Anda di halaman 1dari 7

Hedonisme dalam kamus bahasa Indonesia berarti, paham yang menganggap bahwa kesenangan dan

kenikmatan materi adalah tujuan yang paling utama dalam hidup.i Selanjutnya menurut Susanto hedonis
adalah gaya hidup perpaduan antara kebutuhan ekspresi diri dan harapan kelompok terhadap seseorang
dalam bertindak berdasarkan pada norma yang berlaku. Oleh karena itu banyak diketahui macam gaya
hidup yang berkembang di masyarakat sekarang misalnya gaya hidup hedonis, gaya hidup metropolis,
gaya hidup global dan lain sebagamya.ii Pola hidup seperti ini berpandangan bahwa kesenangan dan
kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta
fora adalah tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka
beranggapan bahwa hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup lebih banyak
lagi.

Pengajaran atau konsep moral dari hedonisme adalah menyamakan kebaikan dengan kesenangan. Jadi
semua kenikmatan dan kesenangan secara fisik selalu membawa kebaikan. Pandangan hidup ini
mengajarkan pada pengikut atau mereka yang siap mengikutinya bahwa pemujaan terhadap
kesenangan dan kenikmatan dunia harus dikejar, dan itulah tujuan hidup yang paling hakiki bagi
manusia. Pandangan hidup seperti inilah yang sekarang ini banyak dan hampir semua ummat manusia
mengamininya dan menjadikannya sebagai tolok ukur dalam gaya hidup. Dengan demikian paham
hedonisme sendiri berarti suatu pemikiran yang menjadikan tujuan hidupnya adalah kesenangan materi.
Kesenangan yang memuaskan jiwa dan batin setiap manusia. Epicurus berpendapat bahwa kenikmatan
materi adalah tujuan utama dalam hidup. Filsafatnya menitik beratkan pada etika yang memberikan
ketenangan batin. Hedone (kenikmatan atau kesenangan) diperoleh dengan memuaskan keinginannya.
Manusia harus bisa memilih keinginannya agar dapat mencapai kepuasan yang mendalam. Hedonisme
yang hanya mencari kenikmatan materi demi kepuasan jiwa tidaklah sempurna sampai seseorang
terjauh dari kehidupan spiritual yang dianggap mengekang manusia.iii Hedonisme adalah suatu
perwujudan budaya yang selalu berupaya menghindari kesukaran, mencari dan memproduksi
kemudahan-kemudahan. Dimana tawarannya adalah pemuasan
hasrat, keinginan, dan hawa nafsu.iv Tidak dapat disangkal bahwa perkembangan informasi dan
teknologi te1ah memberikan sumbangsih yang besar terhadap perkembangan peradaban ummat
manusia. Dengan kemajuan teknologi dan informasi, pekerjaan manusia semakin dipermudah, akibatnya
manusia dimanjakan dengan kemudahan-kemudahan yang coba ditawarkan oleh produk- produk yang
sifatnya instan. Disamping memberi dampak posit if bagi peradaban manusia, kemajuan informasi dan
teknologi juga dapat meberi dampak negatif bagi masyarakat, khususnya bagi generasi muda kita,
mereka adalah kelompok pertama yang menjadi sasarannya, sebab mereka yang merupakan sosok yang
masih dalam tahap pencarian identitas. Ulah kemajuan informasi dan teknologi sangat mudah berubah
gaya hidup manusia baik cara berfikir, cara berpakaian dan cara pergaulan.v

Bila kita tinjau dari cara berpakaian maka kita dengan sangat mudah menemukan busana seksi dan
setengah telanjang dalam setiap aktivitas keseharian kita, sebut saja di tempat-tempat hiburan dan
sarana perbelanjaan seperti mall. Bahkan kadang-kadang untuk menjadi seorang staf di sebuah kantor
atau perusahaan pun harus berpakaian modis dan rata-rata rok lima belas senti di atas lutut. Yang lebih
menyedihkan lagi, fenomena ini justru bisa kita saksikan di dunia kampus. Dunia kampus yang
notabenenya sebagai pencetak kaum intelek dan insan akademik seharusnya menjadi penetralisir
pengaruh negatif tersebut, justru berbalik arah seolah ingin melegalkan budaya hedonisme dikalangan
generasi muda kita. Kampus telah menjadi pentas pertunjukan mode dan peragaan busana. Bisa kita
lihat dan saksikan disetiap sudut-sudut kampus kita, setiap hari kita disuguhkan dengan busana yang
menantang oleh sebahagian kaum perempuan. Dengan celana jeans ketat dipadu dengan baju kaos
super ketat sampai perut, sehingga kelihatan pusar. Fenomena seperti ini pun tidak luput dari kampus-
kampus yang berlabel kampus islami. Sedangkan si laki-Iakinya yang
mengadopsi habis-habisan gaya hidup punk dari Barat sana. Seolah olah mereka kehilangan kepribadian
sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur dan tatakrama.

