Anda di halaman 1dari 10

PENGUJIAN KEBOCORAN ARUS DAN KESEREMPAKAN PEMUTUS TENAGA

(PMT) KUBIKEL 20 KV MENGGUNAKAN VACUUM BOTTLE TESTER DAN


BREAKER ANALYZER DI GARDU INDUK MEDARI PT. PLN (PERSERO) UP2D JTY
DCC 2 YOGYAKARTA
Indah Tri Cahyaningsih1, Dr. Abdul Syakur, ST, MT2
1
Mahasiswa dan 2Dosen Departemen Teknik Elektro
Program Studi Sarjana Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Soedharto, S.H., Kampus UNDIP Tembalang, Semarang 50275, Indonesia
Email : indahtricahyaningsih@gmail.com

Abstrak
Pemutus tenaga atau sebagian besar orang sering menyebutnya dangan PMT merupakan peralatan yang penting bagi
keandalan penyaluran energi listrik. PMT harus dapat memutus aliran arus beban suatu saluran baik dalam keadaan normal
maupun ketika terjadi gangguan. Untuk itu, perlu dilakukan pemeliharaan terhadap PMT baik secara mekanis maupun
elektris. Salah satu pemeliharaan yang penting adalah pada bagian interrupter PMT. Pada bagian ini dilakukan
pemeliharaan yaitu pengujian kebocoran arus dan pengujian keserempakan. Pengujian keserempakan mengukur seberapa
cepat kontak PMT untuk open (trip) maupun close dan juga selisih waktu kerja kontak. Pengujian kebocoran arus mengukur
besarnya arus yang bocor pada saat diberi arus pengujian. Pada makalah ini, penulis membahas mengenai pengujian pada
interrupter PMT. Kemudian lebih spesifik akan membahas mengenai prosedur kerja pengujian kebocoran arus dan
keserempakan PMT. Pengujian dilakukan pada PMT 20 kV di Gardu Induk Medari PT. PLN (Persero) UP2D JTY DCC 2
Yogyakarta.

Kata Kunci : PMT, Pengujian Keserempakan, Pengujian Kebocoran Arus.

Abstract
Circuit breaker or most people often call PMT is an important of equipment for the reliability of the distribution
electrical energy. PMT should be able to cut off the load current in normal line and when an interruption occurs. Therefore,
it is necessary to do maintenance on the PMT either mechanically or electrically. One important of maintenance is on the
interrupter PMT. In this section maintenance is carried out, namely leaky current testing and testing simultaneity. The testing
simultaneity measures how quickly a contact PMT to open (trip) and close and also the difference in work time contact. The
leaky current testing measures the amount of leakage current when given a test current. In this paper, the author will discuss
about testing on interrupter PMT. Then a more specific subject will be taken on the working procedures of testing simultaneity
and leaky current of PMT. Tests conducted on the PMT 20 kV in Medari Substation PT.PLN (Persero) UP2D JTY DCC 2
Yogyakarta.

Keyword: PMT, Testing Simultaneity, Leaky Current Testing.

I. PENDAHULUAN Untuk menunjang proses penyaluran tenaga


1.1. Latar Belakang listrik, perlu dilakukan perawatan dan pemeliharaan pada
Listrik sebagai sumber energi yang fleksibel telah peralatan yang ada pada Gardu Induk. Pada Gardu Induk ,
menjadi kebutuhan utama untuk memenuhi segala sistem pemutusan tenaga merupakan hal yang sangat vital
kebutuhan energi dari masyarakat. Hampir semua aspek dalam kelangsungan pasokan listrik, dalam hal ini peran
yang berhubungan dengan perekonomian dan PMT sangat penting. Maka perlu dilakukan pemeliharaan
perkembangan teknologi tidak dapat dipisahkan dengan secara rutin agar PMT dapat bekerja sesuai fungsinya
masalah kelistrikan, sehingga kebutuhan akan listrik pada secara optimal.
saat ini maupun yang akan datang akan terus meningkat. PMT merupakan peralatan saklar / switching
Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya guna menunjang mekanis, yang mampu menutup, mengalirkan dan
keandalan sitem tenaga listrik. memutus arus beban dalam kondisi normal serta mampu
menutup, mengalirkan (dalam periode waktu tertentu) dan penghubung, pengontrol dan proteksi sistem penyaluran
memutus arus beban dalam spesifik kondisi abnormal / tenaga listrik ke pusat - pusat beban. Kubikel yang diambil
gangguan seperti kondisi short circuit / hubung singkat. pada pengujian ini adalah kubikel jenis outgoing. Bagian-
Fungsi utamanya adalah sebagai alat pembuka atau bagian dari kubikel ditunjukkan oleh Gambar 2.1[3].
penutup suatu rangkaian listrik dalam kondisi berbeban,
serta mampu membuka atau menutup saat terjadi arus
gangguan (hubung singkat) pada jaringan atau peralatan
lain[1].
Kondisi PMT harus selalu prima guna menunjang
keandalannya. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan
mengadakan pemeliharaan PMT secara berkala.
Pemeliharaan PMT meliputi 4 pengujian, yaitu pengujian
tahanan kontak, pengujian kebocoran arus, pengjian
tahanan isolasi, serta pengujian keserempakan[2].

