Anda di halaman 1dari 15

KUMPULAN ARTIKEL KASUS GIAA DAN SNP FINANCE

Makalah

Disusun oleh:

Ardelia Argyanti : 32170293

Laurencia Yoleta : 35170287

Bima Primustaka : 30170262

Steven : 36170149

Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie

Jl. Yos Sudarso Kav 85 No.87

Jakarta

2019
https://tirto.id/soal-laporan-keuangan-garuda-klaim-sudah-sesuai-standar-akuntansi-dnh6

Soal Laporan Keuangan, Garuda Klaim Sudah Sesuai Standar Akuntansi

Hampir sepekan setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST)


laporan keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) diduga melakukan manipulasi
akuntansi perihal pendapatan besar di tahun 2018. Menanggapi hal tersebut, Direktur
Keuangan & Manajemen Risiko Garuda Indonesia Fuad Rizal menjelaskan, pihak
Garuda mengklaim tidak melanggar Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 23 karena
secara subtansi pendapatan dapat dibukukan sebelum kas diterima. "PSAK 23
menyatakan kategori pengakuan pendapatan yaitu penjualan barang, penjualan jasa
dan pendapatan atas bunga, royalti dan dividen di mana seluruhnya menyatakan
kriteria pengakuan pendapatan yaitu pendapatan dapat diukur secara handal, adanya
manfaat ekonomis yang akan mengalir kepada entitas dan adanya transfer of risk,"
jelas dia, di Jakarta Senin (29/4/2019). Fuad menjelaskan, dengan hasil audit dari
KAP Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang & Rekan yang merupakan anggota dari
BDO International dan Big 5 (Five) Accounting Firms Worldwide. Laporan Garuda
dinyatakan dalam pendapat auditor telah disajikan secara wajar. Ia mengatakan,
seluruh hal material ini wajar tanpa pengecualian, pihaknya yakin bahwa pengakuan
pendapatan atas hasil laporan tersebut. "Biaya kompensasi atas transaksi dengan
Mahata telah sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku," kata dia. Ia
mengatakan, sebagai Big5 Audit Firm, BDO seharusnya telah menerapkan standar
audit internasional. Sementara itu, perihal transaksi layanan konektivitas dengan
Mahata Aero Teknologi, Direktur Teknik dan Layanan Garuda Iwan Joeniarto
menambahkan, kerja sama layanan konektivitas antara Garuda Grup dengan Mahata
merupakan kerja sama yang saling menguntungkan. Ini juga tujuan untuk
meningkatkan pelayanan kepada penumpang untuk menunjang perkembangan e-
commerce yang sangat pesat dan berkembang saat ini. Ia mengatakan, Mahata telah
didukung oleh Lufthansa System untuk kerja sama sistem on-board network.
Lufthansa Technic untuk penyediaan perangkat wifi di pesawat, Inmarsat dalam hal
kerja sama konstelasi satelit. CBN dalam hal kerja sama penyediaan jaringan fiber
optik, KLA dalam hal kerja sama penjualan kuota pemakaian internet dan juga dengan
Aeria dan Motus untuk kerja sama penyediaan layanan penjualan iklan, untuk
mendukung memberikan pelaksanaan layanan kepada Garuda Grup. "Pada perjanjian
kerja sama layanan konektivitas dalam penerbangan dan pengelolaan layanan hiburan
di pesawat, terdapat dua transaksi yaitu biaya kompensasi atas penyerahan hak
pemasangan layanan konektivitas serta pengelolaan in-flight entertainment, dan bagi
hasil [profit-sharing] atas alokasi slot untuk setiap pesawat terhubung selama periode
kontrak," kata dia. Atas transaksi tersebut, Garuda Grup mengakui pendapatan yang
merupakan pendapatan atas penyerahan hak pemasangan konektivitas, seperti halnya
signing biaya pembelian hak penggunaan hak cipta untuk bisa melaksanakan bisnis di
pesawat Garuda Grup. Penjualan atas hak ini tidak tergantung oleh periode kontrak
dan bersifat tetap di mana telah menjadi kewajiban pada saat kontrak ditandatangani.
"Garuda Grup tidak memiliki sisa kewajiban setelah penyerahan hak pemasangan alat
konektivitas tersebut," kata dia. Ia mengatakan, dengan pendapat hukum dari Kantor
