MAKALAH MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH
“KASUS ANALISIS RASIO LAPORAN KEUANGAN
DAERAH”
Dosen Pengampu :
Dewi Pebriyani, S.E.,M.Si.
Disusun oleh :
1. Ulzana Yuliandri (17133100)
2. Sintia Rama dani (17133088)
3. Rika Rahmadini (17133078)
DIII AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia
sehingga kita dapat hidup dan menjalakan hidup sampai saat ini. Tak lupa pula kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah
kepada zaman yang penuh dengan ilmu pengatahuan dan teknologi seperti saat
sekarang ini.
Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menganalisis kasus terhadap Analisis
Rasio Laporan Keuangan daerah yang mencakup Analisis rasio kemandirian, Analisis
rasio ketergantungan keuangan daerah, Analisis desentralisasi, Analisis efisiensi
belanja dan Analisis efektifitas pendapatan
Padang, 18 September 2019
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk mencapai suatu wilayah dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi,
strategi dan kebijakan ekonomi pembangunan harus fokus pada sektor-sektor strategis
dan potensial pada wilayah tersebut baik sektor riil, finansial, maupuninfrastruktur
agar dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, monitoring dan evaluasi
terhadap hasil-hasil pembangunan juga sangat penting dilakukan secara berkala
melalui sajian data statistik yang berkualitas. Peran pemerintah daerah dalam
mengelola keuangan sangat menentukan keberhasilan peningkatan pertumbuhan
ekonomi di suatu daerah.
Keberhasilan otonomi daerah tidak terlepas dari kinerja Pemerintah Daerah dalam
mengelola keuangannya secara tertib, taat pada peraturan perundang- undangan,
efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab. Pengelolaan keuangan
daerah tersebut dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi yang diwujudkan
dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan dengan peraturan daerah.
Kemampuan keuangan dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan sangat
penting, karena pemerintah daerah tidak akan dapat melaksanan fungsinya dengan
efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan
pembangunan dan keuangan inilah yang merupakan salah satu dasar kriteria untuk
mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri. Kemampuan keuangan daerah dalam era otonomi daerah sering
diukur dengan menggunakan kinerja keuangan daerah.
Salah satu cara untuk menganalisa kinerja keuangan pemerintah daerah dalam
pengelolaan keuangannya adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan
terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang telah ditetapkan
dan dilaksanakan. Penilaian kinerja pemerintah berdasarkan berbagai rasio keuangan,
diantaranya Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, Rasio Efektivitas dan Efisiensi,
Rasio Keserasian, dan Rasio Pertumbuhan.
Rasio Efektivitas menggambarkan kemampuan yang dicapai Pemerintah Daerah
dalam merealisasikan Pendapatan yang direncanakan, kemudian dibandingkan dengan
target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Dan untuk rasio efisiensi
menggambarkan tingkat kemampuan pemerintah dalam mengefesiensikan biaya yang
dikeluarkan oleh pemerintah.
Semakin tinggi Rasio Kemandirian, mengandung arti bahwa tingkat
ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak eksternal semakin rendah. Sedangkan
untuk rasio keserasian menunjukkan bahwa dengan rasio belanja modal yang relatif
masih kecil perlu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pembangunan di daerah.
Semakin tinggi rasio efektivitas menggambarkan kemampuan daerah yang
semakin efektif. Semakin kecil rasio efisien berarti kinerja pemerintah daerah
semakin baik
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Analisis Rasio Kemandirian pada laporan keuangan daerah Kota
DKI Jakarta?
2. Bagaimana Analisis Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah pada laporan
keuangan daerah Kota DKI Jakarta?
3. Bagaimana Analisis Rasio Desentralisasi pada laporan keuangan daerah Kota
DKI Jakarta?
4. Bagaimana Analisis Efisiensi Belanja pada laporan keuangan daerah Kota
DKI Jakarta?
5. Bagaimana Analisis Efektifitas Pendapatan pada laporan keuangan daerah
Kota DKI Jakarta?
