Anda di halaman 1dari 8

KEPEMIMPINAN RASULULLAH PERIODE MAKKAH

Disusun Oleh:
Aswinda Ardiansyah (17513158)
Riefka Kinanti Adhira Pramesti (17513161)
Annisa Amalia Ardiyanti (17513164)
Panji Maulana Rizast (17513165)

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2018
A. Pendahuluan

Dalam sejarah, peradaban Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah seorang tokoh agung
yang dilahirkan dalam lingkungan masyarakat jahiliah dan paganis di Jazirah Arab. Dia adalah
Muhammad bin ‘Abdullah, rasul terakhir dan penutup para nabi. Perjalanan kehidupannya
adalah sebuah sejarah kepemimpinan yang sangat penting bagi umat manusia. Secara umum,
kepemimpinannya dapat dibagi ke dalam dua periode, yaitu periode Mekkah dan Madinah.
Periode Mekkah adalah masa yang dimulai dari diangkatnya beliau menjadi Rasul hingga hijrah
ke Madinah. Sedangkan periode Madinah adalah masa ketika Nabi Muhammad berada di
Madinah hingga beliau wafat.

Kepemimpinan Muhammad saw pada masa hidupnya telah memberikan arti penting
dalam sejarah peradaban manusia pada umumnya, dan Islam pada khususnya. Kepemimpinan
beliau dipandang tidak hanya sebatas sebagai pemimpin agama, akan tetapi juga sebagai
pemimpin negara. Dengan kata lain, kepemimpinannya tidak hanya sebagai rasul, melainkan
juga sebagai negarawan. Namun, ada sebagian orang yang menyangkal pernyataan ini. Oleh
karena itulah, tulisan singkat ini akan membahas kepemimpinan Nabi Muhammad saw periode
Mekkah dan periode Madinah. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman tentang
Muhammad sebagai pemimpin agama dan Negara dalam tinjauan historis atau sejarah.
Kepemimpinan Nabi Muhammad saw Periode Mekkah
1. Muhammad Menjadi Nabi dan Rasul

Sejak Muhammad saw belum menjadi nabi, beliau adalah orang yang tidak pernah cacat
(tercela) di tengah masyarakatnya. Selain karena terlahir dari keluarga mulia, Muhammad juga
selalu dikenal hanya mengerjakan perbuatan yang mulia atau terpuji saja. Di samping itu, beliau
memiliki prestasi sejak usia belia. Beliau menjadi pemersatu umat dalam peletakan kembali
Hajar Aswad, sehingga para pemimpin suku dan masyarakat mengakui beliau sebagai Al-Amin.
Menjelang usia kematangannya, kebiasaan Muhammad adalah mendatangi gua Hira untuk
melakukan meditasi dan bertafakkur tentang Yang Maha Pencipta untuk mencari untuk mencari
jawaban-jawaban terhadap misteri kehidupan. Dia benar-benar sangat tergoncang melihat
kemungkaran masyarakat, penyembahan berhala dan kegiatan yang tidak manusiawi. Ketika
beliau mendekati usia empat puluh tahun, ia meningkatkan kontemplasi dan tafakkur.
Penyembahan berhala dan menurunnya moral masyarakat sangat menekan perasaannya, karena
itu ia mencari jalan yang lurus seperti yang disingkapkan oleh Al Qur’an:
“Dan Dia menemukanmu (Muhammad) sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan
petunjuk.” (Q.S. 93: 7)

