Anda di halaman 1dari 9

Tugas 2

NAMA : YOGI EKA NANDA S


NIM : 030032141
UPBJJ : UT BANDAR LAMPUNG
MATA KULIAH : HK DAN MASYARAKAT

Hukum dan Kejahatan seperti keping mata uang yang tiak dapat dipisahkan. Keberadaan
hukum disatu sisi dipergunakan untuk mencegah terjadinya kejahatan disisi lain
kejahatan muncul disebabkan oleh lemahnya hukum sebagai instrumen pengendalian
sosial. Namun dalam kenyataan hukum menimbulkan diskriminasi dimana kejahatan
kerah putih (white collar crime) sering tidak terjamah hukum. Mengapa demikian?
Tulisan maksimal 1500 kata, terdiri dari
1.Pendahuluan
2. Isi dan Diskusi
3. Kesimpulan

JAWAB:

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita akan menemukan berbagai peristiwa dan
fenomena, salah satunya adalah perilaku menyimpang. Sifat ini memiliki kata lain
yaitu deviance, suatu perilaku disebut menyimpang apabila tidak sesuai dengan nilai-nilai
dan norma social yang berlaku dalam masyarakat. Menurut kajian sosiologis, perilaku
menyimpang bukan sesuatu yang melekat pada bentuk perilaku tertentu, melainkan
diberi ciri penyimpangan melalui definisi sosial.
Perilaku menyimpang terjadi karena proses sosialisasi yang kurang sempurna. Proses
sosialisasi yang kurang sempurna ini terjadi akibat ketidaksepadanan pesan-pesan yang
disampaikan oleh masing-masing agen sosialisasi atau seseorang mengambil peran
yang salah atau meniru perilaku yang menyimpang dari generalized others.
1.2 Identifikasi Masalah
Dalam masalah ini, banyak contoh-contoh peristiwa yang terjadi yang termasuk
kedalam sifat dan macam bentuk perilaku menyimpang (deviance). Sifat perilaku
menyimpang ada yang positif dan negatif. Deviance positif merupakan penyimpangan
yang mempunyai dampak yang positif terhadap sistem sosial. Karena mengandung
unsure kreatif dan inovatif. Sedangkan deviance negatif merupakan perilaku yang
bertindak kearah nilai-nilai social yang rendah dan buruk serta mengganggu system
social.

2017.2
Macam-macam perilaku menyimpang dapat digolongkan atas tindakan criminal atau
kejahatan, penyimpangan seksual,penyimpangan dalam bentuk pemakaian dan
pengedaran obat terlarang, serta penyimpangan dalam gaya hidup. Kejahatan dapat
dibagi menjadi kejahatan tanpa korban (crime without victim), kejahatan terorganisasi
(organized crime), kejahatan kerah putih (white collar crime), dan kejahatan korporat
(corporate crime).Macam kejahatan kerah putih akan dibahas lebih jauh lagi sebagai inti
dari isi dari makalah ini.

