Anda di halaman 1dari 4

NAMA : Anggi Cahaya Muhamaod

KELAS : MJ19C
NIK : 0311519025
PRODI : MANAJEMEN
MATERI : TAWASSUL DAN WASILAH

WASILAH DAN TAWASSUL

A. PENGERTIAN TAWASSUL
Tawassul adalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara
tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap
mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah. Jadi tawassul merupakan pintu dan
perantara doa untuk menuju Allah SWT.
Bentuk tawassul ada 3 macam, yaitu :

1. Masyru’, bertawassul dengan Asma’Allah(Asma’ul Husna), dengan amal


sholeh sendiri, serta doa dari orang sholeh yang masih hidup.
Berikut penjelasan Tawassul Masyru’ :
 Bertawassul dengan menyebut Asma’ Allah ini berarti kita mengagungkan Allah
SWT, menyucikan-Nya, memuji-Nya lalu setelah itu berdoa kepada-Nya agar Allah
SWT mengabulkan hajat kita.
Al-Qur’an menyebutkan tentang ini dalam surat Al-Araf ayat 180.
“ Hanya milik Allah Asma-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut Asma-ul Husna itu dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari
kebenaran dalam (menyebut) Nama-Nya. Mereka akan mendapat balasan dari apa
yang mereka telah kerjakan” QS: Al-Araf(180)
 Muslim yang bertawassul dengan amal sholehnya sendiri.
Hal ini terdapat di surat Ali-Imran ayat 16
“Yaitu orang-orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman,
maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa Neraka’.” QS: Ali-
Imran(16)
 Bertawassul dengan doa orang sholeh yang masih hidup, orang tua, saudara sesama
Muslim. Saat kita ditimpa musibah, ujian, atau ada hajat yang ingin dikabulkan Allah
tetapi kita merasa masih banyak kekurangan dihadapan Allah SWT, kita boleh
meminta doa kepada orang sholeh yang masih hidup.
2. Bid’ah, bertawassul dengan cara-cara yang tidak dibenarkan Syari’at Islam.
Contohnya bertawassul dengan kehormatan, kedudukan Nabi atau orang-orang
sholeh.
3. Syirik, bertawassul dengan orang yang telah mati, berdoa meminta rezeki,
pertolongan di kuburan.
Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :
“Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang bersih(dari syirik). Dan orang-orang
yang mengambil perlindungan selain Allah (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka
melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’.
Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka
selisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk bagi orang pendusta dan
sangat ingkar”. QS: Az-Zumar(3)

B. PENGERTIAN WASILAH

Al-Wasilah (ُ‫ )ا َ ْل َو ِس ْيلَة‬secara bahasa (etimologi) berarti segala hal yang dapat menyampaikan
serta dapat mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah [1] wasaa-il (ُ‫سائِل‬ َ ‫)و‬.
َ Al-
Fairuz Abadi mengatakan tentang makna “ ‫ل‬ َّ ‫لا للاُِ إِلَى َو‬
َُ ‫س‬ ُ ‫”ت َْو ِس ْي‬: “Yaitu ia mengamalkan suatu
amalan yang dengannya ia dapat mendekatkan diri kepada Allah, sebagai perantara.” Selain
itu wasilah juga mempunyai makna yang lainnya, yaitu kedudukan di sisi raja, derajat dan
kedekatan. Wasilah secara syar’i (terminologi) yaitu yang diperintahkan di dalam Al-Qur-an
adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu
berupa amal ketaatan yang disyari’atkan.

C. PELARANGAN WASILAH DAN TAWASSUL

 Hijriah ibn Taymiah mengingkarinya. Dua abad kemudian permasalahannya menjadi


semakin serius ketika Muhammad bin Abdul Wahab menyebut tawassul sebagai
perbuatan yang tidak syari’i dan mengenalkannya sebagai bid’ah serta kadang-kadang
dianggap sebagai menyembah para Auliya.” (Subhani, syaikh Ja’far. 1989. Kritik Atas
Faham Wahabi. Jakarta: Pustaka Hidayah)
 Muhammadiyah
 Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Dalam salah satu fatwanya, Bin Baz berkata: Tidak boleh tawasul pada dzat Nabi
Muhammad, Nabi-nabi yang lain dan para orang sholeh yang sudah meninggal. Dan
tidak boleh tawasul ke hadapan Nabi Muhammad dan lainnya karena hal itu adalah
bid’ah yang tidak ada dalilnya dari Nabi atau Sahabat Nabi.
Yang boleh adalah tawassul dengan menunjukkan cinta pada Nabi Muhammad dan
beriman padanya dan mengikuti syariatnya pada masa hidup dan wafatnya Nabi seperti
firman Allah QS Ali Imron 3:31

