Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH MIKROBIOLOGI LAUT

PERTUMBUHAN MIKROORGANISME

DOSEN PENGAMPU : Endang Wulandari Suryaningtyas.,S.Pi.,MP

OLEH

NI PUTU YUNI SINTIA DEWI

1514511026

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN

FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
KATA PENGANTAR

Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat, taufik,
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelasaikan makalah ini. Tak lupa Shalawat serta
Salam atas junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah diutus kemuka bumi ini sebagai
Rahmatanlil Alamin yang kita nantikan syafaatnya di hari akhir nanti.

Makalah ini disusun untuk mengetahui lebih lanjut tentang Pertumbuhan Mikroorganisme.
Dimana dalam makalah ini diharapkan lebih membuka wawasan berpikir dibidang terkait
dengannya.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi kita semua dan bermanfaat untuk
pengembangan ilmu pengetahuan.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jimbaran, Oktober 2018

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................................. 2
BAB I.............................................................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 4
A. Latar belakang ................................................................................................................................. 4
1.2 Tujuan Percobaan ............................................................................................................................. 4
BAB II............................................................................................................................................................. 5
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................................................. 5
2.1 Pertumbuhan Mikroorganisme ....................................................................................................... 5
2.2 Fase-Fase Pertumbuhan Mikroorganisme ...................................................................................... 5
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme A. Faktor alam ..................... 7
2.4 Media biak dan persyaratan bagi pertumbuhan .......................................................................... 11
2.5 Reproduksi Mikroorganisme sebagai Komponen Pertumbuhan Mikroorganisme ................ 15
BAB III ......................................................................................................................................................... 19
KESIMPULAN .......................................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................................... 20
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Mikroorganisme sama dengan makhluk hidup lainnya, memerlukan suplai nutrisi sebagai sumber
energi dan pertumbuhan selnya. Unsur-unsur dasar tersebut adalah : karbon, nitrogen, hidrogen,
oksigen, sulfur, fosfor, zat besi dan sejumlah kecil logam lainnya. Ketiadaan atau kekurangan
sumber-sumber nutrisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba hingga pada akhirnya dapat
menyebabkan kematian. Kondisi tidak bersih dan higinis pada lingkungan adalah kondisi yang
menyediakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan mikroorganisme sehingga mikroba dapat tumbuh
berkembang di lingkungan seperti ini. Oleh karena itu, prinsip daripada menciptakan lingkungan
bersih dan higinis adalah untuk mengeliminir dan meminimalisir sumber nutrisi bagi
mikroorganisme agar pertumbuhannya terkendali.

Planet Bumi kita ini dihuni oleh jutaan jenis mahluk hidup. Di antara jutaan jenis makhluk hidup
ini ada yang terlihat oleh mata dan ada yang tak terlihat oleh mata. Mahluk hidup yang tidak dapat
dilihat oleh mata tersebut berukuran amat kecil, disebut mikroorganisme. Untuk mengetahui atau
mengamati mikroorganisme tersebut diperlukan alat bantu berupa alat pembesar, seperti loop,
mikroskop biasa, dan mikroskop elektron. mikroorganisme melakukan adaptasi dengan
lingkungannya. Adaptasi ini dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu dan dapat
pula perubahan itu bersifat permanent sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta struktur
anatominya

Untuk keperluan hidupnya, mikroorganisme membutuhkan bahan organik dan anorganik yang
diambil dari lingkungannya. Bahan makanan tersebut dinamakan nutrien, sedangkan proses
mengasimilasi makanannya disebut nutrisi. Nutrien adalah substansi anorganik dan organik yang
dalam larutan melintasi membran sitoplasma (Nutrients is the chemicals from the environment of
which a cell is built). Agar dapat mendapatkan nutrien dari makanan, sel harus mampu mencerna
makanan itu, yaitu mengubah molekul-molekul protein, karbohidrat dan lipida yang komplek dan
besar menjadi molekul yang sederhana dan kecil yang segera melarut sehingga dapat memasuki
sel. Proses mengasimilasikan makanan itulah yang disebut nutrisi.

Dalam proses kehidupan semua makhluk hidup memerlukan makanan yang banyak mengandung
gizi dan nutrisi yang cukup, tidak terkecuali mikroorganisme, zat-zat tersebut nantinya akan
digunakan dalam aktifitas sehari-hari seperti berjalan, bereproduksi, dan aktifitas lainnya

1.2 Tujuan Percobaan

- Untuk mengetahui Pertumbuhan Mikroorganisme


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pertumbuhan Mikroorganisme

Pertumbuhan merupakan proses perubahan bentuk yang semula kecil kemudian menjadi
besar. Pertumbuhan menyangkut pertambahan volume dari individu itu sendiri. Pertumbuhan
pada umumnya tergantung pada kondisi bahan makanan dan juga lingkungan. Apabila
kondisi makanan dan lingkungan cocok untuk mikroorganisme tersebut, maka
mikroorganisme akan tumbuh dengan waktu yang relatif singkat dan sempurna.
Pertumbuhan mikroorganisme yang bersel satu berbeda dengan mikroorganisme yang bersel
banyak (multiseluler). Pada mikroorganisme yang bersel satu (uniseluler) pertumbuhan
ditandai dengan bertambahnya sel tersebut. Setiap sel tunggal setelah mencapai ukuran
tertentu akan membelah menjadi mikroorganisme yang lengkap, mempunyai bentuk dan
sifat fisiologis yang sama. Pertumbuhan jasad hidup, dapat ditinjau dari dua segi, yaitu
pertumbuhan sei secara individu dan pertumbuhan kelompok sebagai satu populasi.
Pertumbuhan sel diartikan sebagai adanya penambahan volume serta bagian-bagian sel
lainnya, yang diartikan pula sebagai penambahan kuantiatas isi dan kandungan didalam
selnya. Pertumbuhan populasi merupakan akibat dari adanya pertumbuhan individu, misal
dari satu sel menjadi dua, dari dua menjadi empat ,empat menjadi delapan, dan seterusnya
hingga berjumlah banyak.

