Anda di halaman 1dari 44

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Diabetes Mellitus

1. Pengertian

Diabetes Meliitus adalah suatu kumpulan gejala penyakit menahun

yang ditandai oleh meningkatnya kadar gula darah yang melebihi normal

secara menahun (Kemenkes, RI, 2013).

Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok penyakit yang

mempengaruhi bagaimana tubuh menggunakan glukosa atau gula darah,

atau penyakitnya yang berkaitan dengan masalah-masalah terkait hormon

insulin tersebut karena reseptor yang berfungsi sebagai penangkap

insulin mengalami penurunan fungsi (Pranata, 2017).

Insulin merupakan salah satu hormon yang dihasilkan oleh pankreas

tepatnya di sel beta pulau Langerhans. Selain memproduksi insulin,

pankreas juga berperan pentinng untuk menghasilkan hormone glukagon.

Insulin berfungsi untuk menurunkan kadar gula dalam darah, sedangkan

hormon glukagon berfungsi untuk meningkatkan kadar gula di dalam

darah. Kedua hormone ini memeliki peran penting terhadap

keseimbangan gula tubuh. Ketika tubuh mengalami gangguan pada

hormon tersebut maka secara otomatis tubuh akan mengalami gangguan

keseimbangan kadar gula. Kadar gula dalam darah lebih dari 200mg/dl

pada pemeriksaan gula darah sewaktu maupun kadar gula darah puasa ≥

5
6

126 mg/dl merupakan tanda positif sesorang mengalami penyakit

diabetes mellitus.

2. Patofisiologi

a. DM Tipe 1 ( DMT 1 = Diabetes Mellitus Tergantung Insulin )

DMT 1 merupakan DM yang tergantung insulin. Pada DMT 1 kelainan

terletak pada sel beta yang bias idiopatik imunologik. Pankreas tidak mampu

mensintesis dan mensekresi insulin dalam kuantitas atau kualitas yang cukup,

bahkan kadang-kadang tidak ada sekresi insulin sama sekali. Jadi pada kasus

ini terdapat kekurangan insulin secara absolut (Tjokroprawiro, 2017).

DMT 1 biasanya reseptor insulin di jaringan perifer kuantitas dan

kualitasnya cukup atau normal ( jumlah reseptor insulin DMT 1 antara

30.000-35.000 ) jumlah reseptor insulin pada orang normal ± 35.000, sedang

pada DM dengan obesitas ± 20.000 reseptor insulin (Tjokroprawiro, 2017).

DMT 1 , biasanya terdiagnosa sejak usia kanak-kanak. Pada DMT 1

tubuh penderita hanya sedikit menghasilkan insulin atau bahkan sama sekali

tidak menghasilkan insulin, oleh karena itu untuk bertahan hidup penderita

harus mendapat suntikan insulin tiap harinya. DMT 1 tanpa pengaturan

harian, pada kondisi darurat dapat terjadi (Riskesdas, 2007).

b. DM Tipe 2 ( Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin = DMT 2 )

DMT 2 adalah DM tidak tergantung insulin. Pada tipe ini, pada awalnya

kelainan terletak pada jaringan perifer (resistensi insulin) dan kemudian

disusul dengan disfungsi sel beta pankreas (defek sekresi insulin), yaitu

sebagai berikut :
7

1. Sekresi Insulin oleh pancreas mungkin cukup atau kurang

sehingga glukosa yang sudah diabsorbsi masuk ke dalam darah

tetapi jumlah insulin yang efektif belum memadai.

2. Jumlah reseptor di jaringan perifer kurang (antara 20.000-

30.000) pada obesitas jumlah reseptor hanya 20.000.

3. Kadang-kadang jumlah reseptor cukup, tetapi kualitas reseptor

jelek, sehingga kerja insulin tidak efektif (sensifitas insulin

terganggu).

4. Terdapat kelainan di pasca reseptor sehingga proses glikolisis

intraselluler terganggu.

5. Adanya kelainan campuran diantara nomor 1,2,3 dan 4.

DM tipe 2 ini biasanya terjadi di usia dewasa. Kebanyakan orang

tidak menyadari telah menderita diabetes tipe 2, walaupun keadaannya

sudah menjadi sangat serius, diabetes tipe 2 sudah menjadi umum di

Indonesia, dan angkanya terus bertambah akbiat gaya hidup yang tidak

sehat, kegemukan dan malas berolahraga (Riskesdas, 2007).

3. Gejala Klinis

Gejala klinis DM yang klasik : mula-mula polifagi, poliuri, polidipsi.

Apabila keadaan ini tidak segera diobati, maka akan timbul gejala

dekompensasi pankreas, yang di sebut gejala klasik DM, yaitu : poliuri,

polifagi, polidipsi. Ketiga gejala klasik diatas pula ‘‘TRIAS SINDROM

DIABETES AKUT’’ bahkan apabila tidak segera diobati dapat di susul

dengan mual-muntah dan ketoasidosis diabetikm gejala kronis DM yang


8

sering muncul adalah lemah badan, kesemutan kaku otot, penurunan

kemampuan seksual, gangguan penglihatan yang sering berubah, sakit sendi

dan lain-lain (Tjokroprawiro, 2007).

4. Diagnosis DM

Dinyatakan DM apabila terdapat :

a. Kadar gula darah sewaktu (plasma vena) ≥ 200 mg/dl, ditambah

dengan gejala klasik : polyuria, polidipsi dan penurunan berat badan

yang tidak jelas sebabnya.

b. Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) ≥ 126 mg/dl atau

c. Kadar glukosa plasma ≥ 200 mg/dl pada 2 jam sesudah atau beban

glukosa 75 gram pada TTGO. Cara diagnosis ini tidak dipakai rutin di

klinik. Untuk penelitian epidemiologis pada penduduk dianjurkan

memakai kriteria diagnosis kadar gula darah puasa (Kemenkes RI,

2013).

Ketiga kriteria diagnosis tersebut harus dikonfirmasi ulang pada hari yang

lain atau esok harinya, kecuali untuk keadaan yang khas hiperglikemia yang jelas

tinngi dengan dekompensasi metabolik akut, seperti ketoasidosis, berat badan

menurun cepat. Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan pada kelompok tersebut

dibawah ini (Commite Report ADA-2006).

a. Kelompok usia dewasa tua (> 45 tahun)

b. Obesitas BB (kg) > 110% BB ideal atau IMT > 25 (kg/m2)

c. Tekanan darah tinggi (> 140/90 mmHg)

d. Riwayat DM dalam garis keturunan


9

e. Riwayat kehamilan dengan BB lahir bayi > 4000 gram atau abortus

berulang

f. Riwayat DM pada kehamilan

g. Dislipidemia (HDL < 35mg/dl dan atau Trigliserida > 250 mg/dl)

h. Pernah TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau Glukosa Darah

Puasa Terganggu (GDPT)

5. Klasifikasi

Klasifikasi etiologis DM menurut Tandra, 2017 :

a. Diabetes tipe I

Diabetes tipe ini muncul ketika pankreas sebagai pabrik insulin tidak

dapat atau kurang mampu memproduksi insulin. Diabetes tipe 1

biasanya adalah penyakit autoimun, yaitu penyakit yang desebabkan

oleh gangguan sistem imun atau kekebalan si pasien dan

mengakiabtakan rusaknya sel pankreas. Teori lain juga menyebutkan

bahwa kerusakan pankreas akibat pengaruh genetik, infeksi virus atau

malnutrisi.

Pengidap diabetes tipe 1 ini tidak banyak. Namun jumlahnya terus

meningkat 3% setiap tahun, terutama pada anak 0-14 tahun. Tahun

2015 IDF mencatat ada 542.000 diabetes tipe 1 diseluruh dunia. Di

Indonesia diperkirakan tidak lebh dari 2%, penyakit ini biasanya

muncul pada usia anak atau remaja.

b. Diabetes tipe II

Diabetes tipe ini meurpakan jenis yang paling sering di jumpai.

