Anda di halaman 1dari 10

Jurnal OPSI Vol 10 No 2 Desember 2017 ISSN 1693-2102

OPSI – Jurnal Optimasi Sistem Industri

ANALISIS INTENSITAS CAHAYA PADA AREA PRODUKSI


TERHADAP KESELAMATAN DAN KENYAMANAN KERJA
SESUAI DENGAN STANDAR PENCAHAYAAN
(Studi Kasus Di PT. Lendis Cipta Media Jaya)

Bobby Guntur Adi Putra, Gunawan Madyono2


Program Studi Teknik Industri Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Industri
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
Jl. Babarsari 2 Tambakbayan, Yogyakarta, 55281
Telp. (0274) 485363 Fak : (0274) 486256

ABSTRAK
Keselamatan dan kenyamana kerja merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan, salah
satunya adalah pencahayaan ruangan. Intensitas cahaya adalah banyaknya cahaya ada pada suatu luas
permukaan, merupakan aspek lingkungan fisik yang sangat penting untuk keselamatan dan kenyamanan kerja.
Dalam penelitian ini menggunakan metode ergonomi dengan tujuan menciptakan lingkungan kerja
yang aman dan nyaman sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh menteri kesehatan pada tiap area sesuai
dengan jenis kegiatan yang ada. Pengambilan data menggunakan alat pengukur cahaya yaitu luxmeter dan
menentukan tingkat pencahayaan ruangan yang standar sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan
No.1405/MENKES/SK/XI/2001.
Dari hasil pergukuran langsung intensitas cahaya pada masing-masing area produksi dengan
menggunakan luxmeter bahwa area produksi mendapatkan pencahayaan yang tertinggi yaitu 236 lux, namun
masih tidak sesuai standar yang di tentukan oleh menteri kesehatan yaitu 300 lux. Oleh karena itu intensitas
cahaya diseluruh area produksi untuk saat ini masih kurang baik bagi keamanan dan kenyamanan pekerja.
Untuk meningkatkan intensitas cahaya pada area produksi agar dapat memenuhi standar pencahayaan yaitu
300 lux maka setiap area produksi diperlukan penambahan jumlah lampu atau penggantian jenis lampu di
setiap area produksi.

Kata Kunci: ergonomi, intensitas cahaya, keselamatan dan kenyamanan kerja.

I. PENDAHULUAN
PT. Lendis Cipta Media Jaya merupakan memadai dapat menyebabkan ganguan
salah satu perusahaan industri yang bergerak kesehatan pada pekerja, salah satunya adalah
dalam bidang percetakan di kota Yogyakarta. kelelahan mata. Selain itu, kelelahan mata
Dengan permintaan produksi yang sangat timbul sebagai stress intensif pada fungsi-
tinggi, PT. Lendis Cipta Media Jaya fungsi mata seperti terhadap otot-otot
mengoperasikan beberapa buah mesin cetak akomodasi pada pekerja yang perlu
berukuran besar di ruang produksinya dari pengamatan secara teliti atau pada retina
pukul 08.00 – 16.00 WIB setiap harinya. sebagai ketidaktepatan kontras (Suma’mur,
Mesin cetak tersebut memiliki operator untuk 2009).
mengoptimalkan pelaksanaan proses produksi Tingkat penerangan yang baik merupakan
cetak. Tugas dan tanggung jawab operator salah satu faktor untuk memberikan suatu
sangatlah penting yaitu memahami bahan baku kondisi penglihatan yang baik karena
yang dipakai seperti kertas, tinta, pelat, dan penerangan dapat mempengaruhi dalam
bahan bantu lainnya. Peran operator sangatlah melihat obyek-obyek. Apabila tingkat
penting dalam proses kerja. Oleh karena itu penerangannya cukup bagus maka obyek akan
setiap proses membutuhkan ketelitian yang terlihat secara jelas dan cepat dalam
tinggi sehingga dibutuhkan lingkungan kerja mencarinya tanpa menimbulkan kesalahan
yang baik salah satunya adalah pencahayaan berarti. Analisa intensitas cahaya perlu
yang memadai. Pencahayaan yang memadai dilakukan sebagai salah satu pendukung
menyebabkan kelainan pada indra penglihatan lingkungan kerja bagi keselamatan dan
dan kesilauan yang dapat menimbulkan kenyamanan kerja
kecelakaan kerja. Pencahayaan yang kurang 1. Pencahayaan (Iluminate)
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UPN “Veteran” Yogyakarta 115
Jurnal OPSI Vol 10 No 2 Desember 2017 ISSN 1693-2102
OPSI – Jurnal Optimasi Sistem Industri

