100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
556 tayangan16 halaman

Panduan Lengkap Total Hip Replacement

Total hip replacement (THR) adalah prosedur bedah untuk mengganti sendi panggul yang rusak dengan implan tiruan. THR digunakan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsionalitas pada pasien dengan masalah seperti osteoarthritis. Prosedur ini melibatkan penggantian bagian acetabulum dan kepala femur dengan komponen tiruan yang dipasang dengan berbagai teknik dan pendekatan bedah. Program rehabilitasi pasca-operasi melibatkan latihan dan

Diunggah oleh

Intaan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
556 tayangan16 halaman

Panduan Lengkap Total Hip Replacement

Total hip replacement (THR) adalah prosedur bedah untuk mengganti sendi panggul yang rusak dengan implan tiruan. THR digunakan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsionalitas pada pasien dengan masalah seperti osteoarthritis. Prosedur ini melibatkan penggantian bagian acetabulum dan kepala femur dengan komponen tiruan yang dipasang dengan berbagai teknik dan pendekatan bedah. Program rehabilitasi pasca-operasi melibatkan latihan dan

Diunggah oleh

Intaan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TOTAL HIP REPLACEMENT

diterjemahkan dari buku “Rehabilitation for the Postsurgical Orthopedic Patient”


Oleh Tim ILOMPT

Total hip replacement (THR) adalah salah satu alternatif dalam penanganan
masalah pada sendi panggul (hip). Teknik ini pertama kali dikenalkan oleh John
Charnley dan McKee pada awal tahun 1960 (England). Data dari negara Amerika di
tahun 2004 tercatat 234.000 orang melakukan operasi THR dan selalu bertambah
setiap tahunnya hingga sekitar 250.000 orang/tahun dengan tujuan menghilangkan
rasa nyeri & meningkatkan kemampuan fungsional. sebagian besar dari mereka
gagal mendapatkan pengurangan gejala dengan tindakan medis konservatif. THR
digunakan untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan osteoarthritis,
rheumatoid arthritis, avascular necrosis, ankylosing spondilitis dan tonus otot
abnormal yang disebabkan oleh cerebral palsy.
Secara umum gejala yang menyertai adalah:
- Nyeri yang berat sehingga menghalangi untuk bekerja, rekereasi dan aktifitas
keseharian yang lain
- Nyeri tidak dapat hilang dengan menggunakan obat-obatan anti radang,
penggunaan alat bantu dan pengurangan aktifitas
- Kekakuan pada sendi yang nyata (Foto Rontgen menunjukkan gambaran arthritis
atau masalah yang lain, Keterbatasan gerak sendi, Instabilitas atau kelainan pada
sendi panggul, Kegagalan operasi sendi panggul sebelumya)
Kontraindikasi operasi THR termasuk tidak memadainya massa tulang,
penyangga periarticular, faktor risiko medis yang serius, tanda-tanda infeksi, dan
kurangnya motivasi pasien untuk melakukan tindakan pencegahan dan menjalani
rehabilitasi. Pembedahan juga merupakan kontraindikasi jika tidak mungkin
meningkatkan level fungsional pasien.
Daya tahan protesis diperkirakan kurang dari 20 tahun. Oleh karena itu
kandidat pasien untuk THR berusia lebih dari 60 tahun. Pasien yang lebih muda
memilih operasi ini ketika status fungsional sangat terganggu dan rasa sakit tak
tertahankan. Dalam kasus fraktur, pasien yang lebih muda dirawat dengan ORIF.
Mengingat usia protesis, pasien usia muda dengan THR membutuhkan operasi revisi
di kemudian hari.
THR dipercaya meningkatkan fungsi dan mengurangi rasa sakit pada hampir
semua pasien dengan disabilitas. Kepuasan pasien (dengan penilaian sangat baik
atau luar biasa) mengenai pengurangan rasa sakit dan peningkatan fungsi
dilaporkan setinggi 98% pada 2 tahun setelah THR. Kelangsungan hidup jangka
panjang dilaporkan setinggi 87,3% menjadi 96,5% pada 15 tahun

1
PROSEDUR OPERASI
Total hip replacement (THR) adalah prosedur operasi untuk menggantikan
sendi hip yang mana terdiri atas dua bagian yaitu acetabulum dan caput femur
dimana pada operasi ini dibuang dan digantikan dengan permukaan tiruan. Tiruan
untuk acetabulum dibuat dari high-density plastic, sedang untuk caput femur
dengan stemnya dibuat dari logam stainless atau keramic. Implant tiruan ini
ditanam pada bagian yang sehat pada acetabulum dan femur dengan menggunakan
semen (cemented) dan kadang tidak menggunakan semen
(noncemented/cementless) atau dengan menggunkan hybrid implants. Jenis
pendekatan operasi yang sering dilakukan untuk pemasangan THR ini adalah
pendekatan posterior, transtrochanteric dan anterolateral.
Teknik pendekatan operasi pada hip
Jenis pendekatan Kelebihan Kekurangan

Posterior Mudah dilakukan Sulit untuk melihat


Mudah melihat femur acetabulum
Jarang bermasalah dgn Angka dislokasi tinggi
pincang
Transtrochanteric Mudah dilakukan Komplikasi dari
Good exposure trochanteric nonunion

Anterolateral Mudah dilakukan Pincang


Good exposure Heterotopic bone
Angka dislokasi rendah

(David E, 2004)

Jenis pendekatan ini akan mempengaruhi gerakan apa yang tidak boleh
dilakukan oleh pasien dalam beberapa waktu menunggu proses soft tissue healing
selesai, karena akan beresiko terjadinya dislokasi. Apabila operasi melalui
pendekatan posterior maka gerakan yang dilarang adalah gerakan kombinasi dari
fleksi, internal rotasi dan adduksi berlebih sedangkan bila menggunakan pendekatan
anterolateral gerakan yang dilarang adalah kombinasi ekstensi, eksternal rotasi dan
adduksi berlebih (Craig R dalam David E, 2004)

Beberapa aspek dari prosedur sangat mempengaruhi rehabilitasi pasca operasi.


