Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

Ta’arud Al-Adillah dan Cara Penyelesainnya

USHUL FIQH DAN KAIDAH

Disusun oleh :

Bella Eka Ratri

Tomy Rosandi

Dosen pengampu :

Drs. H. Imam Faqih, MSI

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA

PACITAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan rahmat dan karunia yang di limpahkan-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam senantiasa kami curahkan atas
junjungan umat muslim Nabi Muhammad SAW. beserta keluarga, sahabat dan
para penerus risalah-Nya.

Adapun yang menjadi judul makalah kami adalah “Ta’arud Al-Adillah dan
Cara Penyelesainnya” yang di dalamnya membahas pengertian, unsur-unsur,
jenis-jenis, cara dan contoh penyelesaian ta’arud al-adillah. Tujuan utama
penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas dari dosen pengampu kami, Drs. H.
Imam Faqih, MSI dalam mata kuliah Ushul Fiqh dan Kaidah.

Jika dalam penulisan makalah terdapat berbagai kesalahan dan kekurangan


maka kepada para pembaca, kami memohon maaf sebesar-besarnya atas koreksi-
koreksi yang telah di lakukan. Hal tersebut semata-mata agar menjadi suatu
evaluasi dalam pembuatan makalah ini. Mudah-mudahan dengan adanya
pembuatan makalah ini dapat memberikan manfaat berupa ilmu pengetahuan yang
baik bagi penulis maupun bagi para pembaca.

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... 2

DAFTAR ISI ......................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 4


B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan ....................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ta’arud Al-Adillah .................................................................. 5


B. Unsur-unsur Ta’arud Al-Adillah ............................................................... 6
C. Jenis-jenis Ta’arud Al-Adillah .................................................................. 7
D. Cara Penyelesaian Ta’arud Al-Adillah ..................................................... 8
E. Contoh Penyelesaian Ta’arud Al-Adillah ............................................... 10

BAB III PENUTUP

Kesimpulan ............................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 15

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Hukum fiqih mempunyai lapangan yang luas, meliputi berbagai peraturan
dalam kehidupan yang menyangkut hubungan manusia dengan Khaliqnya dan
hubungan manusia dengan sesama manusia dan makhluk dalam pelaksanaannya
juga berkaitan dengan keadaan tertentu, maka mengetahui landasan hukum yang
menjadi pedoman berpikir dalam menentukan hukum tersebut sangatlah penting.
Islam yang diturunkan oleh Allah tidaklah sebuah agama yang tanpa dasar
dalam menentukan suatu hukum, namun ada aturan-aturan yang mengikat, harus
melalui koridor-koridor yang sesuai dengan syari’at. Dasar utama yang digunakan
oleh umat Islam dalam menentukan hukum adalah Al-Qur’an dan Hadits, namun
seiring munculnya suatu permasalahan yang baru maka dibutuhkan ijtihad dalam
penetuan suatu hukum, maka muncul produk hukum qiyas dan ijma’.
Dengan dasar itulah umat Islam menjalankan kehidupan dengan syari’at
yang telah terlandaskan. Namun ketika seorang mujtahid itu menentukan suatu
hukum sesuai dengan koridor syara’ tentunya tidak terlepas dari kelemahan dalam
pemahaman. Maka di sini dikenal dengan ta’arudl al-adillah (pertentangan dalil),
meskipun kemampuan orang terbatas dalam memahami sesuatu namun disana
ditetapkan suatu aturan baru untuk menentukan suatu hukum yang mashlahah.
B. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian ta’arudh al-adhillah?
b. Apa saja unsur-unsur ta’arudh al-adhillah?
c. Apa saja jenis-jenis ta’arudh al-adhillah?
d. Bagaimana cara mengatasi ta’arudh al-adhillah?
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui pengertian ta’arudh al-adhillah.
b. Untuk mengetahui apa saja unsur-unsur ta’arudh al-adhillah.
c. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis ta’arudh al-adhillah.
d. Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi ta’arudh al-adhillah.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ta’arud Al-Adillah


Secara etimologis ta’arudh yaitu saling bertentangan, sedangkan secara
terminologis, ta’arudh yaitu:
‫تقابل الديحبث يخالف أحد هما اآلخر‬.

