Anda di halaman 1dari 19

TITRASI KOMPLEKSOMETRI

I. TUJUAN
1. Menstandarisasi larutan EDTA dengan ZnSO4
2. Menentukan konsentrasi Ni2+
3. Memahami prinsip dan kegunaan titrasi kompleksometri

II. TINJAUAN PUSTAKA

Titrasi kompleksometri merupakan salah satu jenis titrasi yang didasarkan


pada reaksi pembentukan senyawa kompleks antara ion logam target dengan
zat pembentuk kompleks. Zat pembentuk kompleks yang umum digunakan
adalah asam etilen diamin tetra asetat (EDTA) yang akan membentuk
kompleks kuat dengan perbandingan 1:1 dengan logam. pH larutan dalam
titrasi kompleksometri harus dikontrol. Karena akan menentukan
selektivitas pembentukan kompleks antara EDTA dengan logam target
(Taufik, Moh. 2017).

Titrasi kompleksometri meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks


ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan.
Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat
kelarutan tinggi. Contoh dari kompleks tersebut adalah kompleks logam
dengan EDTA. Demikian juga titrasi merkuro nitrat dan perak sianida juga
dikenal sebagai tirasi kompleksometri.
EDTA dikenal dengan nama versen, complexon III, sequesterence,
nullapon, trilon B, idranat III dan sebagainya. Srukturnya:

O
O

HO C H2C
CH2 C OH
N CH2 CH2 N
HO C H2C CH2 C OH

O O

Gambar 1. Struktur EDTA


Terlihat dari strukturnya bahwa molekul tersebut mengandung baik donor
elektron dari atom oksigen maupun donor dari atom nitrogen sehingga dapat
menghasilkan khelat bercincin sampai dengan enam secara serempak. Zat
pengompleks lain adalah asam nitriliotriasetat N(CH2COOH)3. Berbagai
logam membentuk kompleks pada pH yang berbeda-beda. Peristiwa
pengompleksan tergantung pada aktivitas anion bebas, misalkan Y4- (jika
asamnya H4Y dengan tetapan ionisasi pK1 = 2,0; pK2 = 2,64; pK3 = 6,16 dan
pK4 = 10,26). Ternyata variasi aktivitas Y4- bervariasi terhadap perubahan pH
dari 1,0 sampai 10 dan secara umum perubahan ini sebanding dengan (H+)
pada pH 3,0 - 6,0.
EDTA stabil, mudah larut dan menunjukkan kimiawi yang tersedia,
selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Cr, Ca
dan Ba dapat diatur dengan pengendalian pH. Suatu titik ekuivalen segera
tercapai dalam titrasi demikian dan akhirnya titrasi kompleksometri dapat
dipakai menentukan beberapa logam pada operasi skala semi mikro
(Khopkar, S.M, 1990).
Menurut teori koordinasi Wener (1892) menyatakan bahwa ion positif
pada ion pusat atau pembentuk kompleks pada umumnya menempati posisi
sentral atau pusat dalam molekul senyawa kompleks, sedangkan ligan-ligan
(biasanya merupakan ion negatif atau netral) menyusun lingkaran
koordinasi dalam molekul atau senyawa kompleks. Dalam kebanyakan
senyawa kompleks, lingkaran koordinasi luar terdiri dari ion negatif atau
positif. Ion-ion lingkaran luar dengan logam berikatan secara ionik.
Sementara itu antara ion pusat dengan ligan adalah berikatan secara non
ionik, sehingga lingkaran koordinasi dalam akan sulit mengalami disosiasi jka
larutan ini dilarutkan dalam air. Contohnya jika senyawa kompleks
dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion-ion bebas seperti dalam reaksi
di bawah ini
K4[Fe(CN)6] 4 K+ + [Fe(CN)6]4-
Ion kompleks terjadi karena interaksi antara ion sederhana dengan ion-ion
lain yang bermuatan berlawanan atau molekul netral. Secara umum reaksi
pembentukan senyawa kompleks dituliskan sebagai:
EDTA adalah heksadentat, tetapi bila digunakan dalam bentuk garam
dinatrium menjadi kuandridentat: H4. Selama reaksi pengompleksan:

Mn+ + R4- MR (4-n)- so Kabs = [MR (4-n)-]/[M+n] [R4-] tetapan kestabilan


absolut

Kondisi-kondisi optimum untuk titrasi kompleksometri EDTA dari beberapa


logam jelas bahwa nilai optimum pH ditentukan oleh tetapan kondisionalnya
Keff atau tetapan pembentukan efektif yang nilainya tidak kurang dari 108
dengan asumsi tidak ada kondisi kompleksasi kompetitif yang terdapat
dalam bejana reaksi (Sulistryarti, Hermin. 2017).

