AKUNTANSI KEUANGAN
“MODAL SAHAM”
Dosen Pengampu: Drs. HUMISAR SIHOMBING, M.Si.
Yusda Taslila (7181210021)
Manajemen B
MANAJEMEN-FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
Modal Saham
Pengertian modal saham
Modal saham adalah tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau perusahaan.
Saham yang merupakan bukti pemilikan PT mempunyai beberapa hak sebagai berikut.
1. hak untuk berpartisipasi dalam menentukan arah dan tujuan perusahaan, yaitu melalui hak
suara dalam rapat pemegang saham.
2. hak untuk memperoleh laba dari peruahaan dalam bentuk dividen yang dibagi oleh
perusahaan.
3. hak untuk membeli saham baru yang dikeluarkan perusahaan agar proporsi pemilikan saham
masing-masing pemegang saham dapat tidak berubah.
4. hak untuk menerima pembagian aktiva perusahaan dalam hal perusahaan dilikuidasi.
Jenis-jenis saham
Saham biasa atau disebut common stock
Saham biasa itu adalah saham yang pelunasannya dilakukan dalam urutan yang paling akhir
dalam hal perusahaan dilikuidasi( perusahaan dilikuidasi itu sendiri pengertiannya adalah
pembubaran perusahaan oleh likuidator dan sekaligus pemberean dengan cara penjualan harta,
penagihan piutang, pelunasan piutang, dan penyelesaian sisa harta).
Jadi karena pelunasan urutannya terakhir maka resikonya paling besar, dan terjadi ika
perusahaan berjalan baik maak dividen saham biasa lebih besar dari saham prioritas.
Sertifikat saham
Sertifikat saham ini dikeluarkan oleh PT Danareksa, yaitu suatu PT yang didirikan oleh
pemerintah public Indonesia untuk membeli saham perusahan yang “go publick” melalui pasar
modal dan menjualnya kembali kepada masyarakat umum dalam bentuk serifikat saham.
Saham prioritas
Saham prioritas merupakan saham yang mempunyai beberapa kelebihan, biasanya kelebihan ini
dihubungkan dengan pembagian dividen atau pembagian aktiva pada saat likuidasi.
1. saham prioritas kumulatif dan tidak kumulatif
Saham prioritas kumulatif adalah saham prioritas yang dividennya setiap tahun harus dibayarkan
kepada pemegang saham.
2. saham prioritas partisipasi dan tidak berpartisipasi
Saham prioritas mungkin berpartisipasi penuh atau sebagian. Yang dimaksud dengan partisipasi
penuh adalah jika saham prioritas berhak atas dividen dengan jumlah yang sama besar dengan
saham biasa sesudah saham biasa mendapat dividen sebesar persentase dividen prioritas.
Contoh soal
Misalnya PT Risa Fadila mempunyai saham yang beredar sebagai berikut: saham prioritas,
nominal Rp. 1.000.00,00 10% berpatisipasi penuh, saham biasa, nominal Rp. 2.000.000,00. Pada
akhir tahun 1991, dibagi dividen sebesar Rp. 540.000,00. Dividen ini dibagikan kepada saham
prioritas dan biasa dengan perhitungan ,
Jawab,
Saham prioritas 10% = Rp. 1000.000,00
Saham biasa 10% = Rp. 2.000.000,00
Deviden = Rp. 540.000,00
Deviden saham prioritas 10% x Rp. 1.000.000,00 = Rp.100.000,00
Deviden saham biasa 10% x Rp. 2.000.000,00 = Rp. 200.000,00 +
Rp. 300.000,00
Jadi deviden kedua yang pertama dikurangi pesentasi dari hasil deviden saham prioritas dan
deviden saham biasa ,
Rp. 540.000 – 300.000 = 240.000
Lalu menghitung deviden persen
𝑅𝑝.240.000
%= x 100% = 8%
3.000.000
Deviden saham prioritas 8% x 1.000.000,00 = Rp. 80.000,00
Deviden saham biasa 8% x Rp. 2. 000.000,00 = Rp. 160.000,00
Rekapitulasi :
Deviden saham prioritas =Rp. 100.000 + Rp. 80.000
=Rp. 180.000 (18%)
Deviden saham biasa = Rp.200.000 + Rp.160.000
=Rp. 360.000 (18%)
Deviden saham prioritas dan deviden saham biasa = Rp. 180.000 + Rp. 360.000
Jumlah deviden = Rp. 540.000
Apabila saham prioritas tidsk berpartisipasi penuh, tetapi hanya sampai 15% , maka
perhitungannya sebagai berikut.
