Anda di halaman 1dari 18

Makalah Pendidikan Agama Hindu

“Samkhya Darsana”

Oleh
Kelompok 3

Nama Kelompok Absen Nim


Komang Sri Arta (09) 1802622010171

Ni Putu Vira Egi Diani (26) 1802622010188

Putu Asrilia Cahyani (29) 1802622010191

FAKULTAS EKONOMI

AKUNTANSI A

UNIVERSITAS MAHASARASWATI

TAHUN AJARAN 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ‘’Samkhya Darsana’’ ini
dengan baik dan tepat pada waktunya.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai ‘’Samkhya Darsana’’. Kami menyadari keterbatasan dan
kekurangan dalam membuat makalah ini, untuk itu kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan yang bersifat membangun bagi kesempurnaan makalah ini, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan terimakasih juga buat teman-teman anggota kelompok yang bersedia
menyediakan waktu, tenaga, pikiran dan kerjasamanya dalam pembuatan makalah ini
sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Sekiranya makalah yang telah disusun
ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya.

Denpasar, 09 Maret 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................... i

Daftar Isi............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..............................................................................................


1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................
1.3 Tujuan...........................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Samkhya

2.2 Isi Pokok dan Pandangan Samkhya Terhadap Makrokosmos dan Mikrokosmos

2.3 Etika Samkhya

2.4 Tujuan Akhir dari Samkhya

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan.....................................................................................................

3.2 Saran...............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di India ada Sembilan aliran filsafat yang semuanya memiliki konsep yang berbeda
dalam mencapai tujuan akhir. Tujuan akhir yang ingin dicapai ialah kelepasan atau
kebahagiaan yang tertinggi. Kesembilan aliran filsafat itu dibagi atas dua kelompok yaitu
Astika dan Nastika. Kelompok Astika adalah kelompok filsafat yang mengakui kewenangan
atau otoritas dari Veda. Salah satu bagian dari kelompok Astika ialah Samkhya Darsana.
Untuk mengetahui metafisika, epistimologi, etika serta pemahaman yang lebih mendalam
mengenai Samkhya Darsana, maka penulis menyusun makalah ini guna menyediakan
informasi dan wawasan mengenai Samkhya Darsana.

1.2 Rumusan Masalah

Kami telah menyusun beberapa masalah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu :

1. Bagaimana pengertian dan pemahaman Samkhya Darsana?


2. Siapa pendiri serta darimana sumber ajaran Samkhya Darsana?
3. Bagaimana metafisika dan etika dalam Samkhya Darsana?
4. Apakah yang menjadi tujuan akhir ajaran Samkhya?

1.3 Tujuan

Penulisan makalah “Samkhya Darsana” ini memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Memahami dan menjelaskan tentang Samkhya Darsana.


2. Menjelaskan tentang pandangan Samkhya terhadap Makrokosmos dan
Mikrokosmos.
3. Memahami aspek metafisika, serta etika Samkhya.
4. Mengetahui tujuan akhir dari ajaran Samkhya.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Samkhya


Samkhya merupakan salah satu sistem filsafat India yang mengakui Veda sebagai
otoritas tertinggi. Oleh sebab itu Samkhya dikelompokkan kedalam kelompok Astika
(ortodok). Perkataan “Samkhya” berasal dari dua kata yaitu “sam” yang artinya bersama-sama
atau dengan dan “khya” yang artinya bilangan. Jadi Samkhya itu sendiri artinya susunan yang
berukuran bilangan atau jumlah. Sistem ini memberikan sejumlah prinsip-prinsip alam
semesta yang banyaknya 25 buah, sehingga nama samkhya tersebut sangatlah tepat. Istilah
Samkhya juga dipergunakan dalam pengertian “Vicara” atau “perenungan filosofis”. 25
prinsip (tattwas) yang diberikan oleh Samkhya Darsana adalah sebagai berikut :
4 Kebenaran atau Realitas Prakrti adalah sebagai berikut:

1. Mula Prakrti (Materi asal yang tidak bermanifestasi).


2. Mahat Tattva (Prinsip besar yaitu Buddhi atau Intelejensi).
3. Ahamkâr (Ego).
4. Manas (Pikiran)

Selanjutnya Tan Mântra (sensasi halus yang dihasilkan dari lima unsur, yang dapat dipahami
organ perasaan):

5. Shabda Tan Mântra (suara).


6. Sparsha Tan Mântra (sentuhan).
7. Rupa Tan Mântra (cahaya).
8. Rasa Tan Mântra (rasa).
9. Gandha Tan Mântra (bau).

Berikutnya lima organ perasa (Panca Budhindriya) :

10. Shrotrendriya (pendengaran).


11. Tvakindriya (menyentuh).
12. Chakshuindriya (penuntun).

2
13. Jihwendriya (mencicipi).
14. Ghranendriya (berbau).

