Anda di halaman 1dari 93

PANDUAN PERSIAPAN PESERTA

UJI KOMPETENSI NASIONAL


PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN

Disusun oleh:
Tim pengembang modul DIII Kebidanan

DIREKTORAT JENDRAL PEMBELAJARAN & KEMAHASISWAAN

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

REPUBLIK INDONESIA

TAHUN 2019

i
TIM PENYUSUN

J.M Mehta
Juli Oktalia
Yuni Istiananingsih
Ferina
Chris Sriyanti
Tri Setiowati
Endang Surani
Jumiarni Ilyas
Bintang Petralina

TIM EDITOR

Yetty L.M Irawan


Dewi Purwaningsih
Diana Hartaty A
Noucie Septriliyana

ii
KATA PENGANTAR

Uji kompetensi nasional adalah salah satu cara efektif untuk meningkatkan proses pendidikan dan mena-

jamakan pencapaian relevansi kompetensi sesuai dengan standar kompetensi yang diperlukan masyarakat. Uji

Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan, keterampilan, dan perilaku peserta didik pada perguruan

tinggi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi bidang Kesehatan. Uji Kompetensi Nasional diselenggara-

kan oleh Perguruan Tinggi bekerja sama dengan Asosiasi Pendidikan Kebidanan dan Organisasi Profesi.

Panitia Penyelenggara ditetapkan melalui Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Se-

lain hal tersebut, Uji Kompetensi Nasional dapat dijadikan sebagai bagian dari penjaminan mutu pendidikan.

Berdasarkan pada UU Nomor 12 Tahun 2012 pasal 44 telah dijelaskan tentang kewenangan pembe-

rian sertifikat kompetensi, namun belum dijelaskan mekanisme proses sertifikasinya. Untuk itu Pemerintah

berkewajiban menyediakan standar sistem uji kompetensi yang berlaku secara nasional untuk menjamin mutu

pelaksanaan uji kompetensi. Untuk memperjelas pelaksanaan uji kompetensi nasional bagi calon peserta uji

kompetensi DIII Kebidanan maka perlu disusun buku ini. Diharapkan buku ini dapat menjadi acuan bagi

persiapan calon peserta dalam mempersiapkan diri menghadapi uji komptensi nasional untuk tingkat DIII

Kebidanan.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

TIM PENYUSUN ii

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI iv

Bagian 1 PENDAFTARAN UJI KOMPETENSI 6


Bagian 2 PETUNJUK UMUM PERSIAPAN 8
MENGHADAPI UJI KOMPETENSI
Bagian 3 KISI KISI SOAL UJI KOMPETENSI 12
NASIONAL DIII KEBIDANAN
Bagian 4 GAMBARAN LINGKUP DAN ISI MATERI 14
UJI KOMPETENSI NASIONAL DIII
KEBIDANAN

Bagian 5 CONTOH DAFTAR SUMBER RUJUKAN 22


YANG DIGUNAKAN DALAM UJI
KOMPETENSI DIII KEBIDANAN
Bagian 6 LATIHAN SOAL UJI KOMPETENSI 24
NASIONAL DIII KEBIDANAN

Bagian 7 PEMBAHASAN LATIHAN SOAL 62

Lampiran 1: Glossarium

Lampiran 2 : Daftar Singkatan

iv
BAGIAN I
PENDAFTARAN UJI
KOMPETENSI
Program Studi DIII Kebidanan

BAGIAN I

PENDAFTARAN UJI KOMPETENSI

Calon peserta didaftarkan secara kolektif oleh program studi calon peserta. Mekanisme pemberitahuan

dari program studi kepada para calon peserta (lulusan) bermacam- macam tergantung pengelola program stu-

di. Informasi mengenai persyaratan, waktu dan biaya pendaftaran dapat dilihat di laman http://ukbidan.

ristekdikti.go.id/.

Berdasarkan http://ukbidan.ristekdikti.go.id/ maka persyaratan Umum Peserta Uji Kompetensi Bagi

Mahasiswa Program DIII Kebidanan adalah sebagai berikut:

a. Calon Peserta harus terdaftar dalam PD Dikti (https://forlap.ristekdikti.go.id).

b. Mahasiswa yang belum memiliki ijazah, tetapi telah menyelesaikan proses pendidikan dan dinyatakan

lulus dari hasil yudisium institusi

c. Besarnya biaya uji kompetensi akan ditetapkan dan disesuaikan serta diumumkan melalui laman http://

ukbidan.ristekdikti.go.id/

Seluruh persyaratan peserta harus dipenuhi, jika ada salah satu dari persyaratan tersebut tidak dipenuhi,

proses pendaftaran tidak dapat dilakukan.

7
BAGIAN 2
PETUNJUK UMUM
PERSIAPAN MENGHADAPI
UJI KOMPETENSI
NASIONAL
DIII KEBIDANAN
Program Studi DIII Kebidanan

BAGIAN 2
PETUNJUK UMUM PERSIAPAN MENGHADAPI UJI KOMPETENSI NASIONAL
DIII KEBIDANAN

Panduan ini memberikan gambaran ruang lingkup dan pola soal yang digunakan dalam uji kompetensi

nasional DIII kebidanan.

Berikut adalah TIPS DAN TRIK untuk sukses menghadapi Uji Kompetensi:

1. Sediakan cukup waktu untuk melakukan persiapan uji kompetensi

2. Bacalah seluruh bagian panduan dengan seksama.

3. Gunakan referensi yang berlaku secara nasional. (Perhatikan antara standar nasional dan standar lokal
yang berlaku).

Ingat uji kompetensi nasional hanya mengacu pada referensi yang berlaku secara nasional. Jika anda
belum pernah berinteraksi dengan referensi ini, maka silahkan mengakses referensi nasional yang ada.

4. Cermati kisi-kisi soal uji kompetensi nasional yang berguna untuk mengarahkan anda dalam mempelajari
materi yang diujikan.

5. Cobalah berlatih mengerjakan soal-soal yang tersedia dalam buku panduan ini dengan cara:

a. Mandiri, tanpa bantuan orang lain atau membaca referensi/buku sumber, lalu bandingkan jawaban
anda dengan kunci jawaban.

b. Pahami pembahasan dari tiap soal.

c. Pelajari dan ulangi materi yang tidak dipahami.dengan menggunakan buku referensi.

d. Jangan sekali-kali menghapal soal, namun pahami materi dan pertanyaan setiap soal.

e. Bila mengalami kesulitan, lakukan diskusi dosen/teman sejawat.

f. Bentuk kelompok belajar sebagai strategi pembelajaran.

g. Ikuti latihan ujian atau try out sesering mungkin.

6. Berikut ini adalah beberapa cara praktis atau tips mengerjakan soal saat mengikuti uji kompetensi nasi-
onal.

a. Jumlah soal uji kompetensi nasional adalah 180 soal dengan jumlah waktu pengerjaan selama 3
jam (180 menit).

b. Baca dengan cepat setiap kata. Kecepatan membaca ideal untuk ujian nasional adalah 300 kata per
menit. Lebih cepat lebih baik. Baca setiap kata dan buatlah analisa dan keputusan hanya berdasar-
kan data dan pertanyaan yang tertulis saja.

9
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

c. Waktu rata-rata yang digunakan untuk menjawab soal adalah 60 detik. Perhatikan waktu yang ter-
sisa untuk memilih soal yang bisa dikerjakan dengan baik. Secara umum 60 detik dinggap waktu
yang cukup untuk mengerjakan satu soal. Jangan tergesa-gesa, fokus pada soal.

d. Jawab semua soal, prioritaskan menjawab soal yang mudah, jangan terpaku pada soal yang sulit.
Pada akhir waktu ujian, pastikan semua soal sudah dijawab. Jawaban benar nilai positif 1 dan tidak
ada nilai negatif (pengurangan) untuk jawaban yang salah.

e. Pahami struktur/bagian soal. Struktur/bagian soal terdiri atas: vignet atau kasus, pertanyaan, dan
pilihan jawaban (ada 5 pilihan ; a, b, c, d, e). Dalam soal uji kompetensi nasional, disediakan han-
ya 1 PILIHAN jawaban benar, tidak ada pilihan jawaban misalnya; TIDAK ADA semua jawaban
benar atau bukan salah satu jawaban diatas.

f. Perhatikan badan soal yang biasanya menyajikan kasus klinis. Ada 3 hal penting yang harus diper-
hatikan yaitu: keluhan utama, data klinis, dan tempat pelayanan yang disebutkan dalam vignet
tersebut. Kemampuan menghubungkan 3 hal penting tersebut dapat membantu mengarahkan untuk
mengelimininasi jawaban yang salah dan mencari pilihan jawaban yang paling tepat.

g. Soal uji kompetensi nasional DIII kebidanan dapat berupa kasus, pernyataan atau hasil penelitian.

a. Kasus: berisi karakteristik pasien atau situasi tertentu, alasan datang, setting lokasi Bidan, hasil
pengkajian.

b. Pernyataan: berisi suatu keadaan yang menggambarkan peristiwa yang memerlukan penanga-
nan bidan.

c. Hasil Penelitian: berisi hasil penelitian yang memerlukan penanganan kebidanan.

Perhatikan glossary istilah pada panduan ini agar anda lebih memahami isi badan soal.

h. Perhatikan kata-kata kunci dalam pertanyaan. Kata-kata kunci ini adalah modal untuk fokus
memilih jawaban yang semuanya tampak benar. Dibawah ini adalah contoh kata kunci:

• Data tambahan; data tambahan apakah yang paling penting pada kasus tersebut?

• Jenis pemeriksaan penunjang; jenis pemeriksaan penunjang apakah yang paling tepat
pada kasus tersebut?

• Diagnosis paling mungkin; diagnosis apakah yang paling mungkin pada kasus tersebut?

• Masalah potensial yang paling mungkin, masalah potensial yang paling mungkin pada
kasus tersebut?

• Langkah awal; langkah awal apakah yang paling tepat dilakukan pada kasus tersebut?

• Langkah selanjutnya; langkah selanjutnya manakah yang paling tepat dilakukan pada
kasus tersebut?

• Rencana asuhan Kebidanan ; rencana asuhan apakah yang paling tepat dilakukan pada
kasus tersebut?

10
Program Studi DIII Kebidanan

• Asuhan yang diberikan ; asuhan apakah yang paling tepat dilakukan pada kasus terse-
but?

• Pendidikan kesehatan ; pendidikan kesehatan apakah yang paling tepat pada kasus terse-
but?

• Sikap bidan ; sikap bidan apakah yang paling tepat dilakukan pada kasus tersebut?

• Evaluasi asuhan ; evaluasi asuhan apakah yang paling tepat dilakukan pada kasus terse-
but ?

i. Bacalah setiap pilihan jawaban yang tersedia sebelum menjawab. Eliminasi atau abaikan pilihan
jawaban yang salah atau tidak mungkin. Fokuskan jawaban anda pada kata penting dalam vignette
dan kata kunci pertanyaan. Bila tidak yakin, baca ulang pertanyaan sebelum memutuskan pilihan.

j. Yang perlu diingat, semua pilihan tidak ada yang salah. Yang ada hanya rentang dari kurang tepat
hingga sangat tepat, atau rentang baik dan sangat baik. Pengecoh dibuat berdasarkan kenyataan
lapangan. Ketepatan pilihan jawaban sangat dipengaruhi oleh pemahaman teori dan kata kunci

11
BAGIAN 3
KISI KISI SOAL UJI
KOMPETENSI NASIONAL
DIII KEBIDANAN
Program Studi DIII Kebidanan

BAGIAN 3

KISI KISI SOAL UJI KOMPETENSI NASIONAL DIII KEBIDANAN

Kisi-kisi soal atau Blueprint adalah gambaran peta soal ujian yang menggambarkan tentang jumlah dan
penyebaran soal uji. Blueprint dapat digunakan mahasiswa untuk menentukan strategi belajar dan strategi
menjawab soal uji.
Kisi-kisi ujian atau ruang lingkup uji kompetensi ini dikembangkan dan ditetapkan secara nasional,
mengacu pada standar kompetensi lulusan/capaian pembelajaran D III Kebidanan. Bila anda memahami peta
pembelajaran seperti tergambar dalam blueprint akan memudahkan anda dalam menentukan strategi belajar
dan mengerjakan soal secara efektif.

Tinjauan V
BLUEPRINT UJI KOMPETENSI NASIONAL PROGRAM STUDI
No Manajemen Asuhan Soal ( % )
DIII KEBIDANAN
(sumber http://ukbidan.ristekdikti.go.id/prosedur_pendaftaran) 1 Pengkajian 15-20
2 Diagnosis 15-20

Tinjauan I 3 Perencanaan 15-20

No Area Kompetensi Bidan Soal ( % ) 4 Implementasi 15-20

1 Etik legal dan keselamatan pasien 2-6 5 Evaluasi 15-20

2 Komunikasi efektif 2-4


3 Pengembangan diri dan profesionalisme 3-7 Tinjauan VI
4 Landasan ilmiah praktek kebidanan 30-35 No Sasaran Soal ( % )
5 Keterampilan klinis dalam praktik kebidanan 40-45 1 Individu 55-60

6 Promosi kesehatan dan konseling 4-7 2 Keluarga 15-20

7 Manajemen dan kepemimpinan 4-6 3 Masyarakat 15-20

Tinjauan II Tinjauan VI `

No Domain Soal ( % ) No Setting Pelayanan Soal ( % )

1 Kognitif 25-30 1 Komunitas 35-40

2 Psikomotor (prosedural knowledge) 55-60 2 Klinik/ unit kesehatan 35-40

3 Konatif (afektif knowledge) 10-15 3 Rumah sakit 15-20

Tinjauan III Berikut ini adalah contoh tabel jumlah soal uji
No Siklus Kesehatan Reproduksi Perempuan Dalam Soal ( % ) kompetensi berdasarkan dari 7 tinjauan yang terdapat
Keluarga dalam blue print.
1 Remaja 2-5
2 Pra konsepsi 2-5
Tinjauan 3 Jumlah Soal Tinjauan 4 Jumlah Soal
3 Hamil 20-25 Dari 180 Dari 180
4 Bersalin 15-20 Butir Soal Butir Soal

5 Nifas REMAJA 4 – 9 soal Fisiologis / normal 81 – 90 soal


15-20
PRAKONSEPSI 4 – 9 soal Deteksi dini kom- 27 – 36 soal
6 Masa antara 5-10 plikasi
7 Perimenopause 5-10 HAMIL 36 – 45 soal Rujukan 18 – 27 soal
8 Bayi baru lahir 5-10 BERSALIN 27 – 36 soal Kegawatdaruratan 18 – 27 soal
9 Bayi dan balita 5-10 NIFAS 27 – 36 soal
Tinjauan IV MASA ANTARA 9 – 18 soal
No Lingkup Praktik Bidan Soal ( % )
PERIMENOPAUSE 9 – 18 soal
1 Fisiologis/normal 45-50
BAYI BARU LAHIR 9 – 18 soal
2 Deteksi dini komplikasi 15-20
3 Rujukan 10-15 BAYI DAN BALITA 9 – 18 soal

4 Kegawatdaruratan 10-15

13
BAGIAN 4
GAMBARAN LINGKUP
MATERI UJI KOMPETENSI
NASIONAL DIII
KEBIDANAN
Program Studi DIII Kebidanan

Kebersihan area • Bagaimana cara memebersi-


genetalia hkan area genitalia
1.2. Deteksi dini komplikasi, rujukan & kegawatdaruratan
BAGIAN 4
No Sub Topik Elemen Key Point
- Gangguan haid • Gejala gangguan haid
GAMBARAN LINGKUP MATERI • Jenis-jenis gangguan haid
• Penyebab gangguan haid
UJI KOMPETENSI NASIONAL DIII • Penanganan gangguan haid
• Rujukan
KEBIDANAN
-Struktur hymen • Anatomi
• Jenis-jenis gangguan struk-
tur hymen
Gambaran ruang lingkup isi materi dibawah • Penyebabnya
• Penanganan gangguan struk-
ini kami kelompokkan berdasarkan tinjauan 3 dalam tur hymen
blue print uji kompetensi Nasional. • Rujukan

• Penyebab pergaulan bebas


1. REMAJA -Pergaulan bebas • Pengaruh pergaulan bebas
terhadap kesehatan repro-
2. PRAKONSEPSI duksi
• Pencegahan kasus pergaulan
bebas
3. HAMIL • Penanganan kasus pergaulan
bebas
4. BERSALIN • Kolaborasi pendekatan mul-
tidisiplin
5. NIFAS
• Penyebab pernikahan dini
-Pernikahan dini • Apa pengaruh pernikahan
6. MASA ANTARA dini terhadap kesehatan re-
produksi
7. PERIMENOPAUSE • Pencegahan kasus pernikah-
an dini
• Penanganan kasus pernika-
8. BAYI BARU LAHIR han dini
• Kolaborasi pendekatan mul-
9. BAYI DAN BALITA tidisiplin
Gangguan/mas-
1 -Kehamilan • Penyebab KTD
Dalam tiap komponen, akan dituliskan kemun- alah
tidak diinginkan • Pengaruh KTD terhadap kes-
gkinan topik, subtopik, elemen dan key point ter- (KTD) ehatan reproduksi
kait siklus hidup tersebut. • Pencegahan KTD
• Penanganan kasus KTD
• Kolaborasi pendekatan mul-
1. Remaja tidisiplin

1.1. Fisiologi • Pengaruhnya Pelecehan sek-


-Perkosaan/ sual terhadap kesehatan re-
No Sub Topik Elemen Key Point pelecehan produksi
• Batasan haid normal seksual • Pencegahan kasus
• Kapan mulai terjadi men- perkosaan/pelecehan seksual
arche • Penanganan kasus
• Contoh soal perkosaan/pelecehan seksual
Seorang remaja perempuan, • Kolaborasi pendekatan mul-
umur 19 tahun, datang ke tidisiplin
BPM dengan keluhan haid- • Jenis-jenis infeksi genitalia
nya dalam sebulan ini sudah -infeksi • Penyebab infeksi genitalia
berlangsung dua kali. Hasil • Pengaruh infeksi genitalia
Menarche anamnesis: ganti pembalut 3 terhadap kesehatan repro-
kali perhari. Hasil pemerik- duksi
Pertumbuhan saan: TB 150 cm, BB 55 Kg, • Penanganan infeksi genitalia
dan perkemban- TD 110/70 mmHg, N 86x/ • Rujukan
1 gan Sistem Re- menit, P 20x/menit, S 36,5
roduksi Remaja oC, pembesaran payudara
Perempuan normal, benjolan payudara -Premenstrual • Definisi (pengertian)
(-), abdomen tidak teraba syndrome • Jenis-jenis premenstrual syn-
massa dan benjolan. drome
• Penyebabnya
• Apa pengaruhnya
• Kapan mulai terjadi peruba- • Penanganan premenstrual
han payudara syndrome
• Bagaimana pertumbuhan • Rujukan
Perubahan ben-
anatom payudara remaja
tuk payudara
• Bagaimana cara perawatan
payudara pada saat remaja

15
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

2. Pra Konsepsi 3. Kehamilan


2.1. Fisiologi 3.1. Fisiologi
No Sub Topik Elemen Key Point No Sub Topik Elemen Key Point
• Identifikasi BMI/IMT un-
derweight, ideal, overweight,
obese sebelum hamil, saat Menentukan • Berapa usia kehamilan
hamil dan nifas usia kehamilan • Kapan tafsiran persalinan
• Bagaimana meningkatkan
dan mempertahankan BB
yang sehat Fissiologi ke-
1 Tanda pasti • apa saja tanda tidak pasti ke-
• Jenis-jenis makanan sehat hamilan
yang dianjurkan dan tidak pasti hamilan
- Nutrisi sehat • Penyakit/gangguan akibat kehamilan • apa tanda pasti kehamilan
BMI/IMT underweight, Pertumbuhan • Bagaimana pertumbuhan
overweight, obese sebelum dan perkemban- janin
hamil, saat hamil dan nifas gan janin
• Apa pengaruhnya
• Penanganan BMI/IMT un- - Peningkatan • Apa penyebab dari masing –
derweight, overweight, obese hCG masing komponen perubah-
sebelum hamil, saat hamil - Mual-muntah an fisik tersebut
Perubahan fisik
dan nifas - Gangguan • Bagaimana ukuran pembesa-
Perencanaan dan psikis pada
1 • Rujukan 2 neliminasi ran kehamilan pada TM I
kehamilan sehat masa kehamilan:
- Pembesaran • Bagaimana cara melakukan
• Jenis aktivitas untuk mem- Trimester 1
uterus pemerik
persiapkan kehamilan sehat
- Perubahan • Bagaimana asuhan yang
• Penyakit/gangguan akibat
psikologis diberikan
- Aktivitas sehat aktivitas kurang sehat
• Pengaruh pola hidup sehat - Anemia fisiol- • Kapan puncak hemodelusi
terhadap kesehatan repro- ogis termasuk • Berapa kategori anemia
duksi puncak hemo- • Berapa TBJ
dilusi • Berapa gerakan janin yang
• Jenis pemeriksaan yang dib-
- Pembesaran normal
utuhkan
uterus, taksiran, • Berapa DJJ
• Jenis Penyakit/gangguan
Berat janin • Berapa kenaikan BB
yang penting dideteksi sebe-
3 Trimester 2 dan 3 - Pergerakan • Bagaimana kenaikan TD
- Pe m e r i k s a a n lum merencanakan kehami-
janin, DJJ • Apa saja gangguan body im-
kesehatan lan
- Kenaikan BB, age
• Pengaruh pola hidup sehat
TD • Apa saja persiapan persali-
terhadap kesehatan repro-
- Gangguan nan
duksi
body image • Asuhan apa yang diberikan
• Kolaborasi pemeriksaan
- Persiapan pada trimester ini
2.2. Deteksi dini komplikasi, rujukan dan kegawatdaruratan persalinan
No Sub Topik Elemen Key Point - PWS KIA (K1) • Apa defenisi k1 dan k4
Pencatatan dan
• Jenis-jenis anemia 4 - K4 • Trend PWS
pelaporan
• Penyebab anemia
• Pengaruh anemia terhadap 3.2 Deteksi dini komplikasi, rujukan dan kegawatdaruratan
- Anemia kesehatan reproduksi
- Hiperemisis
• Penanganan anemia
- Perdarahan • Apa tanda gejala
• Rujukan pada anemia patol-
hamil muda • Bagaimana penanganan awal
ogis
(Abortus, mola- • Bagaimana Stabilisasi untuk
• Definisi infertilitas primer hidatidosa, KE, rujukan
• Penyebab infertilitas primer KET • Penangangan kegawat daru-
- Infertilitas • Pengaruh infertilitas primer 1 Trimester 1
- Anemia ratan
primer terhadap kesehatan reproduksi - IMT • Asuhan yang diberikan
• Penanganan infertlitas primer - Kehamilan • Bagaimaa mekanisme ruju-
• Rujukan
tidak diinginkan kan
• Definisi infertilitas sekunder - Blighted Ovum
• Penyebab infertilitas sekunder
• Pengaruh infertlitas sekunder
- Infertilitas
terhadap kesehatan reproduksi
Masalah dan sekunder - Tanda-tanda
• Penanganan infertlitas
1 gangguan pada sekunder bahaya: Pre-
pasangan • Rujukan eklampsia/ec-
lampsia, diabetes
• Penyebab HIV AIDS
• Patofisiologi HIV AIDS
gestasional,
• Pengaruh HIV AIDS terhadap perdarahan • Apa tanda gejala
kesehatan reproduksi antepartum • Bagaimana penanganan awal
- Pasangan HIV (solusio plasen- • Bagaimana Stabilisasi untuk
• Pencegahan penularan
dan AIDS ta, plasenta rujukan
• Pencegahan penularan ibu ke
janin 2 Trimester 2 dan 3 previa) • Penangangan kegawat daru-
• Penanganan - Kelainan letak ratan
• Rujukan (melintang. • Asuhan yang diberikan
Memanjang) • Bgm mekanisme rujukan
- Hidramnion
• Prosedur adopsi - Gemelli
• Pemilihan lembaga adopsi - Gawat janin
- Proses Adopsi • Persiapan fisik dan psikologis - Ketuban Pecah
• Kolaborasi pendekatan multi- sebelum wak-
displin tunya

16
Program Studi DIII Kebidanan

4. Persalinan • Apa saja tanda pelepasan


4.1. Fisiologi plasenta?
• Bagaimana prosedur MAK
No Sub Topik Elemen Key Point
III?
MAK III
• Bagaimana plasenta lepas
dari insersinya?
• Apa saja tanda inpartu
• Berapa lama waktu normal
Tanda inpartu • Kapan terjadi inpartu
MAK III dilakukan?
atau belum • Bagaimana terjadinya inpar-
tu • Apa saja indikator pengece-
kan plasenta?
Pengecekan • Apa akibat dari plasenta yang
• Apa saja mempengaruhi per- kelengkapan
3 Kala III tidak lengkap?
salinan? (dilihat dari Power plasenta
Faktor yang • Apa penyebab plasenta lahir
passage dan passenger)
mempengaruhi tidak lengkap?
• Apa saja kebutuhan ibu ber-
persalinan
salin kala I?
Pengecekan la- • Kapan pengecekan laserasi
serasi dan Penja- perineum dilakukan?
• Apa saja yang dipantau da- hitan perineum • Apa saja jenis penjahitan
lam kemajuan persalinan? perineum?
• Apa saja yang dipantau da- • Kapan dilakukan?
lam kesejahteraan janin? • Apa saja komplikasi penjahi-
1 Kala I • Apa saja yang dipantau da- tan perineum?
Pemantauan ke-
lam kesejahteraan ibu? • Batas grade laserasi yang
majuan persali-
• Berapakah harga normal ha- menjadi kewenangan bidan?
nan, kesejahter-
sil pantauannya?
aan ibu dan Deteksi dini komplikasi, rujukan dan kegawatdaruratan
• Kapan dilakukan pemantau-
janin
an persalinan?
• Apa yang dimaksud penapisan
• Kapan dilakukan pemantau- 16?
an kesejahteraan janin? • Bagaimana tindak lanjut hasil
• Kapan dilakukan pemantau- penapisan?
an kesejahteraan ibu? • Apa manfaat penapisan?
Deteksi dini kom-
• Bagaimana pola pencatatan • Apa definisi partus lama?
plikasi->menga-
• Apa penyebab partus lama?
dalam partograf? cu pada lembar
• Apa saja tanda-tanda partus
• Apa manfaat pencatatan penapisan (18-19
lama?
Pencatatan pada pada partograf? item); partus lama
• Bagaimana penatalaksanaan
partograf • Kapan pencatatan dalam partus lama?
partograf dilakukan? • Apa komplikasi partus lama?
• Apa saja indikator pen- • Apa faktor predisposing partus
catatan partograf? lama?
• Apa yang disebut persalinan
normal?
• Bagaimana prosedur penatal-
• Kapan dikatakan persalinan aksanaan gawat darurat PEB?
Prosedur perto-
normal? • Bagaimana prosedur penatal-
longan persali-
• Bagaimana prosedur persali- Penanganan aksanaan gawat darurat eklam-
nan normal
nan normal? awal gadar: PEB/ sia?
• Bagaimana diagnosis persali- Eklampsia • Kapan diberikan penanganan
nan normal? gawat darurat dalam PEB?
• Kapan dilakukan penanganan
• Apa saja kebutuhan ibu ber-
gawat darurat pada eklamsia?
salin kala II?
• Apa dampak jika kebeutuhan
Kebutuhan ibu ibu kala II tidak dipenuhi? • Kapan dilakukan penanganan
dan pemantauan • Apa saja pemantauan ibu gawat darurat pada perdara-
1 Kala I Penanganan awal
kala II bersalin kala II? han?
gadarperdarahan
• Bagaimana cara melakukan • Bagaimana prosedur penatal-
pada kala I
pemantauan persalinan kala aksanaan gawat darurat perda-
rahan ?
II
• Bagaimana kategori derajat Penanganan awal
laserasi perineum? • Kapan dilakukan penanganan
gawat janin kala
2 Kala II • Bagaimana tindakan terha- gawat darurat pada perdara-
I karena multi
dap laserasi perineum/episi- han?
sebab (tali pusat
Laserasi perine- otomy? • Bagaimana prosedur penatal-
menumbung,
um/episiotomy • Apa saja komplikasi laserasi aksanaan gawat darurat perda-
KPD, kontraksi
rahan ?
perineum? hipertonik, dll)
• Apa indikasi episiotomy?
• Apa saja keuntungan/keru-
Penanganan awal • Berapa durasi frekuensi janin
gian jenis episiotomy?
gawat janin kala dikategorikan sebagai gawat
I karena multi janin? (perhatikan alur tachi-
sebab (tali pusat cardi menjadi bradikardi)
menumbung, • Bagaimana prosedur penatal-
KPD, kontraksi aksanaan gawat darurat perda-
• Bagaimana bounding attach- hipertonik, dll) rahan ?
ment untuk bayi baru lahir?
Bounding attac- • Apa manfaat bounding at-
ment tachment tersebut? • Kapan dilakukan rujukan?
• Kapan dilakukan? • Bagaimana prosedur rujukan?
• Apa kontraindikasinya? Rujukan • Stabilisasi apa saja yang harus
dilakukan jika terjadi kasus
rujukan?

17
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

• Apa definisi partus macet? • Apa saja yang perlu diperha-


• Apa penyebabnya? Nutrisi tikan untuk memenuhi nu-
• Apa tanda gejalanya? trisi Ibu Menyusui?
Partus macet
• Bagaimana penatalaksanaan-
kala II • Kapan waktu yang tepat
nya?
untuk mobilisasi?
• Apa komplikasinya? Mobilisasi
• Bagaimana caranya?

• Apa definisi gawat janin?


Pemeriksaan • Apa saja pemeriksaan
• Apa penyebabnya?
2 Kala 2 penunjang penunjang yang diperlukan?
Gawat janin • Apa tanda gejalanya?
pada kala II • Bagaimana penatalaksanaan- • Apa yang dimaksud dengan
nya? (Taking in, Taking on,
• Apa komplikasinya? Perubahan Letting go)
psikologis • Apa saja yang harus diper-
• Apa tanda dystocia bahu? hatikan dalam perubahan
Penanganan • Apa penyebabnya? tersebut?
awal gadar-dis- • Bagaimana penatalaksanaan-
nya? • Kapan dilakukan ?
tosiabahu
• Apa komplikasinya? • Apa manfaatnya ?
Senam Nifas
• Bagaimana caranya?
• Apa definisi retensio plasen-
ta, sisa plasenta?
• Apa penyebabnya? • Kapan dilakukan kunjungan
Pertolongan • Bagaimana penatalaksanaan- PWS KIA KF1, tersebut?
awal gadar- nya? 2, 3 • Apa saja yang dilakukan saat
perdarahan,re- • Apa indikasi manual plasen- kunjungan tersebut?
tensio, sisa ta?
plasenta dan • Bagaimana prosedur manual
3 Kala 3 manual plasenta plasenta? • Kapan dilakukan pemerik-
• Apa komplikasi manual Involusi: Kon- saan (waktu)
plasenta? traksi, Tinggi • Apa tujuannya
Fundus Uteri • Bagaimana hasil pemerik-
(TFU), lokhea saan yang normal?
• Kapan dilakukan rujukan
• Bagaimana prosedur ruju-
Rujukan • Bagaimana cara melakukan
kan?
perawatan luka jahitan ?
Perawatan luka
• Apa yang akan terjadi apabi-
jahitan
la luka jahitan tidak dirawat
5. Nifas dengan baik dan benar?

5.1. Fisiologi • Apa yang dimaksud dengan


ASI Eksklusif?
No Sub Topik Elemen Key Point • Apa tujuan perawatan
Perubahan fisik payudara?
• Kapan dilakukan pemerik-
Pemantauan dan psikologis • Bagaimana cara melakukan
saan (waktu) 2
TTV, Kontraksi pada Ibu pemeriksaan payudara ?
• Apa tujuannya
dan Tinggi NIfas Lanjut Payudara: • Bagaimana teknik menyusui
• Bagaimana hasil pemerik-
Fundus Uteri pengeluaran yang baik dan benar?
saan yang normal?
(TFU) ASI, teknik • Apa yang akan terjadi jika
menyusui, teknik menyusui kurang
• Kapan dilakukan pemerik- kebersihan, benar?
saan (waktu) kebutuhan ASI • Bagaimana cara melakukan
Pemantauan • Apa tujuannya perah pijat payudara?
Kandung kemih • Bagaimana hasil pemerik- • Kapan waktu yang tepat
saan yang normal? untuk memerah ASI?
• Bagaimana teknik memerah
• Kapan dilakukan pemerik- ASI yang benar?
Pemantauan saan (waktu) • Bagimana cara penyimpanan
Darah yang kel- • Apa tujuannya ASI yang benar?
Perubahan fisik uar/Perdarahan • Bagaimana hasil pemerik- Dukungan
dan psikologis saan yang normal? psikologi ibu • Apa saja yang perlu
pada Ibu paska
• Kapan dilakukan pemerik- nifas (terma- diperhatikan dalam
1 nifas dan
saan (waktu) suk parenting parenting
nifas dini (per- Pemantauan
• Apa tujuannya proses)
mulaan nifas) luka jahitan
• Bagaimana hasil pemerik- • Apa saja yang perlu
saan yang normal? diperhatikan dalam
Personal hygiene
• Apa saja yang perlu diper- memenuhi kebutuhan
Personal hygiene hatikan dalam memenuhi personal hygiene Ibu Nifas?
kebutuhan personal hygiene? Deteksi dini komplikasi, rujukan dan kegawatdaruratan
• Apa tujuan pemberian ASI?
Pemberian ASI • Bagaimana cara pemberian
• Bagaimana tanda dan gejalanya
ASI ? (pengkajian : data subjektif)
• Bagaimana hasil
Paska nifas dan
pemeriksaannya (pengkajian :
• Kapan dilakukan pemerik- nifas dini (per- Perdarahan post
1 data objektif) ?
saan mulaan nifas) partum primer
Pemeriksaan • Apa saja penyebabnya?
• Apa saja yang diperiksa? • Apa saja kebutuhannya
Fisik
• Bagaimana hasil pemerik- (perencanaan, implementasi,
saan yang normal evaluasi)?

