Anda di halaman 1dari 29

Laporan Praktikum

Eksplorasi Elektromagnetik
Kelompok 6

Dibuat oleh :
Abiyyu Tsany
Achmad Dwi Cahya
Kezia Marannu B
Lia Andri A
Raditya Yudha
Rusba Rahmatullah R
METODOLOGI SSMT 2000

Flowchart SSMT 2000 dan MT Editor (Seleksi Crosspower)

Mulai

Input data Time


Series dan Kalibrasi

Make PFT

TS to FT

Edit PRM

Input hasil robust ke MT


Editor untuk mendapatkan
koherensi paling besar

Seleksi crosspower

Selesai

1. Buka software SSMT. Input data time series dan calibration sesuai …..
2. Klik opsi Make PFT pada toolbar dan save. Kemudian klik opsi TS to FT. Kedua opsi ini akan
mengubah data dalam time series ke dalam Transformasi Fourier.

3. Klik Edit PRM pada toolbar. Opsi ini dipilih untuk menentukan parameter dalam proses
robust. Ada tiga parameter yang digunakan yaitu No weight (Nw), Rho variance (Rv), dan
Ordinary coherency (Oc). Tentukan nilai maximum crosspower yang akan digunakan.
Kelompok kami menggunakan nilai 100.
4. Klik Process pada toolbar untuk melakukan proses robust pada data input.
5. Ulangi langkah 1-4 diatas pada setiap parameter

6. Buka software MTEditor. Input data hasil proses robust pada tiap parameter
7. Akan muncul dua grafik seperti dibawah ini. Pada bagian Components, centang dua pilihan
paling atas.

8. Klik kiri pada grafik dan pilih Chart Editor. Klik Export kemudian Data dan pilih dalam format
Excel.
9. Ulangi langkah 6-8 pada hasil rhobust yang lain.

10. Buka file dalam Ms Excel. Hitung nilai rata-rata koherensi Y pada dua kolom pertama.
Kemudian tentukan nilai koherensi yang paling besar diantara ketiga parameter Nw, Rv, dan
Oc. Berdasarkan hasil kelompok kami, nilai koherensi yang paling besar diantara ketiga
parameter tersebut adalah Rv.
11. Ulangi langkah 1-10 diatas. Pada tahap Edit PRM, gunakan nilai maksimum 0.95 dan nilai
minimum 0.75. Hal ini dilakukan agar noise pada data dapat melalui proses robust juga.
Hitung nilai rata-rata koherensi pada ketiga parameter dan tentukan yang paling besar.
PEMBAHASAN SSMT 2000

Dalam praktikum ini, kami melakukan pengolahan data sintetis dari data (.TS) yang kemudian
dilakukan pemprosesan robust untuk menentukan nilai koherensi data yang paling baik dan
dilanjutkan dengan processing untuk menghasilkan crosspower.

Data awal dari suatu data MT hasil dari pengukuran di lapangan berupa file Raw Time Series
dalam format ekstensi (.TS) dan file Site Parameter dalam format ekstensi (.TBL). Kemudian data ini
kita olah dengan menggunakan file data calibration yang terdiri dari kalibrasi instrumen atau kalibrasi
box dalam format ekstensi (.CLB) dan kalibrasi sensor atau kalibrasi coil dalam format ekstensi (.CLC),
serta file Site Parameter dalam format ekstensi (.TBL). Adapun data yang digunakan dalam processing
ini bukanlah data hasil pengukuran langsung melainkan data sekunder. Data sekunder yang digunakan
adalah Data KT 33 dan Data KT 34.

Selanjutnya data ini dilakukan pemprosessan dengan menggunakan Software SSMT 2000 dimulai
dengan analisa time series yang kemudian dilakukan process Fast Fourier Transform (FFT) untuk
mengubah data dalam bentuk time series kedalam bentuk frekuensi domain. Data yang sudah dalam
domain frekuensi ini, selanjutnya data ini dilakukan proses edit parameter dan robust dengan
menggunakan tiga parameter pembobotan, yaitu:

a. No Weight, merupakan pemprosessan data dengan menganggap semua titik bernilai sama
atau tanpa pembobotan.
b. Rho Variance, merupakan pemprosesan data dengan memberikan nilai pembobotan bernilai
besar pada data yang memiliki nilai error kecil sehingga tidak terlalu mempengaruhi nilai
koherensi.
c. Ordinary Coherency, merupakan pemprosesan data yang memberikan bobot lebih besar pada
data yang terekam pada koil dan sensor antara channel E dan H. Sehingga data yang terekam
pada Hx, Hy, Hz, Ex, dan Ey akan diberikan bobot yang lebih besar.

