Anda di halaman 1dari 18

FORMULA SEDIAAN

“ NANOEMULSI HIDROCORTISON “

DISUSUN OLEH KELOMPOK IV :

BAMBANG SUBAGYO (F.019.012)

DEWITA INDRIANI (F.019.014)

HANAN KARIMAH (F.019.022)

IDA AYU KETUT SUCI ADNYANI (F.019.023)

IIS HENDRA SAMUTRA (F.018.0)

LABORATORIUM TEKNIK SEDIAAN LIQUID DAN SEMI SOLID

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KENDARI

POLITEKNIK BINA HUSADA KENDARI

2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Nanoemulsi adalah sistem emulsi yang transparent, tembus cahaya dan
merupakan disperse minyak air yang distabilkan oleh lapisan film dari surfaktan atau
molekul surfaktan yang memiliki ukuran droplet 50-500 nm. Nanoemulsi memiliki
bentuk fisik yang transparent atau translucent.Nanoemulsi tidak menunjukan masalah
dalam ketidakstabilan seperti pada makroemulsi yaitu creaming, flokulasi, koalesens, dan
sedimentasi.
Selain itu, nanoemulsi juga tidak toksik, dan tidak mengiritasi, oleh karena itu
dapat diaplikasikan dengan mudah melalui kulit maupun memran mukosa. Nanoemulsi
juga dapat meningkatkan absorbs, meningkatkan penetrasi obat, membantu
mensolubilisasikan zat aktif yang bersifat hidrofob,serta memiliki efisiensi lain.Jenis dan
konsentrasi surfaktan dalam fase air dipilih untuk memberikan stabilitas yang baik untuk
mencegah koalesen.
Salah satu obat yang dapat dibuat dalam bentuk nanoemulsi adalah
hidrocortison.Hidrocortison merupakan obat golongan kortikosteroid yang digunakan
dalam pengobatan dermatitis atopic secara topikal.Hidrocortison memiliki sifat kelarutan
dalam air rendah serta bioavaibilitas yang rendah pula.
Hidrocortison dibuat dengan metode emulsifikasi.Evaluasi sediaan yang
dilakukan meliputi uji organoleptis, uji karakteristik PH, uji tipe emulsi, uji ukuran
partikel, uji efisiensi penjebakan, uji stabilitas fisik, dan uji pelepasan hidrocortison.
Hidrocortison umumnya digunakan untuk mengobati kondisi seperti atritis, kelainan
sistem imun, hormon atau darah, kondisi kulit dan mata, masalah pernapasan, kanker dan
alergi berat.Obat jenis ini adalah salah satu golongan obat yang sangat sering digunakan
sebagai anti peradangan. Hidrocortison bekerja dengan cara menekan kerja zat-zat yang
memicu reaksi peradangan dan alergi.
Penggunaan hidrocortison bersamaan dengan obat lainnya, baik itu obat resep,
non resep, maupun obat herbal, dapat menimbulkan interaksi obat yeng bisa menurunkan
kinerja obat atau meningkatkan kemungkinan timbulnya efek samping.Hidrocortison
masuk ke dalam golongan obat keras yang artinya hanya bisa didapatkan melalui resep
dokter.

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui dan mampu membuat formulasi hidrocortison.
2. Untuk mengetahui hasil evaluasi dari sediaan nanoemulsi hidrocortison.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. NANOEMULSI
1. Definisi
Menurut artikel ilmiah, nanoemulsi adalah sistem emulsi yang transparent,
tembus cahaya dan merupakan disperse minyak air yang distabilkan oleh lapisan film
dari surfaktan yang memiliki ukuran droplet 50-500 nm.
Menurut Jurnal formulasi indonesia, nanoemulsi adalah sediaan yang stabil
secara termodinamika, disperse transparan dari minyak dan air yang distabilkan oleh
interparsial film molekul surfaktan serta ko-surfaktan dan memiliki ukuran droplet
kurang dari 100 nm.
Menurut artikel farmasi, nanoemulsi merupakan sistem yang transparan dan
stabil secara kinetik.Nanoemulsi memiliki ukuran <100 nm, dapat diaplikasikan pada
sediaan farmasetika, kosmetika, dan industri kimia, yang dapat meningkatkan efek
farmakologi dari obat serta menurunkan efek samping obat yang diberikan.

