Anda di halaman 1dari 17

KEPERAWATAN JIWA

Psikoterapi Suportif

Dosen Pengampu

Achmad Djojo, APP. MM

Disusun Oleh :

Andri Wibiantoro 20156310256

Dio Argi 20156310259

Heru Sadewo 20156310289

Feri Irawan 20156310267

Jalalludin 20156310262

Rike Anjarwati 20156320275

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PONTIANAK


JURUSAN KEPERAWATAN SINGKAWANG
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah ini yang membahas mengenai
psikoterapi suportif. Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi tugas mata
kuliah program studi Keperawatan Jiwa. Pada penulisan makalah ini, kami
berusaha menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh semua
orang, sehingga lebih mudah dipahami oleh pembaca. Makalah penulisan ilmiah
ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama mahasiswa
kesehatan.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini tidaklah sempurna, masih
banyak kekurangan dan kelemahan didalam penulisan makalah kami, baik dalam
segi bahasa dan pengolahan maupun dalam penyusunan. Untuk itu, kami sangat
mengharapkan saran yang sifatnya membangun demi mencapainya suatu
kesempurnaan dalam makalah ini.

Singkawang, 31 Januari 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................i

DAFTAR ISI .......................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1

A. Latar belakang .................................................................................. 1


B. Rumusan masalah..............................................................................2
C. Tujuan ...............................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................3
A. Pengertian Psikoterapi ....................................................................... 3
B. Psikoterapi Suportif...........................................................................4
C. Tujuan Psikoterapi Suportif ..............................................................5
D. Indikasi dan Syarat Psikoterapi Suporrtif .........................................6
E. Komponen Psikoterapi Suportif ........................................................7
BAB III PENUTUP ............................................................................................ 13
A. Kesimpulan ....................................................................................... 13
B. Saran .................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Psikoterapi merupakan salah satu modalitas terapi yang terandalkan dalam


tatalaksana pasien psikiatri disamping psikofarmaka dan terapi fisik. Sebetulnya
dalam kehidupan sehari-hari, prinsip-prinsip dan beberapa kaidah yang ada dalam
psikoterapi ternyata juga digunakan, antara lain dalam konseling, pendidikan dan
pengajaran, atau pun pemasaran.

Dalam praktek, psikoterapi dilakukan dengan percakapan dan observasi.


Percakapan dengan seseorang dapat mengubah pandangan, keyakinan serta
perilakunya secara mendalam, dan hal ini sering tidak kita sadari. Beberapa
contohnya, antara lain seorang penakut, dapat berubah menjadi berani, atau, dua
orang yang saling bermusuhan satu sama lain, kemudian dapat menjadi saling
bermaafan, atau, seseorang yang sedih dapat menjadi gembira setelah menjalani
percakapan dengan seseorang yang dipercayainya.

Bila kita amati contoh-contoh itu, akan timbul pertanyaan, apakah


sebenarnya yang telah dilakukan terhadap mereka sehingga dapat terjadi
perubahan tersebut? Pada hakekatnya, yang dilakukan ialah pembujukan atau
persuasi. Caranya dapat bermacam-macam, antara lain dengan memberi nasehat,
memberi contoh, memberikan pengertian, melakukan otoritas untuk mengajarkan
sesuatu, memacu imajinasi, melatih, dsb. Pembujukan ini dapat efektif asal
dilakukan padasaat yang tepat, dengan cara yang tepat, oleh orang yang
mempunyai cukup pengalaman. Pada prinsipnya pembujukan ini terjadi dalam
kehidupan sehari-hari, dalam berbagai bidang, dan dapat dilakukan oleh banyak
orang.