Suatu hari di bulan Ramadan 610 M (hari Senin, 17 Ramadan, menurut Ibnu Sa’d) ketika
ia sedang khusyuk bertafakkur di gua, ia melihat malaikat Jibril dan menyuruhnya membaca. Di
saat inilah wahyu pertama turun, yaitu Surat al-‘Alaq ayat 1-5. Turunnya wahyu pertama ini
berarti beliau telah dipilih Tuhan sebagai Nabi.
Dalam wahyu pertama itu, beliau belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu
agama. Setelah wahyu pertama itu datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama,
sementara Nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke gua Hira’. Dalam keadaan
menanti itulah turun wahyu yang membawa perintah kepadanya. Dengan turunnya perintah itu,
maka Nabi Muhammad telah diangkat menjadi Rasulullah (utusan Allah) yang membawa misi
Islam untuk umat. Dan beliau lah Rasul terakhir serta penutup para nabi.
Di masa awalnya, Islam disiarkan secara rahasia. Namun, pada masa ini banyak juga yang segera
masuk Islam. Orang yang pertama masuk ke dalam Islam adalah istrinya Khadijah, Abu Bakar,
Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah serta Ummu Aiman. Setelah mereka menyusul Ammar bin
Yasir, Khabab bin al-Arat, ‘Utsman bin Affan, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’d bin Abi Waqqas,
Talhah, Arqam, Sa’id bin Zaid, Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Mazh’un, Ubaidah dan
Shuhaib al-Rumi. Misi rahasia ini berlangsung kira-kira tiga tahun, selama ini empat puluh orang
memeluk Islam. Para pemeluk Islam yang pertama-tama ini terdiri dari orang miskin, bahkan
banyak dari mereka yang berasal dari hamba sahaya.

Pada tahun ketiga dari kenabian, datang perintah Allah untuk menyiarkan ajaran Islam
secara terbuka. Rasulullah kemudian naik ke atas bukit Shafa, Ia memanggil bangsa Quraisy.
Ketika mereka telah berkumpul, ia minta anggota keluarganya dari Bani Abdu Manaf untuk
mendekat. Lalu, ia berpidato: “Apakah saudara-saudara percaya bila kukabarkan bahwa ada bala
tentara musuh yang mendekat dari balik bukit?” “Tentu kami percaya, karena engkau selalu
jujur”, jaawab mereka serentak. Kemudian Nabi meneruskan, “kamu sekalian adalah orang yang
terdekat kepadaku dari suku Quraisy. Saya minta saudara untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah, bila saudara menolak maka saya tidak akan menolong kamu sekalian baik di dunia
maupun di akhirat kelak. Bila saudara beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, saya akan menjadi
saksi bagi saudara sekalian di hadapan Allah. Bila saudara mengabaikan ajaran Allah, maka
tentu saudara akan celaka”. Begitu Nabi diam, tiba-tiba Abu Lahab, salah seorang paman Nabi
berkata dengan marah: “Celaka engkau hai Muhammad! Hanya untuk inikah engkau panggil
kami?” Lantas mereka bubar meninggalkan bukit Shafa dan tidak ambil peduli terhadap apa
yang diucapkan oleh Muhammad saw.

Suatu hari Nabi saw pergi ke Ka’bah di Masjidil Haram dan mengucapkan kalimat
syahadah dengan suara yang keras. Lalu tindakan ini dipandang sebagai penghinaan yang amat
besar terhadap Ka’bah dan adapt istiadat Quraisy, maka muncullah kerusuhan dan orang kafir
mulai menyerang Rasul. Harits bin Abi Hala yang telah memeluk Islam, segera keluar rumah
hendak menyelamatkan Rasulullah, tetapi beliau malah terbunuh menjadi
syahid. Begitulah penentangan para kafir Quraisy kepada Rasul dan muslimin. Namun
Muhammad saw dan pengikutnya tetap meneruskan misi Islam secara terbuka. Seiring itu,
penindasan dan penganiayaan yang tidak manusiawi terhadap kaum Muslimin makin lama makin
menigkat. Orang-orang Quraisy bahkan semakin semangat berusaha dengan sekuat tenaga untuk
menghancurkan misi Nabi saw. Orang-orang yang berpengaruh seperti Abu Bakar, Utsman dan
Zubair juga tidak terkecuali. Orang-orang muslim yang miskin banyak ditangkapi lalu dilempari
batu kerikil di lembah yang amat panas dan dijemur di bawah terik matahari pada siang hari.
Bilal, budak dari Abyssinia milik orang kafir Mekkah, dipaksa tidur telentang di atas pasir yang
membara di tengah hari, lalu dadanya ditindihi batu besar sehingga ia tidak bisa menggerakkan
anggota badannya sedikitpun. Kemudian Bilal diminta untuk melepaskan keislamannya, namun
ia tetap bertahan dalam ketauhidannya walaupun tengah disiksa. Lantas Abu Bakar
membeli budak ini dan memerdekakannya.
Secara umum, ada beberapa upaya yang dilakukan oleh kafir Quraisy untuk menghalangi Nabi
Muhammad dalam menjalankan misi Islam di Mekkah, yaitu:

