Anda di halaman 1dari 10

PENGUJIAN KESEREMPAKAN PEMUTUS TENAGA (PMT) 20 KV DI

GARDU INDUK 150 kV PURBALINGGA PT.PLN (PERSERO)

Putri Nur Aisyah*) dan Ir. Bambang Winardi, M.Kom.

Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro


Jl. Prof. H. Soedharto, SH, Tembalang 50275, Semarang, (024) 7460053-7460055; Fax (024) 7460055
Email: aisyahputri171@student.undip.ac.id

Abstrak

Abstrak— Pemutus tenaga atau sebagian besar orang sering menyebutnya dengan PMT merupakan
peralatan yang penting bagi keandalan penyaluran energi listrik. PMT harus dapat memutus aliran arus beban
suatu saluran baik dalam keadaan normal maupun ketika terjadi gangguan.Untuk itu, perlu dilakukan
pemeliharaan terhadap PMT baik secara mekanis maupun elektris. Salah satu pemeliharaan yang penting
adalah pada bagian interrupter PMT. Pada bagian ini biasa dilakukan pemeliharaan yaitu pengujian tahanan
kontak, pengujian tahanan isolasi dan pengujian keserempakan. Pengujian keserempakan mengukur seberapa
cepat kontak PMT untuk open (trip) maupun close dan juga selisih waktu kerja kontak. Pada makalah ini,
penulis akan sedikit membahas mengenai pengujian pada interrupter PMT. Kemudian lebih spesifik lagi akan
diambil pokok bahasan mengenai prosedur kerja pengujian keserempakan PMT. Pengujian dilakukan pada
PMT 20 kV di Gardu Induk 150 kV Purbalingga. Dari analisa diketahui bahwa kecepatan PMT 20 kV untuk
close dan open telah sesuai dengan standar SPLN No 52-1 1983 yaitu kurang dari 110 ms untuk waktu kerja
close dan 60 ms untuk waktu kerja open. Begitu juga dengan selisih kecepatan kontak (delta time) PMT 20 kV
baik pada saat PMT open dan close telah sesuai dengan standar SPLN No 52-1 1983 yaitu kurang dari 10 ms.

Kata Kunci : PMT, Pengujian Keserempakan, prosedur kerja

ABSTRACT

Circuit breaker or most people often call PMT is an important of equipment for the reliability of the
distribution electrical energy. PMT should be able to cut off the load current in normal line and when an
interruption occurs. therefore, it is necessary to do maintenance on the PMT either mechanically or electrically.
One important of maintenance is on the interrupter PMT. In this section, the maintenance that ordinary did
namely contacts resistance testing, insulation resistance testing and testing simultaneity. The testing
simultaneity measures how quickly a contact PMT to open (trip) and close and also the difference in work time
contact. In this paper, the author will be little to discuss about testing on interrupter PMT. Then a more specific
subject will be taken on the working procedures of testing simultaneity PMT. Tests conducted on the PMT 20 kV
in 150 kV Purbalingga. From the analysis found that the speed of PMT 20 kV to close and open in accordance
with the standards SPLN 52-1 No. 1983 of less than 110 ms for the working close time and 60 ms for working
open time. Likewise with the difference speed in work time contact (delta time) PMT 20 kV either at the PMT
open and close in accordance with the standards SPLN 52-1 No. 1983 of less than 10 ms.

Keyword: PMT, Testing Simultaneity, Working Procedures


pembangkit listrik sama dengan daya yang
I. PENDAHULUAN diterima oleh beban. Namun dalam prakteknya,
energi listrik yang dikirimkan tersebut tidaklah
seluruhnya diterima beban. Hal ini dikarenakan
1.1. Latar Belakang oleh adanya rugi rugi daya listrik pada sistem
transmisi. Untuk mengurangi adanya rugi-rugi
Di era teknologi seperti sekarang ini, sudah daya listrik tersebut, PLN mengatasinya dengan
banyak teknologi yang di suplai oleh energi listrik, menaikkan tegangan kerja dari saluran transmisi.
karena energi listrik sudah menjadi salah satu Circuit Breaker (Pemutus tenaga) atau
kebutuhan utama bagi manusia, sehingga kebutuhan sebagian besar orang lebih sering menyebutnya
masyarakat Indonesia akan energi listrik juga dengan PMT merupakan peralatan yang sangat
semakin meningkat. penting bagi keandalan penyaluran energi listrik.
Dengan kebutuhan energi listrik yang terus PMT harus dapat memutus aliran arus beban
meningkat, diharapkan daya yang dikirim oleh suatu saluran apabila terjadi gangguan pada
sistem tenaga listrik. Untuk itu, perlu dilakukan satu dari unit pelaksana P3B JB TJBT di mana
pemeliharaan terhadap PMT baik secara mekanis wilayah kerja dari APP Purwokerto sebagai
maupun elektris. Salah satu yang penting dilakukan berikut :
terhadap PMT adalah pengujian keserempakan. 1. Gardu Induk Kalibakal
Pengujian ini mengukur seberapa cepat kontak 2. Gardu Induk Bumiayu
PMT untuk open (trip) dan untuk close. Kerja kontak 3. Gardu Induk Pemalang
PMT tersebut pada setiap fasanya baik open maupun 4. Gardu Induk Kebasen
close tidak boleh memiliki perbedaan waktu yang 5. Gardu Induk Brebes
besar (harus serempak). Keserempakan ini sangat 6. Gardu Induk Majenang
diperlukan pada semua jenis PMT baik three pole 7. Gardu Induk Semen Nusantara
maupun single pole ketika terjadi gangguan sistem. (STARA)
Apabila kontak PMT menutup dengan tidak serempak 8. Gardu Induk Lomanis
maka bisa menyebabkan peralatan yang terhubung 9. Gardu Induk Rawalo
dengan PMT menjadi rusak akibat adanya lonjakan 10. Gardu Induk Gombong
arus maupun tegangan. Untuk itu, diperlukan suatu 11. Gardu Induk Mrica
pengetahuan mengenai pengujian keserempakan pada 12. Gardu Induk Wonosobo
PMT. 13. Gardu Induk Dieng