Lalu lima organ tindakan (Panca Karmendriya) :

15. Panindriya (menggenggam).


16. Padendriya (penggerak).
17. Gharbendriya (metabolism)
18. Payuindriya (ekskresi).
19. Upasthendriya (reproduksi).

Terakhir, Pancha Maha Bhuta (lima unsur materi kasar) :

20. Prithivi (bumi).


21. Apah (air).
22. Teja (api).
23. Vayu (udara).
24. Akasa (eter).

Dan yang ke 25 adalah purusha atau atma (sosok transenden atau kesadaran murni), dengan
demikian semuanya ada 25 kebenaran.
Sistem ajaran Samkhya ini dicetuskan oleh Maha Rsi Kapila. Rsi Kapila ini lahir
dari ibu yang bernama Devahuti dan ayahnya adalah Kardama. Dari ibunyalah Rsi Kapila ini
mendapatkan ajaran-ajaran filsafat, dan apa yang menjadi konsep system ini ditulis dalam
sebuah buku Samkhya Sutra. Rsi Kapila sering dipanggil dengan sebutan Rsi Kapila Muni,
dikatakan sebagai Putra Brahma dan Avatara Visnu.
Ajaran Samkhya disebut realistis, dualistis dan pluralitas. Disebut relistis karena
mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh. Disebut dualistis karena prinsip ajarannya ada
dua realitas yang berdiri sendiri saling bertentangan dan dapat dipadukan, yaitu purusa dan
prakerti. Dan Samkhya disebut pluralisme karena mengajarkan bahwa purusa itu beranak
sekali.
Ajaran pokok Samkhya yang biasanya sering disebut dengan Samkhya Sutra atau
Samkhya Prawacana Sutra terdapat dua realitas asasi yaitu Purusa dan Prakerti atau asas
kejiwaaan dan asas kebendaan yang merupakan asal mula dari segala sesuatu. Samkhya

3
menyangkal bahwa suatu benda berasal dari ketiadaan. Dalam Samkhya Darsana
menggunakan tiga sistem pembuktian yang disebut dengan Tri Pramana, yaitu : Pratyaksa
pramana (pengamatan), Anumana pramana (penyimpulan) dan Apta wakya (benar, sesuai
dengan Veda dan guru yang mendapatkan wahyu). Sedangkan pengamatan ada dua, yaitu
Nirwikalpa dan Sawikalpa. Nirwikalpa adalah pengamatan yang tidak menentukan yang ada
hanya pengenalan objek sebagai sesuatu bukan sebagai benda yang jelas identitasnya.
Sedangkan sawikalpa adallah pengamatan yang menentukan ia merupakan hasil analisis
sintesis dan interprestasi alam pikiran.

2.2 Isi Pokok dan Pandangan Samkhya Terhadap Makrokosmos dan Mikrokosmos
Samkhya merupakan suatu kelompok filsafat yang tergolong Astika,dalam ajarannya
secara metafisis mengemukakan pokok-pokok ajaran purusa, prakerti,tri guna,penciptaan
alam semesta dan atheistik.
2.2.1 Purusa
Purusa merupakan jenis kesadaran tertinggi. Samkhya menyebut Purusa sama dengan
roh/jiwa. Purusa bersifat Asanga (tak terikat dan merupakan kesadaran yang meresapi segala
dan abadi). Purusa adalah roh, ia bukan merupakan hasil atau produk. Ia adalah subyek atau
saksi yang bersifat : Asanga artinya tak terikat, merupakan kesadaran yang meresapi segala
sesuatu dan abadi, tanpa awal (Anadi) dan tanpa akhir atau tak terbatas (Ananta) serta nyata
(Sat).
Teori Samkhya menyatakan Purusa atau jiwa/roh sebagai berikut:
1. Roh itu ada karena ia menjelma.
2. Ketidakadaannya tidak dapat dinyatakan dengan apapun juga
3. Roh itu berbeda dengan indriya, pikiran dan akal. Ia adalah semangat kesadaran
selalu menjadi subjek pengetahuan, tidak pernah menjadi obyek pengetahuan.
4. Bersifat langgeng, tidak pernah ada aktivitas, tidak mengalami perubahan tempat
maupun bentuk.
5. Ia tanpa sebab, menyusupi segala, namun bebas dari segala ikatan dan pengaruh
dunia obyek.

