fotopigmen
(visual pigment). Fotopigmen adalah protein berwarna pada membran segmen luar

9
yang mengalami perubahan struktural oleh absorpsi cahaya dan mengawali peristiwa
yang menghasilkan potensial reseptor. Semua fotopigmen visual terdiri dari dua
bagian: glikoprotein, disebut opsin, dan derivat vitamin A, disebut retinal (retinald).
Opsin sel batang disebut rod opsin (rhodopsin) sedangkan pada sel kerucut disebut
cone opsin. Cone opsin bersama dengan retinald disebut iodopsin.
Retinal merupakan bagian penyerap cahaya dari fotopigmen visual. Pada
retina manusia terdapat empat jenis opsin, satu jenis rod opsin dan tiga jenis cone
opsin.'Terdapat perbedaan dalam rangkaian asam amino sehingga sel batang dan
kerucut dapat mengabsorsi warna-warna yang berbeda dari cahaya yang masuk. Rod
opsin terutama mengabsorpsi warna biru sampai hijau, sedangkan cone opsin
mengabsorpsi terutama biru, hijau dan kuning sampai merah.
Retinal terdapat dalam dua bentuk. Dalam suasana gelap retinal berbentuk
membengkok, cis-retinal, yang terletak dekat pada opsin. Bila mengabsorpsi cahaya
cis-retinal melurus, membentuk trans-retinal. Perubahan ini disebut isomerisasi, tahap
awal transduksi. Setelah proses isomerisasi beberapa bahan yang tak stabil dibentuk
dan menghilang lagi. Dalam sekitar 1 menit trans-retinal lengkap terpisah dari opsin.
Produk akhir tampak tidak berwarna, proses pemutihan (bleaching). Dalam suasana
gelap, enzim retinal isomerase dapat mengubah kem-bali trans menjadi cis-retinal,
berikatan dengan opsin dan membentuk kembali fotopigmen yang fungsional, proses
regenerasi.
Epitel pigmen menyimpan vitamin A dalam jumlah besar dan berperan dalam
proses regenerasi sel batang. Dengan demikian regenerasi rod opsin akan sangat
terganggu bila retina terlepas dari epitel pigmen. Fotopigmen sel kerucut beregene-
rasi jauh lebih cepat dari pada sel batang dan kurang tergantung pada epitel pigmen.
Setelah pemutihan lengkap, diperlukan 5 menit untuk regenerasi ½ rod opsin
sedangkan untuk ½ cone opsin hanya diperlukan 1½ menit. Regenerasi penuh untuk
rod opsin dicapai dalam 30-40 menit.

10
Bagian retina yang mengandung fotoreseptor sebenarnya adalah kelanjutan
(perluasan) dari SSP dan bukan suatu organ perifer terpisah. Selama perkembangan
mudigah, sel-sel retina "mundur" dari sistem saraf sehingga lapisan-lapisan retina,
yang mengejutkan, menghadap ke belakang. Bagian saraf dari retina terdiri dari tiga
lapisan sel peka rangsang (1) lapisan paling luar (paling dekat dengan koroid) yang
mengandung sel batang dan sel kerucut, yang ujung-ujung peka cahayanya
menghadap ke koroid (menjauhi sinar datang); (2) lapisan tengah sel bipolar; dan (3)
lapisan dalam sel ganglion. Akson-akson sel ganglion menyatu untuk membentuk
saraf optik, yang keluar dari retina tidak tepat dari bagian tengah. Titik di retina
tempat saraf optik keluar dan pembuluh darah berjalan disebut diskus optikus. Bagian
ini sering disebut sebagai bintik buta; tidak ada bayangan yang dapat didetelai di
bagian ini karena tidak adanya sel kerucut dan sel batang. Dalam keadaan normal kita
tidak menyadari adanya bintik buta ini karena pemrosesan di sentral agaknya
"mengisi" kekosongan ini.
Sinar harus melewati lapisan ganglion dan bipolar sebelum mencapai
fotoreseptor di semua bagian retina kecuali di fovea. Di fovea, yaitu cekungan
seukuran pentul jarum yang terletak tepat di tengah retina, lapisan sel ganglion dan
bipolar tersisih ke tepi sehingga cahaya langsung mengenai fotoreseptor. Gambaran
ini, disertai oleh kenyataan bahwa hanya sel kerucut (dengan ketajaman atau
kemampuan diskriminatif yang lebih besar daripada sel batang) ditemukan di bagian
ini, menyebabkan fovea menjadi titik dengan penglihatan paling jelas. Pada
kenyataannya, fovea memiliki konsentrasi sel kerucut tertinggi di retina. Karena itu,
kita memutar mata kita agar bayangan benda yang sedang kita lihat terfokus di fovea.
Daerah tepat di sekitar fovea, makula lutea, juga memiliki konsentrasi sel kerucut
yang tinggi dan ketajaman lumayan. Namun, ketajaman makula lebih rendah daripada
fovea, karena adanya lapisan sel ganglion dan bipolar di atas makula. Sel fotoreseptor

