MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN PENYAKIT ANEMIA
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak
Oleh:
Cici Putri Paramita (AOA0170844)
Evie Amilatusilmi (AOA0170848)
Nur Safitri (AOAO170850)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES MALANG
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN
TAHUN 2019
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunia- Nya kelompok dapat menyelesaikan makalah mata kuliah
keperawatan gerontik yang berjudul “asuhan keperawatan anak pada pasien
anemia”.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan
gerontik dan tidak lupa kelompok juga mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr. Mulyohadi Sungkono, SpOG (K), selaku Pembina Yayasan Kendedes
Malang.
2. drg. Suharwati selaku Ketua Yayasan Kendedes Malang.
3. dr. Endah Puspitorini, MScIH., DTMPH, selaku PLH Yayasan Kendedes
Malang.
4. Dr. Edi Murwani, AMd.Keb., SPd., MMRS, selaku Ketua STIKes Kendedes
Malang.
5. Ns. Veny Erlisa,S.Kep.M.Kes Selaku Dosen Pembimbing mata kuliah
keperawatan anak
Kelompok menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini karena keterbatasan kemampuan dan waktu. Untuk itu mohon masukan
yang positif demi kesempurnaan penyusunan makalah ini.
Malang, 19 Maret 2019
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 4
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 4
1.3 Tujuan............................................................................................ 5
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 6
2.1 Definisi anemia .............................................................................. 6
2.2 Etiologi ........................................................................................... 7
2.3 Manifestasi Klinis .......................................................................... 7
2.4 Patofisiologi ................................................................................... 8
2.5 Pencegahan .................................................................................... 9
2.8 Pengobatan .................................................................................... 10
2.9 Pemeriksaan Diagnostik ................................................................. 10
2.10 Diagnosa Keperawatan ................................................................. 11
BAB III PENUTUP ....................................................................................... 13
3.1 Kesimpulan..................................................................................... 13
3.2 Saran ............................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 14
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas
hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah
(Muttaqin, 2009). Anemia merupakan kondisi di mana kurangnnya konsentrasi
sel darah merah atau menurunnya kadar hemoglobin dalam darah di bawah
normal, penurunan kadar tersebut banyak dijumpai pada anak karena kurangnya
kadar zat besi atau perdarahan (Thibodeau, 2012).
Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di
klinik di seluruh dunia, di samping sebagai masalah kesehatan utama
masyarakat, terutama di negara berkembang. Kelainan ini merupakan penyebab
debilitas kronik yang mempunyai dampak besar terhadap kesejahteraan sosial
dan ekonomi, serta kesehatan fisik (Sudoyo, 2009).
Menurut World Health Organisation (WHO) (2016), secara global
prevalansi anemia di seluruh dunia adalah sebesar 3,8 %. Organisasi WHO
menyatakan anemia mempengaruhi 1,62 juta orang di dunia (24,8%).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) tahun 2016, prevalensi
anemia di Indonesia sebesar 35,1% . Menurut Dinas Kesehatan kota
Banjarmasin, pada tahun 2014 penyakit anemia terdapat 24 kasus, sedangkan
tahun 2015 terdapat 36 kasus dan tahun 2016 terdapat 88 kasus. Penyakit
anemia di kota Banjarmasin masuk dalam urutan ke 64. Berdasarkan data dari
Instalasi Rawat inap RSUD Ulin Banjarmasin pada tahun 2017 di ruang Tulip
(Penyakit Dalam Wanita) Anemia menempati urutan ke-4 pada 10 penyakit
terbanyak
1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Apa pengertian dari Anemia ?
1.2.2 Apa etiologi dari Anemia ?
1.2.3 Apa patofisiologi dari anemia ?
1.2.4 Apa Manifestasi Klinis dari Anemia ?
1.2.5 Bagaimana diagnosa dari penyakit anemia ?
4
1.2.6 Apa diagnosa keperawatan dari penyakit anemia ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari anemia
1.3.2 Untuk mengetahui etiologi dari anemia
1.3.3 Untuk mengetahui patofisiologi dari anemia
1.3.4 Untuk mengetahui manifestasi klinis dari anemia
1.3.5 Untuk mengetahui diagnosa dari penyakit anemia
5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Anemia
Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitung sel darah merah
dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal. Anemia bukan merupakan
penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau
gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat
kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan (Smeltzer,
2002).
