Anda di halaman 1dari 21

KELOMPOK A-5

AJENG SATYA KIRANA 1102007016


AJENG SEKAR DEWANTY 1102007017
AULIA ELZA GIARMI 1102007054
AWALIA ASTARINA 1102007055
AYODYA HERISTYORINI 1102007056
HANDIKA ZULMARTIN 1102007133
HARDWIYANI 1102007134
HARRY YURIANDA FIBA 1102007135
INTAN NURULITA SARI 1102007148
IRMA NIRMALAWATI 1102007149
UNIVERSITAS YARSI
2010/2011
JAKARTA
SKENARIO 2

Penemu Mayat Menghilang

LAHAT – Pria tanpa identitas yang diperkirakan berusia sekitar 30 hingga 40 tahun
ditemukan sudah membusuk Senin (5/7) malam sekitar pukul 19.00 oleh warga Desa
Muara Lawai Kecamatan Merapi Timur. Mayat itu sendiri ditemukan warga di dalam
semak belukar yang sempat membuat warga sekitar geger.

Kapolres Lahat AKBP Drs. Iwan Yusuf Chairudin didampingi Kasat Reskrim, AKP
Yoga Bagaskara SIk, melalui KSPK Polres Lahat Ipda Mira membenarkan adanya
penemuan mayat itu. Menurut Mira, mayat tersebut pertama kali ditemukan warga yang
melintas di TKP. Sayangnya, warga yang menemukan mayat itu langsung menghilang
setelah melapor. Akibatnya, petugas kesulitan meminta keterengan lebih lanjut.

Setelah menerima laporan, petugas Mapolsek Merapi langsung menghubungi Mapolres


Lahat dan kemudian langsung menuju lokasi kejadian.

“Kita menemukan mayat itu sekitar 100 meter dari terowongan Kereta Api (KA) Muara
Lawai dengan posisi terlentang dan sudah membusuk dipenuhi ulat belatung. Kondisinya
sudah menghitam. Sayangnya, tidak ditemukan identitas saat dilakukan pemeriksaan”
ungkap Mira menerangkan. Menurut Kapolsek, korban diperkirakan sudah tergeletak di
lokasi sejak 4 hingga 5 hari sebelumnya. Dibuktikan dengan sudah membusuknya
jenazah itu.

“Korban bisa saja meninggal akibat dibunuh melihat luka di beberapa bagian tubuhnya.
Namun kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan melakukan autopsi,” sambung
Kanit Identifikasi Polres Lahat, Bripka L Dias usai memeriksa kondisi jenazah di RSUD
Lahat

(dikutip dari: Sriwijaya Post – Selasa, 6 Juli 2010 22:20 WIB)

2
SASARAN BELAJAR:

1. MEMPELAJARI PERUBAHAN – PERUBAHAN SETELAH MATI


2. MEMPELAJARI TENTANG VISUM ET REPERTUM (VER)

3
I. MEMPELAJARI TENTANG PERUBAHAN – PERUBAHAN SETELAH MATI

Ilmu kedokteran Forensik yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi
setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi disebut Tanatologi. Tanatologi ini
berguna dalam :
• Menentukan apakah korban sudah mati atau belum
• Menentukan lama korban telah mati, dan
• Menentukan apakah korban tersebut mati wajar atau tidak.

Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang
berupa tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan
tersebut dapat timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya
kerja jantung dan peredaran darah berhenti, pernapasan berhenti, refleks cahaya dan
refleks kornea mata hilang, kulit pucat dan relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul
perubahan pascamati yang jelas yang memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti.

Dahulu kematian ditandai dengan tidak berfungsinya lagi jantung. Konsep baru
sekarang ini mengenai kematian mencakup berhentinya fungsi pernafasan, jantung dan
otak. Dimana saat kematian ditentukan berdasarkan saat otak berhenti berfungsi. Pada
saat itulah jika diperiksa dengan elektro-ensefalo-grafi (EEG) diperoleh garis yang datar.

Tanda yang segera dikenali setelah kematian;


• Berhentinya sirkulasi darah
• Berhentinya pernafasan
Tanda-tanda kematian setelah beberapa saat kemudian:
• Perubahan pada mata
• Perubahan pada kulit
• Perubahan temperatur tubuh
• Lebam mayat
• Kaku mayat
Tanda-tanda kematian setelah selang waktu yang lama:
• Proses pembusukan
• Saponifikasi atau adiposera
• Mumifikasi

Tanda kematian dibagi menjadi dua:

1. Tanda kematian tidak pasti:

4
a. Berhentinya sistim pernafasan dan sistim sirkulasi.

Secara teoritis, diagnosis kematian sudah dapat ditegakkan jika jantung


dan paru berhenti selama 10 menit, namun dalam prakteknya seringkali terjadi
kesalahan diagnosis sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dengan cara
mengamati selama waktu tertentu. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan
mendengarkannya melalui stetoscope pada daerah precordial dan larynx
dimana denyut jantung dan suara nafas dapat dengan mudah terdengar.