11
bersinap dengan sel bipolar lalu bersinaps dengan sel ganglion. Akson pada sel
ganglion membentuk saraf otik dibawa ke otak untuk transmisi sinyal di otak.

2.3. Ablasio Retina


2.3.1. Definisi
Ablasio retina (retinal detachment) adalah pemisahan retina sensorik, yakni
lapisan fotoreseptor (sel kerucut dan batang) dengan jaringan bagian dalam, epitel
pigmen retina yang terletak di bawahnya. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih
melekat erat dengan membran Bruch. Sesungguhnya antara sel kerucut dan sel batang
retina tidak terdapat suatu perlekatan struktural dengan koroid atau pigmen epitel,
sehingga merupakan titik lemah yang potensial untuk lepas secara embriologis. (1)

Gambar 2.4. Robekan Retina

12
2.3.2. Epidemiologi
Menurut penelitian, di Amerika Serikat insiden ablasio retina 1 dalam 15.000
populasi dengan prevalensi 0,3%. Sedangkan insiden per tahun kira-kira 1 diantara
10.000 orang dan lebih sering terjadi pada usia lanjut kira-kira umur 40-70 tahun.
Pasien dengan miopia yang tinggi (>6D) memiliki 5% kemungkinan resiko terjadinya
ablasio retina, afakia sekitar 2%, komplikasi ekstraksi katarak dengan hilangnya
vitreus dapat meningkatkan angka kejadian ablasio hingga 10%.(3) Prevalensi
kelainan pada retina di Indonesia mencapai angka 0,13% dan merupakan penyebab
kebutaan ke empat setelah katarak (0,78%), glaukoma (0,20%) , kelainan refraksi
(0,14%), dan penyebab lainnya (0,10%).(4)

2.3.3. Etiologi(1)
a. Neoplasma : Choroidal malignan melanoma, metastasis, coroidal
hemangioma, multiple myeloma, retinal retinal capillary hemangioblastoma,
dll.
b. Inflamasi : Vogt–Koyanagi–Harada (VKH) syndrome, posterior scleritis,
sympathetic ophthalmia, proses inflamasi kronik lainnya.
c. Abnormalitas kongenital : Optic pit, morning-glory syndrome.
d. Vaskular: Choroidal neovascularization (CNV), Coats disease, malignant
hypertension (HTN), preeklampsia, and familial exudative vitreoretinopathy
(FEVR).
e. Nanophthalmos: Mata yang kecil dengan kornea yang kecil dan anterior
chamber tapi lensa besar dan sclera tebal
f. Idiopatik central serous chorioretinopathy (CSCR): Dapat ditemukan sebagai
large RPE detachment.