1. Diantara upaya Quraisy yang halus


a. Melakukan negosiasi kepada Abu Thalin agar Muhammad menghentikan misinya.
b. Menawarkan kepada Muhammad apa saja yang diinginkan baik harta, wanita,
kedudukan, atau dokter kalau memang beliau memiliki kelainan jiwa.
c. Menawarkan ibadah secara bergantian.

2. Diantara upaya yang agak kasar:


a. Mencemooh, menghina, melecehkan, mendustakan, serta menertawakan, seperti
menuduh Muhammad sebagai orang gila.
b. Melontarkan propaganda palsu dengan mengatakan bahwa ajaran Muhammad adalah
dongeng orang-orang terdahulu.

3. Diantara upaya atau tidakan yang kasar


a. Menebar duri di tempat Rasulullah lewat.
b. Melakukan penyiksaan kepada beberapa pengikut Islam.
c. Blokade multidimensi
d. Upaya pembunuhan terhadap Muhammad saw.
Demikianlah tantangan yang dihadapi Muhammad sebagai Rasul dalam menyebarkan ajaran
Islam di Mekkah. Menurut Ahmad Syalabi, ada lima faktor yang mendorong orang Quraisy
menentang seruan Islam, yaitu:

1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa
tunduk kepada seruan Nabi Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani
Abdul Muthalib. Yang terakhir ini (tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib)
sangat tidak mereka inginkan.
2. Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal
ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy.
3. Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan
pembalasan di akhirat.
4. Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berakar pada bangsa Arab.
5. Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezki.

Ketika terus menerus bangsa kafir Quraisy melakukan penyiksaan sampai tak tertahankan oleh
para pemeluk Islam yang baru, maka mereka datang menemui Nabi saw memohon izin untuk
pergi ke negeri tetangga menyeberangi laut merah yakni ke Abyssinia (sering juga disebutkan
Habsyi atau Habsyah, sekarang Ethiopia). Nabi mengabulkan permohonan izin tersebut. Pada
bulan Rajab tahun kelima kenabian, 15 orang (11 lelaki, 4 perempuan) berangkat ke Abyssinia
dalam rombongan pertama. Tidak berapa lama disusul rombongan kedua, sehingga jumlah
semua rombongan kira-kira 80 orang.

Orang-orang yang hijrah diterima dengan baik dan ramah oleh raja Abyssinia, Negus.
Orang-orang Quraisy cukup tergoncang mengetahui kejadian ini, maka tambah meruncinglah
rasa permusuhan mereka. Mereka mengutus ‘Amr bin bin ‘Ash dan ‘Abdullah bin Abi Rabi’ah
sebagai utusan kepada Negus. Kedua utusan tersebut memohon dengan sangat di hadapan sang
raja untuk menolak atau mengembalikan muhajirin (muslim yang hijrah ke Abyssinia). Akan
tetapi, upaya tersebut gagal, sehingga membuat Quraisy semakin kejam terhadap kaum
muslimin. Bahkan, di tengah menigkatnya kekejaman kafir Quraisy, semakin banyak orang
memeluk Islam. Ditambah lagi masuknya dua tokoh besar Quraisy ke dalam agama ini, yaitu
Hamzah dan Umar. Masuknya dua tokoh ini membuat Islam semakin kuat. Menguatnya posisi
umat Islam, memperkeras reaksi orang musyrik Quraisy. Mereka menempuh cara baru untuk
melumpuhkan kekuatan Muhammad yang bersandar pada Bani Hasyim. Dengan demikian, untuk
melumpuhkan kaum muslimin yang dipimpin Muhammad, maka mereka harus melumpuhkan
Bani Hasyim terlebih dahulu secara keseluruhan. Cara yang ditempuh adalah pemboikotan.