D. PEMBOLEHAN WASILAH DAN TAWASSUL

 Nadhatul Ulama
 Hadits riwayat Ibnu Majah [1385], Ahmad [4/138], Hakim [1/313] Menurut Al-Rifa’i
Al-Wahabidalam kitab At-Tawashul ila Haqiqat al-Tatawassul, hlm. 158, menyatakan
bahwa hadits ini masyhur dan sahih.
‫ (إن‬: )‫ فقال(ص‬,‫ أدع هللا أن يعافيني‬:‫ إن رجالً ضريرا ً أتى النبي (ص) فقال‬:‫وروي عن عثمان بن حنيف أنه قال‬
‫ فأمره (صلى هللا عليه وآله) أن يتوضّأ فيحسن وضوءه‬,‫ فادعه‬:‫ قال‬,) ‫ وإن شئتَ صبرتَ وهو خير‬,‫شئتَ دعوت‬
ّ ‫ (( الله ّم إنّي أسألك وأتو ّجه إليك بنبيّك نب‬:‫ويصلّي ركعتين ويدعو بهذا الدعاء‬
‫ يا محمد إنّي أتو ّجه بك إلى‬,‫ي الرحمة‬
‫تفرقنا وطال بنا الحديث حتّى دخل علينا كأن‬ ّ ‫ فوهللا ما‬:‫ قال ابن حنيف‬.)) ‫ي‬ ّ ‫ اللهم شفّعه ف‬,‫ربّي في حاجتي لتقضى‬
.‫ضر‬
ّ ‫لم يكن به‬
Artinya: Diriwayatkan melalui sahabat ‘Usman bin Hunaif ada seseorang yang sedang
sakit datang ke baginda Nabi Muhammad SAW lalu berkata: Ya Rasulullah do’akan
kami semoga Allah SWT memberikan kesembuhan kepadaku. Nabipun bersabda:
seandainya kamu bersabar maka itu yang terbaik bagimu. Orang yang sakit berkata
lagi: Do’akan kami. Dalam satu riwayat : ini sulit bagiku karena tidak ada yang
menuntun kami.
Akhirnya Rasululah pun memerintahkannya berwudhu’ dan berdo’a dengan do’a: Ya
Allah kami meminta dan menghadap kepadamu dengan lantaran nabi mu Muhammad
SAW Nabi membawa kedamaian. Wahai Muhammad sesungguhnya kami menghadap
kepadamu sebagai wasilah kepada tuhanku untuk mengabulkan hajatku. Ya Allah
berikan syafa’at baginda Nabi Muhammad kepadaku.
Ibnu Hunaif berkata: Demi Allah tidak lama setelah itu seakan-akan tidak terjadi apa-
apa padanya.
 Madzhab Hanafi
Dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah 1/266 “Kitab al-Manasik” bab ziyarah makam
(kuburan) Nabi Muhammad dan setelah menguraikan tata cara ziarah ke kuburan
Rasulullah, lalu diterangkan doa-doa yang sebaiknya diucapkan peziarah sbb: (a)
peziarah berdiri di dekat kepala Nabi; (b) dan ucapkan doa berikut:

‫ظلَ ُموا ِإذ أَنَّ ُهم َولَو“ الحق وقولك قلت إنك اللهم‬
َّ ‫س ُهم‬
َ ُ‫ َجا ُءوكَ أَنف‬..” ‫اآلية‬، ‫أمرك طائعين قولك سامعين جئناك وقد‬،
‫إليك بنبيك مستشفعين‬
Dalam doa tersebut terdapat tawasul pada Nabi.

 Mazhab Maliki

Ibnul Haj dalam kitabnya Al-Madkhal 1/259-260 menyatakan: Tawasul kepada Nabi
Muhammad adalah tempat untuk menghapus tanggungan dosa dan kesalahan. Karena
barokah syafaat Nabi dan keagungan Nabi di sisi Tuhannya tidak bisa dikalahkan oleh
dosa. Karena syafaatnya lebih besar dari semuanya. Maka bergembiralah orang yang
berziarah ke makamnya dan berdoa pada Allah dengan syafaat Nabinya. Adapun orang
yang belum mengunjungi makam Rasulullah semoga Allah tidak menghalangi
syafatnya dengan kehormatannya di sisimu. Siapa yang berkeyakinan berbeda dengan
ini, maka dia orang yang terhalang (mahrum).

 Madzhab Syafi’i

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmuk, “Kitab Sifat Haji: Bab Ziyarah Kubur Nabi”,
hlm. 8/274 berkata: Peziarah (kubur Nabi) hendaknya kembali ke tempatnya yang
pertama dengan menghadap wajah Rasulullah dan bertawassul dengannya dalam hak
dirinya dan meminta syafaat Nabi pada Tuhannya. Teks Arab:
‫للا رسول وجه قُبالة األول موقفه إلى يرجع ثم‬ ّ ‫به ويستشفع نفسه حق في )))به ويتوسل((( وسلّم عليه‬
ّ ‫للا صلى‬
‫ربه إلى‬
 Mazhab Hanbali

Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hambali, membolehkan tawassul yang
dinukil oleh Al-Mardawi dalam Al-Inshaf “Kitab Shalat Istisqo”, hlm. 2/456: “Faidah:
Boleh tawasul dengan orang soleh menurut pandangan yang sahih dari madzhab.
Dikatakan: Disunnahkan. Imam Ahmad Al-Mardawi berkata: Boleh bertawasul dengan
Nabi dalam doanya. Pendapat ini ditetapkan oleh Al-Mardawi dalam Al-Mustaw’ab
dan lainnya.

E. KESIMPULAN
Pendapat saya tawassul itu diperbolehkan. Bertawassul dengan amal sholeh kita sendiri
yaitu menjalankan segala perintahnya lalu kita memohon agar dosa kita dapat
diampuni. lalu menyebut asma allah, membangga-banggakan allah. Meminta di doakan
dengan orang-orang sholeh, karena kita merasa masih jauh kedudukannya di depan
allah minta di doakan agar semakin dekat dengan allah.

Anda mungkin juga menyukai