Anda di halaman 1dari 73

EM 09.

006

SIMULASI RANGKAIAN PEWAKTU PADA ALAT

INFRA RED THERAPHY

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan

Program Diploma III Jurusan Teknik Elektromedik

Politeknik Kesehatan Jakarta II

Oleh :

ANDHIKA FARIZA

P2.31.3800.04.010

POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II


JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK
DEPARTEMEN KESEHATAN RI
JAKARTA
2009
PERNYATAAN KEASLIAN BUKU TUGAS AKHIR

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa buku tugas akhir dengan judul :

“SIMULASI RANGKAIAN PEWAKTU PADA ALAT


INFRA RED THERAPHY”

yang dibuat untuk melengkapi sebagian persyaratan menjadi Ahli Madya Teknik
Elektromedik pada Jurusan Teknik Elektromedik Politeknik Kesehatan Jakarta II,
sejauh yang saya ketahui bukan merupakan tiruan atau duplikasi dari buku tugas
akhir yang sudah dipublikasikan dan atau pernah dipakai untuk mendapatkan
jenjang diploma di lingkungan Politeknik Kesehatan Jakarta II maupun perguruan
tinggi atau instansi manapun, kecuali bagian yang sumber informasinya
dicantumkan sebagai mana mestinya.

Jakarta , 27 februari 2009

Andhika Fariza

P2 31 380 04 010
PERSETUJUAN

Buku tugas akhir dengan judul :

“SIMULASI RANGKAIAN PEWAKTU PADA ALAT


INFRA RED THERAPHY”

Dibuat oleh Andhika Fariza (P2 31 380 04 010) untuk melengkapi sebagian
persyaratan menjadi Ahli Madya Teknik Elektromedik pada Jurusan Teknik
Elektromedik Politeknik Kesehatan Jakarta II dan disetujui untuk diajukan dalam
sidang ujian akhir program.

Jakarta, 27 februari 2009

Dosen Pembimbing,

Ir. Budhiaji, MM

Nip. 140 159 333


PENGESAHAN

KETUA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO MEDIK


POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II
DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Dr. Ir.Hj.Rusmini Barozie,AIM,MM

Nip. 140074041

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb.
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
berkat dan karunia yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan
semua kegiatan perkuliahan di Jurusan Teknik Elektromedik. Dengan ijin dan
kemurahanNya maka penulis dapat mengerjakan penulisan buku tugas akhir ini
dan selesai pada waktu yang telah ditentukan .
Pada kesempatan ini, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati, penulis
ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu
penulis dalam menyelesaikan buku tugas akhir ini. Ucapan terima kasih ini
penulis sampaikan kepada :
1. Orang tua yang senantiasa menjadi inspirasi dan motivator.
2. Ibu Dr. Hj. Rusmini Barozie, AIM,MM selaku Ketua Jurusan Teknik
Elektromedik.
3. Ir. Budhiaji, MM selaku dosen pembimbing
4. Calon Istri yang selalu mensuport
Dan kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu,
biarlah Tuhan yang akan membalas kebaikan budi kalian, amin.
Akhir kata, penulis hanya berharap bilamana buku ini dapat berguna bagi
setiap yang membacanya.

Penulis

Andhika Fariza

P2 31 380 04 10

ABSTRAK
Anhika Fariza “Rancang Bangun Pesawat Infrared Theraphy Berbasis Mikrokontroler AT89C51”
bi bawah bimbingan iii + 81 halaman + 33 gambar + 10 tabel

Berdasarkan judul diatas, karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk membuat
alat Infra Red Theraphy yang dikontrol oleh Mikrokontroler AT89C51, sekaligus
mengetahui keakurasian dari alat dibuat.
Untuk mendapat hasil yang sesuai dengan tujuan penulisan, maka dalam
hal ini penulis menggunakan lima metode, yaitu Studi Literatur, perencanaan dan
pembuatan sistem modul, pembuatan program aplikasi, pengujian dan pendataan.
Penyusunan karya tulis ini sesuai dengan masalah yang dibahas.
Melalui pengujian dan pendataan diketahui bahwa pesawat aplikasi
Mikrokontroler AT89C51 pada alat Infra Red Theraphy tingkat keakurasian cukup
tinggi serta lebih mudah dalam melakukan penganalisaan.

BIODATA
Nama mahasiswa : Andhika Fariza
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 25 Oktober 1985
Alamat rumah : Jl. Semangka 1 No. 97 Rt 003/Rw 024
Perumnas 1 - Tangerang
Telepon rumah : 021-5917011
Telepon selular : 0856-91-9497-42
Alamat email : Andhika_fariza@yahoo.com
Riwayat sekolah : 1991 – 1992 : TK Al-Isti’qomah
1992 - 1998 : SDN Karawaci 15
1998 - 2001 : SMP Islamic Village
2001 - 2004 : SMAN 5 Tangerang
2004 - 2009 : Teknik Elektromedik

Jakarta, 27 februari 2009

Andhika Fariza

P2 31 380 04 010
DAFTAR ISI
DALAM SAMPUL i
PERNYATAAN KEASLIAN BUKU TUGAS AKHIR ii
PERSETUJUAN iii
PENGESAHAN iv
KATA PENGANTAR v
ABSTRAK vi
BIODATA vii
DAFTAR ISI viii
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR TABEL xii
DFTAR LAMPIRAN xiii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan Penulisan 2
1.3 Pembatasan Masalah 2
1.4 Metodelogi penelitian terapan 2
1.4.1 Studi literature 2
1.4.2 Teiori dasar 3
1.4.3 Perancangan 3
1.4.4 Uji coba 3
1.4.5 Penutup. 3
1.5 Sistematika Penulisan 3

BAB 2 TEORI DASAR


2.1 Gambaran Umum Pesawat 5
2.2 Sinar Infra Red 6
2.3 Aplikasi Medis Infra Red Theraphy 10
2.4 Mikrokontroler AT89C51 12
2.4.1 Perlengkapan dasar Mikrokontroler AT89C51 13
2.4.2 Arsitektur internal Mikrokontroler AT89C51 16
2.4.3 Fasilitas lain dari Mikrokontroler AT89C51 18
2.4.4 Timer/Counter 18
2.4.5 Konfigurasi kaki IC Mikrokontroler AT89C51 18
2.5 IC 74LS47 sebagai Dekoder BCD to seven segment 21
2.6 Seven segment 22
2.7 Transistor 23
2.7.2 Transistor dalam keadaan saturasi. 25
2.7.3 Transistor dalam keadaan cut off 25
2.8 Relay 26

BAB 3 PERENCANAAN
3.1 Perencanaan pesawat infra red theraphy 28
3.2 Perencanaan secara blok diagram 29
3.3 Perencanaan perangkat keras 30
3.3.2 Perencanaan rangkaian control 31
3.3.1 Perencanaan rangkaian Mikrokontroler AT89C51 32
3.3.3 Perencanaan rangkaian display 34
3.3.4 Perencanaan rangkaian Buzzer 34
3.4 Perencanaan perangkat lunak 35

BAB 4 PENDATAAN dan UJI FUNGSI


4.1 Persiapan Alat dan Bahan 37
4.1.1 Persiapan Bahan 37
4.1.1.1 Rangkaian mikrokontroler 37
4.1.1.2 Rangkaian seting 38
4.1.1.3 Rangkaian display dan buzzer 38
4.1.1.4 Rangkaian lampu 38
4.1.2 Persiapan Alat 39
4.2 Pengujian 39
4.2.1 Pengujian perangkat keras 39
4.2.1.1 Pengukuran rangkaian 39
Mikrokontroler AT89C51 40
4.2.1.2 Pengujian rangkaian Display 41
pewaktu
4.2.2 Pengujian hasil akhir

BAB 5 PENUTUP
Kesimpulan 43
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Alat Infra Red Theraphy 6


Gambar 2.2 Diagram struktur yang menunjukan penyerapan sinar infra red 7
Gambar 2.3 Persentase daya serap sinar infra red terhadap kulit 8
Gambar 2.4 Osilator Internal Mikrokontroler AT89C51 17
Gambar 2.5 Konfigurasi Pin-pin Pada Mikrokontroler AT89C5 18
Gambar 2.6 Konfigurasi kaki IC 74LS47 21
Gambar 2.8 Rangkaian Common emiter 24
Gambar 2.9 Garis beban daerah kerja transistor 24
Gambar 2.10 Rangkaian transistor dalam keadaan saturasi 25
Gambar 2.11 Rangkaian transistor dalam keadaan cut off 25
Gambar 2.12 Skematik Relay 26
Gambar 3.1 Diagram blok rangkaian pesawat infra red theraphy 29
Gambar 3.2 Rangkaian kontrol 31
Gambar 3.3 Rangkaian osilator 32
Gambar 3.4 Port yang digunakan pada Mikrokontroler 33
Gambar 3.5 Rangkaian Display 34
Gambar 3.6 Rangkaian Buzzer 35
Gambar 3.7 Diagram alur Infra Red Therapy 36

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tabel Kebenaran IC 74LS47 22


Tabel 2.2 Format Display Seven Segment. 23
Tabel 3.1 Penggunaan Port pada Mikrokontroler AT89C51 33
Tabel 4.1 Daftar Komponen Rangkaian mikrokontroler 37
Table 4.2 Daftar Komponen Rangkaian Seting 38
Table 4.3 Daftar Komponen Rangkaian Display dan Buzzer 38
Table 4.4 Daftar Komponen Rangkaian Lampu 38
Tabel 4.5 Pengukuran Mikrokontroler AT89C51 dari TP1 sampai TP4 40
Tabel 4.6 Hasil pengukuran Mikrokontroler AT89C51 TP5 dan TP6 40
Tabel 4.7 Tabel Pengujian Timer pada Rangkaian Keseluruhan 41
Tabel 4.8 Fungsi Tombol 42
DAFTAR LAMPIRAN
44
Daftar Pustaka 45
Gambar rangkaian Infra Red Theraphy 46
Program Mikro 52
Datasheet AT89C51 mikrokontroler 56
Datasheet IC74LS47 59
Datasheet Transistor C945 (NPN) 60
Datasheet Transistor C9015 (PNP) 61
Philips Infraphil terapi Infra Red
BAB 1

PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang
Bidang kesehatan merupakan salah satu bidang yang menjadi prioritas
dalam tujuan pembangunan nasional bangsa Indonesia, dimana sasaran utama
yang ingin dicapai dalam bidang kesehatan ini adalah tercapainya kehidupan
yang sehat jasmani maupun rohani, bagi setiap penduduk Indonesia.