Kadang-kadang jantung tidak segera berhenti berdenyut setelah nafas


terhenti, selain disebabkan ketahanan hidup sel tanpa oksigen yang berbeda-
beda dapat juga disebabkan depresi pusat sirkulasi darah yang tidak adekwat,
denyut nadi yang menghilang merupakan indikasi bahwa pada otak terjadi
hipoksia. Sebagai contoh pada kasus judicial hanging dimana jantung masih
berdenyut selama 15 menit walaupun korban sudah diturunkan dari tiang
gantungan.

b. Kulit yang pucat

Kulit muka menjadi pucat ,ini terjadi sebagai akibat berhentinya sirkulasi
darah sehingga darah yang berada di kapiler dan venula dibawah kulit muka
akan mengalir ke bagian yang lebih rendah sehingga warna kulit muka tampak
menjadi lebih pucat.

Akan tetapi ini bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya. Kadang-
kadang kematian dihubungkan dengan spasme agonal sehingga wajah tampak
kebiruan.

Pada mayat yang mati akibat kekurangan oksigen atau keracunan zat-zat
tertentu (misalnya karbon monoksida) warna semula dari raut muka akan
bertahan lama dan tidak cepat menjadi pucat.

c. Relaksasi otot

Pada saat kematian sampai beberapa saat sesudah kematian , otot-otot


polos akan mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Relaksasi
pada stadium ini disebut relaksasi primer. Akibatnya rahang turun kebawah
yang menyebabkan mulut terbuka, dada menjadi kolap dan bila tidak ada
penyangga anggota gerakpun akan jatuh kebawah. Relaksasi dari otot-otot
wajah menyebabkan kulit menimbul sehingga orang mati tampak lebih muda
dari umur sebenarnya, sedangkan relaksasi pada otot polos akan
mengakibatkan iris dan sfincter ani akan mengalami dilatasi. Oleh karena itu
bila menemukan anus yang mengalami dilatasi harus hati-hati menyimpulkan
sebagai akibat hubungan seksual perani/anus corong.

d. Perubahan pada mata

5
Perubahan pada mata meliputi hilangnya reflek kornea dan reflek cahaya
yang menyebabkan kornea menjadi tidak sensitif dan reaksi pupil yang
negatif. Hilangnya reflek cahaya pada kornea ini disebabkan karena kegagalan
kelenjar lakrimal untuk membasahi bola mata.

Kekeruhan pada kornea akan timbul beberapa jam setelah kematian


tergantung dari posisi kelopak mata. Walaupun sering ditemui kelopak mata
tertutup secara tidak komplit, ini terjadi oleh karena kekakuan otot-otot
kelopak mata. Kekeruhan pada lapisan dalam kornea ini tidak dapat
dihilangkan atau diubah kembali walaupun digunakan air untuk
membasahinya.

Bila kelopak mata tetap terbuka sclera yang ada disekitar kornea akan
mengalami kekeringan dan berubah menjadi kuning dalam beberapa jam yang
kemudian berubah menjadi coklat kehitaman. Area yang berubah warna ini
berbentuk trianguler dengan basis pada perifer kornea dan puncaknya di
epikantus. Area ini disebut’taches noires de la sclerotiques’.

Iris masih bereaksi dengan stimulasi kimia sampai 4 jam sesudah kematian
somatik, tetapi reflek cahaya segera hilang bersamaan dengan iskemik pada
batang otak. Pupil biasanya pada posisi mid midriasis yang disebabkan oleh
karena relaksasi dari muskulus pupilaris walaupun ada sebagian ahli yang
menganggap ini sebagai proses rigor mortis. Diameter pupil sering
dihubungkan dengan sebab kematian seperti lesi di otak atau intoksikasi obat
seperti keracunan morphin dimana sewaktu hidup pupil menunjukan
kontraksi.

Setelah kematian tekanan intra okuler akan turun, tekanan intra okuler
yang turun ini mudah menyebabkan kelainan bentuk pupil sehingga pupil
kehilangan bentuk sirkuler setelah mati dan ukurannya pun menjadi tidak
sama ,pupil dapat berkontraksi dengan diameter 2 mm atau berdilatasi sampai
9 mm dengan rata-rata 4-5 mm oleh karena pupil mempunyai sifat tidak
tergantung dengan pupil lainnya maka sering terdapat perbedaan sampai 3
mm.

2. Tanda kematian pasti:

a. Penurunan suhu mayat (Algor Mortis)

Suhu tubuh pada orang yang sudah meninggal perlahan-lahan akan sama
dengan suhu lingkungannya karena mayat tersebut akan melepaskan panas dan
suhunya menurun. Proses pemindahan panas ini berlangsung secara : Konduksi,
Radiasi, dan evaporasi. Kecepatan penurunan suhu pada mayat bergantung
kepada suhu lingkungan dan suhu mayat tu sendiri. Pada iklim yang dingin maka
penurunan suhu mayat berlangsung cepat. Menurut Sympson (Inggris),
menyatakan bahwa dalam keadaan biasa tubuh yang tertutup pakaian mengalami

6
penurunan temperatur 2,50 F setiap jam pada enam jam pertama dan 1,6-2,0 F
pada enam jam berikutnya, maka dalam 12 jam suhu tubuh akan sama dengan
suhu sekitarnya.