Biasanya terjadi pada usia 40 tahun, tetapi bias timbul pada usia diatas
10

20 tahun. Sekitar 90-95% adalah tipe 2. Pada diabetes tipe 2, pankreas

masih bisa membuat insulin, tetapi kualitas insulinnya buruk, tidak

dapat berfungsi dengan baik sebagai kunci untuk memasukkan gula

kedalam sel. Akibatnya gula dalam darah meningkat. Kemungkinan

lain terjadinya diabetes tipe 2 adalah sel-sel jaringan tubuh dan otot si

pasien tidak peka atau sudah resisten terhadap insulin sehingga gula

tidak dapat masuk ke dalam sel dan akhirnya tertimbun dalam

peredaran darah. Keadaan ini umumnya terjadi pada pasien yang

gemuk atau mengalami obesitas.

c. Diabetes pada Kehamilan

Keadaan ini terjadi karena pembentukan beberapa hormone pada ibu

hamil yang menyebabkan resistensi insulin. Catatan IDF tahun 2015

ada 20,9 juta orang terkena diabetes gestasional atau 16,2% dari ibu

hamil dengan persalinan hidup. Kasus diabetes gestasional paling

banyak ditemukan di Negara-negara Asia Tenggara, lebih tinggi dari

pada benua Afrika, yang bias berkaitan dengan pemeliharan kesehatan

ibu hamil. Biasanya baru diketahui setelah kehamilan bulan ke-4 ke

atas, kebanyakan pada trimester-3, setelah persalinan, pada umumnya

gula darah akan kembali normal. Perlu diwaspadai lebih dari setengah

ibu hamil dengan diabetes akan menjadi diabetes tipe 2 di kemudian

hari.

d. Diabetes tipe lain


11

Adapula diabetes yang tidak masuk kelompok diatas yaitu diabetes

sekunder atau akibat dari penyakit lain yang menganggu produksi

insulin. Penyebab diabetes semacam ini adalah:

1) Radan pankreas (pankreaitis)

2) Gangguan kelenjar adrenal atau hipofisis

3) Gangguan hormon kortikosteroid

4) Pemakian beberapa obat hipertensi atau anti kolesterol

5) Malnutrisi

6) Infeksi

6. Komplikasi

a. Akut

1) Hipoglikemi

Hipoglikemi adalah menurunnya kadar gula di dalam darah ada

banyak sebab hipoglikemi terjadi, penyebab tersebut adalah

aktivitas fisik berlebihan yang dilakukan penderita seperti olahrag

yang terlalu berat, takut mengkonsumsi makanan setelah di

diagnosis DM atau mengkonsumsi obat penurunan gula

darah/insulin berlebih tanpa dilakukan pemantauan secara berkala.

Tanda-tanda dari hipoglikemi adalah lelah, pusing pucat, gemetar

merasa lapar, jantung berdebar, konsentrasi menurun, dan

penurunan tingkat kesadaran, seseorang mulai merasakan satu atau

lebih dari tanda-tanda hipoglikemi bila kadar gula darah dibawah

80 mg/dl (Pranata, 2017).

2) Ketoasidosis
12

Ketoasidosis diabetic merupakan komplikasi akut lain dari

penderita DM. Ketoasidosis termasuk dalam kondisi gawat bila

tidak segera dilakukan penanganan yang benar dan efektif.

Komplikasi ini sering ditemukan pada DM tipe 1 dan jarang

ditemukan pada penderita DM tipe 2. Meskipun sering terjadi

pada DM tipe 1, penderita DM tipe 2 juga harus tetap waspada.

Tanda-tanda dari ketoasidosis DM adalah nafas sesak, kelelahan

kebingungan, nafas berbau buah, kadar gula darah sangat tinggi,

peningkatan keton di dalam darah, pH darah berada dibawah 7,35.

Penyebab utama dari ketoasidosis DM karena terjadinya

pemecahan lemak secara berlebihan kemudian menghasilkan

benda keton daari benda tersebut.

3) Menurunnya tingkat kesadaran

Penurunan tingkat kesadaran dapat terjadi karena tingginya kadar

gula darah atau rendahnya kadar gula darah. Tanda- tanda seorang

penderita DM mengalami penurunan kesadaran adalah tidak

responsif ketika dipanggil (apatis), saat diajak bicara komunikasi

penderita justru terlihat bingung.

4) Hiperglikemi

Hiperglikemi adalah tingginya kadar gula dalam darah lebih dari

200 mg/dl. Tanda khas dari hiperglikemi adalah banyak minum

dan sering ke kamar kecil untuk BAK. Hiperglikemi terjadi bila

seseorang penderita DM makan berlebihan tanpa di imbangi

dengan aktivitas fisik. Penderita DM harusnya menghindari makan


13

malam berlebih karena saat selesai makan malam penderita DM

biasanya mengantuk akhirnya tertidur tanpa aktivitas berat

sebelumnya. Gula yang dikonsumsi tidak terpakai kemudian

menumpuk di tubuh hingga terjadilah keadaan yang disebut

dengan hiperglikemi (Pranata, 2017).

b. Kronik

1) Jantung Koroner

Penyakit jantung merupakan komplikasi dari DM yang sering

dilaporkan menyebabkan kematian. Gangguan pembuluh darah

besar (makrovaskuler) pada pencerita DM karena peningkatan

kekentalan darah merupakan penyebab utama penyakit ini

berkembang. Penderita DM dengan hipertensi, merokok, gemuk,

kelebihan lemak berisiko lebih besar mengalami masalah pada

jantung. Mulailah kurangi berat badan dengan mengkonsumsi

makanan sehat dan berolahraga serta hentikan merokok dan

minuman alkhohol.

2) Stroke

Stroke merupakan penyakit yang terjadi karena gangguan

peredaran darah di otak. Stroke dapat dibagi menjadi hemoragik

(stroke karena pecahnya pembuluh darah otak) dan stroke non

hemoragik (penurunan oksigen ke jaringan sel otak sehingga sel

otak mati). Hipertensi yang dialami oleh penderita DM karena

kentalnya darah mempengaruhi pengaruh besar terhadap kejadian

stroke, kondisi ini semakin diperberat oleh usia seseorang,


14

semakin tua usia seseorang maka pembuluh darah mengalami

penurunan elastisitas/kaku. Akibat kekakuan pembuluh darah,

tidak lancarnya peredaran darah karena darah kental serta

tingginya tekanan darah ke otak karena hipertensi, otak dapat

kekurangan oksigen (iskemia) bahkan pembuluh darahnya dapat

pecah. Gangguan peredaran ilnilah yang disebut dengan stroke.

3) Hipertensi

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi meningkatkan risiko

terjadinya penyakit lain serta masalah jantung, ginjal atau

gangguan pembuluh darah otak (stroke). Hipertensi atau tekanan

darah tinggi dapat dideteksi menggunakan alat spigmomanometer.

Tekanan darah normal adalah 120/80mmHg. Bila tekanan darah

lebih dari 180/190 mmHg maka seseorang sudah dapat

digolongkan dalam kondisi hipertensi.

4) Kerusakan Ginjal

Keusakan ginjal merupakan penyebab penderita DM meninggal

dunia, sangat penting mencegah komplikasi ini karena biaya terapi

ginjal tidak murah. Tanda bahwa seseorang penderita DM

mengalami gangguan ginjal adalah preoteinuria.

5) Retino diabetic

Retino diabetic terjadi karena penumpukkan sorbitol pada lensa

mata sehingga cairan akan tertarik dan menyebabkan lensa mata

tidak jernih lagi (Bate & jerum, 2003 dan Pranata 2007).

6) Ulkus DM
15

Luka/ulkus DM yang terjadi di bagian tubuh penderita dapat

menyebabkan kerusakan di bagian epidermis, dermis dan

subkutan, hingga dapat menyebar sampai ke jaringan yang paling

dalam seperti otot dan tulang. Lapisan dermis akan lebih tebal

dibandingkan dengan kulit normal. Kulit pada penderita akan

mengalami degeredasi kolagen sehingga tidak akan elastis seperti

biasanya. Kondisi ini akan terlihat mengkilap, tegang sendi

terbatas dalam bergerak, kulit dapat berubah warna menjadi abu

hingga gelap dan dapat menjadi eritema saat teriritasi. Pasien

dengan neuropati akan terjadi semakin besar.

7) Neuropati diabetic perifer

Neuropati merupakan gangguan fungsi saraf dikarenakan oleh

kerusakan seluler dan molekuler akibat DM, gangguan ini dapat

mengenai banyak saraf tepi yang berada di bagian kaki. Gangguan

saraf tepi pada bagian kaki dapat mengenai kedua bagian kaki

dengan keluhan seperti gangguan motorik, otonom maupun

sensoris. Neuropati dapat muncul setelah seseorang menderita DM

dalam waktu yang lama. Penderita DM perlu waspadai kondisi ini

karena kejadian luka/ulkus yang berakhir dengan amputasi sering

diawali oleh neuropati diabetik.

7. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian DM

Untuk mencegah terjadinya komplikasi, diabetes harus terdeteksi sejak

dini agar gula darah cepat dikontrol. Faktor risiko terjadinya diabetes

menurut Tandra 2007 sebagai berikut :


16

a. Keturunan

Apabila ibu, ayah, kakak, atau adik mengidap diabetes,

kemungkinan diri anda terkena diabetes lebih besar dariapada yang

menderita diabetes adalah kakek, nenek atau saudara ibu dan saudara

ayah anda. Sekitar 50% pasien adal diabetes tipe 2 mempunyai orang

tua yang menderita diabetes, dan lebih dari sepertiga pasien

mempunyai saudara yang mengidap diabetes.