Pencahayaan atau penerangan adalah Penentuan koefisien pemakaian


faktor yang penting untuk menciptakan berdasarkan faktor reflektansi langit-langit,
lingkungan kerja yang baik. Lingkungan kerja dinding, dan lantai dipengaruhi oleh
yang baik akan dapat memberikan pemantulan dari masing-masing warna.
kenyamanan dan meningkatkan produktivitas Reflektivitas cat dapat dilihat pada Tabel 1.
pekerja. Efisiensi kerja seorang operator Table 1. Tabel Reflektivitas Cat
ditentukan pada ketepatan dan kecermatan saat
melihat dalam bekerja, sehingga dapat
meningkatkan efektifitas kerja, serta keamanan
kerja yang lebih besar.
Tingkat penerangan yang baik merupakan
salah satu faktor untuk memberikan kondisi
penglihatan yang baik. Dengan tingkat
penerangan yang baik akan memberikan
Sumber: IES Hand Book 1984
kemudahan bagi seorang operator dalam
melihat dan memahami display, simbol-simbol
4. Light-Loss Factor, Faktor Kehilangan
dan benda kerja secara baik pula. Indera yang
Cahaya (LLF).
yang berhubungan dengan pencahayaan adalah
Koefisien depresiasi atau sering disebut
mata. Karakteristik dan batasan daya lihat
juga koefisien rugi-rugi cahaya atau koefisien
menusia penting untuk dipahami oleh seorang
pemeliharaan, didenifisikan sebagai
desainer display.
perbandingan antara tingkat pencahayaan
2. Tingkat Pencahayaan Minimum yang
setelah jangka waktu tertentu dari instalasi
Diperlukan.
pencahayaan digunakan terhadap tingkat
Pencahayaan yang memadai menjadi
pencahayaan pada waktu instalasi baru.
faktor yang cukup penting sesuai dengan jenis
Faktor kehilangan cahaya terdiri atas non
pekerjaan yang dilakukan. Pencahayaan yang
recoverable factor dan recoverable factor.
cukup baik untuk suatu pekerjaan belum tentu
Besarnya koefisien depresiasi biasanya
sesuai digunakan untuk jenis pekerjaan
ditentukan berdasarkan estimasi. Untuk
lainnya.
ruangan dan armatur dengan pemeliharaan
Jenis kegiatan yang dilakukan di dalam
yang baik pada umumnya koefisien depresiasi
ruangan akan menentukan tingkat iluminasi
diambil sebesar 0,8 Non recoverable, factor
yang dibutuhkan karena jenis kegiatan yang
terdiri atas:
berbeda akan memerlukan tingkat iluminasi
a. LAT (Luminaire Ambient
yang berbeda. Sesuai dengan tingkat iluminasi
Temperature), suhu di sekitar luminer.
yang dipersyaratkan pada kuat penerangan,
Di atas suhu 250C lampu fluorescent
maka kebutuhan tingkat kuat penerangan
akan kehilangan cahaya 1% setiap
(iluminasi) pada area produksi dengan jenis
kenaikan suhu 10C. Jika lampu
pekerjaan rutin adalah 300 lux.
beroperasi di lingkungan normal
sesuai desain pabrik, maka LAT=1.
3. Coefficient of Utilization, Koefisien
Pengertian lingkungan normal adalah
Penggunaan (CU).
sesuai arahan pabrik pembuat lampu
Sebagian dari cahaya yang dipancarkan
tersebut.
oleh lampu diserap oleh armatur, sebagian
b. VV (Voltage Variation), variasi
dipancarkan ke arah atas dan sebagian lagi
tegangan listrik. Perubahan 1% pada
dipancarkan ke arah bawah. Faktor
tegangan listrik akan mempengaruhi
penggunaan didefinisikan sebagai
lumen lampu pijar hingga 3%. Jika
perbandingan antara fluks luminus yang
lampu dioperasikan pada voltase
sampai di bidang kerja terhadap keluaran
sesuai, maka VV=1.
cahaya yang dipancarkan oleh semua lampu.
c. LSD (Luminaire Surface
Faktor utilisasi ini besarnya kurang dari 1
Depreciation), depresiasi permukaan
dimana nilai kerugian untuk gedung-gedung
luminer. Permukaan luminer akan
perkantoran modern pada umumnya berkisar
mengalami penurunan kualitas, seperti
0,8.
penutup berubah warna, reflektor
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UPN “Veteran” Yogyakarta 116
Jurnal OPSI Vol 10 No 2 Desember 2017 ISSN 1693-2102
OPSI – Jurnal Optimasi Sistem Industri