1.2. Tujuan
BI. PEMUTUS TENAGA PADA
a. Mengetahui jenis-jenis dan klasifikasi Circuit GARDU INDUK SRONDOL
Breaker (PMT) yang biasa digunakan pada 150 kV
saluran tenaga listrik di Indonesia.
b. Mengetahui pemeliharaan yang biasa dilakukan
pada PMT terutama bagian interrupter.
3.1 Pengertian PMT
c. Mengetahui prinsip dan prosedur kerja pada
pengujian keserempakan PMT three pole 20 kV di Berdasarkan IEV (International
Gardu Induk 150 kV Purbalingga Electrotechnical Vocabulary) 441-14-20
d. Mengetahui peralatan kerja yang digunakan dalam disebutkan bahwa Circuit Breaker (CB) atau
proses kerja pengujian keserempakan PMT. Pemutus Tenaga (PMT) merupakan peralatan
e. Mengetahui besar nilai keserempakan PMT three saklar/switching mekanis, yang mampu menutup,
pole 20 kV di Gardu Induk 150 kV Purbalingga mengalirkan dan memutus arus beban dalam
kondisi normal serta mampu menutup,
1.3. Batasan Masalah mengalirkan (dalam periode waktu tertentu) dan
memutus arus beban dalam spesifik kondisi
Dalam penulisan laporan kerja praktek ini, penulis abnormal/gangguan seperti kondisi short circuit /
menjelaskan tentang proses pengujian keserempakan hubung singkat
PMT three pole 20 kV di Gardu Induk 150 kV
Purbalingga, beserta peralatan-peralatan yang 3.2 Prinsip Kerja PMT
digunakan selama proses pengujian keserempakan
tersebut. Pengujian keserempakan hanya meliputi Pada kondisi normal PMT dapat
pengujian kerja PMT open dan PMT close. Tidak dioperasikan lokal oleh operator untuk maksud
membahas secara mendetail mengenai kerja PMT dan switching dan perawatan. Pada kondisi
performa alat uji (Breaker Analyzer) yang digunakan abnormal/gangguan pada CT (Current
selama pengujian. Transformer) akan membaca arus lebih
kemudian relay akan mendeteksi gangguan dan
menutup rangkaian trip circuit, sehingga trip
AI. PROFIL PERUSAHAAN coil ter-energized, kemudian mekanis penggerak
PMT akan dapat perintah buka dari relay dan
PT PLN adalah perusahaan yang beroperasi membuka kontak – kontak PMT.
menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang Mekanis penggerak yang digunakan pada Gardu
terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, Induk 150 kV Ungaran ini adalah menggunakan
anggota perusahaan dan pemegang saham. PT PLN mekanis penggerak Spring (Pegas) dan ada
mengupayakan agar tenaga listrik sebagai media beberapa yang dikombinasikan dengan mekanis
untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. penggerak pneumatic, dengan maksud hanya
Semenjak April 2012, P3B JB resmi meluncurkan sebagai penggerak pada pegas membuka atau
struktur organisasi baru. Struktur Organisasi yang menutup. Pada waktu pemutusan /
semula terdiri atas 4 Kantor Region dan 31 UPT serta menghubungkan daya listrik akan terjadi busur
1 Sub Region kini berubah menjadi struktur yang api, yang terjadi pada kontak – kontak di dalam
lebih ramping, yakni terdiri atas 5 APB (Area ruang pemutus. Pemadamaman busur api dapat
Pengatur Beban) dan 16 APP (Area Pelaksana dilakukan oleh beberapa macam bahan peredam,
Pemeliharaan). APP Purwokerto merupakan salah
diantaranya yaitu dengan minyak, udara, dan gas.
Bahan peredam busur api yang digunakan pada 3.2.3 Berdasarkan Media Isolasi
PMT 20 kV Gardu Induk 150 kV Purbalingga yaitu  PMT Minyak
menggunakan bahan GAS SF6 (Sulphur  PMT Udara Hembus (Air Blast)
Hexafluoride).  PMT Hampa Udara (Vacuum)
 PMT Gas SF6
3.2 Klasifikasi PMT
3.2.4 Berdasarkan Jenis Mekanik
Klasifikasi Pemutus Tenaga dapat dibagi atas Penggerak
beberapa jenis, antara lain berdasarkan tegangan
rating/nominal, jumlah mekanik penggerak, media  Penggerak Helical spring & Scroll
isolasi, dan proses pemadaman busur api. spring
 Penggerak Hidrolik
3.2.1 Berdasarkan Kelas Tegangan  Penggerak Pneumatic
 Penggerak SF6 Dynamic
 PMT tegangan rendah (Low Voltage) Dengan
range tegangan 0.1 s/d 1 kV 3.4 Komponen Penyusun PMT
 PMT tegangan menengah (Medium Voltage)
Dengan range tegangan 1 s/d 35 kV. Sistem Pemutus (PMT) terdiri dari beberapa
 PMT tegangan tinggi (High Voltage) Dengan sub-sistem yang memiliki beberapa komponen.
range tegangan 35 s/d 245 kV Pembagian komponen dan fungsi dilakukan
 PMT tegangan extra tinggi (Extra High Voltage) berdasarkan Failure Modes Effects Analysis
Dengan range tegangan lebih besar dari 245 kV (FMEA), sebagai berikut :
AC
1. Penghantar arus listrik (electrical current
3.2.2 Berdasarkan Jumlah Mekanik carrying)
Penggerak 2. Sistem isolasi (electrical insulation)
3. Media pemadam busur api
 PMT Single Pole 4. Mekanik penggerak
5. Control / Auxilary circuit
6. Struktur mekanik
7. Sistem pentanahan (grounding)