Diabetes tipe 2 lebih banyak terkait dengan faktor riwayat

keluarga atau keturunan di banding diabetes tipe 1. Pada diabetes tipe

1, kemungkinan orang terkenan diabetes hanya 3-5% bila orang tua

dan saudaranya adalah pengidap diabetes. Namun bila penderita

diabetes mempunyai saudara kembar satu telur, kemungkinan

saudaranya terkena diabetes tipe 35-40%.

Diabetes tipe 2, bila saudara kembarnya mengidap diabetes tipe 2,

kemungkinan juga terkena diabetes adalah 90%. Bila salah satu orang

tua terkena diabetes, kemungkinannya 40 % anak jugat terkena

diabetes menjadi lebuh dari 50%.

Risiko menderita DM bila salah satu orang tuanya menderita DM

adalag sebesar 15% jika kedua orang tua memiliki DM maka risiko

untuk menderita DM adalah 75% (Diabetes UK, 2010). Risiko untuk

mendapatkan DM dari ibu lebih besar 10-30% dari pada ayah dengan

DM. jika saudara kandung menderita DM maka risiko untuk


17

menderita DM adalah 10% dan 90% jika yang menderita adalah

saudra kembar identic (Diabetes UK, 2010).

b. Rasa tau Etnis

Beberapa ras tertentu seperti suku Indian dia Amerika, Hispanik,

dan orang Amerika di Afrika, mempunyai risiko lebih besar terkena

diabetes tipe . kebanykan orang dari ras-ras tersebut dulunya adalah

pemburu dan petani dan biasanya kurus, namun, sekarang mereka

lebih banyak mengalami obesitas sampai diabetes dan terkena darah

tinggi.

Suku Amerika Hispanik, terutama di meksiko, juga mempunyai

hispanik terutama kaum wanitanya. Orang asia di China, Filipina,

Jepang, Korea, dan Vietnam, serta yang tinggal di Kepulauan Pasifik

juga mempunyai risiko lebih tinggi terkena diabetes.

c. Obesitas

Kegemukan adalah faktor risiko yang paling penting untuk

diperhatikan. Sebab melonjaknya angka kejadian diabetes tipe 2

sangat terkait dengan obesitas. Menurunkan berat badan bukan

sekedar soal berdiet, tetapi juga menyangkut perubahan gaya hidup,

olahraga, meninggalkan Sedentary Lifestyle atau gaya hidup santai.

Lebih dari 8 dari 10 penderita diabetes tipe 2 adalah mereka yang

kelewat gemuk. Makin banyak lemak, jaringan tubuh, dan otot akan

makin resisten terhadap kerja insulin (insulin resistence). Terutama

bila lemak tubuh atau kelebihan berat badan terkumpul didaerah

sentral atau perut (central obesity). Lemak ini akan memblokir kerja
18

insulin sehingga gula tidak diangkut kedalam sel dan menumpuk

pada peredaran darah.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwandari dengan judul

hubungan obestias dengan kadar gula darah pada karyawan di RS

tingkat IV Madiun menunjukkan Hasil penelitian hamper setengah

42% (17 responden) mengalami diabetes tipe 1 dan hamper setengah

nya 35% (14 responden) mempunyai kadar gula darah 111-140

mg/dl. Pada uji statistik pearson didspatkan hasil p-value = 0,045

nilai coefisien corelasi = 0.319 dan α = 0,05 (p-value < α) sehingga

terdapat hubungan obesitas dengan kadar gula darah pada karyawan

DI RS Tingkat IV Madiun.

d. Metabolik Syndrom

Menurut WHO NCEP-ATP III, orang yang menderita metabolic

syndrome adalah mereka yang memliki kelainan seperti tekanan

darah lebih dari 140/90 mmHg, trigliserida darah lebih dari 150

mg/dl, kolesterol HDL kurang 40 mg/dl, obesitas sentral dengan BMI

lebih dari 30, lingkar pinggang melebihi 102 cm pada pria atau 88cm

pada wanita, atau sudah terdapat mikroalbuminuria.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sihombing dan Sulistiowati

Tuminah di Kecamatan Bogor Tengah yang menunjukkan komponen

Sindrom Metabolik yang berisiko paling tinggi untuk terjadinya DM


19

adalah kadar gula darah puasa ≥100 mg/dl dengan risiko hingga 6,7

kali lipat (RR = 6,71 : 95% CI 4,76-9,47). Kemdian diikuti oleh

obesitas sentral berisiko 2,53 kali lipat untuk terjadinya DM

dibandingkan dengan yang tidak obes, dan hipertrigliserida berisiko

2,1 kali lipat untuk terjadinya DM.

e. Kurang aktifitas fisik

Makin kurang gerka badan, makin mudah seseorang terkena

diabetes. Olahraga atau aktifitas fisik membantu mengontrol berat

badan. Gula diabakar menjadi energi. Sel-sel tubuh menjadi sensitive

terhadap insulin. Peredaran darah lebih baik dan risiko terjadinya

diabetes tipe 2 akan turun sampai 50%.

Keuntungan lain yang dapat diperoleh dari olahraga adalah

bertambahnya masaa otot. Biasanya 70-90% glukosa darah diserap

oleh otot. Pada orangtua atau yang kurang gerak badan, massa otot

berkurang sehingga pemakaian glukosa berkurang dan gula darah pun

meningkat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abidah Nur, dkk

dengan judul kebiasaan aktivitas fisik pasien diabetes mellitus

terhadap kadar gula darah di Rumah Sakit dr. Fauziah Bieruen tahun

2013 dengan hasil terdapat hubungan yang signifikan antara kadar


20

gula darah puasa dengan olahraga. Korelasi antara olahraga dan kadar

gula darah berada pada rentang sedang dengan arah korelasi negative.

f. Penyakit Lain

Beberapa penyakit lain tertentu dalam prosesnya cenderung diikuti

dengan tingginya kadar gula darah kemudian hari. Akibatnya pasien

juga bias terkena diabetes. Penyakit-penyakit itu antara lain:

hipertensi, jantung coroner, penyakit pembuluh darah perifer atau

infeksi kulit berulang.

g. Usia

Rasio terkena diabetes akan meningkat dengan bertambahnya usia

terutama di atas 40 tahun, serta mereka yang kurang beraktivitas,

massa ototnya berkurang, dan berat badannya semakin bertambah.

Namun belakangan ini dengan makin banyaknya anak yang gemuk,

angka kejadian diabetes tipe 2 pada anak dan remaja pun meningkat.

h. Riwayat Diabetes pada kehamilan

Biasanya diabetes akan hilang setelah anak lahir. Namun, lebih

dari setengahnya akan terkena diabetes di kemudian hari. Semua ibu

hamil harus diperiksa gula darahnya. Ibu hamil dengan diabetes dapat
21

melahirkan bayi besar dengan berat badan lebih dari 4 kg. Apabila ini

terjadi, sangat besar kemungkinan si ibu akan mengidap diabetes tipe

2 kelak.

i. Infeksi

Kasus diabetes tipe 1 yang terjadi pada anak, sering kali di dahului

dengan infeksi flu atau batuk pilek yang berulang-ulang.

Penyebabnya adalah infeksi virus, sperti campak, mumps, dan

coxsackie, yang dapat merusak sel pankreas dan menimbilkan

diabetes.

j. Stress

Stress yang hebat, seperti infeksi berat, trauma berat, operasi besar

atau penyakit berat lainnya menyebabkan hormone counter-insulin

(yang kerjanya berlawanan dengan insulin) lebih aktif. Akibatnya,

gula darah pun meningkat.

k. Pemakaian Obat-obatan

Beberapa obat dapat meningkatkan kadar gula darah, dan bahkan bias

menyebabkan diabetes. Bila menjumpai risiko terkena diabetes

pemakaian obat-obatan harus dengan hati-hati. Obat-obatan yang

dapat menaikkan gula darah antara lain adalah hormone steroid,

beberapa obat anti hipertensi, dan obat untuk menurunkan kolesterol.


22

8. Kelompok yang berisiko DM

a. Kelompok Risiko Tinggi Diabetes Melitus

1) Jenis Kelamin

Jenis kelamin yang paling banyak menderita DM di Indonesia

justru lebih banyak di dominasi oleh perempuan. Penelitian yang

dilakukan oleh Pranata menunjukkan bahwa sebagian besar pasien

yang mengalami DM disertai luka kaki DM berjenis kelamin

perempuan yaitu 57,14%, lebih tinggi 7,14% dari penderita laki-

laki (Pranata, 2017).