Untuk saham prioritas = 10% x Rp. 1.000.000
= Rp. 100.00
Untuk saham biasa = Rp. 10% x 2.000.000
= Rp. 200.000
Untuk prioritas = 5% x Rp.1.000.000
= Rp. 50.000
Untuk biasa = 5%x Rp. 2.000.000
=Rp 190.000
Saham prioritas= Rp.100.000+Rp. 50.000
= Rp. 150.000
Saham biasa = Rp. 200.00 + Rp. 190.000
= Rp. 390.000
Presentase penerimaan dividen sebagai berikut
Saham prioritas = Rp. 150.000/Rp. 1.000.000 x 100%
= 15%
Saham biasa =Rp. 390.000/Rp. 2.000.000 x 100%
= 19,5%
Apabila saham prioritas itu tidak berpatisipasi maka deviden yang diterima setiap tahunnya
sebesar 10%
Saham prioritas atas aktiva dan dividen pada saat likuidasi
Saham dengan preferensi seperti ini pada saat likuidasi akan tetap menerima difiden
yang belum dibayar, walaupun saldo laba tidak dibagi tidak mencukupi. Sesudah pelunasan
saham difidennya, saham prioritas ini dilunasi jika saldo laba tidak dibagi atau tidak mencukupi
maka pelunasan difiden dan nominal saham prioritas dilakukan dari modal mencukupi maka
pelunasan difiden dan nominal saham prioritas dilakukan dari yang disektor saham jasa. Saham
biasa yang pelunasannya jatuh pada urutan terakhir akan menerima jumlah pengembalian
sebesar sisa modal disektor yang masih ada.
Saham prioritas yang dapat ditukar dengan saham jasa
Saham prioritas mempunyai prefensi dapat ditukar dengan saham biasa. Pemegang
saham prioritas akan menukarkan sahamnya dengan saham biasa dalam keadaan difiden yang
dibagi untuk saham biasa tiap tahun lebih besar daripada difiden untuk saham prioritas
keadaan yang disebutkan diatas diperkirakan akan berlangsung terus maka lebih
menguntungkan memeliki saham biasa daripada prioritas
Pencatatan modal saham
untuk dapat melakukan pencatatan modal saham dengan baik, perlu diketahui istilah-
istilah berikut ini.
(a) modal saham statute atau modal saham yang diotorisasi, yaitu jumlah saham yang sudah
dapat dikeluarkan sesuai dengan akta pendirian perusahaan
(b) modal saham beredar, yaitu jumlah saham yang sudah dijual
(c) jmodal saham belom beredar, yaitu jumlah saham yang diotorisasi tetapi belum dijual
(d) treasury stock, yaitu modal saham yang sudah dijual dan sekarang dibeli kembali oleh
perusahaan
(e) modal saham dipesan, yaitu jumlah saham yang disisihkan karena sudah dipesan untuk
dibeli . modal saham yang dipesan ini baru dikeluarkan bila harga jualnya sudah dilunasi
Penjualan secara tunai
Saham yang dijual secara tunai akan dicatat dengan debit akun (rekening) kas dan
mengkredit rekening (akun) pada saham selisih harga saham (perdana) dengan nilai nominalnya
akan dicatat dengan mengkredit rekening agio saham atau mendebit rekening disagio saham.
Jurnal untuk mencatat penjualan saham perdana adalah :
Kas Rp xx
Disagio saham Rp xx
Modal saham Rpxx
Atau
Kas Rp xx
Modal saham Rp xx
Agio saham Rp xx
Penjualan Melalui Pesanan
Kadang – jadang penjualan saham dilakukan melalui pesanan, yaitu dengan cara dibayar
sebagian dan sisanya akan dilunasi kemudian. Jumlah harga yang belum dilunasi dicatat senagai
piutang pesanan saham,dan jumlah nominal saham yang dipesan dikreditkan kerekening modal
saham di pesan. Apabila harga jual saham tidak sama dengan nilai nominalnya, selisihnya dicatat
dalam rekening agio saham atau disagio saham pada waktu pesanan itu diterima.
Untuk pemesanan yang sudah melunasi harga saham maka sahamnya dikeluarkan.
Pengeluaran saham ini di catat dengan mendebit rekening modal saham dipesan dan mengkredit
modal saham. Jurnal untuk mencatat penjualan saham.