3.5 Pemeliharaan PMT

Pada umumnya pemeliharaan dari pemutus


tenaga (PMT) dilakukan secara berkala dalam
jangka waktu dua tahun. Dalam pemeliharaan
Gambar 1. PMT Single Pole pemutus tenaga (PMT), hal yang terpenting yang
harus dilakukan adalah pengukuran tahanan
PMT type ini mempunyai mekanik penggerak isolasi, tahanan kontak pengujian keserempakan
pada masing-masing pole, umumnya PMT jenis ini dan tahanan pentanahan. Adapun alat yang
dipasang pada bay penghantar agar PMT bisa reclose digunakan untuk mengukur tahanan isolasi dan
satu fasa. tahanan pentanahan adalah megger atau High
Voltage Insulation Tester, sedangkan alat yang
 PMT Three Pole digunakan untuk mengukur tahanan kontak dan
keserempakan PMT adalah breaker analyzer.

Gambar 2. PMT
Three Pole
3.6 Pengukuran Tahanan Isolasi 3.7 Pengukuran Tahanan Kontak

Pengukuran tahanan isolasi pemutus tenaga (PMT) Rangkaian tenaga listrik sebagian besar terdiri
ialah proses pengukuran dengan suatu alat ukur dari banyak titik sambungan. Sambungan adalah
Insulation Tester (megger) untuk memperoleh hasil dua atau lebih permukaan dari beberapa jenis
(nilai/besaran) tahanan isolasi pemutus tenaga antara konduktor bertemu secara fisik sehingga
bagian yang diberi tegangan (fasa) terhadap badan arus/energi listrik dapat disalurkan tanpa
(case) yang diketanahkan maupun antara terminal hambatan yang berarti.
masukan (I/P terminal) dengan terminal keluaran Pertemuan dari beberapa konduktor
(O/P terminal) pada fasa yang sama. menyebabkan suatu hambatan/resistan terhadap
Pengukuran tahanan isolasi pemutus tenaga ( PMT ) arus yang melaluinya sehingga akan terjadi panas
ini dilakukan pada saat posisi terbuka atau open. dan menjadikan kerugian teknis. Rugi ini sangat
Besar dari nilai tahanan isolasi pemutus tenaga (PMT) signifikan jika nilai tahanan kontaknya tinggi.
diharapkan mencapai nilai minimal 1 Mega Ohm. Semakin kecil nilai tahanan kontak yang
Sebelum melakukan pengukuran tahanan isolasi dihasilkan maka akan semakin baik.
perlu dilakukan pembersihan untuk menghilangkan Pengukuran tahanan kontak pemutus tenaga
debu yang menempel pada isolator, karena debu ( PMT ) ini dilakukan pada saat posisi tertutup
dapat bersifat sebagai konduktor. Pemasangan atau close. Dengan menggunakan alat ukur
grounding tambahan pada PMT juga penting untuk breakeranalizer .Satuan yang digunakan untuk
menetralkan tegangan induksi yang masih tersisa. mengukur tahanan kontak adalah µΩ.
Hal ini bertujuan agar mendapatkan hasil yang akurat
saat melakukan pengukuran. Nilai tahanan kontak PMT yang normal harus
Tegangan yang digunakan untuk mengukur (acuan awal) disesuaikan dengan petunjuk /
besarnya tahanan isolasi pemutus tenaga ( PMT ) manual dari masing – masing pabrikan PMT
yaitu : dengan megger skala 5000 V, dengan (dikarenakan nilai ini dapat berbeda antar merk),
pengukuran : sebagai contoh adalah sebagai berikut :

