Anda di halaman 1dari 10

EKONOMI PEDESAAN DAN PERTANIAN

“KARAKTERISTIK DAN ASPEK – ASPEK YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM


PEMBANGUNAN DESA PRODUKTIF DI DUSUN RINGINSARI KECAMATAN WATES
KABUPATEN BLITAR”

Dosen Pengampu : Selamet Joko Utomo, S.E., M.E

Disusun Oleh :

Ainun Hadi Bima Rizky (160231100146)

KELAS B

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN

JURUSAN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

2018
PENDAHULUAN

Menurut UU No. 5 Tahun 1979, desa merupakan suatu wilayah yang ditempati oleh
sejumlah penduduk, sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi
pemerintahan terendah langsung dibawah Camat dan mempunyai hak otonomi dalam ikatan
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa menjadi tempat tinggal bagi suatu kelompok
masyarakat yang dimana didalamnya terdapat pemerintahannya sendiri. Perekonomian di
desa merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan perekonomian suatu wilayah. Apabila
perekonomian di desa baik, maka perekonomian suatu wilayah yang lebih luas tersebut juga
bukan tidak mungkin menjadi ikut baik. Namun yang ada sekarang, pedesaan di Indonesia
pada umumnya memiliki ciri standar hidup lebih rendah apabila dibandingkan dengan
daerah perkotaan. Dibalik keasrian dan pemandangan yang menarik di desa ternyata masih
menyimpan beberapa permasalahan yang sering dihadapi oleh masyarakat desa. Adanya
jarak yang cukup jauh antara kualitas kehidupan di desa dengan yang ada di perkotaan
merupakan hal yang cukup menjadi perhatian yang serius bagi kita semua. Adanya indikasi
bahwa rendahnya kualitas sumber daya manusia menjadi isu utama dalam setiap
permasalahan yang ada di desa yang mana isu rendahnya kualitas sumber daya manusia
ini berdampak pula pada sektor – sektor lain. Untuk itu kajian yang mendalam mengenai
permasalahan yang ada di desa ini perlu diperbanyak agar kita dapat mengetahui
permasalahan apa saja yang terdapat pada desa dan diharapkan mampu untuk ikut
memberikan solusi atas permasalahan tersebut.

Dusun yang menarik untuk diteliti oleh penulis yaitu Dusun Ringinsari yang merupakan
dusun di salah satu wilayah Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

GAMBARAN LINGKUNGAN

Dusun Ringinsari atau lebih tepatnya disebut Kampung Jolosutro ini terletak pada 112°
17’ 5” BT dan 8° 13’ 44” LS - 8° 20’ 55” LS. Kecamatan Wates sendiri memiliki luas 80,86
km2 dan memiliki 8 desa, 22 dusun, 54 RW dan 240 RT. Desa Ringinrejo adalah desa
terluas dengan luas wilayah seluas 22,52 km2 dimana didalamnya terdapat Dusun
Ringinsari. Sementara itu desa Sumberarum adalah desa dengan luas daerah terkecil yaitu
seluas 2,8 km2.
Gambar 1. Peta Kecamatan Wates

Kecamatan Wates ini berbatasan dengan Kecamatan Panggungrejo di Bagian Barat,


Kecamatan Binangun di bagian utara, Kabupaten Malang di bagian Timur, dan Samudera
Hindia di bagian Selatan. Fokus penelitian ini yaitu wilayah Desa Ringinrejo, yang memiliki
jarak 10 km dari Pusat Kecamatan Wates dan 33 km dari pusat Kabupaten Blitar.