Maka itu penurunan suhu mayat dipengaruhi oleh faktor sbb:


o Besarnya perbedaan suhu tubuh mayat dengan lingkungan
o Suhu tubuh mayat saat mati
o Aliran udara makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat
o Kelembaban udara makin mempercepat penurunan suhu tubuh
mayat
o Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat
penurunan suhu tubuh mayat
o Aktivitas sebelum meninggal
o Sebab kematian
o Pakaian tipis makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat
o Posisi tubuh dihubungkan dengan luas permukaaan tubuh yang
terpapar

Cara melakukan penilaian algor mortis:

o Tempat pengukuran suhu memegang peranan penting


o Dahi dingin setelah 4 jam post mortem
o Badan dingin setelah 12 jam post mortem
o Suhu organ dalam mulai berubah setelah 5 jam post mortem
o Bila mayat mati dalam air, penurunan suhu tubuhnya tergantung
dari suhu, aliran dan keadaan airnya
o Perkiraan saat kematian dapat dihitung dari pengukuran suhu
jenazah perrektal (Rectal Temperature/RT). Saat kematian (dalam jam)
dapat dihitung rumus PMI (Post Mortem Interval) berikut.
Formula untuk suhu dalam Celcius
PMI = 37C – Suhu Rektal C + 3
Formula untuk suhu dalam Fahrenheit
PMI = 98,6F – Suhu Rektal F

(1,5)

b. Lebam mayat (Livor Mortis)

Lebam mayat terjadi akibat terkumpulnya darah pada jaringan kulit dan
subkutan disertai pelebaran pembuluh kapiler pada bagian tubuh yang letaknya
rendah atau bagian tubuh yang tergantung. Keadaan ini memberi gambaran
berupa warna ungu kemerahan.

7
Setelah seseorang meninggal, mayatnya menjadi suatu benda mati
sehingga darah akan berkumpul sesuai dengan hukum gravitasi. Lebam mayat
pada awalnya berupa bercak yang biasanya muncul seperti lebam keunguan yang
terlihat kurang dari 1 jam setelah kematian. Lebam ini akan semakin jelas dalam
beberapa jam berikutnya. Fenomena ini biasanya menjadi lengkap dalam 6-12
jam dan dikatakan menetap (lebam tidak hilang pada penekanan dengan jari dan
tidak akan hilang bila mayat dipindahkan).

Pembekuan darah terjadi dalam waktu 6-10 jam setelah kematian. Lebam
mayat ini bisa berubah baik ukuran maupun letaknya tergantung dari perubahan
posisi mayat. Karena itu penting sekali untuk memastikan bahwa mayat belum
disentuh oleh orang lain. Posisi mayat ini juga penting untuk menentukan apakah
kematian disebabkan karena pembunuhan atau bunuh diri.

Ada 5 warna lebam mayat yang dapat kita gunakan untuk memperkirakan
penyebab kematian :
o Merah kebiruan merupakan warna normal lebam
o Merah terang menandakan keracunan CO(cherry red), keracunan
CN (bright scarlet) atau suhu dingin (bright pink)
o Merah gelap menunjukkan asfiksia
o Perunggu pucat bergaris-garis menandakan kematian akibat
abortus septic
o Coklat (chocolate brown) menandakan keracunan potassium
chlorate nitrate

Kepentingan medikolegal dari lebam mayat


o Merupakan tanda dari kematian
o Bisa membantu menentukan posisi dari mayat dan penyebab
kematian
o Jika mayat terletak pada posisi punggung dibawah, maka lebam
mayat pertama sekali terlihat pada bagian leher dan bahu, baru kemudian
menyebar ke punggung.
o Pada mayat dengan posisi tergantung, lebam mayat tampak pada
bagian tungkai dan lengan.
o Pada beberapa kasus, warna dari lebam mayat ini bisa lain
daripada normal.
o Dapat juga digunakan memperkirakan saat kematian.

Lebam mayat menyerupai luka memar, maka harus dibedakan.


Perbedaannya adalah:

Sifat Lebam mayat Memar

8
Epidermal, karena pelebaran pembuluh Ruptur pembuluh darah yang
darah letaknya bisa superfisial atau lebih
Letak
yang tampak sampai ke permukaan kulit dalam

Kutikula Tidak rusak Kulit ari rusak

Terdapat pada daerah yang luas, terutama Terdapat di sekitar bisa tampak di
Lokasi luka pada bagian tubuh yang letaknya mana di mana saja pada bagian tubuh
rendah. dan tidak meluas

Gambaran Pada lebam mayat tidak ada evalasi dari Biasanya membengkak
kulit
Pinggiran Jelas Tidak jelas
Memar yang lama warnanya
bervariasi. Memar yang baru
Warna Warnyanya sama
berwarna lebih tegas daripada warna
.
lebam mayat disekitarnya
Darah ke jaringan sekitar, susah
Pada pemotongan, darah tampak dalam dibersihkan jaringan sekitar, susah
Pada
pembuluh, dan mudah dibersihkan. dibersihkan jika hanya dengan air
pemotongan
Jaringan subkutan tampak pucat. mengalir. Jaringan subkutan
berwarna merah kehitaman.

