Tiket Masuk Kampung Heritage Kayutangan
Tiket Masuk Kampung Heritage Kayutangan
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pariwisata Merupakan suatu perjalanan yang dilakukan seseorang untuk
sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat yang lain
dengan meninggalkan tempat semula dan dengan suatu perencanaan atau bukan
maksud untuk mencari nafkah di tempat yang dikunjunginya, tetapi semata-mata
untuk menikmati kegiatan pertamasyaan atau rekreasi untuk memenuhi keinginan
yang beraneka ragam.
Objek dan daya tarik wisata merupakan salah satu unsur penting dalam dunia
kepariwisataan. Dimana objek dan daya tarik wisata dapat menyukseskan program
pemerintah dalam melestarikan adat dan budaya bangsa sebagai asset yang dapat
dijual kepada wisatawan. Objek dan daya tarik wisata dapat berupa alam, budaya,
tata hidup dan sebagainya yang memiliki daya tarik dan nilai jual untuk
dikunjungi ataupun dinikmati oleh wisatawan. Dalam arti luas, apa saja yang
mempunyai daya tarik wisata atau menarik wisatawan dapat disebut sebagai objek
dan daya tarik wisata.
Pariwisata merupakan sektor yang memberikan devisa yang cukup besar bagi
berbagai negara. Menurut World Travel and Tourism Council (WTTC), sektor
perjalanan dan pariwisata Indonesia mengalami peningkatan dalam kontribusinya
terhadap perekonomian sebesar 8,4 persen di tahun 2013. Pada tahun 2014 PDB
yang dihasilkan dari sektor pariwisata mencapai 13 Miliar Dollar Amerika dan
pada tahun 2018 mencapai 20 Miliar Dollar Amerika. Kondisi ini menunjukkan
bahwa sektor periwisata dari tahun ketahun selalu memberikan kontribusi dalam
peningkatan perekonomian terhadap PBD. Berikut grafik dampak kepariwisataan
terhadap PDB dikontribusikan oleh kegiatan kepariwisataan:
1
Gambar 1.1 Peningkatan PDB Pariwisata
Sumber: DATABOKS.co.id
Undang-undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menyatakan
bahwa pembangunan kepariwisataan dilakukan berdasarkan rencana induk
pembangunan kepariwisataan nasional, Provinsi dan Kabupaten/Kota, yang
merupakan bagian integral dari pembangunan jangka panjang nasional (pasal 8
ayat (1) dan (2)). Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan tersebut diatur
dalam peraturan pemerintah atau peraturan daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.
Pasal 8 UU No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan PP No 50 tahun 2011. perlu
direncanakan agar dapat memenuhi tujuan dan sasaran pembangunan
kepariwisataan perlu direncanakan agar dapat memenuhi tujuan dan sasaran
pembangunan. Pembangunan kepariwisataan jelas merupakan bagian dari
pembangunan nasional yang utuh, pembangunan bangsa dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia, yang tak terbatas kepada pembangunan fisik saja. Dalam
pengembangan suatu objek wisata harus memenuhi beberapa kriteria
pengembangan pariwisata agar obyek tersebut diminati pengunjung, yaitu
1. Something to see adalah obyek wisata tersebut harus mempunyai sesuatu
yang bisa di lihat atau di jadikan tontonan oleh pengunjung wisata. Dengan kata
lain obyek tersebut harus mempunyai daya tarik khusus yang mampu untuk
menyedot minat dari wisatawan untuk berkunjung di obyek tersebut.
2. Something to do adalah agar wisatawan yang melakukan pariwisata di sana
bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk memberikan perasaan senang,
bahagia, relax berupa fasilitas rekreasi baik itu arena bermain ataupun tempat
2
makan, terutama makanan khas dari tempat tersebut sehingga mampu membuat
wisatawan lebih betah untuk tinggal di sana.
3. Something to buy adalah fasilitas untuk wisatawan berbelanja yang pada
umumnya adalah ciri khas atau icon dari daerah tersebut, sehingga bisa dijadikan
sebagai oleh-oleh. (Yoeti, 1985).
Menurut Wiendu (1993), desa wisata merupakan suatu bentuk integrasi
antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu
struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang
berlaku. Kampung Kayutangan merupakan sebuah kampung yang berada di
Kecamatan Klojen Kota Malang. Industri jasa kepariwisataan membutuhkan
tujuan dan konsep yang jelas agar mampu menjadi sektor andalan bagi daerah di
mana program pariwisata akan dikembangkan. Pitana, Gde dan Gayatrin
(2005:91) mengemukakan bahwa kegiatan pariwisata sangat kompleks dan
merupakan sebuah sistem yang melingkupi berbagai kegiatan atau aktivitas, baik
bersifat sosial, ekonomi, politik maupun budaya dan faktor lain.
Pariwisata berbasis masyarakat mengedepankan pendekatan bottom-up,
sedangkan pariwisata berkelanjutan mengedepankan pendekatan top-down.
Pendekatan bottom-up mengandung arti bahwa inisiatif untuk pengembangan
pariwisata berasal dari masyarakat, sedangkan pada pendekatan top-down,
inisiatif berasal dari pemerintah (Baskoro, 2008:43). Penerapan pariwisata
berbasis masyarakat dianggap mampu memberikan berbagai manfaat bagi
masyarakat yaitu peningkatan kesejahteraan, perlindungan terhadap lingkungan,
serta perlindungan terhadap kehidupan sosial dan budaya mereka.Pengembangan
pariwisata yang telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta dapat
meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan dari suatu daerah ke daerah lain.
Salah satu strategi pemerintah Kota Malang dalam bidang Pariwisata ialah dengan
mengangat Kearifan lokal yang menjadi potensi lokal untuk dikemas dengan
menjadi daya tarik khas sehingga menjadikannya sebagai kampung tematik/wisata
Akan tetapi, model kerjasama kemitraan pengembangan wisata berbasis
masyarakat masih menemui persoalan yang dapat menghambat pembangunan dan
distribusi sumber daya lokal. Di samping rendahnya kemampuan dan keterbatasan
wawasan masyarakat dalam hal kepariwisataan, juga penguasaan teknologi yang
3
kurang serta tidak meratanya partisipasi masyarakat. Selain itu, kurangnya
kerjasama pemerintah dengan masyarakat yang ditandai dengan masih minimnya
pengawasan terhadap perkembangan produk wisata khususnya wisata lokal,
kurangnya koordinasi antara satuan kerja perangkat daerah menjadikan keharusan
mengenai pentingnya pembenahan pengembangan wisata.
Jika dikaitkan secara teoritis, dengan desentralisasi dan otonomi daerah
kepariwisataan berbasis masyarakat ini diharapkan bisa mempromosikan
demokrasi lokal, membawa Negara lebih dekat kepada masyarakat, menghargai
identitas lokal yang beragam, memperbaiki kualitas layanan publik yang relevan
dengan kebutuhan lokal, membangkitkan potensi dan prakarsa lokal, memperkuat
partisipasi masyarakat lokal, dan seterusnya
Berdasarkan SK Walikota Malang, Kampung Heritage Kayutangan
ditetapkan sebagai Desa Wisata Kota Malang yang berlaku mulai 22 April 2018.
Penetapan desa wisata ini merupakan salah satu upaya dalam mewujudkan
program “Beautiful Malang” yang dicanangkan oleh Walikota Malang. Tujuan
diadakannya program ini salah satunya yaitu untuk meningkatkan daya tarik
wisata Kota Malang serta meningkatkan perekonomian Kota Malang di sektor
pariwisata dan mengoptimalkan kearifan lokal Kampung Kayutangan.Kampung
Kayutangan sebagai kampung wisata memiliki banyak produk wisata yang
potensial untuk dikembangkan. Namun, semenjak diresmikan sebagai desa wisata
pada tahun 2018 masih belum terlihat dampak yang signifikan terhadap
perekonomian di daerah tersebut. belum banyak masyarakat yang terlibat
langsung dalam pengelolaan dan pengembangan desa wisata ini. Sebagian besar
dari mereka masih bersifat pasif dan belum digerakkan secara optimal.
Dilihat dari jumlah pengunjung menurut data yang dilansir dari
Malangtimes yaitu lebih dari 100 pengunjung perharinya saat weekend. Hal ini
harusnya yang menjadi motivasi masyarkat untuk lebih giat mengembangkan
atraksi dan fasilitas yang tersedia di Kampung Kayutangan yang potensial
dijadikan sebagai produk desa wisata sangat beragam. Berdasarkan literatur yang
didapat, beberapa atraksi dan fasilitas yang dimiliki oleh Kampung Kayutangan
dapat dilihat pada tabel berikut:
4
Tabel 1.1 Atraksi dan Fasilitas yang Tersedia di Kampung Heritage
Kayutangan
Atraksi yang ditawarkan Fasilitas Pendukung Wisata
1. Wisata Rumah Penghulu 1. Penginapan
5
Gambar 1.2 Kondisi Produk Kampung Heritage Kayutangan
Sumber: Travelingyuk.com
Berdasarkan permasalahan yang ada, penulis berinisiasi untuk melakukan
penulisan terkait perencanaan pengembangan desa wisata yang relevan dengan
potensi dan local indigenous yang dimiliki oleh Kampung Heritage Kayutangan
sebagai upaya peningkatan perekonomian desa melalui pengembangan wisata
yang ada di kampung dengan model Penta Helix atau pelibatan 5 Aktor dalam
governance serta menggunakan pendekatan Community Based Tourism.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana Perencanaan Pengembangan Kampung Heritage Kayutangan
dengan menggunakan Model Pentahelix dengan Pendekatan Community Based
Tourism?
