Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebelum tahun 2001, World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk
memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif selama 4-6 bulan. Namun pada tahun
2001, setelah melakukan telaah artikel penelitian secara sistematik dan berkonsultasi
dengan para pakar, WHO merevisi rekomendasi ASI eksklusif tersebut dari 4-6 bulan
menjadi 6 bulan. Hasil telaah artikel tersebut menyimpulkan bahwa bayi yang disusui
secara eksklusif sampai 6 bulan umumnya lebih sedikit menderita penyakit
gastrointestinal, dan lebih sedikit mengalami gangguan pertumbuhan. Definisi ASI
eksklusif bermacam-macam tetapi definisi yang sering digunakan adalah definisi WHO
yang menyebutkan ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa cairan atau
makanan padat apapun kecuali vitamin, mineral atau obat dalam bentuk tetes atau sirup
sampai usia 6 bulan (Kajian implementasi dan kebijakan ASI eksklusif, 2010).
Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berfluktuasi dan
menunjukkan kecenderungan menurun selama beberapa tahun terakhir. Pada grafik
terlihat bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif di seluruh Indonesia pada bayi 0-6
bulan turun dari 62,2% tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008. Sedangkan
cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada
tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008 (Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional, 2010).
Pemberian ASI secara eksklusif di Indonesia belum terlaksana sepenuhnya.
Upaya pemantauan dan meningkatkan perilaku menyusui pada ibu yang memiliki bayi
khususnya ASI eksklusif masih dirasa kurang. Permasalahan yang utama adalah faktor
sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas
kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung pemberian ASI eksklusif, gencarnya
promosi susu formula, dan ibu bekerja (Rencana Strategis Menkes RI, 2010).
Kenyataan yang terjadi adalah bahwa dengan keberadaan program ASI eksklusif
di wilayah kerja dan daerah binaan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), masalah
dalam pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih cukup tinggi dan bahkan tidak
pernah mencapai target yang ditetapkan secara nasional. Dari data Survey Demografi
2

Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997, cakupan ASI eksklusif masih 52%; pemberian ASI
satu jam pasca persalinan 8%; dan pemberian hari pertama 52,7%. Rendahnya
pemberian ASI eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Dari
survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System
(NSS) bekerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan
(Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten,
Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel), menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan
di perkotaan antara 4%-12%, sedangkan di pedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI
eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-
13% (Depkes RI, 2002).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dipandang perlu untuk melakukan
evaluasi terhadap program pemantauan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas
Tembuku I sehingga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi instansi terkait
yaitu Puskesmas Tembuku I dalam upaya meningkatkan pencapaian pemantauan ASI
eksklusif selanjutnya, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten dan Propinsi, serta Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah pelaksanaan program pemantauan ASI eksklusif di Puskesmas Tembuku I telah
sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli ?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui kesesuaian pelaksanaan program pemantauan ASI eksklusif di Puskesmas
Tembuku I dengan ketentuan yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan penelitian ini antara lain:
1. Mengevaluasi masukan program pemantauan ASI eksklusif di Puskesmas
Tembuku I.
3

2. Mengevaluasi proses pelaksanaan program pemantauan ASI eksklusif di


Puskesmas Tembuku I.
3. Mengevaluasi keluaran program pemantauan ASI eksklusif di Puskesmas
Tembuku I.
4. Mengevaluasi hambatan dalam pelaksanaan program pemantauan ASI eksklusif
di Puskesmas Tembuku I.

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai beikut:
1. Dapat memberikan manfaat bagi pelaksanaan program pemantauan ASI
eksklusif di Puskesmas Tembuku I pada khususnya dan di Kabupaten Bangli
pada umumnya.
2. Memberikan umpan balik (feedback) bagi instansi pemegang kebijakan
program pemantauan ASI eksklusif tentang pelaksanaan program ini di
lapangan.
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Program Pemantauan ASI eksklusif


Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) adalah suatu sarana pelayanan kesehatan
masyarakat yang amat penting di Indonesia. Yang dimaksud dengan puskesmas adalah
suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pengembangan kesehatan,
pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh,
terpadu, dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal di suatu
wilayah tertentu. Puskesmas memiliki beberapa program yang bertujuan untuk
memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada seluruh masyarakat di
wilayah puskesmas di wilayah kerjanya. Salah satu programnya adalah pemantauan ASI
eksklusif sebagai bagian dari pengembangan program gizi.
Program pemantauan ASI eksklusif adalah salah satu bagian dari program gizi
puskesmas dan merupakan strategi teknis peningkatan status gizi anak yang juga
berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak, yang pelaksanaannya sesuai dengan
kebutuhan. Program gizi yang menaungi program pemantauan ASI eksklusif sendiri
menetapkan salah satu indikator kinerja program ini yaitu 80% bayi usia 0-6 bulan
mendapat ASI eksklusif. Dalam rangka mencapai indikator kinerja yang telah ada, maka
ditetapkan beberapa kegiatan pokok dan pendukung yang terdiri dari advokasi dan
sosialisasi peningkatan pemberian ASI serta kampanye peningkatan ASI eksklusif,
pelatihan dan penyelenggaraan konseling menyusui untuk mencegah dan mengurangi
timbulnya masalah gizi, dan pemberdayaan masyarakat yang lingkup kegiatannya
meliputi operasional posyandu menggunakan Biaya Operasional Kesehatan (BOKs),
yang terdiri dari: PMT penyuluhan, pertemuan lintas program dan sektoral terkait
peningkatan fungsi posyandu, pembinaan dan pelatihan ulang kader posyandu, serta
penggerakan kelompok pendukung ASI dan Makanan Pendamping (MP)-ASI.
Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) sesuai dengan Surat Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 131/MENKES/SK/II/2004 tentang
SKN, dinyatakan bahwa upaya kesehatan dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan
suatu bentuk atau pola upaya kesehatan puskesmas, peran serta masyarakat, dan rujukan
upaya kesehatan. Selain itu ditunjang juga dengan program pemerintah yaitu “Menuju
5

Indonesia Sehat 2010”. Tujuan pembangunan kesehatan “Menuju Indonesia Sehat


2010” yang mengacu pada Undang-undang No. 23 tahun 1992 adalah meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup bagi setiap orang, agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, Bangsa dan Negara
Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam
lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan
yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di
seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 2010).

PROGRAM PEMERINTAH

PROGRAM INDONESIA SEHAT 2010

TINDAKAN
PREVENTIF
DAN
MENINGKATKAN GIZI MEMBUDAYAKAN SIKAP EDUKATIF
HIDUP BERSIH DAN SEHAT

Gambar 2.1 Bagan Program Pemerintah Mengenai Program Indonesia Sehat 2010
PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
DI MASYARAKAT
Lingkup kegiatan program pemantauan ASI eksklusif adalah melayani setiap
aspek yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif di masing-masing wilayah
kerja puskesmas. Puskesmas pembantu (pustu) dan pos kesehatan desa (poskesdes)
MEKANISME UMPAN BALIK
yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tembuku I saat ini berjumlah tujuh buah yang
tersebar di 4 desa, diantaranya: Pustu Jehem I, Pustu Jehem II, Poskesdes Jehem, Pustu
Undisan, Pustu Tembuku, Poskesdes Tembuku, dan Pustu Bangbang.
PENGORGANISASIAN

2.2 Analisis Sistem Program Pemantauan ASI eksklusif

INPUT (6M) Sistem merupakanPERENCANAAN


INFORMASI suatu rangkaian komponen Pyang
PROGRAM berhubungan
ENGAWASAN OUTPUTsatu sama
EFEKlain danOUTCOME
DATA PUSKESMAS (IMPACT)
mempunyai suatu tujuan yang jelas. Komponen suatu sistem terdiri dari masukan,
proses, keluaran, efek, hasil, dan mekanisme umpan baliknya. Hubungan antara
komponen sistem ini berlangsung secara aktif dalam suatu tatanan lingkungan.
PENGGERAKAN
Mekanisme dan hubungan antar komponen sebuah sistem dapat dijelaskan dengan
DAN PELAKSANAAN
gambar 2.2.

LINGKUNGAN
SEKTOR-SEKTOR LAIN
6

Gambar 2.2 Mekanisme dan Hubungan Antar Komponen Sebuah Sistem (Muninjaya, A. A. ,
Gde,2004)
Masukan (input) terdiri dari enam M, yaitu: Sumber Daya Manusia (SDM/man);
pembiayaan (money); peralatan (material) yaitu: logistik, alat-alat yang dibutuhkan
untuk menunjang program; metode (method) yaitu keterampilan, prosedur kerja,
peraturan, kebijaksanaan; waktu (minute) yakni jangka waktu pelaksanaan program; dan
sasaran (market) yang akan diberikan pelayanan program kesehatan. Proses (process)
terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pelaksanaan program,
pengawasan dan pengendalian untuk kelancaran program. Keluaran (output) merupakan
hasil langsung suatu sistem. Serta hasil (outcome) merupakan dampak tidak langsung
dari proses suatu sistem.

