Anda di halaman 1dari 15

PENYULINGAN DAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN

KETUMBAR (Coriandrum sativum Linn) DI INDONESIA


Sintha Suhirman dan J.T. Yuhono
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK ABSTRACT
Ketumbar (Coriandrum sativum Linn) Distillation and Potential
bukan merupakan tanaman asli Indonesia, ko- Development of Coriander
moditas tersebut di budidayakan petani di Indo- (Coriandrum sativum Linn)
nesia baru sebatas diambil daunnya yang masih
muda untuk lalab, sayuran. Biji ketumbar masih in Indonesia
di impor dari India, Rusia, Bulgaria, Rumania, Coriander (Coriandrum sativum Linn)
China, Emirat Arab dan negara produsen lain- is not an indigeneous plant of Indonesia. The
nya rata-rata sekitar 19 ribuan ton. Kegunaan plant is cultivated by farmers in Indinesia
lain ketumbar cukup banyak dan beragam mainly for vegetables and a spicy sauce. Seeds
mulai dari untuk bahan baku bermacam–macam of coriander are still imported from India,
obat, industri penyamak kulit, flavour, fragrance Rusia, Bulgary, Rumania, China, Emirate Arab
dan bahan baku pembuatan minyak wangi. and other producing countries in quite big
Dalam rangka menciptakan nilai tambah (added numbers (around 19 thousand tons per year)
value), telah banyak dilakukan diversifikasi Other uses of coriander are raw material of
produk primer melalui ekstraksi atau pe- varie medicine, industry of skin tanner, flavour,
nyulingan dari tanaman penghasil minyak atsiri. fragrance and raw material of perfume. In
Minyak ketumbar (coriander oil) merupakan accordance with increasing the added value of
komoditas penghasil minyak atsiri yang di- coriander, atlempts have been made through
perkirakan berpotensi dan bernilai komersial extraction or distillation from essential oil.
tinggi yang juga belum diusahakan di Indonesia Coriander oil is estimated to have potency and
serta belum diketahui layak tidaknya diusaha- high commercial value. This plant has not been
kan dan daya saingnya. Hasil analisis semen- cultivated in Indonesia. Result of temporary
tara dari produksi dan biaya produksi hasil analysis from production and socioeconomy of
penelitian mengenai teknologi budidaya dan coriander in small scale showed that cultivation
sosial ekonomi ketumbar dalam skala kecil dan of coriander and diversification of primary
ditambah referensi-referensi yang diperoleh, product in the form of coriander oil is not
maka dapat disimpulkan bahwa budidaya proper to be carried out in Indonesia and does
ketumbar dan upaya untuk memperoleh nilai not have competition power in international
tambah dari diversifikasi produk primer dalam market.
bentuk minyak ketumbar tidak layak dilaksana- Keywords : Distillation, coriander oil, opportunity
kan di Indonesia dan tidak mempunyai daya Coriandrum sativum
saing dipasar internasional.
Kata kunci : Penyulingan, minyak ketumbar, pe-
ngembangan, Coriandrum sativum

48
PENDAHULUAN Untuk mengurangi dampak fluk-
tuasi harga, perlu pemikiran untuk
Minyak atsiri merupakan suatu
memproduksi jenis minyak atsiri baru
produk alam yang banyak digunakan
yang diduga bernilai komersial tinggi.
dalam kehidupan sehari-hari, baik da-
Salah satu minyak atsiri yang dapat di-
lam obat-obatan, rokok, kosmetika, ba-
kembangkan adalah minyak ketumbar.
han pewangi, farmasi, aroma makanan
Ketumbar (Coriandum sativum) dapat
dan minuman, permen, aromaterapi,
digunakan untuk sayuran, bahan penye-
bahan pengawet maupun sebagai bahan
dap dan obat-obatan, mengandung kar-
pestisida (Narpati, 2000). Di Indonesia
bohidrat, lemak dan protein yang cukup
terdapat kurang lebih 50 jenis tanaman
tinggi (Wahab dan Hasanah, 1996).
yang mengandung minyak atsiri, na-
Ketumbar juga berdampak positif ter-
mun baru 14 jenis tanaman yang sudah
hadap kesehatan karena hampir seluruh
diusahakan secara komersial dan men-
bagian tanaman dapat digunakan se-
jadi komoditas ekspor antara lain mi-
bagai obat, daun yang muda untuk
nyak nilam, minyak seraiwangi, mi-
lalaban, analgesic dan obat sakit mata
nyak akarwangi, minyak kenanga, mi-
(Basu, 1975), dan bunganya bersifat
nyak cendana, minyak pala, minyak da-
karminatif (Hargono, 1989). Selain itu
un cengkeh, minyak kayu putih dan
minyak ketumbar dapat untuk meng-
minyak massoi (Rusli, 2002).
hilangkan rasa mual, sariawan dan
Pada umumnya harga minyak
pelega perut (Soeharso, 1988) serta
atsiri di pasaran internasional sangat
mencegah bau nafas tak sedap
berfluktuasi. Hal ini menyebabkan har-
(Duryatmo, 1999).
ga minyak atsiri di Indonesia juga sa-
Tujuan dalam penulisan ini ada-
ngat berfluktuasi karena eksportir
lah untuk memberikan informasi cara
membeli hasil sulingan dari produsen
penyulingan ketumbar, sifat fisik dan
sesuai dengan harga di pasar inter-
mutu minyak ketumbar serta kemung-
nasional.
kinan pengembangannya di Indonesia.
Kecenderungan untuk meng-
hasilkan jenis minyak atsiri tertentu
PENYULINGAN MINYAK
dalam jumlah besar seperti minyak
KETUMBAR
nilam, akarwangi dan seraiwangi,
menyebabkan tingkat kejenuhan Sebelum penyulingan sebaiknya
pasaran dunia meningkat sehingga terlebih dahulu dilakukan penghancur-
melemahkan daya saingnya (Mauludi an ketumbar atau pengecilan ukuran
dan Hobir, 1991). bahan, dengan tujuan untuk memudah-
kan penguapan minyak atsiri dari ba-
han. Selama proses pengecilan ukuran
bahan akan terjadi penguapan kompo-
nen minyak bertitik didih rendah dan
jika dibiarkan terlalu lama akan terjadi
penyusutan bahan sekitar 0,5% akibat