Dalam konteks dunia global saat ini hedonisme lahir berawal dari pengaruh media massa diketahui
bahwa salah satu dari sifat media adalah ada nuansa bujukan terhadap publik (khalayak), sehingga
menurut John Kenneth Galbraith Dari subuh hingga tengah malam orang-orang terus diberitahu tentang
adanya berbagai macam barang dan jasa melalui media massa ...vi

Berbagai faktor yang dapat menyebabkan lahirnya paham hedonisme pada masyarakat modem
khususnya sebagaimana dikemukakan oleh Amstrong yang dikutip Nugraheni, gaya hidup seseorang
dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan
atau mempergunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan
pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.vii

Lebih lanjut Amstrong menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada
2 faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar
(eksternal). Faktor internal yaitu sebagai berikut :

Sikap. Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan
tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman dan mempengaruhi secara
langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan
dan lingkungan sosialnya.

Pengalaman den pengamatan. Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah
laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat dipelajari, melalui
belajar orang akan dapat memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman sosial akan dapat
membentuk pandangan terhadap suatu objek.

Kepribadian. Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara berperilaku yang
menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu.

Motif. Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa aman dan kebutuhan
terhadap prestise merupakan beberapa contoh tentang motif. Jika motif seseorang terhadap kebutuhan
akan prestise itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah kepada gaya hidup
hedonis.

Adapun faktor ekstemal sebagai berikut :


Kelompok retereasi. Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau
tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh langsung
adalah kelompok dimana individu tersebut menjadi anggotanya dan saling berinteraksi, sedangkan
kelompok yang memberi pengaruh tidak langsung adalah kelompok dimana individu tidak menjadi
anggota di dalam kelompok keluarga. Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam
pembentukan sikap dan perilaku individu. Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk
kebiasaan anak yang secara tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya.

Kelas sosial Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah
masyarakat, yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang itu
memiliki nilai, minat, dan tingkah laku yang sama. Ada dua unsur pokok dalam sistem sosial pembagian
kelas dalam masyarakat, yaitu kedudukan (status) dan peranan. Kedudukan sosial artinya tempat
seseorang dalam lingkungan pergaulan, prestise hak-haknya serta kewajibannya. Kedudukan sosial ini
dapat dicapai oleh seseorang dengan usaha yang sengaja maupun diperoleh karena kelahiran. Peranan
merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan. Apabila individu melaksanakan hak dan kewajibannya
sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu peranan.

Kebudayaan. Kebudayaan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan
terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, meliputi ciri-ciri pola
pikir, merasakan dan bertindak.viii

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup
berasal dari dalam (internal) dan dari luar (ekstemal). Salah satu hal yang sangat berpengaruh adalah
adanya interaksi dari lingkungan yang hedonis sehingga lambat laun akan mempengaruhi individu dan
masyarakat tersebut.

Peran dakwah dalam menghadapi pola hidup

Islam sebagai agama rahmatan liI slsmin, dengan makna ajaranya mengandung misi universalitas, maka
ia harus mampu dibumikan (diaktualisasikan) dengan baik oleh umat Islam khususnya dalam
mengimbangi akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat sehingga manusia
cenderung terlena dengan kemajuan tersebut. Hal ini mendorong manusia untuk hidup dengan pola
kehidupan individualisme, materialisme dan hedonisme.

