Anda di halaman 1dari 35

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Proses kehamilan adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam
tubuh wanita, yang sebelumnya diawali dengan proses pembuahan dan kemudian
akan diakhiri dengan proses persalinan
Dalam proses kehamilan seorang ibu memiliki kehamilan resiko tinggi
serta penyakit yang menyertai kehamilan seperti penyakit Hiperemesis
Gravidarum merupakan keadaan dimana penderita mual dan muntah/tumpah yang
berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap saat,sehingga mengganggu
kesehatan dan pekerjaan sehari-hari (Arief.B, 2009).
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada
wanitahamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena pada umumnya
menjadi buruk karena terjadi dehidrasi (Mochtar, 1998).

2. Tujuan penelitian

2.1. Tujuan umum

Mengetahui dan memahami tentang Abortus Incomplit.

2.2. Tujuan khusus

2.2.1. Diketahuinya pengertian abortus inkomplit

2.2.2. Diketahui etiologi abortus inkomplit

2.2.3. Diketahui patofisiologi abortus inkomplit

2.2.4. Diketahui tanda dan gejala abortus inkomplit

2.2.5. Diketahui asuhan keperawtan pada pasien yang mengalami abortus

Inkomplit.

1
II. TINJAUAN TEORI

2.1..PROSES KEHAMILAN DAN PERKEMBANGAN JANIN DALAM


KANDUNGAN
Proses kehamilan adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh
wanita, yang sebelumnya diawali dengan proses pembuahan dan kemudian akan
diakhiri dengan proses persalinan. Proses kehamilan (gestasi) berlangsung selama
40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir. Usia
kehamilan sendiri adalah 38 minggu, karena dihitung mulai dari tanggal konsepsi
(tanggal bersatunya sperma dengan telur), yang terjadi dua minggu setelahnya.
Dalam dunia kedokteran, proses kehamilan dibagi menjadi tiga fase sesuai dengan
pertumbuhan fisik bayi. Masing-masing fase tersebut disebut trimester.
1. Trimester Pertama (Minggu 0 – 12)
Dalam fase ini ada tiga periode penting pertumbuhan mulai dari periode germinal
sampai periode terbentuknya fetus.

a. Periode Germinal (Minggu 0 – 3)


Proses pembuahan telur oleh sperma yang terjadi pada minggu ke-2 dari hari
pertama menstruasi terakhir. Telur yang sudah dibuahi sperma bergerak dari tuba
fallopi dan menempel ke dinding uterus (endometrium).
b. Periode Embrio (Minggu 3 – 8 )
Proses dimana sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan struktur anatomi mulai
terbentuk seperti mata, mulut dan lidah mulai terbentuk, sedangkan hati mulai
memproduksi sel darah. Janin mulai berubah dari blastosis menjadi embrio
berukuran 1,3 cm dengan kepala yang besar
c. Periode Fetus (Minggu 9 – 12)

2
Periode dimana semua organ penting terus bertumbuh dengan cepat dan saling
berkaitan dan aktivitas otak sangat tinggi.
2. Trimester kedua (Minggu 12 – 24)
Pada trimester kedua ini terjadi peningkatan perkembangan janin. Pada minggu
ke-18 kita bisa melakukan pemeriksaan dengan ultrasongrafi (USG) untuk
mengecek kesempurnaan janin, posisi plasenta dan kemungkinan bayi kembar.
Jaringan kuku, kulit dan rambut berkembang dan mengeras pada minggu ke 20 –
21. Indera penglihatan dan pendengaran janin mulai berfungsi. Kelopak mata
sudah dapat membuka dan menutup. Janin (fetus) mulai tampak sebagai sosok
manusia dengan panjang 30 cm.

3. Trimester ketiga (24 -40)


Dalam trimester ini semua organ tubuh tumbuh dengan sempurna. Janin
menunjukkan aktivitas motorik yang terkoordinasi seperti menendang atau
menonjok serta dia sudah memiliki periode tidur dan bangun. Masa tidurnya jauh
lebih lama dibandingkan masa bangun. Paru-paru berkembang pesat menjadi
sempurna.
Pada bulan ke-9 ini , janin mengambil posisi kepala di bawah dan siap untuk
dilahirkan. Berat bayi lahir berkisar antara 3 -3,5 kg dengan panjang 50 cm. Untuk
lebih jelasnya lihat Perkembangan bayi dalam kandungan (Sumber: Majalah
Kesehatan).

2.2 PERUBAHAN FISIK DAN PSIKOLOGIS SELAMA KEHAMILAN


1. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Trimester I
a. Perubahan Fisik
1. Morning Sickness, mual dan muntah

3
Hampir 50% wanita hamil mengalami mual dan biasanya mual dimulai sejak awal
kehamilan. Mual muntah diusia muda disebut morning sickness tetapi
kenyataannya mual muntah ini dapat terjadi setiap saat. Mual ini biasanya akan
berakhir pada 14 mingggu kehamilan. Pada beberapa kasus dapat berlanjut sampai
kehamilan trimester kedua dan ketiga.
2. Pembesaran Payudara
Payudara akan membesar dan mengencang, karena terjadi peningkatan hormon
kehamilan yang menimbulkan pelebaran pembuluh darah dan untuk
mempersiapkan pemberian nutrisi pada jaringan payudara sebagai persiapan
menyusui.
3. Sering buang air kecil
Keinginan sering buang air kecil pada awal kehamilan ini dikarenakan rahim yang
membesar dan menekan kandung kencing. Keadaan ini akan menghilang pada
trimester II dan akan muncul kembali pada akhir kehamilan, karena kandung
kemih ditekan oleh kepala janin.
4. Konstipasi atau Sembelit
Keluhan ini juga sering dialami selama awal kehamilan, karena peningkatan
hormon progesteron yang menyebabkan relaksasi otot sehingga usus bekerja
kurang efisien. Adapun keuntungan dari keadaan ini adalah memungkinkan
penyerapan nutrisi yang lebih baik saat hamil.
5. Sakit Kepala/Pusing
Sakit kepala atau pusing sering dialami oleh pada ibu hamil pada awal kehamilan
karena adanya peningkatan tuntutan darah ke tubuh sehingga ketika akan
mengubah posisi dari duduk / tidur ke posisi yang lain (berdiri) tiba-tiba, sistem
sirkulasi darah merasa sulit beradaptasi. Sakit kepala / pusing yang lebih sering
daripada biasanya dapat disebabkan oleh faktor fisik maupun emosional. Pola
makan yang berubah, perasaan tegang dan depresi juga dapat menyebabkan sakit
kepala.
6. Kram Perut
Kram perut saat trimester awal kehamilan seperti kram saat menstruasi di bagian
perut bawah atau rasa sakit seperti ditusuk yang timbul hanya beberapa menit dan