Peningkatan dalam bidang kesehatan ini tidak terlepas dari peran serta
tenaga kesehatan sebagai Sumber Daya Manusia dalam memberikan
pelayanan di Rumah Sakit. Selain itu, diperlukan pula peralatan-peralatan
kedokteran yang menunjang pelayanan kesehatan yang lebih praktis dan aman
dalam penggunaannya.
Demikian pula halnya dengan kebutuhan dan tuntutan akan mutu
pelayanan kesehatan membuat manusia terus mengembangkan peralatan
kesehatan yang dibutuhkan. Pada awalnya peralatan kesehatan menggunakan
sistem manual, dan terus dikembangkan hingga kini telah banyak
menggunakan sistem komputerisasi. Hasil perkembangan peralatan kesehatan
ini tentunya sangat mempermudah tenaga-tenaga medis pemeriksaan maupun
proses terapi terhadap suatu penyakit.

Dalam praktek penggunaan alat-alat kedokteran, khususnya di bagian


fisiotheraphy yang sering kali memanfaatkan pancaran cahaya yang dihasilkan
oleh suatu alat. Pancaran yang diberikan harus terfokus pada subjek yang
dikenai sinar agar diproleh hasil yang baik. Agar tercapai, maka diciptakanlah
alat yang mampu memberikan semua kebutuhan tersebut adalah Infra Red
Theraphy.

Dalam penggunannya alat ini mudah dan cepat cara pengoperasiannya.


Alat ini dilengkapi dengan pengaturan lamanya waktu penyinaran yang
divisualisasikan pada tampilan berupa seven segment. Modul ini
memanfaatkan teknologi Mikrokontroller AT89C51 sebagai pengawasan
display dan pengaturan tombol settingan. Dari penjelasan diatas maka penulis
ingin membuat alat yang mampu memberikan kebutuhan tersebut, maka karya
tulis ilmiah ini diajukan dengan judul :

“SIMULASI RANGKAIAN PEWAKTU PADA ALAT


INFRA RED THERAPHY”

1. 2. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan karya tulis ini adalah untuk membuat modul Infra Red
Theraphy, termasuk di dalamnya analisa alat serta mengetahui tingkat
keakurasian dari alat yang saya buat, merancang serta memodifikasi Infra Red
Theraphy, mempelajari dan memahami baik secara teori maupun praktek
keakuratan rangkaian Infra Red Theraphy. Selain itu tujuan penulisan karya
tulis ilmiah ini adalah untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan
pendidikan di Politeknik Kesehatan Jakarta II Jurusan Teknik Elektomedik.

1. 3. Pembatasan Masalah
Dalam penyusunan Karya Ilmiah ini, penulis menyajikan karya tulis
berdasarkan Infra Red Theraphy yang dibuat yaitu dengan spesifikasi alat
berbasis Mikrokontroler AT89C51 serta pengaturan waktu maksimum sampai
dengan 60 menit. Hal ini dimaksudkan agar tidak menjadi kerancuan dan
pelebaran masalah didalam penyajian dan pembahasan kerya tulis nanti.

1. 4. Metodologi Penelitian Terapan


Dalam penyusunan karya tulis ini, metode yang dipergunakan adalah
sebagai berikut :

1.4.1 Studi Literatur


Mencari buku-buku dan bahan tulisan dari sumber literatur yang ada dan
yang berhubungannya dengan karya tulis ini.

1.4.2 Studi Lapangan


Mencari tentang teori dasar gambaran alat Infra Red theraphy, maupun
aplikasi ke bidang medis.
1.4.3 Perancangan
Yaitu dengan menentukan komponen-komponen dan cara membuat
modul sesuai dengan rancangan perangkat keras dan perangkat lunak yang
ada.
1.4.4 Pembuatan
Yaitu merealisasikan dari hasil perancangan dengan kata lain membuat
gambar rangkaian serta merangkai suatu komponen menjadi sebuah modul.
1.4.5 Uji coba
Melakukan pengukuran terhadap alat serta kerja fungsi tombol pada
modul yang telah dibuat.
1.4.6 Penulisan
Berisi kesimpulan dari pembahasan secara keseluruhan.

1. 5. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dan mempelajari serta memhami karya tulis ini
penulis menyajikan karya tulis ini jadi beberapa bab, yaitu :

BAB 1 : PENDAHULUAN
Menguraikan secara jelas dan singkat mengenai fungsi dari
alat infra red theraphy, latar belakang masalah, pembatasan
masalah, tujuan penulisan, sistematika penulisan dan
definisi istilah.

BAB 2 : DASAR TEORI


Menjelaskan dasar-dasar teori yang menunjang
pembahasan sehingga dapat mempermudah pemahaman
terhadap isi karya tulis.

BAB 3 : PERENCANAAN
Menjelaskan dan menerangkan bagian-bagian dari
rangkaian yang akan dibuat dan memberikan secara umum
tentang cara kerja alat.

BAB 4 : PENGUJIAN
Menyajikan beberapa data pengukuran terhadap titik
pengukuran yang menunjang dalam penulisan dan analisa
data antara teori dan kenyataan.

BAB 5 : PENUTUP
Membuat kesimpulan dari pembahasan secara keseluruhan
sesuai dengan tujuan pembuatan modul dan karya tulis
ilmiah ini. Sekaligus menutup karya tulis ini.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB 2

TEORI DASAR

2.1 Gambaran Umum Infra Red Theraphy


Di dalam fisiotheraphy, sering kali memenfaatkan pancaran cahaya,
salah satunya adalah alat infra red theraphy. Infra Red Theraphy adalah alat
medis yang digunakan sebagai terapi terhadap suatu penyakit. Terapi infra red
adalah pengobatan dengan sinar infra red yang dapat meningkatkan proses
penyembuhan, dengan cara merangsang fungsi sel-sel sehingga metabolisme
sel berjalan lebih baik. Terapi ini bersifat fisioterapi, maksudnya adalah
pengobatan yang dilakukan secara fisik dengan memanfaatkan pancaran yang
dihasilkannya.
Selain mengahasilkan panas, arus listrik yang melalui filamen lampu
pada infra red theraphy ini juga menghasilkan infra red sebanyak (95%),
cahaya spektrum tampak (sebanyak 4,8%) dan sedikit ultraviolet
(sebanyak0,1%). Filament pada tabung lampu biasanya terbuat dari bahan
tungsten. Tabung lampu dapat berisi gas inert dengan tekanan rendah. Bagian
depan tabung lampu terdapat lapisan untuk memfilter cahaya tampak pendek
dan sinar ultraviolet.
Infra Red Theraphy dengan daya 150-250W. biasanya digunakan untuk
terapi pada daerah belakang tubuh, perut dan kedua kaki. Sedangkan daya 60-
150 W, untuk daerah wajah, pundak, tangan dan persendian tulang. Khusus
untuk daerah wajah, mata pasien harus dilindungi menggunakan bahan yang
dapat memantulkan cahaya karena sinar Infra Red yang mengenai mata dapat
menyebabkan penyakit katarak.

Gambar 2.1
Alat Infra Red Theraphy
Pada gambar 2.1 yang diatas menunjukan alat infra red theraphy yang
sebenarnya atau alat yang ada di Rumah Sakit. Tetapi alat yang tampak pada
gambar 2.1 yang hanya menggunakan switch ON / OFF, tidak menggunakan
seting timer.
Jarak antara lampu infra red dengan pasien umumnya antara 50-75 cm,
sedangkan untuk pasien dengan luka syaraf (neuritis) jaraknya diperjauh
sekitar ±1 atau ½ kali jarak umumnya. Lampu diposisikan berhadapan dan
tegak lurus dengan daerah yang akan disinari untuk menjamin penyerapan
yang maksimal.
Lamanya waktu terapi dengan alat ini tergantung dari sensitivitas kulit
pasien terhadap derajat panas, jenis penyakit yang diderita pasien dan
besarnya daya atau watt lampu yang digunakan.