Kestabilan dari senyawa kompleks yang terbentuk tergantung dari sifat


kation dan pH dari larutan, sehingga titrasi harus dilakukan pada pH
tertentu. Untuk menetapkan titik akhir titrasi (TAT) digunakan indikator
logam, yaitu indikator yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion
logam. Ikatan kompleks antara indikator dan ion logam harus lebih lemah
daripada ikatan kompleks atau larutan titer dan ion logam. Larutan indikator
bebas mempunyai warna yang berbeda dengan larutan kompleks indikator.
Indikator yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah
kalkon, asam kalkon karboksilat, hitam eriokrom-T dan jingga xilenol.
Untuk logam yang dengan cepat dapat membentuk senyawa kompleks pada
umumnya titrasi dilakukan secara langsung, sedang yang lambat membentuk
senyawa kompleks dilakukan titrasi kembali. Seng merupakan salah satu
logam yang membentuk senyawa kompleks dimana penetapan kadar seng
menurut Farmakope Indonesia edisi III ditetapkan secara kompleksometri
menggunakan amonia amonium klorida (pH dapar ± 9-10), ditambah
indikator EBT dan di titrasi dengan Na2 EDTA (Endang Triwahyuni M dan
Yusmin).
Salah satu tipe reaksi kimia yang merupakan dasar penetapan
titrimetri, mencakup pembentukan kompleks atau ion kompleks yang larut
namun sedikit sekali terdisosiasi. Satu contoh adalah reaksi ion perak dengan
ion sianida untuk membentuk ion kompleks Ag(CN)2 yang stabil:

Ag+ + 2CN- menjadi Ag(CN)2- (Underwood, 2002).

Dalam pelaksanaan analisis anorganik kualitatif banyak digunakan


reaksi-reaksi yang menghasilkan pembentukan kompleks. Suatu ion (atau
molekul) kompleks terdiri dari satu atom (ion) pusat dan sejumlah ligan
yang terikat erat dengan atom (ion) pusat itu. Jumlah relatif komponen-
komponen ini dalam kompleks yang stabil nampak mengikuti stoikiometri
yang sangat tertentu, meskipun ini tak dapat ditafsirkan di dalam lingkup
konsep valensi yang klasik. Atom pusat ini ditandai oleh bilangan koordinasi,
suatu angka bulat, yang menunjukkan jumlah ligan monodentat yang dapat
membentuk kompleks yang stabil dengan satu atom pusat. Pada kebanyakan
kasus. Bilangan koordinasi 6 (seperti dalam kasus Fe2+, Fe3+, Zn2+, Cr3+, Co3+,
Ni2+, Cd2+), kadang-kadang 4 (Cu2+, Cu+, Pt2+), tetapi bilangan-bilangan 2 (Ag+)
dan 8 (beberapa ion dari golongan platinum) (G. Svehla, 1985).

EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi


dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus
karboksilnya. Dari spektrum infra merah dan pengukuran lain. Dalam hal-hal
lain, EDTA dapat berperilaku sebagai ligan kuinkedentat dan kuadridentat,
yang membebaskan satu atau dua gugus karboksilnya dari interaksi kuat
dengan logam itu. Agar tidak merepotkan bentuk asam bebas EDTA sering
disingkat sebagai H4Y. Kompleks kobalt yang terpaparkan diatas dapat ditulis
sebagai CoY- dan kompleks-kompleks lain menjadi CuY2- , FeY-, dan CaY2- dan
sebagainya. Dalam larutan yang agak asam, dapat terjadi parsial EDTA tanpa
pematahan sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies seperti
CuHY-. Namun pada kondisi yang lazim keempat hidrogen itu dilepaskan bila
ligan itu berkoordinasi dengan ion logam. Pada nilai pH yang tinggi, ion
hidroksida dapat menembus bola koordinasi log itu, dan dapat terjadi
kompleks Cu(OH)Y3- (Underwood, 2002).
Jika kepada larutan yang mengandung ion kompleks, ditambahkan
suatu reagen, yang dalam keadaan normal akan membentuk endapan dengan
ion pusat. Jelas bahwa semakin tinggi nilai tetapan ketidakstabilan semakin
tinggi konsentrasi ion pusat (ion-ion logam) yang bebas di dalam larutan dan
karenanya makin besar kemungkinan bahwa hasil kali konsentrasi ion-ion
dalam larutan akan melampaui nilai hasil kali kelarutan endapan. Maka
endapan akan mulai terbentuk. Makin rendah hasil kali kelarutan ini maka
besar kemungkinan endapan itu akan benar-benar terbentuk (G. Svehla,
1985).
III. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1Alat dan Fungsi

