BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan
yang berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan Sumber Daya
Manusia.
Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi sistem
kesehatan suatu negara. Walaupun belum ada survei nasional, sejalan dengan
perubahan gaya hidup termasuk pola makan masyarakat Indonesia diperkirakan
penderita.
DM ini semakin meningkat, terutama pada kelompok umur dewasa
keatas pada seluruh status sosial ekonomi. Saat ini upaya penanggulangan
penyakit DM belum menempati skala prioritas utama dalam pelayanan
kesehatan, walaupun diketahui dampak negatif yang ditimbulkannya cukup besar
antara lain komplikasi kronik pada penyakit jantung kronis, hipertensi, otak,
system saraf, hati, mata dan ginjal.
Penderita penyakit diabetes mellitus dapat meninggal karena penyakit
yang dideritanya atau karena komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini,
misalnya penyakit ginjal, gangguan jantung dan gangguan saraf. Penyebab
diabetes mellitus dapat disebabkan oleh berbagai hal, dan juga terdapat berbagai
macam tipe diabetes mellitus. Ada beberapa gejala yang ditiimbulkan bagi
penderita diabetes mellitus, serta cara mengobatinya. Kesemuanya akan dibahas
di dalam makalah ini.
1
1.2 Rumusan Masalah
Apa pengertian diabetes melitus dan faktor-faktor penyebab diabetes
melitus serta pengobatannya ?
1.3 Tujuan Masalah
Adapun tujuan pembuatan makalah, yaitu untuk mengetahui lebih
spesifik mengenai penyakit diabetes mellitus.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Diabetes Melitus
2
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau
mengalihkan” (siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis
atau madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan
volume urine yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah
penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau
penurunan relative insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2009).
Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
akibat kadar glukosa darah yang tinggi yang disebabkan jumlah hormone insulin
kurang atau jumlah insulin cukup bahkan kadang-kadang lebih, tetapi kurang
efektif (Sarwono, 2006).
Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai
berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan
berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai
lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron
(Mansjoer dkk, 2007).
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2005, diabetus
merupakan suatu kelompok panyakit metabolik dengan karakterristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya. Diabetes Mellitus (DM) adalah kelainan defisiensi dari insulin dan
kehilangan toleransi terhadap glukosa ( Rab, 2008).
2.2 Etiologi
Faktor-faktor penyebab diabetes melitus antara lain genetika, faktor
keturunan memegang peranan penting pada kejadian penyakit ini. Apabila orang
3
tua menderita penyakit diabetes mellitus maka kemungkinan anak-anaknya
menderita diabetes mellitus lebih besar.
Virus hepatitis B yang menyerang hati dan merusak pankreas sehingga
sel beta yang memproduksi insulin menjadi rusak. Selain itu peradangan pada sel
beta dapat menyebabkan sel tidak dapat memproduksi insulin.
Faktor lain yang menjadi penyebab diabetes melitus yaitu gaya hidup,
orang yang kurang gerak badan, diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat,
kegememukan dan kesalahan pola makan. Kelainan hormonal, hormon insulin
yang kurang jumlahnya atau tidak diproduksi.
2.3 Faktor Resiko
Ada beberapa faktor resiko yang yang mederita diabetes melitus, yaitu :
a. Riwayat Keluarga
b. Obesitas
c. Usia
d. Kurangnya Aktivitas Fisik
e. Suka Merokok
f. Suka Mengkonsumsi Makanan Berkolesterol Tinggi
g. Penderita Hipertensi Atau Tekenan Darah Tinggi
h. Masa Kehamilan
i. Ras Tertentu
j. Tekanan Stres Dalam Jangka Waktu Yang Lama
k. Sering Mengkonsumsi Obat-Obatan Kimia
4
2.4 Klasifikasi Diabetes Mellitus
Ada beberapa klasifikasi diabetes mellitus (Ditjen Bina Farmasi dan
Alkes, 2005), yaitu :
a. Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes ini merupakan diabetes yang jarang atau sedikit
populasinya, diperkirakan kurang dari 5-10% dari keseluruhan populasi
penderita diabetes. Gangguan produksi insulin pada diabetes mellitus tipe 1
umumnya terjadi karena kerusakan sel-sel β pulau Langerhans yang
disebabkan oleh reaksi autoimun.