Pada mikroorganisme, pertumbuhan individu (sel) dapat berubah langsung menjadi


pertumbuhan populasi. Sehingga batas antara pertumbuhan sel sebagai individu serta satu
kesatuan populasi yang kemudian terjadi kadang-kadang karena terlalu cepat perubahannya,
sulit untuk diamati dan dibedakan. Pada pertumbuhan populasi bakteri misalnya, merupakan
penggambaran jumlah sel atau massa sel yang terjadi pada saat tertentu. Kadang-kadang
didapatkan bahwa konsentrasi sel sesuai dengan jumlah sel perunit volume, sedang kerapatan
sel adalah jumlah materi perunit volume.Penambahan dan pertumbuhan jumlah sel
mikroorganisme pada umumnya dapat digambarkan dalam bentuk kurva pertumbuhan.

2.2 Fase-Fase Pertumbuhan Mikroorganisme

Secara umum fase-fase pertumbuhan mikroorganisme adalah sebagai berikut.


1. Fase lag (fase masa persiapan, fase adaptasi, adaptation phase)
Pada fase ini laju pertumbuhan belum memperlihatkan pertumbuhan ekponensial, tetapi
dalam tahap masa persiapan. Hal ini tergantung dari kondisi permulaan, apabila
mikroorganisme yang ditanami pada substrat atau medium yang sesuai, maka pertumbuhan
akan terjadi. Namun sebaliknya apabila diinokulasikan mikroorganisme yang sudah tua
meskipun makanannya cocok, maka pertumbuhannya mikroorganisme ini membutuhkan
masa persiapan atau fase lag. Waktu yang diperlukan pada fase ini digunakan untuk
mensintesa enzim. Sehingga mencapai konsentrasi yang cukup untuk melaksanakan
pertumbuhan ekponensial. Fase ini berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari,
tergantung dari jenis mikroorganisme serta lingkungan yang hidup.
Selama fase ini perubahan bentuk dan pertumbuhan jumlah individu tidak secara nyata
terlihat. Karena fase ini dapat juga dinamakan sebagai fase adaptasi (penyesuaian) ataupun
fase-pengaturan jasad untuk suatu aktivitas didalam lingkungan yang mungkin baru.

2. Fase tumbuh dipercepat (fase logaritme, fase eksponensial, logaritma phase)

Pada setiap akhir persiapan sel mikroorganisme akan membelah diri.masa ini disebut masa
pertumbuhan, yang setiap selnya tidak sama dalam waktu masa persiapan.Sehingga secara
berangsur-angsur kenaikan jumlah populasi sel mikroorganisme ini mencapai masa akhir fase
pertumbuhan mikroorganisme.Setelah setiap individu menyesuaikan diri dengan lingkungan
baru selama fase lag, maka mulailah mengadakan perubahan bentuk dan meningkatkan
jumlah individu sel sehingga kurva meningkat dengan tajam (menanjak). Peningkatan ini
harus diimbangi dengan banyak faktor, antara lain:

Faktor biologis, yaitu bentuk dan sifat jasad terhadap lingkungan yang ada, serta assosiasi
kehidupan di antara jasad yang ada kalau jumlah jenis lebih dari sebuah.
Faktor non-biologis, antara lain kandungan sumber nutrien di dalam media, temperatur, kadar
oksigen, cahaya, dan lain sebagainya.Kalau faktor-faktor di atas optimal, maka peningkatan
kurva akan nampak tajam seperti gambar. Pada fase ini pertumbuhan secara teratur telah
tercapai. Maka pertumbuhan secara ekponensial akan tercapai. Pada fase ini menunjukkan
kemampuan mikroorganisme berkembang biak secara maksimal. Setiap sel mempunyai
kemampuan hidup dan berkembang biak secara tepat. Fase pengurangan pertumbuhan akan
terlihat berupa keadaan puncak dari fase logaritmik sebelum mencapai fase stasioner, dimana
penambahan jumlah individu mulai berkurang atau menurun yang di sebabkan oleh banyak
faktor, antara lain berkurangnya sumber nutrien di dalam media tercapainya jumlah
kejenuhan pertumbuhan jasad. Fase tumbuh reda akan terlihat dimana fase logaritma
mencapai puncaknya, maka zat-zat makanan yang diproduksi oleh setiap sel mikroorganisme
akan mengakibatkan pertumbuhan mikroorganisme, sehingga pada masa pertumbuhan ini
reda atau dikatakan sebagai fase tumbuh reda.

3. Fase stasioner

Pengurangan sumber nutrien serta faktor –faktor yang terkandung di dalam jasadnya sendiri,
maka sampailah puncak aktivitas pertumbuhan kepada titik yang tidak bisa dilampaui lagi,
sehingga selama fase ini, gambaran grafik seakan mendatar. Populasi jasad hidup di dalam
keadaan yang maksimal stasioner yang konstan.