4
tidak menetap adalah normal. Hal ini sering terjadi karena adanya perubahan
hormonal dan juga karena adanya pertumbuhan dan pembesaran dari rahim
dimana otot dan ligamen merenggang untuk menyokong rahim.
7. Meludah
Keinginan meludah yang terjadi pada ibu hamil yang terus menerus dianggap
normal sebab hal ini termasuk gejala morning sickness.
8. Peningkatan Berat Badan
Pada akhir trimester pertama wanita hamil akan merasa kesulitan memasang
kancing / rok celana panjangnya, hal ini bukan berarti ada peningkatan berat
badan yang banyak tapi karena rahim telah berkembang dan memerlukan ruang
juga, dan ini semua karena pengaruh hormon estrogen yang menyebabkan
pembesaran rahim dan hormon progresteron yang menyebabkan tubuh menahan
air (Suririnah, 2008)
b. Perubahan Psikologis pada Trimester I (Periode Penyesuaian)
1. Ibu merasa tidak sehat dan kadang-kadang merasa benci dengan kehamilannya
2. Kadang muncul penolakan, kecemasan dan kesedihan. Bahkan kadang ibu
berharap agar dirinya tidak hamil saja
3. Ibu akan selalu mencari tanda-tanda apakah ia benar-benar hamil. Hal ini
dilakukan sekedar untuk meyakinkan dirinya
4. Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat perhatian
dengan seksama
5. Oleh karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seseorang yang
mungkin akan diberitahukannya kepada orang lain atau bahkan merahasiakannya
(Sulistyawati, 2009).

2. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Trimester II


a. Perubahan Fisik pada Trimester II
1. Perut semakin membesar
Setelah usia kehamilan 12 minggu, rahim akan membesar dan melewati rongga
panggul. Pembesaran rahim akan tumbuh sekitar 1 cm setiap minggu. Pada
kehamilan 20 minggu, bagian teratas rahim sejajar dengan puser (umbilicus).

5
Setiap individu akan berbeda-beda tapi pada kebanyakan wanita, perutnya akan
mulai membesar pada kehamilan 16 minggu.
2. Sendawa dan buang angin
Sendawa dan buang angin akan sering terjadi pada ibu hamil hal ini sudah biasa
dan normal karena akibat adanya perenggangan usus selama kehamilan. Akibat
dari hal tersebut perut ibu hamil akan terasa kembung dan tidak nyaman.
3. Rasa panas di perut
Rasa panas diperut adalah keluhan yang paling sering terjadi selama kehamilan,
karena meningkatnya tekanan akibat rahim yang membesar dan juga pengaruh
hormonal yang menyebabkan rileksasi otot saluran cerna sehingga mendorong
asam lambung kearah atas.
4. Pertumbuhan rambut dan kuku
Perubahan hormonal juga menyebabkan kuku bertumbuh lebih cepat dan rambut
tumbuh lebih banyak dan kadang di tempat yang tidak diinginkan, seperti di
wajah atau di perut. Tapi, tidak perlu khawatir dengan rambut yang tumbuh tak
semestinya ini, karena akan hilang setelah bayi lahir.

5. Sakit perut bagian bawah


Pada kehamilan 18-24 minggu, ibu hamil akan merasa nyeri di perut bagian
bawah seperti ditusuk atau tertarik ke satu atau dua sisi. Hal ini karena
perenggangan ligamentum dan otot untuk menahan rahim yang semakin
membesar. Nyeri ini hanya akan terjadi beberapa menit dan bersifat tidak
menetap.
6. Pusing
Pusing menjadi keluhan yang sering terjadi selama kehamilan trimester kedua,
karena ketika rahim membesar akan menekan pembuluh darah besar sehingga
menyebabkan tekanan darah menurun.
7. Hidung dan Gusi berdarah
Perubahan hormonal dan peningkatan aliran darah ke seluruh tubuh termasuk ke
daerah hidung dan gusi selama masa kehamilan akan menyebabkan jaringan

6
disekitarnya menjadi lebih lembut dan lunak. Akibatnya, hidung dan gusi akan
bisa berdarah ketika menyikat gigi.
8. Perubahan kulit
Perubahan kulit timbul pada trimester ke-2 dan 3, karena melanosit yang
menyebabkan warna kulit lebih gelap. Timbul garis kecoklatan mulai dari pusar
ke arah bawah yang disebut linea nigra. Kecoklatan pada wajah disebut chloasma
atau topeng kehamilan. Tanda ini dapat menjadi petunjuk kurangnya vitamin
folat. Strecth mark terjadi karena peregangan kulit yang berlebihan, biasanya pada
paha atas, dan payudara. Akibat peregangan kulit ini dapat menimbulkan rasa
gatal, sedapat mungkin jangan menggaruknya. Strecth mark tidak dapat dicegah,
tetapi dapat diobati setelah persalinan.
Kulit muka juga akan menjadi lebih berminyak sehingga dapat menimbulkan
jerawat.
9. Payudara
Payudara akan semakin membesar dan mengeluarkan cairan yang kekuningan
yang disebut kolostrum. Putting dan sekitarnya akan semakin berwarna gelap dan
besar. Bintik-bintik kecil akan timbul disekitar putting, dan itu adalah kelenjar
kulit.
10. Sedikit Pembengkakan
Pembengkakan adalah kondisi normal pada kehamilan, dan hampir 40% wanita
hamil mengalaminya. Hal ini karena perubahan hormon yang menyebabkan tubuh
menahan cairan. Pada trimester kedua akan tampak sedikit pembengkakan pada
wajah dan terutama terlihat pada kaki bagian bawah dan pergelangan kaki.
Pembengkakan akan terlihat lebih jelas pada posisi duduk atau berdiri yang terlalu
lama (Suririnah, 2008)
b. Perubahan Psikologis pada Trimester II (Periode Kesehatan Yang Baik).
1. Ibu merasa sehat, tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormone yang tinggi
2. Ibu sudah bisa menerima kehamilannya.
3. Merasakan gerakan anak
4. Merasa terlepas dari ketidaknyamanan dan kekhawatiran
5. Libido meningkat