Kas Rp.xxxx
Piutang pesanan saham Rp.xxxx
Disagio saham Rp.xxxx
Modal saham dipesan Rp.xxxx
Atau
Kas Rp.xxxx
Piutang pesanan saham Rp.xxxx
Modal saham dipesan Rp.xxxx
Agio saham Rp.xxxx
Jurnal untuk mencatat penerimaan piutang :
Kas Rp.xxxx
Piutang pesanan saham Rp.xxxx
Jurnal untuk mencatat penyerahan saham :
Modal saham dipesan Rp.xxxx
Modal saham biasa/prioritas Rp.xxxx
Pembatalan Pesanan Saham
Saham yang sudah di pesan, jumlah lembarnya disisihkan tersendiri dan akan di serahkan
kepada pemesan bila harga jual sham sudah dilunasi. Apabila terjadi pemesanan tidak dapat
melunasi kekurangan pembayarannya maka perusahaan dapat mengambil salah satu jalan
sebagai berikut :
(a) Uang yang sudah diterima dikembalikan kepada pemesan
Jurnalnya :
Modal saham dipesan Rp.xxxx
Agio saham biasa/prioritas Rp.xxxx
Kas Rp.xxxx
Piutang pesanan saham Rp.xxxx
(b) Uang yang sudah diterima dikembalikan pada pemesan sesudah dikurangi biaya atau kerugian
penjualan kembali saham – saham tersebut.
Jurnalnya :
Modal saham dipesan Rp.xxxx
Agio saham biasa/prioritas Rp.xxxx
Kas Rp.xxxx
Piutang pesanan saham Rp.xxxx
Utang pada pemesan Rp.xxxx
Kas Rp.xxxx
(c) Utang yang sudah diterima dianggap hilang (tidak dikembalikan)
Jurnalnya :
Modal saham dipesan Rp.xxxx
Agio saham Rp.xxxx -
Modal dari pembatalan pesanan saham Rp.xxxx
Piutang pesanan saham Rp.xxxx
(d) Mengeluarkan saham yang nilainya sama dengan jumlah uang yang sudah diterima
Jurnalnya :
Modal Saham dipesan Rp.xxxx
Agio Saham Rp.xxxx
Modal Saham Rp.xxxx
Piutang pesanan saham Rp.xxxx
Penjualan Saham secara Lumpsum
Penjualan saham bisa dilakukan dengan cara penjualan per unit saham. Unit saham ini
terdiri daribeberapa jenis saham. Apabila penjualan dilakukan dengan cara seperti ini maka
penerimaan dari penjualan akan dibagikan untuk setiap jenis saham tersebut. Metode yang dapat
digunakan adalah :
Metode Intelektual
Metode Proporsional
Bila harga pasar kedua jenis saham diketahui maka perhitungannya menggunakan metode
Proporsional. Namun apabila hanya harga salah satu jenis saham saja yang di ketahui maka di
gunakan metode Intelektual.
Pertukaran Saham dengan Aktiva selain Kas
kadang – kadang modal saham dikeluarkan dengan menerima aktiva (selain dari kas).
Dalam keadaan seperti ini besarnya jumlah yang akan di catat dalam rekening modal rekening
aktiva didasarkan pada yang lebih muda ditentukan dari :
(a) Harga pasar saham yang di keluarkan
(b) Nilai wajar aktiva tang diterima
PSAK No.21 paragraf 13 (f) menyatakan bahwa saham dicatat berdasarkan nilai wajar
aktiva bukan kas yang diterima (butir b). Apabila kedua penilaian diatas tidak dapat
ditentukan,biaasanya dilakukan terhadap aktiva yang diterima. Penilaian ini bisa juga dilakukan
oleh pimpinan perusahaan. Kecendrungan yang sering terjadi jika penilaian dilakukan oleh
pimpinan perusahaan aadalah menghindari adanya disagio saham,sehingga aktiva dan modal
saham akan dicatat terlalu besar maka modal saham itu disebut “watered”. Tetapi jika dicatat
terlalu kecil maka neraca yang disusun mengandung “cadangan rahasia”.
Contoh :
PT Risa Fadila menerbitkan 10.000 lembar saham nominal Rp.1.000,00 per lembar dan
ditukar dengan sebuah gedung.