Pada pulau Langerhans kelenjar pankreas terdapat beberapa tipe sel,
yaitu : sel β, sel α dan sel σ. Sel-sel β memproduksi insulin, sel-sel α
memproduksi glukagon, sedangkan sel-sel σ memproduksi hormon
somastatin. Namun demikian serangan autoimun secara selektif
menghancurkan sel-sel β.
Destruksi autoimun dari sel-sel β pulau Langerhans kelenjar
pankreas langsung mengakibatkan defesiensi sekresi insulin. Defesiensi
insulin inilah yang menyebabkan gangguan metabolisme yang menyertai DM
Tipe 1. Selain defesiensi insulin, fungsi sel-sel α kelenjar pankreas pada
penderita DM tipe 1 juga menjadi tidak normal. Pada penderita DM tipe 1
ditemukan sekresi glukagon yang berlebihan oleh sel-sel α pulau Langerhans.
Secara normal, hiperglikemia akan menurunkan sekresi glukagon, tapi hal ini
tidak terjadi pada penderita DM tipe 1, sekresi glukagon akan tetap tinggi
walaupun dalam keadaan hiperglikemia, hal ini memperparah kondisi
hiperglikemia. Salah satu manifestasi dari keadaan ini adalah cepatnya
5
penderita DM tipe 1 mengalami ketoasidosis diabetik apabila tidak
mendapatkan terapi insulin. (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005).
b. Diabetes mellitus tipe 2
Diabetes mellitus merupakan tipe diabetes yang lebih umum, lebih
banyak penderitanya dibandingkan dengan DM tipe 1, terutama terjadi pada
orang dewasa tetapi kadang-kadang juga terjadi pada remaja. Penyebab dari
DM tipe 2 karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon
insulin secara normal, keadaan ini disebut resistensi insulin.
Disamping resistensi insulin, pada penderita DM tipe 2 dapat juga
timbul gangguan gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang
berlebihan. Namun demikian, tidak terjadi pengrusakan sel-sel β langerhans
secara autoimun sebagaimana terjadi pada DM tipe 1. Dengan demikian
defisiensi fungsi insulin pada penderita DM tipe 2 hanya bersifat relatif, tidak
absolut.
Obesitas yang pada umumnya menyebabkan gangguan pada kerja
insulin, merupakan faktor risiko yang biasa terjadi pada diabetes tipe ini dan
sebagian besar pasien dengan diabetes tipe 2 bertubuh gemuk. Selain terjadi
penurunan kepekaan jaringan pada insulin, yang telah terbukti terjadi pada
sebagian besar dengan pasien diabetes tipe 2 terlepas pada berat badan, terjadi
pula suatu defisiensi jaringan terhadap insulin maupun kerusakan respon sel α
terhadap glukosa dapat lebih diperparah dengan meningkatya hiperglikemia
dan kedua kerusakan tersebut dapat diperbaiki melalui manuver-manuver
teurapetik yang mengurangi hiperglikemia tersebut (Ditjen Bina Farmasi dan
Alkes, 2005).
6
c. Diabetes mellitus gestasional
Diabetes mellitus gestasional (GDM = Gestational Diabetes
Mellitus) adalah keadaan diabetes atau intoleransi glukosa yang timbul
selama masa kehamilan dan biasanya berlangsung hanya sementara atau
temporer. Sekitar 4-5% wanita hamil diketahui menderita GDM dan
umumnya terdeteksi pada atau setelah trimester kedua.
Diabetes dalam masa kehamilan, walaupun umumnya kelak dapat pulih sendiri
beberapa saat setelah melahirkan, namun dapat berakibat buruk terhadap bayi
yang dikandung. Akibat buruk yang dapat terjadi antara lain malformasi
kongenital, peningkatan berat badan bayi ketika lahir dan meningkatnya resiko
mortalitas perinatal. Disamping itu wanita yang pernah menderita GDM akan
lebih besar resikonya untuk menderita lagi diabetes di masa depan. Kontrol
metabolisme yang ketat dapat mengurangi resiko-resiko tersebut. (Ditjen Bina
Farmasi dan Alkes, 2005).
