Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

CEPHAL HEMATOMA

Nama : Yenni Noor Fahridha

NPM : 14142011020

Kelompok : VIII

PRAKTIK PRE NERS II PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

TA 2017
LAPORAN PENDAHULUAN

1. Anatomi Fisiologi pada Pasien Cephal Hematoma


PERIOSTIUM
Periostium adalah lapisan membran fibrosa tebal yang meliputi hampir
seluruh permukaan tulang. Satu-satunya yang tidak tercakup oleh
membran ini adalah bagian yang ditutupi oleh tulang rawan. Selain
melindungi tulang, periostium berfungsi sebagai pelekatan otot dan
tendon. Periostium terdiri atas dua lapisan:
 Lapisan luar (stratum fibrosum)yang dibentuk oleh jaringan ikat
dan mengandung pembuluh darah dan saraf.
 Lapisan dalam (stratum germinativum) yang terdiri dari serabut-
serabut halus dan sel-sel yang dapat membuat darah baru dari
tulang.

NEUROKRANIUM
Neokranium terdiri atas sejumlah tulang yang menyatu pada sendi
yang tak bergerak yang disebut sutura. Neurokranium disebutjuga
kerangka otak, yang terdiri dari :

a. Kubah tengkorak (klavilaria)


 Os frontalis 1 buah
 Os parietatis 2 buah
 Os oksipitalis 1 buah
 Os temporalis 2 buah
b. Dasar tengkorak (basis kranii)
 Os sfenoidalis 1 buah
 Os etmoidalis 1 buah.

(Syaifuddin, Anatomi Fisiologi untuk Keperawatan dan Kebidanan,


halaman 81, 2010)

2. Definisi Cephal Hematoma

Pengertian istilah cephal hematoma mengacu pada pengumpulan


darah di atas tulang tengkorak yang disebabkan oleh perdarahan
subperiosteal dan berbatas tegas pada tulang yang bersangkutan dan tidak
melampaui sutura-sutura sekitarnya, sering ditemukan pada tulang
temporalis dan perietal. Kelainan dapat terjadi pada persalinan biasa, tetapi
lebih sering pada persalinan lama atau persalinan yang diakhiri dengan
alat, sepertiekstraksi cunam atau vakum. (Ai Yeyeh Rukiah dalam buku
Asuhan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita, halaman 169, 2010)
Cephal hematoma adalah suatu perdarahan subperiostal tulang
tengkorak berbatas tegas pada tulang yang bersangkutan dan tidak
melewati sutura. Akibatnya timbul timbunan darah di daerah
subperiostyang dari luar terlihat sebagai benjolan. ( Dwi Maryanti dalam
Buku Ajar Neonatus , Bayi, dan Balita, halaman 114, 2011)
Cephal hematoma adalah pembengkakkan pada daerah kepala
disebabkan karena adanya penumpukan darah akibat perdarahan pada
subperiostium. (Vivian Nanny Lia Dewi, dalam buku Asuhan Neonatus
Bayi dan Anak, halaman 125, 2011).
Dari pengertian diatas maka kesimpulan yang dapat diambil bahwa
cephal hematoma yaitu pembengkakkan pada daerah kepala yang biasanya
lebih sering akibat persalinan yang lama atau persalinan dengan bantuan
alat vakum. Sehingga jika dilihat pada kepala pasien tampak adanya
benjolan.

3. Etiologi
Adapun penyebab terjadinya cephal hematoma yaitu.\
• Tekanan jalan lahir yang terlalu lama pada kepala saat persalinan
• Moulage terlalu keras
• Partus dengan tindakan seperti forcep maupun vacum ekstraksi
(Ai Yeyeh Rukiah dalam buku Asuhan Neonatus, Bayi, dan Anak
Balita, halaman 170, 2010)

Selain itu, penyebab cephal hematoma juga dijelaskan dalam Buku


Ajar Neonatus, Bayi, dan Balita oleh Dwi Maryanti (hal. 114, 2011),
bahwa cephal hematoma ini dapat terjadi pada persalinan biasa , terapi
lebih sering pada persalinan lama atau persalinan yang diakhiri dengan
alat seperti ekstraksi cunam atau ekstaktor vacum.