1. Komposisi Nanoemulsi(Handbook Of Pharmaceutical Excipients edisi 4)


a. Zat aktif
Yaitu zat utama/zat berkhasiat dalam sediaan nanoemulsi.
b. Komponen nanoemulsi: (Azeem et,al.,2009)
1) Fase minyak
Minyak menjadi salah satu faktor penentu dalam formulasi
nanoemulsi.Kemampuan nanoemulsi untuk menjaga obat dalam bentuk
terlarut sangat dipengaruhi oleh kelarutan obat dalam fase minyak.
2) Surfaktan
Surfaktan adalah suatu zat yang mempunyai kemampuan untuk
menurunkan tegangan permukaan suatu medium dan menurunkan tegangan
antar muka antar dua fase yang berbeda derajat polarisasinya.
3) Kosurfaktan
Kosurfaktan merupakan zat yang dapat membantu surfaktan dalam
menurunkan tegangan permukaan antara fase minyak dengan fase air sehingga
sangat berperan dalam stabilitas nanoemulsi yang dihasilkan.

2. Keuntungan Dan Kerugian Nanoemulsi (Syah,2010)


a. Keuntungan:
1. Ukuran tetesan sangat kecil menyebabkan penurunan pada gaya gravitasi dan
gerak brown yang mungkin cukup untuk mengatasi gravitasi. Hal ini berarti
tidak terjadi creaming selama penyimpanan.
2. Ukuran tetesan yang kecil mencegah terjadinya flokulasi dan memungkinkan
sistem untuk tetap tersebar tanpa adanya pemisahan, serta dapat mencegah
koalesens.
3. Nanoemulsi cocok untuk penghantaran bahan aktif melewati kulit. Luas
permukaan yang besar dari sistem emulsi memungkinkan penetrasi yang
cepat dari bahan aktif.
4. Karena sifatnya yang transparan dan fluiditasnya (pada konsentrasi minyak
yang sesuai) dapat memberikan estetika yang menarik dan menyenangkan
saat digunakan.
5. Karena ukuran yang kecil, nanoemulsi dapat melewati permukaan kulit yang
kasar dan dapat meningkatkan penetrasi obat.
6. Ukuran tetesan yang kecil memudahkan penyebarannya dan penetrasi
mungkin dapat ditingkatkan karena tegangan permukaan dan tegangan
antarmuka yang rendah.
7. Penggunaan nanoemulsi sebagai sistem penghantaran dapat meningkatkan
efektivitas obat, sehingga dosis total dapat dikurangi dan dengan demikian
meminimalkan efek samping.

b. Kerugian:
1. Penggunaan konsentrasi besar surfaktan kosurfaktan yang diperlukan untuk
menstabilkan nanodroplet.
2. Kapasitas pelarut terbatas untuk melarutkan zat yang memiliki titik lebur
tinggi.
3. Surfaktan yang digunakan harus tidak boleh beracun.
4. Stabilitas nanoemulsi dipengruhi oleh parameter lingkungan seperti suhu dan
Ph. Parameter ini dapat berubah setelah sampai pada pasien.

3. Metode pembuatan nanoemulsi (Guptaet al.,2010)


Salah satu metode pembuatan nanoemulsi adalah teknik energi tinggi seperti
ultrasonikasi, mikrofludisasi, dan homogenizer bertekanan tinggi.Pembuatan
nanoemulsi dengan dengan energi tinggi ini bergantung pada permukaan ukuran
globul yang kecil dengan adanya surfaktan atau campuran surfaktan dengan masukan
energi yang tinggi. Selama pembuatan, beberapa parameter seperti tekanan
homogenizer, jumlah siklus homogenizer, dan suhu homogenizer dapat berubah yang
nantinya akan mempengaruhi ukuran globul nanoemulsi yang sangat penting dalam
stabilitas fisik sistem tersebut.

B. FORMULASI
1. Formulasi Sediaan Hidrocortison
Hidrokortison 1%
Asam Stearat 15 %
Gliserin 10 %
Na Tetraboras 10%
TEA 2%
Nipagin 0,3 %
Aquadest 25 ml

2. Spesifikasi Bahan

No. Nama Bahan Kegunan/Fungsi Range Konsentrasi


1. Hidrocortison Adrenoglukokortikoidum 0,15-1%
2. Asam stearat Pengawet
15-20%
3. Gliserin Humektan
≤30 %
4. Na Tetraborat Antiseptikum Ekstern
10-25%
5. TEA Zat tambahan.
0,3-2%
6. Nipagin Pengawet 0,2%-0,3%
7. Aquadest Pelarut 100 %

C. ALASAN PENGGUNAAN BAHAN


1. Zat aktif (Anief, 1996)
Hidrocortison adalah golongan kortikosteroid yang mempunyai daya kerja
antialergi dan antiradang. Kortikosteroid bekerja dengan cara mencegah reaksi alergi,
mengurangi peradangan, dan menghambat sel epidermis. Hidrocortison bekerja
dengan cara mencegah pelepasan senyawa kimia dalam tubuh yang dapat
menyebabkan peradangan.Obat ini banyak diformulasi sebagai sediaan krim.
Didalam sistem BCS (Biopharmaceutical Classification System) dijelaskan
bahwa hidrocortison termasuk dalam kelas kedua dengan permeabilitas tinggi dan
laju disolasi rendah, terutama pada dosis yang tinggi.Hidrocortison secara topikal
baik digunakan untuk inflamasi kulit karena memiliki potensi antiinflamasi yang
tidak terlalu kuat dan efek samping kecil (PIONAS, 2015).

