Kezia Nuansa Aprilia
18/432439/PEK/23705
Chapter 2 WHY PEOPLE COMMIT FRAUD
Segitiga Fraud
Kecurangan meliputi:
1. Tekanan yang dirasakan
2. Peluang
3. Cara untuk merasionalisasikan kecurangan diterima
Faktor-Faktor Tekanan
1. Tekanan Keuangan, umumnya terkait dengan kecurangan yang menguntungkan pelaku
secara langsung. Hal ini meliputi:
Keserakahan
Hidup di luar kemampuan
Tagihan tinggi dan hutang pribadi
Tabungan yang buruk
Kerugian keuangan
Kebutuhan keuangan yang tidak terduga
2. Tekanan akibat kebiasaan buruk
3. Tekanan terkait pekerjaan
4. Tekanan lainnya
Faktor-Faktor Peluang
1. Kurangnya pengendalian untuk mencegah atau mendeteksi tingkah untuk melakukan
kecurangan.
Organisasi menetapkan kerangka kerja pengendalian internal dengan bantuan Committee
of Sponsoring Organizations (COSO). Terdapat 5 elemen COSO, dan 3 diantaranya
a) Lingkungan Pengendalian: suasana kerja di sebuah organisasi diciptakan untuk
karyawannya. Pengendalian lingkungan mempertimbangkan peran manajemen,
komunikasi manajemen, masalah perekrutan, struktur organisasi yang jelas, dan
departemen audit internal yang efektif.
b) Sistem Akuntansi: sistem akuntansi yang efektif akan membantu menemukan jejak
audit. Secara khusus, menemukan jejak kecurangan dan menemukan
penyembunyian yang sulit.
c) Aktivitas Pengendalian: organisasi yang memiliki banyak karyawan seharusnya
memiliki prosedur sehingga tindakan karyawan akan sama dengan tujuan
manajemen maupun tujuan pemilik. Selain itu, dengan adanya prosedur, peluang
untuk melakukan kecurangan dapat diminimalkan bahkan dieliminasi. Terdapat 5
prosedur utama dalam atktivitas pengendalian, antara lain:
Pemisahan tugas dan penugasan ganda. Pemisahan tugas melibatkan
pembagian tugas menjadi dua bagian sehingga salah satu orang belum
melengkapi tugas pengendalian. Penugasan ganda membutuhkan dua orang
untuk bekerja pada tugas yang sama.
Kezia Nuansa Aprilia
18/432439/PEK/23705
Sistem otorisasi. Prosedur ini memiliki banyak bentuk untuk mendapatkan
pengesahan, misalnya kata sandi yang memberikan otorisasi pada individu
agar dapat mengoperasikan komputer dan mengakses basis data tertentu.
Pemeriksaan independen. Teori mengenai prosedur ini, seseorang akan
mengetahui bahwa pekerjaan atau kegiatannya akan dimonitor oleh orang
lain sehingga peluang untuk melakukan dan menyembunyikan perbuatan
curang akan berkurang.
Perlindungan fisik. Hal ini sering dilakukan untuk melindungi aset dari
pencurian maupun cara lainnya. Untuk melindungi inventaris tersebut bisa
menggunakan lemari besi, brankas, pagar maupun kunci khusus.
Perlindungan ini dimaksudkan untuk mempersulit orang-orang tertentu
yang ingin mengakses aset.
Dokumen dan pencatatan. Elemen ini memuat catatan mengenai transaksi
maupun jejak audit lain. Dokumen jarang digunakan sebagai fungsi
pengendalian pencegahan kecurangan tapi dapat digunakan sebagai alat
bukti dan deteksi atas kecurangan. Tanpa dokumen, tidak akan ada
akuntabilitas. Tanpa akuntabilitas, jauh lebih mudah untuk melakukan
penipuan dan peluang tidak tertangkap.