18
Program Studi DIII Kebidanan

• Bagaimana tanda dan ge- 6.1. Masa antara


jalanya (pengkajian : data
Pencegahan dan
subjektif) • IVA tes • Indikasi
1 deteksi dini Masa
• Bagaimana hasil pemerik- • Pap smear • Prosedur tindakan
Perdarahan Antara
saannya (pengkajian : data
post partum • Definisi/Batasan
objektif) ?
sekunder Masalah dan pen- Infertilitas • Perbedaan dengan infertili-
• Apa saja penyebabnya?
• Apa saja kebutuhannya (pe- yakit pada per- sekunder tas primer
2
rencanaan, implementasi, empuan dalam melalui anam- • Penanganan -> pendkes un-
evaluasi)? siklus reproduksi nesis tuk pemeriksaan lanjut ->
kolaborasi
• Bagaimana tanda dan ge-
jalanya (pengkajian : data • Tumor
subjektif) Deteksi dini kom- • penyakit • Definisi/batasan
• Bagaimana hasil pemerik- plikasi, rujukan infeksi (IMS • Deteksi dini gejala
3
Syok saannya (pengkajian : data dan kegawatdaru- dan penyakit • Pendidikan kesehatan
Haemoragik objektif) ? ratan radang pang- • Kolaborasi dan rujuksan
• Apa saja penyebabnya? gul)
• Apa saja kebutuhannya (pe- 6.2. Keluarga berencana
rencanaan, implementasi,
evaluasi)? • KB alamiah: MAL: Sasaran,
Manfaat dan Keterbatasan
• Bagaimana tanda dan ge- • Metode sederhana: Kondom:
jalanya (pengkajian : data Sasaran, Manfaat, Keter-
subjektif) • Jenis pe-
batsan,
Penanganan • Bagaimana hasil pemerik- layanan KB
• Metode jangka panjang:
awal gadar: saannya (pengkajian : data • Mekanisme
AKBK, AKDR: Sasaran,
KBI-KBE-In- objektif) ? Penggunaan
Manfaat, dan Keterbatasan
fus-uterotonika • Apa saja penyebabnya? macam
• Kontap: MOP dan MOW:
• Apa saja kebutuhannya (pe- – macam
Sasaran, Manfaat, dan Ket-
rencanaan, implementasi, kontrasepsi
erbatasan
evaluasi)? • Kondar: pil -> jenis pil: ka-
• Bagaimana tanda dan ge- pan digunakan dan dosis;
jalanya (pengkajian : data AKDR: kapan digunakan
Infeksi Nifas 1 Pelayanan KB
subjektif) • Pendidikan • Efek samping metode hor-
(vulvitis, plebitis,
• Bagaimana hasil pemerik- kesehatan monal dan non hormonal
mastitis, sistitis,
saannya (pengkajian : data pada pe- • Penanganan awal efek samp-
peritonitis,
objektif) ? layanan KB ing KB
endrometritis,
• Apa saja penyebabnya?
infeksi luka • Kontrasepsi
• Apa saja kebutuhannya (pe- • Langkah-langkah prosedur
jahitan) hormonal (Pe-
rencanaan, implementasi, • Teknik pemasangan/pencab-
masangan dan
evaluasi)? utan dengan memperhatikan
pencabutan
keselamatan pasien dan PI
• Bagaimana tanda dan ge- AKBK)
jalanya (pengkajian : data
• Kontrasepsi
subjektif) • Langkah-langkah prosedur
non hormonal
• Bagaimana hasil pemerik- • Teknik pemasangan/pencab-
(pemasangan
Sepsis puerpe- saannya (pengkajian : data utan dengan memperhatikan
dan pencabu-
rium objektif) ? keselamatan pasien dan PI
tan AKDR)
• Apa saja penyebabnya?
• Apa saja kebutuhannya (pe-
rencanaan, implementasi, 7. Perimenopause
evaluasi)?
7.1. Fisiologi
• Bagaimana tanda dan ge-
jalanya (pengkajian : data • Berapa rentang usia terjadi
subjektif) perimenopause
• Bagaimana hasil pemerik- • Bagaimana peran hormon
Postpartum • Proses peru- estrogen dan progesteron
saannya (pengkajian : data
blues, depresi bahan dalam pada perimenopause
objektif) ?
postpartum masa peri- • Apa saja yang menjadi tanda
• Apa saja penyebabnya?
• Apa saja kebutuhannya (pe- Adaptasi peri- menopause dan gejala perimenopause
1
rencanaan, implementasi, menopause • Masalah • Bagaimana data subjektif
evaluasi)? lazim pada klien dengan perimenopause
perimeno- • Bagaimana data objektif
• Bagaimana tanda dan ge- pause untuk deteksi dini kelainan
jalanya (pengkajian : data pada masa perimenopause
2 Nifas Lanjut
subjektif) (misalkan adanya myoma,
• Bagaimana hasil pemerik- erosi porsio dll).
saannya (pengkajian : data
objektif) ? 7.2. Deteksi dini komplikasi, rujukan dan kegawatdaruratan
Masalah • Apa saja penyebabnya? • Masalah fisik
payudara • Apa saja kebutuhannya (pe- dan Psikis
rencanaan, implementasi, • Apakah masalah fisik yang
yang lazim
evaluasi)? terjadi pada perimenopause?
terjadi pada
• Apakah masalah psikis yang
perimeno-
Gangguan peri- terjadi pada masa perimeno-
1 pause
menopause pause?
• Upaya pen-
• Bagaimana upaya pencegah-
anggulangan
an dan penanggulangan pre-
masalah lazim
menopause?
pada pre-
6. Masa Antara dan Keluarga Berencana menopause

19
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

8. Bayi Baru Lahir • Bagaimana tanda dan ge-


8.1. Fisiologis jalanya (pengkajian)?
Jejas persalinan • Apa saja kebutuhannya (pe-
• Kapan dilakukan (waktu) rencanaan, implementasi,
Inisiasi menyusu • Mengapa dilakukan (man- evaluasi)?
dini (IMD) faat)
• Bagaimana melakukannya? • Bagaimana tanda dan ge-
Cacat bawaan/ jalanya (pengkajian)?
• Apa yang disebut bonding kelainan kon- • Apa saja kebutuhannya (pe-
attachment? genital rencanaan, implementasi,
Bounding • Apa manfaatnya? evaluasi)?
attachment • Kapan dilakukan?
• Bagaimana cara melaku- 8. 2. Deteksi dini masalah yang sering timbul
kannya? • Bagaimana pencegahannya?
• Bagaimana tanda dan ge-
jalanya (pengkajian)?
• Apa saja yang diperiksa? Oral trush
• Apasaja kebutuhannya (pe-
Antropometri • Bagaimana hasil pemerik- rencanaan, implementasi,
saan yang normal? evaluasi)?
• Bagaimana pencegahannya?
• Bagaimana tanda dan ge-
Asuhan pada bayi jalanya (pengkajian)?
• Apa yang diberikan Diaper rash
segera setelah la- Pemberian salep • Ap asaja kebutuhannya (pe-
1 • Kapan diberikan
hir sampai 2 jam mata rencanaan, implementasi,
pertama • Bagaimana cara pemberian evaluasi)?
• Bagaimana pencegahannya?
• Apa saja imunisasi yang • Bagaimana tanda dan ge-
diberikan jalanya (pengkajian)?
Seborhoe
• Apa tujuannya • Apa saja kebutuhannya (pe-
• Kapan diberikan rencanaan, implementasi,
Immunisasi • Kontra indikasi pemberian evaluasi)?
imunisasi pada BBL • Bagaimana pencegahannya?
• Berapa dosisnya dan • Bagaimana tanda dan ge-
bagaimana cara pemberi- 1 2 jam – 28 hari jalanya (pengkajian)?
annya? Miliaria
• Apa saja kebutuhannya (pe-
• Apa yang disebut hipotermi rencanaan, implementasi,
(pengertian)? evaluasi)?
• Apakah tindakan preventif • Bagaimana pencegahannya?
Pencegahan
yang dilakukan? • Bagaimana tanda dan ge-
hipotermi
• Bagaimana penanganann- jalanya (pengkajian)?
ya/kebutuhan BBL dengan Bercak Mongol
• Apa saja kebutuhannya (pe-
hipotermi? rencanaan, implementasi,
8.2. Deteksi dini komplikasi, rujukan dan kegawatdaruratan BBL evaluasi)?
• Bagaimana tanda dan ge-
• Bagaimana tanda dan ge-
jalanya (pengkajian)?
jalanya (pengkajian)?
Hemangioma • Apasaja kebutuhannya (pe-
Asfiksia • Apasaja kebutuhannya (pe-
rencanaan, implementasi,
rencanaan, implementasi,
evaluasi)?
evaluasi)?
• Bagaimana pencegahannya?
• Bagaimana tanda dan ge- • Bagaimana tanda dan ge-
jalanya (pengkajian)? jalanya (pengkajian)?
BBLR • Apasaja kebutuhannya (pe- Obstipasi
• Apas aja kebutuhannya (pe-
rencanaan, implementasi, rencanaan, implementasi,
evaluasi)? evaluasi)?

• Bagaimana tanda dan ge-


jalanya (pengkajian)? 9. Bayi dan Balita
Ikterus Neonato-
• Apasaja kebutuhannya (pe-
rum 9.1. Fisiologis
rencanaan, implementasi,
Deteksi dini kom- evaluasi)?
plikasi dan ruju-
1 kan serta kegawat- • Apa yang dimaksud dengan
druratan BBL usia • Bagaimana tanda dan ge- stimulasi tumbuh kembang?
2 jam – 28 hari jalanya (pengkajian)? • Apa saja capaian tumbuh
Tetanus Neona- kembang bayi dan balita se-
• Apasaja kebutuhannya (pe-
torum suai periode umurnya?
rencanaan, implementasi,
evaluasi)? • Bagaimana melakukan stim-
ulasi tumbuh kembang pada
bayi dan balita?
• Bagaimana tanda dan ge- Bayi (28 – 1 ta-
Tumbuh kem- • Siapa yang memiliki peran
jalanya (pengkajian)? 1 hun) sehat dan
bang melakukan stimulasi tumbuh
Infeksi Neonatus • Apasaja kebutuhannya (pe- balita
kembang bayi dan balita?
rencanaan, implementasi, • Apa instrument yang digu-
evaluasi)? nakan untuk memantau per-
tumbuhan bayi dan balita?
• Bagaimana tanda dan ge- (lihat grafik lingkar kepala,
jalanya (pengkajian)? PB, Berat badan untuk bayi
Diare • Apasaja kebutuhannya (pe- laki laki dan perempuan)
rencanaan, implementasi,
evaluasi)?

20
Program Studi DIII Kebidanan

• Apa instrument yang di- • Apa saja klasifikasi dalam form


gunakan untuk memantau MTBM dan MTBS?
perkembangan bayi dan bal- • Apa saja terapi yang terdapat
ita? (lihat KPSP tiap periode dalam form MTBM dan
3 bulan) MTBS?
• Kapan saja dilakukan pe- • Bagaimana melakukan rujukan
pada kasus yang ditemukan
mantauan capaian tumbuh
pada MTBM dan MTBS?
kembang bayi dan balita?
• Apa saja makna dari hasil pe-
nilaian KPSP?
• Bagaimana tindak lajut dari
hasil penilaian KPSP?
• Apa yang harus diinforma-
sikan bidan terkait ASI Ek-
sklusif?
• Imunoglobulin apa yang ter-
dapat dalam kolostrum?
• Apa indikator bahwa bayi
telah disusui secara adekuat?
• Bagaimana penyimpanan
KMS atau buku
ASI bagi ibu bekerja?
KIA
• Bagiamana memberikan ASI
perah pada bayi?
• Bagaimana memperkenalkan
MPASI pada bayi usia 6 bu-
lan keatas?
• Apa yang dimaksud dengan
AFASS pada pemberian susu
formula?
• Apa yang dimaksud dengan
system kekebalan tubuh?
• Jenis penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi
• Apa saja jenis imunisasi
dasar bagi bayi?
• Kapan jadwal imunisasi
dasar bagi bayi sampai usia
satu tahun?
• Apa saja kontraindikasi un-
tuk masing –masing jenis
imuniasasi dasar?
• Bagaimana mengecek vaksin
yang akan digunakan un-
tuk imunisasai? (perhatikan
Pola nutrisi VVM, shake test, tanggal
kadaluarsa dll)
• Bagaimana menyiapkan vak-
sin yang akan digunakan un-
tuk imunisasi dasar? (perha-
tikan jenis vaksin berbentuk
cair atau serbuk dll)
• Apakah yang dimaksud den-
gan safe injection?
• Bagaimana melakukan
pembuangan limbah dari
prosedur imunisasi dan vak-
sin yang telah digunakan?
• Apa yang dimaksud dengan
Kejadian ikutan pasca imu-
nisasi (KIPI)?
Suplementasi • Apa yang tujuan pemberi-
Bagaimana cara an vitamin A pada bayi dan
pemberian vita- balita?
min A pada bayi • Berapa dosis vitamin A pada
dan balita bayi dan balita?
• Apa saja model pencatatan
dan pelaoran untuk bayi dan
Pencatatan dan
balita pada PWS KIA?
pelaporan PWS
• Bagaimana menghitung
KIA
kebutuhan vaksin di suatu
wilayah binaan
9.2. Deteksi dini komplikasi, rujukan dan kegawat daruratan

• Apa yang dimaksud dengan


Deteksi dini MTBM dan MTBS?
komplikasi dan MTBM dan • Kapan bidan menggunakan
1
masalah pada MTBS form MTBM dan MTBS?
bayi dan balita • Apa saja komponen MTBM
dan MTBS?

21
BAGIAN 5
CONTOH DAFTAR SUMBER
RUJUKAN
Program Studi DIII Kebidanan

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Edisi Pertama, WHO, www.searo.who.int/


Ibu di fasilitas Kesehatan dasar 2013 indonesia/docu-
& Rujukan Bagi Tengan ments/976-602-235-
BAGIAN 5 265-5-buku-saku

BERSALIN

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Edisi Pertama, WHO, www.searo.who.int/


CONTOH DAFTAR SUMBER Ibu di fasilitas Kesehatan 2013 indonesia/docu-
RUJUKAN dasar & Rujukan Bagi Tenaga ments/976-602-235-
Kesehatan 265-5-buku-saku
NIFAS
JUDUL BUKU PENERBIT ALAMAT AKSES
Pedoman pelayanan keluarga Kementrian keseha- http://kesga.kemkes.
Saifudin, Abdul Bari. Panduan YBPSP, 2006 Buku Teks berencana pasca persalinan di tan tahun 2014 go.id/images/pe-
nasional pelayanan maternal faslitas kesehatan doman/Buku%20
dan neonatal. Pedoman%20KB%20
Pasca%20Persalinan.
Saifudin, Abdul Bari. Panduan YBPSP, 2006 Buku Teks
pdf
nasional pencegahan infeksi.
Pedoman Pemantauan Wilayah Kementerian Keseha- Buku teks
Midwifery (Varney) Buku Teks
Setempat Kesehatan Ibu Dan tan RI Direktorat Jen-
Pedoman tekhnis pemberian Kementrian Keseha- Buku Teks Anak (PWS-KIA) deral Bina Kesehatan
VIT K1 profilaksi pada bayi tan RI tahun 2011 Masyarakat Direk-
baru lahir dikeluarkan torat Bina Kesehatan
Ibu Jakarta 2010
Buku saku pelayanan kesehatan Kementrian keseha- Buku Teks
anak di Rumah Sakit (Pedoman tan, IDAI dan WHO Buku Saku Pelayanan Kesehatan Edisi Pertama, WHO, www.searo.who.int/
bagi RS rujukan tingkat pertama tahun 2008 Ibu di fasilitas Kesehatan dasar 2013 indonesia/docu-
di Kabupaten dan Kota. & Rujukan Bagi Tengan ments/976-602-235-
265-5-buku-saku
Buku Kesehatan ibu dan Anak Kementrian keseha- Buku Teks
(KIA) – Buku Pink tan RI tahun 2011 Buku Acuan APN JNPK, 2008 Buku teks
Buku Acuan Nasional Pelayanan PTBPSP, Jakarta, Buku Teks Modul Midwifery Update PPIBI 2016 Buku teks
Kesehatan Maternal & Neonatal 2014
MASA ANTARA
Buku Panduan Praktis Pe- Kemkes, Jakarta, Buku Teks
Buku saku infeksi menular Kementrian Keseha- htttp://Perpustakaan.
layanan Kesehatan Maternal dan 2014
seksual dan infeksi saluran tan tahun 2008 depkes.go.id:88180/
Neonatal
reproduksi pada pelayanan bitstream//
Ilmu Kebidanan Sarwono PT BPSP, Jakarta, Buku Teks kesehatan reproduksi terpadu 123456789/1547/2/
Prawirohadjo 2014 BK2005-FEB-AGS05.
PDF
Buku Panduan Praktis Pe- Edisi 2, Kemkes, 2014 Buku Teks
layanan Konstrasepsi Pedoman nasional pencegahan Kementrian keseha- htttp://Perpustakaan.
penularan HIV dari ibu ke bayi tan tahun 2011 depkes.go.id:88180/
Buku Panduan Pencegahan Kemenkes Buku Teks
bitstream//
Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan
123456789/2066/2/
Kesehatan dengan Sumber Daya
BK2011-350.pdf
Terbatas
Buku Panduan Praktis Pe- Kementrian keseha- perpustakaandepkes.
REMAJA
layanan Kontrasepsi tan tahun 2014 go.id
Pedoman Pengelolaan Pusat In- BKKBN, 2012 https://www.slide-
Alat Bantu pengambilan keputu- Kementrian keseha- http://kesga.kemkes.
formasi dan Konseling Remaja share.net/rajabulgu-
san berKB tan tahun 2014 go.id/images/pe-
dan Mahasiswa (PIK R/M) fronalenkaadesprabu/
doman/Buku%20
buku-pikremaja
ABPK%20berKB.pdf
Pedoman Pengelolaan Pusat In- BKKBN, 2012 https://www.slide-
BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN BALITA
formasi dan Konseling Remaja share.net/rajabulgu-
dan Mahasiswa (PIK R/M) fronalenkaadesprabu/ Buku Saku pelayanan kesehatan Kementrian keseha- http://kesga.
buku-pikremaja neonatal essensial tan tahun 2015 kemkes.go.id/
images/pedoman/
Kesehatan Reproduksi bagi Kementrian keseha- https://kesga.kemkes.
Buku-Saku-Pe-
calon pengantin tan tahun 2015 go.id/images/pe-
layanan-Keseha-
doman/BUKU%20
tan-Neonatal-Esen-
SAKU%20KESPRO.
sial.pdf
pdf
Buku Ajar Imunisasi Pusat Pendidikan Buku teks
HAMIL
dan Pelatihan Tenaga
Buku Ajar Kesehatan Ibu dan Kementrian Keseha- http://bppsdmk. Kesehatan, 2014
Anak tan dan GAVI tahun kemkes.go.id/pus-
Buku bagan Manajemen terpadu Kementerian Kes- http://perpus-
2015 diksdmk/wp-content/
balita sakit ehatan Republik takaan.depkes.
uploads/2017/10/
Indonesia Jakarta, go.id:8180/han-
02Buku-KIA-06-10-
2015 dle/123456789/3010
2015-small.pdf
Pedoman pelaksanaan stimulasi, Kementrian keseha- http://perpus-
Buku KIA Tahun 2015 Kementrian Keseha- http://www.depkes.
deteksi dan intervensi dini tum- tan tahun 2015 takaan.depkes.
tan tahun 2015 go.id/resources/
buh kembang anak di tingkat go.id:8180/han-
download/info-terki-
pelayanan dasar dle/123456789/3604
ni/BUKU%20KIA%20
2015_FINAL-.pdf Buku Saku Posyandu Kementrian keseha- http://www.depkes.
tan tahun 2012 go.id/resources/
Petunjuk penggunaan buku KIA Kementrian Keseha- http://www.depkes.
download/pro-
tan tahun 2015 go.id/resources/
mosi-kesehatan/
download/info-ter-
buku-saku-posyandu.
kini/Petunjuk%20
pdf
Teknis%20Penggu-
naan%20Buku%20 PERENCANAAN KELUARGA DAN KB
Kesehatan%20Ibu%20
Panduan nasional Pelayanan YBPSP, 2006 Buku teks
dan%20Anak%20
keluarga berencana
2015.pdf

23
BAGIAN 6
LATIHAN SOAL UJI
KOMPETENSI
Program Studi DIII Kebidanan

dah lebih dari 10 hari. Hasil anamnesis: ganti


pembalut 3 kali perhari, tidak ada nyeri. Ha-
BAGIAN 6 sil pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, N 80 x/
menit, P 20 x/menit, 36,50C. Remaja tersebut
LATIHAN SOAL UJI KOMPETENSI menolak bidan saat ingin melakukan palpasi
abdomen dan inspeksi terhadap darah yang
keluar.
1. Seorang remaja perempuan, umur 17 tahun,
Rencana asuhan apakah yang paling tepat
datang ke BPM dengan keluhan haidnya su-
pada kasus tersebut?
dah lebih dari 10 hari. Hasil anamnesis: ganti
pembalut 3 kali perhari, tidak ada nyeri. Ha- A. Meminta dukungan keluarga pasien
sil pemeriksaan: TB 150 cm, BB 55 Kg, TD
110/70 mmHg, N 86x/menit, P 20x/menit, S B. Memberi pengertian tujuan pemeriksaan
36,50C, benjolan payudara (-), abdomen tidak fisik
teraba massa dan benjolan.
C. Melakukan kolaborasi dengan tenaga
Diagnosis apakah yang paling mungkin pada kesehatan lain
kasus tersebut?
D. Merujuk pasien ke fasilitas pelayanan
A. Amenorhea yang lebih lengkap

B. Hipermenorhea E. Meminta keterangan tertulis terkait peno-


lakan pemeriksaan
C. Hipomenorhea

D. Oligomenorhea
4. Seorang remaja perempuan, umur 19 tahun,
E. Polimenorhea datang ke BPM dengan keluhan haid da-
lam sebulan ini sudah berlangsung dua kali.
Hasil anamnesis: ganti pembalut 3 kali per-
2. Seorang remaja perempuan, umur 17 tahun, hari,. Hasil pemeriksaan: TB 150 cm, BB 55
datang ke BPM dengan keluhan haidnya lebih kg, TD 110/70 mmHg, N 86x/menit, P 20x/
dari 15 hari. Hasil anamnesis: ganti pembalut menit, S 36,50C, pembesaran payudara nor-
3 kali perhari, darah bergumpal. Hasil pemer- mal, benjolan payudara (-), abdomen tidak
iksaan: TD 110/70 mmHg , N 86x/menit, P teraba massa.
20x/menit, S 36,50C, TB 150 cm, BB 55 kg,
Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
pembesaran payudara normal, palpasi abdo-
kasus tersebut?
men tidak ditemukan massa.
A. Amenorhea
Tindakan apakah yang paling tepat dilaku-
kan pada kasus tersebut ? B. Hipermenorhea
A. Melakukan konseling gizi C. Hipomenorhea
B. Memberikan edukasi personal hygiene D. Oligomenorhea
C. Memberikan suplemen penambah darah E. Polimenorhea
D. Melakukan konsultasi dengan dokter
SpOG
5. Seorang remaja perempuan, umur 14 tahun,
E. Mengecek ulang keluhan pada siklus datang ke BPM dengan keluhan belum per-
menstruasi berikutnya nah mengalami haid. Hasil anamnesis: sakit
daerah perut setiap bulan. Hasil pemeriksaan:
TD 110/70 mmHg, N 86x/menit, P 20x/menit,
3. Seorang remaja perempuan, umur 17 tahun, S 36,5 0C, TB 145 cm, BB 50 Kg, palpasi ab-
datang ke BPM dengan keluhan haidnya su- domen tidak ditemukan massa, inspeksi tam-
pak lubang vagina dengan hymen kebiruan
25
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

dan menonjol keluar. D. Kesehatan reproduksi

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada E. Kebutuhan nutrisi


kasus tersebut?

A. Amenorhea
8. Seorang remaja perempuan, umur 17 tahun,
B. Aplasia vagina datang ke BPM dengan keluhan nyeri haid
pada 1-2 hari pertama. Hasil anamnesis: dar-
C. Atresia vagina ah haid banyak, ganti pembalut 3 kali perhari.
Hasil pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, N 88
D. Hematometra
x/menit, abdomen tidak teraba massa.
E. Hymen Imperporata
Tindakan apakah yang paling tepat sesuai
kasus tersebut?

6. Seorang remaja perempuan, umur 14 tahun, A. Memberikan analgetik


datang ke BPM dengan keluhan belum per-
nah mengalami haid. Hasil anamnesis: sakit B. Menganjurkan olahraga ringan
daerah perut setiap bulan. Hasil pemeriksaan: C. Menjelaskan fisiologi terjadinya nyeri
TD 110/70 mmHg, N 86x/menit, P 20x/menit,
S 36,5 0C, TB 145 cm, BB 50 Kg, pembesa- D. Melakukan kolaborasi dengan tenaga
ran payudara normal. palpasi abdomen tidak kesehatan lain
ditemukan massa, inspeksi vulva dan vagina
tampak lubang vagina dengan hymen kebi- E. Merujuk pasien ke fasilitas pelayanan
ru-biruan dan menonjol keluar. yang lebih lengkap

Tindakan apakah yang paling tepat pada ka-


sus tersebut? 9. Seorang anak perempuan, umur 13 tahun,
A. Insisi hymen datang ke BPM diantar ibunya dengan kelu-
han nyeri perut. Hasil anamnesis: ibu merasa
B. Konseling gizi khawatir karena anak tidak bisa sekolah dan
selalu terjadi setiap siklus menstruasi, darah
C. Kolaborasi dengan dokter SpOG yang keluar bergumpal dan banyak. Hasil pe-
meriksaan: TD 90/60 mmHg, N 86x/menit,
D. Edukasi personal hygiene
P 20x/menit, S 36,50C, tidak ada massa pada
E. Pemberian suplemen penambah darah abdomen dan nyeri tekan.

Tanda apakah yang paling mungkin terjadi


pada kasus tersebut?
7. Seorang bidan koordinator puskesmas sedang
membuat perencanaan penyuluhan kesehatan A. Menarche
reproduksi remaja di sebuah SMP di wilayah
binaan puskesmas. Dalam survey pendahu- B. Dismenore
luan didapatkan informasi bahwa sebagian C. Gangguan haid
besar siswi SMP tersebut sudah mengalami
menstruasi. Hasil pemeriksaan kesehatan di D. Nyeri saat ovulasi
SMP tersebut sekitar 30 persen remaja putri
mengalami anemia. E. Pre menstrual syndrome

Informasi apakah yang paling prioritas diber-


ikan pada kasus tersebut? 10. Seorang perempuan, umur 15 tahun, datang
A. Pola istirahat ke Puskesmas diantar ibunya dengan kelu-
han haid banyak dan sering. Hasil anamnesis:
B. Personal hygiene siklus haid teratur sejak 2 bulan terakhir. Ha-
sil pemeriksaan: TD 100/60 mmHg, N 80 x/
C. Kebutuhan olah raga. menit, S 36,5°C, abdomen tidak teraba mas-
26
Program Studi DIII Kebidanan

sa, tampak darah keluar dari kemaluan. D. IUGR

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada E. BBLR


kasus tersebut?

A. Menoragia
13. Seorang bidan Desa sedang melakukan peng-
B. Metroragia kajian pada Desa binaannya, didapatkan data
bahwa di desa tersebut banyak terjadi kasus
C. Polimenore anemia sekitar 40% dari usia reproduktif,
sehingga banyak terjadi kelahiran bayi berat
D. Hipermenore
badan lahir rendah (BBLR). Masyarakat ja-
E. Menometroragia rang makan ikan atau daging karena daya beli
masyarakat kurang.

Rencana asuhan apakah yang paling tepat


11. Seorang perempuan, umur 24 tahun, datang dilakukan pada kasus tersebut?
ke BPM untuk konsultasi kehamilan. Hasil
anamnesis: baru menikah 2 bulan tapi be- A. Penyuluhan
lum ada tanda kehamilan, siklus haid 37 hari,
tinggal serumah dengan suami, melakukan B. Konseling nutrisi
hubungan intim setiap hari. Hasil pemerik- C. Mencari donator tetap
saan: KU baik, BB 75 kg, TB 150 cm, TD
110/70 mmHg, N 80x/menit, P 20x/menit, S D. Pemberdayaan ekonomi
36,50C, abdomen tidak teraba massa.
E. Pendekatan tokoh masyarakat
Konseling apa yang paling tepat dilberikan
pada kasus tersebut?

A. Rujuk ke konsultan perkawinan 14. Seorang perempuan, umur 25 tahun, datang


ke BPM, dengan keluhan mual muntah khu-
B. Rujuk ke dokter obgin fertilitas susnya dipagi hari. Hasil anamnesis: haid ter-
akhir 3 bulan yang lalu. Hasil pemeriksaan:
C. Pengaturan pola seksual KU baik, TD 110/70mmHg, N 80x/menit, P
24x/menit, S 370 C. TFU 2 jari diatas simfisis.
D. Olahraga teratur
Masalah apakah yang paling mungkin dari
E. Diet nutrisi
kasus tersebut?

A. Nausea
12. Seorang perempuan umur 24 tahun, datang
ke BPM untuk konsultasi kehamilan. Hasil B. Vomiting
anamnesis: baru menikah 2 bulan tapi belum C. Hiperemesis
ada tanda kehamilan, siklus haid teratur se-
tiap 30 hari, tinggal serumah dengan suami, D. Morning sickness
melakukan hubungan intim setiap hari. Hasil
pemeriksaan: KU baik, BB 80 kg, TB 150 E. Salivasi gravidarum
cm, TD 110/70 mmHg, N 80x/menit, P 20x/
menit, S 36,50C, abdomen tidak teraba massa.
15. Seorang perempuan, umur 28 tahun, G1P0A0
Konseling reproduksi apakah yang mungkin hamil 32 minggu datang ke BPM dengan
terjadi pada kasus tersebut? keluhan sering BAK di malam hari sejak 2
A. Insufisiensi utero plasenta hari yang lalu. Hasil anamnesis: dalam sema-
lam BAK sampai 3-4 kali, gerak janin dira-
B. Diabetes gestasional sakan aktif. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD
120/70mmHg, N 80x/menit, P 24 x/menit, S
C. Gemelli 370 C, TFU 30 cm, teraba puki, kepala sudah
masuk PAP 4/5.
27
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

Rencana asuhan apakah yang paling tepat 18. Seorang perempuan, umur 28 tahun, G1P0A0
pada kasus tersebut? hamil 12 minggu, datang ke RS dengan kelu-
han nyeri perut bagian bawah. Hasil anam-
A. Berbaring miring ke kiri nesis: keluar darah sedang, bercampur se-
B. Hindari minum kopi atau teh dikit gumpalan dari kemaluan sejak 2 jam
yang lalu. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD
C. Perubahan fisiologis trimester 3 120/80 mmHg, N 84 x/menit, ada kontraksi
uterus, nyeri tekan abdomen bagian bawah.
D. Perbanyak minum pada siang hari Hasil inspekulo tampak serviks membuka
dan terlihat jaringan pada serviks
E. Kosongkan Kandung kemih ketika ada
dorongan Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
kasus tersebut?

16. Seorang perempuan, umur 35 tahun, G1P0A0 A. Abortus Imminens


hamil 34 minggu, datang ke BPM dengan B. Abortus Komplit
keluhan pusing sejak 1 minggu yang lalu.
Hasil anamnesis: keluhan tidak disertai pan- C. Abortus Insipiens
dangan kabur atau nyeri ulu hati, tidak ada
riwayat tekanan darah tinggi. Hasil pemerik- D. Abortus inkomplit
saan: TD 140/100 mmHg, P 20x/menit, N 84 E. Mola hidatidosa
x/menit, TFU 32 cm, DJJ 148 x/menit, pro-
tein urin +.

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada 19. Seorang perempuan, umur 35 tahun, G4P3A0
kasus tersebut? hamil 24 minggu, datang ke RS mengeluh
keluar darah merah segar dari kemaluan sejak
A. Hipertensi Kehamilan 1 jam yang lalu. Hasil anamnesis: Hasil pe-
B. Preeklamsia ringan meriksaan: TD 140/100 mmHg, P 20 x/menit,
N 84 x/menit, tidak ada kontraksi uterus dan
C. Preeklamsia berat tidak ada nyeri tekan abdomen bagian bawah,
TFU setinggi pusat, DJJ 156 x/menit.
D. Hipertensi Kronis
Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
E. Eklamsia kasus tersebut?

A. Plasenta previa
17. Seorang perempuan, umur 30 tahun, datang
ke BPM dengan keluhan amenorea 3 bulan. B. Solusio plasenta
Hasil anamnesis: sering merasa mual dan
muntah sejak 1 bulan yang lalu. Hasil pemer- C. Abortus Imminent
iksaan: TD 140/100 mmHg, P 20x/menit, N D. Mola Hidatidosa
84 x/menit, TFU 1 jari dibawah pusat, tidak
teraba ballotement, terdapat bercak kecokla- E. Kehamilan ektopik
tan dan jaringan seperti gelembung.

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada


kasus tersebut? 20. Seorang perempuan, umur 30 tahun, G2P1A0
hamil 32 minggu, datang ke BPM dengan
A. Abortus imminens keluhan merasa sesak sejak 1 minggu yang
lalu. Hasil anamnesis: merasa penuh di perut
B. Kehamilan ektopik bagian atas. Hasil pemeriksaan: TD 120/80
mmHg, P 20x/menit, N 84 x/menit, TFU 30
C. Missed abortion
cm, bagian fundus teraba bulat, keras, me-
D. Mola hidatidosa lenting, pada bagian bawah teraba bulat, lu-
nak kurang melenting, DJJ 140 x/menit ter-
E. Abortus insipiens dengar jelas di atas pusat.
28
Program Studi DIII Kebidanan

Rencana asuhan apakah yang paling tepat di- 23. Seorang perempuan, umur 25 tahun, G1P0A0
anjurkan pada kasus tersebut? hamil 8 minggu, datang ke Puskesmas untuk
memeriksakan kehamilannya. Hasil anamne-
A. Berjalan santai sis: 1 bulan yang lalu pernah mengeluarkan
B. Posisi trendenburg perdarahan bercak sekali saat awal kehami-
lan. Hasil pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, N
C. Gerakan knee chest 88x/menit, S 370C, P 20x/menit, TFU belum
teraba, HCG urin test (+).
D. Gerakan dorsal recumbent
Informasi apakah yang paling tepat sesuai
E. Sering menyapu dengan sapu yang kasus tersebut?
pendek
A. Rujuk ke RS

B. Tirah baring
21. Seorang perempuan, umur 28 tahun, G3P1A1
hamil 32 minggu, datang ke Polindes dengan C. Penkes fisiologi kehamilan
keluhan bengkak pada kaki sejak 1 minggu
yang lalu. Hasil anamnesis: keluhan berku- D. Observasi dalam 24 jam
rang setelah diistirahatkan. Hasil pemerik- E. Penkes tanda-tanda bahaya
saan: TD 120/80 mmHg, N 80 x/menit P 20 x/
menit, S 36,6˚C. TFU 30 cm, DJJ 144x/menit
teratur.
24. Seorang perempuan, G1P0A0 hamil 32
Kapankah rencana kunjungan ulang pada ka- minggu, datang ke BPM dengan keluhan ser-
sus tersebut? ing pusing sejak 1 minggu yang lalu. Hasil
anamnesis: keluhan disertai mudah lelah. Ha-
A. 1 minggu sil pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, N 80x/
B. 2 minggu menit, P 20 x/menit, S 36,5 0C, TFU 30 cm,
DJJ 146x/menit, teratur, Hb 10 gram%, pro-
C. 4 minggu tein urine (-).