 Atas – bawah - standard G.E. ≤ 100 – 350 μΩ


 Atas – tanah
 Bawah – tanah - standard ASEA ≤ 45 μΩ
 Fasa – tanah
- standard MG ≤ 35 μΩ
Pengukuran tahanan isolasi pemutus tenaga (PMT)
ialah proses pengukuran dengan suatu alat ukur Atau apabila di petunjuk / manual dari
Insulation Tester (megger) untuk memperoleh hasil pabrikan tidak mencantumkan nilai tersebut,
(nilai/besaran) tahanan isolasi pemutus tenaga. maka dapat dengan mengadop ketentuan umum
Pengukuran tahanan isolasi pemutus tenaga (PMT) tahanan kontak dengan menggunakan nilai
ini dilakukan pada saat posisi terbuka atau open. standar R < 100 μΩ (sesuai dengan P3B O&M
Besar dari nilai tahanan isolasi pemutus tenaga (PMT) PMT/001.01 dan SK Direksi Tahun 2012/2013).
diharapkan mencapai nilai yang sebesar – besarnya.
Berikut ini adalah gambar rangkaian pengukuran
tahanan isolasi PMT

Gambar 4. Rangkaian Pengukuran Tahanan


Kontak PMT

Gambar 3. Rangkaian Pengukuran Tahanan


Isolasi
IV. PENGUJIAN KESEREMPAKAN
PEMUTUS TENAGA (PMT) 20 KV
GARDU INDUK 150 KV
PURBALINGGA

Pengujian keserempakan Pemutus Tenaga (PMT)


merupakan salah satu tahap dalam pemeliharaan
PMT. Pengujian ini masuk dalam klasifikasi
shutdown measurement yaitu pemeliharaan dalam
keadaan tidak bertegangan / offline. Jadi, untuk (b)
melakukan pengujian keserempakan, maka bay PMT
yang akan dilakukan pengujian tersebut harus Gambar 5.(a) PMT 20 kV tampak depan gardu
dibebaskan terlebih dahulu dari tegangan dengan induk 150 kV Purbalingga
melakukan manuver pembebasan tegangan. (b) PMT 20 kV tampak samping
Pengujian keserempakan PMT menggunakan alat gardu induk 150 kV Purbalingga
uji yang bernama Breaker Analyzer. Alat ini akan
mengukur kecepatan kontak PMT untuk
membuka/trip (open) dan juga kecepatan kontak PMT yang diuji merupakan PMT 20 kV
PMT untuk menutup (close) pada masing-masing dengan pemadam busur api gas SF6 dan
fasa PMT. Kemudian dari hasil pengukuran tersebut, penggerak mekanik adalah pegas. Berikut
kecepatan kontak masing-masing fasa akan nameplate dari PMT yang diuji keserempakannya:
dibandingkan satu sama lain sehingga akan terdapat
perbedaan kecepatan kontak masing-masing fasanya.
Perbedaan kecepatan ini menunjukan apa yang
disebut keserempakan PMT. Semakin besar
perbedaan kecepatan kontak antar fasa menunjukan
keserempakan PMT semakin buruk dan diperlukan
perbaikan pada PMT tersebut.
Selain besar nilai selisih kecepatan waktu
(keserempakan) PMT, yang perlu diperhatikan juga
adalah waktu kerja kontak PMT. Kontak PMT harus
bekerja dengan cepat baik open maupun close.
Apabila kerja kontak terlalu lambat maka bisa
merusak bagian interrupter PMT karena kegagalan
dalam pemadaman busur api. Untuk PMT pada
sistem 20 kV, maka besar maksimal clearing time Gambar 6. Nameplate PMT pengujian
adalah sebesar 170 ms sesuai dengan standar yang
ada. Clearing time ini termasuk di dalamnya adalah 5.1 Rangkaian pengujian Keserempakan
waktu kerja kontak PMT. PMT
Pada praktek pengujian keserempakan ini, PMT Pengujian keserempakan PMT three pole
20 kV di Gardu Induk 150 kV Purbalingga
yang diuji adalah PMT three pole 20 kV di Gardu menggunakan breaker analyzer CT 6500 produk
Induk 150 kV Purbalingga. Berikut gambar PMT 20 dari Vanguard dengan 3 kontak. Berikut bagian-
bagian Breaker Analyzer yang digunakan pada
kV tersebut: saat pengujian