1. Dua pendekatan yang biasa digunakan, masing-masing dengan risiko dan
keunggulannya sendiri.
2. Kontroversi masih ada, apakah lebih baik dengan menggunakan semen (cemented)
atau tidak menggunakan semen (noncemented).
Implan noncemented cenderung lebih mahal dan secara teknis lebih susah dipasang,
namun lebih mudah untuk direvisi apabila terjadi kegagalan. Belum jelas teknik

2
mana menghasilkan penggantian hip yang paling tahan lama. Namun secara umum
diakui bahwa implan noncemented paling cocok untuk pasien yang lebih muda, lebih
aktif dan berisiko revisi. Baru-baru ini, resurfing artroplasti direkomendasikan untuk
pasien muda dengan avaskular nekrosis, karena mempertahankan tulang untuk
kemudian diganti dengan THR jika perlu karena kegagalan implan atau nyeri. Banyak
ahli bedah percaya bahwa komponen femoralis noncemented seharusnya tidak
ditapakkan selama 6 minggu, sedangkan komponen femoral cemented dapat
menahan berat badan dengan segera setelah operasi. Ini telah diperdebatkan
baru-baru ini, dan banyak ahli bedah sekarang mengizinkan pasien dengan
noncemented menapak seja awal. Kedua pendekatan menyebabkan ketidakstabilan
di sekitar pinggul selama periode awal pasca operasi. release dari otot, tulang,dan
kapsul sendi selama proses operasi sendi pinggul rentan terhadap dislokasi pada LGS
ekstrim. Pendidikan pasien tentang "tindakan pencegahan/kontra indikasi gerakan"
menjadi sangat penting selama masa pemulihan awal.
Kontroversi pada pendekatan mana yang memberikan dislokasi postoperasi
terendah, waktu operasi terpendek dan sedikit kehilangan darah. Karena masalah
dengan nonunion transtrokanteric dan kelemahan otot abduktor hip dalam waktu
lama. pendekatan operasi transtrokaterik (dimana trokantor mayor atau gluteus
medius dipotong semua) sering digunakan saat ini untuk operasi revisi. Keuntungan
utamanya mudah melihat shaft femur.

PEDOMAN TERAPI UNTUK REHABILITASI


Program fisioterapis yang fleksibel sangat penting karena masing-masing ahli
bedah dapat memaksakan protokol mereka sendiri. Peran terapis sangat penting
pada tahap pasca bedah. Penelitian dari Santavista mengungkapkan bahwa
mayoritas pasien THR melaporkan bahwa mereka menerima sebagian besar
informasi mengenai fase pemulihan bedah dari fisioterapis. pasien bergantung pada
fisioterapis untuk bimbingan dan saran. Fisioterapis mengarahkan harapan pasien
menuju kemandirian dan wellness sejak dini. Setiap klien harus mengantisipasi
perkembangan pemulihan dirinya yang unik dan hindari perbandingan dengan
pasien lain.
Fase I (Sesi latihan Pra-operasi)
WAKTU: beberapa hari sebelum operasi
TUJUAN: Untuk mengajarkan Kontra-indikasi pada THR sehingga pasien akan
transfer dan bergerak dengan aman setelah operasi dan hindari dislokasi sendi,
untuk mengajarkan dasar program latihan untuk fase pemulihan pasca operasi
Banyak institusi telah memulai sesi pelatihan THR pra operasi untuk
meningkatkan kepercayaan pasien dan mengurangi lamanya tinggal di rumah sakit.
Sesi ini dapat dilakukan di klinik fisioterapi atau kunjungan rumah oleh fisioterapis.
Saat ini pendidikan video bisa diberikan sebagai alat ajar tambahan.

