Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi.
Sistern ini meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf
mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor
adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan
tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang
menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Contohnya otot dan kelenjar. Otot adalah jaringan
peka rangsang, mencetuskan mekanisme kontraksi spesialis kontraksi pada tubuh, mampu
mengubah energi listrik menjadi energi kimiawi, dan mengandung protein-protein kontraktil.
Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf
otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf
otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak
saluran pencernaan, dan sekresi keringat.
Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan.
Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas 8 pasang saraf
leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul,
dan satu pasang saraf ekor. Beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf
yang disebut pleksus. Ada 3 buah pleksus yaitu pleksus cervicalis merupakan
gabungan urat saraf leher yang mempengaruhi bagian leher, bahu, dan diafragma;
pleksus brachialis mempengaruhi bagian tangan.; pleksus jumbo sakralis yang
mempengaruhi bagian pinggul dan kaki.
1.2 Tujuan praktikum
Praktikum tentang otot dan saraf tepi dilakukan dengan tujuan untuk memperlakukan
hewan percobaan dengan menimbulkan sakit yang seminimal mungkin agar katak tidak
merasakan rasa sakit, kemudian otaknya dirusak dan agar tidak meronta selama perlakuan.
BAB II
METODE KERJA

2.1 Tempat dan Waktu


Kegiatan praktikum tentang otot dan susunan saraf tepi, dilakukan pada :
Tempat :
Waktu :
2.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum adalah :
1. Alat :
Skapel.
Sonde.
Gunting.
Pinset biasa.
Pinset galvanis
Papan gabus
Korek api
2. Bahan :
Katak Bufo sp.
Larutan garam faali
Serbuk garam dapur
Cuka glasial

2.3 Cara Kerja :


A. Cara mematikan katak untuk percobaan
1. Katak dipegang pada bagian kepalanya, dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah,
kemudian difiskir dengan ketiga jari lainnya. Kepala katak dibengkokkan.
2. Otak katak ditusuk dengan menggunakan sonde yang tajam pada foramen oksipitalenya (pada
sudut antara garis tulang kepala dengan garis tulang punggung)
3. Sonde dimasukkan kira-kira ½ cm dan diputar ke kiri, kanan, dan bawah dan dimaju mundurkan.
4. Bila matanya setengah menutup dan tidak ada reaksi terhadap sentuhan perusakan dihentikan.
5. Sumsum punggungnya dirusakkan dengan menusukkan ke arah belakang dengan bekas tusukan
pertama kali. Sonde dilepaskan hingga kaki katak menjadi lemas.
B. Membuat sediaan otot saraf
1. Katak yang telah dimatikan diletakkan di atas papan katak, telungkup
2. Facia antara m. Biceps femoris dengan m. Semimembranosus disayat, hingga tampak n.
Ischiadicus dan a. Femoralis setelah kedua otot dikuakkan.
3. Ischiadicus ditelusuri dengan menggunting otot-otot di sebelah atasnya, hingga sampai ke daerah
punggung..
4. Tulang di lateral perut dipotong, kemudian dibuka kulit dan otot dan perut. Jeroan disingkirkan.
5. Badan katak dimiringkan sebesar 120o sementara kakinya tetap telungkup sambil diusahakan
mengamati n. Ischiadicusnya.
6. Kaki kulit dikupas hingga didapatkan ¼ os femur, n. Ischiadicus sepanjang mungkin, m.
Gastrocnemius, tendo achilles.
7. Sediaan dimasukkan ke dalam gelas arloji yang telah diisi dengan larutan garam faali.
C. Berbagai macam rangasangan pada sediaan otot saraf
1. Rangsangan mekanis
Pangkal n ischiadicus dengan batang korek api atau gelas pengaduk
2. Ransangan galvanis
Kaki pinset galvanis ditempelkan pada saraf. Saraf harus dalam keadaan basah oleh larutan
garam faali. Satu pinset galvanis ditempelkan pada saraf, dan kaki satunya pada medium garam
faali. Kemudian, kaki-kaki pinset ditempelkan pada mediumnya saja ssementara saraf berada di
tengahnya.
3. Rangsangan osmotis
Dengan gelas atau gelas pengaduk sejumloah serbuk garam dapur ditempelkan pada pangkal
saraf. Tunggu beberapa menit hingga muncul sifat kontraksi. Jika tidakm ada garam dapur maka
dapat digunakan gliserin.
4. Rangsangan kimiawi
Sepotong kertas atau kapas dicelupkan ke dalam cuka glasial dan ditempelkan pada pangkal
saraf.
5. Rangsangan panas
Korek api dinyalakan kemudian dipadamkan lalu segera ditempelkan pada pangkal saraf. Atau
gelas pengaduk direndam dalam air mendidih kemudian secara hati-hati diangkat dan
ditempelkan pada pangkal saraf.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.1 Hasil
a. Mematikan katak untuk percobaan
Langkah Keterangan
Foramen oksipitale ditusuk Kaki katak meronta-ronta
menggunakan sonde kira-kira ½
cm dan menusuk ke sumsum
punggung.
Sonde ditusukan Mata katak meredup

b. Membuat sediaan otot saraf


Diperoleh otot n. Ischiadicus, m. Gastrocnemicus, dan tendo achialis.