No Alat Fungsi
1 Buret untuk wadah meletakkan larutan
standar/larutan peniter
2 Pipet Gondok untuk mengambil larutan dengan teliti
3 Labu Ukur untuk mengencerkan larutan
4 Gelas Ukur untuk wadah menakar volume larutan
5 Erlenmeyer untuk wadah larutan yang akan dititer
6 Gelas Piala untuk wadah larutan
7 Bola Hisap untuk membantu mengambil larutan
8 Standar untuk menyangga alat buret
9 Klem untuk menjepit buret dengan standar

3.1.2 Bahan dan Fungsi

No Bahan Fungsi
1 ZnSO4 sebagai larutan standar primer (atom
pusat)
2 EDTA sebagai larutan standar sekunder (ligan)
3 Buffer Amoniak Amonium sebagai larutan mempertahankan pH
Klorida pH 10
4 EBT sebagai indikator
5 Ni2+ sebagai larutan sampel
6 Mureksid sebagai indikator
7 Akuades sebagai pelarut
3.2 Cara Kerja
A. Standarisasi EDTA dengan larutan standar primer ZnSO4 0,01 M
Pertama, larutan standar ZnSO4 0,01 M dipipet sebanyak 10 mL. Kemudian
buffer amoniak amonium klorida ditambahkan sebanyak 2 mL pada pH 10
dan 20 mL akuades. Selanjutnya indikator EBT ditambahkan sebanyak 2
tetes. Lalu larutan dititrasi dengan larutan EDTA sampai timbul perubahan
warna dari merah menjadi biru. Terakhir, konsentrasi EDTA dihitung.
B. Menentukan konsentrasi larutan Ni2+
Pertama, larutan Ni2+ diencerkan tepat batas labu ukur 100 mL. Kemudian
larutan dipipet sebanyak 10 mL kedalam erlenmeyer. Lalu larutan buffer
amoniak amonium klorida pH 10 ditambakan sebanyak 5 mL dan 20 mL
akuades serta ditambahkan indikator mureksid sedikit. larutan dititrasi
dengan larutan EDTA sampai terjadi perubahan warna dari kuning menjadi
biru violet. Terakhir, konsentrasi larutan Ni2+ dihitung.
3.3 Skema Kerja
A. Standarisasi EDTA dengan larutan ZnSO4

Larutan standar primer


ZnSO4

- dipipet 10 mL ke dalam erlenmeyer


- ditambahkan 5 mL buffer ammoniak pH 10 dan
akuades sebanyak 20 mL
- ditambahkan 2 tetes indikator EBT
- dititrasi dengan EDTA sampai terjadi perubahan
warna dari kuning menjadi biru
- dihitung konsentrasi EDTA

Hasil

B. Menentukan konsentrasi larutan Ni2+

Larutan Ni2+

- diencerkan tepat batas dalam labu ukur 100 mL


- dipipet 10 mL ke dalam erlenmeyer
- ditambahkan 5 mL buffer ammoniak pH 10 dan 20 mL
akuades
- ditambahkan sedikit indikator mureksid
- dititrasi dengan EDTA sampai terjadi perubahan
warna dari kuning ke violet
- dihitung konsentrasi Ni2+