3
Sesi preoperatif umumnya mencakup penilaian kekuatan pasien (termasuk
ekstremitas atas [UE] potensial), LGS, status neurologis, tanda-tanda vital, daya
tahan, tingkat fungsional, dan kesadaran akan keamanan. Setiap edema yang ada,
kontraktur, dan perbedaan panjang tungkai harus dicatat pada sesi ini, serta
pengetahuan pasien tentang kemampuan penyembuhan jaringan parut (scar). Jika
penilaian dilakukan di rumah pasien, periksa tangga, lorong, trotoar dan tanjakan
(atau cekungan) dan merekomendasikan adaptasi keamanan yang diperlukan (misal
memindahkan perabotan dan kabel listrik). Evaluasilah peralatan medis yang
diperlukan seperti kursi shower, walker, pengaman samping tempat tidur.
Instruksi untuk tindakan pencegahan/ kontra indikasi gerakan THR harus
dimulai selama sesi pra operasi dan diulangi sepanjang proses rehabilitasi yang
diperlukan. Tindakan pencegahan pada pendekatan posterolateral untuk THR
melarang fleksi hip melewati 90, adduksi melewati garis tengah tubuh, dan
internal-rotasi hip. Pada THR anterolateral, pasien harus memperhatikan tindakan
pencegahan ini dan hindari hip ER. Ulasan tentang mekanika tubuh yang tepat untuk
mobilitas fungsional yang aman di rumah, seperti posisi tidur dan duduk yang tepat
pasca operasi harus diberikan di sesi pelatihan pencegahan. Sering seorang pasien
mampu memahami tindakan pencegahan/KI gerakan ini tetapi masih akan bergerak
dengan cara berbahaya. Minta pasien untuk menunjukkan tindakan pencegahan ini
dengan gerakan dan teknik transfer-ambulasi yang aman.
Ajarkan penggunaan alat bantu yang tepat seperti walker dan kruk sesuai
status proyeksi berat badan pasien. Perintah non-weight-bearing (NWB) dapat
diberikan jika prostesis noncemented. Menjaga kepatuhan baik terhadap
pembebanan dan pencegahan ROM di seluruh proses rehabilitasi.
Latihan pasca operasi dapat diajarkan saat ini. diantaranya:
• ankle pumps
• quadrisep sets
• gluteal sets
• Fleksi aktif hip & knee (heel slide)untuk menjaga LGS Hip sesuai pedoman
teknik operasi dari ahli bedah
• isometrik abduksi hip
• aktif abduksi hip
Pasien tidak melakukan abduksi hip jika dilakukan osteotomy transtrokanterika.
Dislokasi dari Prostesis THR dimungkinkan jika tekanan yang tidak tepat di
sambungan baru.
Program latihan THR tradisional menjadi kontroversial dalam beberapa tahun
terakhir. Tekanan pada sendi hip selama kegiatan tertentu diukur dan dibandingkan
dengan tekanan pada hip saat berjalan. Meskipun beberapa praktisi membantah
metodologi yang digunakan, hasil dari penelitian ini telah menyebabkan banyak
orang mempertanyakan beberapa latihan standar THR. Konsultasikan dengan ahli
bedah tentang program latihan yang mencakup straight leg raising (SLR).

4
Strickland menemukan bahwa aktif fleksi hip dan isometrik ekstensi hip
menghasilkan tekanan terbesar pada sendi. Berbasis pada temuan ini, Lewis, dkk
merekomendasikan melakukan gluteal set pada tingkat kontraksi submaksimal
untuk menghindari kemungkinan dislokasi. Givens-Heiss,dkk menemukan bahwa
isometrik maksimal abduksi hip menghasilkan puncak tekanan yang lebih besar
daripada (SLR) dan berjalan tanpa alat bantu/sanggaan. Penelitian Krebs juga
menemukan bahwa kontraksi maksimal selama latihan menghasilkan tekanan yang
lebih besar di hip daripada berjalan. Lewis dan Knortz merekomendasikan
isometrik abduksi panggul dilakukan pada tingkat submaksimal berdasarkan pada
hasil dari penelitian ini dan menyarankan hip abduksi pelan pada posisi terlentang
sebagai alternatif.

Tahap IIa (Fase Rumah Sakit)


WAKTU: 1 hingga 2 hari setelah operasi
TUJUAN: Untuk mencegah komplikasi, untuk meningkatkan kontraksi otot dan
meningkatkan kontrol tungkai yang terlibat, untuk membantu pasien duduk
selama 30 menit, untuk memperkuat pemahaman tentang tindakan pencegahan
THR.
H-0 (hari pembedahan)
Tindakan Fisioterapi pasca operasi dapat dimulai pada hari operasi ketika
pasien sadar kembali. Pasien berbaring telentang dengan kedua lutut pasien yang
lurus dan memakai (TED) untuk mencegah tromboembolic dengan tungkai abduksi
dan tempatkan bantal busa segitiga. Untuk menghindari kerusakan saraf perifer,
terapis diharapkan untuk memeriksa tegangnya bantal di sekitar kaki pasien. Latihan
pernafasan (breathing) biasanya dimulai segera setelah sadar. Program latihan
ekstremitas bawah (LE) juga dapat dimulai pada titik ini dengan pompa pergelangan
kaki (ankle pump), quadriceps set, dan gluteal set. latihan bridging/ mengangkat
pantat dengan sanggaan kaki digunakan untuk mencegah luka baring dapat
dihilangkan pada sesi ini. Karena klien mungkin grogi dan tidak dapat mengingat
tindakan pencegahan THR, penting dilakukan pengingatan kembali. Beberapa
mungkin mendapat manfaat dari penanda yang ditempatkan di tempat tidur yang
berisi tindakan pencegahan ROM. Sebuah immobilizer lutut ditempatkan di atas kaki
yang terkena dapat mengurangi kemungkinan gerakan yang membuat berbahaya .
Perpindahan posisi pasien setiap 2 jam (dengan bantal abductor) sangat penting
pada tahap ini untuk menghindari ulkus karena tekanan. Foot cradles sering
ditempel pada kaki tempat tidur untuk menghindari internal rotasi dari hip yang
dioperasi dan untuk mencegah ulkus tumit sebagai akibat dari tekanan dari selimut.
Banyak protokol rumah sakit menetapkan tugas ini kepada staf perawat dan
kemudian memulai intervensi fisioterapis pada hari pertama setelah operasi. Semua
personel (tim kesehatan) harus memantau perubahan status vaskular dan status
neurologisnya.