D. 6 minggu Diagnosis apakah yang paling mungkin ter-


jadi pada kasus tersebut?
E. 8 minggu
A. Gejala hipotensi

B. Anemia fisiologis
22. Seorang perempuan, umur 27 tahun, G3P1A1
hamil 20 minggu, datang ke BPM untuk me- C. Suspect Bayi kecil
meriksakan kehamilan. Hasil anamnesis:
merasa pusing sejak 1 minggu yang lalu. Ha- D. Gejala Pre eklamsi
sil pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, N 80x/ E. Kehamilan malposisi
menit P 24x/menit S 36,6˚C, Hb 11,2 gr%.

Berapakah dosis tablet Fe yang dianjurkan


sesuai kasus tersebut? 25. Seorang perempuan, umur 28 tahun, G1P0A0
hamil 32 minggu, datang ke BPM dengan
A. 1 x 60 mg keluhan sering pusing sejak 1 minggu yang
B. 2 x 60 mg lalu. Hasil anamnesis: ibu mudah lelah. Ha-
sil pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, N 80x/
C. 1 x 80 mg menit, P 20 x/menit, S 36,5 0C, TFU 30 cm,
DJJ 146x/menit, teratur, Hb 10 gram%, pro-
D. 2 x 80 mg tein urine (-).
E. 1 x 120 mg Tindakan pertama apakah yang tepat dilaku-
kan bidan pada kasus tersebut?

29
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

A. Konseling persiapan kegawatdaruratan nesis: sering pusing sejak 1 bulan yang lalu.
Hasil pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, N 80
B. Memberikan suplemen tambah darah x/menit, P 20 x.menit, S 36,5 0C, TFU 34 cm,
C. Melakukan kolaborasi dengan dokter DJJ 100x/menit, Hb 10 gram%, protein urine
(-). Bidan memberikan oksigen pada ibu se-
D. Konseling penambahan nutrisi banyak 5 liter/menit dan merujuk ibu.

E. Melakukan rujukan ke RS Evaluasi segera apakah yang harus dilaku-


kan pada kasus tersebut:

26. Seorang perempuan, umur 24 tahun, G1P0A0 A. Pola Denyut jantung janin
hamil 36 minggu, datang ke BPM untuk kun-
jungan ulang. Hasil anamnesis: ibu mudah le- B. Hasil laboratorium darah
lah. Hasil pemeriksaan: TD 120/70 mmHg, C. Perubahan tekanan darah ibu
N 80x/menit, P 20 x/menit, S 36,5 0C, TFU
30 cm, DJJ 164 x/menit, Hb 10 gram%, pro- D. Perubahan frekuensi nadi ibu
tein urine (-)
E. Perkembangan keluhan pusing ibu
Tindakan awal apakah yang paling tepat
dilakukan bidan pada kasus tersebut :
29. Seorang perempuan, umur 22 tahun, datang
A. Melakukan rujukan untuk pertama kalinya ke BPM dengan kelu-
han tidak haid 2 bulan. Hasil anamnesis:
B. Memasang infus RL menikah 4 bulan yang lalu dan melakukan
C. Resusitasi intrauterine hubungan seksual secara rutin. Hasil pemer-
iksaan: TD 120/80 mmHg, N 80 x/menit, P
D. Konseling persiapan gawat darurat 20 x/menit, TFU belum teraba, Hasil pemer-
iksaan penunjang HCG urine (+).
E. Melakukan kolaborasi dengan dokter
Fokus tujuan apakah yang dilakukan oleh
bidan pada kasus tersebut?

27. Seorang perempuan, umur 24 tahun, G1P0A0, A. Memastikan kehamilan ibu


usia kehamilan 38 minggu, datang ke BPM
dengan keluhan nyeri perut sejak 2 jam yang B. Deteksi dini kelainan letak
lalu. Hasil anamnesis: sering pusing sejak C. Membangun hubungan baik
1 bulan yang lalu. Hasil pemeriksaan: TD
100/70 mmHg, N 80 x/menit, P 20 x.menit, S D. Adaptasi Penerimaan kehamilan
36,5 0C, TFU 34 cm, DJJ 105 x/menit, Hb 11
gram%, protein urine (-). E. Pencegahan emesis gravidarum

Diagnosis apakah yang paling tepat pada ka-


sus tersebut 30. Seorang perempuan, umur 25 tahun, G1P0A0,
hamil 24 minggu, datang ke BPM untuk kun-
A. Gawat Janin jungan ulang . Hasil anamnesis: sering mera-
sa lelah dan mudah mengantuk, gerakan janin
B. Anemia ringan dirasakan aktif. Hasil pemeriksaan: konjung-
C. Kehamilan normal tiva merah muda, TD 120/80 mmHg, N 80 x/
menit, P 20 x/menit, TFU setinggi pusat, bal-
D. Suspect janin besar lotement (+), DJJ 120 x/menit.

E. Hipotensi Pemeriksaan penunjang apakah yang paling


tepat pada kasus tersebut?

28. Seorang perempuan, umur 22 tahun, G1P0A0 A. Hemoglobin


hamil 36 minggu, datang ke BPM dengan
nyeri perut sejak 2 jam yang lalu. Hasil anam- B. Glukosa urin

30
Program Studi DIII Kebidanan

C. Reduksi Urin pintu atas panggul (pap), DJJ 142x/menit,


reguler, ekstemitas bawah oedema. Bidan
D. Inspekulo melakukan pemeriksaan protein urine dengan
E. USG hasil menggumpal.

Bagaimanakah penafsiran hasil pemeriksaan


31. Seorang perempuan, umur 25 tahun, G2P1A0, penunjang pada kasus tersebut?
hamil 37 minggu, datang ke BPM untuk A. (+)
melakukan kunjungan ulang. Hasil anamne-
sis: ibu sering pusing dan mudah lelah. Hasil B. (++)
pemeriksaan: konjungtiva merah muda, TD
120/80 mmHg, N 80 x/menit, P 20 x/menit, C. (+++)
TFU 30 cm, puka, kepala belum masuk PAP, D. Negatif
DJJ 120 x/menit, Hb 10,5 gram%
E. Batas normal
Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
kasus tersebut?
34. Seorang perempuan, umur 25 tahun, G2P1A0
A. Bayi besar hamil 24 minggu, datang ke BPM untuk kun-
B. Anemia ringan jungan kehamilan. Hasil anamnesis: gerakan
janin aktif dirasakan. Hasil pemeriksaan: TD
C. Anemia berat 120/80 mmHg, N 80x/menit, P 20 x/menit, S
36,6˚C, DJJ 140 x/menit, Ballotement (+).
D. Panggul sempit
Berapakah TFU yang sesuai pada kasus
E. Hipotensi tersebut?

A. Setinggi pusat

32. Seorang perempuan, umur 35 tahun, B. 3 jari diatas pusat


G1P0A0, hamil 32 minggu, datang ke BPM
dengan keluhan lemah. Hasil anamnesis: ser- C. 3 jari dibawah pusat
ing letih dan lesu. Hasil pemeriksaan: tampak D. 3 jari di atas sympisis
lemah, konjungtiva merah muda, TD 120/80
mmHg, N 80 x/menit, P 20 x/menit, TFU 30 E. Pertengahan pusat – PX
cm, puka, kepala, DJJ 120 x/menit, Hb 10 gr/
dL. Bidan memberikan tablet Fe+asam folat.
35. Seorang perempuan, umur 26 tahun, G1P0A0
Kapankah waktu yang tepat untuk mengeval- hamil 30 minggu datang ke BPM, dengan
uasi keefektifan asuhan pada kasus tersebut? keluhan tungkai bengkak sejak 2 hari yang
lalu. Hasil anamnesis: tidak ada keluhan pus-
A. 1 minggu ing . Hasil pemeriksaan: TD 110/80 mmHg,
B. 2 minggu N 80x/menit, P 20 x/menit, S 36,6˚C, TFU 28
cm, DJJ 148 x/menit, Protein urine (+)
C. 3 minggu
Rencana asuhan apakah yang diberikan pada
D. 4 minggu kasus tersebut?

E. 5 minggu A. Tungkai ditinggikan saat tidur

B. Tidur dengan posisi semi fowler


33. Seorang perempuan, umur 27 tahun, G2P1A0,
hamil 36 minggu, datang ke BPM dengan C. Tidur menggunakan kasur yang lunak
keluhan sering sakit kepala. Hasil anamnesis: D. Jalan-jalan waktu pagi selama satu jam
tidur cukup. Hasil pemeriksaan: TD 110/70
mmHg, N 84 x/menit, P 22 x/menit, TFU 30 E. Anjuran merendam kaki dengan air
cm, puka, presentasi kepala, belum masuk hangat
31
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

36. Seorang perempuan, umur 28 tahun, hamil kepala, DJJ 140 x/menit.
32 minggu, datang ke Poskesdes, untuk me-
meriksakan kehamilannya. Hasil anamnesis: Pendidikan kesehatan apakah yang tepat
sering BAK sejak 3 hari yang lalu. Hasil pe- pada kasus tersebut?
meriksaan: TD 110/70 mmHg, N 88 x/menit,
A. Penerimaan diri
P 20 x/menit, S 36,6oC, TFU 30 cm, DJJ 148
x/menit, presentasi kepala 3/5. B. Kebutuhan seksual
Penyebab apakah yang paling tepat pada ka- C. Tanda-tanda persalinan
sus tersebut?
D. Teknik pernafasan
A. Ibu sering minum air putih
E. Adaptasi psikologi Trimester 3
B. Letak kandung kencing berdekatan den-
gan uterus
39. Seorang bidan melakukan kunjungan rumah
C. Peningkatan natrium dan garam dalam pada ibu hamil, umur 24 tahun G1P0A0 usia
tubuh ibu hamil kehamilan 10 minggu dengan keluhan mual
muntah di pagi hari sejak 1 minggu yang lalu.
D. Uterus yang mulai membesar menekan
Hasil pemeriksaan: TD 110/80 mmHg, N, 88
kandung kencing
x/menit, S 36,50C, P 20 x/menit, TFU belum
E. Kandung kemih tertekan oleh penurunan teraba, HCG urin test (+).
kepala janin
Anjuran apakah yang paling tepat pada kasus
tersebut?
37. Seorang perempuan, umur 27 tahun, G2P0A1
A. Makan sering dengan porsi kecil
hamil 36 minggu, datang ke Poskesdes untuk
memeriksakan kehamilannya. Hasil anamne- B. Menghindari makanan yang terasa pedas
sis: Ibu memberikan ASI eksklusif pada anak
pertamanya dan telah diberikan imunisasi TT C. Menganjurkan makanan tinggi karbohi-
pada umur kehamilan 20 minggu. Hasil pe- drat
meriksaan: TD 120/80 mmHg, N 80x/menit,
D. Mengkonsumsi buah yang mengandung
P 20 x/menit. S 36,7oC. TFU 32 cm, pre-
vitamin C
sentasi kepala belum masuk PAP, Puki, DJJ
140x/menit. E. Meningkatkan frekuensi makan makanan
berlemak
Rencana asuhan apakah yang paling tepat
pada kasus tersebut?
40. Seorang bidan Desa bertugas melakukan pen-
A. Edukasi gizi seimbang
catatan dan pelaporan melalui PWS KIA. Da-
B. Diskusi persiapan laktasi lam pencatatan tersebut diketahui data cak-
upan K1 bulan ini adalah 85%, data cakupan
C. Informasi tanda bahaya trimester 3 K1 bulan lalu 75%. Target K1 di wilayah
tersebut adalah 60%.
D. Konseling persiapan pendamping persa-
linan Apakah kesimpulan terhadap status cakupan
K1 di wilayah tersebut?
E. Memberikan suntikan tetanus toksoid ke
dua A. Baik

B. Jelek
38. Seorang perempuan, umur 23 tahun, G1P0A0
hamil 35 minggu, datang ke BPM untuk me- C. Cukup
meriksakan kehamilannya. Hasil anamnesis:
D. Kurang
cemas menunggu persalinannya. Hasil pe-
meriksaan: TD 110/80 mmHg, N 80 x/menit, E. Meningkat
S 360C, P 20 x/menit, TFU 32 cm, presentasi
32
Program Studi DIII Kebidanan

41. Seorang bidan bertugas melakukan pen- tampak bercak darah berwarna bergumpal
catatan dan pelaporan hasil pelayanan yang berwarna hitam.
dilakukan dan situasi kesehatan ibu dan anak
melalui PWS KIA. Hasil pencatatan PWS Asuhan apakah yang paling tepat dilakukan
KIA tersebut di sajikan dalam bentuk grafik pada kasus tersebut?
untuk kebutuhan pelaporan. Saat ini bidan A. Pemasangan infus
sedang membuat grafik tentang kunjungan
nifas yang dilayani 3 x oleh tenaga kesehatan B. Pemeriksaan USG
Apakah grafik yang akan dibuat bidan pada C. Bedrest di puskesmas
kasus tersebut?
D. Rujuk ke rumah sakit
A. K1
E. Kolaborasi dengan dokter
B. K4

C. KF 44. Seorang perempuan, umur 25 tahun,


G2P1A0, usia kehamilan 38 minggu, kala
D. KN1 I di BPM ditemani suami, dengan keluhan
E. KN2 mulas sering. Hasil anamnesis: tidak tahan
dengan sakit pinggang, minta digosok pada
bagian yang sakit ini. Hasil pemeriksaan:
42. Seorang perempuan, 35 tahun, G4P3A0 ham- TD 110/80 mmHg, N 80 x/menit, S 36,7°C,
il 36 minggu, datang ke Puskesmas dengan P 18x/menit, kontraksi 3x/10’/40”, DJJ 132x/
keluhan keluar bercak darah dari kemaluan. menit, penurunan 3/5, pembukaan 6 cm, por-
Hasil anamnesis: tidak ada mules dan nyeri, tio tipis-lunak, ketuban utuh.
gerakan janin masih dirasakan. Hasil pemer-
iksaan: TD 110/70 mmHg, N 84 x/menit, P 20 Asuhan apakah yang paling tepat pada kasus
x/menit, TFU 30 cm, puki, presentasi kepala, tersebut
belum masuk pintu atas panggul, DJJ 142x/ A. Meminta ibu istirahat
menit, kontraksi (-), ekstremitas bawah oede-
ma, hasil inspekuloa: tampak sisa darah ber- B. Mengajarkan ibu bernafas
warna merah segar di dinding vagina, porsio
masih menutup. C. Memberikan kompres dingin

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada D. Menjelaskan fisiologis persalinan


kasus tersebut?
E. Melibatkan suami dalam manajemen
A. Vasa previa pengurangan nyeri

B. Erosi portionis
45. Seorang perempuan, umur 23 tahun, G1P0A0,
C. Plasenta previa usia kehamilan 38 minggu, kala II di BPM
ditemani suami, dengan keluhan mulas tak
D. Solusio plasenta tertahankan. Hasil anamnesis: merasa haus,
E. Kelainan hormonal perasaan ingin BAB. Hasil pemeriksaan:
TD 110/80 mmHg, N 80 x/menit, S 36,7°C,
P 18x/menit, DJJ 144x/menit, Kontraksi
43. Seorang perempuan, 30 tahun, G2P1A0, 4x/10’/45”, kepala janin sudah tampak 5-6
hamil 34 minggu, datang ke puskesmas cm di vulva.
mengeluh keluar gumpalan darah dari jalan
lahir sejak 1 jam yang lalu. Hasil anamnesis: Langkah apakah selanjutnya yang dilakukan
terasa nyeri pada abdomen, gerakan janin pada kasus tersebut?
dirasakan berkurang. Hasil pemeriksaan: TD A. Memberitahu ibu bahwa perlu dilakukan
100/60 mmHg, N 100 x/menit, P 24 x/menit, episiotomi
TFU 34 cm, DJJ (+) kurang jelas, palpasi
sulit dilakukan, ekstemitas bawah oedema,
33
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

B. Melibatkan pendamping untuk memberi 48. Seorang perempuan, umur 25 tahun, G2P1A0,
minum usia kehamilan 40 minggu, kala I di BPM,
dengan keluhan sering mulas. Hasil anam-
C. Memfasilitasi ibu melakukan posisi nesis: sudah keluar darah-lendir, kontraksi
meneran makin sering, memilih berbaring, Hasil pe-
D. Memasukkan oksitosin 10 IU ke dalam meriksaan: TD 110/80 mmHg, N 84 x/menit,
spuit S 36,5°C, P 18x/menit, kontraksi 3x/10’/40”,
DJJ 132x/menit, penurunan 2/5, pembukaan
E. Memasang sarung tangan DTT 7 cm, portio tipis-lunak, ketuban utuh, UUK
kiri depan.

46. Seorang perempuan, umur 26 tahun, G1P0A0, Posisi apakah yang paling tepat pada kasus
usia kehamilan 38 minggu, kala II di BPM, tersebut ?
dengan keluhan mulas tak tertahankan. Hasil
anamnesis: perasaan ingin BAB. Hasil pe- A. Duduk
meriksaan: TD 110/80 mmHg, N 80 x/menit, B. Telentang
S 36,7°C, P 18x/menit, DJJ 144x/menit, Kon-
traksi 4x/10’/45”, kepala janin sudah tampak C. Miring kiri
5-6 cm di vulva, perineum kaku.
D. Miring kanan
Langkah apakah selanjutnya yang tepat pada
kasus tersebut? E. Setengah duduk

A. Mempertahankan posisi fleksi


49. Seorang perempuan, umur 18 tahun, G1P0A0,
B. Melakukan episiotomi medio-lateral usia kehamilan 37 minggu, kala I di puskes-
mas PONED, mengeluh keluar darah dan
C. Perlahan-lahan membantu kelahiran lendir pervaginam. Hasil anamnesis: mules
kepala makin sering, Hasil pemeriksaan: TD 110/80
D. Menahan batas antara ujung vulva dan mmHg, N 84 x/menit, S 36,5°C, P 18x/menit,
anus TFU 28 cm, kontraksi 3x/10’/35”, DJJ 144x/
menit, kepala masih bisa digoyangkan. Ren-
E. Mencegah terjadinya defleksi yang terla- cana pasien dirujuk tanpa pemeriksaan dalam
lu cepat terlebih dahulu.

Alasan apakah yang paling tepat untuk meru-


47. Seorang perempuan, umur 25 tahun, G2P1A0, juk pada kasus tersebut?
usia kehamilan 40 minggu, kala I di BPM,
mengeluh mulas. Hasil anamnesis: sudah A. Usia ibu
keluar lendir-darah. Hasil pemeriksaan: TD B. Masa gestasi
110/80 mmHg, N 84 x/menit, S 36,5°C, P
18x/menit, kontraksi 3x/10’/40”, DJJ 132x/ C. Belum inpartu
menit, penurunan 2/5, pembukaan 6 cm, por-
tio tipis-lunak, ketuban utuh, UUK kiri depan. D. His belum adekuat

Kapan dilakukan pemeriksaan dalam selan- E. Penurunan kepala 5/5


jutnya pada kasus tersebut ?

A. Saat ketuban pecah spontan 50. Seorang perempuan, 40 tahun, G6P5A0, usia
kehamilan 39 minggu, dalam kala III persalinan
B. Setelah Perineum menonjol di BPM. Riwayat kala II persalinan sangat ce-
pat. Saat bayi diletakkan di abdomen, tampak
C. Rasa ingin meneran darah keluar tiba-tiba dari vulva. Hasil pemer-
D. 4 jam kemudian iksaan: tidak ada janin kedua, Kontraksi kuat.

E. Vulva membuka

34
Program Studi DIII Kebidanan

Tindakan apakah yang paling tepat dilaku- C. Memeriksa refleks patella


kan pada kasus tersebut?
D. Kolaborasi untuk vakum ekstraksi
A. Memotong tali pusat
E. Merujuk pasien ke rumah sakit sesegera
B. Melahirkan plasenta mungkin

C. Cepat mengeringkan bayi

D. Suntik oksitosin 10 IU secara IM 53. Seorang perempuan, umur 28 tahun, G2P1A0


, usia kehamilan 39 minggu, datang ke Pusk-
E. Memeriksa apakah ada bayi ke dua esmas dengan keluhan mulas tak tertahankan.
Hasil anamnesis: sudah keluar darah lendir.
Hasil pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, P 20x/
51. Seorang bidan di Desa dipanggil keluarga
menit, N 84x/menit, S 36,8 0C, TFU 32cm,
pasien ke rumah pasien. Sesampai di rumah
DJJ 136x/menit, teratur, penurunan kepala
pasien didapatkan kondisi ibu dalam kala II
3/5, kontraksi 3x/10’/40’’, portio tipis lunak,
persalinan. Hasil anamnesis: umur 35 tahun,
pembukaan 6 cm, ketuban utuh, UUK kiri de-
G4P3A0, usia kehamilan 38 minggu, riwayat
pan.
persalinan yang lalu normal. Hasil pemerik-
saan: TD 110/80 mmHg, N 80 x/menit, his Rencana asuhan apakah yang paling te-
4x/10’/40”, DJJ 144x/menit, tampak sakrum pat pada kasus tersebut?
janin pada posisi antero-posterior di vulva.
A. Mengukur nadi setelah 4 jam pemerik-
Rencana asuhan apakah yang paling tepat saaan
pada kasus tersebut?
B. Melakukan periksa dalam 2 jam kemu-
A. Memutar bokong ke posisi lateral dian
B. Membawa pasien ke puskesmas PONED. C. Memeriksa TD menjelang persalinan
C. Mengenggam bagian bawah dengan kain D. Melakukan observasi DJJ per 30 menit
bersih.
E. Menilai kontraksi 1 jam lagi
D. Memasang infus sebagai antisipasi kom-
plikasi tindakan.

E. Melahirkan bayi sampai tampak perut 54. Seorang perempuan, umur 28 tahun, G1P0A0,
dan sebagian dada janin usia kehamilan 39 minggu, bersama suami
datang ke BPM dengan keluhan mulas tak
tertahankan. Hasil anamnesis: keluar dar-
ah lendir, Ibu tampak gelisah dan kesakitan.
52. Seorang perempuan, umur 31 tahun, G3P2A0,
Hasil pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, S
usia kehamilan 32 minggu, datang ke Pusk-
36,7oC, N 90x/mnt, P 20x/menit, TFU 33cm,
esmas PONED diantar suami dalam keadaan
DJJ 136x/menit, teratur, penurunan kepala
kejang, muka sembab, kaki edema. Tim
3/5, kontraksi 3x/10’/35’’, porsio lunak, pem-
PONED bekerja cepat: satu petugas mem-
bukaan 5 cm, ketuban utuh.
pertahankan jalan napas, satu lagi melakukan
regimen MgSO4, satu lagi melakukan kater- Rencana tindakan apakah yang paling te-
isasi dan pemeriksaan yang terfokus. Hasil pat pada kasus tersebut?
pemeriksaan: pembukaan 9 cm, portio tipis,
ketuban utuh, penurunan kepala di hodge III, A. Beri dukungan
UUK kiri depan, protein urine (+++)
B. Ajarkan teknik relaksasi
Tindakan awal apakah yang paling tepat
pada kasus tersebut? C. Anjurkan Jalan-jalan semampu ibu

A. Menstabilkan pasien D. Motivasi berkemih sesering mungkin

B. Memecahkan ketuban
35
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

E. Sarankan berbaring dalam posisi lintang, DJJ 140x/mnt, teratur, kontraksi


terlentang 3x/10’/35’’, porsio tipis lunak, pembukaan 5
cm, ketuban (-).

Rencana tindakan apakah yang paling tepat


55. Seorang perempuan, umur 25 tahun, G1P0A0, pada kasus tersebut?
usia kehamilan 38 minggu, kala II di BPM,
dengan keluhan ingin meneran. Hasil anam- A. Lakukan rujukan
nesis: ingin BAB. Hasil pemeriksaan: TD
120/80 mmHg, S 36,7oC, N 90x/mnt, P 20x/ B. Monitor kontraksi dan DJJ
menit, TFU 34 cm, DJJ 144x/menit, kontrak-
C. Pasang infus, ibu dipuasakan
si 4x/10’/45’’, pembukaan lengkap, ketuban
(+), UUK kiri depan. D. Rawat pasien sebelum inpartu
Tindakan apakah yang paling tepat pada ka- E. Nilai air ketuban dengan lakmus
sus tersebut?

A. Pimpin meneran
58. Seorang perempuan, umur 30 tahun, G2P1A0,
B. Segera Episiotomi usia kehamilan 38 minggu, Kala II di BPM
Hasil anamnesis: ingin meneran seperti
C. Lakukan amniotomi mau BAB. Hasil pemeriksaan: TD 120/80
D. Ajarkan teknik relaksasi mmHg,, N 90x/mnt, TFU 34 cm, DJJ 144x/
menit, teratur, kontraksi 4x/10’/45’’, pembu-
E. Posisikan ibu senyaman mungkin kaan lengkap, kepala sudah membuka vulva
5-6 cm. telah dipimpin meneran selama 1 jam
dan belum menunjukkan kemajuan.
56. Seorang perempuan, umur 29 tahun, G1P0A0, Tindakan apakah yang paling tepat sesuai
usia kehamilan 40 minggu, kala II di BPM. kasus tersebut?
Hasil anamnesis: ingin meneran. Hasil pe-
meriksaan : KU baik, TD 120/80 mmHg, A. Lakukan Rujukan
S 36,7oC, N 90x/menit, P 20x/menit, TFU
36cm, DJJ 144x/menit, teratur, kontraksi kuat B. Monitor kontraksi dan DJJ
5x/10’/45’’, pembukaan lengkap, penurunan
C. Pasang infus, ibu dipuasakan
kepala station 0, ketuban pecah spontan.
D. Rawat pasien sebelum inpartu
Tindakan apakah yang paling tepat sesuai
kasus tersebut? E. Lanjutkan memimpin persalinan
A. Pimpin meneran

B. Kolaborasi dengan dokter 59. Seorang perempuan, umur 30 tahun, G3P2A0,


usia kehamilan 38 minggu, kala II di BPM,
C. Berikan injeksi oxytocin 3 unit IM dengan keluhan ingin meneran. Hasil anam-
D. Posisikan ibu senyaman mungkin nesis: ingin BAB. Hasil pemeriksaan : TD
120/80 mmHg, S 36,7oC, N 90x/mnt, P 20x/
E. Observasi tunggu sampai bayi lahir menit, TFU 34 cm, DJJ 144x/menit, kontrak-
spontan si 4x/10’/45’’, pembukaan lengkap, ketuban
(+), UUK kiri depan.

Langkah selanjutnya apakah yang paling te-


57. Seorang perempuan, umur 21 tahun, G2P1A0, pat pada kasus tersebut?
usia kehamilan 38 minggu, datang ke BPM
dengan keluhan mulas. Hasil anamnesis: A. Pimpin meneran
ketuban pecah sejak 1 jam yang lalu. Hasil
pemeriksaan: KU baik, TD 120/80 mmHg, B. Posisikan litotomi
N 90x/mnt, P 20x/menit, TFU 33 cm, letak
C. Mencegah defleksi
36
Program Studi DIII Kebidanan

D. Lakukan episiotomi Langkah selanjutnya apakah yang paling te-


pat pada kasus tersebut?
E. Membantu lahirnya kepala
A. Lahirkan badan dan tungkai
60. Seorang perempuan, umur 25 tahun, G1P0A0,
aterm, kala I di Puskesmas. Hasil anamnesis: B. Lanjutkan meneran saat kontraksi
1 minggu yang lalu periksa kehamilan, ter-
catat lengkap di buku KIA. Hasil pemerik- C. Memegang kepala secara biparietal
saan: TD 120/80mmHg, N 90x/menit, P 20x/ D. Periksa apakah terdapat lilitan tali pusat
menit, S 36,7oC, TFU 34 cm, DJJ 128 x/menit,
penurunan kepala 3/5, kontraksi, 3x/10’/40”, E. Gerakkan kepala dengan lembut kearah
pembukaan 5 cm, ketuban positif. bawah
Dokumen catatan apakah yang harus dileng-
kapi pada kasus tersebut?
63. Seorang perempuan, umur 29 tahun, G1P0A0,
A. Partograf usia kehamilan 39 minggu, datang ke BPM
dengan keluhan keluar darah lendir. Hasil
B. Biodata pasien Pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, S 36.6°C,
C. Surat untuk rujukan N 80x/menit, P 18x/menit, DJJ (+) 144x/
menit, teratur, penurunan kepala 3/5, kontrak-
D. Pilihan tindakan persalinan si 3x/10’/35”, portio lunak, pembukaan 4cm,
ketuban positif.
E. Persetujuan tindakan (Informed consent)
Informasi tentang apakah yang paling awal
diberikan pada kasus tersebut?
61. Seorang perempuan, umur 30 tahun, G2P1A0, A. Teknik relaksasi
hamil 38 minggu, datang ke BPM menge-
luh mulas tak tertahankan. Hasil anamnesis: B. Posisi persalinan
sakit kepala dan penglihatan kabur. Riwayat
persalinan sebelumnya operasi atas indikasi C. Dukungan keluarga
preeklamsia. Hasil pemeriksaan: TD 150/90 D. Hasil pemeriksaan
mmHg, N 88x/menit, S 37,60C, P 20x/menit,
oedema tungkai, TFU 34 cm, DJJ 144x/menit, E. Rencana persalinan
penurunan kepala 4/5, kontraksi 3x/10’/40”,
portio kaku, pembukaan 1 cm, ketuban (+).

Pemeriksaan penunjang apakah yang paling 64. Seorang perempuan, umur 28 Tahun,
tepat pada kasus tersebut? G1P0A0, hamil 38 minggu, datang ke RS
dengan keluhan keluar darah lendir. Hasil
A. Leukosit anamnesis: rasa ingin BAB tetapi tidak mau
keluar, sakit pinggang sejak semalam, ru-
B. Haemoglobin mah dekat dengan RS. Hasil pemeriksaan:
C. Protein urine TD 120/80 mmHg, S 36.6°C, N 80x/menit, P
18x/menit, TFU 34 cm, DJJ (+) 144x/menit,
D. Reduksi urine teratur, penurunan kepala 4/5, portio datar,
pembukaan 1 cm, ketuban (+).
E. Golongan darah
Rencana tindakan apakah yang paling tepat
sesuai kasus tersebut?
62. Seorang perempuan umur 30 tahun, G1P0A0, A. Menawarkan ibu pulang hingga kontrak-
aterm, Kala II di BPM dipimpin meneran. si adekuat
Hasil pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, P
20x/menit, TFU 34 cm, DJJ 144x/menit, kon- B. Memantau persalinan kala I fase laten
traksi 4x/10’/45’’. Saat ini kepala janin telah
selesai putaran paksi luar. C. Persiapan induksi persalinan

37
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

D. Beri pencahar 80X/menit, P 20x/menit, S 36.80C, mammae


lembek, kolostrum (+), TFU 2 jari bawah pu-
E. Pasang infus sat, kontraksi uterus keras.

Pendidikan kesehatan apakah yang paling


65. Seorang perempuan, umur 30 tahun, paling tepat pada kasus tersebut?
G1P0A0, usia kehamilan 38 minggu, Kala II A. Tetap menyusui
di BPM sedang dipimpin meneran. Hasil pe-
meriksaan: TD 120/80 mmHg, S 36,7oC, N B. Istirahat yang cukup
90x/mnt, P 20x/menit, TFU 34 cm, DJJ 144x/
menit, teratur, kontraksi 4x/10’/45’’. Saat ini C. Perawatan payudara
kepala janin telah lahir tapi belum terjadi pu-
D. Teknik menyusui yang benar
taran paksi luar.
E. Makan makanan mengandung zat besi
Langkah selanjutnya apakah yang paling te-
pat pada kasus tersebut?

A. Periksa lilitan tali pusat 68. Seorang perempuan, umur 21 tahun, P1A0,
nifas 1 hari di puskesmas PONED tampak
B. Pegang secara biparietal sedih bila dekat dengan bayinya. Riwayat
C. Lakukan sanggah susur persalinan vakum ekstraksi dengan indikasi
kala II melampaui 60 menit. Hasil anamne-
D. Lahirkan bahu anterior sis: Berulang-ulang mengatakan kehamilan
dan persalinan ini menyiksa dirinya, ibu san-
E. Bersihkan muka bayi gat gelisah dan menolak menyusui. Hasil pe-
meriksaan: TD 110/70 mmHg, N 88 x/menit,
S 36,20 C,
66. Seorang perempuan, umur 30 tahun,
G1P0A0, aterm, datang ke Poskesdes untuk Sikap apakah yang paling tepat pada kasus
melahirkan. Hasil anamnesis: Riwayat persa- tersebut?
linan sebelumnya normal. Hasil pemeriksaan: A. Membiarkan pasien sendiri
KU baik, TD 120/80 mmHg, N 76 x/menit, S
36,5ºC, TFU 36 cm, puka, presentasi kepa- B. Memberikan dukungan psikologi
la, DJJ 140x/menit, teratur, kontraksi uterus
3x/10’/40“, lendir darah keluar dari vagina, C. Menganjurkan istirahat agar pikiran
pembukaan 6 cm, ketuban utuh, station -2, tenang
sutura sagitalis tumpang tindih.
D. Merujuk ibu untuk konsultasi dengan
Tanda bahaya apakah yang paling penting di psikolog
observasi pada kasus tersebut ?
E. Membujuk agar mau berinteraksi dengan
A. Inersia uteri bayinya

B. Ring bandle

C. Ruptur Uteri 69. Seorang laki-laki mengantar istrinya ke RS.


Hasil anamnesis: umur istri 20 tahun, P1A0,
D. Bradikardi nifas 7 hari, istri sering menangis, sulit tidur
dan menolak menyusui bayinya. Hasil anam-
E. Takhikardi nesis: riwayat persalinan bedah sesar. Ibu me-
nolak diperiksa dan tiba-tiba menangis.

67. Seorang perempuan, umur 24 tahun, P1A0, Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
nifas 1 hari di BPM, khawatir ASI tidak cuk- kasus tersebut?
up untuk kebutuhan bayinya. Hasil anamne- A. Stress
sis: ASI belum keluar, bayi menangis terus.
Hasil pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, N B. Psikosis
38
Program Studi DIII Kebidanan

C. Skizoprenia menyusu. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD


100/70 mmHg, S 38,80C, N 92x/menit, P 22x/
D. Ambivalensi menit, payudara keras, kemerahan dan nyeri
E. Depresi post partum saat dipalpasi.