Walaupun ada kesepakatan umum tentang keberadaan jiwa, namun ada perbedaan
opini yang luas tentang sifatnya. Beberapa Carvaka atau kaum materialis mengidentifikasikan

4
jiwa dengan badan kasar, yang lain dengan indra-indra, beberapa menyebutnya sebagai hidup
badan yang lain mengidentifikasikannya dengan Manah. Kaum Budha dan beberapa kaum
empiris menganggap jiwa itu identik dengan arus kesadaran. Nyaya-Vaisesika dan
Prabhakara Mimamsaka berpendapat bahwa jiwa itu adalah suatu substansi tak-sadar yang
dapat memperoleh atribut kesadaran di bawah kondisi tertentu. Sebaliknya Battha
Mimamsakaberpendapat bahwa jiwa itu adalah suatu kesatuan yang sadar yang terutama
tersembunyi oleh ketidak-tahuan, sebagaimana terlihat dari pengetahuan yang tidak sempurna
dan tidak seimbang yang dimiliki manusia tentang jiwa mereka sendiri. Kaum Advaita
Vedantaberpendapat bahwa jiwa itu adalah kesadaran murni yang kekal yang kehadirannya
penuh kebahagiaan nan mulia atau Saccidananda Svarupa. Jiwa itu adalah satu dalam semua
raga dan bebas secara abadi dan itelegensia yang swa-sinar pencerahan.
Menurut Samkhya, jiwa itu berbeda dengan raga dan indra, manas maupun intelek
(Buddhi). Tidak ada apapun berasal dari dunia objek. Jiwa itu bukan otak maupun sistem
saraf dan bukan juga kumpulan keadaan sadar. Jiwa itu adalah roh sadar yang selalu jadi
subjek selaku ilmu pengetahuan dan tidak akan pernah menjadi objek pengetahuan.
Keberadaan jiwa itu sebagai suatu subjek yang transendental dari pengalaman
dibuktikan oleh Samkhya dengan beberapa argumentasi sebagai berikut :
1. Objek-objek dunia seperti meja, kursi dan sebagainya yang terdiri dari bagian-
bagian adalah alat untuk tujuan lain-lain makhluk hidup. Makhluk-makhluk ini
yang bertujuan dilayani oleh objek-objek dunia ini haruslah tidak sama dan sangat
berbeda dengan mereka semua. Artinya, mereka tidak dapat dikatakan sebagai
benda-benda tanpa kesadaran, terdiri dari bagian-bagian objek fisik. Jika demikian
keadaannya makhluk-makhluk ini akan menjadi alat untuk tujuan yang lain dan
tidak berhenti pada diri mereka sendiri. Mereka haruslah jiwa yang sadar dimana
semua objek fisik adalah alat untuk tujuan mereka.
2. Semua objek material termasuk manah dan intelek harus dikendalikan dan
diarahkan oleh suatu prinsip cerdas agar mereka mampu mencapai apapun atau
merealisasikan tujuan. Sebuah mesin atau mobil akan bekerja dibawah tuntunan
seseorang. Jadi haruslah ada suatu jiwa yang mengatur kegiatan Prakrti dan poduk-
produknya. Semua objek dunia mempunyai sifat kenikmatan, kesedihan, dan
ketidak-pedulian dan ketidak-acuhan. Tetapi kenikmatan dan kesedihan hanya akan
berarti kalau dialami oleh sesuatu yang berkesadaran. Jadi, pasti ada subjek-subjek
atau jiwa yang sadar yang merasakan kenikmatan dan kesakitan itu.

5
3. Beberapa orang di dunia ini setidaknya berusaha dengan tulus untuk memperoleh
kelepasan akhir dari semua kesengsaraan ini. Hal ini tidak mungkin terjadi pada
dunia fisik karena oleh sifatnya sendiri, dunia fisik menimbulkan kesengsaraan dan
daripadanya tidak melepaskannya. Jadi pasti ada substansi bukan material atau
jiwa yang transendental di atas susunan fisik ini. Kalau tidak demikian, maka
konsep pelepasan atau penyelamatan dan kemauan untuk lepas atau dilepaskan
(Moksha) sebagaimana yang ditemukan pada orang suci dan juru selamat
kemanusiaan akan tidak berarti apa-apa.
Mencermati pengamatan terhadap adanya purusa atau roh seperti diungkap di atas,
dan sebagaimana dikutip dalam Sankhyakarika dan Sankhyatattwakaumudi menunjukkan
sudut pandang bahwa Purusa menganut prinsip pluralisme, merupakan subyek pengetahuan,
sadar, bukan efek bukan pula penyebab, mereka tidak berubah dan tak bergerak, tidak aktif,
namun mengetahui atau subyek sadar.