Data ini sejalan dengan data Riskesdas yang menunjukkan

bahwa perempuan Indonesia lebih rentan terkenda DM dengan

prevalensi 1,7% dibandingkan laki 1,4%. Kondisi ini ada

kaitannya dengan pos menopause pada wanita. Wanita pos

menopause merupakan salah satu faktor yang berkontribusi besar

terhadap penyakit DM. karena pos menopause, hormon estrogen

dan progesterone mengalami penurunan produksi. Rendahnya

hormon ini menyebabkan metabolisme menurun hingga akhirnya

berakibat pada obesitas atau kegemukan.

2) Usia lanjut

Usia penderita DM di Negara Berkembang berkisar pada usia 45-

64 tahun Suyunu, 2009 dalam (Pranata, 2017). Data riskesdas

tahun 2013 menunjukkan bahwa usia 55-64 tahun memiliki risiko

lebih besar menderita penyakit DM. semakin tua usia seseorang

fungsi sel beta pankreas juga ikut mengalami penurunan dalam


23

memproduksi hormone insulin. Dengan menuanya seseorang

maka aktifitas ikut menurun, aktifitas yang menurun menyebabkan

obesitas, jika kondisi ini didiamkan, maka dapat mendukung

terjadinya DM.

9. Penatalaksanaan DM

Dalam jangka pendek penatalaksanaan DM bertujuan untuk

menghilangakan keluhan/gejala DM. sedangkan tujuan jangka

panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi. Kerangka utama

penatalaksanaan DM yaitu :

a. Perencanaan Makan (Diet)

Menurut konsesus PERKENI telah ditetapkan bahwa standar yang

telah dianjurkan adalahsantapan dengan komposisi seimbang berupa

karbohidrat (40-65%), protein 15-20%, dan lemak 20-25%.

Jumlah kandungan kolesterol disarankan < 300 mg/hari. Diusahakan

lemak berasal dari sumber lemak tidak jenuh dan membatasi asam

lemak jenuh. Apabila diperlukan santapan dengan komposisi

karbohidrat sampai 70-75% juga memberikan hasil yang baik,

terutama untuk golongan ekonomi rendah. Jumlah kalori disesuaikan

pertumbuhan, status gizi, umur, stress, dan kegiatan jasamani untuk

mencapai berat badan ideal. Jumlah kandungan kolesterol < 300

mg/hari. Jumlah kandungan serat ± 25 gr/hari, diutamakan jenis serat

larut (Kemenkes RI, 2013).

1) Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT)

Rumus IMT = Berat badan (Kg) / Tinggi badan (m)²


24

a) BB kurang : 18,5

b) BB normal : 18,5 – 22,9

c) BB lebih : ≥ 23,0

(1) Dengan risiko : 23,0 – 24,9

(2) Obesitas tingkat I : 25,0 – 29,9

(3) Obesitas tingkat II : ≥ 30

2) Status Gizi

Tentukan Berat Badan Idaman (Rumus Broca)

Berat Badan Idaman = (TB – 100) – 10%

Catatan : Untuk wanita < 150 cm dan pria < 160 cm, tidak di

kurangi lagi 10%

(1) BB kurang : 90% BB Idaman

(2) BB normal : 90 – 110% BB Idaman

(3) BB lebih : 110 – 120% BB Idaman

(4) Gemuk : > 120% BB Idaman

3) Penentuan Kebutuhan Kalori

a) Kalori Basal

Laki-laki : BB Idaman (kg) x 30 kal/kg = ....... kalori

Wanita : BB Idaman (kg) x 25 kal/kg = …… kalori

b) Koreksi penyesuaian

Umur > 40 tahun : -5% x kalori basal = - …… kalori

Aktifitas ringan : +10% x kalori basal = …… kalori

Aktifitas sedang : +20% x kalori basal = …… kalori

Aktifitas berat : +37% x kalori basal = …… kalori


25

Berat Badan (BB)

BB gemuk : -20% x kalori basal = …… kalori

BB lebih : -10% x kalori basal = …… kalori

BB kurang : +20% x kalori basa; = …… kalori

4) Prinsip pembagian proporsi makan sehari-hari

Disesuaikan dengan kebiasaan makan pasien dan di usahakan

porsi tersebar sepanjang hari.

Disarankan porsi terbagi (3 besar dan 3 kecil)

(a) Makan pagi - Makan selingan pagi

(b) Makan siang - Makan selingan siang

(c) Makan malam - Makan selingan malam

b. Aktifitas Fisik/Olah raga

Menurut Safira 2018, berolah raga membantu penderita mengontrol

gula darah dan bahkan menurunkan risiko terserang penyakit

kardiovaskuler. Ketika tubuh bergerak akti, otot-otot yang digunakan

untuk menggerakkan badan pun menggunakan lebih banyak glukosa

dibandingkan otot yang sedang beristirahat. Ambilan glukosa otot

yang sedang aktif bergerak meningkat 7-20 kali lipat, tergantung pada

intensitas gerak yang dilakukan. Glikogen hati digunakan untuk

memenuhi kebutuhan glukosa, oleh karena itu kadar glukosa darah

tetap seimbang atau menurun sedikit. Prinsip olah raga penderita DM

sama saja dengan prinsip olah raga pada umumnya yaitu memerlukan

frekuensi, intensitas, time (durasi) dan tipe ( jenis).

1) Frekuensi
26

Sebaiknya olah raga dilakukan dengan interval yang sama, rutin

dan dilakukan 3-5 kali seminggu denhan lama 30 menit. Berikan

waktu selang diantara jadwal olahraga untuk memulihkan

ketegangan otot.

2) Intensitas

Latihan fisik yang dilakukan dengan menentukan dosis/intensitas

latihan. Denyut nadi latihan yang dianjurkan untuk mencegah

penyakit tidak menular seperti DM dengan intensitas latihan

bersifat ringan hingga seeding yang berkisar 64-76% Denyut Nadi

Maksimal (DNM).

Rumus DNM = (220 – umur) x 64 – 76%.

Misalkan : A berumur 50 tahun, dosis latihan intensitas sedang 64-

76% DNM. Hasil denyut nadi latihannya berkisar =

64-76% x (220-50) = 109 – 130 x/menit.

Penghitungan denyut nadi maksimal dilakukan sebelum dan

sesudah latihan fisik, agar latihan berlangsung efektif, aman dan

nyaman.
27

Tabel 2.1 Tipe Latihan Fisik (Kemenkes RI, 2016)

TIPE FREKUENSI INTENSITAS DURASI

Latihan Aerobik 3-5 x/minggu Sedang (64-76% 150 menit/minggu

DNM) 75 menit/minggu

Berat (>76% DNM

Latihan Kekuatan Minimal 2-3 2-4 set, 8-10 reptisi, Interval istirahat 2-

x/minggu 60-80% RM/ 3 menit

pengulangan

maksimal

Latihan Minimal 2-3 ≥ 4 repetisi/ 10 menit

Kelenturan x/minggu pengulangan 20-30 detik

peregangan statis

3) Time (durasi)

Jangan terlalu lama berolah raga, tapi jangan juga sebentar, karena

hanya akan menimbulkan kelelahan yang tidak perlu. Durasi ideal

dalam olah raga adalah 30-60 menit.

4) Tipe (jenis)

Menurut Safira 2018, jenis olah raga yang baik untuk penderita

DM adalah olah raga yang memperbaiki kesegaran jasmani. Oleh

karena itu harus dipilih olah raga yang memenuhi ketahanan,

kekuatan, kelenturan tubuh, keseimbangan, ketangkasan, tenaga

dan kecepatan. Atau yang disebut CRIPE (Continous, Rymtical,

Interval, Progressive, Endurance, Training)

a) Berjalan kaki

Bagi penderita DM tipe II, berajalan kaki merupakan aktifitas

yang paling sering direkomendasikan. Jalan cepat dilakukan


28

pada kecepatan tertentu dapat meningkatkan detak jantung dan

juga merupakan salah satu aktifitas aerobic.

b) Tai chi

Jenis aktifitas ini terdiri dari serangakaian gerakan yang

dilakukan secara perlahan dan santai selama lebih dari 30

menit. Tai chi menjadi pilihan olah raga yang cocok bagi

penderita DM karena dapan membuat tubuh tetap tegar dan

mengurangi stress. Selain itu Tai chi juga dapat meningkatkan

keseimbangan tubuh bahkan konon bias mengurangi kerusakan

saraf.

c) Latihan Beban

Jenis olah raga ini bermanfaat untuk menjaga massa otot agar

nantinya mempermudah penderita diabetes dalam mengontrol

gula darahnya. Biasanya latihan beban setidak nya dua kali

seminggu cukup bagi pasien diabetes. Idealnya setiap sesi

latihan angkat beban harus menyertakan 5-10 jenis angkat

beban yang melibatkan kelompok-kelompok otot utama.

d) Lathian Yoga

Yoga bermanfaat bagi penderita Diabetes dalam menurunkan

jumlah lemak tubuh, melawan kekebalan insulin, dan

meningkatkan fungsi saraf. Juga bermanfaat mengurangi stress.

