Anda di halaman 1dari 9

JURNAL FORMULASI EMULSI DENGAN

ZAT AKTIF MINYAK JINTAN HITAM

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK II (DUA)

AMALIA WULAN A. DUHE (F.19.010)

ISRAMAYANI (F.19.027)

ARWINA MUKHAIRA (F.19.006)

AMALIYAH KHAFIFAH (F.19.005)

LABORATORIUM TEKNIK SEDIAAN LIQUID DAN SEMI SOLID


PROGRAM STUDI DIPOLMA-III FARMASI
POLITEKNIK BINA HUSADA KENDARI
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tumbuhan merupakan salah satu sumber bahan alam yang memproduksi komponen kimia di
dalamnya dan menurut 92% survey konsumen menyatakan bahwa produk bahan alam tersebut di
percaya sebagai obat,aman dan tidak menimbulkan efek samping. Tanaman yang berfungsi
sebagai pengobatan tersebut dapat disebut juga dengan herbal medicine (Dubick,1986). Biji jinten
hitam (Nigella sativa L,seed) atau yang lebih dikenal dengan habbatusauda merupakan salah satu
herbal medicine yang sampai saat ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Pada zaman
dahulu,biji jinten hitam pun telah digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk sejumlah
penyakit dan bumbu masakan terutama oleh masyarakat di timur tengah dan asia barat (Badan
penelitian dan pengembangan pertanian,2009:Paarakh,2010).
Salah satu komponen biji jinten hitam yang dapat digunakan sebagai bahan aktif dalam
sediaan adalah minyaknya. Adapun efek farmakologis dari minyak biji jinten hitam antara lain
sebagai antiinflamasi, analgesik,antioksidan,antibakteri, hipertensi,diabetes, antikanker serta
meningkatkan sistem kekebalan tubuh (Badan penelitian dan pengembangan kesehatan,2009
:Gali,2006 ;Sultan,2009). Oleh karena itu, minyak biji jinten memiliki potensi yang besar sebagai
salah satu sumber nutrasetika yang sangat bermanfaat bagi tubuh.
Pemanfaatan minyak biji jinten hitam dalam pengobatan pada umumnya berupa sediaan
minyak yang dikemas langsung dalam botol,minyak yang dimasukan dalam soft kapsul, ataupun
serbuk kering yang dicampur madu, minyak zaitun dan sari kurma. Seiring berkembangnya
penelitian-penelitian yang membahas minyak biji jinten hitam dan manfaatnya bagi kesehtaan,
maka semakin banyak pula masyarakat yang tertarik untuk mencoba mengonsumsi minyak ini baik
sebagai obat maupun sebagai suplemen untuk menjaga ketahanan tubuh.
Rasa berminyak dari biji jinten inilah yang merupakan salah satu hambatan masyarakat dalam
mengonsumsinya. Meskipun berkhasiat, banyak orang yang enggan mengonsumsi minyak biji
jinten hitam secara langsung. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini,minyak biji jinten hitam
dibuat menjadi sediaan emulsi,sehingga penggunaan nya dapat di terima dan konsumsi oleh
masyarakat karena memiliki rasa yang enak.

B. Tujuan
1) Untuk mengetahui formulasi emulsi minyak jinten hitam
2) Untuk mengetahui cara pembuatan emulsi minyak jinten hitam
3) Untuk mengetahui stabilitas fisik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Emulsi
Menurut FI edisi III Th. 1979, Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau
larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan
yang cocok.
Menurut FI edisi IV Th. 1995, Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya
terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil.

Persyaratan Emulsi (Drs.H. A. Syamsudin, Apt : 2006)


1) Komponen dasar hukum yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi
terdiri atas:
a) Fase dispers/fase internal/fase diskontinu/fase terdispersi/fase dalam,yaitu zat cai yang
terbagi-bagi menjadi butiran kecil didalam zat cair lain
b) Fase eksternal/fase kontinu/fase pendispersi/fase luar,yaitu zat cair dalam emulsi yang
berfungsi sebagai bahan dasar ( bahan pendukung ) emulsi tersebut.
c) Emulgator,adalah bagian dari mulut yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi
2) Komponen Tambahan,adalah bahan tambahan yang sering ditambahkan kedalam emulsi untuk
memperoleh hasil yang lebih baik,misalnya pengawet dan antioksidan,pengawet yang sering
digunakan dalam sediaan emulsi adalah metil,etil,profil dan buti paraben dan senyawa
ammonium kuartener, antioksidan yang sering digunakan antara lain asam askorbat,asam
sitrat,propilgolat dan asam galat.