Dampak Akan hilang walaupun hanya diberi


Warnanya berubah sedikit saja jika
setelah penekanan yang ringan. Maksimal 8 jam
diberi penekanan.
penekanan lebam mayat tidak hilang dalam penekanan

c. Kaku mayat (Rigor Mortis)

Rigor mortis atau kaku jenazah terjadi akibat hilangnya ATP. ATP digunakan
untuk memisahkan ikatan aktin dan myosin sehingga terjadi relaksasi otot.
Namun karena pada saat kematian terjadi penurunan cadangan ATP maka ikatan
antara aktin dan myosin akan menetap (menggumpal) dan terjadilah kekakuan
jenazah. Rigor mortis akan mulai muncul 2 jam postmortem semakin bertambah
hingga mencapai maksimal pada 12 jam postmortem. Kemudian setelah itu akan
berangsur-angsur menghilang sesuai dengan kemunculannya. Pada 12 jam setelah
kekakuan maksimal (24 jam postmortem) kaku jenazah sudah tidak ada lagi.

Perubahan otot yang terjadi setelah kematian bisa dibagi dalam 3 tahap :

o Periode relaksasi primer (flaksiditas primer)


Hal ini terjadi segera setelah kematian. Biasanya berlangsung selama 2-3 jam.
Seluruh otot tubuh mengalami relaksasi,dan bisa digerakkan ke segala arah.

9
Iritabilitas otot masih ada tetapi tonus otot menghilang. Pada kasus di mana
mayat letaknya berbaring rahang bawah akan jatuh dan kelopak mata juga
akan turun dan lemas.

o Kaku mayat (rigor mortis)


Kaku mayat akan terjadi setelah tahap relaksasi primer. Keadaan ini
berlangsung setelah terjadinya kematian tingkat sel, dimana aktivitas listrik
otot tidak ada lagi. Otot menjadi kaku. Fenomena kaku mayat ini pertama
sekali terjadi pada otot-otot mata, bagian belakang leher, rahang bawah,
wajah, bagian depan leher, dada, abdomen bagian atas dan terakhir pada otot
tungkai. Akibat kaku mayat ini seluruh mayat menjadi kaku, otot memendek
dan persendian pada mayat akan terlihat dalam posisi sedikit fleksi. Keadaan
ini berlangsung selama 24 - 48 jam pada musim dingin dan 18 - 36 jam pada
musim panas.

o Periode relaksasi sekunder


Otot menjadi relaks (lemas) dan mudah digerakkan. Hal ini terjadi karena
pemecahan protein, dan tidak mengalami reaksi secara fisik maupun kimia.
Proses pembusukan juga mulai terjadi. Pada beberapa kasus, kaku mayat
sangat cepat berlangsung sehingga sulit membedakan antara relaksasi primer
dengan relaksasi sekunder.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kaku Mayat

o Keadaan Lingkungan. Pada keadaan yang kering dan dingin, kaku mayat
lebih lambat terjadi dan berlangsung lebih lama dibandingkan pada
lingkungan yang panas dan lembab. Pada kasus di mana mayat dimasukkan ke
dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung lebih lama.
o Usia. Pada anak-anak dan orangtua, kaku mayat lebih cepat terjadi dan
berlangsung tidak lama. Pada bayi prematur biasanya tidak ada kaku mayat.
Kaku mayat baru tampat pada bayi yang lahir mati tetapi cukup usia (tidak
prematur)
o Cara kematian. Pada pasien dengan penyakit kronis, dan sangat kurus,
kaku mayat cepat terjadi dan berlangsung tidak lama. Pada pasien yang mati
mendadak, kaku mayat lambat terjadi dan berlangsung lebih lama.
o Kondisi otot. Terjadi kaku mayat lebih lambat dan berlangsung lebih lama
pada kasus di mana otot dalam keadaan sehat sebelum meninggal,
dibandingkan jika sebelum meninggal keadaan otot sudah lemah.

