Tutorial Petrel Dan IP
Tutorial Petrel Dan IP
2
ü
ü
ü
ü
ü untuk Z unit diubah menjadi feet (Ft),
untuk area unit diubah menjadi Acre,
untuk volume unit diubah menjadi Acre-Feet,
untuk seismic time diubah menjadi ms,
Untuk seismic velocity diubah menjadi m/s
3. Lalu Ctrl + I lagi dan ganti file type menjadi well logs (ASCII) dan
pilih semua data sumur berekstension “*las” kemudian open.
4
6. Klik Unit dan lihat tulisan “This Well is” kemudian pilih onshore, cek
Specify Unit dan atur input unit XY dan Z sesuai informasi header
file di bawah. Jika di darat dan off shore jika di laut lalu klik “ok for
all”.
7. Maka mulai saat ini, dapat melihat kondisi sumur dalam 3D ataupun
2D maupun berdasarkan peta dasar yang dapat dipilih melalui
menu Window. Ingat untuk mencentang kotak di sebelah kiri sumur.
Terlampir contoh gambar 3D Sumur.
6
10. Lalu centang kotak di sebelah kiri sumur sehingga menjadi seperti
di bawah ini.
11. Kemudian pada folder input klik tanda + pada Global Well Logs
sehingga memunculkan jenis log yang tersedia pada sumur (kotak
merah) .
8
13. Setelah log muncul maka warna log dapat diubah dengan cara
double klik pada log mekanik yang akan diubah warnanya atau klik
kanan pada log mekanik dan pilih setting (dalam hal ini dipilih log
GR).
9
14. Akan muncul menu setting for GR. Pada tab “style” dan sub tab
“general settings” masukkan nilai minimum dan maksimum dari log
mekanik yang akan diubah seperti log GR (0-150), log SP (-75 –
75), log neutron (0 – 0.6), log RHOB (1.71 – 2.71), log caliper (6 –
16), dst.
15. Pada tab “style” dan sub menu “2D log”, pada kolom “Color” pilih
“specified” agar warna log sesuai dengan warna yang kita inginkan.
Masih pada sub menu “2D log” dapat juga dipilih tipe garis yang
diinginkan seperti garis lurus, putus – putus, titik-titik dsb serta
ketebalan garis lognya.
10
16. Masih pada menu “Setting for GR”, pilih tab “info” dan pada kolom
“Color” pilih warna yang diinginkan.
17. Setelah mengklik “Apply” dan “Ok” maka log GR akan berubah
warna sesuai dengan warna yang dipilih sebelumnya. Dalam hal ini
dipilih warna merah.
11
18. Hal yang sama dilakukan pada log mekanik lainnya sehingga
warna setiap garis log menjadi beraneka ragam serta skala log
dapat disesuaikan berdasarkan langkah yang telah dipaparkan
sebelumnya.
19. Untuk membuat beberapa log mekanik berada dalam kolom yang
sama maka pada klik tanda + pada well section yang ada pada
kolom “Windows” yakni kotak merah.
12
20. Dengan demikian log mekanik yang ada pada setiap sumur dapat
dilihat (kotak merah).
21. Ketika ingin membuat log NPHI dan RHOB pada kolom yang sama
maka klik dan tahan sub log RHOB dan seret atau drag ke sub log
NPHI.
13
Sebelum
Sesudah
22. Maka log yang berada pada satu folder utama akan berada pada
kolom yang sama dalam log mekanik. Pada gambar log NPHI (garis
hijau) dan garis log RHOB (garis biru) sebelumnya berada pada
kolom berbeda dan menjadi satu kolom kemudian.
1
4
Sebelum
Sesudah
23. Untuk memberi warna pada log GR berdasarkan pemisahan
konsentrasi rendah radioaktif ( warna kuning) dan konsentrasi tinggi
radioaktif (warna hijau) berdasarkan interpretasi kualitatif log klik
kanan log GR pada global well log dan klik color table.
24. Akan muncul” setting for Gamma Ray” dan isi nilai maksimal
konsentrasi tinggi radioaktif (warna hijau)dengan angka 150 dan
lapisan konsentrasi rendah radioaktif ( warna kuning) dengan 0.
