Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KEGIATAN

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM)


F6. Upaya Pengobatan Dasar

Infeksi Saluran Kemih

Disusun Oleh:
dr. Singgih Priyambodo

Pembimbing:
dr. Delia Anisha Ulfah

PROGRAM DOKTER INTERNSIP


UPTD UNIT PUSKESMAS KEBUMEN I
KABUPATEN KEBUMEN
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi terbesar kedua setelah


infeksi saluran pernafasan dan dapat menyebabkan sepsis. Menurut WHO
sebanyak 25 juta kematian diseluruh dunia pada tahun 2011, sepertiganya
disebabkan oleh penyakit infeksi. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi
dengan keterlibatan bakteri tersering dikomunitas dan hampir 10% orang pernah
terkena ISK selama hidupnya. Sekitar 150 juta penduduk di seluruh dunia tiap
tahunnya terdiagnosis menderita infeksi saluran kemih.
Prevalensi infeksi saluran kemih di Indonesia masih cukup tinggi.
Berdasarkan data Departemen Kesehatan Republik Indonesia, penderita ISK di
Indonesia berjumlah 90 – 100 kasus per 100.000 penduduk per tahun atau sekitar
180.000 kasus baru per tahun ISK dapat menyerang segala usia dari bayi hingga
lansia baik perempuan maupun laki – laki. Namun, pada wanita lebih sering
terinfeksi daripada pria dengan angka populasi umum kurang lebih
5-15% oleh karena perbedaan anatomis antara keduanya. Infeksi saluran kemih
menempati posisi kedua tersering (23,9%) di negara berkembang setelah infeksi
luka operasi (29,1%) sebagai infeksi yang paling sering didapatkan oleh pasien
di fasilitas kesehatan. ISK merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang
cukup signifikan.
Penyebab infeksi saluran kemih adalah adanya invasi dan
perkembangbiakan mikroorganisme ke dalam saluran kemih yang mencakup
infeksi pada parenkim ginjal hingga kandung kemih dengan kadar bakteri urin
tertentu dalam jumlah yang bermakna (≥ 105 per mL urin) Bakteri gram negatif
yang sebagian besar menjadi penyebab infeksi saluran kemih diantaranya
Escherichia coli, Enterobakter, Citrobakter, Klebsiella, Pseudomonas
aeruginosa dan Proteus. Tujuan pengobatan ISK adalah untuk mencegah infeksi
yang semakin parah dan meluas, eradikasi mikroorganisme yang menginfeksi
serta mencegah kekambuhan dengan dibarengi penggunaan obat yang rasional
dan tepat baik indikasi maupun dosis.
1.2 Tujuan
Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah agar peserta internsip mampu
menegakkan diagnosis hingga melakukan pengelolaan yang tepat pada kasus
ISK berdasarkan data yang diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang bila diperlukan.

1.3 Manfaat
Penulisan laporan ini diharapkan dapat membantu peserta internsip dalam
proses belajar menegakkan diagnosis hingga memberikan terapi yang tepat pada
pasien dengan ISK.
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Ny. S
Umur : 31 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Panjer RT1/8 Kebumen
Status : Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
No. RM :-
Tanggal : 25-10-2019

2.2 Anamnesis
a. Keluhan Utama : BAK tidak tuntas
Riwayat penyakit sekarang: Pasien datang dengan keluhan BAK tidak tuntas
sejak 1 minggu yll. Keluhan disertai nyeri pada perut bagian bawah yang timbul
terutama saat akan BAK, pasien juga mengeluh rasa panas di daerah saluran
kencing dan BAK berwarna kemerahan. Keluhan keputihan, gatal-gatal serta
trauma di area kemaluan disangkal oleh pasien.

b. Riwayat penyakit dahulu :

 Keluhan Serupa (+)


 Riwayat alergi (-)
 Riwayat asma (-)

c. Riwayat penyakit keluarga :


 Keluhan serupa disangkal
 Riwayat alergi disangkal
 Riwayat asma disangkal

d. Riwayat sosial ekonomi :


Pasien adalah seorang ibu rumah tangga dimana di daerah rumahnya yaitu
di Panjer di musim kemarau ini terkadang sulit untuk mendapatkan akses air
bersih. Dimana pasien sering membeli air galonan untuk keperluan sehari-hari
kecuali mandi. Pasien mengaku bahwa air yang biasa dipakai untuk mandi
yaitu air sumur memang kurang begitu bersih dan terlihat keruh. Pasien berobat
menggunakan BPJS kesehatan .
Kesan: sosial ekonomi cukup