5
Hari-1 Pascaoperasi
Sesi fisioterapis bervariasi dari frekuensi 1-3x/hari, 5-7 hari/minggu,
tergantung pada protokol medis. fisioterapis akan melanjutkan setelah mengetahui
tentang pendekatan bedah yang digunakan, tindakan pencegahan khusus, dan
status pembebanan berat tubuh pasien. Penilaian dan perawatan dilakukan di sisi
tempat tidur pasien. Tindakan pencegahan THR harus diulang pada saat ini.
Tindakan pencegahan ini tetap berlaku sampai jadwal kunjungan tindak lanjut
dengan ahli ortopedi 3 hingga 6 minggu kemudian. Ahli bedah kemudian dapat
mengendurkan tindakan pencegahan atau memutuskan untuk melanjutkan selama
6 minggu.
Fisioterapis dapat memulai ankle pumps, quadriceps sets, dan gluteal sets jika
pasien tidak memulai pada hari operasi. Latihan UE bilateral juga bisa dimulai saat
ini. Ankle circle tidak diindikasikan, karena pasien mungkin secara tidak sengaja
memutar internal (IR) ekstremitas yang terkena saat melakukan latihan. kontraksi
otot sub maksimal dianjurkan. Idealnya latihan ini harus diulang 10 kali setiap jam.
Perlu diketahui bahwa beberapa pasien mungkin tidak memenuhi harapan ini.
Pelatihan transfer dimulai dengan membantu pasien untuk bergerak dengan aman
dari posisi telentang ke posisi duduk dan kemudian dari duduk ke posisi berdiri
sambil mengamati gerakan yang dihindari. Seringkali pasien berjuang dengan rasa
sakit dan kecemasan dan butuh penyemangat. Fisioterapis harus memberikan cukup
banyak waktu untuk tugas ini dan menekankan penggunaan UE saat menggeser
berat badan. Hindari berputar pada kaki operasi. Ahli bedah biasanya mengizinkan
pasien untuk berpindah ke kursi di samping tempat tidur dan bangun sesuai
toleransi, jarang lebih dari 30 hingga 60 menit. Terapis lalu mengawasi kembalinya
tidur. Jika seorang pasien tidak mengeluh sakit yang berlebihan, kelelahan, atau
pusing, maka latihan berjalan dapat dimulai. Seringnya latihan jalan dilakukan dihari
kedua

Hari-2 Pascaoperasi
Perawatan pada hari kedua pasca operasi termasuk review dari kegiatan hari
sebelumnya. Pasien harus memelihara ROM pinggul sesuai yang direkomendasikan
dokter. Fisioterapis meningkatkan program latihan dengan heel slide dan isometrik
atau aktif assisted hip abduksi. Short arc quads set dengan aktif assissted. Sekali lagi,
submaksimal isometrik abduksi hip direkomendasikan. Bantuan dari terapis
mungkin diperlukan untuk beberapa latihan. Penggunaan isyarat verbal seperti
"gerakkan lutut atau jempol kaki ke arah langit-langit ” untuk menghindari rotasi
kaki juga bisa membantu. Latihan berjalan biasanya dimulai selama sesi ini.
alat bantu pasien disesuaikan dengan tinggi badannya sebelum memulai
instruksi dan latihan. Pasien yang lebih tua biasanya menggunakan walker beroda.

6
Pasien yang lebih muda dapat menggunakan kruk dan diinstruksikan dalam pola
kruch“three point”. Pasien yang telah menjalani THR bilateral diinstruksikan dalam
pola kruk “four-poin”. Status menahan beban setelah THR tidak terikat, tergantung
pada kebijaksanaan dokter bedah. Perintah NWB pada ekstremitas yang dioperasi
mungkin berlaku selama beberapa minggu. Pasien dengan prostesis yang cemented
diinstruksikan untuk menahan berat badan sesuai toleransi (WBAT) pada tahap ini.
Pembedahan kompleks mungkin membutuhkan lebih banyak perhatian. Apabila
perintah pasca operasi hanya Touch down weight bearing (TDWB), melekatkan
“ cracker ” ke telapak kaki/ forefoot pasien dengan instruksi untuk tidak
mematahkan cracker dapat membantu dalam mengajarkan konsep ini. Menapak di
atas timbangan kamar mandi dengan ekstremitas yang terkena membantu pasien
partial-weight-bearing (PWB) untuk menentukan jumlah tekanan yang tepat
(biasanya 50% dari berat badan atau kurang) untuk diletakkan di kaki. Mereka yang
masih mengalami kesulitan dapat berlatih pemindahan berat di paralel bar sebelum
menggunakan alat bantu jalan.
Pasien yang telah menjalani THR sering berjalan dengan abduksi kaki yang
bersangkutan. Normalisasi pola gaya berjalan mereka di awal fase pemulihan.
Sebagian besar fasilitas menetapkan tujuan jangka pendek saat berjalan di
permukaan datar sejauh 100 kaki (30.48 m) dengan alat bantu yang tepat.

Tahap IIb
WAKTU: 3 hingga 7 hari setelah operasi
TUJUAN: Untuk meningkatkan transfer dan berjalan mandiri (menggunakan alat
bantu yang sesuai), untuk memperkuat Peringatan THR, sampai berpindah ke
rumah

Hari-3 Pascaoperasi (Hingga pulang)


Pasien sering dipindahkan dari bagian perawatan akut ke a pusat rehabilitasi atau
fasilitas perawatan terampil pada hari ke-3, beberapa pasien (biasanya mereka yang
lebih muda dan lebih sehat) dapat berpindah ke perawatan di rumah.
Perawatan di pusat rehabilitasi dilakukan di gym fisioterapi. Latihan naik-turun
tangga umumnya dimulai pada hari itu 3. Pola langkah dengan beban minimal pada
kaki yang terkena diajarkan untuk ambulasi pada permukaan datar, pada tangga
(pasien menaiki tangga dengan kaki sehat dan turun tangga dengan kaki yang sakit).
Pasien harus bisa mendaki jumlah anak tangga sesuai situasi rumah. Ketika pasien
tidak kompeten dengan naik tangga, pasien diatur untuk tinggal di lantai dasar.
Keterampilan ini dilanjutkan setiap hari di pusat rehabilitasi sampai waktu
pulang. Pada saat pulang, anggota keluarga atau pengasuhnya harus dilatih untuk
membantu pasien dengan aman kapanpun diperlukan.
Kriteria kepulangan umum untuk THR adalah sebagai berikut:
• Pasien mampu menunjukkan dan menyebutkan tindakan pencegahan pada THR.