Hasil
3.4 Skema Alat

Keterangan:
1. Buret
2. Erlenmeyer
3. Standar
4. Klem
5. Labu ukur
6. Labu semprot
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data dan Perhitungan
4.1.1 Data
V EDTA IA = 10.5 mL
V EDTA IIA = 10.2 mL
M ZnSO4 = 0.01 M
M NiSO4 = 0.01 M
V EDTA IB = 4,1 mL
V EDTA IIB = 4.2 mL
V NiSO4 secara teori = 4 mL
4.1.2 Perhitungan
A. Standarisasi EDTA dengan larutan ZnSO4
(V ×M) EDTA = (V× M)ZnSO₄
10.35 mL × M EDTA = 10 mL × 0.01 M
10 mL ×0.01 M
M EDTA =
10.35 mL
M EDTA = 0,00966 M
B. Menentukan konsentrasi larutan Ni2+
(V× M) EDTA = (V× M)NiSO₄ encer
4.15 mL × 0.0966 M = 10 mL × M NiSO₄
4.15 mL ×0.0096 M
M NiSO4 =
10 mL
M NiSO4 = 0.0040 M
(V × M) NiSO4 pekat = (V × M)NiSO₄ encer
V NiSO4 × 0.1 M = 100 mL × 0.0040 M
100 mL × 0.0040 M
V NiSO4 =
0.01 M
V NiSO4 = 4 mL
C. Persen Kesalahan
V teori –V percobaan
% kesalahan = ×100%
V teori

4 mL –4 mL
% kesalahan = ×100%
4 mL

% kesalahan =0%
4.2 Analisa Kerja
A. Standarisasi EDTA dengan larutan ZnSO4
No. Cara Kerja dan Reaksi Gambar Pengamatan Analisa

1 Pertama, larutan ZnSO4 0,01 Larutan ZnSO4 berwarna Penambahan larutan buffer amoniak
M dipipet sebanyak 10 mL. putih bening. amonium klorida pH 10 yang berfungsi
kemudian ditambahkan untuk mempertahankan pH larutan.
larutan buffer amoniak
amonium klorida pH 10
sebanyak 2 tetes dan 20 mL
akuades.

2 Ditambahkan 2 tetes Saat ditambahkan Penambahan indikator EBT berfungsi


indikator EBT ke dalam indikator EBT warna untuk menghasilkan perubahan warna
larutan dan larutan dititrasi larutan berubah dari larutan setelah mencapai titik akhir
dengan larutan EDTA bening ke larutan titrasi. Perubahan warna yang terjadi
sampai timbul warna biru, berwarna ungu. Setelah karena terjadi reaksi antara larutan
kemudian dihitung dititrasi terjadi ZnSO4 dengan larutan EDTA sehingga
konsentrasi larutan EDTA. perubahan warna dari terbentuk senyawa kompleks
ungu menjadi biru. Zn[EDTA]2- .
B. Menentukan kelarutan Ni2+
No. Cara Kerja dan Reaksi Gambar Pengamatan Analisa