49
penguapan minyak (Ketaren, 1985). bar sebaiknya menggunakan penyu-
Oleh karena itu, hasil rajangan harus lingan uap karena penyulingan dengan
segera disuling. Adapun kelemahannya uap sangat baik untuk mengekstraksi
pengecilan ukuran bahan menurut minyak dari biji-bijian yang umumnya
Ketaren (1985), adalah (1) jumlah mi- mengandung komponen minyak yang
nyak berkurang akibat penguapan sela- bertitik didih tinggi dan mempunyai
ma pengecilan ukuran bahan, (2) kom- sifat kimia yang stabil. Disini terlihat
posisi minyak akan berubah dan akan bahwa salah satu rendemen dan mutu
mempengaruhi aroma minyak yang minyak dipengaruhi oleh cara dan pro-
dihasilkan. ses penyulingannya sendiri, karena ma-
Penyulingan merupakan proses sing-masing jenis komoditi tergantung
pemisahan komponen yang berupa dari cara penyulingan yang digunakan
cairan atau padatan dari dua macam sebagai contoh daun nilam, kemangi
campuran atau lebih dan berdasarkan dan sereh wangi sebaiknya disuling
perbedaan titik uapnya. Pada awal pe- dengan cara penyulingan dengan uap
nyulingan, hasil sulingan sebagian be- langsung. Hal ini dikarenakan pada
sar terdiri dari komponen minyak yang penyulingan uap biasanya proses pe-
bertitik didih rendah, selanjutnya disu- nyulingan dimulai dari tekanan rendah
sul dengan komponen yang bertitik di- sekitar 1 atmosfir dan akhirnya tekanan
dih lebih tinggi dan pada saat mende- tinggi, sehingga penetrasi uap ke dalam
kati akhir penyulingan, penambahan daun dapat berlangsung dengan sem-
minyak yang tersuling akan berkurang purna. Komponen minyak nilam terda-
(Ketaren, 1985; Guenther, 1987). pat dalam fraksi yang titik didihnya
Jumlah minyak yang menguap tinggi dan komponen tersebut hanya
bersama uap air ditentukan oleh tiga tersuling bila tekanan uap cukup tinggi
faktor, yaitu besarnya tekanan uap yang dan waktu penyulingan cukup lama.
digunakan, berat molekul dari masing- Tekanan uap yang dipakai biasanya
masing komponen dalam minyak dan sampai 2,5-3,0 atmosfir, dan tekanan
kecepatan keluarnya minyak dari bahan uap pada awal penyulingan sekitar 1 at-
yang disuling. Untuk memperoleh mi- mosfir (Ketaren, 1985). Dari hasil
nyak yang bermutu tinggi, maka se- penelitian Nurdjannah dan Hidayat
baiknya selama proses penyulingan (1994), bahwa penyulingan cara dire-
berlangsung menggunakan suhu rendah bus menghasilkan rendemen minyak
atau dapat juga pada suhu tinggi tapi bunga cengkeh yang lebih tinggi dari
dalam waktu yang sesingkat mungkin. pada cara dikukus. Hal ini diduga de-
Namun cara penyulingan uap, besarnya ngan cara direbus, kontak air dengan
suhu ditentukan oleh tekanan uap yang bahan lebih lama dibandingkan dengan
dipergunakan, pada prinsipnya tekanan kontak uap dengan bahan sehingga
yang dipergunakan tidak boleh terlalu lebih banyak minyak yang keluar.
tinggi (Guenther, 1987). Menurut Minyak hanya akan menguap se-
Guenther (1987), penyulingan ketum- telah terjadi difusi cairan minyak se-

