Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH ANTI KORUPSI TENTANG GERAKAN INTERNASIONAL

PENCEGAHAN KORUPSI

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 2

STIKES WIDYA NUSANTARA PALU


TAHUN 2018-2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
Rahmat, Taufik dan Hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan Makalah
Pendidikan Anti Korupsi dengan pengetahuan yang kami miliki. Dan juga kami
berterima kasih kepada IBU Drs. IRNA selaku Dosen mata kuliah Pendidikan Anti
Korupsi yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami berharap makalah ini berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Pendidikan Anti Korupsi. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan – kekurangan dan jauh dari
apa yang kami harapkan. Untuk itu kami berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila ada
kata – kata yang kurang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang.

` palu,12 november 2018


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Korupsi merupakan kata yang dinegasikan oleh setiap orang, namun tidak
orang menyadari bahwa korupsi telah menjadi bagian dari dirinya. Hal ini biasanya
terjadi akibat pemahaman yang keliru tentang korupsi atau karena realitas struktural
yang menghadirkan korupsi sebagai kekuatan sistematik yang membuat tak berdaya
para perilakunya. Ada nilai-nilai kultural seperi pemberian hadiah yang mendorong
seseorang untuk melakukan tindakan korupsi, namun ada pula sistem yang memaksa
seseorang berlaku korupsi.

B. RUMUSAN MASALAH
a. Apa pengertian korupsi?
b. Gerakan gerakan internasional pencegahan korupsi
c. Kerjasama internasional pencegahan korupsi
d. Instrumen internasional pencegahan korupsi
e. Tindak pidana korupsi dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia
f. Peran dan keterlibatan mahasiswa dalam gerakan anti korupsi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Korupsi
Korupsi sejatinya berasal dari bahasa Latin (Fockema Andreae : 1951). Yaitu
Corruptio yang arti harfiahnya adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidak
jujuran, dapat disuap tidak bermoral penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau
ucapan yang menghina atau memfitnah.
Sementara dalam terminologis korupsi diartikan sebagai pemberian dan
penerimaan suap. Defenisi korupsi ini lebih menekankan pada praktik pemberian suap
atau penerimaaan suap. Dengan demikian baik yang menerima maupun memberi
keduanya termasuk koruptor.
David M Chalmers menguraikan pengertian korupsi sebagai tindakan-tindakan
manipulasi dan kepurusan mengenai keuangan yang membahayakan ekonomi. JJ
Senturia dalam Encyclopedia of social sciens (Vol VI, 1993) mendefinisikan korupsi
sebagai penyalahgunaan kekusaan pemerintahan untuk keuntungan pribadi.
Definisi ini dianggap sangat spesifik dan konvensional karena meletakan
persoalan korupsi sebagai ranah pemerintah semata. Padahal seiring dengan proses
swastanisasi (privatisasi) perusahaan negara dan pengalihan kegiatan yang selama ini
masuk dalam ranah negara ke sektor swasta, maka definisi korupsi mengalami
perluasan. Ia tidak hanya terkait dengan penyimpanagan yang dilakukan oleh
pemerintah, tapi juga oleh pihak swasta dan pejabat-pejabatranah publik baik politisi,
pegawai negrimaupun orang-orang dekat mereka yang memperkaya diri dengan cara
melanggar hukum. Berpijak pada hal tersebut Transparancy International memasukan
tiga unsur korupsi yaitu penyalahgunaan kekuasaan, kekuasaan yang dipercayakan
dan keuntungan pribadi baik secara pribadi, anggota keluarga, maupun kerabat dekat
lainnya.
Dari beberapa defenisi diatas, baik secara etimologis maupun terminologis,
korupsi dapat dipahami dalam tiga level. Pertama Korupsi dalam pengertian tindakan
pengkhianatan terhadap kepercayaan, kedua pengertian dalam semua tindakan
penyalahgunaan kekuasaan baik pada tingkat negara maupun lembaga-lembaga
struktural lainnya termasuk lembaga pendidikan. Ketiga korupsi dalam pengertian
semua bentuk tindakan penyalah gunaan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan
mate
B.Peran Dan Keterlibatan Mahasiswa Dalam Gerakan Anti Korupsi
a. Gerakan Anti Korupsi
Korupsi di Indonesia sudah berlangsung lama. Berbagai upaya pemberantasan
korupsipun sudah dilakukan sejak tahun-tahun awal setelah kemerdekaan. Dimulai
dari Tim Pemberantasan Korupsi pada tahun 1967 sampai dengan pendirian KPK
pada tahun 2003.
Berdasarkan UU No.30 tahun 2002, pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
dirumuskan sebagai serangkaian tindakanuntuk mencegah dan memberantas tindak
pidana korupsi - melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan,
penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan - dengan peran serta
masyarakat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b. Peran Mahasiswa
Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia tercatat bahwa
mahasiswa mempunyai peranan yang sangat penting.
• Kebangkitan Nasional tahun 1908
• Sumpah Pemuda tahun 1928
• Proklamasi Kemerdekaan NKRI tahun 1945
• Lahirnya Orde Baru tahun 1966
• Reformasi tahun 1998.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam peristiwa-peristiwa besar tersebut
mahasiswa tampil di depan sebagai motor penggerak dengan berbagai gagasan,
semangat dan idealisme yang mereka miliki.
Mahasiswa memiliki karakteristik intelektualitas, jiwa muda, dan idealisme.
Dengan kemampuan intelektual yang tinggi, jiwamuda yang penuh semangat, dan
idealisme yang murni telah terbukti bahwa mahasiswa selalu mengambil peran
penting dalam sejarah perjalanan bangsa ini.
Mahasiswa didukung oleh modal dasar yang mereka miliki, yaitu: intelegensia,
kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk menyatakan kebenaran. Dengan
kompetensi yang mereka miliki tersebut mahasiswa diharapkan mampu menjadi
agen perubahan, mampu menyuarakan kepentingan rakyat, mampu mengkritisi
kebijakan-kebijakan yang koruptif, dan mampu menjadi watch doglembaga-lembaga
negara dan penegak hukum.
C.GERAKAN KERJASAMA DAN INTRUMEN INTERNASIONAL
PENCEGAHAN KORUPSI