1.2. Tujuan Kerja Praktek


Adapun tujuan kerja praktek yang dilaksanakan di
PT. PLN(Persero) UP2D JTY DCC 2 Yogyakarta adalah Gambar 2.1 Peralatan dalam kubikel outgoing 20 kV[3]
:
1. Mengetahui jenis-jenis dan klasifikasi PMT yang Keterangan Gambar 2.1 kubikel outgoing 20 kV:
biasa digunakan pada saluran tenaga listrik di a.Kompartemen Busbar
Indonesia. b.Kompartemen Lemari Kontrol
2. Mengetahui pengujian yang biasa dilakukan pada c.Pemisah Rel
PMT terutama bagian interrupter. d.PMT
3. Mengetahui prinsip dan prosedur kerja pada e.Pemisah Kabel
pengujian kebocoran arus dan keserempakan PMT 20 f. Kompartemen Kabel
kV kubikel outgoing pada Gardu Induk Medari. g. Trafo Arus
4. Mengetahui peralatan yang digunakan dalam proses h. Trafo Tegangan
kerja pengujian tahanan kontak dan tahanan isolasi
PMT 20 kV kubikel outgoing pada Gardu Induk Berdasarkan fungsi atau penempatan- nya,
Medari. kubikel 20 kV di Gardu Induk antara lain :
5. Mengetahui besar nilai arus bocor saat pengujian a. Kubikel Incoming
kebocoran arus dan rentang waktu PMT trip saat b. Kubikel Outgoing
pengujian keserempakan pada PMT 20 kV di Gardu c. Kubikel Pemakaian Sendiri (Trafo PS)
Induk Medari. d. Kubikel Kopel (bus kopling)
e. Kubikel PT / LA
f. Kubikel Bus Riser / Bus Tie (Inter-face)
1.3. Batasan Masalah
Dalam penulisan laporan kerja praktek ini, penulis Kubikel 20 kV pada Gardu Induk Medari ditunjukkan
menjelaskan tentang proses pengujian kebocoran arus dan pada Gambar 2.2 .
keserempakan PMT kubikel outgoing 20 kV di Gardu
Induk Medari PT. PLN (Persero) UP2D JTY DCC 2
Yogyakarta, beserta peralatan-peralatan yang digunakan
selama proses pengujian kebocoran arus dan
keserempakan PMT tersebut. Pengujian keserempakan
hanya meliputi pengujian kerja PMT open dan PMT close.
Pembahasan ini tidak membahas secara mendetail
mengenai kerja PMT dan performa alat uji (Breaker
Analyzer) yang digunakan selama pengujian.

II. DASAR TEORI


2.1. Kubikel 20 kV
Kubikel merupakan seperangkat panel hubung bagi
dengan tegangan kerja 20.000 Volt yang dipasang dalam Gambar 2.2 Kubikel 20 kV GI Medari
gardu induk berfungsi sebagai pembagi, pemutus,
2.2. PMT
Berdasarkan IEV (International Electrotechnical
Vocabulary) 441-14-20 disebutkan bahwa PMT
merupakan peralatan saklar/ switching mekanis, yang
mampu menutup, mengalirkan dan memutus arus beban
dalam kondisi normal serta mampu menutup, mengalirkan
(dalam periode waktu tertentu) dan memutus arus beban
dalam spesifik kondisi abnormal / gangguan seperti
kondisi short circuit / hubung singkat. Fungsi utamanya
adalah sebagai alat pembuka atau penutup suatu rangkaian
listrik dalam kondisi berbeban, serta mampu membuka
atau menutup saat terjadi arus gangguan (hubung singkat)
pada jaringan atau peralatann lain[1].
PMT yang digunakan pada pengujian ini yaitu
PMT 20 kV dengan media pemadam busur api Vakum.
Pada dasarnya kerja dari PMT ini sama dengan jenis
lainnya hanya ruang kontak. Dimana terjadi busur api (b)
merupakan ruang hampa udara yang tinggi sehingga Gambar 2.4 Nameplate PMT
peralatan dari PMT jenis ini dilengkapi dengan seal
penyekat udara untuk mencegah kebocoran. Pemutus
sirkuit vakum saat ini diakui sebagai teknologi interupsi Pada Tabel 2.1 merupakan keterangan namplate pada
yang paling andal saat ini untuk switchgear tegangan PMT vakum Gardu Induk Medari.
menengah[4]. Dibutuhkan perawatan minimum Tabel 2.1 Keterangan Nameplate PMT
dibandingkan dengan teknologi pemutus sirkuit
lainnya.Gambar 2.3 a merupakan contoh gambar PMT dan Nama merk
GAE
Gambar 2.3 b merupakan gambar nameplate pada PMT
pengujian pada Gardu induk Medari. Tipe GV240625 TD113127W
Nomor Seri BH85800586
No Nameplate Keterangan
Rated Tegangan nominal
1 24 kV
Voltage PMT adalah 24 kV
Rated Arus nominal PMT
2 630 A
Current adalah 630 A
Tegangan kontrol
Control
3 DC 110V PMT adalah 110
Voltage
dengan arus DC
Powe
Tegangan maksimal
Frequency
PMT yang dapat
Gambar 2.3 PMT 20 kV Vakum[4] 4 Withstand 50kV
ditahan selama 1
Voltage (1
menit adalah 50 kV
Keterangan bagiann-bagian Gambar 2.3 : min)
A. Unit Vakum Lightning
B. Pole Impulse
Tegangan maksimal
C. Drawout Truck 5 Withstand 125 kV
PMT adalah 125 Kv
D. Lubang pengunci Voltage
(Peak)
E. Nameplate
Duration of Durasi maksimal
6 Short 3s hubung singkat PMT
Circuit adalah 3 detik
Short- Arus maksimal PMT
7 25 kA
Circuit adalah 25 kA
Breaking
current Tabel 3.1 Standar Pengukuran Arus Bocor PT. PLN (Persero)
APD Jateng dan DIY
Kapasitas arus yang Standar Pengukuran Arus Bocor
Making
8 62,5 kA bisa di gunakan PMT OK A < 300 µA
Capacity
adalah 62,5 A Tidak OK A ≥ 300 µA
Setelah PMT open, Vacuum Bottle Tester adalah alat uji kebocoran
maka 3,3 detik arus PMT termasuk kabel konektor untuk pengujian.
setelahnya baru bisa Bentuk fisik dari vacuum Bottle Tester tersebut dapat
O- 3,3 s –
Operating dilakukan kerja close. dilihat pada gambar 3.1 berikut.
9 CO – 180
Squence 180 detik waktu
s – CO
pengisian pegas agar
PMT dapat reclose
kembali.
Standar pabrikan
IEC62271- yang digunakan PMT
10 Standart
100:2001 ini adalah IEC62271-
100:2001
Berat PMT adalah
11 Mass 183 kg
183 Kg
Date of Pembuatan PMT pada
12 Jun,2018
Manufacture bulan Juni tahun 2018