50
jumlah air panas, dan akan berhenti dalam jaringan bahan akan lebih
sama sekali atau menurun aktivitasnya mudah akibatnya minyak akan lebih
jika bahan tersebut menjadi kering. mudah keluar dari dalam jaringan
Ampas sisa dari penyulingan ketumbar bahan. Berdasarkan dari literatur, buah
setelah dikeringkan dapat digunakan ketumbar dari Hongaria diperoleh ren-
untuk makanan ternak karena masih demen minyak 1,1%. Buah ketumbar
mengandung 11-17% protein dan 11- dari Jerman dan Cekoslovakia masing-
21% lemak (Ketaren, 1985). masing menghasilkan rendemen mi-
Bittera dalam Guenther (1990) nyak 0,8 dan 1%. Buah ketumbar ber-
telah melakukan penyulingan buah ke- asal dari Perancis rendemen minyaknya
tumbar dengan cara penyulingan uap sekitar 0,4%, buah ketumbar berasal
selama 9 jam menghasilkan 0,92% dari Italia 0,35%, buah ketumbar dari
minyak. Menurut Rusli et al., 1979 Maroko rendemen minyaknya sekitar
bahwa semakin lama penyulingan akan 0,3% sedangkan buah ketumbar dari
semakin banyak uap air yang berhu- Indonesia menghasilkan rendemen mi-
bungan dengan minyak yang terdapat nyaknya antara 0,15 - 0,25%
pada bahan, sehingga minyak yang (Guenther, 1949). Hal ini menunjukkan
tersuling semakin banyak. Sedangkan bahwa rendemen minyak atsiri di-
menurut Guenther (1949), pengambilan pengaruhi oleh faktor iklim, tempat
minyak dari jaringan tanaman oleh uap tumbuh dan ketinggian tempat.
air berlangsung melalui proses diffusi Penyulingan dengan uap sebaik-
yang berlangsung secara pelan-pelan. nya dimulai dengan tekanan uap yang
Oleh sebab itu semakin lama kontak rendah (kurang lebih 1 atmosfir), ke-
bahan dengan uap air akan semakin mudian secara berangsur-angsur tekan-
banyak minyak yang terkandung di- an uap dinaikkan secara bertahap sam-
dalam destilat. Beberapa dari hasil pai pada akhir proses yaitu ketika
penelitian, seperti di Eropa Tengah minyak yang tertinggal dalam bahan
dengan cara penyulingan uap meng- relatif kecil dan hanya komponen
hasilkan minyak atsiri 0,5%. Ren- minyak yang bertitik didih tinggi saja
demen minyak selain dipengaruhi lama yang masih tertinggal di dalam bahan.
penyulingan, faktor yang lainnya ada- Jika permulaan penyulingan dilakukan
lah penanganan bahan sebelum pada tekanan tinggi, maka komponen
penyulingan yaitu penghalusan bahan. kimia dalam minyak akan mengalami
Dari hasil penelitian, pengaruh ke- dekomposisi. Jika minyak kimia dalam
halusan bahan terhadap rendemen bahan dianggap sudah habis tersuling,
minyak, menunjukkan bahwa bahan maka tekanan uap perlu diperbesar lagi
yang dihaluskan dapat meningkatkan yang bertujuan untuk menyuling kom-
rendemen minyak. Hal ini dikarenakan ponen kimia yang bertitik didih tinggi.
air dan bahan lebih mudah kontak Penyulingan pada tekanan dan suhu
sehingga memudahkan minyak keluar yang terlalu tinggi akan menguraikan
dari bahan, penetrasi air atau uap ke komponen kimia minyak dan dapat

51
mengakibatkan proses resinifikasi posisi kimia minyak ketumbar dapat
minyak. dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan
jenis unsur penyusun senyawa mi-
Komposisi minyak ketumbar
nyak atsiri, minyak ketumbar terma-
Ketumbar mempunyai aroma suk golongan senyawa hidrokarbon
yang khas, aromanya disebabkan oleh beroksigen. Senyawa tersebut me-
komponen kimia yang terdapat dalam nimbulkan aroma wangi dalam mi-
minyak atsiri. Ketumbar mempunyai nyak atsiri, serta lebih tahan dan sta-
kandungan minyak atsiri berkisar an- bil terhadap proses oksidasi dan resi-
tara 0,4-1,1%, minyak ketumbar ter- nifikasi. Tingkat kematangan ketum-
masuk senyawa hidrokarbon beroksi- bar akan mempengaruhi komposisi
gen, komponen utama minyak ketum- minyak ketumbar, komposisi minyak
bar adalah linalool yang jumlah sekitar akan menentukan mutu minyak ke-
60-70% dengan komponen pendukung tumbar. Pada ketumbar yang belum
yang lainnya adalah geraniol (1,6- masak, komponen minyaknya adalah
2,6%), geranil asetat (2-3%) kamfor (2- golongan aldehid. Sedangkan ketum-
4%) dan mengandung senyawa golong- bar yang masak, komponen minyak-
an hidrokarbon berjumlah sekitar 20% nya adalah golongan alkohol mono-
(-pinen, -pinen, dipenten, p-simen, terpen dan linalool. Persenyawaan
-terpinen dan -terpinen, terpinolen linalool, jika dioksidasi akan meng-
dan fellandren) (Lawrence dan hasilkan sitral atau persenyawaan
Reynolds, 1988; Guenther, 1990). Kom geraniol.
Tabel 1. Komposisi kimia minyak ketumbar
No. Komponen Jumlah (%)
1. Hidrokarbon, terdiri dari: 20
d--pinen
dl--pinen
-pinen
dipenten
p-simen
-terpinen dan -terpinen
terpinolen dan fellandren

2. Hirdrokarbon beroksigen, terdiri dari: 60-70


d-linalool
n-desil aldehid
geraniol
l-borneol
asam asetat
asam desilat
Sumber: Guenther (1990)