7
6. Menuntut perhatian dan cinta
7. Merasa bahwa bayi sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya
8. Hubungan sosial meningkat dengan wanita hamil lainnya atau pada orang lain
yang baru menjadi ibu
9. Ketertarikan dan aktivitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran, dan persiapan
untuk peran baru (Sulistyawati, 2009)

3. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Trimester III


a. Perubahan Fisik pada Trimester III
1. Sakit bagian tubuh belakang
Sakit pada bagian tubuh belakang (punggung-pinggang), karena meningkatnya
beban berat dari bayi dalam kandungan.
2. Konstipasi
Pada trimester ini sering terjadi konstipasi karena tekanan rahim yang membesar
kearah usus selain perubahan hormon progesteron.
3. Pernafasan
Karena adanya perubahan hormonal yang memengaruhi aliran darah ke paru-paru,
pada kehamilan 33-36 minggu, banyak ibu hamil akan merasa susah bernapas. Ini
juga didukung oleh adanya tekanan rahim yang membesar yang berada di bawah
diafragma (yang membatasi perut dan dada).
Setelah kepala bayi turun kerongga panggul ini biasanya 2-3 minggu sebelum
persalinan pada ibu yang baru pertama kali hamil akan merasakan lega dan
bernapas lebih mudah, dan rasa panas diperut biasanya juga ikut hilang, karena
berkurangnya tekanan bagian tubuh bayi dibawah diafragma/tulang iga ibu.
4. Sering buang air kecil
Pembesaran rahim ketika kepala bayi turun ke rongga panggul akan makin
menekan kandungan kencing ibu hamil.
5. Varises
Peningkatan volume darah dan alirannya selama kehamilan akan menekan daerah
panggul dan vena di kaki, yang mengakibatkan vena menonjol, dan dapat juga
terjadi di daerah vulva vagina. Pada akhir kehamilan, kepala bayi juga akan

8
menekan vena daerah panggul yang akan memperburuk varises. Varises juga
dipengaruhi faktor keturunan.
6. Kontraksi perut
Braxton-Hicks atau kontraksi palsu ini berupa rasa sakit di bagian perut yang
ringan, tidak teratur, dan akan hilang bila ibu hamil duduk atau istirahat.
7. Bengkak
Perut dan bayi yang kian membesar selama kehamilan akan meningkatkan
tekanan pada daerah kaki dan pergelangan kaki ibu hamil, dan kadang membuat
tangan membengkak. Ini disebut edema, yang disebabkan oleh perubahan
hormonal yang menyebabkan retensi cairan.
8. Kram pada kaki
Kram kaki ini timbul karena sirkulasi darah yang menurun, atau karena
kekurangan kalsium (Suririnah, 2008).
b. Perubahan Psikologis pada Trimester III
a. Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak
menarik.
b. Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu.
c. Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan,
khawatir akan keselamatannya.
d. Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang
mencerminkan perharian dan kekhawatirannya.
e. Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya.
f. Merasa kehilangan perhatian
g. Perasaan mudah terluka (sensitif)
h. Libido menurun (Sulistyawati, 2009)

9
2.3 ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN NORMAL
1. Pengkajian
a. Riwayat Obstetri
Memberikan intormasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnya agar
perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilan-sekarang.
Riwayat Obstetri meliputi hal-hal di bawali ini.
1. Gravida, para-abortus, dan anak hidup (GPAH).
2. Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi.
3. Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan penolong
persalinan.
4. Jenis anestesi dan kesulitan persalinan.
5. Komplikasi maternal seperti diabetes, hiperlensi, infeksi, dan perdarahan.
6. Komplikasi pada bayi.
7. Rencana menyusui bayi.
b. Riwayat Menstruasi
Riwayat menstruasi yang lengkap diperlukan untuk menentukan taksiran
persalinan (TP). TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT).
Untuk menentukan TP berdasarkan HPHT dapat digunakan rumus Naegle, yaitu
Hari ditambah tujuh, bulan dikurangi tiga, tahun disesuaikan.
Contoh:
HPHT 30 Agustus 2004 berarti TP tanggal 6 Juni 2005. Aturan Naegle lebih
akurat dilakukan pada ibu dengan siklus menstruasi yang teratur dengan 28 hari,
kurang akurat pada ibu dengan siklus menstruasi yang tidak teratur.
c. Riwayat Kontrasepsi
Beberapa bentuk konirasepsi dapat berakibat buruk pada janin, ibu, atau
keduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didlapatkan pada saat
kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut
saat kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan
organ seksual janin.

10
d. Riwayat Penyakit dan Operasi
Kondisi kronis (menahun/terus menerus) seperti DM, hipertensi, dan penyakit
ginjal bisa berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu adanya penyakit
infeksi, prosedur infeksi dan trauma pada persalinan sebelumnya harus
didokumentasikan.
e. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi hal-hal sebagai berikut.
 Usia, ras, dan latar belakang etnik (berhubungan dengan kelompok risiko tinggi
untuk masalah genelis seperti anemia sickle sel, talasemia).
 Penyakit pada masa kanak-kanak dan imunisasi.
 Penyakit kronis (menahun/terus-menerus), seperti asma dan jantung.
 Penyakit sebelumnya, prosedur operasi, dan ccdera (pelvis dan pinggang).
 Infeksi sebelumnya seperti hepatitis, penyakit menular seksual, dan tuberkulosis.
 Riwayat dan perawalan anemia.
 Fungsi vesika urinaria dan bowel (fungsi dan perubahan).
 Jumlah konsumsi katein tiap hari seperti kopi, teh, coklat, dan minuman
ringanlainnya,Merokok (Jumlah batang per hari).
 Kontak dengan hewan peliharaan seperti kucing dapat meningkatkan risiko
terinfeksi toxoplasma.
 Alergi dan sensitif dengan obat.
 Pekerjaan yang berhubungan dengan risiko penyakit.
2. Riwayat keluarga.
Memberikan informasi tentang kesehatan keluarga, termasuk penyakit kronis
(menahun/terus--menerus) seperti diabetes melilus dan jantung, infeksi seperti
tuberkulosis dan hepatitis, serta riwayat kongenital yang perlu dikumpulkan.
3. Riwayat kesehatan pasangan.
Untuk menentukan kemungkinan masalah kesehatan yang berhubungan dengan
masalah genetik, penyakit kronis, dan infeksi. Penggunaan obat-obatan seperti
kokain dan alkohol akan berpengaruh pada kemampuan keluarga untuk
menghadapi kehamilan dan persalinan. Rokok yang digunakan oleh ayah akan