BAB II
KEJAHATAN KERAH PUTIH

2.1 Pengertian Kejahatan Kerah Putih


Kejahatan kerah putih (white collar crime) merupakan tipe kejahatan yang mengacu
kepada kejahatan yang dilakukan oleh oaring-orang terpandang atau orang-oarang yamg
berstatus tinggi dalam rangka pekerjaannya. Pelakunya umumnya orang-orang terpelajar
dan berkedudukan sosial terpandang dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dengan motif untuk mencari keuntungan dari segi ekonomi. Contohnya;
penghindaran pajak, penggelapan uang perusahaan oleh pemilik peusahaan, atau
pejabat negara yang melakukan korupsi.
2.2 Contoh Kasus Kejahatan Kerah Putih di Indonesia
Pembobolan dana bank dalam dunia dunia kriminal (crime) adalah salah satu jenis white
collar crime atau "kejahatan kerah putih". Dengan demikian, pembobolan bank tidak
tergolong street crime atau kejahatan yang sering diartikan sebagai kejahatan dengan
menggunakan kekuatan yang didukung teknologi computer. Dalam dunia kepolisian kita,
white collar crime ini digolongkan ke dalam kejahatan dimensi baru.
Pelakunya umumnya orang-orang terpelajar dan berkedudukan sosial terpandang
dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan motif untuk mencari
keuntungan dari segi ekonomi. Sementara itu, pelaku kejahatan dengan menggunakan
kekuatan atau kekerasan biasanya masyarakat biasa dan tidak terpelajar. Kejahatan
tersebut belakangan berkembang sedemikian rupa dan berkembang ke segala penjuru
dan arah Dipastikan, jika celah-celah kelemahan dalam undang-undang dan sikap
manusianya tetap negatif, kejahatan kerah putih dapat merajalela terhadap negara yang
lemah dalam hukum cybercrime.
Kasus yang muncul ke permukaan dan kebetulan menimbulkan kerugian besar adalah
pembobolan dana Rp 1,7 triliun di Bank BNI dan pembobolan Rp 264 miliar di Bank BRI.
Jika dilihat, modus operandi pembobolan Bank BNI di Jakarta atau BRI juga mirip
dengan sejumlah modus operandi pembobolan bank sebelumnya. Pelakunya pun, selain
orang luar, juga orang bank sendiri yang mengetahui seluk beluk banknya, termasuk
mengetahui kelemahan di banknya.
Contoh lain yaitu kejahatan yang terjadi di perbankan Indonesia yang berlangsung
dalam berbagai bentuk. Kebobolan Rp 6,6 miliar dalam tubuh Bank Indonesia (BI) baru-
2017.2
baru ini memperlihatkan rentannya dunia perbankan menghadapi kejahatan yang
dilakukan oleh orang-orang dalam lembaga itu sendiri. Dan kejahatan terakhir ini menjadi
menarik karena berlangsung di bank sentral. Pada kasus BI, pelakunya mampu
membobol Rp 6,6 miliar karena dia tidak perlu melapor ke kepala urusan dan dia juga
mampu membuat keputusan sendiri. Kalau saja dia harus melapor kepada orang lain,
dia tidak akan mampu berbuat semudah itu. Dalam kasus ini lalu ada paradoks, BI saja
bisa begitu, apalagi bank-bank di bawahnya. Bila dilihat dari pelakunya, modusnya,
jumlah kerugiannya dan segi pengungkapannya, tidak ada menariknya. Bandingkan
kasus Bank Pembangunan Asia yang melibatkan direksi sampai kepala seksi, kepala
urusan, dengan kurugian Rp 300 miliar. Itu menarik karena pengungkapan sulit, butuh
waktu berbulan-bulan. Juga kasus Dicky dengan Bank Duta maupun Eddy Tansil
dengan Bapindo.