52
Sifat fisika kimia dan mutu minyak penanganan bahan, metode ekstraksi,
ketumbar penyulingan yang tepat, jenis logam
Setiap minyak atsiri mempunyai alat penyulingan, jenis kemasan dan
sifat-sifat yang berbeda antar satu de- cara penyimpanan minyak (Ketaren,
ngan yang lainnya. Sifat khas suatu mi- 1985; Rusli, 2002).
nyak atsiri dibentuk oleh komposisi se- Sifat-sifat khas dan mutu minyak
nyawa-senyawa kimia yang dikan- atsiri dapat berubah mulai dari minyak
dungnya dan biasanya dinyatakan da- yang masih dalam bahan yang mengan-
lam sifat organoleptik dan sifat fisika dung minyak, selama proses ekstraksi,
kimia. Sifat organoleptik minyak atsiri penyimpanan dan pemasaran. Untuk
dinyatakan dengan warna dan aroma. itu perlu diperhatikan mulai dari teknik
Sedangkan sifat fisika kimia meliputi penanganan bahan baku sampai ke
berat jenis, indeks bias, putaran optik, penyimpanan minyak atsiri. Kesulitan
bilangan asam dan kelarutan dalam lainnya dalam menganalisis minyak
etanol 70%, bilangan asam, bilangan adalah karena sebagian besar kompo-
ester, serta komposisi senyawa kimia nen berupa cairan, sehingga diperlukan
yang dikandungnya dapat dijadikan teknik fraksinasi.
kriteria untuk menentukan tingkat mutu Faktor-faktor yang mempengaru-
dari minyak (Anonim, 2006). hi rendemen minyak ketumbar dipe-
Sifat kimia menyatakan jumlah ngaruhi oleh (1) suhu pengeringan, di-
atau besaran kandungan senyawa kimia keringkan dengan alat pengering se-
yang terdapat dalam minyak atsiri ter- baiknya tidak lebih dari 40ºC, (2)
sebut (Sulaswatty dan Salim, 2002). tingkat kematangan buah ketumbar, bu-
Nilai-nilai sifat fisika kimia minyak at- ah ketumbar yang belum matang akan
siri merupakan gambaran umum mi- menghasilkan mutu dan rendemen mi-
nyak atsiri. Nilai-nilai tersebut diguna- nyak yang rendah. Ketumbar yang ma-
kan sebagai patokan dalam perdagang- tang dan segera disuling, menghasilkan
an, baik di dalam negeri (Standar rendemen minyak sekitar 0,83%. Ma-
Nasional Indonesia) maupun interna- tangnya buah tidak bersamaan tapi ber-
sional (Standar Internasional). Sifat tahap untuk itu dibutuhkan penilaian
fisika kimia minyak ketumbar dapat untuk menentukan waktu optimal pa-
dilihat pada Tabel 2. nen. Hasil penelitian Setyaningsih
Minyak atsiri merupakan hasil (1992), menunjukkan bahwa masak
metabolisme sekunder di dalam tum- fisiologi tercapai pada saat buah ketum-
buhan. Karakteristik fisika kimia mi- bar berwarna kuning sampai coklat
nyak atsiri setiap tanaman berbeda. (sekitar 4-6 bulan setelah tanam) di-
Mutu minyak atsiri pada tanaman di- mulai dengan mengeringnya tangkai
pengaruhi oleh berbagai faktor, dian- payung yang diikuti dengan me-
taranya jenis atau varietas tanaman, ngerasnya pangkal perlekatan buah
iklim, bibit unggul, kondisi lingkungan dengan tangkai payungnya serta buah-
tumbuh, umur dan waktu panen, cara buah pada payung telah berubah warna

53
dari hijau menjadi kuning kecoklatan, C10H18O rumus struktur 3,7 dimetil-
(3) tanah tempat tumbuh, tanaman 1,6 oktadien-3-ol, linalool merupa-
ketumbar cocok di tanam pada tanah kan senyawa alcohol tidak siklik
yang agak liat, (4) iklim, (5) ukuran (lurus) (http://chemicalland
bentuk buah ketumbar, buah ketumbar 21.com/specialty-
berukuran kecil menghasilkan ren- chem/perchem/linalool. htm).
demen minyak lebih tinggi di- Linalool dapat dibuat secara ala-
bandingkan buah berukuran besar dan mi maupun sintesis, dari alami berasal
(6) teknik penyulingan, pada dari bunga lavender, bergamot, rose
penyulingan uap, jumlah air yang wood, sereh wangi, bunga dan daun
kontak langsung dengan bahan yang jeruk. Sedangkan sintesis linalool di-
disuling, diusahakan sedikit mungkin, peroleh dari  dan - pinen dan dipro-
tetapi air harus ada untuk membantu ses secara etimilasi dengan katalis ase-
kelancaran proses difusi, (7) varietas tilen menjadi dehidrolinalool, meng-
ketumbar, varietas Coriandrum hasilkan linalool melalui proses
sativum var. microcarpum D.C dia- hydrogenasi dari ikatan rangkap tiga
meter buahnya berkisar antara 1,5 - 3 dengan katalis lain karbon paladium.
mm lebih kecil kandungan minyak Senyawa komponen linalool sintesis
atsirinya lebih tinggi dari pada Corian- sama seperti linalool alami, aromanya
drum sativum var. vulgare Alet dia- wangi lembut seperti bergamot
meter buahnya berkisar antara 3-6 mm (http://www.Leffing-
(Ketaren, 1985; Guenther, 1987; well.com/bacis/bnb 99081. html).
Purseglove et al., 1981; Hadipoentyanti Linalool mengandung 2 enan-
dan Udarno, 2002). siomer atau lingkaran antipoda yang
Linaool merupakan penyusun mempunyai nama (R) – (-) linalool atau
utama minyak ketumbar, pada minyak likareol dan (S) – (+) linalool atau
ketumbar linalool yang terkandung se- koriandrol. Likareol terdapat pada bu-
kitar 60 - 70%, linalool termasuk se- nga lavender sedangkan koriandrol ter-
nyawa terpenoid alkohol, berbentuk ca- dapat pada ketumbar yang menghasil-
ir, tidak berwarna dan beraroma wangi. kan aroma wangi.
Linalool mempunyai rumus empiris
Tabel 2. Sifat fisika kimia minyak ketumbar
Karakteristik Nilai
Berat jenis, pada 15ºC 0,870-0,885, biasanya tidak
lebih dari 0,878
Putaran optik +8°0´ sampai +13°O´
Indeks bias pada 20°C 1,463-1,471
Bilangan asam, maks 5,0
Bilangan ester 3,0 – 22,7
Kelarutan dalam alkohol 70% pada suhu 20°C larut dalam 2-3 volume
Sumber: Guenther (1952) dalam Ketaren, 1985