11
berpengaruh pada ibu dan janin, terutama mengalami komplikasi pernapasan
akibat sebagai perokok pasif. Golongan darah dan tipe Rhesus ayah penting jika
ibu dengan Rh negatif dan kemungkinan inkompabilitas darah dapat terjadi.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda Tanda Vital
1). Tekanan darah
Posisi pengambilan tekanan darah sebaiknya ditetapkan, karena posisi akan
memengaruhi tekanan darah pada ibu hamil. Sebaiknya tekanan darah diukur pada
posisi duduk dengan lengan sejajar posisi jantung. Pendokumentasian perlu
dicatat posisi dan tekanan darah yang didapatkan.
2). Nadi
Frekuensi nadi normalnya 60-90 kali per menit. Takikardi bisa terjadi pada
keadaan cemas, hipertiroid, dan infeksi. Nadi diperiksa selama satu menit penuh
untuk dapat menentukan keteraturan detak jantung. Nadi diperiksa untuk
menentukan masalah sirkulasi tungkai, nadi seharusnya sama kuat dan teratur.
3). Pernapasan
Frekuesi pernapasan selama hamil berkisar antara 16-24 kali per menit. Takipnea
terjadi karena adanya infeksi pernapasan atau penyakit jantung. Suara napas hams
sama bilateral, ekspansi paru simetris, dan lapangan paru bebas dari suara napas
abdominal.
4). Suhu
Suhu normal selama hamil adalah 36,2-37,6 °C. Peningkatan suhu menandakan
terjadi infeksi dan membutuhkan perawatan medis.
b. Sistem Kardiovaskuler
Bendungan vena
Pemeriksaan sistem kardiovaskular adalah observasi terhadap bendungan vena,
yang bisa berkembang menjadi varises. Bendungan vena biasanya terjadi pada
tungkai, vulva, dan rektum

Edema

12
Edema pada tungkai merupakan refleksi dari pengisian darah pada ekstremitas
akibat perpindahan cairan intravaskular ke ruang intertisial. Ketika dilakukan
penekanan dengan jari atau jempol menyebabkan terjadinya bekas tekanan,
keadaan ini disebut pitting edema. Edema pada tangan dan wajah memerlukan
pemeriksaan lanjut karena merupakan tanda dari hipertensi pada kehamilan.
c. Sistem Muskuloskeletal
1). Postur
Mekanik tubuh dan perubahan postur bisa terjadi selama kehamilan. Keadaan ini
mengakibatkan regangan pada otot punggung dan tungkai.
2). Tinggi dan berat badan
Berat badan awal kunjungan dibutuhkan sebagai data dasar untuk dapat
menentukan kenaikan berat badan selama kehamilan. Berat badan sebelum
konsepsi kurang dari 45 kg dan tinggi badan kurang dari 150 cm ibu berisiko
melahirkan bayi prematur dan berat badan lahir rendah. Berat badan sebelum
konsepsi lebih dari 90 kg dapat menyebabkan diabetes pada kehamilan, hipertensi
pada kehamilan, persalinan seksio caesarea, dan infeksi postpartum.
3). Pengukuran pelviks
Tulang pelviks diperiksa pada awal kehamilan untuk menentukan diameternya
yang berguna untuk persalinan per vaginam.
4). Abdomen
Kontur, ukuran, dan tonus otot abdomen perlu dikaji. Tinggi fundus diukur jika
fundus bisa dipalpasi diatas simfisis pubis. Kandung kemih harus dikosongkan
sebelum pemeriksaan dilakukan untuk menetukan keakuratannya. Pengukuran
metode Mc Donald dengan posisi ibu berbaring.
d. Sistem neurologi
Pemeriksaan neurologi lengkap tidak begitu diperlukan bila ibu tidak memiliki
tanda dan gejala yang mengindikasikan adanya masalah. Pemeriksaan refleks
tendon sebaiknya dilakukan karena hiperefleksi menandakan adanya komplikasi
kehamilan

13
e. Sistem Integumen
Warna kulit biasanya sama dengan rasnya. Pucat menandakan anemis, jaundice
menandakan gangguan pada hepar, lesi, hiperpigmentasi seperti cloasma
gravidarum, serta linea nigra berkaitan dengan kehamilan dan strie perlu dicatat.
Penampang kuku ber warna merah muda menandakan pengisian kapiler baik.
Sistem endokrin
Pada trimester kedua kelenjar tiroid membesar, pembesaran yang berlebihan
menandakan hipertiroid dan perlu pemeriksaan lebih lanjut.
f. Sistem Gatsrointestinal
Mulut
Membran mukosa berwarna merah muda dan lembut. Bibir bebas dari ulserasi,
gusi berwarna kemerahan, serta edema akibat efek peningkatan estrogen yang
menyebabkan hiperplasia. Gigi terawat dengan baik, ibu dapat dianjurkan ke
dokter gigi secara teratur karena penyakit periodontal menyebabkan infeksi yang
memicu terjadinya persalinan prematur. Trimester kedua lebih nyaman bagi ibu
untuk melakukan perawatan gigi.
Usus
Stetoskop yang hangat untuk memeriksa bising usus lebih nyaman untuk ibu
hamil. Bising usus bisa berkurang karena efek progesteron pada otot polos,
sehingga menyebabkan konstipasi. Peningkatan bising usus terjadi bila menderita
diare.
g. Sistem Urinarius
Protein
Protein seharusnya tidak ada dalam urine. Jika protein ada dalam urine, hal ini
menandakan adanya kontaminasi sekret vagina, penyakit ginjal, serta hipertensi
pada kehamilan.
Glukosa
Glukosa dalam jumlah yang kecil dalam urine bisa dikatakan normal pada ibu
hamil. Glukosa dalam jumlah yang besar membutuhkan pemeriksaan gula darah.