Tindakan awal apakah yang paling tepat


pada kasus tersebut?
70. Seorang perempuan, umur 36 tahun, mela-
hirkan anak ke 5 di BPM dengan keluhan A. Kompres dingin
pusing setelah 30 menit plasenta lahir. Ha- B. Teruskan menyusui
sil Pemeriksaan: TD 90/60 mmHg, N 110x/
menit, P22x/menit, kontraksi uterus lembek, C. Beri parasetamol 500 mg
plasenta lahir lengkap, perdarahan 200cc. Ibu
tampak lemas dan pucat. D. Suntik antibiotika dosis rendah

Tindakan awal apakah yang paling tepat E. Gunakan penyangga payudara yang
pada kasus tersebut? nyaman

A. KBI/KBE

B. Pasang infus 73. Seorang perempuan, umur 26 tahun, P2A0


nifas 5 hari, datang ke BPM dengan keluhan
C. Penuhi nutrisi payudara bengkak. Hasil anamnesis: nyeri
jika disentuh, bayi tidak mau menyusu, ri-
D. Massage uterus wayat melahirkan normal, IMD tidak berha-
E. Pemberian uterotonika sil. Hasil pemeriksaan: TD 110/70mmhg, S
37,5⁰C, P 20x/menit, N 82x/menit, tampak
puting susu masuk kedalam, payudara tegang
dan keras.
71. Seorang perempuan, umur 22 tahun, P2A0
nifas 14 hari, datang ke BPM dengan kelu- Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
han demam sejak dua hari yang lalu. Ha- kasus tersebut?
sil anamnesis: riwayat melahirkan normal,
payudara bengkak, tegang dan nyeri, bayi A. Abses payudara
tidak mau menyusu. Hasil pemeriksaan: TD B. Infeksi mammae
100/70 mmHg, S 38.80C, N 92x/menit, P 22x/
menit, payudara keras, kemerahan dan nyeri C. Bendungan ASI
saat dipalpasi.
D. Retraksi nipple
Diagnosis mungkin apakah yang paling tepat
pada kasus tersebut? E. Mastitis

A. Tumor

B. Abses 74. Seorang perempuan, umur 26 tahun, P1A0,


datang ke BPM dengan keluhan nyeri pada
C. Mastitis kaki sebelah kanan sejak 1 hari ini. Hasil an-
amnesis: melahirkan 3 hari lalu di BPM den-
D. Retraksi puting gan riwayat partus lama dan nyeri pada luka
E. Bendungan ASI jahitan sehingga takut jalan. Hasil pemerik-
saan : KU baik, TD 110/80 mmHg, N 92x/
menit, S 38,5 0C, P 20 x/menit, kaki kanan
bengkak warna merah, nyeri bila ditekan
72. Seorang perempuan, umur 22 tahun, P2A0, dan digerakkan, TFU setengah pusat sim-
nifas 14 hari, datang ke RS dengan keluhan fisis, kontraksi uterus baik, lochea rubra,
demam sejak dua hari yang lalu. Hasil anam- luka jahitan perineum bersih dan kering.
nesis: riwayat melahirkan normal, payudara
bengkak, tegang dan nyeri, bayi tidak mau
39
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

Diagnosis apakah yang paling mungkin ses- 77. Seorang perempuan, umur 26 tahun, P2A1
uai kasus tersebut? nifas 3 hari dikunjungi bidan ke rumah. Hasil
anamnesis: keluar darah banyak. Hasil pe-
A. Trombophlebitis meriksaan: TD 110/70 mmHg, S 380C, N 84
B. Haematoma x/menit, P 19 x/menit, TFU 1 jari bawah pu-
sat, kontraksi uterus lembek, kandung kemih
C. Varices penuh dan tegang, lochea rubra.

D. Selulitis Diagnosis apakah yang paling mungkin pada


kasus tersebut?
E. Abses
A. Distensi kandung kemih

B. Infeksi kandung kemih


75. Seorang perempuan, umur 22 tahun, P1A0,
nifas 4 hari, datang ke BPM mengeluh nyeri C. Infeksi saluran kemih
puting susu saat menyusui. Hasil anamnesis:
ASI cukup. Hasil pemeriksaan: TD 100/70 D. Subinvolusio
mmHg, N 80 x/menit,P 22 x/menit, S 36,50 C, E. Infeksi nifas
kedua payudara keras dan puting susu lecet,
TFU 1/2 pusat simfisis, kontraksi uterus baik,
lochea rubra.
78. Seorang perempuan, umur 26 tahun, P2A0
Tindakan apakah yang paling tepat pada ka- nifas 3 hari, datang ke BPM dengan keluhan
sus tersebut? kepala pusing sejak 1 hari yang lalu. Hasil an-
amnesis: riwayat melahirkan secara spontan,
A. Menganjurkan sementara tidak menyusui perdarahan banyak setelah melahirkan, dan
B. Mengajarkan posisi menyusui lemas. Hasil pemeriksaan: TD 90/60 mmHg,
N 92x /menit, P 20x/menit, S 36,2 0 C, TFU
C. Menganjurkan memerah ASI 2 jari bawah pusat, kontraksi uterus baik, lo-
chea rubra, Hb 10 gr/dL.
D. Memberi salep antibiotika
Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
E. Memberi obat anti nyeri kasus tersebut?

A. Trombocitopenia
76. Seorang perempuan, umur 28 tahun, P2A0 B. Leukocitopenia
nifas 2 hari di RS. Hasil anamnesis: Ibu mera-
sa pusing dan lemas sejak 2 hari ini, riwayat C. Thalasemia
melahirkan spontan dan perdarahan post par-
tum 600 cc. Hasil pemeriksaan: KU tampak D. Leukemia
pucat, TD 100/70 mmHg, N 88x /menit, P 19 E. Anemia
x/menit, S 36,60C, TFU 2 jari bawah pusat,
kontraksi uterus baik, lochea rubra.

Pemeriksaan penunjang apakah yang paling 79. Seorang perempuan, umur 25 tahun, P3A0
tepat pada kasus tersebut? nifas 8 jam di Puskesmas, riwayat HPP 400
cc. Hasil anamnesis: pusing dan lemas. Ha-
A. Gula darah sil pemeriksaan: TD 110/80 mmHg, N 88
B. Kimia darah x/menit, P20 x/menit, S 36,90C, TFU 2 jari
bawah pusat, uterus teraba lembek, kandung
C. Biakan darah kemih kosong, jumlah darah satu pembalut
penuh.
D. Haemoglobin
Rencana asuhan apakah yang paling tepat
E. Urine lengkap pada kasus tersebut?

40
Program Studi DIII Kebidanan

A. Beri analgetika. 82. Seorang perempuan, umur 27 tahun, P1A0,


nifas 14 hari, datang ke BPM dibawa kel-
B. Observasi tanda vital uarganya karena kejang. Hasil anamnesis:
C. Observasi perdarahan persalinan ditolong dukun, tidak ada riwayat
kejang sebelumnya. Hasil pemeriksaan: TD
D. Penuhi kebutuhan nutrisi 120/70 mmHg, N 80 x/menit, P 20 x/menit,
S 37,80C, mulut mencucut, punggung me-
E. Observasi keadaan umum lengkung, perut keras. TFU tidak teraba.

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada


80. Seorang perempuan, umur 35 tahun, P4A0 kasus tersebut?
nifas 10 hari, datang ke BPM dengan keluhan A. Eklamsia
demam sejak 2 hari yang lalu. Hasil anamne-
sis: payudara nyeri dan terasa bengkak sejak 3 B. Epilepsi
hari yang lalu. Hasil pemeriksaan: TD 100/70
mmHg, N 100 x/menit, P 24 x/menit, S 38,50 C. Tetanus
C, payudara keras dan kemerahan meradang. D. Shock sepsis
Diagnosis yang paling mungkin pada kasus E. Meningitis
tersebut ?

A. Mastitis
83. Seorang perempuan, umur 25 tahun, P2A0,
B. Infeksi nifas melahirkan 2 bulan yang lalu, datang ke
C. Engorgement BPM dengan keluhan keputihan. Hasil anam-
nesis: gatal-gatal di sekitar area genetalia, be-
D. Bendungan ASI lum haid, menyusu ekslusif. Sudah sanggama
sejak nifas 40 hari. Hasil pemeriksaan: TD
E. Abses Payudara 120/70 mmHg, N 78 x/menit, P 22 x/menit,
keputihan berwarna kuning kehijauan.

81. Seorang perempuan, umur 23 tahun, P1A0, Penyebabnya apakah yang paling mungkin
nifas 7 hari, datang ke BPM mengeluh perda- pada kasus tersebut?
rahan satu hari yang lalu. Hasil anamnesis: A. Trikomoniasis
darah keluar sedikit berwarna kecoklatan.
Hasil pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, N 88 B. Kandidiasis
x/menit, P 20 x/menit, S 36,20 C, TFU 1/2 pu-
sat simfisis, tampak gumpalan dengan jumlah C. Klamedia
darah sekitar 200 cc. Bidan belum pernah D. Gonore
memiliki pengalaman menangani ibu dengan
perdarahan post partum sekunder. E. Sifilis
Tindakan apakah yang paling tepat dilaku-
kan pada kasus tersebut?
84. Seorang perempuan, umur 25 tahun, P1A0,
A. Memasang infus nifas 2 minggu, datang ke puskesmas dengan
keluhan demam. Hasil anamnesis: sakit kepa-
B. Merujuk ke rumah sakit la, nyeri otot, dan kurang nafsu makan. Hasil
C. Melakukan eksplorasi uterus pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, N 82 x/me-
nit, P 22 x/menit, S 38 oC,TFU tidak teraba,
D. Berkonsultasi dengan bidan yang lebih rapid diagnosis test/RDT (+).
senior
Masalah apakah yang paling mungkin pada
E. Mempelajari kembali buku sumber untuk kasus tersebut?
penanganan HPP

41
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

A. Malaria 87. Seorang bayi perempuan baru lahir di bidan


praktik mandiri. Riwayat kelahiran: anak per-
B. Tifoid tama, usia gestasi 38 minggu, kala II lama.
C. Dengue Hasil pemeriksaan: Bayi lahir tidak segera
menangis, kulit jari-jari ekstremitas kebiruan,
D. Mastitis tonus otot lemas.

E. Influenza Diagnosis apakah yang paling mungkin ter-


jadi pada kasus tersebut?

A. Gangguan fungsi motorik


85. Seorang bayi laki-laki, lahir normal, IMD
tidak berhasil, 2 hari yang lalu di RS. Hasil B. Masalah vaskularisasi
pemeriksaan: BB 3000 gram, PB 49 cm. Ti-
dak ditemukan kelainan kongenital, S 370C. C. Kelainan jantung
Saat ini sedang diperiksa releks dengan cara D. Asfiksia
menyentuh bagian pipi bayi. Hasilnya, mulut
bayi mengikuti arah jari. E. Apneu
Jenis refleks apakah yang ditunjukkan bayi
pada kasus tersebut?
88. Seorang bayi perempuan, umur 3 hari, diba-
A. Rooting wa ibunya ke BPM untuk kontrol. Hasil an-
amnesis: malas menyusu, BAB dan BAK lan-
B. Grasping car. Hasil pemeriksaan: tampak kuning pada
C. Babinski muka, leher, sampai ke pusat, FJ 110 x/menit,
P 40 x/menit, S 370C.
D. Sucking
Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
E. Moro kasus tersebut?

A. Ikterus fisiologis

86. Seorang bayi laki-laki, anak kedua baru dila- B. Jaundice patologis
hirkan 6 jam yang lalu di RS secara spontan.
Riwayat kelahiran: bayi bernafas spontan, C. Bayi normal
usia gestasi 40 minggu, inisiasi menyusu dini D. Kern ikterus
berhasil, Bayi sudah BAK 1 kali, PB 48 cm,
BB 2600 gram. Telah diberikan suntikan Vit E. Letargi
K1

Asuhan apakah yang paling tepat pada kasus


tersebut? 89. Seorang balita, umur 2 tahun, dibawa ibunya
ke puskesmas dengan keluhan mencret yang
A. Memandikan belum sembuh sejak 2 minggu yang lalu.
Hasil anamnesis: balita masih mau minum
B. Melanjutkan IMD dan makan, BAB 3-4 kali sehari, konsistensi
C. Memfasilitasi rooming in cair, tidak ada darah dalam tinja, minum dan
makan biasa. Hasil pemeriksaan: kesadaran:
D. Melakukan pencatatan surat keterangan CM, S 37°C, P 34x/menit, mata tidak cekung,
lahir turgor kulit kembali cepat

E. Memberikan suntikan imunisasi Hepati- Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
tis B0 kasus tersebut?

A. Disentri

B. Diare persisten

42
Program Studi DIII Kebidanan

C. Diare tanpa dehidrasi 92. Seorang bayi laki-laki, umur 1 tahun, dibawa
ibunya ke puskesmas dengan keluhan men-
D. Diare dengan dehidrasi berat cret sejak 2 hari yang lalu. Hasil anamnesis:
E. Diare dengan dehidrasi sedang bayi rewel, BAB 3-5 kali sehari, konsistensi
cair, tidak ada darah dalam tinja, minum ban-
yak. Hasil pemeriksaan: kesadaran: CM, BB
8,5 Kg, PB 74 cm, S 37,5°C, P 36 x/menit,
90. Seorang bayi laki-laki, umur 1 tahun, dibawa mata tidak cekung, turgor kulit kembali cepat.
ibunya ke posyandu untuk penimbangan. Ha-
sil anamnesis: bayi belum bisa berjalan. Hasil Rencana asuhan apakah yang paling tepat
pemeriksaan: kesadaran: CM, BB 9 Kg, PB pada kasus tersebut?
75 cm, S 36,7°C, P 32x/menit. Hasil jawaban
ya pada Kuesioner Pra Skrining Perkemban- A. Pemberian zink selama 1 minggu
gan (KPSP) berjumlah 7. B. Pemberian teh manis
Kesimpulan tumbuh kembang apakah yang C. Pemberian antipiretik
tepat pada kasus tersebut?
D. Pemberian antibiotik
A. Pertumbuhan normal dan perkembangan
menyimpang E. Pemberian oralit
B. Pertumbuhan normal dan perkembangan
meragukan
93. Seorang bayi perempuan, umur 1 tahun, diba-
C. Pertumbuhan kurang dan perkembangan wa ibunya ke puskesmas dengan keluhan
meragukan demam sejak 3 hari yang lalu. Hasil anamne-
sis: bayi rewel, tidak ada batuk pilek, meny-
D. Pertumbuhan dan perkembangan tidak usu kuat. Hasil pemeriksaan: BB 8,5 Kg, PB
normal 75 cm, S 37,8°C, P 30 x/menit, tampak ruam
E. Pertumbuhan dan perkembangan sesuai merah kecoklatan di sekitar telinga, kepala
usia dan leher, mata tidak merah, tidak ada luka
pada mulut.

Rencana asuhan apakah yang paling tepat


91. Seorang bayi laki-laki, umur 2 tahun, dibawa pada kasus tersebut?
ibunya ke posyandu untuk penimbangan. Ha-
sil anamnesis: bayi sehat tidak ada keluhan. A. Pemberian salep mata
Hasil pemeriksaan: kesadaran: CM, BB 10,5 B. Rujuk ke rumah sakit
Kg, PB 84 cm, S 36,8°C, P 30 x/menit. Ha-
sil jawaban ya pada Kuesioner Pra Skrining C. Pemberian antipiretik
Perkembangan (KPSP) berjumlah 8.
D. Pemberian antibiotik
Tindakan apakah yang paling tepat dilaku-
kan pada kasus tersebut? E. Pemberian vitamin A

A. Anjurkan konsultasi dengan dokter sesi-


alis anak 94. Seorang bayi laki-laki, umur 6 bulan, dibawa
B. Penimbangan kembali 1 bulan yang akan ibunya ke posyandu untuk penimbangan. Ha-
datang sil anamnesis: bayi sehat, tidak ada keluhan,
serta menyusu kuat, riwayat imunisasi sebel-
C. Evaluasi perkembangan 3 bulan kemu- umnya BCG, Polio 1-4, DPT 1-3, Hep.B 1-3.
dian Hasil pemeriksaan: kesadaran: CM, BB 7,5
Kg, PB 66 cm, S 36,8°C, P 34 x/menit, jawa-
D. Evaluasi KPSP ulang 2 minggu kemudi- ban ya pada KPSP adalah 9.
an
Umur berapakah bayi tersebut dijadwalkan
E. Konsultasi dengan ahli gizi dipantau kembali tumbuh kembangnya?
43
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

A. 7 bulan baru lahir 1 jam pertama. Hasil pemeriksaan :


BB 3500gram, PB 55 cm, Frekuensi Jantung
B. 8 Bulan 110x/menit, S 37OC, gerak aktif, tonus otot
C. 9 bulan baik.

D. 10 bulan Rencana prioritas apakah yang paling tepat


pada kasus tersebut?
E. 11 bulan
A. Pemeriksaan fisik bayi

B. Berikan identitas pada Bayi


95. Seorang bayi perempuan, umur 2 tahun, diba-
wa ibunya ke puskesmas dengan keluhan C. Berikan Suntikan Vitamin K1
batuk sejak 1 bulan . Hasil anamnesis: batuk
D. Menyuntikkan imunisasi Hb0
tidak disertai pilek, tidak ada demam, batuk
berdahak, riwayat imunisasi dasar lengkap, E. Lakukan pengukuran antropometri
makan 3x/sehari porsi sedang. Hasil pemer-
iksaan: BB 10 Kg, PB 84 cm, S 37°C, P 34x/
menit.
98. Seorang perempuan baru saja melahirkan
Rencana asuhan apakah yang paling tepat bayi 1 menit yang lalu di Klinik Bersalin,
pada kasus tersebut? umur kehamilan aterm, bayi menangis kuat,
warna kulit merah, bayi mulai mencari puting
A. Kolaborasi untuk pemberian antobiotik susu. Setelah 1 jam dilakukan pemeriksaan
antropometri dengan hasil: BB bayi 3800
B. Rujuk untuk pemeriksaan lanjutan gram, PB 56 cm, kulit lanugo sedikit, LK: 34
C. Pemberian jeruk nipis dan kecap cm, LD: 35 cm. \

D. Pemberian obat batuk yang aman Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
kasus tersebut?
E. Pemberian pelega tenggorokan
A. Bayi baru lahir normal

B. Bayi baru lahir dismatur


96. Seorang Bidan menolong persalinan secara
spontan, bayi menangis kuat, kulit kemerah- C. Bayi baru lahir prematur
an, pergerakan aktif. Hasil pemeriksaan pada
D. Bayi baru lahir post matur
bayi: BB 3600 gram, PB 49 cm, terdapat
pembengkakan pada kepala, teraba lunak, E. Bayi baru lahir dengan obesitas
batas tidak jelas, melewati sutura, dan berisi
cairan limfe.

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada 99. Seorang bayi perempuan lahir spontan 1 jam
kasus tersebut? yang lalu di RS, Hasil anamnesis: gerakan
aktif, berat badan 2500 gram, panjang badan
A. Cephal hematoma 48 cm, pernapasan 50 x/menit, dengan usia
kehamilan saat lahir 37 minggu. Hasil pemer-
B. Caput succedanium iksaan tidak ditemukan kelainan, daya hisap
C. Perdarahan intracranial kuat, reflek hisap bagus, frekuensi jantung
120x/menit, S 37OC
D. Perdarahan subaponeurotik
Rencana asuhan apakah yang harus diberi-
E. Penumpukan cairan cerebrospinal kan pada bayi pada kasus tersebut?

A. Rawat gabung

97. Seorang bayi laki-laki lahir lahir 2 jam yang B. Berikan oksigen
lalu di klinik dan sudah dilakukan IMD sela-
ma 1 jam dan telah mendapatkan asuhan bayi C. Berikan antibiotik
44
Program Studi DIII Kebidanan

D. Berikan kortikosteroid Asuhan yang harus diberikan kepada bayi


pada kasus tersebut?
E. Rawat dalam inkubator
A. Lakukan perawatan metode kanguru

B. Letakkan dibawah lampu


100. Seorang bayi laki-laki lahir spontan, aterm 4
jam yang lalu di Puskesmas. Berat lahir 2550 C. Berikan infus dekstrose
gram, panjang badan 50 cm, ASI keluar lan-
car, hisapan bayi kuat. Hasil Pemeriksaan: D. Berikan antibiotik
menangis kuat, warna kemerahan, gerakan
E. Rujuk segera
aktif, frekuensi jantung 120x/menit, S 37OC.

Rencana asuhan apakah yang diberikan ses-


uai kasus tersebut? 103. Seorang bayi laki-laki lahir spontan 2 jam
yang lalu di Rumah sakit, BB 2400 gr, PB
A. Memandikan bayi 47 cm,. Usia kehamilan 36 minggu. Hasil
B. Memberikan Vit K1 1 mg pemeriksaan: Frekuensi jantung 110x/menit,
Terdapat banyak lanugo, reflex belum sem-
C. Memberikan Imunisasi Hb0 purna.

D. Mendukung pemberian ASI on deman Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
kasus tersebut?
E. Memberikan Eritromicyn 1% sebagai
profilaksis A. Immatur

B. Dismatur

101. Seorang bayi perempuan baru saja dilahir- C. Prematur


kan spontan, dengan riwayat usia gestasi 40 D. Post matur
minggu di RB. Hasil Pemeriksaan: KU baik,
BB lahir 3000 gram, PB 50 cm, S 36°C, N E. Matur
125x/menit, badan dan ekstremitas berwarna
merah, menangis kuat, gerakan sedikit, bersin
saat dilakukan rangsangan taktil. 104. Seorang perempuan umur 24 tahun datang ke
Berapakah nilai Apgar Skor bayi sesuai ka- BPM untuk menggunakan alat kontrasepsi.
sus? Hasil anamnesis: telah melahirkan 1 bulan
yang lalu, anak 1, menyusui bayinya secara
A. 6 ekslusif. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD
120/80 mmHg, N 90x/menit, P 24x/menit S
B. 7 36,70C, tanda-tanda kemungkinan hamil (-),
terdapat varises di kaki.
C. 8
Alat kontrasepsi apakah yang paling sesuai
D. 9
pada kasus tersebut?
E. 10
A. AKDR

B. AKBK
102. Seorang bayi perempuan lahir 2 jam yang
lalu di rumah. Hasil anamnesis: Bayi meny- C. MOW
usu kuat, BAK lancar, BAB 3x/sehari. Hasil D. Pil kombinasi
pemeriksaan: BB lahir 2400 gram, PB 46 cm,
S 350C, Frekuensi Jantung 120x/menit, re- E. Suntik kombinasi
fleks hisap kuat, dan pemeriksaan fisik tidak
ditemukan kelainan.

45
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

105. Seorang perempuan umur 25 tahun datang ke A. Pil


BPM. Mengeluh ingin memakai kontrasepsi
tetapi yang tidak mengganggu produksi ASI. B. IUD
Hasil anamnesis: mengaku melahirkan 6 bu- C. Suntik
lan yang lalu dan selama ini memberikan ASI
ekslusif dan belum pernah haid. Berdasarkan D. Kondom
hasil pemeriksaan Hasil pemeriksaan: KU
baik, TD 150/100 mmHg, N 90x/menit, P E. Metode kalender
24x/menit S 36,70C.

Alat kontrasepsi apakah yang paling tepat 108. Seorang perempuan, umur 27 tahun, akseptor
sesuai kasus tersebut? IUD, datang ke BPM dengan keluhan sejak
A. MAL 2 bulan yang lalu tidak haid. Hasil anamne-
sis: nyeri perut bagian bawah, perut terasa
B. AKBK membesar. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD
120/80 mmHg, N 90x/menit, P 24x/menit S
C. AKDR 36,70C, palpasi TFU belum teraba, inspekulo
D. Mini Pil benang IUD masih terlihat.

E. Suntik 3 bulan Tindakan awal apakah yang paling tepat


dilakukan pada kasus tersebut?

A. Mencabut IUD
106. Seorang perempuan umur 30 tahun datang ke
BPM. Mengatakan ingin memakai kontrasep- B. Memberikan konseling
si untuk mengatur jarak kehamilan yang tidak C. Melakukan tes kehamilan
mengganggu ASI. Hasil anamnesis: melahir-
kan anak pertama 6 bulan yang lalu, selama D. Memberikan terapi hormon
ini memberikan ASI ekslusif dan belum per-
nah haid. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD E. Merujuk ke dokter kandungan
120/80 mmHg, N 90x/menit, P 24x/menit S
36,70 C.
109. Seorang perempuan, umur 36 tahun, P1A0,
Alat kontrasepsi apakah yang paling tepat akseptor KB pil, datang ke BPM karena lupa
untuk kasus diatas? minum pil selama 2 hari berturut-turut. Hasil
A. Suntik 1 bulan anamnesis: 10 jam yang lalu sudah berhubun-
gan dengan suaminya, ibu merasa khawatir
B. Suntik 3 bulan takut hamil. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD
120/80 mmHg, N 90x/menit, P 24x/menit S
C. Pil kombinasi bifasik 36,70C.
D. Pil kombinasi trifasik Tindakan apakah yang paling tepat dilaku-
E. Pil kombinasi minifasik kan pada kasus tersebut?

A. Memberi suntikan KB

107. Seorang perempuan umur 20 tahun datang B. Memberikan konseling


bersama suaminya, ke BPM. Mengatakan in- C. Melakukan tes kehamilan
gin ber-KB. Hasil anamnesis: baru menikah
1 bulan yang lalu, ingin menunda kehamilan D. Memberikan kontrasepsi darurat
selama 3 tahun. KU baik, TD 120/80 mmHg,
N 90x/menit, P 24x/menit S 36,70C, tidak ada E. Menganjurka
tanda-tanda kehamilan, PP test (-).

Alat kontrasepsi apakah yang paling tepat


pada kasus tersebut?
46
Program Studi DIII Kebidanan

110. Seorang perempuan, umur 28 tahun, aksep- A. Lanjutkan minum pil sesuai jadwal
tor KB pil, datang ke BPM dengan keluhan
selama 3 bulan ini mengeluarkan bercak da- B. Ganti cara kontrasepsi
rah berwarna merah kecoklatan dari jalan la- C. Minum 2 pil sekaligus
hir. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD 120/80
mmHg, N 90x/menit, P 24x/menit, S 36,70C, D. Berhenti minum pil
tidak ada masa pada abdomen, tampak bercak
darah (+). E. Minum pil kondar

Efek samping apakah yang sedang dialami


pada kasus tersebut? 113. Seorang perempuan, umur 28 tahun, datang
A. Spotting ke BPM dengan keluhan batang susuk kelu-
ar. Hasil anamnesis: ppemasangan KB susuk
B. Menoragia dilakukan 2 hari yang lalu. Hasil pemeriksaan:
KU baik, TD 110/80 mmHg, P 22 x/menit, N
C. Metroragia 84 x/menit, S 36,80C, tampak implan di ujung
D. Haemoragia luka pemasangan, tidak ada tanda- infeksi.

E. Menometroragia Tindakan apakah yang paling tepat pada ka-


sus tersebut?

A. Konseling pasca pemasangan


111. Seorang perempuan, umur 25 tahun, ak-
septor KB pil, datang bersama keluarga ke B. Menyarankan untuk mengganti metode
puskesmas dengan keluhan muntah-muntah. C. Mencabut dan mengganti batang susuk
Hasil anamnesis: baru menggunakan pil 3,5
bulan yang lalu, muntah disertai diare, ti- D. Kolaborasi dengan dokter untuk penan-
dak memakan makanan yang menyebabkan gannnya
diare. Hasil pemeriksaan: KU ibu baik, TD
100/60 mmHg, N 70x/menit, P 28x/menit, S E. Membiarkan batang susuk dan segera
37,0C, tidak teraba masa pada abdomen. rujuk ke RS

Rencana asuhan apakah yang paling tepat


dilakukan pada kasus tersebut? 114. Seorang perempuan, umur 30 tahun, P2A0,
A. Anjurkan untuk berhenti minum pil nifas 6 minggu datang ke BPM untuk kon-
sultasi. Hasil anamnesis: tidak cocok meng-
B. Rawat inap untuk observasi fisik gunakan metode hormonal, suami bekerja di
luar kota, berencana memberikan ASI eksk-
C. Memberikan obat anti mual lusif, memiliki riwayat infeksi panggul dan
D. Mengganti kontrasepsi dismenorhoe, sudah mendapatkan haid dan
belum berhubungan seksual. Hasil pemerik-
E. Rujuk ke RS saan: KU baik, TD 120/70 mmHg, N 80 x/
menit, S 370C, P 20 x/menit, TFU tidak ter-
aba.
112. Seorang perempuan, umur 28 tahun, P2A0, Metode kontrasepsi apakah yang paling te-
akseptor KB pil, datang bersama keluar- pat pada kasus tersebut?
ga ke RS dengan keluhan lupa minum pil 2
hari. Hasil anamnesis: anak terkecil 3 tahun, A. MAL
menstruasi teratur setiap bulan, ibu merasa
khawatir. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD B. AKDR
110/70 mmHg, N 80x/menit, P 24x/menit, S C. Kondom
36,80C, tidak ada massa pada abdomen.
D. Metode kalender
Rencana asuhan apakah yang paling tepat
dilakukan pada kasus tersebut? E. Senggama terputus
47
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

115. Seorang perempuan, umur 37 tahun, P5A1, Pendidikan kesehatan apakah yang paling te-
datang ke BPM bersama suaminya untuk pat untuk kasus tersebut?
berkonsultasi mengenai metode KB. Ha-
sil anamnesis: menstruasi teratur, siklus 28 A. Terapi hormon pengganti untuk mengu-
hari, anak terkecil 2 tahun, memiliki riwayat rangi gejala menopause
preeklamsia dan perdarahan postpartum serta B. Perubahan hormonal selama masa peri-
berencana tidak ingin menambah anak. Ha- menopause
sil pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, N 80 x/
menit, P 20 x/menit, abdomen tidak teraba C. Diet tinggi kalsium untuk mencegah
massa. osteoporosis
Metode kontrasepsi apakah yang paling te- D. Olahraga teratur untuk memperkuat
pat pada kasus tersebut? tulang
A. AKDR E. Pemakaian kontrasepsi hormonal
B. AKBK

C. Suntik 118. Seorang perempuan, umur 45 tahun, datang


ke BPM mengeluh terlambat haid 2 bulan.
D. MOW Hasil anamnesis: haid tidak teratur sejak 6
E. Kondom bulan terakhir, akseptor AKDR, sering mera-
sakan panas, memerah, dan berkeringat pada
wajah. Hasil pemeriksaan: TD 120/80 mmHg,
116. Seorang perempuan, umur 32 tahun, P2A0, N 80 x/menit, S 36,5°C, abdomen tidak tera-
nifas 6 minggu, datang ke BPM untuk kon- ba adanya massa.
sultasi KB. Hasil anamnesis: berencana ASI
eksklusif, riwayat infeksi panggul, dismenor- Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
hoe, belum haid dan belum berhubungan kasus tersebut?
seksual. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD A. Perimenopause
170/100 mmHg, N 80 x/menit, S 370C, P 20
x/menit, TFU tidak teraba. B. Polimenorhoe

Metode kontrasepsi apakah yang tepat pada C. Menopause


kasus tersebut?
D. Amenorhoe
A. MAL
E. Hamil
B. AKDR

C. AKBK
119. Seorang perempuan, umur 48 tahun, datang
D. Suntik ke posyandu dengan keluhan menstruasi
yang sangat banyak. Hasil anamnesis: sering
E. Pil merasa pusing dan lemas, sudah menstruasi
selama 10 hari, siklus haid tidak teratur 2-3
bulan, kadang sulit tidur, dan gelisah, aksep-
117. Seorang perempuan, umur 48 tahun, datang tor AKDR. Hasil pemeriksaan: TD 120/80
ke Posbindu dengan keluhan haid yang tidak mmHg, N 92x/menit, P 20x/menit, S 370C,
teratur sejak 6 bulan terakhir. Hasil anamne- abdomen tidak teraba massa, inspekulo tam-
sis: haid terakhir 2 bulan yang lalu, akseptor pak darah mengalir dari OUI.
AKDR, sering susah tidur, banyak berkerin-
gat di malam hari, serta ibu merasa sangat Penyebab apakah yang paling mungkin pada
khawatir. Hasil pemeriksaan: TD 130/90 kasus tersebut?
mmHg, N 88 x/menit, S 36,7°C, abdomen ti- A. Infeksi
dak teraba adanya massa, PP test (-).
48
Program Studi DIII Kebidanan

B. Neoplasia 75 cm, S 36,7°C, P 32x/menit. Hasil jawaban


ya pada kuesioner pra skrining perkemban-
C. Menopause gan (KPSP) berjumlah 7.
D. Gangguan hormonal Kesimpulan tumbuh kembang apakah yang
E. Penggunaan kontrasepsi tepat pada kasus tersebut?

A. Pertumbuhan normal dan perkembangan


menyimpang
120. Seorang perempuan, umur 48 tahun, datang
ke Puskesmas mengeluh haid sangat banyak. B. Pertumbuhan normal dan perkembangan
Hasil anamnesis: pusing, lemas, haid selama meragukan
10 hari, siklus tidak teratur, akseptor AKDR. C. Pertumbuhan kurus dan perkembangan
Hasil pemeriksaan: TD 90/60 mmHg, N meragukan
100x/menit, P 24x/menit, S 370C, abdomen
tidak teraba massa, darah mengalir dari OUI, D. Pertumbuhan dan perkembangan tidak
pemeriksaan lab Hb 8 gr%. normal
Tindakan awal apakah yang paling tepat E. Pertumbuhan dan perkembangan sesuai
pada kasus tersebut? usia
A. Rujuk ke RS

B. Pasang infus 123. Seorang bayi laki-laki, umur 2 tahun, diba-


wa ibunya ke posyandu untuk penimbangan.
C. Tranfusi darah Hasil anamnesis: bayi sehat tidak ada kelu-
D. Memberikan pil KB han. Hasil pemeriksaan: kesadaran: CM, BB
10,5 Kg, PB 84 cm, S 36,8°C, P 30 x/menit.
E. Memberikan tablet besi Hasil jawaban ya pada kuesioner pra skrining
perkembangan (KPSP) berjumlah 8.

Tindakan apakah yang paling tepat dilaku-


121. Seorang perempuan, umur 50 tahun, datang kan pada kasus tersebut?
ke Puskesmas mengeluh keputihan. Hasil
anamnesis: tidak gatal, encer, tidak berbau, A. Anjurkan konsultasi dengan dokter
tidak haid sejak 2 tahun yang lalu. Hasil pe- sesialis anak
meriksaan: TD 130/80 mmHg, N 84 x/menit,
S 36,8°C, abdomen tidak teraba massa dan B. Penimbangan kembali 1 bulan yang akan
tidak merasakan nyeri tekan. datang

Pemeriksaan apakah yang diperlukan untuk C. Evaluasi perkembangan 3 bulan


menegakkan diagnosis pada kasus tersebut? kemudian

A. Pap smear D. Evaluasi KPSP ulang 2 minggu


kemudian
B. Darah
E. Konsultasi dengan ahli gizi
C. Urin

D. IVA
124. Seorang bayi laki-laki, umur 1 tahun, dibawa
E. USG ibunya ke puskesmas dengan keluhan men-
cret sejak 2 hari yang lalu. Hasil anamnesis:
bayi rewel, BAB 3-5 kali sehari, konsistensi
122. Seorang bayi laki-laki, umur 1 tahun, dibawa cair, tidak ada darah dalam tinja, minum ban-
ibunya ke posyandu untuk penimbangan. Ha- yak. Hasil pemeriksaan: kesadaran: CM, BB
sil anamnesis: bayi belum bisa berjalan. Hasil 8,5 Kg, PB 74 cm, S 37,5°C, P 36 x/menit,
pemeriksaan: kesadaran: CM, BB 9 Kg, PB mata tidak cekung, turgor kulit kembali cepat.