Hukum Lubis, Santosa & Maramis bahwa pembayaran kompensasi Hak pemasangan
tersebut tidak serta-merta menimbulkan kewajiban Garuda Grup untuk
mengembalikan Biaya Hak kompensasi yang telah dibayarkan Mahata apabila di
kemudian hari terdapat pemutusan kontrak kerjasama. Sementara itu, Ketua Institut
Akuntan Publik Indonesia (IAPI) Tarkosunaryo berpendapat lain terkait metode
akuntansi yang disebut metode akrual. Yakni, metode pencatatan akuntansi yang
memungkinkan piutang dimasukkan sebagai pendapatan meskipun uangnya belum
diterima. Namun, tak sembarang piutang bisa dicatat sebagai pendapatan. Piutang itu
harus jelas kontrak pembayaran dan penagihannya. “Kalau misalnya 15 tahun itu
diakui dalam satu tahun, pertanyaannya itu, apakah memang yang 15 tahun itu sudah
diselesaikan dalam waktu setahun?” kata dia, kepada reporter Tirto, pekan lalu.
Dihubungi terpisah, anggota Dewan Konsultatif Standar Akuntansi Keuangan IAI
Cris Kuntandi punya pandangan senada. Menurutnya, laporan manajemen Garuda
yang mencatatkan transaksi 15 tahun dalam 1 tahun buku akuntansi adalah pelaporan
yang tidak wajar. Dalam sistem pelaporan akuntansi yang wajar, sebut dia, harusnya
nilai transaksi selama 15 tahun dibagi rata setiap tahunnya selama durasi kerja sama
yang disepakati. Karena harus ada perbandingan yang seimbang antara pendapatan
(revenue) dengan beban operasi (cost) di masing-masing tahun. “Artinya pendapatan
itu harus disebar selama 15 tahun lagi,” ujarnya. Selain tak wajar, Cris menilai,
pencatatan transaksi itu juga berpotensi menimbulkan masalah keuangan pada Garuda
di masa depan. Menurutnya, karena sudah dicatat di tahun buku 2018, maka Garuda
tak bisa mencatat uang masuk dari Mahata setiap tahunnya sebagai pendapatan dalam
laporan keuang tahunan selama periode kerja sama. “Risiko yang selanjutnya yaitu di
tahun berikutnya nggak ada pendapatan. Yang kemudian hanya ada biaya pengeluaran
saja,” sambung dia. Dengan demikian, Garuda justru berisiko mencatat
pembengkakan beban operasi dalam laporan keuangannya, namun tak diimbangi
dengan catatan pendapatan lantaran pendapatan yang dimaksud sudah dicatat dalam
laporan tahun 2018. “Itu nggak bakal nyambung [laporan beban operasi dan
pendapatannya], wong itu biayanya keluar dalam 15 tahun. Kok pendapatannya diakui
dalam satu tahun tersebut [hanya di 2018]," jelas dia. Mengulik lagi ke belakang,
polemik laporan keuangan Garuda Indonesia berawal dari penolakan dua Komisaris
Garuda yakni yakni Chairul Tanjung dan Dony Oskaria terhadap laporan keuangan
tersebut. Keduanya mengaku mencurigai sebuah transaksi yang berkontribusi besar
terhadap kondisi keuangan Garuda dari rugi besar jadi untung hanya dalam 3 bulan.
Transaksi yang dicurigai itu adalah Perjanjian Kerja Sama Penyediaan Layanan
Konektivitas Dalam Penerbangan, antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink
Indonesia, pada 31 Oktober 2018. Dari perjanjian tersebut, pendapatan GIAA dari
Mahata sebesar 239,94 juta dolar AS yang diantaranya sebesar 28 juta dolar AS
merupakan bagian dari bagi hasil yang didapat dari PT Sri Wijaya Air. Menurut
keduanya, seharusnya catatan transaksi itu tidak dapat diakui dalam tahun buku 2018.
Apalagi durasi kerjasamanya cukup panjang yakni mencapai 15 tahun.
https://kolom.tempo.co/read/1200150/mempersoalkan-laporan-keuangan-garuda/full&view=ok

Mempersoalkan Laporan Keuangan Garuda


Garuda Indonesia harus terbuka mengenai proses penyusunan laporan keuangan tahun buku
2018 yang diduga tidak sesuai dengan pendapatan riil perusahaan pelat merah tersebut.
Jangan sampai laporan tersebut malah membebani perseroan di masa depan.

Garuda diketahui memasukkan pendapatan 15 tahun ke depan sebagai pendapatan 2018.