2.2 Sinar Infra Red


Yang dimaksud dengan Sinar Infra Red adalah gelombang
elektromagnetik yang mempunyai panjang gelombang antara 770-400.000
nm. Sinar ini pertama kali ditemukan oleh Herscel pada tahun 1839.
Kecepatannya konstan, sama seperti gelombang-gelombang elektromagnetik
lainnya sekitar 3 × 108 m (300.000 km) perdetik, yaitu kecepatan cahaya.
Berdarsarkan klasifikasinya gelombang sinar infra red dibagi menjadi 2
menurut panjang gelombangnya, yaitu :
1. Gelombang Panjang (long wave)
Dengan panjang gelombang di atas 1.200 nm sampai dengan 15.000 nm.
Daya penetrasi ini hanya sampai pada lapisan superficial epidermis saja,
yaitu sekitar 0,5 mm.
2. Gelombang Pendek (short wave)
Dengan panjang gelombang antara 770 nm sampai dengan 1.200 nm. Daya
penetrasi lebih dalam dari yang golombang panjang. Yaitu sampai jaringan
sub cutan kira-kira dapat mempengaruhisecara langsung pembuluh darah
kapiler, pembuluh lymphe, ujung-ujung saraf dan jaringan-jaringan lain
dibawah kulit.
Gambar 2.2
Diagram struktur kulit yang menunjukan area penyerapan sinar infra red
Keterangan gambar :
Gambar 2.2 diatas menunjukan sebuah area pada jaringan tersebut sinar
infra red dapat diserap secara optimal. Dapat dilihat pada gambar bahwa sinar
infra red dapat menembus jaringan kulit mulia dari lapisan teratas (epidermis)
yaitu lapisan terluar dari kulit dimana terdapat pori-pori (kapiler) keringat dan
kemudian juga mempengaruhi bagian-bagian yang lebih dalam, yaitu organ-
organ persyarafan di bawah kulit yang berfungsi untuk merasakan derajat
panas pada saat proses terapi, pembuluh-pembuluh darah, kelenjar keringat
dan jaringan kulit sampai dengan pada lemak (fat).
Gambar 2.3
Persentase daya serap sinar infra red terhadap kulit
Keterangan gambar :
1. A-Radiasi dari lampu berfilamen tungsten
2. B-Radiasi dari lampu berfilamen iron
3. Gambar diatas menunjukan bahwa total dari keseluruhan sinar
infra red yang dipancarkan 34% nya dipantulkan oleh lapisan kulit
terluar sedangkan 66% nya diserap oleh jaringan tubuh mulai dari
lapisan stratum corneum sampai dengan lapisan pembuluh-pembuluh
darah dan syaraf. Penyerapan maksimum terjadi pada lapisan teratas
kulit (stratum corneum), dengan kata lain bahwa sinar infra red
menyerap kuat pada jaringan 0,5 mm dibawah kulit.
Berikut ini adalah acuan standar pengoperasian alat infra red therapy
Indikasi : 1. Kondisi sehabis trauma sub akut atau kronoik.
2. Kondisi peradangan sub akut dan kronik.
3. Kondisi kelumpuhan/kelayuhan/nyeri urat saraf atau tepi.
4. Kondisi ketegangan otot dan nyeri.
5. Kondisi luka superfisiil kronik dengan teknik khusus.
Dosis : Pengulangan sub akut 1 x 1 hari, kronik 1 x 2 hari.
Waktu : 10 – 20 menit.
Teknik aplikasi untuk indikasi no 1, 2, 3, 4 dan 5.
1. Posisi penderita tidur atau duduk senyaman mungkin, kemudian
bagian yang akan disinar diganjal dengan bantal.
2. Bagian yang akan disinari dibebadkan dari pakaian, kemudian kulit
dicuci dengan sabun lau dilap sampai kering, bagian tubuh yang
tidak disinari ditutup dengan handuk.
3. tes perasaan kulit terhadap panas atau dingin
4. lampu dihidupkan, diatur sehingga jarak lampu ke kulit 45-60 cm,
sinar jatuh tegak lurus ke kulit, bila keluar keringat dilap sampai
kering.
5. apabila setelah terapi penderita mengalami pusing, tidurkan dahulu
sampai pusingnya hilang
6. khusus indikasi no. 5, penyinaran diberitahukan pada kulit sekitar

2.3 Aplikasi medis Infra Red Theraphy


Sebelum melakukan proses terapi harus dilakukan pengetesan rasa kulit
terhadap derajat panas, karena bisa jadi kulit pasien kurang sensitif atau
bahkan jaringan kulitnya kebal (dikarenakan adanya jaringan kulit yang rusak
atau mati) sehingga nantinya hasil terapi tidak akan sempurna karena panas
tidak terbawa dengan cepat dan proses vasodilatasi (pelebaran pembuluh
darah yang menyebabkan peningkatan aliran darah) akan lambat. Namun hasil
terapi yang kurang sempurna juga didapat oleh pasien jika vasomotor respon
pasien lebih lemah dari keadaan normalnya. Proses pengetesan ini
berlangsung kira-kira lima menit, kemudian dilanjutkan pada proses terapinya.
Efek-efek yang ditimbulkan akibat dari penggunaan infra red theraphy
dalam pengobatan penyakit antara lain sebagai berikut :
1. Efek fisiologis :
1. Meningkatkan proses metabolisme.
Proses metabolisme tarjadi pada lapisan superficial kulit akan meningkat
sehingga pemberian oxigen dan nutrisi kepada jaringan kulit lebih
diperbaiki.
2. Vasodilatasi pembuluh darah.
Dilatasi pembuluh darah kapiler dan arteriolae akan terjadi segera
setelah penyinaran, sehingga kulit tampak kemerah-merahan.
3. Pigmentasi
Penyinaran yang berulang-ulang dengan sinar infra red dapat
menimbulkan pigmentasi pada tempat yang disinari.
4. Pengaruh terhadap urat saraf sensorik.
Pemanasan yang ringan mempunyai pengaruh sedatif terhadap ujung-
ujung urat saraf sensorik, sedangkan pemanasan yang keras jurtru dapat
menyebabkan iritasi.
5. Pengaruh terhadap jaringan otot.
Kenaikan temperatur disamping membantu terjadinya relaksasi juga bisa
meningkatkan kemampuan oto untuk berkontraksi.
6. Destruksi jaringan.
Destruksi jaringan ini bisa terjadi apabila penyinaran yang diberikan
menimbulkan kenaikan temperatur yang cukup tinggi dan berlangsung
dalam waktu yang lama.
7. Menaikan temperatur tubuh.
Hal ini dapat terjadi oleh karena penyinaran akan memanasi darah dan
jaringan yang berada di daerah superficial kulit yang kemudian
diteruskan keseluruh tubuh.
8. Mengaktifkan kerja kelenjar keringat.
Pengaruh rangsangan panas yang dibawa ujung-ujung saraf sensorik
dapat mengaktifkan kerja kelenjar keringat, bagian daerah yang disinari
2. Efek teraputik :
1. Mengurangi rasa sakit.
Penyinaran sinar infra red merupakan salah satu cara yang efektif untuk
mengurangi rasa sakit.
2. Reaksasi otot.
Relaksasi akan mudah dicapai bila jaringan otot tersebut dalam keadaan
hangat.
3. Meningkatkan suplay darah.
Adanya kenaikan temperatur akan menimbulkan vasodilatasi, yang akan
menyebabkan peningkatan darah kejaringan setempat.
4. Menghilangkan sisa-sisa hasil metabolisme.
Penyinaran di daerahyang luas akan mengaktifkan kelenjar keringat di
seluruh tubuh.
Penghentian ataupun peninjauan kembali proses penyinaran dapat
dilakukan apabila ditemukan efek samping dari terapi sinar infra red tersebut,
seperti dehidrasi tingkat pulsa jantung menjadi tidak stabil, sakit kepala
(kelainan pada kulit) dan sebagainya. Untuk menstabilkan tekanan darah yang
jatuh akibat proses penyinaran, maka seorang pasien harus beristirahat sekitar
± 20 - 40 menit.

2.4 MIKROKONTROLER AT89C51


Mikrokontroler AT89C51 pada infra red theraphy ini merupakan system
pengendali dari keseluruhan system, karena setiap subsistem akan memberi
dan menerima sinyal dari CPU. Mikrokontroler AT89C51 dapat dikatakan
sebagai CPU karena didalamnya sudah terdapat Mikroprosessor, ROM, RAM
dan I/O interface.
Catu daya yang dibutuhkan oleh mikrokontroler AT89C51 sebesar +5 V
dan sudah mempunyai rangkaian osilator internal dan rangkaian pewaktu,
memiliki memori maksimum sebesar 64 Kbte, RAM internalnya mencapai
128 byte (on chip), mikrokontroler AT89C51 juga memiliki I/O secara internal
yaitu sebanyak empat I/O. Mikrokontroler juga memiliki jalur interupsi.
Secara umum keistimewaan yang dimiliki oleh Mikrokontroler AT89C51
adalah :
a. Sebuah CPU 8 bit.
b. Compatible dan berstandart MCS-51.
c. 4 Kbyte reprorammeble flash memory (On-Chip).
d. Kapasitas RAM sebesar 128 byte untuk memori data pada chip.
e. Frekuensi clock 0 Hz – 12 MHz.
f. Kapasitas memori program eksternal sebesar 64 Kbyte.
g. Kapasitas memori data eksternal sebesar 64 Kbyte.
h. RAM internal 128 byte.
i. Supply +5

2.4.1 Perlengkapan Dasar Mikrokontroler AT89C51


Perlengkapan dasar dari mikrokontroler AT89C51 adalah sebagai berikut
:
2.4.1.1 Data
Setiap proses kerja dari dan ke mikrokontroler mempunyai data dalam
bentuk bilangan biner yang diperlukan untuk proses kerja tersebut. Data ini
merupakan hasil kombinasi dari bit-bit yang dihasilkan dalam pengoperasian
komponen-komponen digital. Kesatuan dari saluran data disebut bus data.
2.4.1.2 Alamat
Suatu alat apabila hendak difungsikan dengan menggunakan
mikrokontroler, maka harus kita tentukan terlebih dahulu alamat (address)
dari alat tersebut pada mikrokontroler tersebut. Hal ini bertujuan untuk
menghindarkan terjadinya dua alat yang bekerja secara bersamaan yang
mungkin dapat menyebabkan kerusakan atau kesalahan dalam
pengoperasiannya. Kesatuan dari saluran alamat disebut bus alamat.