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pariwisata
Pariwisata berasal dari dua suku kata , yaitu “pari yang berarti banyak atau
berkali-kali” dan “wisata yang berarti perjalanan atau bepergian”. Pariwisata
adalah berbagai macam kegiatan wisata (aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang) dan didukung dengan pelayanan serta berbagai
fasilitas yang disedikan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah
daerah (Zebua, 2016). Pariwisata merupakan kegiatan sosial yang melibatkan
induvidu atau sekelompok orang yang bertujuan untuk tinggal atau melakukan
perjalanan diluar tempat tinggal biasanya untuk jangka waktu tidak lebih dari 12
bulan untuk berbagai kegiatan leisure, bisnis, agama dan alasan pribadi lainnya
namun tidak mendapatkan gaji/upah dari perjalanannya tersebut. Aktivitas dari
wisatawan tersebut melibatkan dan bersentuhan langsung serta memberi pengaruh
terhadap masyarakat setempat (Dorobantu & Nistoreanu, 2012; Martina, 2014;
Pitana & Diarta, 2009).Dari sudut organisasi dan yang diperdagangkan bagi
masyarakat yang sedang berkembang, industri pariwisata merupakan suatu sarana
perkembangan.Masyarakat bisa melakukan perubahan melalui pariwisata, sebab
banyak masyarakat yang dahulunya terpinggirkan menjadi masyarakatyang
diberdaya dengan pelibatan mereka dalam pengelolaan wisata (Lestari, 2009).
Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009
Tentang Kepariwisataan dalam pasal 1 yang dimaksud wisata, wisatawan, dan
pariwisata adalah sebagai berikut:
a. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan
rekreasi, pengembangan pribadi, atau memperlajari keunikan daya tarik
wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
b. Wisatawan adalah orang melakukan wisata.
c. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai
fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha,
Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
7
d. Kepariwisataan adalah seluruh kegiatan yang terkaitan dengan pariwisata
dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud
kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan,
pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha.
Daya tarik wisata ialah sesuatu yang merupakan ciptaan Tuhan ataupun hasil
karya tangan manusia yang menarik untuk dikunjungi wisatawan ke daerah wisata
yang berrnilai dan unik (Prayogi, 2011).Berdasarkan definisi-definisi di atas,
maka terdapat lima hal penting yang mendasari kegiatan pariwisata :
1. Perjalanan wisata yang bertanggung jawab, artinya bahwa semua pelaku
kegiatan pariwisata harus bertanggung jawab terhadap dampak yang
ditimbulkan dari kegiatan pariwisata terhadap lingkungan alam dan budaya
2. Kegiatan pariwisata dilakukan ke/di daerah-daerah yang masih alami
(nature made) atau di/ke daerah-daerah yang dikelola berdasarkan kaidah
alam.
3. Tujuannya selain untuk menikmati pesona alam, juga untuk mendapatkan
tambahan pengetahuan dan pemahaman mengenai berbagai fenomena alam
dan budaya.
4. Memberikan dukungan terhadap usaha-usaha konservasi alam.
5. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
B. Jenis Pariwisata
Menurut Pendit (1994), ada beberapa jenis pariwisata yang sudah dikenal,
antara lain:
1. Wisata budaya, yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan
untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan cara mengadakan
kunjungan ke tempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat,
kebiasaan dan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, kebudayaan dan
seni meraka.
2. Wisata kesehatan, yaitu perjalanan seseorang wisatawan dengan tujuan
untuk menukar keadaan dan lingkungan tempat sehari-hari di mana ia
tinggal demi kepentingan beristirahat baginya dalam arti jasmani dan
rohani.
8
3. Wisata olahraga, yaitu wisatawan-wisatawan yang melakukan perjalanan
dengan tujuan berolahraga atau memang sengaja bermakasud mengambil
bagian aktif dalam pesta olahraga di suatu tempat atau Negara.
4. Wisata komersial, yaitu termasuk perjalanan untuk mengunjungi
pameranpameran dan pecan raya yang bersifat komersial, seperti pameran
industri, pameran dagang dan sebagainya.
5. Wisata industri, yaitu perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar
atau mahasiswa, atau orang-orang awam ke suatu kompleks atau daerah
perindustrian, dengan maksud dan tujuan untuk mengadakan peninjauan
atau penelitian.
6. Wisata Bahari, yaitu wisata yang banyak dikaitkan dengan danau, pantai
atau laut.
7. Wisata Cagar Alam, yaitu jenis wisata yang biasanya diselenggarakan oleh
agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha-usaha dengan
mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, taman lindung, hutan
daerah pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi oleh
undang-undang.
8. Wisata bulan madu, yaitu suatu penyelenggaraan perjalanan bagi
pasanganpasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu dengan
fasilitas-fasilitas khusus dan tersendiri demi kenikmatan perjalan.
9
tujuan wisata (destinasi wisata) adalah sebuah susunan sistematis dari tiga
elemen. Seorang dengan kebutuhan wisata adalah inti/pangkal (keistimewaan
apa saja atau karekteristik suatu tempat yang akan mereka kunjungi) dan
sedikitnya satu penanda (inti informasi). Seseorang melakukan perjalanan
wisata dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menjadi daya tarik yang membuat
seseorang rela melakukan perjalanan yang jauh dan menghabiskan dana cukup
besar. Suatu daerah harus memiliki potensi daya tarik yang besar agar para
wisatawan mau menjadikan tempat tersebut sebagai destinasi wisata.
Menurut Jackson (dalam Gde Pitana, 2005: 101) suatu daerah yang
berkembang menjadi sebuah destinasi wisata dipengaruhi oleh beberapa hal
yang penting, seperti.
1. Menarik untuk klien.
2. Fasilitas-fasilitas dan atraksi.
3. Lokasi geografis.
4. Jalur transportasi.
5. Stabilitas politik.
6. Lingkungan yang sehat.
7. Tidak ada larangan/batasan pemerintah.
Suatu destinasi harus memiliki berbagai fasilitas kebutuhan yang
diperlukan oleh wisatawan agar kunjungan seorang wisatawan dapat terpenuhi
dan merasa nyaman. Berbagai kebutuhan wisatawan tersebut antara lain,
fasilitas transportasi, akomodasi, biro perjalanan, atraksi (kebudayaan,
rekreasi, dan hiburan), pelayanan makanan, dan barang-barang cinderamata
(Gde Pitana, 2005: 101). Tersedianya berbagai fasilitas kebutuhan yang
diperlukan akan membuat wisatawan merasa nyaman, sehingga semakin
banyak wisatawan yang berkunjung. Salah satu yang menjadi suatu daya tarik
terbesar pada suatu destinasi wisata adalah sebuah atraksi, baik itu berupa
pertunjukan kesenian, rekreasi, atau penyajian suatu paket kebudayaan lokal
yang khas dan dilestarikan.
Atraksi merupakan komponen yang sangat vital, oleh karena itu suatu tempat
wisata tersebut harus memiliki keunikan yang bisa menarik wisatawan.
10
Fasilitas-fasilitas pendukungnya juga harus lengkap agar kebutuhan
wisatawan terpenuhi, serta keramahan masyarakat tempat wisata juga sangat
berperan dalam menarik minat wisatawan. Faktor-faktor tersebut harus
dikelola dengan baik, sehingga menjadikan tempat tersebut sebagai destinasi
wisata dan wisatawan rela melakukan perjalanan ke tempat tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa destinasi wisata
merupakan interaksi antar berbagai elemen. Ada komponen yang harus
dikelola dengan baik oleh suatu destinasi wisata adalah wisatawan, wilayah,
dan informasi mengenai wilayah. Atraksi juga merupakan komponen vital
yang dapat menarik minat wisatawan begitu juga dengan fasilitas-fasiltas yang
mendukung.
D. Daya Tarik Wisata
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 2009 tentang
kepariwisataan disebutkan bahwa daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang
memiliki keunikan, keindahan dan nilai berupa keanekaragaman kekayaan
alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sarana atau tujuan
kunjungan wisatawan. Daya tarik wisata juga disebut objek wisata merupakan
potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan
wisata. Menurut Suwantoro dalam bukunya Dasar-dasar Pariwisata (1997:19)
mengatakan bahwa objek dan daya tarik wisata dikelompokkan atas :
1. Pengusahaan objek dan daya tarik wisata dikelompokkan ke dalam
pengusahaan objek dan daya tarik wisata alam, pengusahaan objek dan daya
tarik wisata budaya, pengusahaan objek dan daya tarik wisata minat khusus.
2. Umumnya daya tarik suatu objek wisata berdasar pada:
3. Adanya sumberdaya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah, nyaman
dan bersih.
4. Adanya aksesbilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya.
5. Adanya ciri khusus/spesifikasi yang bersifat langka.
6. Adanya sarana dan prasarana penunjang untuk melayani para wisatawan
yang hadir.
7. Objek wisata alam mempunyai daya tarik karena keindahan alam,
pegunungan, sungai, pantai, pasir, hutan dan sebagainya.
8. Objek wisata budaya mempunyai daya tarik tinggi karena memiliki nilai
khusus dalam bentuk atraksi kesenian, upacara-upacara adat, nilai luhur
yang terkandung dalam suatu objek buah karya manusia pada masa lampau.
11
1. Pembangunan suatu objek wisata harus dirancang dengan bersumber
pada potensi daya tarik yang memiliki objek tersebut dengan mengacu pada
kriteria keberhasilan pengembangan yang meliputi berbagai kelayakan.
9. Kelayakan Finansial
Studi kelayakan ini menyangkut perhitungan secara komersial dari
pembangunan objek wisata tersebut.
1. Kelayakan Sosial Ekonomi Regional
Studi kelayakan ini dilakukan untuk melihat apakah investasi yang
ditanamkan untuk membangun suatu objek wisata juga akan memilki dampak
sosial ekonomi secara regional, dapat menciptakan lapangan pekerjaan, dapat
meningkatkan devisa dan sebagainya.
1. Layak Teknis
Pembangunan objek wisata harus dapat dipertanggung-jawabkan secara
teknis dengan melihat daya dukung yang ada. Tidaklah perlu memaksakan diri
untuk membangun suatu objek wisata apabila daya dukung oleh wisata
tersebut rendah. Daya tarik suatu objek wisata akan berkurang atau bahkan
hilang bila objek wisata tersebut membahayakan keselamatan para wisatawan.