7
• Pasien mampu menunjukkan kemandirian dengan transfer.
• Pasien mampu menunjukkan kemandirian dengan program latihan.
• Pasien mampu menunjukkan kemandirian berjalan pada permukaan yang rata
sampai 100 kaki (30.48 meter)
• Pasien mampu menunjukkan kemandirian naik-turun tangga.
Instruksi tertulis dengan ilustrasi/leaflet/booklet yang berkaitan dengan
kriteria ini masuk dalam paket untuk digunakan di rumah (home program). Pasien
biasanya pulang antara 5 hingga 10 hari setelah operasi. Zavadak dkk, menemukan
kemandirian aktifitas fungsional diperlukan pada sesi fisioterapi adalah sebagai
berikut:
 Terlentang ke duduk
 Duduk ke berdiri
 Ambulasi hingga 100 kaki (30.48 m)
 Mandiri di tangga
Namun, harapan terapis tidak sepenuhnys berdasarkan hasil statistik. Munin
dkk, menemukan bahwa kurang dari 40% pasien yang menjalani THR mandiri dalam
melakukan semua tugas pokok pada saat keluar dari pusat rehabilitasi. Sekitar 80%
pasien berada di tingkat pengawasan. Usia lanjut, kondisi hidup sendiri, dan
peningkatan jumlah komorbid adalah faktor-faktor yang diprediksi memperlama
waktu perawatan pasien.

Tahap III (Kembali ke Rumah)


WAKTU: 1 hingga 6 minggu setelah operasi
TUJUAN: Untuk mengevaluasi keamanan di rumah, untuk memastikan
independensi pasien dengan transfer dan ambulasi, merencanakan kembalinya
klien ke tempat kerja sebelumnya atau kegiatan komunitas yang sesuai.

Fase Perawatan Rumah


Penilaian di rumah untuk fisioterapi biasanya dilakukan 24 jam setelah pulang
dari rumah sakit. Unsur-unsur yang harus dinilai sama dengan pra operasi, dengan
tambahan bekas sayatan bedah. Jumlah kunjungan yang diizinkan oleh perusahaan
asuransi pasien dapat membatasi tujuan yang ditetapkan oleh fisioterapis. Jaminan
kesehatan pada tahap ini terbatas pasien yang tinggal di rumah atau sangat terbatas
dalam kemampuan mereka untuk keluar. Sebagian besar pasien tidak lagi tinggal di
rumah setelah 3 hingga 4 minggu.
Karena aturan asuransi memberikan kendala pada jumlah kunjungan
keperawatan yang diizinkan, fisioterapi dilatih untuk melepas staples/jahitan
(umumnya dilakukan perawat). melepas jahitan biasanya dilakukan 12-14 hari
setelah operasi. Setelah pulang dari rumah sakit, berharap untuk memberi tahu
pasien mengenai posisi duduk dan tidur yang tepat, penyesuaian furnitur, dan

8
masalah keamanan rumah lainnya seperti karpet licin atau colokan kabel listrik.
Penilaian pada agen perawatan di rumah termasuk ulasan obat pasien. Periksa
untuk melihat apakah pasien dan / atau pengasuh memiliki obat yang tepat di
rumah dan sesuai resep.
Penilaian postural harus dilakukan dan kontraktur harus ditangani melalui
peregangan pelan. Peregangan hamstring dilakukan dengan bantuan terapis dapat
ditambahkan pada sesi latihan terlentang (tidak melebihi 90 dari fleksi panggul).
Peregangan Tendon Achilles dapat dilakukan di meja dapur, walker atau di dinding.
Latihan Closed kinetic chain (dengan kaki yang sakit ditapakkan di tanah atau di
peralatan olahraga), seperti heel raises dan minisquat, juga bisa dilakukan di meja.
Latihan open chain dilakukan sambil berdiri di lokasi ini termasuk fleksi hip, abduksi
hip dan ekstensi hip. Sidestepping adalah latihan fungsional abduksi yang
menstimulasi kedua glutes set dan melibatkan rotator hip eksentrik di fase stance.
Seringkali pasien akan mengganti fleksi hip dengan abduksi hip. Mereka mengalami
kesulitan meminimalkan kerja gluteus medius dan gluteus minimus karena postur
membungkuk lama. Ekstensi hip dan kontrol konsentrik dan eksentrik rotator hip
diperlukan untuk pola jalan yang normal. Berjinjit dilakukan dengan berdiri di
ambang pintu dengan lengan terangkat di kedua sisinya dari kusen pintu, dapat
secara efektif meregangkan fleksor plantar, fleksor hip, lengan, dan trunk sementara
memperkuat LE quads sebaliknya. Pasien yang lebih aktif mungkin bisa diposisikan
tengkurap untuk meregangkan fleksor pinggul yang memendek.
Wall slide dilakukan dengan punggung pasien tersangga pada dinding dan kaki
ditempatkan sekitar 12 inci (30 cm) di depan tembok. Pelatihan keseimbangan dan
core/ trunk untuk menekankan kebiasaan postural yang baik dapat dimulai sekarang
atau di klinik rawat jalan tergantung pada tingkat kemajuan pasien. Peralatan
latihan yang sudah ada di rumah pasien dapat ditambahkan ke program yang sudah
ada jika bisa digunakan dengan aman.
Sepatu sering menyesuaikan bentuk dengan tekanan pada pola berjalan
abnormal dan dapat menyebabkan kembali ke pola jalan yang lama jika dipakai
setelah operasi THR. ganti sepatu lama yang sudah salah bentuk bila
memungkinkan.
Kemajuan dari penggunaan walker beroda atau crutch menjadi tongkat
biasanya 3-4 minggu setelah operasi. Kadang-kadang,tongkat quadripot sebagai
perangkat sementara. Penggunaan tongkat biasanya dihentikan 3 sampai 4 minggu
kemudian. Pasien harus berjalan dengan aman pada level permukaan miring,
trotoar bergerigi, trotoar, dan naik-turun tangga sebelum pulang.
Kekuatan yang cukup harus pulih untuk memungkinkan manaiki tangga selama
di rumah. Pada awalnya, pasien dapat berlatih melangkah ke buku atau peralatan
rumah tangga lainnya yang stabil. modifikasi jinjit tungkai yang terkena ditempatkan
pada tangga atas adalah cara lain membantu latihan sebelum menaiki tangga.