2.2.2 Prakerti

Teori Samkhya tentang sebab asal muasal benda menimbulkan ajaran bahwa Prakrti
adalah sebab terakhir dari alam semesta. Ia tidak memiliki sebab, tetapi merupakan sebab dari
semua akibat. Prakrti (bahasa Sansekrta) terdiri atas prefiks “pra” berarti “sebelum” atau
“pertama”, dan dari akar kata “kri” berarti “membuat” atau “menghasilkan”. Di sini “Prakrti”
berarti yang ada sebelum segala sesuatunya dihasilkan/disebabkan, sumber pertama dari
semua benda, bahan asal darimana semua benda menyebar dan ke dalam mana semua benda
pada akhirnya akan kembali. Ia disebut juga Pradana (pokok) karena semua akibat ditemukan
padanya dan ia juga merupakan sumber dari segala yang ada. (Maswinara, 1998:42).

Prakerti dari kata Pra yang artinya sebelum dan Kri yang artinya membuat. Prakrti
artinya sebelum membuat, sebelum penciptaan. Ia merupakan prinsip awal dari segala
sesuatu. Prinsip mula-mula yang berkembang dan menghasilkan sesuatu yang lain. Ia juga
tanpa awal (Anadi) dan tanpa akhir (Ananta) dan nyata (Sat). Prakrti adalah azas jasmani dari
alam semesta yang sangat luas, kompleks dan terdiri dari unsur-unsur yang selalu berubah. Ia
adalah basis dasar dari alam semesta yang empiris ini. Sistem filsafat Samkhya menunjukkan
bahwa keseluruhan dari dunia ini, termasuk badan, pikiran dan indra-indra ditentukan dan
dibatasi serta dibentuk oleh akibat-akibat tertentu. Prakrti atau asas bendani adalah sebab
pertama alam semesta, yang terdiri dari unsur-unsur kebendaan dan kejiwaan atau psikologis.
Berbagai aliran filsafat seperti Carvaka, Buddhisme, Jainisme, Nyaya dan Vaisesika
6
berpendapat bahwa atom tanah, atom air, atom api, dan atom udara adalah penyebab materiil
dari dunia ini, sedangkan menurut Samkhyaatom-atom tidak dapat menghasilkan benda-
benda alam yang sangat halus seperti pikiran, intelek dan keakuan yang palsu. Oleh karena
itu kita harus mencari penyebab dari benda-benda kasar dan aspek-aspek terkecil yang
membentuknya, dan jika kita memeriksa kejadian dalam alam ini, maka dalam kenyataannya
penyebab lebih halus atau lebih kecil dari akibatnya, bagaimana mungkin penyebab itu
melingkupi akibatnya yang lebih besar?.

Keberadaan Prakrti sebagai suatu penyebab maha halus dari dunia dikenal melalui
kesimpulan berdasarkan hal-hal berikut:

1) Semua objek dari dunia, mulai dari intelek sampai pada tanah adalah terbatas dan
saling bergantung satu sama lain. Jadi mestinya ada suatu sebab yang tak
terbatas dan bebas untuk keberadaannya. Yang bersifat terbatas itu adalah
Prakrti.

2) Benda-benda yang ada di dunia memiliki ciri yang sama, yang karena itu mampu
menghasilkan kenikmatan dan kegembiraan, kesedihan dan ketidak pedulian.
Karena itu mereka tentu mempunyai sebab atau sumber yang sama karena
memiliki tiga sifat yang sama. Sumber itu adalah Prakrti.

3) Semua akibat berlangsung dari aktivitas suatu sebab yang mengandung potensi di
dalamnya. Dunia objek-objek adalah akibat haruslah secara implisit berisikan
suatu penyebab dunia.

4) Suatu akibat muncul dari penyebabnya dan kembali dilebur ke dalamnya pada
saat kehancuran. Ini berarti suatu akibat yang ada dimanifestasikan oleh suatu
sebab dan kemudian diserap kembali kedalam yang tersebut belakangan.