c. Rangasangan pada sediaan otot saraf


Jenis rangsangan Keterangan
Rangsangan mekanis Terdapat kontraksi otot
Rangsangan galvanis Terdapat kontraksi otot
Ransangan osmotis Terdapat kontraksi otot
Ransangan kimiawi Terdapat kontraksi otot
Rangsangan panas Terdapat kontraksi otot yang lebih cepat atau
otot lebih cepat berkontraksi

1.2 Pembahasan\
Dari hasil pengamatan di laboratorium tentang otot dan susunan saraf tepi, diperoleh hasil
yakni:
a. Mematikan katak untuk percobaan
Pada saat mematikan katak untuk percobaan, dengan menusukan foramen
oksipitale menggunkan sonde kira-kira ½ cm dan ditusuk hingga ke punggung,
diperoleh hasil, yakni kaki katak meronta-ronta. Sewaktu sonde ditusukan diperoleh
hasil yakni mata kataas meredup. Hal ini disebabkan oleh peran dari beberapa sistem
saraf mengalami gangguan. Adapun sistem saraf tersebut adalah sumsum punggung
atau medula spinalis dari katak. Medulla spinalis merupakan lanjutan dari medulla
oblongata yang masuk ke dalam kanalis vertebralis. Pada amphibi, medulla spinalis
mengalami pembesaran di bagian servikalis. Medulla spinalis berfungsi menghantarkan
impuls sensori dari saraf perifer ke otak dan menyampaikan impuls motoris dari otak ke
saraf perifer. Selain itu juga merupakan pusat dari refleks. Pada penampang melintang
sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam
berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap
yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk
ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang
melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui
tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf
penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan
akan menghantarkannya ke saraf motor. Pada bagian putih terdapat serabut saraf
asosiasi. Kumpulan serabut saraf membentuk saraf (urat saraf). Urat saraf yang
membawa impuls ke otak merupakan saluran asenden dan yang membawa impuls
yang berupa perintah dari otak merupakan saluran desenden.
Berdasarkan fungsi medula spinalis maka ketika sumsum tulang belakang dari
katak dirusakan, diperoleh hasil yakni katak meronta-ronta dan mata katak mulai
meredup. Hal ini menunjukkan adanya reaksi terhadap perlakuan yang diberikan.
Medula spinalis sebagai pusat pengendali refleks mengalami gangguan sehingga katak
tidak meronta-ronta ketika diberi perlakuan selanjutnya.
b. Membuat sediaan otot saraf
Membuat sediaan otot saraf dapat dilakukan dengan meletakan katak yang terlah diperlakukan
pada bagian pertama, telungkup, kemudian menyayat fasia antara m. Biseps femoris dengan m.
Semimembranosus hingga tampak n. Ischiadicus. Hal tersebut dilakukan atau ditelusuri hingga
ke bagian punggung. Tulang lateral di perut dipotong kemudian dikupas kulit kakinya. Dengan
demikian dapat diperoleh beberapa sediaan otot saraf yakni, ¼ os femur, n. Ischiadicus, m.
Gastrocnemicus, dan tendo achilles. Sediaan tersebut dimasukkan ke dalam gelas arloji yang
terisi garam faali.
c. Memberikan rangsangan pada otot saraf
Beberapa rangsangan yang diberikanpada otot saraf yakni : rangsangn mekanis, rangsangan
galvanis, rangsangan osmotis, rangsangan kimiawi, dan rangsangan panas.
1. Rangsangan mekanis dapat dilakukan dengan memijit pangkal dari nervus ischiadicus dengan
batang korek api atau gelas pengaduk. Hal ini menyebabkan timbulnya reaksi berupa kontraksi
otot yang sederhana.
2. Rangsangan galvanis, merupakan rangsangan yang melibatkan garam faali, di mana kaki-kaki
pinset galvanis ditempelkan pada saraf dan saraf harus dalam keadaan basah oleh garam faali.
Pada perlakuan ini, diperolehg hasil yakni, adanya kontraksi otot yang merupakan reaksi dari
rangsangan yang diberikan.
3. Ragsangan osmotis, merupakan rangsangan yang diberikan dengan memberikan sejumlah
serbuk garam dapur atau gliserin pada pangkal saraf. Pelakuan ini pun menimbulkan reaksi
berupa kontaksi otot.
4. Rangsangan kimiawi, merupakan rangsangan yang diberikan pada saraf katak dengan
menempelkan sepotong kertas atau kapas yang seudah dicelupkan dalam cuka glasial, pada
pangkal saraf. Hal tersebut menunjukkan adanya reaksi yang ditimbulkan yakni berupa kontraksi
otot.
5. Rangsangan panas merupakan rangsangan yang diberikan dengan menenpelkan batang korek api
yang baru saja dinyalakan kemudian ditiup untuk ditempelkan pada pangkal saraf. Hasil yang
diperoleh adalah berupa kontraksi otot yang sangat kut. Hal ini disebabkan oleh faktor intensitas
rangsangan yang sangat kuat dari rangsangan panas.

BAB III
PENUTUP

Untuk memperlakukan hewan percobaan dengan menimbulkan sedikit rasa sakit atau
agar hewan percobaan tidak merasakan sakit, maka langkah yang dapat digunakan adalah
merusakan sum-sum punggung dari hewan tersebut. Hal ini dikarenakan fungsi dari sumsum
punggung adalah sebagai pusat refleks.