Kasus BI hanya melibatkan enam orang dan empat di antaranya sudah tertangkap. Dan
dilihat dari sudut pengungkapannya relatif mudah. Mungkin yang menarik adalah
motifnya. Tapi selama hanya menyangkut kepentingannya sendiri, kasus ini menjadi
kurang menarik. Artinya tidak ada sesuatu yang baru dari kasus ini. Ini bukan kejahatan
perbankan, tapi kejahatan ekonomi economic crime. Kalau kejahatan perbankan, ada
unsur informasi yang terbuka dan ada informasi rahasia yang dijaga polisi ketika
mengejarnya. Sedang dalam kasus BI, tidak ada nasabah yang dirugikan. Yang ada
adalah tindakan memark up. Yang ada adalah penipuan, pemberian keterangan palsu
sehingga digolongkan dalam kejahatan bidang perbankan, bukan kejahatan perbankan.
Kejahatan perbankan ada dua, oleh bank (by bank) dan terhadap bank (against bank).
Sedangkan untuk kasus BI, bukan kedua-duanya.
Bagaimana penggolongan kejahatan di bidang perbankan. Selama ini dikenal ada empat
jenis kejahatan di bidang perbankan. Pertama, praktek-praktek pembukaan bank tanpa
izin atau bank ilegal. Kedua, pemberian kredit yang tidak berdasar yang sifatnya tidak
memiliki jaminan dan diberikan kepada orang-yang fiktif. Ketiga, pencatatan secara salah
dan keempat, pengiriman atau pentransferan uang secara salah. Keempat hal ini
memiliki karakteristik macam-macam. Dalam hal pendirian bank tanpa izin, biasanya
dilakukan oleh pemilik. Mungkin saja kerugian yang ditimbulkan tidak terlalu besar,
namun karena mengenai calon nasabah yang jumlahnya banyak dan
menimbulkan keresahan, maka BI, kepolisian dan kejaksanaan bertindak cepat.
Jenis kedua, pemberian kredit yang salah, contohnya pada kasus Bapindo, adalah
pemberian kredit kepada seseorang tanpa melalui proses yang semestinya. Sedang jenis
ketiga dan keempat, bisa berjumlah puluhan juta sampai miliaran, tergantung level si
pembobol. Biasanya ada gradasi, di mana setiap jabatan punya kemampuan kontrol
dalam melepas uang. Seorang pemilik biasanya 'bermain' dalam jenis yang pertama atau
kedua. Sedang jenis ketiga dan keempat biasanya dilakukan manajer, kepala divisi,
kepala grup sampai pimpinan cabang.
Karena termasuk sebagai kejahatan biasa, bisa digolongkan sebagai korupsi. Pelaku
dari luar dikenai tindakan pidana ekonomi, sedang pelaku dari dalam bisa dikenai
tuduhan koruptor. Soal berapa tahun hukumannya, tergantung penggunaan pasal. Tindak
pidana ekonomi 12 tahun ke atas, korupsi 20 tahun. Kalau ditarik ulur, malahan
dapat dikenai subversi. Misalnya kasus pendirian bank fiktif di Bandung, dituntut sebagai
tindakan subversi.
Bentuk kejahatan yang akan ditangkal tidak ada masalah karena UU Perbankan, Tindak
Pidana Ekonomi maupun KUHP itu secara berlapis mampu menanggulanginya. Tetapi
2017.2
ada hal yang tidak mungkin diacuhkan berkaitan dengan prinsip regim devisa bebas
yang kita pakai, yaitu bahwa negara membolehkan seseorang memiliki pemilikan materi
tanpa negara perlu mengetahui asal-usulnya. Hal itu lalu bermuara pada timbulnya
peraturan kerahasiaan bank. Tapi regim ini bisa ditanggulangi dengan RUU KUHP baru
yang sudah sejak empat tahun lalu diserahkan ke DPR. Pasal 110 dan 111 memasang