13
2.3.4. Patogenesis(1)
Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan
rongga vesikel optik embriogenik. Kedua jaringan ini melekat longgar. Pada mata
yang matur dapat berpisah jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang
mengalami likuifikasi dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio
progresif (ablasio regmatogenosa). Jika retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil
pada permukaan retina, biasanya dapat terjadi pada diabetes mellitus (ablasio retina
traksional). Walaupun jarang terjadi, bila cairan berakumulasi dalam ruangan
subretina akibat proses eksudasi, yang dapat terjadi selama toksemia pada kehamilan
(ablasio retina eksudatif). Perubahan degeneratif retina pada miopia dan usia lanjut
juga terjadi di koroid. Sklerosis dan sumbatan pembuluh darah koroid senil akan
menyebabkan berkurangnya perdarahan ke retina. Hal semacam ini juga bisa terjadi
pada miopia karena teregangnya dan menipisnya pembuluh darah retina. (1)
Perubahan ini terutama terjadi di daerah ekuator, yaitu tempat terjadinya 90%
robekan retina. Ablasi retina delapan kali lebih sering terjadi pada mata miopia
daripada mata emetropia atau hiperopia. Ablasi retina terjadi sampai 4% dari semua
mata afakia, yang berarti 100 kali lebih sering daripada mata fakia. Terjadinya
sineresis dan pencairan badan kaca pada mata miopia satu dasawarsa lebih awal
daripada mata normal. (1)
Depolimerisasi menyebabkan penurunan daya ikat air dari asam hialuron
sehingga kerangka badan kaca mengalami disintegrasi. Akan terjadi pencairan
sebagian dan ablasi badan kaca posterior. Oleh karenanya badan kaca kehilangan
konsistensi dan struktur yang mirip agar-agar, sehingga badan kaca tidak menekan
retina pada epitel pigmen lagi. Dengan gerakan mata yang cepat, badan kaca menarik
perlekatan vireoretina. Perlekatan badan kaca yang kuat biasanya terdapat di daerah
sekeliling radang atau daerah sklerosis degeneratif. Sesudah ekstraksi katarak
intrakapsular, gerakan badan kaca pada gerakan mata bahkan akan lebih kuat lagi.

14
Sekali terjadi robekan retina, cairan akan menyusup di bawah retina sehingga
neuroepitel akan terlepas dari epitel pigmen dan koroid. (1)

2.3.5. Klasifikasi
Berdasakan penyebabnya ablasio retina dibagi menjadi Ablasio Retina Primer
(Ablasio Retina Regmatogenosa) dan Ablasio Retina Sekunder (Non regmatogenosa)
yang terdiri dari traksi dan eksudat.(1,5)

1. Ablasio Retina Regmatogenosa


Ablasio regmatogenosa berasal dari kata Yunani rhegma, yang berarti
diskontuinitas atau istirahat. Ablasio Retina regmatogenosa (Rhegmatogenous
Retinal Detachment) adalah ablasio yang terjadi akibat adanya robekan pada retina
sehingga cairan masuk di antara lapisan sel pigmen epitel dengan lapisan
fotoreseptor retina. Pada ablasi ini terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair
(fluid vitreus) yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga
subretina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen
koroid.(1)

Gambar 2.5. Ablasio Retina Regmatogenosa(1)