Tipe-tipe emulsi (Drs.H. A. Syamsudin, Apt. ilmu resep,2005)


1) Emulsi tipe O/W (oil in water) atau M/A (minyak dalam air)
Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase
internal dan air sebagai fase external.
2) Emulsi tipe W/O (water in oil) atau A/M ( air dalam minyak )
Adalah emulsi yang terdiri dari butiran yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal
dan minyak sebagai fase external.

Keuntungan dan Kerugian Emulsi ( DIRJEN POM1995;7)


1) Keuntungan
a) Emulsi dapat diistabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang mencegah penyatuan
tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase tunggal yang memisah
b) Konsistensi emulsi sangat beragam mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim
setengah padat
c) Tidak diperlukan perbandingan volume fase internal terhadap fase eksternal yang tinggi
untuk menghasilkan fase setengah padat
2) Kerugian
Semua emulsi membutuhkan bahan antimikroba karena fase air mempermudah pertumbuhan
mikroorganisme
B. Formulasi
1) Formula Sediaan Emulsi
R/ Minyak Jinten Hitam 30%
Asam Sitrat 1%
Span 80 1%
Tween 80 3%
Na. CMC 0,2%
Ol Citri q.s
Sorbitol 20%
Aquadest 100%

2) Spesifikasi Bahan

No. Nama Bahan Kegunaan Range Konsentrasi


1 Minyak Jinten Hitam Antibiotik 30%
2 Asam Sitrat Pengawet 0-10 %
Tween 80 dan span
3 Emulgator 1-10%
80
4 Na CMC Pengental 0-0,2 %
5 Ol. Citri Pengaroma -
6 Sorbitol Pemanis 20-35%
7 Aquadest Pelarut 100%

C. Alasan Penggunaan Bahan


1) Zat Aktif
a) Minyak Jintan Hitam : Minyak biji jintan hitam rasanya kurang enak, maka
jinten dibuat dalam sediaan emulsi agar menutupi rasa
dengan penambahan zat tambahan. Variasi konsentrasi
zat pengental dalam emulsi sangat mempengaruhi
stabilitas emulsi. Salah satu zat pengental adalah
cmc.Minyak Jintan Hitam dibuat jadi emulsi karena pada
formulasi ini dibuat dalam bentuk emulsi oral dimana
sediaan oral harus nyaman di konsumsi sehingga dapat
terabsorbsi dengan baik selain itu,minyak jintan hitam
adalah minyak berwarna kuning kecoklatan yang
diekstraksi dari biji hitam kecil yang didapatkan dari
bunga tumbuhan Nigella Sativa, Minyak jintan hitam
jika dibuat dalam sediaan lain minyak jintan hitam tidak
akan larut dan akan menghasilkan bau tengik yang tidak
menyenangkan jika dikonsumsi secara oral. Kadar yang
baik digunakan adalah 30 % - 50 %, jika kadar minyak
jintan hitam diatas 50% maka tidak terbentuk emulsi.

2) Zat Tambahan
a) Asam Sitrat : Digunakan sebagai pengawet obat karena dapat
menambah rasa asam pada obat sehingga mencegah
perkembangan jamur dan bakteri,asam sitrat merupakan
pengawet alami dan aman di konsumsi tubuh dibanding
pengawet lain serangkaian uji penelitian telah
membuktikan bahwa asam sitrat 99,9% bisa di konsumsi
oleh manusia.
b) Tween 80 dan Span 80 : Span 80 dan tween 80 dipilih karena tidak bersifat
karsinogenik dan potensi yang rendah terhadap iritasi
pada kulit serta sensititasi. Berdasarkan penelitian
diketahui bahwa emulsi minyak dalam air yang paling
stabil tampak pada sediaan yang menggunakan
emulgator campuran span 80 dan tween 80 dengan
perbandingan 3 : 1 dalam formula. Juga kombinasi
emulgator ini dapat menghasilkan viskositas yang cukup
untuk mencegah creaming dan meningkatkan stabilitas.
c) Na. CMC : Selain emulgator,bahan yang digunakan untuk
menstabilkan emulsi adalah bahan pengental yaitu Na.
CMC.Didalam sistem emulsi hidrokoloid Na. CMC tidak
berfungsi sebagai pengemulsi tetapi lebih sebagai
senyawa yang memeberikan kestabilan, penambahan Na.
CMC berfungsi sebagai bahan pengental , dengan tujuan
untuk membentuk sistem dispers koloid dan
meningkatkan viskositas. Na CMC juga telah ter uji
keamanan nya dalam penggunaan oral.
d) Ol. Citri : Ditambahkan Ol. Citri agar obat berbau harum dan dapat
menutupi bau kurang enak akibat penambahan bahan-
bahan lainnya.
e) Sorbitol : Sorbitol / pemanis atau gula pengganti digunakan karena
bahan dasarnya mudah diperoleh dan murah selain
harganya murah,sorbitol juga paling sering digunakan
karena berasal dari golongan alkohol dan memiliki rasa
manis,tidak toksik,dan berkalori.
f) Aquadest : Sebagai Pelarut