Proses Robust merupakan proses pengolahan data yang sering digunakan dalam pengolahan
metode MT untuk memperbaiki kualitas data. Estimasi Robust memiliki kemampuan untuk
menghilangkan gejala atau efek dari data yang yang tidak biasa (outliers) dalam respon variabel
(medan listrik). Berdasarkan hasil pemprosessan robust maka didapatkan nilai koherensi rata-rata
untuk Data KT 33 dengan parameter No Weight sebesar 0.8858, sedangkan pada parameter Rho
Variance sebesar 0.90669, dan untuk parameter Ordinary Coherency didapatkan sebesar 0.900033.
Pada Data KT 34 didapatkan nilai koherensi rata-rata dengan parameter No Weight sebesar 0.7422,
sedangkan pada parameter Rho Variance sebesar 0.77061, dan untuk parameter Ordinary Coherency
didapatkan sebesar 0.76427. Dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata koherensi dari Data KT 33 dan
Data KT 34 yang paling baik dengan menggunakan parameter Rho Variance.

Setelah mendapatkan nilai koherensi yang terbaik, yaitu dengan menggunakan robust processing
dengan menggunakan parameter Rho Variance, maka dilakukan upgrade koherensi dengan
menggunakan nilai koherensi maksimu yaitu: 0.95 dan 0.75. Setelah dilakukan upgrade coherence,
ternyata adanya terjadi perbedaan nilai koherensi rata-ratanya, dimana untuk Data KT 33 didapatkan
0.90717 dan untuk Data KT 34 didapatkan nilai sebesar 0.76887. Sehingga data yang dipakai adalah
data dengan koherensi terbesar.
Kemudian data MT ini dilakukan process edit parameter dan di process sehingga menghasilkan
data output berupa data plot MT dalam format ekstensi (.MTH) yang berisi data yang berfrekuensi
tinggi dan (.MTL) berisi data dengan frekuensi rendah dan akan diedit pada program MT-Editor.

Selanjutnya output dari pengolahan dengan perangkat lunak SSMT2000, dilakukan seleksi cross-
power yaitu: proses smoothing dan editing data ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak
MT Editor dari Phoenix Geophysic Canada. Tujuan dari smoothing dan editing data ini adalah untuk
memperbaiki kurva tahanan jenis dan fase yang masih kurang baik, agar dapat meminimalisasi
kesalahan dalam interpretasi data di tahapan selanjutnya. Data yang telah dilakukan smoothing,
diexport kedalam format ektensi (.edi) untuk dilakukan proses pembuatan model.

Gambar Seleksi Cross-power untuk Data KT 33

Gambar Seleksi Cross-power untuk Data KT 34

Gambar di atas adalah gambar kurva TE dan TM yang sudah dilakukan editing (seleksi crossopower)
hingga kedua kurva tesebut membuat trend yang sama. Caranya dengan mengedit dengan dua
window atas bawah yang berada di sebelah kanan dan dilihat hasilnya di kurva yang sebelah kiri. Kurva
yang kuning adalah kurva TE dan kurva yang hijau adalah data TM.
Pengolahan Data Edi di WinGlink
1. Open Wingilink
2. Create new data base, atur nama dan tempat penyimpanan data base di file yaang
diinginkan

3. Atur data base properties seperti langkah diabawah ini


4. Setelah pembuatan data base berhasil maka akan muncul tampilan seperti dibawah
pada wingilink

5. Kemudian buat project baru dengan cara kli kanan, lalu klik new dan pilih single

6. Aatur project properties seperti gambar dibawah ini


7. Import data EDI, pilih eksternal, kemudian pilih in an existing project

8. Masukkan semua file di folder data EDI, pilih no recalculation pada plot parameters
Import data EDI berhasil apabilapada project yang tadinya di kolom stasiun berisi 0 maka
setelah diiimport angka pada kolom stasiun akan berubah sesuai jumlah stasiun pad data EDI
yang dimasukkan.