1
5
Untuk membuat cut off klik
25. Untuk mendiskriminasi warna pada log GR, pada sumur yang akan
didiskrimasini log GR nya maka double klik pada folder GR atau
yang memuat log GR pada kotak Window yang ada di kiri bawah
sehingga muncul kotak dialog setting for “GR”. Klik tab Curve Filling
lalu isi sesuai dengan gambar di bawah ini.
1
6
26. Setelah mengklik Apply dan Ok maka log GR akan secara otomatis
dideterminasi oleh komputer sesuai dengan settingan nilai log GR
pada Global Well Logs yang ada pada kotak Input.
27. Untuk membuat cross over pada log NPHI dan RHOB maka klik
folder yang memuat log NPHI dan log RHOB pada sumur yang
17
akan dilakukan cross over pada kotak Window yang ada di kiri
bawah sehingga muncul kotak dialog Setting For “NPHI”.
Selanjutnya lakukan setting sesuai gambar di bawah ini.
29. Untuk melakukan pewarnaan pada log ILD, maka terlebih dahulu
melakukan pengaturan pada log ILD yang ada pada Global Well
Logs yang ada di kotak Input. Lakukan pengubahan seperti gambar
di bawah ini
30. Teknik pembuatan cut off sama seperti pada log GR, namun untuk
membuat pembagian warna menjadi 3 tersebut dilakukan setelah
memasukkan nilai min, max dan cut off. Usahakan nilai cut off tidak
terlalu besar, kemudian klik set logarithic scale ( ) yang ada di
bawah cut off sehingga memberikan pembagian skala warna
seperti yang ada di atas. Masukkan warna sesuai keinginan lalu klik
Apply dan OK.
1
9
31. Kemudian klik folder yang memuat log ILD pada sumur yang akan
dilakukan pewarnaan pada kotak Window yang ada di kiri bawah
sehingga muncul kotak dialog Setting For “ILD”. Selanjutnya
lakukan setting sesuai gambar di bawah ini.
20
32. Setelah mengklik Apply dan OK maka log ILD akan diwarnai sesuai
dengan pengaturan yang telah dibuat sebelumnya pada Global
Well Logs
33. Selesai
21
mekanik yang ada dengan cara klik Paint Discrete Log Class ( )
atau short cut “A” pada tool bar kemudian klik Create New Discrete
2. Setelah mengklik OK, maka lihat expand Global Well Logs pada
kotak Input yang ada di sebelah kiri. Lalu aktifkan ( centang kotak
Lithologies ) agar kolom Lithologies muncul pada log mekanik yang
ada. Untuk mengubah posisi kolom Lithologies dapat dilakukan
pada kotak Window yang ada di kiri bawah dan pada menu Well
Section Window (SSTVD).
2
2
3. Selanjutnya klik Paint Discrete Log Class (
2
3
dilakukan secara otomatis oleh Petrel dengan cara yang cepat dan
mudah.
5. Untuk pewarnaan litologi secara otomatis maka klik kanan pada
Global Well Logs, lalu pilih Insert Global Well Logs (disc.) sehingga
muncul kotak Logs 45 di bawah kotak Lithologies.
6. Klik 2x Logs45, kemudian klik tab Info dan ganti nama Logs45
dengan Lithofacies kemudian klik tab colour dan isi sesuai urutan
pada gambar di bawah ini.
24
7. Setelah klik Apply dan Ok lalu klik kanan pada kolom Lithofacies
tersebut kemudian klik Calculator dan klik kolom Lithofacies yang
ada pada kotak Input kemudian lanjutnya dengan if(GR<75,0,1).
Angka 75 merupakan nilai Cut Off yang anda gunakan sehingga
nilainya dapat berbeda pada setiap sumur ataupun lapangan.
25
9. Selesai
Keterangan : Ini hanya bisa membedakan litologi Sandstone dan
Shale. Jika ingin menginterpretasi litologi selain kedua jenis batuan
tersebut maka harus dilakukan secara manual.
27
29
Sebelum
Sesudah
4. Klik tab Geometry dari kotak dialog Make/Edit surface, pada Grid
Size and Position aktifkan tab Automatic. Pada Grid Increment
masukkan nilai Xinc dan Yinc sesuai keinginan. Semakin kecil
semakin baik.