Gambar 7. Bagian Breaker Analyzer vanguard


CT 6500
(a)
Berikut keterangan gambar dari breaker 1. Melakukan briefing sebelum melakukan
analyzer di atas pekerjaan yang dipimpin oleh ketua regu
1. Konektor Kontak pole PMT pemeliharaan. Briefing membahas pekerjaan
2. Input tegangan pemeliharaan yang akan dilakukan.
3. Sumber tegangan 120/220 V AC, 50/60 Hz 2. Berdoa bersama.
4. Konektor grounding 3. Memakai perlengkapan Keselamatan dan
5. Transducer Input Kesehatan Kerja (K3)
6. Printer 4. Menyiapkan Breaker Analyzer dan kabel-
7. Display LCD kabel konektor
8. Keypad 5. Memasang grounding lokal di salah satu sisi
9. Tombol Safety PMT (konduktor pole atas atau pole bawah)
10. Konektor Fast-Blow Open dan Close pada setiap fasa PMT.
11. Konektor Initiate 6. Menghubungkan kabel Kontak dari alat uji
12. Komputer Interface ke kontak fasa R, S dan T di pole atas dan
pole bawah PMT.
Pada saat pengujian keserempakan PMT three 7. Menghubungkan kabel Initiate (konektor 4
pole 20 KV di gardu Induk 150 kV Purbalingga, dari pin/kabel) pada rangkaian kontrol yang
bagian-bagian konektor yang ada pada alat Breaker terdapat pada kotak kontrol PMT atau kotak
Analyzer, tidak semuanya digunakan pada saat kontrol bay.
pengujian. Berikut rangkaian pengujian 8. Memasang kabel Grounding pada terminal
keserempakan PMT di gardu induk simulator safety ground pada alat uji dan
tersebut. menghubungkan ke sistem pentanahan.
9. Menghubungkan alat uji Breaker Analizer
ke sumber tegangan yang sesuai (220 V.
AC ). Dan pastikan Power On/Off alat pada
posisi Off.
10. Mengaktifkan alat uji Breaker Analyzer
dengan memposisikan saklar On/Off pada
posisi On.
11. Masukkan data/spesifikasi PMT yang akan
di uji dengan media keypad dan disply
monitor pada alat uji.
12. Melakukan operasi alat Breaker Analyze
Gambar 8. Rangkaian pengujian keserempakan PMT
runtuk pengujian Keserempakan PMT
dengan mengikuti petunjuk/panduan pada
Dapat dilihat dalam gambar bahwa kontak-kontak disply alat uji.
yang terdapat pada kotak kontrol PMT sangat banyak. 13. Memastikan PMT dalam kondisi open
Akan tetapi, untuk melakukan pengujian apabila akan melakukan pengujian
keserempakan, kabel initiate hanya dihubungkan ke keserempakan close time, demikian juga
3 kontak saja yaitu kontak sumber, kontak open dan sebaliknya. Hal ini bisa dilihat pada
kontak close. indikator di kotak kontrol PMT.Apabila
Pada saat melakukan pengujian waktu kerja PMT dalam kondisi open indikator
kontak PMT open maka kontak close coil (X 360-2) menunjukkan “0” sedangkan PMT kondisi
tidak perlu dihubungkan. Begitu juga ketika close indikatornya adalah “1”.
melakukan pengujian PMT close maka kontak open 14. Menekantombol Safety pada alat uji sebelum
coil (X 360-7) tidak perlu dihubungkan. Akan tetapi, melakukan pengujian. Tombol ditekan dan
untuk lebih effisien kedua kontak langsung tahan sampai PMT bekerja.
dihubungkan pada saat awal merangkai. Hal ini juga 15. Menekan tombol start agar PMT bekerja
berguna pada saat melakukan pengujian Open-Close (open/close) untuk melakukan pengujian
(OC), close-open (CO), dan open-close-open (OCO). keserempakan PMT kerja kontak Open,
Close maupun open-close-open .
5.2 Prosedur Pengujian Keserempakan PMT 16. Melepas tombol Safety setelah PMT
Pengujian yang dilakukan hanya untuk close/open (ditandai dengan bunyi dentuman
pengujian keserempakan PMT waktu open-close- yang keras).
open. Sedangkan pengujian waktu open, waktu close, 17. Menunggu Breaker Analyzer mengeluarkan
open-close, close-open dan tidak dilakukan. printout hasil pengujian.
Berikut prosedur pengujian keserempakan 18. Stop alat uji dengan memposisikan saklar
PMT three pole 20 KV di gardu induk 150kV On/Off pada posisi Off.
Purbalingga berdasarkan Instruksi Kerja Pengujian 19. Melepas alat uji Breaker Analizer dari
Keserempakan dan Kecepatan Kontak PMT (Breaker sumber tegangan dan kabel ground.
Analyzer) No. RJTD/IKA/12-034 [5] : 20. Melepas kabel – kabel penghubung dari alat
uji ke internal PMT.
Tabel 5.2 Hasil pengujian keserempakan PMT