2. Pemboikotan Bangsa Quraisy Terhadap Bani Hasyim

Orang-orang kafir Mekkah telah menguras tenaga untuk menganiaya, melukai dan
menghukum Muhammad dan pengikutnya. Sehingga, cara lain yang mereka lakukan adalah
melakukan pemboikotan terhadap Bani Hasyim. Pada tahun ketujuh kenabian, seluruh pemimpin
Mekkah menyusun kesepakatan untuk pemboikotan tersebut. Kesepakatan ini ditulis oleh
Manshur bin ‘Ikrimah dan ditanda tangani oleh seluruh pemimpin Mekkah. Setelah itu, hasil
kesepakatan tersebut digantungkan di Ka’bah. Adapun isi dari kesepakatan tersebut adalah
mereka memutuskan segala bentuk hubungan dengan Bani Hasyim. Tidak seorang penduduk
Mekkah pun yang diperkenankan melakukan hubungan jual beli dengan suku ini, termasuk
menjual makanan. Akibat boikot tersebut, Bani Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan dan
kesengsaraan yang sangat menyedihkan. Tindakan yang dilakukan mulai tahun ke-7 kenabian ini
berlangsung selama tiga tahun. Ini merupakan tindakan yang paling menyiksa dan melemahkan
umat Islam.

Pemboikotan tersebut baru berhenti setelah beberapa pemimpin Mekkah menaruh belas
kasihan kepada Bani Hasyim dan akhirnya merusak lembaran kesepakatan yang digantungkan di
Ka’bah, sebagiannya telah dimakan rayap. Setelah boikot dihentikan, Bani Hasyim seakan dapat
bernafas kembali dan pulang ke rumah masing-masing. Namun, tidak lama kemudian Abu
Thalib, paman Nabi yang merupakan pelindung utamanya wafat. Tiga hari setelah itu, Khadijah
istri Nabi meninggal dunia pula. Peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. Tahun ini
merupakan tahun kesedihan (‘ammul huzn) bagi Nabi Muhammad saw. Sepeninggal dua
pendukung itu, kafir Quraisy tidak segan-segan lagi melampiaskan permusuhannya kepada Nabi.
Melihat reaksi penduduk Mekkah demikian, beliau kemudian berusaha menyebarkan ajaran ke
luar kota. Lalu ia pergi ke Thaif.

Pada saat Nabi Muhammad sampai di Thaif, para kepala suku menolak bahkan
mendengarkan saja pun enggan, bahkan mereka menghina dan menghadapi Nabi dengan kasar.
Ketika Nabi meninggalkan kota ini, mereka menghasut kaum gelandangan untuk melempari
Nabi dengan batu hingga terluka bagian kepala dan badannya.
Untuk menghibur Nabi yang sedang ditimpa duka, Allah mengisra’ dan memi’rajkan beliau pada
tahun kesepuluh kenabian itu. Berita tentang isra’ mi’raj ini menggemparkan masyarakat
Mekkah. Bagi orang kafir, ini dijadikan bahan propaganda untuk mendustakan Nabi. Sedangkan
bagi orang yang beriman, hal ini merupakan ujian.

3. Ikrar Aqabah

Pada musim haji, suku-suku bangsa dari berbagai pelosok jazirah datang ke Mekkah
untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji yang dilaksanakan setiap tahun adalah untuk
memperingati Nabi Isma’il dan ibunya, Hajar. Diantara suku bangsa yang datang adalah suku
Aus dan Khajraz dari Yatsrib.