2. Zat tambahan
a. Asam stearat (Arthur H. Kabbe, 2000)
Asam stearate secara luas digunakan dalam sediaan oral dan topikal pada
formulasi farmasetik. Sebagian besar pada penggunaan oral dalam formulasi
tablet dan capsul digunakan sebagai lubricant atau pelincir.
Asam stearat dalam formulasi topikal digunakan sebagai pembentuk emulsi dan
pembawa kelarutan.Secara parsial dapat dikombinasikan dengan beberapa jenis
alkali atau triethanolamine dalam sediaan krim.Asam stearate digunakan dalam
formulasi krim dengan konsentrasi 1-20%.
b. Gliserin(Arthur H. Kibbe, 2000)
Gliserin digunakan secara luas dalam berbagai variasi formulasi farmasetik
yang mencakup sediaan oral, ophthalmic, topikal, sediaan parenteral, kosmetik
dan produk makanan.Dalam sediaan topikal formulasi farmasetik dan kosmetik,
gliserin terutama digunakan sebagai humektan dan emollient.Gliserin digunakan
sebagai humektan dalam sediaan kosmetik dengan konsentrasi 30%.
c. Na Tetraborat (Solan et al., 2003)
Natrium Tetraborat adalah campuran garam mineral dengan konsentrasi
yang cukup tinggi, yang merupakan bentuk tidak murni dari boraks.Merupakan
Kristal lunak yang mengandung unsur buron, berwarna dan mudah larut dalam
air.
d. TEA (Trietanolamin) (Arthur H. Kabbe, 2000)
TEA atau Trietanolamin secara luas digunakan dalam formulasi farmasetik
terutama dalam pembentukan emulsi.Bilamana dapat bercampur dengan jaringan
lemak, seperti asam stearate atau asam oleat.Trietanolamin berasal dari surfaktan
anionic yang sangat baik untuk digunakan sebagai agen pembentuk emulsi.Stabil
untuk emulsi minyak dalam air (M/A) dengan pH mendekati 8.Konsentrasi yang
digunakan sebagai pembentuk emulsi yaitu 2-4% dalam 2-5 waktu pada jaringan
lemak.
e. Nipagin (Metil paraben) (Arthur H. Kabbe, 2000)
Nipagin atau metil paraben digunakan sebagai pengawet antimikroba dan
kosmetik, produk makanan, dan berbagai jenis formulasi farmasi.Metil parabean
sering di kombinasikan dengan parabean-parabean lainnya sebagai pengawet
antimikroba. Popil paraben dengan kombinasi metil parabean mempunyai
konsentrasi propil parabean 0,02 % sedangkan metil parabean 0,18 % sebagai
pengawet pada berbagai jenis sediaan parenteral dalam formulasi farmasi.
f. Aquadest (FI edisi III)
Menurut FI edisi III, digunakan aquadest karena aquadest merupakan
bahan kimia yang stabil dan dalam formula air dapat bereaksi dengan bahan
eksipient yang mudah terhidrolisis.
D. URAIAN BAHAN
1. Zat Aktif
a. Hidrocortison
Nama Senyawa : Hydrocortisoni Acetatis
Rumus molekul : C23H32O6

Rumus struktur :
Pemerian : Serbuk hablur, putih hingga praktis putih, tidak berbau. Melebur
pada suhu lebih kurang 2000 disertai peruraian.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95%) dan
dalam kloroform.
Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Adrenoglukokortikoidum

2. Zat tambahan
a. Asam Stearat ( DIRJEN POM, 1979 ; Arthur H. Kabbe, 2000)
Nama Resmi : ACIDUM STEARICUM
Nama lain : Asam stearat

Rumus struktur :
Pemerian : Zat padat keras mengkilat, putih atau kuning pucat, mirip lemak
lilin.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol (95%)
P, dalam 2 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan.
b. Gliserin ( DIRJEN POM, 1979 ; Arthur H. Kabbe, 2000)
Nama Resmi : GLYCEROLUM
Nama lain : Gliserol, gliserin
Rumus molekul : C3H8O3