tergores, dan sebagainya yang akan Tabel 3. Lamp Lumen Depreciation


mempengaruhi kualitas dan kuantitas Penggantian Penggantian
penerangan. Jenis Lampu
Bersamaan Berdasarkan Lampu Mati
d. BF (Ballast Factor), faktor balas. Lampu pijar 0,94 0,88
Kadang balas yang digunakan dalam Tungsten-halogen 0,98 0,94
luminer berbeda dengan yang Flourescent 0,90 0,85
tercantum dalam data teknis. Hal ini
Mercury 0,82 0,74
sering menyebabkan kekeliuran
Metal-hailde 0,87 0,80
perhitungan.
High-presure sodium 0,94 0,88
Sedangkan Recoverable factor meliputi:
Sumber: Stein,1986
a. LDD (Luminaire Dirt Depreciation),
depresiasi cahaya akibat penimbunan
d. LBO (Lamp Burnout), perkiraan
kotoran pada luminer. LDD
jumlah lampu yang mati sebelum
dipengaruhi oleh tipe luminer, kondisi
atmosfir lingkungan, dan waktu antara waktu penggantian yang direncanakan.
LBO = (jumlah lampu yang masih
pembersihan luminer berkala.
hidup) - (jumlah awal lampu yang
b. RSDD (Room Surface Dirt
digunakan). Bila lampu diganti
Depreciation), depresiasi cahaya
seluruhnya secara bersamaan LBO=1.
akibat penumpukan kotoran di
Bila penggantian lampu hanya pada
permukaan ruang. Pencahayaan yang
lampu yang mati, maka LBO=0,95.
memanfaatkan pemantulan akan lebih
mudah terpengaruh oleh penumpukan Dari penjelasan di atas, maka:
LLF = (1,0) (RSDD x LLD x LBO x
kotoran (debu dan lain-lain)
LDD) ...........................................(1)
dibandingkan dengan pencahayaan
yang mengutamakan cahaya langsung
dari lampu. Tabel 2.2 berikut dapat 5. Kuat Pencahayaan
digunakan sebagai pedoman bila tidak Kuat pencahayaan pada suatu ruangan
pada umumnya didefinisikan sebagai tingkat
ada data yang spesifik dari lampu
pencahayaan pada bidang kerja. Yang
bersangkutan. Pada periode
dimaksud dengan bidang kerja ialah bidang
pembersihan 24 bulan di lingkungan
horizontal imajiner yang terletak 0,75 meter di
wajar (tidak sangat bersih maupun
kotor) dapat dilihat berdasarkan Tabel atas lantai pada seluruh ruangan. Merujuk
rumus yang dikemukakan Schiler (1992), kuat
2.
Tabel 2. Room Surface Dirt pencahayaan dapat dihitung dengan
persamaan:
Depreciation
E= (I x CU x LLF)/A lux.........................(2)
Nilai Dimana: E = Kuat pencahayaan (lux)
Jenis Penerangan
Permukaan I = Intensitas sumber
Pencahayaan langsung 0,92 ± 5% cahaya (lm)
Pencahayaan semi langsung 0,87 ± 8% CU = Faktor Utilisasi
Pencahayaan semi tidak langsung 0,82 ± 10% LLF = Faktor rugi cahaya
Pencahayaan tidak langsung 0,77 ± 12% A = Luas ruangan
Perhitungan kuat pencahayaan rata-rata
Sumber: Stein,1986
diperoleh dari hasil pengukuran kuat
c. LLD (Lamp Lumen Depreciation),
pencahayaan yang diambil dari beberapa
faktor depresiasi lumen yang
tempat di dalam ruangan dengan menggunakan
tergantung pada jenis lampu dan waktu
luxmeter, menggunakan persamaan :
penggantiannya. Bila tidak tersedia
Erata-rata = (E_1+E_2+E_3…+E_n)/n
data yang pasti, maka dapat
lux.............................................(3)
menggunakan Tabel 2.3 berikut :
Dimana : E1...n = Hasil pengukuran kuat
pencahayaan dibeberapa tempat.
Erata-rata = Kuat pencahayaan rata-
rata.

Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UPN “Veteran” Yogyakarta 117


Jurnal OPSI Vol 10 No 2 Desember 2017 ISSN 1693-2102
OPSI – Jurnal Optimasi Sistem Industri