3
0
5. Klik tab Algorithm dari kotak dialog Make/Edit surface, pada kolom
Method pilih Convergent Interpolation
.
31
6. Klik Apply dan Ok. Hasilnya dapat dilihat melalui Map Window
dengan cara klik Window>New Map Window lalu aktifkan surface
layer Top 1 yang telah dibuat tadi.
10. Selesai
34
Pendahuluan
3
5
2. Klik Icon Aplikasi IP
3
6
37
2. Setelah load well akan muncul data dari headerlog, periksa data log
yang dibutuhkan untuk analisis lalu klik load file, dan data header log
sudah ter-input pada software interactive petrophysics seperti gambar
berikut ini.
38
2. Setelah itu akan muncul tampilan log gamma ray, sp¸ caliper, resistivity
dan density-neutron, sesuai dengan log yang dipakai pada saat
melakukan pengeboran.
3
9
Dari hasil pembacaan log ini kita dapat mengetahui volume clay pada
suatu sumur pengeboran
metode cross plot log neutron, density dan gamma ray seperti
gambar dibawah ini
Litologi a m n
Asquith, 1990
47
4. Setelah perhitungan dimasukkan lalu pilih menu run, lalu pilih menu
basic log function untuk melakukan perhitungan pada permeabilitas,
seperti gambar berikut ini.
5. Pilih rumus yang sudah tersedia lalu pilih menu runtab, tampilkan log
permeability pada log porositas dan saturasi air, seperti gambar
dibawah ini
PenentuanCut-off
48
4
9
Tabel Tabulasi data test produksi lapisan Lb-d pada lapangan AWP
Cut-off V-shale
Nilai penggal dari volume serpih disini dapat diperoleh dengan
menggunakan cross plot antara v-shale dengan laju alir gas (Qg). Harga v-
shale diwakili oleh sumur AWP-1, AWP-1a dan AWP-4 dikarenakan akan
hanya ada 3 sumur yang memiliki zona test produksi. Harga cut-off v-shale
dari ketiga zona tersebut dapat menjadi acuan untuk menjadi cut-off sumur
lainya. Berikut hasil cross plot antara v-shale dengan laju alir gas pada
gambar berikut ini.
5 V-Shale Vs Qg
4
1
VSH = 0.35
0
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35
50
Dari grafik tersebut dapat diketahui jika nilai cut off atau nilai penggal
dari volume serpih adalah sebesar 0.35 atau 35%. Hal ini dapat diketahui dari
trend yang ditunjukkan pada grafik di atas. Teknik determinasi dilakukan dari
kiri atas ke bawah terjadi perubahan grafik trend dari nilai volume serpih.
Cut-off Porositas
Nilai penggal dari porositas disini dapat diperoleh dengan
menggunakan cross plot antara porositas dengan laju alir gas (Qg). Harga
porositas diwakili oleh sumur AWP-1, AWP-1a dan AWP-4 dikarenkan akan
hanya ada 3 sumur yang memiliki zona test produksi. Harga cut-off porositas
dari ketiga zona tersebut dapat menjadi acuan untuk cut-off sumur lainya.
Berikut hasil cross plot antara porositas dengan laju alir gas seperti pada
gambar berikut in.
Фe vs Qg
5
4
3
2
1
PHI =
0
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25
Gambar Cross plot antara Porositas (sumbu x) dengan Laju Alir (sumbu y)
Berdasarkan interpretasi grafik di atas dapat diketahui jika nilai cut off
porositas sebesar 0.12 atau12% sehingga suatu reservoir disini dianggap
berpotensi jika memiliki nilai porositas lebih dari 12% pembacaan grafik nilai
penggal porositas ini sendiri dapat ditentukan dengan membaca grafik dari
kiri bawah ke kanan atas dengan mengamati trend perubahan dari grafiknya
tersebut.
51
Cut-off Saturasi Air
Nilai penggal dari porositas disini dapat diperoleh dengan
menggunakan cross plot antara porositas dengan saturasi air. Hal ini
dikarenakan ketiadaan data scal (special core analysis). Parameter yang
dicari dari cross plot ini adalah mencari garis persamaan (trendline) antara
hubungan porositas dengan saturasi air. Berikut hasil cross plot antara
porositas dengan saturasi air.
