RS METTA MEDIKA II
SIBOLGA
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
KSM : NON BEDAH
Tanggal Terbit No. Revisi Ditetapkan,
Direktur
16 April 2019 00 drg. Henry Gunawan
JUDUL NEUROPATI
ICD X : 663
1. Definisi Neuropati adalah proses patologi yang mengenai susunan
saraf perifer, berupa proses demieliniasi atau degenerasi
aksonal atau kedua-duanya. Susunan saraf perifer mencakup
saraf otak, saraf spinal dengan akar saraf serta cabang-
cabangnya, saraf tepi dan bagian-bagian tepi dari susunan
saraf otonom.
2. Anamnesis Keluhan berupa nyeri, rasa terbakar, ditusuk, disayat,
hentakan, kesetrum, parastesia, hilang rasa, kurang rasa,
disestesia, hiperlagesia, alodina, hiperpatia, nyeri pantom,
penurunan rasa vibrasi dan posisi, kelemahan motorik dan
keluhan vasomotor/sudomotor/atrofi jaringan subkutan.
Ditanyakan awitan, perjalanan penyakit, mencari penyakit
dasar (diabetes melitus, trauma, neuralgia trigeminal,
neuroma dan hesper zoster), riwayat pengobatan, kualitas
nyeri, lokasi, distribusi/penjalaran, faktor yang
meringanlan/memperberat. Anamnesis psikologis/”pain
triad” (kecemasan, depresi, gangguan tidur).
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan neurologis meliputi pemeriksaan sensorik
(parestesia, nyeri, terbakar, penurunan rasa raba, vibrasi dan
posisi), pemeriksaan motorik (kelemahan otot-otot) reflek
tendon menurun dan fasikulasi.
Metabolik :
o Neuropati diabeti :
- Pelineuropati : komplikasi diabetes mellitus yang
paling sering terjadi dengan gejala dan tanda
berupa gangguan rasa nyeri dan suhu, vibrasi
serta posisi.
- Otonom neuropati : gejala dan tanda berupa
keringat berkurang, hipotensi ortostatik,
nokturnal diare, inkontinensi alvi, konstipasi
inkontinensi atau retensio urin, gastroparesis dan
impotensi.
- Mononeuropati dengan gejala dan tanda terutama
mengenai nervi kranialis (terutama untuk
pergerakan bola mata) dan saraf tepi besar
dengan gejala nyeri.
o Polineuropati uremikum :
Dengan gejala dan tanda berupa gangguan
sensorimotor simetris pada tungkai dan tangan, rasa
gatal, geli atau rasa merayap pada tungkai dan paha
yang memberat pada malam hari dan membaik bila
kaki digerakkan (restless leg syndrome)
Nutrisional
RS METTA MEDIKA II
SIBOLGA
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
KSM : NON BEDAH
o Polineuropati defisiensi :
- Piridoksin : pada penggunaan Izoniazid (INH)
dengan gejala dan tanda berupa neuropati
sensorimotor dan neuropati optika
- Asam folat : sering pada penggunaan fenitoin dan
intake asam folat yang kurang
- Niasin : pada pasien defisiensi multiple
Toksik
o Arsenik : Keracunan arsen secara kronik (akumulasi
kronik) dnegan gejala dan tanda berupa gangguan
sensoris berupa nyeri dan gangguan motorik yang
berkembang lambat, gangguan gastrointestinal
mendahului gangguan neuropati oleh karena intake
arsen.
o Merkuri : dengan gejala dan tanda menyerupai
keracunan arsen.
Drug induced
o Obat antineoplasma (cisplastin, carboplastin,
vincristin) dengan gejala dan tanda banyak sebagai
gangguan sensorik polineuropati setelah beberapa
minggu terapi seperti parastesia; gangguan
propriseptif, vibrasi sering terganggu sampai kolum
posterior dan gangguan motorik terutama tungkai
bawah.
o Antimikrobal
- INH : simetrikal polineuropati
- Kloramfenikol dan metronodazole : gangguan
sensoris ringan / akral parestesia, kadang optik
neuropati
Keganasan / paraneoplastic polyneuropathy
Gejala dan tanda : banyak dalambentuk distal simetrikal
sensorimotor polineuropati akibat “remote effect”
keganasan (seperti myeloma multiple, limtoma) dan
gejala motorik seperti ataksia, atropi tingkat lanjut
kelumpuhan.
Trauma : neuropati jebakan
4. Kriteria Diagnosis Klinis : gangguan sensorik (parestesia, nyeri, terbakar,
penurunan rasa raba, vibrasi dan posisi), gangguan
motorik (kelemahan otot-otot), refleks tendon menurun
dan fasikulasi.
Laboratorium : gula darah puasa, fungsi ginjal, kadar
vitamin B1,B6,B12 darah, kadar logam berat, fungsi
hormon tiroid, lumbal pungsi (sesuai indikasi).
Gold Standard : Elektroneuromiografi/ENMG
(degenerasi aksonal dan demielinisasi)
5. Diagnosis - Neuropati
6. Diagnosis Banding - Miopati
- Moto neuron disease
- Multiple sclerosis
7. Pemeriksaan - Laboratorium
Penunjang - Elektroneuromiografi (ENMG)
8. Terapi - Terapi kausa
RS METTA MEDIKA II
SIBOLGA
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
KSM : NON BEDAH
- Simptomatis : analgetik, antiepileptik
- Neurotropik vitamin : B1, B6, B12, asam folat
- Fisioterapi
9. Edukasi Memberikan informasi yang mudah dipahami pasien tentang
penyakitnya, pengobatan dan hal-hal yang diperbolehkan
yang tidak diperbolehkan. Memberikan edukasi mengenai
aktifitas fisik sehari-hari, kepatuhan mengkonsumsi obat dan
sebagainya.
10. Prognosis 1. Death : Bonam
2. Discale : Dubia
3. Disability : Dubia ad bonam
11. Tingkat Evidens I-II
12. Tingkat A dan B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis Bagian Saraf
14. Indikator - Keadaan baik
- TTV baik
15. Kepustakaan 1. Meliala, KTRL; Suroto; Suryamiharja, A; Purwata, TE
Leksmono,
RP;Suharjanti,I;dkk.2011.Dalam:Suryamiharja,A;Purwat
a, TE;Suharjanti, I;Yudyanta (Ed).Kelompok studi nyeri
PERDOSSI, konsensus nasional 1, diagnostik dan
penatalaksanaan nyeri neuropatik. Airlangga Univeisty
Press. Jakarta.
2. Misbach, J; Hamid, AB ; Mayza, A; Saleh, MK. Buku
Pedoman Standar Pelayan Medis (SPM) dan Standar
Prosedur Operasional (SPO) Neurologi, koreksi Tahun
1999 dan 2005.2006. Perhimpunan Dokter Spesialis
Saraf Indonesia (PERDOSSI). Jakarta.
3. Peraturan Menteri Kelihatan Republik Indonesia Nomor
5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis bagi
Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer.
4. Standar Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi
Indonesia, 2015.
Diketahui Oleh, Yang membuat,
Ketua Komite Medik
dr. Lubuk Paindoan Saing, Sp. A dr. Siska Imelda Tambunan,
M.Ked(Neu), Sp.S