4. Fase kematian

Fase ini diawali setelah jumlah mikroorganisme yang di hasilkan mencapai jumlah yang
konstan, sehingga jumlah akhir mikroorganisme tetap maksimum pada masa tertentu. Setelah
masa dilampaui, maka secara perlahan-lahan jumlah sel yang mati melebihi jumlah sel yang
hidup. Fase ini disebut fase kematian dipercepat. Fase kematian dipercepat mengalami
penurunan jumlah sel, karena jumlah sel mikroorganisme mati. Namun penurunan jumlah sel
tidak mencapai nol, sebab sebagian kecil sel yang mampu beradaptasi dan tetap hidup dalam
beberapa saat waktu tertentu. Pada fase ini merupakan akhir dari suatu kurva dimana jumlah
individu secara tajam akan menurun sehingga grafik tampaknya akan kembali ke titik awal lagi.
Gambaran pertumbuhan mikroorganisme seringkali tidak sesuai seperti yang sudah diterangkan
kalau faktor-faktor lingkungan yang menyertainya tidak memenuhi persyaratan.

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme


A. Faktor alam

1. Temparatur

Umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikroorganisme terletak antara 0-90oC.
Temperatur minimum adalah suhu paling rendah dimana kegiatan mikroorganisme masih
dapat berlangsung. Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat
digunakan untuk aktifitas mikroorganisme, tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologis paling
minimal. Sedang temparatur yang paling baik bagi aktivitas hidup disebut temperatur
optimum.
Berdasarkan pada daerah aktivitas temperatur, mikroorganisme dapat dibagi menjadi tiga
golongan utama yaitu:
Titik kematian termal suatu jenis mikroorganisme ialah nilai temparatur yang dapat
mematikan jenis tersebut didalam waktu 10 menit pada kondisi tertentu. Sedang waktu
kematian termal adalah waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis
mikroorganisme pada suatu temperatur yang tetap. Kedua istilah tersebut mempunyai arti
yang penting di dalam praktek, terutama di dalam industri pengawetan bahan makanan dan
obat-obatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal
antara lain: waktu, temperature, kelembaban, bentuk dan jenis spora, umur mikroorganisme,
pH dan komposisi medium.Komposisi medium juga mempengaruhi kepekaan bakteri
terhadap pemanasan. Adanya partikel atau benda padat dan senyawa tertentu di dalam
medium akan menaikkan resistensi ( ketahanan ) mikroorganisme terhadap panas, sebab
penetrasi panas kedalam medium terhalang oleh adanya benda atau zat tadi. Temparatur
rendah menyebabkan gangguan pada metabolisme, jenisnya tergantung pada temparatur dan
cara perlakuanya. Kematian mikroorganisme pada temperatur rendah disebabkan oleh
terjadinya perubahan keadaan koloid protoplasma yang tidak reversible. Penurunan
temperature yang tiba-tiba di atas titik beku dapat menyebabkan kematian, akan tetapi
penurunan temperature secara bertingkat hanya mengakibatkan kegiatan metabolisme untuk
sementara saja. Bila suspensi bakteri didinginkan dengan cepat dari 45oC, maka jumlah
bakteri yang mati mencapai 95%, tetapi pendinginan secara bertingkat menyebabkan jumlah
kematian tersebut akan berkurang.Kematian akibat penurunan temperatur yang tiba-tiba,
mungkin karena air menjadi tidak siap untuk kegiatan fisiologi. Misalnya pada pembekuan,
mungkin terjadi kerusakan sel oleh adanya kristal es di dalam air antar sel. Proses
pendinginan di bawah titik beku dan di dalam keadaan hampa udara secara bertingkat,
banyak digunakan untuk mengawetkan biakan dan proses tersebut disebut lyofilisasi. Hasil
lyofilisasi merupakan tepung yang terdiri atas sel yang lyofilik dan sangat mudah menarik
air, juga tidak menyebabkan denaturasi protein sebab molekul air protoplasma di dalam
proses ini langsung dirubah menjadi uap air tanpa melalui fase cair (sublimasi ).

2. Cahaya

Sebagian besar bakteri adalah chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak tergantung
pada cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena
pengaruh sinar ultraviolet.

3.Kelembaban
Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil
makanan dari luar dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada
media yang basah dan udara yang lembab. Dan tidak dapat tumbuh pada media yang kering.
Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk
pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85%, sedang untuk
jamur dan aktinomiset diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80%. Kadar air bebas
didalam larutan merupakan nilai perbandingan antar tekanan uap air larutan dengan tekanan
uap air murni, atau 1 / 100 dari kelembaban relatif. Nilai kadar air bebas didalam larutan
untuk bakteri pada umumnya terletak diantara 0,90 sampai 0,999 sedang untuk bakteri
halofilik mendekati 0,75. Banyak mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering
untuk waktu yang lama seperti dalam bentuk spora, konidia, arthrospora, kamidiospora dan
kista. Seperti halnya dalam pembekuaan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan
kegiatan metabolisme terhenti. Pengeringan secara perlahan menyebabkan kerusakan sel
akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut.