0,12
SW* Ф Vs Фe
0,1
y=
0,08
0,06
0,04
0,02
0
0 0,02 0,04 0,06 0,08 0,1 0,12 0,14 0,16 0,18
52
Lumping
Lumping merupakan ringkasan hasil analisis perhitungan petrofisika
v-shale dan porositas efektif pada lapisan reservoir yang diteliti yang
kemudian divalidasikan dengan nilai cut-off V-shale dan porositas efektif
seperti gambar berikut ini.
0,8
0,7
Lumping
0,6
0,5
V-shale .35 No Flow
0,4
0,3
0,2 Flow
0,1
0 Ф=0.12
AWP-1 AWP-1a AWP 4 Hasil Data Test AWP-2 AWP-3 AWP-5 AWP-s1
5
3
Pada Log ini dimasukan juga besaran cut-off yang di dapat dari
perhitungan. Log porositas memiliki cut-off dengan nilai 0.12 sehingga pada
54
log porositas nilai cut-off digeser ke nilai 0.12. Log v-shale memiliki nilai cut-
off sebesar 0.35 sehingga pada tampilan log v-shale parameter cut-off
digeser ke angka 0.35. Log saturasi air memiliki nilai 60% atau 0.60 sehingga
parameter cut-off digeser ke angka 0.60.
Yang dimaksud dari gross sand adalah ketebalan utuh lapisan
reservoir termasuk komposisi shale di dalamnya. Net sand adalah lapisan
reservoir yang sudah bersih atau sudah dikurangi dengan komposisi shale di
dalamnya dan net pay adalah lapisan reservoir yang mempunyai komposisi
minyak di dalamnya.
Gross sand, net sand & net pay (Hartmann dan Beaumont)
Cut-Off
Nama Sumur Kedalaman (MD ) feet Gross Sand (feet)
Net Pay(feet) Net/Gross Φ efektif (fraksi) V-shale (fraksi) k (mD) Sw (fraksi)
AWP- 1 4223-4286 63 32.53 0.52 0.233 0.194 27.67 0.32
AWP- 1a 4206-4270 64 34.69 0.54 0.187 0.313 13.32 0.37
AWP- 2 5084-5241 157 78.13 0.50 0.176 0.226 7.16 0.36
AWP -3 5238-5283 45 28 0.62 0.154 0.264 11.02 0.45
AWP- 4 4407 - 4462 53 29.78 0.56 0.238 0.283 6.15 0.38
AWP- 5 5755-5909 154 77.59 0.50 0.146 0.327 5.77 0.48
AWP- s1 7778-7826 48 - - 0.16 0.271 16.01 0.35
57
TAHAPAN INTERPRETASI SEISMIK PADA PETREL
Input Data
(Cara 1)
1. Klik Menu File àImport File. Pada Files of type pilih SEG-Y seismic data.
Masuk pada folder penyimpanan line seismik dan blok semua datanya.
Klik Open
2. Pilih Set default vintage, klik OK.
5
8
(Cara 2)
1. Cara I
Aktifkan Select/ Pick Mode (gambar kursor) à klik kanan pada line
yang ingin ditampilkan di 2D window, pilih Create Interpretation
Window.
64
2. Cara II
Aktifkan New Interpretation Window melalui Menu Window à klik di
New Interpretation Window
Toolbar Processes à Geophysics à klik Seismic Interpretation
Pada 2D window, klik huruf K pada keyboard à klik line seismik yang
dituju
65
6
7
Proses import data checkshot beserta jenis format file dan nama file
6
8
6
9
Top Formasi
Hasil picking
seismik berdasarkan
well seismic tie
Secret Data
Shifting Seismik
Pada seismik 2D, hal ini wajib dilakukan sebelum dilakukan picking
dan interpretasi semua line seismik.
Tujuan: agar semua line dalam kondisi tie (horizon yang sama pada line yang
berbeda saling terikat/terhubung)
7
3
2. Composite line akan tampil pada toolbar Input pada Composite Folder.
Tampilkan composite line pada Interpretation Window.