15
Ablasio retina akan memberikan gejala prodromal terdapatnya gangguan
penglihatan yang kadang – kadang terlihat sebagai tabir yang menutupi (floaters)
akibat dari vitreus cepat degenerasi dan terdapat riwayat adanya pijaran api (fotopsia)
pada lapangan penglihatan akibat sensasi berkedip cahaya karena iritasi retina oleh
gerakan vitreus. Ablasi retina yang berlokalisasi di daerah superotemporal sangat
berbahaya karena dapat mengangkat macula. Penglihatan akan turun secara akut bila
lepasnya retina mengenai macula lutea. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat
retina yang terangkat berwarna pucat dengan pembuluh darah diatasnya dan terlihat
adanya robekan retina berwarna merah. Bila bola mata bergerak akan terlihat retina
yang lepas (ablasi) bergoyang. Kadang – kadang terdapat pigmen didalam badan
kaca. Pada pupil terdapat adanya defek aferen pupil akibat penglihatan menurun.
Tekanan bola mata rendah dan dapat meninggi bila telah terjadi neovaskuler
glaukoma pada ablasi yang telah lama.(1)
Faktor risiko terkena ablasio retina regmatogenosa adalah pada pasien dengan
myopia tinggi (≥ 6 Dioptri) dengan gangguan pada anatomisnya yaitu semakin
panjang bentuk bola mata. Semakin panjang bola mata, maka sclera makin teregang
diikuti denga lapisan retina yang semakin tipis dan sehingga mudah untuk robek atau
berlubang. Pada suatu waktu bila trauma pada vitreus terjadi atau karena degenerasi
lapisan retina dapat robek dan cairan vitreus dapat masuk ke belakang retina. Pada
daerah antara lapisan sel fotoreseptor sel batang dan sel kerucut dengan lapisan retina
pigmen epitel dapat terisi cairan vitreus karena merupakan daerah potensi untuk
terlepas secara embriologi.(9) Pada pasien dengan post operasi katarak, pasien tidak
memiliki lensa yang disebut afakia. Pasien afakia dapat menjadi hipermetropia tinggi
(sampai + 12 Dioptri) sehingga pasien mengeluhkan benda yang dilihat menjadi lebih
besar 25% dibandingkan normal. Pada saat pengangkatan lensa pada pasien post op
katarak bila terkena membrane hyaloid maka cairan vitreus akan menuju anterior

16
chamber disertai penarikan retina yang melekaat pada vitreus mengakibatkan robekan
pada dinding retina.(9)

2. Ablasio Retina Eksudatif


Ablasio retina eksudatif terjadi akibat adanya penimbunan cairan eksudat di
bawah retina (subretina) dan mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina terjadi
akibat ekstravasasi cairan dari pembuluh retina dan koroid. Penyebab Ablasio retina
eksudatif dibagi menjadi dua yaitu penyakit sistemik yang meliputi Toksemia
gravidarum, hipertensi renalis, poliartritis nodosa. Sedangkan penyakit mata meliputi
akibat inflamasi (skleritis posterior, selulitis orbita), akibat penyakit vascular (central
serous retinophaty, and exudative retinophaty of coats, akibat neoplasma (malignant
neoplasma koroid dan retinoblastoma), akibat perforasi bola mata pada operasi
intraokuler. Gejala klinis ablasio retina eksudatif antara lain(5) :
 Tidak adanya photopsia, lubang / air mata, lipatan dan undulasi.

 Ablasio retina eksudatif halus dan cembung. Pada puncak tumor itu biasanya
bulat dan tetap dan bisa menunjukkan gangguan pigmen.

 Kadang-kadang, pola pembuluh retina mungkin terganggu akibat adanya


neovaskularisasi di puncak tumor.

 Pergeseran cairan ditandai dengan mengubah posisi daerah terpisah dengan


gravitasi adalah ciri khas yang dari ablasio retina eksudatif.

 Pada tes transillumination satu ablasio sederhana muncul transparan


sedangkan ablasio padat.