2.4.1.3 Pengendali
Mikrokontroler dilengkapi dengan bus pengendali (control bus) yang
berguna untuk menyerempakkan operasi mikrokontroler dengan operasi
rangkaian luar.
2.4.1.4 Central Processing Unit (CPU)
CPU ini terdiri dari dua bagian, yaitu unit pengendali (control unit)
dan Aritmatic Logic Unit (ALU). Fungsi utama dari pengendali adalah
mengambil, mengkode dan melaksanakan urutan instruksi sebuah program
yang tersimpan dalam memori.
Unit ini mengatur urutan operasi seluruh sistem, mengatur urutan
operasi dengan menghasilkan sinyal pengendali dan mengatur serta
menghasilkan sinyal pengendali yang diperlukan untuk menyerempakan
operasi dari instruksi program. Sedangkan ALU berfungsi mengolah
operasi aritmatika dan logika.
2.4.1.5 Memori
Suatu sistem mikrokontroler memerlukan memori sebagai tempat
penyimpanan program dan data. Dalam hal ini memori terbagi atas dua
jenis, yaitu RAM (Random Access Memory) dan ROM (Read Only
Memory).
RAM merupakan memori yang dapat dibaca dan ditulis, sehingga
hanya dapat digunakan sebagai memori data karena akan hilang apabila catu
dayanya putus. Sedangkan ROM merupakan jenis memori yang hanya dapat
dibaca saja dan data di dalamnya tidak akan hilang meskipun catu dayanya
terputus, karena itu memori ini cocok untuk menyimpan program.
2.4.1.6 Masukan atau Keluaran (I/O)
Sering juga disebut (Input/Output). Berfungsi untuk melakukan
hubungan dengan piranti dari luar sistem. Pada mikrokontroler AT89C51
tersedia dua macam I/O, yaitu UART (data serial) dan PI/O (data parallel).
UART merupakan alat yang mengubah masukan serial menjadi keluaran
paralel dan PIO mengubah masukan paralel menjadi keluaran serial.

2.4.1.7 Register Fungsi Khusus


Register fungsi khusus (Special Function Register, SFR) terletak
pada 128 byte bagian atas memori internal. Wilayah SFR ini terletak pada
alamat 80H sampai FFH.Register-register ini hanya dapat di akses dengan
pengalamatan langsung baik perbit maupun perbyte.

Beberapa kegunaan register fungsi khusus, yang penting dijelaskan


sebagai berikut :
1. Accumulator (ACC)
Accumulator ACC merupakan register untuk pin tambahan dan
pengurangan. Perintah menemonic untuk mengakses akumulator
disederhanakan sebagai regiter A.
2. Program Status Word (PSW)
Program status word adalah sebuah register yang menyimpan
status dari proses pada unit aritmatika dan logika (ALU). Berikut ini
adalah setiap bit dalam register PSW :
a. Flag Carry
b. Flag Auxilliary Carry
c. Flag 0
d. Bit Pemilih Register Bank
e. Flag Overflow
f. Bit Pariti
3. Stack pointer
Stack Pointer merupakan sebuah register 8 bit yang terletak
dialamat 81H. Isi dari Stack Pointer ini merupakan aalamat dari data
yang disimpan distack. Stack Pointer dapat diedit atau dibiarkan saja
mengikuti standar sesudah terjadi reset.
Data yang terakhir tersimpan pada proses penyimpanan data ke
stack merupakan data yang pertama kali diambil keluar pada proses
pengambilan data dari stack. Proses yang berhubungan dengan stack ini
biasa dilakukan oleh instruksi-instruksi Push, Pop, Acall dan Lcall.

4. Data Pointer
Data Pointer atau DPTR merupakan register 16 bit dan terletak
pada alamat 82H untuk DPL dan 83H untuk DPH. DPTR biasa
digunakan untuk mengakses source code ataupun data yang terletak di
memori eksternal.
5. Register B
Register B digunakan bersama accumulator berfungsi untuk proses
aritmatik atau melaksaankan opaerasi perkalian dan pembagian. Selain
itu register B juga bisa difungsikan sebagai register biasa.
6. Register Port Serial
AT89C51 mempunyai sebuah on chip serial port (Port Serial di
dalam keping) yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan
peralatan lain yang menggunakan serial port juga seperti modem, shift
register dan lain-lain.
Buffer (penyangga) untuk proses pengiriman maupun pengambilan
data terletak pada register SBUF, yaitu pada alamat 99H. sedangkan
untuk mengatur mode serial dapat dilakukan dengan mengubah isi dari
SCON yang terletak pada alamat 98H.
7. Register Timer
AT89C51 mempunyai dua buah 16 bit timer/counter, yaitu Timer 0
dan Timer 1.
8. Register Interupsi
AT89C51 mempunyai lima buah interupsi dengan dua level
prioritas interupsi. Interupsi akan selalu nonaktif setiap kali sistem di-
reset. Register-register yang berhubungan dengan interrupt adalah
Interrupt Enable Register (IE) dan Interrupt Priority Register (IP).
9. Register Kontrol Power
Register ini terdiri atas SMOD yang digunakan untuk melipat
dua baud rate dari port serial, dua buah bit untuk flag fungsi umum pada
bit ketiga dan bit kedua, Power Down (PD) bit dan Idle (IDL) bit.

2.4.2 Arsitektur Internal Mikrokontroler AT89C51


2.4.2.1 Sistem Interupsi
Apabila CPU pada mikrokontroller AT89C51 sedang mengeksekusi
suatu program, Pelaksanaan program pada mikrokontroler AT89C51 dapat
dihentikan dengan menggunakan perintah interupsi. Mikrokontroler
AT89C51 memiliki sistem interupsi yang berasal dari lima sumber, yaitu :
dua interupsi eksternal melalui pin INT0 dan INT1, dua interupsi pewaktu
dan sebuah interupsi serial. Masing-masing sumber interupsi dapat
diaktifkan dan dimatikan secara individual atau dengan menolkan bit-bit
IE (Interrupt Enable) dalam SFR (Special Function Register).
Untuk mempercepat dan mempermudah proses pengolahan suatu
instruksi pada mikrokontroler AT89C51, maka dilakukan pengelompokkan
instruksi. Pengalamatan instruksi tersebut dapat dikelompokkan sebagai
berikut :

a. Pengalamatan langsung (Direct Addressing)


b. Pengalamatan tak langsung (Indirect Addressing)
c. Instruksi-intruksi Register
d. Instruksi-instruksi Register Khusus
e. Konstanta Segera (Immediate Constant)
f. Pengalamatan terindeks
2.4.2.2 Register Serba Guna (General Purpose Register)
Disamping memori data, mikrokontroler AT89C51 juga mempunyai
memori RAM berupa register untuk fungsi khusus dengan kapasitas 128
byte.
RAM internal sebesar 128 byte ini terdiri dari 32 byte paling bawah
yang dikelompokkan menjadi empat, yang masing-masing terdiri dari
delapan buah register serbaguna. Program dapat mengakses register-
register tersebut sesuai dengan assemblernya, yaitu R0 sampai R7.
2.4.2.3 Port I/O (Input/Output)
Fasilitas I/O yang disediakan oleh AT89C51 adalah 32 jalur port,
yang selanjutnya dibagi menjadi empat port dengan lebar jalur data 8 bit.
Masing-masing port tersebut bersifat bidireksional atau dua arah yang
dapat digunakan sebagai masukan maupun keluaran.
2.4.2.4 Osilator Internal ( On Chip Ocillator)
Mikrokontroler AT89C51 dilengkapi dengan osilator internal (On
Chip Oscillator) yang dapat digunakan sebagai clock bagi CPU. Untuk
menggunakan osilator internal diperlukan sebuah kristal antara XTAL 1
(X1) dan XTAL 2 (X2) yang diparalel dengan dua buah kapasitor ke
ground.

XTAL 1

Cap

XTAL

Cap XTAL 2

Gambar 2.4
Osilator Internal Mikrokontroler AT89C51
2.4.3 Fasilitas lain pada Mikrokontroler AT89C51
Pada Mikrokontroler AT89C51 terdapat sebuah lock bit yang
berfungsi untuk menjaga keamanan dari data yang tersimpan pada
EEPROM internal AT89C51. Lock bit akan menolak seluruh akses elektrik
yang berasal dari luar, sehingga data dari EEPROM internal tidak dapat
dibaca atau dicopy dari luar.
Untuk melakukan pengosongan dan pengisian data kembali, maka
alat pengisi program akan menon-aktifkan lock bit dan mengembalikan
fungsi mikrokontroler AT89C51 sepenuhnya sehingga dapat diprogram
kembali.
2.4.4 Timer / Counter
Mikrokontroler AT89C51 mempunyai 2 buah register Timer/Counter
16 bit yaitu Timer 0 dan Timer 1. Keduanya dapat beroperasi sebagai
Timer/Counter. Kedua Timer/Counter ini mempunyai 4 mode operasi,
yaitu : Mode 0, Mode 1, Mode 2, Mode 3.