Yang artinya,“Pertentangan dua dalil, antara satu dalil berbeda atau bertentangan

dengan dalil lainnya.”


Dengan demikian, ta’arudh al-adillah adalah pertentangan antara beberapa
dalil tentang suatu masalah tertentu, misalnya dalil yang satu menyatakan bahwa
perbuatan tersebut wajib dilakukan, sedangkan dalil lainnya menetapkan sunnah.
Sebenarnya menurut Dr, Wahbah Zulaihi, tidak ada dalil nash yang saling
bertentangan, adanya pertentangan dalil syara’ itu hanya menurut pandangan
mujtahid, bukan pada hakikatnya. Dalam kerangka pikir inilah, maka ta’arudh
mungkin terjadi pada dalil-dalil yang qath’i maupun zanni.1
Dalil-dalil yang menjadi kajian ta’arudh al-adillah adalah dalil-dalil yang
derajat atau kualitasnya sama, keduanya merupakan hadits-hadits yang shahih,
sehingga apabila terdapat pertentangan harus di cari solusinya.
Perbedaan pemahaman yang terjadi dikalangan fuqoha merupakan bagian
dari kajian ilmu ushul fiqih. Oleh karena itu, apabila ada perbedaan pandangan
karena adanya pertentangan antar dua dalil, hal tersebut adalah wajar. Yang paling
utama adalah mencari cara penyelesaian yang ilmiah dan masuk akal.

Pertentangan dapat terjadi dalam hal-hal sebagai berikut :

a. Pertentangan antara Al-Qur’an dan Al-Qur’an. Ada yang memandang


diantara ayat-ayat Al-Qur’an, ada yang saling bertentangan, hal ini terjadi
karena keterbatasan akal manusia. Padahal, tidak satu pun ayat yang saling

1
Dr. Mardani. Ushul Fiqh. Jakarta: Rajawali Pers. 2013. Hal. 391

5
bertentangan, yang ada adalah ayat-ayat Allah saling menafsirkan atau
saling menjelaskan.
b. Pertentangan antara Al-Qur’an dan As-sunnah. Ini adalah pandangan
bahwa kedudukan Al-Qur’an harus sama dengan As-sunnah, padahal tidak
demikian. Yang harus ada bahwa As-sunnah menjelaskan Al-qur’an, dan
Al-qur’an kedudukannya lebih tinggi dari As-sunnah. Oleh sebab itu, tidak
mungkin ada pertentangan dari keduanya, kecuali As-sunnah yang
kulaitasnya lemah, baik dari segi sanad maupun matannya.
c. Pertentangan antara As-sunnah dengan As-sunnah.
d. Pertentangan antara As-sunnah dengan akal.2

B. Unsur-unsur Ta’arud Al-Adillah


Pertentangan hanya dapat terjadi, jika terpenuhi unsur-unsur sebagai berikut.
a. Bahwa dalil yang bertentangan memiliki tingkatan kekuatan yang sama,
dalam arti yang satu tidak lebih kuat dari yang lain, misalnya sama-sama
ayat al-qur’an, sama-sama hadits mutawatir, atau sama-sama hadits ahad.
b. Hukum yang lahir dari kedua dalil tersebut saling bertentangan, misalnya
dalil yang satu menunjuk haram, dalil yang satu menunjuk halal.
c. Dalil yang bertentangan tersebut memiliki sasaran yang sama.
d. Dalil yang bertentangan memiliki kesamaan pada segi waktu munculnya.
Dengan demikian, pertentangan tidak terjadi jika terdapat perbedaan
waktu datangnya dalil.
e. Dalil yang bertentangan memiliki kesamaan baik pada segi materinya
maupun pada segi sifatnya. Misalnya, tingkat kejelasan makna kedua dalil
tersebut sama-sama pada tingkat mujmal, atau sama-sama pada tingkat
zahir.3