17
Gambar 2.6. Ablasi Retina Eksudat(1)

3. Ablasio Retina Traksi


Ablatio retina akibat traksi adalah jenis tersering pada retinopati diabetik
proliferatif. Kelainan ini juga dapat menyertai vitreoretinopati proliferatif, retinopati
prematuritas, atau trauma mata. Dibandingkan dengan ablation retina regmatogenosa,
ablatio retina akibat traksi memiliki permukaan yang lebih konkaf dan cenderung
lebih terlokalisasi, biasanya tidak meluas ke ora serata. Gaya-gaya traksi menarik
retina sensorik menjauhi epitel pigmen di bawahnya secara aktif, menuju basis
vitreus. Traksi ini disebabkan oleh pembentukan membran vitreosa, epiretina, atau
subretina yang terdiri atas fibroblas dan sel glia atau sel epitel pigmen retina. Pada
mulanya, pelepasan mungkin terlokalisasi di sepanjang arkade-arkade vaskular, tetapi
dapat meluas hingga melibatkan retina midperifer dan makula. Traksi lokal dari
membran-membran selular dapat menyebabkan robekan retina dan menimbulkan
kombinasi ablatio retina regmatogenosa-traksional. Vitreoretinopati proliferatif
merupakan komplikasi ablation retina regmatogenosa dan penyebab tersering
kegagalan tindakan bedah pada mata tersebut.(9)

18
PVR juga dapat terjadi kegagalan dalam penatalaksanaan ablasio retina
regmatogenosa. Pada PVR, epitel pigmen retina, sel glia, dan sel lainya yang berada
di dalam maupun di luar retina pada badan vitreus akan membentuk membrane.
Kontraksi dari membrane tersebut akan menyebabkan retina tertarik ataupun
menyusut, sehingga dapat mengakibatkan terdapatnya robekan baru atau berkembang
menjadi ablasio retina traksi.(1,9)

Gambar 2.7. Ablasio Retina akibat Traksi tampak jaringan parut

19
Pembeda Ablasio Retina Traksi Eksudatif
Regmatogenus
Riwayat penyakit Afakia, myopia, trauma Diabetes, Factor-faktor sistemik
tumpul, photopsia, premature,trauma seperti hipertensi
floaters, gangguan tembus, penyakit maligna, eklampsia,
lapangan pandang yang sel sabit, oklusi gagal ginjal.
progresif, dengan vena.
keadaan umum baik.
Kerusakan retina Terjadi pada 90-95 % Kerusakan primer Tidak ada
kasus tidak ada
Pergerakan retina Bergelombang atau Retina tegang, Smoothly elevated bullae,
terlipat batas dan biasanya tanpa lipatan
permukaan
cekung,
Meningkat pada
titik tarikan
Bukti kronis Terdapat garis Garis pembatas Tidak ada
pembatas, makrosis
intra retinal, atropik
retina
Pigmen pada Terlihat pada 70 % Terlihat pada Tidak ada
vitreous kasus
trauma
Cairan sub retinal Jernih Jernih atau tidak Dapat keruh dan
ada perpindahan berpindah secara cepat
tergantung pada
perubahan posisi kepala.
Massa koroid Tidak ada Tidak ada Bisa ada
Tekanan Rendah Normal Bervariasi
intraocular
Keadaan yang Robeknya retina Retinopati Uveitis, metastasis
menyebabkan diabetikum tumor, melanoma
ablasio proliferative, post
maligna, retinoblastoma,
traumatis vitreous
hemangioma koroid,
traction makulopati eksudatif
senilis, ablasi eksudatif
post cryotherapi atau
dyathermi.
Tabel 2.1. Gambaran Diagnosis Dari Tiga Tipe

20
2.3.6. Diagnosis
a. Anamnesis
Melalui anamnesis, didapatkan keluhan melihat seperti kilatan cahaya ataupun
pijaran api, pasien juga mengeluhkan seperti melihat benda-benda yang melayang, ini
merupakan gejala prodormal. Selanjutnya, pasien juga mengeluhkan defek lapang
pandang, seperti melihat tirai sehingga menutup lapang pandang, bila retina lepas
hingga macula maka bukan hanya daerah perifer yang tidak tampak, namun pada
penglihatan sentral juga terjadi dan didapatkan penurunan tajam penglihatan.(1)

b. Pemeriksaan:
1. Pemeriksaan tajam penglihatan

2. Pemeriksaan lapangan pandang

3. Memeriksa apakah ada tanda-tanda trauma melalui funduskopi

4. Periksa reaksi pupil. Dilatasi pupil yang menetap mengindikasikan adanya


trauma.