49
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

Rencana asuhan apakah yang paling tepat 127. Seorang bayi laki-laki, umur 2 bulan, dibawa
pada kasus tersebut? ibunya ke BPM untuk kontrol. Hasil anamne-
sis: bayi sehat, serta menyusu kuat, riwayat
A. Pemberian zink selama 1 minggu imunisasi sebelumnya Polio 1 dan Hep.B0.
B. Pemberian teh manis Hasil pemeriksaan: BB 4 Kg, PB 53 cm, S
36,8°C, P 40 x/menit, FJ 128x/menit.
C. Pemberian antipiretik
Imunisasi apakah yang paling tepat diberi-
D. Pemberian antibiotik kan pada kasus tersebut?

E. Pemberian oralit A. BCG

B. DPT 1

125. Seorang bayi perempuan, umur 1 tahun, diba- C. HiB


wa ibunya ke puskesmas dengan keluhan
demam sejak 3 hari yang lalu. Hasil anamne- D. Hep.B 1
sis: bayi rewel, tidak ada batuk pilek, meny- E. Hep B 0
usu kuat. Hasil pemeriksaan: BB 8,5 Kg, PB
75 cm, S 37,8°C, P 30 x/menit, tampak ruam
merah kecoklatan di sekitar telinga, kepala
dan leher, mata tidak merah, tidak ada luka
pada mulut. 128. Seorang bayi perempuan, umur 1 tahun,
Rencana asuhan apakah yang paling tepat dibawa ibunya ke posyandu untuk imunisasi.
pada kasus tersebut? Hasil anamnesis: bai masih diberikan ASI, ri-
wayat imunisasi sebelumnya BCG, Polio 1-4,
A. Pemberian salep mata DPT 1-3, Hep.B 0,1-3. Hasil pemeriksaan:
BB 9 Kg, PB 74 cm, S 37°C, P 30x/menit.
B. Rujuk ke rumah sakit
Imunisasi apakah yang paling tepat diberi-
C. Pemberian antipiretik kan pada kasus tersebut?
D. Pemberian antibiotik A. Campak
E. Pemberian vitamin A B. Polio

C. Hep.B
126. Seorang bayi laki-laki, umur 6 bulan, dibawa D. DPT
ibunya ke posyandu untuk penimbangan. Ha-
sil anamnesis: bayi sehat, tidak ada keluhan, E. HiB
serta menyusu kuat, riwayat imunisasi sebel-
umnya BCG, Polio 1-4, DPT 1-3, Hep.B 1-3.
Hasil pemeriksaan: kesadaran: CM, BB 7,5 129. Seorang bayi perempuan, umur 2 tahun, diba-
Kg, PB 66 cm, S 36,8°C, P 34 x/menit, jawa- wa ibunya ke puskesmas dengan keluhan
ban ya pada KPSP adalah 9. batuk sejak 1 bulan . Hasil anamnesis: batuk
Umur berapakah jadwal kunjungan ulang tidak disertai pilek, tidak ada demam, batuk
pada kasus tersebut? berdahak, riwayat imunisasi dasar lengkap,
makan 3x/sehari porsi sedang. Hasil pemer-
A. 7 bulan iksaan: BB 10 Kg, PB 84 cm, S 37°C, P 34x/
menit.
B. 8 Bulan
Rencana asuhan apakah yang paling tepat
C. 9 bulan pada kasus tersebut?
D. 10 bulan A. Kolaborasi untuk pemberian antobiotik
E. 11 bulan B. Rujuk untuk pemeriksaan lanjutan
50
Program Studi DIII Kebidanan

C. Pemberian jeruk nipis dan kecap cm, LD : 35 cm.

D. Pemberian obat batuk yang aman Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
kasus tersebut?
E. Pemberian pelega tenggorokan
A. Bayi baru lahir normal

B. Bayi baru lahir dismatur


130. Seorang Bidan menolong persalinan secara
spontan, bayi menangis kuat, kulit kemerah- C. Bayi baru lahir prematur
an, pergerakan aktif. Hasil pemeriksaan pada
bayi: BB 3600 gram, PB 49 cm, terdapat D. Bayi baru lahir post matur
pembengkakan pada kepala, teraba lunak,
E. Bayi baru lahir dengan obesitas
batas tidak jelas, melewati sutura, dan berisi
cairan limfe.

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada 133. Seorang bayi perempuan lahir spontan 1 jam
kasus tersebut? yang lalu di RS, gerakan aktif, berat badan
2500 gram, panjang badan 48 cm, pernapasan
A. Cephal hematoma 50 x/menit, dengan usia kehamilan saat lahir
B. Caput succedanium 37 minggu. Hasil pemeriksaan tidak ditemu-
kan kelainan, daya hisap kuat, reflek hisap
C. Perdarahan intracranial bagus, frekuensi jantung 120x/menit, S 37OC

D. Perdarahan subaponeurotik Rencana asuhan apakah yang harus diberi-


kan pada bayi pada kasus tersebut?
E. Penumpukan cairan cerebrospinal
A. Berikan oksigen

B. Berikan antibiotik
131. Seorang bayi laki-laki lahir lahir 2 jam yang
lalu di klinik dan sudah dilakukan IMD sela- C. Berikan kortikosteroid
ma 1 jam dan telah mendapatkan asuhan bayi
baru lahir 1 jam pertama. Hasil pemeriksaan : D. Rawat dalam indikator
BB 3500gram, PB 55 cm, Frekuensi Jantung
E. Rawat gabung dengan ibunya
110x/menit, S 37OC, gerak aktif, tonus otot
baik.

Prioritas perencanaan selanjutnya apakah 134. Seorang bayi laki-laki lahir spontan, aterm
yang paling tepat pada kasus tersebut? 4 jam yang lalu di Puskesmas. Berat lahir
2550 gr, panjang badan 50 cm, ASI keluar
A. Pemeriksaan fisik bayi lancar, hisapan bayi kuat. Hasil Pemeriksaan:
B. Menyuntikkan imunisasi Hb0 menangis kuat, warna kemerahan, gerakan
aktif, frekuensi jantung 120x/menit, S 37OC.
C. Berikan identitas pada Bayi
Asuhan apakah yang diberikan sesuai kasus
D. Berikan Suntikan Vitamin K1 tersebut?

E. Lakukan pengukuran antropometri A. Memandikan bayi

B. Memberikan Vit K1 1 mg
132. Seorang perempuan baru saja melahirkan C. Memberikan Imunisasi Hb0
bayi 1 menit yang lalu di Klinik Bersalin,
umur kehamilan aterm, bayi menangis kuat, D. Memberikan Eritromicin 1%
warna kulit merah, bayi mulai mencari puting
E. Memberikan ASI on demand
susu. Setelah 1 jam dilakukan pemeriksaan
antropometri dengan hasil: BB bayi 4000
gram, PB 56 cm, kulit lanugo sedikit, LK : 30
51
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

135. Seorang bidan melakukan kunjungan neona- C. Menjemur bayi pada pagi hari
tus pada bayi perempuan umur 3 hari. Hasil
anamnesis: bayi menyusu kuat, ASI eksklu- D. Melakukan pijatan bayi
sif, BAK lancar dan BAB 3 x perhari. Ha- E. Merujuk segera
sil pemeriksaan: KU baik, FJ 120x/menit, P
40x/menit, S 36,7°C, tali pusat masih basah,
lengket dan tampak kotor.
138. Seorang bayi perempuan lahir 2 jam yang lalu
Tindakan apakah yang paling tepat sesuai di rumah klien. Hasil anamnesis: Bayi meny-
kasus tersebut? usu kuat, BAK lancar, BAB 3x/sehari. Hasil
pemeriksaan: BB lahir 2400 gram, PB: 46
A. Merujuk ke rumah sakit cm, S:360C, Frekuensi Jantung 120x/menit,
B. Kolaborasi dengan dokter refleks hisap kuat, dan pemeriksaan fisik ti-
dak ditemukan kelainan.
C. Memberikan nasehat kepada keluarga
Asuhan yang harus diberikan kepada bayi
D. Memberikan pengobatan salep antibiotic pada kasus tersebut?

E. Pendidikan kesehatan tentang perawatan A. Lakukan perawatan metode kanguru


tali pusat
B. Letakkan dibawah lampu

C. Berikan infus dekstrose


136. Seorang bayi telah lahir 2 menit yang lalu di
PMB. Hasil pemeriksaan : Bayi lahir tidak D. Berikan antibiotik
langsung menangis, napas megap-megap dan E. Rujuk segera
gerak kurang aktif. Riwayat persalinan lama.

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada


kasus tersebut? 139. Seorang bayi laki-laki lahir spontan 2 jam
yang lalu di Rumah sakit, BB 4000 gr, PB 51
A. Apneu cm. Hasil pemeriksaan: FJ 120 x/menit, P 40
B. Dispneu x/menit, S 36,5 0C, lanugo sedikit, verniks
caseosa kurang, kulit keriput, kuku jari pan-
C. Asfiksia jang, gerak aktif.

D. Takipneu Diagnosis apakah yang paling mungkin pada


kasus tersebut?
E. RDS
A. Immatur

B. Dismatur
137. Seorang bayi perempuan lahir 5 hari yang
lalu di rumah klien. Hasil anamnesis: Bayi C. Prematur
menyusu ASI eksklusif, BAK lancar, BAB
3x/sehari. Hasil pemeriksaan: BB lahir 2900 D. Post matur
gram, PB: 46 cm, S:360C, Frekuensi Jantung E. Matur
120x/menit, refleks hisap kuat, dan pemerik-
saan fisik tidak ditemukan warna kuning di-
daerah muka.
140. Seorang perempuan umur 24 tahun datang ke
Asuhan yang harus diberikan kepada bayi BPM untuk menggunakan alat kontrasepsi.
pada kasus tersebut? Hasil anamnesis: melahirkan 6 minggu yang
lalu, anak 1, menyusui bayinya secara ekslu-
A. Melanjutkan pemberian ASI eksklusif sif, belum pernah melakukan hubungan sek-
B. Meletakkan bayi dibawah lampu blue sual. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD 110/80
light mmHg, N 90x/menit, P 20x/menit S 36,70C,
inspekulo panjang uterus 5 cm.
52
Program Studi DIII Kebidanan

Alat kontrasepsi apakah yang paling sesuai 143. Seorang perempuan umur 35 tahun datang ke
dengan kondisi ibu pada kasus tersebut? BPM. Mengatakan ingin memakai kontrasep-
si untuk mengatur jarak kehamilan yang tidak
A. AKDR mengganggu ASI. Hasil anamnesis: melahir-
B. AKBK kan anak pertama 6 bulan yang lalu, selama
ini memberikan ASI ekslusif dan belum per-
C. MOW nah haid.. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD
170/100 mmHg, N 90x/menit, P 24x/menit S
D. Pil kombinasi 36,70 C .
E. Suntik kombinasi Alat kontrasepsi apakah yang paling tepat
untuk kasus diatas?

141. Seorang perempuan umur 28 tahun akseptor A. AKDR


KB suntik 3 bulan datang ke BPM, mengeluh B. AKBK
selama 3 bulan ini tidak mengalami menstru-
asi. Hasil pemeriksaan Hasil pemeriksaan: C. Suntik DMPA
KU baik, TD 120/80 mmHg, N 90x/menit, P
24x/menit S 36,70C, tanda-tanda kemungk- D. Pil kombinasi
inan hamil (-). E. Suntik kombinasi
Efek samping apakah yang sedang dialami
pada kasus tersebut?
144. Seorang perempuan umur30 tahun datang ke
A. Menometroragia BPM. Mengeluh mengalami spotting sejak 4
B. Haemoragia bulan terakhir. Hasil anamnesis: mengaku ak-
septor KB Indoplant sejak 7 bulan yang lalu.
A. Metroragia Hasil pemeriksaan: TD 110/70mmHg, N 80
x/menit, S: 370C dan P: 20 x/menit.
A. Amenorhea
Tindakan apakah yang tepat pada kasus
A. Spoting tersebut?

A. Pemberian 1,75 estrogen equin konjugasi


142. Seorang perempuan umur 27 tahun datang untuk 14-21 hari
ke RS untuk memakai kontrasepsi. Hasil an- B. Pemberian ibuprofen 3x1000 mg selama
amnesis: mengaku melahirkan 6 bulan yang 5 hari
lalu, anak pertama belum pernah haid, HIV
(+), sedang pengobatan TB 6 bulan dan ARV, C. Pemberian 100 mg etinilestradio 3-7 hari
menyusui eksklusif. Berdasarkan hasil pe-
meriksaan Hasil pemeriksaan: KU baik, TD D. Pemberian pil kombinasi selama 1 siklus
110/100 mmHg, N 80x/menit, P 20x/menit S E. Dilakukan pelepasan indoplant
36,70C.

Alat kontrasepsi apakah yang paling tepat


sesuai kasus tersebut? 145. Seorang perempuan P3A0 umur40 tahun
datang ke BPM untuk menghentikan kehami-
A. AKBK lan. Hasil anamnesis: anak yang terakhir be-
B. AKDR rusia 6 tahun, tidak memiliki riwayat penya-
kit apapun. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD
C. Pil progestin 120/80 mmHg, N 90x/menit, P 24x/menit S
36,70C, dan tidak ditemukan tanda-tanda ke-
D. Pil kombinasi mungkinan hamil, bidan memberikan konsel-
ing.
E. Suntik kombinasi
Jenis konseling apakah yang dilakukan oleh
53
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

bidan sesuai kasus tersebut? 148. Seorang perempuan umur19 tahun datang ke
BPM untuk menunda kehamilan. Hasil anam-
A. Awal nesis: telah menikah 2 bulan yang lalu. Hasil
B. Lanjutan pemeriksaan: KU baik, TD 120/80 mmHg, N
90x/menit, P 24x/menit S 36,70C., pp tes (-).
C. Paripurna Bidan telah melakukan informed choice ke-
pada klien mengenai alat kontrasepsi.
D. Pembinaan
Tindakan apakah yang paling tepat pada ka-
E. Pengenalan sus tersebut?

A. KIE
146. Bidan melakukan pendataan ke desa, didapat- B. Konseling
kan seorang perempuan umur 48 tahun mem-
punyai anak 3. Pada saat dilakukan pendataan C. Informed consent
ibu mengatakan menggunakan alat kontrasep-
si suntik selama 7 tahun. Hasil pemeriksaan: D. Pelayanan kontrasepsi
KU baik, TD 120/80 mmHg, N 90x/menit, P E. Memberitahu jadual kunjungan ulang
24x/menit S 36,70C.

Rencana asuhan apakah yang paling tepat


dilakukan pada kasus tersebut? 149. Seorang perempuan umur28 tahun datang ke
RS untuk mengikuti program KB. Hasil an-
A. Tidak melakukan intervensi apapun amnesis: mengaku sudah mempunyai anak
B. Memberikan pujian atas usaha ibu umur 5 tahun. Hasil pemeriksaan fisik KU
baik, TD 110/80 mmHg, Pernafasan 22 x/
C. Melakukan koordinasi dengan kader menit, S37oC, N 84 x/menit, PP test (-). Pa-
sien memiliki riwayat tumor payudara
D. Konseling penggantian jenis kontrasepsi
Alat kontrasepsi yang paling sesuai untuk
E. Mengingatkan untuk kunjungan ulang klien tersebut?
penyuntikan
A. Pil

B. IUD
147. Bidan melakukan pendataan ke desa, didapat-
kan seorang perempuan umur 48 tahun mem- C. MOW
punyai anak 3. Pada saat dilakukan pendataan
ibu mengatakan menggunakan alat kontrasep- D. Suntik
si susuk 6 batang. Hasil pemeriksaan: KU E. Implant
baik, TD 120/80 mmHg, N 90x/menit, P 24x/
menit S 36,70C.

Berapa lama efektivitas kontrasepsi pada ka- 150. Seorang perempuan umur 20 tahun datang
sus tersebut? bersama suaminya, ke BPM. Mengatakan in-
gin ber-KB. Hasil anamnesis: baru menikah
A. 1 tahun 1 bulan yang lalu, ingin menunda kehamilan
B. 2 tahun selama 3 tahun. KU baik, TD 120/80 mmHg,
N 90x/menit, P 24x/menit S 36,70C, tidak ada
C. 3 tahun tanda-tanda kehamilan. PP test (-)

D. 4 tahun Alat kontrasepsi apakah yang paling tepat


pada kasus tersebut?
E. 5 tahun
A. Pil

B. IUD

54
Program Studi DIII Kebidanan

C. Suntik mmHg, N 90x/menit, P 24x/menit, S 36,70C,


tidak ada pembesaran abdomen.
D. Kondom
Alat kontrasepsi apakah yang paling tepat
E. Metode kalender pada kasus tersebut?

A. Pil
151. Seorang perempuan, umur 27 tahun, akseptor B. Suntik
IUD, datang ke BPM dengan keluhan sejak
dua bulan yang lalu tidak haid. Hasil anam- C. AKDR
nesis: nyeri perut bagian bawah. Hasil pemer-
iksaan: KU baik, TD 120/80 mmHg, N 90x/ D. AKBK
menit, P 24x/menit S 36,70C, palpasi TFU
E. MOW
belum teraba, inspekulo benang IUD masih
terlihat.

Tindakan awal apakah yang paling tepat 154. Seorang perempuan, umur 30 Tahun, P1A0,
dilakukan pada kasus tersebut? datang ke BPM dengan keluhan ingin meng-
gunakan KB pil. Hasil anamnesis: anak terke-
A. Mencabut IUD cil usia 1 tahun, belum haid, KB sebelumnya
B. Memberikan konseling sanggama terputus. Hasil pemeriksaan: KU
baik, TD 120/80 mmHg, N 90x/menit, P 24x/
C. Melakukan tes kehamilan menit, S 36,70C, abdomen tidak ada massa.

D. Memberikan terapi hormon Asuhan apakah yang paling tepat pada kasus
tersebut?
E. Merujuk ke dokter kandungan
A. Anjurkan menunggu menstruasi berikut-
nya
152. Seorang perempuan, umur 36 tahun, P1A0, B. Pemeriksaan genetalia tanda mungkin
akseptor KB pil, datang ke BPM karena lupa hamil
minum kontrasepsi oral selama 1 hari ber-
turut-turut. Hasil anamnesis: 10 jam yang lalu C. Pemberian kontrasepsi darurat
sudah berhubungan dengan suaminya, ibu
merasa khawatir takut hamil. Hasil pemer- D. Lakukan pemeriksaan PP Test
iksaan: KU baik, TD 120/80 mmHg, N 90x/
E. Pemberian kontrasepsi pil
menit, P 24x/menit S 36,70C

Asuhan apakah yang paling tepat untuk ka-


sus tersebut? 155. Seorang perempuan, umur 28 tahun, aksep-
tor KB pil, datang ke BPM dengan keluhan
A. Konseling untuk kontrasepsi darurat selama 3 bulan ini mengeluarkan bercak da-
B. Melanjutkan konsumsi pil yang tersedia rah berwarna merah kecoklatan dari jalan la-
hir. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD 120/80
C. Memberikan konseling KB pengganti mmHg, N 90x/menit, P 24x/menit, S 36,70C,
tidak ada masa pada abdomen, pemeriksaan
D. Menganjurkan pemeriksaan USG genetalia bercak darah (+)
A. Meminta ibu melanjutkan pil berikutnya Efek samping apakah yang sedang dialami
pada kasus tersebut?

153. Seorang perempuan, umur 24 tahun, datang A. Spotting


ke BPM dengan keluhan ingin menunda ke- B. Menoragia
hamilan. Hasil anamesis: telah menikah 1
bulan yang lalu, saat ini sedang menstrua- C. Metroragia
si. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD 120/80
55
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

D. Haemoragia meriksaan: TD 100/70 mmHg, N 80 x/menit,


S 370C,P 20 x/menit.
E. Menometroragia
Bagaimana penanganan yang paling tepat
pada kasus tersebut?
156. Seorang perempuan, umur 25 tahun, ak- A. Dilakukan pelepasan indoplan
septor KB pil, datang bersama keluarga ke
puskesmas dengan keluhan muntah-muntah. B. Pemberian 100 mg etinilestradio 3-7 hari
Hasil anamnesis: baru menggunakan pil 3,5
bulan yang lalu, muntah disertai diare, ti- C. Pemberian pil kombinasi selama 1 siklus
dak memakan makanan yang menyebabkan
D. Pemberian ibuprofen 3x1000 mg selama
diare. Hasil pemeriksaan: KU ibu baik, TD
5 hari
100/60 mmHg, N 70x/menit, P 28x/menit, S
37,0C, tidak teraba masa pada abdomen. E. Pemberian 1,75 estrogen equin konjugasi
untuk 14-21 hari
Rencana asuhan apakah yang paling tepat
dilakukan pada kasus tersebut?

A. Menganjurkan berhenti minum pil untuk 159. Seorang perempuan, umur 26 tahun, P2A0,
sementara datang ke RS dengan keluhan bercak darah
(spotting) sudah 2 minggu. Hasil anamnesis:
B. Rawat inap untuk observasi fisik saat ini akseptor KB implant, dipasang 1 bu-
C. Memberikan obat anti mual lan lalu, tidak ada nyeri dan rasa pusing. Ha-
sil pemeriksaan: BB: 54 kg, TB 160 cm, TD
D. Mengganti kontrasepsi 110/70 mmHg, N 80x/menit, abdomen tidak
teraba massa, inspekulo terdapat bercak dar-
E. Rujuk ke RS ah dari ostium uteri internum

Kondisi apakah yang paling mungkin diala-


157. Seorang perempuan, umur 28 tahun, P2A0, mi pasien pada kasus tersebut?
akseptor KB pil, datang bersama keluar- A. Obesitas
ga ke RS dengan keluhan lupa minum pil 1
hari. Hasil anamnesis: anak terkecil 3 tahun, B. Erosi porsio
menstruasi teratur setiap bulan, ibu merasa
khawatir. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD C. Proses nidasi
110/70 mmHg, N 80x/menit, P 24x/menit, S
D. Gangguan hormonal
36,80C, tidak ada masa pada abdomen.
E. Efek samping kontrasepsi
Rencana asuhan apakah yang paling tepat
dilakukan pada kasus tersebut?

A. Lanjutkan minum pil sesuai jadwal 160. Seorang perempuan, umur 28 tahun, P3A0,
baru dipasang implanon di BPM. Hasil an-
B. Ganti cara kontrasepsi amnesis: umu anak terkecil 6 bulan. Hasil pe-
C. Minum 2 pil sekaligus meriksaan: TD 110/80 mmHg, P 22 x/menit,
N 84 x/menit, S 36,80C. Bidan lalu memberi-
D. Berhenti minum pil kan konseling mengenai kontrasepsi yang di-
gunakan tersebut.
E. Minum pil kondar
Berapakah lama efektivitas kontrasepsi pada
kasus tersebut?
158. Seorang perempuan, umur 30 tahun, datang
ke posyandu dengan keluhan mengalami A. 1 tahun
perdarahan bercak (sedikit-sedikit) selama 3
bulan terakhir. Hasil anamnesis: akseptor KB B. 2 tahun
Indoplant sejak 1 tahun yang lalu. Hasil pe- C. 3 tahun
56
Program Studi DIII Kebidanan

D. 4 tahun lalu melakukan hubungan dengan suami


menggunakan kondom, namun bocor. Hasil
E. 5 tahun pemeriksaan: KU baik, TD 110/80mmHg, N
80x/menit, P 20x/menit, S 360C, konjungtiva
merah muda, payudara tidak ada pembesaran,
161. Seorang perempuan, umur 28 tahun, datang abdomen tidak tampak pembesaran uterus.
ke BPM dengan keluhan batang susuk kelu-
ar. Hasil anamnesis: ppemasangan KB susuk Perencanaan apakah yang paling tepat pada
dilakukan 2 hari yang lalu. Hasil pemeriksaan: kasus tersebut?
KU baik, TD 110/80 mmHg, P 22 x/menit, N A. Lakukan rujukan
84 x/menit, S 36,80C, tampak implan di ujung
luka pemasangan, tidak ada tanda- infeksi. B. Konseling kontrasepsi darurat
Tindakan apakah yang paling tepat pada ka- C. Sarankan ibu untuk USG
sus tersebut?
D. Pemberian alat kontrasepsi
A. Menyarankan untuk mengganti metode
E. Konseling kemungkinan tidak hamil
B. Kolaborasi dengan dokter untuk penan-
gannnya

C. Membiarkan batang susuk dan segera 164. Seorang perempuan, umur 37 tahun, P4A0,
rujuk ke RS datang ke BPM bersama suaminya untuk
berkonsultasi mengenai metode KB. Ha-
D. Mencabut dan mengganti batang susuk sil anamnesis: menstruasi teratur, siklus 28
hari, anak terkecil 1 tahun, memiliki riwayat
E. Konseling preeklamsia dan perdarahan postpartum serta
berencana tidak ingin menambah anak. Ha-
sil pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, N 80 x/
162. Seorang perempuan, umur 30 tahun, P2A0, menit, P 20 x/menit, abdomen tidak teraba
nifas 6 minggu datang ke BPM untuk kon- massa.
sultasi. Hasil anamnesis: tidak cocok meng-
gunakan metode hormonal, suami bekerja di Metode kontrasepsi apakah yang paling te-
luar kota, berencana memberikan ASI eksk- pat pada kasus tersebut?
lusif, memiliki riwayat infeksi panggul dan A. AKDR
dismenorhoe, sudah mendapatkan haid dan
belum berhubungan seksual. Hasil pemerik- B. AKBK
saan: KU baik, TD 120/70 mmHg, N 80 x/
menit, S 370C, P 20 x/menit, TFU tidak ter- C. Suntik
aba.
D. MOW
Metode kontrasepsi apakah yang paling te-
E. Kondom
pat pada kasus tersebut?

A. MAL
165. Seorang perempuan, umur 32 tahun, P2A0,
B. AKDR nifas 6 minggu, datang ke BPM untuk kon-
C. Kondom sultasi KB. Hasil anamnesis: berencana ASI
eksklusif, riwayat infeksi panggul, dismenor-
D. Metode kalender hoe, belum haid dan belum berhubungan
seksual. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD
E. Senggama terputus 170/100 mmHg, N 80 x/menit, S 370C, P 20
x/menit, TFU tidak teraba.

163. Seorang perempuan, umur 37 tahun, P4A0, Metode kontrasepsi apakah yang tepat pada
datang ke BPM dengan keluhan takut hamil. kasus tersebut?
Hasil anamnesis: ibu mengaku 12 jam yang
57
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

A. MAL angannya ke BPM untuk ber-KB. Hasil an-


amnesis: pernah gagal IUD, sedang pengo-
B. AKDR batan sirosis hepatis. Hasil pemeriksaan: KU
C. AKBK baik, TD 110/70mmHg, N 80x/menit, P 20 x/
menit, S 360C. Konjungtiva merah muda, sk-
D. Suntik lera kuning, payudara tidak ada pembesaran,
abdomen tidak ada pembesaran uterus, ter-
E. Pil dapat pembesaran hati.

Alat kontrasepsi apakah yang paling tepat


166. Seorang perempuan, umur 17 tahun, datang pada kasus tersebut?
ke BPM untuk ber-KB. Hasil anamnesis: baru A. Pil
menikah 1 hari yang lalu dan belum melaku-
kan hubungan seksual. Hasil pemeriksaan: B. Suntik
KU baik, TD 90/70 mmHg, N 80 x/menit,
P 20 x/menit, S 360C. Konjungtiva merah C. AKDR
muda, payudara tidak ada pembesaran, abdo- D. AKBK
men tidak ada pembesaran uterus.
E. Kondom
Konseling KB apakah yang paling tepat pada
kasus tersebut?

A. MKJP 169. Seorang perempuan, umur 33 tahun, P3A0,


postpartum 30 hari, datang ke BPM untuk
B. Hormonal ber-KB. Hasil anamnesis: tidak mempunyai
C. Reversible riwayat penyakit, ibu bingung memilih alat
kontrasepsi yang tepat.Hasil pemeriksaan:
D. Irreversible TD 120/80 mmHg, N 80 x/m, P 24 x/m, S
360C.
E. Sederhana
Hak klien apakah yang harus diberikan ses-
uai kasus tersebut?
167. Seorang perempuan, umur 20 tahun, datang A. Pemberian informasi mengenai jenis KB
ke BPM konsultasi KB sederhana. Hasil an-
amnesis: baru menikah dan belum melaku- B. Pengambilan keputusan pemilihan kon-
kan hubungan seksual. Hasil pemeriksaan: trasepsi
KU baik, TD 90/70mmHg, N 80x/menit, P 20
x/menit, S 360C. Konjungtiva merah muda, C. Pelayananan pemeriksaan penunjang
payudara tidak ada pembesaran, abdomen ti- D. Pendampingan oleh pasangan
dak ada pembesaran uterus.
E. Efek Samping KB
Alat kontrasepsi apakah yang paling tepat
pada kasus tersebut?

A. Pil 170. Seorang perempuan, umur 48 tahun, datang


ke Posbindu dengan keluhan haid yang tidak
B. Kondom teratur sejak 6 bulan terakhir. Hasil anamne-
C. Mini Pil sis: haid terakhir 2 bulan yang lalu, akseptor
AKDR, sering susah tidur, banyak berkerin-
D. Suntik 3 bulan gat di malam hari, serta ibu merasa sangat
khawatir. Hasil pemeriksaan: TD 130/90
E. Suntik 1 bulan mmHg, N 88 x/menit, S 36,7°C, abdomen ti-
dak teraba adanya massa, PP test (-).

168. Seorang perempuan, umur 26 tahun, P2A0 Pendidikan kesehatan apakah yang paling te-
postpartum 6 minggu, datang bersama pas- pat untuk kasus tersebut?
58
Program Studi DIII Kebidanan

A. Terapi hormone pengganti untuk mengu- E. Biopsi


rangi gejala menopause

B. Perubahan hormonal selama masa peri-


menopause 173. Seorang perempuan, umur 47 tahun, datang
ke BPM mengeluh haid tidak teratur selama 1
C. Diet tinggi kalsium untuk mencegah tahun. Hasil anamnesis: terkadang 3 bulan ti-
osteoporosis dak haid, kadang sangat banyak, cemas, dada
berdebar-debar, sulit tidur dan mudah tersing-
D. Olahraga teratur untuk memperkuat gung. Hasil pemeriksaan: TD 130/80 mmHg,
tulang N 88 x/menit, S 36 0C, P 18x/menit.
E. Pemakaian kontrasepsi hormonal Keluhan ini pada umumnya sering dialami
oleh siapakah pada kasus tersebut?

171. Seorang perempuan, umur 45 tahun, datang A. Penyakit jantung


ke BPM mengeluh terlambat haid 2 bulan. B. Pre-menopause
Hasil anamnesis: haid tidak teratur sejak 6
bulan terakhir, akseptor AKDR, sering mera- C. Gangguan psikologis
sakan panas, memerah, dan berkeringat pada
wajah. Hasil pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, D. Penurunan fungsi tubuh
N 80 x/menit, S 36,5°C, abdomen tidak tera- E. Peningkatan aktivitas yang berlebihan
ba adanya massa.

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada


kasus tersebut? 174. Seorang perempuan, umur 47 tahun, datang
ke BPM dengan keluhan mengalami haid se-
A. Perimenepause bulan dua kali sejak dua bulan terakhir. Hasil
B. Polimenorhoe anamnesis: biasanya haid teratur setiap bulan
dengan siklus 28-30 hari. Hasil pemeriksaan:
C. Menopause TD 110/70 mmHg, N 78 x/menit, S 36,7°C,P
24x/menit, abdomen tidak teraba adanya
D. Amenorhoe massa.
E. Hamil Diagnosis apakah yang paling mungkin pada
kasus tersebut?

172. Seorang perempuan, umur 52 tahun, datang A. Menorhagia


ke Rumah Sakit dengan keluhan keluar B. Metrorhagia
bercak darah segar dari jalan lahir setelah
bersenggama. Hasil anamnesis: sudah tidak C. Polimenorhea
mendapatkan haid sejak 1,5 tahun yang lalu,
tidak menggunakan kontrasepsi, dan sering D. Oligomenorhea
mengalami keputihan. Hasil pemeriksaan: E. Hipomenorhoe
TD 130/80 mmHg, N 84 x/menit, S 36,8°C,
abdomen tidak teraba adanya massa dan tidak
merasakan adanya nyeri tekan.
175. Seorang bidan melakukan pengkajian pada
Pemeriksaan apakah yang diperlukan untuk desa binaannya. Data yang diperoleh banyak
menegakkan diagnosis pada kasus tersebut? perempuan yang menjadi PSK sekitar 40%
dari usia reproduktif, sehingga banyak terjadi
A. Darah lengkap infeksi menular seksual (IMS), bahkan kasus
B. Pap smear blenore. Masyarakat berfikir kondisi yang
terjadi adalah hal biasa dan pelaku merupa-
C. USG vagina kan pahlawan keluarga.

D. IVA test
59
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

Tindakan awal apakah yang paling tepat E. Memberikan tablet besi


dilakukan pada kasus tersebut?

A. Penyuluhan
178. Seorang perempuan, umur 50 tahun, datang
B. Pendekatan tokoh masyarakat ke Puskesmas mengeluh keputihan. Hasil
anamnesis: tidak gatal, encer, tidak berbau,
C. Pemberdayaan ekonomi keluarga tidak haid sejak 2 tahun yang lalu. Hasil pe-
meriksaan: TD 130/80 mmHg, N 84 x/menit,
D. Mengembangkan kegiatan rohani
S 36,8°C, abdomen tidak teraba massa dan
E. Kerjasama dengan pihak kepolisian tidak merasakan nyeri tekan.

Pemeriksaan apakah yang diperlukan untuk


menegakkan diagnosis pada kasus tersebut?
176. Seorang perempuan, umur 48 tahun, datang
ke posyandu dengan keluhan menstrua- A. Pap smear
si yang sangat banyak. Hasil anamnesis:
merasa pusing dan lemas, sudah menstruasi B. Darah
selama 10 hari, siklus haid tidak teratur 2-3 C. Urin
bulan, kadang sulit tidur, dan gelisah, aksep-
tor AKDR. Hasil pemeriksaan: TD 120/80 D. IVA
mmHg, N 92x/menit, P 20x/menit, S 370C,
abdomen tidak teraba massa, inspekulo tam- E. USG
pak darah mengalir dari OUI.