jerat kepada para perbankan, yaitu kalau mereka mencurigai adanya kepemilikan
yang tidak sah oleh nasabahnya, pihak bank wajib melaporkan pada polisi. Dan bila tidak
melaporkan maka bank dapat dituntut oleh penegak hukum. Jadi pasal ini meletakkan
kesalahan bukan pada si pemilik uang, tapi pada si bankir.
Jika kejahatan perbankan juga menyangkut perdagangan derivatif, sejauh mana
kesiapan hukum kita. Hukum tidak secara eksplisit menyebut perdagangan derivatif.
Sama halnya dengan hukum tidak menyebut permainan pasar uang. Tapi yang ditangkap
oleh hukum adalah esensi dari fakta tersebut. Permainan pasar uang misalnya, berarti
mengandung pengertian menggunakan uang orang lain, menyalahgunakan kepercayaan
dan memperkaya diri sendiri.Itu yang dikejar oleh hukum dan bukan permainan pasar
uangnya. Begitu pula jika menyangkut derivatif. Jika disinggung, berarti
Indonesia bersentuhan dengan regim dunia. Sama halnya dengan future trading, bukan
future tradingnya yang dipersoalkan, tapi bagaimana agar jangan sampai ada
perusahaan yang memainkan future trading tanpa ada suatu persyaratan dana yang
cukup, agen di luar negeri dan sebagainya. Jadi yang dibatasi adalah operasi
perusahaan sambil menunggu sampai Indonesia kuat dalam future trading.
Tentunya banyak kemungkinan akan muncul kejahatan di bidang perbankan yang lebih
canggih di kemudian hari. Kita sendiri pernah beberapakali mengalaminya. Kasus Dicky
dengan dealing roomnya sebenarnya merupakan variasi baru. Kejahatan yang dilakukan
bukan bentuk kejahatan empat jenis yang disebutkan. Dan oleh jaksa yang menuntutnya,
Dicky dianggap menyalahgunakan informasi yang dimilikinya. Yakni menyalahgunakan
uang yang dipercayakan kepadanya untuk bermain di pasar uang. Ini sudah bentuk
kejahatan perbankan yang canggih. Meskipun jumlahnya kecil, tetapi modusnya serupa
dengan kasus Bearings atau Daiwa.
Berapa kejahatan perbankan di Indonesia. Ini hal yang biasanya dalam kasus kriminal, di
mana jumlah yang dilaporkan jauh lebih rendah dari yang terjadi sesungguhnya.
Sejalan dengan majunya dunia perbankan, sumberdaya manusia dan teknologi yang
berkembang, peluang bertambahnya kasus juga akan lebih besar.
Banyak hal yang harus dilakukan dalam meminimalisasi kasus ini. Antara
lain pengawasannya lebih struktural, misalnya harus ada cross check dan yang
menangani beberapa orang. Atau pengawasan secara horizontal, yang semuanya
dimaksudkan untuk menambah prosedur yang kentara. Mungkin sedikit lebih rumit, tapi
secara teknis dapat dipakai untuk melakukan pencegahan. Kedua, pencarian indikator
dari pegawai yang punya mental baik. Kemudian, memperbanyak rotasi, agar tidak ada
orang yang terlalu lama duduk tempatnya. Juga jangan membiarkan orang memiliki
jaringan tertentu yang memungkinkan terjadinya kolusi.
Tapi BI juga sudah melakukan pengawasan. Jika memang sudah dijalankan, bisa saja
bobol karena ada unsur kebiasaan. Ada kebiasaan praktek korupsi kecil-kecilan yang
sudah menjamur. Mungkin pelakunya berpikir untuk mencoba melakukan karena yang
sudah melakukan sebelumnya tidak diapa-apakan. Barangkali saja dia mengira akan
didiamkan dan tidak menyangka kasusnya berkepanjangan. Kalau sistemnya berjalan