Sedangkan untuk menghitung intensitas menerangi suatu ruang berdasarkan standar


cahaya, menggunakan persamaan : tingkat pencahayaan yang ditentukan, yaitu :
I = i x n..................................(4) N= (Estandar xA)/(i xCUxLLF )............(5)
Dimana : I = Intensitas sumber cahaya (lm). Dimana : N = Jumlah lampu.
i = Tingkat pencahayaan pada Estandar = Kuat penerangan yang
lampu yang dipakai (lm). standar.
n = Jumlah sumber cahaya A = Luas ruangan.
Dengan demikian, dapat diketahui juga i = Tingkat pencahayaan.
jumlah lampu yang diperlukan untuk CU = Faktor Utilisasi.
LLF = Faktor rugi cahaya
2. METODOLOGI PENELITIAN dokumen-dokumen perusahaan, dari
Penelitian dilakukan di PT. Lendis Cipta buku-buku tentang pencahayaan, serta
Media Jaya yang beralamat di Jalan Kabupaten browsing untuk mencari informasi lain
833 Jambon, Sleman, Yogyakarta yang yang relevan melalui internet. Data-
berlangsung selama bulan Maret – April 2017 data yang diperlukan dalam penelitian
dengan obyek penelitian adalah area produksi di area produksi percetakan adalah
yaitu area sakura 258, area sakura 52E, area sebagai berikut :
sakura 458 Ep II, area pond, dan area mand 1) Data dimensi ruang, yakni panjang
roland. dan lebar masing-masing
Dalam melakukan penelitian, sumber data ruang/area.
yang digunakan secara garis besar terdiri dari 2 2) Data sumber cahaya, yakni jenis
jenis yaitu data primer dan data sekunder. dan jumlah lampu yang digunakan
a. Data primer. dalam area produksi.
Data primer adalah data yang 3) Data pencahayaan pada masing-
diperoleh langsung dari sumber masing area produksi.
pertama (observasi), dapat berupa hasil
wawancara dan dokumen-dokumen. 3. PEMBAHASAN
Pengambilan data primer dilakukan Berdasarkan data yang dikumpulkan dari hasil
dengan cara : penelitian maka langkah-langkah yang
1) Observasi. dilakukan sebagai berikut:
Melihat secara langsung obyek a. Menentukan standar tingkat
penelitian, mendokumentasikan pencahayaan sesuai dengan
kondisi di ruang/area dan KEPMENTKES No.
mengumpulkan data-data yang 1405/MENKES/SK/XI/2002 yang
dibutuhkan. ingin dicapai untuk tiap masing-
2) Wawancara. masing area.
Dilakukan dengan tatap muka, b. Menentukan koefisien kerugian cahaya
mengajukan pertanyaan secara (LLF), kemudian dihitung dengan
langsung untuk memperoleh data persamaan (1).
atau informasi pada obyek yang c. Menganalisis tingkat pencahayaan
diobservasi. Wawancara dilakukan rata-rata pada masing-masing area
dengan pimpinan serta dengan sesuai jumlah lampu yang ada dengan
operator yang bertugas. menggunakan persamaan (2).
b. Data sekunder. d. Menghitung jumlah lampu yang
Data sekunder adalah data yang seharusnya dalam area guna
diperoleh tidak langsung atau data mendapatkan tingkat pencahayaan
yang tidak mempunyai hubungan rata-rata sesuai standar yang telah
langsung dengan data primer, ditetapkan.
contohnya adalah data yang Kondisi awal dari pengukuran penerangan
berhubungan dengan penelitian yang dilakukan pada area produksi dengan
pustaka. Pengumpulan data sekunder menggunakan luxmeter. Pada area produksi
dilakukan dengan melakukan studi dibagi menjadi 5 area, yaitu
literartur. Literatur ini didapat dari a. Area sakura 258.

Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UPN “Veteran” Yogyakarta 118


Jurnal OPSI Vol 10 No 2 Desember 2017 ISSN 1693-2102
OPSI – Jurnal Optimasi Sistem Industri

b. Area sakura 52E. Tabel 7 Hasil pengamatan di masing-masing


c. Area sakura 458 Ep II. area produksi
d. Area pond.
e. Area mand roland

1) Data dimensi ruang


Data kondisi bangunan berupa tata letak
bangunan, fasilitas di dalam bangunan,
keadaan fisik bangunan berupa lantai, dan
dimensi ruang. Pada Tabel 4 hasil observasi (Sumber: Observasi lapangan)
data bangun ruang pada masing-masing area. Pekerjaan yang dilakukan pada area
Tabel 4 Data dimensi ruang pada area produksi produksi dapat dikategorikan dalam Industri
umum berdasarkan KEPMENKES
No.1405/MENKES/SK/XI/2002. Adapun
pekerjaan pada area produksi dengan jenis
kegiatan pekerjaan rutin yang tingkat
minimum pencahayaannya adalah 300 lux.

1. Pengolahan Data
(Sumber: Observasi lapangan) a. Perhitungan intensitas sumber cahaya
Dari pengukuran di area produksi telah
2) Data sumber cahaya didapatkan data tingkat pencahayaan jenis
Data sumber cahaya diperoleh dengan lampu yang digunakan pada Tabel 5 dan
pengamatan dan pengukuran secara langsung jumlah lampu pada masing-masing area pada
menggunakan Luxmeter. Jenis lampu yang Tabel 6. Sehingga perhitungan intensitas
digunakan dapat dilihat pada Tabel 5. sumber cahaya untuk masing-masing area
Sedangkan jumlah lampu yang digunakan pada dengan menggunakan persamaan (4) dan hasil
tiap-tiap area produksi dapat dilihat pada Tabel perhitungan dapat dilihat pada Tabel 8.
6. Tabel 8 Intensitas sumber cahaya
Tabel 5 Jenis lampu yang digunakan di area
produksi

(Sumber: www.philips.com)