III. PEMELIHARAAN PMT OUTGOING 20 kV


GARDU INDUK MEDARI Gambar 3.1 Vacuum Bottle Tester
3.1 Pengujian PMT
Pada umumnya pemeliharaan dari PMT dilakukan Rangkaian pengujian kebocoran arus diketahui dari
secara berkala dalam jangka waktu satu tahun. Dalam Gambar 3.2 berikut .
pemeliharaan PMT, Pengujian PMT ini terdiri dari 4
tahap yaitu [2]:
a. Pengujian tahanan kontak
b. Pengujian kebocoran arus
c. Pengujian tahanan isolasi
d. Pengujian keserempakan
Pada Makalah ini saya akan membahas mendetail
memgenai Pengujian kebocoran arus dan pengujian
keserempakan.

3.2 Pengujian Kebocoran Arus Gambar 3.2 Rangkaian pengujian kebocoran arus
Pengujian kebocoran arus PMT menggunakan alat
uji yang bernama Vacuum Bottle Tester. Alat ini akan Pengukuran kebocoran arus arus ini dilakukan
mengukur arus bocor dengan memberikan tegangan dan pada saat PMT dalam posisi terbuka (open). Kontak atas
arus sesuai standar yang digunakan. Untuk tegangan yang PMT dihubungkan ke probe phasa Vacuum Bottle Tester,
digunakan adalah 24kV dan 36kV dengan arus sedangkan kontak bawah PMT dihubungkan ke probe
pengukuran 100µA. Pengujian dilakukan untuk setiap netral Vacuum Bottle Tester. Uji masing-masing phasa
masing-masing fasa PMT. Kemudian hasil pengukuran PMT yaitu phasa R,S, dan T nya[5].
akan dibandingkan dan di analisis apakah arus bocor
masih dalam nilai toleransi atau tidak[5]. Jika arus bocor 3.2.1 Prosedur Pengujian Kebocoran Arus PMT
melebihi batas toleransi maka akan dilakukan penanganan Berikut prosedur pengujian kebocoran arus PMT
agar kerja PMT tidak terganggu.untuk standar toleransi three pole 20 KV di gardu induk Medari PT. PLN
arus bocor dapat dilihat pada tabel berikut ini : (Persero) UP2D JTY DCC 2 Yogyakarta berdasarkan
Instruksi Kerja Pengujian Kebocoran Arus PMT (Vacuum hasil pengukuran tersebut, kecepatan kontak masing-
Bottle Tester) No. RJTD/IKA/12-034[5]: masing fasa akan dibandingkan satu sama lain sehingga
1. Melakukan briefing sebelum melakukan pekerjaan akan terdapat perbedaan kecepatan kontak masing-masing
yang dipimpin oleh ketua regu pemeliharaan. fasanya. Perbedaan kecepatan ini menunjukan apa yang
Briefing membahas pekerjaan pemeliharaan yang disebut keserempakan PMT. Semakin besar perbedaan
akan dilakukan. kecepatan kontak antar fasa menunjukan keserempakan
2. Berdoa bersama. PMT semakin buruk dan diperlukan perbaikan pada PMT
3. Memakai perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan tersebut. Apabila perbedaan kecepatan kontak PMT antar
Kerja (K3). fasanya besar atau dapat dikatakan keserempakannya
4. Menyiapkan Vacuum Bottle Tester dan kabel-kabel jelek, maka dapat menyebabkan kerusakan peralatan lain
konektor. yang terdapat pada bay PMT tersebut. Selain itu,
5. Memasang grounding lokal di salah satu sisi PMT kecepatan kontak baik open maupun close memiliki
(konduktor pole atas atau pole bawah) pada setiap standarisasi kecepatan maksimal yang diperbolehkan
fasa PMT. dalam satuan waktu milidetik (ms) yaitu maksimal sebesar
6. Menghubungkan kabel Kontak pada fasa R, kabel 10 ms[5].
dengan diameter yang lebih besar dipasang di bagian Selain besar nilai selisih kecepatan waktu
atas PMT, kabel dengan diameter yang lebih kecil (keserempakan) PMT, yang perlu diperhatikan juga
dipasang di bagian bawah PMT. adalah waktu kerja kontak PMT. Kontak PMT harus
7. Memasang kabel Grounding pada terminal safety bekerja dengan cepat baik open maupun close. Apabila
ground pada alat uji dan menghubungkan ke sistem kerja kontak terlalu lambat maka bisa merusak bagian
pentanahan. interrupter PMT karena kegagalan dalam pemadaman
8. Menghubungkan alat uji Vacuum Bottle Tester ke busur api. Untuk PMT pada sistem 20 kV, maka besar
sumber tegangan yang sesuai (220 V. AC ). Dan maksimal clearing time adalah sebesar 170 ms sesuai
pastikan Power On/Off alat pada posisi Off. dengan standar yang ada. Clearing time ini termasuk di
9. Mengaktifkan alat uji Vacuum Bottle Tester dengan dalamnya adalah waktu kerja kontak PMT[5].
memposisikan saklar On/Off pada posisi On.
10. Masukkan data/spesifikasi PMT yang akan di uji Tabel 3.2Standar Pengukuran Keserempakan PT. PLN (Persero)
dengan media keypad dan disply monitor pada alat APD Jateng dan DIY
uji. Standar Pengukuran Keserempakan
11. Melakukan operasi alat Vacuum Bottle Tester untuk OK Δt < 10 ms
pengujian Kebocoran Arus PMT dengan mengikuti Tidak OK Δt ≥ 10 ms
petunjuk/panduan pada disply alat uji.
12. Menentukan besaran Tegangan Uji Kebocoran Arus
(1,5 kali Tegangan Nominal).
13. Menentukan besaran Waktu Uji Kebocoran Arus.
14. Menguji Kebocoran Arus antara kontak atas dengan
kontak bawah masing-masih phasa PMT dalam
posisi open dengan menekan tombol PUSH TO
“ARM” sampai lampu indikasi tegangan tinggi tidak
menyala lagi lalu melepaskan tombol PUSH TO
“ARM”.
15. Menunggu Vacuum Bottle Tester mengeluarkan
printout hasil pengujian.
16. Melepas alat uji Vacuum Bottle Tester dari sumber
tegangan dan kabel ground.
17. Melepas kabel – kabel penghubung dari alat uji ke
internal PMT.