2.2.1 Masukan Program Pemantauan ASI Eksklusif


Masukan pada program pemantauan ASI eksklusif terdiri dari 6 (enam) M, yakni:
1. Sumber Daya Manusia (SDM/man)
Sumber daya manusia (SDM) dalam program pemantauan ASI eksklusif
memiliki kriteria tertentu. Kriteria tersebut antara lain adanya tenaga
puskesmas yang ditugaskan menjadi penanggung jawab program pemantauan
ASI eksklusif; menjadi pemegang program pemantauan ASI eksklusif, dan
menjadi tenaga pelaksana program ASI eksklusif yang bertugas melakukan
penyuluhan, konseling, dan pemantauan ASI eksklusif di tiap pustu dan
poskesdes. Kriteria tersebut memiliki arti jika tidak ada tenaga pemantau ASI
7

eksklusif, maka tugas tersebut diserahkan kepada tenaga kesehatan lain yang
telah dilatih tentang ASI eksklusif. Adapun tenaga pelaksana lainnya adalah
kader-kader dari masyarakat yang telah dilatih dan dipersiapkan dalam bidang
ASI eksklusif. Pengembangan teknologi dan pembinaan serta peningkatan
keterampilan tenaga pemantau ASI eksklusif dilakukan secara berkelanjutan.
2. Pembiayaan (money)
Biaya operasional untuk program pemantauan ASI eksklusif seperti dana
pembinaan petugas serta biaya transportasi untuk petugas, atau sumber biaya
kesehatan secara umum dapat dibedakan atas dua macam, yaitu seluruhnya
bersumber dari anggaran pemerintah dan sebagian ditanggung oleh
masyarakat.
3. Peralatan (material)
Pemantauan ASI eksklusif harus ditunjang dengan sarana yang minimal dapat
menunjang pelaksanaan prevensi primer dan secara bertahap akan ditingkatkan
sesuai dengan mutu pelayanan. Adapun beberapa hal yang perlu dipersiapkan
antara lain: tersedianya blangko pelaporan, dan alat peraga seperti poster,
lembar balik, flashcard buatan percetakan maupun buatan sendiri, disesuaikan
dan dikembangkan dengan kondisi setempat.
4. Metode (method)
Strategi dan prosedur pelaksanaan program pemantauan ASI eksklusif sesuai
dengan kebijaksanaan yang sudah ada pada program gizi yang disesuaikan
dengan kemampuan dan sumber daya puskesmas. Adapun strategi tertulis
tentang pelaksanaan pemantauan ASI eksklusif dan kegiatan-kegiatan yang
akan dilakukan menurut Buku Pedoman Gizi Puskesmas Tahun 2010 dengan
deskripsi tugas yakni:
a. Pemegang program pemantauan ASI eksklusif
Bagi pemegang program pemantauan ASI eksklusif dalam hal ini
merupakan tenaga kesehatan tingkat puskesmas memiliki kegiatan berupa:
1) Menyusun rencana kegiatan pemantauan ASI eksklusif minimal sekali
dalam satu tahun yang terdiri dari mengumpulkan data ASI eksklusif serta
penunjangnya dalam rangka menyusun rencana bulanan dan rencana
Gambar 2.2 Mekanisme dan hubungan antar komponen sebuah sistem (Muninjaya, A. A. Gde,
tahunan, mengumpulkan data literatur dalam rangka menyusun rencana
2004)
dan pedoman kerja pemantauan ASI eksklusif, mengumpulkan data
pasangan usia subur (PUS), bumil, dan buteki untuk penyusunan
8

perencanaan, menyusun kebutuhan sarana dan prasarana pemantauan ASI


eksklusif, menyiapkan pertemuan lintas program dan lintas sektor; 2)
Pengorganisasian dan penggerakan tenaga pelaksana pemantauan ASI
eksklusif dengan kegiatan antara lain menyusun alur koordinasi dan
pembagian tugas sesuai dengan ketetapan dari kabupaten,
mensosialisasikan rencana kegiatan pemantauan ASI eksklusif kepada
seluruh tenaga pelaksana, mensosialisasikan kebijakan-kebijakan
mengenai kegiatan secara berkesinambungan kepada tenaga pelaksana,
melakukan pengembangan dan pembinaan bagi tenaga pelaksana di
lapangan, melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektoral; 3)
Monitoring dan evaluasi dengan kegiatan yaitu mencatat dan melaporkan
penerimaan dan penggunaan sarana prasarana kegiatan pemantauan ASI
eksklusif, melakukan rekapan dan melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan
pemantauan ASI eksklusif ke Dinas Kabupaten Bangli minimal dua kali
dalam jangka waktu satu tahun.
b. Pelaksana program pemantauan ASI eksklusif
Bagi pelaksana program dalam hal ini petugas kesehatan setingkat
puskesmas pembantu, memiliki tugas pokok dan fungsi yakni: 1)
Merancang persiapan kegiatan pemantauan ASI eksklusif seperti
mengumpulkan data PUS, bumil, dan buteki di wilayahnya; menentukan
sasaran penyuluhan, konseling, dan pemantauan; 2) Melaksanakan
kegiatan pemantauan ASI eksklusif antara lain menentukan metode dan
teknik penyuluhan dan konseling, menyusun materi penyuluhan dan
konseling, menentukan media penyuluhan dan konseling, melaksanakan
penyuluhan, konseling dan pemantauan ASI eksklusif sesuai jadwal
pelaksanaan yang disepakati, melakukan koordinasi lintas program dan
lintas sektoral; 3) Mengevaluasi hasil kegiatan pemantauan ASI eksklusif
dengan kegiatan mencatat dan melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan
kepada pemegang program.
5. Waktu (minute)
Pelaksanaan program pemantauan ASI eksklusif dilakukan secara
berkesinambungan dan disesuaikan dengan jadwal yang telah ditetapkan
masing-masing daerah binaan. Dalam hal ini, penyuluhan dan konseling
individu dapat dilaksanakan sesuai dengan daerah binaan masing-masing.
9