1. Layak Lingkungan
Analisis dampak lingkungan dapat dipergunakan sebagai acuan kegiatan
pembangunan suatu objek wisata. Pembangunan objek wisata yang
mengakibatkan rusaknya lingkungan harus dihentikan pembangunannya.
Pembangunan objek wisata buaknlah untuk merusak lingkungan tetapi sekedar
memanfaatkan sumber daya alam untuk kebaikan manusia dan
untukmeningkatkan kulitas hidup manusia sehingga menjadi keseimbangan,
keselarasan dan keserasian (Suwantoro, 1997:20).
E. Komponen Pariwisata
Dalam kegiatan pariwisata komponen-komponen pariwisata akan saling
terkait dalm pendukung pengembangan suatu kawasan. Komponen pariwisata
dibagi atas dua faktor, yaitu komponen penawaran (supply) dari pariwisata
dan komponen permintaan (demand) dari pariwisata. Sediaan pariwisata
mencakup segala sesuatu yang ditawarkan kepada wisatawan meliputi atraski
12
wisata, akomodasi, transportasi, infrastruktur, fasilitas pendukung. Sedangkan
permintaan atau demand pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubung
dalam permintaan pariwisata yaitu pengunjung dan masyarakat [2]-[3].
F. Pengembangan Pariwisata
Desa Wisata (ekowisata) adalah suatu bentuk wisata memberi manfaat
secara ekonomi Perencanaan dan pengembangan pariwisata merupakan suatu
proses yang dinamis dan berkelanjutan menuju ketataran nilai yang lebih tinggi
dengan cara melakukan penyesuaian dan koreksi berdasar pada hasil monitoring
dan evaluasi serta umpan balik implementasi rencana sebelumnya yang
merupakan dasar kebijaksanaan dan merupakan misi yang harus dikembangkan.
Perencanaan dan pengembangan pariwisata bukanlah system yang berdiri
sendiri, melainkan terkait erat dengan sistem perencanaan pembangunan yang
lain secara inter sektoral dan inter regional.
13
Pariwisata bukan saja sebagai sumber devisa, tetapi juga merupakan faktor
dalam menentukan lokasi industri dalam perkembangan daerah-daerah yang
miskin sumber-sumber alam sehingga perkembangan pariwisata adalah salah
satu cara untuk memajukan ekonomi di daerah-daerah yang kurang berkembang
tersebut sebagai akibat kurangnya sumber-sumber alam (Yoeti, 1997). Gunn
(1988), mendefinisikan pariwisata sebagai aktivitas ekonomi yang harus dilihat
dari dua sisi yakni sisi permintaan (demand side) dan sisi pasokan (supply side).
Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa keberhasilan dalam pengembangan
pariwisata di suatu daerah sangat tergantung kepada kemampuan perencana
dalam mengintegrasikan kedua sisi tersebut secara berimbang ke dalam sebuah
rencana pengembangan pariwisata.
Menurut Robert (Toety, 1990). Kelincahan dalam berusaha harus
dilakukan agar pendapatan selama musim kedatangan wisatawan bisa menjadi
penyeimbang bagi musim sepi wisatawan. Pengaruh yang ditimbulkan oleh
pariwisata terhadap ekonomi ada dua ciri, pertama produk pariwisata tidak dapat
disimpan, kedua permintaanya sangat tergantung pada musim, berarti pada bulan
tertentu ada aktivitas yang tinggi, sementara pada bulan-bulan yang lain hanya
ada sedikit kegiatan.
14
Gambar 2. 1 Model Pengembangan Pariwisata
G. Desa Wisata
Desa Wisata (ekowisata) adalah suatu bentuk wisata memberi manfaat secara
ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya masyarakat setempat, serta
bertanggung jawab terhadap kelestarian daerah lama. Terdapat enam prinsip dasar
ekowisata yang disepakati bisa membedakan wisata alam dengan kegiatan
ekowisata (Fennell, 1999, yaitu: 1) Memberikan dampak negatif yang paling
minimum bagi lingkungan dan masyarakat lokal; 2) Meningkatkan kesadaran dan
pengetahuan baik bagi pengunjung maupun penduduk lokal; 3) Berfungsi sebagai
bahan untuk pendidikan dan penelitian baik untuk penduduk lokal maupun
pengunjung (Wisatawan, Peneliti, Akademis); 4) semua elemen yang berkaitan
dengan ekowisata harus memberi dampak yang positif berupa kontribusi langsung
utuk kegiatan kontribusi langsung untuk kegiatan konservasi yang melibatkan
semua aktor yang terlibat dalam kegitan ekowisata. Sebagi contoh pengunjung
tidak hanya berfungsi sebagi penikmat keindahan alam tapi juga secara langsung
sebagai partisipan dalamkegiatan konservasi; 5) Memaksimumkan partisipasi
masyarakat lokal dalam proses pengambil keputusan berkaitan dengan
pengelolaan kawasan ekowisata; 6) Memberi manfaat ekonomi bagi penduduk
lokal berupa kegiatan ekonomi yang bersifat komplemen terhadap kegiatan
ekonomi tradisional (bertani, mencari ikan dan lainnya) (Ma’ruf, 2013 dalam
Mustabsirah, 2015).
Menurut Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Desa
Wisata didefinisikan sebagai tempat pariwisata yang berada dipedesaan.Desa
Wisata mesti berada dipedesaan dibangun diatas fitur-fitur khusus, usaha kecil,
ruang terbuka (alam) dan berkelanjutan.Desa Wisata dipandang sebagai kegiatan
multi-faceted bukan hanya sebatas pariwisata pertanian.Serta dipandang sebagai
sarana kemampuan menghasilkan pendapatan yang cukup. Tujuan Desa Wisata
adalah untuk meningkatkan keuntungan bersih untuk masyarakat pedesaan, dan
meningkatkan partisipasi mereka dalam pengembangan produk pariwisata (Okech
et al.,2012).Selanjutnya, menurut Dorobantu dan Nistoreanu (2012) bahwa Desa
Wisata merupakan suatu perjalanan untuk tempat yang terletak dalam lingkungan
15
pedesaan atau dalam pengaturan luar kota dan pusat-pusat wisata, serta suatu
bentuk pariwisata dimana motivasi utama para wisatawan adalah observasi dan
apreasiasi terhadap alam dan tradisi lokal yang berhubungan dengan alam dan
harus memenuhi kondisi sebagai berikut:
a. Melindungi dan melestarikan alam
b. Menggunakan sumber daya alam lokal
c. Karakternya edukasi, menghormati alam, adanya kesadaran wisatawandan
masyarakat setempat.
Sedangkan menurut Pariwisata Inti Rakyat (PIR) yang dimaksud dengan Desa
Wisata adalah suatu kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana
yang mencerminkan keasliaan pedesaan baik dari kehidupan sosial ekonomi,
sosial budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur
tata ruang desa yang khas, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik
serta mempunyai potensi untukdikembangkannya berbagai komponen
kepariwisataan, misalnya: atraksi, akomodasi, makanan-minuman, dan kebutuhan
wisata lainnya (Hadiwijoyo, 2012 dalam Sari, 2015).Desa Wisata merupakan
salah satu bentuk pembangunan berkelanjutan melalui promosi produktivitas
pedesaan yang dapat menciptakan pekerjaan, distribusi pendapatan, pelestarian
lingkungan dan budaya lokal, meningkatkan partisipasi masyarakat, menghaargai
keyakinan dan nilai-nilai tradisional (Mustabsirah, 2015).
16
1. Memiliki potensi pariwisata, seni, dan budaya khas
daerah setempat.
2. Lokasi desa masuk dalam lingkup daerah
pengembangan pariwisata atau setidaknya berada
dalam koridor dan rute paket perjalanan wisata yang
2 Putra (2006) sudah dijual.
3. Diutamakan telah tersedia tenaga pengelola, pelatih,
dan pelaku–pelaku pariwisata, seni dan budaya.
4. Aksesibilitas dan infrastruktur mendukung
program Desa Wisata.
5. Terjaminnya keamanan, ketertiban, dan kebersihan.
17
kumulatif. Sarana wisata secara kuantitatif menunjuk pada jumlah sarana wisata
yang harus disediakan, dan secara kualitatif yang menunjukan pada mutu
pelayanan yang diberikan dan tercermin pada kepuasaan wisatawan yang
memperoleh pelayanan. Dalam hubungannya dengan jenis dan mutu pelayanan
sarana wisata di daerah tujuan wisata telah disusun standar wisata yang baku, baik
secara nasional maupun secara internasional, sehingga penyedia sarana wisata
tinggal memilih dan menentukan jenis dan kualitas yang akan disediakan.
Kita mengenal tiga macam sarana kepariwisataan (Yoeti, 1996:199), yakni :
1. Sarana pokok kepariwisataan (Main Tourism Suprastructure) adalah
perusahaan yang usahanya sangat tergantung pada kedatangan wisatawanya.
Perusahaan-perusahaan yang dimaksud adalah perusahaan-perusahaan yang
usaha kegiatannya mempersiapkan dan merencanakan suatu perjalanan
wisata seperti : Travel Agent, Tour Operator, Tourist Transportation. Selain
itu perusahaan-perusahaan lain juga dapat memberikan pelayanan di daerah
tujuan kemana wisatawan pergi. Seperti : Hotel, Motel, Cottages dan lain-
lain. Ketentuannya apabila tidak ada wisatawan, maka perusahaan tersebut
tidak dapat hidup sebagaimana bisanya.
2. Sarana pelengkap kepariwisataan (Supllementing Tourism Superstructure)
adalah perusahaan yang menyediakan fasilitas-fasilitas untuk rekreasi yang
fungsinya tidak hanya melengkapi sarana pokok sedemikian rupa, sehingga
fungsinya dapat membuat agar para wisatawan dapat lebih lama tinggal atau
di daerah yang dikunjunginya. Perusahaan ini mendorong wisatawan agar
lebih lama tinggal di suatu tempat.