D. Tinjauan Uraian Bahan


1) Zat Aktif
a) Minyak Jintan Hitam
Nama lain : Habbatusauda
Pemerian biji : Bau khas, rasa pahit
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol 95%, eter,kloroform.dan
campuran etanol/air dengan etanol lebih besar dari 30%.
Praktis tidak larut dalam pelarut organik dan larutan
asam dengan pH kurang dari 3. Sedikit larut dalam air
membentuk koloid
2) Zat Tambahan
a) Asam sitrat
Nama obat : Acidum citricum
Sinonim : Asam sitrat
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk putihtidak berbau.
Rasa sangat asam ,agak higroskopis,merapuh dalam
udara kering dan panas.
Kelarutan : Larut dalam kurang dari 1 bagian air dan dalam 1,5
bagian etanol 95% P,sukar larut dalam eter
Incompatibilitas : Asam sitrat income dengan potassium tatrat,alkali dan
alkali tanah karbonat dan bikarbonat,asetat dan sulfide
income terhadap pengoksida basis,pereduksi dan nitrat
berpotensi meledak atau terurai jika dikombinasikan
dengan logam nitrat (FI III hal 50)

b) Tween 80
Nama Resmi : Polysorbatum 80
Nama lain : Polisorbatum 80, tween 80
Pemerian : Cairan kental,transparan,tidak berwarna,hampir tidak
berasa
Kelarutan : Mudah larut dalam air,dalam etanol 94% P, dalam etil
asetat P, dan dalam metanol P,sukar larut dalam parafin
cair
Penyimpanan : Dalam wadah tertututp baik
Kegunaan : Sebagai emulgator
HLB : 15

c) Span 80
Nama resmi : Sorbitan monoleat
Nama lain : Sorbitan atau Span 80
Pemerian : Larutan berminyak,tidak berwarna,bau karakteristik dari
asam lemak
Kelarutan : Praktis tidak larut tetapi terdispersi dalam air dan dapat
bercampur dengan alkohol sedikit larut dalam minyak
biji kapas
Kegunaan : Emulgator dalam fase minyak
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
HLB : 4,3

d) Ol. Citri
Nama lain : Minyak jeruk,lemon oil
Nama tanaman asal : Citrus lemon L
Keluarga : Rotaceae
Persyaratan kadar : Kadar aldehida jumlah dihitung sebagai sitrat tidak
kurang dari 3,5%
Penggunaan : Obat batuk,peransang peristaltik pada mulas,bahan
pewangi
Pemerian : Cairan warna kuning pucat atau kuning kehijauan,bau
khas aromatik,rasa pedas den agak pahit
Cara memperoleh : Dengan cara pemerasan perikarp segar yang masak atau
hampir masak
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat,terisi penuh,terlindung dari
cahaya,ditempat sejuk

e) Sorbitol
Pemerian : Serbuk,butiran atau kepingan, putih rasa
manis,higroskopis
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air,sukar larut dalam etanol
95%P<dalam metanol P dan dalam asetat P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Stabilitas : Sorbitol secara kimiawi relatif inert dan kompatibel
dengan kebanyakan eksipien,stabil diudara dengan tidak
adanya katalis dan dalam dingin,asam encer dan alkali
sorbitol tidak menggelapkan atau terurai pada suhu
tinggi
inkompatibilitas : Sorbitol akan membentuk khelat air yang larut dalam air
dengan banyak divalen dan ion logam trivalen pada
kondisi asam dan basa. Larutan sorbitol juga bereaksi
dengan oksida besi menjadi berubah warna