Sejak berabad yang lalu, para ahli telah menyadari bahwa psikoterapi
berperan penting pada penyembuhan gangguan-gangguan pikiran dan perasaan,
dan dokter berperan penting dalam hal itu (A healer is a person to whom a
sufferer tells things; and out of his or her listening, the healer develops the basis

1
2

for therapeutic interventions. The good listener is the best physician for those who
are ill in thought and feeling). Oleh karena itu dahulu psikoterapi sering disebut
sebagai the talking cure. Psikoterapi diterima sebagai ilmu dan ketrampilan
tersendiri, sebagai pengembangan lebih lanjut dari prinsip-prinsip the talking cure
tersebut, oleh karena terdiri atas teknik-teknik dan metode khusus yang dapat
diajarkan dan dipelajari.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian psikoterapi ?
2. Apa itu psikoterapi suportif ?
3. Apa tujuan dari pelaksanaan psikoterapi suportif ?
4. Apa indikasi dan syarat dari psikoterapi suportif ?
5. Apa saja komponen psikoterapi suportif ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari psikoterapi
2. Untuk mengetahui apa itu psikoterapi suportif
3. Untuk mengetahui tujuan psikoterapi suportif
4. Untuk mengetahui indikasi dan syarat dari psikoterapi suportif
5. Untuk mengetahui komponen psikoterapi suportif
BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian psikoterapi

Banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli. Antara lain yaitu bahwa
psikoterapi adalah terapi atau pengobatan yang menggunakan cara-cara
psikologik, dilakukan oleh seseorang yang terlatih khusus, yang menjalin
hubungan kerjasama secara profesional dengan seorang pasien dengan tujuan
untuk menghilangkan, mengubah atau menghambat gejala-gejala dan penderitaan
akibat penyakit. Definisi yang lain yaitu bahwa psikoterapi adalah cara-cara atau
pendekatan yang menggunakan teknik-teknik psikologik untuk menghadapi
ketidakserasian atau gangguan mental.

Psikoterapi disebut sebagai pengobatan, karena merupakan suatu bentuk


intervensi, dengan berbagai macam cara dan metode – yang bersifat psikologik –
untuk tujuan yang telah disebutkan di atas, sehingga psikoterapi merupakan salah
satu bentuk terapi atau pengobatan disamping bentuk-bentuk lainnya dalam ilmu
kedokteran jiwa khususnya, dan ilmu kedokteran pada umumnya.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, talking cures telah digunakan


orang sejak berabad yang lalu. Misalnya, Soranus dari Ephesus, seorang dokter
pada abad pertama Masehi, menggunakan percakapan atau pembicaraan untuk
pasien-pasiennya dan mengubah ide-ide yang irasional dari pasien depresi. Kini,
dalam terapi kognitif (salah satu jenis psikoterapi), terapis menelusuri cara
berpikir yang irasional pada pasien-pasien depresi dan membimbing mereka agar
kemudian dapat mengatasinya sendiri.

3
4

B. Psikoterapi Suportif

Psikoterapi suportif adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai


tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah
yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap
gangguan psikisnya. Untuk mengembalikan keadaan jiwa yang rapuh ataupun
mengalami gangguan ke arah keseimbangan, yang terutama dilakukan adalah
menekan ataupun mengontrol gejala-gejala yang terjadi dan untuk menstabilkan
pasien ke dalam suasana yang aman dan terlindungi untuk melawan ataupun
menghadapi tekanan yang mungkin saja berat naik yang datang dari luar maupun
dari dalam dirinya.

Psikoterapi suportif (juga disebut psikoterapi berorientasi hubungan)


menawarkan dukungan kepada pasien oleh seorang tokoh yang berkuasa selama
periode penyakit, kekacauan atau dekompensasi sementara. Pendekatan ini juga
memiliki tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien dan
mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu. Cara ini memberikan suatu
periode penerimaan dan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan bantuan
untuk menghadapi rasa bersalah, malu dan kecemasan dan dalam menghadapi
frustasi atau tekanan eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.