Nilainya amat besar, bahkan untuk Garuda, sekitar US$ 239,9 juta atau Rp 3,47 triliun (kurs
dalam laporan keuangan 14.481 per dolar AS). Pendapatan tersebut berasal dari kerja sama
layanan tambahan antara PT Mahata Aero Teknologi dan anak usaha Garuda, PT Citilink
Indonesia, yang diteken pada Oktober 2018 dan berlaku selama 15 tahun. Garuda, yang
hingga triwulan ketiga tekor sekitar Rp 1,64 triliun, mendadak untung hampir Rp 72,6 miliar
pada akhir 2018.

Memang sah-sah saja Garuda mengklaim transaksinya dengan Mahata sebagai pendapatan.
Praktik semacam ini lazim dilakukan oleh perusahaan. Akuntansi mengenalnya sebagai
metode akrual, yakni ketika penerimaan dan pengeluaran dicatatkan saat transaksi terjadi,
bukan ketika uangnya diterima atau dikeluarkan.

Garuda baru mendapat pembayaran dari Mahata sebesar Rp 96,56 miliar. Ini cuma 2,8 persen
dari total kesepakatan. Adapun sisa pembayarannya dimasukkan dalam pendapatan 2018
sebagai piutang lain-lain. Hal ini berpotensi memicu masalah neraca keuangan di masa
depan, karena pendapatan dari Mahata sudah tak bisa lagi dibukukan pada tahun-tahun
berikutnya, sementara pengeluaran terus berlangsung.

Garuda lebih baik meningkatkan kinerja. Tak bakal gampang, memang. Industri penerbangan
sedang menghadapi masa sulit, bahkan untuk maskapai terbaik dunia sekalipun, seperti
Cathay Pacific. Maskapai Hong Kong ini mengalami kerugian hampir setengah triliun rupiah
pada semester pertama tahun lalu. Penyebabnya di antaranya adalah peningkatan biaya
operasional akibat kenaikan biaya perawatan dan harga bahan bakar.

Bagi Garuda, ada problem kronis lainnya. Maskapai ini terus menghadapi krisis
kepemimpinan. Sejak Emirsyah Satar mengundurkan diri pada Desember 2014, maskapai
pelat merah ini telah berganti direktur utama tiga kali. Belakangan, Komisi Pemberantasan
Korupsi menetapkan Emirsyah sebagai tersangka dugaan suap pengadaan mesin pesawat
Garuda.

Sebenarnya tren kinerja Garuda membaik. Pada triwulan pertama 2019, pendapatan Garuda
dilaporkan naik 36 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Maka, sungguh
disayangkan upaya keras itu dirusak. Gara-gara skandal ini, harga saham Garuda di Bursa
Efek Indonesia merosot 7,6 persen, menjadi Rp 462 per lembar, pada penutupan Jumat lalu.

Karena itu, langkah Badan Pemeriksa Keuangan dan BEI memeriksa kantor akuntan publik
yang mengaudit laporan keuangan Garuda patut didukung. Seharusnya Otoritas Jasa
Keuangan juga menelusuri kasus ini, termasuk menemukan motifnya, karena lembaga inilah
yang bertanggung jawab meloloskan laporan keuangan sebuah perusahaan terbuka.

Garuda Indonesia juga harus segera memberi klarifikasi kepada publik, mengingat statusnya
sebagai perusahaan terbuka. Jangan sampai publik menganggap Garuda mengarang angka.

https://www.academia.edu/40194279/MAKALAH_KASUS_AUDIT_PT_GARUDA_INDONESIA_
2019
Analisis Kasus Garuda:
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memutuskan bahwa PT Garuda Indonesia(Persero) Tbk
melakukan kesalahan terkait kasus penyajian Laporan KeuanganTahunan per 31 Desember
2018.Pihak OJK yang diwakili oleh Deputi KomisionerHubungan Masyarakat dan
Manajemen Strategis, Anto Prabowo, mengungkapkanbahwa Garuda Indonesia telah terbukti
melanggar1. Pasal 69 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UU PM)

(1) Laporan keuangan yang disampaikan kepada Bapepam wajib disusunberdasarkan prinsip
akuntansi yang berlaku umum. (2) Tanpa mengurangiketentuan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), Bapepam dapatmenentukan ketentuan akuntansi di bidang Pasar Modal.

2. Peraturan Bapepam dan LK Nomor VIII.G.7 tentang Penyajian danPengungkapan


Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik.3. Interpretasi Standar Akuntansi
Keuangan (ISAK) 8 tentang Penentuan ApakahSuatu Perjanjian Mengandung Sewa.4.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 30 tentang Sewa.2.