Tabel 6 jumlah lampu di masing-masing area


b. Perhitungan Light Loss Factor (LLF)
produksi Berdasarkan maintenance category,
diketahui bahwa nilai LDD untuk lampu
tersebut adalah 0,90. Jenis pencahayaanya
adalah pencahayaan langsung, berdasarkan
Tabel 2 nilai RSDD adalah 0,92.
Jenis lampu yang digunakan adalah
fluorescent serta penggantiannya berdasarkan
Tabel 3 diperoleh nilai LDD 0,85 untuk
(Sumber: Observasi lapangan) fluorescent dengan nilai LBO= 1,0. Dengan
menggunakan persamaan (1) dapat dihitung
3) Data pencahayaan dalam area produksi nilai LLF fluorescent sebagi berikut :
Untuk pengukuran kuat penerangan di LLF = (1,0)(RSDD x LLD x LBO x LDD)
masing-masing area, dilakukan di 5 (lima) titik = (1,0)(0,92 x 0,85 x 1,0 x 0,90)
pengukuran dengan menggunakan luxmeter. = 0,70 ≈ 0,7
Hasil pengukuran di masing-masing area dapat
dilihat pada Tabel 7.
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UPN “Veteran” Yogyakarta 119
Jurnal OPSI Vol 10 No 2 Desember 2017 ISSN 1693-2102
OPSI – Jurnal Optimasi Sistem Industri

c. Perhitungan kuat penerangan rata-rata N = (300 x 36)/(2500 x 0,8 x 0,7 = 7,7 ≈ 8


Data kuat penerangan diperoleh dari hasil Lampu
pengamatan langsung dengan menggunakan Pada area sakura 258 memerlukan
luxmeter dan pada tiap area meggunakan 5 tambahan 2 lampu untuk mendapatkan
titik pengukuran dan hasil pengukuran tingkat pencahayaan yang standar.
langsung dapat dilihat pada Tabel 7. Kuat 2) Area sakura 52E
penerangan rata-rata dapat dihitung dengan N = (300 x 36)/(2500 x 0,8 x 0,7 ) = 7,7 ≈ 8
persamaan (3) dan hasil dapat dilihat pada Lampu
Tabel 9. Pada area sakura memerlukan tambahan 2
Tabel 9 Kuat penerangan rata-rata lampu untuk mendapatkan tingkat
pencahayaan yang standar.
3) Area sakura 458 Ep II
N = (300 x 48)/(2500 x 0,8 x 0,7 ) = 10,2 ≈
10 Lampu
Pada area sakura memerlukan tambahan 2
lampu untuk mendapatkan tingkat
pencahayaan yang standar.
d. Perhitungan kuat penerangan sesuai dengan 4) Area pond
jumlah lampu yang ada N = (300 x 32)/(2500 x 0,8 x 0,7 ) = 6,8 ≈ 7
Data perhitungan kuat penerangan (E) Lampu
dapat diperoleh dengan menggunakan hasil Pada area sakura memerlukan tambahan 1
intensitas pada masing-masing ruangan (I) lampu untuk mendapatkan tingkat
pada Tabel 8, menggunakan CU = 0,8, LLF = pencahayaan yang standar.
0,7, dan data luas dimensi ruang (A) tiap-tiap 5) Area mand roland
area pada Tabel 4. Kuat penerangan pada N = (300 x 72)/(2500 x 0,8 x 0,7 ) = 15,4 ≈
masing-masing area dapat dihitung dengan 15 Lampu
persamaan (2) dan hasil perhitungan dapat Pada area sakura memerlukan tambahan 5
dilihat pada Tabel 10. lampu untuk mendapatkan tingkat
Tabel 10 Kuat penerangan sesuai dengan pencahayaan yang standar.
jumlah lampu yang ada Tabel 11 Penambahan lampu sesuai standar

6) Perhitungan kebutuhan biaya lampu


sesuai standar
e. Perhitungan jumlah lampu untuk Perhitungan ini dilakukan dengan
mendapatkan tingkat pencahayaan standar menghitung jumlah energi listrik dan biaya
Perhitungan jumlah lampu (N) yang pemakaian yang digunakan untuk
diperlukan unuk mendapatkan tingkat menghasilkan tingkat pencahayaan yang
pencahayaan sesuai standar dapat diperoleh standar pada masing-masing area produksi.
dengan menggunakan data pencahayaan Tarif dasar listrik (TDL) yang digunakan
standar tiap ruangan (Estandar), luas dimensi adalah TDL tahun 2017 dengan daya 3500 VA
ruang (A), tingkat pencahayaan pada lampu biayanya adalah Rp. 1467,28/kWh. Biaya
yang dipakai (i), CU = 0,8, dan LLF = 0,7. pemakaian energi per tahun pada masing-
Perhitungan menggunakan persamaan (5) dan masing area dapat dihitung dengan persamaan
penambahan jumlah lampu pada masing- (6), (7), (8), dan (9) adalah :
masing area produksi dapat dilihat pada Tabel Pengoperasian (jam) = (6 hari/minggu x 7
11. jam/hari x 52 minggu/tahun)
1) Area sakura 258 = 2.184 jam
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UPN “Veteran” Yogyakarta 120
Jurnal OPSI Vol 10 No 2 Desember 2017 ISSN 1693-2102
OPSI – Jurnal Optimasi Sistem Industri