54
Senyawa linalool merupakan Tabel 3. Sifat fisika kimia linalool
komponen yang menentukan intensitas
aroma harum, sehingga minyak ketum- Karakteristik Nilai
bar dapat dipergunakan sebagai bahan Berat jenis (g/cm3) 0,858-
baku parfum, aromanya seperti minyak 0,868
lavender atau bergamot. Linalool ba- Titik leleh (°C) <20
nyak digunakan dalam dalam industri Titik didih (°C) 198-200
farmasi sebagai obat analgesik (obat Tekanan uap (at 25°C) 21
menekan rasa sakit), parfum, aroma Sumber : http://www.Ch.ic.ac.uk/wiki/in-
makanan dan minuman, sabun mandi, dex.php/It 07 linalool
bahan dasar lilin, sabun cuci, sintesis
vitamin E dan pestisida hama gudang KEMUNGKINAN
maupun insektida untuk basmi kecoa PENGEMBANGAN KETUMBAR
dan nyamuk. Kegunaan ketumbar se- DI INDONESIA
bagai bahan obat antara lain untuk Ketumbar merupakan tanaman
diuretik (peluruh air kencing), anti- asli dari daratan Eropa Timur, kemudi-
piretik (penurun demam), stomatik an menyebar ke India, Morocco, Pakis-
(penguat lambung), stimulant (perang- tan, Rumania dan Rusia (Purseglove et
sang), laxatif (pencahar perut), antel- al., 1981). Rusia merupakan produsen
mintif (mengeluarkan cacing), terbesar rempah-rempah, sedang untuk
menambah selera makan, mengobati ketumbar, India merupakan produsen
sakit empedu dan bronchitis (Wahab terbesar dengan daerah-daerah pe-
dan Hasanah, 1996). nyebarannya meliputi Madras, Madya
Identifikasi linalool di dalam mi- Pradesh, Bombay, Mysore dan Bihar.
nyak dilakukan dengan metode kroma- Negara-negara produsen ketumbar
tografi gas dan menggunakan bahan lainnya adalah Iran, Turki, Mesir,
standar otentik linalool. Analisis de- Libanon dan Israel. Ketumbar dapat
ngan metode kromatografi gas mem- tumbuh pada kisaran iklim yang lebar,
berikan informasi kualitatif dan kuanti- tetapi dapat tumbuh dengan baik pada
tatif tentang komponen utama dalam tanah-tanah medium sampai berat pada
minyak. Disamping itu hasil kro- lokasi yang subur, berdrainase baik dan
matografi gas juga merupakan sidik jari kondisi lembab (Purseglove et al.,
(fingger print) yang dapat menunjuk- 1981).
kan secara cepat mutu dan kemurnian Produksi ketumbar di Indonesia
suatu minyak atsiri. Sifat fisika kimia baru sebatas diambil daunnya yang
linalool dapat dilihat pada Tabel 3. masih muda untuk lalab, sayuran dan
konsumsi swalayan. Produksi dalam
bentuk biji masih rendah, sehingga un-
tuk memenuhi kebutuhan bumbu da-
pur, penyedap rasa dan untuk industri
penyamak kulit setap tahunnya harus

55
mengimpor dari India, Rusia, Eropa duk dan minyak ketumbar dalam ne-
Timur dan negara produsen lainnya geri dibanding dengan bila diimpor.
dalam volume yang cukup besar antara
Analisis finansial usahatani ketum-
6.222.832 kg tahun 2005, sampai de-
bar dan daya saingnya
ngan 15.165.938 kg tahun 2004 (Badan
Pusat Statistik, 2005). Besarnya impor Karena ketumbar merupakan ko-
ketumbar berfluktuasi, tetapi kecende- moditas impor, maka untuk mengeta-
rungannya selalu meningkat rata-rata hui apakah layak bila ditanam di dalam
sekitar 11,71 % per tahun dari tahun negeri dan mampu bersaing dengan
1991 - 2005 (Tabel 5). harga internasional, perlu dilakukan ka-
Daerah penanaman yang diang- jian kearah analisis finansial dan daya
gap cocok dan sudah ada tanamannya saingnya. Analisis finansial digunakan
adalah Cipanas, Cibodas, Temanggung, untuk melihat manfaat suatu aktifitas
Jember dan Sumatera Barat (Wahab ekonomi dalam hal ini budidaya ke-
dan Hasanah, 1996). Penanaman biasa- tumbar di Indonesia dilihat dari sudut
nya di sela-sela bedengan tanaman petani atau individu yang terlibat dalam
wortel. Walaupun komoditas ketumbar aktifitas tersebut (Sudaryanto et al.,
telah lama digunakan di Indonesia, na- 2001). Sedang untuk melihat daya sa-
mun penanamannya secara luas belum ing komoditas tersebut digunakan kon-
terdata secara pasti. Kondisi ini me- sep keunggulan kompetitif (Saragih,
nunjukkan bahwa tanaman ketumbar 2001), konsep tersebut mendasarkan
belum diperhatikan oleh petani maupun pada kondisi perekonomian aktual
pengusaha di bidang pertanian. yang mengukur keuntungan privat
Dengan belum terdatanya tanam- (private profitability) dan dihitung ber-
an ketumbar secara luas dan produksi dasarkan harga aktual dengan meng-
secara signifikan serta keterkaitannya gunakan nilai tukar uang resmi yang
dengan kebutuhan impor yang sangat berlaku saat itu. Untuk mengetahui ke-
tinggi, sebetulnya pengembangan agri- layakan financial komoditas ketumbar
bisnis ketumbar mempunyai arti stra- digunakan data hasil penelitian
tegis. Strategisnya adalah bahwa ke- Rosmeilisa et al. (2002). Hasil peneliti-
tumbar dibutuhkan setiap hari, minimal an Rosmeilisa et al. (2002), diperoleh
sebagai bumbu dapur. Namun demiki- angka besarnya biaya produksi ketum-
an untuk mengetahui seberapa besar bar dengan luasan 0,1 ha =
strategisnya, dibutuhkan data dukung Rp 3.178.000,- yang terdiri dari biaya
secara rinci. Alat analisis yang di- upah sebesar Rp 1.220.000,- dan biaya
gunakan adalah analisis finansial, di- bahan sebesar Rp 1.958.000,-. Dengan
gunakan untuk mengetahui layak tidak- perolehan produksi berupa biji ketum-
nya ketumbar ditanam di Indonesia dan bar sebanyak 165 kg, maka besarnya
analisis keunggulan kompetitif, diguna- harga pokok produksi sebesar
kan untk mengetahui daya saing pro- Rp 19.200,-/kg (Tabel 4).