C. Tujuan
1. Untuk menganalisisisRasio Kemandirian pada laporan keuangan daerah Kota
DKI Jakarta?
2. Untuk menganalisisis Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah pada laporan
keuangan daerah Kota DKI Jakarta?
3. Untuk menganalisisis Rasio Desentralisasi pada laporan keuangan daerah
Kota DKI Jakarta?
4. Untuk menganalisisis Efisiensi Belanja pada laporan keuangan daerah Kota
DKI Jakarta?
5. Untuk menganalisisis Efektifitas Pendapatan pada laporan keuangan daerah
Kota DKI Jakarta?
D. Manfaat
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :
1. Bagi peneliti
Dapat menambah pengetahuan dalam bidang keuangan daerah serta
meningkatkan kemampuan analisis tentang kinerja keuangan anggaran
pendapatan dan belanja daerah selama periode yang ditentukan.
2. Bagi Pemerintah Kota Medan
Dapat memberikan sumbangan pikiran didalam menentukan kebijakan
pengelolaan dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Dapat dijadikan sebagai bahan refrensi dalam peneliti selanjutnya yang
ada keterkaitan dengan objek penelitian
BAB II
PEMBAHASAN
Analisis rasio laporan keuangan daerah terdiri atas 5 jenis analisis, yaitu :
1. Analisis rasio kemandirian
2. Analisis rasio ketergantungan keuangan daerah
3. Analisis desentralisasi
4. Analisis efisiensi belanja
5. Analisis efektifitas pendapatan
Berdasarkan analisis rasio laporan keuangan daerah DKI Jakarta didapati analisis
rasio untuk tahun 2014 sebagai berikut :
1. Analisis rasio kemandirian
Pendapatan asli derah
= × 100%
Transfer pusat + provinsi + pinjaman
31.274.215.885.719
= × 100%
12.160.469.922.272
= 2,57
Berdasarkan analisis rasio kemandirian pada laporan keuangan daerah DKI
Jakarta dapat disimpulkan bahwa DKI Jakarta memiliki rasio kemandirian senilai
2,57% yang mana hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemandirian keuangan DKI
Jakarta belum begitu tinggi.
2. Analisis rasio ketergantungan keuangan daerah
Pendapatan transfer
= × 100%
Total pendapatan daerah
12.160.469.922.272
= × 100%
43.824.300.560.665
= 0,28
Berdasarkan analisis rasio ketergantungan keuangan daerah pada laporan
keuangan DKI Jakarta dapat disimpulkan bahwa DKI Jakarta dapat disimpulkan
bahwa DKI Jakarta memiliki rasio ketergantungan keuangan daerah senilai 0,28%
yang mana hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan pemerintah daerah
terhadap pemerintah pusat tidak begitu tinggi.
3. Analisis desentralisasi
Pendapatan asli derah
= × 100%
Total pendapatan daerah
31.274.215.885.719
= × 100%
43.824.300.560.665
= 0,71
Berdasarkan analisis desentralisasi pada laporan keuangan daerah DKI Jakarta
dapat disimpulkan bahwa analisis desentralisasi pada DKI Jakarta memiliki nilai 0,7%
yang mana hal ini menunjukkan bahwa DKI Jakarta cukup mampu melaksanakan
desentralisasi karena Pendapatan Asli Daerah yang cukup berkontribusi terhadap
pendapatan daerah.
4. Analisis efisiensi belanja
Realisasi belanja daerah
=
Anggaran belanja daerah
37.799.664.298.459
=
63.650.106.383.473
= 0,59
Berdasarkan analisis efesiensi belanja pada laporan keuangan daerah DKI Jakarta
dapat disimpulkan bahwa analisis efesiensi belanja pada DKI Jakarta memiliki nilai
0.59 yang mana hal ini menunjukkan bahwa DKI Jakarta cukup efisien dalam
penggunaan anggaran belanja.