14
Keton
Keton ditemukan dalam urine setelah melakukan aktivitas yang berat atau
pemasukan cairan dan makanan yang tidak adekuat.
Bakteri
Peningkatan bakteri dalam urine berkaitan dengan infeksi saluran kemih yang
biasa terjadi pada ibu hamil.
h. Sistem reproduksi
1). Ukuran payudara, kesimetrisan, kondisi puling, dan pengeluaran kolostrum
perlu dicatat. Adanya benjolan dan tidak simetris pada payudara membutuhkan
pemeriksaan lebih lanjut.
2). Organ reproduksi eksternal

2.4 HYPEREMESIS GRAVIDARUM


1. Definisi
Hyperemesis adalah suatu kondisi yang dikarateristikkan mual dan muntah yang
berlebihan diikuti dengan penurunan berat badan dan dehidrasi. Biasanya sering
ditemui pada pasien yang diabetes berat, anoreksia nervosa atau bulimia, atau
penyakit gastrointestinal seperti radang dinding lambung (Gilbert,Elizabeth
Stepp,2011)

Mual dan muntah pada kehamilan belum diketahui penyebabnya secara pasti,
namun dapat disebabkan oleh relaksasi otot perut dan peningkatan level estrogen,
progesteron, dan human chorionic gonadotropin (hCG). Kehamilan yang
disebabkan mual dan muntah lebih menguntungkan dibandingkan jika tidak
terdapat gejala mual muntah (Gordon,2007)

Ketika terjadi muntah yang berlebihan selama kehamilan akan menyebabkan


terjadinya penurunan berat badan, ketidakseimbangan elektrolit, defisiensi nutrisi,
dan ketourinaria yang disebut dengan Hyperemesis Gravidarum.

15
2. Etiologi
Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Beberapa teori
telah dikemukakan sebagai penyebab, namun tidak satu pun yang menjelaskan
tentang penyakit hyperemesis gravidarum. Hyperemesis gravidarum mungkin
berhubungan dengan peningkatan level estrogen atau hCG dan mungkin
disebabkan oleh hypertyroid selama kehamilan. Disritmia lambung, aliran balik
esophageal, dan penurunan motility lambung mungkin juga berpengaruh pada
perkembangan penyakit hyperemesis gravidarum (Kelly & Savvides,2009)

Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf


disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi.
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan :
a. primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda.
b. Faktor organik, yaitu alergi, masuknya vili khorialis dalam sirkulasi, perubahan
metabolik karena kehamilan, dan resistensi ibu yang menurun.
c. Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak,
d. Faktor psikologik, memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun
hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan
pasti. Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan
dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan
konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak
sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran
hidup.
e. Level hormon ß-hCG yang tinggi. Hormon ini meningkat cepat pada triwulan
pertama kehamilan dan dapat memicu bagian dari otak yang mengontrol mual dan
muntah
f. Peningkatan level estrogen. Mempengaruhi bagian otak yang mengontrol mual
dan muntah
g. Perubahan saluran cerna. Selama kehamilan, saluran cerna terdesak karena
memberikan ruang untuk perkembangan janin. Hal ini dapat berakibat refluks

16
asam (keluarnya asam dari lambung ke tenggorokan) dan lambung bekerja lebih
lambat menyerap makanan sehingga menyebabkan mual dan muntah
h. Diet tinggi lemak. Risiko HG meningkat sebanyak 5 kali untuk setiap
penambahan 15 g lemak jenuh setiap harinya
i. Helicobacter pylori. Penelitian melaporkan bahwa 90% kasus kehamilan dengan
HG juga terinfeksi dengan bakteri ini, yang dapat menyebabkan luka pada
lambung.

3. Manifestasi klinis
Wanita dengan hiperemesis gravidarum biasanya mengalami penurunan berat
badan yang significant dan dehidrasi. Membran mukosa kering, penurunan
tekanan darah, peningkatan denyut nadi, dan turgor kulit yang buruk. Biasanya
tidak mampu memasukkan cairan normal lewat mulut. Tes laboratorium akan
menunjukkan terjadinya ketidakseimbangan elektrolit (Cashion, Lowdermilk
Perry,2010)

Mual dan muntah berat terutama pada trimester pertama kehamilan, muntah
setelah makan atau minum, kehilangan berat badan >5% dari bb ibu hamil
sebelum hamil, (rata-rata kehilanagn bb 10%), dehidrasi, penurunan jumlah urine,
sakit kepala, bingung, pingsan, jaundise, lab : proteinurine, ketonuria,
urobilinogen. biasanya terjadi pada minggu ke 6-12.

Derajat hiperemesis gravidarum


Hiperemesis gravidarum terbagi atas beberapa derajat sesuai dengan tanda dan
gejala yang dialaminya, yaitu :

Derajat 1
Muntah terus menerus (muntah > 3-4 kali/hari, dan mencegah dari masuknya
makanan atau minuman selama 24 jam) yang menyebabkan ibu menjadi lemah,
tidak ada nafsu makan, berat badan turun (2-3 kg dalam 1-2 minggu), nyeri ulu

17
hati, nadi meningkat sampai 100x permenit, tekanan darah sistolik menurun,
tekanan kulit menurun dan mata cekung
Derajat 2
Penderita tampak lebih lemah dan tidak peduli pada sekitarnya, nadi kecil dan
cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit kuning. Berat badan turun dan
mata menjadi cekung, tekanan darah turun, pengentalan darah, urin berkurang,
dan sulit BAB. Pada napas dapat tercium bau aseton
Derajat 3
Keadan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun sampai koma,
nadi kecil dan cepat, suhu meningkat, dan tekanan darah turun. Pada jabang bayi
dapat terjadi ensefalopati Wernicke dengan gejala: nistagmus, penglihatan ganda,
dan perubahan mental. Keadaan ini akibat kekurangan zat makanan termasuk
vitamin B kompleks. Jika sampai ditemukan kuning berarti sudah ada gangguan
hati.