Kegiatan pemantauan pemberian ASI eksklusif dilaksanakan satu kali dalam


jangka waktu satu bulan. Dan pelaporan ke Dinas Kesehatan Kabupaten
Bangli dilakukan minimal dua kali dalam jangka waktu satu tahun.
6. Sasaran (market)
Sasaran program pemantauan ASI eksklusif adalah pasangan usia subur (PUS),
ibu hamil, serta ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan yang berada di wilayah
kerja Puskesmas Tembuku I.

2.2.2 Proses Program Pemantauan ASI Eksklusif


Program pemantauan ASI eksklusif harus dilaksanakan dalam koordinasi fungsional
yang berarti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan
dilaksanakan secara terpadu dengan unit penanggung jawab pelayanan kesehatan
masyarakat mulai dari puskesmas, kabupaten, sampai tingkat propinsi. Koordinasi
tersebut harus dilakukan secara berjenjang dan terus menerus.
Adapun kriteria dalam pelaksanaan program ini adalah adanya penanggung
jawab program ASI eksklusif pada setiap jenjang administrasi kesehatan. Untuk
mewujudkan hal tersebut di atas, diperlukan suatu wadah bina tunggal yang berfungsi
dalam pembinaan, perencanaan, pengorganisasian/koordinasi, penggerakan,
pengawasan, dan pengendalian dan diharapkan wadah ini terdapat pada setiap tingkat
administrasi kesehatan, yaitu sebagai berikut:
1. Pada tingkat pusat/nasional: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat,
Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI,
2. Pada tingkat propinsi: dinas kesehatan tingkat propinsi,
3. Pada tingkat kabupaten/kotamadya: dinas kesehatan tingkat
kabupaten/kotamadya,
4. Pada tingkat puskesmas: kepala puskesmas, petugas kesehatan gizi atau tenaga
kesehatan lainnya yang terkait.

Adapun kriteria lainnya untuk administrasi dan pengelolaan yakni adanya


koordinasi fungsional yang dilaksanakan melalui pertemuan berkala (setiap bulan),
supervisi terpadu dan planning of action (POA) dan adanya dokumen perencanaan,
pelaksanaan, pengendalian, lengkap dengan pelaksanaan kegiatan.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2009,
pengawasan pelaksanaan program ini dilakukan dalam beberapa tingkat yakni pada
10

tingkat puskesmas, tingkat kabupaten/kotamadya, dan tingkat pusat dengan rincian


sebagai berikut yaitu :
a. Di tingkat puskesmas, diperlukan rencana kerja, catatan harian, catatan
keikutsertaan, dan pemetaan jumlah Pustu dan poskesdes yang telah
menjalankan kegiatan pemantauan ASI eksklusif,
b. Pada tingkat kabupaten/kota madya: diperlukan gambaran puskesmas
berdasarkan pencapaian kegiatan pemantauan ASI eksklusif,
c. Pada tingkat propinsi, diperlukan gambaran tingkat kabupaten/kotamadya
berdasarkan pencapaian program pemantauan ASI eksklusif.
2.2.3 Keluaran Program Pemantauan ASI Eksklusif
Keluaran merupakan hasil langsung suatu sistem. Adanya target atau sasaran jangka
panjang (tahun 2000) terukur dengan mengacu pada indikator tingkat pemberian ASI
eksklusif nasional yang disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Adapun indikator
dan target nasional pemantauan ASI eksklusif sejak tahun 2006 adalah peningkatan
cakupan pemberian ASI eksklusif yaitu 80% bayi yang berusia 0-6 bulan diberi Air
Susu Ibu (ASI) secara Eksklusif. Laporan kegiatan yang sesuai dengan stratifikasi
puskesmas dalam hal pemantauan ASI eksklusif meliputi: persentase ibu yang dapat
menyelesaikan pemberian ASI eksklusif, jumlah ibu yang dapat menyelesaikan
pemberian ASI eksklusif, dan kunjungan petugas kesehatan (frekuensi pembinaan) ke
masyarakat baik melalui penyuluhan maupun konseling.