2.3 Pemeriksaan fisik


Pemeriksaan fisik dilakukan di RPU pada tanggal 25/10/2019, pukul 10.00
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Hiegene : Tampak terawat
Tanda Vital : Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36.5o C
Kepala : Mesosefal
Mata : Conjunctiva palpebra anemis (-/-), ikterik (-/-)
Abdomen
- Inspeksi : Dinding dada lebih tinggi dari dinding abdomen
- Auskultasi : Bising Usus (+)
- Perkusi : Timpani di seluruh lapang perut
- Palpasi : Nyeri Tekan Hypogastric

2.4 Diagnosis Banding


1. Vaginitis
2. Pelvic Inflamnatory Disease

2.5 Diagnosis: ISK


BAB III
RENCANA PENATALAKSANAAN

Tujuan penatalaksanaan ISK adalah mencegah dan menghilangkan gejala,


mencegah dan mengobati bakteriemia dan bakteriuria, mencegah dan mengurangi
risiko kerusakan ginjal yang mungkin timbul dengan pemberian obat-obatan yang
sensitif, murah, aman dengan efek samping yang minimal. Oleh karenan itu pola
pengobatan ISK harus sesuai dengan bentuk ISK, keadaan anatomi saluran kemih,
serta faktor-faktor penyerta lainnya. Bermacam cara pengobatan yang dilakukan
untuk berbagai bentuk yang berbeda dari ISK, antara lain :
a. Pengobatan dosis tunggal
b. Pengobatan jangka pendek (10-14 hari)
c. Pengobatan jangka panjang (4-6 minggu)
d. Pengobatan profilaksis dosis rendah
e. Pengobatan supresif.

Terapi Farmakologi
Prinsip umum penatalaksanaan ISK adalah :
a. Eradikasi bakteri penyebab dengan menggunakan antibiotik yang sesuai
b. Mengkoreksi kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi

The Infection Disease Society of America menganjurkan satu dari tiga


alternatif terapi antibiotika sebagai terapi awal selama 48-72 jam sebelum
diketahui mikroorganisme penyebabnya :
a. Flurokuinolon
b. Aminoglikosida dengan atau tanpa ampisilin
c. Sefalosporin berspektrum luas dengan atau tanpa aminoglikosida

Bila pasien mengalami reinfeksi berulang (frequent re-infection) perlu diperhatikan :


a. Disertai faktor predisposisi, terapi antimikroba yang intensif diikuti dengan
koreksi faktor resiko.
b. Tanpa faktor predisposisi, terapi yang dapat dilakukan adalah asupan cairan
yang banyak, cuci setelah melakukan senggama diikuti terapi antimikroba
dosis tunggal (misal trimentoprim 200 mg) Terapi antimikroba jangka lama
sampai 6 bulan
c. memerlukan antibiotika yang adekuat. Infeksi klamidia memberikan hasil
yang baik dengan tetrasiklin. Infeksi yang disebabkan mikroorganisme
anaerobik diperlukan antimikroba yang serasi (misal golongan kuinolon).

Terapi Non Farmakologi :


a. Minum air putih dalam jumlah yang banyak agar urine yang keluar juga
meningkat (merangsang diuresis).
b. Buang air kecil sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang
mungkin naik ke uretra.
c. Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kencing agar
bakteri tidak mudah berkembang biak.
d. Diet rendah garam untuk membantu menurunkan tekanan darah.
e. Mengkonsumsi jus anggur atau cranberry untuk mencegah infeksi saluran kemih
berulang.
f. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, misalnya buah-buahan, daging
tanpa lemak dan kacang-kacangan.
g. Tidak menahan bila ingin berkemih.
BAB IV
PELAKSANAAN
Penatalaksaan Terapi yang diberikan pada pasien yaitu:
1. Kausatif :
- Cefadroxil 2 x 500 mg
- Paracetamol 3 x 500 mg
- Molaneuron 2x1

2. KIE :
- Obat diminum sesuai aturan pakai
- Cukup minum air putih
- Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kencing
- Jangan menahan kencing
- Kontrol bila gejala belum membaik

Prognosis
Quo ad Vitam : Bonam
Quo ad Sanam : Bonam
Quo ad Fuctionam : Bonam
Quo ad kosmeticam : Bonam
BAB V
MONITORING DAN EVALUASI

Apabila pasien datang untuk kontrol, dilakukan evaluasi terhadap keluhan yang
dialami apakah keluhan sudah berkurang atau belum. Apabila keluhan pasien belum
juga mereda maka perlu dilakukan koreksi terhadap faktor risiko yang menyebabkan
berulangnya infeksi saluran kemih tersebut dengan disertai edukasi pada pasien agar
dapat memodifikasi faktor risiko tersebut. Selain itu, pasien juga dapat dianjurkan
untuk melakukan pemeriksaan urin rutin untuk menganalisa ketepatan dari pemberian
obat terutama obat antibiotik yang digunakan sebagai terapi eradikasi bakteri
penyebab ISK.