5. Pemeriksaan slit lamp; anterior segmen biasanya normal, pemeriksaan


vitreous untuk mencari tanda pigmen atau “tobacco dust”, ini merupakan
patognomonis dari ablasio retina pada 75 % kasus.

6. Periksa tekanan bola mata.

7. Pemeriksaan fundus dengan oftalmoskop (pupil harus dalam keadaan


berdilatasi).

21
c. Pemeriksaan Penunjang :

1. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit


penyerta seperti diabetes melitus.

2. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan bila retina tidak dapat tervisualisasi


oleh karena perubahan kornea, katarak, atau perdarahan.

3. Teknik pencitraan seperti foto orbita, CT scan, atau MRI tidak diindikasikan
untuk membantu diagnosis ablasio retina tetapi dapat dibutuhkan untuk
mendeteksi benda asing intraokuli dan tumor.

2.3.7. Penatalaksanaan

Tujuan utama bedah ablasi adalah untuk menemukan dan memeperbaiki


semua robekan retina, digunakan krioterapi atau laser untuk menimbulkan adhesi
antara epitel pigmen dan retina sensorik sehingga mencegah influks cairan lebih
lanjut kedalam ruang subretina, mengalirkan cairan subretina ke dalam ke luar, dan
meredakan traksi vitreoretina.(1,7)

Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah pembedahan. Prinsip bedah pada


ablasio retina yaitu menemukan semua bagian yang terlepas, membuat iritasi
korioretinal pada sepanjang masing-masing daerah retina yang terlepas. Selain itu
untuk menguhubungkan koroid dan retina dalam waktu yang cukup untuk
menghasilkan adhesi dinding korioretinal yang permanen pada daerah subretinal.

22
1. Scleral buckling

Metode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina rematogenosa


terutama tanpa disertai komplikasi lainnya. Prosedur meliputi lokalisasi posisi
robekan retina, menangani robekan dengan cryoprobe, dan selanjutnya dengan scleral
buckle (sabuk). Sabuk ini biasanya terbuat dari spons silikon atau silikon padat.
Ukuran dan bentuk sabuk yang digunakan tergantung posisi lokasi dan jumlah
robekan retina. Pertama – tama dilakukan cryoprobe atau laser untuk memperkuat
perlengketan antara retina sekitar dan epitel pigmen retina. Sabuk dijahit mengelilingi
sklera sehingga terjadi tekanan pada robekan retina sehingga terjadi penutupan pada
robekan tersebut. Penutupan retina ini akan menyebabkan cairan subretinal
menghilang secara spontan dalam waktu 1-2 hari. Keuntungan dari teknik ini adalah
menggunakan peralatan dasar, waktu rehabilitasi pendek, resiko iatrogenik yang
menyebabkan kekeruhan lensa rendah, mencegah komplikasi intraokular seperti
perdarahan dan inflamasi.(9)

Gambar 2.7. Scleral Buckling(10)

23
2. Retinopeksi Pneumatic

Retinopeksi pneumatik merupakan metode yang juga sering digunakan pada


ablasio retina regmatogenosa terutama jika terdapat robekan tunggal pada bagian
superior retina. Teknik pelaksanaan prosedur ini adalah dengan menyuntikkan
gelembung gas ke dalam rongga vitreus. Gelembung gas ini akan menutupi robekan
retina dan mencegah passase cairan lebih lanjut melalui robekan. Jika robekan dapat
ditutupi oleh gelembung gas, cairan subretinal biasanya akan hilang dalam 1-2 hari.
Robekan retina dapat juga dilekatkan dengan kriopeksi atau laser sebelum gelembung
disuntikkan. Pasien harus mempertahankan posisi kepala tertentu selama beberapa
hari untuk meyakinkan gelembung terus menutupi robekan retina.