2.4.5 Konfigurasi kaki Mikrokontroler AT89C51


1 40
2 P 1 .0 VC C
3 P 1 .1 39
4 P 1 .2 P 0 .0 /A D 0 38
5 P 1 .3 P 0 .1 /A D 1 37
6 P 1 .4 P 0 .2 /A D 2 36
7 P 1 .5 P 0 .3 /A D 3 35
8 P 1 .6 P 0 .4 /A D 4 34
P 1 .7 P 0 .5 /A D 5 33
9 P 0 .6 /A D 6 32
R ESET P 0 .7 /A D 7
10 31
11 P 3 .0 /R XD E A /V P P
12 P 3 .1 /TXD 30
13 P 3 .2 /IN T 0 A L E /P R O G
14 P 3 .3 /IN T 1 29
15 P 3 .4 /T0 PSEN
16 P 3 .5 /T1 28
17 P 3 .6 /W R P 2 .7 /A 1 5 27
P 3 .7 /R D P 2 .6 /A 1 4 26
18 P 2 .5 /A 1 3 25
XTA L2 P 2 .4 /A 1 2 24
19 P 2 .3 /A 1 1 23
XTA L1 P 2 .2 /A 1 0 22
20 P 2 .1 /A 9 21
G N D P 2 .0 /A 8

AT89C 51
Gambar 2.5
Konfigurasi Pin-pin Pada Mikrokontroler AT89C51

2.4.5.1 Pin 1 - 8
Ini adalah port 1 yang merupakan saluran/bus I/O 8 bit dua arah.
Dengan internal pull up yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.
Pada port ini juga digunakan sebagai saluran alamat pada saat
pemrograman dan verifikasi.
2.4.5.2 Pin 9
Merupakan masukan reset (aktif tinggi), pulsa transisi dari rendah ke
tinggi akan mereset mikrokontroler ini.
2.4.5.3 Pin 10 - 17
Ini adalah port 3 yang merupakan saluran/bus I/O 8 bit dua arah
dengan internal pull up yang memiliki fungsi pengganti. Selain itu
sebagian dari port 3 dapat berfungsi sebagai sinyal kontrol pada saat
proses pemrograman dan verifikasi
2.4.5.4 Pin 18 dan 19
Ini merupakan masukan ke penguat osilator berpenguat tinggi. Pada
mikrokontroler ini memiliki seluruh rangkaian osilator yang diperlukan
pada serpih yang sama (on chip) kecuali rangkaian kristal yang
mengendalikan frekuensi osilator. XTAL 1 sebagai input inverting osilator
amplifier dan input ke rangkaian internal clock sedangkan XTAL 2
merupakan output inverting osilator amplifier.
2.4.5.4 Pin 20
Merupakan ground sumber tegangan yang diberi simbol GND.
2.4.5.5 Pin 21 - 28
Ini adalah port 2 yang merupakan saluran/bus I/O 8 bit dua arah
dengan internal pull up. Saat pengambilan data dari program memori
eksternal atau selama mengakses data memori eksternal yang
menggunakan alamat 16 bit, port 2 berfungsi sebagai saluran/bus alamat
tinggi. Sedangkan pada saat mengakses ke data memori eksternal yang
menggunakan alamat 8 bit, port 2 mengeluarkan isi dari port 2 pada SFR
(Special Function Register).
2.4.5.6 Pin 29
Program Store Enable (PSEN) merupakan sinyal pengontrol untuk
mengakses program memori eksternal masuk ke dalam bus selama proses
pemberian/pengambilan instruksi.
2.4.5.7 Pin 30
Address Latch Enable (ALE)/PROG merupakan penahan alamat
memori eksternal (pada port 1) selama mengakses ke memori eksternal.
Pena ini juga sebagai pulsa/sinyal input pemograman (PROG) selama
proses pemrograman.
2.4.5.8 Pin 31
Eksternal Access Enable (EA) merupakan sinyal kontrol untuk
pembacaan memori program. Apabila diset rendah (L) maka
mikrokontroler akan melaksanakan seluruh instruksi dari memori program
eksternal, sedangkan apabila diset tinggi (H) maka mikrokontroler akan
melaksanakan instruksi dari memori program internal ketika isi program
counter kurang dari 4096. Ini juga berfungsi sebagai tegangan
pemrograman (Vpp: +12 V) selama proses pemrograman.

2.4.5.9 Pin 32 - 39
Ini adalah port 0 yang merupakan saluran/bus I/O 8 bit open
kolektor, dapat juga digunakan sebagai multipleks bus alamat rendah dan
bus data selama adanya akses ke memori program eksternal. Pada saat
proses pemrograman dan verifikasi port 0 digunakan sebagai saluran/bus
data. Eksternal pull up digunakan selama proses verifikasi.
2.4.5.10 pin 40
Pada pin ini merupakan positif sumber tegangan yang diberi simbol
VCC.

2.5 IC 74LS47 sebagai Dekoder BCD to Seven Segment


Dekoder yaitu data biner yang masuk ke rangkaian dan akan
diterjemahkan ke dalam bentuk sinyal digital yang akan menampilkan angka
tertentu pada seven segment yang sesuai dengan harga binernya.
Didalam pemakaian IC74LS47 memerlukan seven segment jenis
common anoda karena sinyal keluaran dekoder ini low akan aktif sedangkan
high tidak aktif. Untuk lebih jelasnya hubungan antara input dan output, serta
konfigurasi penyemat IC Dekoder 7447 dapat dilihat pada gambar 2.6
dibawah ini

VCC
4 16
BI/RBO VCC
5
RBI
3
LT
13
a
7 12
A b
1 11
B c
BCD input 2
C d
10 ke Seven Segment
6 9
D e
15
f
8 14
GND g

74LS47

Gambar 2.6
Konfigurasi kaki IC 74LS47
Dalam penggunaan IC 74LS47, harus memakai seven segment common
anoda, karena sinyal keluaran dekoder ini merupakan kolektor terbuka,
sehingga memerlukan tegangan dari luar untuk menggerakan IC 74LS47 ini.
Tampilan pada seven segment akan bergantung dari kode-kode biner
yang masuk melalui inputan IC 74LS47. Selain itu pada IC 74LS47 perlu
diperhatikan juga masukan pada LT, RBI, dan RBO.
Tegangan sumber yang dibutuhkan IC ini sebesar +5Volt. Tabel
kebenaran IC7447 dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini :
Tabel 2.1
Tabel Kebenaran IC 74LS47
Fungsi Masukan Keluaran
Desimal D3 D2 D1 D0 a b c d e f g Tampilan
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1
2 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 2
3 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 3
4 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 4
5 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 5
6 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 6
7 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 7
8 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8
9 1 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 9

2.6 Seven Segment


Seven segment terdiri dari tujuh buah segment atau LED (Light Emited
Diode) dimana masing-masing segment tersebut akan menyala pada saat arus
mengalir melaluinya. Dengan-mengkombinasikan segment-segment tersebut
kita akan dapat membentuk digit desimal. Untuk membentuk angka satu maka
segment b dan c harus menyala, untuk membentuk angka dua maka segment
a,b,d,e dan g harus menyala, begitu seterusnya. Perlu diketahui untuk
menyalakan segment (LED) diperlukan suatu resistor untuk membatasi arus.
Untuk lebih jelas format dari seven segment tersebut dapat kita lihat dari
konstruksi seven segment pada gambar 2.7 dibawah ini :

f b

e g c

d
Gambar 2.8
Skema Seven Segment
Gambar 2.7
Seven Segment

Tabel 2.2
Format Display Seven Segment
Digit Seven Segment yang aktif
0 a b c d e f
1 b c
2 a b d e g
3 a b c d g
4 b c f g
2.7 5 a c d f g
6 c d e f g
7 a b c
8 a b c d e f g
9 ab c f g
Transistor
Transistor merupakan komponen elektronik yang terbuat dari bahan semi
konduktor yang terdiri dari tiga bagian yaitu basis, kolektor, dan emiter.
Menurut jenisnya transistor dibedakan menjadi dua yaitu NPN dan PNP.
Sifat-sifat dari transistor dapat diketahui setelah melihat gambar 2.10

R C

R B
VC E
VBE

VBB VC C

Gambar 2.8
Rangkaian Common emiter
Pada gambar dapat diketahui nilai arus basis berdasarkan hukum ohm,
VBB  VBE
IB  ....................................................................(2.3)
RB
Dan dengan hukum tegangan hukum Kirchoff dapat diketahui :
VCE = VCC – (IC.Rc)...............................................................(2.4)
Untuk mengetahui dimana daerah kerja transistor, maka dibuat garis
beban pada grafik daerah kerja transistor. Garis beban ini memotong sumbu
vertikal Ic dan sumbu horizontal VCE.
Garis beban yang mengenai kurva IB = IB (sat) dan VCE = 0 Volt,
merupakan daerah saturasi transistor, sedangkan garis beban yang mengenai
kurva IB = 0 dan VCE =VCC adalah daerah cut off transistor.

Ic
Cut Saturasi
Off Q
Ib > Ib SAT

Vcc Ib = Ib SAT
Rc
Ib
Cut Off

Ib = 0
Vcc
Vce =
Vcc
Gambar 2.9
Garis beban daerah kerja transistor

2.7.1 Transistor dalam keadaan Saturasi


RC

RB VCB
VCE
VBE VCC

VBB
Gambar 2.10
Rangkaian transistor dalam keadaan saturasi
Pada transistor jenis NPN, apabila dioda basis-emiter dan dioda basis
kolektor mendapat bias maju, maka arus dapat mengalir dari kolektor ke
emiter. Pada keadaan ini transistor berada dalam daerah saturasi dan tegangan
antara kolektor dengan emiter (VCE) dapat dianggap nol. Dalam kondisi ini,
transistor dianggap seperti sebuah saklar tetutup.
Besarnya arus yang mengalir menuju kolektor saat saturasi adalah :
(VCC  VCE )
IC 
RC …….…………………………………………………………. (2.5)
Karena VCE = 0, maka besarnya arus kolektor dapat dinyatakan :
VCC
IC 
RC ………………………………………………………………………...……. (2.6)
2.7.2 Transistor dalam keadaan cut off

R C

R B
VC E

VBE

VBB VC C

Gambar 2.11
Rangkaian transistor dalam keadaan cut off
Pada transistor jenis PNP, apabila basis lebih positif dari emiter maka
arus tidak akan mengalir dari kolektor menuju ke emiter. Pada keadaan ini
transistor berada dalam daerah cut off dan dapat dianggap sebagai saklar
terbuka.
Tegangan antara kolektor dan emiter pada saat cut off adalah :
VCE = VCC – (Ic . Rc) ............................................................(2.7)
Pada saat transistor cut off, tidak ada arus bocor yang mengalir melalui
beban Rc kecuali arus bocor yang sangat kecil (IC ≈ 0), sehingga besarnya Ic
dapat diabaikan dan besarnya tegangan antara kolektor-emiter (VCE) adalah :
VCE = VCC .............................................................................(2.8)

2.8 Relay
Relay adalah suatu komponen elektronika yang berfungsi sebagai
penggerak kontraktor untuk menghubungkan suatu rangkaian dengan
rangkaian lain
Relay bekerja dengan memanfaatkan sifat elektromagnetik yang terjadi
pada suatu kumparan ketika dialiri arus, berdasarkan prinsip induksi magnet.