4. Ph

pH sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Umumnya asam


mempunyai pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri. Lebih baik hidup dalam suasana
netral ( pH 7,0 ) atau sedikit basa ( pH 7,2-7,4), tetapi pada umumnya dapat hidup pada pH
6,6 – 7,5. Bakteri-bakteri yang patogen pada manusia tumbuh baik pada pH 6,8-7,4, yaitu
sama dengan pH darah.Batas pH untuk pertumbuhan jasad merupakan suatu gambaran dari
batas pH bagi kegiatan enzim. Untuk itu jasad dikenal nilai pH minimum, optimum, dan
maksimum. Bakteri memerlukan nilai pH antara 6,5-7,5, ragi antara 4,0-4,5, sedang jamur
dan aktinomiset tertentu mempunyai daerah pH yang luas. Atas dasar daerah-daerah pH bagi
kehidupan mikroorganisme dibedakan adanya tiga golongan besar,yaitu:
a. Mikroorganisme yang asidofilik, yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2,0-5,0
b. Mikroorganisme yang mesofilik (Neutrofilik), yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH
antara 5,5-8,0

c. Mikroorganisme yang alkalifilik, yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8,4-9,5.
5. O2 dari udara

Untuk melangsungkan hidupnya, makhluk hidup membutuhkan O2 yang diambil dari udara
melalui pernafasan. Fungsi O2 ini sudah jelas yaitu untuk pembakaran zat-zat jaringan,
sehingga dihasilkan panas dan tenaga. Hidup dalam lingkungan yang mengandung O2
dalam jumlah yang normal disebut hidup secara aerob. Organisme yang tidak hidup dalam
lingkungan yang mengandung O2 bebas disebut organisme anaerob. Berdasarkan responnya
terhadap O2 bebas, maka bakteri dibagi dalam tiga golongan yaitu :

􀂾 Bakteri aerob ( obligate aerob )

Yaitu bakteri yang hanya hidup dalam lingkungan yang mengandung O2 bebas. Misalnya :
Vibroiro cholera, Corynebacterium diphtheriea

􀂾 Bakteri anaerob ( obligate anaerob )

Yaitu bakteri yang hanya dapat hidup di dalam lingkungan yang tidak mengandung oksigen
bebas. Misal: Clostridium tetani,Treptonema pallida.

􀂾 Fakultatif aerob

Yaitu bakteri yang hidup di dalam lingkungan yang mengandung oksigen bebas maupun
tidak. Misal : Salmonella typhi, Neisseria mengitidis. Bakteri-bakteri fakultatif aerob pada
umumnya lebih baik tumbuh pada pada lingkungan yang sedikit mengandung oksigen
bebas. Karena itu lebih tepat bila dinamakan bakteri microaerophil.

6. Tekanan osmotic

Air keluar masuk sel bakteri melalui proses osmosis, karena perbedaan tekanan osmotik
antara cairan yang ada di dalam dengan sel yang ada di luar bakteri.Protoplasma selalu
mengandung zat yang terlarut di dalamnya, karena itu tekanan osmotiknya selalu tinggi dari
air murni. Bila bakteri dimasukkan dalam aquades, maka air akan masuk ke dalam sel
bakteri. Hal ini menyebabkan bakteri menggembung, mungkin pecah dan mati. Peristiwa ini
disebut Plasmoptysis.

Sebaliknya bila bakteri dimasukkan ke dalam cairan hipertonis akan menyebabkan plasma
dari dinding sel dan kematian bakteri. Peristiwa ini disebut Plasmolisa.
Pada umumnya larutan hipertonis menghambat pertumbuhan, karena dapat menyebabkan
plasmolisa. Tekanan osmosa tinggi banyak digunakan di dalam praktek untuk pengawetan
bahan-bahan makanan, seperti pengawetan ikan dengan penambahan garam, untuk
pengawetan buah-buahan dengan penambahan gula. Beberapa mikroorganisme dapat
menyesuaikan diri terhadap kadar garam atau kadar gula yang tinggi, antara lain ragi yang
osmofil (dapat tumbuh pada kadar garam tinggi), bahkan beberapa mikroorganisme dapat
tahan di dalam substrat dengan kadar garam sampai 30%,golongan ini bersifat halodurik.
7. Pengaruh mikroorganisme di sekitarnya

Kehidupan organisme di alam tidak dapat dipisahkan dari adanya organisme lain. Seperti
halnya manusia tidak dapat hidup bila tidak ada tumbuhan atau hewan. Organisme-
organisme di alam ini berada dalam suatu keseimbangan yang disebut keseimbangan
biologis.
B. Faktor kimia

Mengubah permeabilitas membran sitoplasma sehingga lalu lintas zat-zat yang keluar
masuk sel mikroorganisme menjadi kacau.

Oksidasi,beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel tertentu sehingga fungsi
unsur terganggu. Misal, mengoksidasi suatu enzim.

Terjadinya ikatan kimia, ion-ion logam tertentu dapat megikatkan diri pada beberapa enzim.
Sehigga fungsi enzim terganngu.

Memblokir beberapa reaksi kimia,misal preparat zulfat memblokir sintesa folic acid di
dalam sel mikroorganisme.