2017.2
dengan baik, Gubernur BI tidak perlu emosi. Mungkin karena dia mendapat laporan
sistemnya berjalan baik sementara kenyataannya tidak seperti itu.
Sementara itu, para tersangka kasus korupsi juga digolongkan dalam tersangka
kejahatan kerah putih (white collar crime). Mereka ini memang memiliki status sosial
yang cukup baik di masyarakat, serta tentunya memiliki kesempatan untuk melakukan
korupsi. Kaum elit, begitu istilah awam menyebut mereka.
Koruptor memang maling berkelas. Saking berkelasnya, masyarakat, bahkan media,
cenderung lebih hati-hati memperlakukan mereka. Istilah-istilah yang digunakan untuk
menggambarkan kejahatan mereka menunjukkan hal itu. Istilah pelaku penggelapan,
misalnya, lebih disukai ketimbang istilah garong. Penyalahgunaan dana dipakai untuk
mengganti kata korupsi. Padahal esensinya sama saja, mencuri. Koruptor bahkan
memiliki kadar kejahatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencuri kelas teri.
Logikanya, mana ada orang korupsi hanya untuk beli beras buat makan hari ini. Kalau
pun ada, mungkin berasnya ratusan ton.
Perlakuan masyarakat juga tidak jauh berbeda. Sanksi moral untuk koruptor cenderung
lebih ringan dibanding sanksi moral terhadap yang melakukan sekedar maling ayam.
Orang masih bisa membungkuk hormat di hadapan orang yang sudah nyata-nyata
diputus pengadilan sebagai koruptor. Sementara, maling ayam yang mencuri untuk
sekedar bisa mengganjal perut, dikucilkan tanpa ampun.
Inilah realita yang ada di sekitar kita. Korupsi, seolah-olah kanker ganas yang amat
sangat sulit untuk disembuhkan. Dari tingkat atas sampai tingkat bawah, selalu terjadi.
Celakanya, di tengah masyarakat yang menganut budaya patron, budaya panutan, justru
banyak sekali orang-orang yang seharusnya menjadi teladan, malah menjadi pelaku
kejahatan kerah putih ini. Akibatnya, semakin lama orang semakin menganggap bahwa
korupsi merupakan hal yang wajar dilakukan oleh para petinggi, dan itu yang akhirnya
dicontoh oleh orang-orang yang ada dibawahnya. Maka berurat akarlah korupsi, dari atas
sampai ke bawah, dari yang berskala nasional, regional, sampai tingkat lokal.
Belakangan kita dikejutkan oleh maraknya kasus korupsi yang terjadi di belasan DPRD
Tingkat II. Wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat, malah
merampok uang rakyat. Sebuah kekejian dan pengkhianatan yang sungguh
menyakitkan.
Belakangan ini, korupsi malah cenderung dianggap sebagai perbuatan terhormat.
Rasanya kurang pas kalau ada kesempatan, tapi tidak melakukan korupsi. Selain bisa
menunjang semangat memuja kebendaan, korupsi juga bisa menaikkan popularitas,
yang dalam skala tertentu bisa membantu mencapai tujuan-tujuan politis maupun tujuan-
tujuan lainnya. Bahkan kalau berhasil lolos dari jeratan hukum, terkesan ada semacam
kebanggaan bahwa diri sang pelaku memiliki kehebatan luar biasa, kekebalan hukum,
sekaligus –barangkali- ketebalan muka di atas rata-rata, sehingga membuat yang
bersangkutan semakin menepuk dada.
Lalu apa yang bisa dilakukan oleh kita, untuk menyikapi semua itu? Ajaran Islam
mengatakan, jika melihat kemunkaran ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, jika
memiliki kekuatan, lawanlah kemunkaran dengan tangan. Artinya, kalau kebetulan anda
menjadi hakim yang punya kewenangan memutus perkara korupsi, maka jatuhkanlah
keputusan yang adil. Kalau anda jadi polisi, perlakukanlah semua orang dengan adil,
jangan pilih-pilih berdasarkan pertimbangan uang atau status sosial. Kalau anda jadi
Presiden, jangan cuma memanjakan konglomerat, tapi perhatikan juga rakyat kecil.
Kedua, jika tidak bisa dengan tangan, lakukanlah dengan lisan. Ungkapkanlah
2017.2
kebenaran, jangan ditutup-tutupi. Sebutlah warna hitam dengan Hitam, dan warna putih
dengan Putih, jangan ditukar-tukar. Ketiga, jika dengan lisan juga masih tidak mampu,
maka lawanlah dengan hati. Jangan pernah merestui kemunkaran, meskipun -kata Nabi-
inilah selemah-lemahnya iman. Semua itu bisa kita lakukan dengan berpedoman pada
akal sehat dan hati nurani.
Yang tidak kalah pentingnya adalah menanamkan pemahaman agama dan pemahaman
moral yang baik kepada anak-anak kita sejak dini. Jangan sampai pemahaman salah
kaprah tentang mana yang baik dan mana yang buruk, mana benar mana salah,
berlangsung terus menerus hingga menjadi kebenaran itu sendiri. Selain itu, jadikan diri
kita sebagai panutan yang baik untuk anak-anak kita. Jangan melarang anak-anak
merokok sambil mulut kita mengepulkan asap rokok. Artinya, jangan mengajarkan untuk
tidak korupsi, padahal kita sendiri koruptor. Rantai kebejatan moral harus diputus, dan itu
harga mati. Kecuali, jika kita ingin anak-anak kita, generasi mendatang, menjadi pelaku-
pelaku korupsi kelas kakap karena mereka menganggap koruptor merupakan profesi
bergengsi.
Kalangan anggota DPR meminta pelaku kejahatan kerah putih (white collar crime) harus
ditindak tegas tanpa pandang bulu sesuai dengan hukum yang berlaku. Untuk kasus-
kasus yang menyangkut kepentingan rakyat banyak, penyidik harus memberikan
penjelasan kepada masyarakat tentang kelanjutan tindakan yang telah diambil. Kasus
ekspor fiktif, setelah penyidikannya tuntas dan terdapat bukti-bukti kuat, hendaknya
segera diajukan ke pengadilan. Kita harus bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku,
lebih-lebih dalam memberantas tindak pidana ekonomi dengan cara canggih, yang jelas
hanya bisa dilakukan pengusaha "white collar crime" kelas internasional.
Kasus demikian, jelas perlus egera diproses di pengadilan untuk dibuktikan. Ini
mengingat kasus kriminal seperti itu berdampak luas, merugikan negara dan mencoreng
citra kredibilitas bangsa. Hal ini , tidak tertutup kemungkinan masih terdapat sejumlah
pelaku kejahatan kerah putih canggih demikian. Namun sejauh ini belum terungkap.Tapi
jika kasus tersebut berhasil diungkap, ambil tindakan hukum secara tegas sesuai
undang-undang yang berlaku. Dampak negatif yang ditimbulkan ekspor fiktif, adalah
menjadikan data yang dihimpun instansi resmi menjadi semu. Pada akhirnya
menghasilkan kesimpulan yang semu pula, karena tidak didasarkan gambaran yang
sebenarnya. Itu jelas akan merugikan negara.