5
3
4
1
2

R E L A Y

Gambar 2.12
Skematik Relay
Pada gambar 2.14 memperlihatkan konstruksi sebuah relay dengan
sepasang kontraktor Normally Close (NC).
Jika tidak mendapat tegangan relay ini memiliki kaki konektor yang
berhubungan langsung yaitu antara titik C dan titik NC (Normally Close)
sehingga jika kita ukur dengan AVO Meter antara titik C dan NC terjadi
simpangan yang menandakan konektor tersebut terhubung, sedangkan untuk
titik NO jika tidak ada tegangan yang masuk ke kumparan maka titik NO
tidak akan terhubung ke konektor relay manapun.
Relay akan bekerja jika titik L terhadap L mendapat tegangan yang
menyebabkan kumparan dalam relay berinduksi terhadap tegangan tersebut
sehingga kumparan akan menyebabkan energi magnet yang akan
menggerakan konektor NC ke posisi NO. Pergerakan konektor tersebut
menyebabkan terjadinya putus hubungan antara C dengan NC dan terjadinya
hubungan antara C dengan NO. Jika kita ukur dengan AVO meter konektor C
dengan NO akan terjadi simpangan yang menandakan relay tersebut terhubung

BAB 3

PERENCANAAN

3.1 Perencanaan alat Infra Red Theraphy


Pada bab ini akan menjelaskan tentang perencanaan pembuatan infra red
theraphy. Perencanaan dilakukan dengan menentukan spesifikasi system
secara umum, membuat system diagram blok, implementasi rangkaian dan
perangkat lunak agar dapat bekerja sesuai dengan perencanaan system secara
keseluruhan. Saya akan memberikan spesifikasi alat sebagai berikut :

1. Tegangan supply + 5 Volt.


2. Infra red theraphy ini dirangcang menggunakan hitungan dalam waktu
menit dari 0 – 60 menit. Pewaktu tersebut akan menghitung mundur.
3. Menggunakan 2 digit seven segment sebagai display, untuk setingan awal
sekaligus menghitung mundur waktu setingan.
4. Sistem menggunakan MikrokontrolerAT89C51.
5. Menggunakan lampu Infra Phill 150 Watt, tegangan 220V, berwarna
merah, dengan merek Philiphs.

3.2 Perencanaan Secara Blok Diagram


Dalam perencanaan sistem ini, dari diagram blok rangkaian dapat
diketahui cara kerja dari keseluruhan rangkaian. Sehingga keseluruhan diagram
blok rangkaian tersebut akan menghasilkan suatu sistem yang dapat difungsikan
sesuai dengan perencanaan. Diagram blok rangkaian dapat dilihat dalam Gambar
3.1.

lampu infra red

Display +12V
0

+5V
R N 1 SETTING TIMER PLN
16

U 2
7 13 1 14
1 D 0 A 12 2 13 5 220
VCC

d a ri k a k i P 0 .0 - P 0 .3 D 1 B
2
D 2 C
11 3 12 D3 3
6 10 4 11
D 3 D 9 5 10 1N 4001 4
E
3
5 LT F
15
14
6
7
9
8
1
4 R BI
B I / R B 8O
G 2
330
G N D7 4 4 7
R ELAY
1K Q 6
Q 7 p o rt 2 .0
d a ri k a k i P 0 .4 - P 0 .5 Q 14
C 9015 C 9015 C 945
1K +5V

Lampu
MIKROKONTROLER

AT 89C51

Tombol pemilihan waktu Buzzer


+5V

R 1 R 2 R 3

1 k 1 k 1 k
U P
S W 1
P 1 .0
P 1 .1
S W 2 D O W N P 1 .2

S W 3 S TA R T

BUZZER
+5V

1
Q9
2
d a ri k a k k i P 2 .1
C 945

Power Supply

Gambar 3.1
Diagram blok rangkaian infra red theraphy
Pada gambar 3.1 menunjukan blok diagram rangkaian infra red theraphy
secara keseluruhan. Untuk mempermudah pengertian dari sistem secara
keseluruhan, maka saya membagi rangkaian dalam beberapa blok yang masing-
masing blok mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Fungsi dari masing-masing
blok akan dijelaskan sebagai berikut :
3.2.1 Rangkaian Power Supply
Rangkaian ini berfungsi untuk memberikan tegangan atau inputan ke
seluruh bagian pada rangkaian.

3.2.2 Blok Mikrokontroler AT89C51


Blok ini berfungsi sebagai pelaku atau otak pengendali utama pada
rangkaian secara keseluruhan. IC mikrokontroler AT89C51 akan dapat
masukan dari rangkaian input, inputan tersebut kemudian akan diproses oleh
mikrokontroler untuk menyetting waktu, serta menjalankan waktu settingan.
Keluaran dari Mikrokontroler AT89C51 akan ditampilkan oleh seven segment
dan juga sebagai indikator alarm, jika penyinaran selesai.
3.2.3 Blok lampu
Pada blok ini saya menggunakan lampu infra phill 150 Watt, berwarna
merah. Lampu dapat langsung digunakan pada tegangan 220 Volt.

3.2.4 Blok display timer


Blok ini hanya merupakan rangkaian tampilan yang berupa dua buah
seven segment, blok ini dikendalikan langsung oleh mikrokontroler.

3.2.5 Blok buzzer


Blok ini berfungsi sebagai pengingat atau alarm bahwa waktu untuk
penggunaan alat telah selesai..

3.3 Perencanaan Perangkat Keras (Hard Ware)


Sesudah melakukan perencanaan secara diagram blok, maka tahap
selanjutnya pembuat akan melakukan perancangan perangkat keras atau hard
ware. Perencanaan perangkat keras terdiri dari :

3.3.1 Perencanaan rangkaian kontrol


Pada perencaan rangkaian ini dibutuhkan beberapa push button. Push
button yang digunakan pada rangkaian ini adalah normaly open yang
digunakan untuk mengoperasikan alat infra red dan melakukan beberapa
pengaturan antara lain :
1. Tombol setting waktu (up, down)
2. Tombol start
3. Tombol reset
+5V

R 14 R 15 R 16

1 k 1 k 1 k
U P
S W 7
P 1 .0
P 1 .1
S W 8 D O W N P 1 .2
p in 9
S W 9 S TA R T

1 0 u F /1 6 V re s e t2
2 ,2 K

Gambar 3.2
Rangkaian Kontrol
Fungsi dari masing-masing tombol sebagai berikut :
UP / DOWN : Tombol ini berfungsi untuk menentukan lamanya waktu
pengoperasian alat yang dibutuhkan.
START : Tombol ini berfungsi mengaktifkan rangkaian timer,
sehingga waktu akan menghitung mundur.
RESET : Tombol ini berfungsi untuk mengulang kembali sehingga
display akan menunjukan angka “00”.

3.3.2 Perencanaan rangkaian Mikrokontroler AT89C51


Pada perencanaan rangkaian ini di butuhkan IC Mikrokontroler
AT89C51 yang menjadi pengendali utama pada setiap rangkaian. Alasannya
IC mikrokontroler ini dapat memudahkan pembuat dalam mengerjakan tugas
akhir ini dan memiliki keakuratan yang lebih tinggi dan juga lebih efisien
dalam penggunaan komponen pendukungnya serta mudah berintegrasi dengan
rangkaian yang lainnya. IC mikrokontroler ini akan memproses masukan dan
keluaran yang ada pada rangkaian dan pengontrolannya dilakukan melalui
pengaktifan masing-masing pin (kaki) pada mirokontroler tersebut, baik
pengaktifan secara paralel maupun pin-pin mikrokontroler tersendiri dalam
satu port.
Untuk sumber clock bagi mikrokontroler AT89C51 digunakan oscillator
internal (on-Chip Oscilator) yang bekerja jika memakai kristal. Kristal yang
biasa digunakan mempunyai nilai frekwensi 12 MHz yang dapat
membangkitkan frekuensi. Kristal ini digandengkan dengan kapasitor 33 pF
ke ground, sepierti yang terlihat pada gambar 3.2 :

C1
C R Y STAL

P IN 1 8
33 pF 12 M H z
P IN 1 9
C2

33 pF

Gambar 3.3
Rangkaian Osilator

Tabel 3.1
Penggunaan Port pada Mikrokontroler AT89C51
No. Port Keterangan
1 P1.0-P1.2 inputan dari rangkaian seting
2 P0.0-P0.3 Outputan data ke rangkaian dekoder
3 P2.0 Output ke relay dan lampu
4 P2.1 Output ke rangkaian buzzer
5 P0.4-P0.5 Output ke transistor PNP untuk display

Gambar dibawah ini menunjukan port-port yang digunakan pada IC


Mikrokontroler AT89C51.
v cc
o u tp u t d e k o d e r k e k a k i 7
up

40
U 3
o u tp u t d e k o d e r k e k a k i 1
1 3 9
P 1 .0 P 0 .0 /A D 0

VC C
2 3 8
down P 1 .1 P 0 .1 /A D 1 o u tp u t d e k o d e r k e k a k i 2
3 3 7
4 P 1 .2 P 0 .2 /A D 2 3 6
s ta rt/s to p P 1 .3 P 0 .3 /A D 3 o u tp u t d e k o d e r k e k a k i 6
5 3 5
6 P 1 .4 P 0 .4 /A D 4 3 4
P 1 .5 P 0 .5 /A D 5 o u t p u t k e d is p la y 1
7 3 3
8 P 1 .6 P 0 .6 /A D 6 3 2
P 1 .7 P 0 .7 /A D 7 o u t p u t k e d is p la y 2