Sarana pelengkap yang dimaksud adalah :
Sarana olahraga, seperti : golf course, tennis court, swimming pool,
daerah perburuan, pelayaran dan sebagainya.
Sarana ketangkasan, seperti : Billyard, dan sebagainya.
3. Sarana penunjang kepariwisataan (Supporting Tourism Superstrructure)
adalah perusahaan yang menunjang sarana pelengkap dan sarana pokok
yang berfungsi tidak hanya membuat wisatawan lebih banyak
membelanjakan uangnya di tempat yang dikunjunginya dan yang termasuk
18
dalam kelompok ini adalah : Night Club, Souvenir Shop, Bioscop, Opera
dan Steambath.
19
Menurut Prof. Salah Wahab (dalam Yoeti, 1996:197), prasarana
kepariwisataan adalah semua bentuk perusahaan yang dapat memberikan
pelayanan kepada wisatawan, tetapi hidup dan kehidupannya tidak tergantung
kepada wisatawan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prasarana
kepariwisataan adalah semua fasilitas yang memungkinkan semua sarana
kepariwisataan dapat hidup dan berkembang, serta dapat memberikan pelayanan
kepada wisatawan untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka dalam perjalanan.
K. Pengertian Heritage
Akhir-akhir ini di dunia pariwisata dikenal istilah ‘wisata heritage’. Namun
pengertian heritage seringkali dipahami terlalu spesifik, yaitu semata-mata
berwisata mengunjungi gedung atau bangunan kuno. Demikian pula, dengan
berdirinya klub-klub pemerhati dan pecinta kota tua yang menggunakan heritage
sebagai sebutannya, seperti : Jakarta Heritage Society, Bandung Heritage Society,
hingga Magelang Heritage Society. Ternyata klub-klub itu memang membatasi
kegiatannya, seputar kota tua atau gedung-gedung lama (terbatas) peninggalan
masa-masa pra kemerdekaan. Padahal pengertian heritage sesungguhnya cukup
luas.Dalam kamus Inggris-Indonesia susunan John M Echols dan Hassan Shadily,
heritage berarti warisan atau pusaka. Sedangkan dalam kamus Oxford, heritage
ditulis sebagai sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa atau
negara selama bertahun-tahun dan diangap sebagai bagian penting dari karakter
mereka. Dalam buku Heritage : Management, Interpretation, Identity, Peter
Howard memaknakan heritage sebagai segala sesuatu yang ingin diselamatkan
orang, termasuk budaya material maupun alam. Selama ini warisan budaya lebih
ditujukan pada warisan budaya secara publik, seperti berbagai benda yang
tersimpan di museum. Padahal menurut Howard, tiap orang juga punya latar
belakang kehidupan yang bisa jadi warisan tersendiri.
Merujuk pada Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia yang dideklarasikan di
Ciloto 13 Desember 2003, heritage disepakati sebagai pusaka. Pusaka (heritage)
Indonesia meliputi Pusaka Alam, Pusaka Budaya, dan Pusaka Saujana. Pusaka
Alam adalah bentukan alam yang istimewa. Pusaka Budaya adalah hasil cipta,
rasa, karsa, dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di tanah air
20
Indonesia, secara sendiri- sendiri, sebagai kesatuan bangsa Indonesia, dan dalam
interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya.Pusaka Budaya
mencakup pusaka berwujud (tangible) dan pusaka tidak berwujud (intangible).
Pusaka Saujana adalah gabungan Pusaka Alam dan Pusaka Budaya dalam
kesatuan ruang dan waktu. Pusaka Saujana dikenal dengan pemahaman baru yaitu
cultural landscape (saujana budaya), yakni menitikberatkan pada keterkaitan
antara budaya dan alam dan merupakan fenomena kompleks dengan identitas
yang berwujud dan tidak berwujud.
Berpegang pada paparan di atas, folklor dalam bentuk cerita rakyat, tarian,
kulinari, musik tradisional, dan lainnya masuk dalam pusaka budaya yang dalam
bahasa kerennya disebut heritage. Selanjutnya, Howard mengingatkan bahwa
peninggalan atau warisan orang per orang pun masuk dalam katagori heritage.
Terserah pada keluarga mereka apakah akan menyimpan dan memelihara
kenangan atas, katakan, kakek atau nenek mereka. Baik itu dalam bentuk petuah,
buku harian, koleksi buku, etos kerja, mobil tua, album foto, dll.
Khusus untuk gedung atau bangunan tua, yang bisa dikategorikan sebagai
pusaka kota, kita bisa mengacu pada UU No 5 Tahun 1992, tentang Cagar
Budaya. Dalam UU itu, kategori gedung atau bangunan yang berusia di atas 50
tahun bisa dimasukkan sebagai cagar budaya yang keberadaannya harus
dilindungi dan dilestarikan.
21
bagian- bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat
dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
3. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda
alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang
berdinding atau tidak berdinding dan beratap.
4. Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda
alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang
kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk
menampung kebutuhan manusia.
5. Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat atau di air yang
mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya atau
Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti
kejadian pada masa lalu.
6. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua
Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan
memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.
7. Kepemilikan adalah hak terkuat dan terpenuh terhadap Cagar Budaya
dengan tetap memperhatikan fungsi sosial dan kewajiban untuk
melestarikannya.
8. Penguasaan adalah pemberian wewenang dari pemilik kepada
Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau setiap orang untuk mengelola
Cagar Budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosial dan kewajiban
untuk melestarikannya.
9. Dikuasai oleh Negara adalah kewenangan tertinggi yang dimiliki oleh
negara dalam menyelenggarakan pengaturan perbuatan hukum berkenaan
dengan pelestarian Cagar Budaya.
10. Pengalihan adalah proses pemindahan hak kepemilikan atau penguasaan
Cagar Budaya dari setiap orang kepada setiap orang lain atau kepada
negara.
11. Kompensasi adalah imbalan berupa uang atau bukan uang dari
Pemerintah atau Pemerintah Daerah.
12. Insentif adalah dukungan berupa advokasi, perbantuan, atau bentuk lain
22
bersifat nondana untuk mendorong pelestarian Cagar Budaya dari
Pemerintah atau Pemerintah Daerah.
13. Tim Ahli Cagar Budaya adalah kelompok ahli pelestarian dari berbagai
bidang ilmu yang memiliki sertifikat kompetensi untuk memberikan
rekomendasi penetapan, pemeringkatan, dan penghapusan Cagar Budaya.
14. Tenaga Ahli Pelestarian adalah orang yang karena kompetensi keahlian
khususnya atau memiliki sertifikat di bidang Pelindungan,
Pengembangan, atau Pemanfaatan Cagar Budaya.
15. Kurator adalah orang yang karena kompetensi keahliannya bertanggung
jawab dalam pengelolaan koleksi museum.
16. Pendaftaran adalah upaya pencatatan benda, bangunan, struktur, lokasi,
dan satuan ruang geografis untuk diusulkan sebagai Cagar Budaya
kepada pemerintah kabupaten/kota atau perwakilan Indonesia di luar
negeri dan selanjutnya dimasukkan dalam Register Nasional Cagar
Budaya.
17. Penetapan adalah pemberian status Cagar Budaya terhadap benda,
bangunan, struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang dilakukan
oleh pemerintah kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli
Cagar Budaya.
18. Register Nasional Cagar Budaya adalah daftar resmi kekayaan budaya
bangsa berupa Cagar Budaya yang berada di dalam dan di luar negeri.
19. Penghapusan adalah tindakan menghapus status Cagar Budaya dari
Register Nasional Cagar Budaya.
20. Cagar Budaya Nasional adalah Cagar Budaya peringkat nasional yang
ditetapkan Menteri sebagai prioritas nasional.
21. Pengelolaan adalah upaya terpadu untuk melindungi, mengembangkan,
dan memanfaatkan Cagar Budaya melalui kebijakan pengaturan
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan untuk sebesar-besarnya
kesejahteraan rakyat.
22. Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan
Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan,
dan memanfaatkannya.
23
23. Pelindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan,
kehancuran, atau kemusnahan dengan cara Penyelamatan, Pengamanan,
Zonasi, Pemeliharaan, dan Pemugaran Cagar Budaya.
24. Penyelamatan adalah upaya menghindarkan dan menanggulangi Cagar
Budaya dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan.
25. Pengamanan adalah upaya menjaga dan mencegah Cagar Budaya dari
ancaman dan gangguan.
26. Zonasi adalah penentuan batas-batas keruangan Situs Cagar Budaya dan
Kawasan Cagar Budaya sesuai dengan kebutuhan.
27. Pemeliharaan adalah upaya menjaga dan merawat agar kondisi fisik
Cagar Budaya tetap lestari.
28. Pemugaran adalah upaya pengembalian kondisi fisik Benda Cagar
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan Struktur Cagar Budaya yang rusak
sesuai dengan keaslian bahan, bentuk, tata letak, dan teknik pengerjaan
untuk memperpanjang usianya.
29. Pengembangan adalah peningkatan potensi nilai, informasi, dan promosi
Cagar Budaya serta pemanfaatannya melalui Penelitian, Revitalisasi, dan
Adaptasi secara berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan
Pelestarian.
30. Penelitian adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan menurut kaidah dan
metode yang sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan
keterangan bagi kepentingan Pelestarian Cagar Budaya, ilmu
pengetahuan, dan pengembangan kebudayaan.
31. Revitalisasi adalah kegiatan pengembangan yang ditujukan untuk
menumbuhkan kembali nilai-nilai penting Cagar Budaya dengan
penyesuaian fungsi ruang baru yang tidak bertentangan dengan prinsip
pelestarian dan nilai budaya masyarakat.
32. Adaptasi adalah upaya pengembangan Cagar Budaya untuk kegiatan
yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan melakukan
perubahan terbatas yang tidak akan mengakibatkan kemerosotan nilai
pentingnya atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting.
33. Pemanfaatan adalah pendayagunaan Cagar Budaya untuk kepentingan
24
sebesar- besarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan
kelestariannya.