maka:
1. Apabila harga pasar saham tidak diketahui,tetapi harga pasar gedung diketahui sebesar Rp
15.000.000,00,maka jurnal yang dibuat adalah :
Gedung Rp.15.000.000,00
Modal saham Rp.10.000.000,00
Agio saham Rp. 5.000.000,00
2. Apabila harga pasar gedung tidak di ketahui tetapi harga pasar saham diketahui sebesar
Rp.14.000.000,00,maka jurnalnya adalah :
Gedung Rp.14.000.000,00
Modal saham Rp.10.000.000,00
Agio saham Rp. 4.000.000,00
3. Apabila harga pasar saham dan bangunan keduanya tidak di ketahui dan pimpinan perusahaan
menetapkan harga perolehaan bangunan sebesar Rp.12.500.000,00,maka jurnalnya adalah :
Gedung Rp.12.500.000,00
Modal saham Rp.10.000.000,00
Agio saham Rp. 2.500.000,00
Bonus yang berupa Saham
Agar penjualan obligasi atau saham prioritas bisa menarik pembeli,kadang – kadang
diberikan sahm biasa sebagai bonus. Misalnya dalam penjualan 10 lembar saham prioritas
nominal @ Rp.1.000,00 diberi bonus 1 lembar saham biasa,nominal Rp.1.000,00. Harga pasar
saham prioritas tanpa bonus = Rp.950,00 per lembar. Jurnal untuk mencatat transaksi diatas
adalah sebagai berikut :
Kas Rp.10.000,00
Disagio saham prioritas Rp. 500,00
Disagio saham biasa Rp. 500,00
Modal saham prioritas Rp.10.000,00
Modal saham biasa Rp. 1.000,00
Disagio saham prioritas dan saham biasa di hitung sebagai berikut :
Nilai nominal saham prioritas (10 lembar) Rp.10.000,00
Harga pasar saham prioritas (10 lembar) Rp. 9.500,00
Disagio saham prioritas Rp. 500,00
Harga jual saham prioritas plus bonus Rp.10.000,00
Harga pasar saham prioritas tanpa bonus Rp. 9.500,00
Nilai ssaham biasa Rp. 500,00
Nilai nominal saham biasa Rp. 1.000,00
Disagio saham biasa Rp. 500,00
Perlakuan terhadap Agio atau Disagio Saham yang Dijual
Dalam hal penjualan saham dengan harga di atas atau di bawah nilai nominal,maka selisih
itu akan dicatat didalam rekening giro atau disagio saham. Rekening (akun) agio saham dipakai
untuk mencatat kelebihan harga di atas nilai nominalnya sedang rekening disagio saham dipakai
untuk mencatat kekurangan harga dari nilai nominal saham. Rekening – rekening agio atau
disagio saham adalah rekening yang menunjukan modal yang disetor dari pemegang saham,oleh
karena itu selama saham – saham tersebut masih beredar maka rekening itu juga akan nampak
dalam neraca. Didalam neraca rekening agio saham merupakan pengurangan terhadap rekening
modal saham. Apabila saham yang beredar ditarik,maka rekening agio dan disagio saham yang
berhubungan dengan saham tersebut dibatalkan.
Pungutan Tambahan atas Saham (Assessments)
Dalam suatu keadaan tertentu perusahaan bisa mengadakan pungutan tambahan kepada
para pemegang saham. Pencatatn terhadap pungutan tambahan ini tergantung pada harga jual
saham – saham tersebut. Apabila saham – saham itu dulu dujual dibawah nominal (dengan
disagio) maka pungutan tambahan yang dikenakan kepada para pemegang saham di catat sebagai
berikut :
Kas Rp.xxxx
Disagio saham Rp.xxxx
Rekening giro saham akan di kredit maksimum sebesar disagio yang timbul dari penjualan
saham. Jika pungutan lebih besar dari pada disagio maka selisihnya akan dikreditkan kerekening
modal pungutan tambahan. Tetapi apabila penjualan saham dulunya tidak dibawah nominal
maka pungutan tadi semuanya akan dikreditkan kerekening modal pungutan tambahan.
Pengeluaran Saham untuk membeli (Akuisisi) Perusahaan
Sebuah PT bisa membeli (akuisisi) perusahaan lain dan di gabungkan (merger) menjadi
satu. Pembelian ini dapat dibayar dengan saham dari PT tersebut. Jumlah saham akan dipakai
untuk pembayaran tergantung pada harga pasar saham tersebut dan juga harga pasar dari aktiva
perusahaan yang dibeli.
Kadang – kadang perusahaan yang diakuisisi dinilai lebih tinggi dari pada harga pasar
aktivanya,hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal,antara lain kemampuan perusahaan itu dalam
memperoleh laba. Selisih harga pasar aktiva yang diakuisisi dengan jumlah harga pembelian
yang disetujui dicatat sebagai goodwill.
Kadang – kadang perusahaan – perusahaan perseorangan bergabung untuk membentuk
suatu PT. Masing – masing perusahaan akan menerima saham dari PT tersebut sebagai ganti
aktiva yang diserahkan kepada PT baru. Bisa juga sebuah perusahaan perseorangan berganti
bentuk menjadi PT. Apabila perusahaan yang lama itu berbentuk firma maka para anggota firma
tersebut akan menerima saham dari PT yang baru sebanding dengan modal masing – masing
anggota. Dalam keadaan ini ada 2 cara pencatatan yang dapat dilakukan :
1. Buku – buku perusahaan lama diperlanjutkan sebagai buku perusahaan baru.
2. Buku – buku perusahaan lama ditutup dan dibuat buku baru untuk perusahaan baru.