Pada bulan Rajab tahun kesepuluh kenabian, enam orang dari suku Aus dan Khajraz
mengunjungi Mekkah. Nabi Muhammad menyampaikan ajarannya kepada mereka, kemudian
tanpa ragu-ragu mereka beriman kepada Rasulullah, Nabi yang telah disebutkan dalam kitab-
kitab terdahulu. Beberapa orang Khajraz berkata kepada Nabi, “Bangsa kami telah lama terlibat
dalam permusuhan, yaitu antara suku Aus dan Khajraz. Mereka benar-benar merindukan
perdamaian. Kiranya Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantaraan engkau dan
ajaran-ajaran yang engkau bawa. Oleh karena itu, kami akan berdakwah agar mereka mengetahui
agama yang kami terima dari engkau ini.” Tahun berikutnya 12 orang lelaki Yatsrib datang
untuk memeluk Islam. Mereka mengucapkan ikrar di ‘Aqabah. Ikrar ini dikenal dengan ikrar
‘Aqabah pertama. Inilah ikrar mereka:

Kami tidak akan menyekutukan sesuatu dengan Allah, kami tidak akan mencuri tidak pula
berzina. Kami tidak akan membunuh anak-anak kami, dan kami akan hindari fitnah dalam segala
bentuknya. Kami selalu taat kepada Nabi untuk melakukan segala sesuatu yang haq dan selalu
beriman kepadanya baik dalam keadaan gembira maupun sengsara.
Mereka kemudian memohon Nabi saw untuk mengirim seorang guru untuk mengajarkan Islam
kepada mereka. Lalu Nabi mengutus Mush’ab bin ‘Umair untuk mengajarkan Islam.

Pada tahun keduabelas kenabian datang 73 orang Muslim dari Yatsrib di musim haji dan
menerima Islam. Atas nama penduduk Yatsrib mereka meminta pada Nabi agar berkenan pindah
ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi dari segala ancaman. Nabi pun menyetujui usul
yang mereka ajukan. Perjanjian ini inilah yang dikenal dengan perjanjian ‘Aqabah kedua.
Setelah kaum musyrikin Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara Nabi dengan orang-orang
Yatsrib itu, mereka semakin gila melancarkan intimidasi terhadap kaum muslimin. Mereka pun
mendengar kabar tentang wahyu Allah yang menghalalkan perang bagi Nabi dan pengikutnya
untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Ayat-ayat ini pun beredar dari mulut ke mulut,
sehingga para pemimpin Quraisy secara alami lebih terancam daripada orang-orang lain. Lalu
Nabi mengizinkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib terlebih dahulu. Dalam waktu dua
bulan, hampir semua kaum muslimin, kurang lebih 150 orang, telah ,meninggalkan kota
Mekkah. Hanya Ali dan Abu Bakar yang tinggal di Mekkah bersama Nabi. Keduanya membela
dan menemani Nabi sampai ia pun hijrah ke Yatsrib.

Dalam perjalanan ke Yatsrib Nabi ditemani oleh Abu Bakar. Ketika tiba di Quba, sebuah
desa yang jaraknya lima kilometer dari Yatsrib, Nabi istirahat beberapa hari lamanya. Dia
menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi membangun masjid. Inilah
masjid pertama yang dibangun Nabi. Tak lama kemudian Ali menggabungkan diri dengan Nabi,
setelah menyelesaikan segala urusan di Mekkah. Sementara itu, penduduk Yatsrib menunggu-
nunggu kedatangannya. Waktu yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Nabi memasuki Yatsrib dan
penduduk kota ini mengelu-elukan kedatangan beliau dengan penuh kegembiraan. Sejak itu,
sebagai penghormatan terhadap Nabi, nama kota Yatsrib diubah menjadi Madinatun Nabi (kota
Nabi) atau sering pula disebut Madinatul Munawwarah (kota yang bercahaya), karena dari
sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia. Dalam istilah sehari-hari, kota ini cukup
disebut Madinah saja.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. 1995. Al Quran dan Terjemahannya. Semarang: PT. Karya Toha Putra
Semarang.
Haekal, Muhammad Husain. 1990. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera Antarnusa.
Hassan, Hassan Ibrahim. 1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Penerbit Kota
Kembang.
Hisyam, ‘Abdul Malik Ibnu. 1932. As-Sirah an-Nabawiyyah. Kairo, 4 Jilid.