2.5 Patofisiologi
Menurut Brunner & Sudddart (2002) patofisiologi terjadinya penyakit
diabetes mellitus tergantung kepada tipe diabetes yaitu :
a. Diabetes Tipe I
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel
pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari
makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah
dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan). Jika
konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap
7
kembali semua glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut
diekskresikan dalam urin (glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh
pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan
diuresis osmotik. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria)
dan rasa haus (polidipsi).
b. Diabetes Tipe II
Resistensi insulin menyebabkan kemampuan insulin menurunkan kadar gula
darah menjadi tumpul. Akibatnya pankreas harus mensekresi insulin lebih
banyak untuk mengatasi kadar gula darah. Pada tahap awal ini, kemungkinan
individu tersebut akan mengalami gangguan toleransi glukosa, tetapi belum
memenuhi kriteria sebagai penyandang diabetes mellitus. Kondisi resistensi
insulin akan berlanjut dan semakin bertambah berat, sementara pankreas tidak
mampu lagi terus menerus meningkatkan kemampuan sekresi insulin yang
cukup untuk mengontrol gula darah. Peningkatan produksi glukosa hati,
penurunan pemakaian glukosa oleh otot dan lemak berperan atas terjadinya
hiperglikemia kronik saat puasa dan setelah makan. Akhirnya sekresi insulin
oleh beta sel pankreas akan menurun dan kenaikan kadar gula darah semakin
bertambah berat.
c. Diabetes Gestasional
Terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum kehamilannya.
Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormone-hormon
plasenta. Sesudah melahirkan bayi, kadar glukosa darah pada wanita yang
menderita diabetes gestasional akan kembali normal. (Brunner & Suddarth,
2002).
8
2.6 Diagnosis Diabetes Mellitus
Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan apabila ada keluhan khas
DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak
dapat dijelaskan penyebabnya. Keluhan lain yang mungkin disampaikan penderita
antara lain badan terasa lemah, sering kesemutan, gatal-gatal, mata kabur,
disfungsi ereksi pada pria dan pruritus vulvae pada wanita.
Apabila ada keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar glukosa darah
sewaktu > 200 mg/dl sudah cukup untuk menegakan diagnosa DM. Hasil
pemeriksaan kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl dapat digunakan sebagai
diagnosa DM. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Kriteria penegakan diagnosis diabetes mellitus
Glukosa plasma Glukosa Plasma 2 jam
puasa setelah makan
Normal <100 mg/dl <140 mg/dl
Pra- diabetes 100-125 mg/dl -
IFG atau IGT - 140-199 mg/dl
Diabetes ≥126 mg/dl ≥200 mg/dl
(Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005).
2.7 Penatalaksanaan
a. Edukasi
Edukasi pada penyandang diabetes meliputi pemahaman tentang
perjalanan penyakit DM, perlunya pengendalian dan pemantauan DM secara
berkelanjutan, penyulit/komplikasi DM dan risikonya, dan cara penggunaan
obat diabetes/insulin. Selain itu, untuk mencapai pengelolaan diabetes yang
optimal pada penyandang DM dibutuhkan perubahan perilaku agar dapat
9
menjalani pola hidup sehat meliputi : EDUKASI PERENCANAAN
MAKLATIHAN, yaitu :
1) Mengikuti pola makan sehat
2) Merningkatkan kegiatan jasmani
3) Menggunakan obat diabetes dan obat–obatan pada keadaan khusus secara
aman dan teratur
4) Melakukan pemantauan gula darah mandiri
5) Melakukan perawatan kaki secara berkala
6) Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit
akut seperti hipoglikemia
b. Diet atau perencanaan makan
Perencanaan makan menggambarkan apa yang dimakan, berapa
banyak, dan kapan makan. Dietisien atau ahli diet dapat membantu membuat
perencanaan makan yang cocok. Makanan sehari- hari hendaknya cukup
karbohidrat, serat, protein, rendah lemak jenuh, kolesterol, sedangkan natrium
dan gula secukupnya. Karbohidrat adalah sumber zat tenaga dan zat gizi
utama yang menyebabkan kadar gula darah naik.
Namun penyandang diabetes tidak usah takut mengkonsumsi
karbohidrat. Kebutuhan karbohidrat pada penyandang diabetes antara 45-65%
kebutuhan kalori dengan asupan karbohidrat tersebar dalam sehari, hindari
makan karbohidrat dalam jumlah besar dalam satu kali makan. Sumber
karbohidrat yang dianjurkan adalah karbohidrat kompleks seperti nasi, roti,
mie, dan kentang.