Gambar 2. Kenampakan Desa Jolosutro

Wilayah Dusun Ringinsari berada pada daerah bukit dimana jalannya berkelok yang di
beberapa titik memiliki kemiringan yang sedang dan jurang yang dalam. Akses jalan disana
cukup sempit sehingga membuat kendaraan roda empat yang melintasi akan berhati – hati
dalam berkendara apalagi ketika berpapasan dengan kendaraan lain yang memiliki arah
berlawanan. Disana terdapat masjid yang menjadi pusat beribadah masyarakat Dusun
Ringinsari. 60 meter dari masjid terdapat satu – satunya sekolah formal di daerah Dusun
Ringinsari yaitu SDN Gondang Tapen. Di Dusun Ringinsari juga terdapat pantai Jolosutro
yang memiliki pasir hitam yang ditanami pohon – pohon yang membuat udara di pesisir
Pantai Jolosutro sejuk.
BIDANG PENDIDIKAAN

Kualitas sumber daya manusia ditentukan pada bidang pendidikan. Dengan adanya
pendidikan akan mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam keluarga dan pada jangka
waktu yang lama apabila ditingkatkan kualitas pendidikannya maka akan dapat
mempengaruhi tingkat perekonomian masyarakat. Pada Dusun Ringinsari rata – rata
penduduk yang memiliki usia 25 – 35 tahun memiliki pendidikan terakhir setingkat sekolah
dasar, hal tersebut senada dengan apa yang terjadi pada anak – anak Dusun Ringinsari
sekarang dimana banyak dari mereka yang hanya mampu sekolah sampai dengan tingkat
sekolah dasar dan hanya beberapa yang melanjutkan ke sekolah menengah pertama.
Faktor yang menjadi penghambat ialah karena faktor ekonomi, dimana penduduk Dusun
Ringinsari banyak yang tidak memiliki pekerjaan tetap yang mengakibatkan mereka tidak
memiliki penghasilan yang pasti. Selain itu terbatasnya sarana dan prasarana yang ada
membuat banyak dari anak – anak yang tidak meneruskan sekolah dikarenakan jika ingin
meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi mereka harus menempuh jarak yang
cukup jauh karena harus keluar dari wilayah Ringinsari. Mindset masyarakat Ringinsari juga
menjadi permasalahan dimana banyak dari mereka yang masih berpikiran bahwa lebih baik
bekerja daripada bersekolah dahulu.

Menurut data dari dikdasmen Kemdikbud, total siswa yang bersekolah di SDN
Gondang Tapen sejumlah 31 siswa dengan uraian sebagai berikut :

Data Rombongan Belajar


No. Uraian Detail Jumlah Total
1 Kelas 1 L 1 5
P 4
2 Kelas 2 L 4 6
p 2
3 Kelas 3 L 1 5
P 4
4 Kelas 4 L 6 7
P 1
5 Kelas 5 L 2 7
P 5
6 Kelas 6 L 1 1
P 0
Total 31
Gambar 3. SDN Gondang Tapen

SDN Gondang Tapen memiliki 4 ruang kelas dan 1 bangunan perpustakaan yang
belum jadi. Selain adanya SDN Gondang Tapen sebagai sarana pendidikan formal, terdapat
pendidikan agama melalui TPQ yang berada pada masjid Sunan Kalijaga yang merupakan
masjid satu – satunya di Dusun Ringinsari. Diharapkan pendidikan agama tersebut juga ikut
berperan dalam membantu mendidik moral dan akhlak anak – anak di Dusun Ringinsari.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa jika anak – anak ingin melanjutkan
sekolah setelah lulus sekolah dasar, maka mereka harus ke luar Dusun Ringinsari yang
jaraknya cukup jauh. Jika tidak melanjutkan sekolah, mereka mengikuti kursus guna
meningkatkan keterampilan baik dalam mengolah hasil alam maupun kerajinan dan oleh –
oleh khas pantai Jolosutro. Pelatihan tersebut diharapkan mampu untuk merubah mindset
masyarakat agar mampu hidup mandiri serta saling membantu dalam menjalankan
perekonomian wilayah Ringinsari.