Rumus struktur :
Berat molekul : 92,10
Pemerian : Cairan seperti sirop, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis
diikuti rasa hangat. Higroskopik. Jika disimpan beberapa lama
pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur
tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih
kurang 200C.
Kelarutan : Dapat di campur dengan air, dan dengan etanol (95%) P, praktis
tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak
lemak.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan.
Titik Leleh : 17,8 OC
OTT : Gliserin bisa meledak jika bercampur dengan oksidator kuat
seperti kromium trioksida, potasium klorat atau potasium
permanganat. Adanya kontaminan besi bisa menggelapkan
warna dari campuran yang terdiri dari fenol, salisilat dan tanin.
Gliserin membentuk kompleks asam borat, asam gliseroborat
yang merupakan asam yang lebih kuat dari asam borat.
Stabilitas : Gliserin bersifat higroskopis. Dapat terurai dengan pemanasan
yang bisa menghasilkan akrolein yang beracun. Campuran
gliserin dengan air, etanol 95% dan propilena glikol secara
kimiawi stabil. Gliserin bisa mengkristal jika disimpan pada
suhu rendah yang perlu dihangatkan sampai suhu 200 OC untuk
mencairkannya.
Fungsi : Pengawet antimikroba, Lasolvent yang melunakkan, humefektan
plasticial, pelarut, pemanis agen-agen fonistasi.

c. Natrium Tetraborat (FI edisi III Hal 427)


Nama Resmi : NATRIUM TETRABORAS
Nama lain : Natrium Tetraborat
Rumus Molekul : Na2B4O7

Rumus struktur :
Berat molekul : 381,37
Pemerian : Hablur transparan tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak
berbau, rasa asin dan basa. Dalam udara kering merapuh.
Kelarutan : Dalam 20 bagian air, dalam 0,6 bagian air mendidih dan dalam
kurang dari 1 bagian gliserol P; praktis tidak larut dalam etanol
(95%)P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Fungsi : Antiseptikum ekstern.

d. TEA ( DIRJEN POM, 1979 ; Arthur H. K, 2000)


Nama Resmi : TRIETHANOLAMINUM
Nama lain : Triethanolamina, TEA
Rumus Molekul : N (C2H4OH)3

Rumus struktur :
Pemerian : Mudah larut dalam air dan dalam etanol ( 95%) P, larut dalam
kloroform P.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan dengan
kloroform P; larut dalam aseton dan dengan kloroform larut
dalam eter dan dalam beberapa minyak esensi tidak dapat
bercampur dengan minyak lemak.Penyimpanan: Dalam wadah
tertutup rapat.
Khasiat : Zat tambahan
Incom : Dapat bereaksi dengan asam mineral membentuk garam Kristal
dan ester-ester. TEA juga akan bereaksi dengan tembaga
membentuk garam-garam kompleks. Perubahan warna dan
pengendapan dapat terjadi akibat adanya garam-garam
logam.TEA juga dapat bereaksi dengan adanya pereaksi seperti
thionyl klorida menggantikan grup hidroksi dengan halogen
menghasilkan toksik seperti nitrogrn mustard lainnya.

e. Metil Paraben ( DIRJEN POM, 1979; Arthur H. K, 2000)


Nama Resmi : METHYLIS PARABENUM
Nama lain : Metil paraben, Nipagin M
Rumus Molekul : C8H8O3

Rumus struktur :
Berat Molekul : 152,15
Pemerian : Serbuk hablur halus, putih, hamper tidak berbau, tidak
mempunyai rasa, agak membakar diikuti rasa tebal.
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih,
dalam 3,5 bagian etanol ( 95%) P dan dalam 3 bagian aseton,
jika didinginkan larutan tetap jernih.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat : Zat tambahan
Incomp : Pengawet seperti metil paraben atau pengawet laiinya dapat
berkurang dengan adanya surfaktan nionik seperti polisorbat 80

f. Aquadestilata
Rumus Molekul : H2O
Bobot Molekul : 18,02
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
pH : Netral yaitu 7
OTT : Dalam formula air dapat bereaksi dengan bahan eksipient
lainya yang mudah terhidrolisis.
Stabilitas : Air adalah salah satu bahan kimia yang stabil dalam
bentuk Fisik (es, air, dan uap). Air harus disimpan dalam wadah
yang sesuai. Pada saat penyimpanan dan penggunaannya harus
terlindungi dari kontaminasi   partikel–pertikel ion dan bahan
organik yang dapat menaikan konduktivitas dan jumlah karbon
organik. Serta harus terlindungi dari partikel – partikel lain dan
mikroorganisme yang dapat tumbuh dan merusak fungsi air.