4. Patofisiologi
Penyebab pasti terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti.
Namun, terdapat beberapa faktor predisposisi seperti : faktor hormon yaitu terjadi
peningkatan kadar hormon estrogen dan human chorionic gonadotropin (hCG) ;
faktor psikologi / psikosomatik dimana terjadi peningkatan stres yang tidak dapat
dikontrol ; faktor sosial ; faktor organik ; alergi ; dan perubahan metabolisme
yaitu terjadi defisiensi Vit. B6 dan penurunan fungsi hepar dalam metabolisme.
Keseluruhan faktor predisposisi ini menyebabkan motilitas gastrointestinal
menurun yang merangsang terjadinya mual dan muntah sehingga terjadilah
hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum menyebabkan terjadinya
metabolisme karbohidrat dan lemak meningkat, cadangan karbohidrat dan lemak
akan menurun, sehingga terjadi penurunan berat badan, oksidasi lemak tidak
sempurna dan terjadilah ketosis. Selain itu terjadi robekan selaput lendir dan
esofagus dan terjadilah perdarahan gastrointestinal.
Hiperemesis gravidarum juga menyebabkan peningkatan pengeluaran cairan
sehingga terjadilah dehidrasi. Hemokonsentrasi dan ketidakseimbangan elektrolit

18
akan terjadi akibat penurunan cairan ekstra sel dan plasma sehingga suplai O2 &
nutrisi ke jaringan berkurang, dan terjadilah penurunan suplai O2 & nutrisi trans
plasenta Hipokolemi juga akan terjadi sehingga akan menurunkan kontraktilitas
miokardium, penurunan volume sekuncup, penurunan cardiac output, akibatnya
terjadilah Gagal jantung yaitu gagal ventrikel kiri, sehingga penurunan aliran
darah dari atrium kiri menurun, penurunan tekanan atrium kiri akan terjadi ,
sehingga membendung vena pulmonal, dan menggeser cairan ke rongga paru
yang mengakibatkan terjadinya Edema paru yaitu gagal ventrikel, arteri
pulmonalis tidak bisa masuk, terjadi bendungan arteri pulmonalis, darah tertahan
di vena kava, venous return menurun, penurunan tek. Intravaskuler, menginvasi
pada hepar, tekanan vena akan terganggu, maka metabolisme hepar akan
terganggu dan terjadilah kerusakan hati.
Selain itu, estrogen yang meningkat + berkurangnya pengosongan lambung
menyebabkan mual dan muntah serta intake menjadi berkurang. Hal ini
menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan CES dan plasma menurun serta Na,
K, dan Cl menurun. Hal ini menimbulkan terjadinya gangguan elektrolit dan
alkalosis hipokloremik. Dalam hal ini, karbohidrat dan cadangan lemak habis
terpakai untuk energi. Karena oksidasi lemak tak sempurna maka asam aseto
asetik, sidroksi butirikdan aseton tertimbun dalam darah sehingga menyebabkan
ketosis. Dehidrasi juga menyebabkan hemokonsentrasi yang menyebabkan aliran
darah ke jaringan menurun sehingga terjadi hipoksia jaringan dan menyebabkan
zat toksik tertimbun.

Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya
kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama.
Pengaruh psikologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem
saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi
pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat
berlangsung berbulan-bulan.

19
Hiperemesis garavidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada
hamil muda, bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak
seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa
gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologik
merupakan faktor utama, disamping faktor hormonal. Yang jelas wanita yang
sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka
makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang berat.Hiperemesis
gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis
terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna,
terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik
dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan
karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehmgga cairan ekstraselurer dan plasma
berkurang. Natrium dan Khlorida darah turun, demikian pula Khlorida air kemih.
Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke
jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke
jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. Kekurangan
Kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal,
bertambahnya frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati
dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan
(http://zerich150105.wordpress.com/).

Patologi
Otopsi wanita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum diperoleh hasil:
a. Hati, pada tingkat ringan, hanya ditemukan degenerasi lemak tanpa nekrosis,
degenerasi lemak senri lobuler
b. Jantung, jantung atrofi, lebih kecil dari biasa, kadang kala ditemukan perdarahan
sub endokardial
c. Otak, terdapat bercak perdarahan pada otak dan kelainan seperti ensefalopati
wernicke
d. Ginjal, tampak pucat, degenerasi lemak pada tubula kontorti

20
WOC (lampiran)

5. Penatalaksanaan Hyperemesis Gravidarum


Tujuan :

a. Menurunkan rasa mual dan muntah


b. Mengganti kehilangan cairan dan elektrolit
c. Memenuhi kebutuhan nutrisi dan mengatasi kehilangan BB ibu hamil
Saran-saran yang diberikan pada ibu yang mengalami HG adalah:
a. Menyarankan ibu hamil untuk mengubah pola makan menjadi lebih sering
dengan porsi kecil
b. Menganjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dan teh hangat dan
menghindari makanan berminyak serta berbau lemak
c. Jika dengan cara diatas tidak ada perbaikan maka ibu hamil tersebut diberi obat
penenang, vitamin B1 dan B6, dan antimuntah (ex: metoclopramide)
d. Perawatan di Rumah sakit bila keadaan semakin memburuk
e. Cairan infus yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein. Bila perlu
ditambahkan vitamin B kompleks, vitamin C, dan kalium
f. Terapi psikologis apabila penanganan dengan pemberian obat dan nutrisi yang
adekuat tidak memberikan respon
Hospitalisasi diperlukan untuk mengatasi hyperemesis gravidarum yang parah.
Semua makanan dan minuman dihentikan sementara untuk mengistirahatkan GI
track.
Pencegahan
Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan
memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses
yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah
merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah
kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan
dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun
dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan

21
teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.
Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat
dingin.
Obat-obatan
Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan
Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti
Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan
seperti Dramamin, Avomin
Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara
yang baik. Tidak diberikan makan/minuman setama 24 -28 jam. Kadang-kadang
dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
Terapi psikologik
Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan
rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan
masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
Cairan parenteral
Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan
Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu
dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin
C. Bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra
vena.
Penghentian kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan
mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Delirium,
kebutaan, tachikardi, ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi
komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk
mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit
diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain
pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital.

22
Diet
a. Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa
rod kering dan buah-buahan.
Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 -- 2 jam sesudahnya. Makanan
ini kurang dalam semua zat - zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya
diberikan selama beberapa hari.
b. Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.
Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman
tidak diberikan bersama makanan . Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi
kecuali vitamin A dan D.
c. Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.
Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan.
Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium.
Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III adalah :
a. Roti panggang, biskuit, crackers
b. Buah segar dan sari buah
c. Minuman botol ringan, sirop, kaldu tak berlemak, teh dan kopi encer
d. Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, III adalah makanan
yang umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu tajam.
e. Bahan makanan yang mengandung alkohol, kopi, dan yang mengadung zat
tambahan(pengawet, pewarna, dan bahan penyedap) juga tidakbdianjurkan.