BIDANG EKONOMI

Dalam bidang ekonomi, terdapat dua potensi yang dapat dikembangkan di Dusun
Ringinsari, yaitu yang pertama adalah potensi pantai dan lautnya, yang kedua adalah
potensi perkebunannya. Pantai dan laut di daerah Jolosutro sendiri menjadi salah satu daya
tarik utama bagi orang lain untuk singgah. Sementara laut menjadi tempat mencari ikan
yang menjadi sumber mata pencaharian beberapa masyarakat Jolosutro, pemerintah
daerah setempat juga sudah memberikan bantuan berupa perahu mesin yang meningkatkan
kinerja nelayan. Namun dalam melaut, hal yang masih menjadi kendala bagi nelayan di
Jolosutro adalah gangguan alam yang tak dapat diprediksi, seperti ombak yang kadang
besar dan angin kencang. Hal tersebut sering dirasakan oleh para nelayan karena Pantai
Jolosutro berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia, dimana badai saat musim
penghujan juga menjadi kendala yang dihadapi oleh para nelayan. Kendala lainnya adalah
para nelayan sulit untuk menentukan harga ikan, terlebih ikan yang sudah dibeli oleh para
tengkulak, jika harga yang didapat banyak, maka harga akan turun tapi apabila ikan yang
dihasilkan sedikit maka harga ikan akan naik. Permainan harga tersebut merugikan nelayan,
terlebih nelayan Jolosutro tergolong dlam nelayan kecil yang menggunakan peralatan
melaut yang seadanya dan terkesan jauh dari standar nelayan – nelayan pada umumnya.

Dalam sekali melaut, biasanya para nelayan memerlukan biaya sekitar Rp. 150.000,-
sampai Rp. 200.000,- untuk bahan bakar. Mereka akan untung apabila saat pulang
mendapatkan ikan yang banyak, karena dapat dijual sekitar Rp. 500.000,- an. Namun tak
jarang juga mereka pulang dengan tangan hampa karena tak mendapatkan ikan. Jika
mereka mendapatkan ikan yang banyak, di pantai telah ada pengepul yang mengambl ikan
mereka, disitulah permainan harga terjadi, dimana ikan – ikan yang dibeli oleh pengepul dari
nelayan dibeli dengan harga yang murah namun ketika dijual oleh pengepul ke konsumen
bisa sangat mahal. Nelayan tak punya pilihan lain dikarenakan semua ikan – ikan telah
habis dibawa oleh pengepul semua dikarenakan hasil mereka tak sebanding dengan para
nelayan besar yang mampu menjaring banyak ikan, bahkan tak jarang keluarga nelayan
kecil pun tak makan ikan karena hasil penjualan telah habis untuk biaya lainnya.

Potensi kedua yang dapat dimaksimalkan adalah hasl bumi berupa pisang, jagung,
dan pepaya. Masyarakat Ringinsari yang bekerja sebagai petani ladang ada yang mengolah
ladangnya sendiri, ada juga yang mengolah ladang milik orang lain. Dusun Ringinsari atau
Kampung Jolosutro memiliki sumber air yang bagus, namun tak semua masyarakat dapat
menikmatinya. Bagi mereka yang mampu, akan menggali sumur dan dibantu dengan pompa
air, namun bagi masyarakat yang tidak mampu maka akan iuran dengan tetangga dekat
rumahnya yang juga tak dapat mengakses air untuk membeli pipa dan menumpang pada
tetangga yang memiliki akses air atau sumur dirumahnya.

Bagi masyarakat yang mampu, mereka tak kawatir untukmengolah ladangnya di


segala musim, karena ladangnya selalu dialiri air dari diesel yang menyedot air dari sumur.
Namun bagi mereka yang tidak mampu hanya dapat mengolah ladangnya hanya pada saat
musim penghujan dikarenakan air lebih banyak pada saat musim penghujan. Dalam hal
penjualan hasil perkebunan, sebenarnya telah ada semacam pelatihan untuk mengolah
kembali hasil dari perkebunan tersebut, namun kurangnya distribusi membuat
keberlangsungan pengolahan hasil perkebunan tersebut seperti kripik pisang menjadi
terhambat. Hal tersebut dikarenakan masih banyak orang yang berpikiran bahwa lebih baik
langsung dijual dalam kondisi belum diolah karena sudah ada tengkulak yang langsung
membeli, kalau sudah diolah menjadi kripik pisang belum tentu laku.
BIDANG KESEHATAN