5.5 Hasil pengujian keserempakan


Pengujian keserempakan dilakukan di 3
kubikel atau pmt 20 kv. Kubikel tersebut yaitu PMT
20 kV PBG 03, PMT 20 kV PBG 04 dan PMT 20 kV
PBG 05 Pengujian yang dilakukan hanya pengujian
keserempakan waktu open-close-open. Sementara
pengujian waktu open, close, Open–Close, Close–
Open dan Open–Close–Open tidak dilakukan.
Breaker Analyzer Vanguard CT 6500 mengeluarkan
hasil pengujian langsung melalui printer yang
terdapat pada alat. Berikut adalah contoh data
printout dari Breaker analyzer hasil pengujian
keserempakan PMT three pole 20 kV di Gardu Induk
150 kV Purbalingga

1. Data Pengujian pada PMT 20 kV PBG 03

Clearing time pada PMT 20 kV diharapkan


sesuai standard SPLN No 52-1 1983 yaitu sebesar
170 milli detik. Clearing time merupakan waktu
mulai bekerjanya relay ketika gangguan pada
sistem tenaga listrik sampai dengan kontak PMT
bekerja. Untuk memenuhi standar tersebut, maka
PLN memberi batas maksimal kecepatan kerja
kontak untuk PMT close sebesar 110 ms
sedangkan maksimal kecepatan kerja kontak PMT
open adalah 60 ms. Selain itu, standar maksimal
PLN untuk perbedaan kecepatan antar fasa PMT
baik kerja open maupun close (delta time)
maksimal adalah 10 ms. Waktu delta time inilah
yang menunjukkan keserempakan dari suatu PMT.
Semakin kecil nilainya maka PMT semakin
serempak. Apabila dari hasil pengujian tidak
sesuai standar yang ditetapkan maka PMT perlu
dilakukan perbaikan.
Pada pengujian keserempakan untuk PMT
20 kV PBG 03. Hasil pengujian menunjukkan
bahwa delta time pada kerja PMT open adalah 0
dan ini sudah sesuai dengan standar. Pada kerja
PMT reclose juga menunjukan bahwa hasil delta
Gambar 5.10 Data PMT pengujian pada time yaitu 0. Kemudian untuk open yang kedua
PMT 20 kV PBG 03 juga didapatkan nilai delta time 0. Maka pada
pengujian PMT 20 kV PBG 03 dengan mode
open-close-open didapatkan delta time 0-0-0. Hal
Dari tiga PMT 20 kV hasil pengujian ini sudah sesuai dengan standar yaitu sebesar 10
keserempakan PMT three pole 20 kV Gardu Induk ms. Semua hasil uji menunjukan waktu kerja
150 kV Purbalingga, maka dapat dibuat rangkuman PMT sudah sesuai dengan standar SPLN No 52-1
hasil pengujian keserempakan. Berikut tabel 1983 yaitu kurang dari 110 ms untuk close dan 60
rangkuman hasil pengujian tersebut: ms untuk open.
Pada pengujian keserempakan untuk PMT
20 kV PBG 04. Hasil pengujian menunjukkan
bahwa delta time pada kerja PMT open adalah 0
dan ini sudah sesuai dengan standar. Pada kerja
PMT reclose juga menunjukan bahwa hasil delta
time yaitu 0. Hal ini sudah sesuai dengan standar
yaitu 10ms. Kemudian untuk open yang kedua
juga didapatkan nilai delta time 0. Hal ini sudah
sesuai dengan standar yaitu 10ms. Maka pada V. PENUTUP
pengujian PMT 20 kV PBG 03 dengan mode open-
close-open didapatkan delta time 0-0-0. Hal ini
sudah sesuai dengan standar yaitu sebesar 10 ms.
5.1 Kesimpulan
Semua hasil uji menunjukan waktu kerja PMT sudah Dari kerja praktek yang telah dilakukan
sesuai dengan standar SPLN No 52-1 1983 yaitu di Gardu Induk 150 kV Kalibakal PT. PLN
kurang dari 110 ms untuk close dan 60 ms untuk (Persero) P3B JB APP dapat diambil kesimpulan
open. sebagai berikut :
Pada pengujian keserempakan untuk PMT 20 1. Circuit Breaker (PMT) dapat
kV PBG 05. Hasil pengujian menunjukkan bahwa diklasifikasikan berdasarkan tegangan kerja
delta time pada kerja PMT open adalah 0 dan ini adalah PMT low voltage, medium voltage,
sudah sesuai dengan standar. Pada kerja PMT reclose high voltage dan extra high voltage.
juga menunjukan bahwa hasil delta time yaitu 0. Hal Berdasarkan jumlah mekanik penggerak