2. Ketidakmampuan untuk menilai kualitas kinerja
Jika kita membayar seseorang untuk membangun agar, mungkin kita dapat memeriksa dan
menentukan kualitas dari pekerjaan orang tersebut apakah orang tersebut memenuhi
spesifikasi dan konsisten dengan kontrak yang telah disepakati sebelumnya.
3. Kegagalan untuk mendisiplinkan pelaku penipuan
Tingkat tertinggi pelanggar yang terus mengulangi kesalahan mungkin tidak mendapatkan
tindakan disiplioner maupun dituntut secara hukum. Seorang individu yang melakukan
peniupan dan tidak dihukum atau hanya diberhentikan begitu saja akan memiliki
kecenderungan untuk melakukan tindakan kecurangan. Apabila individu tersebut dituntut
untuk mempertanggungjawabkan kecurangan, maka individu itu akan menderita rasa malu
karena memiliki keluarga, teman dan rekan bisnis.
4. Kurangnya akses ke informasi
Banyak kecurangan yang boleh dilakukan karena korban tidak memiliki akses informasi
yang dimiliki oleh pelaku. Hal ini lazim untuk di beberapa negara, sehingga sering terjadi
kecurangan yang melibatkan manajemen besar terhadap pemegang saham, investor,
maupun pemegang hutang.
5. Ketidaktahuan, apatis, dan ketidakmampuan
Orang tua maupun individu yang mengalami kesulitan bahasa dan warga negara “rentan”
lainnya sering menjadi korban penipuan karena pelaku tahu bahwa orang tersebut mungkin
tidak memiliki kapasitas atau pengetahuan untuk mendeteksi tindakan illegal yang mereka
lakukan. Dalam beberapa kasus kecurangan ada yang disebut pigeon drops yaitu
memanfaatkan korban usia lanjut.
6. Kurangnya jejak audit
Organisasi berusaha keras untuk membuat dokumen yang akan memberikan jejak audit
sehingga transaksi bisa direkonstruksi dan dipahami. Banyak penipuan melibatkan
Kezia Nuansa Aprilia
18/432439/PEK/23705
pembayaran tunai atau manipulasi catatan yang tidak bisa ditelusuri. Pelaku kecurangan
pintar memahami bahwa kecurangan yang dilakukan harus disembunyikan dan melibatkan
manipulasi catatan keuangan.
Faktor-Faktor Rasionalisasi
Banyak orang melakukan kecurangan karena merasionalisasikan bahwa tindakan tidak jujur yang
kita lakukan sebagai tindakan yang benar agar tidak merasa bersalah.
Kecurangan Perekrutan
Berikut ini, bagaimana orang terlibat dalam penipuan sebagai hasil dari Segitiga Fraud, dan
mempengaruhi individu lain untuk berpartisipasi dalam tindakan kecurangan:
Kekuatan. Ketika terjadi kecurangan, konspirator memiliki keinginan untuk melakukan
kehendaknya sendiri dengan mempengaruhi orang lain untuk bertindak sebagai pelaku.
French dan Raven (1959) mengklasifikasikan Kekuatan menjadi lima variabel: reward
power, coercive power, expert power, legitimate power, referent power.
Reward power: kemampuan pelaku kecurangan meyakinkan calon korban bahwa
ia akan menerima manfaat tertentu apabila mau terlibat dalam skema kecurangan.
Coercive power: kemampuan pelaku kecurangan untuk membuat seseorang
menerima hukuman jika seseorang tidak mau berpartisipasi dalam kecurangan.
Expert power: kemampuan pelaku kecurangan untuk mempengaruhi orang lain
karena keahlian atau pengetahuan yang dimiliki.
Legitimate power: mengacu pada kemampuan pelaku kecurangan untuk
meyakunkan individu bahwa individu tersebut memiliki kekuasaan atas dirinya.
Referent power: kemampuan pelaku untuk berhubungan dengan konspirator
potensial.