9 31
re s e t R ST E A /V P P
30
1 0 A L E /P R O G 29
P 3 .0 /R X D PSEN o u t p u t k e la m p u
1 1
1 2 P 3 .1 /T XD 2 1
1 3 P 3 .2 /IN T 0 P 2 .0 /A 8 2 2
1 4 P 3 .3 /IN T 1 P 2 .1 /A 9 2 3
P 3 .4 /T 0 P 2 .2 /A 1 0 o u tp u t k e b u ze r
1 5 2 4
C 1 1 6 P 3 .5 /T 1 P 2 .3 /A 1 1 2 5
C R Y STAL 1 7 P 3 .6 /W R P 2 .4 /A 1 2 2 6
P 3 .7 /R D P 2 .5 /A 1 3 2 7
19 P 2 .6 /A 1 4 2 8
33 pF 12 M H z XTA L1 G N D P 2 .7 /A 1 5
18
C 2 XTA L2
A T89C 51
20

33 pF

Gambar 3.4
Port yang digunakan pada Mikrokontroler

3.3.3 Perencanaan rangkaian display


Rangkaian display yang akan dibuat terdiri dari 2 buah seven segment,
fngsi dari rangkaian display ini yaitu untuk melihat lamanya penyinaran.
Seven segment ini menggunakan transistor jenis PNP yang berfungsi sebagai
saklar. Transistor ini bekerja apabila terkena masukan low dari mikrokontroler
yang akan mentriger basis sehingga dapat mengaktifkan seven segment.
Untuk perangkat pendukung seven segment, pembuat menggunakan IC
74LS47 yang fungsinya sebagai dekoder ke seven segment, yaitu sebuah IC
yang berfungsi sebagai penerjemah sandi yang keluar mikrokontroler menjadi
digit atau angka yang dapat ditampilkan pada seven segment.
+5V
RN1 SETTING TIMER

16
U2
7 13 1 14
1 D 0 A 12 2 13

VCC
d a ri k a k i P 0 .0 - P 0 .3 D 1 B
2 11 3 12
6 D 2 C 10 4 11
D 3 D 9 5 10
3 E 15 6 9
5 LT F 14 7 8
4 RBI G
B I / R B 8O 330
G N D7 4 4 7

1K Q7
Q6
d a ri k a k i P 0 .4 - P 0 .5
C 9015 C 9015
1K +5V

Gambar 3.5
Rangkaian Display

3.3.4 Perencanaan rangkaian Buzzer


Rangkaian buzzer berfungsi untuk memberi peringatan waktu proses
penyinaran telah habis dilakukan. Cara pengaktifkan buzzer pembuat
menggunakan transistor NPN yang mendapatkan masukan data dari
mikrokontroler. Transistor NPN juga sebagai saklar, dimana saat mendapatkan
masukan tinggi dari mikrokontroler akan mentriger basis transistor sehingga
akan mengaktifkan buzzer.

BUZZER
+5V

1
Q9
2 d a ri k a k k i P 2 .1
C 945

Gambar 3.6
Rangkaian Buzzer

3.4 Perencanaan Perangkat Lunak (Soft Ware)


Perangkat lunak yang dirancang, dibuat dengan menggunakan bahasa
assembler mikrokontroler MCS-51. Algoritma program utama dari
perancangan perangkat lunak dapat dilihat dalam diagram alur yang terdapat
pada tiap-tiap perancangan perangkat lunak.

3.4.1 Perencanaan Flow chart


Start
Diagram A
alur atau flow chart adalah suatu diagram yang menyajikan
prosedur untuk menjalankan suatu program secara berurutan sesuai dengan
yang direncanakan. Sebelum merancang perangkat lunak, terlebih dahulu
inisialisas
melakukani perencanaan dengan membuat flow chart atau diagram alur.
ya Timer Aktif

ya
tidak Sw
up
tekan Lampu Menyala
?

ya ya

Pengurangan menit
Naikan Tampil ke pada timer
setting time display tidak ya
Naikan ya
setting time

Apakah
y
Timer
tidak Sw
sudah =
down
tekan 0
?

ya
ya

Matikan lampu
Turunkan Tampil ke
setting time display
ya

ya
Aktifkan buzzer

tidak Sw
start tidak
tekan
?
Sw
stop
ya tekan
?

A ya

End
Gambar 3.7
Diagram alur Infra Red Therapy

BAB 4

PENGUJIAN
.

Pada bab ini membahas tentang kinerja modul infra red theraphy yang
telah dikerjakkan mulai dari perancangan hingga uji fungsi. Adapun persiapan
yang dilakukan meliputi alat dan bahan, pemaparan hasil-hasil, dan pendataan
pada setiap rangkaian yang telah dibuat. Hasil-hasil pengukuran dalam bentuk
tabel. Hal ini bertujuan untuk mnedata sejauh mana pengaruh input yang
diberikan terhadap kerja rangkaian secara keseluruhan
4.1 PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
Pada tahap pengujian modul infra red theraphy, perlu mempersiapkan
terlebih dahulu alat dan bahan yang dapat menunjang proses pengujian.
Pengujian dan pengamatan dilakukan pada perangkat keras dan
keseluruhan sistem yang terdapat dalam alat ini.

4.1.1 Persiapan Bahan


Pada perancangan rangkaian infra red theraphy, yang perlu
diperhatikan adalah membuat daftar komponen yang digunakan dalam
rangkaian ini, agar sesuai dan tidak terjadi kerancuan didalam proses
pendataan. Adapun komponen-komponen yang digunakan dalam pembuatan
modul ini adalah sebagai berikut :
4.1.1.1. Rangkaian Mikrokontroler
Tabel 4.1
Daftar Komponen Rangkaian Mikrokontroler
Rangkaian Mikrokontroler
NO
Jenis Komponen Jumlah
1 IC AT89C51 1 buah
2 Kristal 12 MHz 1 buah
3 Capasitor 33 pF 2 buah
4.1.1.2. Rangkaian Seting
Tabel 4.2
Daftar Komponen Rangkaian Seting

Rangkaian Mikrokontroler
NO
Jenis Komponen Jumlah
1 Push Botton 4 buah
2 Resistor 1 k Ω 3 buah
3 Resistor 2,2 k Ω 1 buah
4 Capasitor 10 µF / 16 V 1 buah

4.1.1.3. Rangkaian Display dan Buzzer


Tabel 4.3
Daftar Komponen Rangkaian Display dan Buzzer

NO Rangkaian Display
Jenis Komponen Jumlah
1 IC 74LS47 1 buah
2 Buzzer 1 buah
4 Transistor C9015 2 buah
5 Transistor C945 1 buah

4.1.1.4. Rangkaian Lampu


Tabel 4.4
Daftar Komponen Rangkaian Display
Rangkaian Display
NO
Jenis Komponen Jumlah
1 Lampu Infra Phill 150W 1 buah
2 Relay 1 buah
3 Dioda 1 buah
4 Transistor C945 1 buah

4.1.2 Persiapan Alat


Sebagai penunjang dalam melakukan pendataan, pembuat
menggunakan beberapa peralatan sebagai berikut :
1. Multitester analog
Merk : Sanwa
Type : YX-360YRD
Buatan : Jepang
2. Power supply dengan keluaran +5 V
3. Tool Set
Merk : CADIK
Type : 5S
4. Stopwatch

4.2 PENGUJIAN
Pengujian ini bertujuan untuk mengewtahui hasil akhir dari rangkaian.
Pada tahap pengujian ini, penulis membuat dua tahap pengujian, diantaranya
pengujian perangkat keras dan pengujian hasil akhir.

4.2.1. Pengujian Perangkat Keras


4.2.1.1 Titik Penukuran pada Rangkaian Mikrokontroler AT89C51
Setelah pembuatan modul selesai serta alat ukur yang dibutuhkan telah
lengkap maka proses pengujian dapat dilaksanakan. Dalam pelaksanaan
pengujian terhadap rangkaian, tindakan yang dilaksanakan terlebih dahulu
adalah mempersiapkan dan memeriksa apakah rangkaian yang akan diuji
telah bekerja dengan baik sesuai dengan kondisi yang diharapkan, setelah itu
pembuat menentukan titik-titik pengukuran ( TP ) guna pengambilan data-
data yang diperlukan. Pengukuran hanya menggunakan Avo meter.