Hidrolisa, asam atau basa kuat dapat menghidrolisakan struktur sel hingga hancur.
Mengubah sifat koloidal protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati.
Faktor zat kimia yang mempengaruhi pertumbuhan:

􀂾 Logam-logam berat 􀂾 Klor dan senyawa klor

􀂾 Fenol dan senyawa-senyawa sejenis 􀂾 Zulfonomida

􀂾 Alkohol 􀂾 Detergen

􀂾 Aldehit 􀂾 Zat pewarna

􀂾 Yodium 􀂾 Peroksida

2.4 Media biak dan persyaratan bagi pertumbuhan

Untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme diperlukan suatu substrat


yang disebut media. Dikarenakan dengan media yang cocok, maka pertumbuhan
mikroorganisme akan maksimal, subur dan cepat. Media biak (larutan biak) dapat di buat
dari senyawa-senyawa tertentu.
Media biak dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu:

Media biak sintetik : media ini dibuat dari senyawa – senyawa kimia.
Media biak kompleks, media ini dibuat dari senyawa yang mengandung ektrak ragi, otolitas
ragi, pepton dan ekstrak daging.Media biak padat, media ini dibuat dari larutan biak cair
kemudian ditambahkan bahan pemadat yang memberi konsistensi seperti selai pada larutan
air.
Salah satu syarat untuk pertumbuhan mikroorganisme adalah kadar ion hidrogen yang ada
dilingkungannya. Perubahan kadar yang kecil saja sudah mampu menimbulkan pengaruh
yang besar. Alasan inilah yang amat penting untuk menggunakan nilai pH awal yang
optimum dan mempertahankannya sepanjang pertumbuhan. Organisme hidup paling baik
pada pH 7. selain kadar ion hydrogen, dibutuhkan juga karbondioksida dan kadar air, suhu
dan tekanan osmatik. Pertumbuhan mikroorganisme tergantung dari bahan-bahan makanan.
Pada dasarnya larutan biak sekurang-kurangnya harus mengandung sebagai berikut :
Kebutuhan nutrien pokok. Diantaranya karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, belerang,
fosfat, kalium, magnesium dan besi.

. Sumber-sumber karbon dan energi.

Zat-zat pelengkap, yaitu suplemen yang termasuk komponen dasar dan yang oleh beberapa
mikroorganisme tidak dapat disintesis dari komponen-komponen sederhana.
Dalam upaya mendukung pertumbuhan mikroorganisme secara berkelanjutan dapat
dilakukan dengan menyediakan media yang dikayakan. Kondisi pengkayaan adalah kondisi
dimana organisme dapat tetap tumbuh dengan kehadiran saingan dengan menetapkan
sejumlah faktor (sumber energi, sumber karbon dan sumber nitrogen akseptor hidrogen dan
atmosfir gas, cahaya, suhu, pH dan selanjutnya) dapat ditetapkan kondisi lingkungan
tertentu dan dapat ditanamkan populasi campur yang terdapat dalam tanah atau dalam
lumpur. Bahan-bahan penanaman yang menguntungkan ialah bahan-bahan yang berasal dari
tempat dimana telah terjadi “pengkayaan alamiah” seperti : mikroorganisme pengolah CO
dalam limbah air pabrik gas, pengolah hemoglobin dalam limbah pajagalan dan oksidator
hidrokarbon di ladang minyak bumi dan bak minyak.Untuk mikroorganisme yang sangat
terspesialisasi harus dibuat kondisi pengkayaan yang sangat selektif. Medium mineral yang
bebas nitrogen terikat dan tanpa cahaya merupakan medium yang amat selektif untuk
sianobakteri yang memfiksasi nitrogen. Bila larutan medium yang sama dilengkapi dengan
suatu sumber energi atau sumber energi dan sumber karbon maka pada keadaan gelap dan
pada kondisi aerob dan tumbuh Azotobacter dan kalau Biak Murni.
Untuk menumbuhkan dan mengembang-biakan mikroorganisme, diperlukan suatu substrat
yang disebut media. Sedang media itu sendiri sebelum dipergunakan harus dalam keadaan
steril, artinya tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme lain yang tidak diharapkan. Susunan
bahan, baik berbentuk bahan alami (seperti tauge, kentang, daging, telur, wortel), ataupun
bahan buatan (berbentuk senyawa kimia organik ataupun anorganik) yang dipergunakan
untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme dinamakan media. Secara garis
besar media dibedakan atas :

1. Media hidup

Media hidup umumnya dipakai dalam laboratorium virology untuk pembiakan berbagai
virus, sedangkan dalam bakterologi hanya beberapa jenis kuman tertentu saja dan terutama
hewan percobaan.

2. Media mati

Berdasarkan konsentrasinya

Media padat, terbagi media agar miring, agar deep dan agar sebar. Media ini umumnya
dipergunakan untuk bakteri, ragi, jamur.

. Media cair, jika media tidak ditambahkan zat pemadat, biasanya media cair dipergunakan
untuk pembiakan mikroalga, bakteri dan ragi.

Media semi padat atau semi cair, jika penambahan zat pemadat hanya 50% atau kurang dari
yang seharusnya. Ini umumnya diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme yang
banyak memerlukan kandungan air dan hidup anaerobik atau fakultatif.
Berdasarkan komposisi atau susunan bahannya Sesuai dengan fungsi fisiologis dari masing-
masing komponen ( unsure hara ) yang terdapat di dalam media, maka susunan media pada
semua jenis mempunyai kesamaan isi, yaitu:

a. Kandungan air

b. Kandungan nitrogen, baik berasal dari protein, asam amino, dan senyawa lain yang
mengandung nitrogen.

c. Kandungan sumber energi / unsur C, baik yang berasal dari karbohidrat, lemak,protein,
ataupun senyawa-senyawa lain.

d. Faktor pertumbuhan, umumnya vitamin dan asam amino.