Terapi suportif menggunakan sejumlah metoda, baik sendiri-sendiri atau


konbinasi, termasuk :

1. Kepemimpinan yang kuat, hangat, dan ramah


2. Pemuasan kebutuhan tergantungan
3. Mendukung perkembangan kemandirian yang sah pada akhirnya
4. Membantu mengembangkan sublimasi yang menyenangkan (sebagai
contohnya, hobi)
5. Istirahat dan penghiburan yang adekuat
6. Menghilangkan ketegangan eksternal yang berlebihan.jika mungkin
7. Perawatan di rumah sakit jika diindikasikan
8. Medikasi untuk menghilangkan gejala
5

9. Bimbingan dan nasehat dalam menghadapi masalah sekarang. Cara ini


rnenggunakan teknik yang membantu pasien merasa aman, diterima,
terlindungi, terdorong dan tidak merasa cemas.

Psikoterapi suportif cocok untuk berbagai penyakit psikogenik. Terapi ini


dapat dipilih jika penilaian diagnostik menyatakan bahwa proses kematangan
yang bertahap didasarkan pada perluasan sasaran baru untuk identifikasi, adalah
jalan yang paling menjanjikan untuk perbaikan.

C. Tujuan Psikoterapi Suportif

Tujuan dari pelaksanaan psikoterapi suportif adalah

1. Menguatkan daya tahan mental yang ada, dengan kata lain membuat
seseorang itu bahagia dan sejahtera.
2. Mengembangkan mekanisme daya tahan mental yang baru dan yang lebih
baik untuk mempertahankan fungsi pengontrolan diri, ataupun membuat
seseorang tahu dan mengerti tentang dirinya.
3. Mengembalikan keseimbangan adaptif (dapat menyesuaikan diri).
4. Menaikkan fungsi psikologi dan sosial.
5. Menyokong harga dirinya dan keyakinan dirinya sebanyak mungkin.
6. Menyadari realitas, keterbatasannya, agar dapat diterima.
7. Mencegah terjadinya relaps..
8. Bertujuan agar penyesuaian baik.
9. Mencegah ketergantungan pada dokter.
10. Memindahkan dukungan.
6

D. Indikasi dan Syarat Psikoterapi Suportif

Secara umum psikoterapi suportif diindikasikan pada pada pasien yang


mana kontraindikasi terhadap psikoanalisi ataupun psikoterapi insight-oriented
psychoanalitic, mempunyai pertahanan ego yang kurang.

Secara garis besar terapi ini diindikasikan terhadap :

1. Seseorang yang dalam keadaan kritis dan kacau serta tidak mempunyai
kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah, yang menghasilkan
kecemasan berat dan kebingungan (contoh, orang yang mengalami kesedihan
yang berat, kesakitan, perceraian, atau kehilangan pekerjaan ataupun mereka
yang pernah menjadi korban kejahatan, penganiayaan, bencana alam, ataupun
kecelakaan).
2. Pasien dengan penyakit yang berat dan kronik disertai dengan kerapuhan
ataupun kelemahan fungsi ego (contoh, mereka dengan psikosis yang laten,
gangguan impuls, gangguan kepribadian berat).
3. Pasien dengan defisit kognitif dan gejala-gejala fisik yang membuat mereka
menjadi lemah dan tidak cocok dilakukan pendekatan insight-oriented
(contoh, pasien psikosomatik).
4. Pasien dengan toleransi kecemasan yang rendah dan kesulitan mengendalikan
frustasi.
5. Pasien dengan kelemahan psikologi yang sesuai dengan fungsi kognitifnya.
6. Mereka yang kesulitan membedakan kenyataan luar dengan dari dalam
dirinya.
7. Pasien yang mengalami gangguan berat dalam hubungan interpersonal.
8. Mereka yang mengalami kelemahan dalam mengontrol impuls dan akhirnya
mereka melakukan tindakan yang buruk.
9. Pasien dengan intelegensia yang kurang dan kapasitas yang lemah terhadap
pengamatan dirinya sendiri.
10. Pasien yang memiliki keterbatasan yang berat untuk mengadakan hubungan
terapeutik dengan terapis.
7

Syarat pemberian psikoterapi suportif :

1. Pasien dengan taraf pendidikan yang tidak begitu tinggi.


2. Gangguan bersifat sedang.
3. Kepribadian premorbid pasien yang kuat disertai dengan adanya pemulihan
diri.

E. Komponen Psikoterapi Suportif

Komponen psikoterapi suportif antara lain ialah sebagai berikut:

1. Ventilasi atau (psiko-) katarsis

Terapis membiarkan pasien mengeluarkan isi hati sesukanya. Sesudahnya


biasanya ia merasa legadan kecemasannya (tentang penyakitnya) berkurang,
karena ia lalu dapat melihat masalahnya dalam proporsi yang sebenarnya. Hal
ini dibantu oleh dokter dengan sikap yang penuh pengertian (empati) dan
dengan anjuran. Jangan terlalu banyak memotong bicaranya (menginterupsi).
Yang dibicarakan ialah kekhawatiran, impuls-impuls, kecemasan, masalah
keluarga, perasaan salah atau berdosa. Sikap terapis yaitu menjadi pendengar
yang baik dan penuh pengertian. Topik pembicaraan yaitu permasalahan yang
menjadi stress utama.

2. Persuasi atau bujukan (“persuasion”)

Psikoterapi suportif yang dilakukan dengan menerangkan secara masuk


akal tentang gejala-gejala penyakitnya yang timbul akibat cara berpikir,
perasaan, dan sikapnya terhadap masalah yang dihadapinya.

Terapis berusaha membangun, mengubah, dan menguatkan impuls tertentu


serta membebaskannya dari impuls yang mengganggu secara masuk akal dan
sesuai hati nurani. Impuls-impuls yang tertentu dibangkitkan, diubah atau
diperkuat dan impuls-impuls yang lain dihilangkan atau dikurangi, serta
8

pasien dibebaskan dari impuls-impuls yang sangat menganggu. Pasien pelan-


pelan menjadi yakin bahwa gejala-gejalanya akan hilang.

Berusaha menyakinkan pasien dengan alasan yang masuk akal bahwa


gejalanya akan hilang.

3. Sugesti

Sugesti ialah secara halus dan tidak langsung menanamkan pikiran pada
pasien atau membangkitkan kepercayaan padanya bahwa gejala-gejala akan
hilang. Dokter sendiri harus mempunyai sikap yang meyakinkan dan otoritas
profesional serta menunjukkan empati. Pasien percaya pada dokter sehingga
kritiknya berkurang dan emosinya terpengaruh serta perhatiannya menjadi
sempit. Ia mengharap-harapkan sesuatu dan ia mulai percaya. Bila tidak
terdapat gangguan kepribadian yang mendalam, maka sugesti akan efektif,
umpamanya pada reaksi konversi yang baru dan dengan konflik yang dangkal
atau pada neurosa cemas sesudah kecelakaan.

Sugesti dengan aliran listrik (faradisasi) atau dengan masasi kadang-


kadang juga menolong, tetapi perbaikan itu cenderung untuk tidak menjadi
tetap, karena pasien menganggap pengobatan itu datang dari luar dirinya. Jadi
sugesti harus diikuti dengan reeduksi. Anak-anak dan orang dengan inteligensi
yang sedikit kurang serta pasien yang berkepribadian tak matang atau histerik
lebih mudah disugesti. Jangan memaksa-maksa pasien dan jangan
memberikan kesan bahwa dokter menganggap ia membesar-besarkan
gejalanya. Jangan menganggu rasa harga diri pasien. Pasien harus percaya
bahwa gejala-gejalanya akan hilang dan bahwa tidak terdapat kerusakan
organik sebagai penyebab gejala-gejala itu. Ia harus diyakinkan bahwa bila
gejala-gejala itu hilang, hal itu terjadi karena ia sendiri mengenal maksud
gejala-gejala itu dan bahwa timbulnya gejala itu tidak logis.