a. Gerakan Kerja Sama Internasional dan Instrumen Pencegahan Korupsi


 G8 Declaration on Recovering Proceeds of Corruption
Adopsi atas The G8 Ministerial Declaration on Recovering Proceeds of
Corruption atau Deklarasi G8 atas Pengembalian Aset hasil Korupsi ini
dilakukan pada saat pertemuan G8 Justice and Home Affairs Ministers yang
diadakan di Washington, 11 May 2004. Deklarasi ini membuka jalan untuk
serangkaian inisiatif dengan tujuan untuk membantu negara korban kejahatan
korupsi mendapatkan kembali aset korupsi itu. Dalam hal Pengembalian Aset,
Deklarasi ini melengkapi inisiatif StAR atau Stolen Assets Recovery Initiatif.
Deklarasi ini meminta negara-negara G8 untuk:
a. membentuk suatu team gabungan yang berisi ahli dalam Bantuan Timbal
Balik ketikamenerima permintaan dari negara korban
b. membentuk satuan tugas berdasarkan kasus atas permintaan dari negara
korban
c. menyelenggrakan workshop regional sebagai sarana tukar menukar
informasi dengan negara korban dalam hal teknik-teknik investigasi
keuangan internasional dan tata cara bantuan timbal balik
d. memastikan tiap-tiap negara G8 mempunyai aturan yang meminta
dilakukan Penelusuran Lebih Ketat atau enhanced due diligence untuk
rekening orang-orang yang masuk kategori Politically Exposed Persons,
dalam hal aturan tentang Informasi transaksi digital [Wire Transfer
Originator Information]
e. menyusun manual tentang prosedur permintaan dan pengembalian aset
f. mencari alternatif yang lebih efektif dalam mengembalikan aset hasil
kejahatan korupsi
 StolenAssets Recovery [StAR] Initiative
The Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative, yang diluncurkan oleh World
Bank dan UNODC di New York, pada tanggal 17 September 2007, bertujuan
untuk menolong negara-negara berkembang mendapatkan kembali aset/dana
tercuri itu dan membantu mereka dalam mempergunakan dana curian yang
dikembalikan itu untuk kepentingan pembangunan. Untuk mencapai tujuan
itu, peranan negara-negara maju juga disebut terutama untuk mengurangi
halangan kembalinya dana-dana curian itu ke negara yang berhak.
Dalam prakteknya, StAR didesain untuk bekerja di 4 area:
• Membantu negara-negara berkembang memperkuat lembaga penegak
hukum dan proses penegakkan hukumnya.
• Memperkuat integritas Pasar Keuangan dengan mengajak lembaga-lembaga
keuangan agar mematuhi peraturan tentang pencucian uang dan
memperkuat kerja sama di antara financial intelligence units [seperti
PPATK] di seluruh dunia.
• Membantu negara-negara berkembang dalam mengembalikan asetnya
dengan cara memberikan pinjaman atau hibah untuk membiayai biaya awal
proses pengembalian aset, memberikan nasehat hukum atau menyewa
pengacara, serta memfasilitasi kerja sama antar negara.
• Mengawasi penggunaan aset yang dikembalikan agar dipergunakan untuk
kepentingan pembangunan, seperti pendidikan dan infrastuktur.
D. Intrumen Internasional Pencegahan Korupsi
United Nations Convention Against Corruption (UNCAC)
Telah ditandatangani oleh lebih dari 140 negara. Penandatanganan pertama kali
dilakukan pada konvensi internasional yang diselenggarakan di Mérida, Yucatán,
Mexico, pada tanggal 31 Oktober 2003
Convention on Bribery of Foreign Public Official in International Business
Transaction
konvensi internasional yang dipelopori oleh OECD. Konvensi ini menetapkan
standar-standar hukum yang mengikat (legally binding) negara-negara peserta
untuk
mengkriminalisasi pejabat publik asing yang menerima suap (bribe) dalam