Berdasarkan kepada persyaratan,susunan media dapat berbentuk:
a. Media alami, yaitu media yang disusun oleh bahan-bahan alami seperti kentang, tepung,
daging, telur, ikan, umbi-umbian.

b. Media sintetis, yaitu media yang disusun oleh senyawa kimia seperti media untuk
pertumbuhan dan perkembang-biakan bakteri clostridium.

c. Media semi sintetis, yaitu media yang tersusun oleh campuran bahanbahan alami dan
bahan-bahan sintetis.

Berdasarkan sifat Penggunaan media bukan hanya untuk pertumbuhan dan


perkembangbiakan mikroorganisme, tetapi juga untuk isolasi, seleksi,evaluasi, dan
diferensiasi biakan yang didapatkan berdasarkan sifat-sifat media, yaitu:
Media umum, kalau media a dapat dipergunakan untuk pertumbuhan dan
perkembangbiakan satu atau lebih kelompok mikroorganisme secara umum.
Media penyangga, kalau media dipergunakan dengan maksud “memberikan kesempatan”
terhadap suatu jenis atau kelompok mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang lebih
cepat dari jenis atau kelompok lainnya yang sama-sama berada dalam satu bahan.
Media selektif, adalah media yang hanya dapat ditumbuhi oleh satu atau lebih jenis
mikroorganisme tertentu tetapi akan menghambat atau mematikan untuk jenis –jenis
lainnya.
Media diferensial, adalah media yang dipergunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme
tertentu serta penemuan sifatsifatnya.

Media penguji, yaitu media yang digunakan untuk pengujian senyawa atau benda tertentu
dengan bantuan mikroorganisme.

Media penghitungan, yaitu media yang digunakan untuk menghitungn jumlah


mikroorganisme pada suatu bahan. Media ini dapat berbentuk media umum, media selektif
ataupun media differensial dan penguji.

Agar mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam media
diperlukan persyaratan tertentu, yaitu:

Bahwa di dalam media harus terkandung semua unsur hara yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme.

Bahwa media harus dalam keadaan steril.


2.5 Reproduksi Mikroorganisme sebagai Komponen Pertumbuhan Mikroorganisme

Pertumbuhan mikroorganisme ditentukan pula oleh kemampuan dalam mereproduksi


sel. Perkembangbiakan mikroorganisme dapat terjadi secara aseksual (yang paling
umum) dan secara seksual (terjadi pada beberapa individu saja). Pada bakteri misalnya,
perkembang-biakan secara aseksual terjadi secara pembelahan biner, yaitu sel induk
membelah menjadi dua selanak. Kemudian masing-masing sel anak akan membentuk
dua sel anak lagi, dan seterusnya hingga makin membanyak. Selama sel membelah maka
akan terjadi keselarasan replikasi DNA sehingga tiap-tiap sel anak akan menerima paling
sedikit satu kopi (salinan) dari genom.

Perbanyakan sel dengan cara pembelahan ini, kecepatannya ditentukan oleh


waktu generasi.Ada jenis yang mempunyai waktu generasi lambat atau lambat sekali. Ada
pula yang waktu generasinya sangat singkat atau cepat.

Bakteri memang mempunyai cara-cara perkembang-biakan aseksual yang unik kalau


dibandingkan dengan mikroorganisme lainnya. Juga didalam kecepatan perbanyakan dan
waktu generas, tetapi pembelahan sel mikroorganisme tidak saja terjadi hanya secara biner
sajamungkin pula dapat berbentuk multiple perkuncupan.

Virus tumbuh dan berkembang-biak di dalan sel hidup jasad lain, perbanyakan individunya
terjadi secara pembelahan atau replikasi DNA.Perkembang-biakan aseksual dapat juga terjadi
secara fragmentasi, yaitu pemotongan serat atau hifa atau filamen. Misal yang terjadi pada
jamur atau mikroalge. Filamen yang terpotong menjadi beberapa bagian, tiap potongannya
akan tumbuh dan berkembang pula seperti induknya. Perkembang-biakan aseksual yang
paling umum lagi adalah melalui spora. Spora yang dapat diumpamakan seperti biji tanaman
tinggi, dihasilkan dalam berbagai bentuk mikroorganisme. Untuk bakteri, spora terbentuk
didalam sel, sehingga dinamakan endospora. Sedang untuk jamur misalnya, spora terbentuk
diluar tubuh jasadnya, sehingga dinamakan eksospora. Kalau spora jatuh ke tempat yang
lembab maka ia akan berkecambah dan tumbuh menjadi individu baru. Perkembang biakan
secara seksual, umumnya terjadi pada jamur dan mikro alga serta secara terbatas pada
bacteria, dapat terjadi secara :