Penyebab apakah yang paling mungkin pada 179. Berdasarkan hasil survey pada sebuah Desa,
kasus tersebut? didapatkan data bahwa 65% WUS di Desa
A. Infeksi tersebut memiliki faktor risiko kanker ser-
viks, namun dari data cakupan pemeriksaan
B. Neoplasia IVA tes hanya 5% saja yang berpartisipasi
pada program tersebut di Puskesmas. Seba-
C. Menopause gian besar WUS lainnya tidak berpartisipasi
karena tidak mengetahui tentang IVA test dan
D. Gangguan hormonal
tidak punya biaya ke Puskesmas untuk me-
E. Penggunaan kontrasepsi meriksakan diri.

Tindakan apakah yang paling tepat sesuai


kasus tersebut?
177. Seorang perempuan, umur 48 tahun, datang
ke Puskesmas mengeluh haid sangat banyak. A. Edukasi
Hasil anamnesis: pusing, lemas, haid selama
10 hari, siklus tidak teratur, akseptor AKDR. B. Konseling
Hasil pemeriksaan: TD 90/60 mmHg, N C. Sosialisasi BPJS
100x/menit, P 24x/menit, S 370C, abdomen
tidak teraba massa, darah mengalir dari OUI, D. Melaporkan pada Dinas Sosial
pemeriksaan lab Hb 8 gr%.
E. Pendekatan kepada tokoh masyarakat
Tindakan awal apakah yang paling tepat
pada kasus tersebut?

A. Rujuk ke RS 180. Seorang perempuan, umur 50 tahun, datang


ke Puskesmas dengan keluhan cepat lelah.
B. Pasang infus Hasil anamnesis: sering merasa haus, sering
BAK terutama malam hari, BB turun ekstrim.
C. Tranfusi darah Hasil pemeriksaan: konjungtiva merah muda,
TD 140/80 mmHg, N 84 x/menit, S 36,8°C,
D. Memberikan pil KB
BB 54 kg (sebelumnya 65 kg).

60
Program Studi DIII Kebidanan

Diagnosis apakah yang paling mungkin pada


kasus tersebut?

A. Infeksi saluran kemih

B. Diabetes mellitus

C. Hipertensi

D. Nokturia

E. Anemia

61
BAGIAN 7
KUNCI JAWABAN LATIHAN
SOAL UJI KOMPETENSI
DAN PEMBAHASANNYA
Program Studi DIII Kebidanan

4. E (polimenorhea)
Perbandingan POLIMENORHEA dengan menstruasi normal
BAGIAN 7
Menstruasi
Indikator Polimenorhea
normal
KUNCI JAWABAN LATIHAN
lama siklus 21 – 35 hari kurang dari 21 hari.
SOAL UJI KOMPETENSI DAN
35 cc (10 cc – 80
PEMBAHASANNYA Jumlah darah
cc)
Volume sama

Bila siklusnya kurang dari 21 hari dan disertai


dengan darah yang lebih banyak dari biasa disebut
Dibawah ini adalah kunci jawaban dari 180 soal Polimenorhagia (Epimenorhagia).
pada bagian 6 dan pembahasannya.
5. E (hymen Imperforata)
1. B (hipermenorhea)
Hymen Imperforata ialah selaput dara yang
Keluhan haid 10 hari dan jumlah darah tidak menunjukan lubang (Hiatus Himenalis) sama
diperkirakan lebih dari 80 cc. sekali, suatu kelainan yang ringan dan yang cukup
sering dijumpai. Kemungkinan besar kelainan ini ti-
Perbandingan menstruasi normal dan hipermenorhea dak dikenal sebelum menarche.Sesudah itu molimina
menstrualia dialami tiap bulan, tetapi darah haid ti-
Indikator Menstruasi normal Hipermenorhea
dak keluar.Darah itu terkumpul di dalam vagina dan
Lama haid 3 – 5 hari Lebih dari 7 hari.
menyebabkan hymen tampak kebiru-biruan dan me-
(2-7 hari dianggap normal) nonjol keluar (Hematokolpos). Bila keadaan ini dibi-
Jumlah darah 35 cc (10 cc – 80 cc) lebih dari 80 cc arkan, maka uterus akan terisi juga dengan darah haid
Frekuensi meng- 1-3 pembalut / hari lebih dari lima pem- dan akan membesar (Hematometra).
ganti pembalut balut perhari

6. C (kolaborasi dengan dokter SpOG)


2. D (melakukan konsultasi dengan dokter
SpOG) Penanganan hymen imperforate membutuh-
kan pemeriksaan lanjutan seperti USG abdomen dan
Kewenangan bidan adalah pada aspek promosi, setelah diagnosis ditegakkan maka diperlukan tinda-
prevensi dan deteksi dini pada kesehatan reproduk- kan pembedahan.Tindakan ini tidak termasuk keda-
si. Lama menstruasi yang lebih dari 15 hari melebihi lam kewenangan bidan sehingga harus dilakukan ko-
rentang menstruasi normal (2-7 hari) menunjukkan laborasi dengan dokter SpOG.
ada kondisi yang memerlukan pemeriksaan lebih lan-
jut.
7. E (kebutuhan nutrisi)

3. B (memberi pengertian tujuan pemeriksaan Anemia adalah suatu kondisi tubuh yang ter-
fisik) jadi ketika sel-sel darah merah (eritrosit) dan/atau
Hemoglobin (Hb) yang sehat dalam darah berada
Hak pasien sesuai UU No Kesehatan No 36 tahun
dibawah nilai normal (kurang darah). Hemoglobin
2009 pasal 6:
adalah bagian utama dari sel darah merah yang ber-
a. Setiap orang berhak mendapatkan informasi dan fungsi mengikat oksigen. Jika tidak ada masalah lain.
edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan
bertanggung jawab. Anemia dapat disebabkan:
b. Pasal 8: Setiap orang berhak memperoleh infor- • Kekurangan Nutrisi (terutama yang mengand-
masi tentang data kesehatan dirinya termasuk ung zat besi, protein, dan asam folat)
tindakan dan pengobatan yang telah maupun
yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan. • Kehilangan darah / perdarahan
c. Penolakan pasien yang terjadi pada kasus terse- • Penyakit kronis / menahun, misalnya TBC,
but dikarenakan kurangnya informasi terkait cacingan
pengetahuan pasien tentang tujuan pemeriksaan
fisik.
63
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

Makanan yang dianjurkan bagi penderita ane- Haid yang jarang bisa menyebabkan kesulitan hamil.
mia adalah yang mengandung: Jika kehamilan tidak terjadi setelah 1 tahun dengan
kontak seksual teratur, maka sudah terkategori infer-
• Zat Besi ( Fe ): Ati, daging sapi, kuning tilitas yang perlu rujukan untuk pengelolaan selanjut-
telur, buah-buahan yang dikeringkan ( nya.
misal : kismis ), sayur-sayuran yang ber-
warna hijau (kangkung, daun katuk, daun
ubi jalar, bayam, daun singkong, kacang 12. B (diabetes Gestasional)
buncis, kacang panjang dll. ).
Kasus tersebut menunjukkan kasus obesitas
• Asam Folat: Ati, jamur, pisang, apel (hitung IMT >30).Seorang perempuan obesitas yang
hamil dapat meningkatkan risiko saat kehamilannya,
• Protein: Telur, susu, tahu, tempe, ka- diantaranya abortus, diabetes gestasional, pre eklam-
cang-kacangan psia, infeksi, kehamilan lewat waktu, trauma atau
penyulit persalinan, stillbirth.

8. B (menganjurkan olahraga ringan)


13. D (pemberdayaan ekonomi)
Menganjurkan olahraga ringan seperti jalan
kaki dapat membantu meancarkan aliran darah seh- Masalah anemia dan BBLR yang terjadi pada
ingga nyeri haid dapat segera membaik.Olahraga rin- kasus tersebut bukan karena masyarakat tidak men-
gan yang baik dilakukan sebelum haid untul mence- gerti pola hidup sehat, akan tetapi ketidakmampuan
gah nyeri haid. secara ekonomi membuat mereka tidak memiliki
kemampuan mengkonsumsi makanan bergizi. Oleh
karena itu, jawaban yang paling tepat pada kasus
9. B (dismenorhea) tersebut adalah pemberdayaan ekonomi.
Seorang remaja perempuan dapat mengalami
nyeri pada setiap sebelum atau awal siklus menstrua- 14. D (morning Sickness)
si.Nyeri ketika menstruasi dinamakan dismenore.Dis-
menore merupakan suatu keluhan yang normal tetapi Berdasarkan kasus diatas, maka mual muntah
bisa juga merupakan pertanda suatu penyakit.Normal khususnya pada pagi hari yang terjadi padakehamilan
jika terjadi 48-72 jam, terasa seperti kram perut, nyeri muda adalah hal yang fisiologis yang sering disebut
perut yang terus menerus pada bagian bawah perut emesis gravidarum atau morning sickness (morn-
yang menjalar ke pinggang atau paha, tidak ditemu- ing=pagi, sickness=kesakitan), sedangkan untuk
kan ada kelainan jawaban yang lain adalah istilah yang umum yaitu
nausea untuk mual, vomiting untuk muntah, hyper-
emesis untuk kasus emesis yang sudah patologis, dan
10. C (polimenorhea) salivasi gravidarum adalah kondisi pengeluaran air
liur berlebihan daripada biasa.
Polimenorhea adalah kondisi siklus haid yang
lebih memendek dari biasa yaitu kurang 21 hari, se-
dangkan jumlah perdarahan relatif sama atau lebih 15. C (perubahan fisiologis trimester 3)
banyak dari biasa. Polimenorea merupakan gangguan
hormonal dengan umur korpus luteum memendek se- Dalam kasus tersebut seorang ibu hamil prim-
hingga siklus menstruasi juga lebih pendek atau bisa ipara hamil 8 bulan mengeluh sering BAK pada
disebabkan akibat stadium proliferasi pendek atau malam hari adalah normal dan menjadi prioritas uta-
stadium sekresi pendek atau karena keduanya. ma rencana penyelesaian masalahnya karena kondi-
si kehamilannya secara umum baik dan normal. Ibu
perlu mengetahui apa yang menjadi keluhan utaman-
11. E (diet Nutrisi) ya sehingga fokus KIE yang diberikan adalah KIE
Kasus ini adalah kasus perencanaan kehamilan tentang penyebab sering BAK, untuk pembahasan
sehat, data yang paling menonjol adalah siklus haid option yang lain merupakan bagian dari KIE tersebut
panjang, IMT termasuk kategori berat badan berlebih, khususnya bagaimana penanganannya.
perlu pengaturan nutrisi agar berat badan normal dan
haid bisa teratur. Siklus haid jarang dapat disebabkan
oleh gangguan hormon akibat kelebihan berat badan.
64
Program Studi DIII Kebidanan

16. B (preeklamsia ringan) traksi dan tidak nyeri merupakan data fokus yang
mengarah pada plasenta previa. Opsi jawaban solutio
Kasus tersebut merupakan kasus patologi kare- plasenta bukan merupakan jawaban karena tidak ada
na tekanan darah systole yaitu 140 dan diastole ≥ 90 faktor predisposing misalnya hipertensi, dan tidak
disertai protein uria (+), yang menandakan Pre eklam- ada pengeluaran darah berwarna kehitaman maupun
sia ringan, karena dalam kasus tidak ada riwayat hip- adanya kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri.Se-
ertensi sebelumnya, maka pilihan jawaban bukan dangkan opsi jawaban C, D, dan E merupakan jenis
hipertensi kronis, bukan hipertensi dalam kehamilan perdarahan pada kehamilan muda (dibawah 20 ming-
karena terdapat protein uria dan usia kehamilan diatas gu) sedangkan datanya perdarahan setelah 20 ming-
20 minggu, bukan pre eklamsi berat karena TD tidak gu.
lebih dari 160/110 mmHg, protein uria <(+2) dan bu-
kan eklamsia karena tidak ada kejang.
20. C (gerakan knee chest)

17. D (mola hidatidosa) Kasus tersebut mengarah kepada masalah ke-


hamilan dengan sungsang, sehingga asuhan yang te-
Pada kasus ini TFU tidak sesuai dengan Usia pat pada kasus tersebut adalah Menganjurkan ibu
Kehamilan hasil penghitungan dari HPHT (jika untuk melakukan gerakan knee chest, karena den-
amenore 3 bulan maka TFU idealnya 3 jari diatas gan kneechest maka hukum akomodasi dan gravitasi
symfisis, namun kasus ini TFU 1 jari dibawah pusat akan terfasilitasi dengan baik sehingga bokong yang
seperti usia kehamilan 5 bulan), diperkuat lagi den- besar akan menempati rongga yang luas dan kepala
gan tidak ada ballotment dan ada pengeluaran per- yang berat akan berada dibawah mendekati gravita-
vaginam bercak coklat yang menunjukkan mulai ada si bumi. Sedangkan untuk jawaban yang lain kurang
perdarahan; tanda gejala ini mengarah ke mola hidati- dapat memfasilitasi 2 hukum tersebut.
dosa, diperkuat dengan gejala penyerta yaitu adanya
hipertensi pada kasus mola tersebut. Kasus ini bukan
kehamilan ektopik karena TFU lebih tinggi dari UK 21. B (2 minggu)
dan tidak ada ballottement, meski ada tanda-tanda
flek namun tetap bukan kehamilan ektopik terganggu, Pada kasus tersebut termasuk kehamilan nor-
bukan juga kasus abortus baik missed abortion mau- mal, karena UK 32 minggu TFU 30 cm dan tidak ada
pun abortus insipiens karena TFU akan lebih rendah kelainan lain, sehingga sesuai dengan pola kunjungan
dan terdapat ballottement. ulang ibu hamil normal bahwa jika memasuki ke-
hamilan TM III maka minimal dilakukan 2x yaitu se-
belum UK 36 minggu (standar kunjungannya adalah
18. D (abortus inkomplit) tiap 2 minggu sekali) dan setelah 36 minggu (standar
kunjungannya adalah tiap 1 minggu sekali).
Pada kasus tersebut merupakan kasus abortus,
yang ditandai adanya hasil pemeriksaan keluarnya
darah sedang dari kemaluan, adanya kontraksi uter- 22. A (1 x 60 mg)
us, nyeri abdomen bagian bawah, hal ini dapat terjadi
pada opsi jawaban lain, namun data fokus jawaban Kasus tersebut merupakan kehamilan normal,
yang mengarah kepada abortus inkomplit pada ka- karena tanda-tanda vital normal dan Hb > 11 gr% se-
sus tersebut adalah adanya hasil periksa dalam yang hingga tidak masuk kategori anemia.Untuk asuhan
menunjukkan bahwa serviks membuka 2 cm, tera- yang tepat adalah memberikan Fe 1x60mg.
ba jaringan. Artinya inkomplit berarti sedang ber-
langsung, dimana buah kehamilan masih dalam pros- 23. C (Penkes fisiologi kehamilan)
es ekspulsi atau pengeluaran buah kehamilan, belum
semua hasil konsepsi yang dilahirkan sebelumnya Ibu perlu mengetahui fisiologi kehamilan. Fisi-
sehingga mengarah ke abortus inkomplit. ologi kehamilan adalah seluruh proses fungsi tubuh
pemeliharaan janin dalam kandungan yang disebab-
kan pembuahan sel telur oleh sel sperma, saat hamil
19. A (plasenta Previa) akan terjadi perubahan fisik dan hormon yang sangat
Jawabannya adalah plasenta previa, karena berubah drastis.
berdasarkan data fokus yang ada, kehamilan trimes-
ter 2, maka adanya pengeluaran darah merah segar 24. B (Anemia Fisiologis)
(bukan kehitaman) dari kemaluan dengan tanpa kon-
65
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

Pada kehamilan akan terjadi suatu keadaan ane- mengurangi tekanan rahim pada vena be-
mia fisiologis yang terjadi sebagai akibat peningkatan sar dalam tubuh (vena cava) yang dapat
volume sirkulasi dan komponen plasma yang tidak mengurangi aliran darah pada plasenta
sebanding dengan peningkatan komponen seluler, se- dan janin.
hingga akan terjadi gambaran hemodilusi. jika kadar
Hb 10 – 11 g/ dl dianggap sebagai anemia fisiologis
(delusional) atau pseudoanemia. Jika seorang wanita 27. A (Gawat Janin)
hamil dikatakan anemia patologis, kadar hemoglobin
(Hb) < 10 g/ dl. Suatu anemia patologis dikategorikan Diagnosis gawat janin atau fetal distrees ditega-
berat atau disebut anemia gravis jika kadar Hb 6 g/ kkan bila ditemukan gejala klinis seperti:
dl.
A. Mekonium kental berwarna hijau ter-
dapat di cairan ketuban pada letak kepala
25. B (Memberikan suplemen tambah darah)
B. Denyut jantung janin diatas 160 / menit
Pada kehamilan, anemia fisiologis yang ter- atau tachi cardia
jadi disebabkan oleh berkurangnya persediaan zat
besi yang penting dalam pembentukan hemoglobin. C. dibawah 100 / menit, denyut jantung
Kebutuhan zat besi dalam kehamilan adalah sebesar tidak teratur atau bradikardia
1000 mg. Sekitar 300 mg ditransfer aktif untuk ja-
nin dan plasenta, 500 mg untuk peningkatan massa
hemoglobin dan sekitar 200 mg dikeluarkan melalui 28. A (pola denyut jantung janin)
saluran cerna, urin dan kulit. Jumlah total 1000 mg
ini pada umumnya melebihi simpanan besi pada ke- Pada kasus tersebut dari seluruh komponen in-
banyakan wanita. Jumlah untuk plasenta dan ekskresi dikator hasil anamnesis dan hasil pemeriksaan fisik
melalui saluran cerna, urine, dan kulit adalah kehil- diketemukan beberapa kondisi yang membutuhkan
angan mutlak yang pasti terjadi meskipun ibu berada pemantauan yaitu:
dalam kekurangan besi. Sementara itu, kandungan
zat besi total yang dimiliki wanita normal hanyalah A. Keluhan sering pusing
sekitar 2 gr – 2,5 gram. Jumlah ini tidak mencukupi
kebutuhan besi yang meningkat cepat pada trimester B. Hipotensi
kedua kehamilan. Sehingga bila tidak ada tambahan C. Letak janin oblique
besi eksogen, konsentrasi hemoglobin dan hematokrit
turun cukup besar pada saat terjadi hipervolume pada D. Denyut jantung menunjukkan pola meng-
darah ibu. arah pada bradikardia

E. Kadar Hb ibu dibatas ambang normal


26. C (Resusitasi Intrauterine)

Denyut jantung janin pada kasus menunjukkan


angka 180x/menit menunjukkan janin mengalami fe- Dari 5 kondisi yang dialami ibu pada soal terse-
tal distress (tachycardia). Kompetensi dan kewenan- but yang harus dievaluasi segera adalah kondisi yang
gan bidan pada kasus kehamilan fetal distress adalah dapat menyebabkan kematian atau komplikasi paling
segera melakukan rujukan ke rumah sakit PONEK. fatal pada kondisi ibu atau janin. Dari ke-4 kondisi
Sebelum merujuk ke rumah sakit, bidan harus melaku- tersebut pemantauan pola denyut jantung janin harus
kan tindakan awal untuk stabilisasi atau pertolongan segera dievaluasi.
awal dengan cara melakukan resusitasi intrauterine. Dalam pola berpikir atau alur manajemen ke-
Cara melakukan resusitasi intrauterine adalah: bidanan, evaluasi segera dilakukan pada komponen
A. Memastikan ibu mendapat pasokan oksi- yang membutuhkan pemantauan ketat atau situasi
gen yang cukup yang membutuhkan pengambilan keputusan klinis
cepat.
B. Memastikan asupan cairan ibu memadai
dengan pemberian cairan lewat infus.
29. C (membangun hubungan baik )
C. Mengubah posisi ibu dengan memintan-
ya berbaring di sisi kiri. Hal ini bertujuan Fokus kunjungan awal pada pemeriksaan ke-
hamilan adalah untuk membangun hubungan dan ko-
66
Program Studi DIII Kebidanan

munikasi yang dengan klien.


36. E (kandung kemih tertekan oleh penurunan
30. A (hemoglobin) kepala janin)

Untuk menunjang diagnosis dan rencana asu- Fisiologis kehamilan trimester III adalah terja-
han pada kasus tersebut dibutuhkan pemeriksaan Hb di penurunan bagian bawah janin (kepala) yang akan
apakah keluhan yang dirasakan disebabkan karena menekan kandung kemih sehingga kapasitas kandung
anemia tau tidak kemih berkurang, jika terisi air kencing sedikit saja
sudah terasa ingin berkemih.
31. B (anemia Ringan)
37. E (informasi tanda bahaya trimester 3)
Pada kehamilan trimester I dan III kadar hae-
moglobin normal diatas 11 gr/dl. Pada usia kehamilan 34 minggu seorang
G2P0A1 (seperti primipara karena belum pernah
melahirkan) seharusnya bagian terbawah janin sudah
32. D (4 minggu) masuk PAP pada usia kehamilan antara 34-36 ming-
Evaluasi untuk keefektifan pemberian Fe dan gu, sehingga perlu diberikan prioritas pendidikan
asam folat sebaiknya dilakukan 1 bulan kemudian (4 kesehatan tentang tanda bahaya kehamilan. Untuk
minggu). Satu bulan setelah pemberian Fe+asam fo- opsi jawaban yang lain (A) tidak ada indikasi untuk
lat, bidan perlu melakukan pemeriksaan haemoglobin diberikan TT, (B) persiapan persalinan belum menja-
kembali. di prioritas karena ada hal yang lebih penting, (C) dan
(D) tidak ada indikasi untuk memberikan pendidikan
kesehatan tentang gizi dan nutrisi ibu hamil.
33. C (+++)

Pada pemeriksaan kualitatif reduksi urine den- 38. E (adaptasi psikologi trimester 3)
gan hasil menggumpal dapat diinterpretasikan hasil
positif 3 (+++) Adaptasi psikologi Trimester 3 karena pada
seorang ibu hamil TM III akan mengalami perubahan
psikologis terkait persalinannya akan merasakan ce-
34. A (setinggi pusat) mas apakah persalinannya akan normal, apakah bayi
yang dikandungnya mengalami kecacatan ataukah ti-
Untuk usia kehamilan 24 minggu jawabannya dak.
adalah TFU setinggi pusat. TFU kehamilan untuk
jawaban yang lain adalah sebagai berikut:
39. A (makan sering dengan porsi kecil)
• Setinggi pusat adalah 24 minggu
Dengan makan sedikit dapat mengantisipasi
• jari diatas pusat adalah 28 minggu kekurangan nutrisi karena mual yang dirasakan ibu.
• jari dibawah pusat adalah 20 minggu
40. A (baik)
• jari di atas sympisis adalah 12 minggu
Analisis grafik PWS KIA terdapat beberapa je-
nis:
35. A (tungkai ditinggikan saat tidur) 1. Status baik : angka cakupan melebihi/diatas
target dan angka cakupan bulan ini meningkat
Ibu hamil dengan keluhan tungkai bengkak dibandingkan dengan cakupan bulan yang lalu
akan mereda dengan posisi kaki lebih tinggi supaya
aliran darah balik di pembuluh darah balik (vena) 2. Status kurang: Angka cakupan melebihi target
namun lebih rendah dari cakupan bulan yang
menjadi lancar karena sudah menjadi fisiologisnya
lalu
klep pembuluh darah balik pada ibu hamil tonusn-
ya melemah akibat pengaruh hormon progresteron. 3. Status cukup: angka cakupan meningkat dari
Untuk opsi jawaban A, B, C dan E bukan merupakan bulan lalu namun tetap dibawah target wilayah
jawaban karena tidak dapat memberikan solusi tung-
kai bengkak. 4. Status jelek: angka cakupan melebihi target
67
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

wilayah dan angkanya meningkat dari bulan gejala: perdarahan dengan nyeri intermiten atau men-
lalu. etap, warna darah kehitaman dan cair, tetapi mungkin
ada bekuan jika solusio relatif baru, syok tidak ses-
uai dengan jumlah darah keluar (tersembunyi), ane-
41. C (KF) mia berat, gawat janin atau hilangnya denyut jantung
janin, uterus tegang terus menerus dan nyeri. Pada
Terdapat 13 macam grafik dalam PWS KIA kondisi tersebut, tidak boleh ditatalaksana pada fasili-
tas kesehatan dasar, harus dirujuk ke fasilitas keseha-
1) Grafik cakupan kunjungan antenatal ke-1 (K1)
tan yang lebih lengkap.
2) Grafik cakupan kunjungan antenatal ke-4 (K4)
3) Grafik persalinan oleh Nakes (Pn)
4) Grafik kunjungan nifas (KF) 44. A (Melibatkan suami dalam manajemen
pengurangan nyeri)
5) Grafik Resti Masyarakat
Pijatan dapat membantu meminimalkan nyeri,
6) Grafik Komplikasi yang ditangani (PK)
Manfaat pendamping (orang terdekat): keterli-
7) Grafik cakupan kunjungan neonatal (KN I) batan emosi, lebih leluasa, kasih saying
8) Grafik cakupan kunjungan neonatal Lengkap Dengan adanya pendamping keluarga maka bidan
(KNL) sangat terbantu dalam memberikan dukungan psi-
kologis pada ibu dan memberikan pijatan yang
9) Grafik komplikasi Neonatus yang ditangani dapat membantu ibu lebih rilleks dalam menjalani
(NK) proses persalinannya.
10) Grafik cakupan Bayi Lengkap (KBy)
11) Grafik cakupan Pelayanan Anak balita Leng- 45. D (memfasilitasi ibu melakukan posisi men-
kap (KBal) eran)
12) Grafik cakupan pelayanan anak Balita Sakit Posisi yang tepat akan mempengaruhi kemam-
(BS) puan ibu untuk meneran
13) Grafik cakupan pelayanan KB (CPR)Soal
pws) Seorang bidan hendaknya membiarkan ibu bersa-
lin dan melahirkan memilih sendiri posisi persa-
linan yang diinginkannya dan bukan berdasarkan
keinginan bidannya sendiri. Dengan kebebasan
42. C (plasenta previa) untuk memutuskan posisi yang dipilihnya, ibu
Plasenta previa adalah plasenta yang berim- akan lebih merasa aman.
plantasi di atas atau mendekati ostium serviks interna.
Faktor Predisposisi: kehamilan dengan ibu berusia
lanjut, multiparitas, riwayat seksio sesarea sebelum- Dibawah ini adalah manfaat pilihan posisi ber-
nya. Tanda dan gejalanya dapat berupa: perdarahan dasarkan Keinginan Ibu
tanpa nyeri, usia kehamilan>22 minggu, darah segar
yang keluar sesuai dengan beratnya anemia, syok, ti- • Memberikan banyak manfaat
dak ada kontraksi uterus, bagian terendah janin tidak
• Sedikit rasa sait dan ketidaknyamanan
masuk pintu atas panggul, kondisi janin normal atau
terjadi gawat janin. Penegakkan diagnosis dibantu • Kala 2 persalinan menjadi lebih pendek
dengan pemeriksaan USG.
• Laserasi perineum lebih sedikit

43. D (Rujuk Ke rumah sakit) • Lebih membantu meneran

Tanda-tanda seperti pada kasus pada nomor soal • Nilai apgar lebih baik
43 mengarah pada solusio plasenta yaitu terlepasnya
plasenta dari tempat implantasinya dengan tanda dan
68
Program Studi DIII Kebidanan

46. B (melakukan episiotomi mediolateral) B. Untuk mengevaluasi pembukaan cervik


uteri
Kata kuncinya adalah perineum ketat > kemu-
ngkinan besar akan terjadi robekan C. Untuk menyelesaikan persalinan atau
melakukan rujukan
A. Bila tidak dilakukan episiotomi, dikha-
watirkan terjadi robekan yang tidak D. Petunjuk partograf WHO setiap 4 jam
beraturan

B. Episiotomi merupakan suatu tindakan 48. C (Miring Kiri)


insisi pada perineum yang dimulai dari
cincin vulva kebawah, menghindari anus Dengan posisi UUK kiri depan  memfasil-
dan muskulus spingter dimana insisi itasi putar paksi dalam. Tidur miring kekiri mem-
menyebabkan terpotongnya selaput bantu Sirkulasi darah janin tidak terhambat.Posisi
lendir vagina, cincin selaput dara, jarin- ini menurut beberapa referensi akan membuat kerja
gan pada septum rektovaginal, otot-otot jantung lebih mudah, karena berat badan bayi tidak
dan fasia perineum dan kulit sebelah menekan vena besar yang disebut vena cava inferior,
depan perineum untuk melebarkan orifi- yang bertugas membawa darah kembali lagi dari kaki
sium ( lubang / muara ) vulva sehingga ke jantung. Hal ini juga akan meningkatkan sirkulasi
mempermudah jalan keluar bayi dan darah lebih cepat yang menuju ke janin, rahim, dan
mencegah ruptur perinii totalis. ginjal. Hal ini karena hati kita berada disebelah kanan
perut, sehingga berbaring kekiri membantu melind-
C. Episiotomi mediolateral adalah episi- ungi rahim.
otomi yang jenis sayatan yang di buat
dari garis tengah kesamping menjauhi
anus yang sengaja dilakukan menjauhi 49. E (penurunan kepala 5/5)
otot sfingter ani untuk mencegah rup-
tura perinei tingkat III, dimana insisi A. Kepala janin belum masuk PAP pada
dimulai dari ujung terbawah introitus primigravida, sedangkan usia kehamilan
vagina menuju ke belakang dan samping telah 39 minggu
kiri atau kanan ditengah antara spina B. Penurunan kepala janin pada primigrav-
ischiadica dan anus. ida menurut beberapa referensi turun
D. Dilakukan pada ibu yang memiliki pada minggu ke-36. Hal ini disebabkan
perineum pendek, pernah ruptur grade oleh mengencangnya otot dinding perut
3, dengan Panjang sayatan kira-kira hamil, tarikan kuat ligammentum yang
4 cm dan insisi dibuat pada sudut 45 menyangga Rahim, bentuk kepala Janis
derajat terhadap forset posterior pada sesuai dengan pintu atas panggul, gaya
satu sisi kanan atau kiri tergantung pada berat kepala janin dan terjadinya kon-
kebiasaan orang yang melakukannya. traksi Braxton Hicks

E. Keuntungan dari epistomi mediolateral C. Pada primigravida ketika janin belum


adalah Perluasan laserasi akan lebih kecil memasuki pintu atas panggu pada usia
kemungkinannya mencapai otot sfingter kehamilan 36 minggu maka perlu dicuri-
ani dan rektum sehingga dapat mence- gai adanya:
gah terjadinya laserasi perinei tingkat 1 Kepala lebih besar dari panggul
III ataupun laserasi perineum yang lebih ibu
parah yang sampai pada rectum.
2 Berat bayi yang melebihi 4 kg
3 Rongga panggul ibu sempit
47. D (4 jam kemudian)
4 Bayi terlilit tali plasenta atau
Dibawah ini adalah indikasi pemeriksaan da- tumor yang menutupi rongga
lam: panggul ibu
A. Bila ketuban pecah sebelum waktunya
5 Plasenta previa
69
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

6 Dan kemungkinan kondisi al, yang akhirnya akan mengurangi kecemasan, yang
lainnya mengurangi kepekaan kita terhadap rasa sakit.

55. C (lakukan amniotomi)


50. D (Suntik Oksitosin 10 IU Secara IM)
Amniotomi merupakan suatu tindakan untuk
Syarat pennyuntikan oksitosin pada manajemen memecahkan ketuban pada saat pembukaan sudah
aktif kala III adalah setelah janin dilahirkan dan di- lengkap. Amniotomi dilakukan dengan cara me-
pastikan tidak ada janin kedua mecahkan ketuban baik di bagian bawah depan ( fore
water ) maupun dibagian belakang ( hind water ) den-
gan suatu alat khusus (drewsmith catheter ). Amniot-
51. E (membiarkan bayi lahir sampai tampak omi dilakukan jika ketuban belum pecah
perut dan sebagian dada janin)

Mempertahankan persalinan presentasi bokong 56. D (posisikan ibu senyaman mungkin)


yang fisiologis, ditunjang oleh:
Posisi dalam persalinan dan kelahiran sangat
penting,karena akan membantu menjadi lebih nya-
1. Bayi tidak besar
man selama proses persalinan. Beberapa posisi juga
2. Multigravida, Riwayat persalinan normal akan membantu mempercepat proses persalinan. Ti-
dak ada posisi yang sempurna untuk persalinan, teta-
3. Kondisi pasien dalam batas normal pi sering perubahan posisi selama persalinan dapat
membantu menajdi rileks dan tetap dapat mengenda-
likan rasa sakit.
52. A (menstabilkan pasien)

Tindakan utama pada kasus kegawatdaruratan 57. A (lakukan rujukan)


adalah menstabilkan pasien. Adalah proses untuk
Rujukan kegawatdaruratan adalah rujukan yang
menjaga kondisi dan posisi penderita/ pasien agar
dilakukan sesegera mungkin karena berhubungan
tetap stabil selama pertolongan pertama. Sebelum pa-
dengan kondisi kegawatdaruratan yang mendesak.
sien stabil tindakan lain adalah sia-sia.
Salah satu pertimbangan perencanaan rujukan adalah
riisko dapat timbul bila rujukan tidak dilakukan.Da-
53. D (melakukan observasi DJJ tiap 30 menit) lam kasus ini, rujukan dilakukan karena letak lintang,
dan pasien bersalin ke BPM sehingga harus dirujuk
Penilaian dan intervensi pada kala I aktif yaitu untuk dilakukan persalinan dengan tindakan di RS.
Parameter Frekuensi pada kala I aktif
Tekanan darah Tiap 4 jam
Suhu Tiap 2 jam
Nadi Tiap 30-60 menit
DJJ Tiap 30 menit 58. A (lakukan rujukan)
Kontraksi Tiap 30 menit
Pasien sudah meneran 1 jam tetapi bayi belum
Pembukaan serviks Tiap 4 jam
Penurunan kepala Tiap 4 jam
lahir, jika bayi belum lahir 1 jam pada multigravida
Warna cairan amnion Tiap 4 jam
dan 2 jam pada primigravida harus segera persiapkan
rujukan. Salah satu pertimbangan perencanaan ru-
jukan adalah riisko dapat timbul bila rujukan tidak
dilakukan.Dalam kasus ini, rujukan dilakukan karena
54. B (ajarkan tekhnik relaksasi) letak lintang, dan pasien bersalin ke BPM sehingga
Teknik relaksasi meningkatkan kenyaman- harus dirujuk untuk dilakukan persalinan dengan tin-
an ibu saat bersalin dan mempunyai pengaruh yang dakan di RS.
efektif terhadap pengalaman persalinan.Melakukan
teknik relaksasi fisik yang melepaskan/ merilekskan 59. A (pimpin meneran)
otot-otot membantu untuk mengurangi ketegangan
fisik dan mengurangi rasa sakit. Hal ini juga dapat Jika pembukaan sudah lengkap, melakukan
menyebabkan rasa aman dan kesejahteraan emosion- pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan.
70
Program Studi DIII Kebidanan

Posisi yang tepat adalah bantu ibu posisi setengah 65. A (periksa lilitan tali pusat)
duduk dan pastikan merasa nyaman.
Setelah tampak kepala bayi dengan diameter
5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang
60. A (partograph) dilapisi kain bersih dan kering, sementara tangan
yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi
Penggunaan patograf dimulai dari pembukaan defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu
4 cm dan kontraksi teratur.Pengisian patograf sesuai meneran sambil bernapas cepat dan dangkal.Periksa
dengan ketentuan yang ada. lilitan tali pusat dan lakukan tindakan yang sesuai jika
hal itu terjadi.
61. C (protein urine)

Tanda dan gejala Pre eklamsia adalah pusing, 66. B (ring Bandle)
penglihatan kabur, nyeri epigastrium dan Tekanan da- Kemungkinan risiko yang menjadi jawabannya
rah tinggi.Pasien memiliki riwayat preeklamsia.Un- adalah dystosia bahu (kesulitan lahirnya bahu) kare-
tuk menegakkan diagnosis, perlu dilakukan pemerik- na dari kasus dapat diketahui bahwa pada kehamilan
saan laboratorium protein urine. ini memiliki TFU 41 yang artinya TBJ-nya pasti lebih
dari 4000 gram yaitu (29-12) x 155 = 4495 gram
62. C (memegang kepala secara biparietal) (giant baby/bayi raksasa), hal ini akan beresiko ter-
jadinya ring bandle karena tanda awal terjadi rupture
Langkah persalinan normal setelah kepala uteri akibat dari CPD.
melakukan putaran paksi luar, pegang secara bipa-
rietal.Anjurkan ibu meneran saat kontraksi. Dengan
lembut gerakkan kepala kea rah bawah dan distal 67. A (tetap menyusui)
hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis. Kolostrum disekresi oleh kelenjar payudara dari
Gerakkan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu hari pertama sampai hari ketiga atau keempat. Apabi-
belakang.Selanjutnya membantu lahirnya badan dan la bayi tetap disusui, maka gerakan menghisap yang
tungkai dan diikuti langkah sesuai asuhan persalinan berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang
normal. terdapat pada glandula pituitaria posterior, sehingga
keluar hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan sel-sel
63. D (hasil pemeriksaan) miopitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan men-
dorong ASI masuk dalam pembuluh ampulae. Penge-
Hasil pemeriksaan penting diinformasikan ke- luaran oksitosin selain dipengaruhi oleh isapan bayi,
pada pasien supaya pasien merasa tenang.Karena juga oleh reseptor yang terletak pada system duktus.
menginformasikan hasil pemeriksaan merupakan Bila duktus melebar, maka secara reflektoris dikel-
komunikasi anatarbidan dengan pasien.Setelah itu, uarkan oksitosin oleh hipofisis yang berperan untuk
bidan dapat melakukan rencana asuhan selanjutnya memeras keluar air susu dari alveoli
sesuai juga dengan kebutuhan pasien.