Apabila Tri Guna dikaitkan dengan teori Samkhhya, maka Prakrti dikatakan sebagai
persatuan atau terdiri atas tiga Guna (sifat) yang berada dalam keadaan seimbang dan
terkendali (Samyavasta). Ketiga guna tersebut adalah Sattwa Guna, Rajas Guna, dan Tamas
Guna. Di sini dikatakan bahwa guna itu berarti elemen pembentuk atau komponen dari
Prakrti dan bukan merupakan sebuah atribut atau sifat. Jadi, dengan guna dari Sattwa, Rajas
dan Tamas, unsur-unsur dari substansi utama dapat dimengerti yaitu Prakrti, ketiganya ini

7
(Sattwa, Rajas danTamas) merupakan elemen baik dari Prakrti, substansi tertinggi maupun
objek-objek biasa di dunia ini.

a. Sattwa adalah elemen Prakrti yang memiliki sifat nikmat dan ringan (Laghu),
terang atau bersinar (Prakasaka). Manifestasi objek adalah kesadaran (Jnana),
kecenderungan terhadap manifestasi sadar dalam indra, pikiran, dan intelek,
kecemerlangan sinar, dan kekuatan merefleksi di cermin atau pada kristal,
semuanya itu berkat pekerjaan unsur Sattwa dalam membentuk benda.
Demikian pula kenikmatan dan kegembiraan dalam berbagai bentuknya, seperti
kepuasan, gembira, bahagia, dan sebagainya dihasilkan oleh sesuatu di dalam
pikiran (Manah) melalui kekuatan sattwa yang melekat di dalam keduanya.
b. Rajas adalah prinsip kegiatan sesuatu (benda). Ia selalu bergerak dan membuat
suatu yang lain bergerak. Pada sisi pengaruh terhadap kehidupan manusia, rajas
adalah penyebab dari semua pengalaman sedih dan pahit dan dia sendiri bersifat
sedih. Ia membantu unsur-unsur Sattwa danTamas, yang tak aktif dan tanpa
gerak untuk melaksanakan fungsi mereka.
c. Tamas adalah prinsip kepasifan dan kenegatifan dalam benda atau objek. Ia
bertentangan dengan sattwa karena berat (Guru) dan dalam mengahadapi
manifestasi objek (Varanaka). Ia jga menolak prinsip rajas atau aktifitas dalam
arti ia menahan gerak benda. Ia melawan kekuatan manifestasi dalam Manah
(pikiran), intelek dan lain-lain benda dan oleh karena itu menghasilkan
kebodohan atau ketidaktahuan dan kegelapan yang membawa kepada
kebingungan dan kekacauan.

Dalam hal hubungan ketiga guna ini berkaitan dengan terbentuknya dunia ini, dapat
diamati bahwa hubungan ketiganya senantiasa dalam keadaan konflik dan juga saling bekerja
sama. Mereka selalu bersama-sama dan tak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. Sama
halnya dengan seperti minyak, sumbu dan api yang secara relatif saling bertentangan,
bekerjasama untuk menghasilkan cahaya lampu, demikianlah ketiga Guna itu bekerjasama
untuk menghasilkan objek-objek dunia, walaupun masing-masing memiliki kualitas yang
berbeda dan bertentangan. Jadi ketiga-tiga guna hadir di setiap objek dunia, besar atau kecil,
halus atau kasar. Tetapi masing-masing berusaha menekan atau mendominasi dua lainnya.
Sifat objek ditentukan oleh guna yang berkuasa, sedangkan dua yang lainnya berada dalam
kedudukan bawahan. Klasifikasi objek ke dalam kategori baik, buruk, dan netral atau murni,

8
tidak murni dan netral, atau inteligen (cerdas), aktif, dan malas, mengacu pada kelebihan dari
Sattwa, Rajas, dan Tamas masing-masingnya.

2.2.3 Penciptaan alam semesta

Alam sebagai fenomena merupakan salah satu aspek bahasan darsana. Sebagai suatu
untuk menunjukkan sistem filsafat India (Hindu), yang terbagi atas dua kelompok yaitu :
Astika dan Nastika. Dalam mengungkap keberadaan alam semesta, sistem filsafat Samkhya
memegang peranan penting di dalam kancah kefilsafatannya diantara sistem-sistem filsafat
india (Hindu) lainnya. Secara metafisika, Prakrti hanya tergantung pada aktivitas dari unsur
pokok gunanya sendiri. Ia terbentuk dari tiga Guna yang tidak pernah terpisah, saling
menunjang satu sama lain, dan saling bercampur (heterogen). Hanya dalam perubahan
heterogen dan ketika Guna Rajasbergetar dan membuat Guna Sattwa dan Guna Tamas
bergetar pula sehingga keseimbangannya terganggu, maka terjadi evolusi. Ketika prinsip
Rajas aktivitasnya bergetar dan membuat Sattwadan Tamas bergetar, maka proses penciptaan
tidak dapat dihindari. Evolusi dimulai merupakan hasil dari suatu gerak atau perkembangan
dari sesuatu, ajaran filsafat Samkhya mengatakan bahwa evolusi terjadi membantu
tercapainya tujuan Purusa. Berkembangnya Prakrti tiada lain karena Purusa yang
mempengaruhi tiga Guna itu, ibarat minyak, api dan sumbu, demikian hubungan tiga guna
yang ada pada Prakrti. Ketiga guna yang membentuk Prakrti tak pernah terpisah, selalu
menyatu, namun saling bertentangan satu sama lain. Mereka berada pada setiap benda, dalam
komposisi dan intensitas yang berbeda. Hakekatnya menentukan kadar benda dan
temperamen manusia.