1. Oogami, kalau sel betina berbentuk telur.

2. Secara anisogami, kalau sel betina lebih besar dari sel jantan.
3. Isogami, kalau sel jantan dan sel betina mempunyai bentuk yang sama.
Hasil perkawinan (fertilisasi) akan membentuk zigot (sel betina atau sel telur yang telah di
buahi oleh sel jantan atau sel sperma), yang kemudian zigot akan berkecambah membentuk
individu baru setelah mengalami pembelahan. Rangkaian kehidupan mikroorganisme yang
dimulai dari spora, spora berkecambah, membentuk massa sel ataupun tubuh buah kemudian
menghasilkan alat perkembang biakan kembali, disebut siklus atau daur hidup. Pada bacteria
siklus hidup kurang jelas rangkaianya, berbeda pada jamur dan mikro alga. Pada jamur
kompos (Agaricus bisporus), yaitu jenis jamur yang sudah dibudidayakan dan bernilai
ekonomi dengan nama mushroom atau champignon, siklus hidupnya sangat jelas mulai dari
spora yang berkecambah, membentuk massa hifa atau misellia, membentuk tubuh buah stadia
awal sampai membentuk tubuh buah yang nyata terlihat. Juga pada alga hijau
(Chlamydomonas) jenis alag yang banyak kita temukan pada bak aquarium ataupun pada
kolam ikan, serta pada protozoa (Trypanosoma gambiense) penyebab penyakit tidur yang
ditularkan melalui lalat tsese.

Di dalam siklus hidup, tahapan yang terjadi sejak spora berkecambah sampai menghasilkan
kembali alat perkembang biakan, akan di lalui tingkat perkembang biakan secara seksual
ataupun aseksual sesuai dengan sifat mikroorganisme. Faktor – faktor yang mempengaruhi,
khususnya factor lingkungan abiotik seperti :

1. Kelengkapan unsur yang terdapat di dalam media 5. Cahaya

2. pH media 6. Sirkulasi oksigens

3. Kadar air media 7. Kelembaban

4. Temperatur

A. Bakteri

Pada umumnya bakteri berkembang biak secara aseksual atau vegetatif yaitu dengan cara
membelah diri. Pada kondisi lingkungan yang memungkinkan, bakteri akan membelah diri
dengan cepat. Pembelahan terjadi setiap 15-20 menit. Sehingga dalam waktu kurang lebih 7-
8 jam bakteri sudah menjadi jutaan.Proses pembelahan diri dibagi menjadi tiga fase,yaitu:
1. Fase pertama, dimana sitoplasma terbelah oleh sekat yang tumbuh tegak lurus pada arah
memanjang.
2. Sekat tersebut diukuti oleh suatu dinding melintang. Dinding melintang ini tidak selalu
merupakan penyekat yang sempurna,ditengah-tengah sering ketinggalan suatu lubang kecil,
dimana protoplasma kedua sel baru masih tetap berhubung-hubungan. Hubungan
protoplasma ini disebut plasmodesmida.

3. Fase terakhir ialah terpisahnya kedua sel. Ada bakteri yang segera berpisah, yaitu yang
satu terlepas sama sekali dari pada yang lain, setelah dinding melintang menyekat secara
sempurna. Bakteri yang semacam ini merupakan koloni yang merata, jika dipiara pada
medium yang padat. Sebaliknya, bakteri-bakteri yang dindingnya lebih kokoh tetap
bergandeng-gandengan setelah pembelahan. Bakteri macam ini merupakan koloni yang kasar
permukaannya.

B. Jamur

Perkembangbiakan jamur ditemukan dua macam,yaitu: aseksul dan seksual.


1. Secara aseksual

Dengan cara membelah diri atau bertunas, dilakukan oleh jamur yang bersel satu. Tunas yang
dihasilkan disebut blastospora.Dengan fragmentasi, berupa potongan misselium atau hifa.
Dengan pembentukan konidia,yaitu ujung-ujung hifa tertentu membagi-bagi diri membentuk
:
􀂾 bentuk-bentuk yang bulat ( konidiospora ) atau serupa telur (oidiospora)

􀂾 bentuk empat persegi panjang ( artispora )

􀂾 spora yang berdinding tebal,disebut klamidospora

2. Secara seksual

Perkembangbiakan secara seksual memerlukan 2 jenis jamur yang cocok. Untuk kecocokan
ini diberikan tanda + dan – Proses perkawinannya terdiri atas persatuan 2 protoplas (
plasmogami ) kemudian diikuti persatuan inti ( kariogami ). Jamur ada yang menghasilkan
alat kelamin jantan saja atau hanya alat kelamin betina saja,sehingga jamur yang seperti ini
disebut jamur berumah dua (diesi).jamur yang dapat menghasilkan alat kelamin jantan dan
alat kelamin betina disebut hermaprodit atu disebut berumah satu (monoesi).
Alat kelamin disebut gametangium.gametangium menghasilkan se l kelamin jantan disebut
anteridium, sedangkan gametangium yang menghasilkan sel kelamin betina disebut
oogonium. Gamet jantan dan betina yang tidak dapat dibedakan disebut isogamet. Jika jelas
berbeda disebut anisogamet yang berciri besar dan kecil,atau heterogamet (bila beda jenis
kelamin). Pada jamur tingkat rendah dijumpai gamet – gamet yang dapat bergerak
(planogamet). Sel telur adalah suatu aplanogamet, sedangkan anterozoida adalah planogamet.
Cara bersatunya dua sel yang berlainan jenis dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Persatuan planogamete

Merupakan persatuan 2 gamet yang dapat bergerak, untuk itu disebut planogametogami.
Kalau persatuan terjadi antara dua gamet yang berbeda ukuran, atau planogamet yang satu
dapat bergerak sedang yang lain tidak, maka persatuan itu disebut anisogametogami.
b. Kontak antara gametangium