2
Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Ilmu Ushul Fiqh. Bandung: Pustaka Setia. 2008. Hal. 209-210
3
Dr. Mardani. Ushul Fiqh. Jakarta: Rajawali Pers. 2013. Hal. 392

6
C. Jenis-jenis Ta’arud Al-Adillah
a. Ta’arud antara Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Firman Allah SWT :

َ‫َو ْال َخ ْي َل َو ْال ِبغَا َل َو ْال َحمِ ي َْر ِلت َْر َكب ُْوهَا َو ِز ْينَةً َويَ ْخلُ ُق َما ََل ت َ ْعلَ ُم ْون‬

“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu
tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang kamu
tidak ketahui.” (QS. An-Nahl (16): 8).
Dalam ayat di atas dapat di ambil sebuah pengertian bahwa kuda,
begal, dan keledai hanya diperuntukkan untuk kendaraan saja, sedang ayat
berikut bermakna berbeda :
َ‫ام ِلت َْر َكب ُْوا ِم ْن َها ت َأ ْ ُكلُ ْون‬
َ َ‫ي َجعَ َل لَ ُك ُم األ َ ْنع‬
ْ ‫هللاُ الَّ ِذ‬
“Allah-lah yang menjadikan hewan ternak untukmu, sebagian untuk kamu
kendarai dan sebagian lain kamu makan.” (QS. Ghafir (40): 79).

b. Ta’arudh antara sunah dangan sunah.

ْ ُ‫سلَّ َم َكانَ ي‬
‫صبِ ُح ُجنُبًا مِ ْن ِج َماعٍ ث ُ َّم يَ ْغت َ ِس ُل‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ِ ‫ع ْن َها ا َ َّن النَّبِي‬
َ ُ‫ى هلل‬ ِ ‫س ََل َمةَ َر‬
َ ‫ض‬ ِ َ ‫شة‬
َ ‫وأم‬ َ ‫ع ْن‬
َ ‫عاىِي‬ َ

‫ص ْو ُم (متفق عليه‬
ُ َ‫( َوي‬

Dari Aisyah dan Ummi Salamah ra. bahwa Nabi ketika masuk
waktu subuh dalam keadaan junub karena melakukan jima kemudian
mandi dan menjalankan puasa.
Hadits ini bertentangan dengan hadits lain yang berbunyi :
ُ َ‫صبْحِ َوا َ َحدَ ُك ْم ُجنُبًا فَ ََل ي‬
ُ‫ص ْو ُم يَ ْو َمه‬ ُّ ‫ص ََلةِ ال‬
َ ِ‫ص ََلة‬ َ ‫اِذَا نُ ْود‬
َّ ‫ِى ِلل‬
Bila telah dipanggil untuk sholat subuh, sedang salah satu diantaramu
dalam keadaan junub maka jangan puasa di hari itu. (HR. Imam Ahmad
dan Ibnu Hibban)

c. Ta’arudh antara sunah dangan qiyas


Ta’arudh antara sunah dangan qiyas, dapt dilihat dalam contoh
tentang ukuran hewan untuk aqiqah berdasarkan sunah, satu kambing
untuk putri dan dua kambing untuk putra, berdasarkan hadits :

7
ِ ‫َان َو َع ِن ْال ََج‬
‫اريَ ِة َشَاة‬ ِ ‫ا َ ْلعَ ِق ْيقَةُ َحق َع ِن اْلغُ ََل ِم َشَات‬
ِ ‫َان ُمكَا فَىَت‬
"Aqiqah itu sesuatu yang mesti dikerjakan untuk anak laki-laki dua
kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing". (HR. Asma binti
Zayid)
Bagi yang berpegang pada qiyas maka untuk aqiqah ini boleh
hewan yang lebih besar, unta lebih dari sapi dan sapi lebih dari kambing,
ini hampir pendapat sebagian besar fuqaha. Sedang yang berpegang pada
bunyi hadits di atas adalah Imam Malik, bahwa aqiqah itu dilakukan
dengan menyembelih kambing.