3. Sanksi Untuk PT Garuda IndonesiaDeputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II, Fakhri
Hilmi, mengatakan setelahberkoordinasi dengan Kementerian Keuangan Republik
Indonesia ,Pusat PembinaanProfesi Keuangan, PT Bursa Efek Indonesia, dan pihak terkait
lainnya, OJK memutuskan memberikan sejumlah sanksi.

1. Memberikan Perintah Tertulis kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbkuntuk


memperbaiki dan menyajikan kembali LKT PT Garuda Indonesia(Persero) Tbk per 31
Desember 2018 serta melakukan paparan publik (publicexpose) atas perbaikan dan penyajian
kembali LKT per 31 Desember 2018dimaksud paling lambat 14 hari setelah ditetapkannya
surat sanksi, ataspelanggaran Pasal 69 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang
PasarModal (UU PM) ,Peraturan Bapepam dan LK Nomor VIII.G.7 tentangPenyajian dan
Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dan PerusahaanPublik, Interpretasi Standar
Akuntansi Keuangan (ISAK) 8 tentang Penentuan Apakah Suatu Perjanjian Mengandung
Sewa, dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 30 tentang Sewa.

2. Selain itu juga Perintah Tertulis kepada KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi,Bambang &
Rekan (Member of BDO International Limited) untuk melakukanperbaikan kebijakan dan
prosedur pengendalian mutu atas pelanggaranPeraturan OJK Nomor 13/POJK.03/2017 jo.
SPAP Standar PengendalianMutu (SPM 1) paling lambat 3 (tiga) bulan setelah ditetapkannya
surat perintahdari OJK.3. Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen
Strategis, AntoPrabowo mengatakan, OJK juga mengenakan Sanksi Administratif
berupadenda sebesar Rp 100 juta kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk ataspelanggaran
Peraturan OJK Nomor 29/POJK.04/2016 tentang LaporanTahunan Emiten atau Perusahaan
Publik.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3653257/begini-awal-mula-kasus-snp-finance-yang-
rugikan-14-bank

Begini Awal Mula Kasus SNP Finance yang Rugikan 14 Bank


Liputan6.com, Jakarta Satu lagi kasus di sektor keuangan yang menyedot perhatian masyarakat.
Perusahaan multifinance PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) diketahui
merugikan 14 bank di Indonesia hingga triliunan rupiah.
SNP Finance merupakan bagian dari Columbia, toko yang menyediakan pembelian barang secara
kredit. Dalam kegiatannya SNP Finance mendapatkan dukungan pembiayaan pembelian barang
yang bersumber dari kredit perbankan.
Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Slamet Edy Purnomo
mengungkapkan jika permasalahan pada SNP Finance sudah tercium sejak Juli 2017.
"Jadi yang membongkar awal adalah pengawas. Jadi di 2017 sudah tertangkap ada angka CAPS
itu suatu aplikasi connecting antara SNP sebagai multifinance dengan bank seperti Bank Mandiri
yang paling besar. Jadi ada beda itu (angka)," jelas dia di Jakarta, Rabu (26/9/2018).
OJK kemudian meminta dilakukan pemeriksaan kepada pihak perbankan secara internal dan oleh
pengawas.
Pada 2018, OJK kembali melakukan evaluasi. Lembaga ini dikatakan terlebih dulu memberi
kesempatan kepada internal perbankan untuk menyelesaikan saat diketahui terjadi masalah.
"Jadi dilakukan oleh investigator internal Bank Mandiri dan ditemukan memang terrnyata tidak
pernah dilakukan reconcile antara banking dan dari situ kita dalami lagi prosesnya dan ternyata
ada kesalahan di sistem yang tidak sempurna," jelas dia.
Slamet Edy menuturkan, terlepas dari kesalahan sistem yang bisa diperbaiki, tim kemudian
berkoordinasi dengan pengawas SNP di Industri Keuangan Non Bank (IKNB).
"Lalu muncul akhirnya hasil seperti itu dan akhirnya ketemu lagi sampai masalah MTN. Semua
dipanggil Pefindo, semuanya dipanggil. Dan dari hasil pemeriksaan saya lihat semua pengawasan
jalan baik dari Bank Mandiri," tegas dia.
Dia menuturkan, jika permasalahan ada terkait data yang diberikan SNP. Adapun
mekanisme pemberian pinjaman kepada SNP Finance yang dilakukan dengan sistem executing.
Bank memberikan kredit berupa joint financing atau memberikan langsung ke perusahaan
pembiayaan tersebut. Kemudian SNP Finance yang meneruskannya kepada pengguna.
Untuk mendapatkan kredit ini, terlebih dulu ditunjuk auditor publik yang bertugas memeriksa
laporan keuangan. Auditor yang ditunjuk adalah Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte yang
menilai kondisi keuangan SNP Finance.
"Kalau laporan keuangan dia bagus harus diaudit eksternal dan biasanya menunjuk standar
internasional," tutur Slamet Edy.
Kemudian seiring dengan turunnya bisnis toko Columbia, kredit perbankan tersebut mengalami
permasalahan menjadi Non Performing Loan (NPL).
Kondisi tersebut telah diantisipasi perbankan dengan melakukan pencadangan (PPAP) pada tahun
yang sudah lewat, sehingga perbankan dapat meng-absorb risiko gagal bayar.
Salah satu tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance untuk mengatasi kredit bermasalah tersebut
adalah melalui penerbitan Medium Term Note (MTN), yang diperingkat oleh Pefindo
berdasarkan laporan keuangan SNP yang diaudit DeLoitte.
Slamet Edy mengatakan jika penerbitan MTN tidak melalui proses di OJK. Ini mengingat MTN
adalah perjanjian yang bersifat private, namun memerlukan pemeringkatan karena dapat
diperjualbelikan.
Sebelumnya diketahui jika SNP Finance mendapatkan peringkat efek periode Desember 2015-
2017 idA-/stable dari Pefindo. Kemudian pada Maret 2018, rating SNP Finance naik menjadi
idA/stable.
Namun Pefindo kembali menurunkan rating SNP Finance sebanyak 2 kali. Pertama pada bulan
Mei 2018, diturunkan menjadi idCCC/credit watch negative dan pada bulan yang sama
menurunkan lagi ke peringkat idSD/selective default.
Akhirnya, saat terjadi permasalahan, SNP Finance mengajukan penundaan kewajiban
pembayaran utang (PKPU) terhadap kewajibannya sebesar kurang lebih Rp 4,07 triliun, yang
terdiri dari kredit perbankan Rp 2,22 triliun dan MTN sebesar Rp 1,85 triliun.