9
Mengemudi diperbolehkan 3 hingga 6 minggu setelah operasi. Izin dapat
diberikan lebih cepat, tergantung gaya hidup pasien dan tingkat kemajuan.
Instruksikan pasien untuk naik dan turun bus atau keluar masuk mobil dengan aman.
Kantong sampah plastik yang bersih ditempatkan di atas kursi dari mobil
menyediakan permukaan yang memungkinkan pasien untuk bergeser dan berputar
di kursi untuk mengatur posisi mengendara lebih mudah.

Klinik Rawat Jalan


Intervensi fisioterapi sering berakhir dengan tahap perawatan di rumah.
Pasien dengan gaya hidup yang menuntut fisik mungkin membutuhkan kekuatan
tambahan dan pelatihan daya tahan. Beberapa pasien dirujuk ke klinik karena gaya
berjalan, yang lain karena mereka tidak menemukan persyaratan pada saat keluar
rumah sakit di rumah. Pada pasien rawat jalan terapis dan ahli bedah harus
memeriksa untuk mengetahui status tindakan pencegahan dan tingkat aktivitas
sebelum mendesain program latihan yang agresif.
Reassessment pasien pada saat ini termasuk postur, keseimbangan, kekuatan
(konsentris dan eksentrik di pinggul), pola gait, dan kontrol core. Peregangan dan
latihan dimulai di rumah atau rumah sakit dapat diperluas di klinik. Teruskan
memperbaiki postur tubuh dengan trunk dan peregangan hip fleksor.
Normalisasikan pola berjalan dengan latihan pergantian berat dan penguatan hip.
Penguatan core untuk mendukung postur yang baik harus diberikan dalam program.
Latihan renang dianjurkan setelah THR. Peralatan seperti treadmill, latihan sepeda,
dan elliptical cross-trainer bisa dimasukkan ke dalam program rumah sehingga
pasien dapat melanjutkan di gymnya sendiri nanti. Seperti dalam perawatan di
rumah, tujuan pada tahap ini bergantung pada jumlah kunjungan yang diotorisasi
oleh asuransi perusahaan pasien Harus didorong untuk kemandirian dengan
program latihan di rumah.

Setelah Intervensi Rehabilitasi


Dokter bedah akan menentukan kembalinya pasien untuk bekerja. Modifikasi
pekerjaan mungkin diperlukan dan beberapa mungkin tidak diizinkan untuk kembali
ke pekerjaan sebelumnya. Pekerjaan kasar yang berat tidak diizinkan setelah operasi
THR dan konseling pekerjaan diperlukan. Olahraga High-impact seperti running,
waterskiing, football, basketball, handball, karate, soccer, and racquetbal
kontraindikasi setelah THR. Hasil Survey 2007 juga menunjukkan snowboarding dan
high-impact aerobik "tidak diizinkan." Kegiatan "diizinkan dengan pengalaman ”
adalah ski menuruni bukit, ski lintas alam, angkat beban, ice-skating / sepatu roda,
dan Pilates. Olahraga yang "diizinkan" dari survey 2007 adalah berenang,scuba, golf,
berjalan, jalan cepat, hiking, sepeda statis, bowling, bersepeda jalan, aerobik
blow-impact, mendayung, menari (ballroom, jazz, square), alat berat, pemanjat
tangga, treadmill, dan elliptical. Tenis ganda dianggap kurang memberikan tekanan

10
dibandingkan dengan tenis single. Hasil survei belum diputuskan mengenai tenis
single dan seni bela diri.
Kesesuaian pasien dengan program latihan di rumah sering dipertanyakan
setelah beberapa minggu pertama dan terutama setelahnya keluar dari layanan
terapi. Sepertinya tidak ada perjanjian ada di antara ahli bedah untuk berapa lama
program latihan harus dilanjutkan. Dokter bedah dapat melepaskan pasien dari
program latihan di rumah atas kebijaksanaannya sendiri.
Sheh,dkk. menyatakan bahwa tingkat pemulihan fleksi hip sakit menunjukkan
yang paling lambat. Kelemahan otot dicatat pada selama minimal 2 tahun setelah
operasi hip meskipun sudah kembali ke langkah normal dan aktivitas otot-otot
phasic. Kelemahan otot Gluteus maximus atau minimus dapat terjadi di dekat hip
selama kegiatan daya tahan. Sheh menyatakan bahwa kelemahan otot mengurangi
perlindungan permukaan fiksasi implant selama aktivitas daya tahan. Ini dapat
berkontribusi pada tingkat loosening yang lebih tinggi pada pasien aktif oleh karena
itu, terapis harus mendorong program latihan jangka panjang berkelanjutan selama
tidak bertentangan perintah ahli bedah.