d. Ta’arudh antara qiyas dengan qiyas


Peng-qiyas-an masalah perkawinan Nabi Muhammad SAW.
terhadap Siti Aisyah, sebagaimana diriwayatkan Bukhari Muslim :
ُ‫ى بِى َواَنَا ِب ْنت‬
َ ِ‫ت ِسنِيْنَ َو َبن‬ َ ‫سلَّ َم ِل‬
ِ ‫س‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ ْ َ‫سةَ قَال‬
ُ ‫ ت َزَ َّو َجنِ ْى َر‬: ‫ت‬ َ ِ‫َو َع ْن َعاى‬
‫)تِسْعِ ِسنِيْنَ (رواه مسلم وعن عاىسة‬
Dari Aisyah beliau berkata: Rasulullah mengawini saya ketika saya
berumur enam tahun dan mengumpuliku ketika saya sebagai gadis yang
telah berumur sembila tahun. (HR. Muslim dari Aisyah)
Berdasakan hadits di atas, dapat diambil sebuah hukum kebolehan
mengawinkan orang tua terhadap anaknya yang belum dewasa tanpa izin
yang bersangkutan yang masih di bawah umur, demikian pendapat
Hanafiyah. Sedangkan ulama Syafi’iyah menganggap, kegadisannya.4

D. Cara Penyelesaian Ta’arud Al-Adillah


Terdapat perbedaan pendapat antara ulama Hanafiyah dan Syafiiyah dalam
menyelesaikan ta’arudh al-adhillah. Menurut ulama hanafiyah jika terjadi
ta’arudh al-adillah maka penyelesaiannya dapat ditempuh melalui:
a. Nasakh. Dengan cara pertama ini mujtahid dapat meneliti dalil itu dari
aspek waktu turunnya. Jika diketahui, maka dalil yang datang lebih dahulu
dapat dinasakh oleh dalil yang datang kemudian.

4
Drs. Totok Jumantoro, M.A., dkk. Kamus Ilmu Ushul Fiqh. Jakarta: Amzah. 2009. Hal. 313-314

8
b. Tarjih. Dengan cara ini, jika tidak diketahui sejarah turunnya, maka dapat
digunakan cara tarjih dengan meneliti mana diantara dua dalil yang
bertentangan itu yang lebih kuat atau (rajih).
c. Al-jam’u wa al-taufiq. Cara ketiga ini ditempuh jika cara kedua (tarjih)
tidak mungkin untuk di lakukan. Caranya dengan mengkompromikan 2
dalil yang bertentangan.
d. Tasaqut. Jika tidak mungin untuk di kompromikan maka jalan keluarnya
adalah tidak menggunakan kedua dalil itu (tasaqut). Ketika itu mujtahid
dapat menggunakan dalil lain yang lebih rendah urutannya. Jika yang
bertentangan itu adalah dua ayat maka ia bisa menggunakan sunnah. Jika
yang bertentangan itu adalah hadits maka mujtahid bisa menggunakan
qaul sahabi begitu selanjutnya.

Adapun menurut syafiiyah sebagaimana di jelaskan oleh wahbah zuhaili,


cara yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan ta’arudh al-adhillah adalah
sebagai berikut:

a. Al-jam’u wa ai-taufiq, yaitu mengkompromikan jika memungkinkan.