74
3. Double klik, atau klik kanan pada line yang akan di-shifting à Settings
à Geometry à Pada kolom Shift, isi dengan angka untuk menggeser
penampang ke atas, isi negatif (misal -16) untuk menggeser
penampang ke bawah à Tekan Shifit (perhatikan perubahan nilai
pada kolom Time/depth top) à Klik Apply (perhatikan kemenerusan
horizon pada Interpretation Window)
Jika sudah sesuai, klik OK.
75
4. Langkah shifting dilakukan berurutan dari line yang memotong line lain
yang sudah well-tie, lalu keyline, dan yang terakhir line-line yang
memotong keyline.
Interpretasi Horizon
7
8
Interpretasi Fault
2. Untuk memulai picking fault, nama fault yang mau di picking harus
diaktifkan terlebih dahulu, caranya:
79
Pada toolbar Input à Interpretation Fault à Klik nama fault yang mau
diaktifkan hingga tulisannya menjadi bold.
Untuk memulai picking fault , pada toolbar yang di kanan klik Interpret
Faults (F)
Setelah itu, baru mulai picking fault pada penampang seismik di
Interpretation window
8
0
3. Tahap pembuatan peta (Time Map, bukan time structure map yang
sudah meingkutsertakan sesar):
Pada toolbar Processes à Utilities à klik 2x Make/ edit surface
Ø Main input à Klik pada Input nama horison yang mau dibuat peta
à Kemudian klik tanda panah biru
Ø Boundary à Klik pada Input nama polygon yang membatasi à
Kemudian klik tanda panah biru
8
2
8
3
8
5
Isi nilai iterations dan filter width sesuai kemauan à klik (*) If
toggled, execution will create new objects … à RUN à Apply / OK
8
6
1. Double klik pada peta Top Formasi/ Top Surface pada toolbar Input,
87
1. Double klik polygon yang mau dihitung luasnya pada toolbar input
àOperations àCalculations à Kilk 1x Area and length à RUN à
akan tampil berapa luas polygon tersebut.
8
8
Apabila tidak muncul message log seperti pada gambar, maka perlu
diaktifkan:
View àMessage Log . Agar selalu muncul otomatis setiap kali klik
Run, hilangkan checklist pada “Don’t popup automatically”
dengan klik nama Time Map pada Input dan klik tanda di samping
Surface.
Nomor 2, isi dengan Well Tops, dengan klik nama Well Tops pada
9
0
3. Maka pada Models akan muncul Velocity Model yang dapat juga
ditampilkan dengan menggunakan 2D Window.
91
2. Klik kanan pada salah satu titik pada scatter diagram à Add Trendline
93
5. Pada tab Input Petrel, klik 1x peta time-nya, kemudian klik Menu Edit
à Copy, lalu klik lagi Edit à Paste, sehingga akan terbuat salinan
peta time-nya.
6. Klik kanan pada salah satu peta time tersebut yang akan dikonversi
menjadi depth à Calculator.
Masukkan rumus yang didapatkan dari Ms. Excel tadi misal sebagai
berikut:
Top_BRF=(0.0009*Copy_of_ Top_BRF * Top_BRF )+(2.2486*
Copy_of_Top_BRF)+ 170.55
Untuk memasukkan nama peta dapat diklik pada kolom Select Surface
Available
95
Jika sudah, klik Enter dan tutup Calculator (tekan Esc atau klik tanda X
pada windownya)
5. Klik 2x peta yang baru saja dikonversi pada toolbar Input .
Pada tab Info, ubah nama peta, sekaligus pilih domainnya menjadi
Elevation Depth.
Pada tab Colors, atur warna peta dengan klik panah Max dan panah
Min.
Klik Apply à OK
96
2. Pada bagian bawah tab Input akan muncul point hasil konversi
tersebut. Klik kanan à Export.
Beri nama dan pilih tipe file Irap Classic Point à Save pada lokasi
yang diinginkan dan mudah diakses.
97
3. Cari file hasil export tadi menggunakan Windows Explorer dan buka
dengan (Open with) Ms. Excel
4. Pada Excel akan terlihat bahwa data masih terdapat pada satu baris
dan tidak teratur. Untu mengaturnya, blok kolom pertama (klik kolom
“A”) à Klik Data à Klik Text to Column.