1 Diencerkan larutan Ni2+ Larutan yang semula Pengenceran dilakukan untuk


didalam labu ukur sampai berwarna biru muda menurunkan atau memperkecil
tepat tanda batas, dipipet ketika ditambahkan 5 mL konsentrasi, sehingga pada saat titrasi
10 mL larutan kedalam buffer dan 20 mL air cepat didapatkan titik akhir titrasi.
erlemeyer dan suling menjadi bening. Penambahan buffer ammoniak ke
ditambahkan buffer dalam larutan Ni2+ berfungsi untuk
amoniak 5 mL lalu mempertahankan pH.
ditambahkan air suling
sebanyak 20 mL.
2 Ditambahkan sedikit Saat larutan di- Penambahan indikator mureksid
pereaksi mureksid ke dalam tambahkan indikator berfungsi untuk memberikan
larutan, kemudian larutan mureksid, warna larutan perubahan warna larutan setelah
dititrasi dengan larutan berubah menjadi warna mencapai titik akhir titrasi. Perubahan
EDTA. kuning. Setelah dititrasi warna yang berubah ini disebabkan
dengan larutan EDTA karena terbentuknya senyawa
terjadi perubahan warna kompleks [Ni(EDTA)]2-.
menjadi biru violet.
4.3 Pembahasan
Titrasi kompleksometri adalah suatu analisis volumetri yang didasarkan
pada terjadinya reaksi pembentukan senyawa kompleks antara atom pusat
dengan ligan. Tirasi kompleksometri ini bertunjuan untuk menstandarisasi
larutan etilena diamina tetra asetat (EDTA) dengan menggunakan ZnSO4 dan
menentukan konsentrasi Ni2+ untuk dapat memahami prinsip dan kegunaan
titrasi kompleksometri. Pada percobaan ini digunakan EDTA sebagai larutan
standar sekunder dan ZnSO4 sebagai larutan standar primer. Larutan EDTA
tidak dapat digunakan sebagai larutan standar primer dikarenakan sifatnya
yang tidak stabil dan tidak dapat ditentukan konsentrasinya dengan
penimbangan.
Percobaan pertama dilakukan standarisasi larutan EDTA. EDTA dalam
percobaan ini berfungsi sebagai ligan. Sedangkan ZnSO4 sebagai atom pusat.
Pertama hal yang dilakukan dalam percobaan ini yaitu larutan ZnSO4 0.01 M
dimasukkan sebanyak 10 mL ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan dengan
5 mL larutan buffer amoniak amonium klorida pH 10 yang berfungsi untuk
mempertahankan pH larutan, karena pH larutan mempengaruhi titrasi
kompleksometri. Penambahan larutan buffer haruslah dengan pH 10 hal ini
dikarenakan, apabila ditambahkan dengan larutan pH kecil dari 10 maka
pengompleksan akan sulit terjadi, dan apabila pH lebih besar dari 10 maka
ion logam akan membentuk endapan hidroksil. Kemudian larutan
ditambahkan dengan akuades sebanyak 20 mL. Penambahan akuades ini
berfungsi sebagai pengencer indicator serta untuk mengionkan ZnSO4.
Apabila indikator yang ditambahkan terlalu pekat maka akan dapat merusak
hasil titrasi. Kemudian larutan ditambahkan 2 tetes indikator EBT.
Penambahan indikator ini bertujuan untuk menghasilkan perubahan warna
larutan setelah mencapai titik akhir titrasi. Indikator EBT memiliki rentang
pH sebesar 7-11. Penggunaan indikator dipengaruhi oleh atom pusatnya.
Apabila atom pusatnya adalah ZnSO4 maka indikator yang dapat digunakan
adalah indikator EBT. Kemudian larutan dititrasi dengan larutan EDTA
sehingga timbul perubahan warna dari kuning menjadi biru yang
menandakan titik akhir dari titrasi. Dari percobaan didapatkan konsentrasi
EDTA yang digunakan yaitu sebesar 0,00966 M dengan senyawa kompleks
yang terbentuk adalah [Zn(EDTA)]2-.
Pada percobaan kedua dilakukan penentuan konsentrasi larutan Ni2+.
Larutan Ni2+ berfungsi sebagai sumber atom pusat. Sedangkan larutan EDTA
merupakan ligan. Larutan Ni2+ dilarutkan tepat batas di dalam labu ukur 100
mL yang berfungsi memperluas permukaan larutan sehingga larutan akan
lebih cepat bereaksi, lalu larutan dipipet sebanyak 10 mL ke dalam
erlenmeyer. Kemudian ditambahkan larutan buffer amoniak amonium
klorida pH 10 sebanyak 5 mL yang berfungsi untuk mempertahankan pH,
serta untuk melindungi larutan dari ion-ion pengganggu. Selanjutnya
ditambahkan akuades hingga volume 20 mL dan ditambahkan indikator
mureksid. Indikator mureksid memiliki rentang pH sebesar 8-11.
Penggunaan indikator mureksid karena atom pusat yang digunakan dalam
percobaan ini adalah Ni2+. Sebelum larutan mencapai titik akhir titrasi,
terjadi perubahan warna menjadi kemerahan sebelum berubah kembali
menjadi biru violet. Hal ini disebabkan karena pada pH 9 proton-proton dari
gugus amido pada indikator mureksid berpindah. Kemudian larutan dititrasi
dengan EDTA sampai terjadi perubahan warna dari kuning menjadi biru
violet. Dari hasil percobaan didapatkan konsentrasi Ni2+ sebesar 0,0040 M
dengan senyawa kompleks yang terbentuk adalah [Ni(EDTA)]2-.
Persen kesalahan yang didapatkan selama percobaan adalah sebesar
0%. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa titrasi dilakukan dengan teliti.
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum titrasi kompleksometri, dapat diambil
kesimpulan bahwa.
1. Prinsip titrasi kompleksometri adalah pembentukan senyawa
kompleks.
2. Larutan EDTA digunakan sebagai larutan standar sekunder dan larutan
ZnSO4 sebagai larutan standar primer.
3. Konsentrasi EDTA yang didapatkan setelah distandarisasi dengan
ZnSO4 adalah 0,00966 M. Dengan kompleks yang terbentuk adalah
[Zn(EDTA)]2-.
4. Konsentrasi Ni2+ dalam larutan Ni2+ yang didapatkan setelah dititrasi
adalah 0,0040 M. Dengan kompleks yang terbentuk adalah [Ni(EDTA)]2.
5. Persen kesalahan yang diperoleh yaitu sebesar 0%, sehingga dapat
dikatakan percobaan dilakukan dengan teliti.
4.1 Saran
Untuk kelancaran praktikum selanjutnya maka disarankan untuk:
1. Hati-hari dalam melakukan titrasi sehingga tidak melebihi titik akhir
titrasi.
2. Teliti dalam melihat skala buret.
3. Perubahan warna yang terjadi diamati dengan teliti.
4. Pengenceran dilakukan dengan tepat dan teliti.
DAFTAR PUSTAKA