3.3 Pengujian Keserempakan Gambar 3.3 Breaker Analyzer


Pengujian keserempakan PMT menggunakan alat
uji yang bernama Breaker Analyzer. Alat ini akan
mengukur kecepatan kontak PMT untuk membuka/trip
(open) dan juga kecepatan kontak PMT untuk menutup
(close) pada masing-masing fasa PMT. Kemudian dari
Rangkaian pengujian keserempakan diketahui dari 11. Masukkan data/spesifikasi PMT yang akan di uji
Gambar 3.4 berikut, dengan media keypad dan disply monitor pada alat
uji.
12. Melakukan operasi alat Breaker Analyzer untuk
pengujian Keserempakan PMT dengan mengikuti
petunjuk/panduan pada disply alat uji.
13. Memastikan PMT dalam kondisi close karena akan
melakukan pengujian keserempakan open-close-
open. Hal ini bisa dilihat pada indikator di kotak
kontrol PMT. Apabila PMT dalam kondisi open
indikator menunjukkan “0” sedangkan PMT kondisi
close indikatornya adalah “1”.
14. Menekan tombol Safety pada alat uji sebelum
melakukan pengujian. Tombol ditekan dan tahan
Gambar 3.4 Rangkaian Pengujian Keserempakan
sampai PMT bekerja.
15. Menekan tombol start agar PMT bekerja (open-
Pengujian ini dilakukan pada saat PMT dalam close-open) untuk melakukan pengujian
kondisi tertutup (close). Fasa R, S, dan T pada PMT keserempakan PMT kerja kontak Open maupun
dihubungkan dengan kabel Kontak Breaker Analyser. Close.
Kabel InitiateI Breake Analyzer (konektor 4 pin) 16. Melepas tombol Safety setelah PMT open-close-
dihubungkan pada rangkaian control PMT.
open (ditandai dengan bunyi dentuman yang keras
sebanyak 3x).
3.3.1 Prosedur Pengujian Keserempakan PMT 17. Menunggu Breaker Analyzer mengeluarkan printout
Berikut prosedur pengujian keserempakan PMT hasil pengujian.
kubikel outgoing 20 KV di gardu induk Medari PT. PLN 18. Stop alat uji dengan memposisikan saklar On/Off
(Persero) UP2D JTY DCC 2 Yogyakarta berdasarkan pada posisi Off.
Instruksi Kerja Pengujian Keserempakan dan Kecepatan 19. Melepas alat uji Breaker Analyzer dari sumber
Kontak PMT (Breaker Analyzer)[5]: tegangan dan kabel ground.
1. Melakukan briefing sebelum melakukan pekerjaan 20. Melepas kabel – kabel penghubung dari alat uji ke
yang dipimpin oleh ketua regu pemeliharaan. internal PMT.
Briefing membahas pekerjaan pemeliharaan yang
akan dilakukan. 3.4 Analisa Hasil Pemeliharaan Gardu Induk
2. Berdoa bersama. Medari
3. Memakai perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan 3.4.1 Pengujian / Pengukuran Kebocoran Arus
Kerja (K3) Dari sembilan kali hasil pengujian kebocoran arus
4. Menyiapkan Breaker Analyzer dan kabel-kabel PMT kubikel outgoing 20 kV Gardu Induk Medari PT.
konektor PLN (Persero) UP2D JTY DCC 2 Yogyakarta, maka dapat
5. Memasang grounding lokal di salah satu sisi PMT dibuat rangkuman hasil pengujian kebocoran arus. Berikut
(konduktor pole atas atau pole bawah) pada setiap tabel rangkuman hasil pengujian tersebut:
fasa PMT.
6. Menghubungkan kabel Kontak dari alat uji ke kontak Tabel 3.3 Hasil pengujian Kebocoran Arus PMT
fasa R, S dan T di pole atas dan pole bawah PMT. Nama Fasa Batas Batas Arus Pengujian
7. Menghubungkan kabel Initiate (konektor 4 PMT arus waktu
pin/kabel) pada rangkaian kontrol yang terdapat pada Test 1 Test 2
kotak kontrol PMT atau kotak kontrol bay. (24kV) (36kV)
8. Memasang kabel Grounding pada terminal safety MDI R 300µA 5s 0,99 µA 2,71 µA
ground pada alat uji dan menghubungkan ke sistem 19 S 300µA 5s 1,23 µA 2,96 µA
pentanahan. T 300µA 5s 1,48 µA 3,94 µA
9. Menghubungkan alat uji Breaker Analyzer ke MDI R 300µA 5s 2,46 µA 4,44 µA
sumber tegangan yang sesuai (220 V. AC ). Dan PS S 300µA 5s 2,46 µA 4,93 µA
pastikan Power On/Off alat pada posisi Off. T 300µA 5s 6,16 µA 10,10 µA