6. Prognosis
Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat
memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada
tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.

7. Komplikasi
Dehidrasi, ikterik, takikardi, alkalosis, kelaparan, menarik diri, depresi,
ensefalopati wernicke yang ditandai oleh adanya nistagmus, diplopia, perubahan

23
mental, suhu tubuh meningkat, gangguan emosional yang berhubungan dengan
kehamilan dan hubungan keluarga

8. Asuhan Keperawatan Hyperemesis Gravidarum


A. Pengkajian
1. Identitas klien : terdiri dari nama pasien, umur, pekerjaan, nama suami, alamat,
dll

2. Keluhan utama
 Muntah yang hebat menganggu aktivitas sehari-hari
 Mual, muntah pada pagi hari dan setelah makan
 Nyeri epigastrik
 Merasa haus
 Tidak nafsu makan
 Muntah makanan/cairan asam

3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang : meliputi keluhan yang tengah dirasakan pasien
seperti rasa mual muntah yang berlebihan dan mengganggu aktivitas klien sehari-
hari yang terjadi selama masa kehamilan
b. Riwayat kesehatan dahulu : meliputi penyakit yang pernah diderita sebelumnya
dan mungkin mempunyai pengaruh pada hyperemesis gravidarum atau yang
memperparah.
c. Riwayat kehamilan : meliputi pengkajian berapa umur kehamilan ibu saat ini,
dan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan.

4. Faktor predisposisi
 Umur ibu < 20 tahun
 Multiple gestasi

24
 Obesitas
 Trofoblastik desease

5. Pemeriksaan fisik
 Asidosis metabolik yang ditandai dengan sakit kepala, disorientasi
 Takikardi, hypotensi, vertigo
 Konjungtiva ikterik
 Gangguan kesadaran, delirium

Tanda-tanda dehidrasi :
● Kulit kering, membran mukosa bibir kering
● Turgor kulit kembali lambat
● Kelopak mata cekung
● Penurunan BB
● Peningkatan suhu tubuh
● Oliguria, ketonuria
● Urin pekat
● Data laboratorium:Proteinuria, Ketonuria, Urobilinogen, Penurunan kadar
potasium, sodium, klorida, dan protein, Kadar vitamin menurun, Peningkatan Hb
dan Ht
1. Pola Fungsional Gordon
a) Pola persepsi dan manajemen kesehatan :
 Kaji tentang pandangan ibu mengenai kesehatan terutama kesehatan dalam
kehamilan, bagaimana ibu mempersepsikan proses kehamilan itu sendiri,
bagaimana manajemen kesehatan yang dilakukan ibu selama kehamilan.
 Biasanya ibu akan berusaha mencari informasi seputar kesehatan kehamilan
dengan rajin konsultasi pada tim kesehatan dan terkadang ibu akan mempunyai
keraguan mengenai penyakit-penyakit yang berhubungan dengan proses
kehamilan.
b) Pola nutrisi-metabolik
 Kaji intake output nutrisi dan cairan pada klien sehari-hari.

25
 Klien akan mengalami mual muntah yang berlebihan, terjadi penurunan berat
badan(5 – 10 Kg), intake output tidak seimbang, ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit dalam tubuh, rasa haus yang berlebihan, dehidrasi, dan tidak nafsu
makan, nyeri epigastrium, membran mukosa mulut iritasi dan merah, Hb dan Ht
rendah, nafas berbau aseton, turgor kulit berkurang, mata cekung dan lidah kering.
c) Pola eliminasi
 Kaji pola eliminasi klien, frekuensi,konsistensi BAB dan BAK klien.
 Klien akan mengalami perubahan pada konsistensi; defekasi, peningkatan
frekuensi berkemih Urinalisis : peningkatan konsentrasi urine.
d) Pola aktivitas latihan
 Kaji aktivitas klien sehari-hari. Apakah ada gangguan atau tidak. Kaji bagaimana
klien menjalankan aktivitas sehari-hari. Apakah klien memerlukan bantuan atau
tidak dalam beraktivitas.
 Klien mengalami Tekanan darah sistol menurun, denyut nadi meningkat (> 100
kali per menit). Frekuensi pernapasan meningkat. Suhu kadang naik, badan lemah,
icterus dan dapat jatuh dalam koma
e) Pola istirahat tidur
 Kaji bagaimana kualitas dan kuantitas tidur klien sehari-hari. Berapa lama klien
tidur dan istirahat, adakah penggunaaan obat tidur atau tidak
 Klien akan mengalami gangguan dengan pola tidurnya akibat ketidaknyamanan
karena mual dan muntah yang berlebihan.
f) Pola persepsi-kognitif
 Kaji fungsi penginderaan dan kognitif klien. Adakah gangguan atau tidak dan
apakah ada penggunaan alat bantu atau tidak.
 Klien tidak mengalami gangguan dengan pola persepsi kognitif.
g) Pola Persepsi-konsep diri
 Kaji bagaimana klien memandang dirinya sendiri. Bagaimana persepsi klien
terhadap dirinya sendiri.
 Klien akan merasa terbebani dengan penyakit yang dideritanya. Klien akan merasa
dirinya hanya merepotkan orang lain serta sangat menggangggu aktivitasnya
sehari-hari. Juga terjadi perubahan persepsi tentang kondisinya.

26
h) Pola peran hubungan
 Kaji bagaimana klien menjalani peran dan berhubungan dengan orang-orang yang
ada di sekitarnya.
 Klien akan mengalami gangguan dalam berinteraksi dengan sesama. Klien merasa
tidak mau membebani orang lain, sehingga klien lebih memilih untuk
menjalankan aktivitas dan berinteraksi dengan dirinya sendiri. Terjadi konflik
interpersonal keluarga,

i) Pola coping-toleransi stres


 Kaji bagaimana klien mengenal dan menangani stres sehubungan dengan penyakit
yang dideritanya.
 Klien akan cemas dan takut yang berlebihan berhubungan dengan kesehatannya
sendiri dan janin yang dikandungnya serta efek yang berakibat buruk terhadap
kehamilannya. Namun, klien akan berusaha untuk bertanya dan mencari informasi
tentang bagaimana menangani stres yang dideritanya.
j) Pola reproduksi seksualitas
 Kaji bagaimana pola reproduksi dan seksualitas klien. Kaji pola menstruasi klien
dan hal-hal yang berhubungan proses reproduksi. Kaji penyakit reproduksi klien.
 Klien akan mengalami penghentian menstruasi, bila keadaan ibu membahayakan
maka dilakukan abortus terapeutik
k) Pola nilai keyakinan
 Kaji bagaimana klien menjalankan aktivitas sehari-hari. Apakah ada gangguan
dalam menjalankan aktivitas atau tidak.
 Biasanya klien akan terganggu dalam menjalankan ibadah sehari-hari akibat
ketidaknyamanan yang tengah dialaminy.