G. Svehla. 1985. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi
Mikro. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka.

Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press

Sulistryarti, Hermin. 2014. Kimia Analisis Dasar untuk Analisis Kualitatif.


Malang: UB Media.

Taufik, Moh., dkk. 2018. Validasi Metode of Kadar pada Susu Segar secara
Titrasi Kompleksometri. Fakultas Bioindustri. Universitas Trilogi. Jakarta.

Triwahyuni M, Endang, dan Yusrin. Penggunaan Metode Kompleksometri


pada Penetapan Kadar Seng Sulfat dalam Campuran Seng Sulfat dengan
Vitamin C. Unimus.

Underwood, A.L, dan R.A. Day. JR. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jalkarta:
Erlangga.
LAMPIRAN 1. TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM
1. Apakah yang dimaksud dengan pengompleksan, masking dan demasking?
Jawab:
a. Pengomplekan yaitu suatu proses pembentukan molekul atau ion yang
berintegrasi antar sebuah ion logam dengan ligan elektron bebas melalui
ikatan kovalen koordinasi.
b. Masking yaitu suatu teknik untuk mencegah gangguan ion logam pada
titrasi kompleksometri dengan menggunakan pereaksi tertentu.
c. Demasking yaitu dilepaskannya ion pengganggu yang telah diikat oleh
masking agen dengan menggunakan pereaksi tetentu.
2. Apakah yang disebut dengan kestabilan kompleks, tetapan kestabilan
kondisional?
Jawab:
a. Kestabilan kompleks yaitu suatu tetapan pada saat kestabilan kompleks
dari ion logam dan ligan.
b. Kestabilan kondisional yaitu suatu kestabilan pada saat mencapai titik
ekivalen.
3. Apa itu indikator logam?
Jawab:
Indikator logam yaitu zat-zat yang dengan logam tertentu dapat membentuk
suatu kompleks yang warnanya berbeda dengan warna indikator pada
keadaan bebas dan pada pH tertentu.
4. Dapatkah EDTA dijadikan standar primer? Jelaskan!
Jawab:
EDTA tidak dapat digunakan sebagai standar primer karena:
a. Dapat bereaksi dengan semua logam kecuali logam alkali.
b. Mempunyai kestabilan kompleks yang besar.
c. Bersifat higroskopis sehingga tidak tahan disimpan dalam waktu yang
lama.
d. EDTA merupakan larutan yang tidak stabil.
5. Kenapa titrasi dilakukan pada pH 10, apa fungsi penambahan buffer,
kenapa tidak ditambahkan basa saja?
Jawab:
a. Titrasi kompleksometri dengan EDTA dilakukan pada pH 10 karena
kompleks yang terbentuk akan lebih stabil, jika pH besar dari 10 maka
logam akan mengalami pengendapan sebagai hidroksinya sedangkan jika
pH kecil dari 10 maka kompleks yang terbentuk tidak stabil.
b. Fungsi penambahan buffer yaitu untuk mempertahankan pH larutan agar
tetap konstan, sekalipun dalam proses terjadinya penambahan H2O.
c. Jika ditambahkan basa maka pH akan besar dari 10 sehingga logam akan
mengendap sebagai hidroksinya.
6. Kenapa penggunaan konsentrasi pada kompleksometri dalam satuan
molar?
Jawab:
Konsentrasi digunakan dalam satuan molar karena kompleks yang terbentuk
dengan EDTA adalah kompleks dengan perbandingan 1 : 1, sehingga akan
lebih mudah dinyatakan dalam molaritas dibandingkan normalitas.