56
Tabel 4. Biaya usahatani ketumbar (luas : 0,1 ha)
Volume Harga Nilai
Uraian
(HOK) (Rp) (Rp)
A. UPAH
Pengolahan tanah 20 10.000,-*) 200.000,-
Membedeng dan melubang 10 10.000,- 100.000,-
Membagikan pupuk dasar 5 10.000,- 50.000,-
Pemberian pupuk dasar 5 10.000,- 50.000,-
Menanam 10 10.000,- 100.000,-
Menyulam 5 10.000,- 50.000,-
Penyiangan 30 10.000,- 300.000,-
Pemupukan susulan 5 10.000,- 50.000,-
Pemberantasan H & P 12 10.000,- 120.000,-
Panen 2 x setahun 20 10.000,- 200.000,-
Sub Jumlah 122 1.220.000,-
B BAHAN
. Bibit / benih 1 kg 28.000,- 28.000,-
Pupuk kandang 4 ton 25.000,- 100.000,-
Pupuk NPK 500 kg 3.000,- 1.500.000,-
Fungisida 3 kg 50.000,- 150.000,-
Insektisida 3 kaleng 60.000,- 180.000,-
Sub Total 1.958.000,-
TOTAL 3.178.000,-
Sumber : Rosmeilisa et al. (2002)

Karena ketumbar merupakan ko- pelabuhan ekspor dari negara


moditas impor dari India, Rusia, Eropa eksportir. Untuk mengetahui harga
Timur dan negara eksportir lainnya, domestik misalnya pada harga lokal
maka harga yang terbentuk merupakan di tingkat petani, caranya harus di-
harga bursa berjangka (futures excha- lakukan konversi dari harga interna-
nge) dalam bentuk cif (cost insurance sional menjadi harga lokal/domestik
freight), artinya harga yang terjadi di- (Deperindag, 2000). Caranya sebagai
berikut :

57
a) Rusian whole coriandrum sativum Linn, Agustus = 1 050 US dolar/mt
2007
b) Freight + asuransi + komisi (10 %) = 150 US dolar/mt
c) Harga fob = 900 US dolar/mt
d) Kurs tengah Bank Indonesia = Rp 9.200,-/US dolar
e) Harga fob Tanjung Priok =900 x Rp 9 200,- = Rp 8.280.000,-/mt
f) Atau harga fob di Pelabuhan Tanjung Priok = Rp 8.280,-/Kg
sebesar
g) Biaya : * biaya tetap(gaji pegawai, listrik, air, = Rp 237,-
penyusutan)
* biaya langsung terdiri dari:
- penyusutan kdr air, triase, kotoran dll = Rp 828,-
- bunga bank (3%) = Rp 188,80
-ongkos buruh = Rp 10,-
-biaya sortasi = Rp 15,-
-biaya EMKL dan OPP = Rp 42,-
-bahan pembantu (karung, tali dll) = Rp 45,-
-biaya sampling = Rp 2,-
h) Harga Lokal ( f – g) = Rp 6 912,20/Kg

Dari harga lokal yang terjadi, se- Rp 19.200,-/kg (Tabel 4), maka di-
lanjutnya ingin diketahui harga ketum- katakan bahwa pengembangan ke-
bar di tingkat petani, apabila ketumbar tumbar di Indonesia tidak efisien, ka-
dibudidayakan di Indonesia. Penelitian rena untuk menghasilkan 1 kg ke-
tentang marjin pemasaran ketumbar tumbar yang dibudidayakan di In-
dan harga yang diterima petani belum donesia dibutuhkan dana sebesar
tersedia. Oleh karenanya diasumsikan Rp 19.200,- sedang apabila di impor
pemasaran dan harga yang diterima pe- dari luar negeri, 1 kg ketumbar ha-
tani ketumbar diasumsikan seperti pada nya dibutuhkan biaya sebesar
komoditas lada hasil penelitian Rp 6.089,65.
Mauludi dan Rosmeilisa (1989) yaitu Untuk melihat daya saing ketum-
marjin pemasaran sebesar 11,9%, dan bar apabila dikembangkan di Indone-
bagian harga yang diterima petani se- sia, diukur melalui keuntungan privat
besar 88,1%. Harga ketumbar yang wa- berdasarkan atas harga aktual. Ke-
jar diterima oleh petani dengan de- untungan yang diperoleh dari usahatani
mikian adalah sebesar Rp 6.912,20 x ketumbar di Indonesia dari hasil ana-
88,1% = Rp 6.089,65/kg. lisis adalah negatif atau merugi sebesar
Dari hasil perhitungan harga Rp 10.920,- yang didapat dari harga
yang wajar dari ketumbar asal impor fob dikurangi harga pokok produksi.
sebesar Rp 6.089,65/kg dibanding de- Sedangkan DRCR (Domestic Resource
ngan harga pokok produk seandainya Cost of Revenue) diperoleh sebesar ne-
ketumbar ditanam di Indonesia sebesar gatif 2,31. Artinya bahwa produksi ke-