34. Perbanyakan adalah kegiatan duplikasi langsung terhadap Benda Cagar,
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya, baik
seluruh maupun bagian-bagiannya.
35. Setiap orang adalah perseorangan, kelompok orang, masyarakat, badan
usaha berbadan hukum atau badan usaha bukan berbadan hukum.
36. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
37. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atau wali kota, dan
perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
38. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kebudayaan.
Di dalam Pasal 5 mengatakan bahwa :
Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya,
Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria:
a. Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih.
b. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun.
c. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,
dan kebudayaan.
d. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.
Di dalam Pasal 7 mengatakan bahwa : Bangunan Cagar Budaya dapat :
a. Berunsur tunggal atau banyak.
b. Berdiri bebas atau menyatu dengan formasi alam.
25
tetapi haruslah dilakukan sesuai dengan peraturan pemerintah.Di dalam Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Pasal 53-55 mengenai
pelestarian bangunan bersejarah sebagai salah satu cagar budaya yaitu :
1. Pelestarian Cagar Budaya dilakukan berdasarkan hasil studi kelayakan
yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, teknis, dan
administratif.
2. Kegiatan Pelestarian Cagar Budaya harus dilaksanakan atau
dikoordinasikan oleh Tenaga Ahli Pelestarian dengan memperhatikan
etika pelestarian.
3. Tata cara Pelestarian Cagar Budaya harus mempertimbangkan
kemungkinan dilakukannya pengembalian kondisi awal seperti sebelum
kegiatan pelestarian.
4. Pelestarian Cagar Budaya harus didukung oleh kegiatan
pendokumentasian sebelum dilakukan kegiatan yang dapat menyebabkan
terjadinya perubahan keasliannya.
5. Setiap orang berhak memperoleh dukungan teknis atau kepakaran dari
Pemerintah atau Pemerintah Daerah atas upaya Pelestarian Cagar Budaya
yang dimiliki atau yang dikuasai.
6. Setiap orang dilarang dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi,
atau menggagalkan upaya Pelestarian Cagar Budaya.
26
globalisasi, persaingan dan akses ke pasar dunia, satu komponen lagi ditambahkan
untuk mendukung pengembangan ekonomi yakni media. Media merupakan
elemen penting dalam berinvestasi dan membuka pasar luar negeri kepada
pengusaha, model ini disebut model Penta Helix.
Model Penta Helix didasarkan pada lima jenis pemangku kepentingan yaitu
bisnis, administrasi publik, penduduk lokal, sektor pengetahuan dan permodalan
(Muhyi dkk, 2017). Model ini sangat cocok untuk masalah multi pemangku
kepentingan dimana pemangku kepentingan mewakili berbagai kepentingan di
suatu tempat atau masalah.Sedangkan menurut Halibas dkk (2017) Penta Helix
adalah model pengembangan sosial-ekonomi melalui kolaborasi dan kemitraan
antara akademisi, pemerintah, industri, LSM sektor masyarakat sipil, dan
pengusaha sosial.
Terdapat beberapa pendapat mengenai lima aktor dalam model Penta Helix.
Namun model Penta Helix lebih dikenal dengan konsep ABCGM yaitu
Academician, Business, Community, Government, dan Media (Slamet dkk,
2017).Kunci utama kesuksesan inovasi ini adalah adanya sinergi dan komitmen
yang kuat antar pemangku kepentingan dalam menjalankan.Model Penta Helix
sangat berguna untuk mengelola kompleksitas berbasis aktor. Berikut merupakan
gambar dari model Penta Helix :
27
produk dan ketrampilan pada sumber daya manusia. Bisnis berperan sebagai
enabler yang menghadirkan infrastruktur TIK, dengan mendukung perubahan
pada sumber daya manusia, proses bisnis dan produk yang dihasilkan ke era
digital. Komunitas berperan sebagai akselerator sebagai sarana untuk
memperlancar adopsi proses bisnis ke era digital dan sebagai penghubung antar
pemangku kepentingan. Pemerintah berperan sebagai regulator yang memiliki
regulasi dan mengkoordinasi seluruh pemangku kepentingan.Media berperan
expander untuk mendukung publikasi dalam promosi dan informasi.
Model pengembangan sosial dan ekonomi Penta Helix mempromosikan
budaya inovasi dan sinergi kreatif.Hal ini untuk inovasi sosial di mana para aktor
berkumpul dari berbagai sektor masyarakat untuk berbagi tujuan bersama
menggunakan keterampilan dan sumber daya khusus untuk mengatasi berbagai
tantangan masyarakat (Halibas dkk, 2017).Tantangan dalam penelitian ini adalah
bagaimana strategi pemerintah melalui kemitraan dengan akademisi, bisnis,
komunitas, dan media dalam mengembangkanHeritage Tourism. Sebuah inovasi
dengan menggunakan model Penta Helix membantu memfasilitasi pembelajaran
kolaboratif dan pembagian informasi di antara para pemainnya agar dapat terlibat
dalam pemecahan masalah yang kreatif, penciptaan proyek bersama, sinergi
membangun, saling pengertian, dan kepercayaan. Karena model Penta Helix
merupakan model yang menjelaskan bagaimana akademisi, bisnis, komunitas,
pemerintah, dan media harus saling berhubungan untuk mendukung dan
meningkatkan inovasi. Menerapkan sistem inovasi yang kuat dapat memberi
dampak positif pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.Melalui kolaborasi
sinergis ini diharapkan bisa mewujudkan sebuah inovasi yang didukung oleh
berbagai sumber daya yang berinteraksi secara sinergis.
28
dalam Hadiwijoyo (2012) lahir dari strategi pengembangan masyarakat dengan
menggunakan pariwisata sebagai alat untuk memperkuat kemampuan organisasi
masyarakat lokal.
Isnaini (2007) menambahkan konsep Community Based Tourism
mempunyai prinsip-prinsip yang dapat digunakan sebagai tool of community
development bagi masyarakat lokal, yakni :
1) Mengakui, mendukung dan mempromosikan pariwisata yang dimiliki
masyarakat,
2) Melibatkan anggota masyarakat sejak awal pada setiap aspek,
3) Mempromosikan kebanggaan masyarakat,
4) Meningkatkan kualitas hidup,
5) Menjamin sustanbilitas lingkungan,
6) Memelihara karakter dan budaya lokal yang unik,
7) Membantu mengembangkan cross-cultural learning,
8) Menghormati perbedaan-perbedaan cultural dan kehormatan manusia,
9) Mendistribusikan keuntungan secara adil diantara anggota masyarakat,
10) Menyumbang prosentase yang ditentukan bagi income proyek masyarakat.
Ernawati (2010) mengemukakan Community Based Tourim adalah model
manajemen kepariwisataan yang dikelola oleh masyarakat setempat yang
berupaya untuk meminimalkan dampak negatif pariwisata terhadap lingkungan
dan budaya dan pada saat yang sama menciptakan dampak ekonomi yang positif.
Masyarakat tinggal disekitar obyek dan daya tarik pariwisata, sesungguhnya
penduduk adalah bagian dari atraksi wisata itu sendiri. Konsep CBT bermakna
bahwa manajemen pariwisata ditempat bersangkutan dikelola oleh masyarakat
setempat, ini meliputi pengelolaan kepariwisataan secara menyeluruh dilokasi
tersebut, termasuk penyiapan semua produk/pelayanan yang dibutuhkan oleh
wisatawan. Dengan cara demikian memungkinkan untuk memaksimalkan
keuntungan yang diperoleh dari kegiatan kepariwisataan untuk masyarakat
setempat, serta menempatkan mereka sebagai subyek kegiatan kepariwisataan
bukan sebagai obyek.Sementara Yaman & Mohd (2004) dalam Nurhidayati
(2012) mengemukakan beberapa kunci pengaturan pembangunan pariwisata
dengan pendekatan CBT yaitu :
29
a) Adanya dukungan pemerintah
CBT membutuhkan dukungan struktur yang multi instutisonal agar sukses dan
berkelanjutan. Pendekatan CBT berorientasi pada manusia yang mendukung
pembagian keuntungan dan manfaat yang adil serta mendukung pemberantasan
kemiskinan dengan mendorong pemerintah dan masyarakat untuk tetap menjaga
sumber daya alam dan Budaya. Pemerintah akan berfungsi sebagai fasilitator,
coordinator atau badan penasehat SDM dan penguatan kelembagaan.
b) Partisipasi dari stakeholder
CBT didiskripsikan sebagai variasi aktivitas yang meningkatkan dukungan
yang lebih luas terhadap pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat.
Konservasi sumber daya juga dimaksudkan sebagai upaya melindungi dalam hal
memperbaiki mata pencaharian/penghidupan masyarakat. CBT secara umum
bertujuan untuk penganekaragaman industri, peningkatan partisipasi yang lebih
luas ini termasuk partisipasi dalam sektor informal, hak dan hubungan langsung
dan tidak langsung dari sektor lainnya. Pariwisata berperan dalam pembangunan
internal dan mendorong pembangunan aktivitas ekonomi yang lain seperti industri
jasa dan lainnya. Anggota masyarakat dengan kemampuan kewirausahaan dapat
menentukan/membuat kontak bisnis dengan tour operator, travel agent untuk
memulia bisnis baru.
c) Pembagian keuntungan yang adil
Tidak hanya berkaitan dengan keuntungan langusng yang diterima masyarakat
yang memiliki usaha disektor pariwisata tetapi juga keuntungan tidak langsung
yang dapat dinikmati masyarakat yang tidak memiliki usaha. Keuntungan tidak
langsung yang diterima masyarakat dari kegiatan pariwisata jauh lebih luas antara
lain berupa proyek pembangunan yang bisa dibiayai dari hasil penerimaan
pariwisata.
d) Penggunaan sumber daya lokal secara berkesinambungan
Salah satu kekuatan pariwisata adalah ketergantungan yang besar pada sumber
daya alam dan budaya setempat. Dimana asset tersebut dimiliki dan dikelola olh
seluruh anggota masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, termasuk
yang tidak memiliki sumber daya keuangan. Hal ini bisa menumbuhkan
kepedulian, penghargaan diri sendiri dan kebanggaan pada seluruh anggota
30
masyarakat. Dengan demikian sumber daya yang ada menjadi lebih meningkat
nilai, harga dan menjadi alas an mengapa pengunjung ingin datang ke desa
tersebut.
e) Penguatan institusi lokal
Pada awalnya peluang usaha pariwisata di daerah pedesaan sulit diatur oleh
lembaga yang ada. Penting untuk melibatkan komite dengan anggota berasal dari
masyarakat. Tujuan utamanya adalah mengatur hubungan antara penduduk,
sumber daya dan pengunjung. Hal ini jelas membutuhkan perkembangan
kelembagaan yang ada di desa tersebut, yang paling baik adalah terbentuk
lembaga dengan pimpinan yang dapat diterima semua anggota masyarakat.