Alasannya karena mengamalkan kedua dalil itu lebih utama dibandingkan
membiarkan salah satunya. Contohnya adalah mengkompromikan ayat
234 surat Al-Baqarah dengan ayat 4 surat At-Talaq sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya yang masing-masing berbicara tentang masa iddah
wanita yang dicerai oleh suaminya.
b. Tarjih, jika cara pertama tidak mungkin untuk dilakukan, maka cara
selanjutnya yang ditempuh adalah dengan tarjih.
c. Nasakh, jika cara kedua (tarjih) tidak juga mungkin untuk dilakukan maka
caranya meneliti dari aspek waktu turunnya dari dua dalil tersebut. Maka
dalil yang datang terdahulu dapat di nasakh, oleh dalil yang datang
kemudian.
d. Tasaqut, jika cara ketiga (nasakh) juga tidak dapat dilakukan, maka jalan
keluarnya adalah tidak menggunakan dua dalil itu dan mujtahid dapat
mengguanakan dalil yang lebih rendah kualitasnya.

9
Jika diperhatikan perbedaan cara yang digunakan oleh hanafiyah dan
syafi’iyah sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
perbedaan keduanya terletak pada urutannya.

a. Hanafiyah: nasakh, tarjih, al-jam’u wa al-taufiq, dan tasaqut.


b. Syafiiyah: al-jam’u wa al-taufiq, tarjih, nasakh, dan tasaqut.5

E. Contoh Penyelesaian Ta’arud Al-Adillah


a. Contoh Penyelesaian ta’arudh dengan metode al-jam’u wa al-taufiq
(menggabungkan dan mengkompromikan). Sebagai firman Allah SWT.

َ‫علَ ْي ُك ْم فِي َما فَعَ ْلن‬


َ ‫ع ْش ًرا فَإِذَا بَلَ ْغنَ أ َ َجلَ ُه َّن فََلَ ُجنَا َح‬
َ ‫صنَبِأَنفُ ِس ِه َّن أ َ ْربَعَةَ أ َ َْش ُه ٍر َو‬
ْ َّ‫َوالَّ ِذيْنَ يُت ََوفَّ ْونَ مِ ْن ُك ْم َويَذَ ُرونَ أ َ ْز َوا ًجا يَت ََرب‬
‫فِى أَنفُ ِس ِه َّن بِ ْال َم ْع ُر ْوفِ َوهللا بِ َما ت َ ْع َملُونَ َخبِير‬

“Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri


hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari. Kemudian
apabila telah sampai (akhir) idah mereka, maka tidak ada dosa bagimu mengenai
apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka menurut cara yang patut. Dan
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah(2):234)

Sedangkan dalam surah At-Thalaq (65): 4 menyebutkan:

‫ ِم ْن أ َ ْم ِر ِه يُس ًْر‬, ُ‫ق هللاَ يََجْ عَ ْل لَّه‬ َ َ‫َوأ ُ ْولَتُ ْآألَحْ َما ِل أ َ َجلُ ُه َّن أَن ي‬
ِ َّ ‫ض ْعنَ َح ْملَ ُه َّن َو َم ْن يَت‬

“Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu


jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya) maka idahnya adalah tiga bulan; dan
begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Sedangkan perempuan-
perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu sampai mereka melahirkan
kandungannya. Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya dia menjadikan
kemudahan baginya dalam urusannya.” (Q.S. At-Thalaq(65):4)