Sikap terapis, meyakinkan dengan tegas bahwa gejala pasien akan hilang.
Topik pembicaraan, gejala-gejala bukan karena kerusakan organik/fisik dan
timbulnya gejala-gejala tersebut adalah tidak logis.
9

4. Penjaminan kembali (“reassurance”)

Penjaminan kembali atau reassurance dilakukan melalui komentar yang


halus atau sambil lalu dan pertanyaan yang hati-hati, bahwa pasien mampu
berfungsi secara adekuat (cukup, memadai). Dapat juga diberi secara tegas
berdasarkan kenyataan atau dengan menekankan pada apa yang telah dicapai
oleh pasien.

terapis, meyakinkan secara tegas dengan menunjukkan hasil-hasil yang


telah dicapai pasien. Topik pembicaraan, pengalaman pasien yang berhasil
nyata.

5. Bimbingan

Bimbingan ialah memberi nasehat-nasehat yang praktis dan khusus


(spesifik) yang berhubungan dengan masalah kesehatan (jiwa) pasien agar ia
lebih sanggup mengatasinya, umpamanya tentang cara mengadakan hubungan
antar manusia, cara berkomunikasi, bekerja dan belajar, dan sebagainya..

Sikap terapis, menyampaikan nesehat dengan penuh wibawa dan


pengertian. Topik pembicaraan, cara hubungan antar manusia, cara
berkomunikasi, cara bekerja yang baik, dan cara belajar yang baik.

6. Penyuluhan

Penyuluhan atau konseling (counseling) ialah suatu bentuk wawancara


untuk membantu pasien mengerti dirinya sendiri lebih baik, agar ia dapat
mengatasi suatu masalah lingkungan atau dapat menyesuaikan diri. Konseling
biasanya dilakukan sekitar masalah pendidikan, pekerjaan, pernikahan dan
pribadi.

Sikap terapis, menyampaikan secara halus dan penuh kearifan. Topik


pembicaraan, masalah pendidikan, pekerjaan, pernikahan, dan pribadi.
10

7. Terapi kerja

Terapi kerja yaitu berupa sekedar memberi kesibukan kepada pasien


ataupun berupa latihan kerja tertentu agar ia terampil dalam hal itu dan
berguna baginya untuk mencari nafkah kelak.

8. Hipno-terapi

Pasien yang dalam trance hipnotik dapat mengingat ingatan yang tidak ada
dalam kesadaran dalam keadaan nonhipnotik. Ingatan tersebut dapat
digunakan dalam terapi untuk memperkuat hipotesis psikoanalitik terlepas dari
dinamika pasien menggunakan ingatan tersebut sebagai katalis untuk asosiasi
baru. Beberapa pasien dapat menginduksi regresi usia, selama mana mereka
mengalami kembali peristiwa yang terjadi pada kehidupan yang lebih awal.
Apakah pasien mengalami peristiwa seakan-akan terjadi adalah kontroversial;
tetapi, material yang diungkapakan dapat digunakan untuk terapi lebih lanjut.

Pasien dalam keadaan trance mungkin menggambarkan suatu peristiwa


dengan intensitas yang mirip dengan peristiwa yang terjadi (abreaksi) dan
merasakan peringanan sebagai hasilnya. Keadaan trance memainkan peranan
dalam terapi gangguan amnestik dan fuga disosiatif, walaupun klinis harus
menyadari bahwa mungkin berbahaya untuk membawa ingatan yang direpresi
ke dalam kesadaran secara cepat, karena pasien dapat terlanda oleh
kecemasan.

Indikasi dan Pemakaian

Hipnosis telah digunakan, dengan berbagai tingkat keberhasilan, untuk


mengendalikan obesitas dan gangguan berhubungan zat, seperti
penyalahgunaan alkohol dan ketergantungan nikotin. Cara ini telah digunakan
untuk menginduksi anestesia, dan pembedahan besar telah dilakukan tanpa
anestetik kecuali hipnosis.

Hipnosis juga telah digunakan untuk menangani gangguan nyeri kronis,


asma, kutil, pruritus, afonia, dan gangguan konversi.
11

Relaksasi dapat dicapai dengan mudah dengan hipnosis, sehingga pasien dapat
mengatasi fobia dengan mengendalikan kecemasan mereka. Hipnosis juga
telah digunakan untuk menginduksi relaksasi dalam desensitisasi sistematik.