68. B (memberikan dukungan psikologi)


64. A (menawarkan ibu pulang hingga kontraksi
adekuat) Kondisi kasus menunjukkan pasien/klien se-
dang membutuhkan teman yang tulus memperhati-
Adanya perbedaan pada dilatasi serviks antara kannya. Kasus kejiwaan tidak bisa selesai dalam se-
primipara dengan multipara. Dimana pada primigrav- kejap maka perlu tindakan yang bertahap.
ida akan mengalami penipisan serviks dalam 3 ming-
gu terakhir kehamilannya dan suatu penipisan ser-
viks yang sempurna akan terjadi pada saat memasuki 69. E (depresi post partum)
persalinan. Sedangkan pada multipara sering terjadi
Tanda dan gejala yang mungkin diperlihatkan
perlunakan serviks tanpa didahului dengan penipisan
pada penderita depresi postpartum adalah sedih dan
dari serviks, pasien multipara akan memasuki persali-
kecewa, sering menangis, gelisah dan cemas, naf-
nan dengan serviks yang lunak dimana penipisan ser-
su makan menurun, tidak bisa tidur, perasaan ber-
viks belum terjadi dengan baik, namun pembukaan
salah dan putus harapan, memperlihatkan penurunan
dan penipisan yang cepat akan terjadi dalam waktu
keinginan untuk mengurus bayinya.
yang bersamaan.
71
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

70. B (Pasang infus) bayi, menggunakan pompa payudara tanpa indika-


si sehingga menyebabkan suplai berlebih, implant
Penanganan retensio plasenta yaitu : payudara.
1. Berikan 20-40 unitoksitosin dalam 1000
ml larutan NaCL 0,9% ringer laktat dengan 74. A (trombophlebitis)
kecepatan 60 tetes/menit dan 10 unit IM.
Lanjutkan infuse oksitosin 20 unit dalam Tromboflebitis adalah penjalaran infeksi
1000 ml larutan NaCL 0,9% Ringer laktat melalui vena sering terjadi dan merupakan penyebab
dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga terpenting dari kematian karena infeksi puerperalis.
perdarahan berhenti, Faktor penyebab terjadinya infeksi tromboflebitis
antara lain pasca bedah, perluasan infeksi endometri-
2. Lakukan PTT um, mempunyai varises pada vena, Obesitas , pernah
3. Bila PTT tidak berhasil, lakukan plasenta mengalami tromboflebitis, berusia 30 tahun lebih,
manual secara hati-hati trauma, adanya malignitas (karsinoma).

4. Berikan antibiotika profilaksis dosis tung-


gal 75. B (mengajarkan posisi menyusui)

5. Segera atasi atau rujuk bila terjadi komp- Posisi yang tepat adalah elemen kunci dalam
likasi kesuksesan proses menyusui. Proses menyusui dapat
ditingkatkan dengan menempelkan payudara ke ten-
gah-tengah bibir bayi. Hal ini akan menstimulasi bayi
untuk membuka mulutnya lebar-lebar. Saat hal ini
71. C (mastitis)
muncul, dorong bayi lurus ke depan menuju putting
Mastitis adalah inflamasi atau infeksi payuda- susu dan areola. Saat posisi sudah tepat, putting susu
ra.Diagnosis : payudara keras, memerah dan nyeri, dan sebagian besar dari areola akan masuk di dalam
demam > 38 0C, paling sering terjadi di minggu ke 3 mulut bayi.bibir bayi dan gusinya harus berada di
dan ke 4 postpartum namun dapat terjadi kapan saja sekeliling areola payudara, tidak hanya pada putting
selama menyusui. Faktor predisposisi menyusui be- susu saja.
berapa minggu setelah melahirkan, putting susu lecet,
menyusui hanya 1 posisi, menggunakan bra yang 76. D (haemoglobin)
ketat, riwayat mastitis sebelumnya saat menyusui.
Perdarahan pascapersalinan mengakibatkan hi-
langnya darah sebanyak 500 ml atau lebih, dan jika
72. A (kompres dingin)
hal ini terus dibiarkan tanpa adanya penanganan yang
Semua tindakan adalah benar, tetapi untuk tin- tepat dan akurat akan mengakibatkan turunnya kadar
dakan awal adalah kompres dingin berujuan men- hemoglobin dibawah nilai normal. Oleh karena itu,
gurangi payudara bengkak dan memerah sesuai ha- perlu pemeriksaan kadar Hb.
sil pemeriksaan. Tatalaksana umum ibu sebaiknya
tirah baring dan mendapat asupan cairan yang lebih 77. D (subinvolusio)
banyak, tatalaksana khusus yaitu berikan antibio-
tika, dorong ibu untuk tetap menyusui dimulai dari Subinvolusi adalah kegagalan uterus untuk
payudara yang tidak sakit, kompres dingin, berikan mengikuti pola normal involusi/proses involusi rahim
paracetamol dan sangga payudara. tidak berjalan sebagaimana mestinya,sehingga proses
pengecilan uterus terhambat.
73. C (bendungan ASI)
Biasanya tanda dan gejala subinvolusi tidak
Bendungan payudara adalah bendungan yang tampak,sampai kira-kira 4 – 6 minggu postpartum.
terjadi pada kelenjar payudara oleh karena ekspansi
dan tekanan dari produksi dan penampungan ASI. 1. Fundus uteri letaknya tetap tinggi didalam abdo-
Diagnosis : peyudara bengkak dank eras, nyeri pada men/pelvis dari yang
pyudara, terjadi 3-5 hari setelah persalinan. Faktor 2. Diperkirakan/penurunan fundus uteri lambat dan
predisposisi : posisi menyusui yang tidak baik, mem- tonus uterus lembek.
batasi menyusui, memberikan susu formula untuk
72
Program Studi DIII Kebidanan

3. Keluaran kochia seringkali gagal berubah lemah; Benjolan terasa panas; Kulit di sekitar abses
dari bentuk rubra kebentuk serosa,lalu ke- ikut membengkak.
bentuk lochia alba
4. Lochia bisa tetap dalam bentuk rubra dalam 81. B (merujuk ke rumah sakit)
waktu beberapa hari postpartum/lebih dari 2
minggu postpartum Lochea adalah istilah untuk sekret dari uter-
us yang keluar melalui vagina selama puerperium.
5. Lochia bisa lebih banyak daripada yang Dibawah ini adalah tahapan keluarnya lochea pada
diperkirakan masa nifas:
Lochea Rubra: Lochea ini muncul pada hari ke
6. Leukore dan lochia berbau menyengat,bisa
terjadi jika ada infeksi. 1-4 masa post partum. Cairan yang keluar berwarna
merah karena berisi darah segar, jaringan sisa – sisa
7. Pucat,pusing,dan tekanan darah rendah plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo, dan me-
konium.
8. Bisa terjadi perdarahan postpartum dalam
jumlah yang banyk ( > 500 ml ) A. Lochea Sanguinolenta : Cairan yang
9. Nadi lemah,gelisah ,letih,ekstrimitas dingin keluar berwarna merah kecoklatan dan
berlendir. Berlangsung dari hari ke 4
sampai ke 7 post partum.
78. E (anemia) B. Lochea Serosa: Lochea ini berwarna
kuning kecoklatan karena mengandung
Perdarahan pascapersalinan mengakibatkan hi- serum, leukosit dan robekan/laserasi
langnya darah sebanyak 500 ml atau lebih, dan jika plasenta. Muncul pada hari ke 7 sampai
hal ini terus dibiarkan tanpa adanya penanganan yang ke 14 post partum.
tepat dan akurat akan mengakibatkan turunnya kadar
hemoglobin dibawah nilai normal. Hb < 11 gr/dl din- C. Lochea Alba: Mengandung leukosit, sel
yatakan anemia desidua, sel epitel, selaput lendir serviks
dan serabut jaringan yang mati. Lochea
ini berlangsung selama 2-6 minggu post
79. C (observasi perdarahan) partum.
Asuhan ibu selama masa nifas antara lain:
periksa TD, Perdarahan pervaginam, kondisi perine-
um, tanda infeksi, kontraksi uterus, tinggi fundus dan Tanda dan gejala terjadinya Pendarahan Post
temperatur secara rutin. Karena kasus diatas menun- Partum Skunder antara lain sebagai berikut:
jukkan pasien dengan riwayat HPP, sehingga yang
paling penting observasi perdarahan untuk mencegah A. Pendarahan terjadi secara terus menerus
terjadinya komplikasi. setelah seharusnya lokhia rubra berhenti

B. Pendarahan dapat terjadi secara men-


80. E (abses payudara) dadak, seperti pendarahan post partum
primer dan di ikuti gangguan system
Abses payudara adalah benjolan yang terbentuk
kardiovaskuler sampai syok.
di payudara karena berkumpulnya nanah dan tera-
sa nyeri.Kebanyakan abses muncul persis di bawah C. Mudah terjadi infeksi skunder sehingga
lapisan kulit.Abses payudara umumnya dialami oleh dapat menimbulkan: lochea keruh dan
wanita berusia 18 hingga 50 tahun, khususnya oleh berbau dan kejadian sub involusi
ibu yang sedang dalam masa menyusui.Seringkali ab-
ses payudara juga dapat muncul sebagai komplikasi
dari mastitis. 82. C (tetanus)
Ciri-ciri benjolan dalam kasus abses payuda-
ra bisa dikenali dari pola tepiannya yang teratur dan Tanda-tanda seperti pada kasus no 82 menga-
memiliki tekstur halus, serta terasa padat mirip kista. rah ke tetatus. Selain dapat terjadi pada bayi tetanus
Selain rasa nyeri, gejala yang juga menyertai abses juga dapat terjadi pada ibu nifas. Pada kasus ini harus
payudara adalah: Demam tinggi; Kemerahan; badan segera dilakukan rujukan ke rumah sakit.
73
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

83. A (trikomoniasis) Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir


tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi
Trikomoniasis adalah infeksi pada vagina yang dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya
disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis Di- akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Mas-
agnosis dengan tanda dan gejala yang dapat muncul alah ini erat hubungannya dengan gangguan keseha-
adalah: duh tubuh vagina kuning kehijauan dan ber- tan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang
busa, vagina bau dan gatal, edema atau eritema va- mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesu-
gina, strawberry cervix. Diagnosis dilakukan dengan dah persalinan
melihat trikomonas hidup pada sediaan langsung duh
tubuh dalam larutan NaCl fisiologis.
88. A (Ikterus Fisiologis)

84. A (malaria) Tanda dan gejala ikterus fisiologis dapat beru-


pa: letargi dan malas, bagian putih bola mata bayi ter-
Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat lihat kuning, bayi yang tidak mau menyusu/tidur ter-
akut maupun kronik, disebabkan oleh protozoa genus us menerus, bila kulitnya ditekan beberapa detik akan
Plasmodium, ditandai dengan demam, anemia dan terlihat warna kekuning-kuningan, tangisan bernada
splenomegali. Tanda dan gejala malaria tanpa komp- tingi, kulit berwarna kuning, timbul pada hari kedua
likasi meliputi: demam, menggigil/kedinginan/kaku, dan ketiga, kadar bilirubin indirect sesudah 2x24 jam
sakit kepala, nyeri otot/persendian, kehilangan selera tidak melewati 15 mg % pada neonatus cukup bulan
makan, mual dan muntah, diare, mulas seperti his pal- dan 10 mg % pada neonatus kurang bulan, kecepatan
su (kontraksi uterus), pembesaran limpa, pembesaran peningkatan kadar bilirubin tak melebihi 5 mg % per
hati. Diagnosis ditegakkan bila ditemukan parasit hari, kadar bilirubin direct tidak melebihi 1 mg %, ik-
pada pemeriksaan apus darah tepi dengan mikroskop terus menghilang pada 10 hari pertama ,tidak terbukti
atau hasil positif pada pemeriksaan rapid diagnostic mempunyai hubungan dengan keadaan patologis.
test (RDT).

89. B (diare persisten)


85. A (rooting)
Kondisi pada kasus tersebut adalah diare na-
Rooting reflex terjadi ketika pipi bayi diusap mun tidak menujukkan tanda dehidrasi. Karena kasus
(dibelai) atau di sentuh bagian pinggir mulutnya.Se- terjadi lebih dari 14 hari maka disebut sebagai diare
bagai respons, bayi itu memalingkan kepalanya ke persisten. Apabila terdapat darah dalam tinja kemun-
arah benda yang menyentuhnya, dalam upaya mene- gkinan terjadi disentri.
mukan sesuatu yang dapat dihisap.Refleks menghisap
dan mencari menghilang setelah bayi berusia sekitar
3 hingga 4 bulan. 90. B (Pertumbuhan normal dan perkemban-
gan meragukan)

86. E (Memberikan suntikan Hepatitis B0) Pada bayi perempuan usia 1 tahun BB dan PB
pada kasus tersebut termasuk kategori normal atau se-
Vaksinasi hepatitis B pada bayi baru lahir san- suai dengan pertumbuhannya. Hasil jawaban ya pada
gat penting untuk diberikan. Semua bayi baru lahir KPSP 7-8 menunjukkan perkembangan anak meragu-
harus sudah divaksinasi hepatitis B sebelum pulang kan, sedangkan apabila jawaban ya.nya 6 atau kurang
dari rumah sakit, terbaik dalam waktu kurang dari maka kemungkinan ada penyimpangan. Perkemban-
12 jam setelah lahir (bukan 1 jam setelah lahir). Hal gan anak sesuai dengan tahapan perkembangan apa-
ini dilakukan untuk mencegah penularan Hepatitis B bila jawan ya 9-10.
pada bayi, baik dari ibu maupun dari teman dan ang-
gota keluarga lain yang tidak mengetahui diri mereka
terinfeksi hepatitis B. 91. D (Evaluasi KPSP ulang 2 minggu kemudi-
Kontraindikasi penyuntikan imunisasi hepatitis an)
B adalah bayi sedang demam tinggi atau mengalami
Pertumbuhan anak pada kasus tersebut normal
in
sehingga tidak diperlukan konsultasi dengan ahli gizi.
Jawaban ya pada KPSP 8 menunjukan perkembangan
87. D (asfiksia) yang meragukan sehingga membutuhkan stimulasi
lebih sering dan intensif pada jawaban tidak selama 2

74
Program Studi DIII Kebidanan

minggu, setelah itu dilakukan penilaian ulang KPSP. haematom teraba subperiostial tulang tengkorak, ber-
batas tegas, dan tidak melampaui sutura sekitarnya.
Sedangkan perdarahan intrakranial ditandai dengan
92. E (Pemberian oralit) masa padat berfluktuasi, untuk perdarahan subapo-
Kondisi pada kasus tersebut menunjukkan 2 neurotik ditandai dengan adanya pembengkakan ku-
tanda diare dengan tanda dehidrasi sedang yaitu bayi lit kepala, mungkin meluas ke daerah periorbital dan
rewel dan minum banyak. Pemberian oralit setiap kali leher. Adapun penumpukan cairan cerebrospinal tan-
mencret selain melanjutkan pemberian ASI penting danya mirip hidrocephalus.
dilakukan untuk rehidrasi atau mencegah dehidrasi
yang lebih parah. Diperlukan juga pemberian zink se- 97. D (Menyuntikkan imunisasi Hb0)
lama 10 hari berturut-turut. Pemberian teh manis atau
jus buah tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan Prosedur penatalaksanaan bayi baru lahir
hipernatremi. Suhu masih dalam kondisi normal seh- setelah dilakukan IMD selesai dan sudah memenuhi
ingga tidak diperlukan antipiretik, sedangkan pembe- usia 1 jam, maka asuhan selanjutnya adalah pemer-
rian antibiotik memerlukan kolaborasi, biasanya atas iksaan fisik dan antropometri, pemberian Vit K1 dan
indikasi seperti pada kasus disentri dan kolera. tetes mata, sedangkan pemberian imunisasi hepa-
titis B0 diberikan 1 jam setelah pemberian Vit K1.
Untuk menjaga pemberian identitas diberikan pada
93. E (pemberian vitamin A) awal asuhan.Sehingga jawaban yang tepat pada kasus
Kasus tersebut menunjukkan gejala campak tersebut adalah suntikkan imunisasi Hb0.
dan belum terjadi komplikasi. Rencana asuhan yang
tepat adalah pemberian vitamin A 1 dosis. Pemberian 98. A (Bayi baru lahir normal)
antipiretik dianjurkan apabila suhu ≥ 38,5. Pemberian
antibiotik harus berdasarkan indikasi misalnya cam- Diagnosis kasus tersebut adalah Bayi baru la-
pak dengan komplikasi berat. Pemberian salep mata hir normal karena usia kehamilannya aterm, hasil
kloramfenikol/tetrasiklin apabila terjadi kekeruhan penilaian selintas menunjukkan kondisi yang normal
pada kornea. yaitu bayi menangis kuat (2), warna kulit merah muda
(2), denyut jantung dan pernapasan cepat (2), BB bayi
3800 gram, PB 56 cm. Adapun diagnosa bayi baru
94. C (9 bulan) lahir kurang spesifik, sedangkan untuk diagnosa yang
Evaluasi perkembangan pada bayi usia 3-24 bu- lain adalah bayi baru lahir dismatur jika Berat bayi ti-
lan dilakukan setiap 3 bulan sekali, sedangkan usia dak sesuai usia kehamilan, untuk bayi baru lahir pre-
24-72 bulan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Untuk matur jika usia kehamilannya kurang dari 37 minggu,
pertumbuhan evaluasi dilakukan setiap bulan sekali untuk bayi baru lahir post matur jika usia kehamilan
dan dapat dilakukan di posyandu. melebihi 42 minggu.

95. B (Rujuk untuk pemeriksaan lanjutan) 99. A (rawat gabung)

Pada kasus tersebut dapat diklasifikasikan se- Jawaban dari soal ini adalah rawat gabung den-
bagai batuk bukan pneumonia karena tidak ada nafas gan ibunya, karena meskipun berat badannya 2200
cepat. Nafas cepat pada usia > 12 bulan s.d 5 tahun gram, tetapi hasil pemeriksaan fisik dalam batas nor-
apabila pernafasan ≥ 40 kali per menit. Jawaban B mal, daya hisap kuat, reflek hisap baik, sehingga di-
paling tepat karena keluhan batuk sudah terjadi leb- harapkan asupan nutrisi melalui ASI dapat terpenuhi
ih dari 3 minggu sehingga memerlukan pemeriksaan dengan baik, sehingga asuhannya adalah difasilitasi
lanjutan. rawat gabung dengan ibunya. Adapun asuhan pem-
berian oksigen tidak ada indikasi karena pernafasan
normal, pemberian antibiotika juga tidak ada indikasi
96. B (caput succedaneum) baik terapi atau profilaksis, pemberian kortikosteroid
juga tidak ada indikasi karena paru-paru sudah cukup
Kasus tersebut merupakan jenis trauma persali- matang pada usia kehamilan 37 minggu, sedangkan
nan pada bayi baru lahir yang mengarah kepada Caput untuk rawat dalam incubator tidak perlu dilakukan
succedaneum karena ditandai dengan pembengkakan karena bayi memenuhi persyaratan untuk dilakukan
pada kepala, teraba lunak, batas tidak jelas, melewa- rawat gabung.
ti sutura, dan berisi cairan limfe, sedangkan chepal
75
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

100. D (Mendukung pemberian ASI on demand) 37-42 minggu.

Memberikan ASI secara on demand dipilih se-


bagai jawaban karena bayi dalam keadaan sehat dan 104. A (AKDR)
normal, didukung ASI keluar lancer dan hisapan bayi
Sesuai dengan klasifikasi persyaratan medis
kuat.Sedangkan asuhan yang menjadi opsi lainnya
penggunaan metode kontrasepsi,kondisi laktasi 6
sudah diberikan.
mingggu-< 6 bulan laktasi untuk metode kontrasepsi
pil kombinasi ,implan dan suntik kombinasi merupa-
kan masuk kedalam kategori 3 yaitu tidak dianjurkan,
101. D (9) sedangkan untuk metode kontrasepsi pil progestin,
DMPA, AKDR termasuk dalam kategori 1 yaitu
Jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah 9 kondisi dimana tidak ada pembatasan apa pun dalam
dengan rincian hitungan sebagai berikut : penggunaan metode kontrasepsi, sehingga metode
kontrasepsi yang cocok untuk ibu dalam masa meny-
badan dan ekstremitas berwarna merah =2 usui eksklusif adalah AKDR.
menangis kuat =2
105. C (AKDR)
N: 125 x/menit =2
gerakan sedikit =1 Sesuai dengan klasifikasi persyaratan medis
penggunaan metode kontrasepsi,kondisi laktasi 6
bersin saat dilakukan rangsangan taktil = 2 mingggu-< 6 bulan laktasi untuk metode kontrasepsi
pil kombinasi ,implan dan suntik kombinasi merupa-
9 kan masuk kedalam kategori 3 yaitu tidak dianjurkan,
sedangkan untuk metode kontrasepsi pil progestin,
DMPA, AKDR termasuk dalam kategori 1 yaitu
102. A (Lakukan perawatan metode kangguru) kondisi dimana tidak ada pembatasan apa pun dalam
penggunaan metode kontrasepsi, sehingga metode
Kondisi bayi termasuk berat bayi lahir rendah, kontrasepsi yang cocok untuk ibu dalam masa meny-
dengan hasil pemeriksaan fisik dalam batas normal, usui eksklusif adalah AKDR
sehingga untuk mencegah komplikasi hipotermia
maka segera dilakukan perawatan metode kanguru.
Jika bayi diletakkan dibawah lampu, kehangatan ku- 106. B (suntik 3 bulan)
rang dapat terkontrol dan tidak ada keuntungan terh-
adap aspek psiologis ibu bayi. Sedangkan pemberian Sesuai dengan klasifikasi persyaratan medis
infus dekstrose bukan merupakan pilihan karena bayi penggunaan metode kontrasepsi,kondisi laktasi 6
tidak hipoglikemia, dan pemberian antibiotika tidak mingggu - < 6 bulan laktasi untuk metode kontrasepsi
ada indikasi, untuk opsi dirujuk segera bukan mer- pil kombinasi ,implan dan suntik kombinasi merupa-
upakan pilihan yang tepat karena tidak ada indikasi kan masuk kedalam kategori 3 yaitu tidak dianjurkan,
untuk dirujuk yang ditandai dengan adanya hasil pe- sedangkan untuk metode kontrasepsi pil progestin,
meriksaan fisik dalam batas normal dan reflex hisap DMPA, AKDR termasuk dalam kategori 1 yaitu
yang kuat. kondisi dimana tidak ada pembatasan apa pun dalam
penggunaan metode kontrasepsi, sehingga metode
kontrasepsi yang cocok untuk ibu dalam masa meny-
103. C (Prematur) usui eksklusif adalah Suntik 3 bulan

Jawaban pertanyaan kasus tersebut adalah


premature karena usia kehamilannya adalah 36 107. A (Pil)
minggu, ditunjang dengan hasil pemeriksaan fisik
ditemukan bayi yang memiliki karakteristik bayi Berdasarkan urutan pemilihan kontrasepsi yang
premature diantaranya BB <2500 gram, PB <48 cm. rasional, klien dengan usia 20 tahun termasuk keda-
sedangkan menurut definisi masing-masing opsi yang lam fase menunda kehamilan, urutan pemilihan kon-
lain adalah immature adalah usia kehamilan 20-28 trasepsi urutan pertama adalah menggunakan Pil.
minggu, dismatur ketika usia kehamilan tidak sesuai
dengan beratnya, post matur jika usia kehamilan
melebihi 42 minggu dan matur ketika usia kehamilan
76
Program Studi DIII Kebidanan

108. C (melakukan tes kehamilan) pada media sekitarnya sehingga kondisi implan sudah
tidak steril, asuhan yang dilakukan ketika hal tersebut
Efek samping dari metode kontrasepsi AKDR terjadi adalah langsung mencabut implan dan diganti
adalah perubahan siklus haid, haid lebih lama dan dengan implan yang baru.
banyak, perdarahan antara menstruasi serta tim-
bul sakit saat haid, sehingga ketika klien pengguna
AKDR mengalami tidak haid 2 bulan, kemungkinan 114. C (Kondom)
besar terjadi kehamilan sehingga asuhan yang dilaku-
kan adalah test kehamilan. Pada kasus tersebut terdapat kontra indikasi
penggunaan AKDR, MAL, serta metode sederha-
na tanpa alat sehingga kontrasepsi yang paling tepat
109. D (memberikan kontrasepsi darurat) pada kasus tersebut adalah kondom.

Kontrasepsi darurat hanya efektif jika digu-


nakan dalam 72 jam sesudah hubungan seksual tan- 115. D (MOW)
pa perlindungan, sehingga ketika terdapat klien yang
lupa minum pil selama 2 hari berturut-urut, asuhan Pada kasus tersebut metode kontrasepsi yang
yang bisa dilakukan adalam pemberian metode kon- paling tepat adalah MOW sesuai dengan kebutuhan
trasepsi darurat. dan kondisi klien serta tidak ada kontraindikasi terha-
dap metode tersebut.

110. A (Spotting)
116. A (MAL)
Efek samping atau keterbatasan dari metode
kontrasepsi pil salah satunya adalah sering ditemui Kasus tersebut memiliki kontra indikasi untuk
adanya gangguan haid seperti: perdarahan tidak ter- pemasangan IUD dan metode hormonal, sehingga
atur/perdarahan bercak (spotting), sehingga jika metode kontrasepsi yang paling tepat digunakan pada
ditemukan pada klien dengan kondisi keluar bercak kasus tersebut adalah MAL.
darah, kemungkinan klien tersebut mengalami spot-
ting. 117. B (Perubahan hormonal selama masa peri-
menopause)
111. A (Anjurkan untuk berhenti minum pil) Keluhan yang dirasakan lazim terjadi pada
ibu menjelang masa menopause atau selama masa
Salah satu keterbatasan metode kontrasepsi pil
perimenepause/klimakterium.Penjelasan atau pendi-
adalah mual terutama pada 3 bulan pertama, yang ter-
dikan kesehatan terhadap perubahan hormonal yang
jadi pada klien pengguna pil terjadi muntah lebih dari
terjadi penting diberikan kepada ibu agar tidak merasa
3 bulan sehingga asuhan yang dilakukan adalah men-
khawatir terhadap perubahan yang terjadi.Diet tinggi
ganjurkan untuk berhenti minum pil sementara.
kalsium dan olah raga teratur juga perlu disarankan,
sedangkan terapi hormone pengganti perlu konsulta-
112. C (minum 2 pil sekaligus) si lebih lanjut.Pemakaian kontrasepsi hormonal tidak
diperlukan karena ibu masih menjadi akseptor AKDR
Metode kontrasepsi pil merupakan metode dan menjelang menenpause.Pada kasus tersebut yang
kontrasepsi yang penggunanya harus memiliki kedi- paling tepat adalah jawaban B.
siplinan yang tinggi untuk dapat diminum setiap hari,
kondisi klien akaseptor KB pil yang lupa minum pil
1 hari, maka asuhan yang dapat diberikan adalah mi- 118. A (Perimenopause)
num 2 pil sekaligus pada hari selanjutnya.
Keluhan yang dirasakan menunjukkan gejala
perimenepause, apabila ibu sudah tidak mendapatkan
113. C (mencabut dan mengganti batang susuk) haid selama satu tahun maka dapat dikatakan meno-
pause, sedangkan polimeneorhoe adalah gangguan
Implan merupakan metode kontrasepsi yang haid berupa silkus haid yang lebih singkat dari 21
dimasukkan kedalam bawah kulit, sehingga batang hari. Kasus tersebut belum menunjukkan tanda-tan-
implan harus terjaga harus steril menghindari infeksi, da kehamilan walaupun terjadi amenorhoe sehingga
ketika batang implan keluar dari tempat pemasangan/ jawaban yang paling tepat adalah A.
lengan, maka akan terjadi kontak/terkontaminasi
77
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

119. D (Gangguan hormonal) 123. D (Evaluasi KPSP ulang 2 minggu kemudi-


an)
Perhatikan kata kunci pada soal diantarnya:
keluhan (menstruasi yang sangat banyak), umur (48 Pertumbuhan anak pada kasus tersebut normal
tahun), siklus haid (tidak teratur 2-3 bulan), hasil an- sehingga tidak diperlukan konsultasi dengan ahli gizi.
amnesis (kadang sulit tidur, dan gelisah) merupakan Jawaban ya pada KPSP 8 menunjukan perkembangan
kunci kasus ini adalah perdarahan pada masa peri- yang meragukan sehingga membutuhkan stimulasi
menopause. lebih sering dan intensif pada jawaban tidak selama 2
Berikutnya perhatikan hasil pemeriksaan tanda minggu, setelah itu dilakukan penilaian ulang KPSP.
vital dalam batas normal, abdomen tidak teraba mas-
sa, inspekulo darah mengalir dari OUI, tidak disam-
124. E (Pemberian oralit)
paikan adanya darah yang keluar berbau atau kelain-
an pada organ genitalia merupakan kunci kasus ini Kondisi pada kasus tersebut menunjukkan 2
perdarahan bukan disebabkan oleh infeksi, neoplasia, tanda diare dengan tanda dehidrasi sedang yaitu bayi
maupun karena penggunaan kontrasepsi karena tidak rewel dan minum banyak. Pemberian oralit setiap kali
dijelaskan riwayat perdarahan sebelumnya dengan mencret selain melanjutkan pemberian ASI penting
sebab masih menggunakan kontrasepsi. Menopause dilakukan untuk rehidrasi atau mencegah dehidrasi
bukan pilihan karena menopause sudah tidak men- yang lebih parah. Diperlukan juga pemberian zink se-
galami haid selama 1 tahun. lama 10 hari berturut-turut. Pemberian teh manis atau
jus buah tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan
120. B (pasang infus) hipernatremi. Suhu masih dalam kondisi normal seh-
ingga tidak diperlukan antipiretik, sedangkan pembe-
Perhatikan kata kunci pada soal diantarnya: rian antibiotik memerlukan kolaborasi, biasanya atas
keluhan (menstruasi yang sangat banyak), umur (48 indikasi seperti pada kasus disentri dan kolera.
tahun), siklus haid (tidak teratur 2-3 bulan), hasil an-
amnesis merasa pusing dan lemas, sudah menstruasi
125. E (pemberian vitamin A)
selama 10 hari, siklus haid tidak teratur 2-3 bulan,
akseptor AKDR merupakan kunci kasus ini adalah Kasus tersebut menunjukkan gejala campak
perdarahan pada masa perimenopause. dan belum terjadi komplikasi. Rencana asuhan yang
Berikutnya perhatikan hasil pemeriksaan tan- tepat adalah pemberian vitamin A 1 dosis. Pemberian
da vital dalam batas normal, abdomen tidak teraba antipiretik dianjurkan apabila suhu ≥ 38,5. Pemberian
massa, inspekulo darah mengalir dari OUI menunjuk- antibiotik harus berdasarkan indikasi misalnya cam-
kan butuh tindakan segera/tindakan awal berupa per- pak dengan komplikasi berat. Pemberian salep mata
baikan keadaan umum dengan pasang infus, sebelum kloramfenikol/tetrasiklin apabila terjadi kekeruhan
pasien di rujuk ke RS. pada kornea.