Stress merupakan salah satu faktor penyebab meningkatnya

kadar gula darah.

e) Berenang
29

Berenang merupakan salah satu aktifitas aerobic dan ideal bagi

penderita diabetes karena jenis olahraga ini tidak membebani

sendi-sendi dibandingkan dengan berjalan dan jogging.

Seringkali diabetes menyebabkan berkurangnya aliran darah

menuju pembuluh darah kecil di kaki dan menyebabkan

hilangnya rasa dibagian tubuh tersebut.

5) Dosis/takaran olah raga

Aktifitas fisik yang dilakukan yang harus memenuhun

dosis/takaran yang ditentukan oleh karena bila kurang tidak akan

memberikan manfaat. Takaran meliputi: intensitas, lama, dan

frekuensi latihan.

a) Intensitas

Adalah kerasnya melakukan latihan, dikontrol dengan

pemantauan denyut nadi atau jantung. Peningkatan intensitas

didasarkan pada umur, keadaan, kesehatan, kebugaran,=

tingkat awal, adaptasi latihan dan dampak terhadap control

gula diabetes

b) Lama

Lama latihan antara 20-30 menit dalam zona latihan. Jika

intensitas tinggi maka lama latihan dapat lebih pendek dan

sebaliknya.

c) Frekuensi
30

Lathan paling sedikit 3x seminggu, hal ini karena ketahanan

seseorang akan menurun setelah 48 jam. Latihan tiap hari tidak

dianjurkan karena dapat menurunkan kondisi fisik dan mental.

6) Pengertian Aktifitas Fisik

Aktifitas fisik merupakan fungsi dasar hidup manusia. Sejak

zaman dahulu aktifitas fisik diperlukan untuk mengumpulkan

makanan dengan cara berjalan sekeliling hutan dan sungai, berlari dari

kejaran musuh atau hewan liar yang hendak menerkam. Pada

perkembangan selanjutnya setelah manusia mengenal sistem budidaya

maka manusia banyak menggunakan aktifitas fisik untuk bertani

menanam padi dan berkebun menanam sayuran untuk memenuhi

kebutuhan makanan. Agar dapat bertahan hidup manusia zaman purba

memerlukan tempat yang menyediakan makanan, sehingga mereka

banyak membutuhkan energi untuk berkelana mencari makanan,

berpindah dari satu tempat ketempat lain yang masih banyak sumber-

sumber bahan makanan (Welis dan Sazeli, 2013).

Seiring perkembangan peradaban manusia mulai mengenal alat

angkut/transportasi berupa hewan seperti kuda yang digunakan

sebagai alat trasnportasi. Pada masa sudah dikenal alat transportasi,

aktifitas fisik manusia untuk berjalan ke suatu tempat sudah berkurang

(Welis dan Sazeli, 2013).

Menurut WHO aktifitas fisik (physical activity) merupakan

gerakan tubuh yang dihasilkan otot rangka yang memerlukan


31

pengeluaran energi. Aktifitas fisik melibatkan proses biokimia dan

biomekanik. Aktifitas fisik dapat dikelompokkan berdasarkan tipe dan

intensitasnya. Seringkali orang menukarkan istilah aktifitas fisik

dengan latihan olah raga atau exercise. Secara definisi latihan

olahraga (exercise) merupakan bagian dari aktifitas fisik yang

terencana, terstruktur, berulang, dan bertujuan untuk memelihara

kebugaran fisik (Haskel & Kiernan, 2000). Jumlah energy yang di

butuhkan untuk menyelesaikan suatu aktifitas dapat diukur dengan

kilojoule (KJ) atau kilokalori (kkal). Satu kalor (kal) setara dengan

4,186 joule atau 1 kilokalori (Kkal) setara dengan 1.000 kalori atau

setara dengan 4.186 kalori. (Welis dan Sazelis, 2013).

Tabel 2.2 Perbedaan Elemen Aktifitas Fisik dan Latihan Olahraga

(Exercise) (Welis dan Sazelis, 2013)

No Aktifitas Fisik Latihan (Exercise)

1 Gerakan tubuh yang dihasilkan oleh Gerakan tubuh yang dihasilkan oleh

otot rangka otot rangka

2 Mengakibatkan pengeluaran energi Mengakibatkan pengeluaran energy

3 Pengeluaran energi bervariasi dari Pengeluaran energi bervariasi dari

rendah hingga tinggi (Kkal) rendah hingga tinggi (Kkal)

4 Berhubungan positif dengan Sangat berhubungan positif dengan

kebugaran fisik kebugaran fisik

Gerakan otot terencana, terstruktur dan

berulang

Meningkatkan atau memelihara

komponen kebugaran fisik


32

a) Kebugaran Jasmani

Istilah kebugaran jasmani (physical fitness) sering dibicarakan bila

mendiskusikan tentang aktifitas fisik. Kebugaran fisik (physical fitness) atau

lazim disebut kesegaran jasmani mengandung makna kesanggupan dan

kemampuan tubuh melakukan penyesuaian terhadap pembebanan fisik yang

diberikan tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Ada beberapa

komponen kesegaran jasmani (physical fitness) baik yang terkait dengan

kesehatan meliput daya tahan kardiorespirasi, daya tahan otot kekuatan otot

dan komposisi tubuh. Sedangkan komponen kesegaran jasmani yang berkaitan

dengan keterampilan meliputi kecepatan, kelincahan/ketangkasan,

keseimbangan, kecepatan reaksi, kelenturan dan koordinasi (Welis dan

Sazelis, 2013).

b) Daya Tahan Kardiorespirasi (Cardirespiratory endurance)

Daya tahan cardiorespiratory adalah kemampuan sistem pernafasan dan

sirkulasinya di dalam tubuh untuk mensuplai bahan bakar (fuel) selama

melakukan aktivitas fisik (USDHHS, 1996 seperti yang diadaptasi dari Corbin

& Lindsey, 1994). Untuk meningkatkan daya tahan cardiorespiratory, maka

diperlukan aktivitas (usaha) untuk memelihara laju denyut jantung (heart

elevated) pada satu tungkatan aman pada suatu periode yang panjang seperti

berjalan (walking) berenang (swimming), atau bersepeda (bicycling).

Aktivitas yang dipilih untuk meningkatkan daya tahan cardiorespiratory

tidaklah harus sangat intensif (strenuous), tetapi dumilai secara perlahan-

perlahan hingga secara berangsur-angsur meningkat ke aktivitas yang lebih

intens. Pada referensi yang lain daya tahan kardiorespirasi disebut kan sebagai
33

daya tahan kardiovaskular. Daya tahan kardiovaskular adalah kemampuan

sistem paru-paru, jantung, dan pembuluh darah untuk menunjang sistem

energi kerja otot (metabolisme energi) agar berfungsi secara optimal pada

keadaan istirahat dan kerja dalam mengambil oksigen dan menyalurkannya ke

jaringan yang aktif sehingga dapat digunakan pada proses metabolisme tubuh.

Kapasitas paru-paru merupakan faktor penting dalam kebugaran dan kapasitas

kerja fisik terutama dalam penyediaan oksigen. Transportasi oksigen pada sel-

sel dan peningkatan kapasitas kardiorespirasi akan meningkatkan kemampuan

berkonsenterasi dalam melakukan suatu pekerjaan.

Kemampuan kardiorespirasi dapat ditentukan dengan beberapa acara

misalnya : berjalan, jogging, naik turun bangku, dan mengendarai ergometer

sepeda. Pengukuran daya tahan kardiovaskular dapat juga dilakukan dengan

pengukuran di lapangan, misalnya lari, dengan menghitung jarak lari yang

dapat ditempuh selama 12 menit (Cooper 12 minute) (Marley, 1984: Cooper,

1970). Daya tahan kardiorespirasi atau daya tahan jantung paru dipengaruhi

oleh faktor umur, jenis kelamin, genetik dan aktivitas fisik. Faktor genetik

akan membedakan kapasitas jantung, paru jumlah sel darah merah dan

haemoglobin seseorang serta jenis otot (Welis dan Sazelis, 2013).