10
Batasi karbohidrat sederhana seperti gula, kue, tarcis, dodol, sirup, dan
madu. Serat merupakan bagian dari karbohidrat yang tidak dapat diserap
tubuh, rendah lemak serta berpengaruh baik untuk kadar gula darah. Pada
umumnya gula darah setelah makan akan naik lebih lambat bila makan
makanan yang mengandung banyak serat. Makanan berikut yang
mengandung banyak serat makanan adalah havermout, kacang-kacangan,
sayur-sayuran, dan buah-buahan seperti apel, jeruk, pir, sirsak, jambu biji dan
lain-lain. Protein digunakan untuk pertumbuhan & mengganti jaringan tubuh
yang rusak.
Sumber protein terdiri dari protein hewani & protein nabati. Sumber
protein hewani utama adalah ikan atau ayam tanpa kulit oleh karena rendah
kandungan lemaknya. Sumber protein lemak sedang seperti daging atau telur
sebagai pengganti protein rendah lemak dapat dikonsumsi kira-kira 3x
seminggu. Sedangkan sumber protein tinggi lemak seperti otak, merah telur,
dan jerohan perlu dibatasi.
Sumber protein nabati adalah kacang-kacangan seperti kacanghijau,
kacang merah, kacang tanah, kacang kedele, tahu, & tempe. Kebanyakan
makanan nabati rendah kandungan lemaknya dan mengandung lemak tidak
jenuh tinggi sehingga dapat membantu menurunkan kolesterol
darah. Sayuran merupakan bahan makanan yang sehat, tinggi kandungan
vitamin, mineral, dan serat. Sayuran boleh dimakan bebas tanpa dibatasi dan
dianjurkan mengkonsumsi aneka ragam sayuran.
Buah-buahan juga merupakan makanan yang sehat, selain berkalori
juga merupakan sumber vitamin, mineral, dan serat. Dianjurkan makan buah
11
2 sampai 3 buah sehari. Susu merupakan sumber protein, dan mengandung
lemak, karbohidrat, dan vitamin serta kalsium Penyandang diabetes
dianjurkan minum susu yang tanpa atau rendah lemak. Bagi yang menyukai
susu dapat menggantikan 1 lauk hewani dengan 1 penuh takar susu.
c. Latihan jasmani
Kegiatan jasmani sehari–hari dan latihan secara teratur 3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit. Tujuan latihan jasmani untuk
menjaga kebugaran,menurunkan berat badan, dan memperbaiki sensitivitas
insulin sehingga akan memperbaiki kendali gula darah. Latihan jasmani yang
dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan kaki,
bersepeda santai, jogging, dan berenang. Hindarkan kebiasaan hidup yang
kurang gerak.
d. Intervensi obat oral farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan
latihan jasmani. Terapi farmakologis terdiri dari obat oral & bentuk suntikan
insulin. Saat ini terdapat 5 macam obat tablet yang beredar di pasaran untuk
menurunkan kadar gula darah. Beberapa obat yg sering digunakan adalah:
1) Golongan insulin sekretagok
Obat ini bekerja dengan cara merangsang pankreas untuk menghasilkan
insulin. Obat ini merupakan pilihan utama pada penyandang diabetes
dengan berat badan kurang atau normal. Obat golongan ini terdapat 2
jenis yaitu: golongan sulfonilurea dan glinid.
12
2) Golongan Biguanid
Obat yang termasuk golongan biguanid hanyalah metformin. Obat ini
terutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. Penggunaan obat ini
dikontraindikasikan pada gangguan fungsi ginjal & hati. Metformin
sebaiknya diberikan pada saat atau sesudah makan karena dapat
menyebabkan mual & iritasi pada lambung.
3) Golongan Glitazone
Cara kerja obat ini adalah dengan membantu tubuh menggunakan insulin
yang tersedia sehingga lebih efektif. Penggunaan obat ini
dikontraindikasikan pada mereka dengan gagal jantung, penyakit hati
akut, diabetes tipe 1, dan kehamilan.
4) Golongan Penghambat Alpha Glukosidase (Acarbose)
Obat ini bekerja dengan cara menghambat penyerapan glukosa di usus
sehingga mempunyai efek menurunkan gula darah sesudah makan. Obat
ini hanya mempengaruhi konsentrasi gula darah setelah makan. Efek
samping yang sering terjadi pada penggunaan obat ini adalah perut
kembung, sering buang angin, dan mencret.
5) Dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4) inhibitor
Pengobatan dengan golongan ini merupakan pendekatan baru
pengelolaan DM. Obat ini menghambat pelepasan glukagon, yang pada
gilirannya meningkatkan sekresi insulin, menurunkan pengosongan
lambung, dan menurunkan kadar glukosa darah. Beberapa obat golongan
ini sudah masuk di Indonesia sejak tahun 2007 antara lain vildagliptin
dan sitagliptin.
13
e. Insulin
Insulin diperlukan pada keadaan seperti penurunan berat badan yang
cepat, komplikasi akut DM (hiperglikemia berat yang disertai ketosis,
ketoasidosis diabetik, hiperglikemia hiperosmolar nonketotik, hiperglikemia
dengan asidosis laktat), gagal dengan pengobatan obat diabetes oral dosis
optimal, kehamilan dengan DM, stress berat (infeksi sistemik, operasi besar,
stroke, dll), gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat, dan adanya kontra
indikasi/alergi terhadap obat diabetes oral.
2,8 Komplikasi
1) Kerusakan saraf (Neuropathy)
Sistem saraf tubuh kita terdiri dari susunan saraf pusat, yaitu otak
dan sum-sum tulang belakang, susunan saraf perifer di otot, kulit, dan organ
lain, serta susunan saraf otonom yang mengatur otot polos di jantung dan
saluran cerna. Hal ini biasanya terjadi setelah glukosa darah terus tinggi, tidak
terkontrol dengan baik, dan berlangsung sampai 10 tahun atau lebih. Apabila
glukosa darah berhasil diturunkan menjadi normal, terkadang perbaikan saraf
bisa terjadi.
Namun bila dalam jangka yang lama glukosa darah tidak berhasil
diturunkan menjadi normal maka akan melemahkan dan merusak dinding
pembuluh darah kapiler yang memberi makan ke saraf sehingga terjadi
kerusakan saraf yang disebut neuropati diabetik (diabetic neuropathy).
Neuropati diabetik dapat mengakibatkan saraf tidak bisa mengirim atau
menghantar pesan-pesan rangsangan impuls saraf, salah kirim atau terlambat
14
kirim. Tergantung dari berat ringannya kerusakan saraf dan saraf mana yang
terkena.
2) Kerusakan ginjal (Nephropathy)
Ginjal manusia terdiri dari dua juta nefron dan berjuta-juta pembuluh
darah kecil yang disebut kapiler. Kapiler ini berfungsi sebagai saringan darah.
Bahan yang tidak berguna bagi tubuh akan dibuang ke urin atau kencing.
Ginjal bekerja 24 jam sehari untuk membersihkan darah dari racun yang
masuk ke dan yang dibentuk oleh tubuh. Bila ada nefropati atau kerusakan
ginjal, racun tidak dapat dikeluarkan, sedangkan protein yang seharusnya
dipertahankan ginjal bocor ke luar. Semakin lamaseseorang terkena diabetes
dan makin lama terkena tekanan darah tinggi, maka penderita makin mudah
mengalami kerusakan ginjal. Gangguan ginjal pada penderita diabetes juga
terkait dengan neuropathy atau kerusakan saraf.
3) Kerusakan mata (Retinopathy)
Penyakit diabetes bisa merusak mata penderitanya dan menjadi
penyebab utama kebutaan. Ada tiga penyakit utama pada mata yang
disebabkan oleh diabetes, yaitu:
a. retinopati, retina mendapatkn makanan dari banyak pembuluh darah
kapiler yang sangat kecil. Glukosa darah yang tinggi bisa merusak
pembuluh darah retina.
b. katarak, lensa yang biasanya jernih bening dan transparan menjadi keruh
sehingga menghambat masuknya sinar dan makin diperparah dengan
adanya glukosa darah yang tinggi.
15
c. glaukoma, terjadi peningkatan tekanan dalam bola matasehingg merusak
saraf mata.
4) Penyakit jantung
Diabetes merusak dinding pembuluh darah yang menyebabkan
penumpukan lemak di dinding yang rusak dan menyempitkan pembuluh
darah. Akibatnya suplai darah ke otot jantung berkurang dan tekanan darah
meningkat, sehingga kematian mendadak bisa terjadi.
5) Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi jarang menimbulkan keluhan yang
dramatis seperti kerusakan mata atau kerusakan ginjal. Namun, harus diingat
hipertensi dapat memicu terjadinya serangan jantung, retinopati, kerusakan
ginjal, atau stroke. Risiko serangan jantung dan stroke menjadi dua kali lipat
apabila penderita diabetes juga terkena hipertensi.