Untuk mengetahui seorang anak mengalami anemia atau tidak, maka dapat
dilihat batasan kadar hemoglobinnya. Batasan yang umum digunakan adalah
kriteria WHO pada tahun 2001. Terdapat kriteria batas normal kadar Hb
berdasarkan umur dan jenis kelamin, data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Batasan normal kadar Hb
Kelompok Umur Hemogloblin (gr/dl)
Anak usia sekolah laki 5 – 11 tahun 11,5
– laki dan perempuan 12 – 14 tahun 12,0
2.2 Derajat anemia pada anak
Derajat anemia untuk menentukan seorang anak mengalami anemia atau tidak dapat
ditentukan oleh jumlah kadar Hb yang terdapat dalam tubuh.
Klasifikasi derajat anemia yang umum dipakai dalah sebagai berikut :
a. Ringan sekali Hb 10 gr/dl – 13 gr / dl
b. Ringan Hb 8 gr / dl – 9,9 gr / dl
c. Sedang Hb 6 gr / dl – 7,9 gr / dl
6
d. Berat Hb < 6 gr / dl
2.3 Etiologi
Menurut Price (2006) penyebab anemia dapat dikelompokan sebagai berikut :
1. Gangguan produksi eritrosit yang dapat terjadi karena :
a) Perubahan sintesa Hb yang dapat menimbulkan anemi difisiensi Fe,
Thalasemia, dan anemi infeksi kronik.
b) Perubahan sintesa DNA akibat kekurangan nutrien yang dapat
menimbulkan anemi pernisiosa dan anemi asam folat.
c) Fungsi sel induk ( stem sel ) terganggu , sehingga dapat menimbulkan anemi
aplastik dan leukemia.
d) Infiltrasi sumsum tulang, misalnya karena karsinoma.
2. Kehilangan darah :
a) Akut karena perdarahan atau trauma / kecelakaan yang terjadi secara
mendadak.
b) Kronis karena perdarahan pada saluran cerna atau menorhagia.
3. Meningkatnya pemecahan eritrosit ( hemolisis). Hemolisis dapat terjadi
karena :
a) Faktor bawaan, misalnya, kekurangan enzim G6PD ( untuk mencegah
kerusakan eritrosit.
b) Faktor yang didapat, yaitu adanya bahan yang dapat merusak eritrosit
misalnya, ureum pada darah karena gangguan ginjal atau penggunaan obat
acetosal.
4. Bahan baku untuk pembentukan eritrosit tidak ada. Bahan baku yang
dimaksud adalah protein , asam folat, vitamin B12, dan mineral Fe.Sebagian
besar anemia anak disebabkan oleh kekurangan satu atau lebih zat gizi
esensial (zat besi, asam folat, B12) yang digunakan dalam pembentukan sel-
sel darah merah. Anemia bisa juga disebabkan oleh kondisi lain seperti
penyakit malaria, infeksi cacing tambang (Masrizal, 2007).
2.4 Manifestasi Klinis
7
Tanda-tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia adalah pucat,
takikardi, sakit dada, dyspnea, nafas pendek, cepat lelah, pusing, kelemahan, tinitus,
penderita defisiensi yang berat mempunyai rambut rapuh dan halus, kuku tipis rata
mudah patah, atropi papila lidah mengakibatkan lidah tampak pucat, licin,
mengkilat, merah daging meradang dan sakit (Guyton, 1997). Manifestasi klinis
anemia besi adalah pusing, cepat lelah, takikardi, sakit kepala, edema mata kaki dan
dispnea waktu bekerja. (Gasche C., 1997:126).
2.5 Patofisiologi
Adanya suatu Anemia mencerminkan adanya suatu kegagalan sumsum atau
kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum
(misalnya berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi,
pajanan toksik, invasi tumor atau penyebab lain yang belum diketahui. Sel darah
merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi).
