Anda di halaman 1dari 5

Manajemen Pakan Sapi Bali

Pakan untuk sapi Bali yang dikandangkan, selalu tersedia sepanjang hari. Untuk
mengurangi pakan yang tercemar sebaiknya diberikan dua kali, pada pagi dan sore hari.
Dalam pemilihan pakan ternak sapi, selain zat yang terkandung di dalammnya, perlu
juga dipertimbangkan sifat bahan pakan yang akan diberikan seperti : tekstur, palatabilitas
(tingkat kesukaan) dan daya cernanya
Pemberian Pakan Hijauan
Ternak sapi Bali tergolong ternak ruminansia yang mempunyai potensi biologis
untuk dapat memanfaatkan hijauan dengan baik sebagai bahan pakan utamanya. Hijauan
terutama rumput relatif lebih mudah ditanam sebagai sumber energi. .
Pakan hijauan yang kering atau dikeringkan tergolong pakan kasar. Pakan kasar
merupakan pakan yang kadar nutrisinya rendah contoh jerami padi. Jerami memiliki
potensi sebagai salah satu sumber makanan ternak namun memiliki nilai nutrisi yang relatif
rendah. Kandungan protein jerami padi bervariasi antara 3-5% (Sutardi et al., 1982).
Pada peternak sapi pembibitan yang terdapat di kandang bawah berjumlah 102 ekor
induk dan 1 ekor pejantan, dengan bobot rata-rata induk 300 Kg sedangkan bobot pejantan
±500 Kg. Pemberian pakan jerami padi 5–6 kg per ekor/hari atau 2% dari boot badan
ternak, dengan frekuensi pemberian 2 kali dalam satu hari pada siang dan sore hari.
Manajemen pemberian jerami padi pada usaha ini sesuai pendapat Utomo et al.,
(1998) yakni ternak ruminansia hanya mampu mengkonsumsi jerami padi sebanyak 2%
dari bobot badan (dikonversi dalam bahan kering). Bila diasumsikan ternak besar (sapi)
bobot badannya 300 kg, sehari membutuhkan bahan kering jerami sebanyak 300x0,02 = 6
kg/ekor/hari. Jerami padi juga mempunyai nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik
yang rendah, yakni berturut-turut antara 34–52% dan 42–59% (Winugroho et al., 1983).
Nilai kecernaan yang rendah ini menyebabkan rendahnya kemampuan konsumsi
bahan kering yaitu hanya 2% dari bobot badan (Jackson, 1977; Utomo et al., 1998). Maka
perlu dilakukan peningkatan mutu jerami dengan penghancuran dinding sel, lignin dan
selulosa yang ada pada jerami tersebut dengan cara teknik fermentasi

Pemberian Pakan Konsentrat (Penguat)


Ternak sapi Bali mampu beradaptasi dengan berbagai jenis pakan kasar yang
bergizi rendah, seperti jerami padi dan rumput kering. Namun, untuk mencapai
pertumbuhan yang lebih baik, sapi Bali perlu diberi pakan penguat terutama pada musim
kemarau ketika persediaan hijauan berkurang. Dengan pemberian pakan konsentrat, nilai
gizi pakan untuk ternak sapi dapat ditingkatkan agar memenuhi kebutuhan ternak.
Pakan konsentrat adalah campuran bahan-bahan makanan yang dicampur menjadi
satu sehingga menjadi suatu bahan makanan yang berfungsi untuk melengkapi kekurangan
gizi dari bahan makanan lainnya (hijauan). Pakan konsentrat mempunyai kandungan serat
kasar rendah dan mudah dicerna. Pakan konsentrat merupakan pakan sumber protein dan
energi. Campuran pakan konsentrat yang diberikan untuk ternak meliputi dedak padi,
pollard, ampok dan mineral.
Dilihat dari komposisi nutrisi konsentrat yang diberikan, kandungan nutrien pada
konsentrat bisa dikatakan sudah lengkap dan sudah cukup untuk mendukung performans
sapi Bali. pemenuhan kebutuhan protein dan energi yang seimbang pada sapi yang
digemukkan maupun pembibitan tidak bisa dipenuhi hanya oleh pakan hijauan tetapi,
peranan pakan konsentrat pula sangatlah penting.
Tujuan pemberian pakan hijauan/kasar dan pakan konsentrat untuk saling
melengkapi kekurangan zat gizi satu sama lain sehingga penampilan ternak dapat optimal.
Adapun komposisi bahan pakan konsentrat yang dicampur dan diberikan untuk 1 kali
pemberian untuk sapi pembibitan sebanyak 103 ekor yaitu :