f) Na. CMC
Nama resmi : Natrii carboxymethil cellulosum
Nama lain : Natrium karboksimetil selulosa
Pemerian : Serbuk atau butiran putih atau kuning gading, tidak
berbau dan bersifat higroskopik
Kelarutan : Mudah terdispersi dalam air,membentuk suspense
koloida, tidaklarut dalam etanol
Kegunaan : Sebagai kontrol

g) Aquadest
Pemerian : Cairan jernih,tidak berwarna,tidak berbau tidak
mempunyai rasa
Kelarutan : Bercampur dengan banyak pelarut polar
Fungsi : Pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Stabilitas : Secara kimia,air stabil secara dalam bentuk
fisik(es,cair,dan uap).Air untuk tujuan khusus harus
disimpan dalam wadah yang sesuai.Air untuk injeksi
disimpan dalam wadah tertutup rapat bersegel.Air untuk
injeksi disimpan dalam wadah dosis tinggi
Inkompatibilitas : Air dapat bereaksi dengan obat atau elsipen lain yang
dapat terhidrolisis.Air dapat beraksi dengan logam logam
alkali dan secraa cepat dengan logam alkali tanah dan
oksidasinya,seperti kalium oksida dan magnesium
oksida.Air juga beraksi dengan garam-garam anhidrat
untuk membentuk hidrat dengan berbagai komposisi
dengan material organik tertentu.

BAB III
METODE KERJA
A. Alat
1) Lemari es
2) Mantel pemanas
3) Mikser
4) Mikroskop foto
5) Neraca
6) Viskometer brookfield
7) Voltmeter
8) termometer
9) Botol
10) Gelas kimia

B. Bahan
1) Minyak jintan hitam (nigella sativa)
2) Aquadest
3) Na. CMC
4) Sorbitol
5) Asam sitrat
6) Tween 80
7) Span 80
8) Ol. Citri

C. Perhitungan Bahan
1) Minyak jintan Hitam
30/100 x 60 ml = 18 ml
2) As. Sitrat
1/100 x 60 ml = 0,6 ml
3) Span 80
1/100 x 60 ml = 0,6 ml
4) Tween 80
3/100 x 60 ml = 1,8 ml
5) Na. CMC
0,2/100 x 60 ml = 0,12 ml
6) Sorbitol
20/100 x 60 ml = 12 ml
7) Aquadest
60 ml – (18 + 0,6 + 0,6 + 1,8 + 0,12 + 12 ) = 26,88 ml
D. Cara Kerja
1) Dimasukan 12 ml Sorbitol dalam 26,88 ml Aquadest dan dipanaskan hingga larut
2) Setelah itu dimasukan Na. CMC sebanyak 0,12 ml dan diaduk hingga mengental
3) Kemudian dimasukan tween 80 dan Asam sitrat (bahan A)
4) Pada saat yang bersamaan, dipanaskan Span 80,minyak jintan hitam dalam gelas kimia pada
suhu 70̊ C (bahan B)
5) Setelah bahan itu bahan B dimasukan kedalam bahan A sambil diaduk dengan mikser, sampai
terbentuk emulsi yang sempurna
6) Setelah itu ditambahkan Oleum Citri dan diaduk kembali dengan mikser sampai
dingin,selama pengadukan dengan mikser,dilakukan metode pengadukan intermittent shaking
(pengadukan berselang)
7) Kemudian dimasukan kedalam botol sampai batas kalibrasi 60 ml
8) Dan lakukan evaluasi dan uji stabilitas sediaan

E. Prosedur Evaluasi
1) Organoleptis
Organol eptik, diamati dengan cara panca indra,apakah sediaan emulsi tersebut sudah sesuai
dengan ketentuan sediaan emulsi yang benar, yaitu bau dan rasa yang sedap
2) Uji Tipe Emulsi
Uji tipe emulsi dilakukan dengan menggunakan salah satu metode yaitu metode pengenceran.
Dilakukan dengan penambahan sejumlah air dalam emulsi,bila emulsi tersebut bercampur
sempurna dengan air,maka emulsi tersebut tipe M/A sedangkan bila emulsi tidak bercampur
dengan sempurna maka tipe emulsi A/M
3) Pengukuran Viskositas
Pengukuran viskositas sediaan dilakukan dengan menggunakan viscometer,sediaan disimpan
dalam beakerglass 100 ml.