Klik Delimited à Next à Centang Space à Klik Next à Klik Finish.
98
5. Blok dan klik kanan pada baris pertama (baris “1”) à Klik Insert.
Masukkan label X, Y, dan Z.
X dan Y menunjukkan koordinat sedangkan Z menunjukkan nilai time
pada koordinat tersebut. Tampilannya akan menjadi sebagai berikut:
11. Pada jendela yang muncul, atur template menjadi Elevation Depth.
Klik OK
12. Membuat peta depth: menggunakan fitur Make Edit Surface, yaitu:
Pada Processes à Utilities à 2x klik Make Edit Surface.
Jika masih terdapat setting-an yang lama, klik pada Result Surface,
tekan Delete pada keyboard à Yes.
Pada Input, klik point pada Input yang baru saja di-import dari Excel à
Klik panah biru
101
Pada Boundary, klik polygon yang membatasi peta pada Input à Klik
panah biru
Pada tab Geometry à Grid size and position à Centang Automatic
(From input data boundary) à Pada Grid Increment, masukkan X
increment dan Y increment sesuai keinginan (Semakin kecil, semakin
detail, semakin lama runningnya)
Pada tab Algorithm à Method : Convergent interpolation à OK
13. Centang nama surface/ peta yang baru saja dibuat pada tab Input
untuk menampilkan peta. Atur tampilan peta pada menu Setting-nya
(2x klik pada surface di tab Input tersebut).
102
fungsi tool:
= menghaluskan kontur
= menghilangkan bagian yang menonjol pada peta
= menggeser ketinggian pada peta
= memunculkan tonjolan/ closure
Fault Modelling
Sebelum melakukan fault modeling, penting untuk memperhatikan
trend struktur di blok/ lapangan yang diteliti dengan mempelajari geologi
regional dan secara quick look terhadap penampang-penampang seismik
yang telah di-picking. Hal ini setidaknya memberikan gambaran dan batasan
saat interpretasi.
Cara 1:
Jika nama sesar antar penampang seismik sudah dalam 1 nama
dengan trend yang sama
1. Pastikan Fault Modelling pada Processes – Structural Modelling telah
aktif dengan klik 1x
2. Pada Input à Interpretation fault à klik kanan pada nama fault à klik
Convert to faults in fault model.
Pada kotak dialog yang muncul, klik OK.
Lakukan langkah ini terhadap semua fault hasil picking pada
Interpretation fault.
10
5
Cara 2:
Jika nama sesar antar penampang seismik belum dalam 1 nama/ trend
(pembuatan secara manual)
1. Pada toolbar Input à Interpretation fault à Centang semua nama fault
untuk ditampilkan pada 2D window
Pada toolbar Processesà Structural modelingà Klik 1x Fault
modeling
Pada toolbar di kanan, klik Add new pillar by one point à Baru
buat arah polygon sesar pada 2D window
10
6
2. Untuk menambah fault model baru, fault model lama harus di-non
aktifkan: Pada Models à Nama model à Fault model à Faults à klik
1x fault model lama sehingga tulisannya sudah tidak bold.
Kemudian ulangi langkah 1 untuk membuat fault model yang baru.
3. Membuat percabangan fault
Pada Models à Nama model à Fault model à Faults àAktifkan (klik
1x) nama fault yang mau dicabangkan à pada toolbar di kanan, klik
10
7
10
8
Pillar Gridding
Sebelum melakukan pillar gridding, pastikan Anda telah membuat
polygon boundary yang menunjukkan batas peta Anda (telah dibahas pada
subbab Pembuatan Peta)
11
1
2. Pada tab Faults, Atur Distance untuk mengatur offset kontur yang
tersesarkan/ jarak Footwall dan Hangingwall sesar.