Gambar 2.8. Proses Retinopexy Pneumatic.Setelah pengangkatan gel vitreus pada


drainase cairan sub retina, gas fluorokarbon inert disuntikan ke dalam rongga
vitreus(3)

24
3. Pars Plana Vitrektomy

Merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat diabetes,
dan juga pada ablasio regmatogenosa yang disertai traksi vitreus atau perdarahan
vitreus. Dengan operasi menggunakan mikroskop, korpus vitreus dan semua traksi
epiretina dan subretina dapat disingkirkan. Retina kemudian dilekatkan kembali
dengan menggunakan cairan perfluorocarbon dan kemudian digantikan dengan
minyak silikon atau gas sebagai tamponade retina. Operasi kedua dibutuhkan untuk
membuang minyak silikon. Kelebihan dari teknik ini adalah mampu melokalisasi
lubang retina secara tepat, eliminasi kekeruhan media, dan terbukti dapat
dikombinasikan dengan ekstraksi katarak, penyembuhan langsung traksi vitreus, dan
membuang serat-serat pada epiretina dan subretina.(9)

Keuntungan PPV yaitu dapat menentukan lokasi defek secara tepat,


mengeliminasi media yang mengalami kekeruhan karena teknik ini dapat
dikombinasikan dengan ekstraksi katarak, dapat langsung menghilangkan penarikan
dari vitreous. Kerugian PPV adalah membutuhkan tim yang berpengalaman dan
peralatan yang mahal dan dapat menyebabkan katarak. Selain itu ada kemungkinan
diperlukan operasi kedua untuk mengeluarkan silicon oil dan perlu follow up segera
bila terjadinya reaksi fibrin pada kamera okuli anterior yang dapat meningkatkan
tekanan intraokuler.(3) Vitreous substitutes ( pengganti vitreous) terbagi kepada
beberapa jenis yaitu secara konvensional seperti Gas dan Liquid (Cairan), penemuan
terbaru yaitu Minyak silicon, dasih dalam penilitian yaitu Polimer (Hydrogel) dan
Implantasi.(11)

25
Gambar 2.9. Tiga port Pars Plana Vitrektomi (PPV) a) dua port superior
membenarkan laluan untuk suction-cutter (vitrector), suatu fiberoptic
endoilluminator, dan instrumen lain dengan infusi cairan secara melewati port yang
ketiga. b) Vitrektomi yang mengeluarkan traksi vitreus anterior pada horshoe tear. c)
Pandangan panoramic pada penanganan endolaser. d) intraokuler tamponade dilihat
pada daerah superior.

2.3.8. Prognosis (9)

Prognosis dari penyakit ini berdasarkan pada keadaan makula sebelum dan
sesudah operasi serta ketajaman visualnya. Jika, keadaannya sudah melibatkan
makula maka akan sulit menghasilkan hasil operasi yang baik, tetapi dari data yang
ada sekitar 87 % dari operasi yang melibatkan makula dapat mengembalikan fungsi
visual sekitar 20/50 lebih kasus dimana makula yang terlibat hanya sepertiga atau
setengah dari makula tersebut. Pasien dengan ablasio retina yang melibatkan makula
dan perlangsungannya kurang dari 1 minggu, memiliki kemungkinan sembuh post
operasi sekitar 75 % sedangkan yang perlangsungannya 1-8 minggu memiliki
kemungkinan 50 %.

Dalam 10-15 % kasus yang dilakukan pembedahan dengan ablasio retina yang
melibatkan makula, kemampuan visualnya tidak akan kembali sampai level
sebelumnya dilakukannya operasi. Hal ini disebabkan adanya beberpa faktor seperti

26
irreguler astigmat akibat pergeseran pada saat operasi, katarak progresif, dan edema
makula. Komplikasi dari pembedahan misalnya adanya perdarahan dapat
menyebabkan kemampuan visual lebih menurun.