Penguatan kelembagaan bisa dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan
individu dengan keterampilan kerja yang diperlukan (teknik, managerial,
komunikasi, pengalaman kewirausahaan dan pengalaman organisasi. Penguatan
kelembagaan dapat berbentuk forum, perwakilan dan manajemen komite.
Secara Konseptual CBT menurut Patin dan Francis (2005) dalam Nurhidayati
(2012) diartikan sebagai pendekatan alternatif yang menekankan
partisipasi/keterlibatan komunitas serta merupakan alat pemberdayaan ekonomi
komunitas. Berikut ini penerapan CBT mensyaratkan terpenuhinya beberapa
prinsip yang dapat ditampilkan sebagai berikut.Menurut Suansri (2003) prinsip
Community Based Tourism dilihat dari beberapa segi antara lain :
1) Ekonomi
a. Terciptanya lapangan pekerjaan sektor pariwisata
b. Timbulnya pendapatan masyarakat lokal
c. Timbulnya dana komunitas
2) Sosial
a. Peningkatan kualitas hidup
b. Peningkatan kebanggaan komunitas
c. Pembagian peran yang adil (gender, usia)
d. Mekanisme penguatan organisasi komunitas
3) Budaya
a. Mendorong masyarakat menghormati budaya lain
b. Mendorong pertukaran budaya
31
c. Budaya pembangunan
4) Politik
a. Peningkatan partisipasi penduduk lokal
b. Peningkatan kekuasaan komunitas yang lebih luas
c. Mekanisme yang menjamin hak masyarakat lokal dalam pengelolaan SDA
5) Lingkungan
1.1 Pengembangan carrying capacity
2.1 Sistem pembuangan sampah yang ramah lingkungan
3.1 Kepedulian terhadap konservasi
Berdasarkan definisi para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa konsep
Community Based Tourism (CBT) adalah suatu konsep pengembangan daerah
destinasi yang melibatkan masyarakat/komunitas secara langsung maupun tidak
langsung dalam kegiatan pariwisata.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum
Kampung Heritage Kajoetangan Malang terletak di sekitar pusat Kota
Malang yaitu di Jalan Jend Basuki Rachmat Gg. VI, Kauman, Klojen. Sejak
ini resmi dibuka pada 22 April 2018, Kampung Kayutangan ini ditetapkan
sebagai kawasan budaya (heritage) oleh pemerintah Kota Malang (Radar
Malang, 2018). Kayutangan memang dapat dikatakan sebagai kawasan yang
bersejarah karena pada era kolonial Belanda, kawasan ini menjadi jalan pusat.
Hal ini dibuktikan dengan peninggalan yang sekarang dapat ditemui di
kawasan ini yaitu bangunan-bangunan peninggalan Belanda masih
dipertahankan bentuk aslinya terutama bentuk asli rumah di perkampungan
Kayutangan. Kampung Kayutangan ini menawarkan wisata budaya yang
bermuatan edukasi sejarah dengan memperlihatkan arsitektur rumah
peninggalan kolonial Belanda yang masih terjaga hingga saat ini. Tidak hanya
arsitektur bangunan, peralatan atau barang-barang kuno juga tersedia seperti
sepeda ontel, peralatan masak, lampu, jendela, kamera, telepon dan perabotan
32
rumah lainnya. Selain itu kampung Kayutangan juga masih menyimpan
banyak sisa peradaban masa lalu berupa bangunan pertokoan, makam Eyang
Honggo Kusumo, kuburan Tandak, Pasar Krempyeng, irigasi Belanda, saluran
air, tangga seribu dan titik lainnya yang memiliki nilai sejarah yang tinggi di
Kota Malang. Atmaja (2002:119) menyatakan kawasan pariwisata merupakan
kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi
kebutuhan pariwisata. Berdasarkan potensi di atas, Kampung Heritage
Kajoetangan layak menjadi kawasan pariwisata yang menarik di Malang.
Kampung Heritage Kajoetangan yang potensial ini perlu dikelola sesuai
dengan UU yang berlaku. Sejak diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 yang
kemudian disempurnakan atau diganti menjadi UU No. 32 tahun 2004 tentang
pemerintah daerah, sesungguhnya sudah lebih menjamin cita-cita penegakan
prinsip-prisip demokrasi yang menjunjung tinggi pluralitas, transparansi,
akuntabilitas, dan berbasis pada kemmapuan lokal. Hakikat otonomi daerah
adalah kesempatan seluas-luasnya bagi pemerintah daerah untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, tidak hanya mengandalkan dana
perimbangan pusat dan daerah tetapi juga menggali potensi sumber
pendapatan asli daerah dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip keadilan
dan keberlanjutan. Namun, pemerintah setempat belum secara optimal
menggali sumber-sumber pendapatan di daerahnya. Salah satu sumber
pendapatan daerah yang penting adalah pariwisata. Kampung Heritage
Kajoetangan ini memiliki daya tarik yang dapat dikelola dengan maksimal
untuk pariwisata.
Simanjuntak, dkk (2017:165) wisata budaya adalah perjalanan yang
dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan atau
mempelajari kebiasaan dan adat istiadat, cara hidup, budaya dan seni, serta
kegiatan bermotif kesejarahan sekelompok orang dengan melakukan
peninjauan langsung ke lokasi sumbernya. Kampung Heritage Kajoetangan ini
termasuk wisata budaya yang memperkaya aneka wisata budaya di Malang
seperti Sentra Keramik Dinoyo, Candi Badut, Museum Mpu Purwa dan lain
sebagainya. Sebagai destinasi wisata baru, Kampung Heritage Kajoetangan
ternyata belum dikelola dengan baik. Penelitian kali ini bertujuan untuk
33
mengidentifikasi potensi dan risiko untuk mengeksplorasi peluang dan solusi
penting dalam pengelolaan Kampung Heritage Kajoetangan menjadi lebih
baik di masa depan.
B. Analisis Data
Daerah Kayutangan telah ditetapkan sebagi kawasan wisata budaya
(heritage) oleh Pemerintah Kota Malang. Asal-usul nama Kayutangan
menurut kesaksian warga asli Malang yaitu Oei Hiem Hwie dan A. V. B.
Irawan, di sepanjang jalan Kayutangan dulu setiap kanan-kiri ditanami pohon-
pohon yang daunnya berbentuk telapak tangan yang mengembang. Pohon
jenis ini juga ditanam di Taman Indrakila tapi kini sudah tidak ada lagi
(Widodo dkk, 2006:220). Walaupun pohon legendaris itu sudah tidak bisa
ditemui lagi, Kampung Heritage Kajoetangan ini masih menyimpan cagar
purbakala atau bangunanbersejarah di Kota Malang. Bangunan-bangunan atau
rumah warga ini kental dengan arsitektur kolonial (Belanda). Sepanjang jalan
Kayutangan juga merupakan poros ekonomi Kota Malang sejak zaman
Belanda sampai sekitar era tahun 1990an. Dalam kampung Kayutangan masih
banyak menyisakan kejayaan masa lalu berupa bangunan toko, Makam Eyang
Honggo Kusumo, Kuburan Tandak, pasar krempyeng, irigasi Belanda, saluran
air, tangga 1000, rumah jaman kolonial dan beberapa spot menarik lainnya.
Hal tersebut mempunyai cerita tersendiri dan bisa menjadi komoditi dalam
menghadirkan wisata di tengah Kota Malang.
Wahab (2003:6) menyatakan pariwisata budaya adalah perjalanan untuk
memperkaya wawasan dan ilmu serta untuk memuaskan kebutuhan hiburan
tentang negara lain atau menghadiri pameran-pameran, perayaan-perayaan
adat, tempat-tempat cagar alam, cagar purbakala, dan lain-lain. Kawasan
Kayutangan termasuk pariwisata budaya yang berada di kompleks yang
terletak di sepanjang Jalan Celaket, mulai dari Kantor PLN yang sekarang
sampai dengan Gereja Kayutangan yang bermodel pertokoan Eropa berbentuk
kubus bertingkat. Pada zaman dulu merupakan kompleks rekreasi kolonial
kebanggaan Kota Malang. Pada era kolonial, kawasan ini yang hanya boleh
dikunjungi oleh kalangan atas dan pribumi dilarang masuk ke kawasan
34
kompleks tersebut (Times Indonesia, 2019). Sedangkan untuk pekerja dan
pengelolanya kebanyakan dari para pribumi dan etnis Tionghoa, bagi para
pekerja di berikan perumahan di belakang kompleks pertokoan yang disebut
kampung Kayutangan hingga saat ini yang terletak di sepanjang Jalan Basuki
Rahmat. Awalnya kampung ini merupakan area saluran air untuk mencegah
banjir karena lokasinya yang tertutup oleh kawasan pertokoan maka pekerja
diperbolehkan membangun rumah triplek (anyaman bambu) hingga pada
tahun 1930 dibangun rumah-rumah model Indies yang ditempati oleh para
Londo. Namun, semenjak tahun 1950-an kampung ini telah dijadikan
perkampungan yang tidak tertata oleh para pendatang atau para penduduk
sekitar yang membeli dari para pewaris rumah indies yang kebanyakan berasal
dari Etnis Tionghoa. Deskripsi sejarah yang diperoleh dari Ketua Rukun
Warga Kayutangan selaku narasumber itu menjadikan Kampung Heritage
Kajoetangan memiliki daya tarik wisata sejarah yang menarik (Gambar 3.1).