Mengacu dari hal-hal tersebut di atas, maka eksistensi dakwah diharapkan mampu tampil sebagai jalan
tengah dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat dalam konteks kekinian. Menurut Ahmad Anas,
dakwah dalam konteks saat ini bukan hanya masalah halal-hararn, sebab kriteria seperti membutuhkan
formulasi dakwah secara universal, agar dakwah dapat sejalan dengan masyarakat dan seperangkat
problematikanya.ix
Dengan demikian perlu ada langkah-Iangkah konkrit yang harus dilakukan dalam menghadapi serbuan
pola hidup individualisme, materialisme dan hedonisme yang dibangun dari kacamata keislaman.
Langkah-Iangkah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

Mulai Dari Diri Sendiri

Dalam konteks Al-Qur'an Allah ajarkan manusia untuk mulai dari diri sendiri kemudian terhadap orang
lain dalam berbagai hal, agar orang yang akan diajak dapat melihat bagaimana konsistensi antara
ucapan dan perbuatan kita. Allah berfirman:

Terjemahnya :

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu ... x

Ayat di atas mempertegas bahwa apapun yang kita sampaikan dalam konteks dakwah, seyogyanya
dimulai dari diri sendiri kemudian ditujukan kepada keluarga dan lingkungan termasuk dalam hal sikap
individualisme.materialisme dan hedonisme.

Membudayakan sikap Qana’ah

Sikap qona'ah (rela dan menerima pemberian Allah SWT) adalah sikap yang sangat dibutuhkan oleh
setiap insan. Sikap qona'ah ini seharusnya dimiliki oleh orang yang kaya maupun orang miskin. Tidak iri
melihat apa yang ada di tangan orang lain, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, serta tidak
rakus mencari harta benda dengan menghalalkan semua cara. Sehingga dengan semua itu akan
melahirkan rasa puas dengan apa yang sekedar dibutuhkan. Sikap qona'ah inilah yang telah diajarkan
oleh Rasulullah saw. Ketika awal-awal Islam disebarkan di Mekah dan Madinah.,,xi

Qona'ah merupakan sikap terpuji yang harus dibiasakan. Walaupun terkadang sangat berat untuk
dilakukan, namun bagi siapa saja yang berusaha dan berIatih, secara terus menerus. Karena sifat
manusia tersebut telah digambarkan oleh Allah SWT.

Terjemahnya:

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ia ditimpa kesusahan ia
berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir. (QS. al-Maarij [70]: 19-21)xii

Dalam masalah dunia hendaklah kita melihat orang yang di bawah, sedangkan dalam masalah
kehidupan akhirat kita harus melihat orang yang berada di atas.
Melakukan Dakwah moderat dan konstektual

Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang banyak mempengaruhi
persepsi dan kebutuhan manusia dakwah Islam harus melakukan evaluasi diri dan penyusunan strategi
agar tetap aktual dan kontekstual yang bisa dijadikan sebuah altematif solusi terhadap berbagai
problem serta tantangan kehidupan yang semakin bertumpuk.

Dalam meletakkan prioritas solusi altematif itu, kita harus mengacu pada struktur bangunan dakwah
yang bagus berdasarkan analisis dan kemampuan untuk melakukan terapi yang tepat di samping itu para
muballigh juga harus senantiasa memperbaharui isi dan penampilan dakwahnya dan jalan yang bisa
dilakukan adalah dengan iqra ' banyak membaca.

Pengendalian Diri

Berbagai tindakan yang menyimpang dalam kehidupan dunia ini, tidak akan dapat diberantas begitu saja
tanpa adanya keinginan untuk pengendalian diri untuk melakukan berbagai tindakan yang menyimpang
dari ajaran agama begitu halnya dalam konteks individualisme, materialisme dan hedonisme, karena
secara naluri kemanusiaan manusia telah diberikan kecenderungan untuk mencintai harta, tahta dan
wanita. Allah Swt. berfirman

Terjemahnya:

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang temakdan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik surga. (QS. Ali
Imran [04]: 04)xiii”

Berdasar pada ayat di atas, semakin tampak bahwa tidak ada manusia yang tidak menginginkan harta
akan tetapi jika keinginan tersebut diterjemahkan dengan cara berlebihan (hedonisme) maka ini adalah
dilarang oleh agama.