4. Patofisiologi
Menurut Prawihardjo (2010), patofisiologi terjadinya cephal hematoma
adalah sebagai berikut:
 Cephal hematoma terjadi akibat robeknya pembuluh darah yang
melintasi tulang kepala ke jaringan periosteum. Robeeknya
pembuluh darah ini dapat terjadi pada persalinan lama. Akibat
pembuluh darah ini timbul timbunan darah didaerah sub peiosteal
yang dari luar terlihatbenjolan.
 Bagian kepala yang hematoma biasanya berwarna merah akibat
adanya penumpukan darah didaerah sub periosteum.

PATHWAY

Cephal hematoma

Tekanan jalan lahir,


moulageterlalu keras, partus
dengan tindakan

Pembuluh darah robek Trauma jaringan perinatal

Indurasi Gangguan rasa


nyaman

Resiko infeksi Ansietas

(anak dengan orangtua)

5. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang muncul pada bayi dengan cephal hematoma sebagai
berikut.
• Kepala tampak bengkak dan berwarna merah
• Tampak benjolan dengan batas yang tegas dan tidak melampaui
tulang tengkorak
• Pada perabaan terasa mula-mula keras kemudian menjadi lunak
• Benjolan tampak jelas ±6 sampai 8 setelah lahir
• Benjolan membesar pada hari kedua atau ketiga
• Benjolan akan menghilangdalam beberapa minggu.

(Vivian Nanny Lia Dewi, dalam buku Asuhan Neonatus Bayi dan Anak,
halaman 125, 2011)

6. Pemeriksaan Diagnostik

Pada pasien bayi dengan cephal hematoma, apabila dicurigai


terjadi fraktur tulang tengkorak , harus dilakukan pemeriksaan seperti foto
torak. Dan lakukan pemeriksaan radiologik apabila dicurigai terdapat
gangguan susunan saraf pusat, seperti tampak benjolan yang sangat luas.
(Vivian Nanny Lia Dewi, dalam buku Asuhan Neonatus Bayi dan Anak,
halaman 127, 2011)

Semakin bertambahnya ukuran cephal hematoma dan bukti lain


yang menunjukkan perdarahan ekstensi merupakan indikasi untuk
melakukan pemeriksaan tambahan termasuk pembuatan fotokranium dan
pemeriksaan faktor-faktor pembekuan, karena bayi tersebut dapat saja
mempunyai kelainan pembekuandarah.

Pemberian radiologik (CT-SCAN) pada cephal hematoma hanya


dilakukan jika ditemukan adanya gejala susunan saraf pusat atau pada
cephal hematoma yang terlalu besar disertai dengan adanya riwayat
kelahiran kepala yang sukar dengan atau tanpa tarikan cunam yang sulit
ataupun kurang sempurna.

( Dwi Maryanti dalam Buku Ajar Neonatus , Bayi, dan Balita, halaman
115 dan 116, 2011)

7. Penatalaksanaan Medis
Cephal hematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3
bulan, teragantung pada ukuran perdarahannya atau tergantung dari besar
kecilnya benjolan. Pada neonatus dengan cephal hematoma tidak
diperlukan pengonatan, namunperlu dilakukan fototerapi untuk mengatasi
hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi
karenadimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian cephal hematoma
dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati, dan perdarahan intrakranial.

(Ai Yeyeh Rukiah dalam buku Asuhan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita,
halaman 170, 2010)

8. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan
semua data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien.
Merupakan langkah pertama untuk mengumpulkan semua informasi yang
akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien
(Ambarwati, 2010), meliputi :
a. Data Subyektif
Yaitu informasi yang dicatat mencakup identitas, keluhan yang
diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada pasien atau klien
(anamnesis) atau dari keluarga (Hidayat, 2008).
1) Biodata pasien
a) Nama bayi
Digunakan untuk membedakan antar bayi satu dengan
yang lain.
b) Umur
Untuk menginterpretasi apakah data pemeriksaan klinis
bayi tersebut normal sesuai dengan umurnya
c) Tanggal/jam lahir
Untuk mengetahui kapan bayi lahir
d) Berat badan/panjang badan
Untuk mengetahui berat badan bayi, mengidentifikasi
dan mengantisipasi masalah yang berhubungan dengan
berat lebih rendah dan untuk mengukur panjang badan
bayi. Normal berat badan bayi adalah 2500 – 4000 gram,
dan panjangnya 48-52 cm.
e) Jenis kelamin
Untuk penilaian data pemeriksaan klinis, misalnya nilai-
nilai baku, insiden seks, penyakit-penyakit seks.
f) Nama ibu / ayah
Nama jelas dan lengkap, agar tidak keliru dengan orang
lain
g) Umur
Untuk menambah keakuratan data
h) Pekerjaan
Guna untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi
pasien tersebut
i) Agama dan suku bangsa
Untuk memantapkan identitas serta untuk mengetahui
perilaku seseorang tentang kesehatan dan penyakit yang
sering berhubungan dengan agama dan suku bangsa
j) Pendidikan
Berperan dalam pendekatan selanjutnya sesuai tingkat
pengetahuannya
k) Alamat
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila
diperlukan
2) Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan yang harus dinyatakan
dengan singkat dan menggunakan bahasa yang dipakai si
pemberi keterangan (Varney, 2007).
Keluhan utama pada bayi baru lahir dengan cephal
hematoma adalah keluarga dan tenaga kesehatan mengatakan
terdapat pembengkakan dan luka pada kepala (Surasmi, 2003).
3) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
• Imunisasi TT
Untuk melindungi janin yang akan dilahirkan
dari infeksi tetanus neonatorum
• HPHT
Sesuai dengan hukum naegele, yaitu hari pertama
haid terakhir ditambah 7 hari dikurangi 3 bulan
ditambah 1 tahun. Untuk mengetahui umur
kehamilan
• HPL
Untuk mengetahui taksiran persalinan
b) Riwayat penyakit saat kehamilan
Data-data diperlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya penyakit yang diderita pada saat hamil dan yang
akan berpengaruh pada bayi yang dilahirkan
c) Riwayat kesehatan keluarga
Dikaji untuk mengetahui apakah dalam keluarga terdapat
riwayat penyakit menurun seperti hipertensi, jantung,
asma dan lain-lain. Dan untuk mengetahui apakah dalam
keluarga terdapat riwayat penyakit menular seperti TBC,
hepatitis, HIV / AIDS.
4) Riwayat persalinan
Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin bayi,
keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini
dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami
kelainan atau tidak
5) Riwayat keturunan kembar
Untuk mengetahui apakah dalam keluarga ada riwayat
keturunan kembar
6) Riwayat operasi
Untuk mengetahui apakah sebelumnya pernah melakukan
tindakan bedah atau operasi

b. Data Obyektif
Pencatatan dilakukan dari hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus
kebidanan, data penunjang
1) Pemeriksaan khusus
Dilakukan dengan pemeriksaan apgar score pada menit pertama,
kelima dan kesepuluh untuk mengetahui gejala sisa, meliputi :
Appearance (warna kulit), Pulse rate (frekuensi nadi), Grimace
(reaksi rangsang), Activity (tonus otot), Respiration (Pernafasan)
2) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum
Untuk mengetahui keadaan umum baik, sedang, lemah dari
pasien. Pada kasus bayi baru lahir dengan cephal hematoma,
keadaan umumnya adalah sedang.
b) Kesadaran
Untuk mengetahui kesadaran bayi meliputi tingkat kesadaran
(sadar penuh yaitu memberikan respon yang cukup terhadap
stimulus yang diberikan, apatis yaitu acuh tak acuh terhadap
keadaan sekitarnya, gelisah yaitu tidak responsive terhadap10
rangsangan ringan dan masih memberikan respon terhadap
rangsangan yang kuat, koma yaitu tidak dapat bereaksi terhadap
stimulus atau rangsangan apapun) gerakan yang ekstrem dan
ketegangan otot. Pada kasus bayi baru lahir dengan cephal
hematoma dengan tangisannya yang kuat menunjukkan
kesadaran composmentis
c) Tanda-tanda vital, meliputi:
1) Nadi
Untuk mengetahui jumlah denyut nadi bayi dalam satu menit,
sehingga diketahuin normal atau tidaknya nadi bayi tersebut.
Normalnya yaitu 120-160 kali /menit.
2) Pernafasan
Pernafasan, pernafasan BBL normal 30-60 per menit, tanpa
retraksi dada dan tanpa suaru merintih pada fase ekspirasi.
3) Suhu
Untuk mengetahui bayi hipotermi atau tidak. Suhu bayi
normalnya adalah 36,5 – 37,5 o C.

3) Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Periksa sutura, molase, caput succedaneum, cephal hematoma,
hidrosefalus, ubun-ubun besar, ubun-ubun kecil.
11Pada kasus bayi baru lahir dengan cephal hematoma, pada
kepala teraba benjolan, berwarna merah dan agak basah.
b) Mata
Keluar nanah, bengkak pada kelopak mata, perdarahan
subkonjungtiva dan kesimetrisan.
c) Hidung
Periksa kebersihannya
d) Telinga
Untuk memeriksa posisi telinga, apakah bayi terkejut / menangis
dalam reaksi terhadap bunyi yang keras.
e) Mulut
Adakah kemungkinan adanya kelainan kongenital labio
palatoskisis, trush, sianosis, mukosa kering / basah (Sudarti
f) Leher
Adakah pembesaran kelenjar tyroid, adakah keretakan pada
clavikula (normal, rata atau tanpa gumpalan di sepanjang tulang
simetris)
g) Dada
Periksa bentuk dada, putting susu, bunyi jantung dan pernafasan.
h) Abdomen
Penonjolan sekitar tali pusat saat menangis, perdarahan tali pusat,
dinding perut, adanya benjolan, gastroskisis, omlfalokel, bentuk.
i) Kulit
Memeriksa adanya laserasi, tanda lahir, ruam, mongolian, memar
dan setiap trauma kelahiran.
j) Genetalia
Kelamin laki-laki : Testis berada dalam, penis berlubang, dan ada
di ujung penis. Kelamin perempuan : Vagina, uretra berlubang,
labia mayora dan labia minora.
k) Ekstremitas
Adakah kelainan seperti polidaktili atau sinidaktili, adakah tulang
yang retak misalnya clavikula.
l) Tulang punggung
Adakah kerusakan yang terlihat misalnya masa, lekuk atau
tonjolan
m) Anus
Berlubang atau tidak, fungsi spingter ani.

4) Pemeriksaan Reflek
a) Reflek morro
Tangan pemeriksa menyangga pada punggung dengan posisi 45
derajat, dalam keadaan rileks kepala dijatuhkan 10
derajat,normalnya akan terjadi abduksi sendi bahu dan ekstensi
lengan
b) Reflek rooting
Yaitu mencari putting susu dengan rangsangan taktil pada pipi
dan daerah mulut.
c) Reflek walking
Yaitu bayi akan menunjukkan respon berupa gerakan berjalan dan
kaki akan bergantian dari fleksi ke ekstansi.
d) Reflek grasping
Bayi akan menggenggam dengan kuat saat pemeriksa meletakkan
jari telunjuk pada palmar yang ditekan dengan kuat.
e) Reflek sucking
Reflek mengisap dan menelan yaitu dilihat pada waktu bayi
menyusu.
f) Reflek tonic neck
Letakkan bayi dalam posisi terlentang, putar kepala ke satu sisi
dengan badan ditahan, ekstremitas terekstensi pada sisi kepala
yang diputar, tetapi ekstremitas pada sisi lain fleksi. Pada keadaan
normal, bayi akan berusaha untuk mengambilan kepala ketika
diputar ke sisi pengujian saraf asesori.

5) Pemeriksaan Antropometri
a) Lingkar kepala
Pengukuran ini dilakukan dengan meletakkan pita melingkar pada
lingkar oksipito-frontal. Pengukuran yang dicatat adalah rata-rata
dari tiga kali pengukuran, normalnya pada bayi adalah 32-37 cm.
b) Lingkar dada
Deteksi dini bayi berat lahir rendah, normalnya adalah 30-38 cm.
c) Berat badan
Menimbang berat badan tujuannya untuk mengetahui
pertumbuhan bayi sehingga diketahu normal atau tidaknya
petumbuhannya. Berat badan normal bayi adalah 2500 sampai
4000 gram.
d) Panjang badan
Bervariasi, antara 48-52 cm.
6) Pola Eliminasi
Bayi baru lahir normal biasanya BAK lebih dari enam kali per hari.
Dicurigai diare apabila frekuensi meningkat, tinja hijau atau
mengandung lender atau darah.
7) Data Penunjang
Data yang diperoleh dari pemeriksaan laboratorium . Pada kasus
bayi dengan cephal hematoma dilakukan pemeriksaan penunjang
CT-scan kepala apabila ditemukan fraktur tulang tengkorak.