10. Mengaktifkan alat uji Breaker Analyzer dengan MDI R 300µA 5s 6,16 µA 10,60 µA
memposisikan saklar On/Off pada posisi On. 22 S 300µA 5s 6,16 µA 10,35 µA
T 300µA 5s 7,15 µA 12,32 µA
MDI R 300µA 5s 1,23 µA 2,71 µA tidak ada yang melebihi 300 µA sehingga dapat dikatakan
20 S 300µA 5s 1,73 µA 3,70 µA PMT ini bekerja sangat baik.
T 300µA 5s 1,97 µA 4,44 µA Pada pengujian keenam PMT MDI KOPEL selama
MDI R 300µA 5s 2,46 µA 5,42 µA 5 detik, didapatkan hasil tes dengan inject tegangan 24kV
06 S 300µA 5s 3,20 µA 6,16 µA adalah R=3,94 µA;S=5,42 µA; dan T=4,93 µA. Dengan
T 300µA 5s 4,68 µA 8,87 µA inject tegangan 36kV didapatkan hasil R=7,39 µA;S=8,63
MDI R 300µA 5s 3,94 µA 7,39 µA µA;dan T=8,13 µA. Pada pengujian MDI KOPEL arus
Kopel S 300µA 5s 5,42 µA 8,63 µA bocor tidak ada yang melebihi 300 µA sehingga dapat
T 300µA 5s 4,93 µA 8,13 µA dikatakan PMT ini bekerja sangat baik.
MDI R 300µA 5s 1,48 µA 2,46 µA Pada pengujian ketujuh PMT MDI 02 selama 5
02 S 300µA 5s 1,23 µA 2,46 µA detik, didapatkan hasil tes dengan inject tegangan 24kV
T 300µA 5s 1,23 µA 3,45 µA adalah R=1,48 µA;S=1,23 µA; dan T=1,23 µA. Dengan
MDI R 300µA 5s 0,49 µA 1,73 µA inject tegangan 36kV didapatkan hasil R=2,46 µA;S=2,46
21 S 300µA 5s 0,99 µA 1,97 µA µA;dan T=3,45 µA. Pada pengujian MDI 02 arus bocor
T 300µA 5s 0,74 µA 1,73 µA tidak ada yang melebihi 300 µA sehingga dapat dikatakan
MDI R 300µA 5s 2,22 µA 3,94 µA PMT ini bekerja sangat baik.
04 S 300µA 5s 1,97 µA 3,94 µA Pada pengujian kedelapan PMT MDI 21 selama 5
T 300µA 5s 1,73 µA 3,70 µA detik, didapatkan hasil tes dengan inject tegangan 24kV
adalah R=0,49 µA;S=0,99 µA; dan T=0,74 µA. Dengan
Pada pengujian pertama PMT MDI 19 selama 5 inject tegangan 36kV didapatkan hasil R=1,73 µA;S=1,97
detik, didapatkan hasil tes dengan inject tegangan 24kV µA;dan T=1,73 µA. Pada pengujian MDI 21 arus bocor
adalah R=0,99 µA;S=1,23 µA; dan T=1,48 µA. Dengan tidak ada yang melebihi 300 µA sehingga dapat dikatakan
inject tegangan 36kV didapatkan hasil R=2,71 µA;S=2,96 PMT ini bekerja sangat baik.
µA;dan T=3,94 µA. Pada pengujian MDI 19 arus bocor Pada pengujian kesembilan PMT MDI 04 selama
tidak ada yang melebihi 300 µA sehingga dapat dikatakan 5 detik, didapatkan hasil tes dengan inject tegangan 24kV
PMT ini bekerja sangat baik. adalah R=2,22 µA;S=1,97 µA; dan T=1,73 µA. Dengan
Pada pengujian kedua PMT MDI PS selama 5 inject tegangan 36kV didapatkan hasil R=3,94 µA;S=3,94
detik, didapatkan hasil tes dengan inject tegangan 24kV µA;dan T=3,70 µA. Pada pengujian MDI 04 arus bocor
adalah R=2,46 µA;S=2,46 µA; dan T=6,16 µA. Dengan tidak ada yang melebihi 300 µA sehingga dapat dikatakan
inject tegangan 36kV didapatkan hasil R=4,44 µA;S=4,93 PMT ini bekerja sangat baik.
µA;dan T=10,10 µA. Pada pengujian MDI PS arus bocor
tidak ada yang melebihi 300 µA sehingga dapat dikatakan 3.4.2 Pengujian / Pengukuran Keserempakan
PMT ini bekerja sangat baik. Dari sembilan kali hasil pengujian keserempakan
Pada pengujian ketiga PMT MDI 22 selama 5 PMT kubikel outgoing 20 kV Gardu Induk Medari PT.
detik, didapatkan hasil tes dengan inject tegangan 24kV PLN (Persero) UP2D JTY DCC 2 Yogyakarta, berikut
adalah R=6,16 µA;S=6,16 µA; dan T=7,15 µA. Dengan tabel rangkuman hasil pengujian tersebut:
inject tegangan 36kV didapatkan hasil R=10,60
µA;S=10,35 µA;dan T=12,32 µA. Pada pengujian MDI 22 Tabel 3.4 Hasil pengujian keserempakan PMT
arus bocor tidak ada yang melebihi 300 µA sehingga dapat Nam CTO/ Fas Waktu kerja Delta time RST
dikatakan PMT ini bekerja sangat baik. a OTC a PMT
Pada pengujian keempat PMT MDI 20 selama 5 PMT Stand Penguji Stand Penguji