2.3 Kejahatan Kerah Putih di Amerika Serikat


Di Amerika Serikat (AS)-seperti dilaporkan ACFE (Association of Certified Fraud
Examines)-kerugian yang diakibatkan kejahatan kerah putih sebesar 200-600 juta dollar
AS setiap tahun. Bandingkan dengan tingkat kerugian yang diciptakan berbagai praktik
kejahatan di jalanan sepanjang tahun, yang hanya mencapai 3–4 juta dollar AS. Menurut
laporan Bureau of Justice Statistic AS, kerugian total akibat berbagai praktik kriminalitas
di seluruh negeri sepanjang satu tahun hanya 15,6 juta dollar AS.
2017.2
Kejahatan kerah putih jauh lebih banyak mengeruk kerugian daripada total kejahatan di
jalan. Para pelakunya pun masih banyak yang terus berdasi dan berdandan rapi, tanpa
menanggung akibatnya. Inilah ironi luar biasa yang sedang terjadi di tengah-tengah kita.
Survei terhadap unit-unit perusahaan menemukan, dampak kejahatan kerah putih
terhadap setiap unit korporasi besarnya kira-kira setara dengan 1-6 persen dari tingkat
penjualan per tahun (annual sales). Sebuah angka yang fantastis. Sementara studi lain
menemukan, sebesar 30 persen kegagalan bisnis baru disebabkan inefisiensi karena
perilaku kejahatan kerah putih.
Secara sederhana dapat disimpulkan, kejahatan kerah putih secara sistematis telah
menggerogoti daya saing, baik pada level korporasi, struktur industri, maupun makro
ekonomi. Rupanya, antara praktik korupsi, daya saing ekonomi, dan kejahatan kerah
putih terjadi hubungan searah (linear). Praktik korupsi yang merajalela salah satunya
ditunjukkan dengan banyaknya praktik kejahatan kerah putih. Sementara korupsi
mengakibatkan penurunan daya saing ekonomi.

"Operational governance"
Jika pembicaraan diarahkan pada level paling sempit, yaitu level korporasi, kita sedang
menghadapi persoalan besar mengenai tata kelola perusahaan yang baik (good
corporate governance/GCG). Selama ini, pembicaraan tentang GCG masih berhenti
pada level besar, yaitu pada level Corporate Governance. Padahal, inti masalah
sebenarnya justru terletak pada hal-hal yang lebih teknis dan mikro (Operational
Governance). Jika Corporate Governance (CG) menaruh perhatian pada hubungan
antara pemegang saham, dewan pengawas, dan eksekutif, Operational Governance
(OG) menekankan kontrol pada praktik manajerialnya.
Perdebatan CG yang mendapat inspirasi dari teori Agensi (agency theory), masih ada
pada level makro, sementara hal-hal yang berhubungan dengan praktik keseharian
manajerial diserahkan begitu saja pada otoritas manajemen (executives). Demikian juga
dengan studi soal kejahatan kerah putih, masih dikaitkan faktor-faktor makro itu, seperti
struktur kepemilikan saham, sistem penggajian CEO, atau peran dewan pengawas.
Salah satu studi pernah dilakukan terhadap 78 perusahaan publik dalam periode 1984-
1990 di AS. Kesimpulannya, kejahatan kerah putih akan kian berkurang jika pembagian
saham kepada karyawan kian besar (Alexander & Cohen, 1999).
Selain dipengaruhi faktor-faktor makro tersebut, kejahatan kerah putih juga amat
ditentukan oleh aneka perangkat mikro yang diciptakan dalam kontrol manajerial
(managerial control). Solusi ini ditawarkan mengingat adanya sebuah asumsi tertentu
tentang perilaku karyawan. Beberapa studi menyimpulkan, dalam sebuah organisasi
korporasi, umumnya, 30 persen karyawannya memiliki rencana/keinginan untuk (willing
to) melakukan tindak kejahatan terhadap perusahaan dalam berbagai bentuk. Sebanyak
30 persen lain sesekali tergoda melakukannya. Dan hanya 40 persen yang tegas
menolak melakukannya.
Dalam komposisi ini, paling kurang, ada 30 persen dari total karyawan yang masih bisa
dipengaruhi agar tidak melakukan kejahatan terhadap perusahaan (kelompok yang
sesekali tergoda melakukan kejahatan). Untuk itu, dibutuhkan seperangkat kontrol yang
di sisi lain tidak membuat seluruh sistem terpenjara. Kontrol terhadap perilaku karyawan
paling kurang muncul dalam dua hal besar, yaitu sistem akuntansi (accounting system)
dan paket kebijakan dan prosedur (policies & procedures) perusahaan.