ini sudah sesuai dengan standar yaitu 10ms. adalah PMT single pole dan three pole.
Kemudian untuk open yang kedua juga didapatkan Berdasarkan media pemadam busur api
nilai delta time 0,5. Hal ini sudah sesuai dengan adalah PMT dengan pemadam busur api Gas
standar yaitu 10ms. Maka pada pengujian PMT 20 SF6, Minyak, Udara Hembus dan Hampa
kV PBG 03 dengan mode open-close-open Udara.
didapatkan delta time 0-0-0,5. Hal ini sudah sesuai 2. Pemeliharaan Pemutus Tenaga berdasarkan
dengan standar yaitu sebesar 10 ms. Namun hasil uji kondisi peralatan bertegangan atau tidak
pada kerja PMT open tidak sesuai dengan standar maka dapat dikelompokan menjadi Visual
SPLN No 52-1 1983 dimana standar untuk kerja open Inspection, In Service Measurement,
PMT yaitu 60 ms, sedangkan pada pengujian PMT Shutdown Measurement, Overhaul dan
20 kV PBG 05 waktu kerja PMT sebesar 735 ms. Pasca Gangguan.
Begitu pula untuk waktu kerja PMT close, dimana 3. Pengujian pada interrupter PMT dalam
standar waktu kerja PMT close yaitu 110 ms, keadaan offline sebagai salah satu
sedangkan pada pengujian PMT 20 kV PBG 05 pemeliharaan terdiri dari pengujian tahanan
waktu kerja PMT sebesar 735 ms. Hal tersebut tidak kontak, pengujian tahanan isolasi dan
sesuai dengan standar SPLN No 52-1 1983. Hal ini pengujian waktu keserempakan PMT.
bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti kurangnya 4. Breaker analyzer bekerja dengan
membersihkan pada bagian isolator PMT, dapat pula menginjeksikan arus pada closing coil
disebabkan oleh pole yang dipasang tidak sesuai. maupun triping coil agar kontak PMT
Untuk mengatasi ini bisa dengan cara melakukan bekerja. Waktu kerja PMT pada setiap
pemeliharaan pada PMT tersebut. Di bawah ini fasanya akan dihitung mealui kabel kontak
ditunjukan tabel mengenai gangguan, penyebab, serta yang sudah terhubung di pole atas dan pole
solusinya. bawah PMT. Keserempakan dapat dilihat
dari selisih waktu kerja kontak PMT antar
Tabel 5.3 Gangguan dan solusi dalam pengujian fasanya. Semakin kecil selisih waktu kerja
keserempakan PMT kontak antar fasa PMT maka keserempakan
semakin baik.
5. Peralatan kerja yang digunakan dalam
pengujian keserempakan diantaranya adalah
Breakaer Analyzer sebagai alat untuk
pengujian. Untuk peralatan K3, semua
pekerja wajib menggunakan safety helmet,
dan safety boot.
6. Berdasarkan pengujian keserempakan untuk
PMT 20 kV Gardu Induk 150 kV
Purbalingga PBG 03. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa delta time pada kerja
PMT open adalah 0 dan ini sudah sesuai
dengan standar. Pada kerja PMT reclose
juga menunjukan bahwa hasil delta time
yaitu 0. Kemudian untuk open yang kedua
juga didapatkan nilai delta time 0. Maka
pada pengujian PMT 20 kV PBG 03 dengan
mode open-close-open didapatkan delta time
0-0-0. Hal ini sudah sesuai dengan standar
yaitu sebesar 10 ms. Semua hasil uji
menunjukan waktu kerja PMT sudah sesuai
dengan standar SPLN No 52-1 1983 yaitu
kurang dari 110 ms untuk close dan 60 ms 5.2 Saran
untuk open. Saran-saran yang dapat penulis
7. Pada pengujian keserempakan untuk PMT 20 sampaikan adalah sebagai berikut :
kV PBG 04. Hasil pengujian menunjukkan 1. Pemeliharaan PMT, termasuk pengujian
bahwa delta time pada kerja PMT open adalah 0 keserempakan PMT, sebaiknya dilakukan
dan ini sudah sesuai dengan standar. Pada kerja berdasarkan periode waktu tertentu untuk
PMT reclose juga menunjukan bahwa hasil mencegah kerusakan yang parah pada PMT.
delta time yaitu 0. Hal ini sudah sesuai dengan Tindakan pencegahan yang termasuk dalam
standar yaitu 10ms. Kemudian untuk open yang pemeliharaan preventive ini bisa mengurangi