detik, didapatkan hasil tes dengan inject tegangan 24kV ar an ar an
adalah R=1,23 µA;S=1,73 µA; dan T=1,97 µA. Dengan MDI CTO R ≤ 60 19,5 ms ≤ 10 0,5 ms
inject tegangan 36kV didapatkan hasil R=2,71 µA;S=3,70 Kopel S ms 19,0 ms ms
µA;dan T=4,44 µA. Pada pengujian MDI 20 arus bocor T 19,5 ms
tidak ada yang melebihi 300 µA sehingga dapat dikatakan OTC R ≤ 110 43,5 ms ≤ 10 0,5 ms
PMT ini bekerja sangat baik. S ms 43,5 ms ms
Pada pengujian kelima PMT MDI 06 selama 5 T 44,0 ms
detik, didapatkan hasil tes dengan inject tegangan 24kV MDI CTO R ≤ 60 19,5 ms ≤ 10 0 ms
adalah R=2,46 µA;S=3,20 µA; dan T=4,68 µA. Dengan 21 S ms 19,5 ms ms
inject tegangan 36kV didapatkan hasil R=5,42 µA;S=6,16 T 19,5 ms
µA;dan T=8,87 µA. Pada pengujian MDI 06 arus bocor OTC R ≤ 110 38,5 ms ≤ 10 1,5 ms
S ms 40,0 ms ms
T 38,5 ms
MDI CTO R ≤ 60 18,5 ms ≤ 10 0,5 ms kontak PMT open adalah 60 ms. Selain itu, standar
02 S ms 18,5 ms ms maksimal PLN untuk perbedaan kecepatan antar fasa
T 19,0 ms PMT baik kerja open maupun close (delta time) maksimal
OTC R ≤ 110 35,0 ms ≤ 10 0 ms adalah 10 ms. Waktu delta time inilah yang menunjukkan
S ms 35,0 ms ms keserempakan dari suatu PMT. Semakin kecil nilainya
T 35,0 ms maka PMT semakin serempak. Apabila dari hasil
MDI CTO R ≤ 60 18,5 ms ≤ 10 0,5 ms pengujian tidak sesuai standar yang ditetapkan maka PMT
20 S ms 18,5 ms ms perlu dilakukan perbaikan.
T 19,0 ms Pada pengujian pertama PMT MDI Kopel, delta
OTC R ≤ 110 38,5 ms ≤ 10 1,5 ms time saat PMT open adalah 0,5 ms dan saat PMT close,
S ms 39,5 ms ms delta time nya juga 0,5 ms, hasil dari kedua delta time
T 38,0 ms sudah sesuai dengan standar yaitu kurang dari 10 ms. Hal
MDI CTO R ≤ 60 19,0 ms ≤ 10 0 ms ini menunjukkan bahwa PMT MDI Kopel dalam keadaan
04 S ms 19,0 ms ms baik.
T 19,0 ms Pada pengujian kedua PMT MDI 21, delta time
OTC R ≤ 110 39,0 ms ≤ 10 0,5 ms saat PMT open adalah 0 ms dan saat PMT close, delta time
S ms 39,0 ms ms nya 1,5 ms, hasil dari kedua delta time sudah sesuai
T 38,5 ms dengan standar yaitu kurang dari 10 ms. Hal ini
MDI CTO R ≤ 60 19,0 ms ≤ 10 0,5 ms menunjukkan bahwa PMT MDI 21 dalam keadaan baik.
05 S ms 19,0 ms ms Pada pengujian ketiga PMT MDI 02, delta time
T 19,5 ms saat PMT open adalah 0,5 ms dan saat PMT close, delta
OTC R ≤ 110 39,0 ms ≤ 10 0,5 ms time nya adalah 0 ms, hasil dari kedua delta time sudah
S ms 38,5 ms ms sesuai dengan standar yaitu kurang dari 10 ms. Hal ini
T 38,5 ms menunjukkan bahwa PMT MDI 02 dalam keadaan baik.
MDI CTO R ≤ 60 19,5 ms ≤ 10 0 ms Pada pengujian keempat PMT MDI 20, delta time
06 S ms 19,5 ms ms saat PMT open adalah 0,5 ms dan saat PMT close, delta
T 19,5 ms time nya adalah 1,5 ms, hasil dari kedua delta time sudah
OTC R ≤ 110 36,5 ms ≤ 10 0,5 ms sesuai dengan standar yaitu kurang dari 10 ms. Hal ini
S ms 36,5 ms ms menunjukkan bahwa PMT MDI 20 dalam keadaan baik.
T 37,0 ms Pada pengujian kelima PMT MDI 04, delta time
MDI CTO R ≤ 60 19,0 ms ≤ 10 1 ms saat PMT open adalah 0 ms dan saat PMT close, delta time
22 S ms 18,5 ms ms nya adalah 0,5 ms, hasil dari kedua delta time sudah sesuai
T 19,5 ms dengan standar yaitu kurang dari 10 ms. Hal ini
OTC R ≤ 110 38,5 ms ≤ 10 1 ms menunjukkan bahwa PMT MDI 04 dalam keadaan baik.
S ms 37,5 ms ms Pada pengujian keenam PMT MDI 05, delta time
T 37,0 ms saat PMT open adalah 0,5 ms dan saat PMT close, delta
MDI CTO R ≤ 60 19,5 ms ≤ 10 0,5 ms time nya juga 0,5 ms, hasil dari kedua delta time sudah
PS S ms 19,0 ms ms sesuai dengan standar yaitu kurang dari 10 ms. Hal ini
T 19,5 ms menunjukkan bahwa PMT MDI 05 dalam keadaan baik.
OTC R ≤ 110 36,5 ms ≤ 10 1 ms Pada pengujian ketujuh PMT MDI 06, delta time
