Anda di halaman 1dari 1

Dalam penentuan kadar glukosa darah, protein yang juga terkandung dalam

darah harus diendapkan terlebih dahulu. Setelah proses tersebut barulah darah mengalami
proses pemanasan dan penambahan reagen Cu alkanis dan reagen fosfomolibdat untuk
memberikan warna biru secara bervariasi tergantung konsentrasi dari molekul. variasi
warna tersebut kemudian diukur absorbannya dengan spektrofotometer untuk
menentukan konsentrasi yang terbentuk. penentuannya cukup mudah, yaitu dengan
menggunakan kurfa kalibrasi dari Absorbansi Cu alkanis yang terukur.

Pada penambahan BaOH2 sampel darah sedikit menggumpal. BaOH2 yang


digunakan haruslah dalam keadaan yang segar sebelum larutan tersebut bereaksi
dengan udara sekitar dan membentuk lapisan putih. Fungsi penambahan BaOH2 ini
adalah sebagai pemberi suasana basa dan juga mengendapkan ion ion besi dalam
darah. Salah satu ion besi yang diendapkan adalah ion besi pada haemoglobin. Ion besi
ini diubah menjadi molekul Fe(OH)2 berupa endapan merah. Pada pemberian ZnSO4
maka endapan merah dari sampel makin banyak dan terkoagulasi menjadi makin
pucat(ijo pucat). Penambahan ZnSO4 ini berfungsi untuk mengendapkan dan juga
mendenaturasi protein secara sempurna. Karena berat jenis protein yang leih besar dari
berat jenis glukosa yang akan dianalis, maka pemisahan selanjutnya dilakukan dengan
sentrifugasi untuk mengendapkan protein.. Pengendapan ini ditujukan untuk memisakhan
protein dari glukosa karena akan menggangu pengukuran.

Penentuan kadar selanjutnya dilakukan dengan cara spektrofotometri. Untuk


mengukur absorbansinya maka ditambahkan Cu alkanis dan juga arsen molibdat.
Penambahan Cu alkalis (larutan Cu2+) dalam suasana basa akan tereduksi menjadi Cu yang
beraksi dengan arsenomolibdat menghasilkan warna biru.Absorbansi ini sebanding dengan
konsentrasi glukosa yang akan diukur. Makin biru pekat warna larutan maka makin besar
konsentrasi glukosa yang terkandung.

Kadar glukosa yang diketahui ini bisa membantu kita memprediksi metabolismeme
yang mungkin terjadi dalam sel dengan kandungan gula yang tersedia. Jika kandungan l
glukosa dalam tubuh sangat berlebih maka glukosa tersebut akan mengalami reaksi
katabolisme secara enzimatik untuk menghasilkan energy. Namun jika kandungan glukosa
tersebut dibawah batas minimum,maka asam piruvat yang dihasilkan dari proses katabolisme
bisa mengalami proses enzimatik secara anabolisme melalui glukoneogenesis untuk
mensintesis glukosa dan memenuhi kadar normal glukosa dalam darah ( salam serum atau
plasma darah ) yaitu 65-110 mg/dL (3,6-6,1 mmol/L), Robert.K.Murray.”biokimia
harper”.macGraw and hill.2000. page 829.