transaksi bisnis internasional.
E. Belajar Pencegahan Korupsi dari Negara Lain
 HONG KONG - Bicara soal pemberantasan korupsi, banyak pakar yang
mengatakan bahwa Hong Kong adalah sebuah contoh sukses bagaimana
mereka berhasil memberantas korupsi. Empat puluh tahun yang lalu,
organisasi anti-korupsi Transparansi Internasional mencatat bahwa Hong
Kong merupakan salah satu negara terkorup di dunia.
"Saya ingin membandingkan Hong Kong (tahun 1970-an) dengan Argentina
saat ini," kata Ran Liao, koordinator program senior untuk kawasan Asia
Timur dan Selatan.
Transparansi Internasional baru mempublikasikan Indeks Persepsi Korupsi
sejak 1995, namun mereka memiliki data mengenai Hong Kong sejak tahun
1970-an, di mana Liao mengatakan saat itu Hong Kong berada pada tingkat
yang sejajar tidak hanya dengan Argentina, tapi juga Gabon dan Tanzania.
Menurut Indeks Persepsi Korupsi terbaru, ketiga negara tersebut memiliki
nilai rendah hanya 35 dari total 100, dari skala O (sangat korup) hingga 100
(sangat bersih).
Sementara itu, kini Hong Kong berhasil mendapat nilai 77 dari total 100,
menempatkan negeri ini di urutan 14 dari 176 negara, yang berarti bahwa
Hong Kong dianggap sedikit lebih korup dibandingkan Jerman (13), namun
lebih bersih dibandingkan Inggris (17) dan AS (19). Lalu, bagaimana caranya
Hong Kong bisa berhasil menekan angka korupsi? Perubahan itu berawal
ketika bekas koloni Inggris itu dilanda aksi demonstrasi massal di jalanan
setelah Peter Godber, yang waktu itu menjabat sebagai Inspektur polisi,
melarikan diri dari Hong Kong ketika tengah diselidiki atas dugaan melakukan
korupsi. Aksi demonstrasi itu memicu didirikannya Komisi Independen
Anti-Korupsi (ICAC), sebuah badan pemerintah dengan kewenangan
penyidikan yang luas. Namun perubahan ini tidak hanya ditujukan pada
pejabat pemerintah saja. "Mereka mengadopsi pendekatan tiga tujuan, yaitu
hukuman, pendidikan dan pencegahan," kata Liao. Pendidikan dimulai di
taman kanak-kanak lokal, di mana beberapa tokoh yang diciptakan ICAC
mengedepankan dilema etika dan cerita-cerita kepada anak-anak yang
menyampaikan pesan bahwa kejujuran selalu menang."Kami tidak
mengajarkan mereka mengenai hukum namun kami mengajarkan mereka
mengenai nilai-nilai," kata Monica Yu, direktur eksekutif Pusat
Pengembangan Etika Hong Kong, sebuah divisi ICAC.
 Tidak Pernah Mentolerir Korupsi
Dua generasi setelah pendekatan ini dijalankan, Yu mengatakan terbukti
terjadi pergeseran budaya yang sangat besar dalam perilaku di kalangan
penduduk China lokal. "Kami menghitung tingkat toleransi warga terhadap
korupsi, dari skala nol sampai 10. Nol berarti sangat tidak mentolerir dan 10
berarti sangat mentolerir. Selama 10 tahun belakangan ini, rata-rata nilainya
adalah 0,8; 0,7 atau sekitar itu," kata Yu. Hasil ini membuat Yu
menyimpulkan, "Kini di Hong Kong, warga tidak akan pernah mentolerir
korupsi." Ia mengatakan minimnya toleransi dalam hal melanggar aturan
memperkuat perilaku etis, baik di lingkungan publik mau pun pribadi, di mana
nama sang pelanggar disebutkan dan dipermalukan oleh rekan-rekan mereka.
"Sangat sering orang akan datang ke ICAC untuk melaporkan korupsi, setiap
kali mereka mencurigai terjadinya kasus korupsi. Ini adalah perubahan besar
jika dibandingkan dengan sebelum ICAC didirikan," sahut Yu. Liao setuju.
"Sebelum ICAC didirikan tidak ada seorang pun yang memikirkan untuk