2.3.9. Komplikasi(9)

Jika pengobatan tertunda, perlepasan retina secara parsial dapat berlanjut


sampai seluruh retina terlepas. Ketika hal ini terjadi, penglihatan normal tidak dapat
dipulihkan, dan penurunan ketajaman visual atau kebutaan terjadi pada mata yang
terkena. Komplikasi lain dapat mencakup perdarahan ke dalam mata (perdarahan
vitreous), glaukoma (sudut tertutup), peradangan, infeksi, dan jaringan parut akibat
operasi. Kehilangan persepsi cahaya juga dapat terjadi.

Jika retina tidak berhasil dilekatkan kembali dan pembedahan mengalami


komplikasi, maka dapat timbul perubahan fibrotik pada vitreous (vitreoretinopati
proliferatif, PVR). PVR dapat menyebabkan traksi pada retina dan ablasio retina lebih
lanjut.

27
BAB 3

KESIMPULAN

1. Retina merupakan lapisan terdalam dari mata yang berfungsi sebagai tempat
menerimanya bayangan dari luar dan mengubahnya menjadi implus saraf untuk
diproyeksikan di otak sebagai suatu benda.

2. Retina memiliki 10 lapisan dan dari 10 lapisan tersebut terdapat celah potensial
terlepas yaitu antara lapisan RPE dan lapisan sel-sel fotoreseptor.

3. Ablasio retina merupakan terlepasnya lapisan sel-sel reseptor dari RPE.


Pengklasifikasiannya terdiri dari dua secara umum yaitu ablasio retina
regmatogenosa dan non-regmatogenosa yang terdiri dari eksudat dan traksi.

4. Penatalaksanaan dari ketiga jenis ablasi retina melalui bedah, terkecuali karena
eksudat. Penatalaksanaannya yaitu dengan mengoreksi penyakit primernya
terlebih dahulu.

5. Prognosis pada ablasio retina baik bila penglihatan sentral tidak terganggu lebih
dari setengah bagian. Bila terkena pada macula total maka prognosis memburuk.

28
BAB 4

DAFTAR PUSTAKA

1. Klower W. The Wills Eye Manual Office and Emergency Room Diagnosis and
Treatment of Eye Disease. 7th ed. Bagheri, Nika; Wadja BN, editor. Wolters
Kluwer; 2017.

2. Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. 6th ed. Yesdelita N, editor.
Jakarta: EGC; 2012.

3. Bruce J, Chris C, Bron A. Lecture Notes On Oftalmology , edisi kesembilan


,Blackwell Science. 11th ed. 2012.

4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Gangguan Penglihatan sebagai


Masalah Kesehatan [Internet]. Kemenkes. 2010. Available from:
www.depkes.go.id

5. Iiyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. 5th ed. Jakarta: FK UI; 2013. 3-12-
121 p.

6. Pabst R, Putz R. Sobotta Atlas of Human Anatomy: Head, Neck, Upper Limb.
22nd ed. Elsevier Inc; 2013. 136-139 p.

7. AK Khurana. Comprehensive Ophthalmology. 6th ed. New Dehli, India:


Jaypee Brothers Medical Publishers; 2015.

8. Mescher AL. Junqueira’s Basic Histology Text & Atlas. 12th ed. MC-Graw
Hill. 375-380 p.

9. Riordan-eva P, Whitcher JP. Oftalmologi Umum Vaughan & Asbury. 17th ed.

29
Susanto D, editor. San Fransisco, California: EGC; 2010.

10. Retinal Detachment Repair ADAM Interactive Anatomy [Internet]. 2016.


Available from:
http://aia5.adam.com/content.aspx?productld=117&pid=1&gid=0002960

11. Miller KM. Objextively Structured Clinical Examination in Ophthalmology.


2nd ed. Agarwal, Amar; Prakash, Dimple; Agarwal A, editor. New Dehli,
India: Jaypee Brothers Medical Publishers;

30