Mendapatkan pelayanan kesehatan merupakan hak bagi setiap warga negara


Indonesia. Bidang kesehatan sangat perlu khususnya bagi masyarakat Ringinsari yang
memiliki letak yang jauh dari pusat kesehatan. Masyarakat Ringinsari sendiri apabila
terserang penyakit cenderung untuk membeli obat di toko – toko kelontong karena apotek
sangat jauh. Apabila penyakit yang diderita cukup parah sehingga harus ditanganioleh tim
medis, maka akan dibawa ke Puskesmas Wates yang jaraknya 13 km dengan jarak tempuh
kurang lebih 30 menit dari Dusun Ringinsari menggunakan kendaraan bermotor. Tak banyak
masyarakat yang memiliki kendaraan meskipun akses jalan sudah ada. Satu – satunya
akses kesehatan yang dapat dinikmati oleh masyarakat Ringinsari adalah ketika bidan
datang setiap bulannya untuk kegiatan posyandu, yaitu imunisasi dan mengontrol kesehatan
balita dan juga manusia lanjut usia. Tak jarang apabila warga merasa sakit atau memiliki
keluhan kesehatan mereka berkonsultasi kepada bidan tersebut dan apabila dapat ditangani
saat itu juga akan ditangani, namun jika tidak dapat ditangani oleh bidan tersebut maka
akan dirujuk ke Puskesmas Wates.

BIDANG PARIWISATA

Pariwisata berupa Pantai Jolosutro merupakan salah satu objek wisata alam yang
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Ringinsari. Akses yang dilalui untuk menuju
pantai juga mudah karena jalanan sudah diaspal, meskipun ada beberapa titik yang
berlubang. Pantai Jolosutro memiliki ombak yang besar dan menggulung – gulung
dikarenakan Pantai Jolosutro berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Hal tersebut
mengnakibatkan pengunjung tidak diperbolehkan untuk mandi dan bermain – main di laut
Jolosutro karena akan berpotensi terbawa ombak. Sehingga ketika di Pantai Jolosutro
pengunjung hanya diperkenankan untuk duduk – duduk di pasir ataupun menyewa longer
bangku pantai yang seharga Rp. 10.000/jam.

POTENSI

Dari penjelasan diatas dapat dipetakan potensi – potensi yang ada di Dusun
Ringinsari, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, yaitu :

1. Memilliki sumber daya alam yang melimpah, berupa hasil bumi yaitu perkebunan
pisang dan pangan lainnya yang dapat diolah
2. Hasil laut berupa ikan yang dapat ditingkatkan
3. Objek wisata Pantai Jolosutro yang menarik untuk dikunjungi
4. Akses jalan yang cukup mudah
PERMASALAHAN

Dari beberapa penjelasan diatas dapat dipetakan masalah – masalah yang dihadapi
oleh masyarakat Dusun Ringinsari, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar yaitu :

1. Tingkat pendidikan yang rendah


2. Terbatasnya sarana dan prasarana pendukung pendidikan
3. Perekonomian yang rendah
4. Mindset warga lokal yang lebih mementingkan bekerja daripada bersekolah dahulu
5. Jarak pusat pendidikan yang jauh
6. Minimnya pelatihan keterampilan untuk membuat masyarakat menjadi mandiri
7. Adanya permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak kepada nelayan
8. Faktor cuaca di laut Jolosutro yang ekstrim
9. Jarak pusat kesehatan yang jauh
10. Tingkat kesehatan yang rendah