PENYELESAIAN MASALAH
Prosedur THR telah disempurnakan sehingga kemajuan pasien sekarang cukup
pasti dan dapat diprediksi. Namun, kebanyakan komplikasi membutuhkan rujukan
kembali ke dokter bedah.
Komplikasi yang bisa terjadi pada THR :
a. Komplikasi absolut
Deep vein trombosis (insiden terjadi tromboplebitis 50%), komplikasi pada
paru-paru (fatal pulmonary embolus 0,1-0,2%) (David E, 2004) , infeksi saluran
kencing dan konstipasi
b. Komplikasi relatif
Perbedaan panjang tungkai, kekakuan/stiffness, dislokasi hip, infeksi pada hip
c. Komplikasi lain
Heterotopic ossifikan pada sekitar hip, lesi saraf ( 79% n. sciatic , 13% n.femoralis
dan n. obturator jarang terkena. Penyebab : 47% tidak diketahui, 20% karena
peralatan traksi, 18% karena secondary-contusio dan 11% karena hematom)
(David E, 2004), fraktur pada tulang di sekitar protesis, penjepitan otot iliopsoas,
kontraktur otot, pemendekan otot iliopsoas, kerusakan mekanik dari protesis.

Beberapa gejala bisa dianalisa sebagai berikut:


 Nyeri paha saat berjalan dan berkurang saat duduk, hal ini menunjukkan adanya
klaudikasio intermiten
 Tanda Trendelenburg positif yang tidak selesai dengan penanganan, mungkin
disebabkan oleh kerusakan persarafan gluteal
 Rubor yang parah dan pembengkakan di area bedah dengan demam yang
menyertainya, mungkin menunjukkan luka infeksi

11
 Pembengkakan ekstremitas yang tidak jelas yang tidak menghilang dengan elevasi
 Efek sistemik umum, mungkin menunjukkan alergi bahan implan (jarang), anemia
pasca operasi, embolus paru atau komplikasi medis lainnya
 Nyeri yang menetap dan berat (bahkan nyeri menjalar ke medial knee,
pemendekan ekstremitas yang tidak jelas atau rotasi ekstrim, atau nyeri dengan
rotasi ekstremitas), mungkin dihasilkan dari dislokasi prostesis, osifikasi
heterotopik, atau fraktur tulang yang berdekatan atau refleks simpatik distrofi
Pertama kali fisioterapi melihat perkembangan komplikasi; oleh karena itu,
komunikasi yang baik dengan ahli bedah sangat penting. Contohnya perbedaan
panjang tungkai. Pasien dapat melanjutkan berjalan, dengan menambah ensole
pada sepatu, ahli bedah kemudian dapat meresepkan orthotic permanen. Oedema
dapat diobati dengan obat-obatan. Pasien seharusnya disarankan untuk
mengangkat kaki mereka, lebih sering beristirahat, memakai selang TED, ankle
pumps dan menerapkan es ke daerah yang bengkak. Rasa sakit di area tubuh yang
tidak terpengaruh biasanya dikelola dengan obat. Kemungkinan efek samping dari
obat termasuk mual, konstipasi, dan hipertensi. Terapis bisa membantu
pengurangan rasa sakit dengan modalitas, latihan, dan posisioning. Kelainan yang
signifikan harus selalu dilaporkan kepada ahli bedah.

KESIMPULAN
Setelah operasi THR diharapakan terjadi Peningkatan kualitas hidup. Fungsi
fisik yang lebih baik, tidur, tingkat emosional, interaksi sosial, dan rekreasi biasanya
dialami dalam beberapa bulan pertama. Pada 2 tahun sesudah operasi, pasien yang
telah menjalani THR telah melaporkan kepuasan yang lebih besar dengan hasil
mereka daripada yang diprediksi sebelum operasi

12
Catatan Tambahan (dari kisner & beberapa sumber)
1. Pembebanan pada sendi panggul
Sendi panggul adalah penyangga berat badan utama dan selalu tertekan penuh
dalam aktifitas keseharian. Ketika berat badan didistribusikan ke kedua tungkai selama berdiri.
Berat yang disangga 1 panggul adalah ½ berat badan (BB) diatas panggul atau 1/3 dari total
BB. Meski demikian, beban yang disangga 1 panggul lebih berat daripada beban yang
disangga sebenarnya karena tegangan otot hip menambah kompresi sendi.
Daftar Besar pembebanan pada panggul dari beberapa aktifitas
No Aktifitas Besaran (%) BB
1 Fase menapak saat jalan 238
2 Naik tangga 251
3 Turun tangga 260
4 Berlari 3,5 m/s 526
5 Mendaki gunung dengan lereng datar 410
6 Mendaki gunung dengan lereng curam 780
7 Cross-country dengan teknik klasik 400
8 Cross-country dengan teknik skating 460
(Van den Bogert dalam Hall,2012)
Beban meningkat dengan penggunaan alas kaki yang keras dari pada yang lunak. Membawa
beban, misal 25 % BB pada satu sisi menyebabkan 167 % penambahan beban pada panggul
sisi sebelahnya dibanding sisi yang di bebani. Pada saat langkah kaki dipercepat, beban
panggul meningkat saat fase swing dan menapak. Beban panggul selama jogging dapat
dikurangi dengan pola jalan yang halus dan heel strike yang pelan. Penggunaan walker atau
kruk pada panggul sisi sehat/tidak nyeri berguna menyeimbangkan distribusi beban diantara
tungkai pada siklus berjalan. Pada saat fase stance penyanggan di sisi tidak nyeri mengurangi
ketegangan yang dibutuhkan dari otot abduktor, dengan cara demikian mengurangi beban
pada sisi yang nyeri. Pengurangan nyeri pada sisi yang nyeri, meskipun menambah tekanan
pada sisi sebelahnya. (Hall, 2012)