27
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan
nutrisi dan cairan yang berlebihan dan intake yang kurang.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
c. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan.
d. Gangguan rasa nyaman : nyeri ulu hati berhubungan dengan frekuensi muntah
yang sering.
e. Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan psikologi kehamilan.
a. Takut berhubungan dengan pengaruh hyperemesis terhadap kesehatan janin
f. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatan berhubungan
dengan informasi yang tidak adekuat.

28
3. PERENCANAAN
NANDA NOC NIC
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan Status Nutrisi Terapi Nutrisi
tubuh berhubungan dengan kehilangan Indikator: Aktivitas:

nutrisi dan cairan yang berlebihan dan Intake nutrisi  Mengontrol
intake yang kurang.  Intake makanan dan cairan penyerapan

 Energi makanan/cairan dan


Data penunjang  Massa tubuh menghitung intake
 BB sebelum kehamilan  Berat tubuh
kalori harian, jika
 BB sekarang / saat hamil diperlukan

 Elastisitas turgor kulit  Memantau ketepatan

 Lingkar lengan urutan makanan untuk


memenuhi kebutuhan
 Lidah kering dan kotor
nutrisi harian
 Mual dan muntah
 Menentukan jumlah
 Kesadaran
kalori dan jenis zat
 Anoreksia
makanan yang
 Mata cekung / konjungtiva
diperlukan untuk
 TTV :
memenuhi kebutuhan
TD :
nutrisi, ketika
Pols :

29
Temp : berkolaborasi dengan
RR : ahli makanan, jika
diperlukan
 Menetukan makanan
pilihan dengan
mempertimbangkan
budaya dan agama
 Memberi pasien
makanan dan
minuman tinggi
protein, tinggi kalori,
dan bernutrisi yang
siap dikonsumsi, jika
diperlukan
 Membantu pasien
untuk memilih
makanan lembut,
lunak dan tidak asam,
jika diperlukan
 Memastikan keadaan
terapeutik terhadap
kemajuan makanan
 Melakukan perawatan
mulut sebelum
makan, jika
diperlukan
 Anjurkan pasien untuk
minum dalam jumlah
sedikit tapi sering.
Defisit volume cairan berhubungan dengan Keseimbangan cairan Pemantauan cairan

30
kehilangan cairan yang berlebihan. Kriteria hasil: elektrolit
 Keseimbangan intake dan Aktifitas:
output 24 jam  Memonitor ketidak
 Berat badan stabil seimbangan asam

 Tidak ada rasa haus yang basa


berlebihan  Identifikasi

 Elektrolit serum dalam batas kemungkinan


normal penyebab

 Hidrasi kulit tidak ada ketidakseimbangan


elektrolit
 Memonitor kehilangan
cairan dan
dihubungkan dengan
kehilangan elektrolit
 Konsultasi dengan
dokter jika ada tanda
dan gejala dari
ketidakseimbangan
cairan atau elektrolit
 Monitor serum dan
osmolalitas urin
 Lengkapi nutrisi
makanan dan cairan
secara teratur
Pengelolaan cairan
Aktifitas:
 Pantau berat badan
biasanya dan
kecendrungannya
 Mempertahankan
intake dan output

31
pasien
 Pantau ststus hidrasi
 Memonitor status
hemodynamic
termasuk CVP, MAP,
PAP, dan PCWP
 Pantau tanda-tanda
vital pasien
 Pantau status nutrisi
pasien

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Outcome yang disarankan 1. Terapi aktivitas


kelemahan.  Toleransi aktivitas  Kolaborasi dengan ahli
Data penunjang  Daya tahan terapi dalam rencana
 BB  Konservari energy dan memonitor
 Kelemahan  Perawatan diri: Aktivitas aktivitas, sesuai

 Skala aktivitas sehari-hari kebutuhan.

  Menentukan komitmen
Mual muntah  Perawatan diri: peralatan
pasien untuk
dalam aktivitas sehari-hari
meningkatkan
frekuensi dan rentang
aktivitas
 Membentu untuk
mengeksplorasi
makna pribadi
kegiatan yang
dilakukan atau
kegiatan yang favorit
 Membantu memilih
aktivitas yang

32
konsisten dengan
fisik, psikologis, dan
kebutuhan.
 Membantu pasien
untuk focus terhadap
apa yang dilakukan
 Membantu pasien
untuk
mengidentifikasi
preferensi untuk
aktifitas
 Membantu pasien
untuk
mengidentifikasi
meaningfull/kegunaan
/arti aktivitas
 Intruksikan
pasien/keluarga
tentang bagaimana
melakukan aktivitas
 Membantu pasien
untuk beradaptasi
dengan lingkungan
2. Manajemen energi
 Menentukan batas
kemampuan pasien
 Menentukan tingkat
persepsi pasien
terhadap kelelahan
 Menentukan penyebab
kelelahan

33
 Memonitor intake
nutrisi yang adekuat
 Memonitor kepatenan
tidur pasien
 Monitor lokasi
ketidaknyamanan dan
nyeri yang terjadi saat
bergerak
 Berikan lingkungan
yang relaks
 Atur waktu/periode
tidur dan istirahat
 Rencanakan periode
aktivitas untuk pasien

34
DAFTAR PUSTAKA

Baskoro, Bintang. 2013. Askep Hiperemesis Gravidarum. (http://binbask. blogspot.


com/2013/01/askep-hiperemesis-gravidarum.html) (Online), diakses pada tanggal
28 Maret 2014.
Manuaba, Ida Bagus Gede.2001. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga
berencana. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Runiari, Nengah. 2010. Asuhan keperawatan pada klien dengan hiperemesis
gravidarum. Jakarta : Salemba Medika

35

Anda mungkin juga menyukai