Pada spesies jamur yang tidak menghasilkan sel kelamin, plasmogami dapat terjadi langsung
antara dua gametangium yang kompatiabel, sedang masing-masing gametangium selama
plasmogami terjadi tidak mengalami perubahan. Lewat suatu lubang atau saluran kecil yang
terjadi antara kedua gametangium yang mengadakan kontak. Mengalirlah inti atau inti-inti
dari anteridium ke oogonium.

c. Persatuan antara gametangium dengan gametangiogami

Pada gametangiogami terjadi perpindahan seluruh isi anteridium ke oogonium,dalam hal ini
ada dua cara : Pertama, antara anteridium dan oogonium terbentuk lubang atau saluran,
sehingga seluruh protoplast dari anteridium pindah ke oogonium lewat lubang atau saluran
tersebut. Kedua, gametangium luluh menjadi satu tubuh baru.
1) Spermatisasi

Beberapa jamur tingkat tinggi menghasilkan semacam konidia kecil berinti satu disebut
spermatia.spermatia dapat dibawa angin, air, serangga yang berguna untuk membuahi
gametangium betina.
2) Somatogami

Pada jamur tingkat tinggi tertentu tidak terdapat alat kelamin maupun sel kelamin dan
persatuan antara protoplas antara dua jenis yang kompatibel dapat berlangsung dari setiap
hifa dari jenis yang satu dengan hifa jenis yang lainnya. Somatogami terdiri dari peristiwa.
a) Terjadinya inti diploid dalam miselium yang heterokariotik

b) Pembiakan inti diploid, bersama-sama dengan pembiakan inti-inti haploid dalam miselium
yang heterokariotik

c) Terjadi pemisahan inti haploid hingga terkurung dalam sel yang homo kariotik, kemudian
tumbuh menjadi miselium baru.

d) Terjadinya meiosis dan mitosis yang mengakibatkan adanya inti- inti haploid lagi.
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Pertumbuhan secara umum dapat didefinisikan sebagai pertambahan secara teratur semua
komponen di dalam sel hidup. Pada organisme multiseluler (banyak sel), yang dimaksud
pertumbuhan adalah peningkatan jumlah sel per organisme, dimana ukuran sel juga menjadi lebih
besar. Pada organisme uniseluler (bersel satu/tunggal) pertumbuhan adalah penambahan jumlah
sel, yang juga berarti pertambahan jumlah organisme yang membentuk populasi atau suatu biakan.
Waktu generasi bakteri dapat ditentukan dengan pemeriksaan mikroskopik. Pertumbuhan
mikroorganisme dimulai dari beberapa fase yaitu fase I (fase adaptasi/lag) dimana pada fase ini
mikroorganisme masih menyesuaikan diri dengan substrat dan kondisi lingkungan disekitarnya.,
fase II (fase pertumbuhan awal) sel mulai membelah dengan kecepatan yang masih rendah karena
baru selesai tahap penyesuaian diri, fase III (pertumbuhan eksponensial) kecepatan pertumbuhan
sangat cepat dipengaruhi oleh medium tempat tumbuhnya seperti pH dan kandungan nutrient, suhu
dan kelembapan udara, fase IV (fase pembiakan diperlambat) pertumbuhan jasad renik
diperlambat, karena beberapa sebab, misalnya zat nutrisi di dalam medium sudah sangat
berkurang, adanya zat hasil-hasil metabolisme yang mungkin beracun atau dapat menghambat
pertumbuhan jasad renik, fase V (fase pertumbuhan tetap/statis) jumlah populasi sel yang tumbuh
sama dengan jumlah sel yang mati serta sel-sel menjadi lebih tahan terhadap keadaan ekstrem
seperti panas, dingin, radiasi, dan bahan kimia, fase VI (fase kematian) sebagian populasi jasad
renik mulai mengalami kematian karena nutrient di dalam medium sudah habis dan energi
cadangan di dalam sel sudah habis. Faktor-faktor pertumbuhan mikroorganisme dipengaruhi oleh
suplai nutrisi, suhu/temperatur, keasaman/kebasaan (pH), ketersediaan oksigen.
DAFTAR PUSTAKA
Budiyanto, 2001. Peranan Mikroorganisme dalam Kehidupan Kita. Malang:Universitas
Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2002. Mikrobiologi Terapan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang


Press.

Budiyanto MAK, 2005. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press.

Budiyanto, MAK. 2005. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang


Press.

Darneti. 2006. Pengantar Mikrobiologi. Andalas University Press : Padang.

Dwidjoseputro.1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Jakarta.

Hadioetomo, Sri Ratna. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT.Gramedia : Jakarta

Irianto, Koes. 2007. Mikrobiologi. Bandung: Yrama Widya.

Jawetz. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika. Jakarta.

Mangunwidjaja, Djumali. 2006. Rekayasa Bioproses. Bandung: IPB Press.

Pelczar, Michael. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI-Press : Jakarta.

Pratiwi, Slyvia T. 2006. Mikrobiologi Farmasi. Erlagga : Jakarta.

Purwoko,Tjahjadi. 2007. Fisologi Mikroba. Bumi Aksara : Jakarta.

Rachdie. (2006). Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba.

Schlegel, Hans. 1994. Mikrobiologi Umum Edisi Keenam. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta.

Stanier Roger, Edward Alderberg dan John Ingraham. 1982. Dunia Mikroba 1. Bharata Karya
Aksara. Jakarta.

Waluyo, Lud. 2005. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhammadiyah Malang Prees. Malang.