a) Area sakura 258 Perhitungan jumlah lampu yang


Lampu Phipilps TL-D (36 watt) diperlukan (N) guna mendapatkan tingkat
Input (watt) = 36 watt x 8 = 288 watt pencahayaan rata-rata yakni sebesar 300 lux
Energi yang digunakan (kWh) = menggunakan persamaan (5). Penambahan
(288 watt x 2.184 jam)/1000 = 627 kWh jumlah lampu pada masing-masing area
Biaya pemakaian energi/tahun = 627 produksi dapat dilihat pada tabel 4.8.
kWh x Rp. 1.467,28 = Rp. 922.907/tahun a) Area sakura 258
b) Area sakura 52E N = (300 x 36)/(4550 x 0,8 x 0,7 ) = 4,2 ≈ 4
Lampu Phipilps TL-D (36 watt) Lampu
Input (watt) = 36 watt x 8 = 288 watt b) Area sakura 52E
Energi yang digunakan (kWh) = N = (300 x 36)/(4550 x 0,8 x 0,7) = 4,2 ≈ 4
(288 watt x 2.184 jam)/1000 = 627 kWh Lampu
Biaya pemakaian energi/tahun = 627 c) Area sakura 458 Ep II
kWh x Rp. 1.467,28 = Rp. 922.907/tahun N = (300 x 48)/(4500 x 0,8 x 0,7 ) = 5,7 ≈
c) Area sakura 458 Ep II 6 Lampu
Lampu Phipilps TL-D (36 watt) d) Area pond
Input (watt) = 36 watt x 10 = 360 watt N = (300 x 32)/(4550 x 0,8 x 0,7) = 3,8 ≈ 4
Energi yang digunakan (kWh) = Lampu
(360 watt x 2.184 jam)/1000 = 786 kWh e) Area mand roland
Biaya pemakaian energi/tahun = 768 N = (300 x 72)/(4550 x 0,8 x 0,7 ) = 8,5 ≈
kWh x Rp. 1.467,28 = Rp. 1.153.634/tahun 8 Lampu
d) Area pond
Lampu Phipilps TL-D (36 watt) 9) Perhitungan kebutuhan biaya lampu
Input (watt) = 36 watt x 7 = 252 watt usulan sesuai standar
Energi yang digunakan (kWh) = Perhitungan ini dilakukan dengan
(252 watt x 2.184 jam)/1000 = 550 kWh menghitung jumlah energi listrik dan biaya
Biaya pemakaian energi/tahun = 550 pemakaian yang digunakan untuk
kWh x Rp. 1.467,28 = Rp. 807.544/tahun menghasilkan tingkat pencahayaan yang
e) Area mand roland standar pada masing-masing area produksi.
Lampu Phipilps TL-D (36 watt) Biaya pemakaian energi per tahun pada
Input (watt) = 36 watt x 15= 540 watt masing-masing area dapat dihitung dengan
Energi yang digunakan (kWh) = persamaan (6), (7), (8), dan (9) adalah :
(540 watt x 2184 jam)/1000 = 1.179 kWh Pengoperasian (jam) = (6 hari/minggu x 7
Biaya pemakaian energi/tahun = jam/hari x 52 minggu/tahun)
1.179 kWh x Rp. 1.467,28 = Rp. = 2.184 jam
1.730.451/tahun a) Area sakura 258
Lampu Philips TL-D (58 watt)
7) Usulan penggantian jenis lampu. Input (watt) = 58 watt x 4 = 232 watt
Usulan penggantian jenis lampu ini agar Energi yang digunakan (kWh) =
perusahaan dapat meminimalkan pengeluaran (232 watt x 2.184 jam)/1000 = 507 kWh
namun tetap sesuai pada tujuan utama yaitu Biaya pemakaian energi/tahun = 507
menciptakan pencahayaan di area produksi kWh x Rp. 1.467,28 = Rp. 743.453/tahun
yang aman dan nyaman sesuai standar tingkat b) Area sakura 52E
pencahayaan. Jenis lampu usulan dapat dilihat Lampu Philips TL-D (58 watt)
pada Tabel 12. Input (watt) = 58 watt x 4 = 232 watt
Tabel 12 Jenis lampu usulan Energi yang digunakan (kWh) =
(232 watt x 2.184 jam)/1000 = 507 kWh
Biaya pemakaian energi/tahun = 507
kWh x Rp. 1.467,28 = Rp. 743.453/tahun
c) Area sakura 458 Ep II
8) Perhitungan jumlah lampu usulan untuk Lampu Philips TL-D (58 watt)
mendapatkan tingkat pencahayaan yang Input (watt) = 58 watt x 6 = 348 watt
standar
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UPN “Veteran” Yogyakarta 121
Jurnal OPSI Vol 10 No 2 Desember 2017 ISSN 1693-2102
OPSI – Jurnal Optimasi Sistem Industri