S ms 37,0 ms ms saat PMT open adalah 0 ms dan saat PMT close, delta time
T 37,5 ms nya 0,5 ms, hasil dari kedua delta time sudah sesuai
*CTO : Close to Open dengan standar yaitu kurang dari 10 ms. Hal ini
*OTC : Open to Close menunjukkan bahwa PMT MDI 06 dalam keadaan baik.
Pada pengujian kedelapan PMT MDI 22, delta time
Clearing time pada PMT kubikel outgoing 20 kV saat PMT open adalah 1 ms dan saat PMT close, delta time
diharapkan sesuai standard SPLN No 52-1 1983 yaitu nya juga 1 ms, hasil dari kedua delta time sudah sesuai
sebesar 170 milli detik. Clearing time merupakan waktu dengan standar yaitu kurang dari 10 ms. Hal ini
mulai bekerjanya relay ketika gangguan pada sistem menunjukkan bahwa PMT MDI 22 dalam keadaan baik.
tenaga listrik sampai dengan kontak PMT bekerja. Untuk Pada pengujian kesembilan PMT MDI PS, delta
memenuhi standar tersebut, maka PLN memberi batas time saat PMT open adalah 0,5 ms dan saat PMT close,
maksimal kecepatan kerja kontak untuk PMT close delta time nya adalah 1 ms, hasil dari kedua delta time
sebesar 110 ms sedangkan maksimal kecepatan kerja sudah sesuai dengan standar yaitu kurang dari 10 ms. Hal
ini menunjukkan bahwa PMT MDI PS dalam keadaan kontak PMT bekerja. Waktu kerja PMT pada setiap
baik. fasanya akan dihitung mealui kabel kontak yang
Semua hasil uji menunjukkan waktu kerja dari sudah terhubung di pole atas dan pole bawah PMT.
PMT sudah sesuai standar SPLN No 52-1 1983 yaitu Keserempakan dapat dilihat dari selisih waktu
kurang dari 110 ms untuk close dan 60 ms untuk kerja kerja kontak PMT antar fasanya. Semakin kecil
open. Pada beberapa kasus lain mengenai pengujian selisih waktu kerja kontak antar fasa PMT maka
keserempakan PMT, menunjukan hasil yang kurang keserempakan semakin baik.
bagus. Ini bisa disebabkan oleh beberapa hal dan juga bisa 7. Peralatan kerja yang digunakan dalam pengujian
diatasi dengan melakukan pemeliharaan pada PMT adalah Breakaer Analyzer sebagai alat untuk
tersebut. Berikut diuraikan dalam tabel tentang kondisi pengujian keserempakan dan untuk pengujian
yang berkaiatan baik proses maupun hasil pengujian kebocoran arus digunakan Vacuum Bottle Tester.
keserempakan dan juga solusi yang bisa digunakan untuk Untuk peralatan K3, semua pekerja wajib
mengatasinya. menggunakan safety helmet, dan safety boot.
8. Hasil pengujian kebocoran arus PMT kubikel
outgoing 20 kV di Gardu Induk Medari PT. PLN
IV. PENUTUP (Persero) UP2D JTY DCC 2 Yogyakarta
4.1. Kesimpulan menunjukkan bahwa PMT masih dalam keadaan
Dari kerja praktek yang telah dilakukan di Gardu baik karena nilai arus bocor kurang dari 300
Induk Medari PT. PLN (Persero) UP2D JTY DCC 2 mikroAmpere.
Yogyakarta dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 9. Hasil pengujian keserempakan PMT kubikel
1. Kubikel merupakan suatu alat yang sangat penting outgoing 20 kV di Gardu Induk Medari PT. PLN
dalam mendistribusikan energi listrik kepada (Persero) UP2D JTY DCC 2 Yogyakarta
pelanggan. Pada prakteknya Kubikel yang menunjukkan bahwa waktu kerja kontak masih
menerima energi listrik dari gardu transmisi adalah dalam kondisi baik dan sesuai standar SPLN No 52-
kubikel incoming dan kubikel yang menyalurkan 1 1983 yaitu kurang dari 60 ms untuk waktu kerja
ke gardu distribusi adalah kubikel outgoing. PMT open masing-masing fasanya dan kurang dari
2. Pemeliharaan yang dapat dilakukan pada kubikel 110 ms untuk waktu kerja PMT close masing-
dapat berupa pemeliharaan untuk mencegah masing fasanya.
kerusakan (preventif), memprediksi kondisi 4.2 Saran
(prediktif), pemeliharaan terencana (korektif), dan Saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah
pemeliharaan darurat saat terjadi kerusakan sebagai berikut :
mendadak. Pemeliharaan dilakukan secara berkala
1. Pemeliharaan PMT, termasuk pengujian
setiap 1 tahun sekali kecuali ada keadaan darurat.
keserempakan PMT dan kebocoran arus, sebaiknya
3. Circuit Breaker (PMT) dapat diklasifikasikan
dilakukan berdasarkan periode waktu tertentu
berdasarkan tegangan kerja adalah PMT low
untuk mencegah kerusakan yang parah pada PMT.
voltage, medium voltage, high voltage dan extra
Tindakan pencegahan yang termasuk dalam
high voltage. Berdasarkan jumlah mekanik
pemeliharaan preventive ini bisa mengurangi
penggerak adalah PMT single pole dan three pole.
kerugian yang besar akibat kerusakan. Apabila
Berdasarkan media pemadam busur api adalah
sudah terjadi kerusakkan pada PMT akibat
PMT dengan pemadam busur api Gas SF6, Minyak,
gangguan pada sistem tenaga listrik, maka perlu
Udara Hembus dan Hampa Udara.
dilakukan pemeliharaan baik pemeliharaan
4. Pengujian pada interrupter PMT dalam keadaan
corrective maupun pemeliharaan detective.
offline sebagai salah satu pemeliharaan terdiri dari
pengujian tahanan kontak, pengujian tahanan 2. Pengetahuan akan pemeliharaan PMT termasuk di
isolasi, pengujian kebocoran arus, dan pengujian dalamnya pengujian kebocoran arus dan
waktu keserempakan PMT. keserempakan ini hendaknya lebih dikenalkan
5. Vacuum bottle tester adalah alat yang digunakan kepada kalangan akademika. Tidak hanya terbatas
sebagai pengujian kebocoran arus dengan inject pada PMT saja namun juga pada peralatan
tengangan 24kV dan 36kV pada PMT sehingga tegangan tinggi. Dengan demikian, kalangan
akan diketahui arus mengalir pada PMT. Alat ini akademika ini dapat lebih mengetahui, mengkaji,
akan mendeteksi kebocoran arus pada tingkat bisa mengembangkan proses pemeliharaan
mikro ampere. tersebut dan harapannya, dari kalangan akdemika
6. Breaker analyzer bekerja dengan menginjeksikan dapat menyumbangkan inovasi agar penyaluran
arus pada closing coil maupun triping coil agar energi listrik di Indonesia menjadi lebih optimal.
DAFTAR PUSTAKA Saya menyatakan bahwa segala informasi yang
tersedia di makalah ini adalah benar, merupakan hasil
[1] Posundu.F.M., L.S.Patras.,F.Lisi, dan M.Tuegeh, karya sendiri, bebas dari plagiat, dan semua karya orang
2013 ,Penentuan Kapasitas CB Dengan Analisa lain telah di kutip dengan benar.
Hubung Singkat pada Jaringan 70kV Sistem
Minahasa. Manado.
[2] PT. PLN (Persero) Keputusan Direksi PT PLN
(Persero) Nomor 0520-2.K/DIR/2014. Himpunan
Buku Pedoman Pemeliharaan Peralatan Primer
Gardu Induk”. Jakarta: PT. PLN (Persero). Indah Tri Cahyaningsih
[3] Setiajie.P. dan J.WIndarto, 2016, Pemeliharaan NIM 21060116120012
PMT Kubikel Outgoing 20 kV di GI Sayung,
Semarang.
[4] Wahyudi Sarimun.N, 2012, Proteksi Sistem Pengesahan
Distribusi Tenaga Listrik, edisi1, Garamond,
Bekasi. Telah disetujui untuk diajukan pada seminar Kerja
[5] APD Semarang, Standard Operating Procedure Praktik.
(SOP). Semarang, PT PLN (Persero) Distribusi
Jateng & D.I.Y APD Semarang, 2009
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
BIODATA

Indah Tri Cahyaningsih


(21060116120012) lahir di Bantul, 23
Agustus 1998. Telah menempuh
Dr. Abdul Syakur, ST, MT.
pendidikan mulai dari TK ABA
NIP. 197204221999031004
Gunturgeni selama 2 tahun,
melanjutkan ke SD Muhammadiyah
Gunturgeni selama 6 tahun, kemudian
melanjutkan ke SMP Negeri 1 Sanden
selama 3 tahun, SMA N 1 Bantul selama 3 tahun. Saat ini
penulis sedang melanjutkan pendidikan di Departemen S1
Teknik Elektro Universitas Diponegoro angkatan 2016
mengambil konsentrasi Teknik Tenaga Listrik.