58
Tabel 5. Volume dan nilai impor ketumbar serta pertumbuhannya
Volume Pertumbuhan Nilai Pertumbuhan
Tahun
(kg ) (%) (US $) (%)
1991 5.450626 - 2.268.832 -
1992 9.489.567 74,10 4.918.327 116,77
1993 10.377.594 9,35 4.123.283 ( 16,16 )
1994 6.480.936 ( 3,75 ) 2.571.685 ( 37,63 )
1995 6.405.832 ( 1,15 ) 2.286.131 (11,10)
1996 7.958.029 24,23 3.795.046 66,04
1997 9.046.600 13,67 4.369.046 15,09
1998 7.703.923 ( 14,84 ) 2.895.809 ( 83,7 )
1999 11.531.408 49,68 3.064.437 5,87
2000 8.947.338 ( 22,40 ) 2.510.503 ( 22,06 )
2001 9.244.317 3,32 2.865.280 14,13
2002 9.695.702 4,88 3.551.953 23,96
2003 6.613.014 ( 31,79 ) 2.741.475 ( 22,81 )
2004 15.165.938 129,33 5.525.710 112,65
2005 6.222.832 ( 58,96 ) 2.062.503 ( 62,67 )
8.728.910,4 11,71 3.303.334,6 6,55
Sumber: Badan Pusat Statistik (1991- 2005)

tumbar yang dihasilkan Indonesia ti- Skenario (1)


dak mempunyai daya saing di pasar Dengan harga minyak atsiri ke-
internasional, karena untuk mengha- tumbar asal Rusia pada pasar penyerah-
silkan devisa sebesar 1 US dolar di- an (Rusian Spot) sebesar 49 US dolar
butuhkan biaya dalam negeri sebesar (Public Ledger, 2007) atau setara de-
2,31 US dolar. ngan Rp 450.800,- per kg, maka salah
satu upaya untuk memperoleh nilai
Analisis Nilai Tambah (added value)
tambah dari komoditas ketumbar ada-
minyak ketumbar
lah melalui pengolahan biji menjadi
Untuk mengetahui besarnya nilai minyak ketumbar. Dengan rendemen
tambah dari pengolahan biji ketumbar minyak sebesar 1,0% (Purseglove et
menjadi minyak ketumbar, dianalisis al., 1981), maka setiap 100 kg biji
melalui dua skenario yaitu : (1) bahan ketumbar akan dihasilkan minyak ke-
baku biji ketumbar berasal dari impor tumbar sebanyak 1,0 kg. Jika harga im-
dan (2) bahan baku berasal dari pro- por biji ketumbar per kg sebesar
duksi dalam negeri. Rp 8.280,- (harga fob di pelabuhan
Tanjung Priok), maka untuk mem-
peroleh 1 kg minyak, akan dibutuhkan
biaya bahan sebesar 100 x Rp 8.280,-
= Rp 828.000,-. Upaya penciptaan nilai

59
tambah melalui pengolahan biji ketum- masih rendah, apabila disuling menjadi
bar asal impor menjadi minyak ketum- minyak ketumbar ternyata juga tidak
bar tidak memberikan nilai tambah, menguntungkan dan tidak mempunyai
bahkan merugi sebesar Rp 378.000,- daya saing.
per kilgram minyak.
DAFTAR PUSTAKA
Skenario (2)
Dengan harga pokok produk Badan Pusat Statistik, 2005. Statistik
ketumbar di dalam negeri sebesar Perdagangan Luar Negeri Indone-
Rp 19.200,-/kg (Tabel 4) dan rendemen sia. Impor. Badan Pusat Statistik.
minyak sebesar 1%, maka untuk mem- Jakarta. 738 hal.
peroleh 1 kg minyak atsiri dibutuhkan Basu, B.D., 1975. Indian Medical
biaya sebesar Rp 1.920.000,-. Jika har- Plant. Part II. Bishen Singh
ga minyak ketumbar impor sebesar 49 Mahendra Pal Singh, New
US dolar atau setara Rp 450.800,- ma- Connaught Place, Dahra Dun. 64 p.
ka usaha penyulingan minyak ketum-
Deperindag, 2000. Petunjuk cara
bar dengan bahan baku yang diperoleh
mengkonversikan harga internasio-
dari budidaya ketumbar di dalam men-
nal ke harga lokal. Badan Penga-
jadi tidak efisien karena lebih mahal
was Perdagangan Berjangka Ko-
sebesar Rp 1.470.000,- per kilogram-
moditi. Jakarta. 25 hal.
nya.
Duryatmo S., 1999. Majalah Trubus
KESIMPULAN 356 (XXX). Jakarta. hal 71.
Ketumbar merupakan salah satu Guenther, E., 1949. The essential oils.
komoditas penghasil minyak atsiri yang Vol. I D. Van Nostrand Co., Inc.
semula diperkirakan mempunyai po- New York. 354-356 p.
tensi dan bernilai komersial tinggi, ter-
Guenther, E., 1987. Minyak atsiri. Jilid
nyata setelah melalui perhitungan-per-
I, Penerjemah S. Ketaren. Penerbit
hitungan dengan analisis finansial dan
Universitas Indonesia. 507 hal.
analisis biaya sumber daya domestik
ternyata belum layak dikembangkan di Guenther, E., 1990. Minyak atsiri. Jilid
Indonesia. Melalui analisis keunggulan IV B, Penerjemah S. Ketaren dan
komparatif komoditas ketumbar tidak R. Mulyono Penerbit Universitas
mempunyai daya saing karena diper- Indonesia. hal. 679-693.
oleh keuntungan privat yang negatif. Hadipoentyanti, E. dan L., Udarno,
Hingga saat ini budidaya ketum- 2002. Karakteristik plasma nutfah
bar baru sebatas diambil daunnya yang ketumbar (Coriandrum sativum
masih muda, digunakan untuk lalaban, L.). Prosiding Simposium Nasional
bumbu masak dan memenuhi per- II Tumbuhan Obat dan Aromatik.
mintaan swalayan sebagai sayuran. hal. 357-361.
Karena produktivitas bijinya yang