kedua juga didapatkan nilai delta time 0. Hal ini kerugian yang berakibat kerusakan. Apabila
sudah sesuai dengan standar yaitu 10ms. Maka sudah terjadi kerusakkan pada PMT akibat
pada pengujian PMT 20 kV PBG 03 dengan gangguan pada sistem tenaga listrik, maka
mode open-close-open didapatkan delta time 0- perlu dilakukan pemeliharaan baik
0-0. Hal ini sudah sesuai dengan standar yaitu pemeliharaan corrective maupun
sebesar 10 ms. Semua hasil uji menunjukan pemeliharaan detective.
waktu kerja PMT sudah sesuai dengan standar
SPLN No 52-1 1983 yaitu kurang dari 110 ms
2. Pengetahuan akan pemeliharaan PMT
termasuk di dalamnya pengujian
untuk close dan 60 ms untuk open.
keserempakan ini hendaknya lebih
8. Pada pengujian keserempakan untuk PMT 20
dikenalkan kepada kalangan akademika.
kV PBG 05. Hasil pengujian menunjukkan
Tidak hanya terbatas pada PMT saja namun
bahwa delta time pada kerja PMT open adalah 0
juga pada peralatan tegangan tinggi. Dengan
dan ini sudah sesuai dengan standar. Pada kerja
demikian, kalangan akademika ini dapat
PMT reclose juga menunjukan bahwa hasil
lebih mengetahui, mengkaji, bisa
delta time yaitu 0. Hal ini sudah sesuai dengan
mengembangkan proses pemeliharaan
standar yaitu 10 ms. Kemudian untuk open
tersebut dan harapannya, dari kalangan
yang kedua juga didapatkan nilai delta time 0,5.
akademika dapat menyumbangkan inovasi
Hal ini sudah sesuai dengan standar yaitu 10ms.
agar penyaluran energi listrik di Indonesia
9. Pada pengujian keserempakan untuk PMT 20
menjadi lebih optimal.
kV PBG 05 hasil uji pada kerja PMT open tidak
sesuai dengan standar SPLN No 52-1 1983
dimana standar untuk kerja open PMT yaitu 60 DAFTAR PUSTAKA
ms, sedangkan pada pengujian PMT 20 kV
PBG 05 waktu kerja PMT sebesar 735 ms.
Begitu pula untuk waktu kerja PMT close, [1] Aris munandar, AdanKuwahara S. 1991.
dimana standar waktu kerja PMT close yaitu Teknik Tenaga Listrik. Jakarta: PT.Pradnya
110 ms, sedangkan pada pengujian PMT 20 kV Paramita.
PBG 05 waktu kerja PMT sebesar 735 ms. Hal [2] Aris munandar, Artono. 1984. Teknik
tersebut tidak sesuai dengan standar SPLN No Tegangan Tinggi. Jakarta: Pradnya
52-1 1983. Hal ini bisa disebabkan oleh Paramita.
beberapa hal seperti kurangnya membersihkan [3] Kristian, Sialen. “Sistem Proteksi- Pemutus
pada bagian isolator PMT, dapat pula Tenaga /Daya“.
disebabkan oleh pole yang dipasang tidak http://kristiansilaen.wordpress.com/2010/0
sesuai. Untuk mengatasi ini bisa dengan cara 7/15/hello-world/
melakukan pemeliharaan pada PMT tersebut [5] PT. PLN (Persero) Keputusan Direksi PT
10. Hasil pengujian keserempakan PMT three pole PLN (Persero) Nomor 0520-2.K/DIR/2014.
20 kV Gardu Induk 150 kV Purbalingga pada Himpunan Buku Pedoman Pemeliharaan
PBG 03 dan PBG 04 menunjukkan bahwa Peralatan Primer Gardu Induk”. Jakarta:
waktu kerja kontak masih dalam kondisi baik PT. PLN (Persero).
dan sesuai standar SPLN No 52-1 1983 yaitu [6] Sulasno. 2001. Teknik dan Sistem Distribusi
kurang dari 60ms untuk waktu kerja PMT open Tenaga Listrik Jilid I. Semarang: Badan
masing-masing fasanya dan kurang dari 110ms Penerbit Universitas Diponegoro.
untuk waktu kerja PMT close masing-masing [7] Tobing, Bonggas L. 2003. Peralatan
fasanya. Namun pada PBG 05 waktu kontak
kerja PMT open dan close tidak sesauai dengan Tegangan Tinggi. Jakarta: PT Gramedia
standar SPLN No 52-1-1983 yaitu sebesar 735 Pustaka Utama
ms untuk open dan 735 ms untuk reclose. Hal
ini bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti
kurangnya membersihkan pada bagian isolator
PMT, dapat pula disebabkan oleh pole yang
dipasang tidak sesuai. Untuk mengatasi ini bisa
dengan cara melakukan pemeliharaan pada
PMT tersebut