Tiga Guna dalam keadaan seimbang dan terkendali maka belum terjadi penciptaan.
Ini bukan berarti tidak ada aktivitas dari Tri Guna tersebut. Ada kecendrungan dari tiga Guna
itu untuk saling mempengaruhi, bertahan dan saling menggangu. Artinya dalam beraktifitas,
akan dapat menyebabkan suatu keadaan tegang dan terguncang, masing-masing guna
berupaya untuk mengatasi kekuatan guna yang lainnya. Ketika terjadi penyatuan ketiga guna
dapat berhubungan dengan Purusa, maka terjadilah secara evolusi objek-objek yang lebih
nyata. Adanya saling mempengaruhi Guna-Guna terdapat dalam Prakrti, maka Prakrti
mengalami perkembangan pula. Pengembangan itu akan lebih nyata menjadikan adanya
evolusi alam semesta apabila Prakrti saling berhubungan dengan Purusa. Evolusi tidak akan
terjadi apabila hanya Purusa yang aktif. Tidak juga karena Prakrti, karena Prakrti tanpa
kesadaran. Hubungan Prakrti dan Purusa yang mengandung Tri Guna yang saling
9
berinteraksi satu sama lain menyebabkan berkembangnya unsur penyusun tubuh manusia
maupun alam semesta beserta isinya terjadi, yang keseluruhannya terdiri dari 25 prinsip atau
Tattwa atau asas. Mereka memperlihatkan kerjasama untuk mencapai tujuannya, yakni
terciptanya alam semesta ini.

Ketika ketidakseimbangan dari ke tiga Guna tersebut, yang ada dalam Prakrti
sebagai akibat pengaruh Purusa, maka memunculkan perwujudan atas evolusi. Dengan kata
lain Prakrti berkembang karena pengaruh Purusa.

Mahat adalah sebagai yang paling awal muncul ketika adanya perhubungan yang
harmonis antara Purusa dan Prakrti. Mahat yang menjadi benih alam semesta ini. Mahat dari
segi psikologi disebut Buddhi, apabila dihubungkan dengan azas kosmis, maka Buddhi
adalah azas kewajiban namun bukan merupakan roh yang memiliki kesadaran, ia yang halus
dari segala proses kecakapan mental untuk lebih mempertimbangkan dan memutuskan segala
sesuatu yang diajukan oleh indriya yang lebih rendah, namun Buddhi bukan juga roh atau
Prakrti yang bersifat kebendaan. Sebagai asas kejiwaan atau psikologi, Buddhi memiliki sifat
Jnana (pengetahuan), dharma (kebajikan, Wairagia/tidak bernafsu, dan Aiswarya/ ketuhanan).

Setelah Mahat muncul Buddhi dan kemudian Ahamkara. Ahamkara yakni asas
kepribadian atau yang menciptakan kepribadian, sifatnya keakuan (Abhimana) dan asas yang
menimbulkan individu-individu. Fungsinya merasakan rasa aku (ego), maka dengan
Ahamkara sang diri merasa dirinya mampu bergerak, berkeinginan dan merasa memiliki.
Ketika sampai pada evolusi ahamkara inilah, kemudian Prakrti berkembangan menuju dua
arah yakni :

1. Perkembangan ke roh kejiwaan

Manas, sebagai asas kejiwaan yang pertama, manas merupakan pusat indrya lainnya
ketika menikmati kenyataan di luar badan jasmani manusia. Ketika pengamatan
terjadi, manas bertugas mengatur rangsangan-rangsangan indrya, sehingga menjadi
petunjuk yang diteruskan kepada Ahamkara dan Buddhi. Tugas lainnya adalah
meneruskan kehendak kepada peralatan indrya yang lebih rendah. Ahamkara
mampu memberi perintah kepada organ-organ kegiatan (Karma Indrya) yang ada
pada badan manusia, karena sifatnya lebih menonjol. Kemudian muncul Panca
Buddhindrya/Panca Jnanendrya (penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan

10
peraba). Dilanjutkan dengan lahinya Panca Kamendrya, yakni indrya untuk berbuat
seperti daya bicara, memegang, berjalan, daya untuk membuang kotoran, dan daya
untuk membuang sperma. Kesepuluh indrya inilah yang tidak dapat dilihat, namun
tetap ada pada tubuh manusia. Melalui indrya-indrya pada tubuh manusia dapat
mengamati objek-objek yang ada di luar dirinya.