5
Drs. Sapiudin Shidiq, M.A. Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana. 2011. Hal. 234-236

10
Ayat pertama tersebut di atas bersifat umum yaitu setiap perempuan yang
ditinggal mati suami baik hamil maupun tidak hamil wajib beriddah selama empat
bulan sepuluh hari. Dan ayat kedua tersebut juga bermakna umum, yaitu setiap
wanita hamil baik ditinggal mati suami atau bercerai hidup wajib ber-iddah
sampai melahirkan kandungannya.
Dengan demikian, antara dua ayat tersebut bila dilihat sepintas lalu
terdapat pertentangan mengenai iddah wanita hamil yang ditinggal mati suami.
Namun perbedaan itu seperti yang dikemukakan oleh Abdul Karim Zaidan, dapat
dikompromikan sehingga kedua ayat tersebut dapat difungsikan. Kedua ayat
tersebut bila dikompromikan, maka kesimpulan yang diambil adalah bahwa iddah
perempuan hamil yang kematian suami adalah masa terpanjang dari dua bentuk
iddah, yaitu sampai melahirkan atau sampai empat bulan sepuluh hari. Artinya,
jika perempuan itu melahirkan sebelum sampai empat bulan sepuluh hari sejak
suaminya meninggal, maka iddahnya menunggu empat bulan sepuluh hari, dan
jika sampai empat bulan sepuluh hari perempuan itu belum juga melahirkan, maka
iddahnya sampai ia melahirkan kandungannya.6

b. Contoh cara penyelesaian ta’arudh dengan metode al-nasakh

Firman Allah dalam surah Al-Baqarah (2): 180 menegaskan:

ِ ‫صيَّةُ ِل ْل َوا ِلدَي ِْن َو ْاأل َ ْق َر ِبيْنَ ِب ْال َم ْع ُر ْو‬


‫ف َحقا ً َعلَى‬ ِ ‫ض َر أ َ َحدَ ُك ُم ْال َم ْوتُ ِإن ت ََركَ َخي ًْرا ْال َو‬
َ ‫ب َعلَ ْي ُك ْم ِإذَا َح‬ َ ِ‫ُكت‬
َ‫ْال ُمت َّ ِقيْن‬

“Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara


kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib
kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang
bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah(2):180)

Ayat tersebut di nasakh oleh hadits Rasulullah SAW.:

‫ام َح ََّج ِة‬ ْ ‫سلَّ َم يَقُ ْو ُل فِي ُخ‬


َ ‫طبَتِ ِه َع‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ َ : ‫َع ْن أَبِي أ ُ َما َمةَ ْالبَا ِه ِلي ِ قَا َل‬
ُ ‫س ِم ْعتُ َر‬
‫ث‬ٍ ‫صيَّةَ ِل َو ِار‬ِ ‫ق َحقَّهُ فَ ََل َو‬ٍ ‫طى ِل ُك ِل ذِي َح‬ َ ‫ْال َودَاعِ ِإنَ هللاَ قَدْ أ َ ْع‬

6
Satria Efendi M. Zein, op. Cit., hal. 240.

11
Dari Abu Umamah al-Bahili ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW.
bersabda ketika khutbah haji wada’ “Sesungguhnya Allah telah memberikan hak
kepada setiap orang yang berhak, maka tidak ada wasiat kepada ahli waris.” (HR.
Tirmidzi)

c. Contoh cara penyelesaian ta’arudh dengan metode tarjih

Hadits Rasulullah saw. berikut:

ُ ‫ص ْو َم لَه‬ ْ َ ‫ َكانَ أَبُو ه َُري َْرة َ يَقُ ْو ُل َم ْن أ‬: ‫ب قَا َل‬


َ ‫صبَ َح ُجنُبًا فَ ََل‬ ٍ ‫الرحْ َم ِن ب ِْن َعتَّا‬
َّ ‫َع ْن َع ْب ِد‬

Dari Abdurrahman bin ‘Auf ia berkata, Adalah Abu Hurairah berkata


“Barangsiapa yang junub sapai tiba waktu subuh, maka tidaklah ada puasa
baginya,” (HR. Ahmad)

Sementara Aisyah meriwayatkan hadits:

ْ ُ‫سلَّ َم ي‬
‫صبِ ُح‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ ُ ‫سلَّ َم أَنَّ ُه َما قَالَت َا َكانَ َر‬
َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ‫شةَ َوأ ُ ِم‬
َ ‫سلَ َمةَ زَ ْو َج ِى النَّبِ ِى‬ َ ِ‫َع ْن َعاى‬
‫ص ْو ُم‬ُ َ‫ضانَ ث ُ َّم ي‬
َ ‫ ُجنُبًا ِم ْن ِج َماعٍ َغي ِْر احْ تِ ََل ٍم فِى َر َم‬.