Energi yang digunakan (kWh) = Tabel 13 perbandingan kuat penerangan


(348 watt x 2.184 jam)/1000 = 760 kWh
Biaya pemakaian energi/tahun = 760
kWh x Rp. 1.467,28 = Rp. 1.115.180/tahun
d) Area pond
Lampu Philips TL-D (58 watt)
Input (watt) = 58 watt x 4 = 232 watt
Energi yang digunakan (kWh) = pengamatan dan kuat penerangan standar
(232 watt x 2.184 jam)/1000 = 507 kWh Berdasarkan hasil pengamatan, besar kuat
Biaya pemakaian energi/tahun = 507 penerangan pada semua area produksi tidak
kWh x Rp. 1.467,28 = Rp. 743.453/tahun memenuhi persyaratan yang telah ditentukan
e) Area mand roland berdasarkan kuat penerangan standar pada
Lampu Philips TL-D (58 watt) masing-masing area produksi. Perbedaan
Input (watt) = 58 watt x 8 = 464 watt tersebut dapat terjadi karena kondisi lampu
Energi yang digunakan (kWh) = yang digunakan dianggap baru sehingga
(464 watt x 2184 jam)/1000 = 1.013 kWh intensitas yang dihasilkan sesuai dengan acuan
Biaya pemakaian energi/tahun = dan reflektor dianggap bersih dari debu. Pada
1.013 kWh x Rp. 1.467,28 = Rp. kenyataannya lampu telah lama digunakan
1.486.906/tahun bahkan telah melebihi jam operasi yang
dianjurkan sehingga intensitas yang dihasilkan
Dari hasil penelitian dan pengolahan data telah mengalami penurunan akibatnya kuat
terlihat bahwa kuat penerangan rata-rata penerangan yang dihasilkan juga menurun.
berdasarkan pengamatan, pada area mand Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu
roland merupakan area yang tingkat dilakukan penambahan jumlah lampu atau
pencahayaannya paling rendah yaitu 187 lux penggantian jenis lampu yang digunakan dan
dan area pond merupakan yang tertinggi yaitu pembersihan reflektor agar kuat penerangan
236 lux. Namun semua area masih kurang dapat memenuhi tingkat pencahayaan yang
aman dan nyaman karena menurut standar.
KEPMENTKES
No.1405/MENKES/SK/XI/2002 bahwa b. Perbandingan jenis lampu sekarang dan
pencahayaan yang standar pada area produksi lampu usulan
pekerja rutin itu haruslah 300 lux. Secara analisis maka perlu dibandingkan
Kuat penerangan sesuai dengan jumlah lampu yang sekarang dengan pencahayaan
lampu yang ada berdasarkan hasil perhitungan yang standar dengan lampu usulan karena ada
pada area mand roland merupakan yang paling beberapa faktor yang harus dipertimbangkan
rendah yaitu 194 lux dan pada area pond seperti penambahan jumlah fitting untuk
merupakan area yang tingkat pencahayaannya penambahan jumlah lampu dan kebutuhan
tertinggi yaitu 262 lux. Namun semua ruangan biaya lampu. Maka perbandingann jenis lampu
masih tinggkat pencahayaannya masih belum yang sekarang dengan lampu usulan dapat
standar yaitu 300 lux. Kurangnya tingkat dilihat pada Tabel 14.
pencahayan pada area produksi disebabkan Tabel 14 Perbandingan lampu sekarang dan
karena intensitas cahaya pada ruangan tidak lampu usulan
sebanding dengan luas bangunan.

a. Perbandingan hasil kuat penerangan


pengamatan dan kuat penerangan standar
Secara analisis maka perlu dibandingkan
kondisi kuat penerangan pengamatan dengan
kondisi kuat penerangan standar di masing-
masing area produksi. Maka perbandingan
kuat penerangan pengamatan dan kuat Berdasarkan dari hasil pengamatan untuk
penerangan standar dapat dilihat pada Tabel mendapatkan tingkat pencahayaan yang
13. standar pada lampu yang sekarang maka
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UPN “Veteran” Yogyakarta 122
Jurnal OPSI Vol 10 No 2 Desember 2017 ISSN 1693-2102
OPSI – Jurnal Optimasi Sistem Industri