Diagnosis Banding Kaku Mayat

o Kekakuan karena panas (heat stiffening). Keadaan ini terjadi jika mayat terpapar
pada suhu yang lebih tinggi dari 750 C, atau jika mayat terkena arus listrik
tegangan tinggi. Kedua keadaan diatas akan menyebabkan koagulasi protein
otot sehingga otot menjadi kaku. Pada kasus terbakar, keadaan mayat
menunjukkan postur tertentu yang disebut dengan sikap pugilistik, yaitu suatu

10
posisi di mana semua sendi berada dalam keadaan fleksi dan tangan terkepal.
Sikap yang demikian disebut juga sikap defensif.
Perbedaan antara kaku mayat dengan kaku karena panas adalah :
 Adanya tanda kekakuan bekas terbakar pada permukaan mayat
pada kaku karena panas.
 Pada kasus kekakuan karena panas, otot akan mengalami laserasi
jika dipaksa diregangkan.
 Pada kaku karena panas, kekakuan tersebut akan berlanjut akan
melanjut terus sampai terjadinya pembusukan.

o Kekakuan karena dingin (cold stiffening). Jika mayat terpapar suhu


yang sangat dingin, maka akan terjadi pembekuan jaringan lemak dan otot. Jika
mayat dipindahkan ke tempat yang suhunya lebih tinggi maka kekakuan
tersebut akan hilang. Kaku karena dingin cepat terjadi dan cepat juga hilang.

o Spasme kadaver (Cadaveric spasm). Otot yang berkontraksi sewaktu


masih hidup akan lebih cepat mengalami kekakuan setelah meninggal. Pada
kekakuan ini tidak ada tahap pertama yaitu tahapan relaksasi. Keadaan ini
biasanya terjadi jika sebelum meninggal korban melakukan aktivitas
berlebihan. Bentuk kekakuan akan menunjukkan saat saat terakhir kehidupan
korban. Fenomena ini sangat jarang ditemukan.

Perbedaan antara Kaku Mayat dengan Spasme Kadaver

Sifat Kaku Mayat Spasme Kadaver


Mulai timbul 1-2 jam setelah meninggal Segera setelah meninggal

Faktor - Kematian mendadak,aktivitas


predisposisi berlebih, ketakutan, terlalu
lelah, perasaan tegang, dll.

Otot yang Semua otot, termasuk otot Biasanya terbatas pada satu
terkena volunter dan involunter kelompok otot volunter

Kaku otot Tidak jelas, dapat dilawan Sangat jelas, perlu tenaga yang
dengan sedikit tenaga. kuat untuk melawan
kekakuannya.

Kepentingan Untuk perkiraan saat kematian Menunjukkan cara kematian


dari segi yaitu bunuh diri,pembunuhan
Medikolegal atau kecelakaan

Suhu mayat Dingin Hangat


Kematian sel Ada Tidak ada
Rangsangan Tidak ada respon otot Ada respon otot
listrik

11
Kepentingan Kaku Mayat dari segi medikolegal :
o Pada kasus bunuh diri, mungkin alat yang digunakan untuk tujuan
bunuh diri masih berada dalam genggaman.
o Pada kasus kematian karena tenggelam, mungkin pada tangan
korban bisa terdapat daun atau rumput.
o Pada kasus pembunuhan, pada gemgaman korban mungkin bisa
diperoleh sesuatu yang memberi petunjuk untuk mencari pembunuhnya.

d. Proses pembusukan (Dekomposisi)

Pembusukan jenazah terjadi akibat proses degradasi jaringan karena


autolisis dan kerja bakteri. Mulai muncul 24 jam postmortem, berupa warna
kehijauan dimulai dari daerah sekum menyebar ke seluruh dinding perut dan
berbau busuk karena terbentuk gas seperti HCN, H2S dan lain-lain. Gas yang
terjadi menyebabkan pembengkakan. Akibat proses pembusukan rambut mudah
dicabut, wajah membengkak, bola mata melotot, kelopak mata membengkak dan
lidah terjulur. Pembusukan lebih mudah terjadi pada udara terbuka suhu
lingkungan yang hangat/panas dan kelembaban tinggi. Bila penyebab
kematiannya adalah penyakit infeksi maka pembusukan berlangsung lebih cepat.

Tanda-tanda pembusukan:
o Warna kehijauan pada dinding perut daerah caecum, yang disebabkan
reaksi hemoglobin dengan H2S menjadi sulfmethemolobin
o Wajah dan bibir membengkak
o Scrotum dan vulva membengkak
o Abdomen membengkak, akibat adanya gas pembusukan dalam usus
sehingga mengakibatkan keluarnya fese dari anus dan isi lambung dari
mulut dan lubang hidung
o Vena-vena superfisialis pada kulit berwarna kehijauan disebut Marbling
o Pembentukan gas-gas pembusukan di bawah lapisan epidermis sehingga
timbul bulla
o Akibat tekanan gas-gas pembusukkan, gas dalam paru terdesak, sehingga
darah keluar dari mulut dan hidung
o Bola mata menonjol keluar akibat gas pembusukkan dalam orbita
o Kuku dan rambut dapat terlepas, serta dinding perut dapat pecah

Jika pembusukan terus berlangsung, maka bau busuk yang timbul akan
menarik lalat untuk hinggap pada mayat. Lalat menempatkan telurnya pada
mayat, di mana dalam waktu 8-24 jam telur akan menetas menghasilkan larva-
yang sering disebut belatung. Dalam waktu 4-5 hari, belatung ini lalu menjadi
pupa, dimana setelah 4-5 hari kemudian akan menjadi lalat dewasa. Pada tahap ini
bagian dari tulang tengkorak mulai tampak. Rektum dan uterus juga tampak dan
uterus gravid juga bisa mengeluarkan isinya