9. Kemudian klik maps lalu cjecklist elevation setelah itu klik open

10. Pilih grid using default parameters


11. Checklist N dan V pada project window. Klik profile, lalu pilih go to profile mode. Klik
profile kembali dan pilih add profile trace. Kemudian tarik garis dari ujung titik stasiun
yang telah kita pilih ke ujung stasiun yang lain. Setelah itu bandpas trace yang telah
kita buat untuk mengetahui stasiun mana yang masuk ke dalam trace/line kita. Dicatat
masing-masing titik staiun yang kita pakai di exel untuk mengetahui nilai rho
apparentnya di software ZOND. Disini kami menggunakan 5 titik statsiun yaitu
05,11,14,15, dan 24
12. Kemudian masuk ke software ZOND2dMT
Pada Zond dilakukan pencocokan nilai rho apparent dari masing-masing stasiun yang
kita pakai dr suatu line. Dengan menggunakan SSC (Static Shift Correction) setelah itu
di inversi 1d sehingga muncul kurva rho appparent seperti gambar dibawah. Ssetelah
itu lakukan s+shift klik kanan pilih option. Lalu ancentang logaritmic dan masukkan
nilai minimum maksimum yang terlihat pada kurva untuk melihat nilai rho apparent
Stasiun 05

Stasiun 11

Stasiun 14

Stasiun 15
Stasiun 24
Dari proses tersebut didapatkan nilai rho apparent sebagai berikut

13. Selanjutnya dilakukan proses sounding pada WinGlink.

Diasukkan titik stasiun yang dipakai. Setelah memasukkan hasilnya seperti gambar dibawah.
Kemudian lakukan koreksi. Pengolahan sounding ini mirip pengolahan VES, tapi bedannya disini
kita dapat melakukan koreksi efek shifting, dan pembuatan garis forward modeling datanya.
Selanjunya akan dipakai untuk pembuatan profil1 D, pseuodection, dan 2D. Dari kurva tersebut
tampak kurva ρxy (merah) dan kurva ρyx (biru) mengalami shift (pergeseran). Hal ini terjadi
karena data MT tidak begitu stabil pada lapisan dangkal karena perbedaan topografi yang
mencolok yang disebut juga karena efek galvanic (distorsi galvanic). Untuk mengatasi data
yang mengalami shift tersebut dilakukanlah koreksi statik.
Koreksi statik dilakukan dengan cara menghilangkan data data pad kurva yang tidak sesuai
dengan trend. Menu Edit dan 1D model merupakan menu pengolahan yang selalu digunakan
untuk melakukan perbaikan kurva rho apparent XY dan YX yang mengalami shifting.

Gambar diatas merupakan toolbar pada menu editing sounding winGlink


Fungsinya meliputi :
a. Mask XY, YX, XY- YX merupakan alat buat menghapus data titik frekuensi pada kurva
XY atau YX ataupun Keduannya.
b. Swap merupakan alat buat merubah nilai fase sudut data di kurva XY dan YX, biasa
digunakan bila ada derajat fase yang nyeleneh dari biasanya( nanti kamu paham
sendiri).
c. Strip merupakan media buat menggeser dan membalikan posisi kurva XY dan YX yang
awalnya diatas menjadi dibawah ataupun sebaliknya.
d. SS Reset fungsinya buat mereset kurva yang telah dilakukan efek static, dijadikan
kondisi awal.
e. Smooth berfungsi buat membuat trend line bantuan data yang memudahkan dalam
melakukan editing static shift. Bila datanya tidak membentuk trend, saya sarankan
menggunakan smoothing numeric yang bersifat polynomial, kalau datanya bagus ya
makai smoothing D+, bila pengin smoothing berdasarkan parameter fase dan
impedance maka makai o.
f. + 360 ataupun -360 adalah skor ceki seng mari mementung dan yang terkena
pentungan. Tapi sebenarnya itu adalah alat buat merubah arah sudut fase secara
individu bisa maupun satu kurva sekaligus.
g. Cancel adalah cancel
h. HF adalah HF
i. Close adalah Close.