9. Diagnosa Keperawatan
 Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan trauma jaringan
perinatal
 Ansietas (anak dengan orangtua) berhubungan dengan
ketidaktahuan status kesehatan anak
 Resiko infeksi berhubungan dengan adanya indurasi

10. Intervensi Keperawatan


 Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan trauma jaringan
perinatal
Tujuan :
Anak akan menunjukkan berkurangnya rasa ketidaknyamanan.
Kriteria hasil :
1) Anak tidak rewel
2) Anak tidak terus menangis
3) Tanda-tanda vital dalam batas normal

Intervensi:

1) Kaji ekspresi anak (diam, rewel, menangis terus menerus, dan


lainnya).
Rasional:
Memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi
intervensi yang diberikan.
2) Kurangi jumlah cahaya lampu, kebisingan, dan berbagai
stimulus lingkungan lainnya dalam anak.
Rasional:
Stimulus demikian dapat mengganggu anak yang mengalami
cedera, karena dapat meningkatkan tekanan intrakranial.
3) Kaji tanda-tanda vital
Peningkakatan frekuensi nadi, peningkatan, atau penurunan
frekuensi pernapasan, atau diforesis menunjukkan
ketidaknyamanan.
4) Kolaborasi : berikan analgesik sesuai kebutuhan nyeri
Rasional:
Mengurangi nyeri dan spasme otot.

 Ansietas (anak dengan orangtua) berhubungan dengan


ketidaktahuan status kesehatan anak
Tujuan:
Anak dan orangtua akan menunjukkan kecemasan berkurang
Kriteria hasil:
1) Menunjukkan pengurangan rasa agitasi
2) Mengajukan pertanyaan yang tepat sehubungan dengan
penyakit dan penanganan.

Intervensi:

1) Jelaskan tentang tujuan semua tindakan keperawatan yang


dilakukan dan bagaimana tindakan dilakukan
Rasional:
Dengan mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan sebelum
melaksanankan prosedur dan mengapa prosedur tersebut
dilakukan membantu mengurangi kecemasan.
2) Ijinkan orang tua tetap menemani anak, bergantung pada
keadaan anak.
Rasional:
Dengan mengijinkan orangtua menemani anak memberi
dukungan emosional akan memberikan ketenganan pada anak.
Kecemasan orangtua akan berkurang dengan mengijinkan
mereka memantau dan berpartisipaso dalam perawatan anak.
3) Berikan informasi akurat, konsisten mengenai progniosis
Rasional:
Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien
membuat keputusan atau pilihan sesuai realita.

 Resiko infeksi berhubungan dengan adanya indurasi


Tujuan:
Anak akan menunjukkan tidak adanya tanda atau gejala infeksi.
Kriteria hasil :
1) Suhu tubuh kurang dari 37oC
2) Tidak ada drainase dari luka (cephal hematom)
3) Tidak ada tanda-tanda infeksi
4) Sel darah putih dalam batas normal sesuai dengan usia.

Intervensi:

1) Kaji keadaan indurasi pada anak


Rasional:
Mengidentifikasi adanya infeksi secara dini
2) Pantau suhu tubuh anak setiap 4 jam
Rasional:
Hipertermi merupakan suatu tanda infeksi
3) Kaji tanda dan gejala meningitis, termasuk kakuk kuduk, peka
rangsangan, demam, muntah, dan kejang-kejang
Rasional:
Meningitis merupakan komplikasi yang mungkin terjadi pada
setiap kejadian cephal hematom walaupun jarang.
4) Ganti balutan indurasi (jika ada) dan gunakan teknik sterilisasi
Rasional:
Mencegah masuknya bakteri dan mengurangi infeksi.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Vivian Lia Dewi. (2011). Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Salemba
Medika. Jakarta

Mariyanti, Dwi. (2011). Buku Ajar Neonatus, Bayi, dan Balita. CV. Trans Info
Media. Jakarta

Nurarif, Amin Huda. (2015). APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN


BERDASARKAN DIAGNOSIS MEDIS & NANDA NIC-NOC Edisi 1.
Mediaction. Yogyakarta

Rukiyah, Ai Yeyeh. (2010). Asuhan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita. CV. Trans
Info Media. Jakarta

Syaifuddin. (2011). Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk


Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4. EGC. Jakarta.