121. D (IVA) 126. (C) 9 bulan


Perhatikan kata kunci soal ini adalah keputihan Evaluasi perkembangan pada bayi usia 3-24 bu-
pada perempuan menopause, perlu skrining kegana- lan dilakukan setiap 3 bulan sekali, sedangkan usia
san yang tersedia di Puskesmas yaitu IVA tes. 24-72 bulan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Untuk
pertumbuhan evaluasi dilakukan setiap bulan sekali
122. B (Pertumbuhan normal dan perkembangan dan dapat dilakukan di posyandu.
meragukan)

Pada bayi perempuan usia 1 tahun BB dan PB 127. A (BCG)


pada kasus tersebut termasuk kategori normal atau se- Imunisasi BCG dapat dilakukan pada bayi
suai dengan pertumbuhannya. Hasil jawaban ya pada usia 1-3 bulan. Polio diberikan 1 bulan atau 4 ming-
KPSP 7-8 menunjukkan perkembangan anak meragu- gu setelah pemberian polio sebelumnya. Imunisasi
kan, sedangkan apabila jawaban ya.nya 6 atau kurang DPT,Hep B dan HiB saat ini sudah dalam 1 vaksin
maka kemungkinan ada penyimpangan. Perkemban- yaitu pentavalen dan diberikan mulai bayi berusia 2
gan anak sesuai dengan tahapan perkembangan apa- bulan.
bila jawan ya 9-10.

78
Program Studi DIII Kebidanan

128. A (Campak) lahir kurang spesifik, sedangkan untuk diagnosa yang


lain adalah bayi baru lahir dismatur jika Berat bayi ti-
Riwayat imunisasi dasar pada kasus tersebut dak sesuai usia kehamilan, untuk bayi baru lahir pre-
sudah lengkap kecuali campak. Campak sebagai imu- matur jika usia kehamilannya kurang dari 37 minggu,
nisasi dasar dapat diberikan pada usia 9-12 bulan. untuk bayi baru lahir post matur jika usia kehamilan
Booster campak selanjutnya dapat diberikan pada melebihi 42 minggu.
usia 24 bulan.

133. E (rawat gabung dengan ibunya)


129. B (rujuk untuk pemeriksaan lanjutan)
Jawaban dari soal ini adalah rawat gabung den-
Pada kasus tersebut dapat diklasifikasikan se- gan ibunya, karena meskipun berat badannya 2200
bagai batuk bukan pneumonia karena tidak ada nafas gram, tetapi hasil pemeriksaan fisik dalam batas nor-
cepat. Nafas cepat pada usia > 12 bulan s.d 5 tahun mal, daya hisap kuat, reflek hisap baik, sehingga di-
apabila pernafasan ≥ 40 kali per menit. Jawaban B harapkan asupan nutrisi melalui ASI dapat terpenuhi
paling tepat karena keluhan batuk sudah terjadi leb- dengan baik, sehingga asuhannya adalah difasilitasi
ih dari 3 minggu sehingga memerlukan pemeriksaan rawat gabung dengan ibunya. Adapun asuhan pem-
lanjutan. berian oksigen tidak ada indikasi karena pernafasan
normal, pemberian antibiotika juga tidak ada indikasi
130. B (caput succedaneum) baik terapi atau profilaksis, pemberian kortikosteroid
juga tidak ada indikasi karena paru-paru sudah cukup
Kasus tersebut merupakan jenis trauma persali- matang pada usia kehamilan 37 minggu, sedangkan
nan pada bayi baru lahir yang mengarah kepada Caput untuk rawat dalam incubator tidak perlu dilakukan
succedaneum karena ditandai dengan pembengkakan karena bayi memenuhi persyaratan untuk dilakukan
pada kepala, teraba lunak, batas tidak jelas, melewa- rawat gabung.
ti sutura, dan berisi cairan limfe, sedangkan chepal
haematom teraba subperiostial tulang tengkorak, ber-
batas tegas, dan tidak melampaui sutura sekitarnya. 134. E (memberikan ASI on demand)
Sedangkan perdarahan intrakranial ditandai dengan Memberikan ASI secara on demand dipilih se-
masa padat berfluktuasi, untuk perdarahan subapo- bagai jawaban karena bayi dalam keadaan sehat dan
neurotik ditandai dengan adanya pembengkakan ku- normal, didukung ASI keluar lancar dan hisapan bayi
lit kepala, mungkin meluas ke daerah periorbital dan kuat.Sedangkan asuhan yang menjadi opsi lainnya
leher. Adapun penumpukan cairan cerebrospinal tan- sudah diberikan.
danya mirip hidrocephalus.

135. E (pendidikan kesehatan tentang perawatan


131. B (Menyuntikkan imunisasi Hb0) tali pusat)
Prosedur penatalaksanaan bayi baru lahir Jawaban kasus tersebut adalah melakukan pen-
setelah dilakukan IMD selesai dan sudah memenuhi didikan kesehatan perawatan tali pusat, karena fokus
usia 1 jam, maka asuhan selanjutnya adalah pemer- masalahnya adalah tali pusat yang masih basah,
iksaan fisik dan antropometri, pemberian Vit K1 dan lengket dan tampak kotor sehingga jika tidak segera
tetes mata, sedangkan pemberian imunisasi hepa- diberikan intervensi ini maka komplikasi lebih lan-
titis B0 diberikan 1 jam setelah pemberian Vit K1. jut dapat terjadi, sedangkan data lain menunjukkan
Untuk menjaga pemberian identitas diberikan pada tanda-tanda vital dalam batas normal sehingga tidak
awal asuhan.Sehingga jawaban yang tepat pada kasus menjadi prioritas tindakan.
tersebut adalah suntikkan imunisasi Hb0.

136. C (asfiksia)
132. A (Bayi baru lahir normal)
Asfiksia adalah terjadinya kegagalan bernafas
Diagnosis kasus tersebut adalah Bayi baru la- spontan dari bayi baru lahir yaitu pada menit kedua,
hir normal karena usia kehamilannya aterm, hasil diikuti dengan tanda-tanda fisik lainnya yaitu bayi
penilaian selintas menunjukkan kondisi yang normal lahir tidak langsung menangis, napas megap-megap
yaitu bayi menangis kuat (2), warna kulit merah muda dan gerak kurang aktif.Hal ini diperkuat adanya fak-
(2), denyut jantung dan pernapasan cepat (2), BB bayi tor predisposing bahwa ada riwayat persalinan lama
3000 gram, PB 56 cm. Adapun diagnosa bayi baru
79
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

yang membuat asupan oksigen ke janin menurun maka segera dilakukan perawatan metode kanguru.
membuat kondisi saat lahir terjadi asfiksia.Sedang- Jika bayi diletakkan dibawah lampu, kehangatan ku-
kan apneu adalah berhentinya nafas, dispnoe adalah rang dapat terkontrol dan tidak ada keuntungan terha-
sesak nafas, takipnoe adalah pernafasan yang cepat, dap aspek psikologis ibu bayi. Sedangkan pemberian
respiratory distress syndrome adalah kumpulan gang- infus dekstrose bukan merupakan pilihan karena bayi
guan pernafasan akibat beberapa kondisi diantaranya tidak hipoglikemia, dan pemberian antibiotika tidak
misalnya adalah karena insufisiensi plasenta. ada indikasi, untuk opsi dirujuk segera bukan mer-
upakan pilihan yang tepat karena tidak ada indikasi
untuk dirujuk yang ditandai dengan adanya hasil pe-
137. A (melanjutkan pemberian ASI eksklusif) meriksaan fisik dalam batas normal dan reflex hisap
Ikterus merupakan keadan kulit dan membran muko- yang kuat.
sa yang warnanya menjadi kuning akibat peningkatan
jumlah pigmen empedu di dalam darah dan jaringan
139. D (Postmatur)
tubuh.
Jawaban pertanyaan kasus tersebut adalah post-
Ikterus neonatorium adalah ikterus pada bayi baru
matur karena hasil pemeriksaan fisik ditemukan bayi
lahir.
yang memiliki karakteristik bayi postmatur diantara-
Kasus ini termasuk kedalam ikhterus fisiologis nya BB melebihi umumnya bayi aterm, ciri fisik lanu-
go sedikit, verniks caseosa kurang, kulit keriput, kuku
ikterus fisiologis adalah ikterus yang timbul pada jari panjang.
hari kedua dan hari ketiga serta tidak mempunyai
dasar patologis atau tidak mempunyai potensi men-
140. B (AKBK)
jadi kern ikterus. Adapun tanda-tandanya sebagai
berikut : Sesuai dengan klasifikasi persyaratan medis
penggunaan metode kontrasepsi,kondisi laktasi 6
1. Timbul pada hari kedua dan ketiga
mingggu-< 6 bulan laktasi untuk metode kontrasep-
2. Kadar bilirubin indirek tidak melebihi si pil kombinasi, suntik kombinasi merupakan masuk
10 mg% pada neonatus cukup bulan dan kedalam kategori 3 yaitu tidak dianjurkan, sedang-
12,5 mg% untuk neonatus kurang bulan kan untuk metode kontrasepsi pil progestin, DM-
PA,AKBK dan AKDR termasuk dalam kategori 1
3. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin yaitu kondisi dimana tidak ada pembatasan apa pun
tidak melebihi 5% per hari dalam penggunaan metode kontrasepsi, namun kare-
na panjang serviks 5 cm, tidak memungkinkan dipas-
4. Kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 ang AKDR, dan primipara tidak dianjurkan MOW.
mg%

5. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama 141. D (Amenorhea)


6. Tidak terbukti mempunyai hubungan Efek samping atau keterbatasan dari metode
dengan keadaan patologis kontrasepsu suntikan progesteron salah satunya ada-
lah sering ditemui adanya gangguan haid seperti :
Tabel Rumus Kramer siklus haid memendek/memanjang, perdarahan ban-
yak/sedikit, perdarahan tidak teratur/perdarahan ber-
Kadar Bilirubin
Daerah Luas Ikterus
(mg%) cak (spotting) dan tidak haid sama sekali, sehingga
1 Kepala dan leher 5 efek samping yang dialami klien sesuai kasus adalah
2 Daerah 1 (+) Badan bagian atas 9 amenorhea.
Daerah 1,2 (+) Badan bagian
3 11
bawah dan tungkai
142. B (AKBK)

Sesuai dengan klasifikasi persyaratan medis


138. A (Lakukan perawatan metode kangguru) penggunaan metode kontrasepsi,kondisi laktasi 6
mingggu-< 6 bulan laktasi untuk metode kontrasep-
Kondisi bayi termasuk berat bayi lahir rendah, si pil kombinasi, suntik kombinasi merupakan masuk
dengan hasil pemeriksaan fisik dalam batas normal, kedalam kategori 3 yaitu tidak dianjurkan, sedang-
sehingga untuk mencegah komplikasi hipotermia
80
Program Studi DIII Kebidanan

kan untuk metode kontrasepsi pil progestin, DM- al dengan cara mengganti dengan kontrasepsi non
PA,AKBK, ADKR dapat digunakan. Namun karena hormonal.
HIV (+), AKDR tidak dapat digunakan, sedang da-
lam terapi TB, kontrasepsi pil tidak dianjurkan karena
dapat berinteraksi dengan obat TB. 147. E (5 tahun)

Norplan terbuat dari bahan silastik medik yang


143. B (suntik 3 bulan) fleksibel dimana kedua ujungnya ditutup dengan
penyumbat sintetik yang tidak mengganggu keseha-
Sesuai dengan klasifikasi persyaratan me- tan klien. Setelah penggunaan selama 5 tahun, masih
dis penggunaan metode kontrasepsi,kondisi lakta- memiliki sekitar 50% bahan aktif levonorgestrel asal
si 6 mingggu-< 6 bulan laktasi dengan hipertensi > yang belum terdistribusi ke jaringan insterstisial dan
160/100 mmHg untuk metode kontrasepsi pil kombi- sirkulasi, sehingga norplan direkomendasikan untuk
nasi ,AKBK dan suntik kombinasi merupakan masuk jangka waktu 5 tahun.
kedalam kategori 4 yaitu tidak dapat menggunakan,
pasien hanya dapat menggunakan kontrasepsi AKDR
148. C (Informed Consent)

144. D (Pemberian pil kombinasi selama 1 siklus) Definisi informed choice adalah suatu kondisi
peserta/calon peserta KB yang memilih kon-
Efek samping atau keterbatasan dari metode trasepsi didasari oleh pengetahuan yang cukup
kontrasepsi implan salah satunya adalah sering setelah mendapatkan informasi yang lengkap
ditemui adanya gangguan haid seperti :perdarahan melalui KIP/K.
tidak teratur/perdarahan bercak (spotting), sehingga
jika ditemukan pada klien dengan kondisi tersebut
maka asuhan yang diberikan adalah pemberian pil Definisi informed consent adalah persetujuan
kombinasi selama 1 siklus sehingga spotting dapat yang diberikan oleh klien atau keluarganya atas
teratasi. dasar informasi dna penjelasan tindakan medis
yang akan dilakukan terhadap klien tersebut,
sehingga berdasarkan kasus tersebut tindakan
145. C (Paripurna) selanjutnya setelah dilaksanakan inform choice
adalah melakukan inform consent.
Konseling paripurna adalah Suatu prosedur
selektif yang sesuai dengan kebutuhan sebelum tin-
dakan medis sehingga jenis konseling berdasarkan
kasus tersebut adalah jenis konseling paripurna. 149. B (IUD)

Berdasarkan urutan pemilihan kontrasepsi yang


146. D (konseling penggantian jenis kontrasepsi) rasional, klien dengan usia 28 tahun termasuk keda-
lam fase menjarangkan kehamilan dengan paritas an-
Penggunaan kontrasepsi hormonal, kontrasepsi tara 2-4, urutan pemilihan kontrasepsi urutan pertama
suntik daam jangka waktu yang panjang dari 3 tahun adalah menggunakan AKDR.
dapat menyebabkan beberapa efek samping: Riwayat tumor payudara adalah salah satu
kondisi yang menjadi kontraindikasi penggu-
a. Menurunkan kepadatan tulang naan kontraseps hormonal
b. Vagina menjadi kering
c. Dapat menyebabkan depresi 150. A (Pil)
d. Menyebabkan keputihan Berdasarkan urutan pemilihan kontrasepsi yang
rasional, klien dengan usia 20 tahun termasuk keda-
e. Dapat menimbulkan jerawat
lam fase menunda kehamilan, urutan pemilihan kon-
f. Penurunan libido trasepsi urutan pertama adalah menggunakan Pil.

Kelebihan penggunaan kontrasepsi pil:


Setelah 3 tahun, klien atau akseptor dianjurkan
untuk istirahat dari keterpaparan kontrasepsi hormon- • Efektif dalam mencegah kehamilan
81
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

• Membuat siklus haid menjadi teratur menstruasi, kemungkinan hamil sehingga dianjurkan
untuk menunggu haid terlebih dahulu.
• Menjaga berat badan tetap stabil
• Tidak menimbulkan flek pada kulit 155. A (Spotting)
• Mengurangi resiko kanker rahim Efek samping atau keterbatasan dari metode
• Mampu mengurangi rasa nyeri saat kontrasepsi pil salah satunya adalah sering ditemui
datang bulan adanya gangguan haid seperti: perdarahan tidak ter-
atur/perdarahan bercak (spotting), sehingga jika
• Mengembalikan kesuburan dengan ditemukan pada klien dengan kondisi keluar bercak
cepat darah, kemungkinan klien tersebut mengalami spot-
ting.
• Harga terjangkau dan mudah didapat

156. A (menganjurkan berhenti minum pil untuk


151. C (melakukan tes kehamilan)
sementara)
Efek samping dari metode kontrasepsi AKDR
Salah satu keterbatasan metode kontrasepsi pil
adalah perubahan siklus haid, haid lebih lama dan
adalah mual terutama pada 3 bulan pertama, yang ter-
banyak, perdarahan antara menstruasi serta tim-
jadi pada klien pengguna pil terjadi muntah lebih dari
bul sakit saat haid, sehingga ketika klien pengguna
3 bulan sehingga asuhan yang dilakukan adalah men-
AKDR mengalami tidak haid 2 bulan, kemungkinan
ganjurkan untuk berhenti minum pil sementara.
besar terjadi kehamilan sehingga asuhan yang dilaku-
kan adalah test kehamilan.
157. C (minum 2 pil sekaligus)
152. A (konseling kontrasepsi darurat) Metode kontrasepsi pil merupakan metode
kontrasepsi yang penggunanya harus memiliki kedi-
Kontrasepsi darurat hanya efektif jika digu-
siplinan yang tinggi untuk dapat diminum setiap hari,
nakan dalam 72 jam sesudah hubungan seksual tan-
kondisi klien akaseptor KB pil yang lupa minum pil
pa perlindungan, sehingga ketika terdapat klien yang
1 hari, maka asuhan yang dapat diberikan adalah mi-
lupa minum pil selama 2 hari berturut-urut, asuhan
num 2 pil sekaligus pada hari selanjutnya.
yang bisa dilakukan adalam pemberian metode kon-
trasepsi darurat.
158. C (Pemberian pil kombinasi selama 1 siklus)
153. A (pil) Efek samping atau keterbatasan dari metode
kontrasepsi implan salah satunya adalah sering
Berdasarkan urutan pemilihan kontrasepsi
ditemui adanya gangguan haid seperti: perdarahan
yang rasional, klien dengan usia 24 tahun yang tidak
tidak teratur/perdarahan bercak (spotting), sehingga
ingin mmiliki anak terlebih dahulu termasuk kedalam
jika ditemukan pada klien dengan kondisi tersebut
fase menunda kehamilan, sehingga urutan pemilihan
maka asuhan yang diberikan adalah pemberian pil
kontrasepsi urutan pertama adalah menggunakan Pil
kombinasi selama 1 siklus sehingga spotting dapat
teratasi.
154. A (anjurkan menunggu menstruasi berikut-
nya)
159. E (Efek samping kontrasepsi)
Sanggama terputus adalah metode KB tra-
Bercak/spotting adalah efek samping dari
disional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya
pengunaan kontrasepsi implant, karena akibat me-
(penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi,
kanisme kerja memperoleh ovulasi, menipiskan
sehingga menstruasi teratur setiap bulan jika metode
dinding endometrium, mengentalkan lender serviks.
senggama terputus dapat dilaksankaan dengan di-
Dari mekanisme kerja implant memberikan efek kon-
siplin tinggi antara pasangan suami isteri, namun
trasepsi, namun menyebabkan bercak/spotting
jika terjadi tidak haid maka kemungkinan dapat ter-
jadi kehamilan. Klien yang ingin menggunakan suatu
metode kontrasepsi berupa alat/obat saat klien belum

82
Program Studi DIII Kebidanan

160. D (4 tahun) kasus tersebut adalah MAL.

Implanon dirancang khusus untuk inhibisi


ovulasi selama masa penggunaaan. Karena ovulasi 166. C (Reversible)
pertama dan luteinisasi terjadi pada paruh kedua ta-
hun ketiga penggunaan maka implanon hanya dire- Metode kontrasepsi reversibel adalah bentuk
komendasikan untuk 3 tahun penggunaan walaupun metode kontrasepsi yang kembali ke kondisi kesub-
ada penelitian yang menyatakan masa aktifnya dapat uran yang cepat sehingga sesuai kasus tersebut klien
mencapai 4 tahun, sehingga direkomendasikan masa 17 tahun masuk dalam kategori fase menunda ke-
penggunaan 3 tahun untuk metode kontrasepsi impla- hamilan, sehingga sesuai kasus klien dapat memilih
non. metode kontrasepsi yang reversibel

161. D (mencabut dan mengganti batang susuk) 167. B (Kondom)

Implan merupakan metode kontrasepsi yang Jenis metode kontrasepsi sederhana dengan alat
dimasukkan kedalam bawah kulit, sehingga batang adalah kondom, aerosol,spermisid.
implan harus terjaga harus steril menghindari infeksi,
ketika batang implan keluar dari tempat pemasangan/ 168. E (Kondom)
lengan, maka akan terjadi kontak/terkontaminasi
pada media sekitarnya sehingga kondisi implan sudah Kondom merupakan salah satu metode kon-
tidak steril, asuhan yang dilakukan ketika hal tersebut trasepsi yang memiliki klarifikasi persayaratan me-
terjadi adalah langsung mencabut implan dan diganti dis pada kategori 1 untuk semua kondisi medis klien.
dengan implan yang baru. Kategori 1 : kondisi dimana tidak ada pembatasan apa
pun dalam penggunaan metode kontrasepsi.

162. C (Kondom)
169. A (Pemberian informasi mengenai jenis KB)
Pada kasus tersebut terdapat kontra indikasi
penggunaan AKDR, MAL, serta metode sederha- Asuhan kebidanan yang dilakukan pada klien
na tanpa alat sehingga kontrasepsi yang paling tepat yang mengalami kebingungan mengenai informa-
pada kasus tersebut adalah kondom. si KB adalah pemberian informasi mengenai ma-
cam-macam KB.

163. B (konseling kontrasepsi darurat)


170. B (Perubahan hormonal selama masa peri-
Kontrasepsi darurat hanya efektif jika digu- menopause)
nakan dalam 72 jam sesudah hubungan seksual tanpa
perlindungan, sehingga ketika terdapat klien penggu- Keluhan yang dirasakan lazim terjadi pada
na metode kontrasepsi kondom yang mengalami ke- ibu menjelang masa menopause atau selama masa
bocoran pada saat berhubungan suami isteri < 72 jam, perimenepause/klimakterium.Penjelasan atau pendi-
asuhan yang bisa dilakukan adalah pemberian metode dikan kesehatan terhadap perubahan hormonal yang
kontrasepsi darurat. terjadi penting diberikan kepada ibu agar tidak merasa
khawatir terhadap perubahan yang terjadi.Diet tinggi
kalsium dan olah raga teratur juga perlu disarankan,
164. D (MOW) sedangkan terapi hormone pengganti perlu konsulta-
si lebih lanjut.Pemakaian kontrasepsi hormonal tidak
Pada kasus tersebut metode kontrasepsi yang
diperlukan karena ibu masih menjadi akseptor AKDR
paling tepat adalah MOW sesuai dengan kebutuhan
dan menjelang menenpause.Pada kasus tersebut yang
dan kondisi klien serta tidak ada kontraindikasi terha-
paling tepat adalah jawaban B.
dap metode tersebut.

171. A (Perimenopause)
165. A (MAL)
Keluhan yang dirasakan menunjukkan gejala
Kasus tersebut memiliki kontra indikasi untuk
perimenepause.Apabila ibu sudah tidak mendapatkan
pemasangan IUD dan metode hormonal, sehingga
haid selama satu tahun maka dapat dikatakan meno-
metode kontrasepsi yang paling tepat digunakan pada
pause, sedangkan polimeneorhoe adalah gangguan
83
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

haid berupa silkus haid yang lebih singkat dari 21 binaan lainnya pada kelompok masyarakat yang ber-
hari.Kasus tersebut belum menunjukkan tanda-tan- masalah tersebut.
da kehamilan walaupun terjadi amenorhoe sehingga
jawaban yang paling tepat adalah A.
176. D (Gangguan hormonal)

172. E (Biopsi) Perhatikan kata kunci pada soal diantarnya:


keluhan (menstruasi yang sangat banyak), umur (48
Salah satu tanda gejala dari kanker serviks tahun), siklus haid (tidak teratur 2-3 bulan), hasil an-
adalah keluar bercak darah setelah bersenggama se- amnesis (kadang sulit tidur, dan gelisah) merupakan
bagaimana dikeluhkan pada kasus diatas. Namun kunci kasus ini adalah perdarahan pada masa peri-
untuk menegakkan diagnosis diperlukan pemerik- menopause.
saan lain yaitu biopsi. Biopsi dilakukan dengan men- Berikutnya perhatikan hasil pemeriksaan tanda
gambil jaringan dari leher rahim untuk dilakukan pe- vital dalam batas normal, abdomen tidak teraba mas-
meriksaan untuk mengetahui adanya sel kanker atau sa, inspekulo darah mengalir dari OUI, tidak disam-
tidak.Pemeriksaan ini tersedia di rumah sakit.Pap- paikan adanya darah yang keluar berbau atau kelain-
smear, IVA test, USG vagina adalah skrining yang an pada organ genitalia merupakan kunci kasus ini
dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker serviks se- perdarahan bukan disebabkan oleh infeksi, neoplasia,
jak dini.Pemeriksaan darah lengkap dapat dilakukan maupun karena penggunaan kontrasepsi karena tidak
untuk memeriksa kondisi hati, sumsum tulang, ginjal dijelaskan riwayat perdarahan sebelumnya dengan
dll. sebab masih menggunakan kontrasepsi. Menopause
bukan pilihan karena menopause sudah tidak men-
galami haid selama 1 tahun.
173. B (Premenopause)

Pada perempuan dalam masa premenopause 177. B (pasang infus)


akan mengalami penurunan kadar hormon estrogen
sehingga menimbulkan keluhan 1 tahun megalami Perhatikan kata kunci pada soal diantarnya:
menstruasi yang tidak teratur, kadang- kadang 3 bu- keluhan (menstruasi yang sangat banyak), umur (48
lan tidak menstruasi, kadang menstruasi sangat ban- tahun), siklus haid (tidak teratur 2-3 bulan), hasil an-
yak, sering merasa cemas, dada berdebar-debar, sulit amnesis merasa pusing dan lemas, sudah menstruasi
tidur dan mudah tersinggung. selama 10 hari, siklus haid tidak teratur 2-3 bulan,
akseptor AKDR merupakan kunci kasus ini adalah
perdarahan pada masa perimenopause.
174. C (Polimenorhea) Berikutnya perhatikan hasil pemeriksaan tan-
Macam-macam gangguan haid diantaranya: da vital dalam batas normal, abdomen tidak teraba
Menorhagia atau hipermenorhoe adalah perdarahan massa, inspekulo darah mengalir dari OUI menunjuk-
haid yang lebih dari normal (lebih dari 8 hari); Met- kan butuh tindakan segera/tindakan awal berupa per-
rorhagia adalah perdarahan yang tidak teratur dan baikan keadaan umum dengan pasang infus, sebelum
tidak ada hubungannya dengan haid; Polimenorhoe pasien di rujuk ke RS.
adalah silkus haid yang lebih singkat dari 21 hari;
Oligomenorhea adalah siklus haid yang memanjang 178. D (IVA)
lebih dari 35 hari; dan Hipomenorhoe adalah perda-
rahan haid yang lebih pendek atau lebih kurang dari Perhatikan kata kunci soal ini adalah keputihan
biasanya. pada perempuan menopause, perlu skrining kegana-
san yang tersedia di Puskesmas yaitu IVA tes.
175. B (Pendekatan kepada tokoh masyarakat)
179. A (Edukasi)
Kasus tersebut terjadi bukan hanya disebabkan
oleh masalah ekonomi keluarga, berdampak pada aki- Perhatikan kata kunci: cakupan IVA tes rendah
bat kesehatan dan kecacatan bayi baru lahir, termasuk karena terhambat akses, penyelesaian masalah pada
HIV/AIDS secara luas, masyarakat menganggap bi- kasus tersebut dengan mengadakan pemberian edu-
asa berbagai kejadian yang terjadi. Perlu kerjasama kasi tentang IVA test
dengan tokoh masyrakat agar suasana kondusif bagi
bidan untuk dapat melaukan penyuluhan dan kegiatan
84
Program Studi DIII Kebidanan

180. B (Diabetes Mellitus)

Perhatikan kata kunci umur 50 tahun, keluhan


sering cepat lelah, sering merasa haus, sering BAK
terutama malam hari, BB turun ekstrim merupakan
gejala khas diabetes mellitus

85
LAMPIRAN
Program Studi DIII Kebidanan

LAMPIRAN 1

GLOSSARIUM
Amenorhea Tidak mengalami menstruasi sesuai siklus (tidak haid)
Asuhan pada masa hamil yang meliputi pemeriksaan dan layanan selama kehamilan
untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, hingga mampu meng-
ANC
hadapi persalinan, masa nifas, persiapan pemberian ASI dan kembalinya kesehatan
reproduksi secara wajar.
Anterior Istilah anatomi yang berarti struktur bagian depan
Akselerasi Persalinan Meningkatkan frekuensi, lama, dan kekuatan kontraksi uterus dalam persalinan
Daerah gelap di sekitar puting payudara, yang dapat melebar atau lebih gelap selama
Areola
kehamilan
Gerakan yang mudah digoyangkan dari suatu massa yang mengapung. Pada kehami-
Ballotement lan biasanya menunjukkan adanya janin, namun belum bisa dirasakan bagian-bagian
kecil dari janin tersebut.
Bidang Hodge Garis khayal bidang panggul untuk mengetahui seberapa jauh penurunan kepala ja-
nin pada panggul
Suatu pengukuran, biasanya dinyatakan dalam persentase terhadap individu, kelom-
Cakupan
pok, masyarakat dengan kondisi tertentu.
Gejala mual - biasanya disertai muntah - yang umumnya terjadi pada awal kehami-
Emesis Gravidarum
lan, biasanya pada trisemester pertama.
Keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ke dalam ka-
Inversio uteri
vum uteri

Hipermigmentasi yang berupa bercak kecoklatan yang tampak di kulit kening dan
Kloasma Gravidarum
pipi

Masa yang bermula dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium dan terjadi
Klimakterium
pada wanita berumur 40-65 tahun
Serangkaian kontraksi rahim yang teratur karena otot-otot polos rahim yang bekerja
HIS dengan baik dan sempurna secara bertahap akan mendorong janin melalui serviks
(rahim bagian bawah) dan vagina (jalan lahir), sehingga janin keluar dari rahim ibu
His lemah sifatnya tidak kuat
His Hipotonik

His Hipertonik His yang terlalu kuat dan sering


Proses untuk merangsang kontraksi rahim sebelum kontraksi alami terjadi dengan
Induksi
tujuan mempercepat proses persalinan
Periode pengeluaran bayi cukup bulan/hampir cukup bulan, disertai dengan pengel-
Intranatal
uaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu
Involusi uterus Suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil
Perubahan warna menjadi lebih gelap yang terlihat seperti garis membujur antara
Linea Nigra
pusat dan simpfisis pada perut ibu hamil
Sekresi cairan rahim selama masa nifas, mengandung darah dan sisa jaringan desidua
Lochea
yang nekrotik dari dalam uterus.

Masa Antara Periode antara kehamilan yang satu dengan kehamilan berikutnya
Periode yang ditujukan pada janin sebelum 5 bulan kelahiran dan satu bulan sesu-
Masa Perinatal
dah kelahiran

87
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

Menarche Periode menstruasi yang pertama terjadi pada masa pubertas seorang wanita

Menopause Keadaan tidak adanya periode menstruasi selama 12 bulan.

Nausea

Neonatal Bayi baru lahir yang dihitung mulai dari sesaat setelah lahir sampai 28 hari

Suatu teknik pemeriksaan dengan rabaan untuk menentukan tinggi fundus uteri, ba-
Palpasi Leopold
gian atas, bagian samping, bagian bawah janin.

Fase transisi menuju menopause yang dimulai beberapa tahun sebelum menopause
Perimenopause
terjadi

Pra konsepsi Periode sebelum terjadinya konsepsi

Suatu masa sesaat sampai 42 hari setelah proses persalinan.


Post Natal

Posterior Istilah anatomi yang berarti struktur bagian belakang.

Guratan yang muncul di permukaan kulit ibu hamil sebagai akibat peregangan yang
Striae Gravidarum
berlebihan karena pembesaran uterus.

Terganggunya proses involusi uterus pada ibu karena kegagalan uterus kembali pada
Sub Involusi Uterus
ukuran yang normal sesuai dengan tahapan pada masa nifas

Jenis pemeriksaan untuk mengetahui adanya tromboflebitis. Tanda homan positif


Tanda Homan adalah kondisi yang menunjukan adanya trombofebitis yang menyebabkan organ
distal terhambat

88
Program Studi DIII Kebidanan

Teknik mengukur panjang janin dari bagian luar perut ibu. Pengukuran dilakukan
Teknik TFU dengan menggunakan meteran kain yang mengukur jarak kepala dan bokong janin.
Tujuannya adalah untuk menentukan usia kehamilan dalam bulan.

1. Timbang BB dan Pengukuran TB

2. Tekanan darah

3. Tinggi fundus uteri

4. Tetanus Toxoid

5. Tablet besi

6. Pemeriksaan Hb

7. Pemeriksaan VDRL

14 T dalam ANC 8. Pemeriksaan protein urine

9. Pemeriksaan reduksi urine

10. Pemeriksaan senam hamil

11. Perawatan payudara

12. Terapi obat malaria

13. Terapi Kapsul minyak yodium

14. Temu wicara

89
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

LAMPIRAN 2:

DAFTAR SINGKATAN

DAFTAR SINGKATAN KETERANGAN

AKI Angka Kematian Ibu


AKB Angka Kematian Bayi
AKBK Alat Kontrasepsi Bawah Kulit
AKDR Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
APD Alat Perlindungan Diri
ASI Air Susu Ibu
BB Berat Badan
BBL Bayi Baru Lahir
BBLR Bayi Berat Lahir Rendah
BAB Buang Air Besar
BAK Buang Air Kecil
BPM Bidan Praktik Mandiri
DJJ Denjut Jantung Janin
DTT Disinfeksi Tingkat Tinggi
FJ Frekuensi Jantung
G…P….A…. Gravida – Paritas – Abortus
H I/II/III/IV Hodge I/II/III/IV
HAP Hemoraghic Antepartum (perdarahan dalam kehamilan)
HB Hemoglobin
HPP Hemoragic Post Partum (perdarahan pasca salin)
HPHT Hari Pertama Haid Terakhir
IMD Inisiasi Menyusu Dini
KE Kehamilan Ektopik
KIA Kesehatan Ibu dan Anak
KIE Komunikasi Informasi Edukasi
KBI Kompresi Bimanual Interna
KBE Kompresi Bimanual Eksterna
KU Keadaan Umum
KPD Ketuban Pecah Dini

Dibeberapa daerah disingkat KPSW : Ketuban Pecah Sebelum Waktunya


KPSP Kuesioner Pra Skrinning Perkembangan
MAK III Manajemen Aktif Kala III
MOW Metode Operasi Wanita
MOP Metode Operasi Pria
MTBM Manajemen Terpadu Bayi Muda
MTBS Manajemen Terpadu Balita Sakit
N Nadi

P Pernafasan
PAP Pintu Atas panggul
PB Panjang Badan
PD Periksa Dalam
PE Pre-eklamsi

90
Program Studi DIII Kebidanan

DAFTAR SINGKATAN KETERANGAN

PER Pre-eklamsi Ringan


PEB Pre-eklamsi Berat
PMB Praktik Mandiri Bidan
PKM Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
PTT Penegangan Tali Pusat Terkendali
Puka Punggung kanan
Polindes Pos bersalin desa
Posyandu Pusat pelayanan terpadu
PUS Pasangan Usia Subur
Puki Punggung kiri
Pustu Puskesmas pembantu
PWS Pemantauan Wilayah Setempat
RS Rumah Sakit
S Suhu
SC Sectio Caesarea
TD Tekanan Darah
TBJ Taksiran Berat Janin
TFU Tinggi Fundus Uteri
TT Tetanus Toksoid
UUK Ubun-ubun Kecil
Ka Kanan
Ki Kiri
OUI Ostium Uteri Interna
OUE Ostium Uteri Eksterna

91
Panduan Persiapan Peserta Uji Komptensi Nasional

92
Program Studi DIII Kebidanan

93