60
Hargono D., 1989. Vademekum Bahan Nurdjannah, N. dan T. Hidayat, 1994.
Obat Alam. Departemen Kesehatan Pengaruh cara dan waktu penyu-
Indonesia. hal. 149-152. lingan terhadap mutu minyak bu-
nga cengkeh. Buletin Penelitian
Hobir dan S. Rusli, 2002. Diversifikasi
Tanaman Rempah dan Obat, Balai
ragam dan peningkatan mutu mi-
Penelian Rempah dan Obat, Bogor.
nyak atsiri. Makalah pada “Work-
Vol. IX (2): 61-66.
shop Nasional Minyak Atsiri di
Cipayung”. Dep. Perindustrian dan Narpati, D., 2000. Prospek dan kendala
Perdagangan. 22 hal. ekspor nilam. Prosiding Gelar Tek-
nologi Pengolahan Gambir dan
It: Linalool. http://www. Ch.ic.ac.uk/
Nilam. Balai Penelitian Tanaman
wiki/index.php/It: linalool
Rempah dan Obat, Bogor. hal. 75-
(http://www. Leffingwell.com/bacis/ 85.
bnb 99081. html.
Public L., 2007. Daily Market Price.
Linalool (3,7 dimethyl-1,6-octadien- World Commodity Weekly (72)
3ol). http://chemicalland 21.com/ 537. w w w. Public-ledger. Com. P.
specialtychem/perchem/linalool.ht 16-21.
m.
Purseglove, J.W., E.G. Brown, C.L.
Ketaren, S., 1985. Pengantar teknologi Green and S.R.J. Robbin, 1981.
minyak atsiri. PN Balai Pustaka, Spices. Vol II. Longman Group
Jakarta. 426 hal. Limited, New York. p. 813.
Lawrence, B.M. and R.J., Reynolds, Rusli, S., D. Sumangat, I.S. Sumirat,
1988. Progress in essential oils. 1979. Pengaruh lama pelayuan dan
Perfumer Flavorist. An Allured lama penyulingan terhadap ren-
Publication. Vol. 13(3): 49-50. demen dan mutu minyak pada
Mauludi, L. dan Hobir, 1991. Prospek penyulingan serai dapur. Pemberi-
dan permasalahan dalam pe- taan Lembaga Penelitian Tanaman
ngembangan tanaman atsiri In- Industri, Bogor. hal. 44-54.
donesia. Prosiding Pengembangan Rusli, S., 2002. Diversifikasi ragam
Tanaman Atsiri di Sumatera. Balai dan peningkatan mutu minyak
Penelitian Tanaman Rempah dan atsiri. Makalah Workshop Nasional
Obat. hal. 158-163. Minyak Atsiri. Deperindag.
Mauludi, L dan P. Rosmelisa, 1989. Jakarta.
Keragaan dan Prospek Pemasaran Rosmeilisa, P., D. Rusmin dan
Lada Hitam di Lampung. Seminar Sukarman, 2002. Potensi dan
Balittro tanggal 11 Pebruari 1989. Kendala Pengembangan Tanaman
Balittro. 14 hal. (tidak dipublikasi). Ketumbar di Indonesia. Prosiding
Simposium Nasional II Tumbuhan
Obat dan Aromatik. Pusat Pene-

61
litian Biologi LIPI bekerjasama nomi. Pusat Penelitian dan
dengan Yayasan Keaneka Ragam- Pengembangan Sosial Ekonomi
an Hayati, Asian Pasific Informa- Pertanian. Bogor. hal. 1-20.
tion Net Work on Medicinaland Sulaswatty, A. dan T. Salim, 2002.
Aromatic Plant United Nation Pengembangan teknologi peng-
Educational Scientific and Cultural
olahan minyak atsiri di Lembaga
Organization, Japan International Ilmu Pengetahuan Indonesia. Un-
Cooperation Agency. hal. 482- publish makalah disampaikan pada
487. diskusi atsiri Direktorat Jenderal
Saragih, B., 2001. Agribisnis. Bina Pengolahan dan Pemasaran
Paradigma Baru Pembangunan Hasil Pertanian, Departemen Perta-
Ekonomi Berbasis Pertanian. Pus- nian, Jakarta. hal. 1-12.
taka Wira Usaha Muda. Jakarta. Soeharso, 1988. Coriandrum Sativum
243 hal. L. Asri (63) :98 p.
Setyaningsih, P., 1992. Studi fenologi Standar Nasional Indonesia, 2006. Mi-
dan pengaruh posisi payung ter- nyak nilam. Badan Standardisasi
hadap viabilitas benih ketumbar. Nasional. 11 hal.
Skripsi. Jurusan Budidaya Pertani-
an, Faperta, IPB. Bogor. 54 hal. Wahab, I. dan M., Hasanah, 1996. Per-
kembangan penelitian aspek perbe-
Sudaryanto T., I Wayan Rusastra dan
nihan tanaman ketumbar (Corian-
Saptana, 2001. Perspektif Pengem- drum sativum Linn). Jurnal Pene-
bangan Ekonomi Kedelai di Indo- litian dan Pengembangan Pertani-
nesia. Forum Penelitian Agro Eko- an. Vol XV(1) 1-5.

62