5. Analisis efektifitas pendapatan
Realisasi penerimaan pendapatan
=
Target penerimaan pendapatan
= 43.824.300.560.665,00
65.042.099.407.000,00
= 0,67
Berdasarkan analisis efektifitas pendapatan pada laporan keuangan daerah DKI
Jakarta dapat disimpulkan bahwa analisis efektifitas pendapatan pada DKI Jakarta
memiliki nilai 0.67 yang mana hal ini menunjukkan bahwa DKI Jakarta tidak efektif
dalam memobilisasi target pendapatan.
Berdasarkan analisis rasio laporan keuangan daerah DKI Jakarta didapati analisis
rasio untuk tahun 2015 sebagai berikut :
1. Analisis rasio kemandirian
Pendapatan asli derah
= × 100%
Transfer pusat + provinsi + pinjaman
33.686.176.815.708
= × 100%
8.642.378.398.086
= 3,9
Berdasarkan analisis rasio kemandirian pada laporan keuangan daerah DKI
Jakarta dapat disimpulkan bahwa DKI Jakarta memiliki rasio kemandirian senilai
3.9% yang mana hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemandirian keuangan DKI
Jakarta belum begitu tinggi.
2. Analisis rasio ketergantungan keuangan daerah
Pendapatan transfer
= × 100%
Total pendapatan daerah
8.642.378.398.086
= × 100%
44.209.238.168.583
= 0,19
Berdasarkan analisis rasio ketergantungan keuangan daerah pada laporan
keuangan DKI Jakarta dapat disimpulkan bahwa DKI Jakarta dapat disimpulkan
bahwa DKI Jakarta memiliki rasio ketergantungan keuangan daerah senilai 0,19%
yang mana hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan pemerintah daerah
terhadap pemerintah pusat tidak begitu tinggi.
3. Analisis desentralisasi
Pendapatan asli derah
= × 100%
Total pendapatan daerah
33.686.176.815.708
= × 100%
44.209.238.168.583
= 0,76
Berdasarkan analisis desentralisasi pada laporan keuangan daerah DKI Jakarta
dapat disimpulkan bahwa analisis desentralisasi pada DKI Jakarta memiliki nilai
0,76% yang mana hal ini menunjukkan bahwa DKI Jakarta cukup mampu
melaksanakan desentralisasi karena Pendapatan Asli Daerah yang cukup berkontribusi
terhadap pendapatan daerah. Hal ini juga menunjukkan bahwa analisis desentralisasi
dari tahun 2014 ke tahun 2015 mengalami penaikan.
4. Analisis efisiensi belanja
Realisasi belanja daerah
=
Anggaran belanja daerah
42.660.170.443.047
=
59.284.373.605.273
= 0,71
Berdasarkan analisis efesiensi belanja pada laporan keuangan daerah DKI Jakarta
dapat disimpulkan bahwa analisis efesiensi belanja pada DKI Jakarta memiliki nilai
0.71 yang mana hal ini menunjukkan bahwa DKI Jakarta cukup efisien dalam
penggunaan anggaran belanja.
5. Analisis efektifitas pendapatan
Realisasi penerimaan pendapatan
=
Target penerimaan pendapatan
44.209.238.168.583,00
=
56.309.238.000.000,00
= 0,78
Berdasarkan analisis efektifitas pendapatan pada laporan keuangan daerah DKI
Jakarta dapat disimpulkan bahwa analisis efektifitas pendapatan pada DKI Jakarta
memiliki nilai 0.78 yang mana hal ini menunjukkan bahwa DKI Jakarta kurang efektif
dalam memobilisasi target pendapatan.
Berdasarkan analisis rasio laporan keuangan daerah DKI Jakarta didapati analisis
rasio untuk tahun 2016 sebagai berikut :
1. Analisis rasio kemandirian
Pendapatan asli derah
= × 100%
Transfer pusat + provinsi + pinjaman
36.888.017.587.716
= × 100%
15.271.661.452.714
= 2,41
Berdasarkan analisis rasio kemandirian pada laporan keuangan daerah DKI
Jakarta dapat disimpulkan bahwa DKI Jakarta memiliki rasio kemandirian senilai
2.41% yang mana hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemandirian keuangan DKI
Jakarta belum begitu tinggi bahkan mengalami penurunan dari tahun 2015 ke tahun
2016.