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau
dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping
proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan
destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan
bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl
mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada
kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma
(hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin
plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya,
hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin
(hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu Anemia pada pasien disebabkan oleh
penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi
biasanya dapat diperoleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam sirkulasi darah;
2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara
8
pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya
hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
Anemia
viskositas darah menurun
resistensi aliran darah perifer
penurunan transport O2 ke jaringan
hipoksia, pucat, lemah
beban jantung meningkat
kerja jantung meningkat
payah jantung
2.6 Pencegahan Anemia
Diet pada semua orang yang harus mencangkup zat besi yang cukup.
Daging merah, hati dan kuning telur merupakan sumber penting zat besi. Tepung,
roti dan beberapa sereal yang diperkaya dengan besi baik untuk pencegahan. Jika
tidak mendapatkan cukup besi dalam diet, maka dapat dilakukan suplementasi zat
besi. Selama periode tertentu yang membutuhkan zat besi tambahan (seperti
9
kehamilan dan menyusui), maka jumlah zat besi dalam diet harus ditinggalkan atau
dengan suplementasi zat besi (Proverawati, 2011).
2.7 Pengobatan Anemia
Penyebab kekurangan zat besi harus ditemukan terlebih dahulu, terutama
pada pasien yang lansia yang menghadapi resiko terbesar untuk kangker
pencernaan. Telah tersedia suplemen besi ( fero sulfat), untuk penyerapan zat besi
terbaik, minum suplemen ini dengan perut kosong. Namun, banyak orang yang
tidak dapat mentoleransi keadaan ini dan mungkin perlu mengkonsumsi suplemen
bersamaan dengan makanan.
Pasien yang tidak bisa mentolelir besi melalui mulut dapat menerimanya
melalui injeksi vena (intravena) atau dengan suntikan ke dalam otot. Susu dan
antasida dapat mengganggu penyerapan zat besi dan tidak harus diambil pada waktu
yang sama sebagai suplemen zat besi. Vitamin c dapat meningkatkan penyerapan
dan sangat penting dalam produksi hemoglobin. Kondisi .Makanan yang banyak
mengandung zat besi antara lain telur ( kuning telur), ikan, kacang – kacangan ,
daging, unggas, kismis, roti gandum (Proverawati, 2011).
2.8 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik pada anemia adalah:
1. Jumlah darah lengkap (JDL) di bawah normal (hemoglobin, hematokrit dan
SDM).
2. Feritin dan kadar besi serum rendah pada anemia defisiensi besi.
3. Kadar B12 serum rendah pada anemia pernisiosa.
4. Tes Comb direk positif menandakan anemia hemolitik autoimun.
5. Hemoglobin elektroforesis mengidentifikasi tipe hemoglobin abnormal
pada penyakit sel sabit.
6. Tes schilling digunakan untuk mendiagnosa defisiensi vitamin B12
(Engram, 1999:430)
10
2.9 Diagnosa Keperawatan
1. Perfusi jaringan tidak efektif b.d perubahan ikatan O2 dengan Hb, penurunan
kosentrasi Hb dalam darah
2. Ketidakefektifan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d inadekuat intake
makanan
3. Defisit perawatan diri b.d kelemahan
4. Resiko infeksi b.d pertahanan sekundertidak adekuat
5. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
6. Gangguan pertukaran gas b.d ventilasi perfusi
7. Keletihan b.d anemia
11
Pathway
12
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penyakit anemia yang terjadi pada anak sangat rentang karena banyak terjadi
penyakit tersebut yang menyerang pada anak. Kesehatan pada anak harus di
utamakan karena anak sangat rentang dan mudah terkena penyakit. Maka dari itu
penyuluhan-penyuluhan penyakit anemia pada anak sangat di butuhkan para orang
tua.
3.2 Saran
Dari makalah di atas semoga dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Dan bisa
memberikan informasi dan pengetahuan terhadap penyakit anemia pada anak dan
bisa mengadakan penyuluhan-penyuluhan. Kritik dan saran sangat diharapkan dari
penulis.
13
DAFTAR PUSTAKA
Arisman, 2007. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC
Nurarif, Huda Amin. 2013. Aplikasi Asuhan KeperawatanBerdasarkan Diagnosa
Medis & Nanda Nic Noc. Yogyakarta : Medication Publishing
Mansjoer. 2003. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 2. Jakarta : FKUI
Mansjoer. Arif 2001. Kapita selekta kedokteran Jilid I. Jakarta. Media Aesculapius.
FKUI
14