Kontraindikasi

Pasien yang dihipnosis berada dalam ketergantungan atipikal dengan ahli


terapi, dan sehingga suatu transferensi yang kuat dapat berkembang, ditandai
oleh perlekatan positif yang harus dihormati dan diinterpretasikan. Dalam
keadaan lain dapat terjadi transferensi negatif pada pasien yang rapuh atau
yang memiliki kesulitan dalam tes realitas. Pasien yang memiliki kesulitan
dengan kepercayaan dasar, seperti pasien paranoid, atau yang memiliki
masalah pengendalian, seperti pasien obsesif-kompulsif, adalah bukan calon
yang baik untuk hipnosis.

Sistem nilai etik yang kuat adalah penting untuk semua terapi dan
khususnya untuk hipnoterapi, dimana pasien (khususnya mereka yang berada
dalam trance dalam) adalah sangat mudah disugesti dan ditundukkan.
Terdapat pertentangan tentang apakah pasien akan melakukan tindakan selama
keadaan trance yang mereka rasakan menjijikan pada keadaan lain atau yang
bertentangan dengan kode moral mereka.

9. Narkoterapi

Narkoterapi secara intravena disuntikkan suatu hipnotikum dengan efek


yang pendek (umpamanya penthothal atau amital natrium). Dalam keadaan
setengah tidur pasien diwawancarai, konflik dianalisa, lalu disintesa. Bahan
yang timbul sewaktu narkoterapi dapat juga dipakai dalam sintesa sesudah
pasien sadar kembali.

10. Psikoterapi kelompok

Psikoterapi kelompok adalah terapi di mana orang yang memiliki penyakit


emosional yang telah dipilih secara cermat ditempatkan ke dalam kelompok
yang dibimbing oleh ahli terapi yang terlatih untuk membantu satu sama
12

lainnya dalarn menjalani perubahan kepribadian. Dengan menggunakan


berbagai manuver teknik dan gagasan teoritis, pembimbing menggunakan
interaksi anggota kelompok untuk membuat perubahan tersebut.

Psikoterapi kelompok meliputi spektruin terapi teoritik dalam psikiatri


suportif, terstruktur, terbatas waktu (sebagai contohnya, kelornpok dengan
orang psikotik yang kronis), kognitif perilaku, interpersonal, keluarga, dan
kelompok berorientasi analitik. Dua kekuatan utama terapi kelompok, jika
dibandingkan dengan terapi individual, adalah (1) kesempatan untuk
mendapatkan umpan balik segera dan teman sebaya pasien dan (2)
kesempatan bagi pasien dan ahli terapi untuk mengobservasi respon
psikologis, emosional, dan perilaku pasien terhadap berbagai orang,
mendapatkan berbagai transferensi.

11. Terapi perilaku

Terapi perilaku, berusaha untuk menghilangkan masalah perilaku khusus


secepat-cepatnya dengan mengawasi perilaku belajar pasien.
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Psikoterapi suportif adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai


tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah
yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap
gangguan psikisnya dengan menekan ataupun mengontrol gejala-gejala yang
terjadi dan untuk menstabilkan pasien ke dalam suasana yang aman dan
terlindungi untuk melawan ataupun menghadapi tekanan yang mungkin saja berat
naik yang datang dari luar maupun dari dalam dirinya.

B. Saran

Diharapkan materi yang ada dalam makalah ini dapat diterapkan dalam
proses keperawatan yang sesungguhnya.

13
DAFTAR ISI

Kaplan, Harold I., dkk. 2010. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku
Psikiatri Klinis. Jakarta : Binarupa Aksara Publisher.

Tomb, David. A. 2004. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta : EGC.

http://blogsyurika.blogspot.com/2013/06/bentuk-bentuk-psikoterapi.html diakses
pada 31 Januari 2017 pukul 20.36 WIB

https://health.detik.com/read/2009/07/17/141957/1167103/770/psikoterapi-
suportif diakses pada tanggal 31 Januari 2017 pukul 20.42 WIB