12
Proses-proses spesifik pada jenazah karena kondisi khusus:

o Mummifikasi
Mummifikasi terjadi pada suhu panas dan kering sehingga tubuh akan
terdehidrasi dengan cepat. Mummifikasi terjadi pada 12-14 minggu.
Jaringan akan berubah menjadi keras, kering, warna coklat gelap,
berkeriput dan tidak membusuk.

o Adipocere
Adipocere adalah proses terbentuknya bahan yang berwarna keputihan,
lunak dan berminyak yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh
postmortem. Lemak akan terhidrolisis menjadi asam lemak bebas karena
kerja lipase endogen dan enzim bakteri.
Faktor yang mempermudah terbentuknya adipocere adalah kelembaban
dan suhu panas. Pembentukan adipocere membutuhkan waktu beberapa
minggu sampai beberap bulan. Adipocere relatif resisten terhadap
pembusukan.

II. MEMPELAJARI TENTANG VISUM ET REPERTUM (VER)

Visum et repertum disingkat VeR adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh
dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik
terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian tubuh
manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan.

Visum et repertum adalah laporan tertulis (termasuk kesimpulan mengenai sebab-


sebab perlukaan/kematian) yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah jabatan,
mengenai apa yang dilihat/diperiksa berdasarkan keilmuannya, atas permintaan tertulis
dari pihak berwajib untuk kepentingan peradilan.

Dasar hukum Visum et Repertum adalah sebagai berikut:


Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada
ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat
tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap
jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

13
Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik
pembantu sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP :
Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1) butir a,
yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal
bagi pidana umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa
manusia. Oleh karena visum et repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana
yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil
tidak berwenang meminta visum et repertum, karena mereka hanya mempunyai
wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-
masing (Pasal 7(2) KUHAP).

Pasal 179 KUHAP

(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan

(2) Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaiknya dan yang
sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya

Sanksi hukum bila siapa saja yang menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan
sanksi pidana :
Pasal 216 KUHP :

Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasar- kan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau mengga-galkan tindakan guna menjalankan ketentuan,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda
paling banyak sembilan ribu rupiah.

Pasal 222 KUHP

Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan


pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah

Pasal 224 KUHP :

Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang
dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus
dipenuhinya, diancam : dalam perkara pidana, dengan penjara paling lama sembilan
bulan.

14
Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam
pasal 184 KUHP:
Alat bukti yang sah adalah :
(a) Keterangan saksi, (b) Keterangan ahli, ( c ) Surat, (d) Petunjuk, (e) Keterangan
terdakwa

Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana
terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana VeR menguraikan segala sesuatu tentang
hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya
dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat
keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang
tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh
telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca
visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang,
dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana
yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia. Apabila visum et repertum belum dapat
menjernihkan duduk persoalan di sidang pengadilan, maka hakim dapat meminta
keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang tercantum dalam KUHAP,
yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti,
apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya
terhadap suatu hasil pemeriksaan. Hal ini sesuai dengan pasal 180 KUHAP.

Bagi penyidik (Polisi/Polisi Militer) visum et repertum berguna untuk


mengungkapkan perkara. Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk
menentukan pasal yang akan didakwakan, sedangkan bagi Hakim sebagai alat bukti
formal untuk menjatuhkan pidana atau membebaskan seseorang dari tuntutan hukum.
Untuk itu perlu dibuat suatu Standar Prosedur Operasional Prosedur (SPO) pada suatu
Rumah Sakit tentang tata laksana pengadaan visum et repertum.

Macam-macam visum et repertum:


o Visum et Repertum korban hidup :
 Visum et repertum.
 Visum et Repertum sementara.
 Visum et Repertum lanjutan.
o Visum et Repertum mayat
Harus dibuat berdasarkan hasil autopsi lengkap
o Visum et Repertum pemeriksaan TKP.
o Visum et Repertum penggalian mayat.
o Visum et Repertum mengenai umur.
o Visum et Repertum Psikiatrik.
o Visum et Repertum mengenai BB

Setiap visum et repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum sebagai berikut:
o Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa

15
o Bernomor dan bertanggal
o Mencantumkan kata ”Pro Justitia” di bagian atas kiri (kiri atau tengah)
o Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
o Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan
temuan pemeriksaan
o Tidak menggunakan istilah asing
o Ditandatangani dan diberi nama jelas
o Berstempel instansi pemeriksa tersebut
o Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan
o Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum. Apabila ada
lebih dari satu instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM,
dan keduanya berwenang untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi
visum et repertum masing-masing asli
o Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya,
dan disimpan sebaiknya hingga 20 tahun

Bagian-bagian visum et repertum:

1. PRO JUSTISIA.
Kata ini dicantumkan disudut kiri atas, dan dengan demikian visum et repertum
tidak perlu bermaterai, sesuai dengan pasal 136 KUHAP.
2. PENDAHULUAN.
Bagian ini memuat antara lain :
o Identitas pemohon visum et repertum.
o Identitas dokter yang memeriksa /membuat visum et repertum.
o Tempat dilakukannya pemeriksaan (misalnya rumah sakit X Surabaya).
o Tanggal dan jam dilakukannya
o Identitas korban.
o Keterangan dari penyidik mengenai cara kematian, luka, dimana korban
dirawat, waktu korban meninggal.
o Keteranganmengenai orang yang menyerahkan / mengantar korban pada
dokter dan waktu saat korban diterima dirumah sakit.
3. PEMBERITAAN.
o Identitas korban menurut pemeriksaan dokter,
(umur, jenis kel,TB/BB), serta keadaan umum.
o Hasil pemeriksaan berupa kelainan yang ditemukan
pada korban.
o Tindakan-tindakan / operasi yang telah dilakukan.
o Hasil pemeriksaan tambahan
o Syarat-syarat :
- Memakai bahasa Indonesia yg mudah dimengerti orang awam.
- Angka harus ditulis dengan huruf, (4cm ditulis empat
sentimeter).
- Tidak dibenarkan menulis diagnosa luka, (luka bacok, luka
tembak dll).

16
- Luka harus dilukiskan dengan kata-kata
- Memuat hasil pemeriksaan yang objektif (sesuai apa yang dilihat
dan ditemukan).
4. KESIMPULAN.
o Bagian ini berupa pendapat pribadi dari dokter yang memeriksa,
mengenai hasil pemeriksaan sesuai dgn pengetahuan yang sebaik-baiknya.
o Seseorang melakukan pengamatan dengan kelima panca indera
(pengelihatan, pendengaran, perasa, penciuman dan perabaan).
o Sifatnya subjektif.

5. PENUTUP.
o Memuat kata “Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan
mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan”.
o Diakhiri dengan tanda tangan, nama lengkap/NIP dokter.

Contoh visum et repertum terlampir

Penyidik dibenarkan mencabut SPVR (Instr. Kapolri No.Pol:INS/E/20/IX/75):


“Bila ada keluarga korban/mayat keberatan jika diadakan visum et repertum bedah
mayat, maka adalah kewajiban dari petugas Polri cq. Pemeriksa untuk secara persuasif
memberikan penjelasan perlu dan pentingnya autopsi untuk kepentingan penyidik, kalau
perlu ditegakkannya pasal 222 KUHP”.

Pada dasarnya penarikan/pencabutan kembali visum et repertum tidak dapat


dibenarkan. Bila terpaksa visum et repertum yang sudah diminta harus diadakan
pencabutan/penarikan kembali, maka hal tersebut hanya dapat diberikan oleh Komandan
Kesatuan paling rendah setingkat Komres dan untuk kota besar hanya oleh Dantabes.

Pada kesimpulan visum et repertum untuk orang/korban hidup, yaitu pada visum
et repertum lanjutan, harus dilengkapi dengan kualifikasi luka. Kualifikasi luka akan
memudahkan hakim untuk menjatuhkan pidana.

Kualifikasi luka (KUHP) terdiri dari :

o Derajat 1  Luka yang tergolong luka yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian  penganiayaan
ringan (Psl.352)
o Derajat 2  Luka yg tergolong luka yg menimbulkan penyakit atau halangan utk
menjalankan pekerjaan atau pencaharian  penganiayaan (Psl.351 [1]).
o Derajat 3  Luka yang tergolong luka berat  penganiayaan berat (Psl.351 [2]).
o Luka yang menyebabkan mati  Penganiayaan yang à mati (ps. 351(3) KUHP),
pembunuhan (338 jo 340 KUHP)

Yang termasuk luka berat menurut pasal 90 KUHP:

17
o Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama
sekali atau yang menimbulkan bahaya maut.
o Tidak mampu secara terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau
pekerjaan pencaharian.
o Kehilangan salah satu panca indera.
o Mendapat cacat berat.
o Menderita sakit lumpuh.
o Terganggu daya pikirnya selama 4 minggu lebih.
o Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.

Berikut ini adalah contoh format Visum et Repertum yang sudah diisi.

------------------------------------------------------------------------------------------------
INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKO LEGAL
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KEDIRI
------------------------------------------------------------------------------------------------
VISUM ET REPERTUM
( JENAZAH )

Th.2008

No. KF. 05. 333.

PRO JUSTITIA.