35
buatan manusia yang menarik dan mempunyai nilai untuk dikunjungi dan
dilihat wisatawan. Salah satunya pada saat memasuki gang yang terdapat di
Jalan Kawi terdapat gambar peta dari Kampoeng Wisata Heritage
Kojoetangan. Sepanjang jalan gang yang lurus terdapat Rumah Foto Galeri
Antik, Rumah Jamu, Galeri Pak Eko Antik, Galeri Pak Udin, lalu ada Masjid
Tua dan Rumah Punden. Di depan rumah Punden ada pertigaan kemudian
belok kanan, di situ terdapat Gubug Ningrat, Rumah Jacoeb, Rumah Kaca
Mata dan Galeri Abbas Akub. Ada banyak lagi fasilitas lainnya seperti Tangga
1000 Belanda, Pojok Dolanan, Kuburan Tanduk, Rumah Mbah Ndut, Makam
Eyang Honggo Kusumo, Rumah Nyik Aisyah, Priambodo House of Kebaya,
Rumah Tua, Rumah Pak Sakirman, Rumah Rindu, Pintu Jengki, Rumah
Penghulu, Rumah Cerobong, Rumah Pak Hasan, Rumah Namsin, Pintu Rolak,
Rumah Pijat dan Rumah Kartini. Semua informasi fasilitas tersebut sudah ada
denahnya pada peta (Gambar 3.2) di dekat gang Jalan Kawi. Informasi ini
cukup menarik untuk dibaca oleh wisatawan karena jika sejarah tidak menarik
untuk dibaca, maka tidak akan ada minat untuk mempelajari sejarah (Khakim,
2016:92-93).
36
dari spot foto buatan warga, rumah rumah warga yang masih sangat kental
dengan arsitektur kolonial (Belanda) juga dapat dibuat sebagai spot
foto/wahana berfoto. Mungkin karena Kampung Heritage Kajoetangan baru
berdiri, masih sekitar satu tahun jadi fasilitas-fasilitas pendukung yang
terbatas membuat Kampung Heritage Kajoetangan menjadi kurang menarik di
mata para wisatawan. Selain itu, tidak ada pemandu wisata (guide) yang siaga
dan gratis untuk memandu para wisatawan agar lebih mengetahui nilai sejarah
dari kampung Heritage Kajoetangan. Ditambah kurangnya pembinaan untuk
warga agar lebih mengetahui nilai sejarah dari Kampung Heritage
Kajoetangan. Warga-warga dari Kampung Heritage Kajoetangan juga
membutuhkan aspirasi-aspirasi untuk membuat Kampung Heritage
Kajoetangan menjadi lebih menarik tanpa harus menghilangkan nilai sejarah
yang ada di dalamnya. Selain itu warga juga membutuhkan kerjasama dengan
pemangku kebijakan, mahasiswa dan seniman seniman untuk mempercantik
Kampung Heritage Kajoetangan tersebut berupa lukisan-lukisan bernuansa
Kolonial atau pun topeng-topeng Malangan. Pengadaan pameran-pameran
budaya di Kampung Heritage Kajoetangan juga akan menarik wisatawan
untuk mengunjungi wisata budaya ini. Keberadaan agenda acara rutin yang
dapat diakses oleh wisatawan akan mempermudah calon wisatawan dalam
mencari informasi tentang daerah tujuan wisata (Purnomo, A & N Ruja, I &
Irawan, Listyo. 2018)
Urgensinya dalam pengelolahan kampung wisata Kayutangan, warga
sekitar tidak terlalu terlibat di dalamnya. Salah satu pengelolanya yang
bernama Rizal tertarik menjadikan kampung Kayutangan menjadi tempat
berburu berfoto yang menarik bagi generasi milenial. Rizal dan kelompoknya
telah memasang peta di dekat Pasar Krempyeng yang berfungsi menunjukkan
skema tur sekaligs informasi sekilas mengenai sudut-sudut menarik di
Kampung Heritage Kajoetangan. Pengelola memasang tiket masuk mulai dari
Rp 5.000 dengan bonus kartu pos bergambar perempuan berpakaian ala Eropa
berlatar Kampung Kayutangan masa kini berwarna hitam-putih tanpa fasilitas
lain. Sedangkan tiket khusus seharga Rp 800.000 menawarkan fasilitas
lengkap berupa dua pemandu, acara prasmanan, ikut permainan anak-anak,
37
pertunjukantarian dan masuk delapan bangunan rumah Indies. Selain itu, ada
tarif yang dikhususkan untuk agensi model dengan konfirmasi seharga Rp
100.000 per spot foto. Sedangkan tanpa koordinasi atau tanpa dipesan terlebih
dahulu minimal tiga hari sebelumnya, maka agensi foto hanya bisa
memanfaatkan sisi pinggir sungai kampung seperti kampung pada umumnya.
Damanik (2005:23) menyatakan peluang kerja bagi masyarakat miskin
dapat diperluas dengan cara merekrut tenaga kerja dalam kegiatan
kepariwisataan. Berdasarkan observasi, warga yang tinggal di Kampung
Heritage Kajoetangan berasal dari berbagai latar belakang ekonomi,
kebanyakan masyarakat menengah ke bawah. Pemberlakuan berbagai tarif
paket wisata di Kampung Heritage Kajoetangan ini diharapkan mampu
menyerap angka pengangguran di sekitar kawasan wisata. Hal ini belum
berjalan optimal karena terhambat dengan tata kelola kampung wisata.
Pengelolaan kampung wisata ini hanya bersifat episodikal selama terdapat
acara tertentu dari Penyelenggara Pariwisata Kota Malang sehingga
koordinasinya tidak terlalu jelas.
Kampung Kayutangan memiliki peluang sebagai tempat wisata dan
legitimasi untuk mencegah penggusuran oleh pemerintah untuk kepentingan
tata kota. Memang terdapat beberapa rumah lama akan tetapi para
penghuninya kebanyakan adalah pekerja serabutan dan pedagang toko di
kawasan Pasar Besar, juga terdapat alumnus Universitas UNAIR Cabang
Malang yang bekerja sama dengan pengelola kampung. Peluang yang
ditawarkan sumber daya budaya ini adalah citra Kota Malang sebagai tempat
wisata budaya yang memiliki peninggalan bangunan kolonial sebagai
kekuatan meningkatkan wisatawan. Dengan adanya keinginan narsistik
pengunjung, kampung ini sesuai sebagai tempat berfoto atau sebagai setting
tempat film bertema tahun1920-an sampai 1970-an. Urgensi yang ada dari
kampung ini adalah limbah rumah tangga yang terbuang ke saluran irigasi
yang dapat bertambah ketika datangnya pengunjung. Selain itu, tanpa adanya
pengaturan dan pengawasan lebih lanjut, kampung ini dapat menjadi wisata
dengan konotasi lain meskipun kemungkinan kecil terjadi karena lokasi
wisatanya yang tidak terlalu ramai.
38
Kampung Kayutangan memiliki nilai ekonomis sebagai penarik wisatawan
untuk menjelajah kampung sebagaimana pandangan stereotip mengenai
kampung di sekitar saluran irigasi atau sungai. Meskipun hanya terdiri dari
serangkaian rumah-rumah Indies dan semi permanen, paling tidak terdapat
nuansa nostalgia yang ingin dirasakan pengunjung dari Kota Malang. Secara
edukatif nilai yang dapat diambil adalah bagaimana masyarakat Kota Malang
kelas menengah ke bawah mendapatkan barang “mewah” seperti radio atau
keramik atau melakukan kegiatan ekonomi melalui toko-toko kecil atau yang
disebut sebagai Pasar Krempyeng. Terdapat pula koleksi seni milik penghuni
salah satu rumah yaitu milik Mr. Jacob yang memamerkan karya lukisannya
pada awal abad ke-20 M. Selain nilai-nilai ekonomis belum diungkapkan nilai
sosial baik religius ataupun kesenian yang menonjol dari kampung ini selain
terdapat sanggar seni yang jarang digunakan. Nilai yang berwujud fisik lebih
ditonjolkan karena mereka dapat dijelaskan dengan mudah. Singkatnya belum
terdapat nilai yang lebih menarik daripada nilai wisata.
Rachman (2014: 156) mengungkapkan dua hal efektif untuk manajemen
pariwisata dalam kawasan bersejarah yaitu pertama, kebijakan publik dan
tindakannya dalam melestarikan sumber daya sejarah serta mengatur
perubahan penggunaan lahan di pusat kota. Kebijakan pemerintah kota
Malang tampak pada peresmian wisata ini. Kemudahan akses dan tranportasi
menuju wisata ini disebabkan karena lokasinya di dekat pusat kota. Hal ini
perlu menjadi perhatian pemerintah karena rentan kemacetan, terutama saat
hari libur. Kebijakan penting yang perlu diambil oleh Pemerintah Kota adalah
melakukan kajian sejarah, antropologi, sosial dan arkeologi lebih mendalam
untuk mengeksplorasi potensi-potensi lain dari Kampung Heritage
Kajoetangan. Hal ini penting untuk meningkatkan daya tarik wisata Kampung
Heritage Kajoetangan ke depan supaya tidak hanya menjadi euforia budaya
yang berumur singkat. Pemerintah kota perlu melakukan tindakan pelestarian
secara serius dengan pengusulkan dan menetapkan kawasan ini sebagai Cagar
Budaya yang sah sesuai undang-undang RI No. 11 2010. Kedua, promosi dan
pemasaran destinasi sejarah adalah sebuah proses yang dilaksanakan untuk
kepentingan sektor swasta. Promosi Kampung Heritage Kajoetangan belum
39
dilaksanakan secara maksimal. Pemasaran yang dilakukan hanya sebatas
media sosial dan internet. Pengelola Kampung Heritage Kajoetangan perlu
mengadakan kegiatan rutin seperti diskusi kesejarahan atau sarasehan, jelajah
kota, permainan tradisional, lomba foto dan video untuk menghidupkan
edukasi sejarah yang kontekstual untuk warga kota Malang maupun target
wisatawan yang lebih luas lagi. Promosi yang dilakukan bekerjasama dengan
pemerintah kota untuk dimasukkan dalam lama dan media sosial resmi Kota
Malang dan publikasi media massa lainnya. Pengelola Kampung Heritage
Kajoetangan juga perlu mengadakan kerja sama dengan pihak swasta untuk
melakukan promosi dan pemasaran yang lebih luas. Langkah promosi dan
pemasaran yang paling penting adalah partisipasi aktif warga yang tinggal di
kawasan wisata sebagai bagian penting yang paling vital dalam
pengembangan dan pelestarian Kampung Heritage Kajoetangan secara
berkelanjutan.