SNP Finance Rekayasa Laporan Keuangan Buat Bobol 14 Bank


PT Bank Mandiri Tbk angkat bicara mengenai kasus pembobolan dana di 14 bank oleh Lembaga
pembiayaan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) yang merupakan anak usaha
Columbia. Bank Mandiri termasuk salah satu bank tersebut.
Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan, SNP Finance adalah perusahaan
pembiayaan yang menjadi debitur Bank Mandiri sejak 2004. Selama belasan tahun menjadi
debitur Bank Mandiri, SNP Finance memiliki catatan yang baik dengan kualitas kredit yang
lancar. Hal ini juga yang membuat banyak bank kemudian ikut memberikan pembiayaan kepada
SNP Finance.
Atas hal tersebut, Bank Mandiri melihat permasalahan di SNP Finance saat ini bukan semata-
mata disebabkan oleh ketidak hati-hatian perbankan dalam penyaluran kredit. Apalagi saat ini
regulator telah menetapkan rambu-rambu yang sangat ketat bagi perbankan.
"Kekisruhan di SNP Finance justru disebabkan itikad tidak baik pengurus perseroan untuk
menghindari kewajiban mereka," jelas Rohan seperti dikutip dari keterangan tertulis, Rabu
(26/9/2018).
Buktinya, SNP Finance langsung mengajukan PKPU Sukarela, setelah kualitas kredit turun
menjadi kol. 2. Modus ini sering dilakukan dengan memanfaatkan celah dari ketentuan hukum
terkait Kepailitan.

https://keuangan.kontan.co.id/news/terseret-kasus-snp-finance-deloitte-indonesia-berupaya-cari-jalan-
keluar

Terseret kasus SNP Finance, Deloitte Indonesia berupaya cari jalan keluar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Deloitte Indonesia mengatakan telah berdiskusi dengan


Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pasca OJK memberikan sanksi berupa pembatalan pendaftaran
kepada salah satu mitra Deloitte, yakni Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio Bing Eny &
Rekan.
“Kami mencoba menemukan jalan keluar yang terbaik berdasarkan fakta-fakta yang sudah
kami sampaikan ke OJK,” kata Chief & Market Director Deloitte Indonesia Steve Aditya
kepada Kontan.co.id, Kamis (28/3).
Ia mengatakan, pihaknya telah mengaudit laporan keuangan tahunan SNP Finance sesuai
dengan tujuan, yakni general audit dan berdasarkan standar akuntansi yang berlaku.
“Kita mengeluarkan suatu laporan dan menelaah suatu dokumen itu berdasarkan apa yang
mereka (SNP Finance) berikan ke kita,” kata dia. Hal-hal tersebut juga sudah disampaikan
dalam diskusinya dengan OJK.
Meskipun turut terseret ke dalam kasus gagal bayar SNP Finance, menurut Steve, masalah ini
tidak memberikan dampak signifikan pada bisnis Deloitte Indonesia.
Pada awal kasus SNP Finance ini mencuat, Steve bilang memang banyak klien yang meminta
penjelasan dan mempertanyakan apakah kasus ini bakal memengaruhi kewajiban Deloitte
terhadap mereka.
Akan tetapi, setelah mendapat penjelasan, klien-klien tersebut bisa menerima dan tetap
percaya untuk menggunakan jasa Deloitte Indonesia.
Belakangan ini, ia mengatakan pihaknya tengah mengejar tenggat waktu untuk
menyelesaikan LKTA 2018 para kliennya. Sesuai ketentuan OJK, LKTA 2018 tersebut harus
selesai pada akhir Maret 2019.
Setelah itu, Deloitte Indonesia tidak boleh lagi menerima pekerjaan untuk mengaudit dari
klien baru yang berasal dari perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank.
Deloitte Indonesia dalam praktiknya diwakili oleh Akuntan Publik Terdaftar Satrio Bing Eny
& Rekan, Konsultan Pajak Deloitte Touche Solutions, Penasihat Keuangan & Bisnis PT
Deloitte Konsultan Indonesia, Penasihat Valuasi KJPP Lauw & Rekan, Pengacara Hermawan
Juniarto & Partners, dan Penasihat Strategi dan Operasi PT Deloitte Consulting.
Klien Deloitte Indonesia yang berupa lembaga keuangan mencakup 2% dari total kliennya.
Sebelumnya, OJK menjatuhkan sanksi administratif kepada KAP Satrio Bing Eny & Rekan
serta dua akuntan publiknya terkait hasil pemeriksaan OJK terhadap PT Sunprima Nusantara
Pembiayaan (SNP Finance).
Sanksi ini berlaku efektif setelah KAP tersebut menyelesaikan audit Laporan Keuangan
Tahunan Audit (LKTA) tahun 2018 atas klien yang memiliki kontrak. Setelah itu, KAP ini
dilarang menambah klien baru.
Sanksi ini hanya berlaku di sektor perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank
(IKNB).
Pengenaan sanksi ini mengingat LKTA yang telah diaudit tersebut digunakan SNP Finance
untuk mendapatkan kredit dari perbankan dan menerbitkan MTN yang berpotensi mengalami
gagal bayar atau menjadi kredit bermasalah. Laporan keuangan tahunan SNP Finance yang
telah diaudit oleh dua akuntan publik dari KAP tersebut mendapatkan opini Wajar Tanpa
Pengecualian.
Akan tetapi, berdasarkan hasil pemeriksaan OJK, SNP Finance terindikasi menyajikan
laporan keuangan yang tidak sesuai dengan kondisi keuangan yang sebenarnya sehingga
menyebabkan kerugian banyak pihak.
https://bisnis.tempo.co/read/1130928/kasus-snp-finance-kemenkeu-jatuhkan-sanksi-ke-deloitte-
indonesia/full&view=ok
Kasus SNP Finance, Kemenkeu Jatuhkan Sanksi ke Deloitte Indonesia

TEMPO.CO, Jakarta - Terkait dengan kasus pembobolan 14 bank oleh PT Sunprima


Nusantara Pembiayaan atau SNP Finance, Kementerian Keuangan telah menjatuhkan sanksi
kepada tiga akuntan publik terkait. Sanksi itu diberikan setelah ada pengaduan Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) mengenai pelanggaran prosedur audit oleh kantor akuntan publik itu.

"Sudah kami jatuhkan sejak Agustus lalu," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan
Informasi Kementerian Keuangan Nufransa Wira Sakti kepada Tempo, Jumat, 28 September
2018. Tiga akuntan publik yang diberi sanksi itu adalah Akuntan Publik Marlinna, Akuntan
Publik Merliyana Syamsul, dan Kantor Akuntan Publik Satrio Bing Eny dan Rekan. KAP
Satrio Bing Eny atau KAP SBE merupakan salah satu entitas Deloitte Indonesia.