Melaksanakan dakwah yang berparadigma transformatif dan urgen

Orientasi dakwah harus lebih mengedepankan perbaikan kualitas keimanan individual dengan tekanan
hanya pada ketaatan menjalankan ritual keagamaan telah mengabaikan satu dimensi penting dalam
dakwah. Dimensi dakwah yang terabaikan tersebut adalah pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat Islam secara menyeluruh.xiv Keterbelakangan, ketertinggalan dan keterpinggiran umat Islam
dari percaturan (peradaban) global dewasa ini adalah beberapa realitas yang kurang tersentuh dalam
materi dakwah. Dalam pengertian bukan dakwah yang materi pembicaraannya hanya sekedar
menggerutu, mengumpat dan menyalahkan umat atau orang lain yang menjadikan Islam mundur, tetapi
dakwah dimaknai secara lebih luas dengan tekanan pada perbaikan kualitas sosial, pendidikkan dan
ekonomi masyarakat.

Islam sendiri sering disebut sebagai agama pembebas, seperti yang telah dilakukan oleh Nabi dan
generasi awal Islam dalam merealisasikan dakwah dalam pengertian seperti ini. Yakni dakwah yang
mampu menstransformasikan nilai-nilai Islam untuk kemaslahatan umat manusia secara lebih luas.

i
Tim Reality, Kamus terbaru Bahasa Indonesia, Op.cit, h. 281
ii
Lihat Susanto, Potret-Potret Gaya Hidup Metropolis, Jakarta; Penerbit Buku Kompas, 2003, t.h
iii
Ibid
iv
Ibid., h. 48
v
http://mersi.wordpress.com/2008/08/14/generasi-muda-sumber-vs-hedonisme/ diunduh tanggal, 15
Desember 2011
vi
Rivers dkk., Media Massa Masyarakat Modem ed. 11; Cet.III; Jakarta: Prenada Media Group, 2008, h.
233
vii
Skripsi Nugraheni, Perbedaan Kecenderungan Gaya Hidup Hedonis Pada Remaja Ditinjau Dari Lokasi
Tempat Tinggal. www.yahoo.com. 15 desember 2011
viii
Lihat, Skripsi Nugraheni, ibid,diakses melalui www.yahoo.com. 15 Desember 2011
ix
Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer, op.cit., h. 127
x
Ibid
xi
Nabi bersabda :Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeki yang kadar mencukupi dan
diberi kepuasan oleh Allah SWT. terhadap apa yang diberikan kepadanya. H.R Muslim: 2473
xii
Departemen Agama RI, op. cit
xiii
Departemen Agama RI, op. cit
xiv
Ibid., h. 258

DAFT AR PUST AKA

Ahmad Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer; Aplikasi Teoritis dan Prsktis Dakwah Sebagai Solusi
Problematika Kekinisn, Semarang: Pustaka Rezki Putra, 2006

Hamiruddin, Dakwah kultural ditengah arus budaya massa, dipresentasekan pada tanggal, 2 desember
2011.

Hanna jumhana Bustaman, Dimcnsi SprituaJitas daJam tcori psikologi, dalam: Ulumul Qur'an, nomor 4,
vol. V, Tahun 1994.
Hasan, Muhammad Tholhah. Prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman., Cet. VI; Jakarta:
Lantabora Press, 2005.

http://sabda.org/artikel/materialisme, diunduh pada tanggal, 10 desember 2011.

http://www.eramuslim.com/suara-langit/penetrasi-ideologilmaterialisme-versus-islam.htm, diunduh
tanggal, 12 desember 2011.

http://www.tokoh-indonesia.com/ensiklopedils/suhardiman/biograft/08.shtml,diunduh tanggal, 17
Desember 2011.

Ruslani, Wacana sprituaJitas Timur dan Barat, Y ogyakarta: Qalam, 2000, hal. 8

Susanto, Potret-Potret Gaya Hidup Metropolis, (Jakarta; Penerbit Buku


Kompas, 2003), t.h http://mersi.wordpress.com/2008/08/14/generasi-muda-sumber-vs-
hedonisme/ diunduh tanggal, 15 Desember 2011.

Peterson, Theodore. Media masyarakat Modem, Edisi II; Cet, III; Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2008.

Tim Reality, Kamus terbsru Bahasa Indonesia, Cet. I; Surabaya: Reality Publisher, 2008.

Tisna Amidjaja, Dody, Iman, Ilmu dan Amal, Cet.I; Bandung: Pustaka salman ITB, 1980.

Williyam L. Rivers dkk., Media Massa Masyarakat Modem , ed. II; Cet.III;Jakarta: Prenada
Media Group, 2008.