PEMBAHASAN

Dalam mengembangkan suatu desa, menggali mengenai potensi – potensi yang ada
di desa sangatlah diperlukan. Dengan menggali potensi di desa, kita dapat mengetahui apa
saja yang ada di desa yang dapat dikelola sehingga berdampak kepada kemajuan
kesejahteraan desa. Dusun Ringinsari, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar memiliki
beberapa potensi yang seharusnya dapat menunjang perekonomian masyarakat sekitar.
Potensi – potensi seperti hasil perkebunan, hasil laut, dan objek wisata merupakan
kekayaan tersendiri bagi masyarakat Ringinsari. Tentu saja dalam mengelola potensi
tersebut, pihak pemangku kebijakan haruslah ada, stakeholder harus siap, dan didukung
oleh pola pikir masyarakatnya sendiri. Maka hal pertama yang harus dilakukan ialah
bagaimana merubah mindset masyarakat sekitar. Masyarakat diberi pemahaman
bagaimana cara menghasilkan keuntungan yang tinggi demi kesejahteraan mereka sendiri
dengan potensi yang dimiliki. Pemahaman – pemahaman seperti itu harus terus ditekankan
agar masyarakat Ringinsari sadar dan paham bahwa sebenarnya mereka memiliki potensi
itu dan mereka sebenarnya mampu untuk mengelolanya. Jika pemahaman – pemahaman
demikian sudah tertancap pada diri masyarakat masing – masing, hal kedua yang harus
dilakukan adalah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling membantu dalam
menyusun program – program desa yang mengarah kepada kepentingan masyarakat desa
sehingga perekonomian mereka menjadi lebih baik. Program – program desa tak hanya
milik perangkat desa namun juga milik bersama. Banyak program desa yang terlaksana di
desa – desa tapi arah dan hasilnya bukan merujuk pada kepentingan masyarakat desa,
sehingga banyak yang tidak tepat sasaran. Maka dari itu, perlu adanya musyawarah desa
yang isinya adalah membahas mengenai pembentuka suatu program kerja bersama antara
masyarakat, perangkat desa, dan pihak – pihak yang terkait dalam pembangunan desa.
Misalnya pengelolaan hasil perkebunan dan perikanan, dahulu masyarakat masih banyak
yang menjual hasil perkebunan dan perikanannya secara langsung ke para pengepul dalam
kondisi yang sebelum diolah, hal tersebut mengakibatkan keuntungan yang diperoleh juga
ikut rendah karena harga diatur oleh pengepul. Maka dari itu perlu adanya kebijakan atau
program yang dibuat agar hasil perkebunan tersebut dapat dikelola lagi menjadi usaha lain
yang memiliki nilai jual yang lebih, begitupula dengan hasil perikanan.

Potensi berupa objek wisata juga sangat menarik untuk dikembangkan.


Pengembangannya harus bersama – sama dilakukan oleh banyak pihak termasuk
masyarakat dan stakeholder agar potensi ini dapat berjalan dengan baik.

Dengan berubahnya mindset masyarakat yang menjadi lebih terbuka, diharapkan


dapat berpengaruh juga terhadap pola kegiatan ekonomi. Yang kemudian akan berdampak
pada perekonomian masyarakat yang lebih baik, dengan demikian pendidikan anak- anak
dapat diperbaiki.

Selain itu, dari pihak pemerintah sendiri harus menaruh perhatian yang lebih kepada
masyarakat, lebih intensif dalam pelayanan kepada masyarakat, apa yang dibutuhkan
masyarakat, melalui program – program yang dapat dikembangkan untuk jangka yang
panjang.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dusun Ringinsari merupakan sebuah dusun yang memiliki beragam potensi yang
dapat dijadikan sebagai desa yang produktif. Letak geografisnya yang dekat pantai juga
dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Namun di Dusun
Ringinsari masih terdapat permasalahan – permasalahan yang menghambat laju
perekonomian sehingga potensi – potensi yang ada belum dapat dimanfaatkan secara
maksimal. Oleh karena itu perlu bagi pemerintah daerah Kabupaten Blitar untuk
memberikan pendidikan maupun membuka wawasan baru untuk masyarakat guna
meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Peran pemerintah daerah disini sangat
penting dikarenakan pemerintah sebagai eksekutor tertinggi dan mempunyai kewenangan
dalam membantu memperdayakan masyarakatnya.
DAFTAR PUSTAKA

Afif Dwi Afrizal1, I. K. (2013). EVALUASI KONDISI GEOGRAFIS PANTAI JOLOSUTRO.

Prantiasih, A. (2011). Model Pemberdayaan Industri Kecil. Jurnal Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan,.

Setyobakti, M. h. (2017). Identifikasi Masalah Dan Potensi Desa Berbasis Indeks Desa
Membangun (IDM) di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.
Jurnal Penelitian Ilmu Ekonomi, 7, 1-4.