Perbedaan kondisi fisiologis karena perbedaan genetik akan

mempengaruhi daya tahan jantung paru pada seseorang. Umur anak-anak

sampai umur 20 tahun daya tahan kardiorespirasi akan meningkat, hingga

mencapai maksimal pada umur 20-30 tahun. Pada saat umur 70 tahun

kemampuan daya tahan kardiorespirasi menurun hingga 50%. Hal ini


34

disebabkan oleh penurunan faal organ transport dan kardiorespirasi juga

berbeda setelah seseorang pubertas (Wazelis dan Sazeli, 2013).

Setelah pubertas daya tahan jantung wanita 15 hingga 25% lebih rendah

dibandingkan laki-laki. Perbedaan ini disebabkan oelh adanya maximal

muscular power yang berhubungan dengan luas permukaan tubuh, komposisi

tubuh, kekuatan otot, jumlah hemboglobin, kapasitas paru dan lain-lainya.

Aktivitas fisik yang dilakukan lebih rendah seperti istirahat yang lama (3

minggu) akan menurunkan daya tahan jantung. Efek latihan aerobik selama 8

minggu setelah istirahat memperlihatkan peningkatan daya tahan jantung.

Macam aktifitas fisik juga mempengaruhi daya tahan kardiorespirasi. Orang

yang melakukan lari jarak jauh mempunyai daya tahan kardiovaskuler yang

lebih baik dibandingkan melakukan senam atau main anggar.

c) Kekuatan Otot (Muscular strength)

Kekuatan otot menggambarkan kontraksi otot maksimal yang dihasilkan

oleh otot atau sekelompok. Kekuatan otot adalah kapasitas untuk mengatasi

suatu beban/hambatan. Latihan kekuatan akan menghasilkan pembesaran pada

otot dan peningkatan kekuatan otot. Kekuatan ini dapat diukur dengan melihat

jumlah beban maksimum yang dapat diangkat dengan gerakan khusus.

Seseorang mungkin memiliki kekuatan otot yang besar pada sekelompok otot

tertentu, tetapi belum tentu sama pada kelompok lain (Departemen Kesehatan,

1994). Kekuatan otot juga diartikan sebagai kemampuan otot untuk

mengunakan kekuatan pada suatu aktivitas (USDHHS, 1996 seperti yang

diadaptasikan dari Wilmore & Costill, 1994). Untuk membuat otot menjadi
35

lebih kuat diperlukan kerja yang dapat melawan kekuatan otot itu, dapat

menggunakan gaya berat atau timbangan. Jika kita ingin memperoleh

kekuatan otot, maka latihan yang dapat dilakukan adalah mengangkat sesuatu

yang berat atau naik-turun tangga dengan cepat (rapidly taking the stairs)

(Welis dan Sazeli, 2013).

d) Daya tahan Otot (Muscular Endurance)

Daya tahan otot adalah kemampuan otot untuk melakukan kontraksi yang

beruntun atau berulang-ulang, mengatasi beban pada suatu waktu tertentu atau

dengan kata lain daya tahan otot adalah kemampuan untuk melaksanakan

kekuatan dan mempertahankannya selama mungkin. Latihan seperti tarik

badan, angkat badan dan abring duduk adalah cara mengembangkan

ketahanan otot latihan-latihan itu juga merupakan cara untuk menentukan

ketahanan otot (Marley, 1988). Sementara itu USDHHS, 1996 yang diadaptasi

dari Wilmore & Costill, 1994, menyatakan bahwa daya tahan otot adalah

kemampuan otot untuk melanjutkan suatu aktivitas tanpa kelelahan. Untuk

meningkatkan daya tahan otot maka upaya aktivitas kardiorespirasi

(cardiorespiratory) adalah berjalan (walking) berenang (swimming), atau

bersepeda (bicycling), atau menari (dancing.

Daya tahan otot dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin dan suhu

otot, kekuatan otot laki-laki dan perempuan sama hingga umur 12 tahun,

sampai umur pubertas kekuatan otot perempuan masih dapat meningkat

walaupun peningkatannya lebih kecil dibandingkan laki-laki. Kekuatan otot

maksimal tercapai pada umur 25 tahnu baik pada perempuan maupun laki-
36

laki. Kontraksi otot akan lebih kuat bila suhu otot sedikit lebih tinggi. Peranan

pemanasan sebelum aktivitas fisik berpengaruh terhadap reaksi kimia dalam

otot. Pemanasan yang optimal akan mempercepat proses kontraksi dan

relaksasi otot.

e) Komposisi Tubuh (Body Composition)

Komposisi tubuh menggambarkan jumlah relative dari otot, lemak, tulang,

dan bagian penting lain dari tubuh (USDHHS, 1996) seperti yang

diadaptasikan dari Corbin dan Lindsey, 1994). Massa tubuh total seseorang

seperti pada skala kamar mandi (bathroom scale) tidak dapat berubah dari

waktu ke waktu (over time). Tetapi skala tersebut tidak dapat menilai berapa

banyak massa lemak tubuh dan bagaimana sandaran massa (lean mass) (otot,

tulang, urat, daging, dan ikatan sendi). Komposisi badan adalah merupakan

pertimbangan penting bagi manajemen kesehatan mempertimbangkan untuk

kesehatan dan pengaturan berta badan. Sedangkan Depkes 1994, menyatakan

bahwa komposisi tubuh digambarkan sebagai berat badan, tanpa lemak dan

berat lemak. Berat badan tanpa lemak terdiri atas massa otot (40-50%), tulang

(16-18%) dan organ tubuh (29-39%). Ketidak mampuan tubuh dalam

melakukan aktivitas sering dikaitkan dengan penimbunan lemak (Marley,

1988). Komposisi tubuh akan berbeda berdasarkan jenis kelamin. Komposisi

lemak perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.

f) Kecepatan Gerak (Speed)

Kecepatan adalah gerak kemampuan atau laju gerak yang dapat berlaku

untuk tubuh secara keseluruhan atau bagian tubuh untuk melaksanakan gerak-
37

gerak yang sama atau tidak sama secepat mungkin (Depkes, 1994). Kecepatan

dipengaruhi oleh faktor kelentukan karena memepengaruhi tahanan yang

dibuat oleh otot yang berlawanan. Selain itu kecepatan juga dipengaruhi oleh

tipe tubuh, umur dan jenis kelamin. Orang yang obesitas akan memiliki

gerakan yang lamban karena beban berat badan yang tinggi.

g) Kelincahan (Agility)

Kelincahan adalah kemampuan mengubah secara cepat arah tubuh/bagian

tubuh tanpa gangguan keseimbangan. Definisi lain dinyatakan bahwa

kelincahan adalah kemampuan untuk mengubah arah tubuh secara efisien, dan

hal ini memerlukan suatu kombinasi dari keseimbangan (balance), koordinasi

(coordination), kecepatan (speed), refleksi (reflexes), dan kekuatan (strength).

Agility biasanya dicapai ketika atlit menggunakan ATP-AC nya atau sistem

Lactic Acid (anaerobic). Kelincahan tidak hanya diperlukan dalam olahraga,

tetapi juga dalam situasi kerja dan kegiatan rekreasi. Kelincahan tergantung

pada faktor kekuatan, kecepatan, tenaga ledak otot (muscle explosive power),

waktu reaksi, keseimbangan dan koordinasi faktor-faktor tersebut. Agilitas

(kelincahan), dapat memperbaiki performa olahraga (Welis dan Sazeli, 2013).

h) Keseimbangan (Balance)

Keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan sikap tubuh yang

tepat pada saat melakukan gerakan. Hal ini bergantung pada kemampuan

integrasi antara kerja indera penglihatan, kanalis semi sirkularis pada telinga

dan reseptor pada otot. Diperlukan tidak hanya pada olah raga, tetapi juga

dalam kehidupan sehari-hari (Moeloek, 1984 dalam Welis dan Sazeli, 2013).
38

i) Kecepatan Reaksi (Time reaction)

Kecepatan reaksi adalah waktu tersingkat yang dibuthkan untuk

memberikan jawaban kinetis setelah menerima rangsangan. Hal ini

berhubungan erat dengan waktu reflex, waktu gerakan dan waktu respon.