2. Perkembangan ke arah keberadaan/ jasmani.

Dalam perkembangan ini melahirkan asas dunia/alam yang ada di luar diri manusia.
Azas ini adalah Panca Tan Matra (lima unsur halus) yaitu sari benih, rasa, suara,
sentuhan warna, dan bau. Sifatnya sangat halus sangat sulit diamati dengan mata
biasa. Evolusi berikutnya adalah lahirnya unsur-unsur kasar yakni Panca Maha
Bhuta, yang menjadikan alam semesta beserta segala isinya. Penggabungan antara
unsur-unsur yang halus inilah menimbulkan adanya unsur-unsur Panca Maha Bhuta,
proses pengembangan setelah penggabungan itu adalah sebagai berikut:

1. Unsur suara menimbulkan Akasa (ether).

2. Unsur suara + raba menimbulkan Vayu (udara)

3. Unsur suara + raba + warna melahirkan Agni (panas).

4. Unsur suara + raba + warna + rasa melahirkan Apah (air)

5. Unsur suara + raba + warna + rasa + bau melahirkan Prthivi (tanah).

Dari semua anasir kasar dan berkembanglah alam semesta beserta segala isisnya.
Hanya saja perkembangan itu tidak menimbulkan asas-asas baru lagi seperti
perkembangan Mahat, Ahamkara, dan Manas. Tahap berikutnya tidak sampai disitu
saja. Yang telah tercipta memerlukan penggerak atau asas, yakni roh yang menjadi
saksi dan menikmati alam ini. Evolusi Prakrti menjadi alam semesta memungkinkan
roh menikmati kebahagiaan dan penderitaan sesuai dengan baik buruk
penderitaannya. Terjadilah kehidupan atau kejadian ini yang juga disebut Bhawa
(ada) merupakan suatu kejadian sebagia akibat dari terjadinya hubungan antara dua

11
hakekat (Purusa dan Prakrti). Ajaran ini pada mulanya dijumpai didalam kitab Reg
Veda pada bagian Purusasukta dan Nasadiasukta. Kemudian ajaran ini ditafsirkan
dalam ajaran filsafat Samkhya oleh Rsi Kapila (Pudja, 1985:181). Dalam
Paninisutra I.4.30. mengatakan bahwa Prakrtiadalah sebagai aspek alam yang
merupakan unsur dari mana segala sesuatu ciptaan ini dijadikan alam semesta ini
atau untuk menciptakan manusia.

Proses terjadinya alam semesta ini merupakan Parmana (proses evolusi) yang
berkembang menjadi suatu kenyataan yang ada, suatu perubahan besar dari tidak
ada (Asa) menjadi yang ada (Sat), atau perubahan dari wujud yang satu kedalam
wujud yang baru atau dari Abhawa menjadi Bhawa. Perkembangan Prakrti menjadi
alam semesta merupakan perkembangan yang terakhir. Dalam kondisi ini terjadi
berbagai perubahan yang senantiasa terjadi saling bergantian di dalam batas-batas
tertentu. Misalnya sebatang pohon yang tumbuh lalu mati dan dikembalikan kepada
anasir unsur-unsur yang membentuknya (Panca Maha Bhuta). Namun
perkembangan yang pertama dari Mahat (unsur intelek/kemauan) sampai dengan
unsur/benih kasar tetap ada disepanjang perputan masa, dan hanya akan dipisahkan
pada akhir perputaran masa (Kalpa).Ketika terjadi peleburan alam semesta, hasil–
hasil perkembangan Prakrti pada masa perkembangan pertamayang mendahuluinya
akan kembali dengan pergerakan yang berlawanan, dan akhirnya masuk ke Prakrti.