Berhubung dengan surat Saudara.--------------------------------------------------------------


Nama : AGUK NUGROHO, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088.----------------------------
Alamat : Kepolisian Sektor Kota Kediri,Jl.Raya Made No.50 Kediri 64219.-----------------
Jabatan : An. Kepala.Kepolisian Sektor kota Kediri.---------------------------------------------
Tertanggal : 2 Agustus 2008, -No.Pol:224/01/10/2008.----------------------------------------

Yang kami terima pada tanggal ; 2 Agustus 2008, maka kami, Dr. Hj. Andati Tyagita
SpF. Dokter Spesialis Forensik, Dokter pemerintah pada Instalasi Kedokteran Forensik
dan Mediko Legal RSUD Kediri, telah melakukan pemeriksaan luar pada tanggal: 2
Agustus 2008, pukul: 16.00 WIB dan pemeriksaan dalam pada tanggal: 2 Agustus 2008,
pukul: 16.30 WIB di rumah sakit tersebut di atas, atas jenazah yang menurut surat
Saudara tersebut,---------------------------------------------------------------------------------------
-Bernama: Supadno, -Jenis kelamin: Laki-laki, -Umur: 50 Tahun.-----------------------------
-Alamat : Jalan Adityawarman 50 Kediri,-------------------------------------------------------
-Bangsa : Indonesia ----------------------------------------------------------------------------
Dengan dugaan meninggal karena : Pembunuhan. ----------------------------------------------
Korban ditemukan/ meninggal : di Ruang tamu rumahnya dalam keadaan mengeluarkan
busa dari dalam mulutnya---------------------------------------------------------------------------
- Pada tanggal : 2 Agustus 2008, - Pukul : 07.00 WIB.------------------------------------------

18
Korban dibawa ke kamar jenazah RSU. Dr.Soedomo Kediri,-----------------------------------
-Oleh : AGUK NUGROHO, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088 , Dengan kendaraan
No.Pol.: AG 1234 UA --------------------------------------------------------------------------------
-Pada tanggal: 2 Agustus 2008,----------------------------Pukul : 11-30-----------------------

HASIL PEMERIKSAAN------------------------------------------------------------------------

PEMERIKSAAN LUAR :------------------------------------------------------------------------

1. Korban seorang Laki-laki, Usia Lima puluh tahun , Tinggi badan kurang lebih seratus
enam puluh lima centimeter, Berat badan lima puluh kilogram, keadaan gizi baik, warna
kulit sawo matang. -----------------------------------------------------------------------------------
2. Lebam mayat dan kaku mayat negatif. ------------------------------------------------------
3. Korban berlabel dan tidak bersegel, keadaan gizi baik. ---------------------------------------
4. Pakaian sarung, celana dalam putih dan memakai kaos singlet. ---------------------------
5. Kepala / leher : baik rambut hitam lurus.-----------------------------------------------------
- di samping bibir masih terdapat sedikit busa putih------------------------------------------
- kedua pupil mata melebar --------------------------------------------------------------------
- bibir atas dan bawah membiru ---------------------------------------------------------------
- mulut berisi busa warna putih. ----------------------------------------------------------------
- di bawah leher ada bekas cengkeraman kuku-------------------------------------------------
6. Dada : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.----------------------------
7. Perut : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.----------------------------
8. Punggung : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.----------------------
9. Alat kelamin luar : --------------- ----------------------------------------------------------
- dari lubang alat kelamin keluar cairan putih--------------------------------------------------
10. Anggota gerak atas : --tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam--------
11. Anggota gerak bawah : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam-----

PEMERIKSAAN DALAM :---------------------------------------------------------------------

1. Kepala / leher : -----------------------------------------------------------------------------


- saluran kerongkongan tampak merah dan berlendir. ---------------------------------------
2. Dada : ---------------------------------------------------------------------------------------
- paru dan jantung tidak ditemukan kelainan. -------------------------------------------------
- perut : jaringan hati, limpa, kelenjar ludah perut, kandung empedu, usus dan ginjal,
kandung seni, ditemukan kelainan, -----------------------------------------------------------------

PEMERIKSAAN TAMBAHAN :----------------------------------------------------------------

Ditemukan racun pada hati, usus, limpa, jantung korban---------------------------------------

KESIMPULAN :-------------------------------------------------------------------------------

1. Korban seorang Laki-laki, Usia Lima puluh tahun , Tinggi badan kurang lebih seratus
enam puluh lima centimeter, Berat badan lima puluh kilogram, keadaan gizi baik, warna
19
kulit sawo matang, rambut lurus hitam, panjang kurang lebih lima centimeter.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
2. Pemeriksaan Luar :
---------------------------------------------------------------------------------

tidak ditemukan luka memar, luka lubang, luka robek di sekitar mulut, serta mulut
berbusa---------------------
3. Pemeriksaan Dalam: -------------------------------------------------------------------------------

tidak ditemukan memar di bawah kulit kepala, memar di bawah kulit leher dan memar di
bawah kulit dada serta ditemukan cairan warna merah di rongga dada.
------------------------------------------
4. Pada alat kelamin ditemukan keluar cairan warna putih dari lubang kelamin. ------------
5. Jadi korban meninggal dunia oleh karena keracunan. ----------------------------------------

Demikian Visum Et Repertum ini kami buat dengan mengingat sumpah waktu menerima
jabatan.

Tanda tangan,

20
DAFTAR PUSTAKA

DiMaio, Vincent & Dominick. 2001. Forensic Pathology second edition. Florida: CRC
press

Idries, Abdul M. 2008. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan.
Jakarta: sagung seto

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/VetR.pdf

www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/TANATOLOGI.pdf

ocw.usu.ac.id/course/download/1110000120.../gis156_slide_tanatologi.pdf

21