Kecepatan reaksi dipengaruhu oleh faktor umur. Pada usia muda kecepatan

reaksi lambat, mencapai umur maksimal pada masa pubertas dan menurun lagi

sesuai pertambahan umur. Pada laki-laki waktu reaksi lebih cepat bila

dibandingkan dengan perempuan. Intensitas rangsangan juga akan

mempengaruhi kecepatan rekasi. Besarnya intensitas rangsangan pada alat

pendengaran, penglihatan akan memberikan waktu yang cepat. Namun latihan

yang rutin ternyata akan menyebabkan kecepatan rekasi lebih cepat, tapi bila

dalam kondisi kelelahan dan kondisi lapar maka kecepatan reaksi akan lambat.

j) Koordinasi (coordination)

Koordinasi menyatakan hubungan harmonis berbagai faktor yang terjadi

pada suatu gerakan (Depkes, 1994). Misalnya pada saat melakukan serve

tennis, pada saat momentum tubuh mencapai puncak dilakukan ekstensi

lengan dan akhirnya dicapai kecepatan maksimal pada gerak raket. Pada gerak

yang tidak mempunyai koordinasi yang baik, akan mengakibatkan

‘‘kerugian’’, pengeluaran tenaga berlebihan, mengganggu keseimbangan,

cepat lelah, kurang tepat sasaran yang diinginkan, bahkan mungkin terjadi

cedera. Pada kehidupan sehari-hari redapat cukup banyak orang yang

‘‘miskin’’ koordinasi sehingga menyebabkan kerugian seperti tersebut di atas.

Orang tersebut dalam banyak hal, sukar mempelajarai suatu gerakan dan tidak
39

memberikan suatu pandangan yang baik (seperti orang yang berbaris dengan

gerak kaki dan ayun lengan pada sisi yang sama pada bergerak ke muka atau

ke belakang).

k) Kelenturan (Flexibility)

Kelenturan adalah cakupan dari gerakan disekitar sambungan (around)

(USDHHS, 1996 seperti yang diadaptasikan dari Wilmore & Costil, 1994).

Kelenturan yang baik di dalam suatu sambungan dapat membantu mencegah

luka pada semua langkah kehidupan. Jika kita ingin meningkatkan

fleksibilitas, maka aktivitasnya dapat memperpanjang otot-otot adalah

berenang atau dengan suatu program peregangan dasar. Ada berbagai faktor

yang dapat mempengaruhi kesegaran jasmani seseorang. Faktor-faktor seperti

umur, jenis kelamin, makanan atau diet, genetic dan kebiasaan merokok

merupakan faktor utama yang mempengaruhi kesegaran/kebugaran jasmani

seseorang. Kebugaran jasmani seseorang meningkat sampai mencapai

maksimal pada usia 25-30 tahun, kemudian akan terjadi penurunan kapasitas

fungsional dari seluruh tubuh, kira-kira sebesar 0,8-1% per tahun, tetapi bila

rajin berolahraga penurunan ini dapat dikurangi sampai separuhnya.

Faktor perbedaan jenis kelamin berpengaruh terhadap kesegaran jasmani,

namun sampai usia pubertas biasanya kebugaran jasmani anak laki-laki hamper

sama dengan perempuan, tapi setelah pubertas anak laki-laki biasanya mempunyai

nilai yang lebih besar. Perbedaan ini kemungkinan terkait dengan perbedaan

kondisi fisiologis setelah mengalami pubertas seperti perubahan hormonal dan

komposisi tubuh (persen lemak tubuh). Faktor genetik akan berpengaruh terhadap
40

kapasitas jantung, paru, postur tubuh, kondisi obesitas, haemoglobin/sel darah

serat otot. Faktor diet berpengaruh terhadap kesegaran seseorang terkait dengan

komposisi zat gizi yang dikonsumsi. Seseorang memiliki daya tahan yang tinggi

bila mengkonsumsi tinggi karbohidrat (60-70%). Apalagi jenis karbohidrat

dengan komposisi indeks glikemik rendah akan memberikan penyediaan energy

lepas lambat, sehingga memungkin daya tahan seseorang lebih lama. Diet tinggi

protein terutama untuk memperbesar otot dan untuk olah raga yang memerlukan

kekuatan otot yang besar. Hal ini terkait dengan pengaturan fungsi protein sebagai

zat pembangun dan pengganti jaringan serta sel yang rusak.

Kebiasaan merokok akan menurunkan kesegaran jasmani seseorang.

Kadar CO yang terhisap akan mengurangi nilai VO2 maka yang berpengaruh

terhadap daya tahan. Gas CO yang terpisahkan barkaitan dengan haemoglobin

darah sehingga mengurangi kemampuan sel darah merah untuk mngikat oksigen

yang diperlukan untuk oksidasi zat gizi sumber energy. Selain itu menurut

penelitian Perkins dan Sexton, nicotine yang ada dalam rokok dapat memperbesar

pengeluaran energi dan mengurani nafsu makan.

l) Manfaat Aktifitas Fisik

Secara umum hasil studi diberbagai Negara menyebutkan bahwa aktifitas

fisik yang memadai bermanfaat untuk kesehatan terutama mengurangi risiko

penyakit-penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, diabetes mellitus tipe 2,

obesitas dan gizi lebih, penyakit kanker payudara, kanker kolon serta depresi.

Hasil penelitian menujukkan bahwa aktifitas fisik memberikan keuntungan

yang besar untuk menurunkan risiko penyakit jantung. Orang yang kurang
41

melakukan aktifitas berisiko dua kali lebih besar terkena penyakit jantung bila

dibandingkan orang yang idak aktif. Aktifitas fisik juga membantu mencegah

penyakit stroke dan memperbaiki faktor risiko cardiovascular disease (CVD)

seperti tekanan darah tinggi dan tinggi kolesterol. Rendahnya level aktifitas fisik

dapat meningkatkan pula prevalensi obesitas secara signifikan. Obesitas terjadi

bila asupan energy melebihi pengeluaran energy total termasuk energy untuk

melakukan aktifitas fisik. Mekanisme biologis yang terkait hubungan aktifitas

fisik dengan penurunan risiko penyakit kronis dan kematian dini dapat dijelaskan

dari berbagai hasil penelitian yang dirangkum oleh Warbutton dkk. Aktifitas fisik

yang dilakukan secara rutin akan memperbaiki komposisi tubuh melalui

penurunan lemak abdominal deposit dan perbaikan terhadap kontrol berat badan.

Selain itu dapat meningkatkan profil lipoprotein melalui penurunan level

trigliserida, peningkatan kolesterol HDL (kolesterol baik). Menurunkan LDL serta

menurukan rasio LDL rehadar HDL.

Aktifitas fisik juga memperbaiki homeostasis glukosa dan sensitifitas

insulin, menurunkan tekanan darah dan inflamasi sistemik, menurunkan

pembekuan darah, memperbaiki aliran darah jantung, memperbaiki fungsi jantung

serta endhotelial. Aktifitas fisik yang dilakukan secara rutin juga memperbaiki

psikologis seseorang melalui penurunan stress, kecemasan dan depresi. Faktor

psikologis penting dipertimbangkan untuk pencegahan dan manajemen penyakit

jantung serta berimplikasi juga terhadap penyakit kronis lainnya seperti dabetes,

osteoporosis, hipertensi, kegemukan kanker dan depresi. Terjadinya perbaikan

massa tubuh karena aktifitas fisik menyebabkan peningkatan sintesis glikogen dan

aktifitas hexokinase, peningkatan GLUT-4 dan ekpresi mRNA, memperbaiki


42

densitas kapiler otot sehingga mengakibatkan perbaikan pengangkutan glukosa ke

otot. Pada mekanisme penurunan laju penyakit kanker, dengan melakukan

aktifitas fisik secara regular menurunkan laju kanker sebesar 46%, menurunkan

simpanan lemak dan meningkatan pengeluaran energi, serta berkaitan pula dengan

perubahan level hormon, fungsi imun, insulin dan pembentukan radikas bebas

yang berpengaruh langsung terhadap tumor.

Secara umum manfaat aktifitas fisik dapat disimpulkan yaitu

1) Manfaat fisik/biologis meliputi : menjaga tekanan darah tetap stabil

dalam batas normal, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap

penyakit, menjaga berat badan ideal, menguatkan tulang dan otot,

meningkatkan kelenturan, tubuh, dan meningkatkan kebugaran tubuh.