“Dari Aisyah dan Ummu Salamah istri Nabi Saw. bahwa keduanya berkata
“Rasulullah Saw. masih dalam keadaan junub, bukan karena mimpi pada bulan
Ramadhan, kemudian beliau berpuasa.” (HR. Malik)

d. Contoh penyelesaian ta’arudh dengan metode tasaquth al-dalilain

Firman Allah dalam surah Al-Muzammil (73): 20

ِ ‫فَآ ْق َر ُءوا َما تَيَس ََّر ِمنَ ْالقُ ْر َء‬


‫ان‬

“Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an,”

Sedangkan dalam surah Al-A’raf (7): 204 Allah swt. berfirman:

َ‫صتُواْلَعَلَّ ُك ْم ت ُ ْر َح ُم ْون‬ ْ ‫ى‬


ِ ‫ َوأ َ ْن‬,ُ‫ءالقُ ْر َءانُ فَآ ْست َِمعُ ْوالَه‬ َ ‫َوإِذَا قُ ِر‬

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu
mendapat rahmat.”

12
Ayat pertama secara umum, mewajibkan orang yang shalat, termasuk
makmum untuk membaca ayat-ayat Al-Quran yang mudah dibaca, sebab konteks
ayat tersebut berbicara dalam konteks shalat. Sedangkan ayat kedua menegaskan
kewajiban membaca Al-Quran, sebab yang diperintahkan adalah mendengarkan
dan memerhatikan bacaan imam dalam shalat. Mengamalkan kedua ayat tersebut
sekaligus tidak dapat terlaksana dengan baik. Artinya membaca Al-Quran sambil
mendengarkan dan memerhatikan bacaan imam tidak dapat dilakukan secara
bersamaan. Dengan demikian, kedua ayat tersebut mengandung makna umum
yang saling bertentangan. Oleh karena itu cara yang dilakukan adalah tawaqquf
(tidak mengamalkan kedua dalil) sampai ditemukan dalil lain yang menjelaskan
masalah tersebut. Dalam hal ini dicarikan penjelasannya pada hadits yang
menjelaskan:

‫من صلى خلف اإلمام فإن قراءة اإلمام له قراءة‬

“Barangsiapa yang shalat di belakang imam, maka sesungguhnya bacaan imam


menjadi baginya”. (HR. Jama’ah)7

7
Dr. Mardani. Ushul Fiqh. Jakarta: Rajawali Pers. 2013. Hlm 394-396

13
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ta’arudl al-Adillaah dapat diartikan sebagai perlawanan antara kandungan
salah satu dari dua dalil yang sama derajatnya dengan kandungan dalil yang lain
yang mana salah satu diantara dua dalil tersebut menafikan hukum yang ditunjuk
oleh dalil yang lainnya. Ta’arudhul Adillah terjadi hika terdapat unsur-unsur.
Adapun cara penyelesaian yang dapat dilakukan terdapat dua pendapat, yakni,
menurut Hanafiyah yaitu nasakh, tarjih, al-jam’u wa al-taufiq, dan tasaqut.
Sedangkan menurut Syafiiyah yaitu al-jam’u wa al-taufiq, tarjih, nasakh, dan
tasaqut.

14
DAFTAR PUSTAKA

Shidiq, Saipudin. 2011. Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana.

Saebani, Beni Ahmad. 2008. Ilmu Ushul Fiqh. Bandung: Pustaka Setia.

Mardani. 2013. Ushul Fiqh. Jakarta. Rajawali Pers.

Jumantoro, Totok, dkk. 2009. Kamus Ilmu Ushul Fiqh. Jakarta: Amzah.

Effendi, Satria. 2005. Ushul Fiqh. Jakarta:Kencana.

Koto, Alaiddin. 2009. Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada

15