Seperti diketahui, SNP Finance merupakan anak usaha Grup Columbia, yang selama ini
dikenal bergerak di bidang pembiayaan untuk pembelian alat-alat rumah tangga. Pada Senin
lalu, Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI menindaklanjuti laporan PT
Bank Panin Tbk atas dugaan jaminan piutang fiktif SNP dan menetapkan lima pimpinan
SNP sebagai tersangka. Laporan keuangan hasil audit dari akuntan pubik itu yang kemudian
dijadikan dasar bagi SNP untuk meraup kredit dari bank lain.

Menurut data Bareskrim Polri, yang diperoleh dari dokumen pencairan kredit yang pernah
diterima SNP, total penggelapan mencapai Rp 14 triliun. Namun OJK menyebutkan kredit
yang disalurkan perbankan kepada SNP Finance tidak mencapai Rp 14 triliun. Sebanyak 14
bank yang terlibat dalam kasus ini hanya menyalurkan pendanaan sekitar Rp 2,2 triliun.

Lebih jauh, Nufransa berujar kementeriannya memberikan sanksi administratif kepada


Akuntan Publik Marlinna dan Akuntan Publik Merliyana Syamsul berupa pembatasan
pemberian jasa audit terhadap entitas jasa keuangan, semisal jasa pembiayaan dan jasa
asuransi, selama 12 bulan, yang mulai berlaku pada 16 September 2018 hingga 15
September 2019.

Adapun KAP SBE dan Rekan dikenakan sanksi berupa rekomendasi untuk membuat
kebijakan dan prosedur dalam sistem pengendalian mutu KAP terkait dengan ancaman
kedekatan anggota tim perikatan senior. "KAP juga diwajibkan mengimplementasikan
kebijakan dan prosedur dimaksud dan melaporkan pelaksanaannya paling lambat 2 Februari
2019," ujar Nufransa.

Berdasarkan keterangan resmi di situs www.pppk.kemenkeu.go.id,


Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK) Kementerian Keuangan telah melakukan
analisis pokok permasalahan. Lembaga itu kemudian menyimpulkan bahwa terdapat
indikasi pelanggaran terhadap standar profesi dalam audit yang dilakukan para akuntan
publik dalam pelaksanaan audit umum atas laporan keuangan SNP Finance selama tahun
buku 2012-2016.

Untuk memastikan hal tersebut, PPPK memeriksa KAP dan dua akuntan publik yang
dimaksud. Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa akuntan publik Marlinna dan
Merliyana Syamsul belum sepenuhnya mematuhi Standar Audit-Standar Profesional
Akuntan Publik dalam pelaksanaan audit umum atas laporan keuangan SNP Finance.

Hal-hal yang belum sepenuhnya terpenuhi antara lain pemahaman pengendalian sistem
informasi terkait dengan data nasabah dan akurasi jurnal piutang pembiayaan serta
pemerolehan bukti audit yang cukup dan tepat atas akun Piutang Pembiayaan Konsumen.
Selain itu, dalam meyakini kewajaran asersi keterjadian dan asersi pisah batas akun
Pendapatan Pembiayaan, pelaksanaan prosedur yang memadai terkait dengan proses deteksi
risiko kecurangan, serta respons atas risiko kecurangan, serta skeptisisme profesional dalam
perencanaan dan pelaksanaan audit.

Selain hal tersebut, sistem pengendalian mutu yang dimiliki KAP mengandung kelemahan
karena belum dapat melakukan pencegahan yang tepat atas ancaman kedekatan berupa
keterkaitan yang cukup lama di antara personel senior, yakni manajer tim audit dalam
perikatan audit pada klien yang sama untuk suatu periode yang cukup lama. Kementerian
Keuangan menilai hal tersebut berdampak pada berkurangnya skeptisisme profesional.
ANALISIS KASUS SNP FINANCE

https://accounting.binus.ac.id/2018/12/03/merunut-kasus-snp-finance-auditor-deloitte-indonesia-2/

Sanksi atas Kecurangan Laporan Keuangan


Untuk manajemen dari SNP Finance sendiri saat ini kasusnya telah ditangani oleh
Bareskrim Polri. Mereka diduga melanggar pasal berlapis, yaitu KUHP 362 tentang
pemalsuan surat, KUHP 362 tentang penggelapan dan KUHP 378 tentang penipuan.
Sementara apa sanksi untuk Deloitte sebagai auditornya? Sanksi kepada Deloitte diberikan
oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui siaran pers tertanggal 1 Oktober 2018, OJK
memberikan sanksi kepada Akuntan Publik (AP) Marlina dan AP Merliyana Syamsul,
keduanya dari KAP Satrio Bing Eni dan rekan (pemegang afiliasi Deloitte di Indonesia), dan
juga KAP Satrio Bing Eny dan rekan sendiri. Sanksi yang diberikan adalah pembatalan hasil
audit terhadap kliennya yaitu SNP Finance dan pelarangan untuk mengaudit sektor
perbankan, pasar modal dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB).