Setelah dikoreksi dengan smoothing dan dilakukan pengikatan antara kurva XY dan YX
dengan tombol s-shift. Kemudian dilakukan inversi 1D dengan menggunakan inversi
Bostick dan Occam. Dilakukan matching kurva dengan cara mencocokkan banyaknya layer
hingga kurva resistivitas berhimpit dengan garis. Pada percobaan ini menggunakan 5 layer
lapisan. Hasil dari inversi 1d adalah seperti dibawah ini :

Hasil Model Inversi 1D pada stasiun 05


Hasil Model Inversi 1D pada stasiun 11

Hasil Model Inversi 1D pada stasiun 14


Hasil Model Inversi 1D pada stasiun 15

Hasil Model Inversi 1D pada stasiun 24


14. Kemudian dilakukan proses proffiling dengan toolbar X-section
merupakan penampang data sounding yang 1D tapi diinterpolasi, namun hasil ini secara
kualitatif belum layak untuk dijadikan interpretasi sebab ke kompleksitas problem MT terhadap
struktur daerah penelitian. Dilakukan 2 kali yaitu secara Bostick dan secara Occam.
Setelah dimodelkan secara x-section atur range resistivitas. Pertama atur grid color range. Atur
range warna dengan skala yang diinginkan. Kemudian atur model color range—load—
kemudian save. Kemudian samakan range skala resistivitas pada inversi x-section yang satunya
agar kedua penampang memiliki range resistivitas yang sama dengan cara langsung me-load
model color range.
Hasil x section 1d bostick
Hasil x section 1d occam

Permodelan 2D

Pilih tombol diatas pada window WinGlink. Kemudian pilih new dan pilih menggunakan
koreksi topografi. Kemudian atur parameter setting
Kemudian lakukan inversi dengan cara inversi run smooth inversion. Setelah itu abdet range
color seperti proses inversi 1D

Hasil Penampang 2D
Pembahasan Hasil WinGlink

Jika dilihat dari hasil x section 1D Bostick dan x section 1D Occam bahwa penampang
nya memiliki nilai resistivitas yang sama dari ketinggian 2000m – kedalaman 3000 m. Nilai
resistivitas dari kedua penampang sangat berbeda ketika sudah mencapai kedalaman 3000m.
Pada x section 1D Bostick pada X 15 hingga 37 terlihat bahwa nilai resistivitas nya kecil yang
diduga sebagai sedimen, sementara pada x section 1D Occam di X 18 hingga 39 memiliki nilai
resistivitas yang tinggi dan dapat diduga sbagai Heat Source. Namun karena penetrasi
kedalaman yang paling dalam berada pada pengukuran di titik A 14 hanya sampai kedalaman
3000m, maka hanya hasil hingga kedalaman 3000m yang dapat diterima.
Jika dilihat dari penampang 2D, dapat dilihat bahwa daerah lokasi pengukuran memiliki
lapisan sedimen yang tebal mulai dari ketinggian 1500m hingga kedalaman 2000m. Zona
reservoir beerada di sekitar kedalaman 1500m . dapat dikatakan seperti itu karena adanya heat
source dan clay cap.
Interpretasi

Jika dilihat dari hasil x section 1D Bostick dan x section 1D Occam bahwa penampang
nya memiliki nilai resistivitas yang sama dari ketinggian 2000m – kedalaman 3000 m. Nilai
resistivitas dari kedua penampang sangat berbeda ketika sudah mencapai kedalaman 3000m.
Pada x section 1D Bostick pada X 15 hingga 37 terlihat bahwa nilai resistivitas nya kecil yang
diduga sebagai sedimen, sementara pada x section 1D Occam di X 18 hingga 39 memiliki nilai
resistivitas yang tinggi dan dapat diduga sbagai Heat Source. Namun karena penetrasi
kedalaman yang paling dalam berada pada pengukuran di titik A 14 hanya sampai kedalaman
3000m, maka hanya hasil hingga kedalaman 3000m yang dapat diterima.
Jika dilihat dari penampang 2D, terbagi menjadi tiga zona yaitu clay cap,reservoir,dan
heat source. Clay cap berada pada kedalaman 2000m-3800m dimana ditunjukkan dengan zona
resistivitas yang rendah dengan rentang 2-7 ohm meter. Reservoir sendiri tersebar pada
beberapa kedalaman yang ditujukkan dengan warna hijau dengan rentang resistivitas 7-41ohm
meter. Sedangkan Heat source atau basement berada pada kedalaman 4000m-14000m yang
ditunjukkan dengan nilai resistivitas yang tinggi dengan rentang >41 ohm meter yang di tandai
dengan warna biru hingga biru tua.
Korelasi antara model 1d dan 2d ditunjukkan oleh inversi occam dimana pada inversi
occam menunjukkan kedalaman clay cap, reservoir, dan heat source yang relatif sama.
Kenampakkan pada 1d occam berbeda dengan 2d karena jangkauan penetrasi kedalaman yang
berbeda.