perusahaan memerlukan penambahan lampu TL-D 80 (36 watt) dengan lampu usulan yaitu
pada setiap ruang produksi dan otomatis juga philips TL 90 (58 watt).
menambah jumlah fitting lampu pada setiap Jenis lampu usulan juga membutuhkan
area produksi. Akan tetapi jika mengganti jenis biaya per tahunnya lebih rendah dibandingkan
lampu sesuai usulan, perusahaaan tidak perlu dengan jenis lampu sekarang. Dengan
menambah jumlah fitting tetapi dengan rendahnya kebutuhan biaya maka dapat
mengganti jenis lampu yang lama yaitu philips membantu meminimalis pengeluaran
perusahaan.
4. KESIMPULAN Handayani, D., 2013, Analisis Pencahayaan
Berdasarkan hasil pengamatan dan Ruang Kerja, Universitas Islam
pengukuran kuat penerangan rata-rata yang Indonesia, Yogyakarta.
telah dilakukan dapat diambil kesimpulan : Haryono, D., 2008, Kuat Penerangan
a. Berdasarkan hasil observasi lapangan (Iluminasi) Ruang Kendali Utama Untai
dengan menggunakan luxmeter, besar Uji Termohidrolika, Pusat Teknologi
intensitas cahaya pada masing-masing Reaktor dan Keselamatan Nuklir, Batan.
area produksi masih kurang dari Kristanto, L., 2004, Penelitian Terhadap
standar yang ditentukan oleh Kekuatan Penerangan dan
Keputusan Menteri Kesehatan Hubungannya Dengan Angka
Republik Indonesia Reflektansi Warna Dinding, Universitas
No.1405/MENKES/SK/XI/2002 pada Kristen Petra, Surabaya.
jenis kegiatan pekerjaan rutin adalah Menkes, RI., 2002, Persyaratan Kesehatan
300 lux. Besar intensitas cahaya pada Lingkungan Kerja Perkantoran dan
masing-masing area produksi yaitu Industri, Keputusan Menteri Kesehatan
pada area sakura 258 sebesar 219 lux, RI Nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002,
area sakura 52E sebesar 211 lux, area Jakarta.
sakura 458 Ep II sebesar 226 lux, area Muhaimin, M., 2001, Teknologi
pond sebesar 236 lux, dan area mand Pencahayaan, PT Refika Aditama,
roland sebesar 187 lux. Bandung.
b. Untuk menghasilkan tingkat Nurmianto, E., 1998, Ergonomi Konsep
pencahayaan yang sesuai standar, Dasar dan Aplikasinya, Edisi Pertama
masing-masing area produksi Guna Widya, Jakarta.
membutuhkan penambahan jumlah Purwanti, I., 2013, Analisis Pengaruh
lampu, yaitu untuk area sakura 258 Pencahayaan Terhadap Kelelahan Mata
membutuhkan penambahan 2 lampu, Operator di Ruang Kontrol PT. XYZ,
area sakura 52E membutuhkan Universitas Sumatera Utara, Medan.
penambahan 2 lampu, area sakura 458 Sastrowinito, S., 1985, Meningkatkan
Ep II membutuhkan penambahan 2 Produktivitas dengan Ergonomi, PT
lampu, area pond membutuhkan Pustaka Bina Mandiri Presindo, Jakarta.
penambahan 1 lampu, dan area mand Schiler, M., 1992, Simplified Design of
roland membutuhkan penambahan 5 Building Lighting, John Wiley & Sons,
lampu. Inc., New York.
Stein, S., 1986, Penyelidikan Spetrometrik
Senyawa Organik, Edisi keempat
DAFTAR PUSTAKA Erlangga, Jakarta.
Adiputra, N., 2004, Ergonomi, Suma’mur, 2009, Hiegiene Perusahaan dan
http://www.balihesg.org diakses Juli Keselamatan Kerja, CV Sagung Seto,
2012. Jakarta.
Aloysius, L., 2012, Pengujian Intensitas Suma’mur, 1989, Keselamatan Kerja dan
Pencahayaan Buatan Pada Ruang Pencegahan Kecelakaan, PT. Gunung
Laboratorium Fakultas dan Teknik Agung, Jakarta.
(FST) Dengan Software Calculux V.5.0, Sutalaksana, I., 1979, Teknik Tata Cara
Universitas Nusa Cendana, Nusa Kerja, Departemen Teknik Industri –
Tenggara Timur. ITB, Bandung.

Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UPN “Veteran” Yogyakarta 123


Jurnal OPSI Vol 10 No 2 Desember 2017 ISSN 1693-2102
OPSI – Jurnal Optimasi Sistem Industri

Swasti, R., 2009, Intensitas Pencahayaan Yusuf, 2015, Efek Pencahayaan Terhadap
dengan Pendekatan Permanent Prestasi dan Kelelahan Kerja Operator,
Supplementary Artificial Lighting Institut Sain & Teknologi AKPRIND,
Installation (PSALI), Universitas Yogyakarta.
Pembangunan Nasional “Veteran”, Zulfahri, 2016, Analisis Intensitas
Yogyakarta. Penerangan dan Penggunaan Energi
Wignjosoebroto, S., 1995, Ergonomi, Studi Listrik di Laboratorium Komputer
Gerak dan Waktu, Prima Printing, Sekolah Dasar Negeri 150 Pekanbaru,
Surabaya. Universitas Lancang Kuning,
Pekanbaru.

Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UPN “Veteran” Yogyakarta 116 124

Anda mungkin juga menyukai