2. Analisis rasio ketergantungan keuangan daerah
Pendapatan transfer
= × 100%
Total pendapatan daerah
15.271.661.452.714
= × 100%
53.784.706.312.513
= 0,28
Berdasarkan analisis rasio ketergantungan keuangan daerah pada laporan
keuangan DKI Jakarta dapat disimpulkan bahwa DKI Jakarta dapat disimpulkan
bahwa DKI Jakarta memiliki rasio ketergantungan keuangan daerah senilai 0,28%
yang mana hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan pemerintah daerah
terhadap pemerintah pusat tidak begitu tinggi. Dan mengalami peningkatam dari
tahun sebelumnya.
3. Analisis desentralisasi
Pendapatan asli derah
= × 100%
Total pendapatan daerah
36.888.017.587.716
= × 100%
53.784.706.312.513
= 0,68
Berdasarkan analisis desentralisasi pada laporan keuangan daerah DKI Jakarta
dapat disimpulkan bahwa analisis desentralisasi pada DKI Jakarta memiliki nilai
0,68% yang mana hal ini menunjukkan bahwa DKI Jakarta cukup mampu
melaksanakan desentralisasi karena Pendapatan Asli Daerah yang cukup berkontribusi
terhadap pendapatan daerah. Namun mengalami penurunan dari tahun 2015 ke tahun
2016.
4. Analisis efisiensi belanja
Realisasi belanja daerah
=
Anggaran belanja daerah
46.918.496.211.824
=
57.149.280.800.656
= 0,82
Berdasarkan analisis efesiensi belanja pada laporan keuangan daerah DKI Jakarta
dapat disimpulkan bahwa analisis efesiensi belanja pada DKI Jakarta memiliki nilai
0.82 yang mana hal ini menunjukkan bahwa DKI Jakarta cukup efisien dalam
penggunaan anggaran belanja karena mengalami kenaikan dari tahun 2015 ke tahun
2016.
5. Analisis efektifitas pendapatan
Realisasi penerimaan pendapatan
=
Target penerimaan pendapatan
= 53.784.706.312.513,00
57.161.248.465.732,00
= 0,94
Berdasarkan analisis efektifitas pendapatan pada laporan keuangan daerah DKI
Jakarta dapat disimpulkan bahwa analisis efektifitas pendapatan pada DKI Jakarta
memiliki nilai 0.94 yang mana hal ini menunjukkan bahwa DKI Jakarta cukup efektif
dalam memobilisasi target pendapatan karena mengalami peningkatan yang cukup
signifikan dari tahun 2015 ke tahun 2016 dalam merealisasikan target penerimaan
pendapatan.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Analisis rasio laporan keuangan daerah pada Kota DKI Jakarta dapat disimpulkan
bahwa untuk analisis rasio Analisis Rasio Kemandirian menunjukkan bahwa tingkat
kemandirian keuangan DKI Jakarta belum begitu tinggi, untuk Analisis Rasio
Ketergantungan Keuangan Daerahmenunjukkan bahwa tingkat ketergantungan
pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat tidak begitu tinggi namun ada
peningkatan setiap tahunnya.
Untuk Analisis Rasio Desentralisas imenunjukkan bahwa DKI Jakarta cukup
mampu melaksanakan desentralisasi karena Pendapatan Asli Daerah yang cukup
berkontribusi terhadap pendapatan daerah, untuk Analisis Efisiensi Belanja
menunjukkan bahwa DKI Jakarta cukup efisien dalam penggunaan anggaran belanja
karena mengalami kenaikan setiap tahunnya dan untuk Analisis Efektifitas
Pendapatan menunjukkan bahwa DKI Jakarta cukup efektif dalam memobilisasi
target pendapatan karena mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke
tahun