Adapun titik-titik pengukuran yang pembuat tentukan antara lain sebagai


berikut:

1. TP1, yaitu masukan pada port 1.0

2. TP2, yaitu masukan pada port 1.1

3. TP3, yaitu masukan pada port 1.2

4. TP4, yaitu masukan pada kaki 9 (reset)

5. TP5, yaitu keluaran pada port 2.0

6. TP6, yaitu keluaran pada port 2.1


Hasil yang telah didapat pada pengukuran rangkaian
Mikrokontroler, dapat dilihat pada tabel 4.5 dibawah ini :

Tabel 4.5
Hasil pengukuran Mikrokontroler AT89C51 dari TP1 sampai TP4
Tegangan Sebelum Tegangan Waktu
TP Nama Port tombol ditekan. tombol ditekan.
1 Port 1.0 4,98 V 0V
2 Port 1.1 4,95 V 0V
3 Port 1.2 4,95 V 0,02 V
4 Kaki 9(Reset) 0V 4,97 V

Tabel 4.6
Hasil pengukuran Mikrokontroler AT89C51 TP5 dan TP6
Pada Saat Lampu Pada Saat Lampu
TP Nama Port
Mati Menyala
0,01 V 3,33 V
5 Port 2.0
(relay tidak bekerja) (relay bekerja)
3,29 V 0,05 V
6 Port 2.1
(buzzer menyala) (buzzer mati)

4.2.1.2 Pengujian Rangkaian Display Pewaktu


1. Tujuan Pengujian
Pengujian rangkaian pewaktu bertujuan untuk mengetahui
keakuratan display dalam proses terapi
2. Prosedur Pengujian
Untuk melakukan pengujian dibutuhkan beberapa tahapan-tahapan,
diantaranya :
1. Menyusun rangkaian display
2. Menghubungkan catu daya ke rangkaian yang diuji
3. Menghubungkan rangkaian display ke tombol pengaturan
4. Mengatur waktu yang akan diinginkan
5. Stopwatch
3. Hasil pengujian
Tabel 4.7
Tabel Pengujian Timer pada Rangkaian Keseluruhan

Pembacaan Hitungan Selisih


Percobaan
Display Stop Watch Waktu
1 1 menit 59,9 detik 0,1 detik
2 3 menit 3 menit 1 detik 1 detik
3 5 menit 4 menit, 59,8 detik 0,2 detik
4 10 menit 10 menit, 0,6 detik 0,6 detik
5 15 menit 15 menit 1,8 detik 1,8 detik

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa penyimpangan rata-rata


antara pewaktu pada alat dengan alat ukur waktu (stop watch) yaitu :

0,1  1  0,2  0,6  1,8


%Penyimpangan rata-rata =
5
3,7
=
5
= 0,74%

Jadi persentase keakurasian = 100% - 0,74%


= 99,26%

4.2.2 Pengujian Hasil Akhir


Tabel 4.8
Fungsi Tombol
No Switch/tombol Fungsi Keterangan
1 Power Menyalakan atau mematikan alat Sesuai
Pengaturan Untuk mengatur lamanya waktu terapi
2 waktu dangan menaikan atau menurunkan
Sesuai
(up dan down) settingan
Untuk memulai dan menghentikan
3 Start/Stop Sesuai
terapi
4 Reset Mereset ulang tampilan pada display Sesuai
BAB 5
PENUTUP

KESIMPULAN
Berdasarkan pada hasil dari perencanaan, pembuatan, pengujian dan
analisa yang dilakukan serta didukung teori yang ada, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Modul Infra Red Theraphy yang dibuat dapat dipergunakan
dengan waktu maksimal 60 menit dan dapat diseting sesuai dengan
kebutuhan.
2. Persentase keakurasian pada modul sebesar 99,26%.

Setelah membuat dan melakukan pengujian pembuat berkesimpulan


bahwa hasil pengujian dari modul dan karya tulis ini sesuai dengan apa yang telah
direncanakan.
;==========================================================
; HAYOOOOOO
;==========================================================

pengali equ 3eh


pengali_2 equ 3fh
beatlsb equ 51h
count EQU 50h
display equ p0

puluhan_set_timer EQU 65h


satuan_set_timer EQU 64h
menit_set EQU 67h

upt bit p3.2


dwn bit p1.1
enter bit p3.3

lampu bit p2.0


buzzer bit p2.1

indi_start bit p3.7

org 0000h ;alamat awal program


ljmp inis

org 001bh ;alamat vektor interupt timer


ljmp p_intr
inis: MOV menit_set,#88d

clr lampu
clr buzzer

lcall hex2bcd
MOV A,puluhan_set_timer
anl a,#0fh
ORL A,#10h
mov display,a
lcall outlah

MOV A,satuan_set_timer
anl a,#0fh
ORL A,#20h
mov display,a
lcall outlah

;==========================================================
MOV A,#00h
MOV puluhan_set_timer,A
MOV satuan_set_timer,A
MOV menit_set,#00d

clr lampu
clr buzzer

setb indi_start

mov r0,a
mov r1,a
mov r2,a
mov r3,a
mov r4,a

mov ie,#00h ;disable semua interupt


setb ie.7 ;enable interupt
setb ie.3 ;enable interupt timer 1
mov tcon,#00h ;clear TCON
mov pengali,#100d ;pengali 1 detik
mov pengali_2,#60d ;pengali 10 detik menit
mov tl1,#0efh ;data high 10mS
mov th1,#0d8h ;data low 10mS
;==========================================================
; PROGRAM PENGECEKAN SWITCH
;==========================================================
sw_upt: lcall scan ;scan display
jb upt,sw_dwn ;cek sw up timer
lcall bounch
lcall naik
sjmp sw_upt ;balik lagi ah ke sw_up

sw_dwn: jb dwn,stsp ;cek sw down timer


lcall bounch
lcall turun
sjmp sw_dwn ;balik lagi ah ke sw_dwn

stsp: jb enter,wsw ;cek sw start/stop


lcall bounch
jnb enter,stsp
ljmp start

wsw: ljmp sw_upt

;==========================================================

naik: inc menit_set


mov a,menit_set
cjne a,#61d,exit9
mov menit_set,#00d

exit9: ret

turun: dec menit_set


mov a,menit_set
cjne a,#0ffh,metu
mov menit_set,#00d

metu: ret

;==========================================================

bounch: mov r3,#02d


micky: mov r4,#250d
micky2: lcall scan
djnz r4,micky2
djnz r3,micky
ret
;==========================================================
start: clr indi_start
setb lampu ;on lampu blue light
setb tcon.6 ;on TIMER
lcall scan ;tampilkan

pstart:
out3: mov r7,#100d
out2: djnz r7,out2

btx: lcall scan


mov a,menit_set
cjne a,#00d,terus
ljmp exit1
terus: jb enter,wstart
ljmp exity
wstart: ljmp pstart ;balik ke trus

;==========================================================

exity:
mov r4,#200d
metel04: lcall scan
djnz r4,metel04
clr lampu
clr ie.7
clr tcon.6
silk: setb buzzer
setb indi_start
lcall scan
jnb enter,silk
mov r4,#40d
metel05: lcall scan
djnz r4,metel05
derit: clr buzzer
lcall scan
mov tcon,#00h
mov pengali,#100d
mov pengali_2,#60d
mov tl1,#0efh
mov th1,#0d8h

setb ie.7

ljmp sw_upt
exit1: clr lampu
setb indi_start
setb buzzer
clr ie.7
clr tcon.6
lcall scan
jb enter,exit1
osbor: mov r4,#200d
metel06: lcall scan
djnz r4,metel06
jnb enter,osbor
ljmp derit

;==========================================================
; PROGRAM PELAYANAN INTERUPSI
;==========================================================
p_intr:
clr TCON.6

akankah: djnz pengali,lagi1


djnz pengali_2,lagi

dec menit_set

AIP: mov pengali_2,#60d ;siapkan pengali 10 detik


lagi: mov pengali,#100d ;siapkan pengali 1 detik
lagi1: mov tl1,#0efh ;data timer low 10mS
mov th1,#0d8h ;data timer high 10ms
uth: setb tcon.6 ;nyalakan timer
reti ;balik dari service rutin

;==========================================================

scan: LCALL rubah_set_timer

MOV A,puluhan_set_timer
anl a,#0fh
ORL A,#10h
LCALL out
MOV A,satuan_set_timer
anl a,#0fh
ORL A,#20h
LCALL out
RET
out: mov display,a
mov r7,#99d
out1: djnz r7,out1
mov p0,#0ffh
ret

;==========================================================
;PROGRAM UNTUK MERUBAH DATA BIL HEXA 8bit KE BCD
;==========================================================
rubah_set_timer:
MOV A,menit_set
mov b,#10d
DIV ab
MOV puluhan_set_timer,A
MOV satuan_set_timer,B

RET

;==========================================================
outlah: setb lampu
setb buzzer
mov r5,#05d
miti: mov r6,#200d
ih_ih: mov r7,#200d
djnz r7,$
djnz r6,ih_ih
djnz r5,miti

clr lampu
clr buzzer
mov p0,#0ffh
mov r5,#05d
miti_ay: mov r6,#200d
ih_ih1: mov r7,#200d
djnz r7,$
djnz r6,ih_ih1
djnz r5,miti_ay
ret

end
Philips Infraphil Terapi Infrared

Philips Infraphil-Terapi Infrared


 Kehangatan terasa sampai kedalam untuk menghilangkan nyeri otot ataupun
memberikan kehangatan.
 Lampu infrared 150W dengan extra focus.
 Rumah lampu dapat berputar keatas/kebawah pada porosnya.

Spesifikasi teknis:
 Power: 150 W
 Voltage: 220/230
 Frequency: 50 Hz
 Lifetime of lamps: 750 sessions of 10 minutes hour(s)
 Cord length: 1.8 m
 Insulation: Class II (double isolation)
 Type of lamps: PAR 38E, 150 W + prismatic rings for more focus

Product Overview

Philips Infraphil-Terapi Infrared


Sinar inframerah yang dapat menembus cukup dalam kebawah lapisan kulit telah
terbukti secara efektif dapat memulihkan rasa sakit dan pegal akibat ketegangan
otot ataupun persendian. Kehangatan sinar inframerah yang memberi rasa nyaman
menembus kedalam kulit sehingga memperlancar aliran darah sekaligus
menghangatkan otot. Pada saat otot menghangat,maka otomatis akan menjadi kedur
dan rileks. Selain itu dengan meningkatnya sirkulasi darah yang membawa oksigen
maka penyembuhan otot pun berlangsung dengan lebih cepat. Lampu infrared 150
Watt Philips dengan extra focus memberikan cakupan wilayah efektif seluas
20x30cm untuk dapat menjangkau keseluruhan wilayah seperti pundak, paha, betis,
dll.