Tabel 1. Jumlah Campuran Pakan Konsentrat Ternak Sapi

Porsi Volume
Bahan Pakan
(%) (Kg)
Dedak Padi 65 140
Pollard 17,5 37,5
Dedak Jagung 17,5 37,5
Jumlah 100 215
Pemberian pakan konsentrat juga tidak mempergunakan takaran yang pasti, hanya
berdasarkan pengalaman dan naluri pekerja. Jika badan ternak lebih besar ±300Kg, maka
diberikan pakan ransum 1 ember full. Berat rata-rata 1 ember pakan dengan berat 2,5 – 3
Kg. Pemberian pakan sudah sesuai pendapat (Hilman, 2010) yang menyatakan bahwa
pemberian pakan konsentrat per ekor per hari ±1% dari berat badan.
Pemberian Bahan Pakan Tambahan
Walaupun telah diberi pakan berupa hijauan dan kosentrat yang telah mengandung
nutrient zat makanan yang memenuhi kebutuhannya, sapi Bali masih sering menderita
kekurangan vitamin, mineral dan bahkan protein. Keadaan ini dapat mengganggu
pertumbuhan atau kesehatan sapi Bali, sehingga untuk mengatasinya sapi perlu diberikan
pakan tambahan.
Pemberian vitamin biasanya diberikan dalam bentuk pakan tambahan/feed
supplement berupa minyak ikan yaitu untuk memenuhi kekurangan vitamin A dan Vitamin
D. Kekurangan mineral, khususnya Ca, P dan NaCl pada pakan ternak dapat dipenuhi
dengan pemberian tepung tulang, tepung kapur (CaCO3) dan NaCl. Pada usaha peternakan
P4S Mupu Amerta pemberian mineral pada Kandungan pakan konsentrat yang sudah
diberikan pada ternak sapi pembibitan di peternakan P4S Mupu Amerta sudah disesuaikan
dengan kebutuhan dari ternak sapi Bali dengan bobot badan ±300 Kg. Dari analisis
nutrient bahan yang dilakukan, kebutuhan sapi Bali akan nutrient seperti Protein Kasar

Tabel 2. Kandungan Nutrien Bahan Penyusun Pakan Konsentrat Sapi Bali Pembibitan
Kandungan Bahan
Komposisi
Nama Bahan BK PK TDN ME Ca P
(%)
(%) (%) (%) (Mcal/Kg) (%) (%)
Dedak 65 56,98 3,91 35,81 1,04 0,03 0,14
Pollard 17,5 15,42 2,97 12,21 0,26 0,02 0,09
Dedak Jagung 17,5 14,79 1,48 14,30 0,59 0,00 0,17
Jumlah 100 87,19 8,35 62,33 1,90 0,05 0,40
Standar 10,5 5,9 56,0 1,90 0,21 0,20

ternak sapi ditambahkan saat pencampuran pakan 1 Kg mineral dalam 100 Kg campuran
pakan konsentrat.
Kekurangan protein sering terjadi bila sapi Bali hanya diberi pakan berupa jerami atau
atau rumput kering yang berkadar protein rendah seperti saat memasuki musim kemarau,
maka untuk memenuhinya ke dalam pakan perlu ditambahkan urea. Pemberian urea dapat
menguntungkan karena sebagi hewan ruminansia, sapi Bali mampu mengubah sumber non
protein nitrogen menjadi protein. Akan tetapi, pemberian urea pada sapi Bali perlu kehati-
hatian sebab pemberian urea yang berlebihan dapat menyebabkan keracunan. Sebagai
pedoman kadar urea dalam pakan tidak boleh melebihi 1% dari jumlah pakan atau 20 gram
per 100 kg bobot badan sapi Bali.
Kebutuhan nutrisi sapi Bali
Setiap bahan pakan yang akan digunakan sebagai bahan penyusun pakan konsentrat
harus memiliki kandungan nutrient yang baik. Hal ini penting dalam pencampuran pakan
untuk mengetahui apakah bahan yang digunakan untuk mencampur pakan konsentrat sudah
memenuhi kebutuhan ternak sapi. (Crude Protein/CP), Total Digestible Energy (TDN) dan
Metabolize Energy (ME) sudah memenuhi kebutuhan bahkan sudah melibihi standar
kebutuhan ternak.

Namun pada penyusunan pakan konsentrat diatas, kandungan mineral Kalsium (Ca)
yang masih belum mencukupi kebutuhan nutrient pada ternak sapi Bali yaitu dengan nilai
masing-masing 0,05%. Pada pakan konsentrat yang diberikan, ME dan CP yang terkandung
yaitu masing-masing sebesar 1,90 Mcal/kg dan 8,35% sudah sesuai standar. Ini
menandakan, bahan pakan konsentrat yang disusun sudah memenuhi kebutuhan ME dan CP
dari ternak sapi Bali pembibitan

Pengendalian Asidosis
Pengendalian asidosis cukup dipengaruhi oleh manajemen nutrisi. Evaluasi tentang
manajemen nutrisi adalah langkah pertama dalam mengendalikan asidosis. Salah satu strategi
untuk meminimalkan risiko yang berkaitan dengan pakan yang tinggi tingkat fermentasinya
(gandum, barley, jagung, dan sebagainya) adalah mencampur pakan dengan fermentasi tinggi
dengan bahan-bahan yang lebih rendah tingkat fermentasi patinya. Efisiensi pada kombinasi
pakan, lebih baik dibandingkan dengan menggunakan satu pakan (Owens et al. 1998).

Umumnya, hijauan ditambahkan ke pakan finishing untuk mengendalikan asidosis. Dengan


adanya pemberian hijauan dengan bahan kasar yang tinggi dapat menjaga integritas dari
papila rumen. Papila rumen yang normal memiliki ukuran permukaan mukosa yang lebih
luas sehingga proses absorbsi dan pencernaan makanan akan menjadi lebih baik.

Selain dengan manajemen nutrisi, kasus asidosis juga dapat diatasi dengan pemberian pakan
aditif yang dapat menghambat pembentukan mikroba yang menghasilkan laktat. Pemberian
beberapa jenis bakteri tertentu, mencegah adanya pembentukan glukosa dan asam laktat yang
berlebihan sehingga kejadian asidosis dapat di hindari (Owens et al. 1998).

Melati, N. P. Y., I W. Suberata, S. A. Lindawati, 2015,


https://www.academia.edu/23229210/Manajemen_Pakan_Sapi_Bali_di_P4S_Mupu_Amerta,
Fakultas Peternakan, Universitas Udayana