6) Penyakit pembuluh darah perifer
Kerusakan pembuluh darah di perifer atau di tangan dan kaki, yang
dinamakan Peripheral Vascular Disease (PVD), dapat terjadi lebih dini dan
prosesnya lebih cepat pada penderita diabetes daripada orang yang tidak
mendertita diabetes. Denyut pembuluh darah di kaki terasa lemah atau tidak
terasa sama sekali. Bila diabetes berlangsung selama 10 tahun lebih, sepertiga
pria dan wanita dapat mengalami kelainan ini. Dan apabila ditemukan PVD
disamping diikuti gangguan saraf atau neuropati dan infeksi atau luka yang
sukar sembuh, pasien biasanya sudah mengalami penyempitan pada
pembuluh darah jantung.
16
7) Gangguan pada hati
Banyak orang beranggapan bahwa bila penderita diabetes tidak makan
gula bisa bisa mengalami kerusakan hati. Anggapan ini keliru, hati bisa
terganggu akibat penyakit diabetes itu sendiri. Dibandingkan orang yang
tidak menderita diabetes, penderita diabetes lebih mudah terserang infeksi
virus hepatitis B atau hepatitis C. Oleh karena itu, penderita diabetes harus
menjauhi orang yang sakit hepatitis karenamudah tertular dan memerlukan
vaksinasi untuk pencegahan hepatitis. Hepatitis kronis dan sirosis hati (liver
cirrhosis) juga mudah terjadi karena infeksi tau radang hati yang lama atau
berulang. Gangguan hati yang sering ditemukan pada penderita diabetes
adalah perlemakan hati atau fatty liver, biasanya (hampir 50%) pada
penderita diabetes tipe 2 dan gemuk. Kelainan ini jangan dibiarkan karena
bisa merupakan pertanda adanya penimbunan lemak di jaringan tubuh
lainnya.
8) Penyakit paru-paru
Pasien diabetes lebih mudah terserang infeksi tuberkulosis paru-paru
dibandingkan orang biasa, sekalipun penderita bergizi baik dan secara sosio-
ekonomi cukup. Diabetes memperberat infeksi paru-paru, demikian pula sakit
paru-paru akan menaikkan glukosa darah.
9) Gangguan saluran makan
Gangguan saluran makan pada penderita diabetes disebabkan karena
kontrol glukosa darah yang tidak baik, serta gngguan saraf otonom yang
mengenai saluran pencernaan. Gangguan ini dimulai dari rongga mulut yang
17
mudah terkena infeksi, gangguan rasa pengecapan sehingga mengurangi
nafsu makan, sampai pada akar gigi yang mudah terserang infeksi, dan gigi
menjadi mudah tanggal serta pertumbuhan menjadi tidak rata. Rasa sebah,
mual, bahkan muntah dan diare juga bisa terjadi. Ini adalah akibat dari
gangguan saraf otonom pada lambung dan usus. Keluhan gangguan saluran
makan bisa juga timbul akibat pemakaian obat-obatan yang diminum.
10) Infeksi
Glukosa darah yang tinggi mengganggu fungsi kekebalan tubuh dalam
menghadapi masuknya virus atau kuman sehingga penderita diabetes mudah
terkena infeksi. Tempat yang mudah mengalami infeksi adalah mulut, gusi,
paru-paru, kulit, kaki, kandung kemih dan alat kelamin. Kadar glukosa darah
yang tinggi juga merusak sistem saraf sehingga mengurangi kepekaan
penderita terhadap adanya infeksi.
18
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau
mengalihkan” (siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis atau
madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan volume
urine yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah penyakit
hiperglikemia yang ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau penurunan
relative insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2009).
Klasifikasi Diabetes Miletus :
a. Diabetes mellitus tipe 1
b. Diabetes mellitus tipe 2
c. Diabetes mellitus Gestasional
d. Diabetes mellitus tipe lain
Penatalaksanaan :
a. Edukasi
b. Diet atau perencanaan makan
c. Latihan jasmani
d. Intervensi obat oral farmakologis
e. Insulin
DAFTAR PUSTAKA
19
Corwin, Elizabeth. 2001.Buku Saku Patofisiologi.Jakarta: EGC
Guyton. 1996. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit . Jakarta: EG
CIrianto, Kus. 2004.Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Bandung
Perkeni, 2011. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia, Jakarta :
Perkumpulan Endoklinologi Indonesia
20