Apa yang menjadi dasar dari OJK untuk pemberian sanksi tersebut? Bahwa AP Marlinna,
AP Merliyana Syamsul dan Deloitte telah melakukan pelanggaran berat yaitu melanggar
POJK Nomor 13/POJK.03/2017 tentang Penggunaan Jasa Akuntan Publik dan Kantor
Akuntan Publik. Pertimbangannya antara lain adalah sebagai berikut:

1. Telah memberikan opini yang tidak mencerminkan kondisi keuangan yang


sebenarnya
2. Besarnya kerugian terhadap industri jasa keuangan dan masyarakat yang
ditimbulkan atas opini kedua AP tersebut atas Laporan Keuangan Tahunan Audit
(LKTA) SNP Finance
3. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan akibat dari
kualitas penyajian oleh akuntan publik.

Auditor di Pusaran Kecurangan Laporan Keuangan


Apa yang seharusnya dilakukan oleh Deloitte? Apa yang menjadi kewajiban bagi auditor?
Dalam hal ini seharusnya auditor mengetahui betapa pentingnya laporan keuangan yang
diaudit. Auditor mengetahui persis siapa saja yang menjadi para pengguna utama (primary
beneficiary) dari laporan keuangan yang diaudit tersebut, pihak – pihak yang akan melakukan
pengambilan keputusan dari laporan keuangan tersebut. Apalagi bukan setahun dua tahun
Deloitte mengaudit SNP Finance, tetapi dalam kurun waktu yang cukup lama. Deloitte yang
merupakan KAP big four melakukan kelalaian (negligence), yaitu dengan kurang
menerapkan prinsip kehati – hatian (professional skepticism) dalam mengaudit kliennya
tersebut. Ketika terjadi peningkatan hutang dan hutang yang menjadi non performing loan,
harusnya ini sudah menjadi lampu kuning bagi Deloitte untuk memberikan opini going
concern atas laporan keuangan SNP Finance. Opini going concern adalah informasi
tambahan yang diberikan auditor di paragraph penjelas dalam laporan auditor independen
yang berfungsi untuk menyatakan bahwa perusahaan dalam kondisi beresiko mengalami
kebangkrutan. Dengan adanya opini tersebut, akan menjadi warning bagi para kreditornya
untuk berhati – hati dalam menyalurkan pinjaman. Selain itu dengan adanya kondisi kesulitan
keuangan yang dialami oleh SNP Finance, seharusnya Deloitte juga mengetahui bahwa hal
ini menjadi faktor tekanan/pressure bagi perusahaan untuk melakukan
kecurangan/fraud, yaitu dengan memanipulasi laporan keuangan agar tampak baik. Deloitte
seharusnya mengkategorikan kliennya tersebut sebagai high risk, atau beresiko tinggi
melakukan fraud. Dengan adanya kondisi high risk tersebut, mengacu pada standar audit
yang dikeluarkan oleh International Standard on Auditing (ISA) no 330 tentang respon
auditor terhadap resiko kecurangan klien, Deloitte seharusnya menambah porsi pengujian
substantive pada test of details, seperti menambah sampel untuk konfirmasi piutang
pelanggan. Sehingga dari prosedur audit tersebut akan terungkap apabila ternyata banyak
piutang fiktif yang sengaja dibuat oleh kliennya.
Kasus SNP Finance dan Deloitte ini hendaknya menjadi pelajaran bagi para pelaku bisnis
dan auditor. Pelaku bisnis yang ingin melakukan kecurangan, atau manipulasi laporan
keuangan juga berpikir dua kali, karena saat ini OJK telah bersikap kritis untuk menyelidiki
kasus kecurangan manajemen (white collar crime). Auditor dan Kantor Akuntan Publik juga
harus berhati-hati dalam memberikan opini audit, jangan sampai opini yang diberikan
menjadi menyesatkan bagi para pengguna laporan keuangan, sehingga dampaknya jadi
mengakibatkan kerugian material dalam jumlah besar.