2) Manfaat akftifitas fisisk secara psikis/mental dapat : mengurangi

stress, meningkatkan rasa percaya diri, membangun rasa sportifitas,

memupuk tanggung jawab, dan membangung kesetakawanan sosial.

m) Penukuran Aktifitas Fisik

1. Metode Kuesioner dan Wawancara

Metode untuk mngetahui perkiraan pengeluaran energi metode

kuesioner dan wawancara adalah bentuk metode yang lebih mudah dan

murah. Pada metode ini subjek diwawancara untuk meningat jenis

aktifitas fisik dan lamanya aktifitas fisik tersebut dilakukan selama 24

jam yang lalu, pada metode ini harus dipersiapkan kuesioner yang

akan digunakan sebagai form yang akan dilakukan selama 24 jam yang

lalu. Contoh kuesioner yang diapaki untuk mengukur perkiraan


43

pengeluaran energi adalah kuesioner Baecke. Kuesioner Baecke dapat

dilihat pada tabel dibawah

Pertanyaan
No Skor
1 Apa jenis pekerjaan utama anda? 123
Pada saat bekerja saya duduk :
2 12345
Tidak pernah/jarang/kadang-kdang/sering/selalu
Pada saat bekerja saya berdiri :
3 12345
Tidak pernah/jarang/kadang-kdang/sering/selalu
Pada saat bekerja saya bekerja berjalan
4 12345
Tidak pernah/jarang/kadang-kdang/sering/selalu
Pada saat bekerja saya pakai beban lift
5 12345
Tidak pernah/jarang/kadang-kdang/sering/sangat sering
Setelah bekerja saya merasa lelah :
6 54321
Sangat sring/seing/kadang/jarang/tidak pernah
Pada saat saya bekerja saya berkeringat :
7 54321
Sangat sring/seing/kadang/jarang/tidak pernah
Bila dibandingkan dengan yang lain saya piker pekerjaan fisik
8 54321
lebih berat/berat/agak berat/lebih ringan/ringan
Apakah anda berolahraga ? ya/tidak, jika ya :
- Olahraga yang paling sring dilakukan ?
- Bearapa jam seminggu ? <1/1-2/2-3/3-4/>4
- Berapa dalam setahun ?
9 <1/1-3/4-6/7-9/>9
Jika ada permainan olahraga kedua :
- Jenis olahraga ?
- Berapa kali seminggu : <1 1-2/2-3/3-4/>4
- Berapa bulan dalam setahun : <1/1-3/4-6/7-9/>9
Dibandingkan teman sebaya aktiftias fisik saya di waktu luang
10 54321
adalah lebih banyak/banyak/sama/lebih sedikit/paling sedikit
Selama waktu luang saya berkeringat :
11 54321
Sangat sering/sering/kadang/jarang/tidak pernah
Selama waktu luang saya berolahraga :
12 12345
Tidak pernah/jarang/kadang/sering/sangat sering
Selama waktu luang saya saya menonton televisi :
13 12345
Tidak pernah/jarang/kadang/sering/sangat sering
14 Selama waktu luang saya bersepeda 12345
Berapa lama anda bersepeda, berjalan dan lari ke tempat kerja,
15 kesekolah dan ketempat kerja ? 12345
>5/5-15/15-30/30-45/>45
Sumber : Baecke, 1982
44

Tabel 2.4 Klasifikasi aktivitas fisik

Kategori Indeks
Aktifitas ringan <5,6
Aktifitas sedang 5,6-7,9
Aktifitas berat >7,9
Sumber : Baecke, 1982

Cut of point yang digunakan adalah percentil 50 dari nilai aktivitas fisik penderita

DM tipe 2, sehingga kategori aktifitas fisik dibedakan menjadi aktivitas fisik

ringan dan aktivitas sedang/berat.

n) Pengobatan

Pengobatan penderita diabetes terbagi menjadi :

1. Pengobatan oral

Obat antidiabetes oral terbagi menjadi golongan sulfonylurea

dan golongan biguanid

2. Pengobatan parenteral

Pengobatan parenteral dengan menggunkan insulin injeksi

B. Penelitian Terkait

1. Hubungan aktifitas fisik dengan kadar gula darah puasa penderita diabetes

mellitus tipe 2 oleh Laila Nurayati, Merryana Adriani di puskesmas

Muloyorejo Kota Surabaya dengan hasil penelitian menunjukkan

sebanyak 62,9% responden memiliki aktifitas fisik rendah dan sebanyak

58,0% responden memiliki kadar gula darah puasa dalam kategori tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara aktifitas fisik

dengan kadar gula darah puasa penderita Diabetes mellitus tipe 2

(p=0,00).
45

2. Hubungan antara aktifitas fisik dan riwayat keluarga dengan kejadian

diabetes mellitus tipe 2 pada pasien rawat jalan di wilayah kerja

Puskesmas Tenaga Kecamatan Tenaga Kabupaten Minahasa Selatan oleh

Anastasia P. Kawalot. Grace D. Kandou, Febi K. Kolibou dengan hasil

penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara aktifitas dengan

kejadian DM dengan Pvalue= 0,26 OR=0,358; (CI(95%)=0,143-0,899).

Ada hubungan antara riwayat keluarga dengan kejadian DM dengan

Pvalue=0,000 OR=8,273; (CI(95%)=3,357-20,388)

3. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diabetes mellitus di

poliklinik penyakit dalam RSUD dr. Achmad Mochtar Bukit tinggi tahun

2016 oleh Siti Mutia Kosasi dengan hasil penelitian menujukkan faktor

yang berhubungan dengan kejadian diabetes mellitus adalah variabel diet

pvalue=0,040, keturunan pvalue=0,040, dan riwayat keluarga diabetes

mellitus pvalue=0,025.

4. Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II di Wilayah Kerja

Puskesmas Purwodiningratan Surakarta oleh Wahyu Ratri

Sukamaningsih, Heru Subaris Kasjono, Kusuma Estu Wardani, dengan

hasil bivariate penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara

riwayat DM keluarga (p=0,006), ada hubungan antara pola makan

(p=0,002), ada hubungan antara aktivitas fisik (p=0,000), da nada

hubungan antara merokok (p=0,020) dengan kejadian DM tipe II di

wilayah kerja Puskesmas Purwodiningratan Surakarta. Sedangkan hasil

multivariate menunjukkan bahwa aktifitas fisik memiliki OR tertinggi

sebesar 14,916 (95% CI=4,663-47,715), artinya seseorang yang memiliki


46

aktifitas fisik rendah berisiko sebesar 14,916 kali untuk mengalami DM

tipe II

5. Hubungan Komponen Sindrom Metabolik dengan Risiko Diabetes

Melitus berhubungan secara bermakna dengan kejadian DM adalah umur

dan seluruh komponen SM (obesitas sentral, hiperglikemia,

hipertrigliserida, kolesterol HDL rendah, dan hipertensi). Semakin

bertambah umur semakin meningkat juga insiden risiko DM. komponen

SM yang memiliki hubungan yang sangat kuat untuk terjadinya DM

adalah gula dara puasa dengan risiko 6,71 kali lipat (95%CI; 4,76-9,47).

Risiko insiden penyakit DM meningkat tajam hingga 65,94 kali lebih

besar bila memiliki 5 komponen SM dibandingkan dengan yang tidak

mempunyai komponen SM. Disimpulkan bahwa jumlah komponen SM

berisiko meningkatkan kejadian DM setelah diikuti selama 2 tahun.

6. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diabetes Melitus (DM)

Tipe 2 Puskesmas Cilacap Tengah oleh Dewi Prasetyani 1 dan sodikin

dengan hasil terdapat hubungan obesitas dengan kejadian DM tipe 2,

(pv=0,005) pada α=0,05, dimana invidu dengan obesitas berisiko 5,45 kali

mengalami DM tipe 2 dibandingkan individu yang tidak obesitas.


47

C. Kerangka Teori

Menurut Tandra, 2017 faktor risiko terjadinya Diabetes adalah :

Faktor Risiko Diabetes

1. Keturunan/Riwayat Keluarga

2. Rasa tau Etnis

3. Obesitas

4. Metabolic Syndrome

a. Tekanan Darah
DM
b. Kolesterol Darah

5. Aktifitas Fisik

6. Penyakit Lain

7. Usia

8. Riwayat Diabetes pada Kehamilan

9. Infeksi

10. Stress

Sumber : Tandra, 2017, Kemenkes RI, 2013.

Gambar 2.1 Skema Kerangka Teori


48

D. Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini sesuai dengan teori diatas adalah

sebagai berikut :

Variabel Independent Variabel Dependent

- Riwayat keluarga

- Obesitas

- Aktifitas fisik DM TIPE II

- Tekanan Darah

- Kolesterol Darah

E. Hipotesis

Hipotesis yang muncul dalam penelitian ini meliputi :

Ha :

1. Ada hubungan antara riwayat keluarga dengan kejadian DM tipe II

di RSUD dr. Bob Bazar, SKM Kalianda tahun 2018.

2. Ada hubungan antara obesitas dengan kejadian DM tipe II di RSUD

dr. Bob Bazar, SKM Kalianda tahun 2018.

3. Ada hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian DM tipe II di

RSUD dr. Bob Bazar, SKM Kalianda tahun 2018.

4. Ada hubungan antara tekanan darah dengan kejadian DM tipe II di

RSUD dr. Bob Bazar, SKM Kalianda tahun 2018.

5. Ada hubungan antara kolesterol darah dengan kejadian DM tipe II di

RSUD dr. Bob Bazar, SKM Kalianda tahun 2018.