2.3 Etika Samkhya


Dalam konsep samkhya, manusia yang lahir di dunia, terikat oleh penderitaan
(dukha) yang berjumlah tiga, yaitu :
a. Adhyatmika : penderitaan yang disebabkan oleh penyebab psiko-fisika intra
organik yang mencakup semua penderitaan fisik dan mental.
b. Adhidaiwika : penderitaan yang disebabkan oleh penyebab super natural.
c. Adhibhautika : penderitaan yang disebabkan penyebab alam ekstra organik
seperti manusia atau binatang.
Oleh karenanyalah tujuan hidup manusia adalah terlepas dari penderitaan tersebut,
sehingga mencapai moksa yaitu penghentian total dari semua jenis penderitaan. Jiwa yang
bersifat abadi seolah-olah mengalami penderitaan karena pengaruh awidya (kegelapan), jadi
belenggu dianggap fiksi belaka karena ego (ahamkara) yang menjadi milik dari prakrti.

12
Maka dari pembedaan dari jiwa dan bukan jiwalah yang seharusnya dipahami, dengan
pemahaman ini maka diharapkan jiva berhenti terpengaruh oleh suka dan duka.
Pembebasan dapat diraih ketika manusia masih hidup (jivanmukti) atau setelah
meninggal (vedeha mukti). Pembebasan tidak saja dapat dicapai oleh pemahaman atau
pembedaan antara jiwa dan bukan jiwa, namun perlu pula menggunakan metode spiritual,
inilah salah satu yang nantinya ditambahkan oleh filsafat Yoga. Dari semua ini pada
hakikatnya Samkhya memiliih jalan wiweka atau kebijaksanaan mendalam untuk
melepaskan purusa dari jebakan prakerti.
2.4 Tujuan Akhir Ajaran Samkhya
Tujuan akhir dari Ajaran Samkhya adalah kelepasan. Kelepasan dapat dicapai oleh
seseorang bila orang tersebut menyadari bahwa purusa tidak sama dengan alam pikiran,
perasaan, dan badan jasmani. Bila seseoarng belum menyadari hal itu, maka ia tidak akan
dapat mencapai kelepasan, akibatnya ia mengalami kelahiran yang berulang-ulang. Jalan
untuk mencapai kelaepasan adalah melalui pengetahuan yang benar, latihan kerohanian yang
terus menerus, merealisasikan perbedaan purusa dan prakerti serta cinta kasih terhadap semua
makhluk. Dengan demikian samkhya menekankan pada jalan jnana dalam wujud wiweka dan
kebijaksanaan untuk melepaskan purusa dari jebakan prakerti.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari paparan diatas, maka kami dapat menyimpulkan bahwa Samkhya berasal dari dua
urat kata yaitu “Sam” dan “Khya”. Sam diartikan sebagai bersama-sama dan Khya diartikan
sebagai bilangan, jadi secara harfiah Samkhya berarti bilangan bersama-sama. Samkya
memiliki tiga sifat yang mendalam yaitu dualistis, realistis dan pluralistis. Sistem ajaran
Samkhya dicetuskan oleh Maha Rsi Kapila. Ajaran Samkhya secara metafisis
mengemukakan pokok-pokok ajaran purusa, prakerti,tri guna,penciptaan alam semesta dan
atheistik. Dalam konsep samkhya, manusia yang lahir di dunia, terikat oleh penderitaan
(dukha) yang berjumlah tiga, yaitu : 1). Adhyatmika : penderitaan yang disebabkan oleh
penyebab psiko-fisika intra organik yang mencakup semua penderitaan fisik dan mental, 2).
Adhidaiwika : penderitaan yang disebabkan oleh penyebab super natural, 3). Adhibhautika :
penderitaan yang disebabkan penyebab alam ekstra organik seperti manusia atau binatang.
Tujuan akhir dari Ajaran Samkhya adalah kelepasan.

3.2 Saran

Meskipun kami menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan makalah ini, tetapi


pada kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu kami perbaiki. Hal ini dikarenakan
masih minimnya pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami sangat berharap agar
pembaca mau memberikan sebuah kritikan dan saran agar kami bisa menjadikan saran dan
kritik yang diberikan oleh pembaca sebagai bahan evaluasi selanjutnya.

14
DAFTAR PUSTAKA

Maswinara, I Wayan. 2006. Sistem Filsafat Hindu (Sarva Darsana Samgraha). Surabaya:
Paramita.

https://witriblog.wordpress.com/2015/12/05/samkhya-darsana/

http://faridarien.blogspot.com/2012/12/makalah-filsafat-samkhya.html

https://wikakrishna.wordpress.com/2013/10/31/samkhya-darsana/

https://gtheynova.wordpress.com/2012/06/26/samkhya-sanakhya-darsana/

http://cakepane.blogspot.com/2015/08/pokok-pokok-ajaran-samkhya.html

15