melakukan cara yang begitu komprehensif untuk melawan korupsi," sahutnya.
Ketika penjara hanyalah satu-satunya hukuman untuk tindak pidana korupsi,
itu menunjukkan bahwa ada masalah lain: tidak ada upaya yang benar-benar
dilakukan untuk melawan korupsi.
"Hukuman berarti Anda harus terbukti melakukan pelanggaran," kata Liao.
"Pencegahan adalah hal yang sangat penting, (ICAC) bicara pada
sektor-sektor yang berbeda, misalnya, sektor-sektor perbankan dan
konstruksi." ICAC menerbitkan panduan bagi dunia usaha dan mencoba
mengidentifikasi berbagai operasi yang berisiko tinggi. Institusi ini juga
mengorganisir berbagai acara untuk membahas mengenai isu-isu ini dan
mendorong agenda pencegahan korupsi di sektor bisnis dan pemerintah.
Dalam proses itu, para karyawan diberitahukan bagaimana dan kepada siapa
melaporkan adanya praktek yang diduga korupsi.
F. Pentingnya Ratifikasi Konvensi Antikorupsi
Kehadiran konvensi antikorupsi menandai sebuah momentum penting
diakuinya praktek korupsi sebagai kejahatan global (transnasional). Oleh
karenanya, cara memberantas dan mencegah korupsi membutuhkan dukungan
yang saling menguntungkan antara satu negara dengan negara yang lain.
Kejahatan korupsi bukan lagi urusan domestik negara yang bersangkutan, akan
tetapi menjadi persoalan global yang harus ditangani dalam semangat
kebersamaan.
Tanpa adanya sikap saling mempercayai dan memberikan dukungan
dalam memberantas korupsi, kejahatan yang telah merusak sendi-sendi ekonomi,
sosial dan politik ini akan selalu menghantui hubungan antar negara, baik dalam
konteks politik maupun ekonomi. Ketidakpercayaan para pebisnis asing terhadap
iklim usaha di Indonesia yang dinilai sarat ekonomi biaya tinggi misalnya cukup
memberikan bukti bahwa korupsi berdampak pada hubungan ekonomi yang
merugikan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Korupsi adalah tindakan yang harus diberantas segera karena mengancam
keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Sehingga perlu peran serta semua lapisan
masyarakat. Mahasiswa adalah salah satu bagian masyarakat yang mempunyai
pengaruh signifikan dalam memperngarhi kebijakan pemerintah dan menggerakkan
lapisan masyarakat yang lain. Sehingga pemberantasan korupsi bisa lebih efektif.
Upaya-upaya yang dilakukan mahasiswa adalah menciptakan lingkungan bebas dari
korupsi di kampus, memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang bahaya
melakukan korupsi dan menjadi alat pengontrol terhadap kebijakan pemerintah. Maka
mahasiwa harus lebih berkomitmen dalam memberantas korupsi supaya upaya
mereka berjalan semaksimal mungkin.

B..Saran
berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis menyarankan agar para pembaca dan
seluruh masyarakat luas hendaknya memiliki kesadaran untuk tidak melakukan
korupsi, karena selain melanggar hukum, korupsi juga dapat merugikan banyak orang.
Selain itu, masyarakat, pemerintah serta instansi terkait perlu melakukan kerja sama
secara sinergis untuk dapat mengimplementasikan dan menerapkan pendidikan anti
korupsi dini di segala aspek kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA

http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2009/12/pengertian-korupsi-dan-dampak-
negatif.html

http://soloraya.net/2010/01/korupsi-dan-pengertiannya/htttp://www.pdfqueen.com/pdf
/.../'pengertian-korupsi-menurut-para-ahli/

http://wawasanfadhitya.blogspot.com/2012/08/upaya-pemberantasan-korupsi-di-indon
esia.html