13
2. Pendekatan operasi dan akibar potensial terhadap fungsi post operasi

14
3. Pencegahan gerakan pada awal operasi THR

4. EDUKASI untuk Teknik Perlindungan Sendi


a) Meminimalkan tekanan pada sendi
Menggunakan alat bantu pada sisi yang sehat, mencegah SLR sesegera mungkin
karena akan menyebabkan tekanan mekanik yang besar pada hip, gunakan kursi yang
tinggi dan kekuatan dorongan pada lengan karena posisi dari duduk ke berdiri ini
menyebabkan tekanan yang tinggi pada hip.
b) Teknik perlindungan sendi
Pada jenis operasi dengan pendekatan posterior, tungkai tidak boleh menyilang, hindari
posisi jongkok, saat duduk menghindari posisi membungkuk seperti memasang tali
sepatu, pasien bisa menggunakan bantal abduksi saat di bed, mencegah tidur miring
tanpa menggunakan bantal diantara kedua tungkai selama 8-12 minggu setelah operasi,
mencegah berdiri dengan kaki internal rotasi, mencegah kursi yang terlalu pendek yang
menyebabkan terlalu fleksi pada hip, mencegah fleksi hip 90˚, adduksi dan internal
rotasi, karena merupakan kontra indikasi relatif , artinya setelah 3-6 minggu setelah
operasi dapat dilakukan gerakan adduksi, 6 minggu boleh internal rotasi dan 8 minggu
untuk fleksi lebih 90˚, jongkok dapat dilakukan setelah 6 bulan. Berjalan dilakukan hari
kedua setelah operasi dengan partial weight bearing (PWB) 15% dengan
menggunakan walker atau kruk kontra lateral dan ditingkatkan sesuai toleransi pasien
sampai 6-8 minggu post-operasi, menggunakan pegangan pada kamar mandi,
peralatan di kamar mandi di desain sehingga mudah diraih, mencegah membungkuk
berlebih untuk mengambil barang (bila sangat diperlukan, pada kaki yang dioperasi
usahakan hip tidak menekuk), cegah hip fleksi saat berdiri dari kursi, Peralatan ADL
yang mudah digunakan dan bila perlu dengan modifikasi.

15
c) Kembali menyetir setelah operasi THR tergantung dari faktor seperti waktu reaksi
menyetir dan durasi keamanan pada sendi, secara umum pasien mencapai kemempuan
menyetir seperti sebelum operasi adalah empat sampai enam minggu post operasi
(Ganz Et al pada David IP, 2007)
Melakukan aktifitas seksual, secara umum dilakukan 1-2 bulan setelah operasi dan
laki-laki dapat melakukan fungsinya lebih cepat daripada wanita, dan sebagin besar
pasien menyatakan memilih pada posisi telentang (Tren et al pada David IP, 2007

5. Pemeriksaan Fungsional

Beberapa pemeriksaan subyektif bisa digunakan diantaranya Western Ontario and


McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC), The Medical Outcomes Study 36-Item
Short-Form Health Survey, Harris hip score, ketiganya menunjukkan validitas dan reliabilitas
yang tinggi, dan Harris hip score dapat digunakan fisioterapist untuk mempelajari hasil dari
THR (Söderman P, 2001). Dan didapatkan reliabilitas interobserver yang excellent untuk nilai
HHS diantara fisoterapist, sehingga HHS dapat digunakan oleh fisioterapist (Kirmit L, et al,
2005). Sebaliknya, WOMAC score bukan test yang bagus untuk meramalkan aktifitas fisik
setelah pemasangan THR. Hanya 60% dari pasien dapat diklasifikasikan kedalam satu dari
dua kategori dengan benar. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa aktifitas fisik tidak dapat
dibuhungkan hanya dengan kemampuan atau keterbatasan fisik semata. Tetapi keadaan
social, psikologis, factor lingkungan menentukan level aktifitas setelah THR (Robert W, 2008)

Penilaian subyektif yang paling sering digunakan untuk kasus THR ini adalah Harris
Hip Score (HHS) (David IP, 2007). Harris hip score ini merupakan alat komunikasi antara
fisioterapist dan dokter orthopedi untuk mengetahui keberhasilan dari operasi THR yang
dilakukan.
Harris Hip Score (HHS) diperkenalkan oleh Dr.William Harris (seorang orthoped
terkenal di Massachusetts) HHS adalah alat untuk mengevaluasi pagaimana pasien
melakukan aktifitas setelah penggantian sendi. Pertanyaan dikelompokkan kedalam beberapa
kategori (nyeri, fungsi, aktifitas fungsional, nilai LGS) .Dimana total dari nilai HHS, bila
didapatkan 90-100 excellen, 80-90 = Good, 70-79 = Fair, 60-69= poor, dibawah 60 = gagal
(Thomas J, et al)

16

Anda mungkin juga menyukai