2017.2
Korporasi adalah entitas yang rumit karena selain menyimpan mekanisme teknis
dan prosedural, juga dipenuhi aktor yang pada dasarnya bebas memainkan
perannya. Dalam sebuah lingkungan yang dipenuhi tindakan kriminal, korporasi
juga bisa menjadi bagian tak terpisahkan.
Menghadapi masalah kejahatan kerah putih di dunia perbankan, paling kurang ada tiga
level ruang lingkup masalah. Yaitu, prosedur teknis dalam organisasi perusahaan.
Berikutnya, lingkup pengambil kebijakan bisnis (business policy) yang menyangkut
keputusan-keputusan politis di tingkat korporasi. Misalnya, apakah perusahaan akan
bertahan atau meninggalkan investasi dalam situasi transisi sosial, ekonomi dan politik.
Level paling atas adalah konspirasi di tingkat makro (ekonomi-politik).
Kadang, kontrol yang dilakukan pengambil kebijakan tingkat korporasi tidak cukup untuk
menghentikan terjadinya skandal, apalagi hanya lewat kontrol prosedural teknis. Pada
gilirannya, skandal keuangan lebih menyangkut perkara politik tingkat tinggi yang
melibatkan pemain-pemain kelas kakap yang sulit ditunjuk batang hidungnya. Semuanya
gelap karena setiap indikasi ditepis dengan kemampuan berkelit yang luar biasa.
Jangan-jangan sederet skandal perbankan ini akan ditutup dengan kesimpulan sumir dan
tidak jelas, persis seperti kisah misteri yang sedang digandrungi di layar TV kita. Sulit
dipercaya, tetapi ada. Dan menelusuri kejahatan kerah putih akan menyerupai pencarian
alam gaib.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

Dari uaraian diatas dapat disimpulkan bahwa kejahatan kerah putih pada
dasarnya banyak dilakukan oleh orang-orang yang berkelas tinggi, orang
berdasi, pejabat pemerintah atau orang yang memliki kedudukan tinggi di
masyarakat sosial. Adapun kejahatan yang dilakukan berupa korupsi secara
besar-besaran hingga menyebabkan kerugian bagi negara dan seluruh
2017.2
rakyatnya. Pembobolan bank sentral yang dilakukan para petinggi dan
pegawai bank tersebut, menjadikan suatu ciri rentannya bidang perbankan
di Indonesia.

Seharusnya para pejabat tinggi Indonesia merasa beruntung karena


diberikan kepercayaan lebih oleh masyarakat dalam memimpin dan
menjalankan tugasnya. Tapi apa kenyataannya, malah justru berbalik dari
harapan semua pihak. Para petinggi itu justru mempergunakan kekuasaanya
dijalan yang salah, tanpa memperhatikan dampak bagi masyarakat dan
negara.

Faktor lain kurang tegasnya aparat penegak hukum yang selama ini tidak
tegas terhadap pejabat tinggi selama ini , dapat dilihat dari kurang tuntasnya
penanganan kasus –kasus korupsi besar di negeri ini. Mengakibatkan para
pelaku semakin banyak di negeri ini.

2017.2