BAB III
METODE KERJA
A. ALAT:
1. Objectglas
2. Gelas beaker
3. Cawan Porselen
4. Stamfer
5. Mortir
6. Batang pengaduk
7. Kaca Bundar
8. Kertas Saring
9. Anak Timbang
10. Spatula/sendok tanduk/sudip
11. Stopwatch

B. BAHAN:
1. Hidrocorticon
2. Asam Stearat
3. Gliserin
4. Na Tetraborat
5. TEA
6. Nipagin
7. Aquadest
8. KOH 0,1 N
9. Larutan Fenolftalein

C. PERHITUNGAN BAHAN
1. Hidrokortison 1 %
1
¿ ×25=0,25 gram
100
2. Asam Stearat 15 %
15
¿ ×25=3,75 ml
100
3. Gliserin 10 %
10
¿ ×25=2,5 ml
100
4. Na Tetraboras 10%
10
¿ ×25=2,5 gram
100
5. TEA 2 %
2
¿ ×25=0,5 ml
100
6. Nipagin 0,3 %
0,3
¿ ×25=0,075 gram
100
7. Aquadest
¿ 25−(0,25+3,75+ 2,5+ 2,5+0,5+0,075)
¿ 25−(9,575)
¿ 15,425 ml

D. PROSEDUR PEMBUATAN
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Disetarakan timbangan.
3. Ditimbang bobot cawan porselen kosong dan catat bobotnya.
4. Ditimbang bahan dan diukur satu persatu
1. Hidrocortison 0,25 gram
2. Asam stearat 3,75 ml
3. Gliserin 2,5 ml
4. Na Tetraborat 2,5 gram
5. TEA 0,5 ml
6. Nipagin 0,075
7. Aquadest 15,425 ml
5. Dimasukan 3,75 ml asam stearat dan 0,075 ml nipagin kedalam cawan porselen yang
sudah ditimbang kemudian ditambahkan 15,425 ml aquadest. Panaskan diatas pengais
air sampai semua larut sempurna (Campuran I).
6. Dimasukan Na Tetraborat 2,5 gram ke dalam cawan porselen yang lain dan diaduk
sampai larut sempurna (Campuran II).
7. Dimasukan TEA 0,5 ml kedalam air panas didalam gelas beaker. Aduk hingga
homogen.
8. Kemudian masukkan Campuran I dan Campuran II, lalu tambahkan TEA. Aduk
hingga homogen dalam mortir hangat.
9. Ditimbang kembali bobot cawan porselen beserta basis krim yang sudah jadi. Jika
bobot cawan porselen belum mencapai bobot awal maka tambahkan gliserin, hingga
bobotnya mencapai bobot awal.
10. Dimasukan Hidrocortison 0,25 gram kedalam basis krim yang sudah jadi. Di aduk
hingga homogen.
11. Dimasukan kedalam wadah, lalu beri etiket biru.

E. PROSEDUR EVALUASI
1. Uji Daya Sebar
1. Ditimbang 0,5 gram krim, letakan ditengah alat
2. Ditutup dengan kaca yang sudah ditimbang, biarkan 1 menit kemudian ukur
diameter krim.
3. Tambahkan beban 50 gram, biarkan 1 menit, ukur diameter.
4. Lanjutkan sebanyak 3 kali, dengan menambahkan tiap kali beban tambahan 50
gram.
5. Gambarkan dalam grafik hubungan antar beban dan luas krim yang menyebar.

2. Uji Daya Lekat


1. Diletakan krim secukupnya diatas objectglass yang telah ditentukan luasnya.
2. Diletakkan objectglass yang lain diatas krim tersebut.
3. Diletakkan dengan bahan tambahan 50 gram selama 5 menit.
4. Dipasang objectglass pada alat uji.
5. Dicatat waktu yang diperlukan objectglass pada saat terlepas.
6. Diulangi sebanyak 3 kali.

3. Uji Kemampuan Proteksi


1. Diambil sepotong kertas saring (10×10 cm). Basahi dengan larutan Fenolftalein
untuk indikator. Setelah itu kertas dikeringkan.
2. Dioleskan unguentum pada kertas saring.
3. Disiapkan kertas saring yang lain berukuran (2,5×2,5 cm) dengan pembatas
paraffin padat yang dilelehkan.
4. Ditempelkan kertas saring yang lebih kecil diatas kertas saring yang lebih besar.
5. Diteteskan dengan KOH 0,1 N.

4. Uji Homogenitas
Diuji Homogenitas diamati dengan menggunakan kaca pembesar.