C. SWOT
Analisis SWOT merupakan suatu bentuk analisis yang digunakan oleh
manajemen perusahaan atau organisasi yang sistematis dan dapat membantu
dalam usaha penyusunan suatu rencana yang matang untuk mencapai tujuan
perusahaan atau organisasi tersebut. Baik tujuan tersebut untuk tujuan jangkan
panjang maupun tujuan jangka pendek.
40
Yakni situasi ataupun kondisi yang merupakan gambaran kelemahan dari
suatu organisasi atau perusahaan pada saat ini. Weaknesses merupakan cara
untuk menganalisis kelemahan yang ada dalam sebuah perusahaan ataupun
organisasi. Yang mana kelemahan tersebut dapat menjadi kendala yang
serius dalam kemajuan suatu perusahaan atau organisasi. Misalnya jika
perusahaan tersebut terdapat kendala dalam pemasaran yang kurang baik,
maka perusahaan harus meneliti kekurangan-kekurangan yang di miliki
yang berhubungan dengan sektor pemasaran. Agar nantinya permasalahan
tersebut tidak membuat perusahaan menjadi kalah saing dan mudur di
bandingkan perusahaan lainnya.
41
usaha yang yang akan dijalankan. Misalnya sebuah organisasi kelompok
pengrajin rotan di daerah pedesaan. Dengan kondisi lingkungan yang
semakin moderen serta banyaknya kebakaran hutan yang terjadi membuat
mereka semakin sulit untuk memperoleh bahan baku, Maka oragnisasi
tersebut dapat menganalisis hal-hal apa yang menyebapkan tantangan atau
ancaman tersebut terjadi.
SWOT
Strengths (Kekuatan) Daya tarik wisata yang ditonjolkan di Kampung Heritage
Kajoetangan adalah wahana berfoto dan bangunan tua.
Daya Tarik wisata salah satunya pada saat memasuki
gang yang terdapat di Jalan Kawi terdapat gambar peta
dari Kampoeng Wisata Heritage Kojoetangan.
42
ikut permainan anak-anak, pertunjukantarian dan masuk
delapan bangunan rumah Indies. Selain itu, ada tarif yang
dikhususkan untuk agensi model dengan konfirmasi
seharga Rp 100.000 per spot foto. Sedangkan tanpa
koordinasi atau tanpa dipesan terlebih dahulu minimal
tiga hari sebelumnya, maka agensi foto hanya bisa
memanfaatkan sisi pinggir sungai kampung seperti
kampung pada umumnya.
Kampung Kayutangan memiliki peluang sebagai tempat
wisata dan legitimasi untuk mencegah penggusuran oleh
pemerintah untuk kepentingan tata kota.
Meskipun hanya terdiri dari serangkaian rumah-rumah
Indies dan semi permanen, paling tidak terdapat nuansa
nostalgia yang ingin dirasakan pengunjung dari Kota
Malang.
43
Berdasarkan observasi, warga yang tinggal di Kampung
Heritage Kajoetangan berasal dari berbagai latar belakang
ekonomi, kebanyakan masyarakat menengah ke bawah.
44
wisatawan yang lebih luas lagi.
Promosi yang dilakukan bekerjasama dengan pemerintah
kota untuk dimasukkan dalam lama dan media sosial
resmi Kota Malang dan publikasi media massa lainnya.
Pengelola Kampung Heritage Kajoetangan juga perlu
mengadakan kerja sama dengan pihak swasta untuk
melakukan promosi dan pemasaran yang lebih luas.
Urgensinya dalam pengelolahan kampung wisata
Kayutangan, warga sekitar tidak terlalu terlibat di
dalamnya.
Pengelolaan kampung wisata ini hanya bersifat episodikal
selama terdapat acara tertentu dari Penyelenggara
Pariwisata Kota Malang sehingga koordinasinya tidak
terlalu jelas.
Threats (Ancaman)
Urgensi yang ada dari kampung ini adalah limbah rumah
tangga yang terbuang ke saluran irigasi yang dapat
bertambah ketika datangnya pengunjung. Selain itu, tanpa
adanya pengaturan dan pengawasan lebih lanjut,
kampung ini dapat menjadi wisata dengan konotasi lain
meskipun kemungkinan kecil terjadi karena lokasi
wisatanya yang tidak terlalu ramai.
45
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kampung Kayutangan memiliki peninggalan rumah-rumah klasik yang
memiliki potensi destinasi pariwisata yang sudah diresmikan sebagai Kampung
Heritage Kajoetangan sejak April tahun 2018. Pengelolaannya sayangnya masih
belum terlalu jelas sehingga kampung ini bahkan belum diketahui oleh warganya
sebagai destinasi pariwisata. Fasilitas yang ditawarkan oleh pihak manajemen
berupa wahana-wahana foto, papan informasi mengenai sekilas info beberapa
rumah tertentu, pasar krempyeng sebagai tempat penyedia makanan dan
minuman, juga denah untuk menunjukkan arah. Fasilitas-fasilitas tersebut
memang dapat diakses dengan mudah oleh pengunjung, namun pengunjung baru
akan menikmati wisata dari Kampung Kayutangan apabila telah memesan terlebih
dahulu kepada pihak manajemen beberapa hari sebelumnya sehingga objek wisata
ini lebih mirip galeri barang-barang antik yang bahkan pengunjung tidak
mengetahui bagaimana seharusnya kampung wisata ini berjalan selain.
4.2 Saran
Saran untuk Kampung Heritage
1. Kampung Heritage Kajoetangan menambah fasilitas-fasilitas sehingga
Kampung Heritage Kajoetangan menjadi lebih menarik di mata para
wisatawan.
2. Merekrut pemandu wisata (guide) yang siaga dan gratis untuk memandu
para wisatawan agar lebih mengetahui nilai sejarah dari kampung Heritage
Kajoetangan.
3. Melakukan pembinaan untuk warga agar lebih mengetahui nilai sejarah
dari Kampung Heritage Kajoetangan.
46
4.3 Rekomendasi
Di jaman yang serba canggih ini dan kebanyakan orang menggunakan media
elektronik canggih untuk mengakses informasi maka promosi Kampung Heritage
Kajoetangan perlu dilaksanakan secara maksimal. Pemasaran yang dilakukan di
berbagai media sosial dan internet. Sehingga Kampung Heritage Kajoetangan
akan lebih mudah dikenal oleh banyak orang.Pemerintah dapat berkolaborasi
dengan para pengembang teknologi informasi dan komunikasi untuk membangun
suatu wadah yang dapat memudahkan masyarakat mencari informasi tentang
potensi pariwisata daerah di Indonesia. Sehingga dengan strategi seperti ini bisa
digunakan untuk mengenalkan potensi-potensi pariwisata daerah. Tidak hanya
lebih efektif, media digital merupakan media pemasaran yang dapat menghemat
anggaran dana operasional. Tidak lagi dengan mencetak brosur-brosur yang dapat
menyebabkan pemborosan, karena promosi dilakukan secara online dimana akan
menyentuh semua lapisan masyarakat. Informasi dapat diakses kapan saja dan
dimana saja. Dengan hal ini maka masyarakat tidak lagi dibingungkan dengan
terbatasnya sumber data.
47
DAFTAR PUSTAKA
48
Pemerintah Indonesia. 2004. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang
Pemerintahan Daerah. Lembaran RI Tahun 2004 No. 32. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Pemerintah Republik Indonesia. 2010. Undang-Undang No. 11 Tahun 2010
Tentang Cagar Budaya
Pendit, Nyoman S. (2002). Ilmu Pariwisata. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
Penerbit Andi.
Pitana, G dan Diarta, I.K. (2009). Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta:
Purnomo, A & N Ruja, I & Irawan, Listyo. 2018. Typology of tourist Bromo
Tengger Semeru National Park as a basic planning integrated tourism
design. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 145.
012015. 10.1088/1755-1315/145/1/012015.
Rachman, Arif F. 2014. Geografi Pariwisata Jawa dan Bali. Jakarta: Media
Bangsa
Rizaldi, Tito L.N., Hariyani, S., & Wardhani, D.K. (2010). Pelestarian
Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah Kawasan Kayutangan Kota
Malang. arsitektur e- journal. 3(2): 120-136.
Simanjuntak, Bungaran Antonius, dkk. 2017. Sejarah Pariwisata Menuju
Perkembangan Pariwisata Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor
Utama, I Gusti Bagus Rai. 2017. Pemasaran Pariwisata. Denpasar: CV. ANDI
OFFSET Wahab, Salah. 2003. Manajemen Kepariwisataan. Jakarta:
Pradnya Paramita
UU No. 11. (2010).Undang-Undang Republik Indonesia 11 Tahun 2010 Tentang
Cagar Budaya.
Widodo, Dukut Imam, dkk. 2006. Malang Tempo Doeloe Djilid Satoe. Malang:
Bayoemedia
Yoeti, Oka, A,. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa.
49