11
2
Menampilkan Peta
1. Aktifkan Map Window: pada menubar Window à New map window
Pada tab Window, centang Map Window
Pada toolbar Models à Nama model à 3D grid à Centang Faults
dan peta yang ingin ditampilkan pada Horizons à Kemudian atur
posisi map window yang diinginkan dengan menggunakan klik tool
11
3
Maka surface peta akan ada pada tab Input dan dapat diatur tampilan-
nya pada menu Settings-nya (2x pada surface peta). Apabila akan
ditampilkan maka cukup dicentang salah satu saja (yang ada pada tab
Input ATAU yang ada pata tab Models à Nama model à 3D grid à
Horizons)
114
Legenda
warna
Axis peta
Scale
bar
11
5
Using different cross plotting techniques for various petrophysical parameters allows for a comprehensive evaluation of reservoir quality. For example, cross plots between porosity and gas flow rate, porosity and V-shale, and porosity and water saturation provide insights into different reservoir characteristics like permeability, effective porosity, and fluid saturation. These analyses enable tailored cut-off values for each parameter, providing a more accurate identification of productive zones and ensuring a multi-faceted approach to evaluating reservoir potential .
Well testing plays a critical role in validating cut-off parameters by providing empirical data on reservoir performance. The flow rates obtained during well tests (e.g., gas flow rates) help confirm the effectiveness of cut-off parameters like porosity and V-shale under real conditions. For instance, comparing test results with predicted values from cross plots ensures that the established cut-off values correctly identify productive zones, providing a feedback mechanism to adjust parameters if necessary .
Constructing a time structure map involves converting seismic reflection times into depth by accounting for velocity variations, displaying geological structures over time. This method involves creating horizons and faults polygons from seismic data, allowing visualization of structural complexities like folds and faults. Such a map is pivotal for reservoir development as it helps in identifying drilling locations and understanding subsurface geometry, thereby optimizing extraction strategies .
Determining a cut-off value for V-shale is crucial in hydrocarbon reservoir analysis because it helps identify the threshold below which shale content does not significantly impede fluid flow. It separates potential reservoir zones from non-productive zones. A higher shale volume can indicate lower permeability and potential non-productive zones. A cut-off value (like 0.35 or 35% in this document) ensures that only layers with less shale and higher permeability are considered viable for hydrocarbon production .
In reservoir analysis, gross sand refers to the entire thickness of a rock layer including both sand and shale content, whereas net sand represents only the clean sand portion with reduced or negligible shale. The differentiation impacts hydrocarbon extraction because net sand provides a more accurate estimate of the portion of the reservoir that can effectively store and transmit hydrocarbons. Calculating net sand is crucial for determining net pay, which indicates the productive layer of the reservoir .
Pillar gridding is crucial in structural modeling because it helps define the spatial boundaries and grid network of a reservoir model. This structured framework allows for the integration of geological features like faults and horizons within the model, ensuring accurate simulation of reservoir behavior. It aids in creating a detailed 3D representation, essential for reservoir performance forecasting and planning extraction techniques .
Fault modeling significantly influences reservoir simulation by delineating barriers and flow paths within a reservoir. Accurate fault representation allows for the modeling of compartmentalization and hydraulic communication between reservoir segments, impacting fluid flow and pressure distribution patterns. It is essential for planning well placements and optimizing recovery strategies, ultimately enhancing reservoir management by predicting and mitigating production complexities .
The cross plot between porosity and gas flow rate (Qg) helps determine the porosity cut-off by plotting these two variables and observing the trend line produced. The point at which porosity becomes economically significant for hydrocarbon production is identified as the cut-off. In this case, the cross plot reveals that a cut-off porosity value of 0.12 or 12% is appropriate, meaning only reservoirs with porosity greater than 12% are considered productive .
3D seismic data enhances interpretation by offering a detailed, continuous view of geological features, allowing for better visualization of complex structures compared to 2D data, which often requires extrapolation. Unlike 2D data that involves separate inline and crossline acquisition, 3D data provides a coherent dataset that reduces uncertainty, enabling accurate fault and horizon mapping crucial for effective reservoir modeling and characterization .
Water saturation cut-off values significantly impact reservoir assessment by distinguishing between economically viable and non-viable zones. A correct cut-off, like 60% saturation, helps identify zones with sufficient hydrocarbon presence, as high water saturation indicates potential bypassed oil and affects oil mobility and recoverability. Incorrect cut-off settings can lead to misclassification of productive zones, impacting the economic efficiency of reservoir exploitation .